Jun 23, 2008

TKW

Beberapa waktu yg lalu saya sempat nimbrung sewaktu teman saya menerangkan mengenai apa yg dimaksud dengan devisa pada seorang murid saya.

"Devisa itu bisa dihasilkan dari barang, misalnya kalau kita mengekspor barang, kita mendatangkan keuntungan untuk negara, keuntungan itu berupa devisa."

"Devisa juga bisa dihasilkan dari jasa. Misalnya para TKW bekerja di luar negeri dan kemudian mengirimkan uang buat keluarganya di Indonesia. Mereka juga menghasilkan devisa."

Kurang lebih begitulah penjelasan sederhana temanku tentang devisa.

"Kalau ada TKW yang ngak balik2x dan nga ada kabarnya dicarinya ke mana?"

"Mungkin ke departemen tenaga kerja," kata temanku, "Memangnya kenapa?"

"Engga, ibu saya udah lama jadi TKW, engga tau dimana, udah 2 tahun nga ada kabarnya."

Kami semua yg berada di sana pun terdiam. Tidak bisa berkata2x.

Tapi..
Hari ini kebetulan saya seangkot dgn muridku. Dan dia tersenyum,"Ibu," panggilnya padaku,"Ibu saya kemarin sudah pulang! Cuma 2 hari. Kata ibu saya dia pernah mengirim surat tapi tidak sampai. Kerjanya ternyata di Malaysia. Dia minta maaf karena tidak membawa apa2x. Cuma 2 hari kemudian sudah berangkat bekerja lagi. Tapi saya sudah senang setidaknya sudah tahu kabarnya."

Jun 22, 2008

Live in (3)

Setelah mengikuti kegiatan belajar di KBA Kembangan lestari, Mbak Sinta bergegas mengantarkan saya ke 3 kampung lain u/ melihat kondisi KBA di kampung2x yg lain.

Untuk mencapai kampung I yg saya kunjungi (lupa namanya), saya menyusuri sbuah lorong yg panjang, yg padat dgn rumah2x di sebelah kiri kanan dan sesungguhnya penuh kehidupan. Saya tidak tahu berapa jumlah anak berlari2xan dspanjang jalan, jajan. Bny skali orang melakukan berbagai kegiatan di lorong itu, mulai dr berjualan aneka jajanan, mencuci baju, menjemur makanan, dsb. Lorong di sana mengingatkan saya akan sebuah artikel yg saya baca di National Geographic tentang sebuah lorong di Dhafur. Mungkin saya sedikit aneh, tapi saya melihat, dibalik semua kesulitan yg ada di lorong yg saya lalui, saya merasakan keindahan, krn lorong itu tampak begitu hidup.

Kalau saja pemerintah cukup pandai. Sebenarnya tempat yg penuh kehidupan dan manusia seperti itu bisa dibangun komunitasnya. Tidak perlu melakukan penggusuran, cukup penyediaan ruang publik u/ tempat bermain anak2x, berkumpul, penyediaan air bersih, dan juga sarana kesehatan, akses thd informasi dan pendidikan. Maksud saya, di sana kan sudah ada sejumlah penduduk, ada sekian bny anak dan remaja, dan sebenarnya beberapa penduduknya walau secara sederhana, melalui sektor informal mampu menghidupi diri sendiri (misalnya dgn berjualan jajanan). Jd yg tinggal dibangun adalah sedikit infrastruktur yg memungkinkan pembangunan komunitas. Apabila hal ini dilakukan, saya percaya suatu hari masyarakat yg tinggal di lorong2x ini bisa menciptakan komunitas yg solid dan mandiri, serta bisa berkreasi u/ bersama2x meningkatkan kualitas hidup bersama.

Well, saya tahu membangun suatu komunitas bukanlah hal yg mudah.. We gotta start from scratch, tapi, siapa tahu?

Jun 19, 2008

Live In (2)

Pagi-paginya saya sudah bersiap untuk melihat kegiatan KBA di Kembangan Lestari. Awalnya jadwal seharusnya adalah olah raga di lapangan dan makan bersama. Tapi karena banyak yang terlambat, kegiatan olah raga ini dibatalkan.

Tapi tetep seru kok. Anak-anak menyanyi-nyanyi sambil menari-nari bersama.

Salah satu lagu yang kuingat adalah
Nada : (Sol-Mi-Mi-Fa-Re-Re-Do-Re-i-Fa-Sol-Sol-Sol, Sol-Mi-Mi-Fa-Re-Re-Do-Mi-Sol-Sol-Do_

Kucing Cat
Anjing Dog
Kupu-kupu butterfly
Burung bird
Ikan Fish
Gajah Elephant
Ayam Chicken Tok Petok
Bebek Duck Kwe-kwek-kwek
Lapa..
Lupa..
Jerafah Girafe

Lagu itu dinyanyikan dengan berbagai gaya dan gerakan loh. Pokoknya namanya juga anak TK, pada suak meyanyi.

