Posts

Showing posts from July, 2021

Sudah Mengajar Bertahun-tahun Tapi Kembali Belajar (Matematika) dari Dasar? Kenapa Tidak?

Image
Di postingan “Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya” saya mengatakan bahwa saya kaget (lebih tepatnya shock ) melihat pengajarannya Prilly Latuconsina (lihat: http://mahkotalima.blogspot.com/2021/07/potret-kelas-matematika-yang-tidak-ada.htm l ). Perasaan kaget itu merupakan emosi yang timbul dalam diri saya. Namun, setelah saya mulai merasa tenang, saya pikir seharusnya saya tidak kaget. Praktik pengajaran yang dilakukkan oleh Prilly yang mengajarkan rumus cepat sebagai suatu kebenaran yang harus diterima begitu saja meskipun tak tahu asal usulnya bukan hal baru. Itu praktik yang sudah sering saya temui. Beberapa orang tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan  kesalahan fatal di kelas matematika. Mungkin, saya juga pernah begitu. Seakan-akan mengajar matematika padahal tanpa menumbuhkan penalaran. So, logically, I shouldn’t be so shocked .   Apa yang dilakukan oleh Prilly, juga pernah dilakukan oleh banyak guru Matematika lainnya termasuk oleh beberapa guru-gur

Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya

Saya sangat kaget melihat video pengajaran matematikanya Prilly Latuconsina (duta @ruangguru ). Videonya bisa dilihat di sini:   https://www.instagram.com/tv/CREC9E_JKTZ/?utm_source=ig_web_copy_link .   Video memotret contoh “Kelas Matematika yang tidak ada Matematikanya”. Persis seperti apa yang disuarakan oleh matematikawan Paul Lockhart (2009) dalam buku “ A Mathematician’s Lament ”.   Di video itu Prilly menjelaskan cara menghitung hasil penjumlahan deret bilangan berikut ini: 1 + 2 + 3 + 4 + … + 10 Untuk tahu kenapa video tersebut bermasalah, saya sarankan untuk membaca tulisan teman saya, seorang pendidik matematika Pak Rachmat Hidayat yang juga mengelola akun Instagram @matematigis dan merupakan relawannya @gernastastaka telah menjelaskan secara rinci kenapa pengajaran Prilly tersebut bermasalah di tulisan “Benerin Prilly Ngajar Matematika” di sini:   https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4287983974594909&id=100001500457505 Saya hanya akan menambahka

Pertanyaan-pertanyaan yang Muncul Setelah Mendengarkan Diskusi Tentang "Membaca untuk Kesenangan"

Image
 Belum lama saya mendengarkan sebuah diskusi di youtube. Judulnya " What if We Want All Children to Read For Pleasure? " yang artinya "Bagaimana Kalau Kita Ingin Setiap Anak Kita Membaca Untuk Kesenangan".  Diskusinya bisa dilihat di sini: Diskusi itu difasilitasi oleh Institute of Education (IoE), University of College London (UCL) dan difasilitasi oleh empat narasumber, Joseph Coelho (penulis buku anak dan puisi),  Charlotte Hacking (yang bekerja di  Centre for Literacy in Primary Education), Gemma Moss (Profesor di bidang literasi dari IoE), dan Alice Sullivan (Profesor di Bidang Sosiologi di IoE). Di dalam tulisan ini saya hanya akan membahas satu aspek dari dialog tersebut yang paling menarik hati saya, yakni apa yang disampaikan oleh Charlotte Hacking. Hacking menyatakan bahwa dirinya berasal dari dunia riset sekaligus juga merupakan praktisi, sehingga dia bisa melihat isu "Membaca untuk Kesenangan" dari kedua sudut pandang tersebut (riset dan sisi p

Guru Membaca "Guru Idola" di Sebuah Lokakarya

Image
"Guru Idola" karya L. Wilardjo (Kompas, 17 Juli 2018) Di sebuah lokakarya untuk guru, saya membagikan sebuah artikel dari koran Kompas berjudul  "Guru Idola" karya L. Wilardjo yang diterbitkan pada 17 Juli 2018. Dengan tulisan bergaya Times New Roman berukuran 12, dengan spasi satu setengah, dan ada spasi antara paragraf, artikel tersebut sepanjang 5 halaman. Tidak terlalu panjang sebenarnya. Peserta lokakarya diberikan waktu sekitar 15 menit untuk membaca artikel tersebut.  Artikel tersebut berupa kisah tentang beberapa guru yang diidolakan siswanya. Semua guru memiliki kesamaan. Mereka berhasil memfasilitasi siswanya untuk berkembang jauh sehingga menjadi jauh lebih hebat dari gurunya. Prof. Arnold Sommerfeld misalnya, mengembangkan teori atom hidrogen-nya Niels Bohr. Hal tersebut memang hebat, tetapi muridnya, Wolfang Pauli justru memperoleh Nobel Fisika. Kehebatan Pauli melampaui kehebatan Sommerfield, meskipun pada awalnya Pauli terinspirasi dari gurunya. Seora