Jun 15, 2011

Nilai Tinggi Tak Jamin...

Ada sebuah berita di kompas.com hari ini. Judul beritanya "Nilai Tinggi Tak Jamin Lolos Masuk RSBI". Meskipun saya tidak setuju adanya RSBI, kali ini saya tidak akan membicarakan mengenai RSBI, tetapi mengenai syarat masuk sekolah berdasarkan nilai.

Saya ingat obrolan beberapa mahasiswa saat saya sedang mengunjungi salah satu perguruan tinggi (PT) keguruan (swasta). Ada sejumlah mahasiswa yang sedang berbincang-bincang di perpustakaan. Mereka sedang membahas mengenai syarat masuk PT. Untuk masuk PT tersebut ada syarat-syarat lain selain nilai. Perlu ada surat rekomendasi dari guru SMU. Mirip dengan syarat masuk universitas-universitas di luar negeri. Mahasiswa-mahasiswa tersebut sedang berdiskusi mengenai itu.


“Waktu mau masuk sini kan butuh surat rekomendasi, “ kata seorang mahasiswi, “Nah aku punya teman yang aktif di paskibra. Nilainya memang tidak bagus-bagus amat, tapi dia merupakan siswa yang aktif. Tetapi, waktu dia meminta surat rekomendasi ke wali kelasnya, wali kelasnya tidak mau memberikan rekomendasi. Menurut wali kelasnya, nilainya pas-pasan maka dia tidak pantas untuk mendapatkan rekomendasi. Kenapa begitu yah?”


Diskusi terus berlanjut, “Iya yah, padahal kan pendidikan gak hanya berdasarkan nilai pelajaran. Kan tinggal membuat surat rekomendasi. Bisa saja sang guru menulis misalnya bahwa siswa tersebut aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah, paskibra misalnya.”

“Kenapa yah anak-anak yang berprestasi dalam bidang lain, meskipun nilainya tidak terlalu bagus, tidak diperhatikan? Dianggap bodoh padahal belum tentu!”

“Iya padahal di ekskul, siswa juga belajar mengenai disiplin, bekerja sama, ketekunan, dan lainnya.”

Diskusi terus berlanjut tapi saya harus segera beranjak karena akan melakukan observasi kelas di perguruan tinggi tersebut.


Saya termasuk yang tidak menyetujui sistem seleksi untuk tingkat SMP dan SMU (terutama SMP). Bagi saya untuk kedua level tersebut seharusnya anak-anak berada dalam mixed ability class. Maksudnya, anak-anak berada dalam kelas dimana kemampuan akademik siswanya bervariasi. Jadi di kelas tersebut bisa saja ada siswa yang pandai dalam bidang matematika, sains, seni, bergaul, berkomunikasi, dan lain-lain. Intinya dalam satu kelas, ada berbagai variasi kecerdasan, karakter, dan pribadi siswa. Tentu saja untuk bisa mengajar dalam kelas ini, sang guru harus memiliki keterampilan yang tinggi. Bukan hal yang mudah untuk mengajar dalam mixed ability class. Dia perlu memiliki keterampilan mengajar yang memungkinkan dia untuk melibatkan seluruh siswanya dalam pembelajaran, terlepas dari berbagai perbedaan yang ada di dalam kelasnya. Anak-anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan sejenis saja (misalnya anak pintar akademik hanya bergaul dengan pintar akademik) menurut saya kurang baik. Berada di lingkungan yang kaya dengan perbedaan akan menambah wawasan siswa, membantu mereka belajar dalam bergaul, dan sebagainya.

Kembali ke sistem seleksi berdasarkan nilai. Kalaupun ada sekolah yang memang merasa perlu mengadakan seleksi, nilai saja tidak akan menggambarkan kesuksesan siswa di sekolah. Bagaimana motivasinya? Apakah siswa mandiri? Bagaimana rasa ingin tahunya? Apakah siswa tersebut bisa menghadapi tantangan? Apakah siswa tersebut bisa beradaptasi dengan lingkunan baru? Dan banyak hal lainnya.

