Nov 20, 2008

Lama tak berpuisi.. Hahahaha...

Orang lain mungkin tak mengerti pilihan kita
Mengapa jalan ini yang kita pilih bukan yang lain
Bagaimanapun orang lain bukan diri kita
Tak mungkin memaksa mereka mengerti diri kita sepenuhnya

Di mata orang lain
Pilihan kita mungkin suatu kesalahan
Melangar norma, melangar aturan, dan sangat berbeda

Orang lain akan mengatakan betapa mengerikannya jalan yang kita pilih
Hal-hal yang sebenarnya mungkin telah kita ketahui
Hal-hal yang mungkin telah kita sadari

Tapi bila kita yakin..
Langkahkan saja kaki sambil mengucap Bismillahir Rahmanir Rahim



- Untuk diri sendiri dan sahabat-sahabat -

Oct 12, 2008

Pendidikan Seni

Iseng-iseng membuka kembali posting http://pendidikan-alternatif.blogspot.com/search?updated-max=2008-09-19T15%3A00%3A00%2B07%3A00&max-results=1 yang dibuat oleh seorang teman dipendidikan alternatif.

Jadi pengen ngomongin betapa pentingnya pendidikan seni di sini. Saya dulu pernah mendampingi seorang anak yang bandelnya ampuun dhe... Kalau ngamuk bisa ngelempar gunting. Kalau marah ngedorong temennya. Kalau iseng nyemplungin diri ke got (sampai hitam semua). Weleh..weleh.. Tapi anak ini cerdas luar biasa.

Untungnya anak ini terakses dengan komunitas Taboo. Sama saya, dia saya dampingi belajar matematika, tetapi dengan Om Rahmat Jabaril, anak ini didampingi untuk belajar seni dan teater. Dan yang dua terakhir ini yang paling penting dalam pembentukan karakternya. Dia jadi bisa mengeluarkan emosinya melalui seni. Gambar-gambarnya diwarnai dengan berani dan kereng (mentereng). Dia pun bangga sekali bisa bermain teater . Bandel? Masih lah yah.. Tapi emosinya lebih terkontrol. Konsentrasinya pun bertambah (karena di teater iya dilatih harus berkonsentrasi). Dan kreativitasnya pun tak tertkungkung. Apa persis karena pendidikan seni yang dia dapatkan? Mungkin iya mungkin tidak. Saya pribadi, percaya bahwa jawabannya 'iya'.

Oct 6, 2008

Kenapa saya suka sekali mengoreksi buku teks?

Pendidikan tentunya menyangkut banyak aspek. menurur saya pendidikan bisa berlangsung di 3 tempat utama.
- Di sekolah (yang biasa di kenal dengan pendidikan formal)
- Di rumah
- Dan di lingkungan (masyarakat)

Semuanya ini menurut saya saling mendukung. Sekolah tentunya memiliki keterbatasan. tidak semua anak beruntung bisa masuk ke sekolah yang bagus kualitasnya. Di rumah pun begitu. Banyak anak-anak yang tak punya keluarga, atau tidak punya keluarga ideal. Sama halnya dengan lingkungan.

Oleh karena sebab itu, segala kegiatan yang mendukung proses belajar di sekolah, rumah, maupun lingkungan bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan menurut saya, tidak ada salahnya meningkatkan kualitas ketiganya sesuai dengan kemampuan kita dan kecocokan kita masing-masing.

Kebetulan saya memang cukup tertarik dengan pendidikan formal. Saya memang lama terlibat dengan pendidikan melalui mengajar Fisika, Matematika dan terkadang Bahasa Inggris, dan saya juga punya akses terhadap beberapa buku teks yang digunakan oleh anak-anak yang saya bimbing, saya pikir tak ada salahnya mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya.

Ketika belajar seorang anak bisa belajar:
- Dari gurunya secara langsung
- Dari buku yang dibacanya
- Dan lain-lain

Beruntunglah anak-anak yang punya akses ke "sumber informasi" selain buku teks sekolah karena mereka bisa membandingkan apa yang dipelajari di sekolah dengan informasi lain yang mereka dapatkan. Banyak anak tidak mendapatkan kemewahan ini.

