Mar 12, 2014

Cerita Diwawancara Siswa kelas 5 SD tentang Isu Pendidikan

Sumber: http://transom.org/2013/katie-davis-kids-guide-recording/ 

Sekali lagi saya dapat kesempatan mengunjungi Bandung International School (BIS). Cerita tentang kunjungan sebelumnya bisa di baca disini. Kali ini saya diwawancarai oleh dua orang siswa kelas 5 mengenai isu-isu pendidikan. Ceritanya, siswa-siswa kelas 5 diminta untuk membuat artikel terkait isu-isu tertentu. Siswa dibagi ke beberapa kelompok, lalu mereka diminta membuat sebuah artikel. Ada yang membuat artikel terkait isu ekonomi, isu lingkungan, isu pendidikan dan lain-lain.

Untuk membuat sebuah artikel, tentu saja para siswa perlu mencari tahu mengenai isu yang ditulisnya. Selain melalui bacaan, mereka juga diminta untuk mewawancarai orang yang dianggap paham mengenai isu itu. Karena saya dianggap banyak bergerak di bidang pendidikan, maka saya diundang untuk diwawancarai  terkait isu pendidikan.

Saya tiba di BIS, lalu Mbak Any, pustakawan dan sekaligus pengajar information literacy di BIS, memperkenalkan saya kepada dua orang siswa yang mau mewawancarai saya. Saat itu 15 menit menjelang makan siang.  Setelah izin dengan guru kelas, kami keluar kelas.

“Bagaimana kalau kita ke kantin dulu,”  kata Mbak Any, “Sekalian pesan makanan, kita bisa melakukan proses wawancara.

Mbak Any, kedua siswa, dan saya berjalan menuju kantin. Di perjalanan, kami sempat mengobrol, “Waktu itu kita coba menelepon Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk melakukan wawancara tapi gak diangkat-angkat, ”

“Karena gak diangkat-angkat, kita bahkan mencoba menelepon Dinas Pendidika Kota Medan. Itu juga tidak diangkat lama sekali,” kata siswa yang lain.

Tampaknya mereka mau mencoba mewawancarai beberapa orang di Dinas Pendidikan, yang mereka tahu nomor telepon dinas pendidikan kota Bandung dan Medan. Mereka menelepon ke sana. Mereka juga menanyakan saya apakah saya kenal orang yang bekerja dengan Dinas Pendidikan (atau  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ) yang bisa diwawancara. Saya katakana bahwa saya kenal beberapa orang tapi tidak tahu apakah saya bisa memberikan nomor telepon mereka. Tentu harus saya tanyakan dulu.

Di kantin kami duduk di sebuah meja. Mbak Any di sebelah saya, dan di seberang ada kedua orang siswa. Mereka lalu membuka buku catatan mereka. Ternyata mereka telah merancang beberapa pertanyaan. Secara bergantian keduanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada saya. Mereka merekamnya dengan perekam suara. Mungkin mereka sudah belajar mengenai etika melakukan wawancara, dengan sopan salah satu diantara mereka bertanya, “Apakah kami boleh merekam hasil wawancara ini?”

“Selain wawancara mengenai pendidikan, kami juga akan menanyakan biodata kak Puti. Apa boleh?  Kami tidak akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu personal,” tambahnya.
Kami pun memulai wawancara.

Seorang siswa memulai pertanyaannya, “Apakah kak Puti tahu program-program pemerintah yang bertujuan untuk menolong siswa-siswa yang kekurangan secara ekonomi agar bisa memperoleh pendidikan?”

Saya katakan ada beberapa program diantaranya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), program beasiswa untuk siswa yang memerlukan, dan juga ada program menggratiskan biaya pendidikan di sekolah negeri. Dulu pernah ada program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), di mana seseorang diajak oleh pemerinta untuk membantu pendidikan siswa yang membutuhkan, setidaknya secara finansial. Saya katakana bahwa saya tidak tahu apakah program GNOTA masih berjalan atau tidak.

Meskipun begitu, pada faktanya masih ada siswa yang tidak memperoleh pendidikan. Misalnya masih banyak siswa yang membutuhkan beasiswa tapi tidak memperolehnya dan masih ada juga siswa yang tidak memperoleh pendidikan.

“Kenapa masih tidak semua anak yang membutuhkan memang mendapatkan beasiswa?” tanya seorang siswa.

Pertanyaan tersebut bagi saya sulit dijawab. Kata saya, “Bisa jadi jumlah beasiswanya terbatas. Sehingga hanya anak-anak tertentu saja yang memperolehnya.”

“Memangnya bagaimana caranya siswa dipilih untuk memperoleh beasiswa?” tanya siswa yang lain.

“Bervariasi, ada yang berdasarkan prestasi, ada yang diberikan kepada siswa yang memang ekonominya lemah, meskipun prestasinya biasa-biasa saja,” jawab saya. Menurut saya beasiswa tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah pendidikan untuk siswa yang berasal dari ekonomi lemah dan hanya membantu sebagian siswa saja. Namun tidak sempat saya jelaskan. Mereka juga mulai beralih ke pertanyaan berikutnya.

