Aug 26, 2012

What Is Education? (Part 1)

The process of understanding ourselves and the world around us
The process of realizing that there is more than what we can see with our eyes
The process of learning to explore the diversity of human beings
The process of trying respect others, respecting who they are and what they believe in
The process of living in harmony with nature, realizing that greed must be ended

Aug 23, 2012

Garbage Warrior [Full Length Documentary]



From watching this movie, I learned a lot about how people have to strugle whenever they want to make a change. First, they have ideas. Some of it works, some of it does not. When it does not, others start questioning. They doubt the idea. They asked the 'people' to go back to 'how it used to be' by following the old rules. The people keep on inovating. What's os wrong of experimenting new ideas to make a better world. Then they start to use forces. Then, people feel lost, frustated. Is there any hope? Keep on thinking, until the right time comes. You try your ideas again. It works. Then you start to have hope again.

Libur Mengajar

Apa rasanya tidak mengajar sebulan? Sepi. Saya sedang libur semester. Baru akan masuk lagi tengah September. Pekerjaan sebenarnya lumayan banyak dan menumpuk tapi saya tidak sedang mengajar. Tidak mengajar apapun. Tidak mengajar di mentari (lagi libur), tidak mengajar privat (sudah tidak lagi), dan tidak mengajar di kelas (libur juga). Rasanya sepi banget. Seperti separuh energiku ketarik. Hilang. Benar-benar kangen berbagi ilmu & bertemu murid, siswa, mahasiswa, anak-anak, rekan belajar, apapun dipanggilnya. Sebenarnya sih, semenjak ada teknologi, saya tetap bisa berkomunikasi dengan murid saya, menyebarkan gagasan, dan berbagi ilmu. Tapi rasanya berbeda. Saya juga ingin bertatap muka.

Saat Idul Fitri, saya sempat ikut adik ipar saya ke rumah seorang guru besar UI, rumah dosennya. Haro itu ada kegiatan open house. "Setiap tahun kita pasti ke sini," katanya. Di rumah guru besarnya tersedia berbagai makanan yang ditata dengan sederhana. Ada banyak sekali mahasiswanya datang, semua dariberbagai angkatan. Sambil makan, ada yang ngobrol santai, ada juga yang  sambil konsultasi tugas. Tidak lupa foto-foto. Yang jelas semuanya akrab, bahagia. Berada di sana langsung membuat saya kangen murid-murid saya.

"Sebenarnya guru besar saya itu tegas banget," kata adik ipar saya, "Tapi di sisi lain dia juga perhatian banget. Ada mahasiswa yang pernah hilang, hampir tidak mau kuliah lagi, dia meminta semua mahasiswa yang lain untuk mencarinya. Dia juga sangat berdedikasi. "

"Keren," kata saya.

Aug 21, 2012

Your Love My Love

Salah satu kebahagiaan terbesar saya ketika saya mengajar adalah melihat hubungan persahabatan & kebersamaan antara murid-murid saya. Menurut saya, persahabatan yang berdasarkan rasa saling menyayangi & ketulusan adalah salah satu modal terbesar dalam hidup. Because we can never be successful if we are alone. We need support from many people around us

Saya selalu percaya bahwa kesuksesan bukanlah kerja seorang individu saja. Memang sih untuk bisa sukses kita butuh kerja keras, usaha. Ini memang harus dilakukan sendiri. But that is not enough. Our individual success happens because of the collective work of people who care about us. People who pray for us, who give us advice, who cheer us up when we are down, who pray for us, and love us!

Ada sesuatu yang besar yang terjadi dalam hidup saya beberapa hari ini. Sebuah sukses sederhana. Tentu saja saya ingin segera menyampaikan kabar tersebut ke orang-orang yang saya sayangi, sahabat saya, salah satunya  Mbak Anug yang sekarang sedang menetap di New Zealand (Oh I miss her so much). Saya memilih untuk menulis pesan melalui message facebook. Balasannya membuat saya terharu, "Baru juga diodoain kemaren dah terkabul."

