Jul 4, 2017

Belajar tentang Pendidikan Guru di Tahun 1950-an dari Ibu Mertua

Lebaran ini, saya dan suami pulang ke kampung halaman suami di Biaro, Sumatera Barat untuk mengunjungi ibu mertua yang sudah 80-an tahun. 

Ibu mertua dulu bekerja sebagai guru. Penasaran ingin tahu bagaimana beliau belajar menjadi guru, suatu malam, saya mewawancarainya. Hasil wawancara itu memungkinkan saya belajar sedikit tentang konteks pendidikan guru di tahun 50-an. 

Begini cerita yang saya dapatkan. Pendidikan guru yang ibu mertua saya dapatkan adalah kursus guru bantu. Di zaman itu, di Sumatra  Tengah (sekarang Sumatera Barat, Riau, dan Jambi) kekurangan guru. Di sekolah, satu guru bisa memegang 3 kelas sekaligus. Kekurangan guru juga tampaknya terjadi di daerah lain di Indonesia. Jadi, ada beberapa program yang dijalankan pemerintah (waktu itu di bawah pimpinan Soekarno) yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah guru, diantaranya program-program pendidikan berikut: 
  • Untuk mempersiapkan guru Sekolah Dasar / SD berupa SMP (3 tahun) + Kursus Guru Bantu / KGB (1 tahun)  
  • Untuk mempersiapkan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) berupa SMP (3 tahun) + Kursus Guru Atas / KGA (3 tahun)
Tidak semua orang bisa lolos untuk ikut program-program tersebut. Hanya yang lolos tes seleksi yang bisa mengikuti program pendidikan guru.  Bagi, yang tamat program-program tersebut, langsung diangkat menjadi pegawai negeri (mendapatkan ikatan dinas dari pemerintah).

Di KGB, proses pendidikan fokus pada ilmu kejiwaan anak (mungkin sekarang dikenal dengan psikologi anak) dan metode mengajar.Tidak ada pelajaran khusus tentang konten seperti matematika, bahasa, ilmu pengetahuan alam dan sosial. Asumsinya, siswa KGB sudah punya pemahaman konten yang cukup untuk bisa mengajar SD.

Ibu mertua  tamat KGB pada tahun 1954. Dua bulan setelah tamat KGB, ibu mertua langsung diangkat sebagai pegawai negeri. Beliau mendapatkan Surat Keterangan (SK) Mengajar sebagai Guru SD dan Nomor Induk Pengajar (NIP). 

Tiga tahun pertama, Ibu mertua  ditempatkan di SD Sungai Tanang. Di sana, beliau mengajar siswa kelas 5 dan 6. Tahun 1962 ada pengumuman dari Dinas Pendidikan Provinsi bahwa SD Biaro membutuhkan  guru spesialis SD kelas 1 dan 2. Ibu mertua saya mendaftar dan lolos. 

Di zaman itu, Dinas Pendidikan Provinsi cukup selektif memilih guru kelas 1 dan 2. Di zaman itu, hampir semua siswa kelas 1 tidak punya pengalaman sekolah sebelumnya (misalnya di Taman Kanak-kanak / TK). Sebagian besar siswa kelas 1 baru belajar mengenal huruf, membaca, menulis, dan berhitung. Semua merupakan keterampilan dasar yang dianggap penting dan diperlukan untuk belajar di tingkat pendidikan selanjutnya.

Ada pegawai Dinas Provinsi yang bertugas mengobservasi calon guru kelas 1 dan 2. Bagaimana cara mereka mengajar? Apakah mereka bisa mengajarkan siswa kelas 1 cara memegang pensil dengan benar? Tidak semua guru mau dan punya keterampilan untuk jadi guru kelas 1 dan 2. 