“Katanya pendidikan di sekolah negeri (seperti di SD) sudah gratis, tapi masih ada siswa yang tidak bisa bersekolah. Kenapa itu terjadi?” tanya salah satu siswa.

“Alasannya bervariasi. Meskipun biaya sekolah gratis, masih ada biaya-biaya lainnya, misalnya seragam, buku, dan juga biaya transportasi. Untuk banyak keluarga di Indonesia, biaya-biaya ini cukup memberatkan. Kadang, masalahnya juga bukan sekadar masalah finansial. Misalnya di daerah tertentu di Indonesia ada tempat di mana jarak ke sekolah sangat jauh, misalnya butuh 5 jam atau bahkan 8 jam untuk sampai ke sekolah, misalnya dengan berjalan kaki. Artinya kalau siswa berangkat pagi, misalnya jam 5, dia akan tetap terlambat sampai di sekolah,” jawab saya. 

Sebenarnya ada alasan-alasan lain misalnya jam sekolah bertabrakan dengan waktu anak membantu orang tua bekerja, misalnya. Tapi hanya jawaban itu yang saya berikan.

Ada pertanyaan yang cukup kritis yang diaujukan para siswa, “Pemerintah mengatakan bahwa mereka sudah memberikan cukup uang pada sekolah, tapi kadang sekolah mengatakan belum memperoleh cukup uang dari pemerintah untuk memberikan pendidikan? Yang mana yang benar? Siapa yang sesungguhnya berbohong?”

Nahlo! Apa jawabnya? Siapa yang sedang berbohong yah? Saya katakana bahwa saya tidak tahu. Dalam beberapa situasi ada oknum-oknum pemerintah yang mengkorupsi dana pendidikan, tapi di sisi lain kadang ada juga sekolah-sekolah ‘nakal’ yang menggunakan dana dengan tidak semestinya. Kondisi sesunggunya memang cukup kompleks.

“Kira-kira kalau pemerintah membuat peraturan agar dana tidak digunakan untuk sewenang-wenang apakah itu akan membantu? Apakah itu akan membantu agar dana pendidikan digunakan sebagaimana mestinya?” tanya siswa.

“Bisa iya, bisa tidak. Kalau peraturannya tepat mungkin bisa membantu kalau pemerintahnya juga menjalankan peraturan itu dengan sebaik-baiknya. Kalau mereka sendiri melanggar, tidak akan terlalu membantu,” jawab saya.

“Berapa sih, dana yang dihabiskan oleh pemerintah untuk pendidikan?”tanya seorang siswa.

Saya tidak ingat angkanya, maka saya katakana, “Saya tidak tahu angkanya. Tapi seharusnya dana yang dialokasikan adalah 20% dari APBN. Jadi,  20 % dari seluruh dana pemerintah yang digunakan untuk kepentingan negara,” jawab saya.

“Berapa nilai APBN-nya?” tanya siswa.

“Saya lupa angkanya,” jawab saya.

Setelahnya, mereka menanyakan beberapa data saya, seperti nama, tanggal lahir, jumlah adik atau kakak, tempat tinggal, pekerjaan, latar belakang pendidikan. Selain menulis artikel mengenai pendidikan, mereka juga harus menuliskan detil mengenai orang yang diwawancaranya.

Setelah wawancara, saya meminta izin para siswa untuk melihat catatan mereka, terutama pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka siapkan.  Tadinya ingin saya potret, tapi karena baterei telepon genggam mati, saya tidak bisa memotretnya, jadi saya memilih untuk mencatat ulang pertanyaan mereka. 

Namanya juga masih belajar, ada juga beberapa kesalahan  dalam catatn mereka, misalnya kalimat yang tidak lengkap, ataupun urutan pertanyaan yang sedikit acak.  Saat melakukan wawancara pun tidak semua pertanyaan yang direncanakan ditayakan. Ada juga improvisasi yang dilakukan. Mungkin bisa dikatakan bahwa model wawancara yang mereka lakukan adalah semi-structured interview.  Ketika melakukan wawancara pun kadang pertanyaan diajukan dengan terburu-buru, saya belum selesai menjawab sebuah pertanyaan, eh sudah ada pertanyaan berikutnya. Meskipun begitu saya maklum. Siswa-siswa ini masih dalam proses belajar. Kesalahan-kesalahan kecil seperti itu tidak terlalu berarti dan seiiring dengan waktu, pasti akan mereka perbaiki. 