Wah senangnya sahabat saya yang satu itu mendoakan (tanpa diminta), meskipun dia ada di negeri di seberang benua.  Mbak Anug, hanya salah satu orang yang sangat berperan dalam kesuksesan saya ini. Tapi bukan hanya Mbak Anug, ada begitu banyak orang, termasuk di antaranya kedua adik saya (dan adik ipar saya), Emak, Lely, Clefy, Ria, Imoth, Ijal, Arfah, Tante Tila, Om Yoyok, Bu Dewi, Bu Nina, Adenita dan masih banyak lagi yang mungkin tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Yang jelas saya bahagia. Bukan hanya karena sebagian yang saya inginkan tercapai tetapi lebih karena saya tahu saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa menyayangi saya. It's a blessing. 

Untuk murid-murid saya, setelah mereka lulus sekolah, saya tidak hanya berharap mereka memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Tetapi juga kebijaksanaan yang didapatkan dari interaksi antar manusia yang tulus &penuh kasih sayang.

Lagu Nana Mouskouri yang satu ini tampaknya cocok menggambarkan pandangan saya tentang itu. Bagi saya pribadi lagu ini bukan hanya mengenai kasih sayang antara sepasang kekasih tetapi lebih pada kasih sayang secara umum. Meskipun banyak hal berat terjadi, dengan adanya kasih sayang antara sesama manusia sulit rasanya untuk menyerah. 


"Nation fights with nation

Everyday somewhere

But through every situation

We will not dispair

For we know that our salvation

Is the gift we share
Your love, my love"


Aug 19, 2012

Say : "Whatever you hide what is in your hearts or reveal it, Allah knows it all. He knows what is in the heavens, and what is on earth. And Allah has powers over all things" 
(Ali-Imron : 29)

Buterflies in my tummy
It was such an exhausting day
But Alhamdulillah for this holly month

My father said yes
And  I hope the rest will be fine
- BismillahiRrahmanirRahiim -





Aug 15, 2012


The Chaotic Uji Kompetensi Guru : Measuring Teachers Competence?
By : Dhitta Puti Sarasvati
While teachers should actually be  evaluated more holistically, either by self-assessment, students’ feedback, and/or observations by peers, head teachers,  and supervisors, teachers in Indonesia are evaluated by a multiple-choice test, called Uji Kompetensi Guru (UKG).
UKG is a test to evaluate teachers’ cognitive pedagogical and professional competence. The test is an online test, where teachers must answer multiple choice questions that are assumed to assess their knowledge on the content they are teaching and also on pedagogy.
The UKG was held on the 30th – 31st  July 2012. Before the UKG was held, teachers were panicking. A lot of teachers had never used the internet before. How were they supposed to take the test? They had no idea. Additionally, they had to memorize various facts related to content they are teaching and pedagogy. This is done by rote learning, not by using higher order thinking skills like analyzing, comparing, synthesising, or creating.
Books for practicing for the UKG questions are sold in bookstores.  Although the quality of the book is questionable, teachers were still eager to purchase it. What kind of questions are in the book? Here  is an example of a question in the pedagogy section:  
“What is Indonesia’s long term development plan for 2005 – 2009 based on the ‘Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera’ document” (Susilo Bambang Yudhoyono and M. Jusuf Kalla, 2004). 

What does this question has to do with pedagogy? Questions like “What do you think should be considered before designing a lesson? Please write down your argument!” is better to assess teacher’s pedagogical knowledge.
Teachers study hard to prepare for the test without questioning its relevance for teaching. On their Facebook statuses, teachers retype the materials that they are learning. For example, a status on a teacher’s Facebook wall was a question that is predicted to come up on the test. The question was: “Students in elementary school are usually like to be in groups. This shows a characteristic of child development as related to: (a) intellect (b) emotions (c) social aptitude (d) moral aptitude.”  Can a question like this assess teachers' ability in grouping students? What is it really assessing?
Picture 1 Buku Pintar Uji Kompetensi Guru : A book for preparing for the UKG

According to Reolf & Sanders (2007), pedagogic competence is the ability to create a psychologically-safe learning environment for students, contributing to their wellbeing. Although it’s questionable if UKG can really measure teachers’ competence in pedagogy, many teachers still faithfully join the test. It is true a few teachers boycotted the test (Kompas.Com, 31/07/2012), but more chose to take it, and believed it useful for them in improving their capacity as teachers. Around 1,020,000 teachers from all over Indonesia joined the test.
On the day of the test? It was a mess. The test was supposed to start at 7.00 AM. The fact was, they could not even log in to the server. To fill time, many teachers, especially the members of Ikatan Guru Indonesia’s (IGI) Facebook group page were busy updating their Facebook status. From their mobile phones, they accessed Facebook and became busy reporting the situation of UKG in their area. Many reports came in such as “the server is down”, “I’ve waited for so long and still can not login”, “teachers at my place decided to go home”, etc. About every two seconds there are new statuses  on IGI’s Facebook page. Reports came from various areas from Pekan Baru, Indramayu, Bekasi, Bogor, Situbondo, Garut, and other places (http://www.facebook.com/groups/igipusat/, 30/07/2012). All said that they could not take the test because of technical problems.
In some areas, like in Pinrang and Manokowari, UKG was canceled (Kompas.Com, 31/07/2012). In other areas, like in Jember, UKG was still held but four and a half hours late. The test started at at 11.30 am (when it supposed to start at 7.00) . It is incredible how patient the teachers were.
Problems also occured on the second day of the test. In a school in West Lombok, the electricity went down eight minutes before the test ended (Kompas.Com, 31/07/2012).
Besides technical problems like the internet connection, the quality of the UKG questions were low. According to teachers who took the tests, the questions in the UKG had plenty of errors.  Many questions did not have answers. For example, a question about mathematics was:
“Bu Emi bought three types of cakes, each of them weighed 3/5 kg. 4/9 kg was given to Eri. How much  cake  was left  and brought home? (a) Mei 45 (b) Des 45 (c) 21/45 (d) Nop 45.”
The UKG was total chaos. This is not surprising, as Permendikbud No. 57 Tahun 2012, Decree of the Minister for Education and Culture, the legal document which was the basis for holding the UKG, just came out on 26 July 2012, only four days before the UKG was held.
It can be clearly seen that the UKG was not well designed. Despite all the proof that the UKG was held, by the government, with lack of preparation, Prof. Dr. Ir Muhammad Nuh, Indonesia’s Minister of Education, did not admit that the problem happened because of this. In fact, his words were, “This did not happen because we were in a rush or because of lack of preparation.”  Furthermore, he blamed the ICT operator. He said, “The ICT operator failed to install and set up the program, although we have trained them.”  What a crazy excuse! 

Aug 14, 2012

[HD] A Little Fall of Rain - Les Miserables 25th Anniversary



MARIUS
Good God, what are you doing?
'Ponine, have you no fear?
Have you seen my beloved?
Why have you come back here?

EPONINE
Took the letter like you said
I met her father at the door
He said he would give it
I don't think I can stand anymore

MARIUS
Eponine, what's wrong?
There's something wet upon your hair
Eponine, you're hurt
You need some help
Oh, God, it's everywhere!

EPONINE
Don't you fret, M'sieur Marius
I don't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt me now
You're here, that's all I need to know
And you will keep me safe
And you will keep me close
And rain will make the flowers grow.

MARIUS
But you will live, 'Ponine - dear God above,
If I could heal your wounds with words of love.

EPONINE
Just hold me now, and let it be.
Shelter me, comfort me

MARIUS
You would live a hundred years
If I could show you how
I won't desert you now...

EPONINE
The rain can't hurt me now
This rain will wash away what's past
And you will keep me safe
And you will keep me close
I'll sleep in your embrace at last.

The rain that brings you here
Is Heaven-blessed!
The skies begin to clear
And I'm at rest
A breath away from where you are
I've come home from so far
So don't you fret, M'sieur Marius

I don't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt me now

That's all I need to know
And you will keep me safe
And you will keep me close

MARIUS
Hush-a-bye, dear Eponine,
You won't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt you now
I'm here

I will stay with you
Till you are sleeping

EPONINE 
And rain...

