Dec 23, 2010

[KLIPING] Membaca Buku Bagus

Membaca Buku Bagus

Pelajaran Membaca Buku Bagus diadakan setiap hari Sabtu. Pada pelajaran ini guru membacakan sebuah buku untuk anak. Cara membacakan harus dibuat menarik, seperti mendongeng, bukan dengan intonasi yang datar. Ketika pelajaran ini baru dimulai di SDKE MAngunan, Butet Kartaradjasa, salah seorang sahabat Romo Mangun membantu melatih guru untuk membacakan buku bagus. TAk jarang Romo Mangun dan Butet membacakan sendiri buku bagus untuk anak-anak. Cara ini lebih efektif karena anak lebih udah untuk memperhatikan isi buku yang bisa mempertajam kemampuan anak. Diharapkan dari Membaca Buku BAgus ini anak dapat:
a. Memperluas cakrawala padangnya;
b. BErani merantau, fisik maupun kejiwaan;
c. Dinamis, kaya akal, mencari jalan-jala alternatif kehidupan;
d. Bermental arif, penuh pehitungan;
e. Bermain dan takwa dalam segala cobaan.

Mata pelajaran Membaca Buku Bagus bersama dengan Kotak Pertanyaan dimaksudkan untuk memenuhi lima harapan tersebut. Dalam sistem pembelajaran terpadu, pembacaan buku bagus juga harus dikaitkan dengan mata pelajaran lain. Misalnya, dalam kesempatan tertentu bisa dimanfaatkan untuk penyempurnaan pemakaian bahasa Indonesia pada anak. Bila kebetulan dijumpai istilah fisika dan biologi dalam buku yang dibacakan, guru juga harus bisa memberi keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut.

Materi buku yang dipilih hanya bisa memenuhi lima persyaratan di atas, biasanya buku-buku tentang penemu besar, orang-orang yang tidak mudah menyerah pada nasib. Romo Manugun menyarankan guru untuk tidak memilih buku tentang pahlawan perang, kecuali bila buku tentang pahlawan tersebut berisi tentang budaya dan lebih menonjolkan sisi kemanusiaan. MArco Polo, Captain Cook, Columbus, Magelhaen, Nightingale, Kartini, Walanda Maramis, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Sutan Sjahrir, Romo van Lith, SJ, merupakan sebagian dari nama-nama tokoh yang menjadi pilihan guru dalam Membaca Buku Bagus. Cerita yang mengharukan, jenaka, menggembirakan juga menjadi pilihan untuk dibacakan. Romo MAngun menyarankan agar guru tidak membacakan komik untuk anak.

Anak-anak diperkenalkan pada dunia yang lebih luas daripada dunai lokal kehidupan mereka sehari-hari. Cakrawala hati anak harus dibuat seluas mungkin, menjelajahi bumi, lepas bebas dari segala yang mengurung anak. Semangat eksplorasi dan kreativitas dapat dibangun melalui pelajaran Membaca Buku Bagus dan Kotak Pertanyaan setiap Sabtu.

Guru juga diharuskan untuk mempersiapkan diri sebelum membacakan buku untuk anak. Pengucapan nama dan kata bahasa asing harus benar. Guru harus menanyakan pengucapan yang benar pada orang yang lebih tahu. Pengucapan kata juga harus jelas dengan itonasi yang menarik, bisa mengekspresikan kalimat yang dibaca. Guru juga harus bisa menjelaskan arti kata sulit yang tidak dimengerti aak.

Reaksi spontan anak-anak memang diharapkan. Mereka boleh berkomentar, bersorak, dan tertawa tetapi tidak mengacaukan perhatian teman lainnya. Guru tetap harus mengatur suasana kelas tetap tertib. Suasana gaduh adalah hal yang wajar saat Membaca Buku Bagus karena saat itu interaksi antara guru dan anak-anak sungguh-sungguh terjai. Guru pun bisa memberi komentar untuk menghidupkan suasana. Komentar guru dan anak melalui dialog juga bisa memperkaya pemahaman anak tentang istilah-istilah yang dipakai dan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita yang dibacakan. Membaca Buku Bagus juga merupakan cara untuk mendampingi anak untuk memahami budi pekerti, moral, dan iman.

Fungsi Membaca Buku Bagus menurut guru-guru Mangunan adalah untuk melancarkan membaca, memahami isinya, nilai-nilai yang bisa ditiru, dan menambah pengetahuan. Buku yang akan dibacakan biasanya dipilih oleh guru, tetapi kadang dipilih oleh murid. "Di kelas VI, kalau anak yang memilih bukunya, maka anaklah yang baca; kalau guru yang memilih, maka gruu yang baca," kata Bu ninik. Sementara Pak We mengatakan bahwa di kelas V yang dibacakan tidak hanya buku atau cerita tentang pengetahuan saja, tetapi juga membaca cerpen yang berisi nilai-nilai hidup. Penekanan cara membaca buku bagus terletak pada intonasi agar anak memperhatika bacaan. Di kelas V buku dibaca oleh anak-anak secara bergantian. "Rinda ketika membacakan cerita, misalnya, intonasinya sangat hidup sehingga teman-teman lain ikut memerhatikan."

Ketersediaan buku yang bisa dibaca anak kelas I di Mangunan sangat minim. "Biasanya anak lebih suka melihat gambarnya; mereka tertarik kalau ada gambar baru," kata Bu Peni. Anak kelas I lebih tertarik pada gambar karena mereka masih sulit membaca. "Kelas tinggi pun juga tertarik dengan gambar yang ada pada buku," kata Pak We. Guru berpendapat bahwa anak-anak sekarang lebih suka membaca komik, meskipun di perpustakaan keliling ada buku yang bukan komik. "Mereka kebanyakan lebih tertarik membaca dan meminjam komik dari perpustakaan keliling," kata Bu Ninik. "Untuk kelas I dan II komik sangat membantu kelancaran membaca anak, misalnya komik Doraemon. Bila anak sudah membaca biasanya akan suka membaca," kata Bu Siwi.

Masing-masing kelas di Mangunan mempunyai perpustakaan. Buku-buku di perpustakaan kelas diperoleh dari donatur, ada juga yang dibeli oleh guru. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan kelas II boleh dibawa pulang oleh anak-anak. Anak kelas II diperbolehkan meminjam buku pada jam sekolah dan membaca di tempat favoritnya. Mereka membaca dengan keras, seakan ingin menunjukkan kemampuannya kepada teman-teman lainnya. "Kalau sudah membaca sendiri seperti itu, kelas menjadi ramai," kata Bu Siwi.

Sumber:
Pradipto, Y. Dedy. "Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional: Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar". Penerbit Kanisius,
Yogyakarta: 2007

Dec 8, 2010

Dana BOS dan Kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional

Hari ini saya diwawancara di KBR68H mewakili Ikatan Guru Indonesia (IGI) terkait dana BOS. Selain saya, juga hadir orang tua siswa dari sebuah SD 12 Rawamangun dan seseorang dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Rasanya, sedikit dag dig dug. Isu mengenai BOS sebenarnya tidak terlalu saya dalami, tetapi saya cukup sering mendengar keluhan-keluhan terkat dana BOS dari teman-teman guru. Saya jadi semacam media penghantar. Saya menyampaikan kembali apa cerita-cerita mengenai masalah BOS yang dialami oleh teman-teman guru mupun kepala sekolah di lapangan. Saya mengutip pernyataan teman-teman di milis termasuk pernyataan yang disampaikan oleh seorang guru pagi ini :


Sebetulnya pengalaman kami ketika diperiksa BPK bukanlah merupakan penyimpangan tetapi karena di peetunjuk penggunaan dana BOS tersebut tidak sangat rinci, dan sekolah menerjemahkannya berbeda-beda tergantung kebutuhan sekolah. Ketika diperiksa BPK atau auditor lainnya timbul temuan karena mereka memeriksa sesuai dengan apa yang di petunjuk. Sebagai contoh salah satu penggunaan dana BOS untuk kegiatan kesiswaan adalah "Ekstra kurikuler". Dikegiatan tersebut tentu ada pelatih atau pembina, ketika kita keluarkan transport atau honor pelatih maka auditor akan mengatakan pembayaran honor pelatih atau pembina tersebut tidak menyentuh siswa langsung. Dan jadilah temuan....


Saya juga menyampaikan, ada dua masalah terkait penyelewengan dana dBOS di berbagai sekolah. Ada penyelewengan yang memang disebabkan karena 'niat buruk' dan ada juga yang disebabkan karena 'ketidaktahuan'. Ini adalah dua masalah yang berbeda dan harus diselesaikan dengan cara yang berbeda pula.

Saya juga menceritakan pengalaman sebuah teman kepala sekolah di Bandung. Dana BOS yang diterimanya melalui rekening sekolah memang sudah disunat, tetapi oleh atasannya (siapakah atasannya?) ia diminta membuat laporan sesuai dengan dana asli yang diberikan oleh pemerintah. Kalau ada kasus seperti ini harus melapor kemana?

Menurut pihak kementerian pendidikan nasional, ada 14 item yang bisa digunakan melalui dana BOS. Meskipun begitu, ia kurang menjelaskan dengan pasti ke-14 item tersebut. Ia mengatakan bahwa banyak guru tidak bisa membedakan biaya operasional dan biaya investasi, sayangnya ia tidak menjelaskan apa perbedaannya.

Katanya, "Kalau untuk pelajaran musik, di sekolah ada sebuah gitar, dan yang rusak adalah gitarnya, maka dan BOS sebaiknya digunakan untuk apa? Membeli gitar baru atau senarnya? Seharusnya senarnya. Banyak orang yang mengartikan penggunaan dana BOS untuk membeli gitar baru, tetapi seharusnya misalnya digunakan untuk membayar pelatihnya."

Loh.. saya jadi bingung.

Yang juga membuat saya bingung adalah saat kami membahas mengenai intimidasi yang diterima oleh orang tua murid saat melaporkan penyalahgunaan dan BOS. Kami membahas? Kemanakah orang tua murid atau masyarakat harus mengadu bila ada masalah?

Menurutnya, kementerian pendidikan tidak punya kuasa utuk mengontrol penggunaan dana BOS. Karena kewenangannya ada di pemerintah daerah. Kalau mau protes mengenai penyalahgunaan dana BOS, sebaiknya ke kepala sekolah saja. Atau langsung ke Bupati. Kewenangannya ada di daerah. Bagaimana dana BOS digunakan, katanya sangat tergantung pada pribadi Kepala Dinas dan Bupati yang bersangkutan.

Fenomena ini oleh teman saya disebut sebagai "memberikan uang jajan". Terserah uang jajannya digunakan untuk apa. Tidak ada petunjuk yang jelas. Apa memang benar begitu kondisinya?

Ada satu hal yang menjadi pertanyaan saya. Seringkali saya mendengar argumentasi dari pemerintah bahwa semenjak otonomi daerah, kementrian pendidikan di level pusat tidak punya kewenangan untuk mengatur apa yang terjadi di daerah. Alasan yang sama juga terjadi saat ada pembahasan mengeneai masalah RSBI di berbagai daerah. Apakah memang kementerian pendidikan tidak punya kewenangan apapun untuk mengontrol masalah yang ada di level daerah? Apa peran pemerintah dalam melakukan kontrol terhadap berbagai kebijakan? Benar-benar tidak ada? Atau ada? Apa ini sepenuhnya kesalahan sistem? Atau ini memang kelemahannya sistem otonomi daerah? Atau memang tidak ada political wiil ?Saya tidak tahu jawabannya. Bagaimana menurut anda?

Dec 4, 2010

What's next?

Selama lebih dari 3 tahun saya sangat fokus menekuni satu isu. Saya sangat disiplin membaca berbagai referensi mengenai isu itu. Setidaknya dalam 1 hari saya berusaha membaca seputar topik itu. Saya memiliki buku khusus, isinya semua catatan akan isu tersebut baik dari buku, jurnal, media massa, dan sebagainya. Di dalamnya saya juga menyisakan satu bagian khusus untuk refleksi terkait isu. Saya sangat fokus sampai akhirnya saya berhasil merangkai semua pemikiran saya dengan kata-kata. Baik yang tersebar ntah di mana di tulisan-tulisan saya di internet maupun yang terdokumentasi dengan baik di dalam sebuah paper.

Sekarang, saya rasanya harus kembali menemukan isu-isu yang mau saya pelajari dengan serius. Saya harus mulai tekun seperti sebelumnya, membaca sebanyak-banyaknya mengenai isu tersebut tanpa lupa memperluas wawasan di bidang-bidang lain. But what's next? What is the next issue I will be so passionate about? Still searching.

