Dec 24, 2007

Ternyata...
Di dekat tempat aku n teman2x ngajar (Sekolah Rumah Bu Dewi) ada pembuat kecapi dan biola! Yang kebetulan merupakam kakek dari muridku sendiri. Tadi aku melalui rumahnya dan melihat bapak tersebut memoles kecapinya.

Bapak tersebut juga memberiku kursus singkat sekitar 10 menit mengenai cara memainkan kecapinya. Kata penduduk sekitar, ternyata kadang2x ada orang yang datang ke si Bapak ini untuk belajar kecapi secara gratis.

Waktu muda, si bapak memasarkan kecapinya sendiri. Sayangnya, karena umur si bapak tidak muda lagi, ia mulai kena asma, dan tidak sanggup memasarkan kecapi dan biola buatannya. Oh ia, kalau ada yang tertarik
harga 1 biola Rp 100.000,- dan harga satu kecapi Rp 150.000,- loh!!!
Hehehehe promosi....

Sep 7, 2007

Artikel bagus

Klo baca2x milis pendidikan, selalu ada yang masih ribut tetang sertifikasi guru.
Mending baca ini dulu deh...

http://www.gse.harvard.edu/news_events/ed/2007/spring/features/upfront.html

:)

Aug 6, 2007

Sururon

Tulisan ini saya buat sekitar setahun yang lalu.. Belum terlalu selesai, tapi sudah cukup panjang. Hehehe

Tadinya tulisan ini untuk saya pribadi dan sempat saya kirimkan kepada Pak Satria Darma dari milis pendidikan dan CFBE.

Dan atas saran Pak Satria Darma, tulisan ini akan saya publikasikan.

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengadakan kunjungan
ke sebuah sekolah di daerah Garut, nama sekolahnya MTS Sururon
Setingkat SLTP). Kebetulan, saya beserta teman-teman dari Komunitas
Taboo, SD Mutiara Bunda, Bandung, dan Yayasan Bahtera mengadakan
pelatihan metoda belajar di sana. Teman-teman dari Taboo dan Yayasan
Bahtera memberikan pelatihan membuat peta, sedngkan teman-teman dari
Mutiara Bunda memberikan pelatihan membuat tanaman hidroponik.

Di perjalanan menuju MTS Sururon, mobil berhenti
sebentar, ada seorang guru ekonomi dari MTS Sururon yang mau nebeng
ikut sampai daerah atas ( sekolah ini tempatnya di perbukitan gitu).
Saya berkenalan dengan guru ekonomi ini, menarik sekali, dia seorang
perempuan yang masih mahasiswa di Universitas di Garut ( Kalau ga
salah tingkat dua ). Sehari-hari dia kuliah, mengajar sebaga guru
ekonomi di SLTP Sururon, dan kalau malam sering membina orang tua
murid, mengajarkan tentang berorganisasi, pentingnya pendidikan, dan
pelatihan-pelatihan lainnya.

MTS Sururon merupakan salah satu sekolah yang paling menarik yang pernah saya kunjungi. Tempatnya sedikit jauh dari kota,aga masuk ke dalam, di daerah yang berbukit-bukit. Beberapa ruangkelasya terletak di atas balongan. Meja-mejanya kecil, sehingga tidakperlu bangku lagi ( Bsia lesehan sambil nulis gethu dhee..).

Kesan pertama saat memasuki MTS Sururon adalah bahwa saya percaya pasti sekolah ini sekolah bagus. Kenapa saya bias bilang begitu? Di dinding kelas ditempel karya-karya murid, baik gambar,
puisi, cerita, dll. Banyak sekali sekolah di Indonesia ( bahkan sekolah-sekolah di kota pun), kalau ada karya-karya murid, cenderung terlihat seragam ( walau tidak persis seragam), baik gambar, puisi,ataupun ceritanya. Ketika saya melihat-lihat karya Sururon, saya melihat bahwa setiap karya punya karakter sendiri ( yang secara tidak langsung menggambarkan bahwa murid-murid MTS Sururon dibiarkan tumbuh
dengan karakternya masing-masing, What a good thing isn¡¦t it?)

Aku pun mulai ngobrol dengan murid-murid MTS Sururon. 3
orang anak perempuan mengajak saya dan teman saya guru bernama Ranny dari Mutiara Bunda berkeliling. Kami diajaka melihat ruabg-ruang
kelas, perpustakaan, dan juga asrama Putri. Setelah itu kami saling
bercerita, mula-mulanya membicarakan tentang kopi. Jadi, murid-murid Sururon menawarkan kami minum kopi, Ranny kebetulan dulu kuliahnya Biologi, langsung mengadakan diskusi kecil-kecilan mengapa kopi bias membuat seorang terjaga. Jadinya, timbulah diskusi kecil tentang IPA.
Abis itu obrolan menyambung kemana-mana, termasuk bagaimana cara
mereka belajar di sekolah. Dari obrolan, saya jadi tahu kalau MTS
Sururon dibuat oleh Paguyuban Petani setempat. MTS ini baru berdiri
sekitar tiga tahun. Kebetulan ada yang mewakafkan tanah untuk
dijadikan sekolah. Ada beberapa hal yang membuat saya kagum.
Murid-murid MTS Sururon, memiliki kebiasaan berdiskusi, ternyata
seminggu sekali ( kalau ga salah lagi.. setiap Jumat malam), orang tua murid (yang sebagian besar merupakan petani), dan beberapa wakil murid, dan guru-guru mengadakan acara kumpul-kumpul (silaturahmi). Saat silaturahmi ini kadang muncul ide-ide untuk memperbaiki sekolah, dan ide-ide lainnya. Misalnya nih, kelas 3 MTS ini punya waktu belajar tambahan sampai sore untuk persiapan ujian. Ternyata yang menentukan perlu atau tidaknya jam belajar tambahan, berapa waktu yang diperlukan untuk jam belajar tambahan, itu murid-murid sendiri, yang disampaikan waktu sedang ada acara silaturahmi. Kadang waku silaturahmi juga muncul ide-ide yang bersifat teknis, misalnya bahwa kelas gelap, sehingga perlu dibuat jendela, atau warnanya perlu dicat, kemudian dibuat pengaturan siapa
yang akan mengecat kelas, atau membuat jendela. Selain diskusi, di MTS Sururon juga ada pembagian tugas, misalnya ada beberapa murid yang wajib mengikuti diskusi setiap Jumat malam, ada beberapa yang tugasnya piket, dan bagi murid-murid yang tinggalnya di asrama ( karena rumahnya jauh), ada pembagian tugas masak dan sebagainy.
Pembagian tugas ini dilakukan dengan cara diskusi. Selain itu, kadang
kadang ada murid yang melakukan studi banding ke sekolah-sekolah
lain, atau kadang mewakili MTS Sururon, untuk suatu kegiatan, nah
sesampainya murid tersebut kembali ke Dururon, murid tersebut harus
membagikan cerita tentang perjalanannya ke teman-teman yang lainnya.

