Dec 26, 2013

Pendidikan Seni di Kuba : Pendidikan Seni untuk Semua

Anita tinggal di Jakarta. Dia suka menari. Untuk menyalurkan hobinya dia mengikuti sanggar tari dan berlatih dua kali seminggu. Biaya yang harus dikeluarkannya untuk mengikuti sanggar adalah Rp 250.000,- per bulan. Harga tersebut tidak terlalu mahal dibandingkan tempat-tempat kurusus menari lainnya. Dengan harga tersebut dia sudah bisa berlatih dibimbing oleh seorang guru professional.

Kini sudah 9 tahun Anita berlatih menari. Anita tahu bahwa dia bukanlah penari yang paling jago. Teman-temannya yang lain lebih lentur juga lebih lincah dalam menari. Terkadang Anita pun lupa gerakan dari tariannya. Pasti dia tidak akan jadi penari professional. Meskipun begitu, dia akan terus menari. Kalau bisa seumur hidupnya. Dengan begitu dia bisa terus menjaga kebugaran sekaligus bersenang-senang. Yang paling penting, dengan menari Anita merasa lebih hidup. Emosinya tersalurkan, ada tempat baginya untuk melepas pikiran dan berkonsentrasi pada alunan musik dan gerakan tubuh. Dengan menari, hatinya ikut menari, begitu pula hidupnya. Sayangnya tidak semua orang punya kesempatan seperti Anita. Mampu belajar seni sekadar untuk bersuka cita.


Tidak semua orang akan berprofesi sebagai seniman. Tapi seni punya peranan yang sangat penting bagi manusia, termasuk bagi orang-orang yang tidak bekerja di bidang seni. Pernah mendengar musik yang lirik atau melodinya menyentuh hati? Pasti pernah kan? Ada juga musik yang membuat kita sedih, bahagia, bahkan bersemangat. Selain musik, bentuk seni yang lain seperti lukisan, tarian, teater dan sebagainya bisa mempengaruhi emosi kita. Dengan bersentuhan dengan seni, kita bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Itu menggambarkan bahwa seni begitu penting bagi kehidupan manusia.


Bagaimana memperkenalkan seni kepada orang banyak? Salah satunya adalah melalui pendidikan seni. Pendidikan seni memang tidak harus selalu ditujukan untuk mempersiapkan seseorang menjadi seniman atau pekerja seni. Justru, pendidikan seni harus bisa dinikmati oleh orang banyak. Pendidikan seni tidak boleh mahal agar semuanya bisa ikut belajar. Tujuannya adalah menjadikan manusia lebih manusiawi melalui perantara seni.


La Colmenita (Teater Anak-anak Kuba) adalah sebuah lembaga pendidikan seni di Kuba. Didirikan pada tahun 1976 oleh Carlos Alberto Cremata. Awalnya, La Colmenita hanyalah komunitas kecil di Havana. Di sanalah anak-anak maupun orang dewasa berkumpul dan berlatih teater. Proses latihan biasanya pada sore hari, sepulang anak-anak sekolah. Pada perkembangannya La Colmenita kemudian dikhususkan untuk anak-anak usia 6 sampai 16 tahun. Kini sejumlah 22 cabang La Colmenita tersebar di berbagai daerah lainnya di Kuba. Di sana anak-anak belajar teater, bernyanyi, menari, termasuk belajar mempersiapkan pertunjukan seni.


La Colmenita tidak bertujuan mempersiapkan anak-anak menjadi pemain teater professional. Tempat itu merupakan tempat anak-anak bisa belajar bekerja sama, merasakan kehangatan, serta mengembangkan kreativitas. Menurut Carlos, “Anak-anak tidak mau menjadi pemain teater, mereka ingin bermain peran.” Melalui kegiatan bermain peran, maupun tari dan musik, anak-anak bisa mengembangkan kreativitas sehingga potensi mereka bisa berkembang. Mereka akan jadi manusia yang lebih baik, sebagai individu maupun kelompok (Stories by Deisy Francis Mexidor dalam http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_63919.shtml).


Di Indonesia, tidak semua anak bisa belajar seni dari seorang guru seni profesional. Jumlah guru seni profesional sangat terbatas. Akibatnya hanya anak-anak tertentu yang bisa mengakses mereka, mungkin karena mereka besar di lingkungan seniman, atau mereka punya uang yang memadai untuk membayar guru seni.