Untuk masuk universitas-universitas di luar negeri misalnya, meski nilai penting, tetapi ada banyak hal lainnya yang dipertimbangkan. Apakah visi sang calon mahasiswa? Apakah dengan dia belajar di universitas tersebut dia akan berkontribusi bagi masyarakat? Bagaimana kepemimpinannya? Apakah siswa tersebut konsisten, bisa mengatur waktu? Apakah siswa tersebut aktif? Dan banyak pertanyaan lainnya. Karena itulah, untuk masuk universitas-universitas di luar negeri, selain menyertakan transkrip nilai, biasanya disertakan juga surat rekomendasi, motivation letter, contoh karya (misalnya karya tulis, dan sebagainya). Guru yang menuliskan rekomendasi pun tidak harus selalu menuliskan mengenai nilai siswa, tetapi juga mengenai sifat siswa. Guru bisa menuliskan mengenai ketekunan siswa, bagaimana siswa sangat passionate dalam menjalankan aktifitasnya (misalnya teater), dan sebagainya. Nilai tinggi memang tidak menjamin kita untuk lolos dalam banyak hal, bukan hanya RSBI. Dia tidak menjamin kita akan sukses, tidak menjamin kita akan bisa menghadapi tantangan di luar sekolah, dan banyak lagi. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa nilai yang tinggi tidak penting. Yang saya katakan adalah ada banyak hal yang lebih penting daripada sekedar nilai yang tinggi seperti motivasi, kecintaan terhadap belajar, kemampuan menyelesaikan masalah, dan banyak lagi. Mau membantu menyebutkannya?

Jun 14, 2011

Quote keren dari sini :

For me, it’s not about school being in or out. It’s about learning. And if you’re connected, you can learn anytime, about anything.

Observasi

Seorang dosen mekanika yang bernama Pak Bambang pernah membuat saya terkesan. Saat itu saya sedang menemani teman saya untuk mengunjungi ruangannya. Teman saya mau mengkonsultasikan hasil ujiannya dengan sang dosen. Tak lama kemudian dosen saya bertanya kepada saya,
"Kamu tahu apa peristiwa alam yang akan terjadi malam ini?"

Karena saya memang menggemari astronomi amatir, saya tahu kalau akan ada kejadian di mana venus menutupi matahari. Tapi saat itu saya lupa istilahnya.

"Akan ada transit Venus sore ini. Jadi Venus akan menutupi matahari " katanya sambil membuka komputernya menunjukkan kalau , "Kalau tidak mendung, kalian bisa ikut mobil saya ke Boscha setelah ini. Kita bisa melihat transit Venus dari sana."

Sayangnya hari itu mendung. Kami tidak jadi ke Boscha. Tapi saya selalu teringat bagaimana berapi-apinya dia ingin mengajak saya mengamati suatu fenomena alam, belajar, dan bahkan mengajak saya melakukan observasi. Dia punya kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Dia juga punya kecintaan untuk berbagi pengetahuan. Kesan itu selalu teringat di hati saya hingga kini. Dosen saya yang satu ini selalu mengingatkan saya untuk mencintai pengetahuan dan juga berbagi.

Saat saya sidang akhir, dia menjadi dosen penguji saya dan pesan terakhirnya kepada saya adalah agar saya terus mencari pengetahuan.

"Bukan hanya melalui buku dan mempelajari rumus-rumus yang sudah jadi. Melainkan selalu melakukan observasi, melakukan pengamatan. Amati setiap hal satu per satu," begitu katanya. :)

seleksi penerimaan siswa baru merupakan soal-soal yang dibuat oleh bimbingan belajar Ganesha Operation Bandung

Rebekka mengatakan ingin menciptaka siswa-siswa berprestasi berdasarkan kecerdasan bukan berdasarkan kemampuan orang tua siswa. "Disini saya maunya anak-anak yang pintar, yang berprestasi walaupun miskin, jadi tidak ada itu yang bisa masuk sini hanya orang-orang kaya," ujarnya.

Sekolah rintisan bertaraf internasional ini telah melakukan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada 17 Mei hingga 19 Mei 2011 lalu. Melalui tiga tahap yaitu, tes psikotes, tes bahasa inggris meliputi listening, reading dan speaking serta tes akademik dengan empat mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS.

Menurut Rebekka, soal-soal yang diujikan saat seleksi penerimaan siswa baru merupakan soal-soal yang dibuat oleh bimbingan belajar Ganesha Operation Bandung. Begitu juga proses pemeriksaannya, diserahkan oleh bimbingan belajar tersebut.
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=196517%3Ajual-beli-kursi-sma-dibantah&catid=77%3Afokusutama&Itemid=131

Sekolah ini dengan bangganya mengklaim diri sebagai RSBI padahal untuk penerimaan siswa barunya diserahkan ke bimbingan belajar. Aneh bin ajaib!

Jun 10, 2011

"School is more than a pile of discrete facts that students have to memorize; it's about thinking, questioning, and reflecting. "
Saya seringkali gemas melihat murid saya sibuk menghafal untuk ujian. Seorang murid saya (kelas 7) yang bersekolah di sebuah SMP RSBI di Jakarta Selatan saat itu akan ulangan matematika. Sambil membuka-buka buku catatannya, murid saya berkata, "Saya sering lupa istilahnya. Ini obtuse angle, acute angle, right angle, reflex angle, complementary angle, atau apa yah?"