Setelah menyantap makan malam, saya akhirnya ikut
langsung merasakan yang dinamakan silaturahmu Jumat malam tersebut.
Kami, para fasilitator training yang dating dari Bandung, berkumpul
bersama warga Sururon, baik guru, murid, maupun orang tua murid. Kami
saling berkenalan dan membicarakan, acara yang akan kami
selenggarakan. Diskusi berjalan dengan santai ( ngobrol-ngobrol),
tapi bias dibilang serius juga. Baru sekali seumur hidup saya
merasakan yang selama ini saya dengar di PPKN. Musyaawarah yang
Indonesia banget.. Dari diskusi saya jadi tahu juga, bahwa kebanyakan
orang tua murid Sururon adalah Buruh Tani ( Merupakan petani tetapi
tidak memiliki keputusan sendiri). Beberapa waktu yang lalu, tanah
mereka sempat disengketaoleh sebuah pihak. Kejadian sengketa itu
membuat paenduduk sekitar tersebut sadar bahwa pendidikan adalah
sesuatu yang penting (agar tidak mudah dibohongi). Orang-orang yang
masih muda terutama, mempunyai peranan penting dalam pendirian MTS
Sururon, tentunya dengan dukungan penduduk setempat yang lain.

Saat diskusi, kami mendapat protes dari murid-murid elas
tiga. Tadinya pelatihan yang akan kami adakan itu ditujukan untuk
murid-murid kelas 1 dan 2. Akan tetapi, ternyata murid-murid kelas 3
sangat ingin ikut pelatihan. Mereka juga mengatakan kalu kalau kami
adalah orang pertama dari jauh ( di luar garut) yang mengunjungi
mereka dan mereka senang sekali. Akhirnya, hasil diskusi menyatakan
bahwa keals 3 boleh mengikuti kegiatan pelatihan yang akan diadakan
besoknya. Orangtua pun boleh ikut mengawasi kegiatan, dan untuk
pelatihan hidroponik, disarankan agar orang tua ikut belajar.
(Hidroponik hemat tempat, walaupun tidak ada lahan bisa tetap menanam
tanaman).

Malamnya pun saya dan teman-teman putri beristirhat di
asrama putri, sedangkan yang laki-laki beristirahat di ruang kelas.
Terlihat beberapa murid sedang belum tidur. Beberapa mengaji, beberapa belajar. Ketika ditanya, ¡§ belum tidur¡¨ , seorang
murid bercerita bahwa dia mau belajr untuk pesiapan ujian akhir. Katanya
baru sekali mau ikut ujian dari Negara sehingga rasanya deg-degan.

Jul 5, 2007

lirik gak penting hehehe..

Pada dasarnya aku adalah pengemar teater musikal termasuk yang masuk tipe2x opera bahkan sampai musik yang modern.

Jadi pas temenku menyodorkan sebuah MP3. "Dengerin deh aneh" katanya.Aku sama sekali nga ngerasa ada yang aneh karena suka jenis musiknya.

"Aku emang suka jenis musik kayak gini"
"Tapi dengerin liriknya:

Dan akhirnya aku tertawa terbahak2x.
Judul lagunya
General
Pengarangnya Gilbert and Sullivan seseorang
yang suka bikin 'opera parodi'

Penasaran liriknya apa?
Klo ditulis disini kepanjangan euy..
Coba buka aja di http://en.wikipedia.org/wiki/Major_General's_Song

Jul 2, 2007

Ujian Paket B (cerita hari pertama)

30 Juni 2007

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, “Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.”

Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 24 Juni 2007 yang lalu.

Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.

Ternyata murid-murid saya baru mendapatkan kabar kegagalan ini sehari sebelumnya, 2 hari lebih telat dari yang seharusnya. Salah seorang rekan guru mendatangi rumah murid saya satu satu untuk menyampaikan kabar ini.

“Hari ini katanya kita disuruh ujian Paket B”, kata seorang murid saya,”anak-anak udah pada nunggu di rumah Pak X (ketua yayasan).”

Ternyata ujian akan berlangsung pada pukul 13.oo. Saya pun pergi ke rumah ketua Yayasan untuk bertemu anak-anak.

Di jalan menuju rumah Pak X. Murid saya bercerita bahwa di rumah ia dimarahi orang tuanya, “Bobogohan wae sih.. Makannya jadi bodo gak lulus sekolah”

“Padahal, Bu saya kan jadiannya juga baru setelah ujian, sebelumnya mah engga”

Sesampai dirumahPak X, saya pun mengumpulkan anak-anak, dan bercerita tentang apa yang saya baca di koran, dan kejadian-kejadian menganai UN tahun lalu. Saya bercerita bahwa tahun lalu ada murid yang mendapatkan PMDK di IPB ( dimana PMDK dilihat dari prestasi murid selama 3 tahun) dan ada juga yang mendapatkan beasiswa sekolah ke Australia, tapi ternyata dinyatakan tidak lulus UN. Say katakana bahwa saya tahu banyak kecurangan terjadi di UN, tapi yang melakukan kecurangan pun diluluskan.