Di Kuba, guru seni dipersiapkan dengan sangat serius. Ada sekolah khusus untuk calon guru seni di masing-masing provinsi. Siswa-siswa berusia 14 tahun masuk ke sekolah ini untuk belajar menjadi calon guru seni. Tahun 60-an, Fidel Castro, pemimpin Cuba saat itu memang pernah mengumpulkan seniman untuk mendorong terpromosikannya seni musik, seni tari, dan seni visual sehingga bisa dijangkau oleh anak-anak di daerah terpencil sekaligus. Salah satunya adalah melalui pendidikan seni di sekolah. Hal ini dilakukan karena seni dipercaya bisa mendorong terjadinya perubahan sosial.


Di sekolah calon guru seni, para siswa belajar seni tradisional maupun modern. Dengan mempelajari seni-seni tradisional, calon guru bisa belajar mengenai akar budaya mereka. Calon guru tari, misalnyaakan belajar tari tradisional Kuba baik yang dipengaruhi oleh budaya Afrika maupun Spanyol. Mereka akan belajar tari-tarian yang ditarikan oleh buruh-buruh tani sehingga secara tidak langsung, mereka belajar tentang budaya buruh tani di masa lalu. Di sisi lain, mereka juga belajar tari-tarian modern seperti balet. Tujuannya untuk melatih kelenturan, kekuatan tubuh, juga estetika. Begitu juga calon guru musik, teater, ataupun seni visual. Semuanya belajar seni tradisional dan modern. Lulusan sekolah calon guru seni ini diahrapkan bisa mengajar di sekolah manapun di Kuba, termasuk di daerah-daerah terpencil. Dengan begitu, semua orang bisa belajar seni. Tidak ada sekolah yang kekurangan guru seni.

Di Kuba pendidikan seni juga dilakukan melalui perantara media masa. Ada program televisi khusus yang memungkinkan anak-anak maupun guru agar bisa meningkatkan kemampuan seni mereka. Sebagai contoh ada program televisi yang dipersiapkan secara khusus untuk mengenalkan anak-anak maupun guru terhadap lagu-lagu baru yang bisa dinyanyikan bersama-sama, termasuk di dalam kelas. Ada juga program di mana anak-anak dan guru bisa bersama-sama melihat bagaimana seni visual dibuat. Acara tersebut diikuti dengan petunjuk sehingga anak-anak bisa mempraktekkan ilmu baru yang mereka pelajari. Program televisi ini diputarkan secara serentak di berbagai sekolah-sekolah di Kuba. Dengan begitu, semua orang bisa memperkaya pemahaman mereka terhadap seni denganlebih murah. Bagi masyarakat Kuba, seni bukan milik para elit saja tapi merupakan bagian dari seluruh kehidupan masyarakat Kuba.

Sumber:
http://www.cubaabsolutely.com/Culture/article_theatre_II.php?id=Cuba's-Exemplary-Arts-for-Social-Change-Programs-II
http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_63919.shtml
http://www.lacolmenitacuba.com/
Teachers.tv (UK) – Performing Arts: How Do They Do it In Cuba

Keterangan : 
Versi pendek dari tulisan ini dimuat di Pro-Aktif Online . Bisa di lihat disini

http://proaktif-online.blogspot.com/2013/12/jalan-jalan-pendidikan-seni-di-kuba.html?m=1

Sebuah Kenangan Bersama (Almarhum) Mama : Mau Belajar Apa Liburan Ini?

Bagi kedua orang tuaku, termasuk bapak dan (almarhum) mamaku, pendidikan adalah nomor satu. Pendidikan di sini bukan hanya pendidikan formal yang terjadi di sekolah. Namun juga berbagai pendidikan lainnya termasuk pendidikan non-formal maupun informal yang diperoleh dengan berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. 

Terkait pendidikan non-formal, masa liburan dianggap oleh mamaku sebagai kesempatan yang baik untuk mendidik anak-anaknya. Setiap liburan sekolah akan tiba, mama akan bertanya, “Apa hal baru yang mau kamu pelajari liburan ini?”

Mamaku benar-benar menganggap pertanyaan ini serius. Jawabannya harus dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Intinya setelah berlibur, mamaku berharap kami anak-anaknya punya keterampilan atau pengetahuan baru. Kami, anak-anaknya bebas memberikan masukan terkait apa yang ingin kami pelajari. Misalnya saya pernah mengusulkan untuk belajar bahasa baru, belajar menyetir, belajar musik, atau menjelajahi tempat baru, dan sebagainya. Kalau mampu, kedua orang tua akan mendukung kami sebisanya. 

