Jul 29, 2012

I read a few books this July. But I really love these four books. Really love them!

Jul 18, 2012

Kritik untuk Waiting For Superman

"Teachers can have a profound effect on students, but it would be foolish to believe that teachers alone can undo the damage caused by poverty and its associated burdens."

"Guggenheim didn’t bother to take a close look at the heroes of his documentary. Geoffrey Canada is justly celebrated for the creation of the Harlem Children’s Zone, which not only runs two charter schools but surrounds children and their families with a broad array of social and medical services."

"While blasting the teachers’ unions, he points to Finland as a nation whose educational system the US should emulate, not bothering to explain that it has a completely unionized teaching force"

"His documentary showers praise on testing and accountability, yet he does not acknowledge that Finland seldom tests its students. Any Finnish educator will say that Finland improved its public education system not by privatizing its schools or constantly testing its students, but by investing in the preparation, support, and retention of excellent teachers. It achieved its present eminence not by systematically firing 5–10 percent of its teachers, but by patiently building for the future. Finland has a national curriculum, which is not restricted to the basic skills of reading and math, but includes the arts, sciences, history, foreign languages, and other subjects that are essential to a good, rounded education. Finland also strengthened its social welfare programs for children and families. Guggenheim simply ignores the realities of the Finnish system."

"It bears mentioning that nations with high-performing school systems—whether Korea, Singapore, Finland, or Japan—have succeeded not by privatizing their schools or closing those with low scores, but by strengthening the education profession. They also have less poverty than we do. Fewer than 5 percent of children in Finland live in poverty, as compared to 20 percent in the United States. Those who insist that poverty doesn’t matter, that only teachers matter, prefer to ignore such contrasts."

(The Myth of Charter Schools by Diane Ravitch)

Jul 11, 2012

Barefoot College : Guru Adalah Murid dan Murid Adalah Guru




Barefoot College : Guru Adalah Murid dan Murid Adalah Guru

Beberapa tahun yang lalu saya melihat sebuah film dokumenter di Eagle Awards, Metro TV. Film tersebut menggambarkan mengenai seorang dokter yang bekerja di daerah pedalaman. Saat itu ada seorang pasien yang harus diinfus. Namun, ada masalah. Cairan infus yang tersedia sudah kadaluwarsa.  Pilihan yang ada hanya dua, antara menggunakan infus yang sudah kadaluwarsa atau tidak menginfus pasien sama sekali. Sang dokter akhirnya memilih pilihan yang pertama. Untungnya, sang pasien sembuh. Hal yang serupa terjadi ketika dia harus mengoperasi seorang pasien. Dokter tersebut membutuhkan pisau bedah tetapi saat itu tidak ada pisau bedah yang tersedia. Akhirnya dokter memilih menggunakan alat potong lain untuk mengoperasi pasien. Saya lupa alat apa yang digunakan, kalau tidak salah dia menggunakan cutter. Tentunya alat tersebut perlu disterilisasi terlebih dahulu.

Kalau dokter yang bekerja di kota-kota besar menerapkan hal seperti itu, apalagi di rumah sakit yang berbayar, sang dokter pasti akan dituduh melakukan malpraktek. Di daerah-daerah yang minim fasilitas, meskipun dokter menggunakan cairan infus yang sudah kadaluarsa atau melakukan operasi dengan cutter, itu adalah pilihan terbaik yang ada. Lebih baik daripada tidak ada layanan kesehatan sama sekali.
Di banyak sekali daerah ada kasus kekurangan tenaga kesehatan. Bukan hanya di bidang kesehatam di bidang pendidikan juga. Padahal baik akses terhadap kesehatan maupun pendidikan diperlukan oleh setiap manusia, bukan hanya mereka yang tinggal di kota. Baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan dibutuhkan juga oleh mereka yang hidup di daerah terpencil.

Ada berbagai solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah kekurangan akses kesehatan maupun pendidikan di daerah terpencil. Pertama, adalah menyekolahkan penduduk lokal ke kota supaya kelak mereka bisa kembali ke daerahnya untuk berbakti kepada masyarakat baik sebagai tenaga kesehatan maupun tenaga pendidik.  Kedua,  mendatangkan tenaga kesehatan dan pendidikan dari kota ke daerah terpencil.

Kedua solusi tersebut memiliki kendala tersendiri. Menyekolahkan penduduk lokal ke kota tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit.  Seorang tamat dari SD sampai kuliah membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Artinya selama 10 tahun itu, penduduk masih belum bisa terakses dengan kesehatan dan pendidikan. Kesehatan dan pendidikan untuk ‘hari ini’ tidak terjamin sama sekali. Kenyataannya tidak semua anak yang disekolahkan ke kota akhirnya mau kembali ke daerahnya.