“Ia Bu, kan kita kemarin UN nya nebeng di SMP … (sekolah lain), kita liat sendiri kalau guru-gurunya ngasih contekan ke murid-muridnya, kita mah asli jujur, gak dapet contekan, tapi malah nga lulus”

“Ia Bu tetangga pada bilang saya bodo, saya bodo, samapai nga lulus”

“Engga kok, kalian nga bodo, saya tahu persis kok. Harusnya yang curang-curang juga gak dilulusin yah”

Saya tidak bohong, murid saya mungkin tidak jenius. Tapi saya tahu persis mereka tidak bodoh. Ya, memang tidak semuanya pandai secara akademik. Memang ada yang sediit tersendat-sendat di pelajaran matematika, misalnya. Tapi saya tahu persis bahwa ketika mereka mengajukan pertanyaan di kelas, pertanyaannya cukup cerdas, saya tahu bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Waktu saya menontonkan film tentang luar angkasa dan otak kepada mereka, mereka mengajukan berbagai macam pertanyaan. Bahkan mereka sibuk bercerita kepada temannya yang tidak bisa ikut menonton, dan temannya tersebut minggu depannya mengajak saya menontonkan film tersebut lagi. Saya beberapa kali meminjamkan mereka ensiklopedia, dan ternyata mereka benar-benar membaca ensiklopedia tersebut, dan mengajukan pertanyaan bila ada bagian yang tidak mereka mengerti. Ketika mereka saya ajak mengunjungi PLTA di Bandung ( Bareng Bandung Heritage) pun mereka bertanya macam-macam, termasuk mengenai lingkungan.

Saya juga pernah mengajak mereka untuk membuat kompor dengan energi matahari, dan tanpa sepengetahuan saya mereka mencoba-coba sendiri kemampuan kompor matahari tersebut (saat saya tidak masuk).

Saya tahu persis bahwa kegagalan UN yang terjadi dengan mereka engga worthed.

“Ibu, saya udah daftar mau sekolah lagi di otomotif. Gimana mau sekolah lagi sekarang aja gak lulus.”

Saya berkata bahwa hal tersebut bisa diperjuangkan, padahal, di dalam hati saya sangat sedih juga, saya teringat bahwa tahun-tahun sebelumnya hanya sedikit sekali murid saya yang melanjutkan ke tingkat SMU. Misalnya tahun sebelumnya hanya sekitar 5 dari 16 anak yang melanjutkan sekolah. Yang lain tidak melanjutkankarena biaya, sisanya menikah atau bekerja. Kalau dulu murid-murid saya biasanya bingung untuk sekolah lagi karena tidak ada biaya, sekarang selain harus memikirkan biaya, mereka pun berpikiran tidak mungkin melanjutkan sekolah lagi karena dinyatakan tidak lulus.”

Salah satu hal miris lainnya yang saya dengar hari itu adalah, “ Ibu, da baru dikasih tahu ujiannya kemaren, saya teh bingung, gimana cari ongkosnya buat ketempat ujian. Kan ngedadak gitu. Bolak-balik kan sekitar 10ribu.”

Sekitar jam 10, saya dank ke-8 murid-murid saya pun berangkat menuju SMU8, Buah Batu, Bandung, tempat dimana diselenggarakan ujian paket B. Saya berjanji bertemu dengan teman saya, Nuri, guru Biologi. Kebetulan dulu SMU 8 adalah sekolah Nuri dulu.

Kami sampai disana sekitar jam 10.45, ternyata anak-anak belum makan, apa-apa dari rumah, kebteluan teman saya yang guru Biologi punya rezeki sehingga kami semua mendapatkan traktiran mie darinya. Saya pun mengingatkan anak-anak agar keesokan harinya membawa bekal untuk makan, dan sebaiknya makan pagi dulu.

Oia. Perlu saya ceritakan bahwa penyelenggaraan ujian paket B ini kacau sekali. Kata orang dari Dinas Pendidikan, pesertanya ada sekitar 1500 orang. Dan tempat ujiannya nga Cuma di SMU 8. Dan ternyata nomor ruangan tidak tertulis di kartu ujian, sehingga anak-anak harus mendatangi kelasnya satu persatu untuk mencari ruang kelasnya, dan mencari apa nomor ujian mereka ada di kelas tersebut. (Keesokannya saya baca di koran bahwa nomor ruang ujian diberitahukan kepada kepala sekolah, jadi salah sendiri kalau kepala sekolah tidak mengumumkan hal tersebut kepada muridnya. Bagaimanapun, seharusnya kalau ada ujian, nomor ruang ujiannya tertulis di kartu ujian, tidak bisa melalui pemberitahuan lisan saja.

Di SMU 8 tersebut banyak sekali siswa setingkat SMP, bahkan ada yang dari satu sekolah bisa mencapai lebih dari 20an anak.

”Banyak juga yah bu,”kata seorang murid saya,”Saya pikir cuma sekolah kita aja yang pada ngak lulus”

Hari pertama anak-anak ujian matematika dan Pancasila. Gagal di Ujian Nasional yang hanya terdiri dari 3 pelajaran (Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), anak-anak harus ujian paket yang terdiri dari 6 mata pelajaran.

Selasa : Pancasila-Matematika

Rabu : Bahasa Indonesia – IPS

Kamis : Bahasa Inggris – IPA

Sambil menunggu anak-anak ujian, saya dan teman saya (guru Biologi) pun berjalan-jalan, rencananya untuk menanyakan informasi mengenai kapan hasil ujian, dan menanyakan di mana/nomor kontak information center dari Diknas, bila ada pertanyanyaan.

Saya pun mendatangi salah satu panitia yang berada SMU 8. Ketika kami ditanya kami dari mana, kami menjawab dari Mts Al-Huda.

Di sana, kami melihat seorang ibu yang sedang curhat (dengan nada sedikit marah-marah) kepada panitia, kurang lebih intinya anaknya habis operasi amandel, dan tiba-tiba ada guru lewat (sepertinya guru sekolah anaknya) lalu ia pun memeluk guru tersebut dan menangis.

Lalu kami pun bertanya, kapan pengumuman hasil ujian, nomor kontak di Dinas Pendidikan yang bisa ditanya-tanya untuk tahu informasi yang diperlukan itu berapa dan siapa kontak personnya.

Sayang sekali, perlakuan yang kami dapatkan dari panitia sangat tidak ramah, “Siapa sih tanya-tanya? Wartawan yah? Pasti bukan wartawan Galamedia! Kalau wartawan gala media, saya kenal! Kalau wartawan ke sana aja ke SMK3! Gak ada tempat buat wartawan di sini, wartawan udah dialihin ke sana semua!”

Alhasil, saya dan teman saya pun tidak mendapat jawaban yang kami inginkan. Kami pun memilih untuk pergi ke SMK3, siapa tahu dapat informasi di sana.