Kadang mama saya yang memberikan usulan. Mama pernah mengusulkan adik perempuan saya untuk belajar memainkan angklung. Di waktu lain mamaku pernah mengajak saya dan kedua adik mengunjungi keluarga di ujung Jawa Timur. Tak jauh dari sana ada sebuah pantai yang sangat sepi. Kami di ajak ke sana saat tengah malam. Kami tidak boleh bersuara. Ternyata pantai tersebut merupakan tempat puluhan mungkin ratusan penyu bertelur. Mama mengajak kami mengamati penyu yang bertelur tapi kami tak boleh mengeluarkan banyak suara agar penyu-nya tidak stress saat melahirkan. Di waktu lain mama mengajak kami berkeliling sebuah kota. Karena mama adalah arsitek, dia sangat tertarik pada berbagai bangunan. Jadi sambil berkeliling, dia menceritakan berbagai sejarah bangunan, cirinya, dan kaitannya dengan budaya setempat.  Kegiatan selama liburan tidak harus selalu harus di luar kota, kadang kegiatannya bisa lebih sederhana.  

 Suatu hari temannya mama (anggap saja namanya Tante Ira)  merancang sebuah kegiatan liburan yang sederhana. Mamaku mengusulkan agar saya dan adik laki-laki saya ikut. Saat itu saya kelas 4 SD dan adik saya kelas 3 SD.  Jadi, selama liburan Tante Ira mengumpulkan beberapa anak untuk belajar di rumahnya.  Kegiatannya sederhana. Ada kegiatan belajar memasak bersama. Saya ingat belajar membuat es buah. Lalu ada kegiatan membuat berbagai kerajinan tangan. Tante Ira telah menyediakan sejumlah kertas berwarna-warni, manik-manik lem, dan gunting. Kami diajak berkarya menggunakan bahan-bahan yang ada. Sesederhana itu! Tapi tetap saja menyenangkan. Kami bisa bertemu anak-anak seumur sekaligus bermain-main (tak sengaja kami belajar berbagai keterampilan baru).

Di waktu yang lain, mama pernah mengusulkan saya untuk magang di sebuah kantor. Saat itu saya sudah SMA. Kebetulan ada teman mama yang bekerja di sebuah NGO. Saya diajak magang di sana. Kerja saya di sana adalah memfotokopi berbagai dokumen, merapikan berbagai file, menyortir kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Sebenarnya saya di sana bukan sebagai asisten, tapi sebagai pesuruh. Kalau sedang tidak ada kerjaan saya bengong. Saat itu saya merasa sangat bosan, tapi itu membuat saya bertanya-tanya mengenai pekerjaan apa yang ingin saya kerjakan di masa depan.  Apa mau kerja kantoran seperti itu atau tidak? Saat itu keputusannya adalah saya tidak mau kerja kantoran. Pekerjaan saya sekarang memang mengajar dan saya memang tidak harus duduk di depan meja kantor dari pagi sampai sore setiap hari. 

Adik saya yang laki-laki punya pengalaman yang berbeda. Mama bekerja di bidang konstruksi. Bukan hanya merancang berbagai bangunan tapi juga  membeli bahan bangunan dan memastukan bahannya sampai lokasi proyek. Adik saya diminta membantunya. Saat itu adik saya sudah bisa menyetir.  Jadi tugasnya adalah menyetir pick-up untuk mengantar berbagai bahan bangunan ke berbagai lokasi proyek.  Adik saya belajar jadi supir pick-up! Sampai sekarang pengalaman tersebut masih berkesan untuknya sampai-sampai dia punya cita-cita bahwa suatu hari dia mau punya mobil pick-up yang bisa dipakai untuk berbagai usaha.

Kalau adik saya yang perempuan pernah diminta oleh mama untuk menghabiskan liburannya di Bali. Waktu itu adik perempuan saya sudah beranjak remaja. Tentu saja berlibur ke Bali akan sangat menyenangkan. Remaja mana yang tidak semangat diajak berlibur ke Bali? Dia sudah menyiapkan berbagai pakaian untuk pergi ke pantai, berjalan-jalan, dan sebagainya. Dalam bayangannya mungkin "party time!". Saatnya bersenang-senang. Sampai di sana ternyata adik saya dititipkan di rumah seorang pemilik toko perhiasan. Selama di Bali, adik saya harus menjaga dan mengurus berbagai keperluan toko. Selain menjaga toko, setiap hari adik saya harus belajar menari di Pura. Dia belajar bersama anak-anak yang masih sangat kecil, sekitar 4 sampai 6 tahun. Padahal, saat itu adik saya sudah belasan tahun (lupa persisnya).”Meski kecil-kecil mereka narinya jago-jago. Aku malah pegel-pegel. Gak biasa nari kayak mereka,” cerita adik saya suatu hari merefleksikan pengalamannya.