Dec 3, 2010

Tosca

Learnt about history
On a trip that felt so cool
Read Rose of Versailles as it was a history book
Learnt that our brothers had the same name

First pajama's party
A bath with mickey
Baked cupcakes

Ring ring
Jin jing
Learned to be lady like
Painted our faces as we were princesses of the world
Thought we were glamorous, oh we always are
Made necklaces out of old newspapers
Painted old shoes as it was the newest trend
Pretended to be like every cool girl we read about or saw in movies

Talk talk talk
Never stop
Discussed books that made our imagination grow wild

Dreamed about going to a place where people drank tea

I grew up
So did you

Different laddies we have been
So different worlds we lived in
Are we strangers or are we not?
Would I know how we would say hello?


The tosca invitation on the table
I missed it!
My childhood friend
My best childhood friend

Benarkah?

"Tampaknya kegiatan itu cukup menyentuh hatinya. Meskipun akhirnya dia kerja di mana"
"Oh ya? Kenapa?"
"Tugas akhirnya adalah merancang sebuag desain ruangan untuk relawan. Saya yakin itu dipengaruhi oleh kegiatan itu."
"Benarkah?" tanyaku dengan hati yang mengharu biru, "Benarkah?"

Tiga Cara Menggunakan ICT dalam Pembelajaran

Dhitta Puti Sarasvati

Ada tiga cara untuk menggunakan ICT di dalam pembelajaran. Pertama, menggunakan ICT sebagai semacam buku, kedua menggunakan ICT sebagai media untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang kita ciptakan, dan ketiga sebagai alat bantu untuk mengolah pengetahuan.

Mungkin banyak diantara kita yang sering terbius oleh kehebatan ICT dalam menyediakan pengetahuan. Saya sendiri, misalnya sangat suka membrowsing internet karena saya bisa menemukan berbagai informasi dengan cepat. Ini yang saya sebut menggunakan ICT sebagai ’semacam buku’. Maksudnya adalah teknologi sebagai sarana yang menyajikan informasi dan kita tinggal menikmatinya. Kita hanya menjadi penyerap informasi yang telah disediakan oleh orang lain. Ini bisa dilakukan baik dengan membaca berbagai hal yang tersebar di internet seperti berita, artikel, dan sebagainya. Selain itu, menonton (misalnya Youtube) termasuk di dalam kategori ini. Memang banyak materi yang sifatnya edukatif yang bersebaran di internet. Tentunya, kita harus punya keterampilan untuk menyaring mana informasi yang berguna dan tidak. Kita juga harus berani mempertanyakan berbagai materi dan informasi yang tersedia di internet. Tentunya tidak semua hal bisa kita telan mentah-mentah.

Cara kedua untuk menggunakan ICT dalam pembelajaran adalah dengan menggunakannya sebagai alat untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang kita buat. ICT digunakan sebagai sarana untuk memaparkan berbagai temuan. Kita yang menyediakan pengetahuan. ICT menjadi sarana bagi kita untuk mengkomunikasikan berbagai pembelajaran tersebut. Ini sering kita lakukan misalnya dengan kegiatan blogging. Seorang teman guru bernama Pak Sopyan Maolana Kosasih, seorang guru PKn, pernah dengan cerdas menggunakan ICT untuk keperluan ini. Ia meminta murid-muridnya menuliskan mengenai globalisasi di note facebook. Kemudian, ia meminta mereka men-tag teman sekelasnya dan saling mengomentari satu sama lain. Bagi saya ini cara yang sangat cerdas dalam menggunakan ICT. Kita menjadi penyedia pengetahuan. ICT hanya menjadi alat untuk mengkomunikasikannya.

Cara ketiga, adalah dengan menggunakan ICT sebagai alat untuk mengolah informasi. Contoh dari kegiatan ini adalah ketika kita mengolah data menggunakan progra excel. Saya sendiri pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan tugas akhir saya di tingkat Srata Sarjana (S-1). Saat itu saya membahas tentang kavitasi. Kavitasi adalah fenomena yang sekilas mirip dengan proses mendidih. Di dalam air akan terlihat banyak gelembung-gelembung, mirip dengan apa yang terjadi saat air mendidih. Tetapi terjadinya kavitasi bukan karena temperatur tinggi, tetapi karena tekanan yang rendah. Artinya, kavitasi bisa terjadi ketika suhu air dingin sekalipun. Hal ini sering terjadi dalam turbin air ataupun baling-baling di kapal dan bisa menyebabkan kerusakan, antara lain karena getaran yang dihasilkan akibat adanya kavitasi.

Saat itu saya merekam proses terjadinya kavitasi pada turbin. Dengan video yang saya hasilkan, saya bisa melihat proses dari sebelum hingga adanya kavitasi pada turbin. Sayangnya saat itu saya tidak mengubah video ke bentukslow motion, padahal di kemudian hari, saya menonton mengenai bagaimana video mengenai sebuah fenomena fisika kemudian diubah ke dalam bentuk slow motion agar fenomena bisa dipelajari dengan lebih mendetail. Sebagai contoh video slow motion yang pernah saya lihat adalah jatuhnya tetes air ke dalam air. Ternyata tetes air jatuh lalu terpental ke atas lagi, jatuh lagi, dan berulang, tetapi dengan ketinggian yang semakin pendek. Para ilmuwan menggunakan teknologi untuk mempermudah mereka dalam melakukan pengamatan, misalnya karena di dunia nyata benda bergerak terlalu cepat. Teknologi bisa digunakan sebagai alat untuk membantu melihat fenomeda dengan lebih mendetail. Darimana pengetahuan di dapat? Tentunya masih dari lingkungan sekitar dan ICT hanya menjadi alat bantu.

Tentu, kita boleh memilih cara apa yang ingin kita pilih dalam menggunakan ICT sebagai sumber pembelajaran. ICT boleh digunakan selayaknya sebuah buku penyedia informasi, sebagai alat komunikasi, dan sebagai alat untuk mengolah data, atau kita bisa memadukan antara ketiganya. Meskipun begitu, kita sebagai manusia harus menjadi pengolah pengetahuan yang paling utama. Informasi yang mudahnya bisa kita dapat dengan ICT tetap perlu kita kritisi, renungkan, pikirkan, dan olah hingga menjadi pegetahuan baru. Selain itu, kita juga perlu ingat, bahwa masih ada begitu banyak pengetahuan di sekitar kita, dan bukan hanya di dalam kotak-kotak teknologi (TV, komputer, dan sebagainya). Di sekitar kita masih banyak hal yang bisa kita sentuh, lihat, dengar, rasakan, dan pelajari. ICT hanya menjadi alat untuk membantu kita mempelajarinya. Lingkungan sekitar, tentunya tetap sumber belajar yang paling kaya. Selamat belajar!

Parasit Sosial??????

PENGETAHUAN HIV/AIDS DIINTEGRASIKAN KE SISTEM PEMBELAJARAN
http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/pengetahuan-hivaids-diintegrasikan-ke-sistem-pembelajaran/

Jakarta, 01/12/2010 (Kominfo-Newsroom) Sekolah adalah media palingmudah untuk menyampaikan sosialisasi pengetahuan tentang penyakitHIV/AIDS. Dengan adanya akses ke seluruh jenjang pendidikan, makakesempatan untuk menumbuhkan kesadaran tentang bahaya HIV/AIDSsemakin terbuka.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)Mohammad Nuh, usai membuka peringatan Hari AIDS Sedunia 2010 diKantor Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Rabu(1/12). “Integrasikan pengetahuan tentang HIV/AIDS ke dalam sistempembelajaran. Tidak dalam mata pelajaran tersendiri, tetapidiintegrasikan dalam pelajaran Agama, Sejarah dan Biologi,” jelasMendiknas.

Peringatan kali ini sekaligus meluncurkan buku 100 puisi karyasiswa bertema akses universal dan hak azazi manusia. Mendiknasmenjelaskan pengetahuan tentang HIV/AIDS juga dapat dimasukkan kedalam kegiatan ekstrakurikuler dan melengkapi bahan informasi diperpustakaan sekolah, serta membagikan secara cuma-cuma ke siswa.”HIV/AIDS asal muasalnya disebabkan oleh parasit sosial. Makasolusi yang paling tepat adalah solusi sosial,” katanya.

Solusi sosial dilakukan dengan menempatkan perilaku pada posisiyang benar. Masyarakat perlu dibangkitkan kesadarannya untukberperilaku sosial yang benar. “Insya Allah 70-80 persen urusanHIV/AIDS bisa diselesaikan. Sisanya adalah kontaminasi akibatsecara tidak langsung dari perilaku penyimpangan sosial tadi,”katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI JakartaTaufik Yudi Mulyanto mengatakan peringatan Hari AIDS Sedunia diProvinsi DKI Jakarta dirangkai dengan beberapa kegiatan dengan temaJakarta Stop AIDS. Sebanyak 400 siswa duta stop AIDS bertugasmenyampaikan informasi tentang HIV/AIDS. “Tidak hanya di lingkungansekolah, tetapi juga ke rumah,” katanya.(T.Ad/dry)

Cahaya



Tanpa disadarinya, perempuan di depannya seketika merasa silau. Cahaya matahari memasuki matanya, "Aduh silau," katanya.

Di dalam angkot berwarna hijau dia duduk disebelah seorang perempuan lain yang lebih tua usianya. Mungkin kakaknya, mungkin ibunya.

Dia memegang-megang benda di tangannya. Sebuah CD yang baru dibeli. Sebuah game baru untuk dimainkan di rumah. Dipegang-pegangnya CD tersebut. Gambarnya dibalik, menghadap celana jeans birunya.

"Silau," kata perempuan tersebut sambil menutup matanya.

tersenyum, "Wah CD-nya memantulkan cahaya."

"Mari kita tangkap cahayanya," sahutku.

Kutepukkan tanganku, "Hap," kataku sambil bertepuk tangan, sambil berusaha menangkap cahaya.

"Ketangkap cahayaya!" sahutku seakan-akan cahaya tersebut masuk diantara kedua belah tanganku.

"Jangan, jangan," katanya tidak rela cahayanya ditangkap.

Ia mulai sadar, cahayanya berasal dari CD-nya. Ia memain-mainkan CD-nya sehingga ada cahaya di langit-langit angkot.

"Hap! Ketangkap lagi", sahut saya.

"Jangan,jangan! Jangan tangkap," teriaknya.

Angkot menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi pohon-pohon rindang.

"Mana cahayanya?" matanya bertanya-tanya keheranan.

Wajahnya jadi girang saat ia temukan lagi cahaya dari CD-nya.

Matahari tak lagi dihalangi oleh awan yang rindang. Rasanya, panas, tapi ia kegirangan.

"Tangkap lagi-tangkap lagi," katanya.

"Hap, hap, hap," jawabku sambil berusaha menangkap cahaya di langit-langit angkot.

"Tangkap lagi-tangkap lagi," katanya sampai tiba-tiba perempuan di sebelahnya berkata, "Turun yuk!"

Nov 29, 2010

Dialogue in The Classroom

Saya sangat ingin murid-murid saya bisa aktif di dalam kelas. Awalnya saya pernah mencoba memberikan artikel untuk dibahas. Belum berhasil.

Melemparkan topik diskusi dan meminta siswa mengungkapkan 'I agree
that...
', dan 'I disagree that...'. Masih gagal.

Akhirnya saya mendapatkan tips dari Pak Bagiono, seorang guru senior sekaligus pembina saya di Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Kata Pak Bagiono, "Saya bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman, awalnya dengan enghafalkan sekitar 10 kalimat percakapan. Nanti kata-katanya tinggal diganti sedikit saja."

Pak Bagiono mengusulkan saya mencari contoh dialog yang sederhana dan kemudian dialog tersebut dibaca bersama-sama di dalam kelas. Siswa diminta menghafal dialognya, lalu maju.

Metode tersebut saya modifikasi, setelah membaca dialog bersama-sama, saya ajak murid saya membuat dialog baru, mereka saya pasangkan berdua-dua dan masing-masing pasangan harus membuat dialog sendiri, dan boleh dimodifikasi. Setelah itu, saya memberikan mereka waktu sekitar 10 menit untuk mempelajari dialog mereka kemudian mereka harus
maju ke depan, tanpa catatan.

Thankfully, it works! Mereka asik merancang dialog secara bebas, tetapi mereka juga memiliki struktur yang bisa menjadi pegangan
(contoh dialog). Saya memerhatikan kelas. Beberapa siswa terlihat banyak maunya, hehe kreatif maksudnya. Maunya dialognya begini dan begitu. "Ceritanya begini aja, eh egini juga," terdengar suara yang cukup heboh dalam kelas.

Beberapa siswa tampak lebih spontan dan tidak ingin terlalu kaku, dibawa santai. Dan ketika mereka maju, dialognya bervariasi. Mereka cukup berani. Dan lumyanlah!
Hello the next innovation! I'm coming!

ICT dan Pendidikan

Tentu saja saya tak menafikkan pentingnya teknologi tetapi beberapa
gerakan pendidikan yang seakan-akan mendewakan ICT membuat saya
khawatir.

