Jan 30, 2015

Menonton "The Teacher's Diary" dan Renungan Tentang Kekuatan Tulisan Seorang Guru

Semalam saya nonton film "The Teacher's Diary", atau dalam bahasa aslinya (bahasa Thai) berjudul "Khid Thueng Withaya", karya Nithiwat Tharaton. Kalau penasaran, trailernya bisa dilihat di :



Dalam beberapa aspek, film ini seperti kisah cinta yang cliche. Ada guru perempuan muda cantik bernama Ibu Ann yang mengajar di "sekolah kapal", di sebuah daerah terpencil, jauh  dari kota. Namun dia selalu galau memilih antara harus kembali ke kota, menikah dengan calon suaminya yang memintanya mengajar di sebuah sekolah besar di kota. Sekolah tempat Bu Ann mengajar merupakan sekolah kecil di atas kapal, di pinggir laut, dan hanya memiliki tujuh orang siswa. Meski calon suami Bu Ann adalah sesama guru, dia tidak memahami kenapa Bu Ann masih mau mengajar di sana. Untuk apa mengajar di tempat yang sulit diakses dan hanya memiliki tujuh orang siswa?

 Saat Bu Ann sempat memutuskan untuk kembali ke kota dan (hampir) menikah dengan pasangannya (yang ternyata punya pasangan lain). Guru pengganti yang bernama Pak Song juga sama galau-nya. Pasangannya yang tinggal di kota tak mengerti pilihannya untuk mengajar di daerah terpencil.

Namun, meski Bu Ann dan Pak Song mengajar di sekolah yang sama pada waktu yang berbeda, mereka dipersatukan oleh satu hal. Buku diary! Selama mengajar di sekolah kapal, Bu Ann selalu menuliskan diary tentang kesehariannya. Saat Bu Ann pindah ke kota, Pak Song membaca diary ini, dan tulisan Bu Ann menginsprasinya untuk menjadi guru yang lebih baik. Pak Song pun mengisi diary tersebut dengan kisah-kisahnya sebagai guru. Pak Song sempat kembali ke kota karena suatu alasan. Saat itulah Bu Ann kembali ke sekolah kapal dan menemukan diary yang telah diisi oleh Pak Song. Seperti bagaimana Bu Ann menginspirasi Pak Song melalui tulisannya, tulisan Pak Song juga menginspirasi Bu Ann. Katanya, "Pak Song mengingatkan saya mengenai alasan pertama saya untuk menjadi guru."

Yang menarik adalah bahwa pada dasarnya Bu Ann dan Pak Song adalah dua guru yang kepribadian dan kompetensinya pun berbeda satu sama lain. Bu Ann pada dasarnya adalah pemberontak. Dia pernah ditolak mengajar di sebuah sekolah karena tangannya bertato. Tato bergambar bintang. Meskipun begitu, hatinya baik, orangnya hangat, berani, berdedikasi, mandiri, cerdas, kreatif, dan benar-benar punya cita-cita mulia mencerdaskan siswa-siswanya. Katanya, "Saya tak menyangka tato bintang lima membawaku ke tempat sejauh ini."

Pak Song, sebenarnya lebih kaku dan kadang penakut. Waktu awal mengajar Pak Song sempat memarahi siswanya karena mereka berenang di laut sebelum jam pelajaran. Sebagai orang kota yang tidak terbiasa berenang di tengah laut, beliau ketakutan bahwa siswanya akan ada dalam bahaya. Yang Pak Song lupa adalah bahwa siswa-siswanya memang terbiasa hidup di laut, mungkin tak beda jauh dengan anak-anak suku Bajo yang berenang di laut setiap hari. Pak Song juga payah dalam matematika. Ini kadang menyulitkannya ketika mengajar. Namun, beliau tak keberatan belajar lagi dari nol, tujuannya agar bisa mengajar siswanya dengan lebih baik. Menurut pengalamannya untuk strugling  dalam belajar justru membuatnya menjadi guru yang lebih baik.