Untuk siswa kelas 5 SD, beberapa pertanyaan mereka sudah cukup kompleks. Untuk menjawab beberapa pertanyaan butuh pemikiran yang cukup mendalam. Saya juga menghargai usaha yang mereka lakukan untuk membuat artikel sebaik mungkin, yang mereka bisa. Mereka membaca informasi-informasi terkait dengan isu yang ingin didalami, mencari informan yang bisa diwawancarai agar bisa memberikan data mengenai artikel, merancang pertanyaan, melakukan wawancara, lalu menuliskan kembali data-data yang diperoleh dalam bentuk artikel. Mereka belajar mewawancara dengan sopan, termasuk meminta izin untuk merekam hasil wawancara. Melalui proses diwawancarai oleh anak-anak ini saya pun belajar, bahwa dasar-dasar riset seperti mencari informasi dan mengumpulkan data melalui bacaan, wawncara, dan sebagainya, melakukan wawancara, mendokumentasikan data, menuliskan hasil temuan, bahkan etika riset bisa diajarkan sejak usia belia. Tentu tidak seribet orang yang membuat skripsi, disertasi, ataupun tesis. 


Saya sempat ngobrol-ngrobrol dengan Mbak Any mengenai bagaimana dia mengajarkan siswanya melakukan riset. Menurut Mbak Any, riset tidak selalu harus dalam bentuk masalah, observasi, hipotesa, eksperimen, dan kesimpulan seperti yang dilakukan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Saya jadi ingat seseorang yang berkata bahwa riset berasal dari kata re- dan search  yang artinya kembali mencari. Hasil dari sebuah riset tidak selalu harus berupa makalah bisa juga dalam bentuk yang lainnya. Untuk anak-anak, hasil riset bisa dituliskan dalam bentuk artikel, dibuat menjadi poster, dan sebagainya. Yang penting secara esensial anak-anak belajar untuk terus mencari data, melihat lebih dalam, dan mempertanyakan kembali apa-apa yang sudah diketahuinya sehingga akhirnya membentuk suatu pemahaman baru. 

Mar 11, 2014

Cuplikan dari “The Happy Child: Changing the Heart of Education” karya Steven Harrison (2002) dari Bab “Testing… Testing…” halaman 37 – 38


*Diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati


Ketika saya sedang menulis buku ini (The Happy Child: Changing The Heart of Education), saya diundang untuk menjadi dosen tamu untuk memberikan kuliah mengenai Teori Pendidkan kepada sejumlah mahasiswa S1 di sebuah Universitas Midwestern. Topiknya adalah learner-directed education (pendidikan yang diarahkan oleh siswa sendiri). Mahasiswa-mahasiswa berasal dari jurusan pendidikan, tanpa  diragukan saya rasa mereka pasti akan tertarik pada kuliah saya. Saya pun tidak sabar untuk mengetahui pandangan para pendidik muda mengenai kuliah yang saya sampaikan. Tepat sebelum kelas dimulai, saya belajar bahwa kebanyakan siswa mengambil mata kuliah ini sekadar sebagai syarat agar bisa memenuhi jumlah sks wajib yang diperlukan di bidang humanities. Kebanyakan tidak punya minat terhadap mata kuliah ini, tapi mengambil mata kuliah ini karena menganggap bisa lulus dengan mudah.

Saya merasa bahwa situasi ini sangat mencengangkan. Saya punya kewajiban untuk menghabiskan beberapa jam untuk berbicara pada siswa yang tidak punya ketertarikan terhadap apa yang ingin saya sampaikan mengenai interest-based learning (pembelajaran yang berbasis minat). Saya pun ragu, apakah saya memang ingin menyampaikan sesuatu pada orang-orang yang  sebenarnya tidak peduli terhadap apa yang ingin saya sampaikan. Apakah saya harus menarik perhatian dengan bersikap menghibur (lucu)? Saya berada di sebuah aula universitas di mana mahasiswanya tidak pernah ditanyakan apa minatnya maka apakah saya cukup sekadar mengajar dan menyampaikan materi saja? Apakah saya harus menghadapi situasi ini dengan memilih walk out (keluar kelas)? Atau saya harus menuntut mahasiswa untuk berpartisipasi?

Seperti  situasi-situasi lainnya, kuliah kali ini merupakan situasi yang kaya yang punya konten pembelajarannya sendiri serta bisa menimbulkan rasa ingin tahu. Kelas ini sendiri, dengan dinamikanya yang kompleks, dengan struktur-strukturnya yang hirarkis, dengan adanya ketidaktertarikan pada belajar, dan adanya rasa ingin tahu yang palsu, penuh dengan siswa-siswa yang merupakan produk dari pengkondisian bertahun-tahun yang mengkondisikan meraka agar bisa sekadar lolos dari proses persekolahan. Justru mereka, para mahasiswa  ini yang menjadi bidang ketertarikan saya.

Terlepas dari peran yang kami mainkan, saya, selaku pemegang otoritas, dan para mahasiswa, dengan karakter yang mereka miliki – yang humoris, yang ambisius mengejar prestasi, pemarah yang malas berpartisipasi , para pemimpi  - bersama mulai memahami the nature of learning (bagaimana proses belajar terjadi secara alami).