MARIUS 
And rain... 

EPONINE
Will make the flowers...

MARIUS 
Will make the flowers... grow... 


Aug 12, 2012

Cerita di Kuala Kapuas

Sekarang saya sedang berada di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Saya berada di sini karena ikut membantu Ibu Aulia Wijiasih menyelenggarakan suatu pelatihan guru mengenai KTSP & ESD. Saya juga bersama dengan Kak Dona, kakak kelas saya dulu yang sekarang menjadi pelatih & peneliti di CREDO. Sama seperti saya, dia ikut menjadi semacam 'asisten' dari Ibu Aulia.

Pesawat saya dari Jakarta terbang menuju Palangkaraya. Di perjalanan Kak Dona banyak mengajarkan saya mengenai ciri-ciri lahan bukaan, "Nah kalau lahan bukaan pohonnya lebih bervariasi dan biasanya banyak lumut, benalu, di pohonnya karena dulu lembab," katanya.

Kami naik mobil menuju  Kuala Kapuas. Di perjalanan kami melewati banyak lahan gambut. Saya, anak kota yang norak, senang sekali melihat lahan gambut.

"Kalau kita masuk ke dalam isinya air yah?" tanya saya seperti anak yang kegirangan. "Coba saja masuk!" kata Bu Aulia bercanda. Kak Dona bercerita bahwa gambut menyimpan air, kalau kehilangan lahan gambut kita akan kehilangan sumber air.

Perjalanan ke Kuala Kapuas sekitar 3 jam. Kami langsung menuju penginapan di Kota Air. Saya kegirangan lagi, penginapan kami terdapat persis di sebelah sungai Kapuas. Saya sendiri punya keterikatan sendiri terhadap sungai. Ketika saya kecil, almarhum ibu saya setiap hari membawa saya ke pinggir sungai untuk berjalan-jalan. Jadi, menginap di pinggir sungai memberikan saya kebahagiaan sendiri karenaa mengingatkan saya akan masa kecil saya.

Foto : Trimadona B. Wiratrisna


Ternyata di depan penginapan ada semacam spanduk bertuliskan "START". Bu Aulia bertanya pada seorang bapak-bapak di pinggir jalan, "Mau ada apa di sini?"

Ternyata, dalam rangka merayakan bulan suci ramadhan, setelah shalat tarawih diadakan semacam parade. Karena parade di mulai setelah pukul 9 malam. Karena masih jam 7 malam, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan malam terlebih dahulu.

Di pinggir sungai terdapat banyak warung tempat makan. Kami memilih untuk memakan sate ayam dan soto banjar. Sate ayamnya berbeda dengan sate ayam di jakarta. Bagian luarnya kemerahan, karena diberi bumbu tertentu. Kami juga memesan teh. Tehnya ada rasa vanilanya. Tampaknya tehnya diberi perasa vanila.

Setelah makan malam, kami melakukan briefing untuk persiapan pelatihan. Tepat setelah selesai melakukan briefing, parade dimulai. Saya, Kak Dona, dan Bu Aulia berlarian keluar. Kami melihat  berbagai mobil-mobilan dan gerobak yang dihias dengan berbagai cara. Ada yang dihias dengan lampu berwarna-warni, ada yang dibentuk menyerupai mesjid, ada yang dibentuk menyerupai pesawat terbang. Gerobak-gerobak tersebut dibuat oleh  perwakilan remaja mesjid dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah. Sambil mendorong gerobak tersebut dan membawa obor, mereka berjalan keliling kota, mempertunjukkan kreasi mereka sambil berteriak "Sahur, sahur!" atau ada juga yang melantunkan ayat Al-Quran.

Saya ikut merasa bersemangat. Suasana jalan ramai. Masyarakat berdiri di pinggir jalan menonton parade. Senangnya bisa ikut melihat kegiatan tersebut di mana 'hiburan sederhana' tersebut bukan hanya miliki segelintir orang saja tetapi bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Saat pelatihan saya bertemu dengan para guru. Saya belajar bahwa penduduk di Kuala Kapuas beragam etnis dan agama. Ada yang merupakan orang Dayak, Bugis, Jawa, Bali dan Batak. Agamanya juga beragam dari Hindu Kaharingan, Hindu, Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Mereka hidup berdampingan. Meskipun sedang bulan Ramadhan, selama pelatihan tetap disediakan makan siang karena ada banyak juga peserta yang tidak berpuasa. Peserta yang tidak berpuasa makan sedangkan yang lain menjalankan ibadah shalat.