Tahun 1962 ibu mertua  mulai mengajar di SD Biaro. Sejak itu, beliau selalu mengajar kelas 1 atau 2. Tahun 1972 ada aturan bahwa guru SD Biaro haruslah tamatan KGA atau Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Hal tersebut disebabkan  karena SD Biaro dianggap sebagai sekolah teladan. Hal ini menyebabkan Ibu Mertua saya harus pindah ke  SD Pasia. Di sana beliau mengajar selama kurang lebih tiga tahun. Beliau lalu bertugas di SD Balai Gurah sampai tahun 1984. 

Tahun 1984  aturan bahwa guru SD Biaro harus lulusan KGA atau SPG tidak berlaku lagi. Jadi, ibu mertua kembali mengajar di SD Biaro, yang kebetulan terletak di kampung halamannya. Beliau mengajar di sana sampai akhirnya pensiun di tahun 1996.

Dari hasil wawancara dengan ibu mertua saya, saya lebih paham tentang rumitnya konteks pendidikan Indonesia. Setelah kemerdekaan di tahun 1945, jumlah guru sangat sedikit sedangkan kebutuhan akan guru sangat tinggi. Kalau sekarang, idealnya guru diharapkan lulus dari S1 di bidang pendidikan guru. Di zaman itu, hal-hal semacam itu merupakan kemewahan luar biasa. Tidak realistis untuk mengharapkan semua guru lulus S1. Maka, dibuatlah program-program semacam KGB dan KGA untuk memenuhi kebutuhan guru. Namun, menariknya bahwa di zaman itu pemerintah sudah punya bayangan bahwa tidak semua orang bisa menjadi calon guru. Selain harus punya pemahaman konten mengajar yang memadai, seorang juga harus belajar mengenai cara mengajar (metode mengajar, psikologi anak, dan sebagainya). Hal inilah yang diajarkan di KGB dan KGA. 

 Setelah mewawancarai ibu mertua saya, saya ingin lebih banyak belajar tentang sejarah pendidikan dan pendidikan guru di Indonesia. Bukan untuk jadi ahli sejarah pendidikan Indonesia tetapi sekadar untuk bisa membantu saya memahami konteks pendidikan Indonesia kini. Saya percaya, bahwa apa yang terjadi hari ini dipengaruhi oleh banyak hal yang terjadi di masa lalu. 

Jun 16, 2017

"Ngabuburit sambil Ngobrolin Pendidikan" (1): Sekilas tentang Kegiatan dan Fasilitator


Ramadan tahun ini ada tiga kegiatan "Ngabuburit sambil Ngobrolin Pendidikan" di Studio Kopi Sang Akar. Semuanya diselenggarakan setiap Selasa, mulai 17.00 WIB - selesai.  Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerja sama Jaringan Pendidikan Alternatif dan Studio Kopi Sang Akar.

Sebenarnya desain awal kegiatan ini, diskusi akan difasilitatori oleh anak-anak muda. Peserta diskusi antara 10 - 20 orang dan didominasi oleh anak muda sehingga suara mereka terdengar. Benar sih, ketiga fasilitator ini adalah anak muda. Seusia mahasiswa. Yang jelas, semua di bawah 30 tahun. Namun, peserta diskusi beragam. Ada yang muda dan yang "tidak bisa dikategorikan muda lagi". Yang terakhir ini juga tak bisa direm untuk tidak berbicara. Jadi, praktik memang tak berjalan sesuai desain awal. Setidaknya diskusi berlangsung santai tapi seru. Semua peserta duduk  lesehan melingkar. Fasilitator memancing obrolan. Misalnya, memberikan sedikit cerita ataupun memberikan gambaran tentang kerangka obrolan dan kata-kata kunci.  Jika ada yang mau sumbang pemikiran, boleh sumbang pemikiran. Saat magrib, peserta buka bersama. Takjil berupa kolang-kaling dan singkong goreng khas Studio Kopi Sang Akar. Setelah salat magrib, peserta melanjutkan diskusi sampai sekitar 19.00. Kadang dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol informal. 