Bukan hal yang mudah untuk mendatangkan seorang dari kota untuk mau mengabdi sendirian di daerah terpencil. Dengan pendapatan yang seadanya, fasilitas listrik yang terbatas,  mereka harus melayani seluruh warga desa. Ini membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.

Barefoot College, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1972 di Rajahstan, India punya solusi yang sedikit berbeda. Daripada menyekolahkan penduduk dari daerah terpencil ke kota, lebih baik mendatangkan lembaga pendidikan tersebut ke daerah terpencil. Lembaga pendidikan ini bukan lembaga pendidikan biasa. Tidak ada sertifikat yang diberikan bagi lulusan Barefoot College. Lulusan tersebut disertifikasi oleh masyarakat sendiri, tergantung pada apa yang mereka kontribusikan pada masyarakat. Di Barefoot College, siswanya adalah penduduk lokal, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak yang selama ini buta huruf. Di sana mereka belajar mengenai apapun yang dibutuhkan oleh desa mereka. Mereka belajar caranya mengobati orang sakit, caranya mengobati orang yang giginya berlubang, cara menghasilkan energi untuk desa, dan sebagainya. Daripada mendatangkan satu orang dari kota ke daerah terpencil untuk bsia mengatasi semua masalah kesehatan yang ada di daerah tersebut, lebih baik dokter tersebut membagikan sebagian ilmunya kepada penduduk lokal. Seorang dokter gigi dari Amerika Latin bernah datang ke Rajastan untuk mengajari ibu-ibu buta huruf untuk bisa mengebor gigi orang yang berlubang. Melalui Barefoot College, Ilmu yang selama ini hanya bisa dipelajari oleh golongan elit, di universitas,  juga bisa dipelajari oleh mereka yang selama ini buta huruf dan menganggur.  

Barefoot College juga menyediakan sebuah sekolah malam untuk anak-anak di desa. Pembelajaran dilakukan di malam hari karena di pagi sampai sore hari anak-anak sibuk menggembala ternak. Tidak seperti sekolah pada umumnya, sekolah ini tidak memaksa siswa mengikuti jadwalnya (misalnya di pagi hari) tetapi justru jadwal sekolah disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Siapakah yang mengajar di sekolah malam? Para guru dipilih bersama oleh penduduk melalui semacam musyawarah. Dalam musyawarah tersebut penduduk berunding untuk menentukan siapa orang yang masih muda, pengangguran, pernah menyelesaikan sekolah dasar, dan punya motivasi yang tinggi untuk mendampingi anak-anak. Mereka kemudian dilatih selama 25 hariuntuk belajar mengenai metode mengajar, psikologi anak, dan masalah sosial-politik yang ada di desa tersebut. Metode yang digunakan selama pelatihan adalah diskusi. Dari diskusi yang berlangsung muncul banyak insight  baru mengenai teknik-teknik mengajar yang pas untuk diterapkan di desa tersebut. Sejak 1975 sampai hari ini sudah ada lebih dari  50,000 anak yang tamat belajar di sekolah malam.  Mereka yang sudah bisa membaca dan menulis bisa menawarkan diri untuk mengajarkan orang lain agar bisa membaca dan menulis. Sambil mengajar, para guru juga senantiasa belajar. Kata Bunker Roy, pendiri Barefoot College, [In Barefoot College] the teacher is the learner and the learner is the teacher yang artinya [Di Barefoot College] guru adalah murid dan murid adalah guru.

Time Management for Teachers (v2)

Jul 4, 2012

Personal Reflection : The Mind of "Anak Sekolahan"

I find the village people are very logic, and sober thinkers and do not think so complicated as the city people. I have come to compare this with the wajang. In the wajang the heroes of Ramajana, and Mahabarat like Arjuna, Bima, Gatot Kaca, Judistira etc., are thinking in a very complicated way... not very logic but very Ksatria and so on, while the figures like Bagong, Semar, Petruk, Garong, etc. are very sober and very logic, very often coming with home truths and very realistics. Well, this same comparison can be made for the whole of Indonesian society. The pemimpin-pemimpin are the Arjuna, Judistira, etc., thinking in very complicated terms, but the common desa people are very sober and logic like Semar and Petruk. The same comparison is also true for the villages around  Djakarta. The people there are also very sober and logic. We often think of the village people as dumb and stupid, though they are not learned and well informed. But I discovered that they were very intellegent and logic (what you would call 'tjerdas'). I was astonished what precise answers they gave on my questions and how they grasped the meaning of the questions. And what memory they have on past events, etc. (Onghokham dalam "Sang Guru dan secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dam Sebuah Dunia Baru Bernama Indonesia" karya Andi Achdian, h.46) 

This passage reminds me of a personal experience. I was joining KAIL's workshop on system thinking. I was in a group with two other friends, all interested in education. Together, we were trying to define the problems in Indonesia's education. It was based on our own experience  and knowledge of working inside the Indonesia's educational system. For us, it took so many time only to discuss about a certain problem. We kept thinking and thinking again, in a complicated way. Unable to define what we think is most important.