Setelah itu, ada kegiatan makan bersama. Anak-anak membawa bekal dan memakannya bersama di KBA. Bagi yag tidak membawa bekal, tetap kebagin mkanan. Para guru mengumpulkan sedikit makanan dari masing-masing kotak anak-anak (sehingga menjadi cukup banyak) untuk dibagikan ke anak-anak yang tidak membagi bekal. Cara yang manis untuk mengajarkan caranya berbagi.

Saya sendiri sebenarnya sulit untuk membandingkan proses belajar di KBA dan di tempat saya mengajar karena saya biasa mengajar dan membimbing anak-anak pra-remaja yang jelas berbeda umur dan karakteristiknya denga anak usia KBA (4-5tahunan). Sebenarnya kalau untuk pendidikannya, saya merasa KBA (Kembangan Lestari) sudah punya dasar yang bagus. Para pengajarnya memiliki spirit, semangat, dan senang untuk belajr hal baru. Saya percaya bila para pengajar di sana mendapatkan kesepatan untuk belajar berbagai ketrapiln (mengajar/mendampinygi) yang baru, skill-skill tentang seni, dan cara belajar baca-hitung yang menarik, pasti proses belajar di KBA akan oke banget. Para pengajar hanya perlu sedikit lagi pengasahan soal metode dan mungkin psikologi. YAng jeas menurutku basicnya udah oke kok.

Setelah mengikuti proses belajar di KBA Kembangan Lestari, saya pergi ke Kampung lain (lupa namanya), Kampung Elektro, dan Kampung Kebun Tebu. Ikuti petualangan saya selanjutnya....

UN SD bikin repot (Hehehehehe)

Saya dan beberapa teman sedang sedang mengerjakan sebuah 'proyek kecil-kecilan', pengumpulan beasiswa untuk anak-anak yang 'pernah belajar bersama di sebuah komunitas'. Untuk itu kami membutuhkan beberapa info tentang 'calon sekolah' yang akan menjadi 'calon sekolah' anak-anak yang kami bantu. Maka kamipun membagi tugas untuk mendatangi 'calon sekolah' satu per satu untuk mencari tahu informasi mengenai biayapendaftaran, prasyarat, dan lainnya.

Hari ini saya mengunjungi SMP 35. Salah seorang anak yang pernah belajar bersama saya tertarik untuk masuk sekolah itu. Di sangat cerdas, terbuka pemikirannya, dan tekun. Kebetulan SMP 35 terletak dekat dengan rumahnya.

Di SMP 35 saya pergi ke sebuah laboratorium yang disulap menjadi ruang panitia penerimaan siswa baru. Saya menanyakan prosedur untuk mendaftarkan siswa ke sana. Tapi.. kasusnya agak khusus karena siswa ini lulusan SD setahun lalu. Karena kekurangan biaya, ia belum bisa masuk sekolah formal dan menunda hingga tahun ini.

Anehnya...
Bisa dikatakan dari awal saya hampir ditolak. Ada dua alasan, salah satubta adalah karena siswa ini adalah lulusan tahun lalu. Padahal saya katakan bahwa nilai anak ini jauh di atas rata-rata. Alasan kedua karena anak ini SD-nya berasal dari Kabupaten Bandung, bukan Kotamadya. Sehingga, terlihat bahwa sang guru yang saya ajak bicara agakl meng-underestimate anak yang berasal dari Kabupaten, tampaknya dia mengangap standar ilai di kabupaten lebih rendah,(Ini sebenarnya pendapat saya saja, karena wajah sang guru di 35 tampak begitu).


Anyway... Saya berkali-kali disarankan untuk mendaftarkan anak ini ke sebuah sekolah swasta di Dago Atas. Dia sama sekali tidak menyarankan saya untuk mendaftarkan anak ini di SMP 35. Saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk berusaha.

Akhirnya sang bapak guru menerangkan bahwa Belum ada juklak (prosedur) untuk anak lulusan tahun lalu. "Tahun ini untuk masuk SMP Negeri menggunakan hasil UN SD, sedangkan tahun lalu berdasarkan UAS jadi sebaiknya anaknya didaftarkan saja di sekolah swasta yang pasti mau menerimanya"

Seharusnya setiap anak lulusan kapanpun dan dari manapun diberi kesempatan untuk mencoba mendaftar di sekolah yang diinginkan dan tidak dieliminir dari sistem sejak awal.

Kalau dipikir-pikir, pemerintah lucu jua, membuat kebijakan UN SD tapi tanpa persiapan akan akibat yang akan terjadi misalnya tidak memberikan jalur bagi anak-anak lulusan tahun lalu. Ini baru salah satu kasus.


Bapak guru berusaha berkali-kali menyarankan saya untuk tidak mendaftarkan anak ini di SMP 35. Katanya prosedurnya akan sulit, dan belum ada juklak yang diberikan pada panitia tetang hal-hal seperti ini.

Saya katakan bahwa saya tidak keberatan bila prosedurnya cukup rumit, membutuhkan surat-surat, atau mesti ke diknas.