Kami pun mendatangi meja panitia. “Pak hasil ujiannya kira-kira kapan yah?” tanya kami.

“Wah, persisnya gak tahu juga, Cuma kalau dari pengalaman tahun lalu paling cepat sebulan, bisa juga 1 ½ bulan, kalau masyarakat banyak yang nuntut bisa aja lebih cepat.”

“Wah lama juga yah, padahal pendaftaran masuk SMU bentar lagi. Jadi pastinya belum tahu yah?”

“Belum tahu, ini juga kan kita cuma pelaksana, kalau hasilnya tergantung dari pusat. Kalau di sini informasi suka cepat berubah-ubah. Tergantung dari pusat.”

“Kalau pusat informasi yang bisa ditanya-tanyain siapa yah? Atau nomor telepon yang bisa ditanyain untuk informasi?”

”Oh datang aja ke Dinas Pendidikan, Jalan Ahmad Yani, bagian PLS, kalau nga ada juga, Tanya aja ke Pusat, ke Jakarta.”

Berhubung kami masih ingin mengetahui informasi yang lebih jelas, akhirnya kami menyelonong masuk ke rombongan wartawan, yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pak Wawan, seorang dari dinas pendidikan.”

“Pak apakah nga mendadak nih ujian Paket B-nya, padahal kan hasil UN, baru diumumkan sekitar 3 hari yang lalu?” Tanya seorang wartawan.

“Tapi kan anak-anak sudah mendapatkan proses pembelajaran selama 3 tahun di sekolah, jadi seharusnya ngak menjadi masalah.” Jawab Pak Wawan.

Saya pun menyelipkan sebuah pertanyaan, di sela-sela pertanyaan wartawan, “Pak ada gak nomor kontak yang bisa dihubungi orang tua bila ingin bertany-tanya mengenai informasi dari Paket B”

Akhirnya saya pun mendapatkan sebuah nomor telepon seseorang dari dinas pendidikan Jawa barat, yang katanya bisa ditanyai informasi.

Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Anak-anak pun telah selesai ujian Pancasila, dan bisa beristirahat samapi pukul ½ empat.

Saya dan teman saya pun menghampiri anak-anak, dan ikut mendengarkan celotehan mereka

“Bu, ujian Pancasilanya lebih gampang daripada ujian sekolah” kata anak-anak.

“50 nomor ujiannya”

“Bu ujian Pancasilanya kok lebih lama daripada matematikanya? Pancasila mah 2 jam, matematika sekitar satu ½ jam.”

"Bu, nanti ijazahnya paket B yah? Udah susah-susah belajar di sekolah 3 tahun, ijazahnya paket B aja ya?"

“Besok ujian IPS, itu geografi, sejarah, ekonomi. Da buku Geografi di sekolah Cuma 3 itu juga dipegang sama anak cowo semua”


Pernyataan yang cukup miris lainnya. Ya, diantara-anak-anak tak satu pun yang memiliki buku teks pelajaran apapun. Kadang-kadang anak-anak meminjam buku pelajaran dari sekolah. Kalau untuk pelajaran Fisika dan Biologi, biasanya saya dan Nuri suka membuatkan ringkasan di kertas A-4 sehingga bisa difotokopi dan dibagikan satu-satu ke anak-anak. Kalau ada ujian atau sejenisnya, paling anak-anak belajar dari catatan seadanya.

Tak lama setelah anak-anak sekolah ashar, bel pun berbunyi. Anak-anak harus mulai ujian matematika.

Saya dan Nuri pun menyusun strategi untuk keesokan harinya. Misalnya meminta anak-anak menuliskan nama, alamat, dan sekolah (setingkat SMU) yang akan dituju. Kami memerlukan alamat anak-anak katerna tak satu pun di antara murid Al-Huda yang punya nomor telepon, sehingga nanti kalau ada yang perlu diinformasikan sesuatu kami harus mendatangi rumahnya satu-satu.

Sambil menunggu, saya dan Nuri pun mengobrol ngalor ngidul di samping ruang kelas tempat anak-anak ujian. Kami juga sempat ngobrol dengan seorang ibu dari Cileunyi yang sedang mengantarkan anaknya ikut ujian. Dia bercerita bahwa anaknya menangis selama 2 hari saat tahu tidak lulus UN, dan sebagai ibu pun ia turut menangis rasanya. Ia juga bercerita bahwa ia baru tahu ujian Paket B-nya sehari sebelumnya, sehingga kami pun tahu bahwa ternyata kabar yang mendadak tidak hanya terjadi di sekolah kami melainkan di sekolah lain juga. Dari hari sabtu hingga senin ia terus mencari informasi ke sekolah anaknya mengenai ujian paket B, tapi baru menddapat kabar hari Senin, tepat sehari sebelum ujian paket B.

Akhirnya ujian pun selesai sekitar pukul 17.oo. Saya, Nuri dan anak-anak pun telah bersiap untuk pulang. Anak-anak tampak sedikit lebih tenang dibandingkan ketika pagi hari. Tapi mereka tentu lelas sekali. Saya sarankan mereka untuk segera tidur setelah pulang, agar tak lelah keesokannya.

Ketika menuju gerbang SMU 8 untuk pulang, kami bertemu dengan mantan gurunya Nuri, Bapak Guru ini sempat berceloteh,”Gagal 3 ujian semua. Kalau kemarin yang kasian yang paket C. Itu tuh yang asalnya dari sekolah kejuruan, kayak STM, SMEA, dan macem-macem waktu ujian paket C bingung karena mesti ujian tata negara juga, sosiologi juga, dan banyak lagi, padahal dulu selama sekolah belum pernah belajar.”

Begitu banyak cerita yang didapatkan dalam sehari, tunggu kelanjutan untuk cerita hari kedua dan ketiga.

Jun 25, 2007

Pertemuan Taman Bacaan

Kemaren seru banget deh

Jadi ceritanya ada sejumlah taman bacaan taman bacaan kecil yang berkumpul di Komunitas Taboo. Ide awalnya sangat sederhana. " Sharing" Yakni mempertemukan pengelola taman bacaan yang satu dengan yang lain untuk sharing pengalaman. Meskipun sederhana. Tetep seru abis loh!!