Sehingga menurut saya, yang paling mendasar harus dikerjakan (alias urgent) dalam peningkatan pendidikan formal di Indonesia adalah peningkatan kualitas guru dan juga peningkatak kualitas buku teks (yang tentunya harus dapat dijangkau oleh siswa-siswi di seluruh Indonesia secara mudah).

Kalau punya guru yang bagus, tentu pembelajaran apapun akan menjadi lebih mudah. Buku teks jelek gak masalah.

Tapi harus diakui di banyak sekolah di Indonesia, guru memiliki keterbatasan. Terutama di SD-SD negeri di mana satu guru mengajar seluruh pelajaran. Terkadang dasar yang ia miliki tidak kuat dalam satu bidang tapi dia harus mengajar semua mata pelajaran. Saya sendiri akan kebingungan kalau harus mengajar pelajaran semacam sejarah atau membaca. Puyenklah daku. Hehehehe. Saya pernah menemui guru kelas 5 yang kebingungan dengan konsep volume dalam matematika sehingga ia mengajarkan hal yang salah ke murid-muridnya. Guru memang manusia dan punya keterbatasan.

Makannya buku teks sebenarnya bisa menjadi alat untuk melengkapi kekurangan tersebut. Sewaktu saya bekerja di Kumon, saya senang mengamati modul-modulnya yang memungkinkan self-study. Sehingga sang asisten hanya perlu membimbing sedikit anak-anaknya.

Ada beberapa kemungkinan :
- Guru bagus, buku teks bagus --> Oke banget nih
- Guru bagus, buku teks ngawur --> Masih gak papa
- Guru kurang bagus, buku teks bagus --> Sebenernya kurang oke tapi lumayanlah
- Guru kurang bagus, buku teks ngawur --> Ciloko alias celakalah..

Tentu saja kita gak menginginkan anak-anak hanya berhubungan dengan buku teks tanpa berhubungan dengan gurunya. Pada dasarnya proses pembelajaran paling penting memang hubungan dengan murid dan guru sebagai manusia. Buku teks hanyalah alat untuk memudahkan proses pembelajaran. Bagaimanapun juga memperhatikan buku teks, mengkoreksinya, untuk dijadikan evaluasi ulang untuk peningkatan kualitasnya tentu bisa memberikan pengaruh positif. Mudah-mudahan. :)

BSE (Buku Sekolah Elektronik)1

Ini saya yang ngawur atau apa yah? November seharusnya bukan ditulis Nopember kan?

Saya baru mendownload BSE (Matematik) untuk siswa SD kelas 1. Di halaman 55, ada pembahasan mengenai bulan (dan angkanya)

Seperti ini:
1 Januari
2 Pebruari --> Harusnya Februari kan?
3 Maret
4 April
5 Mei
6 Juni
7 Juli
8 Agustus
9 September
10 Oktober
11 Nopember --> Harusnya November kan?
12 Desember

Saya tahu dalam beberapa bahasa F bisa berubah menjadi P dan P bisa berubah menjadi F, tetapi bukankah dalam buku pelajaran sekolah yang disebarluaskan ke seluruh Indonesia seharusnya menggunakan bahasa yang baku?

Sangat sederhana memang. Masalahnya saat hal sepertti ini diajarkan pada anak SD kelas 1 yang masih belajar sesuatu yang sangat mendasar (dan dia percaya), kesalahan berulang ketika dia nanti di kelas yang lebih tinggi.

Jul 11, 2008

Pasar Ciroyom

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya, Pak Gamesh mengajak saya untuk mengunjungi Pasar Ciroyom, untuk melihat kondisi belajar-mengajar di sana.