Fasilitator ngabuburit pertama adalah Khairun Nisa, biasa dipanggil Nisa. Saat ini, Nisa menjadi Pelaksana Harian Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar. Dulu, Nisa juga dididik di Sanggar Anak Akar, sebuah tempat pendidikan alternatif yang berdiri sejak 1988. Di sana Nisa merasa bahagia karena merasa diberi ruang untuk berekspresi dan bisa belajar secara merdeka. Pengalaman itulah yang menginspirasi dia untuk terus berbagi dengan anak-anak di sekitar. Itu dilakukan Nisa sejak usia 14 tahun. Nisa mengumpulkan anak-anak dari lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dan mengajak mereka berdialog tentang apa yang mereka sukai. Anak-anak ternyata suka bermain dan membuat kerajinan tangan. Dibantu oleh seorang teman, Nisa pun mulai secara rutin mengajak anak-anak tersebut bermain dan berkarya. Kini, selain menjadi Pelaksana Harian Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar, Nisa berkuliah di jurusan Sosiologi, Universitas Nasional. Menurut cerita Pakde Susilo Adinugroho, salah satu "dedengkot" sanggar, Nisa memilih kuliah di jurusan Sosiologi agar bisa mengkaji Sanggar Anak Akar dari sudut pandang sosiologi. Nisa menjadi fasilitator untuk ngobrol-ngobrol tentang "Peran Anak Muda dalam Pendidikan" yang telah diselenggarakan pada Selasa, 6 Juni 2017. 

Fasilitator kedua adalah seseorang yang cukup lama saya kenal karena dulu sama-sama sempat aktif di Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP). Namanya Gea Citta, biasa dipanggil Gea. Saat ini Gea sedang menyelesaikan studi di Fakultas Filsafat, Universitas Indonesia (UI). Ia sedang menyelesaikan skripsi tentang Epistemologi. Beberapa tahun yang lalu, Gea sempat banyak menulis tentang pendidikan, di antaranya dimuat di Jurnal Perempuan, Jakarta Post, Tempo, dan sebagainya . Gea juga aktif mengajar di Rumah Pintar (Rumpin), sebuah sekolah informal untuk anak-anak di Desa Cibitung, Kabupaten Bogor. Gea memfasilitasi ngobrol-ngobrol tentang "Diskriminasi Di Dunia Pendidikan"  yang telah diselenggarakan pada Selasa, 13 Juni 2017. 

Fasilitator ketiga bernama Galuh Bagaspati. Ia memilih untuk memberhentikan diri sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi dan memilih untuk mendidik dirinya sendiri. Saya belum terlalu tahu banyak tentang Galuh meskipun sudah dua kali bertemu di kegiatan ngabuburit. Dia selalu datang dan tampak serius memperhatikan alur diskusi. Saya belum bisa bercerita banyak tentangnya. Namun yang pasti, Galuh akan menjadi fasilitator pada Selasa depan, 20 Juni 2017. Setelah itu, mungkin saya bisa lebih mengenal dan berbagi cerita tentang dia dan kegiatan ngabuburit pekan depan. 

May 2, 2017

Membaca "Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan"


"Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan" karya Dra. Irna H. N. Soewito (Balai Pustaka, 1991) menggambarkan kehidupan Soewardi Soeryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) sebelum dan setelah diasingkan di Belanda.

Buku tersebut memungkinkan saya mengenal sisi Ki Hadjar Dewantara yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya baru tahu bahwa Ki Hadjar Dewantara pernah bekerja sebagai ahli kimia, lalu pernah belajar menjadi apoteker dan bekerja di Apotek Rathkamp, Yogyakarta. Namun, selama di apotek, Ki Hadjar terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menulis untuk surat kabar De Express. Beliau juga pernah salah meramu obat, sehingga akhirnya dipecat. Setelahnya, Ki Hadjar Dewantara memutuskan untuk fokus menulis di surat kabar, hal yang membuatnya diasingkan ke Belanda.