Bagi mama saya pendidikan adalah tentang memperkaya pengalaman. Jadi, liburan adalah saatnya memperkaya pengalaman. Pengalaman itu boleh pengalaman apa saja, bukan hanya pengalaman berjalan-jalan tapi juga termasuk pengalaman belajar hal baru dan bekerja. Saya rasa itu yang membuat saya dan kedua adik saya selalu terbiasa untuk mencari kesibukan bahkan kalau libur. Kami akan selalu bertanya apa lagi nih yang bisa dipelajari? Kami pun belajar meskipun itu hal sesederhana mencoba resep baru, belajar menjahit atau merajut, membaca buku baru, atau mencari pengalaman kerja (magang).

Mama saya memang dulu hanya mulai dari pertanyaan yang sederhana, “Apa hal baru yang mau kamu pelajari liburan ini?” Namun, ternyata itu bukan hanya membuat saya dan adik saya belajar memperkaya pengalaman dan jiwa tapi juga membuat kami selalu penasaran. Kami selalu ingin belajar hal baru, meskipun itu sesederhana mencoba resep baru, mencoba olah raga yang belum pernah kami coba sebelumnya, atau melihat hal-hal di sekitar kita dengan cara yang baru dan berbeda. 

Dec 18, 2013

Belajar dari Beberapa 'Display' Karya Siswa BIS

Belum lama ini saya bercerita tentang kunjungan saya ke Bandung International School (BIS). Tulisannya bisa dilihat di sini http://www.mahkotalima.blogspot.com/2013/11/mempelajari-bagaimana-siswa-kelas-5-bis.html . Saya ingin bercerita lebih banyak tentang kunjungan saya tersebut.

Jadi, saya punya hobi kalau berkunjung ke suatu sekolah, saya sangat suka melihat-lihat display sekolah tersebut. Banyak yang bisa dipelajari dengan melihat berbagai karya yang ditempel di dinding sekolah. Saya bisa membayangkan hal-hal yang dikerjakan siswa selama di sekolah dan terinspirasi oleh berbagai kreativitas anak. Saya ingat kunjungan saya ke sekolah Sururon beberapa tahun yang lalu, yang dikelola oleh Sarikat Patani Pasundan. Letaknya di Garut. Meskipun saat itu sekolahnya masih sederhana. Tidak ada kursi, anak-anak belajar lesehat tapi saya ingat berbagai karya siswa ditempel di sekeliling dinding kelas. Karyanya sangat bervariasi. Di lain sisi, ada juga sekolah-sekolah yang pernah saya kunjungi, yang lebih mewah tapi karya siswa hampir seragam baik warna maupun jenis karyanya. Display yang berbeda punya cerita yang berbeda di belakangnya. Cerita tersebut terkait dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah. 

Selama di BIS, itu juga yang saya lakukan. Saya berkeliling melihat karya-karya siswa yang ditempel di dinding, dipajang di perpustkaan,juga di kelas. Tidak lama-lama sih, hanya sekitar satu jam. Tapi dengan begitu saya tetap bisa belajar banyak. 

Mbak Any, pustakawan BIS menemani saya berkeliling dan memberikan beberapa penjelasan. Berikut beberapa karya siswa yang saya lihat di BIS. Saya akan menceritakan beberapa, tapi agak acak yah

Belajar Membuat Pertanyaan (Kelas 2)