Film ini menggambarkan bagaimana kekuatan tulisan seorang guru, apalagi ketika ditulis dengan hati bisa menginspirasi guru yang lain. Sebaik apapun guru, guru juga manusia yang kadang punya rasa lelah, mengalami burn out karena adanya berbagai tekanan, tak jarang melakukan kesalahan dan membuat pilihan bodoh, dan kadang bisa kehilangan motivasi mengajar. Tulisan dari sesama guru tentang keseharian mengajar dan belajar  bisa menjadi kekuatan dan motivasi bagi guru yang lainnya. Jadi tunggu apa? Teman-teman guru dan pendidik, mari menulis!

Jan 27, 2015

Belajar di Coursera (1)

Menyelesaikan kelas di Coursera ( https://coursera.org ) memang butuh disiplin tinggi. Di tengah kesibukan ini itu, setidaknya setiap minggu kita harus menyediakan waktu untuk mendengarkan kuliah, mengerjakan tugas dan kuis.

Berbeda dengan teman saya, Ibu Amelia Kesuma, guru inspiratif dari Salatiga (lihat : http://www.ameliasari.com/2012/09/saya-keranjingan-belajar-di-coursera.html ) , saya belum pernah menamatkan satu pun kelas di coursera. Waktu awal tahu tentang coursera, saya mendaftar 3 kelas sekaligus. Maruk? Iya! Tamat? Ngak! Bahkan untuk masing-masing kelas saya hanya sekali saja melihat video pembelajaran. Ngerjain tugas ngak, apalagi ikut kuis. Payah banget deh!

Daripada rakus seperti sebelumnya tapi tidak ada kemajuan , akhirnya saya memilih mengambil satu kelas dalam waktu tertentu. Tapi itu pun tak pernah saya tamatkan, meskipun dibandingkan sebelumnya, saya jadi lebih banyak menonton video pembelajaran, membaca, dan pernah sesekali mengerjakan tugas dan kuis. Tapi belum sampai tamat.

Kali ini saya benar-benar punya target menamatkan satu kelas di Coursera. Minggu ini saya akan memulai kelas "American Education Reform: History, Policy, Practice" yang difasilitasi oleh Mike dan John, dua profesor dari Graduate School of Education, University of Pensylvania. 

Kenapa saya ambil kelas ini? Ngapain belajar tentang reformasi pendidikan di negara lain, dalam hal ini Amerika Serikat? Pada dasarnya, sih ingin belajar saja. Saya memang tertarik pada reformasi pendidikan.  Selain itu, menurut saya tak ada salahnya belajar tentang reformasi pendidikan di konteks lain, yang bukan Indonesia. Belajar reformasi pendidikan di negara apapun akan tetap menarik bagi saya. Toh apapun yang saya pelajari, pasti akan saya refleksikan terhadap konteks di Indonesia. Apakah saya akan berhasil menamatkan kelas ini? Mudah-mudahan saya cukup disiplin yah. Kalau berhasil tamat (ataupun tidak), I'll let you know

Jan 19, 2015

Bertemu Icha di Selasar Sunaryo

Sabtu, 17 Januari 2015 beberapa keluarga saya berkumpul di Bandung karena sepupu saya akan melamar seorang perempuan Bandung keesokan harinya. Kami ke Bandung dalam rangka menghadiri upacara lamaran tersebut.

Sabtu sore, kami tak begitu banyak kerjaan. Sepupu saya Hanny dan ibunya, Bule Dian ingin jalan-jalan ke museum. Karena kami menginap di sekitar Dago atas, jadi salah satu museum terdekat yakni Selasar Sunaryo (lihat: http://www.selasarsunaryo.com/ ). Kami pun pergi ke sana.

Saat masuk ke Selasar Sunaryo,  saya bercerita pada Hanny, "Saat krisis moneter tahun 1998, sebagai ekspresi kritik Sunaryo terhadap kondisi Indonesia di masa tersebut, semua karya-karya Sunaryo dibungkus dengan kain hitam. Semacam ekspresi duka terhadap kondisi Indonesia saat itu. Sekarang sudah ada beberapa karya yang tidak dibungkus dengan kain hitam."