Setelah pelatihan, kami kembali ke penginapan. Kami duduk di teras yang menghadap sungai sambil minum teh. Di Kuala Kapuas buka puasa biasanya sekitar pukul setengah enam sore. Sambil minum teh dan makan kue (sisa pelatihan), kami melihat kapal-kapal lewat. "Itu kapal dagang, " kata Pak Yudi, supir yang mengantar kami ke mana-mana termasuk dari Palangkaraya ke Kuala Kapuas.

"Biasanya di sebelah sana, mereka dihambat oleh perompak. Ada juga kapal yang lebih besar mereka membawa lemari, meja, dan lain-lain. Biasanya kapal itu jalan, dihambat, jalan, dihambat lagi. Kapalnya lama sampai karena banyak berhentinya. "

Saya juga sempat berjalan-jalan menggunakan becak berkeliling kota. Malam itu saya dan Bu Aulia memutuskan untuk melakukan shalat terawih di mesjid. Kalau mengunjungi suatu daerah baru, saya ingin merasakan shalat di mesjid lokalnya dan merasakan suasananya. Bu Aulia mengajak saya untuk naik becak karena takut kami terlambat. Ternyata shalat terawih belum mulai. Karena itu kami memutuskan untuk berkeliling kota dengan becak. Kami melewati sebuah pasar yang menurut tukang becak, belum lama ini sempat terbakar. Pasarnya bersih. Di sana ada orang yang berjualan pakaian, makanan berupa kue kering, buah-buahan, dan berbagai hal lainnya. Ada juga tukang jahit, tukang pangkas rambut, dan sebagainya.  Setelah berkeliling kami menuju mesjid lagi. Shalat terawih akan segera dimulai.

Kuala Kapuas merupakan salah satu daerah yang berkesan di hati saya. Kotanya kecil, bersih, di pinggir sungai, serta menambah pengalaman saya dalam mengenal keragaman masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari saya bisa kembali ke sini lagi.

Aug 4, 2012

Aug 2, 2012


Evaluasi Guru: Jalur UKG atau Sistem Pengawasan Sekolah?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati & Itje Chodidjah

Tanggal 30 Juli 2012 guru seantero Indonesia disibukkan oleh hajatan besar Kemendikbud yaitu Uji Kompetensi Guru. Sebuah perhelatan evaluasi terhadap kompetensi para guru dalam bentuk test online. Pemerintah merasa memerlukan data untuk memetakan kompetensi guru sehingga bisa menjadi dasar dalam merancang bentuk program peningkatan kompetensi guru yang perlu dilakukan.  Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selama ini tidak ada data mengenai kompetensi guru.

Perihal tidak adanya data yang dapat digunakan untuk memetakkan kompetensi guru disampaikan oleh pernyataan Pak Nuh, Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia. Menurutnya,  “Dengan pemetaan melalui UKG  ini nantinya bisa terlihat kelemahan  [guru] selama ini. Bagaimana bisa meningkatkan kualitas kalau petanya saja tidak tahu?” (http://www.kemdiknas.go.id, 28/07/2012). Diharapkan hasil UKG nantinya akan menjadi landasan pemerintah dalam menentukan jenis dukungan yang bisa diberikan kepada guru.

Pernyataan Pak Nuh di atas sebenarnya membenarkan kenyataan bahwa selama ini fungsi evaluasi guru tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya. Dalam struktur  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah terdapat perangkat untuk mengevaluasi guru yang salah satunya adalah melalui sistem pengawas sekolah. Keberadaan pengawas sekolah bahkan diatur dalam undang-undang yang dikeluarkan oleh menpan mengenai fungsi dan perannya. Berarti stuktur keberadaan pengawas itu kuat, termasuk kewenangannya untuk melakukan penilaian dan pembinaan kepada guru.