Tentu saja saya ingin guru bisa melek komputer, internet, dan
teknologi. Saya pun senang bisa berkomunikasi dengan guru-guru di
seluruh Indonesia setiap harinya baik via chatting, facebook, mailing
list, bloging maupun citizen journalism. Tentunya ini karena adanya
teknologi. Saya juga paling senang mendownload berbagai teacher
resources, baik berupa lesson plan, teaching tips, video pembelajaran,
dan sebagainya.

Tetapi saya mulai khawatir ketika sebuah seminar yang saya datangi,
mc-nya bilang begini, "sekarang dengan adanya software pembelajaran
ini, ibu bapak guru tidak perlu berbicara panjang lebar, semuanya ada
di dalam tinggal menggunakan software ini."

Saya pernah melihat presentasi mengenai melakukan percobaan untuk
mengukur frekuensi dan periode sebuah bandul. Untuk melakukan ini
digunakan sebuah software. Bandulnya? Virtual.

Memang tidak semua hal bisa diuji cobakan dengan mudah. Saat kita
membahas hal-hal yang terlalu besar seperti planet atau terlalu kecil
seperti atom atau DNA yah memang tidak ada salahnya menggunakan
model-model, termasuk dengan komputer. Tetapi rasanya, tidak semua hal
dalam pembelajaran harus menggunakan komputer. Termasuk percobaan
mengenai bandul ini.

Percobaan mengenai bandul yang bergetar sangat sederhana dan bisa
dilakukan tanpa menggunakan bandul palsu (di komputer). Bayangkan ada
sebuah bandul virtual yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu kita
diminta menghitung berapa banyak getarannya, berapa waktu yang
diperlukan untuk melakukan getaran tersebut. Ini bandul virtual loh.

Ini percobaan yang sangat mudah. Ambil saja tali. Bebannya bisa
menggunakan berbagai beban. Bahkan mungkin kita bisa membandingkan
mengubah berbagai variabel untuk melihat apa efeknya akan sama atau
berbeda? Bandul bisa dibuat dari berbagai bahan yang berbeda?
Panjangnya bisa diubah-ubah. Bahkan kita bisa mencari tahu apakah
bentuk bebannya berpengaruh terhadap gerak bandul? Ajak siswa untuk
merancang percobaan sebanyak-banyaknya. Bahan-bahan untuk melakukan
percobaan ini bisa ditemukan dengan mudahnya. Kenapa harus menggunakan
komputer?

Beberapa hari yang lalu saya juga sempat melihat bagaimana seorang
pejabat pendidikan melakukan presentasi. Ia mempresentasikan dua video
pembelajaran di kelas. Kelas pertama, katanya, membosankan karena guru
sibuk menulis di papan tulis dan siswanya diajak mencatat.

Video kedua adalah video dimana seorang guru menggunakan ICT. Kata
pejabat tersebut guru tersebut mengajarkan mengenai lingkaran
menggunakan komputer dan LCD. Saya melihat videonya. Bagi saya tidak
ada bedanya dengan kelas yang dicap 'konvensional' bedanya papan
tulisnya digantikan dengan gambar dari komputer yang lebih berwarna.
Siswa hanya duduk menghadap depan.

Kata pejabat tersebut kelas tersebut menarik, karena guru kemudian
menggunakan muka siswa-siswinya untuk menggambarkan titik-titik pada
lingkaran. Saat itu sedang pelajaran matematika dengan materi
lingkaran. Itu membuat para siswa tertawa, kemudian, katanya, tanpa
menunjukkan adegan dalam video, ada diskusi.

Sorenya saya mendengarkan presentasi seorang peneliti matematika
mengenai pembelajaran matematika yang menyenangkan. Bagi saya,
meskipun tanpa ICT kelas ini lebih hidup. Saat itu siswa-siswa sedang
melakukan berbagai pengukuran untuk belajar statistik. Alatnya adalah
botol, air, kertas pleno, spidol, dan bahkan papan tulis. Ada diskusi
kelompok, ada trial dan eror untuk menemukan suatu konsep. Ada
diskusi, ada tanya jawab. Ada menuliskan hasil pengamatan, ada
kegiatan mempresentasikan hasil pengamatan dan penghitungan dengan
berbagai cara. Semuanya dilakukan dengan alat-alat yang sederhana.
Tanpa ICT.

Saya sendiri penggemar ICT, tapi tentunya dalam pembelajaran, kita
harus menggunakan alat apapun, termasuk ICT secara bijak. ICT bukanlah
dewa. Ada saatnya ia relevan digunakan dan ada saatnya tidak.
Bagaimana menggunakannya? Nah ini bahasan lain. Kapan-kapan saya akan
menuliskan mengenai dua cara menggunakan ICT untuk belajar sains.

Nov 28, 2010

Kartu idul fitri dan ibu

(Almarhum) ibu saya selalu menyimpan semua karya anak-anaknya, tak terkecuali gambar yang hanya berupa corat-coret yang kubuat ketika usiaku masih sangat muda. Di rumah, ada file yang berisi karya saya lengkap semenjak usia saya 1 tahun hingga saya sekitar SMP.

Setiap tahun, gambar saya dan adik saya (yang hanya beda 1 tahun dari saya) akan dipilih untuk ditempelkan di sebuah kertas. Di sisa kertas, ibuku akan menulis, "Selamat Idul Fitri, dan nama seluruh keluargaku). Kertas tersebut akan difotokopi, dan dikirimkan sebagai kartu idul fitri kepada semua keluarga dan teman-teman yang tinggal berjauhan.

Pada tahun 80-an keluarga saya pernah ditolong oleh seseorang. Ibuku tak lupa mengirimkan 'kartu lebaran khas' tersebut ke orang tersebut, tentunya sebagai sarana menjalin silaturahmi dengannya.

Sore ini, di meja saya temukan fotokopi kartu idul fitri tersebut lengkap dengan fotokopi amplop, tempat kartu tersebut dimasukkan sebelum dikirimkan.
Ada gambar saya dan tanda tangan saya dengan huruf yang terbalik-terbalik. Nama saya yang seharusnya ditulis 'Dhitta' saya tuliskan sebagai 'Dtta' dengan satu huruf t yang terbalik. Adik saya menggambar orang yang sedang tengkurap sambil menyentuhkan kakinya di kepalanya, lucu sekali. Nama adik saya Dipo, tetapi di sana tertulis 'Dido'. Huruf p menjadi huruf d.

Dibelakangnya ada surat. Orang tersebut selalu menyimpan kartu idul fitri kiriman ibu saya (itu adalah fotokopi kartu idul fitri pertama yang dikirimkan ibu saya).

"Apa kabarnya anak-anak sekarang?
Pasti sudah besar," tulisnya.

Kata bapak saya, usia orang tersebut sudah 80 tahun. -a telah menyimpan kartu tersebut selama lebih 20 tahun. Sejak tahun 80-an ia belum pernah bertemu kembali dengan keluarga kami. Belum lama ini ia berkesempatan bertemu dengan bapak saya. Ia langsung mengingat kartu yang dikirimkan oleh ibu saya tersebut. Karenanyalah ia mengirimkan surat tersebut. Saya menatap fotokopi kartu lebaran tersebut sambil berulang-ulang membaca suratnya. Terkesima.

Nov 24, 2010

Menggunakan igoogle

Belum lama ini, dua orang teman saya menyeletuk, "Puti nih kok selalu nemu sih berita pendidikan [yang gak umum maksudnya]. Dapat dari mana sih?"

Heheh saya senyum-senyum sendiri. Kesannya sih saya rajin men-searching berita. Padahal sih, enggak sama sekali. Sebenarnya, sayadibantu oleh sebuah mesin. Yang mencari berita adalah teknologi. Saya hanya menikmati hasilnya. Tetapi saya memang cukup cepat mengupdate berita pendidikan dari berbagai media online. Karena itulah dalam sehari saya bisa memposting sekitar 5 - 10 berita pendidikan ke mailing list yang berkaitan dengan pendidikan. Bagaimana caranya?

Itu berawal dari ketika saya pertama menggunakan feature igoogle yang bisa dibuka di website http://www.google.co.id/ig

Dengan menggunakan feature igoogle saya bisa membuat semacam homepage sendiri. Sekali buka site tersebut saya bisa memampang email (google), chatting, facebook, sekalian. Bukan hanya itu saya bisa menambah feature lain sesuka hati saya. Di sebelah kanan atas ada tuliskan tambahkan feature.

Di sana saya menambahkan feature google reader, google news, time, bahkan konverter (untuk mengkonversi satuan).

Dengan google reader, saya dapat mendaftarkan blog teman-teman saya, sehingga saat saya membuka igoogle secara automatis, akan ada tampilan semua blog teman saya yang paling baru ter-update. Sedangkan untuk berita pendidikan yang terbaru, saya menggunakan feature google news.

Di sebelah kanan atas bagian google news. ada lambang (+). Saya bisa menambahkan kata kunci apapun yang saya suka, misalnya 'kurikulum pendidikan', 'kurikulum tingkat satuan pendidikan', 'pendidikan indonesia', 'peningkatan kualitas guru', dan sebagainya. Dan aha, secara otomatis, setiap hari saya bisa langsung ter-update dengan berita-berita yang berkaitan dengan kata-kata kunci yang saya masukkan.

Memang hanya sati feature sederhana, tetapi semoga tips yang saya bagikan ada manfaatnya. :)

Nov 22, 2010

To Sir With Love (Lyric)

Those schoolgirl days, of telling tales and biting nails are gone,
But in my mind,
I know they will still live on and on,
But how do you thank someone, who has taken you from crayons to perfume?
It isn't easy, but I'll try,

If you wanted the sky I would write across the sky in letters,
That would soar a thousand feet high,
To Sir, with Love

The time has come,
For closing books and long last looks must end,
And as I leave,
I know that I am leaving my best friend,
A friend who taught me right from wrong,
And weak from strong,
That's a lot to learn,
What, what can I give you in return?

If you wanted the moon I would try to make a start,
But I, would rather you let me give my heart,
To Sir, with Love

Kisah Mengenai Buku Non-Mainstream

Belum lama ini saya bertemu seseorang yang sempat bekerja di konsulat Jepang. Dia bercerita mengenai pekerjaannya saat itu. Dia diminta untuk berkeliling pasar-pasar di Jawa untuk membeli buku-buku non stream yang dijual di pasar. Buku-buku murah meriah dari yang berharga Rp500,- sampai Rp.5000,-. Buku-buku ini diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan tidak dijual di toko-toko buku pada umumnya. Membelinya memang harus ke pasar.

Pekerjaannya adalah naik turun dari bus, keluar masuk pasar, mendatangi pasar loak dan pasar malam dan memborong semua buku-buku ini. Setelah itu, ia akan mendatangi penulis buku (dan penerbit buku) dan mewawancara mereka satu-satu (semacam penelitian).

Menurutnya, ternyata di pasar, yang dijual bukan hanya barang tetapi juga pengetahuan. Ada berbagai jenis buku, mulai dari buku-buku mengenai agama, buku-buku humor, dan beberapa buku lainnya. Beberapa buku malah cukup berat sebenarnya. Ia menemukan karya-karya sastra Rusia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia ataupun karya-karya Al Ghazali lengkap. Perbedaannya adalah bahwa karya-karya ini dipecah menjadi buku-buku yang tipis (dijual per bagian). Mungkin tujuannya adalah untuk menghemat biaya produksi dan menarik minat pembeli.

Menurut orang tersebut, ia belajar bahwa penerbit-penerbit non-mainstream ini punya peran yang cukup besar dalam mencerdaskan masyarakat.

Untuk apakah konsulat Jepang membiayai prorgram memborong buku non-mainstream ini? Ternyata ada satu seksi di sebuah perpustakaan di sebuah kota di Jepang yang dibuat khusus untuk buku-buku non-mainstream di Indonesia. Konsulat Jepang tersebut percaya bahwa mendokumentasikan buku-buku non-mainstream tersebut pasti ada manfaatnya. Suatu saat nanti, pasti ada yang membutuhkan.

Sweet Wedding

I went to my friend's wedding today. She is a classroom teacher. She also coaches a vocal group in a high school. Her students sang to her in her wedding. I think that is so sweet. They had these sparkle in their eyes when they sang. I could feel that they dedicated the song to my friend, as their teacher. I felt I wanted to burst in tears feeling touched.

Nov 18, 2010

Mengajar bahasa Inggris

Hari ini pertemuan ke-4 saya mengajar bahasa Inggris di sebuah akademi Farmasi. Saya mengajar mahasiswa tingkat 2. Tujuannya adalah agar mahasiswa-mahasiswa ini dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan memiliki vocabulary yang memadai menyangkut bidangnya (terkait kesehatan, obat-obatan, bagian tubuh, dan sebagainya).