Beginilah cara saya memulai hari tersebut: “Kelas ini akan menjadi kelas yang tidak biasa, caranya begini: ujian akan saya berikan di awal. Sekarang, cobalah lihat ke dalam dirimu sendiri, pada saat ini? Apa yang memotivasimu? Apa yang kamu takutkan? Apakah kamu melihat sesuatu yang menarik bagimu? Apakah kamu bisa melihat apa passion­-mu? Ujian ini adalah: Siapakah kamu? Itu akhir dari ujian ini. Kamu tidak perlu mencatat; tidak akan ada ujian lagi. Apakah ini membuatmu tertarik?

Kebanyakan mahasiswa menemukan bahwa mereka,  akhirnya mulai tertarik terhadap diskusi. Pertanyaan-pertanyaan saya mulai menjadi pertanyaan mereka. Kami lalu mulai mengeksplorasi dilemma-dilema  yang kita temui pada hari itu: bagaimana minat secara alami mempengaruhi belajar, betapa tidak efektifnya memaksakan orang lain untuk menjadi tertarik dengan menjadi sok menarik, dilemma dari mengajar orang-orang yang tidak tertarik pada apa yang kita ajarkan, bahwa kenosanan punya nilai lebih karena bisa mendorong kreativitas, dan mengenai anak-anak yang awalnya merupakan manusia yang penuh rasa ingin tahu tapi lalu tumbuh menjadi orang dewasa yang pasif. Bukanlah teori pendidikan yang menjadi ketertarikan para siswa, atau bahkan bukan teori apapun juga. Sama seperti siapapun juga, mereka tertarik pada apa yang sedang berlangsung dalam hidup mereka, termasuk apa yang sedang berlangsung di aula kuliah tersebut. Adanya kontak, hubungan yang terbuka dan apa adanya,  inquiry (proses terus mencari tahu), dan terbangunnya relasi antar manusialah yang memungkinkan kami ‘menemukan’ satu sama lain, menyentuh hati satu sama lain (meskipun hanya sesaat), dan menemukan kembali apa yang penting,  jantung (esensi) dari belajar.

Mar 6, 2014

(Alm) Ali Sadikin dan Pendidikan di DKI Jakarta






Meskipun kini saya tinggal di Jakarta, saya tidak sempat merasakan kepemimpinan (alm) Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI. Pak Ali Sadikin memang menjadi gubernur Jakarta pada tahun 1966 - 1977 dan saat itu saya belum lahir. Saya lebih banyak mendengar cerita tentang Pak Ali Sadikin dari keluarga yang memang sudah hidup pada zaman itu. Konon, katanya Pak Ali Sadikin galaknya ampun-ampun. Pak Ahok, wagub DKI yang terkenal tegas dan ceplas-ceplos, dan kadang dicap galak, masih  kalah galak.

"Ali Sadikin itu dulu bekas tentara. Kalau dia di lagi mobil dan, di depan dia lihat ada  mobil yang melanggar lalu lintas, dia akan turun, menegur, bahkan bisa menendang orang yang melanggar lalu lintas," cerita seseorang kepada saya tentang Ali Sadikin.

Meskipun sangat galak, saya dengar Pak Ali Sadikin sangat visioner, termasuk di bidang pendidikan. Dia mendirikan begitu banyak sekolah negeri di Jakarta, diantaranya SMAN 70 di Bulungan, tempat saya bersekolah dulu.

"Kalau gak ada Ali Sadikin, gak ada itu sekolah-sekolah negeri di Jakarta. Orang-orang yang suka judi, dikumpulkan oleh Ali Sadikin di suatu tempat, lalu hasilnya digunakan untuk bikin berbagai fasilitas pendidikan di Jakarta," begitu cerita seorang anggota keluarga saya.

 Memang, Pak Ali Sadikin punya sisi yang kontroversial. Salah sumber dana yang digunakan untuk membangun Jakarta adalah melalui Nasional Lotrei dan Kasino. Sebagian orang menentang hal ini karena dianggap sebagai bentuk judi. Saya tidak dalam posisi mau menilai apakah 'sumber dana' seperti ini tepat atau tidak. Proyek-proyek yang berlangsung di Indonesia sekarang sumber dananya juga tidak selalu sepenuhnya bersih atau juga berdasarkan pinjaman luar negeri, yang dalam jangka panjang juga bisa menyengsarakan rakyat Indonesia. Yang pasti, oleh Pak Ali Sadikin dana ini digunakan untuk membangun banyak hal-hal bermanfaat di Indonesia, termasuk di bidang pendidikan.

Ali Sadikin membuat banyak tuang publik, termasuk Taman Ismail Marzuki (TIM), Kebun Binatang Ragunan, Gelanggang Olahraga (GOR), dan sebagainya. Ruang publik sangat penting sebaga sarana tempat masyarakat bisa berkegiatan dan belajar.