Jadi ceritanya ada sekitar enam taman bacaan di daerah Jawa Barat yang dateng ditambah teman2x dari Perpustakaan Amalthea, Pustakalana, Kalyamandira, Reading lights, teman-teman dari pesat, dan Taboo juga.

Acara pertama icebreaking. Games gethulah...
Abis itu masing-masing taman bacaan diminta untuk menggambarkan taman bacaan mereka di sebuah kertas buram besar.

Abis itu cerita deh tentang taman bacaan mereka masing-masing. Bukunya ada berapa, tempatnya kayak apa, yang suka dateng umur berapa aja, jam buka, masalahnya di tempat masing-masing apa.

Sharing2x n saling ngasih masukan gethu deh..

Beberapa taman bacaan ini mulai dengan buku yang gak bisa dibilang banyak. ada yang mulai hanya dengan 30 buku loh. Ruang yang dipake pun macem2x. Ada yang nebeng di sekolahan ( di desa Mekarwangi), ada yang make ruang tamunya seorang ibu, dan ada juga yang make halaman, jadi kalo malem, buku2x ditaruh dikamar anaknya, tapi kalo siang ampe sore, bukunya dikeluarin dan ditaruh di halaman sebuah meja di halaman rumah. Anak-anak bisa baca di mana aja, di dalem rumah, di halaman, di bawah pohon, terserah. Pokonya sederhan2x banget tapi semangatnya teman2x itu loh dalam menyediakan bacaan buat sekitarnya. Top abies..

Selain itu juga da cerita mengenai masalahnya masing2x, misalnya kemampuan membaca masyarakat sekitar, trus buku yang terbatas sehingga perpus menjadi lebih sepi karena anak-anak yang dateng udah baca nyaris semua, bingung ide kegiatan, dan macem2x lagi.

Masing2x komunitas pun ngasih saran satu sama lain. Misalnya ide kegiatan lain seperti membacakan cerita, menggambar, mengajak anak jalan2x ke lingkungan sekitar, dan banyak lagi.

Setelah sesi sharing ini ada break. makan2x, minum, n shalat gethu deh..

Abis itu ada games lagi. Semacam games untuk mengenal teman2x yang datang lebih dekat lagi..

Abis itu, temanku Jodi memberi contoh cara mendongeng dengan bantuan whiteboard , dan spidol. sambil cerita, dia ngebikin gambar2x yang belum diselesaikan. Trus meminta si peserta buat nebak kira2x dia mau gambar apa. Abis itu ceritanya dilanjutin lagi sambil diselesaiin gambarnya. Tiap tokoh yang digambar pun diberi nama. peserta yang diminta memberi nama. Trus abis itu diterusin deh ceritanya.

Abis itu perserta dibagi menjadi kelompok2x yang terdiri dari masing2x dua orang dan 1 fasilitator. Dan tiap kelompok diminta merancang ide baru untuk taman bacaannya kelak.

Ada yang punya ide ngajakin anak2x bikin gambar trus nanti gambarnya dipajang di tali jemuran, trus ngajak anak bikin tempat sampah, ada yang bikin contoh dekorasi pake origami yang rencananya bisa jadi hiasan buat taman bacaannya, ada yang punya ide ngedongeng menggunakan gambar yang dibuat dari kertas yang diwarnain dan lain2x.

Well, abis itu acar selesai deh. Tiap peserta dikasih kado, klo gak salah dari reading lights, ama 1001 buku berupa peralatan semacam lem, gunting, krayon, kertas lipet, n karton, n juga satu plastik buku cerita.

Abis itu foto2x n pulang deh...

Seru.. seru!!

PS : Postingan sejenis dalam bahasa inggris bisa dilihat di http://abc-mahkotalima.blogspot.com/

Jun 6, 2007

Selingan

Abis baca2x http://auto.howstuffworks.com/horsepower.htm

Hahaha isengk aja...
Aku baru tahu sejarahnya Horse Power, salah satu satuan untuk Daya/Power (selain Watt tentunya)

Hehehe ternyata sejarahnya lucu juga..

TErnyata Watt (si pencipta mesin uap) sedang bekerja dengan kuda2x poni untuk ngangkat batu bara di pertambangan batu bara, trus dia penasaran dunks sama kemampuan yang mungkin dikerjakan oleh binatang, ternyata dia nemuin bahwa rat2x kuda poni bisa melakukan 22000 ft-lb. kerja setiap menitnya.

Itu baru kuda poni loh... Nah si Watt ini memperkirakan bahwa kuda bisa bekerja dengan daya yang lebih besar lagi yakni 33000 ft-lb

yang artinya kuda bisa mindahin 330 lb (= 1467.84 N atau sekitar146,78 kg) batu bara untuk mindahin batu bara setinggi 100 ft (30,48 meter).

Wah jaman dulu yah buat ngangkat batubara pake kuda... Ck..ck..ck.. Susah benerrrr...

Mau tahu lengkapnya.. baca aja ndiri yah via site.. hehehehe

May 31, 2007

Afektif

Saya mungkin pernah cerita via milis-milis tertentu ke beberapa tema2x cerita ini...

Well, tapi mungkin kurangkum dalam satu cerita oke juga kali yah...
(Diinspirasi karena teman2x di milis CFBE, sedang membahas mengenai kenakalan siswa)

Cerita ini kudapat dari majalah Basis Edisi guru, buku2x tentang guru (fiksi maupun non fiksi), n juga dari temen2x yang ikut ngebina murid2x SMA.

Yang menarik dari cerita-cerita yang kudapetin ini adalah bagaiman cara2x guru menghadapi kebandelan siswa... Walaupun I surely believe ngadepin suatu kebandelan/ kenakalan bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi siapa tahu cerita2x ini bisa jadi inspirasi...

Salah satunya cerita dari temenku sendiri (pembina ekskul di suatu smu di Jakarta)
Dia pernah mergokin siswa2x binaanya nonton2x film2x porno.

Bukannya marah, temenku malah ngajakin siswanya untuk nonton film mengenai kelahiran. Baik siswa putra maupun putri.. Mereka diajak melihat bahwa melahirkan bukan suatu proses yang mudah.