Pengawas sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah, dasar, dan menengah. (Keputusan Menpan No. 118/1996).

Dalam pernyataanya di atas Pak Nuh menyampaikan bahwa peta kualitas guru tidak ada dan oleh karenanya UKG  adalah langkah awal. Dengan adanya pengawas sekolah dalam sistem pengembangan pendidikan di Indonesia, seharusnya data mengenai kualitas guru telah dapat diperoleh melalui peran dan fungsi pengawas. Mereka berkewajiban untuk mengobservasi guru di kelas dan bahkan melaporkan data yang diperoleh dan menindaklanjuti dengan pembinaan yang diperlukan. Apabila proses ini berjalan dengan baik maka seharusnya data yang dimiliki oleh pengawas lebih komperhensif dibandingkan dengan hasil UKG. Seharusnya data pengawas mengenai guru menggambarkan potret penyelanggaraan proses belajar mengajar di lapangan. Sedangkan UKG yang lebih identik dengan testing pengetahuan, hanya akan menggambarkan tingkat pengetahuan guru yang masih perlu dipertanyakan apakah akan dapat digunakan sebagai alat untuk  peningkatan kualitas guru.

Pertanyaannya apakah fungsi pengawas benar-benar berjalan sesuai dengan yang diatur dalam peraturan Menpan 021 tahun 2010 dan permendiknas no 12 tahun 2007 tentang standard pengawas sekolah? Kalau iya, maka seharusnya pemerintah punya data mengenai kompetensi guru melalui proses pengawasan. Jika ternyata disinyalir tidak ada, maka berarti yang lebih perlu direformasi adalah sistem evaluasi melalui pengawas sekolah.
Dalam hal ini tampak adanya rantai yang terputus antara kemendiknas dan unsur-unsur dalam struktur di bawahnya. Informasi mengenai kompetensi guru tidak terakomodir dengan baik melalui komponen-komponen penyelenggara pendidikan. Hasil evaluasi guru oleh pengawas dan kepala sekolah tidak tersimpan dan siap menjadi informasi mengenai kompetensi mereka. UKG tampaknya adalah jalan pintas pemetintah pusat untuk turun tangan langsung menjamah kompetensi guru.

Kendala Evaluasi Guru : Kenya versus Indonesia
Sama seperti di Indonesia, di Kenya evaluasi guru dianggap sebagai hal yang penting namun tidak mudah dalam melakukannya. Dalam sebuah hasil riset yang dilakukan disampaikan bahwa salah satu kendala penting dalam melakukan evaluasi guru adalah karena kurang ada kesepakatan, semacam cetak biruyang menggambarkan bagaimana seharusnya guru yang ideal (Gullat & Ballard, 1998, h. 14).

Di Indonesia sebenarnya sudah ada semacam cetak biru mengenai kondisi guru ideal dalam bentuk  Peraturan Menteri Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 mengenai Standar Kualifikasi Alademik dan Kompetensi Guru. Di sana dinyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, serta kompetensi kepribadian.Namun makna dari keempat kompetensi terkesan masih abstrak sehingga menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda khususnya di kalangan guru.

Sebagaimana halnya di Indonesia, Kenya juga memiliki sistem pengawas sekolah yang dibawahi oleh Kementerian Pendidikan Kenya. Mereka bertugas untuk (a) memastikan bahwa kurikulum sekolah diimpelementasikan secara efektif; (b) memastikan bahwa guru berkompeten sehingga guru bisa dipromosikan  ke level yang lebih tinggi; (c) mengevaluasi calon guru dan praktek mengajarnya; (e) melaporkan mengenai kondisi sekolah ke propinsi; (f) melakukan perubahan dalam pendidikan; dan (g) menjembatani hubungan sekolah dan dunia kerja [sehingga apa yang dipelajari di sekolah berkaitan dengan dunia nyata] (Kementerian Pendidikan Kenya, 1994; Njoka, 1995; Republik Kenya, 1999).

