Dec 31, 2015

The Future of Education: Journal Reflection 1 (Part 1)

Based on your experience as a learner, what do you think you will be able to get out of this course? 

Since a few years ago, I started having a very ambitious dream. I wanted to write a blue print about the future of Indonesia's education.

Then, one day, coincidentally, I was watching a TEDx London talk by Ken Spours.  He mentioned that to revolutionize the education in England  "we should start by trying to agree about our value". In his talk he mentioned three main values. First, that everybody counts, everybody can be educated, everybody is educable, and  everybody can both think and do. Second, that we must consider the law of care, which meant that the ones   who need the most must get the most.Third, he argued that we should move from the word "versus" toward the word "and". For example, the term "subject versus real life experiences" and "knowledge versus skills" should rather be "subject and real life experiences" and  "knowledge and skills".

Although Ken Spours was talking about the education in England, I could relate with his speech, especially about the three values mentioned above. I think those values can also apply in the context of Indonesia.

So, I searched more about Ken Spours on the internet.Then, I found a document which was edited by Ken Spours and Neal Lawson. The name of the document is "Education for The Good Society: The Values and Principles of A New Comprehensive Vision." After reading that document, I remembered my dream of creating the blue print.

A friend of mine, named Ibu Weilin Han also wanted to develop a blue print about the future of Indonesia's Education. So, we decided to arrange meetings with a few educators to talk about our dreams about Indonesia's education. We had a few meetings and discussed a lot of things, one of was "what do we want the purpose of education (in Indonesia) to be like?" Then, we started re-reading the about the Indonesian constitution, old documents about Indonesian education, about the vision of Indonesia's founding fathers. We hoped that by trying to understand the past we could make more sense of the present and also help in designing the future.

After a few meetings, I realized that developing a blue print is not easy at all. To develop a blue print,
we need to learn a lot of things, talk to more people, and also reflect deeply on what we really want the future of education to be like. The blue print is not finished yet and we might need quite a lot of time before we finish developing the blue print.

I was interested in this course because I thought that this course might help me me reflect on what I want the future of education to be like, including in the Indonesian context. Hopefully, it will help me in developing the blue print that might be finished one day later.


And what ideas do you already have about the future of education?

(I'll answer this in my next post)

Oh, Saya Cari Gara-gara!

Sumber : http://www.vasanthk.com/wp-content/uploads/2015/03/Promise-Quote.jpg

Beberapa bulan yang lalu, saya cari gara-gara.  Begini ceritanya. Sudah sejak tahun 2007, teman-teman dan saya mendirikan Sekolah Rumah Mentari (sebuah komunitas belajar). Di sana kami banyak berkegiatan bersama anak-anak di Kampung Sekepicung, kadang juga bersama pemuda, ibu-ibu, maupun bapak-bapak yang ada di Kampung tersebut. Kegiatannya bervariasi dari kegiatan belajar bersama (matematika, bahasa Inggris, memasak), jalan-jalan, bermain drama, berkebun, dan banyak lagi. Namun, saya merasa ada yang kurang. Saya ingin berjejaring dengan guru-guruyang mengajar di sekolah-sekolah di sekitar Sekolah Rumah Mentari. Siapa tahu ada kesempatan untuk berinteraksi dan bekerja sama. 

Jadi, saya mulai dengan mengunjungi salah satu sekolah, sebuah SD,  yang letaknya tak jauh dari Kampung Sekepicung. Bu Dewi (teman yang rumahnya kami pakai untuk kegiatan Sekolah Rumah Mentari) menemani saya untuk mengunjungi salah satu sekolah yang letaknya di atas bukit. Saya datang ke sana untuk berkenalan dengan guru-gurunya.

Sesampai di SD tersebut, saya disapa oleh beberapa anak yang sedang belajar di lapangan.
"Kak Puti!" kata mereka sambil melambaikan tangan. 

Memang ada beberapa anak-anak yang suka belajar di Sekolah Rumah Mentari yang juga bersekolah di SD tersebut. 