Peristiwa serupa juga kudapetin di majalah basis. Seorang guru BP d suatu sekolah di Jogja menemukan bahwa siswanya ada yang 'pacarannya berlebihan'. Akhirnya yang ia lakukan adalah mengajak siswanya dan pacaran tersebut ke suatu tempat penitipan anak. Kebetulan sang guru punya akses ke pekerja-pekerja sosial semacam ini. Di tempat penitipan anak ini lah proses pendidikan terjadi. Si siswa dan pacarnya dua-duanya disuruh mengurus anak2x yang ada di sana. Dari sana mereka belajar bahwa mengurus anak bukanlah hal yang mudah apalagi di usia yang masih muda, sehingga akhirnya mereka pun lebih berhati-hati dalam menjaga dirinya masing-masing.

Guru yang sama ini juga pernah menemukan ada siswanya yang menyontek. Ia berkata kepada muridnya," Menyontek itu cikal bakalnya koruptor loh!", kemudian ia berkata ,"koruptor itu bisa masuk penjara . Pernah tahu penajra itu kayak apa engga?"

Nah pada suatu hari siswany ini dititipkan di suatu penjara (seharian). engga dikasih tugas apa-apa cuma diminta untuk mengamati kondisi penjara. Si siswa ngeri sendiri. Ternyata nga jujur ada dampaknya juga. N sejak itu dia nga pernah nyontek lagi..

Di beberapa buku (kumpulan pengalaman guru) n fiksi..
Aku pernah beberapa kali nemu cerita tentang murid yang bau (ceritanya gak beda-beda jauh). Enggak pernah mandi dan sebagainya. Ada yang karena kondisi ekonomi ada juga karena malas, sehingga efeknya si murid dijauhi oleh teman2x. Nah... si guru suatu hari mengajak siswanya untuk mandi di sekolah. Si guru membawa sabun maupun shampoo, dan sikat gigi, sehingga anaknya merasa segar, dan tahu bahwa dirinya bisa bersih. Dan mulai senang dengan kebersihan.

Di salah satu buku non fiksi yang saya baca. Si murid jarang mandi karena keterbatasan ekonomi. Nah si guru memang menyiapkan sabun dan perlengakapan mandi lainnya dan meminta si siswa datang lebih pagi tiap harinya agar bisa berbersih.

Salah satu cerita yang juga pernah saya dapatkan, tapi lupa dari mana, adalah guru yang ingin mengajarkan siswanya mengenai kebersihan lingkungan. Caranya suatu hari ia mengajak siswanya ke sebuah sekolah lain (yang terkenal akan kebersihannya), di sana siswa dapat melihat dan merasakan langsung efek dari kebersihan.

Well, segitu aja cerita yang saya ingat ...
Semoga bermanfaat

MAu dipanggilin polisi nga...

Hari ini aku n beberapa teman2x melakukan uji coba story telling di sebuah pre school. Cuma sekitar 15 menit tapi kejadiannya mampu bikin aku ketawa2x ampe sekarang.

Jadi ceritanya aku n teman2x memodifikasi cerita The Pied Pipper of Hamelin alias peniup seruling dari hamelin. Ceritanya tentang pemain musik, kebetulan gitar (karena temenku bisanya main gitar)

Nah agar suasana rame...
Anak2x diajak terlibat di dalam cerita...
Ceritanya ada kota Jawa (Nama ini dipilih ama anak2xnya sendiri)
Tadinya penduduknya senang karena hidup aman dan tentram sampai ternyata di kota itu banyak tikusnya. Pak lurahnya memasang pengumuman bahwa siapa yang bisa mengusir tikus akan mendapatkan hadiah. Datanglah si pemain musik. Dengan musiknya ia bisa mengusir tikus. Tetapi... Ternyata setelash itu ternyata Bapak lurahnya tidak menepati janji.

Karena pemain musik sedih bahwa pak Lurahnya tidak menepati janji. Ia jadi sedih dan mencoba menghiburnya dengan musik. Tapi musiknya sedih...

Biar ramai, anak2xnya diajak berinteraksi..
Kebetulan temenku, Harish yang bisa main gitar nongol n memainkan musik sedih. Anak2x diajak ngehibur dia.
"Ayo pemain musiknya disayang-sayang", kata temenku, Kandi.

Nah anak2x pun maju mendekati Harish...

Lucunya... ada satu anak yang bilang gini,

"Nanti dibilangin polisi yah soalnya Pak Lurahnya bohong!!"


:D

May 1, 2007

Freedom Writters

Lucu bangeth dhe, baru seminggu ini aku nemu site tentang “Freedom Writers”, kebetulan siteny http://www.freedomwritersfoundation.org . Ceritanya ada seorang guru, yang memanfaatkan ceritanya, Anne Frank’s Diary, untuk memotivasi murid2xnya nulis. Terlepas dari bener enggaknya cerita holocaust, intinya si guru ini memperlihatkan bahwa Anne Frank’s Diary menceritakan kehidupan sehari2x, n tiap murid-muridnya punya cerita sehari-hari yang berbeda-beda juga. Kebetulan si guru ini megang kelas anak buangan, nyaris DO, bermasalah, penuh isu rasisme n kacaulah. Akhirnya si guru memotivasi anak2xnya nulis tentang keseharian mereka, “You can write about your past, your pesent, or your future!” katanya. Akhirnya tulisan anak2xnya ini dibukuin. Such a simple idea but ternyata pada akhirnya sangat mempengaruhi hidup murid2xnya.

Ternyata Sabtu kemaren pas aku lagi jalan2x aku nemu DVD yang judulnya ‘Freeedom Writters” dan ternyata ceritanya adalah tentang True Story yang kutemuin di website pada minggu yang sama. Kebeneran banget gak sih?

Well, walaupun ceritanya enggak menggambarkan proses bagaimana si guru berhasil ngajak muridnya menulis secara total, tapi bisa bikin aku nangis loh (hihihi malu ngakuinnya). Kebayang deh jadi guru di daerah sub-urban yang penuh dengan masalah kekerasan, isu-isu mengenai rasisme (di sana ceritanya ada permusuhan anatara anak2x asia, kulit hitam, dan hispanik), tembak-tembakan, obat2xan terlarang n macem-macem. Aku sempet baca di majalah, salah satu permasalahan di Amerika Serikat mengenai guru adalah bahwa banyak yang jadi guru tapi banyak juga yang ‘gak tahan’ jadi guru di daerah sub-urban (jadinya banyak yang keluar dari profesi guru).