Tak lama kemudian saya mendengar seseorang memanggilku, "Kakak! Apa kabar?"

Ternyata yang memanggilku adalah Icha.  Icha dulu suka ikut kelas bahasa Inggris di Rumah Mentari tapi sekarang sudah jarang karena sibuk bekerja.

"Sekarang di sini?" tanya saya.

"Iya, sekarang saya di sini, ngurusin administrasinya begitu. Kalau mau, tanggal 23 Januari 2015 kita ada acara juga. Kalau mau, bisa ajak anak-anak Rumah Mentari."

Icha pun menemani kami  beberapa karya di Selasar Sunaryo.

"Ini pohon beton, "kata Icha menunjuk sebuah karya yang bagian akar dan batangnya terlihat seperti pohon tapi bagian atasnya bukan daun melainkan semacam tiang-tiang beton. Mungkin karya itu merupakan kritik Sunaryo terhadap pembangunan yang terus-menerus tanpa mempertimbangkan faktor keberlanjutan alam.


Lalu Icha mengajak kami mengintip suatu ruangan. RDinding dan langit-langit ruangan tersebut didominasi warna hitam. Lalu terlihat banyak instalasi yang bentuknya seperti pohon yang baru ditebang.

“Ini namanya ruang ‘Titik Bumi. Itu pakai kaca (cermin) untuk memberikan efek pohonnya banyak,” kata Icha. Untuk tahu lebih lanjutr tentang instalasi Titik bumi, bisa lihat di http://properti.kompas.com/read/2010/11/21/13074834/Mendengar.Suara.Alam.yang.Sakit 

Kami lalu mengintip ruangan di sebelahnya. Lantainya seperti retak-retak, "Ini apa ceritanya?"

"Itu menggambarkan lumpur Lapindo," Icha menjelaskan.
Setelah melihat instalasi-instalasi seni, kami menuju teras.
"Kerja di sini, pasti banyak belajar hal baru yah?" tanya saya.
"Iya, senang kalau di sini rasanya belajar terus," jawab Icha. Lalu dia menambahkan,"Kapan-kapan mau belajar bahasa Inggris lagi di Rumah Mentari. Tapi jadwal belajarnya belum pas karena saya biasanya pulang kerja jam 5. Yang datang ke sini seringkali orang-orang dari berbagai negara. Kadang butuh bahasa Inggris untuk komunikasi dengan mereka."

Sebelum pulang, saya ajak Icha berfoto. Buat kenang-kenangan. :)


Jan 12, 2015

Tentang Membacakan Cerita di Rumah Mentari

Saya biasanya jarang datang ke Rumah Mentari di hari Minggu pagi. Biasanya saya datang, di hari Sabtu, itu pun dua minggu sekali. Di hari Sabtu, ada kelas bahasa Inggris untuk siswa SMP dan SMA. Saya biasanya suka menyempatkan mengajar di kelas tersebut. Kak  Arfah, Kak Anug, ataupun Kak Angga juga kadang mengajar di kelas tersebut.

Anak-anak di Rumah Mentari
Sumber gambar : Larasati Putri Purwono

Pada hari Minggu kebanyakan  anak yang datang ke Rumah Mentari adalah siswa SD, ada juga yang TK. Yang datang biasanya 20 anak, tapi kadang bahkan bisa lebih dari 50. Kini, kakak-kakak yang bertanggung jawab mengatur kegiatan di hari Minggu adalah Kak Hipna dan Kak Santi.

Kak Hipna adalah siswa Rumah Mentari yang kini telah  menjadi pengjar di Rumah Mentari. Hipna telah bergabung di Rumah Mentari sejak awal Rumah Mentari didirikan,  tahun 2007. Waktu itu usia Hipna sekitar 15 tahun.Bersama dengan Sri Mulyani, Sri Astuti, Dendi, dan Siti, Hipna belajar di Mentari untuk mempersiapkan diri mengikuti Ujian Kejar Paket B dan belajar hal-hal lain seperti sastra bersama Pak Gamesh.

Setamat dari program kejar paket B, Hipna melanjutkan sekolah SMK  jurusan Tata Boga dan kini menjadi chef di Wisma Joglo, Bandung. Sambil menjadi chef, kini Hipna senantiasa menyempatkan diri untuk kembali ke Rumah Mentari, setiap hari Minggu, untuk mengajar.

Kak Santi, yang menemani Hipna mengajar di hari Minggu adalah lulusan SMK Farmasi yang kini bekerja di sebuah Apotek di Dipati Ukur dan kini sedang menyiapkan diri untuk bisa melanjutkan kuliah S1 di bidang Farmasi (mohon doanya agar tahun depan santi diterima di universitas yah!).

Kegiatan hari Minggu biasanya dimulai pukul8 pagi. Baik Hipna maupun Santi nyaris tidak pernah absen untuk datang mengajar. Anak-anak diajak belajar berbagai hal, kadang matematika, bahasa Inggris, menggambar, mengarang, dan juga memasak. Anak-anak pernah diajak oleh Kak Hipna belajar membuat pecel dan donat.  Karena keterbatasan alat untuk memasak, biasanya kegiatan memasak diusahakan tanpa menggunakan api.  Sesekali Kak Hipna dan Kak Santi, bekerja sama dengan kakak-kakak yang lain mengajak anak jalan-jalan. Anak-anak pernah diajak ke Museum Geologi, Kebun Binatang, dan yang terakhir berenang di Sabuga. Agar bisa berenang di Sabuga, anak-anak diminta menabung sehingga bisa membeli tiket masuk kolam.

Beberapa minggu yang lalu, pada suatu Minggu pagi, saya mampir ke kegiatan Rumah Mentari. Kebetulan sehari sebelumnya saya menemukan sebuah potongan cerita anak dari Koran Kompas, judulnya, "Rambas Tidak Sedih Lagi" karya Iwok Abqory. Cerita tersebut sebenarnya juga bisa didapatkan online melalui website Nusantara Bertutur di http://nusantara-bertutur.org/#dongeng

Ketika saya membaca cerita  tersebut saya pikir, "Asyik nih kalau dibacakan ke anak-anak Rumah Mentari."

Saya tak punya niat khusus selain berbagi keasyikan membaca cerita.

Minggu pagi tersebut, saya izin pada Kak Hipna dan Kak Santi, "Bolehkah saya membacakan cerita ini untuk anak-anak?"

Mereka membolehkan. Saya ambil sebuah kursi dan duduk dan mulai membacakan cerita tersebut. ada dua puluhan anak duduk mendengarkan. Semua serius. Sesekali saya mengajukan pertanyaan terkait cerita, "Siapa tokoh utamanya?", "Apa yang terjadi pada Burung Kasuarinya?", "Kalian pernah tidak merasa minder, seperti burung Kasuari?".

Cerita tersebut adalah cerita tentang burung Kasuari yang minder karena dia tidak secantik Burung Cendrawasih, tak setampan Kakak Tua Raja, dan suaranya sama sekali tidak merdu seperti burung-burung lainnya. Namun ternyata kakinya burung kasuari kuat dan larinya kencang. Kelebihannya ini yang membuatnya mampu menyelamatkan seorang anak Kangguru yang tersangkut semak-semak.

Sambil membaca cerita, kadang saya mengajak anak-anak ngobrol misalnya tentang Indonesia. Apakah mereka tahu Papua ada di mana? Sayangnya waktu itu saya tidak membawa peta tapi saya katakan bahwa Papua ada di Timur Indonesia. Saya juga menerangkan apa yang dimaksud dengan Taman Nasional, yakni semacam hutan yang dilindungi.


Cerita "Rambas Tak Sedih Lagi" sebenarnya cerita yang sederhana, tapi banyak hal baru yang bisa dipelajari dari cerita tersebut.  Hal menarik yang sempat diobrolkan adalah mengenai kangguru. Saya tanyakan, "Tahu tidak kangguru seperti apa?"