Di bawah adalah display yang menunjukkan bahwa anak belajar membuat pertanyaan. Sepertinya guru ikut membantu membuat display ini. Anak-anak (kalau tidak salah kelas dua) berdiskusi di kelas dan mengajukan pertanyaan. Kalau dilihat-lihat pertanyaannya mengenai perubahan iklim. Satu anak mengajukan satu, dua, atau tiga pertanyaan. Ada wajah mereka, nama mereka, lalu ada semacam balon (seperti orang bercakap-cakap di dalam komik) berisi pertanyaan-pertanyaan mereka.
Contoh pertanyaannya diantaranya :
- Why are some houses made out of grass and others bricks?
Kenapa beberapa rumah terbuat dari rumput (jerami) dan lainnya dari bata?
- Are there many people who live in the dessert?
Apakah ada banyak orang yang tinggal di gurun?
- Are there houses in the desert?
Apakah ada rumah di gurun?
- Why do deserts not get rain?
Kenapa di gurun tidak ada hujan?
- Is there any endangered animals in the desert?
Apa ada banyak binatang langka di hutan?
- Is there any grass or tree in the dessert?
Apakah ada rumput atau pohon di gurun?
- Why is it hot in Libya?
Kenala di Libia panas?
- Why is there ice in the world?
Kenapa ada es di dunia?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tapi saya bayangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tak selalu mudah untuk dijawab. Untuk menjawab satu pertanyaan saja, anak-anak (dan guru bisa bereksplorasi mengenai berbagai hal). Misalnya pertanyaan "Kenapa beberapa rumah terbuat dari rumput (jerami) dan lainnya dari bata?" memungkinkan anak belajar tentang berbagai budaya yang berbeda, belajar mengenai bahan (dan kemampuannya menyerap panas), belajar mengenai bahan-bahan bangunan yang berkelanjutan, dan banyak hal lain. Tentu dengan begini, guru tidak bisa terpaku pada buku teks tapi mau bersama-sama dengan siswa mencari tahu jawabannya dari berbagai sumber (termasuk mungkin merancang percobaan sendiri).

 Mengekspresikan diri melalui karya seni (Kelas 8)
 Di bawah adalah gambar karya seni rupa siswa kelas 8. Saya tidak tahu metode membuat karya seninya, tapi yang jelas karya seni tersebut merupakan bentuk ekspresi siswa kelas 8 mengenai pengalamn-pengalaman mereka. Mereka diminta membuat karya mengenai pengalaman mereka yang paling pahit  ataupun pengalaman mereka yang paling menyenangkan. Senang melihat anak-anak belajar mengekspresikan diri mereka dengan seni, meskipun pengalaman paling pahit, misalnya seperti pengalaman orang tua bercerai. Dengan melihat berbagai karya siswa mengenai pengalaman mereka dalam hidup, kita jadi belajar bahwa setiap orang pasti punya pengalaman pahit dan juga yang menyenangkan. Saya jadi ingat bahwa tidak semua orang terbiasa  mengekspresikan diri secara terbuka baik tentang pengalaman pahit maupun menyenangkan. Dengan melihat karya-karya tersebut kita bisa belajar lebih banyak mengenai apa rasanya menjadi manusia. 


Menentukan karakter, setting, dan plot dari suatu cerita (Kelas 1)
Sepertinya ini dibuat oleh siswa kelas 1 SD. Sederhana banget tapi saya suka! Jadi ada selembar kertas panjang. Dan ada 3 bagian, masing-masing ditutupi kertas bergambar. Bisa dibuka seperti halnya kita membuka lembar halaman buku. Tampaknya anak-anak belajar membuat cerita. Di bagian depan mereka harus menggambarkan karakter, setting, dan plot dari cerita, sedangkan dibaliknya mereka harus menuliskan karakter, setting, dan plot dalam bentuk kalimat. Namanya masih kelas 1 SD, yah kalimatnya masih pendek-pendek dan masih ada salah eja. Meskipun begitu saya suka sekali melihat display ini. Dengan cara ini anak-anak belajar berimajinasi tapi sekaligus belajar caranya cerita secara sistematis.


Belajar memahami bacaan (Kelas 1)
Ini karya yang dibuat siswa kelas satu. Di bagian luar perpustakaan, ada satu bagian yang ditempeli semacam amplop-amplop. Judulnya "Fairy Tale Bags" yang artinya kantong dongeng, Kita bisa membuka amplop tersebut dan di dalamnya ada kertas A4 yang dibagi empat. Di dalamnya, siswa harus menggambar apa yang mereka tangkap dari cerita dongeng yang mereka baca, dan di bagian bawahnya mereka harus menuliskan bagian pembuka tulisan, bagian tengah, dan bagian penutup. Dengan cara yang sangat sederhana tapi menyenangkan, siswa belajar bahwa cerita harus terdiri dari bagian pembuka, tengah, dan penutup. Siswa juga belajar menceritakan kembali apa yang mereka baca. Ini berarti mereka bukan hanya belajar membaca tapi juga memaknai bacaan. 