Bu Dewi mengenalkan saya dengan guru-guru di sekolah tersebut. Saya diajak untuk masuk ke ruang guru yang ukurannya sekitar 6 x 6 meter persegi. SD tersebut memiliki 10 orang guru. Namun, saat itu saya ngobrol dengan  5 guru saja.. Semuanta perempuan. Yang lain sedang mengajar atau sedang tidak di lokasi. 

Kami ngobrol tentang kegiatan pengembangan profesi. Di sana memang belum ada kegiatan pengembangan profesi yang sifatnya rutin, baik mingguan, atau bulanan. Dua orang guru mengatakan bahwa mereka sempat Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diselenggarakan pemerintah. 

Saya pun bertanya, "Kalau ada kegiatan pengembangan profesi, kira-kira ibu-ibu mau belajar mengenai apa?"
Ada guru yang menyampaikan bahwa beliau ingin belajar caranya mengajarkan anak agar cepat membaca, ada yang mengatakan bahwa  beliau ingin belajar caranya mengajarkan anak agar bisa menghafalkan surat (Al'Quran) dengan cepat. 

Awalnya, mungkin secara tidak sengaja, saya sempat sedikit judgmental. Kenapa ingin belajar caranya mengajarkan A, B, dan C secara lebih cepat? Membaca lebih cepat, menghafalkan lebih cepat. Tujuannya untuk apa? Tapi saya mencoba untuk tidak terlalu cepat menilai. Sebenarnya, guru-guru tersebut sangat bersemangat. Mereka ingin belajar.Tentu saja itu harus diapresiasi.  

Saya pun mengatakan, bahwa saya tidak keberatan untuk sesekali main ke sekolah untuk menemani mereka belajar. Modelnya santai saja. Modelnya dengan ngobrol   saja, misalnya tentang pembelajaran. Masalahnya, saya tidak selalu ada di Bandung (sehari-hari saya bekerja di Jakarta). Jadi, saya harus menunggu sampai memang punya jadwal yang pas untuk ke sana. Mereka punya menyambut dengan baik, sambil menyampaikan bahwa sebaiknya sesi-sesi tersebut diadakan sepulang sekolah, sekitar pk 13.00 sampai pukul 16.00. Tujuannya, agar mereka punya waktu untuk pulang ke rumah dan memasak untuk keluarga (sebagian guru adalah perempuan). 

Sepulang dari SD tersebut saya mengutuk-ngutuk diri saya sendiri, "Halah! Cari gara-gara! Sekarang saya berutang janji pada guru-guru tersebut. Bisakah saya memenuhi janji tersebut?". Saya belum sempat ke sekolah itu lagi, dan ternyata guru-guru tersebut sering menitipkan pesan pada Bu Dewi agar saya segera mampir ke sekolah. Sampai sekarang saya dag dig dug serrr.. kalau mengingat janji saya pada guru-guru di sekolah tersebut. Saya harus segera mengatur waktu untuk mampir ke sana.

Saya sempat menceritakan hal ini pada Mbak Ifa Misbach, seorang psikolog yang juga dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Rumah Mbak Ifa tak jauh dari sekolah tersebut. Yang lebih menarik, Mbak Ifa sering membiarkan mobilnya menjadi tumpangan anak-anak SD yang bersekkolah di sekolah tersebut.  Betapa leganya, ketika beliau mengatakan mau membantu saya untuk 'main' ke sekolah tersebut. Ibunya Mbak Ifa, yang juga senang mengajar pun bersemangat untuk berkegiatan di SD tersebut. Kami akan segera mengatur waktu agar bisa mampir ke sekolah tersebut dan belajar bersama di sana. Doakan usaha kami lancar yah!  :) 

Dec 29, 2015

Refleksi tentang Empat Pilar Pendidikan (Learning to Know, Learning to Do, Learning to Live Together, Learning to Be)