Terus terang, mengajar bahasa Inggris cukup menantang bagi saya. Hal ini disebabkan karena saya sudah bilingual sejak usia yang sangat muda. Saya tidak pernah merasa belajar bahasa dari nol. (Kecuali sedikit bahasa Sunda secara informal). Saya tidak tahu rasanya belajar berbahasa dari dasar? Sejak saya kecil saya sudah terbiasa berbicara dengan kedua bahasa (Indonesia dan Inggris) sekaligus.

Saya merasa memiliki kemampuan untuk mengajar fisika atau matematika bukan hanya karena saya memang memelajari kedua bidang tersebut dengan serius, tetapi karena saya juga masih ingat kesulitan-kesulitan saya saat belajar kedua bidang ini. Saya juga bisa membayangkan, apa yang membuat saya lebih mudah memahami kedua bidang tersebut. Saya bisa membayangkan sistematika, 'ini lebih mudah', 'ini lebih sulit', dan tahapan-tahapan yang diperlukan untuk bisa memahami kedua bidang tersebut. Saya memang memelajari kedua bidang ini secara sistematis. Itu membuat saya merasa lebih bisa mengajar kedua bidang itu.

Untuk bahasa, tampaknya saya tidak memperoleh pengalaman yang sama. Baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Sementara saya masih mencari cara terbaik untuk mengajar bahasa Inggris. Mudah-mudahan saya menemukan pola yang paling pas.

Nov 6, 2010

Unaceptable? Who? You?

Ouch it hurts.
She is bold but kind hearted and sincere.
She might be bold and outspoken.
But why? Tell me why can't you accept a sincere loving heart?

Ouch it hurts
For you to use her name
In respect, as you say

For whom?
For you?
Is it really for her?

Don't you understand
She is someone who understands us dearly
Who loves us for who we are
We might not be Javanese like her
But she never asks us to be like here, either
Not a single bit

She never forces her will
Even the one she believes most true
Why do you?
In her name?
Why do you?

Stop this game of lipstick imaging
There are places where politics should not be played
Not here.. Especially not here you know?

Stop this silly game of yours
I am sick of it
So sick of it I feel anxious

Just stop it!
Your act is totally not acceptable
Not hers
Not them
Unaceptable it is

Oct 25, 2010

jakarta oh jakarta

4 hours on the street
Not yet out of town
Wondering when
Will we arrive?
When tell me when?

Anger of heat
With black dusty air

Anger of
wet heavy rain
Colored black or brown

Food full of metal
Water full of iron and a medicine smell
Water you pay for but not always clean

People breath poison
Poison everywhere in the air

Angry people swearing
Or crying in despair

Oh hungry city
Dark, gloomy, and blue
What do people get, from living with you?

Oct 24, 2010

Menonton film mengenai Bipolar Disorder




Sabtu lalu saya mampir di Rumah Buku untuk menghadiri kegiatan nonton film mengenai Bipolar Disorder berjudul At the Very Bottom of Everything karya Paul Agusta.

Saya penasaran karena saya tidak tahu menahu mengenai bipolar disorder dan sangat ingin belajar mengenainya. Tadinya saya berpikir itu semacam kepribadian ganda, ternyata saya salah. Ternyata :
Bipolar disorder (also known as manic depression) is a disease; it is a medical condition that causes psychological problems to such a degree that daily functioning is hampered by the symptoms. The most prominent symptoms include extremes of mood known as depression and mania. These emotional extremes are usually beyond normal responses to events and often last for extended periods of time. Psychosis and suicide are also concerns for those diagnosed with this disorder.
Sumber : http://bipolar.about.com/od/diagnosissymptoms/a/bipolardisorder.htm


Sumber : http://bipolar.about.com/od/diagnosissymptoms/a/bipolardisorder.htm

Menurut Paul Agusta, sang pembuat film, bipolar disorder biasanya dipengaruhi oleh produksi serotonin di otak. Ketika kadar serotonin-nya rendah, biasanya penderita bipolar disorder merasa sangat depresi.


"Saya pernah mencoba membunuh diri tapi saya gagal," kata Paul Agusta. Begitulah rasa depresi yang pernah ia rasakan.


Meskipun terkadang ada hal-hal yang membuat saya stres, rasanya saya tidak pernah mengalami depresi teramat sangat seperti yang dirasakan oleh penderita bipolar disorder. Sulit bagi saya untuk membayangkannya. Meskipun begitu, saya bisa belajar bahwa ada orang-orang yang bisa merasa sangat depresi, tetapi tidak bisa mereka kontrol. Rasa depresi ini bukan hanya dipengaruhi oleh hal-hal psikologis, stress berlebih, pola diet yang tidak baik, dan kurang tidur tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, yakni produksi serotonin di otak.

Film yang dibuat oleh Paul Agusta cukup berat bagi saya. Ada banyak simbol yang digunakan yang merupakan simbol-simbol pendertitaan yang dialami oleh penderita bipolar disorder, misalnya simbol tikus yang memakan manusia. Rasanya sakit, menakutkan, dan mengerikan sekali. Dan itulah yang dirasakan oleh penderita bipolar.

Bagi Paul Agusta, film ini sangat personal. Film ini diangkat dari buku hariannya yang ditulisnya saat ia dirawat di rumah sakit untuk penderita mental. Menurutnya, bipolar disorder bisa diderita oleh perempuan dan laki-laki, dan juga bersifat genetik (bisa menurun).

Waktu Paul Agusta didiagnosis sebagai penderita bipolar, awalnya ia diberi obat-obatan. Hanya saja, ia merasa "sok jago" sehingga tidak mau meminum obatnya dan merasa bisa sembuh tanpa pengobatan. Sayangnya, dugaannya salah, ia justru menjadi sangat depresi sehingga titik yang paling dalam. Ia perlahan bisa sembuh yakni dengan kembali meminum obatnya. Selain itu, menurutnya yang juga menyembuhkannya adalah bantuan orang lain, yakni keluarga, sahabat terdekat.

Orang yang menderita bipolar disorder tidak akan bisa menghadapi penyakitnya sendiri Dalam satu adegan di filmnya ada kalimat (meskipun tidak sama persis):
Meminta pertolongan orang lain, itu bukan kesalahan
Membutuhkan kasih saya keluarga, itu bukan kesalahan


Ada juga kata-kata dalam film ini yang menyatakan bahwa ketika seseorang yang menerima bipolar disorder diterima apa adanya, baik oleh keluarga maupun sahabat-sahabatnya, ia akan lebih mudah menghadapi penderitaannya.

Oct 17, 2010

fresh and motivated

Had a great weekend
After 2 days of panic
Met best friends
Met old students
Went to places I never had thought of
Had a meaningful talk with a humble friend
Met people I haven't met for years
Looking at a child's smile
Laughing out loud
Being one's self
Shower under the rain
Had a good night sleep
Woke up early in the morning
In a city not as polluted as Jakarta
Feeling alive
Ready for the next step

Oct 14, 2010

Buku Teks Bilingual, Pengajaran dalam Bahasa Inggris dan Generasi Tanggung

Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah hampir melamar untuk menjadi penerjemah di suatu penerbitan tetapi karena saat itu saya sedang melakukan suatu penelitian yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan merasa tidak sempat untuk menerjemah, saya tidak jadi mengajukan diri sebagai penerjemah.

Penerjemah yang dibutuhkan adalah seseorang yang bisa menerjemahkan buku-buku teks IPA berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya pikir, kebutuhan untuk menerjemahkan buku-buku teks ini ke dalam bahasa Inggris diperlukan untuk keperluan sekolah-sekolah bilingual (dan RSBI) yang mulai menjamur di Indonesia.

Saya tidak tahu apa menerjemahkan buku-buku teks berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris itu sebenarnya bisa membantu pemahaman siswa dalam belajar. Entahlah.

Saya mempunyai seorang murid privat yang bersekolah di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Dia kini berada di kelas 8. Kemarin malam, saat saya menemaninya belajar fisika, saya membaca-baca buku teks yang digunakannya untuk belajar. Bukunya tertulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. (Setiap paragraf ditulis dalam bahasa Inggris, lalu di bawahnya ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Alangkah kagetnya saat saya sedang membaca sebuah paragraf yang menerangkan mengenai perlambatan. Begini tulisannya:


"Frictional force between air and the body of motorcycle, causes the motion seems the motorcycle retarded."



Tentunya yang ingin disampaikan oleh penulisa adalah bahwa akibat adanya gaya gesek yang terjadi antara sepeda motor dan udara menyebabkan sepeda motor mengalami perlambatan.

Sebentar, sebentar...
Apa saya tidak salah baca? Kata 'perlambatan' diterjemahkan sebagai 'retarded'?


Motorcycle retarded?

Retarded kan artinya terbelakang, tapi biasanya digunakan untuk manusia, bukan sepeda motor. Benar kan?

Ah gemasnya, apakah buku-buku ini benar-benar beredar di masyarakat?

Untungnya, di bagian bawah ada terjemahannya. Murid saya misalnya, lebih memilih membaca paragraf yang bahasa Indonesia. Tapi apa jadinya apabila ia membaca paragraf dalam bahasa Inggris? Bagaimana apabila ada guru yang menggunakan buku ini sebagai acuan tetapi pemahaman bahasa Inggrisnya pun pas-pasan sehingga ia menerima apa yang ada di buku sebagai kebenaran?

Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat beberapa sekolah, secara instan dan dalam waktu singkat, berubah dari sekolah yang mengunakan bahasa Indonesia sebagai penghantar menjadi bahasa Inggris.

Saya jadi ingat kisah di mana guru IPA yang diminta mengajar dalam bahasa Inggris menerjemahkan "gaya" (fisika) menjadi "style", padahal seharusnya adalah "force". Ini kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Bayangkan apa yang dipelajari oleh siswa-siswi kita di sekolah? Apa mencerdaskan? Atau sebaliknya?

Ada beberapa penyebab hal ini bisa terjadi, pertama adalah adanya sekolah-sekolah bilingual "instan". Proses menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah bilingual dilakukan tanpa pemikiran dan persiapan, dan desain yang matang. Sebagai contoh, ada sekolah-sekolah yang tiba-tiba mensyaratkan guru-gurunya mengajar dalam bahasa Inggris. Untuk mempersiapkan guru-gurunya, mereka hanya diikutkan kursus bahasa Inggris selama 3 bulan.

Kedua, kontrol mengenai kualitas buku-buku teks masih kurang memadai. Sehingga masih ada buku teks yang berkualitas rendah. Meskipun BSNP mengaku telah melakukan kontrol terhadap buku-buku teks yang ada, pada kenyataannya banyak buku teks (juga lks) berkualitas rendah yang masih beredar di sekolah-sekolah.

Apabila guru memiliki keterampilan yang baik untuk membuat bahan sendiri, worksheet, dan mampu mengajak siswa belajar melalui berbagai sumber (tidak terpaku pada buku teks), tentunya kualitas buku teks yang buruk tidak akan menjadi masalah. Guru bisa mengkritisinya dan menggunakan sumber-sumber lain sebagai media pembelajaran. Tentunya agar secara umum guru-guru Indonesia bisa menjadi guru yang seperti ini, tentu diperlukan proses dan adanya program-program peningkatan kualitas guru secara berkelanjutan.

Sambil menjalankan beberapa program peningkatan kualitas guru, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah yakni : pertama, melakukan kontrol terhadap buku teks yang beredar di masyarakat dan terutama di sekolah. Pemerinta perlu memastikan agar buku-buku tersebut berkualitas baik. Kedua, menghentikan program-program "bilingual instan", yakni program-program yang bilingual yang tidak dedesain dengan baik, yang melakukan melakukan pengajaran dalam bahasa Inggris tanpa adanya persiapan yang matang, terutama kesiapan guru-gurunya.

Kalau memang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, lebih baik meningkatkan kualitas pelajaran bahasa Inggris, terutama dengan meningkatkan kapasitas guru-guru bahasa Inggris.

Yang utama adalah pemahaman anak akan ilmu pengetahuan. Lebih baik anak belajar menggunakan bahasa ibu, tetapi fokus di pemahaman akan ilmu pengetahuan daripada belajar menggunakan bahasa asing tetapi setengah-setengah (ilmu pengetahuannya tidak didapatkan, kemampuan berbahasanya juga minim). Kita tidak ingin menghasilkan generasi yang tanggung bukan?

Oct 12, 2010

Ternyata "Gelisah" itu perlu

Beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan sebuah makalah mengenai Ujian Nasional untuk dikirimkan ke sebuah konferensi. Lolos atau tidak, saya belum tahu karena baru akan diumumkan beberapa minggu lagi. Meskipun begitu ada kelegaan dalam hati saya. Hari saya menyelesaikan makalah saya, saya bahagia. Akhirnya saya bisa menyusun keseluruhan pengalaman saya dalam satu tulisan yang utuh. Utuh di sini maksudnya, bisa menjadi semacam kerangka teori untuk tulisan yang lebih besar. Saya tidak menyangka hari itu akan datang. 3, 5 tahun saya berusaha merangkai kata. Saya membaca buku-buku dan jurnal-jurnal tentang assessment sangat banyak tetapi belum juga menemukan "Aha moment". Saat di mana saya bisa menyusun segala pemikiran, kegelisahan saya sampai-sampai saya hampir menyerah.