Misalnya, dibuatnya GOR. Menurut saya itu sangat visioner. Konsep GOR mirip seperti youth center di mana itu merupakan tempat berkumpulnya anak muda untuk berkegiatan baik olahraga maupun berkesenian. Di Singapura, youth centre  dibuat di hampir semua rumah susun. Di sana para remaja bisa mengisi waktu dengan kegiatan positif sekaligus dibimbing oleh pendidik-pendidik yang ada di masyarakat (pelatih olahraga, dll). Saya sendiri pernah bekerja di youth centre  di Inggris. Di sana saya mengajar anak-anak dan remaja membuat berbagai keterampilan sederhana, menari, memasak makanan sehat, dan sebagainya. Konsep GOR mirip seperti itu. Meskipun namanya gelanggang olahraga, sebenarnya kegiatannya bisa lebih dari sekadar olahraga. Di GOR biasanya ada kegiatan belajar olah raga, bela diri, musik, bahasa Inggris, berlatih menjadi penyiar radio, teater, menari, dan sebagainya.  Anak muda memang perlu menyalurkan energinya di berbagai kegiatan yang positif.


Ide cemerlang Ali Sadikin yang lain adalah membuat Taman Ismail Marzuki (TIM). Di sanalah para seniman berkumpul dan akhirnya belajar bersama, dan juga menghasilkan karya yang bisa ditonton oleh masyarakat. Menurut saya, ide seperti TIM sangat visioner. Proses pendidikan selain lewat sekolah juga perlu terjadi di masyarakat. Dengan menyediakan ruang publik tempat masyarakat bisa berkegiatan seperti TIM, maka lama kelamaan akan ada  proses pendidikan bisa terjadi.

Kisah Pak Ali Sadikin di atas saya dapatkan dari mulut ke mulut, khususnya cerita orang-orang yang hidup di era 70-an. Namun, saya baru saja membaca sebuah peninggalan tertulis dari Ali Sadikin.

Belakangan, saya menemukan buku GITA JAYA: Catatan H. Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1966 - 1977. Buku terbutan tahun 1977 tersebut merupakan catatannya selama menjadi gubernur DKI. Salah satu bab di dalam buku tersebut berjudul "Pelayanan Masyarakat". Di dalamnya, ada satu sub-bab khusus tentang pendidikan. Saya mulai membukanya. Dari situ saya membaca bagaimana jumlah SD, SLP (SMP), dan SLA (SMA)  di zaman itu sangat minim dan banyak siswa usia sekolah yang tidak tertampung di sekolah.

Karena daya tampung sekolah yang terbatas, Pak Ali Sadikin membatasi usia masuk SD adalah 7 tahun. Dia juga mengusulkan pendayagunaan sekolah untuk sekolah pagi dan sore. Pihak swasta juga dilibatkan untuk membantu berdirinya sekolah-sekolah baru. Dalam catatannya dia berkata :

"... kepada pihak swasta dan yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan yang sanggup menyediakan gedung sekolah seluas minimal 2.000 meter persegi diberikan bantuanan bangunan gedung sekolah."
Pada tahun 1967 - 1969, Pak Ali Sadikin pun membangun banyak 124 SD Negeri baru, 13 Sekolah Lanjutan baru. Tahun 1969 - 1974 dia membangun 230 SD baru dan 95 Sekolah Lanjutan baru. Pada tahun 1974 - 1976, dia membangun 52 SD baru dan 180 sekolah lanjutan baru.

Yang menarik, ternyata Pak Ali Sadikin mengerti bahwa sekolah-sekolah favorit bisa menimbulkan kesenjangan pendidikan. Untuk itu dia mencetuskan sistem rayonisasi. Idenya, siswa sebaiknya bersekolah di lingkungan yang dekat dengan rumahnya. Katanya:

"Timbulnya sekolah-sekolah pilihan (favorit), dan tidak meratanya penyebaran murid antar sekolah-sekolah di pusat kota dengan sekolah-sekolah di pinggiran, dapat mempertajam perbedaan sosial di kalangan anak didik. Hal ini dapat menganggu usaha-usaha pelayanan di bidang pendidikan."

Selain sekolah, Pak Ali Sadikin juga paham pentingnya perpustakaan, baik perpustakaan sekolah maupun perpustakaan keliling. Selama kepemimpinannya diselenggarakan 935 perpustakaan menetap dan 5 buah perpustakaan keliling.

Dalam catatannya Pak Ali Sadikin tidak melulu bicara angka. Dia juga menceritakan tentang pentingnya usaha peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru misalnya dengan mengadakan berbagai lokakarya.

Anak-anak yang putus sekolah pun dipikirkannya. Dia membangun berbagai Panti Latihan Karya (PLK) untuk menampung masyarakat putus sekolah dan menganggur. Di sana, mereka belajar beberapa keterampilan praktis.

Melalui catatan-catatan Pak Ali Sadikin, saya jadi punya bayangan tentang kondisi pendidikan di Jakarta sebelum tahun 60-an. Mungkin lulusan setingkat SMP ataupun SMA saja tidak banyak. Kalau ada yang bisa melanjutkan sampai kuliah pun, artinya mereka termasuk orang-orang yang sangat beruntung. Di Jakarta, sekarang sekolah bertebaran di mana-mana. Kalau dulu, boro-boro bicara kualitas, kuantitas saja tidak ada. Kemudahan-kemudahan dalam memperoleh pendidikan di Jakarta di zaman sekarang tentunya banyak dipengaruhi oleh peran Pak Ali Sadikin. Tentu masih banyak hal lain yang perlu dilakukan agar pendidikan di Jakarta bisa lebih baik bukan hanya jumlah lembaga pendidikannya, tapi juga kualitasnya, baik melalui pendidikan formal seperti sekolah, pendidikan di masyarakat, pendidikan di keluarga, juga pendidikan melalui berbagai media.

Membahas Kode Etik Guru dengan Pak Doni Koesoema


Sumber: http://www.ei-ie.org/en/news/news_details/2076

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang pendidik sekaligus pemerhati pendidikan yang rajin menulis di Kompas bernama Pak Doni Koesoema.  Kami mengobrolkan banyak hal, salah satunya adalah mengenai bimbingan tes (atau yang biasa dikenal dengan bimbingan belajar). Saya ceritakan bahwa banyak sekolah berlabel 'unggulan' di Jakarta yang bekerja sama dengan bimbingan test sejak dulu.

 Di SMA tempat saya sekolah dulu, misalnya, sebuah bimbingan test beroperasi di sekolah sekitar dua kali seminggu di sore hari. Itu tambahan selain materi pengayaan yang resmi diadakan sekolah. Sekolah secara resmi selesai pukul 12.30, tapi siswa wajib mengikuti pengayaan (tambahan pelajaran) yang diselenggarakan oleh guru setiap hari dari jam 13.00 sampai jam 15.30. Lalu, dua kali seminggu sebagian besar siswa ikut lagi program bimbingan tes. Diadakannya di sekolah. Biasanya dari jam 16.00 sampai jam 17.30.

Di kegiatan bimbingan tes tersebut ada dua jam pelajaran per hari.Di sana, siswa-siswa kelas 3 SMA (kelas XII)  pada dasarnya mengulang materi-materi kelas 1, 2, dan 3 dalam setahun.Yang dipelajari adalah pelajaran-pelajaran yang akan diujiankan, khususnya dalam SPMB. Tentu saja bimbingan test ini berbayar. Ada juga sih siswa yang memilih tidak ikut tapi lebih banyak yang memilih ikut. Sekolah ikut mempromosikan bimbingan tes ini. Praktek ini terjadi ketika saya masih sekolah, artinya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Sekitar setahun lalu, seorang siswa SMA negeri bercerita pada saya bahwa ada himbauan bahwa bimbingan test tidak boleh lagi beroperasi di sekolah. Namun, bukan berarti sekolah tidak bekerja sama dengan bimbingan test lagi. Bimbingan tes tidak lagi berpraktek di sekolah melainkan di luar sekolah. Sekolah tetap mempromosikan bimbingan tes ini. Banyak siswa yang ikut. Bahkan, saat pelajaran di sekolah  berlangsung, siswa secara bergantian dipersilakan untuk keluar kelas untuk mengikuti bimbingan tes. Jadi, bimbingan test-nya berlangsung saat jam pelajaran resmi di sekolah berlangsung. Sulit bagi saya untuk mempercayai ada praktek begitu! Benarkah?

Pak Doni pun berkomentar mengenai bimbingan tes masuk sekolah. Menurutnya, boleh-boleh saja sekolah mengadakan jam belajar tambahan seperti yang dilakukan oleh bimbingan tes, misalnya sebagai bagian dari program sekolah. Namun, kalau siswa dimintai bayaran tambahan untuk mengikutinya, itu tidak etis.

"Kok tidak etis? Sekalipun secara sukarela (maksudnya siswa boleh memilih ikut ataupun tidak)?"

"Tidak etis dong, karena nanti artinya ada konflik kepentingan (antara sekolah, siswa, dan bimbingan tes)," kata Pak Doni. Menurutnya secara etika, praktek-praktek yang menimbulkan konflik kepentingan antara sekolah, siswa, apalagi dengan pihak lain harus dihindari.

Akhirnya kami mulai membahas mengenai kode etik guru, "Seharusnya hal-hal seperti itu dibuat kode etiknya. Organisasi-organisasi guru, termasuk Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan lain-lain, harus mulai membuat kode etik semacam itu," katanya.

Saya katakan, bahwa dulu beberapa teman-teman IGI memang sudah membahas ingin membuat kode etik semacam itu tapi belum terealisasikan. Inginnya bisa serapi apa yang dilakukan oleh dokter, jurnalis, ataupun profesi-profesi lainnya.

"Jadi, guru punya pedoman apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak. Apa yang etis dan apa yang tidak," kata Pak Doni.