"Jangan-jangan begini? Tapi begini deng, eh ngak deng begitu deng!"

We were keeping on changing our minds throughout the discussion.

Although I have joined a lot of system thinking workshops I always find it somewhat complicated. I always thought that there were so much to think about.

Then, a friend of mine, told me that the same workshop was held for a group of tukang becaks. Unlike me and my friends, they were able to discuss their problems (as tukang becaks) more easily. They were very clear about their ideas and knew how to coralate one factor (of the problem) with another. My friend laughed.

"Gue ketawa aja lihat kalian lama banget, kalian kebanyakan mikir. Hehehe.."  

If I think back again, I think in someways it is true that "anak sekolahan" as I am, people who are educated in the school system, think in such complicated ways. Therefore sometimes it makes it so difficult for us to define our own problem, while others can see it clearly and define it in a very simple way. Wallahu Alam.

Thank you, Mr. Falker


Terima kasih Pak Falker

Kakek memegang satu toples madu agar semua orang bisa melihatnya. Lalu dia mencelupkan jarinya ke dalam toples dan meneteskan sejumlah madu ke atas sebuah buku. Usia si gadis kecil sebentar lagi akan menjadi 5 tahun.

“Berdirilah gadis kecilku,” kata kakek, “Dulu saya melakukan hal ini di depan ibumu, paman-pamanmu, kakak laki-lakimu, dan sekarang di depanmu.”

Lalu kakek menyerahkan bukunya pada si gadis kecil, “Rasakan!”

Dia menaruh jarinya  di atas madu lalu memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.

“Apa rasanya?” tanya nenek.
“Manis,” kata si gadis kecil.

Lalu seluruh keluarga mengatakan secara serentak, “Iya, dan begitu juga ilmu pengetahuan. Tapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu kamu harus seperti lebah mencari madu. Kamu harus mengejarnya melalui halaman-halaman yang ada pada buku.”
Si gadis kecil tahu bahwa tanggung jawab untuk belajar membaca kini ada di pundaknya. Tak lama lagi dia akan belajar caranya membaca.

Tricia, gadis paling kecil di keluarganya belajar untuk mencintai buku. Ibunya, yang seorang guru membacakan buku untuknya setiap malam. Kakak laki-lakinya yang berambut kemerahan selalu membawa buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah dan menunjukkannya untuk bisa dilihat-lihat bersama. Dan setiap kali dia mengunjungi peternakan keluarga, tempat nenek dan kakek. Nenek dan kakek akan membacakannya ceritadi dekat perapian.

Ketika dia sudah 5 tahun dan mulai masuk Taman Kanak-kanak, dia sangat berharap bisa membaca. Setiap hari dia melihat kakak-kakakkelasnya, siswa-siswa kelas 1 SD membaca. Dan sebelum tahun ajaran berakhir, beberapa teman sekelasnya sudah mulai membaca. Tricia tidak.Meskipun begitu, dia sangat suka sekolah karena dia bisa menggambar. Anak-anak lainnya akan mengelilinginya dan melihatnya melakukan keajaiban dengan krayon.

“Di kelas 1  nanti kamu akan belajar membaca,” kata kakak laki-lakinya.

Di kelas 1 Tricia duduk dalam lingkaran bersama anak-anak yang lain. Mereka semua memengang buku berjudul “Lingkungan Tetanggamu”, bacaan wajib pertama mereka. Mereka belajar membunyikan huruf-huruf dan kata kata. “Beh… beh.. beh… beh.. Boy,” kata anak-anak mengeja kata yang berarti anak laki-laki.

“Loh..loh… look,” kata mereka mengeja kata yang berarti lihat! Ibu guru tersenyum pada mereka setiap mereka berhasil membaca sebuah kata dengan benar. Tapi ketika Tricia membuka lembar halaman buku, yang dilihatnya kanya bentuk-bentuk yang tidak beraturan.  Dan ketika dia mencoba membunyikan kata-kata, anak-anak lain menertawainya. 

“Tricia emangnya apa yang kamu lihat di dalam buku itu?” kata mereka.
“Saya sedang membaca,” katanya.

Tapi gurunya langsung beralih ke siswa berikutnya. Setiap kalitiba waktunya Tricia untuk membaca, ibu guru selalu perlu membantunya untuk mengucapkan setiap kata. Dan ketika siswa lainnya mulai membaca buku wajib kedua dan ketiga, Tricia masih saja membaca  “Lingkungan Tetanggamu”.  Tricia mulai merasa berbeda. Dia mulai merasa bodoh.