Akhirnya momen itu saya temukan. Rasanya menyenangkan, tapi ternyata eng ing eng ada masalah baru. Menulis memang menyembuhkan. Menulis memang membantu kita merangkai pemikiran. Saat kita menulis kita harus merenung. Berefleksi. Menata kegelisahan. Berekspresi.

Saya baru sadar, tulisan-tulisan yang 'powerful' biasanya didasari oleh kegelisahan, kemarahan, dan kesedihan. Saya baru tahu maksud sahabat saya yang mengatakan, "penulis harus selalu mencari kegelisahan".

Kemarin selesai menulis makalah tersebut, kegelisahan saya terselesaikan. Tidak sepenuhnya memang, tetapi sebagian. Setidaknya saya merasa lebih ringan. Pertanyaan berikutnya apa lagi?

Oct 10, 2010

waktu

Waktu menghantarkan kita.
Pada pada perjumpaan
Rutinitas dan spontanitas

Waktu menghantarkan kita
Pada kenalan-kenalan baru
Yang menghangatkan hati kita
Sekaligus belajar dan tertawa-tawa

Waktu menghantarkan kita
Pada perubahan
Perpisahan dan perjumpaan
Dan kopi di pinggir jalan

Waktu menghantarkan kita
Pada lelah yang tak kunjung hilang
Lalu obrolan ringan di toko buku
Yang tanpa disengaja, membuat mata berbinar-binar
Kita hidup sekali lagi!

Waktu menghantarkan kita
Pada mickey mouse
Dan kaus-kaus imut yang berwarna-warni
Dan kamar yang dipenuhi warna-warna pelangi

Waktu menghantarkan kita
Pada proses yang tak pernah padam
Rasa kaget pada perbedaan
Yang berevolusi menjadi suatu pencerahan

Waktu menghantarkan kita
Pada kerja keras yang rasanya tak pernah terbayar
Pada keinginan untuk menyerah karena luka dan duka
Lalu lewat cerita.. Terobati dan sembuh

Waktu menghantarkan kita
Pada kertas yang bertabur di udara
Marah dan tetesan air mata
Lalu kau berkata 'the show must go on.'
Waktunya tersenyum lagi

Waktu menghantarkan kita
Pada pelajaran yang dipetik
Bahwa hidup adalah hidup
Bahwa persahabatan melenyapkan duka
Bahwa kelembutan hati dan ketulusan
Tak akan pernah salah
Bahwa hati selalu tahu
Yang terbaik untuk diri
Bahwa yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita (dan sebaliknya)
Bahwa cinta akan datang
Pada saatnya

Waktu menghantarkan kita
Pada hari ini

Selamat berbahagia

Untuk yang jatuh hati pada seseorang yang berkata, "aku ingin setiap orang memiliki rumah".

Selamat berbahagia

Oct 8, 2010

Will people hear me?

Will people hear me?
I'm still very young and free.

I have so many things in my mind
So many opinions to say

Will people hear me?
I do not know

I should not even matter
Being heard isn't the goal
It is only a bonus
It may happen or it may not

The goal is to make meanings
A meaningful life all the way through

No way back

Dunia pendidikan itu, semakin kita masuk, semakin kita tertarik ke dalam. Seperti lumpur yang menarik kita.(Pak Daoed Joesoef)


Benar. Beberapa tahun yang lalu kira-kira di tahun 2008 saya bercakap-cakap dengan seorang teman bahwa being in this field, there is no way back.

Semakin kita mengerti fakta, kalau kita tidak terpaksa sekali, akan sulit bagi kita untuk terlepas dari dunia ini.

Menyesal? Alhamdulillah, tidak. Saya rasa saya telah melalui sebuah titik di mana saya hanya perlu melangkah dan melangkah lagi. Setiap hari kejutan baru. Dalam konteks Indonesia lagi, setiap hari, berarti isu baru.

Dua hari ini saya berkutat dengan sebuah penelitian singkat. Hanya 20 halaman, tapi apa yang ingin saya tuliskan telah bermain di kepala saya selama bertahun-tahun. Semakin membacanya, semakin saya tahu, there is no way back. This is my choice, this is my road. And I hope Allah will always give me strength, courage, and gudance.

the "Aha" moment

The "aha" moment
Is not just an ordinary miracle

Archimedes might yell "Eureka" in a second or two
But believe me, a second or two is not all that it takes

The "Aha" moment is not just an enlightment that falls from the sky

Your eyes need to wonder
Your ears opened wide
Your head must keep on turning
Wondering why, why, and why

Your must keep on asking
Try to seek for the truth
It might not be easy
But it does not hurt to try

Keep the wonder, the curiosity inside
The truth is out somewhere
Or it might be inside
To find it faithful is needed
Never give up

The "aha" moments needs patience
That is for sure
It might need some time

when you walk down the road,
Or almost fall a sleep through the night
You might find the moment, you've waited all you life
"Aha!"

Sep 28, 2010

[KLIPING] What Teachers Make

The dinner guests were sitting around the table discussing life. One man, a CEO, decided to explain the problem with education. He argued, "What's a kid going to learn from someone who decided his best option in life was to become a teacher?"

To stress his point he said to another guest; "You're a teacher, Bonnie. Be honest. What do you make?"

Bonnie, who had a reputation for honesty and frankness replied, "You want to know what I make? (She paused for a second, then began...)

"Well, I make kids work harder than they ever thought they could.

I make a C+ feel like the Congressional Medal of Honor winner.

I make kids sit through 40 minutes of class time when their parents can't make them sit for 5 without an I Pod, Game Cube or movie rental.

You want to know what I make? (She paused again and looked at each and every person at the table)

I make kids wonder.

I make them question.

I make them apologize and mean it.

I make them have respect and take responsibility for their actions.

I teach them how to write and then I make them write. Keyboarding isn't everything.

I make them read, read, read.

I make them show all their work in math. They use their God given brain, not the man-made calculator.

I make my students from other countries learn everything they need to know about English while preserving their unique cultural identity.

I make my classroom a place where all my students feel safe.

Finally, I make them understand that if they use the gifts they were given, work hard, and follow their hearts, they can succeed in life.

( Bonnie paused one last time and then continued.)

Then, when people try to judge me by what I make, with me knowing money isn't everything, I can hold my head up high and pay no attention because they are ignorant. You want to know what I make?

I MAKE A DIFFERENCE.

What do you make Mr. CEO?

His jaw dropped; he went silent.

Source: the Internet via milis SD Islam

Sep 23, 2010

Guru Versus Kepala Sekolah

Seorang teman saya tadinya merupakan seorang guru Biologi di sebuah SMP di daerah Jakarta. Ia menceritakan beberapa metode yang dia gunakan untuk mengajar Biologi kepada saya. Beberapa metodenya sangat menarik. Misalnya, ia menempelkan berbagai jenis gambar makanan di sekeliling kelasnya mulai dari ketoprak, nasi goreng, dan sebagainya. Ia memberikan masing-masing siswanya pensil warna yang berbeda-beda. Lalu secara serentak ia meminta siswanya untuk menuliskan kandungan-kandungan gizi yang ada pada makanan tersebut, misalnya mie mengandung karbohidrat dan sebagainya. Untuk melakukan assessment ia tinggal melihat warna pensil yang digunakan untuk menulis. Ia telah mencatat siapa-siapa saja yang menulis dengan pensil apa.

Untuk menguji apakah siswanya paham mengenai fotosintesis, ia meminta siswanya untuk menerangkan proses fotosintesis melalui gambar dan mempresentasikannya. Ada berbagai jenis gambar. Selain itu ia banyak menggunakan games untuk mengajar.

Sayangnya, kepala sekolahnya tidak mengerti niat baiknya. Menurut kepala sekolahnya. Siswa-siswinya sudah SMP dan tidak perlu belajar menggunakan gambar-gambar yang menarik. “Kalau mau menggunakan metode seperti itu, mengajar TK saja lah!”

Menurut saya, justru karena siswa-siswi tersebut sudah SMP, saat mereka belajar mereka harus memiliki pemahaman akan konsep (sains) dan mampu menerangkannya kembali dengan berbagai cara, termasuk dengan membuat alat peraga sederhana ataupun gambar.

Hal-hal seperti ini bukan hal yang aneh di Indonesia. Kisah seperti di atas bukan kisah pertama yang saya dengar. Saya ingat beberapa tahun yang lalu seorang guru di Garut sempat dipenjara karena beradu pendapat dengan kepala sekolahnya. Guru ini mengubah-ubah tempat duduk di kelas para siswa sehingga membentuk lingkaran agar diskusi lebih hidup dan suasana lebih ramai. Sang kepala sekolah tidak suka. Ntah bagaimana, kasus sesederhana itu bisa sampai ke tangan polisi. Tidak semua kepala sekolah mengerti bahwa suasana kelas yang ramai karena diskusi justru menunjukkan bahwa pembelajaran sedang berlangsung.

Tampaknya untuk menghasilkan suasana belajar yang memadai, bukan hanya diperlukan guru yang berkualitas tetapi kepala sekolah yang mengerti apa yang dimaksud dengan ‘belajar’, tentunya belajar dalam arti sesungguhnya.

MODUL 1.1 – BESARAN DAN SATUAN (1)- PENGENALAN BESARAN DAN SATUAN - FISIKA KELAS 7

MODUL 1.1 – BESARAN DAN SATUAN (1)- PENGENALAN BESARAN DAN SATUAN - FISIKA KELAS 7

Santi membeli satu botol air mineral di warung. Volumenya 1 liter.

Dari kalimat di atas, ada istilah volume. Dalam fisika, volume termasuk salah satu contoh dari besaran. 1 menunjukkan nilai volume air tersebut. Sedangkan satuan air dalam kalimat di atas dinyatakan dalam nilai.

Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, memiliki nilai yang biasa dinyatakan dengan angka, serta memiliki satuan.

Pengukuran merupakan salah satu ilmu paling mendasar dalam ilmu pengetahuan alam. Ada berbagai jenis alat ukur termasuk yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kita memasak di dapur, kadang kita memerlukan gelas ukur untuk menakar volume air, minyak ataupun terigu.

Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mengenal berbagai jenis besaran, beserta satuan dan alat ukurnya.

Mari kita baca kisah di bawah ini, dan lihat apakah kamu bisa mengidentifikasi besaran-besaran yang ada di dalam kisah di bawah ini. Ada besaran apa saja? Beraa nilainya? Apa satuannya? Dan apa alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran tersebut?

ANISAH TERKENA DEMAM
Anisah terbangun dengan tubuh mengigil. Memang di luar sedang hujan. Kalau hujan, memang udara sering terasa dingin. Meskipun begitu, Anisah merasa bahwa tubuhnya mengigil bukan hanya karena cuaca sedang hujan tetapi karena ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasa mual. Ia menyentuh kepalanya. Panas.

“Ibu, kayaknya tubuh Anisah panas deh,” katanya pada ibu. Ibu pun menyentuh kepala dan leher Anisah. Benar, panas.

“Coba kita ukur temperatur tubuhmu dengan termometer,” kata ibu sambil meletakkan sebuah termometer di ketiak Anisah.

“Ini lihat, temperatur tubuhmu mencapai 39° C,” kata ibu terlihat sedikit khawatir
“Coba minum air putih yan banyak. Biasanya meminum air putih yang banyak bisa membantu menurunkan temperatur tubuh,” kata ibu sambil meletakkan 1 liter air di meja sebelah tempat tidur Anisah Sudah 3 jam berlalu. Suhu tubuh Anisah masih panas, akhirnya ibu menyimpulkan bahwa sebaiknya mereka pergi ke dokter.

“Dokter Dinda membuka praktek sekitar 36 kilometer dari sini ayo. Ibu akan mengantarmu ke sana,” kata ibu.

Anisah dan ibu masuk ke dalam mobil. Ibu yang menyetir. Tetapi, ternyata jalanan cukup padat. Ibu mengintip speedometer. Kecepatan mobil hanya berkisar antara 20 sampai 30 km/jam. Ternyata dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke tempat praktek dokter Dinda. Sampai di sana, seorang perawat menyapa Anisah, “Sebelum menemui dokter Dinda, mari kita ukur massa dan tinggi badanmu.”

Anisah menaiki timbangan. Massa tubunya 45 kg dan tinggi tubuhnya 110 cm. Wah ia sudah bertambah tinggi.