Seorang teman saya, bernama Bunda seorang yang saya kenal sejak Ramadhan 2004, mengajar anak-anak yang tinggal di Pasar Ciroyom. Bunda, adalah seorang perempuan manis yang saya temui di wyata guna beberapa waktu yang lalu. Dia dulu sering mengajar anak-anak jalanan di dekat IP (Istana Plaza). Perempuan manis keibuan yang berani itu juga dulu sering membawa tali rafia untuk mengikat celana anak-anak jalanan (non-sanggar) agar tidak mudah dipeloroti. Kabarnya, beberapa anak-anak jalanan ini sering 'dipakai' untuk iseng oleh beberapa orang dewasa.

Jadi, hari ini sebenarnya saya tidak sabar untuk bertemu Bunda kembali setelah berjumpa beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, semalam ada seorang anak Psikologi Unpad yang menghubungiku karena berniat membantu kegiatan kerelawanan. Ternyata hari ini ada dua relawan baru dari Psikologi. Saya sangat senang mereka bisa membantu, kebetulan rumah mereka tak begitu jauh dari Pasar Ciroyom.

Kembali pada pasar Ciroyom.  Pak Gamesh mengantarkan saya, Le, Imoet, Ditta, dan Yuli ke Pasar Ciroyom pk 15.00. Suasanya saat itu terlishat cukup sepi karena masih sore (Pasar Ciroyom semakin ramai di malam hari). Gedung pasarnya sendiri cukup gelap. Dan saat saya datang banyak asap di mana-mana. Kami pun ke lantai paling atas. Di sana terdapat sebuah lahan luas dengan pemandangan kota Bandung yang terlihat sangat indah. Benar-benar indah. Kami pun menunggu Bunda dan anak-anak datang. Di lantai paling atas terdapat sebuah mesjid. Biasanya anak-anak itu belajar di sekitar mesjid tersebut. Anak-anak belajar berhitung dan membaca.

Pak Gamesh telah bercerita bahwa anak-anak di sana belajar tadinya sambil ngelem. Tapi kini ataurannya tidak boleh ngelem sambil belajar. Walau sering mendengar kisah tentang anak-anak yang ngelem, saya belum pernah melihat dengan mata saya sendiri anak-anak ngelem. Tadi saat bunda dan anak-anak mulai berdatangan saya melihat bahwa semua anak-anak membawa botol lem, lalu menghisap lem yang ditaruh di belakang baju.

Tapi ternyata anak-anak cukup terbuka dengan kedatangan kita, mereka cukup semangat dan mengajak belajar (walaupun hanya sebentar belajarnya). Mereka belajar berhitung dan iqro. Saya mengajari seorang anak perempuan berhitung. Dan ternyata dia cukup pandai menghitung tambah-tambahan ribuan dan mengerti beberapa perkalian. Tapi, ketika saya mengajaknya mengisi tabel perkalian, tapi tampaknya dia melihat tabel itu kurang simetris, misalnya kolom 2 x 4 di lihatnya sebagai kolom 2 x 7, mungkin karena pengaruh ngelem.

Setelah belajar, kegiatannya adalah mandi. Dari anak-anak tersebut saya dengar kadang mereka mandi hanya setahun sekali misalnya saat lebaran. Tadi telah dibawakan handuk, dan sabun, dan mereka pun mandi di mesjid. Masing-masing anak harus membayar Rp 1000,- / anak ke mesjid untuk menumpang mandi.

Saat anak-anak mandi, aku pun berbincang-bincang dengan Bunda. Aku tanyakan kenapa anak perempuannya sedikit. Ternyata banyak anak perempuan yang tidak berani untuk ikut ngumpul dan belajar, karena perempuan-perempuan di daerah situ sering dijadikan korban 'Para mami'. Ada satu anak perempuan yang ikut belajar. Anak perempuan ini cukup istimewa tersebut diasuh oleh sang 'kakak' yang ikut menjaga dan merawat anak-anak yang tinggal di Ciroyom tersebut, sehingga tidak ada yang berani dengan mengganggu anak perempuan tersebut (untuk dijadkan korban 'mami').

