Jun 26, 2014

Pertemuan & Minum Kopi dengan Ibu Itje serta Pembicaraan yang Tiada Habisnya


Sumber gambar: http://www.ivillage.com/best-way-make-cup-coffee/p1080525

Sudah hampir tiga tahun saya secara rutin bertemu  Ibu Itje Chodidjah untuk membahas pembuatan buku mengenai Bincang Profesi Guru (yang belum kelar-kelar sampai sekarang). Kami bertemu sekitar seminggu atau dua minggu sekali, biasanya sambil minum kopi.  Kang Azul, yang juga merupakan tim penulis buku, seringkali nimbrung juga. Selain menyiapkan buku yang kami harapkan  Bulan Ramadhan ini akan selesai draft-nya. Selain membahas pembuatan buku, kami juga mengobrolkan begitu banyak hal.

Apa yang diobrolkan? Apa saja tapi kebanyakan adalah tentang pendidikan. Kami membahas isu pendidikan, pengalaman mengajar, kebijakan pendidikan, kegelisahan yang kami rasakan terkait situasi pendidikan di tanah air dan juga harapan-harapan kami. Kenapa kami menjadi memilih menjadi pendidik dan kenapa terus bertahan?

Sekali bertemu kami biasanya menghabiskan setidaknya 3 jam  tapi pernah juga lebih lama. Saya ingat salah satu pertemuan kami berlangsung dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.  Begitu banyak hal yang kami obrolkan biasanya dimulai dari kata-kata, "Ada cerita menarik nih tadi....."

Kadang kami mulai dengan topik yang kelihatannya tidak terkait pendidikan. Saat itu kami membahas acara televisi "The Voice Indonesia" di mana tiga orang penyanyi yang sudah punya nama diantaranya Sherina, Giring, dan Armand Maulana diminta untuk memilih calon penyanyi baru yang potensial untuk di-coaching agar bisa lebih baik dalam menyanyi. Dasar kami berdua suka sekali membahas proses belajar, kami membahas bagaimana masing-masing coach membelajarkan calon penyanyi dengan memilihkan lagu yang tepat dan memberikan tantangan-tantangan sebagai proses  scaffolding. Coach  yang baik belum tentu meng-coach calon penyanyi yang sudah 'matang' dalam bernyanyi tapi justru itu jadi kesempatannya untuk membuat calon penyanyi berkembang. Guru juga begitu, guru yang baik belum tentu harus mengajar anak yang cream of the cream,alias paling baik di antara yang paling baik, tapi justru yang kelihatannya biasa saja, dengan proses pendidikan yang baik, maka mereka bisa jadi lebih 'bersinar'. 

Yang tentu tidak pernah berhenti kami bicarakan adalah terkait kebijakan pendidikan. Mulai dari membahas zaman RSBI di kala RSBI masih ada, membahas kebijakan pelatihan guru, sampai kini sibuk membahas kurikulum 2013 yang diciptakan melalui proses yang instan. Bu Itje, adalah orang yang memikirkan semua isu itu dengan sungguh-sungguh sampai kadang dia tidak bisa tidur. Saya juga begitu. Kalau ada kebijakan yang dibuat secara 'asal' Bu Itje bisa kesal sampai wajahnya memerah. Tapi tentu saja, emosi juga harus diekspresikan. Pertemuan rutin kami merupakan salah satu tempat menyalurkan emosi terkait berbagai kegelisahan dan kemarahan terkait kebijakan maupun isu pendidikan yang ada. Hasil pertemuannya? Biasanya sih emosi mereda dan kadang kami malah memutuskan untuk menghasilkan karya baru terkait kegelisahan ini. Kadang kami memilih untuk menulis artikel bersama atau kadang sendiri-sendiri lalu saling memberikan komentar. 

Kadang kami dengan menggebu-gebu menceritakan bacaan yang menarik. Bukan hanya sharing, tapi juga saling membacakan. Saat saya menemukan buku "Guru dan Secangkir Kopi" karya Mas Andi Achdian di Jakarta Book Fair saya membacakan beberapa potongan tulisan tersebut kepada Bu Itje. Begitu juga saat saya membaca buku elektronik  "We Make The Road By Walking" karya Paolo Friere & Myles Horton. Di lain waktu, Bu Itje membacakan jurnal yang diamiliki mengenai pentingnya dialog dalam meningkatkan kapasitas guru. Yag satu membacakan, yang lainnya mendengarkan dan kadang ini dilakukan secara spontan saja.