Setiap kali dia merasa bahwa membaca sulit, semakin sering dia menghabiskan waktu untuk menggambar. Oh betapa senangnya dia membaca. Atau sekadar duduk-duduk dan berkhayal. Atau kalau lagi bisa, dia senang berjalan-jalan bersama neneknya. Suatu malam di musim panas Tricia dan neneknya berjalan-jalan di hutan yang tak jauh di balik peternakan. Waktu itu sedang bulan purnama. Udara seperti berbau manis dan hangat. Kunang-kunang baru saja keluar dari balik rerumputan. Sambil berjalan Triciabertanya,

“Nenek, apa menurut Nenek saya berbeda?”
“Tentu saja!” jawab neneknya, “Menjadi berbeda adalah bagian dari keajaiban kehidupan.

Bisakah kamu lihat kunang-kunang kecil itu. Bahkan setiap kunang-kunang pun berbeda satu sama lain. Tak ada yang sama.”

“Apakah menurut Nenek saya pandai?” Tricia tidak merasa pandai.

Neneknya merangkulnya, “Kamu adalah gadis paling pandai, tangkas, dan paling manis yang pernah ada.”

Tricia merasa aman di dalam pelukan neneknya. Saat itu perasaannya mengenai membaca, tak terlalu menggelisahkannya. Neneknya biasanya berkata bahwa bintang-bintang bagaikan lubang-lubang di langit. Surga berada nun jauh di atas sana. Dia pernah berkata bahwa suatu hari dia akan berada di sana. Di mana cahaya-cahaya berasal. Suatu hari mereka berbaring di atas rerumputan dan mencoba menghitung jumlah bintang di langit.

“Kamu tahu?” katau nenek, “Semua orang akan pergi ke sana, suatu hari nanti. Ayo pegang erat-erat rerumputan kalau tidak nanti kita terbang dan sampai ke sana.”
Mereka tertawa bersama-sama dan keduanya memegang rerumputan. Tapi, tak lama setelahnya nenek tak lagi bisa memegang rerumputan karena dia pergi ke tempat cahaya itu berasal. Di sisi lain dunia ini. Tak lama kemudian, kakek ikut pergi ke sana juga.
Sekarang, sekolah mulai terasa menyulitkan dan lebih menyulitkan lagi. Membaca serasa seperti penyiksaan alami. Ketika Sue Allen membaca lembar halaman bukunya, atau ketika Tommy membaca miliknya, mereka membacadengan begitu mudahnya sampai-sampai Tricia suka memandang kepala mereka untuk mecoba melihat apa yang terjadi di dalam kepala mereka. Yang terjadi di dalam kepala mereka, tidak terjadi di dalam kepala Tricia. Dan bilangan! Oh itu hal yang paling sulit untuk dibaca. Dia tidak pernah menjumlahkan bilangan apapun dengan benar.

“Urutkan bilangan-bilangan tersebut sebelum menjumlahkannya,” kata ibu guru.
Tapi ketika Tricia mencobanya, bilangan-bilangan itu tampak seperti balok-balok yang bergoyang-goyang dan siap untuk jatuh. Dia tahu dia bodoh.

Suatu hari, ibunya mengumumkan bahwa dia memperoleh pekerjaan mengajar di California, jauh dari tempat tinggalnya sekarang di Michigan. Meskipun nenek dan kakeknya sudah tiada, Tricia tidak ingin pindah ke tempat tinggal lain. Tapi mungkin nanti, guru-guru dan siswa-siswa di sekolah baru tidak akan tahu betapa bodohnya dia. Akhirnya dia, ibu, dan kakak laki-lakinya menyeberangi provinsi dengan mobil. Butuh 5 hari untuk sampai ke sana.

Tapi di sekolah baru, masalahnya sama saja. Ketika dia mencoba membaca dia kesulitan berhadapan dengan kata-kata. “Ceh.. ceh… ceh.. cat,” dia mencoba mengeja kata yang berarti kucing.

“Reh… reh.. ran,” dia mencoba mengeja kata yang berarti lari. Meskipun sudah kelas 3 SD, dia masih membaca seperti bayi. Dan setiap kali guru mengajukan pertanyaan, jawabannya selalu salah. Setiap waktu!

“Hei bodoh!” panggil seorang anak-anak di lapangan bermain, “Kenapa kamu sangat bodoh?”

Anak-anak lain berada tak jauh dengannya dan mereka tertawa. Tricia bisa merasakan air mata meleleh dari matanya. Betapa inginnya dia kembali ke peternakan nenek dan kakeknya di Michigan. Sekarang Tricia semakin malas pergi ke sekolah.
“Saya sakittenggorokkan,” katanya pada ibunya. “
Perut saya sakit,” katanya di lain waktu.

Dia semakin banyak menghabiskan waktu untuk menggambar dan menggambar lagi. Atau untuk berkhayal dan berkhayal lagi. Dia benci sekolah!