Saya mungkin tidak bisa membantu Bunda dengan rutin, tapi dalam hati saya berjanji untuk mencari relawan-relawan yang bisa membantu Bunda. Ada yang berminat?

Live In (4)

KBA berikut yang saya kunjungi berada di dalam sebuah gang sempit yang agakk gelap, sehingga cahaya yang masuk pun sedikit. Ada sekitar 20 anak berdesak-desakan di dalam kelas itu, sedang menggambar. Saya hanya sebentar di KBA ini lalu daya pun berangkat ke KBA berikut, di kampung elektrro.

Lucunya, ketika hendak berjalan ke KBA di kampung elektro, banyak anak sedang belari-lari keluar lorong-lorong sambil berteriak-teriak.

Ketika saya sampai di KBA 'elektro', kelas sudah kosong, dan banyak asap putih di mana-mana. Dengar dari sang guru KBA, ternyata ada sebuah 'partai politik' yang mengadakan penyemprotan nyamuk tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Walaupun penyemprotannya belum sampai masuk ke dalam KBA, tapi karena jarak anatar rumah sangat dekat dan banyak celah,asap dari tetangga pun masuk ke dalam ruang kelas. Ruang kelas seketika menjadi gelap tertutupi oleh asap. "Yah namanya anak-anak, yah langsung ketaku7tan ruang kelas tuba-tiba jadi gelap, yah pada terikak-terik, nangis, lari-lari, ya sudah KBA nya bubar deh," cerita sang guru,"Bukannya ngak senang ada penyemprotan, bagus itu ada penyemprotan demam berdarah, tapi seharusnya dikasih thu dulu." cerita sang guru KBA

Jun 23, 2008

TKW

Beberapa waktu yg lalu saya sempat nimbrung sewaktu teman saya menerangkan mengenai apa yg dimaksud dengan devisa pada seorang murid saya.

"Devisa itu bisa dihasilkan dari barang, misalnya kalau kita mengekspor barang, kita mendatangkan keuntungan untuk negara, keuntungan itu berupa devisa."

"Devisa juga bisa dihasilkan dari jasa. Misalnya para TKW bekerja di luar negeri dan kemudian mengirimkan uang buat keluarganya di Indonesia. Mereka juga menghasilkan devisa."

Kurang lebih begitulah penjelasan sederhana temanku tentang devisa.

"Kalau ada TKW yang ngak balik2x dan nga ada kabarnya dicarinya ke mana?"

"Mungkin ke departemen tenaga kerja," kata temanku, "Memangnya kenapa?"

"Engga, ibu saya udah lama jadi TKW, engga tau dimana, udah 2 tahun nga ada kabarnya."

Kami semua yg berada di sana pun terdiam. Tidak bisa berkata2x.

Tapi..
Hari ini kebetulan saya seangkot dgn muridku. Dan dia tersenyum,"Ibu," panggilnya padaku,"Ibu saya kemarin sudah pulang! Cuma 2 hari. Kata ibu saya dia pernah mengirim surat tapi tidak sampai. Kerjanya ternyata di Malaysia. Dia minta maaf karena tidak membawa apa2x. Cuma 2 hari kemudian sudah berangkat bekerja lagi. Tapi saya sudah senang setidaknya sudah tahu kabarnya."

Jun 22, 2008

Live in (3)

Setelah mengikuti kegiatan belajar di KBA Kembangan lestari, Mbak Sinta bergegas mengantarkan saya ke 3 kampung lain u/ melihat kondisi KBA di kampung2x yg lain.

Untuk mencapai kampung I yg saya kunjungi (lupa namanya), saya menyusuri sbuah lorong yg panjang, yg padat dgn rumah2x di sebelah kiri kanan dan sesungguhnya penuh kehidupan. Saya tidak tahu berapa jumlah anak berlari2xan dspanjang jalan, jajan. Bny skali orang melakukan berbagai kegiatan di lorong itu, mulai dr berjualan aneka jajanan, mencuci baju, menjemur makanan, dsb. Lorong di sana mengingatkan saya akan sebuah artikel yg saya baca di National Geographic tentang sebuah lorong di Dhafur. Mungkin saya sedikit aneh, tapi saya melihat, dibalik semua kesulitan yg ada di lorong yg saya lalui, saya merasakan keindahan, krn lorong itu tampak begitu hidup.