Ada anak-anak yang bisa menjawab, bahwa kangguru adalah binatang yang suka melompoat-lompat dan punya kantung. Ibu kangguru punya kantong yang membawa anak-anaknya.

Saya sempat bertanya, "Di Indonesia ada kanguru tidak?"

Terdengar teriakan dari anak-anak, "Tidaaak!"

Ada satu anak yang menjawab, "Adanya di Australia.

Saya ceritakan bahwa di Indonesia juga ada kanguru, salah satunya di Papua (lihat : https://www.youtube.com/watch?v=tmXDG-eCbUY). Beberapa daerah di Indonesia, khususnya di daerah Indonesia Timur punya binatang-binatang yang mirip dengan di Australia.

Niat saya membacakan cerita sebenarnya tak muluk. Hanya berbagi kesenangan terhadap cerita. Waktu yang saya perlukan untuk kegiatan tersebut juga tidak banyak, sekitar 15 menit. Namun kegiatan sederhana tersebut, bisa membuat anak belajar beberapa fakta baru, mendiskusikan perasaan, dan juga menarik minat mereka terhadap bacaan.

Kemarin, Minggu 11 Januari 2015, pk 12.30,  saya datang ke Rumah Mentari untuk suatu keperluan. Anak-anak TK dan SD kebanyakan sudah pulang tapi ada Dela. Dela merupakan siswa kelas satu SD. Selain Dela, ada juga Salwa dan Salma. Salwa dan Salma adalah anak dari Bu Dewi dan Pak Lala, yang memiliki rumah yang menjadi basis kegiatan Rumah Mentari. Baik Dela, Salma, dan Salwa sedang mengelilingi sebuah buku, judulnya "Rahasia Putri yang Suka Kentut" karya Kee Sun Jang, terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Sumber gambar : http://old.bukabuku.com/browse/bookdetail/71466/seri-ilmuwan-cilik-pencernaan-rahasia-putri-yang-suka-kentut.html 


Sambil membuka-buka buku mereka tertawa-tawa sendiri. Dela berkata, "Ini buku tentang putri yang suka kentut. Wah banyak sekali kentutnya!"

Salma menambahkan, "Kalau dia makan telur, kentutnya suka bau telur."

Kenapa buku itu yang dibuka? Ternyata paginya, Kak Hipna membacakan buku tersebut untuk anak-anak. Kata Kak Hipna, "Sekarang anak-anak ketagihan, setiap kita datang, mereka minta dibacakan cerita. Tadi pagi, itu cerita yang dibacakan"

Buku "Rahasia Putri yang Suka Kentut" sebenarnya cerita tentang pengaruh makanan terhadap pencernaan. Makanan-makanan tertentu meningkatkan kadar gas di dalam perut. Secara tidak langsung buku tersebut mengajarkan anak-anak untuk aware terhadap apa yang dimakannya.

Tentu kalau membacakan cerita bagi anak, kita tidak bisa mengharapkan mereka langsung memahami semua yang ada dalam cerita.  Salma misalnya selalu mengingat bahwa telur membuat kentut putri berbau seperti telur, Dela menginga bahwa putrinya suka kentut. Cerita boleh sama, tapi apa yang berkesan bagi masing-masing anak belum tentu sama. Tentu, mengajak anak membahas cerita, misalnya dengan tanya-jawab, bisa membantu anak untuk lebih memahami isi cerita. Namun, untuk langkah awal, rasanya kita sebagai orang dewasa tidak perlu terlalu ambisius bahwa anak harus paham semua bagian dalam cerita. Mengajak mereka menikmati cerita saja dulu pun tidak apa-apa!

Jan 6, 2015

Belajar dari Rakhmi Ramdhani

Kemarin, iseng saya kontak sahabat saya, Rakhmi Ramdhani untuk ketemuan. Kami tinggal tidak terlalu berjauhan (Rakhmi di Kalibata, saya di Tebet) tapi belakangan ini agak jarang bertemu. Ketemu kemarin, sekadar untuk catch up  tentang perkembangan terbaru.