Sumber : http://weknowyourdreams.com/ 




Saya sudah sering mendengar mengenai empat pillar pendidikan yang dikemukakan oleh Dellors, et.al, (1996) dalam naskah Learning: The Treasure Within. Menurut beliau, ada empat tujuan pendidikan yakni :

  1. Learning to know (belajar untuk tahu)
  2. Learning to do (belajar untuk bisa melakukan)
  3. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
  4. Learning to be (belajar untuk menjadi)
Namun, ketika saya mendengarkan salah satu kuliah online "What future for education"  via Coursera.org, saya merasa menemukan sebuah pemaknaan baru, khususnya ketika saya merefleksikan tujuan-tujuan tersebut dengan praktek pendidikan yang terjadi di sekolah. Pada kenyataannya, ada beberapa (banyak?) sekolah yang hanya fokus pada satu atau dua tujuan di atas. Bagaimana pihak sekolah memahami tujuan pendidikan akan berimplikasi pada bagaimana mereka menjalankan proses belajar-mengajar di sekolah.

Si beberapa sekolah, tujuan pendidikan hanya sampai pada learning to know. Bagi sekolah seperti ini, yang penting siswa 'belajar untuk tahu' sebanyak-banyaknya. Untuk itu, siswa perlu memiliki ingatan yang kuat. Mereka perlu tahu banyak fakta, mulai dari tanggal-tanggal bersejarah, berbagai rumus matematika maupun fisika, sampai menghafalkan berbagai jenis enzim yang ada dalam tubuh manusia. Yang jadi pertanyaan berikutnya, siswa perlu tau hal-hal tersebut untuk apa? Ada sekolah yang menganggap siswa perlu tahu berbagai hal tersebut karena itulah yang akan diujiankan di akhir masa sekolah (saat ujian nasional). Kalau tidak dipelajari, siswa akan kesulitan dalam mengerjakan ujian nasional. Sebagai konsekuensi dari 'tujuan pendidikan' yang sempit ini, sekolah fokus pada persiapan ujian nasional dengan meminta siswa menghafalkan isi buku teks ataupun berlatih soal ujian (kalau bisa sampai hafal).

Di sisi lain, ada sekolah yang memang ingin menumbuhkan rasa 'cinta terhadap pengetahuan'. Meskipun sekolah sama-sama punya tujuan agar siswa belajar 'untuk tahu', siswa diajak belajar 'untuk tahu' dengan cara yang lebih bermakna. Misalnya, saat belajar tentang langit, siswa bukan hanya akan diajak membaca buku teks mengenai langit, siswa diajak membaca berbagai buku yang berhubungan dengan langit. Tidak selesai sampai di sana, siswa diajak untuk belajar dari seorang ahli (misalnya dengan seorang astronom) sehingga mereka bisa belajar mengenai fakta-fakta langit dari ahlinya. Siswa juga akan diajak mengamati langit, melakukan observasi mengenai langit, dan mencatat (baik dalam bentuk tertulis maupun gambar) hal-hal penting terkait langit.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengetahui banyak hal, namun kita perlu selalu bertanya, siswa perlu tahu tapi untuk apa? Lagipula, tujuan pendidikan  bukan hanya untuk belajar 'untuk tahu', tapi masih ada tujuan-tujuan lainnya.

Di beberapa sekolah yang lain sudah muncul kesadaran bahwa siswa juga harus memilki berbagai keterampilan. Jenis-jenis keterampilan ini bervariasi. Misalnya, Ada keterampilan-keterampilan yang perlu dikembangkan untuk memasuki dunia kerja tertentu. Untuk ini, beberapa sekolah (seperti sekolah kejuruan) membuka kesempatan bagi siswanya untuk praktek seperti dengan magang di industri atau perusahaan.