Kalau saja pemerintah cukup pandai. Sebenarnya tempat yg penuh kehidupan dan manusia seperti itu bisa dibangun komunitasnya. Tidak perlu melakukan penggusuran, cukup penyediaan ruang publik u/ tempat bermain anak2x, berkumpul, penyediaan air bersih, dan juga sarana kesehatan, akses thd informasi dan pendidikan. Maksud saya, di sana kan sudah ada sejumlah penduduk, ada sekian bny anak dan remaja, dan sebenarnya beberapa penduduknya walau secara sederhana, melalui sektor informal mampu menghidupi diri sendiri (misalnya dgn berjualan jajanan). Jd yg tinggal dibangun adalah sedikit infrastruktur yg memungkinkan pembangunan komunitas. Apabila hal ini dilakukan, saya percaya suatu hari masyarakat yg tinggal di lorong2x ini bisa menciptakan komunitas yg solid dan mandiri, serta bisa berkreasi u/ bersama2x meningkatkan kualitas hidup bersama.

Well, saya tahu membangun suatu komunitas bukanlah hal yg mudah.. We gotta start from scratch, tapi, siapa tahu?

Jun 19, 2008

Live In (2)

Pagi-paginya saya sudah bersiap untuk melihat kegiatan KBA di Kembangan Lestari. Awalnya jadwal seharusnya adalah olah raga di lapangan dan makan bersama. Tapi karena banyak yang terlambat, kegiatan olah raga ini dibatalkan.

Tapi tetep seru kok. Anak-anak menyanyi-nyanyi sambil menari-nari bersama.

Salah satu lagu yang kuingat adalah
Nada : (Sol-Mi-Mi-Fa-Re-Re-Do-Re-i-Fa-Sol-Sol-Sol, Sol-Mi-Mi-Fa-Re-Re-Do-Mi-Sol-Sol-Do_

Kucing Cat
Anjing Dog
Kupu-kupu butterfly
Burung bird
Ikan Fish
Gajah Elephant
Ayam Chicken Tok Petok
Bebek Duck Kwe-kwek-kwek
Lapa..
Lupa..
Jerafah Girafe

Lagu itu dinyanyikan dengan berbagai gaya dan gerakan loh. Pokoknya namanya juga anak TK, pada suak meyanyi.

Setelah itu, ada kegiatan makan bersama. Anak-anak membawa bekal dan memakannya bersama di KBA. Bagi yag tidak membawa bekal, tetap kebagin mkanan. Para guru mengumpulkan sedikit makanan dari masing-masing kotak anak-anak (sehingga menjadi cukup banyak) untuk dibagikan ke anak-anak yang tidak membagi bekal. Cara yang manis untuk mengajarkan caranya berbagi.

Saya sendiri sebenarnya sulit untuk membandingkan proses belajar di KBA dan di tempat saya mengajar karena saya biasa mengajar dan membimbing anak-anak pra-remaja yang jelas berbeda umur dan karakteristiknya denga anak usia KBA (4-5tahunan). Sebenarnya kalau untuk pendidikannya, saya merasa KBA (Kembangan Lestari) sudah punya dasar yang bagus. Para pengajarnya memiliki spirit, semangat, dan senang untuk belajr hal baru. Saya percaya bila para pengajar di sana mendapatkan kesepatan untuk belajar berbagai ketrapiln (mengajar/mendampinygi) yang baru, skill-skill tentang seni, dan cara belajar baca-hitung yang menarik, pasti proses belajar di KBA akan oke banget. Para pengajar hanya perlu sedikit lagi pengasahan soal metode dan mungkin psikologi. YAng jeas menurutku basicnya udah oke kok.