Di Indonesia sendiri fungsi pengawasan tidak selalu berjalan dengan baik. Kompetensi pengawas pun dipertanyakan. Di Kenya masih banyak personel pengawas yang tidak kompeten, tidak terlatih, dan tidak berpengalaman (Gullat & Ballard, 1998). Di Indonesia pun begitu. Berdasarkan nilai Uji Kompetensi Awal (UKA) rata-rata nilai pengawas sekolah adalah 32, 58. Ini lebih rendah daripada rata-rata nilai guru TK (58,87), SD (36,86), SMP (46,15), SMA (51,35) dan SMK (50,02) (Kompas.com, 25/07/2012). Selain itu berdasarkan laporan-laporan beberapa guru yang masuk melalui Ikatan Guru Indonesia (IGI), banyak pengawas yang tidak sepenuhnya memahami bagaimana merancang kurikulum, tidak memahami mengenai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), serta bekerja secara tidak profesional. Meskipun pengawas berfungsi untuk mengobservasi dan menilai guru dalam mengajar di dalam kelas, banyak guru mengeluh bahwa mereka belum pernah diobservasi oleh pengawas satu kali pun  walaupun mereka sudah mengajar lebih dari 5 tahun.

Mengidentifikasi Masalah Evaluasi Guru
Baik di Kenya maupun di Indonesia mengevaluasi guru merupakan tantangan besar. Ada banyak masalah yang dihadapi dalam mengevalusi guru. Yang perlu diingat adalah untuk menyelesaikan sebuah masalah hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi masalah tersebut terlebih dahulu. Menurut Wanzare (2012, h.220) dalam penelitiannya “Rethinking Teacher Evaluation in the Third World : The Case of Kenya) masalah evaluasi guru di Kenya terjadi karena  (a) karakter birokrasi Kenya yang sifatnya top-down; (b) kurangnya kebijakan evaluasi yang komperhensif; (c) fungsi evaluasi guru yang tumpang tindih; (d) pola evaluasi yang tidak tepat; (e) kurangnya keahlian untuk melakukan evaluasi guru; (d) kurangnya umpan balik bagi guru yang sifatnya produktif; dan (f) kurangnya penelitian secara empiris.

Karena salah satu akar masalah dari evaluasi guru di Kenya adalah kurangnya keahlian untuk melakukan evaluasi guru, maka Wanzare (2012, h. 224) mengusulkan mengenai perlunya peningkatan kapasitas pengawas dalam melakukan evaluasi. Salah satu hal yang diprioritaskan untuk menangani masalah-masalah evaluasi guru adalah melakukan reformasi di level pengawas. Tentu saja ini disertai berbagai rekomendasi lain seperti pembuatan kebijakan mengenai evaluasi guru yang didefinisikan dengan lebih jelas, dan sebagainya. Semua usulan mengarah pada perbaikan perangkat evaluasi guru serta peningkatan kapasitas personel yang mengevaluasi guru.

Kegaiatan evaluasi guru adalah bagian dari mata rantai panjang peningkatan kualitas pendidikan oleh sebab itu penyelengaraannya sepatutnya dilakukan secara menyeluruh. Kriteria yang digunakan sebagai rujukan menilai guru juga harus jelas dan terukur. Peningkatan kulaitas pendidikan bukan semata-mata perbaikan kualitas guru tetapi juga mata rantai-mata rantai lainnya, seperti kepala sekolah, pengawas,dan para penyelenggara di tingkat birokrasi. Selain itu proses rekruitmen guru juga menentukan rancang bangun evaluasi kompetensi guru. Indonesia perlu menggali lagi apakah akar masalah dari evaluasi guru? Kenapa selama ini evaluasi guru tidak berjalan? Bagaimana peran pengawas dan juga kepala sekolah dalam mengevaluasi guru? Apakah selama ini peran tersebut dijalankan dengan baik? Bagaimana mengatasinya? Apakah uji kompetensi yang direpresentasikan melalui UKG, yang hanya akan menggambarkan tingkat pengetahuan guru dalam bidang pelajaran dan/atau pengethauan pedagogis, adalah jawabannya?