Rakhmi adalah salah satu teman yang penting dalam perkembangan karir saya. Sekitar tahun 2011, sahabat saya Imoth, menceritakan bahwa Rakhmi sedang mencari orang yang mau membantunya mengajar privat, khususnya untuk bidang Matematika dan Fisika. Saat itu Rakhmi sedang kebanjiran panggilan mengajar privat. Rakhmi lebih banyak mengajar Biologi, meskipun kadang murid privatnya juga memintanya mengajarinya hal-hal lain seperti matematika dan sejarah. Sebelumnya, Rakhmi sempat bekerja di sebuah bimbingan belajar yang juga memproduksi video-video pembelajaran.

Setelahnya, Rakhmi menjadi guru Biologi di sebuah SMP dan di sekitar 2011 banyak mengajar privat. Saya pun menawarkan diri untuk jadi guru privat. Lumayan kan untuk penghasilan tambahan. Lagipula saya selalu suka mengajar.

Rakhmi mengenalkan saya kepada beberapa murid privat. Kebanyakan tinggal di daerah Tebet, Asam Baris, tapi ada juga yang di daerah Cikini, Rawamangun, dan ada juga yang lebih jauh, di Taman Mini. Kebanyakan adalah siswa SMP meskipun juga ada siswa SD maupun SMA. Masa-masa itu, hampir setiap malam saya disibukkan dengan mengajar dari satu rumah ke rumah lainnya. Kadang bisa ke tiga rumah sekaligus. Di masa itu juga saya sering mampir ke rumah Rakhmi, biasanya setelah mengajar. Kadang juga menginap. Rakhmi selalu jadi teman diskusi yang mengasyikkan. Dengannya saya bisa banyak berbagi pemikiran baik tentang  pendidikan, pengajaran, maupun kehidupan secara umum.

Lama-kelamaan hidup kami berkembang. Selain sibuk di Ikatan Guru Indonesia, saya juga mulai disibukkan dengan mengajar di kampus. Jumlah murid privat kami pun berkurang. Rakhmi juga tiba-tiba mendapatkan pekerjaan sebagai kepala sekolah di suatu TK.  Usia Rakhmi sekitar dua tahun di bawah saya. Di usia yang belum sampai 30 tahun dia sudah punya tanggung jawab untuk mengorganisir suatu sekolah! Kami jadi tidak terlalu sering bertemu. Kalaupun bertemu biasanya di workshop atau seminar pendidikan. Sesekali saya mampir untuk menginap di rumahnya. Lumayanlah bisa saling catch up!

Selama jadi Kepala Sekolah saya banyak belajar dari Rakhmi. Dia sering menceritakan berbagai tantangan dalam menjadi kepala sekolah, baik kesibukannya maupun tantangannya dalam mengajak rekan-rekan guru untuk lebih sadar tentang isu-isu seperti hak anak, pentingnya bermain bagi anak, dan bahwa anak TK seharusnya tidak dicecali dengan lembar-lembar kerja yang tidak sesuai perkembangan anak.

Dari cerita-cerita Rakhmi saya belajar banyak hal. Rakhmi selalu mengatakan bahwa meskipun dalam di sekolahnya tempat mengajar ada kondisi-kondisi yang tidak ideal (seperti halnya di manapun), tapi dia bisa tetap belajar banyak dari sana. Rakhmi belajar bagaimana beberapa guru sangat handal dalam menghadapi anak, sistem pengelolaan TK baik di level sekolah, maupun di level rayon, dan banyak hal lain.

Meskipun sebagai kepala sekolah Rakhmi banyak sibuk dengan kegiatan administrasi, Rakhmi selalu menyempatkan masuk kelas untuk observasi dan juga ikut mengajar. Untuk memperluas wawasan guru-gurunya, beliau sering mengajak guru untuk ikut pelatihan, atau bahkan mengajak mereka ekskursi ke sekolah lain. Saat melakukan ekskursi ke salah satu sekolah, guru-guru dipecah menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diminta untuk mengamati aspek tertentu di sekolah, Misalnya, kelompok A mengamati kegiatan X, kelas B mengamati kegiatan Y, dan seterusnya. 