Setelah mengikuti proses belajar di KBA Kembangan Lestari, saya pergi ke Kampung lain (lupa namanya), Kampung Elektro, dan Kampung Kebun Tebu. Ikuti petualangan saya selanjutnya....

UN SD bikin repot (Hehehehehe)

Saya dan beberapa teman sedang sedang mengerjakan sebuah 'proyek kecil-kecilan', pengumpulan beasiswa untuk anak-anak yang 'pernah belajar bersama di sebuah komunitas'. Untuk itu kami membutuhkan beberapa info tentang 'calon sekolah' yang akan menjadi 'calon sekolah' anak-anak yang kami bantu. Maka kamipun membagi tugas untuk mendatangi 'calon sekolah' satu per satu untuk mencari tahu informasi mengenai biayapendaftaran, prasyarat, dan lainnya.

Hari ini saya mengunjungi SMP 35. Salah seorang anak yang pernah belajar bersama saya tertarik untuk masuk sekolah itu. Di sangat cerdas, terbuka pemikirannya, dan tekun. Kebetulan SMP 35 terletak dekat dengan rumahnya.

Di SMP 35 saya pergi ke sebuah laboratorium yang disulap menjadi ruang panitia penerimaan siswa baru. Saya menanyakan prosedur untuk mendaftarkan siswa ke sana. Tapi.. kasusnya agak khusus karena siswa ini lulusan SD setahun lalu. Karena kekurangan biaya, ia belum bisa masuk sekolah formal dan menunda hingga tahun ini.

Anehnya...
Bisa dikatakan dari awal saya hampir ditolak. Ada dua alasan, salah satubta adalah karena siswa ini adalah lulusan tahun lalu. Padahal saya katakan bahwa nilai anak ini jauh di atas rata-rata. Alasan kedua karena anak ini SD-nya berasal dari Kabupaten Bandung, bukan Kotamadya. Sehingga, terlihat bahwa sang guru yang saya ajak bicara agakl meng-underestimate anak yang berasal dari Kabupaten, tampaknya dia mengangap standar ilai di kabupaten lebih rendah,(Ini sebenarnya pendapat saya saja, karena wajah sang guru di 35 tampak begitu).


Anyway... Saya berkali-kali disarankan untuk mendaftarkan anak ini ke sebuah sekolah swasta di Dago Atas. Dia sama sekali tidak menyarankan saya untuk mendaftarkan anak ini di SMP 35. Saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk berusaha.

Akhirnya sang bapak guru menerangkan bahwa Belum ada juklak (prosedur) untuk anak lulusan tahun lalu. "Tahun ini untuk masuk SMP Negeri menggunakan hasil UN SD, sedangkan tahun lalu berdasarkan UAS jadi sebaiknya anaknya didaftarkan saja di sekolah swasta yang pasti mau menerimanya"

Seharusnya setiap anak lulusan kapanpun dan dari manapun diberi kesempatan untuk mencoba mendaftar di sekolah yang diinginkan dan tidak dieliminir dari sistem sejak awal.

Kalau dipikir-pikir, pemerintah lucu jua, membuat kebijakan UN SD tapi tanpa persiapan akan akibat yang akan terjadi misalnya tidak memberikan jalur bagi anak-anak lulusan tahun lalu. Ini baru salah satu kasus.


Bapak guru berusaha berkali-kali menyarankan saya untuk tidak mendaftarkan anak ini di SMP 35. Katanya prosedurnya akan sulit, dan belum ada juklak yang diberikan pada panitia tetang hal-hal seperti ini.

Saya katakan bahwa saya tidak keberatan bila prosedurnya cukup rumit, membutuhkan surat-surat, atau mesti ke diknas.

Akhirnya bapak guru tersebut meminta saya ke diknas kota Bandung untuk menanyakan bagaimana prosedurnya untuk kasus seperti ini. "Biar jadi masukkan untuk di sini juga," katanya.