Lalu ketika mulai masuk kelas 5 ada guru baru. Namanya Pak Falker. Dia sangat tinggi dan gagah. Semua anak menyukainya. Dia memakai jas bergaris-garis dan celana abu-abu, sangat rapi.

Semua anak-anak yang biasanya merupakan kesayangan guru mengelilinginya. Stevie Joe, dan Alice Marie,  Davie, dan Michael Lee. Tapi sejak awal kedatangannya, Pak Falker tampak tidak membedakan murid-muridnya. Yang wajahnya menggemaskan ataupun paling pandai ataupun terbaik pada semua bidang, bagi Pak Falker sama saja.

Pak Falker akan berdiri di belakang Tricia setiap kali dia sedang menggambar, “Luar biasa! Sungguh luar biasa! Tahukah betapa berbakatnya kamu?”

Ketika Pak Falker berkata begitu, bahkan anak-anak yang biasa mengejek Tricia akan membalikkan badannya untuk melihat gambar-gambar Tricia. Namun, mereka tetap saja tertawa ketika Tricia memberikan jawaban-jawaban yang salah.

Tiba suatu hari di mana Tricia harus berdiri di depan kelas dan membaca. Hal yangsangat dibencinya. Di hadapannya ada lembar halaman dari buku berjudul “JAring-jaring Laba-laba MilikCharllote” dan huruf-hurufnya terlihat begitu acak.

Anak-anak yanglain mulai menertawakannya. Pak Falker yang sedang mengenakan sebuah jaket dan dasi kupu-kupu berkata, “Berhenti! Apakah kalian semua begitu sempurnanya sehingga melihat orang lain dan merendahkannya seperti itu!”

Itu hari terakhir ada yang menertawakannya atau menjadikannya bahan lelucon. Semuanya kecuali Erik. Sudah dua tahun dia duduk di belakang Tricia. Tapi tampaknya dia membenci Tricia. Tricia tidak tahu kenapa. Kadang dia menunggu Tricia di depan pintu kelas dan ketika Tricia lewat, dia menarik rambutnya. Dia menunggu Tricia di halaman sekolah dan memanggilnya, “Kodok.”

Tricia takut pergi ke mana-mana. Dia takur Erik akan berada di sana. Dia merasa sangat kesepian. Tricia hanya merasa bahagia ketika dia berada di dekat Pak Falker. Pak Falker mengizinkannya menghapus papan tulis, yang hanya boleh dilakukan oleh siswa-siswa yng berprilaku terbaik. Dia menepuk pundaknya setiap kali Tricia bisa melakukan sesuatu dengan benar. Dan dia terlihat tegas dan galak ketika ada anak-anak yang mengejeknya.

Tapi, semakin Pak Falker bersikap baik kepada Tricia, Erik akan memperlakukannya dengan semakin jahat.

Dia mengajak anak-anak yang lain untuk menungui Tricia di halaman sekolah, atau di kantin, atau di lorong dekat kamar mandi dan mengajak mereka untuk memanggil Tricia “bodoh!” atau “jelek”. Tricia mulai percaya apa yang dikatakan Erik.

Tricia mulai menemukan akal. Kalau dia bisa izin ke kamar mandi tepat sebelum waktu istirahat, dia punya waktu untuk bersembunyi di ruang di bawah tangga sehingga tidak perlu keluar ke tempat lain saat istirahat. Di tempat yang gelap itu dia merasa aman.

Sayangnya suatu hari saat istirahat, Erik mengikutinya ke tempat persembunyiannya. Dia menarik Tricia kea rah lorong dan menari-nari sambil mengejek, “Kamu sudah berubah menjadi tikus tanah yah? Si Bodoh! Si Bodoh! Si Bodoh!”

Tricia meringkuk seperti bola dan menangis. Tiba-tiba dia mendengar suara derap kaki. Itu Pak Falker! Dia meminta Erik pergi ke ruang kepala sekolah.

“Saya rasa, kamu tidak perlu khawatir pada anak laki-laki itu lagi,” katanya dengan lembut, “Memangnya tadi dia mengejekmu bagaimana?”
“Saya tidak tahu,” Tricia menggelengkan kepalanya.

Tricia percaya bahwa Pak Falker menyangka bahwa Tricia bisa membaca. Dia belajar untuk menghafalkan apa yang dibaca oleh teman di sebelahnya. Atau dia akan menunggu sampai Pak Falker mengucapkan sebuah kalimat dan dia akan mengulang apa yang dikatakan oleh Pak Falker.

“Bagus!” kata Pak Falker.

Suatu hari Pak Falker meminta Tricia untuk tetap tinggal di kelas untuk membantunya membersihkan papan tulis. Dia menyalakan musik dan membawa roti lapis untuk menemani saat mereka bekerja dan berbincang-bincang. Lalu dia berkata, “Ayo kita bermain! Saya akan meneriakkan sebuah huruf atau angka dan dengan spons basah yang kamu pegang, kamu akan menuliskannya di papan tulis.”