Setelahnya, guru-guru diminta berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan guru yang lain. Ternyata masing-masing kelompok punya pengalaman berbeda meskipun mengamati sekolah yang sama. Setelah diskusi, akhirnya guru-guru mempunya pandagan yang lebih menyeluruh mengenai sekolah yang baru dikunjunginya.

Suatu hari Rakhmi menceritakan pengalamannya dalam membacakan cerita untuk siswa (Reading-Out-Loud). Meskipun Reading-Out-Loud sebenarnya adalah kegiatan itu sederhana, hanya butuh 10 – 15 menit, dan bisa dilaksanakan setiap hari, di sekolah tersebut sebelumnya hampir tidak pernah dilakukan kegiatan semacam itu. Ternyata siswa senang dengan kegiatan Reading-Out-Loud. Setelah merasakan dibacakan cerita sekali, siswa-siswa kegirangan dan keesokannya ada beberapa siswa yang membawa buku sendiri dan meminta pada gurunya untuk membacakannya. Satu kegiatan tapi menular!

Rakhmi juga membuat terobosan di sekolahnya dengan membuat semacam klub sains di sekolahnya. Rakhmi memang pada dasarnya suka sains. Siswa-siswa diajak melakukan percobaan sederhana, misalnya menyemplungkan benda (misalnya buah tertentu) ke dalam. Kalau benda itu terapung, siswa diminta memikirkan caranya membuat benda itu tenggelam. Anak-anak jadi penasaran. Ada yang mengikatkan benda dengan benda yang lebih berat, ada yang mencoba membelah benda menjadi dua bagian, dan banyak lagi. Dengan adanya kelas sains, anak-anak bisa belajar bahwa common sense bisa menipu. Saat melakukan percobaan, dikira “ini” yang akan terjadi, tahunya yang terjadi lain sama sekali. Siswa juga belajar untuk mengajukan pertanyaan (merangsang berpikir kritis), belajar dengan cara yang menyenangkan (kadang bahkan siswa tidak mau pulang saking senangnya).

Sekitar tahun lalu, Rakhmi berhenti dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah dan kini sedang memulai sebuah usaha di bidang pendidikan yang namanya Gen Cerdik. Gen Cerdik adalah sebuah lembaga yang menawarkan semacam kegiatan after school.  Gen Cerdik menawarkan kegiatan Fun Science, Literacy Program, dan Spatial Space, dan Quran Learning for Kids.  Website Gen Cerdik bisa dilihat di http://gencerdik.com/

Fasilitator-fasilitator di Gen Cerdik, selain harus bisa menemani anak-anak “belajar sambil bermain” juga punya tanggung jawab untuk membuat anectdotal records terkait perkembangan anak. Catatan-catatan ini biasanya disampaikan kepada orang tua dalam bentuk semacam “rapor naratif”. Tentang hal ini, saya akan ceritakan di kesempatan lain.

Intinya, kemarin saya bertemu Rakhmi dan sekali lagi belajar banyak darinya. Dia menceritakan tentang perkembangan Gen Cerdik dan berbagai hal baru yang dipelajarinya, misalnya pengalamannya bekerja sama dengan Rimba Baca (http://rimbabaca.com/v02/ )  untuk mengajak anak-anak di Rimba Baca melakukan percobaan sains. Rakhmi juga bercerita bagaimana dia membuat semacam pamflet-pamflet kecil, sehalaman-sehalaman, berisi percobaan-percobaan sains sederhana yang bisa dicoba di rumah oleh anak bersama orang tua. Pamflet ini dibagi-bagikan ke orang tua secara cuma-cuma. Idenya yang terakhir ini menurut saya menarik. Menyebarkan bacaan dengan modal secarik kertas tapi bisa digunakan untuk mendidik pembaca, dalam hal ini orang tua. Ide sederhana yang brilian!


So, thank you Rakhmi for the lovely meeting yesterday! I’ve learnt so much from you!