Belajar mengenai identitas diri (SD kelas besar)
Gambar di bawah dibuat oleh siswa SD kelas besar (lupa kelas berapa, antara kelas 4 - 6). Isinya adalah buku mengenai identitas mereka. Pertama, mereka diminta mencari gambar yang menggambarkan identitas mereka. Misalnya, ada yang orang Cina dan dia menaruh gambar makanan Cina, gambar terkait tahun baru Cina. Dia juga adalah orang beragama Kristen, jadi dia menaruh gambar pohon natal yang menggambarkan hari besar agama Kristen, dan sebagainya. Dia juga merupakan seorang siswa sehingga dia menaruh gambar kelasnya. Gambar-gambar ini ditaruh di bagian depan buku yang mereka buat, jadi semacam bagian sampulnya. Lalu, di bagian dalamnya mereka menuliskan makna dari gambar-gambar tersebut mengenai mereka. Dengan cara ini, anak-anak belajar memahami diri mereka sendiri. Setiap orang menggambarkan diri mereka dengan identitas yang berbeda-beda. Di sisi lain, melalui karya teman-temannya mereka juga belajar mengenai identitas teman-temannya. Secara tidak langsung mereka belajar mengenai budaya lain, agama lain, dan berbagai sisi kehidupan orang lain.


Demikianlah beberapa display yang saya lihat selama di BIS. Sebenarnya ada lebih banyak display lainnya tapi belum bisa saya tuliskan sekarang. Nanti panjang sekali tuliannya. Btw, mudah-mudahan lain kali sempat menuliskannya. Mudah-mudahan sharing sederhana saya tentang display ini bermanfaat yah!

Dec 11, 2013

Pernah Memberi Siswa Label Tertentu? Belum Tentu Tepat Loh!

Belum lama ini, dunia pendidikan sempat dibuat heboh karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhammad Nuh sempat membuat pernyataan berikut :
"...siswa yang naik kelas tanpa remidi, dia sebut sebagai siswa KW (kualitas) 1. "Sedangkan yang lulus remidi itu KW 2 dan seterusnya."
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=204969

Istilah KW 1 dan KW 2 adalah label yang biasa digunakan oleh pedagang dalam menjajakan berbagai produk manufaktur.

Kenapa Pak Nuh bisa menganalogikan siswa (manusia-manusia unik yang sedang dalam proses pertumbuhan menjadi manusia yang lebih baik) dengan berbagai istilah industri?

Tapi kemudian, terlepas dari 'label ala industri' yang digunakan Pak Nuh untuk menggolongkan siswa, saya jadi berefleksi bahwa kadang guru, termasuk saya sering melabeli siswa dengan berbagai 'label' yang tidak tepat.

Kadang kita melabeli siswa sebagai pemalas, tidak aktif, pemalu, pendiam, kurang cerdas. Padahal, belum tentu siswa-siswa kita seperti itu. Bisa jadi label kita tidak tepat karena kita memang belum mengenal siswa kita lebih jauh.

Kalau tadi yang saya contohkan adalah label yang terkesan 'negatif', pelabelan yang positif pun kadang tidak selalu tepat. Seseorang pernah melabeli saya sebagai seorang humanis padahal saya tidak pernah merasa mendeklarasikan diri saya sebagai seorang humanis. Suatu hari, saya melakukan kesalahan. Dan tiba-tiba orang yang pernah melabeli saya sebagai seorang humanis balik bertanya, "Saya pikir kamu seorang humanis. Kenapa kamu seperti itu? Humanis tidak berbuat seperti itu."

Ketika kita melabeli seseorang dengan label yang positif sekalipun, label itu juga belum tentu tepat. Kita selalu berharap mereka bertindak sesuai label yang kita berikan. Kalau ada siswa kita yang kita beri label rajin misalnya, ketika mereka sedang malas, kita kecewa.

Padahal, siswa kita adalah manusia dan manusia adalah manusia. Mereka bukan hanya unik, tapi juga memiliki berbagai prilaku yang bisa berubah dari waktu ke waktu, tergantung ada situasi dan konteks yang mereka hadapi. Label yang kita berikan tidak menggambarkan seseorang seutuhnya.

Tapi melepaskan diri dari memeri orang lain label, apa bisa? Rasanya sulit sekali. Ada-ada saja berbagai hal yang membuat kita melakukan penilaian pada orang lain dan akhirnya baik secara sadar maupun tidak kita memberi mereka label-label tertentu. Kebiasaan ini terbawa sampai di kelas. Kitapun terkadang (atau sering) mulai melabeli siswa kita, meskipun hanya berdasarkan ada penilaian-penilaian sesaat.