“A!” teriaknya. Tricia menulis A dengan air.
“8!” Tricia menulis angka 8 dengan air.
“14!” Tricia menulis angka 14 dengan air.
“3! D! M! Q!” teriak Pak Falker.

Dia meneriakan begitu banyak huruf dan angka. Lalu dia berjalan di belakangnya dan bersama-sama mereka menatap papan tulis. Papannya terlihat basah berantakan. Tricia tahu bahwa tidak satupun angka ataupun huruf tertulis sebagaimana mestinya. 

Tapi dia meraih Tricia dan berkata, “Aduh kasihan sekali kamu, Nak. Kamu merasa bodoh yah? Betapa sedihnya kamu harus merasa begitu kesepian dan begitu ketakutan.”

Tricia menangis.
“Tapi, Nak…. Tahukah kamu bahwa kamu tidak melihat angka maupun huruf sebagaimana orang lain melihatnya. Tapi kamu berhasil melewati sekolah sebegitu lamanya dan mengelabuhi begitu banyak guru-guru yang bagus,” dia tersenyum, “Itu membutuhkan kecerdasan dan keberanian yang sangat… sangat… besar.”

Pak Falker berdiri dan menyelesaikan membersihkan papan tulis, “Kita akan membuat perubahan, gadis kecil. Kamu akan bisa membaca. Saya berjanji.”

Setiap pulang sekolah, Tricia menghabiskan waktu bersama Pak Falker dan seorang guru lain. Namanya Ibu Placie, guru membaca. Mereka melakukan begitu banyak hal yang tidak dipahaminya. Pertama, Tricia diminta membuat lingkaran di pasir. Lalu, lingkaran besar menggunakan spons basah diatas papan tulis. Dari kiri ke kanan, dari kiri ke kanan.

Di waktu lain, kedua guru menampilkan huruf-huruf di layar. Dan Tricia mebunyikan huruf apa yang muncul dengan suara yang lantang. Di hari-hari yang lain dia diminta bekerja dengan balok-balok dari kayu dan membuat kata-kata dengan huruf yang tertulis pada balok. Huruf… huruf… huruf… Kata.. kata.. kata…. Selalu dilafalkan. Dan rasanya menyenangkan sekali!

Sekarang, Tricia sudah bisa membaca kata-kata tapi tetap saja belum bisa membaca kalimat secara utuh. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, diatetap merasa bodoh. Suatu hari di musim semi, sekitar tiga atau empat bulan semenjak mereka memulai kegiatan belajartersebut, Pak Falker meletakkan buku di depan wajah Tricia. Tricia tidak pernah melihat buku itu sebelumnya. Pak Falker memilih sebuah paragraf yang berada di tengah halaman buku dan menunjuknya.

Seperti keajaiban, seperti ada cahaya yang masuk ke dalam kepalanya, kata-kata dan kalimat mulai bermakna. Sebuah pengalaman baru yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

“Di… a  mengajak… me…re..ka…. ber..baris pergi ke….,” perlahan dia membaca sebuah kalimat. Lalu kalimat lain, dan kalimat lain, dan kalimat lain sampai akhirnya dia membaca sebuah paragraf.  Dan dia bisa memahami artinya. Tricia tidak sadar bahwa Pak Falker dan Ibu Placie meneteskan air mata haru.

Setelahnya Tricia berlari pulang secepat mungkin,membuka pintu depan rumah dan berlari ke ruang makan. Dia membuka lemari makanan dan mengambil sebuah toples berisi madu. Lalu dia pergi ke ruang tamu dan menemukan sebuah buku di atas lemari buku. Buku yang dulu pernah ditunjukkan kepadanya, oleh Kakek, beberapa tahun yang lalu. Dia menyendoki madu yang ada di atas sampul buku dan merasakan manisnya dan berkata pada dirinya sendiri, “Madu ini rasanya manis. Dan begitu pula rasanya ilmu pengetahuan. . Tapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu kamu harus seperti lebah mencari madu. Kamu harus mengejarnya melalui halaman-halaman yang ada pada buku.”

 Lalu dia mendekap buku dan toples madu. Dia bisa berasakan air mata menetes di pipinya. Tapi ini bukan tetes air mata kesedihan melainkan kebahagian. Dia merasa sangat… sangat bahagia.  Tahun-tahun berikutnya dunia di gadis kecil adalah masa-masa menemukan hal-hal baru dan berpetualang. Saya tahu cerita itu benar. Karena gadis kecil itu adalah saya sendiri, “Patricia Pollaco”.

30 tahun berikutnya saya bertemu dengan Pak Falker disebuah acara pernikahan.  Sayamendekatinya dan memperkenalkan diri. Awalnya dia tampaknya lupa siapa saya. Lalu saya ceritakan betapa dia dulu telah mengubah hidup saya bertahun-tahun yang lalu. Dia memelukku dan menanyakan apa kegiatan saya sekarang.

“Pak Falker,” kata saya,”Yang saya lakukan sekarang adalah menulis buku untuk anak-anak. Terima kasih Pak Falker. Terima kasih.”


Diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarsavati

Jul 3, 2012


Sumber gambar : 
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Polusi+Udara+di+Jakarta&dn=20100304125156

Udara bersih di Jakarta mahal sekali harganya
Entah apa yang dihirup oleh mereka
mereka yang hidup, tinggal, berjualan, dan makan di pinggir jalan,

para pejalan kaki,
pengemudi sepada motor, 
yang kadang membonceng ibu dan dua anak sekaligus

Udara bersih di Jakarta mahal sekali harganya
Sampai-sampai ketika sampai depok saja, udaranya terasa lebih segar
Apalagi Bogor, Bandung, dan daerah lainnya
Padahal mereka yang tinggal di sana pun sudah mengeluh
Sumpek udaranya!

Bagi penghuni Jakarta setiap tarikan nafas 
yang sedikit saja lebih segar
begitu berharga, begitu berharga

Jul 2, 2012

"Oh, the Places You'll Go!" by Dr. Seuss and My Childhood



I think both of my parrents where quite radical when they raised me as a child. I learnt reading from Dr. Seuss's Book. While in the United States Dr. Seuss is a common childrens book but that is not usual for Indonesian kids.

Here is one of the quotes from Dr. Seuss's Book
"You have brains in your head.You have feet in your shoes. You can steer yourself any direction you choose.You're on your own. And you know what you know.And YOU are the guy who'll decide where to go. 

(Dr. Seuss in "Oh, the Places You'll Go!")

These few sentences means a lot of things. It means that everyone, must decide their own choices, control their own lives and not anyone else. For some parents, when a child decides to choose his/her own choices it means that their child is a rebel. In some families, this is not a value encouraged. However, my parents did actually educate me about the idea of choosing one's own path from a very young age.

Anyway, some people don't realize that childrens books are very important and they can affect  a child, even until s/he grows up. Maybe you can stop by this website  and read about "Tales for Little Rebels : Radical Politics in Famous Childen Books" . Happy reading!

Membaca "Sepatu Dahlan"


Seorang teman pernah mengatakan, manusia  punya kebebasan untuk memilih melakukan apapun yang dikehendaki, tetapi manusia tidak bisa memilih konsekuensinya. Apapun pilihan kita, kita harus siap menanggung konsekuensinya. Menurut saya, menyadari bahwa setiap hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, adalah bagian dari proses menjadi lebih dewasa

Buku “Sepatu Dahlan” karya Khrisna Pabicara bercerita tentang kisah seorang anak lulusan SD bernama Dahlan yang kemudian melalui begitu banyak peristiwa sehingga kemudian belajar menjadi lebih dewasa.
Pesan mengenai kesadaran akan suatu konsekuensi itu saya temui mulai bab pertama hingga bab-bab berikutnya. Dahlan lulus SD dengan nilai yang bervariasi. Meskipun ada tiga angka sembilan yakni untuk pelajaran Menulis, Gerak Badan, dan Menyanyi, tetapi ada dua angka merah  yaitu untuk pelajaran berhitung dan bahasa daerah. Mendapatkan nilai merah di rapor, pasti ada konsekuensinya. Meskipun siswa lain berbahagia telah lulus SD, perasaan Dahlan tidak begitu. Dahlan gelisah, takut tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah oleh Bapaknya. Hal ini diungkapkan oleh Dahlan di dalam buku hariannya. Di sana tertulis, “Pak, Dahlan masih boleh sekolah kan?”

Dahlan  ternyata tetap boleh sekolah, tetapi ternyata bukan di SMP Magetan, sekolah impian Dahlan selama ini. Bapaknya hanya mengizinkan Dahlan masuk Tsanawiyah Takeran yang biayanya lebih ringan. Agar bapaknya mengizinkan agar Dahlan masuk SMP Magetan, Dahlan pernah mencoba membohongi bapaknya. Bapak sangat menghormati seorang Kyai bernama Kyai Mursyid. Dahlan ingin mengaku bermimpi bertemu Kyai Mursid dan dia menyarankan agar Dahlan bersekolah di SMP Magetan. Tenti saja. Mimpi tersebut tidak pernah benar-benar terjadi. Ini hanya akal-akalan Dahlan saja agar mendapatkan persetujuan bapaknya. Saat Dahlan mulai mencoba berbohong ternyata Bapaknya mempercayai setiap  kata-katanya. Berbohong hanya agar keinginan kita tercapai ternyata menyiksa. Dahlan mulai menyadari hal tersebut. Air matanya menetes sehingga akhirnya dia pun memutuskan untuk bersekolah di  Tsanawiyah Takeran. Apa gunanya mencapai keinginan ketika kita terus menerus diliputi rasa bersalah? Mendapatkan sesuatu dengan tidak baik, konsekuensinya adalah menanggung rasa bersalah. Dahlan belajar mengenai hal tersebut.