Well, mungkin inggu-minggu ini saya dan teman-teman harus konsultasi ke diknas. Untuk urusan yang cukup sesederhana ini. Mendaftarkan anak ke SMP Negeri.

Jun 17, 2008

Live In (1)

Beberapa waktu yang lalu, berkat support dari KAIL saya sempat live in, alias tinggal beberapa hari (saja) di daerah Jakarta Utara. Tujuan live in yang saya ikuti, pada dasarnya adalah mengamati KBA (Kelompok Belajar Anak) yang ada di daerah sana. Kebetulan daerah Jakarta Utara yangf saya datangi, merupakan 'katanya' daerah perkampungan Kumuh di Jakarta. Dan penduduk sana sering di cap sebagai 'Kaum Miskin Kota'.

Dekat tempat saya tinggal, merupakan daerah yang sangat sering banjir karena pasang laut. Kebetulan sehari sebelum saya tiba, sempat banjir, karena ada tanggul bocor. Ada juga kampung yang rumahnya berdiri di atas tumpukan sampah.

Selama 3 hari dua malam tersebut saya tinggal di Kampung Kembangan Lesatari. Setiba di kampung Kembangan Lestari saya dijemput oleh Ibu Sinta, seorang pengajar di KBA yang terdapat di Kembangan Lestari. Di tempat Ibu Sintalah saya menginap.

Rumah Ibu Sinta terletak persis di sebelah sebuah lapangan bola. Saya rasa secara keseluruhan daerah tempat saya menginap paling baik kondisinya daripada daerah lain yang saya amati. Setidaknya di tempat ini masih ada ruang publik tempat anak-anak bisa bermain.

Ibu Sinta merupakan orang yang sangat menyenangkan. Ia sangat ramah, terbuka, dan punya keinginan kuat untuk belajar. Sebelum tinggal di Kembangan Lestari, ia sempat tinggal dai Kampung Tembok Boong ) dan menjadi pengajar KBA di sana.

Ada beberapa hal yang mengagumkan ketika saya tiba di Kampung Kembangan Lestari. Salah satunya adalah adanya tabungan masyarakat. Ada seorang ibu yang memegang buku catatan besar berisi data tabungan masyarakat. Ia setiap harinya datang ke masing-masing rumah untuk menanyakan apakan ada yang menabung. Tiap penabung memiliki satu buku tabungan yang bentuknya mrip dengan buku tabungan di bank biasa tapi ditulis secara manual. Seseorang bisa memilih untuk menabung untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Berbeda dengan di bank, di sini seseorang bisa menabung Rp 1000,- sekali tabung. (Kalau di bank biasa kan gak bisa). Saat di Kembangan Lestari saya mengikiti san ibu berkeliling menagih tabungan masyarakat.

Saya juga mampir ke rumah seorang Ibu yang lain, di sana saya menonton rekaman film (DVD) salah satu kegiatan gabungan berbagai KBA yang berlangsung di museum Fatahilah. Di film itu saya melihat para pendamping (pengajar) menemani anak-anak bernyanyi dan membimbing anak-anak untuk menggambar. Mereka membawa beberapa jeruk, lalu meminta anak-anak mengamati jeruk tersebut dan meminta mereka menggambarnya. Setelah itu, jeruk dipotong menjadi dua dan anak-anak diminta mengamati potongan jeruk tersebut dan menggambarnya. Katanya metode ini didapatkan dari sebuah pelatiham, dan kemudian diterapkan pada anak-anak KBA. Metode yang berbeda dari yang ada di beberap sekolah di Indonesia, yang sering memaksa anak menggambar sesuatu tanpa pengamatan.

Setelah menonton fil saya pergi ke tempat KBA. Saat itu sedang tidak ada kegiatan belajar mengajar karena hari telah sore. Biasanya kegiatan di KBA berlangsung pagi. Saya terpaku membaca kertas yang di tempel di depan KBA. Mengenai Kewajiban para pengajar dan juga siswa. Salah satu yang menarik adalah bahwa sekolah tersebut tidak mementingkan formalitas, baik seragam maupun ijazah. Para guru harus menghargai hak anak. Dan banyak lagi KBA pada dasarnay setingkat TK.