"Benar juga," kata saya menanggapi, "Kadang ada juga guru yang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, bukan karena berniat buruk, tapi karena tidak tahu. Kode etik bisa membantu guru untuk tahu batas-batasnya. Saya jadi ingat perdebatan di facebook group IGI tentang guru yang memotong rambut siswanya yang kepanjangan. Kebetulan, ayah dari siswa adalah preman, yang malah balik ke sekolah memotong rambut gurunya. Apa yang dilakukan sang ayah tentu tidak sepenuhnya benar, tapi gurunya sebenarnya juga salah. Tidak seharusnya dia memotong rambut siswanya. Guru tidak punya hak memotong rambut siswa.  Walaupun thread diskusinya sampai ratusan,  panjang sekali,  kebanyakan guru tidak paham kenapa memotong rambut siswa tidak etis. Kebanyakan guru membela guru yang dipotong rambutnya. Banyak yang tidak paham kenapa sebenarnya guru tersebut juga bersalah dan apa yang dilakukan orang tua siswa adalah efek terhadap apa yang diperbuatnya."

Saya jadi ingat, di Inggris masalah menyentuh anak sangat ketat. Guru tidak boleh menyentuh tubuh siswa bagian manapun, termasuk rambut. Bila ada orang tua yang melapor, guru bisa dipecat. Belakangan di BBC ada berita tentang guru di Inggris yang memplester mulut siswa karena mereka berisik. Guru tersebut akhirnya diberhenti tugaskan. Di salah satu sekolah di Medan, ada guru yang membalsem mata siswanya karena menyangka siswanya mencontek. Saya tidak tahu apakah akhirnya diberhentikan atau sekadar ditegur.

Karena Pak Doni pernah jadi wartawan, saya tanyakan pengalamannya, "Kalau di dunia jurnalis, misalnya bagaimana kode etika tersebut?"


Pak Doni pun mengatakan, "Kalau di bidang jurnalistik, misalnya seorang jurnalis yang menulis di bagian bisnis, tidak boleh punya saham di bisnis yang diliputnya. Nanti kan ada konflik kepentingan," Pak Doni mencontohkan, " Nah, untuk guru, juga perlu seperti itu. Jadi ada buletin rutin untuk membahas kasus-kasus terkait kode etik."

Lalu, Pak Doni menambahkan, "Juga perlu komite kode etik. Jadi, ada sangsi bagi yang melanggar. Kalaupun ada organisasi guru yang mau membuat kode etik, misalnya PGRI, atau IGI, harus melibatkan organisasi-organisasi guru lain  agar kode etik tersebut berlaku untuk semua guru dan bukan hanya anggota organisasi itu saja."

Tampaknya, memang masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Membuat kode etik guru, komite kode etik guru, dan juga membuat tulisan rutin tentang kasus-kasus terkait kode etik guru adalah salah satunya. Setidaknya guru jadi punya pedoman tertulis tentang apa dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Keterangan: Saya menuliskan ini berdasarkan memori. Dialog dengan Pak Doni tidak sama persis kata-katanya, tapi esensinya sama.

Cerita Mengajar Bahasa Inggris Melalui SMS


Sekali seminggu saya mengajar bahasa Inggris di Rumah Mentari, sebuah komunitas pendidikan non formal di Bandung. Kebetulan, saya kebagian mengajar siswa yang gede-gede, alias sudah SMA, kuliah, ataupun bekerja. Siswanya hanya sekitar 10 orang.

Walau saya selalu berusaha datang, namun faktanya ada saat-saat di mana saya berhalangan hadir. Beberapa siswa juga kadang berhalangan hadir karena kebagian shift bekerja pada saat kelas berlangsung.

Jadi, saya mulai memikirkan bagaimana caranya semua dapat terus belajar, meskipun kami tidak selalu bisa bertatap muka. Akhirnya saya memilih menggunakan sms.  Hampir setiap hari, saya mengirimkan sms berupa beberapa kalimat dalam bahasa Inggris.

Kenapa saya pilih menggunakan sms? Alasannya adalah karena semua siswa memiliki telepon genggam, meskipun bukan smart phone. Memang, mereka semua punya email dan facebook, tapi mereka tidak selalu terakses internet. Jadi, bisa saja saya kirim email tapi mereka bukanya baru beberapa hari kemudian. Kalau saya kirim sms, biasanya pasti hari itu juga mereka buka.


Tentu saja  menggunakan sms untuk mengajar juga ada kendalanya. Kadang, saya ataupun siswa saya sekalipun kehabisan pulsa. Tapi tidak apa-apa. Kalau saya tidak meng-sms selama beberapa hari karena belum mengisi pulsa, maka setelahnya saya kirim sms, "I am sorry, I haven't sent you text messages in the last few days. I ran out of phone credit. However, now I have enough phone credit so I can start texting you again." Biasanya mereka pun mengerti. :)

Karena menggunakan sms, apa yang saya kirimkan tidak terlalu panjang. Paling beberapa kalimat saja. Menurut saya, dalam belajar berbahasa, meski belajar hanya beberapa kalimat baru dalam sehari, tapi kalau dilakukan secara rutin,  kemampuan berbahasa akan bertambah dengan sendirinya. Melalui sms secara rutin, saya berharap siswa saya  bisa menambah beberapa kosa kata baru dan kalimat baru setiap hari. Tujuan awalnya sesederhana itu.