“Anisah, silakan masuk,” sang perawat mempersilakan Anisah masuk ke ruang praktek Dokter Dinda. Dokter Dinda melakukan pemeriksaan dengan seksama dan mengajukan beberapa pertanyaan. Menurut dokter, Anisah mengalami infeksi saluran pencernaan. Ia menuliskan resep. Ada dua jenis obat. Yang satu berupa kapsul yang harus diminum 3 kali dalam sehari dan yang satunya lagi berupa obat cair. Anisah harus meminumnya 2 kali sehari dengan takaran 5 ml sekali minum.

“Mudah-mudahan lekas sembuh yah,” kata dokter saat Anisah dan Ibu pamit untuk pulang.


Dari cerita di atas, besaran apa saja yang kamu temui? Apa satuannya? Adakah alat ukurnya? Kalaupun ada apakah alat ukurnya?

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mengisi tabel berikut :
BESARAN NILAI SATUAN ALAT UKUR
Temperatur 39 °C Termometer

Sep 15, 2010

Apakah Pembelajaran IPS di Sekolah Dimulai Dari Hal-hal yang dekat dengan Kehidupan Siswa?

Apakah Pembelajaran IPS di Sekolah Dimulai Dari Hal-hal yang dekat dengan Kehidupan Siswa?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/15/apakah-pembelajaran-ips-di-sekolah-dimulai-dari-hal-hal-yang-dekat-dengan-kehidupan-siswa/

Lebaran ini, om saya berkunjung ke rumah. Ia bercerita bahwa ia kini aktif di di Komite Sekolah putrinya. “Rajin sekali,” kataku.

“Mau bagaimana lagi,” katanya, “Bulliying di sekolah tersebut sangat parah. Yah saya pikir para orang tua harus ikut berperang mengurangi itu.”

Saya merupakan alumni sekolah tersebut dan saya tahu betapa parahnya kasus bullying dan tawuran di sana. Sebagai seorang murid, saat itu, saya tidak tahu bahwa kasus-kasus tersebut sangat parah baru setelah saya lulus dan terutama mempelajari dunia pendidikan saya menyadari bahwa apa yang terjadi di sekolah saya dulu bukanlah hal yang wajar.

Saat saya baru masuk SMU, seorang kakak kelas saya meninggal karena tertusuk saat ada tawuran. Kakak kelas saya merupakan siswa baik-baik. Saat ada tawuran, ia terjebak di dalamnya karena tidak tahu harus bertindak apa, sedangkan siswa-siswa yang ‘bandelnya’ sudah lebih sigap dan cekatan dalam menghadapi tawuran. Ia menjadi korban. Ibunya datang ke sekolah untuk menasihati para siswa agar tidak terpancing amarah atas kematian putranya terutama dalam bentuk serangan ke sekolah lain karena tidak akan memperbaiki suasana.
Saya juga sudah biasa melihat darah menetes keluar dari kepala karena teman saya terkena lemparan baru. Bukan hal baru. Wajar saja.

Obrolan saya dengan om saya sampai pada pembahasan pendidikan IPS di sekolah. Saya sendiri dulu paling malas belajar IPS. Saya hampir tidak pernah belajar Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan bahkan PPKN dengan baik. Saya termasuk anak yang terkena doktrinasi bahwa segala yang sifatnya ke-IPA-an atau ke-Matematika-an lebih baik. Tentu saja, seiiring dengan waktu, dan berkat pembelajaran mengenai ilmu pendidikan saya belajar bahwa asumsi ini salah. Matematika dan IPA bukanlah segalanya. Ilmu-ilmu sosial, seni dan humaniora justru salah satu aspek penting dalam pendidikan apalagi kalau kita mengaitkan ilmu-ilmu sosial tersebut dengan fenomena di sekitar kita.

Saya jadi teringat kunjungan saya ke WaldorfSchool. Seperti halnya, Piaget dan Montesori, Steiner, pendiri Waldorf School percaya bahwa anak memiliki tahapan-tahapan perkembangan tertentu. Anak-anak remaja misalnya, dipercaya berada dalam fase-fase yang cukup ”rebelious” tetapi keinginan untuk “rebel” tidak selalu dapat tersalurkan dengan baik. “Saat anak-anak remaja, itulah saat yang tepat untuk mempelajari revolusi-revolusi di seluruh dunia, ” kata seorang guru di Waldorf School pada saya.

Pelajaran IPS seharusnya bisa menjadi pelajaran yang bagus untuk berefleksi mengenai apa yang terjadi di sekitar. Bagi seorang siswa, ada banyak fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya, termasuk diantaranya peristiwa seperti bullying dan tawuran. Bagaimana caranya agar pelajaran IPS yang ada di sekolah mampu dihubungkan dengan berbagai peristiwa ini? Bagaimana siswa bisa diajak untuk kritis melihat fenomena-fenomena ini ? Bagaimana caranya agar pelajaran-pelajaran IPS bisa membuat siswa mampu berefleksi terhadap apa yang terjadi disekitarnya sehingga akhirnya mampu memilih sikap terbaik yang perlu diambilnya? Adakah yang salah dengan pendidikan IPS di Indonesia ? Kenapa fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, jarang sekali dijadikan bahasan dalam pelajara-pelajaran IPS dimana bisa ada diskusi-diskusi yang hidup di dalam kelas? Kenapa teori-teori yang dipelajari dalam berbagai pelajar IPS tidak dikaitkan langsung dengan fenomena yang dekat dengan siswa sehingga akhirnya mampu menyentuh hati siswa? Apakah hal-hal seperti bullying, tawuran, dan sebagainya terkait dengan pembelajaran IPS yang sangat formalistis yang terjadi di sekolah?

Begitu banyak pertanyaan yang timbul di kepala saya. Saya belum bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, apalagi saya memang bukan guru IPS. Meskipun begitu saya teringat bahwa pelajaran IPS yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia sifatnya sangat formalistik, setidaknya yang saya pelajari di sekolah dulu. Saya tidak bisa merelasikan apa yang saya pelajari di pelajaran IPS dengan apa yang terjadi di sekitar saya, di masyarakat.
Saya jadi teringat sebuah yang diambil dari sebuah cerpen karya Jhumpa Lahiri berjudul When Mr. Pirzada Came To Dine. Di dalam cerita tersebut ada cuplikan mengenai seorang siswi bernama Lilia yang sedang belajar di Amerika Serikat. Lilia ini merupakan imigran dari India. Di dalam cerita tersebut digambarkan bahwa ia bisa dikatakan cukup ‘buta’ dengan apa yang terjadi di negara asalnya padahal saat itu India dan Bangladesh baru saja berpisah. Ayahnya sampai bertanya pada Lilia, “Apa yang kamu pelajari di sekolah? Apa yang kamu pelajari tentang dunia?” Lengkapnya cuplikan dalam tulisan tersebut sebagai berikut :

My father rapped his knuckles on top of my head. “You are aware of the current situation Aware of East Pakistan’s fight for soveignty”

I noded, unaware of the situation.

We returned to the kitchen, where my mother was draining a pot of boiled rice into colander. My father opened up the can on the counter and eyed me sharply over the frames of his glasses as he ate some more cashews . “What exactly do you study at school? Do you study history? Geography?”

“Lilia has plenty to learn at school,” my mother said. “We live here now, she was born here.” She seemed genuinely proud of the fact, as if it were reflection of my character. In her estimation, I knew, I was assured a safe life, an easy life, a fine education, every opportunity. I would never have to eat rationed food, or obey curfews, or watch riots from my roof-top, or hide neighbours in water tanks to prevent them from being shot, as she and my father had. “Imagine having hto place her in a decent school. Imagine her having to rad during power failures by the light of kerosene laos. Imagine the pressures, the tutors, the constant exams.” She ran her hand through her hair, bobbed to a suitable length for her part-time job as a bank teller. “How can you possibly expect her to know about Partition Put those nuts away.”

“But what does she learn about the world?” My father rattled the cashew can in his hand. “What is she learning?”

We learned amerian history, of course, and American geography. That year, and every year, it seemed, we began by studying the Revolutionary War. We were taken in school buses on field trips to visit Plymouth Rock, and to walk the Freedom Trail,and to climb to the top of the Bunker Hill Monument. We made dioramas out of coloured construction paper depiciting George washington crossing the choppy waters of the Delaware Rive, and we made pupets of King George wearing white tights and a black bow in his hair. During tests we were given blank maps of thirteen colonies, and asked to fill in names, dates capitals. I could do it with my eyes closed. (Lahiri, 2000, h.26-27)


Lilia buta terhadap fenomena sosial negara tempat kelahiran kedua orang tuanya. Tetapi ia merupakan seorang imigran yang sedang belajar di negara lain. Pelajaran IPS yang ia pelajari di sekolahnya seakan-akan tidak terkait dengan apa yang dialami di negaranya. Ia tidak tahu tentang pemisahan India dan Bangladesh. Ia tahu sedikit sekali tentang negaranya, tentang masyarakatnya, tentang lingkungannya, dan juga kehidupan sosialnya. Pembicaraan di atas, membuatnya ingin tahu lebih banyak mengenai negara asalnya. Saat ia mendapatkan tugas untuk mencari bahan-bahan di perpustakaan untuk memenuhi tugas sejarahnya ia mulai membuka buku tentang India. Sayangnya sang guru, tidak peka terhadap rasa ingin tahunya. Tugasnya tidak menyangkut pembelajaran mengenai India. “Tidak ada gunanya kamu membuka buku tersebut sekarag,” kata gurunya. Gurunya tidak tahu, bahwa rasa ingin tahunya terjadi karena apa yang ingin dipelajarinya kini sangat dekat di hati Lilia. Hal tersebut dibambarkan oleh Lahiri sebagai berikut :

No one at school talked about the war followed so faithfully in my living room. We continued to study the American Revoltion, and learned about injustices of taxation witout representation, and memorized passages from the Declaration of Independence. During recesss the boys would devide into groups, chasing each other wildly around the swings and seesaws, Redcoats against the colonies. In the classroom our teacher, Mrs. Kenyon, pointed frequently to a map that emerged like a movie screen from the top of the chalkboard, charting the route of the Mayflower, showing us the location of the Liberty Bell. Each week two members of the class gave a report on a particullar aspect of the Revolution, and so one day I was sent to the school library with my friend Dora to learn about the surrender at Yorktown. Mrs. Kenyon handed us a slip of paper with the names of three books to look up in the card catalogue. We found them right away, and sat down at a low round table to read and take notes. But I could not concentrate. I returned to the blond-wood shelves, to a section I had noticed labeled “Asia.” I saw books about China, India, Indonesia, Korea. Eventually I found a book titled Pakistan: A Land and Its People. I sat on a footstool and opened the book. The laminated jacket crackled in my grip. I began turning the pages, filled with photos of rivers and rice fields and men in military uniforms. There was a chapter about dacca, and I began to read about its rainfall, and its jute production. I was studying a population chart when Dora appeared in the aisle.

“What are you doing back here? Mrs. Kenyon’s in the library. She came to check upon us.”

I slamed the book shut, too loudly. Mrs. Kenyon emerged, the aroma of her parfume filling up the tiny aisle, and lifted the book by the tip of its spine as if it were a hair clinging to my sweater. She glanced at the cover, then at me.

“Is this book a part of your report, Lilia?”

“No, Mrs. Kenyon.”

“Then I see no reason to consult it,” she said, replacing it in the slim gap on the shelf. “Do you”

(Lahiri, 2000, h.32-33)


Narasi di atas menyentuh hati saya. Ntah apa rasanya bila saya menjadi Lilia. Sesuatu sedang terjadi di negaranya. Perang saudara katanya. Setiap malam keluarganya dan seorang tamu, Bengali selalu membahasnya. Tapi apa yang dipelajari di sekolahnya jauh sekali dari ketertarikannya. Salah satu teori pembelajaran yang sangat berpengaruh pada saya hingga saat ini adalah bahwa hal terpenting adalah memulai pembelajaran dengan hal-hal yang dekat di hati siswa. Ini akan menanamkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan belajar. Saat siswa sudah mulai mencintai belajar, ia dengan mudahnya akan belajar apapun. Ia akan menjadi pembelajar sejati. Apakah pembelajaran IPS di Indonesia sudah dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan siswa? Mari kita bahas bersama-sama.