Idealnya sih menerima siswa apa adanya, tanpa pelabelan apapun. Namun, kalaupun kita mau melabeli siswa, setidaknya kita perlu sangat berhati-hati. Yang pasti, kita perlu berhati-hati agar tidak menyakiti hati mereka. Yang juga tak kalah penting, kita juga perlu terbuka, bahwa label yang kita berikan bisa jadi tidak tepat, atau bahkan salah sama sekali. Reminder nih untuk diri sendiri nih!

Btw, ada bacaan menarik tentang memberi siswa 'label'. Judulnya "Labeling and Disadvantages of Labeling". Mau membacaya? Di sini yah -->
http://www.education.com/

Dec 3, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 4) : Sharing tentang Barefoot College

Tulisan ini merupakan lanjutan dari posting "Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 3): Sharing di KNGB tentang Ketika Guru Mengaku Tidak Lebih Tahu".

Di KNGB 2013 saya memutuskan untuk berbagi juga mengenai Barefoot College, sebuah lembaga pendidikan di Rajastan, India. Karena tema yang saya sampaikan adalah mengenai 'Pendidikan Yang Menghargai Semua' maka ada beberapa prinsip dasar yang perlu disadari, diantaranya adalah bahwa guru harus percaya bahwa bila ada kesempatan, siswa bisa belajar apapun bila mereka mau. Selain itu, guru juga perlu percaya bahwa setiap siswa punya potensi, apapun latar belakang mereka. Tampaknya kedua prinsip ini dimiliki oleh orang-orang yang ada di Barefoot College.

Di Barefoot College, para siswa yang awalnya buta huruf diberikan kepercayaan yang besar untuk belajar berbagai hal, termasuk yang selama ini hanya dipelajari oleh kelompok elit (mereka yang belajar di sekolah ataupun perguruan tinggi).

Menurut saya, konsep pendidikan di Barefoot College cukup ekstrim. Di sana, seorang Master atau PhD belum tentu dianggap lebih baik daripada penduduk desa yang buta huruf. Orang-orang yang dianggap penting di Barefoot College adalah orang-orang yang punya keterampilan apapun tapi yang penting bersedia melayani sesama masyarakat. Keterampilan yang dimaksud bukan hanya keterampilan ala kelompok 'sekolahan' saja, tapi juga termasuk keterampilan yang dimiliki oleh para petani, para ibu, para pekerja, dan siapapun yang bekerja dengan tangannya. Prinsipnya, tidak ada gunanya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang tinggi kalau tidak digunakan untuk melayani sesama masyarakat.

Yang mengajar di Barefoot College bukanlah lulusan fakultas keguruan dari universitas melainkan para penganggur yang punya kemampuan dasar dalam baca tulis. Mereka bisa saja merupakan  lulusan SD ataupun orang-orang yang pernah belajar membaca di tempat lain. Yang penting,  mereka memang termotivasi untuk berbagi, apapun pengetahuan dan keterampilan yang sudah mereka punyai. Dengan begitu, mereka bisa mengajari orang lain untuk membaca.

Ada hal yang lebih ekstrem di Barefoot College. Kalau lulusan SD bisa mengajari orang lain membaca, mungkin itu masih bisa dipahami dengan mudah. Yang lebih ajaib lagi, di sana ibu-ibu yang buta huruf diajari untuk menambal gigi. Tentu,  praktek semacam ini pasti akan ditentang oleh para lulusan kedokteran gigi dari Universitas. Selama ini pengetahuan menambal gigi memang hanya dimiliki oleh para dokter gigi. Jarang sekali ada yang menganggap bahwa seseorang yang buta huruf bisa belajar caranya menambal gigi. Tapi bila jumlah tenaga kesehatan di daerah tersebut memang sedikit, mengajari ibu-ibu yang memang mau belajar untu menambal gigi bisa jadi pilihan solusi. Tentu ada pelatihannya. Di Barefoot College, asalkan ada yang mau belajar dan bersedia menggunakan keterampilannya untuk melayani sesama, mereka bisa belajar caranya menambal gigi.