Huhu.. i think this is a nice movie, i recomand you to watch. Siapa tau abis nonton ini, dapet ‘ide-ide lainnya’ dalam masalah pendidikan sesuai lingkungan masing2x.

Oia, seorang sahabat ngerekomendasiin site2x lain tentang freedom writters

http://en.wikipedia.org/wiki/Erin_Gruwell
www.youtube.com/watch?v=OYDbxJLMrY0 --> video erin gruwel yg asli pas nagajr pertama kali.. bisa di download dhe kayaknya
http://www.smartvoter.org/2000/03/07/ca/state/vote/gruwell_e/bio.html --> full biografinya

Kalo udah pada nonton. kontak2x aku buat cerita2x pendapatnya yah!!

Apr 27, 2007

Kesimpulan setelah mengunjungi beberapa lebaga pendidikan (formal+non-formal)

Salah satu hobi saya adalah berkunjung ke
berbagai komunitas
pendidikan, baik formal maupun non-formal. Saya cukup beruntuk
mempunyai kesempatan untuk mengunjungi berbagai komunitas pendidikan
tersebut, diantaranya Mts Sururon, Garut (gara-gara diajak bikin
training di sana), SLTP Qaryah Thayibah, Salatiga (ajakan teman saya
Sali gara-gara baca di Kompas), SD Hikmah Teladan Cimahi, Sekolah Alam
Dago (bareng teman2x dalam rangka diskusi pendididikan di kampus), SD
Mutiara Bunda (yang ngebantuin bikin training di Sururon, n juga
ngebantu ngelatih relawan kampus yang mau ke berangkat ke Aceh),
sekolah ibu kembar di Jakarta, Rumah Dunia, Pendidikan Alternatif
Samoja Bandung, Rumah Sakola, Makassar, Komunitas Babakan Siliwangi
(anak jalanan) sebelum terbakar dan termasuk masuk kelas bimbel di SSC
Tebet dan banyak lagi...

Saya hobi banget memperhatikan metode pengajaran, interaksi murid
siswa (klo di sekolah formal). Well, setelah sekian lama memperhatikan
akhirnya, aku menemukan beberapa kesimpulan ( yang mungkin bakal
nambah kelak) seiring dengan perkembangan waktu. Diantaranya:
1. Metode ternyata nomer 2
Sekarang mungkin lagi marak berbagai metode untuk ngajar, active
learning lah, metode yang mengutamakan kompetensi lah, n macem-macem.
Metode untuk mengajar bisa macam-macam. Bisa dengan diskusi,
presentasi, dan banyak lagi. Metode tentunya adalah hal yang penting,
tapi ternyata bukan yang terpenting.

Kadang ada guru/dosen yang udah pake metode macem-macem, pake slide
lah, paje games lah, tapi muridnya tetep gak nangkep esensinya, atau
tetep aja bosen. Ada juga guru/dosen yang konvensional cara ngajarnya
tapi berhasil narik perhatian murid-muridnya.

Ternyata kata kuncinya adalah.. Asalkan seorang guru/dosen mengajar
dengan hati, semangat, dan niat, terbuka, perhatian dengan
murid-muridnya, proses pendidikan bisa berjalan dengan baik.

Idealnya sih metodenya juga bagus. Tapi ternyata yang harus ditekankan
adalah mengajar dengan hati. Bila mengajar dengan hati metode
sesederhana apapun pasti OK, kalo ditambah metode yang bagus lebih OK
lagi.

Hal ini saya temukan ketika saya mengunjungi sebuah sekolah yang
fasilitasnya biasa aja. Saat itu buku-buku yang ada di sekolahnya
hanya kiriman dari sekolah lain, seadanya. Kalo lagi ada LKS ya udah
LKS itu dipake untuk belajar. Tanpa buku yang terlalu wah, penuh warna
gambar, n macem-macem, ternyata anak-anak di kelas itu tetep belajar
dengan semangat.

2. Salah satu cara untuk menentukan sekolah tersebut bagus atau tidak
adalah dengan melihat karya siswanya
Pernah nga kita meminta seorang anak mengungkapkan pendapat,
menggambar, menulis cerita dan sebagainya? Coba perhatikan deh, apakah
anak tersebut meniru pendapat/gambar/cerita teman di dekatnya. Kasus
`meniru cerita' dan `gambar mirip dengan temanya' banyak saya temukan
di mana-mana, jujur, termasuk murid saya sendiri. Suatu hari saya
mengunjungi sekolah yang cukup besar dan terkenal dan karya-karya
muridnya saya lihat dan saya menemukan kasus-kasus seperti ini.
Karya-karya yang mirip satu sama lain, baik puisi, cerita, maupun
gambar. Sedangkan suatu hari saya mengunjungi sekolah yang berbeda di
daerah dan suatu lembaga pendidikan alternatif. Saya menemukan karya
murid-murid di sekolah tersebut ditempel di dinding dan tidak ada
satupun karya yang mirip satu sama lainnya. Tiap karya memiliki
karakternya tersendiri. Artiny sekolah ini bagus. Setidaknya sekolah
ini berhasil memacu murid-muridnya untuk tumbuh dengan kreativitasnya
masing-masing dan dengan karakter yang berbeda-beda pula.

3. Saya juga menemukan bahwa di tiap lingkungan, permasalahan yang
dihadapi berbeda-beda. Misalnya permasalahan yang terjadi di kota
tidak akan sama dengan masalah yang terjadi di desa. Teman-teman yang
berkecimpung di pendidikan kota misalnya, harus berhadapan dengan
pluralitas yang cukup besar, sedangkan di desa pluralitasnya tidak
sebesar di kota. Ada teman-teman yang mengajar di sebuah komunitas
yang dekat dengan mall dan pusat perbelanjaan, akibatnya karena anak
begitu dekat dengan mall dan pusat perbelanjaan, sehingga walaupun
berasal dari, maaf, ekonomi menengah ke bawah, tetapi tetap saja
hidupnya ingin konsumtif. (Yang penting gaya!). Sedangkan ada teman
yang mengajar di daerah-daerah tertentu tapi sulit sekali mendapatkan
akses terhadap informasi. Ada juga teman yang mengajar anak-anak dari
keluarga mampu tapi merasa sangat kesepian. Saya juga pernah bertemu
seoarang perempuan yang harus melakukan pendekatan sati per satu ke
orang tua murid untuk berdiskusi dengan orang tua murid tentang
pentingnya pendidikan, sampai kadang harus menginap di rumah orang tua
murid tersebut