Selain itu, ada juga keterampilan-keterampilan lain yang perlu dikembangkan. Misalnya, siswa yang lulus SMA diharapkan memiliki keterampilan untuk berpikir secara sistematis, punya keterampilan memecahkan masalah, punya keterampilan  dalam membaca dan menulis yang cukup fasih.  Namun, kalau kita terampil dalam mengerjakan berbagai hal tapi selalu bermasalah ketika berhubungan dengan orang lain lalu apa gunanya? Manusia adalah makhluk sosial yang juga harus belajar caranya hidup bersama dengan orang lain. Itulah sebabnya salah satu tujuan pendidikan yang lain adalah untuk belajar hidup bersama (dengan orang lain).

Sekolah memang merupakan tempat di mana siswa bisa belajar hidup bersama dengan orang lain. Bagaimana tidak? Setiap hari siswa harus belajar bersama-sama dengan teman-teman sebayanya dan juga berinteraksi bersama guru-gurunya. Namun, sebenarnya di sekolah, siswa belajar hidup bersama dengan siapa? Apakah siswa diberikan kesempatan untuk belajar hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda dari yang biasa mereka temui?  Apakah sekolah memfasilitasi siswa untuk belajar  berinteraksi (secara sejajar) dengan orang dari agama yang berbeda, suku yang berbeda, latar belakang ekonomi yang berbeda, atau yang memiliki pandangan-pandangan hidup yang berbeda dari mereka?

Beberapa sekolah memang memahami tujuan pendidikan adalah untuk belajar untuk hidup bersama (termasuk dengan orang yang berbeda pandangan dengan mereka). . Sekolah-sekolah ini tidak ingin menjadi 'sekolah elit'. Siswa dari berbagai golongan, latar belakang, suku, dan agama bisa berbaur untuk belajar satu sama lain. Selain itu, aekolah semacam ini membuka ruang bagi siswa untuk berinteraksi dengan masyarakat. Caranya bisa bervariasi, misalnya dengan membiasakan siswa untuk ikut berkontribusi pada masyarakat dan belajar dari masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, mengundang berbagai kelompok masyarakat untuk ikut berbagi ke sekolah, atau merancang program khusus yang memungkinkan siswa belajar di lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka. Ketika sekolah meyakini bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah belajar untuk hidup bersama, secara tidak langsung sekolah juga menyiapkan siswa untuk bisa belajar menjadi

Learning to be
 atau belajar menjadi berarti belajar menjadi manusia yang terus menerus berusaha menjadi lebih bermartabat, lebih kritis, lebih toleran, dan terus menjadi lebih baik lagi dalam berbagai aspek. Bagaimana caranya kita belajar menjadi manusia yang terus menerus berusaha menjadi lebih baik? Selain perlu mengalami berbagai pengalaman yang bermakna, kita juga perlu kemampuan untuk berefleksi. Sekolah yang sadar pentingnya tujuan pendidikan untuk 'belajar menjadi' akan menjadikan refleksi bagian dari keseharian sekolah. Di sisi lain, sekolah yang tidak menyadari hal ini akan terus menyibukkan  siswa dengan berbagai hal meskipun hal-hal tersebut belum tentu bermakna siswa.

Perlu diingat ketika tujuan pendidikan adalah agar manusia 'belajar untuk menjadi', bukan berarti bahwa siswa sudah harus sangat bermartabat, sudah harus kritis, dan sudah harus toleran. Bisa jadi siswa baru satu langkah kecil untuk menjadi lebih bermartabat, kritis, ataupun toleran. Bisa jadi mereka akan melakukan banyak kesalahan, mengalami berbagai konflik, ataupun kebingungan. Hal tersebut tidak apa-apa. Sekolah yang menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah 'belajar untuk menjadi' akan menghargai pentingnya berproses, termasuk membuat kesalahan. Semua pengalaman termasuk pengalaman pahit ataupun pengalaman berbuat salah, apabila direfleksikan, bisa menjadi pengalaman berharga.


Itulah refleksi saya mengenai keempat tujuan pendidikan bagaimana implikasinya terhadap praktek pendidikan di sekolah. Bagaimana dengan sekolah anda? Tujuan pendidikan manakah yang lebih dominan? Apa implikasinya bagi praktek pendidikan di sekolah? Maukah anda berbagi cerita?