Ibu-ibu yang buta huruf di Barefoot College menambal gigi seseorang
Sumber: http://rippleeffectimages.photoshelter.com/image/I0000TjcUdVwTjyQ


Hadirnya Barefoot College sebenarnya juga bisa dimaknai sebagai sebuah kritik terhadap sistem persekolahan yang ada. Apakah yang dipelajari di sekolah maupun universitas memang selalu bermanfaat untuk sama? Apakah lulusan sekolah dan universitas memang menggunakan ilmunya untuk membangun kehidupan yang lebih baik? Apakah yang didapat dari sekoalah atau universitas? Apakah ilmu yang bermanfaat serta keingintahuan yang tinggi untuk terus belajar? Atau sekadar kesombongan sebagai 'sekelompok elit' yang merasa lebih baik daripada mereka yang tidak sekolah?

Bunker Roy, pendiri Barefoot College, saat berbicara di TED berkata :
"I went to a very elitist, snobbish, expensive education in India and that almost destroyed me. I  was all set to be a diplomat, doctor, teacher... The whole world was laid out for me. Nothing could get wrong. "

yang artinya :
"Saya berasal dari sebuah lembaga pendidikan di India yang sangat elit, congkak, dan mahal dan itu hampir merusak saya. Saya telah dipersiapkan untuk menjadi diplomat, dokter, guru, semua.... Seluruh dunia terbentang untukku."

Pendidikan yang elitis kadang bisa merusak. Apalagi kalau lulusannya merasa paling hebat dan tidak mau belajar dari orang lain. Termasuk ketika mereka menganggap pendidikan orang lain lebih rendah. Padahal, bisa saja ada banyak hal yang belum mereka pahami. Paling berbahaya adalah ketika mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.

Seorang ahli pertanian lulusan perguruan tinggi tidak selamanya lebih tahu daripada petani. Petani pun mungkin tahu banyak hal yang mungkin belum dituliskan di buku-buku atau belum dijadikan hasil penelitian. Seorang dokter mungkin tahu banyak tentang berbagai teori dan ilmu kesehatan terbaru, tapi seorang dukun anak mungkin juga punya berbagai pengalaman dan pengetahuan khusus tentang caranya membantu melahirkan anak. Kalau diberi kesempatan, dukun beranak mungkin saja bisa belajar dari dokter, misalnya mengenai berbagai ilmu kesehatan yang paling mutakhir. Namun, apakah dokter tidak mungkin belajar dari dukun beranak? Petani bisa saja belajar berbagai hal baru dari ahli pertanian, misalnya mengenai penelitian-penelitian terbaru. Namung, apakah ahli pertanian tidak bisa belajar hak-hal baru dari petani? Bisa saja kan? Asalkan mereka mau belajar mendengarkan orang lain, termasuk dari mereka yang bukan lulusan sekolahan maupun universitas.

Menurut Bunker Roy, penduduk desa termasuk yang buta huruf seringkali  punya beberapa keterampilan dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi. Pada saat Gedung Barefoot College didirikan, Bunker Roy sempat meminta saran kepada seorang ahli kehutanan mengenai apa yang bisa ditanam di sekitar sana. Ahli kehutanan tersebut melihat tanah yang kering dan berkata bahwa tidak ada tanaman yang cocok untuk di sana. Namun ketika dia meminta saran kepada seorang penduduk di sana, penduduk tersebut memberikan berbagai saran tanaman yang mungkin ditanam dan memang berhasil. Yang satu banyak belajar mengenai tanam-tanaman dari berbagai buku, sedangkan yang satu belajar dari pengalaman. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi apakah mereka mau saling belajar?

Tidak selamanya lulusan 'sekolahan' termasuk 'sekolah elit' lebih baik daripada yang tidak. Salah satu pesan Bunker Roy adalah bahwa "Kita harus mendengarkan orang-orang yang memang berada di lapangan."

Yang dimaksud oleh Bunker Roy dengan mereka yang berada di lapangan adalah mereka yang bekerja dengan tangannya. Kalau diberi kesempatan, seringkali mereka punya berbagai solusi untuk berbagai masalah yang ada. Solusi ini mungkin tak sama dengan solusi yang ditawarkan oleh para lulusan universitas. Solusi tersebut bisa tepat, bisa juga tidak. Tapi bukankah solusi para lulusan universitas juga begitu? Bisa tepat bisa tidak. Terkait orang-orang yang tidak 'sekolahan', yang paling penting apakah ada yang (setidaknya) mau mendengarkan mereka?

Oh iya, sebenarnya, di tahun 2012 saya sudah pernah menulis mengenai Barefoot College, silakan dilihat di sini yah -->   Barefoot College : Guru adalah Murid dan Murid adalah Guru