Biasanya saya sekadar menceritakan apa yang saya lihat, apa yang saya baca, apa yang saya dengar. Kadang juga mengajukan pertanyaan yang bisa mereka jawab.

Saya ingat mengirimkan sms tentang kisah Randy Pausch yang memberikan kuliah terakhir sebelum dia meninggal. Kebetulan saat itu saya baru membaca  buku "The Last Lecture" karya Randy Pausch. Randy Pausch sangat unik karena beberapa cita-citanya sangat "aneh". Salah satu cita-citanya adalah merasakan gravitasi mendekati nol. Aneh kan? Tapi Randy Pausch selalu berusaha mewujudkan cita-citanya dan memang sebagian besar tercapai.


Suatu saat saya menonton berita mengenai demonstrasi di Brazil karena sebagian rakyat menuntut pemerintahnya karena menghabiskan terlalu banyak uang untuk membangun fasilitas untuk piala dunia dan bukan untuk pendidikan dan kesehatan. Lewat sms, saya tanyakan pendapat para siswa tentang kasus tersebut. Ada yang menjawab dengan bahasa Indonesia, misalnya, "Saya setuju dengan para demonstran bahwa yang diutamakan seharusnya pendidikan dan kesehatan." Saya balas saja, "How do you say that in English?".

Kalaupun akhirnya kalimatnya salah, saya beri umpan balik mengenai apa yang bisa diperbaiki.

Proses mengirimkan sms pada siswa-siswa saya ternyata membuat saya ingin belajar lagi.  Misalnya, belakangan gunung Kelud meletus. Agar, apa yang saya kirimkan tidak terlalu mirip dengan apa yang ada di berita, khususnya di televisi-televisi mainstream, maka saya belajar lagi tentang sejarah  Gunung Kelud. Gunung Kelud sudah meletus berapa kali? Bagaimana sejarahnya? Setelah baca-baca baru deh saya sms mereka tentang Gunung Kelud.

Waktu Jakarta sedang hujan deras dan ada petir. Mulailah saya membuka-buka situs tentang petir, penemuan penangkal petir, dan beberapa tips agar bisa aman saat terjadi petir. Baru deh sms.

Kadang juga saya tidak ada ide untuk meng-sms. Inilah waktu saya harus ngapain gitu agar dapat ide, misalnya saya membaca-baca majalah.  Kebetulan, saya menemukan tulisan tentang Tri Mumpuni dan Pak Iskandar yang mengembangkan Mikrohidro di Subang dan di beberapa daerah lain di Indonesia.

Proses meng-sms siswa-siswa saya tersebut ternyata membuat saya sendiri jadi selalu berusaha untuk mengamati, membaca, mendengar, maupun mencermati sekitar dengan lebih seksama. Dalam kepala saya berpikir, "Apa yah yang bisa saya bagikan hari ini?"

Sebenarnya bisa saja sih, asal kirim kalimat apa gitu. Tapi kalau saya lebih banyak membaca, lebih banyak melihat, lebih banyak memperhatikan sekitar, kalimat yang saya tulis diharapkan bisa jadi lebih bermakna.

Kalau saya refleksikan kembali, ternyata saya bukan hanya ingin menngajar siswa-siswa saya untuk belajar kalimat atau kosa kata Bahasa Inggris, tapi saya juga ingin berbagi cerita. I actually love telling stories!

Mudah-mudahan melalui cerita yang saya sampaikan, meskipun hanya berupa kalimat-kalimat pendek, siswa saya bisa menambah wawasan baru, jadi penasaran terhadap isu yang dibahas (dan mungkin memilih belajar lagi). Saya ingin mereka termotivasi dari beberapa cerita yang saya sampaikan. Mudah-mudahan diantara cerita-cerita tersebut, ada yang berkesan di hati siswa saya. Itu harapannya.

Sebenarnya secara tidak langsung, saya ingin mengajak mereka berpikir tentang berbagai isu, misalnya tentang keberlanjutan (dengan membahas mengenai pembangkit listrik mikrohidro yang ramah lingkungan), saya ingin mereka belajar tentang hal yang terjadi di belahan dunia lainnya mungkin membandingkan kondisinya dengan Indonesia (saat membahas tentang biaya fasilitas untuk piala dunia yang besar tapi dana pendidikan dan kesehatan yang kecil), saya ingin mereka belajar tentang safety (saat membahas tentang petir). I guess I wanted to teach more than just an English lesson.

Apakah pelajaran saya benar-benar berkesan atau bermakna buat mereka? Saya tidak tahu, meskipun saya berharap begitu. Mungkin nanti saya perlu tanya pendapat mereka. Siapa tahu mereka punya usulan untuk menjadikan pelajarannya lebih bermakna.