Sumber: Lahiri, Jhumpa. (2000) When Mr. Pirzada Came To Dine, in Interpreter of Maladies.London : Flaminggo

Sep 14, 2010

Guru Bukan Robot

Guru Bukan Robot

Oleh Dhitta Puti Sarasvati


… Education inevitably creates friction regarding aims, priorities and control. We should not deplore this, but rather welcome this debate, because it confirms that some educators are thinking about their roles, not simply doing what they are told (Jeffs 2001 in Linda and Wolf (Eds.), p.36)

Saat saya sedang membaca kalimat di atas, saya langsung teringat obrolan saya dengan beberapa guru sekolah negeri. Saat itu sedang ada acara mengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kementerian Pendidikan mengenai apakah RSBI telah dikomersialisasikan. Saat itu saya sudah mendengar bahwa banyak sekolah RSBI memungut biaya hingga puluhan juta rupiah. Sekolah-sekolah ini merupakan sekolah negeri. Tadinya saya sempat hampir menyalahkan pihak sekolah karena melakukan pungutan-pungutan semacam ini tetapi ketika saya mendengar curahan hati seorang kepala sekolah bahwa ia mendapat paksaan dari pusat untuk memenuhi beberapa persyaratan agar sekolahnya dapat menjadi RSBI (termasuk memperbaiki berbagai fasilitas dan sebagainya). Sekolah tersebut ditunjuk langsung oleh pusat dan syaratnya ditentukan oleh pusat. Meskipun pemerintah telah memberikan berbagai bantuan dana, ternyata untuk memenuhi semua syarat yang ditentukan oleg pemerintah biaya yang diperlukan masih sangat besar dan sekolahpun kebingungan dari mana harus mencari dana, “terpaksa kami memungut bayaran dari siswa,” katanya pada saya.

“Kami ditunjuk oleh pemerintah dan diminta segera memenuhi syarat,” tambahnya pada saya menggambarkan bagaimana kebijakan pemerintah, seperti sebelumnya selalu bersifat top-down tanpa adanya proses assessment mengenai kebutuhan dan kapasitas sekolah.

Saya pernah menjadi seorang guru di sebuah madrasah dan mengerti sekali dilemma yang dihadapi seorang guru. Seringkali guru harus berbenturan dengan berbagai kepentingan termasuk diantaranya kepentingan penguasa, kepentingan pasar kerja, dan berbagai kepentingan lainnya yang tidak selalu sejalan dengan berbagai filosofi pendidikan. Banyak diantara kita yang tidak setuju pada Ujian Nasional (UN) karena kita memaknai proses belajar lebih luas daripada sekedar untuk mengikuti sebuah ujian.

Saya misalnya, lebih berpegang pada prinsip assessment for learning. Apapun bentuk sebuah assessment termasuk diantaranya ujian harus digunakan untuk merancang program pembelajaran yang terbaik untuk siswa di kemudian hari. Binet misalnya, saat pertama merancang test IQ , ia memang menilai kemampuan siswa tetapi hal ini digunakan agar siswa-siswa yang memiliki IQ di bawah rata-rata bisa memperoleh pendidikan yang lebih khusus, sehingga kebutuhan mereka terpenuhi. Ujian Nasional tidak digunakan untuk tujuan ini (merancang program terbaik untuk siswa). Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan assessment yang saya percaya. Sebagai seorang pendidik, terutama di sekolah formal, mau tidak mau saya harus berhadapan dengan berbagai keputusan yang dbuat oleh pemerintah yang menyangkut kinerja saya. Meskipun begitu, saya percaya bahwa saya memiliki hal untuk merefleksikan kembali berbagai kebijakan yang menyangkut dunia pendidikan, pendidik, dan siswa. Meskipun saya harus mengajarkan siswa saya menghadapi berbagai realita yang ada dalam dunia pendidikan, saya merasa saya perlu menggunakan akal pikiran saya untuk menganalisa dan mengkritisi berbagai situasi dan kebijakan pendidikan yang dibebankan kepada saya, setidaknya melalui tulisan dan juga diskusi.


Meskipun untuk menjadi seorang pendidik [professional] diperlukan berbagai penguasaan ilmu pengetahuan (teruutama bidang studi yang diajarkan) serta berbagai keterampilan lainnya seperti kemampuan menggunakan teknologi (termasuk di antaranya ICT), kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan numeracy dan literacy, tetapi itu saja tidak cukup.

Bagi saya salah satu keterampilan yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah kemampuan untuk berpikir kritis dan mempertanyakan berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita, mulai dari fenomena yang paling sederhana yang terjadi di sekitar kita, misalnya di lingkungan kelas atau sekolah hingga isu-isu yang lebih besar termasuk berbagai isu nasional dan internasional, tentu termasuk diantaranya mengenai berbagai kebijakan pemerintah mengenai pendidikan. Hal tersebut berhubungan langsung dengan pendidik dan siswa. Kepedulian terhadap berbagai isu mengenai kebijakan pendidikan menunjuka bahwa kita, para pendidik sangat peduli terhadap apa yang akan dihadapi oleh siswa. Apa efeknya sebuah kebijakan terhadap proses pembelajaran di sekolah Bagaimana sikap kita seharusnya? Seorang pendidik yang baik pasti akan khawatir apabila suatu kebijakan hanya dijalankan untuk kepentingan penguasa ataupun bisnis. Bagi seorang pendidik yang paling utama adalah kepentingan siswa.

Menurut saya, seorang pendidik, harus mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis dan kemampuan untuk bertanya, mencari, berefleksi, terus bertanya, dan berpikir. Seorang pendidik mungkin saja harus terlimitasi oleh berbagai kebijakan dan aturan yang mengekangnya, tetapi seorang pendidik tidak boleh terkekang pemikirannya. Ia harus bebas dalam menggunakan pemikirannya yang bisa dituangkan melalui tulisan, diskusi, dan tentunya lebih baik lagi diaplikasikan. Seroang pendidik harus menggunakan segenap pemikiran dan hati saya untuk memaknai segala yang terjadi disekitar. Kemampuan untuk menggunakan pemikiran saya untuk mencari makna merupakan salah satu roh yang paling utama bagi seorang pendidik, tentunya ditambah rasa cinta terhadap ilmu, profesi, maupun siswa-siswinya.

Sumber:

1) Jeffs, Tony. First lessons : historival perspectives on informal education in Richardson, Linda Deer and Mary Wolfe. (2001). Principles and Practices of Informal Education: Learning Through Life, Routledge, Oxon : 2001

2) IQ Tests : Where Does It Come From, http://iq-test.learninginfo.org/iq01.htm

Sep 13, 2010

di atas mobil yang berlalu lalang

Sebuah sms masuk, "ngemol yuk!" Saya sedang berjalan-jalan dengan keponakan saya yang cantik menemani ibunya mencari pakaian anak2x.. Sore itu tak banyak acara tentu saya iyakan. Saya merindukan mereka dan sedang pundung karena acara kumpul2x di bulan Ramadhan batal berulang kali.. Setiap tahun memang begitu. Ribut mengurusi acara bertemu karena maunya semua datang tapi tak pernah bisa. Kali ini hanya kami berempat, saya Indri, Dana dan Iqbal.

Saya akan selalu ingat Ramadhan terindah saya bersama mereka. Rasanya kami saat itu ber-15 mungkin lebih. Kami baru memulai kehidupan baru setelah 3 tahun yang selalu bersama lalu dipisahkan oleh berbagai kota. Kami duduk dalam sebuah lingkaran. Setelah makan dan shalat magrib kami duduk dan bercerita tentang perkembangan kami masing-masing, hal-hal baru yang kami temui, dan doa serta harapan kami. Kami bergantian bercerita mengikuti urutan dalam lingkaran. Rasanya 4 jam lebih habis untuk berganti cerita dan doa. Bagi saya malam itu seperti merasakan Lailatul Qadar ntah betul atau tidak yang jelas saya pulang dalam keadaan paling damai. Malam yang sangat indah. Senang memiliki teman2x yang menemani dalam masa2x menuju kedewasaan.

Malam itu rasanya tak bisa ditolak. 2 tahun terpisah adalah waktu yang lama untuk tak bertatap muka. Kami bicara tentang kejadian2x yang terlewat, masa-masa yang kelam yang berhasil dilalui, rasa percaya, kesempatan, dan bagaimana bisa berbahagia dalam sederhana. Kami berbicara tentang bagaimana waktu bisa menjadi pendidik terbaik dan proses dan penerimaan dan proses dan menentukan pilihan. 4 jam kemarin rasanya berlalu begitu saja. Tapi cukup untukku setidaknya sat ini.

Sep 11, 2010

Perempuan

Mengapa kau menatapku sambil menangis?
Mengapa matamu memancarkan luka?

Kau ingat dia, katamu
Yang mampu menyelami isi hatimu

Sep 9, 2010

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

“Plak,” suara keras berbunyi. Saya menoleh. Teman saya, seorang siswi sedang menampar seorang siswa. Saat itu sedang sore. Masih ada beberapa siswa-siswi masih ber-ekskul ria dan saya sedang berdiri memandangi kegiatan-kegiatan yang masih berlangsung di sekolah. Saya selalu mencintai suasana sore hari di sekolah saya.
Ternyata tak lama kemudian, ntah bagaimana kejadiannya saya sudah berada di sebuah ruang besar bersama teman-teman seangkatan saya. Saya mulai paham apa yang terjadi. Telah terjadi sebuah kekerasan seksual di sekolah kami. Seorang siswa laki-laki ntah bagaimana masuk ke kamar mandi putri dan merekam teman saya dengan sebuah kamera. Hasilnya ditunjukkan ke beberapa siswa-siswa laki-laki lain. Bagi mereka saat itu mungkin lucu, tidak bagi kami siswi. Di sebuah ruang besar, mungkin ada lebih dari 50-an siswa-siswi berkumpul. Kami saling mengungkapkan pendapat. Menyatakan bahwa kami tidak hormat pada sikap yang dilakukan oleh siswa laki-laki. Siswa laki-laki si sekolah saya cukup terkenal dengan kekompakannya. Tetapi dalam hal ini, kekompakannya bukanlah hal yang positif. Menyebarkan suatu rekaman yang mempermalukan teman sendiri ke sesame siswa laki-laki. Kami berdialog. Siapapun yang berada dalam forum itu saling mengungkapkan pendapatnya. Kami mendengarkan bagaimana sebuah proses yang cukup menyakitkan ini bisa terjadi. Kenapa bisa terjadi? Bagaimana sikap kami terhadap kejadian tersebut. Apa yang kamu setujui dan tidak. Bagi yang merasa bersalah, pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Kami pun membahas bagaimana kami bisa memperbaiki sikap dan hubungan antar kami semua.


Ntah kenapa saat saya mempelajari mengenai restorative practice sebagai sebuah praktek yang bisa digunakan di sekolah saya mengingat kejadian tersebut. Menurut mark Le Messurier, restorative practice didefinisikan seperti berikut :

Restorative practice is a contructivist learning-based process that distinguishes between managing behavior and managing relationships. Based on the principles of restorative justice, restorative practices assume that the best way to deal with a problem is to teach individuals how to discuss, listen, share, and exchange ideas about it.(Messurier, 2010, h.32)
Spirit yang bersifat restoratif dijelaskan sebagai berikut :
The restorative spirit rejects poor behavior, but endavours to understand it, repair the problem and find agreement on what needs to happen to make things better. The needs of those who have been harmed are central in these decisions. Those who caused harm are enabled to make amends and find a way to continue their positive engagement in school life (Moxon et al. 2006 dikutip dalam Messurier, 2010, h.32)


Sedangkan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah restorative practice dijelaskan sebagai berikut :

The restorative message to those who have behaved inappropriately is ‘You’re okay, but that behavior isn’t’. This is a world apart from the traditional disciplinary message ‘You’ve acted badly, so now you will be treated like a bad person’. Mistakes ad wrongdoings are seen through the lens of how they affect others, and consequences always focus o what needs to happen to mend the harm caused. Those who have caused a problem are encouraged to show care and take responsibility. The group (including the teacher) also commits to reaccepting the wrongdoer once they have acted to right their wrongs. (Messurier, 2010, h.32)


Ada beberapa cara dalam melakukan restorative practice diantaranya disebutkan dalam website http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm, yakni :

1. Restorative enquiry, the starting point for all restorative processes involving active non-judgmental; listening. The process can be used with one person to help them reflect on a situation and find ways for forward for themselves. It also useful before and during face-to-face meetings.

2. Restorative discussion in a challenging situation, often between a more and less powerful person. Skills include expressing and listening for feelings and needs, and understanding why each has acted the way they have.

3. Mediation - useful when both X and Y belive the other person is the cause of the problem. The mediator remains impartial, and helps both sides to consider the problem as a shared one that needs a joint solution. Can be offered by trained students, who act as peer mediators

4. Victim/Wrongdoer mediation - useful when someone acknowledges they have caused harm* to another person and both sides agree to see how the matter can be put right, with the help of an impartial mediator

5. Using Circles, for team building and problem solving, enables a group to get to know each other and develop mutual respect, trust and concern

6. Restorative conference, involving those who have acknowledged causing harm meeting with those they have harmed, seeking to understand each other's perspective and coming to a mutal agreement which will repair the harm as much as possible. Often all sides bring supporters, who have usually been affected, and have something to say from a personal perspective.