Suatu hari, Zain, adik Dahlan yang lebih kecil sedang kelaparan. Dahlan baru selesai mengambil kelapa. “Mas, bagi kelapa..” kata Zain.

Sepertinya karena malas, Dahlan menyuruhnya mengambil kelapa sendiri. Zain pun menurut. Dia berusaha memanjat pohon kelapa tetapi tubuhnya sedang lemas, tidak bertenaga. Dia pun terjatuh ke parit. Dahlan merasa sangat bersalah. Sikap egois ternyata ada konsekuensinya. Sikap seperti itu bisa menyebabkan seseorang terluka, mungkin memang bukan terluka secara fisik (seperti yang dialami Zain), tetapi bisa juga terluka secara psikis. Itu konsekuensi dari bersikap egois. Memang setiap hal ada konsekuensinya.

Buku “Sepatu Dahlan” menggambarkan petualangan Dahlan dari lulus SD hingga lulus Madrasah Alawiyah. Selama itu Dahlan punya satu cita-cita. Memiliki sepatu. Akhirnya, Dahlan memang memiliki sepatu, tetapi selama perjalanannya memperoleh sepatu, ada begitu banyak hal yang dilalui oleh Dahlan. Mulai dari ketahuan mencuri tebu sehingga dikejar-kejar pedagang ladang tebu, ditegur saudagar buah karena Dahlan (tidak sengaja) merusakkan sepeda temannya, sampai nyaris kehilangan persahabatan. Di setiap kejadian tersebut, Dahlan belajar bahwa apapun yang dia lakukan pasti ada konsekuensinya. Kalau melakukan hal buruk, pasti konsekuensinya sesuatu yang tidak mengenakkan mulai dari merasa bersalah, ada kejadian yang tidak mengenakkan, dan sebagainya.

Di sisi lain, Dahlan juga belajar bahwa saat melakukan hal yang baik juga akan ada hal yang bisa dipetik, meskipun tidak selalu seketika. Kesungguhan Dahlan saat bermain dalam pertandingan voli antar sekolah membukakan kesempatan baginya untuk bekerja sebagai pelatih voli. Penghasilannya dari sana membantunya mengumpulkan uang untuk membeli sepatu.

Menjunjung tinggi persahabatan juga penting. Dahlan punya sahabat-sahabat bernama Arif, Imran, Maryati, Komariah, dan Kadir. Dipicu oleh suatu peristiwa sejarah pada tahun 60-an, yang berpengaruh pada aspek-aspek pribadi, seperti keluarga menyebabkan Arif dan Kadir pernah tidak mau saling bertegur sapa. Hal tersebut menyebabkan kakunya hubungan antara semua, baik Dahlan maupun Arif, Imran, Maryati, Komariah, dan Kadir. Dengan bantuan Bapaknya, Dahlan mencoba membantu mendamaikan keduanya. Bapak mengundang Arif, Imran, Maryati, Komariah ke rumah kemudian menceritakan sebuah kisah tentang “Perseteruan Murid Zen” mengenai peseteruan antara tiga orang sahabat, yang masing-masing merasa paling benar.  Kisah tersebut menyentuh hati remaja-remaja yang sedang dilanda krisis persahabatan tersebut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memperbaiki hubungan satu sama lain. Apa serunya melewati sisa masa sekolah dengan sikap dingin satu sama lain? Lebih baik memperkokoh persahabatan agar semua individu juga menjadi lebih kokoh. Persahabatan bisa menjadikan seseorang menjadi lebih kuat, karena seorang sahabat pasti akan mendukung kita di saat terberat. Masalah yang menyusahkan jadi lebih mudah dilalui. Hal tersebut tak akan bisa dilakukan sendiri.

Saat sebuah cita-cita sederhana, seprti memiliki sepatu, tercapai biasanya seseorang memiliki percaya diri untuk melangkah ke tahap selanjutnya, mungkin sebuah cita-cita yang lebih besar. Ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah kuno Cina “A journey of a thousand miles begin with a small step” yang artinya sebuah perjalanan beribu mile dimulai dengan sebuah langkah kecil. Intinya sebuah pencapaian besar hanya bisa kita dapatkan setelah kita melakukan pencapaian-pencapaian kecil.

Meskipun begitu cita-cita sekecil apapun pasti ada konsekuensinya. Berani bercita-cita artinya juga harus berani untuk sabar, merasa kecewa, merasa seperti roller coaster karena banyak hal yang tidak akan terduga. Tapi kalau kita teguh hati dan pantang menyerah, satu langkah akan berhasil kita lewati. Dan langkah lain akan siap menanti. Berani?