Meski umur kami berbeda 20 tahun (saya seumur anaknya Ibu Itje) kalau sudah mengobrol kami suka lupa perbedaan usia ini. Kami saling merekomendasikan bacaan yang perlu dibaca atau film yang perlu ditonton untuk meningkatkan kapasitas diri. Saya, yang lebih muda tak segan-segan suka menantang Bu Itje seakan-akan Bu Itje siswa saya, "Bu, coba ini dibaca di rumah yah.. Nanti tolong dituliskan pendapatnya," kata saya pada Bu Itje dengan nada seolah-olah memberikan tugas pada siswa.  Untungnya Bu Itje cukup demokratis dan tidak menganggap saya kurang ajar. Baginya, proses bertemu, sharing, berdialog, dan saling menantang ini termasuk salah satu cara belajar dan mengembangkan diri.

Beberapa waktu terakhir kami tidak bertemu karena masing-masing punya kesibukan sendiri. Sudah sekitar 2 bulan kami tidak bertemu, maka dua hari yang lalu kami memutuskan untuk bertemu lagi. Ternyata Ibu Itje membawa serta dua orang guru dari Sidoarjo yang sedang di Jakarta untuk merancang kurikulum bahasa Inggris SD. Pertemuan ini menarik dan akan saya ceritakan dalam tulisan selanjutnya.

Bersambung...

Jun 17, 2014

Membaca kisah David Boies & Bagaimana Dislexia Membantunya menjadi Pengacara

Salah satu jurusan yang konon katanya butuh kemampuan membaca yang tinggi adalah jurusan hukum. Mau jadi pengacara? Tentu harus banyak membaca. Tapi bagaimana kalau seseorang yang dislexia ingin belajar hukum? Tentunya akan sulit sekali karena untuk membaca mereka harus berusaha dengan sangat keras. Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang punya dislexia bisa menjadi pengacara sampai akhirnya saya membaca buku "David & Goliath" karya Malcom Gladwell (2013).


Di dalam buku tersebut ada kisah tentang seseorang bernama David Boies, seorang pengacara yang punya dislexia. Perkembangan kemampuan membacanya cukup lambat dibandungkan teman-temannya. David Boies baru bisa membaca saat di di kelas 3 SD. Namun, untungnya, Ibunya Boies yang juga seorang guru sekolah negeri, seringkali membacakannya buku kepadanya semenjak dia kecil. Karena Boies tidak bisa memahami tulisan-tulisan dalam bacaan tersebut, dia akan mengingat-ingat apapun yang dibacakan ibunya. Kemampuannya mengingat apa yang dibicarakan orang lain tinggi sekali.

Nilai David Boies di selama sekolah, khususnya SMA, tak pernah baik. Ambisinya juga tidak tinggi. Dia sempat bekerja sebagai seorang tukang bangunan. Setelah menikah, istrinya mendorongnya untuk kuliah. Karena tertarik pada bidang hukum, akhirnya dia memilih jurusan hukum.

Kuliah di jurusan hukum berarti ada banyak bacaan yang harus dilahap. Karena  kemampuan membacanya Boies sangat lemah, dia mencoba mengakali kelemahannya dengan membaca ringkasan dari kasus-kasus hukum. Kalau membaca catatan kasus, tulisannya pasti panjang sekali. Cara yang dipilih Boies tidak umum, tapi baginya itu sangat membantu. Kata Boies, "People might tell you that's an undesirable way to do law school, but it was functional."

Meski Boies punya dislexia, dia punya kelebihan. Kemampuannya mendengar dan mengingat sangat baik. Itu caranya belajar sejak dulu. Kebiasaannya mendengarkan dan menghafalkan bacaan yang dibacakan ibunya telah ternyata melatihnya menjadi pendengar yang baik. Itu satu-satunya cara dia bisa belajar dengan baik. Kata Boies, "Listening is something I've been doing essentially all my life. I learned to do it because that was the only way I could learn. I remember what people say. I remember the words they use."

Menurut Boies, kalau dia punya kemampuan membaca yang baik, pasti akan lebih mudah baginya  untuk belajar hukum. Tapi dia.merasa bahwa justru beruntung karena memiliki  dislexia. Kata Boies, "... Not being able to read a lot and learning by listening and asking questions means that I need to simplify issues to their basics. And that is very powerful, because in trial cases, judges and jurors - neither of them have the time or ability to become an expert in the subject. One of my strengths is presenting a case that they can understand."


Kemampuannya mendengarkan dengan seksama mengajarkannya untuk fokus pada hal-hal yang  esensial. Kasus-kasus yang sulit mampu dirangkumnya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Itu kekuatannya dan kekuatannya justru berasal karena dia memiliki dislexia.