Bagi saya, apa yang dilakukannya kurang penting. Apalagi menghafalkan istilah-istilah tersebut dalam bahasa Inggris. Untuk apa? Apa salahnya menggunakan istilah sudut lancip, sudut tumpul, dan seterusnya? Kenapa harus dalam bahasa Inggris? Maksud saya, murid saya jadi sibuk menghafalkan istilah-istilah tersebut dibandingkan dengan bermain-main dengan sifat sudut, melakukan pengukuran, membuktikan, dan menganalisis. Kan sayang sekali. What is the point of learning mathematics then?

Pada akhirnya saya membiarkan saja murid saya mempelajari istilah-istilah tersebut. Meskipun bagi saya kurang penting, murid saya merasa mengingat-ingat istilah tersebut penting, khususnya untuk menghadapi ujian.

Saat saya berada di rumah murid saya yang lain, dia sedang membuka-buka catatan fisikanya. Rajin sih.. Tapi apa yang dilakukannya? Dia sedang menghafalkan definisi satuan!

"Satuan adalah pembanding yang digunakan untuk menyatakan suatu ukuran," katanya sambil berkomat-kamit.

Dalam hati saya bertanya, apa gunanya menghafalkan suatu definisi tanpa memahami maknanya? Bagi saya itu meaningless, tidak bermakna. Satu lagi, bagi saya menghafal tanpa memaknai bukanlah belajar sama sekali!

Saya langsung mengambil sebuah bolpen. dan mengukur panjang buku di depannya menggunakan bolpen. "Panjang buku ini sekitar 2, 5 (panjang) bolpen ini," kata saya mencoba memberi contoh mengenai apa yang dimaksud dengan satuan, "Jadi satuan untuk mengukur panjang meja ini adalah bolpen ini."




Jun 7, 2011

Hanya cerita singkat mengenai Sabtu lalu

Sabtu ini menyenangkan sekali. Meskipun dalam keadaan flu berat, pagi-pagi saya berangkat ke Bandung untuk menuju ke Kalyanamandira. Saya dan 2 orang guru berjanji untuk bertemu di sana pukul 8 pagi karena mau berbincang-bincang dengan Pak Heru Widiatmo via skype. Selain kedua teman guru, ada juga teman-teman dari Kalyanamandira seperti Zamzam, Rahadian, Ilah dan Erus.

Pak Heru Widiatmo adalah mantan peneliti di Puspendik yang akhirnya keluar (frustasi katanya) karena berbagai proyek yang tidak jelas. Ia kini bekerja di American Collage Testing, di Iowa, Amerika Serikat. Kami banyak belajar mengenai cara merancang testing. Lengkapnya nanti saya ceritakan.

Btw, setelah selesai berbincang-bincang dengan Pak Heru dan melakukan diskusi, saya sempat istirahat sebentar saking pusingnya dan terbangun saat teman-teman melakukan sebuah diskusi menarik. Ilah, sedang menyelesaikan kuliahnya di UPI, jurusannya adalah pendidikan mesin. Hayah! Jadi selain membuat tugas akhir terkait permesinan dia juga harus membuat penelitian terkait 'pendidikan mesin'. Seru kan? Saya aja gak pernah kepikiran.

Ilah memiliki ide untuk menuliskan mengenai media pembelajaran online, misalnya untuk mengajarkan mengenai insulasi mesin pendingin. Kami membahas kata-kata kunci satu per satu. Misalnya mengenai media pembelajaran, self learning, termasuk sedikit mengenai konsep insulasi. Saya juga menunjukkan game-game dari website BBC yang disukai oleh murid saya. Mudah-mudahan Ilah menemukan ide dari sana.

Gang Cantik

Ketika saya berojek ria hari ini, saya melalui suatu daerah untuk pertama kalinya. Daerah tersebut merupakan suatu gang di daerah pasar minggu dan gang itu cantik sekali. Gang itu dihiasi semacam tiang-tiang yang bentuknya setengah lingkaran yang menyambungkan rumah ke rumah. Di atas tiang-tiang tersebut ada tanaman rambat yang cnatik sekali dan di setiap rumah yang saya lalui benar-benar hijau. Ada berbagai pot di mana-mana berisi berbagai tanaman. Ada juga pipa-pipa yang dipotong setengahnya, diisi tanah lalu ditumbuhi berbagai tanaman juga. Bagi saya itu salah satu gang tercantik yang pernah saya lihat di Jakarta. Dan tentu saja itu membuat saya menjadi sangat bahagia. Ah sayangnya tidak saya potret. :)

Jun 1, 2011

[LIRIK] Blackbird

Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise

Black bird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
all your life
you were only waiting for this moment to be free

Blackbird fly, Blackbird fly
Into the light of the dark black night.

Blackbird fly, Blackbird fly
Into the light of the dark black night.

Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise,
You were only waiting for this moment to arise,
You were only waiting for this moment to arise