Tahun  1913, pemerintah Belanda merayakan kemerdekaan yang ke-100 (dari jajahan Prancis). Belanda sendiri masih menjajah Hindia Belanda (kini Indonesia). Penduduk Hindia Belanda dipungut biaya (secara paksa) sebagai pemasukan bagi Belanda untuk merayakan kemerdekaannya. Ki Hadjar Dewantara sempat melihat sendiri praktik pungutan tersebut dan memilih untuk melawannya dengan pena. Dia menulis brosur  yang diterbitkan oleh  Comite Boemi Poetra berjudul "Als ik eens Nederlander was" yang berarti "Andaikata Aku Seorang Belanda". Tulisan itu membuat Ki Hadjar ditangkap dan dipenjarakan pada 30 Juli 1913 karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat.

18 Agustus 1913, pengadilan Bandung memutuskan bahwa Ki Hadjar Dewantara harus diasingkan ke Pulau Bangka. Tjipto,  penanggung jawab brosur Comite Boemi Poetra, harus diasingkan ke Banda. Doewes Dekker - yang juga memprotes perayaan kemerdekaan Belanda mendapatkan keputusan serupa, dia harus diasingkan ke Timor.

Seandainya Ki Hadjar mau diasingkan ke Pulau Bangka, dia bisa memperoleh tunjangan biaya hidup dari pemerintah Belanda. Namun, Ki Hadjar Dewantara untuk memilih diasingkan ke negeri Belanda. Hal tersebut diperbolehkan tetapi Ki Hadjar tidak akan memperoleh biaya hidup dari pemerintah Belanda. Tjipto dan Doewes Dekker pun memilih diasingkan ke Belanda.

Di Belanda, Ki Hadjar Dewantar hidup sederhana dengan istrinya, Soetartinah. Mereka memperoleh sokongan dana dari Indische Partij berupa dana Tot De Onafhankelijkheid (TADO) yang berarti "sampai merdeka". TADO merupakan bantuan dan untuk 'pemberontak' yakni mereka yang berani melawan pemerintah kolonial. Gondowinoto, kerabat Ki Hadjar Dewantara yang sedang studi di Belanda, sering memberikan bantuan beras, pakaian, dan peralatan rumah tangga.

Untuk mendapatkan tambahan uang, Ki Hadjar mulai menulis di surat kabar kembali. Soetartinah mencari pekerjaan  sebagai guru Frobel School (Taman Kanak-kanak) di Weimaar, Den Haag.

Selain menulis, Ki Hadjar Dewantara juga aktif mengikuti diskusi yang sering diadakan Dowes Dekker di Paleis voor Volksvlijt (sebuah gedung di Amsterdam yang menjadi ruang publik) setiap malam. Di sana, Tjipto, Doewes Dekker, dan Ki Hadjar sering memberikan ceramah di depan ratusan untuk menjelaskan kondisi riil di Hindia Belanda.

Ki Hadjar Dewantara merasa bahwa banyak orang Belanda yang tidak paham mengenai kondisi di Hindia Belanda. Berita yang disiarkan pemerintah kolonial tidak selalu sesuai kenyataan. Atas bantuan Algemeen Nederlands Verbond (Perkumpulan Umum di negeri Belanda), Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) dan Oost en West, Ki Hadjar Dewantara rajin berkeliling ke daerah-daerah untuk memutarkan film dan berceramah mengenai Hindia Belanda.

Untuk menggambarkan keadaan masyarakat Hindia Belanda yang sesungguhnya, Ki Hadjar Dewantara juga  mendirikan sebuah kantor berita,  Indonesisch Pers Bureau.   Ki Hadjar menulis beragam isu baik tentang kebudayaan, kemanusiaan, pertanian, peternakan, dan sebagainya.