7. Family Group Conference - useful when a plan is needed to provide support to a young person, or their family in making changes. Family Group Conferences are converted in neutral venues by independent co-coordinators. The meeting involves three stages. It starts with professionals sharing information with family members and providing consultancy on options for future help. Then the family members have private time on their own to discuss and deliberate, and come up with a plan for a way forward to help the child's situation. At the end of the meeting key professionals return with the coordinator to hear and record the family plan and make arrangements for monitoring and review. This process can be preceded by a restorative element where appropriate.


Menurut saya proses yang terjadi ketika saya sekolah dulu disebut restorative conference. Teman saya yang menjadi korban dari prilaku teman yang lain saling bertemu, ditambah dengan teman-teman lainnya dan saling mendiskusikan pendapat mengenai kejadian yang terjadi.

Proses restorative practice seingat saya diterapkan oleh AS. Neil dalam sekolahnya yang disebut Summerhill School. Siswa-siswinya dibiasakan untuk mendiskusikan masalah dan membahas apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Para guru yang menggunakan metode ini biasanya percaya bahwa apapun yang terjadi di sekolah menggambarkan kualitas hubungan antar manusia di sekolah tersebut… Mereka akan selalu bertanya apakah sikap saya dalam menegakkan disiplin mensupport adanya relasi antar anggota komunitas sekolah ataukan menghancurkan hubungan tersebut (Messurier, 2010, h.32). Apakah teman-teman guru pernah menggunakan restorative practice misalnya dalam menyelesaikan konflik? Kalau pernah, share yah pengalamannya.. Saya ingin belajar.

Sumber :
1) Messurier, Mark Le. (2010). Teaching Tough Kids : Simle and proven strategies for student success. Ocon : Routledge
2)http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm

** Bagi yang merasa merupakan tokoh dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Saya hanya menggunakannya sebagai contoh untuk memahami apa yang dimaksud dengan restorative practice. Salam damai.

Sep 6, 2010

Jawab

Dia menjawabku dalam detik-detik kepasrahan
Saat tak ada yang jelas
Dan dunia seakan runtuh
Hingga tenang datang

Dia menjawab dalam usaha yang masih belum utuh
tapi penuh tanya
di waktu paling tepat bagi diri

Dalam degup jantung yang terus berkibar
Berharap penuh dia menjawab takut yang telah membatu
Menjadi damai

Berbagai bahasan mengenai pendidikan karakter: mencari akar kebingungan

Sudah hampir dua bulan saya berkutat dengan pembelajaran mengenai diskusi karakter. Awalnya karena saya diminta mengkritisi kebijakan pendidikan untuk tahun 2011 yang menyatakan salah satu program terbaru pemerintah adalah mengenai pendidikan karakter.

Terus terang, meskipun saya mengerti bahwa yang membedakan pendidikan (education) dengan pengajaran (training) adalah bahwa dalam pendidikan ada yang disebut penanaman value, tetapi sungguh pendidikan karakter yang diusung oleh pemerintah membuat saya bingung. Bagi saya pibadi, meaningless. Kenapa? Saya belum bisa menjawab.

Saya tidak menampik pentingnya pendidikan karakter, tapi masih ada yang belum sreg dalam hati saya mengenai pendidikan karakter yang diusung pemerintah. Sampai sekarang saya mesih belum bisa mendefinisikan dengan jelas kebingungan saya. Saya terus mencari. Saya bolak-balik berdiskusi dengan para guru, praktisi, pengamat, teman-teman aktivis pendidikan dan lain-lain. Tulisan saya dibawah tidak bertujuan untuk menarik kesimpulan hanya merangkum berbagai pendapat yang saya dengar mengenai pendidikan karakter. Saya masih mencoba mengurai benang kusut dalam pikiran saya.

Beberapa hal yang menarik yang saya temui dalam dua bulan terakhir ini, pertama adalah tulisan Doni Koesoema(Kompas, 19 Juli 2010, h 7)* yang menuliskan bahwa pendidikan karakter baginya bagiakan kucing hitam. Saya memaknai bahwa pendidikan karakter bagai kucing hitam itu berarti pendidikan karakter, meskipun secara normatif merupakan hal yang baik, sebenarnya konsepnya masih belum jelas (vague).

Kedua, adalah bahasan saya dengan teman saya yang berlatar belakang antropologi. Menurutnya, di level pemerintah, program besar pemerintah seharusnya bukan membicarakan mengenai pendidikan karakter tetapi mengenai berbagai program seperipemetaan kualitas pendidikan, program peningkatan kualitas guru, dan sebagainya.

Saya katakan padanya,
"Tidak bisa, bagi seorang guru, pendidikan karakter itu merupakan hal yang sangat esensial dalam proses pendidikan itu sendiri. Kalau pemerintah mencanangkan program semacam pendidikan karakter, tentu saja guru senang. Ini isu yang menyenangkan untuk guru"

Teman saya lalu menjawab, "Kalau isu-isu semacam pendidikan karakter didiskusikan oleh guru (secara kultural), bukan karena isu ini dibuat oleh pemerintah, saya akan senang sekali. Tetapi isu ini seakan-akan menutupi berbagai PR besar lainnya yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah. Pemerintah belum mampu melakukan pemetaan pendidikan, saat mereka mencanangkan pendidikan karakter, itu menjadi suatu program yang aman, seakan-akan mereka sudah mengerjakan sebuah proyek besar tapi PR sesungguhnya belum diselesaikan."


* Doni Koesoema menuliskan 2 buku mengenai pendidikan karakter diantaranya "Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter" yang menurut saya sangat inspiratif dan juga buku "Pendidikan Karakter"

Saya lalu berdiskusi dengan seorang praktisi pendidikan yang biasa menghadapi anak-anak yang terlibat proses kriminal. Bahasan menarik bersamanya adalah bahwa dalam dokumen pemerintah (mengenai pedoman pelaksanaan pendidikan karakter yang dibuat oleh Puskur) tidak ada hal baru. Misalnya melatih kedisiplinan dengan upacara. Bukankah bahkan di zaman orde baru sudah begitu?

Kami pun berdebat mengenai pentingnya pendidikan karakter. Saya mengatakan bahwa dari sudut pandang guru, pasti perlu. Apalagi dengan kondisi sekarang bahwa ada berbagai masalah misalnya obat-obatan terlarang, seks bebas, dan berbagai isu-isu moral lainnya. Justru perlu pendidikan karakter.

Menurutnya, permasalahannya belum tentu di sekolah atau kurikulum.

Dia lalu bertanya :
"Apakah di sekolah (secara umum) guru mengajarkan untuk melakukan berbagai hal tersebut, kekerasan, seks bebas, obat-obatan terlarang?"
Saya katakan, meskipun ada, secara umum tidak.
Katanya lagi,
"Ngak diajarkan kok, tapi masih terjadi. Artinya, kesalahannya bukan terjadi di sekolah tetapi di masyarakat. Pemerintah tidak mampu menyelesaikan berbagai kerusakan yang terjadi di masyarakat, lalu ia membebankannya pada sekolah. Hal ini mirip dengan apa yang dilakukan pemerintah DKI saat menghadapi kemacetan. Jakarta macet, sebenarnya sumber masalahnya bukan siswa, tetapi siswa sekolahnya dimajukan hingga lebih pagi. Tetapi permasalahannya tidak selesai. Kenapa siswa yang diberi kebijakan? Karena menurut teori kekuasaan, mereka yang tidak akan protes."

Kami juga berbicang-bincang bahwa salah satu permasalahan mengenai pendidikan karakter yang dirancang pemerintah adalah bahwa di sana siswa-siswa diharapkan belajar dari berbagai nilai yang dihasilkan oleh masyarakatnya. Sudut pandang ini sudah kuno menurut beberapa pemikir pendidikan, karena yang seharusnya diharapkan adalah bahwa siswa-siswi mampu mengkritisi nilai-nilai yang ada dimasyarakatnya.

Saya membahas ini dengan dua orang teman saya yang berbeda. Yang satu aktivis pendidikan yang satu anak hukum, dan hasilnya adalah bahwa justru dalam kondisi masyarakat yang sangat kacau balau sekolah memerlukan yang disebut pendidikan karakter. Karena sekolah seharusnya merupakan pusat-pusat pembudayaan.
Benar menurut saya, kalau seorang guru yang baik, pasti berpikirnya begitu, tapi terus terang saja kepala saya masih pusing. Masih ada yang mengganjal di hati saya.

Belum lama ini saya mengunjungi sebuah sekolah yang cukup menarik. Guru-gurunya sangat tulus. Sekolah ini menekankan bahwa pendidikan yang baik adalah menghasilkan manusia yang berkarakter. Nanti saya akan ceritakan lebih lanjut. Sekolah ini mnarik sekali dan sangat teratur. Siswa-sisw di sini kala makan tidak menyisakan nasi satu pun, kerja sama terbangun dengan baik, dan dalam setiap pelajaran setiap value dibahas, sehingga ada kesimpulan-kesimpulan mengenai berbagai value secara ekplisit.

Entah kenapa, meskipun sangat menarik, saya masih kurang sreg. Saya pikir apa saya yang aneh atau bagaimana. Pertama, saya tidak tahu apakah sebuah value misalnya mengenai kedamaian, keadilan, kebaikan, dan semuanya harus terungkapkan secara eksplisit (di sini siswa yang mengungkapkan sendiri dan guru hanya menjadi fasilitator)? Saya sendiri dibesarkan dengan mempelajari berbagai nilai secara implisit. Ibu saya hampir tidak pernah menasihati saya apapun secara langsung, hanya memberikan contoh.

Saya dibacakan dongeng setiap hari oleh kedua orang tua saya. Dongeng tersebut tidak eksplisit, seperti :
"Ani adalah anak yang jujur dan rajin menabung , si ini suka berbohong dan akibatnya bla.. bla.. (linear).

Buku-buku yang saya baca sata kecil nilainya hampir selalu sangat implisti, halus tidak terlihat, tapi saya percaya masuk ke alam bawah sadar saya hingga kini. Saat saya besar dan membacanya kembali, baru saya bisa memaknai nilai-nilai yang terkandung dibelakangnya. Terus terang saya kebingungan sendiri.

Saya pun membahas ini dengan teman-teman saya. Yang satu guru di sekolah formal dan satu lagi adalah praktisi di pendidikan non formal. Dari pembahasan kami adalah, kami tidak menyetujui bahwa sekoalh dibuat sesteril mungkin. Seorang teman yang merupakan seorang calon guru di suatu daerah mengatakan, "di keluarga saya saya diajarkan bahwa kita boleh salah. Tidak harus selalu benar." Sekolah-sekolah yang steril adalah sekolah-sekolah yang cenderung berusaha membuat siswa selalu benar. Dan bagi saya menakutkan.

Sepulang dari sekolah tersebut, saya membahas kunjungan tersebut dengan seorang guru lainnya yang menyekolahkan anaknya di sekolah alam. Saya pernah mengunjungi sekolah alam dan melihat bahwa di sana anak-anak berlari kian kemari masuk ke dalam lumpur, berloncat-loncatan. Katanya, " kalau dibandingkan sekolah tadi, sekolah alam tampak seperti 'kebun binatang' karena bebas sekali, meskipun begitu, itu bentuk pendidikan karakter juga meskipun berbeda."

Saya setuju, saya ingat bahwa berbagai model pendidikan memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Saya tidak percaya pada satu cara untuk melakukan pendidikan karakter. Saya ingat cerita-cerita Astrid Lindgren, pengarang favorit saya. Di buku itu ia mengajarkan anak-anak mengenai kebebasan, anak-anak yang bisa dibilang bandel seperti Emil, suatu hari bisa menjadi waikota. Kebebasannya untuk berkespresi membantu membentuk karakternya.

Saya juga teringat pada INS Kayu Tanam dan Kayu Siswa yang memiliki ciri khas pendidikan yang berbeda karena berada di konteks yang berbeda. Interpretasi saya Moehammad Syafei, pendiri INS Kayu Tanam merupakan seorang yang sangat teratur dan terstruktur sehingga itu pun tercermin dalam bentuk pendidikannya. Sedangkan AS Neil misalnya dengan Summer Hill Schoolnya bukan, dan baginya ada nilai yang lebih penting daripada menjadi teratur, misalnya siswa boleh melakukan apapun asalkan bersedia bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Dengan praktisi pendidikan non formal, ia sempat menyeletuk, bagus sih menanamkan berbagai nilai-nilai yang baik ke dalam anak. Tetapi ada kalanya nilai-nilai itu harus ditantang. Perlu ada mis-learning. Oke ini nilai-nilai yang saya pegang, tetapi kondisi seperti ini. Apa benar? Proses ragu dan kemudian mencari itu diperlukan.

Ntah apa yang saya cari. Mudah-mudahan dalam merangkum berbagai pembicaraan saya dan teman-teman menyangkut pendidikan karakter saya bisa menemukan titik 'aha'. Kenapa pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah membuat saya bingung dan resah? Saya masih belum tahu jawabannya..