4. Saya juga menemukan bahwa persaingan di tingkat sekolah ada
bagusnya dan ada tidaknya. Dengan adanya persaingan, anak akan terpacu
untuk belajar lebih giat. Misalnya saat seorang anak sekolah di
sekolah di mana lingkungannya sangat kompetitif, anak juga akan
menjadi kompetitif. Dia akan berusaha semaksimal mungkin agar ia bisa
menunjukan potensi dirinya. Malu dunks kalah sama yang lain. Tapi
kadang tingkat persaingan yang terlalu gila-gilaan di pendidikan dini,
tidak bagus juga. Seringkali anak jadi tidak bisa membedakan
persaingan sehat maupun tidak. Persaingan tidak selalu dibutuhkan.
Saya jauh lebih senang sewaktu saya masuk kelas di sebuah sekolah,
lalu ada anak yang sudah ngerti materinya duluan dibandingkan
teman-temannya, lalu gurunya mengatakan, "Coba kamu ajari teman-teman
yang lain". Tapi saya juga pernah menemukan kasus, ada sekolah yang
persaingan (belajar)-nya hampir tidak pernah ada, akibatnya yang
juara-1-nya merasa bahwa dia sudah berusaha belajar semaksimal
mungkin, karena dia melihat teman-temannya tidak semaksimal dia,
tetapi ketika dia berhadapan dengan anak dari sekolah lainnya, dia
baru tahu kalau usaha belajarnya sama sekali belum maksimal.

5. Saya juga menemukan bahwa yang butuh pendidikan bagus bukan hanya
yang pintar saja. Sekolah yang bagus bukan berarti bahwa saat masuk
anaknya sudah pintar (mengingat bahwa untuk masuk sekolah menengah
yang `katanya bermutu' butuh seleksi menurut kecerdasan, IQ, dan
sebagainya) dan saat keluar anaknya pintar juga. Tetapi sekolah yang
bisa membuat anak yang biasa-biasa saja menjadi lebih pintar, lebih
bersemangat, lebih ingin belajar. Ada anggapan bahwa kita harus
mengistimewakan anak-anak yang pintar, memberi mereka perhatiab extra
khusus agar menghasilkan bibit-bibit yang unggul. Pendapat ini ada
benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Anak-anak yang berkemampuan
kurang justru harus dibimbing semaksimal mungkin, agar kelak lebih
percaya diri, bisa berprogres dalam belajar, dan sebagainya

Well, itu baru 5 kesimpulan yang saya dapatkan. Nanti kalau aku
menemukan kesimpulan lagi, ku-sharing dhe.. Ada tanggapan?

Mar 20, 2007

Paparan : Globalisasi di SD 1

Seorang anak yang ikut belajar di Komunitas Taboo baru menunjukkan pekerjaan rumah Pendidikan Kewarganegaraan yang didapatkan dari gurunya pada saya. Dia diminta mengisi sebuah lembar kerja siswa (LKS) terkait globalisasi. Isi materi globalisasi yang terdapat di dalam buku tersebut sangat aneh. Pengalaman aku terkait LKS tersebut menjadi inspirasi aku untuk menuliskan posting pertama di milist CFBE.


Di dalam LKS tersebut, globalisasi hanya dipaparkan dengan ringkasan berikut :

Di masa modern seperti ini, hubungan antar manusia di berbagai
belahan dunia semakin dekat, hal itu disebabkan oleh:

· Kemudahan Transportasi

· Komunikasi yang semakin mudah

· kemudahan transportasi dapat membuat jarak antar negara dan antar
pulau semakin dekat, kita semakin mudah memperoleh barang dari luar
negeri.

· Kemajuan alat-alat komunikasi dapat membuat hubungan kita semakin
dekat dan mudah.

Contoh dampak yang timbul dari televisi:

a. dampak positif

1. Menambah pengetahuan

2. Mudah memperoleh berita, baik dari dalam maupun luar negeri

b. dampak negatif

1. Orang-orang malas belajar dan bekerja

2. Orang-orang mudah meniru budaya luar yang tidak sesuai dengan
budaya bangsa sendiri

· Satu hal yang penting dalam menyikapi arus globalisasi adalah
dengan agama

· Dengan agama kita dapat mengontrol dan mengendalikan diri kita.

· Sejelek apapun pengaruh yang datang pada diri kita, bila
pertahanan diri kita, bila perthanan diri kita kuat, maka kita tidak
akan terpengaruh

Dan PR yang harus dikerjakan anak tersebut adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

Esai

1. Tulislah tiga merk HP yang kamu ketahui!

2. Tulislah merk Televisi yang ada di sekitarmu!

3. Sebutkan dua acara televisi yang paling kamu sukai!

4. Sebutkan nama produk buatan luar negeri!

2. Untuk membentengi diri dari pengaruh buruk globalisasi, dapat
dilakukan melalui

a. memperdalam agama

b. banyak membacac.

c. mengikuti perkembangan

d. mengontrol diri


6. Pesan tertulis lewat HP disebut ...

a. Telepon

b. SMS
cakap – cakap

c. MMS

Sumber :

Untuk Sekolah Dasar Kurikulum 2006
Penertbit: CV."Harapan Baru"
Pimpinan Umum : S.M Martono Gumunggung RT 02/11 Gilingan,
Koordinator : hadi, S.Pd Banjarsari Surakarta
Penangung Jawab Telp : (0271)735739
1. Parkin, S. Pd
2.H. Sunata, S.Pd
3. Dra. M. Sukaya
4. Dra. Tini
5. S.Siswaya, S.Pd
6. P. Yulianto, S.E

Oh ya.. Buku LKS ini digunakan di Bandung (dan wajib di beli oleh siswa di sekolah tertentu)

Globalisasi di buku ini diajarkan untuk Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan


PS : Saya lebih setuju bila hal-hal tersebut tidak diajarkan sama sekali di sekolah dibandingkan bisa diajarkan dengan cara seperti ini