Adanya Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) merupakan wadah Ki Hadjar Dewantara untuk berinteraksi dengan mahasiswa Hindia Belanda yang sedang studi di Belanda. Ketika Idul Fitri, mahasiswa berkumpul di rumah Ki Hadjar Dewantara untuk makan nasi tumpeng yang dibuat oleh Soetartinah.

Dengan beberapa mahasiswa   Indische Vereeniging yang sama-sama memiliki minat yang menyukai kesenian Jawa, Ki hadjar juga berlatih gamelan dan menari. Mereka pernah mengadakan malam kesenian untuk mengumpulkan dana untuk korban banjir di tanah air.

 Indische Vereeniging juga memberikan Ki Hadjar Dewantara tanggung jawab untuk menjadi ketua redaksi majalah Hindia Putera yang berbahasa Belanda yang isinya sebagian besar tentang perkembangan masyarakat di Hindia.

Selama di pengasingan  Ki Hadjar juga mengikuti pelajaran di Lager Onderwij (Sekolah Guru) sampai akhirnya beliau memperoleh Akte van bekwaamheid als Onderwijzer (Ijazah Kepandaian Mengajar). Studinya memperkenalkannya kepada pemikiran-pemikitan mengenai pendidikan yang memerdekakan (yang menginspirasinya diantaranya Maria Montessori dan Rabindrath Tagore).

Ada pengalaman pribadi yang sangat membekas di hati Ki Hadjar Dewantara, seperti yang dikutip ini:
Pemikiran tentang berhamba kepada anak, tercetus dari suatu penyesalan yang pernah dirasakannya sendiri ketika Soewardi sedang menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Tangis Asti [anak pertamanya yang berkebutuhan khusus] yang tiada henti-hentinya, dirasakan sebagai suatu hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak itu ke luar, kemudian tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik hempasan pintu rumah… Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan kekalutan pikirannya. Ia lari secepat ia dapat. Dibukanya pintu pemisah dan… Asti sudah nampak biru, menggigil kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil memeluk anak yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu, maka terucaplah kata kasih sepenuh hati: "Kowe bakale dak mulya' ake selawase" (Selamanya Engkau akan aku muliakan). Tuhan mendengar kata umat-Nya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Asti tidak pernah dapat mengurus dirinya hingga sekarang. (Soewito, 1991, h.103)

Pengalamannya, yang pernah mengabaikan anaknya, dan disesalinya, membuatnya sadar bahwa pendidikan harus berfokus pada anak. Ki Hadjar berpandangan bahwa anak harus dibiarkan tumbuh menurut kodratnya. Orang dewasa (orang tua dan guru) bertanggung jawab untuk menjadi among (mengasuh), membiarkan anak 'mencari jalan sendiri', tanpa menunggu perintah. Menurutnya, sistem pendidikan di Hindia Belanda yang masih menggunakan paksaan, dan hukuman harus diganti dengan sistem among.

Membaca "Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan" membantu saya memahami beberapa keping-keping kehidupan Ki Hadjar Dewantara. Saya belajar bahwa Ki Hadjar Dewantara merupakan pejuang yang sangat tangguh. Berbagai cara ditempuhnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mulai dari menulis, berorganisasi, berkesenian, dan yang paling utama, dengan menggunakan kesempatan belajar di Belanda untuk sungguh-sungguh memikirkan secara serius pendidikan Indonesia, tentu akhirnya dipraktikkan ketika kembali belajar ke tanah air. :)

Apr 8, 2017

Pengalaman Mengikuti Google Educator Examination

Saya beruntung dipertemukan dengan Pak Steven Sutantro. Beberapa tahun yang lalu, kami memang pernah berkenalan melalui forum pendidikan online (saya lupa apa). Kami juga pernah bertemu di temu darat IDCourserian (komunitas orang Indonesia yang mengambil kuliah online di Coursera.org).