Akhirnya bapak guru tersebut meminta saya ke diknas kota Bandung untuk menanyakan bagaimana prosedurnya untuk kasus seperti ini. "Biar jadi masukkan untuk di sini juga," katanya.

Well, mungkin inggu-minggu ini saya dan teman-teman harus konsultasi ke diknas. Untuk urusan yang cukup sesederhana ini. Mendaftarkan anak ke SMP Negeri.

Jun 17, 2008

Live In (1)

Beberapa waktu yang lalu, berkat support dari KAIL saya sempat live in, alias tinggal beberapa hari (saja) di daerah Jakarta Utara. Tujuan live in yang saya ikuti, pada dasarnya adalah mengamati KBA (Kelompok Belajar Anak) yang ada di daerah sana. Kebetulan daerah Jakarta Utara yangf saya datangi, merupakan 'katanya' daerah perkampungan Kumuh di Jakarta. Dan penduduk sana sering di cap sebagai 'Kaum Miskin Kota'.

Dekat tempat saya tinggal, merupakan daerah yang sangat sering banjir karena pasang laut. Kebetulan sehari sebelum saya tiba, sempat banjir, karena ada tanggul bocor. Ada juga kampung yang rumahnya berdiri di atas tumpukan sampah.

Selama 3 hari dua malam tersebut saya tinggal di Kampung Kembangan Lesatari. Setiba di kampung Kembangan Lestari saya dijemput oleh Ibu Sinta, seorang pengajar di KBA yang terdapat di Kembangan Lestari. Di tempat Ibu Sintalah saya menginap.

Rumah Ibu Sinta terletak persis di sebelah sebuah lapangan bola. Saya rasa secara keseluruhan daerah tempat saya menginap paling baik kondisinya daripada daerah lain yang saya amati. Setidaknya di tempat ini masih ada ruang publik tempat anak-anak bisa bermain.

Ibu Sinta merupakan orang yang sangat menyenangkan. Ia sangat ramah, terbuka, dan punya keinginan kuat untuk belajar. Sebelum tinggal di Kembangan Lestari, ia sempat tinggal dai Kampung Tembok Boong ) dan menjadi pengajar KBA di sana.

Ada beberapa hal yang mengagumkan ketika saya tiba di Kampung Kembangan Lestari. Salah satunya adalah adanya tabungan masyarakat. Ada seorang ibu yang memegang buku catatan besar berisi data tabungan masyarakat. Ia setiap harinya datang ke masing-masing rumah untuk menanyakan apakan ada yang menabung. Tiap penabung memiliki satu buku tabungan yang bentuknya mrip dengan buku tabungan di bank biasa tapi ditulis secara manual. Seseorang bisa memilih untuk menabung untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Berbeda dengan di bank, di sini seseorang bisa menabung Rp 1000,- sekali tabung. (Kalau di bank biasa kan gak bisa). Saat di Kembangan Lestari saya mengikiti san ibu berkeliling menagih tabungan masyarakat.

Saya juga mampir ke rumah seorang Ibu yang lain, di sana saya menonton rekaman film (DVD) salah satu kegiatan gabungan berbagai KBA yang berlangsung di museum Fatahilah. Di film itu saya melihat para pendamping (pengajar) menemani anak-anak bernyanyi dan membimbing anak-anak untuk menggambar. Mereka membawa beberapa jeruk, lalu meminta anak-anak mengamati jeruk tersebut dan meminta mereka menggambarnya. Setelah itu, jeruk dipotong menjadi dua dan anak-anak diminta mengamati potongan jeruk tersebut dan menggambarnya. Katanya metode ini didapatkan dari sebuah pelatiham, dan kemudian diterapkan pada anak-anak KBA. Metode yang berbeda dari yang ada di beberap sekolah di Indonesia, yang sering memaksa anak menggambar sesuatu tanpa pengamatan.

Setelah menonton fil saya pergi ke tempat KBA. Saat itu sedang tidak ada kegiatan belajar mengajar karena hari telah sore. Biasanya kegiatan di KBA berlangsung pagi. Saya terpaku membaca kertas yang di tempel di depan KBA. Mengenai Kewajiban para pengajar dan juga siswa. Salah satu yang menarik adalah bahwa sekolah tersebut tidak mementingkan formalitas, baik seragam maupun ijazah. Para guru harus menghargai hak anak. Dan banyak lagi KBA pada dasarnay setingkat TK.

Di sana- siswa-siswi belajar Menyanyi, huruf, menggambar, olah raga bahkan menggosok gigi. Saya juga melihat contoh karya siswa di sana. Tidak terkontaminasi dengan 'standar umum', gambar yang ditempel benar-benar merupakan gambar anakl-anak (sesuai sudut pandang anak-anak). (Agak lupa gambarnya... yang jelas bukan gambar anak-anak yang 'dipaksakan sesuai gambar orang dewasa')

Saya tidak sabar untuk mengamati kegiatan belajr-mengajar keesokan harinya.