Di sana- siswa-siswi belajar Menyanyi, huruf, menggambar, olah raga bahkan menggosok gigi. Saya juga melihat contoh karya siswa di sana. Tidak terkontaminasi dengan 'standar umum', gambar yang ditempel benar-benar merupakan gambar anakl-anak (sesuai sudut pandang anak-anak). (Agak lupa gambarnya... yang jelas bukan gambar anak-anak yang 'dipaksakan sesuai gambar orang dewasa')

Saya tidak sabar untuk mengamati kegiatan belajr-mengajar keesokan harinya.

Mar 13, 2008

Belajar Bahasa Inggris yu!! Eh tapi.....

Belum lama ini teman-teman CFBE membahas mengenai pengajaran Bahasa Inggris di SD-SD di Indonesia. Nah ternyata, kemarin saya menemukan suatu keanehan di dalam Buku Bahasa Inggris seorang murid kelas 4 SD. Buku ini berjudul “Joyful Learning English for Elementary School, Book 4”, diterbitkan oleh Penerbit Pelita Ilmu, Bandung


Tampaknya yang membuat buku sama sekali tidak memahami Bahasa Inggris, dan ia membuat buku yang isinya tidak bermutu dan menyesatkan. Dari teks book yang seperti inilah murid-murid Indonesia belajar Bahasa Inggris. Jelas aja ke depannya bakal ngaco…



Di dalam bab terkhir, terdapat suatu wacana, beginilah isi wacananya:


This is my classroom. I study with my friends everyday. There are many things what we need to learn. A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair. That is a box and books on teacher table. The content of box are thirty piece of chalks and books are twenty. I have twenty four friends, thirteen girls and eleven boys. Each student in our class room has a table and chair. There are twenty five student table and twenty five student chair in our classroom.


Oke sekarang coba kita baca wacana di atas secara keseluruhan. Apakah wacana tersebut punya makna? Kalimat yang satu tidak berhubungan dengan kalimat yang lainnya.


Tolong koreksi bisla saya salah, setahu saya, seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, dalam Bahasa Inggris kita mengenal istilah induksi atau deduksi ketika membuat suatu paragraf.


Misalnya, kalau menggunakan deduksi, kalimat

There are many things we need to learn .


Akan diikuti kalimat

We need to learn Mathematics, Literature, and Art.


Bukan oleh

A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair.



Agar lebih bermakna mungkin wacana di atas dapat dituliskan seperti ini:

This is my classroom. In this classroom, I study with my friends’ everyday. Here, we study English, Indonesian, Mathematics, and Art.



Selain itu, kumpulan kata-kata:

A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair.


bukanlah sebuah kalimat karena tidak ada subjek maupun predikatnya. Setahu saya, dalam bahasa Inggris, suatu kalimat setidaknya harus mengandung setidaknya sebuah subjek dan sebuah predikat.


Lebih tepatnya, kalimat tersebut ditulis sebagai

There is the teacher’s desk, a blackboard, and a cupboard in my classroom.


Kalimat :

That is a box and books on teacher table.

Strukturnya salah, seharusnya:
On the teacher’s desk, there is a box and some books


The content of box are thirty piece of chalks and books are twenty.

Seharusnya:

There are thirty pieces of chalks in the box, while there are twenty books on the desk.


I have twenty four friends, thirteen girls and eleven boys.

Seharusnya:

There are thirteen girl and eleven boy students in my class. Overall, there are twenty four students in my class.


Each student in our class room has a table and chair.

Karena pada awal cerita, si penulis menggunakan kata my, maka seharusnya dalam kalimat-kalimat berikutnya juga digunakan kata my bukan our, sehingga kalimat di atas seharusnya:

Each student in my classroom has a table and a chair.


There are twenty five student table and twenty five student chair in our classroom.

Seharusnya:

There are twenty four student tables and twenty four student chairs in my classroom.