Setahun terakhir, Pak Steven ternyata bekerja di sekolah Sampoerna Academy. Sekolah ini berada di bawah yayasan yang sama dengan kampus tempat saya bekerja, Sampoerna University.

Pak Steven adalah seorang google educator trainer. Kebetulan, saya punya kesempatan untuk mengikuti rangkaian training Google Educator yang diselenggarakan oleh kampus. Pak Steven menjadi fasilitator training ini. Sebenarnya rangkaian training itu adalah sebuah study group untuk persiapan mengikuti ujian Google Certified Educators.

Setiap Selasa, sejak 14 Februari 2017 sampai 14 Maret 2017, kami para dosen dan beberapa asisten dosen (mahasiswa) belajar mengenai cara belajar, mengajar, dan me-manage kelas atau sekolah menggunakan tools seperti gmail, google drive, google docs, google slides, google sheets, google forms, google drawings, google calendar, google site, dan google classroom.

Setiap sesi selalu seru. Saya ingat Pak Steven pernah mengajak kami peserta untuk berkolaborasi membuat presentasi menggunakan google slides tentang makanan favorit. Waktu membuat presentasinya sekitar 15 menit. Satu peserta, satu slide. Dalam waktu sekejap, ada sebuah presentasi bersama tentang berbagai jenis makanan, lengkap dengan gambarnya, tempat mendapatkannya, bahkan videonya. Lebih dari 10 jenis variasi. Itu bisa dijadikan bahan diskusi di kelas. Peserta juga belajar berkolaborasi sekaligus mengasah keterampilan komunikasi.

Tentu itu hanya contoh kegiatan. Peserta yang ikut pelatihan bisa menggunakan gagasan dasar itu untuk kegiatan lain di dalam kelas.

Ada berbagai kegiatan belajar seru lainnya. Namun, terus terang tidak semua tugas selalu kami kerjakan. Apalagi yang sifatnya PR. Misalnya, Pak Steven pernah meminta kami merapikan google site kami masing-masing, membaca review bahan, dan sebagainya. Seringkali PR ini tidak dikerjakan karena alasan 'sibuk'.

Tidak semua peserta memilih untuk mengambil ujian google pada April ini. Ada yang mau mengambilnya nanti, setelah benar-benar siap. Saya memilih untuk coba-coba saja ikut ujuan. Gagal pun tidak apa-apa. Kebetulan kampus membiayai untuk ikut ujian (10 USD/orang).

Belakangan saya baru ngeh bahwa semua bahan review dan latihan bisa dibaca dan dikerjakan menggunakan telepon genggam. Akhirnya, ketika saya sedang menunggu atau berada di perjalanan, misalnya di kereta, saya belajar untuk persiapan ujian. Lumayan banget!
Kemarin, Jumat, 7 April 2017 saya ikut ujian untuk menjadi Google Certified Educator Level 1. Yang diuji adalah pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan berbagai perangkat google untuk belajar mengajar dan tentang digital citizenship. Selain itu keterampilan menggunakan berbagai perangkat tersebut untuk membuat presentasi, lesson plan, mengolah data (feedback atau nilai siswa), menuliskan hasil penelitian, dan sebagainya.

Saya tadinya tidak terlalu percaya diri. Ada juga rasa takut tidak lulus. Tapi hajar saja deh! Eh dan ternyata eh ternyata, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah.
Memang tidak semua peserta lulus, tapi yang menarik, ujian ini dirancang sedemikian rupa sehingga setelah ujian pun kita pasti punya keterampilan baru. Ujian boleh  membuka google (meskipun waktunya terbatas). Jadi, desain ujian ini kayak 'open book' begitu. Setelah ujian saya belajar begitu banyak tips dan trik menggunakan teknologi untuk belajar, mengajar, dan manajemen. Jadi, ujian ini selain untuk menguji hasil belajar (assessment of learning), juga merupakan alat untuk belajar (assessment for learning and assessment as learning). Seru deh!