Nov 22, 2010

Kisah Mengenai Buku Non-Mainstream

Belum lama ini saya bertemu seseorang yang sempat bekerja di konsulat Jepang. Dia bercerita mengenai pekerjaannya saat itu. Dia diminta untuk berkeliling pasar-pasar di Jawa untuk membeli buku-buku non stream yang dijual di pasar. Buku-buku murah meriah dari yang berharga Rp500,- sampai Rp.5000,-. Buku-buku ini diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan tidak dijual di toko-toko buku pada umumnya. Membelinya memang harus ke pasar.

Pekerjaannya adalah naik turun dari bus, keluar masuk pasar, mendatangi pasar loak dan pasar malam dan memborong semua buku-buku ini. Setelah itu, ia akan mendatangi penulis buku (dan penerbit buku) dan mewawancara mereka satu-satu (semacam penelitian).

Menurutnya, ternyata di pasar, yang dijual bukan hanya barang tetapi juga pengetahuan. Ada berbagai jenis buku, mulai dari buku-buku mengenai agama, buku-buku humor, dan beberapa buku lainnya. Beberapa buku malah cukup berat sebenarnya. Ia menemukan karya-karya sastra Rusia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia ataupun karya-karya Al Ghazali lengkap. Perbedaannya adalah bahwa karya-karya ini dipecah menjadi buku-buku yang tipis (dijual per bagian). Mungkin tujuannya adalah untuk menghemat biaya produksi dan menarik minat pembeli.

Menurut orang tersebut, ia belajar bahwa penerbit-penerbit non-mainstream ini punya peran yang cukup besar dalam mencerdaskan masyarakat.

Untuk apakah konsulat Jepang membiayai prorgram memborong buku non-mainstream ini? Ternyata ada satu seksi di sebuah perpustakaan di sebuah kota di Jepang yang dibuat khusus untuk buku-buku non-mainstream di Indonesia. Konsulat Jepang tersebut percaya bahwa mendokumentasikan buku-buku non-mainstream tersebut pasti ada manfaatnya. Suatu saat nanti, pasti ada yang membutuhkan.

No comments: