Feb 29, 2012

The Saber : Sebuah Educational Currency


1% dari pajak penggunaan telepon gengam (handphone) di Brazil digunakan untuk berbagai tujuan pendidikan. Selain menggunakan dana ini untuk membayar beasiswa dan meningkatkan fasilitas pendidikan ada cara lain untuk memanfaatkan dana ini.

Bernard Lietar, seorang ahli currency, mengajukan sebuah proposal yang berbeda. Dia mengusulkan agar dana tersebut juga digunakan untuk sebuah Educational Currency yang disebut 'Saber'. Curency di sini berarti alat tukar.

Prinsipnya sederhana. Siswa yang lebih besar harus menyediakan waktu untuk mengajar siswa-siswa yang lebih muda. Mereka akan mendapatkan semacam kupon yang menandakan bahwa mereka telah mengajar selama waktu tertentu. Poin yang dikumpulkan ini kemudian bisa digunakan untuk membayar biaya kuliah. Sehingga, bagi yang tidak mampu membayar biaya kuliah bisa mengumpulkan poin dengan mengajar.

Sirkulasi dari Saber dikendalikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional di Brazil. Kementerian mengalokasikan sebagian Saber ke sekolah-sekolah yang siswanya jarang melanjutkan kuliah. Siswa berusia 7 tahun bisa memilih seorang mentor dari kelas yang lebih tinggi, misalnya siswa berusia10 tahun. Mentor ini harus membimbing siswa 7 tahun ini khususnya di pelajaran di mana siswa ini paling lemah.

Kedua siswa jaadi lebih sering belajar. Siswa 7 tahun belajar dari siswa 10 tahun. Sedangkan dengan mengajarkan orang lain, siswa 10 tahun tersebut bertambah pemahamannya.

Siswa1 10 tahun tersebut akan dibayar per jamnya melalui kupon tersebut. Apabila siswa tersebut terus mengajar sampai usia 17 tahun, dia akan mempunyai cukup kredit untuk membiayai kuliahnya.

Saber juga mengadopsi salah satu model barter waktu di Jepang yang bernama Fureai Kippu.

Fureai Kippu yang artinya Caring Relationship Tickets (Tiket berdasarkan Hubungan yang Saling Mengasihi) adalah semacam sebuah sistem barter waktu yang diterapkan di Jepang. Kalau kita tinggal jauh dari orang tua (misalnya untuk kuliah) dan ada yang perlu merawat orang tua kita (misalnya tidak ada saudara lain di sana). Daripada harus membayar pengasuh dengan, uang kita bisa membayar denga Fureai Kippu. Fureai Kippu adalah semacam tiket yang kita dapatkan ketika kita merawat seseorang yang lebih tua. Kalau kita merawat orang tua ini selama satu jam, tiket tersebut bisa kita gunakan untuk meminta seseorang (yang mungkin belum kita kenal sekalipun) untuk merawat orang tua kita yang berada di kota lain.

Dalam sistem Saber, mengajar adik kelas bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan poin untuk biaya kuliah. Menjaga orang tua, misalnya di panti jompo atau mengajari orang tua yang buta huruf untuk bisa membaca juga merupakan salah satu cara untuk mendapatkan poin. Dengan begitu, anak-anak yang tidak mempunyai uang sekalipun bisa tetap melanjutkan kuliah. Mereka juga belajar lebih banyak karena setiap kali mengajari orang lain ilmu mereka bertambah. Di sisi lain, mereka juga belajar bersosialisasi dan juga berbagi.


Feb 21, 2012

[REPOSTING] Pendidikan Lingkungan Kehidupan, Apakah Diperlukan?


Tulisan ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia beberapa tahun yang lalu (saya lupa detailnya), mungkin masih relevan untuk kondisi sekarang.


Pendidikan Lingkungan Kehidupan, Apakah Diperlukan?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Di sekolah-sekolah di Jakarta, ada pelajaran Pengenalan Kehidupan Lingkungan Jakarta, disingkatPLKJ. PLKJ merupakan mengenai pengenalan lingkungan Jakarta. Pada dasarnya bertujuan mulia. Bukankah sangat baik untuk mengenali lingkungan di sekitar? Termasuk, mengenai Jakarta bila memang tinggal di Jakarta., Di Singapura juga ada pelajaran pengenalan lingkungan di sekolah. Siswa diajak pergi ke tempat-tempat umum seperti stasiun kereta api, taman, jalan, untuk melakukan pengamatan mengenai lingkungan. Kemudian siswa diminta membuat laporan dalam bentuk tertulis atau foto yang kemudian didiskusikan di kelas. Baik siswa maupun guru bebas berpendapat mengenai hasil pengamatannya. Melalui panca indera, siswa diajak untuk memahami yang ada dan terjadi di sekitarnya, sekaligus diasah kecerdasannya dengan melakukan analisa-analisa sederhana mengenai pengamatanya melalui tulisan maupun diskusi.

Contoh di atas hanyalah salah satu cara pengenalan lingkungan. Untuk mengajak siswa mengenali lingkungan, pelajaran PLKJ mempunyai ‘metode berbeda’. Berdasarkan pengamatan terhadap siswa kelas 4 SD, penulis menemukan salah satu cara pembelajaran PLKJ di sekolah. Siswa diminta untuk membaca suatu artikel di bab pertama buku teksnya[1], kemudian menjawab 10 pertanyaan yang berhubungan dengan wacana tersebut. Kebetulan, bab pertama adalah mengenai pusat perbelanjaan, sebuah tema yang dipilih mungkin karena pusat perbelanjaan akrab dengan lingkungan Jakarta. Aneka pusat perbelanjaan bertebaran di seluruh Jakarta., Artikel pada Bab I di buku PLKJ tersebut berjudul “ Mengapa Banyak Orang Suka Makan di Restoran yang ada di Mall?” dan isinya sebagai berikut: :

“Jika kamu mengunjungi mal, tentu kamu pernah melihat restoran di antara toko-toko yang ada. Kamu bahkan mungkin pernah melihat adanya lantai khusus atau lantai khusus restoran, di sana berbagai jenis makanan sudah tersedia. Kamu tinggal memilih makanan yang kamu sukai?”, Melalui tulisan ini, siswa diajak untuk menjadi konsumtif, terutama melalui pernyataan “kamu tinggal memilih makanan yang kamu sukai.”

Siswa hanya diajak melihat persoalan menurut sudut pandang konsumen tanpa memperhitungkan sudut pandang lainnya seperti sudut pandang penjual, pengujung, ataupun tukang bersih-bersih. Tidak semua siswa Jakarta mampu memilih makanan apapun yang ia sukai ketika ia berada di sebuah restoran. Ada siswa yang berasal dari keluarga berada dan sebaliknya. Penulis buku menggambarkan Jakarta sebagai kota untuk ‘golongan tertentu’ saja tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi sosial-budaya di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa penulis buku pun tidak mengenali lingkungan Jakarta sehingga menyebabkan munculnya wacana pembodohan yang tidak membuat siswa paham akan lingkungan sekitarnya.

Paragraf selanjutnya adalah: :

“Semula, restoran yang ada di mall disediakan untuk memenuhi kebutuhan pengunjungnya. Setelah berbelanja, banyak pengunjung yang merasa lapar dan haus. Jika sudah lelah tentu mereka enggan mencari restoran yang jauh. Mereka ingin makan dan minum, dan melepaskan lelah di mal tersebut.”.

Di sini ditunjukkan alasan-alasan mengapa orang lebih suka makan dan minum di restoran yang ada di mall. Sudut pandang yang digunakan, sekali lagi, adalah sudut pandang pebelanja (konsumen). Siswa tidak diajak untuk belajar sederhana, misalnya dengan membawa makanan/minuman dari rumah ketika berpergian.
Paragraf lainnya yang terletak di tengah artikel, adalah sebagai berikut: a;

“Dibangunnya pusat perbelanjaan yang non tradisional (modern) merupakan kebutuhan warga kota. Warga kota menghendaki keamanan dan kenyamanan berbelanja. Di kota-kota seperti Jakarta banyak dibangun pasar swalayan (supermarket). Pasar swalayan memenuhi kebutuhan masyarakat. Berbelanja di pasar swalayan akan merasa aman dan nyaman. Tempatnya bersih sejuk, serta pelayanannya memuaskan. Di sana tidak terjadi permainan harga sehingga pembeli tidak merasa dirugikan”.

Paragraf di atas menggambarkan kelebihan-kelebihan pusat perbelanjaan modern, tetapi tidak bebas nilai. Pusat perbelanjaan modern digambarkan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan masyarakat yang digeneralisir. Seakan-akan pusat perbelanjaan modern adalah kebutuhan masyarakat Jakarta pada umumnya dan bukan golongan tertentu saja. Kenyamanan yang disebutkan bagaikan bentuk ‘promosi terselubung’ agar siswa semakin mengenal pusat perbelanjaan modern dan tertarik untuk berbelanja di sana., Salah satu pertanyaan yang diajukan dalam PR siswa adalah:

“Mengapa berbelanja di pasar swalayan lebih nyaman ?“,

Di sini, siswa diharapkan menjawab pertanyaan sesuai ‘bentuk kenyamanan’ yang telah digambarkan dalam buku teks. Sebuah doktrinasi! Padahal, tidak setiap orang setuju bahwa pasar swalayan selalu nyaman., Paragraf kedua dari akhir artikel, isinya adalah:

Tempat perbelanjaan modern di Jakarta, misalnya Mall Kelapa Gading di Jakarta Utara, Plaza Senayan di Jakarta Pusat, Pasaraya Manggarai di Jakarta Selatan, dan Supermarket Hero.

Nama-nama pusat perbelanjaan bukan pengetahuan umum yang harus diketahui siswa SD. Anehnya, penulis menemukan bahwa salah satu pertanyaan di PR siswa adalah :

“Sebutkan pasar swalayan di sekitar tempat tinggalmu!“

Sebuah pertanyaan yang tidak mencerdaskan dan tidak perlu ! Dari bentuk-bentuk pertanyaan yang di PR-kan, terlihat bahwa pemberian PR kepada siswa tidak memiliki tujuan apapun selain ‘menyibukkan siswa’. Siswa dipaksa belajar hal-hal yang tidak perlu dipelajari di sekolah seperti mengenai nama-nama pasar swalayan.

Pelajaran PLKJ, sebenarnya bisa menjadi cara untuk mengajak siswa peka terhadap lingkungannya baik fisik maupun sosial. Sangat disayangkan, contoh pembelajaran di atas sama sekali tidak menggambarkan adanya tujuan-tujuan ‘mengajak siswa untuk lebih peka’. Pihak sekolah tidak berhati-hati dalam merekomendasikan buku untuk siswa. Hal-hal tanpa tujuan mendidik pun diajarkan. Seharusnya, diperlukan sikap bijaksana, kecerdasan dan kreativitas pihak pendidik.

Pendidik yang cerdas tidak akan membodohi siswa dengan memaksa mereka belajar apa yang tidak perlu dipelajari. Pendidik berwawasan luas dan kreatif akan menggunakan beribu cara lain untuk agar siswa bisa belajar mengenai lingkungannya, misalnya dengan menggunakan wacana dari media massa, megajak anak-anak mewawancara orang-orang disekitar lingkungannya, mengundang pihak-pihak lain untuk berbagi kisah di sekolah mengenai kehidupannya, dan banyak lagi! Tanpa adanya tujuan mungkin lebih baik pelajaran ini dihilangkan saja ! Bukankah lebih baik daripada membodohi siswa?
Sumber :

PLKJPendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta, Disusun oleh : Tim PLKJ SD, Penulis : Drs. Budiana, Drs. Suyanto, Drs. Enco Sartono, Drs. H Wasmat Sanusi, Edisi Ketiga, Cetakan Kedua : Muharam 1426 – Febuari 2005, Percetakan : Ghalia Indonesia

Feb 19, 2012

Buku kecil


Desember lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Nirmala, seorang aktivis lingkungan yang kini bergiat di Zero Emissions Research & Initiatives (ZERI). Nirmala memberikan saya sebuah hadiah sebuah buku kecil yang manis, judulnya 'How can I be the strongest tree in the forest' karya Gunter Pauli. Bukunya kecil sekitar 7 cm x 10 cm sehingga bisa dimasukkan kantung celana. Kertasnya dari potongan kertas sisa di percetakan yang dicapatkan secara cuma-cuma. Bisa potongan kertas tersebut dilipat-lipat sehingga membuat buku. Lucu banget.

Ceritanya juga sederhana tetapi indah. Ini salah satu kutipan favoritku :
"All contribute to be the strongest, some are small, some are ugly, some I do not know the difference between their head or tail"

Intinya ketika pohon memiliki banyak daun, dia akan mendapatkan lebih banyak energi dari matahari. Lalu sisa-sisa daunnya akan jatuh ke tanah. Cacing, semut, jamur akan mengolah sisa daun tersebut dan itu akan menjadi makanan untuk pohon. makanan tersebut memungkinkan pohon menumbuhkan semakin banyak buah. Buah tersebut akan mendatangkan burung. Burung akan menjatuhkan kotoran yang akan membuat tanah semakin subur. Pohon pun akan menjadi lebih kuat sehingga bisa membantu tersedianya air tanah. Air membantu tumbuhnya bunga-bunga. Semakin banyak bunga, semakin banyak lebah yang datang. Semakin banyak lebah, semakin banyak penyerbukan. Semakin banyak penyerbukan semakin banyak makhluk hidup baru dan juga makanan untuk semua.
I suppose every child has a world of his own — and every man, too, for the matter of that. I wonder if that's the cause for all the misunderstanding there is in Life? (Lewis Caroll)

Feb 14, 2012

I loved learning. School was the place of ecstasy - pleasure and danger. To be changed by ideas was pure pleasure. But to learn ideas that ran counter to values and beliefs learned at home was to place oneself at risk, to enter the danger zone. Home was the place where I was forced to conform to someone else's image of who and what I should be. School was the place where I could forget the self, and through ideas, reinvent myself. (Bell, 1994, p.3)

Hooks, Bell . (1994). Teaching to Trnsgress : Education as the Practice of Freedom. New York : Routledge Falmer)

Feb 12, 2012

AB Three (Be3) Andaikan Saja


Andai saja aku ini seorang peri
Punya sayap mungil yang ringan dan putih
Ku kan terbang melayang di awan
Dan bermain di atasa awan menggumpal

Aku akan jadi peri yang baik hati
Punya tongkat mungil yang sangatlah sakti
Kan kubuat seisi dunia bersahabat, saling menebarkan cinta

Oh indahnya, hangatnya bila, semua impianku jadi nyata
Dan tiada lagi angkara yang kan benturkan hati kita

Dan apabila ku lihat ada yang lara, ku kan datang tanyakan apa sebabnya
Kan kubuat kembali ceria, hingga sirna segala derita yang ada

Oh indahnya, hangatnya bila
Semua impianku jadi nyata
Dan tiada lagi angkara yang kan benturkan hati kita

Andaikann.. andaikan saja..
Impianku jadi nyata

Andai saja aku ini seorang peri
Punya tongkat mungil yang sangatlah sakti
Kan kubuat seisi dunia bersahabat
Saling menebarkan cinta

Oh indahnya hangatnya bila
Semua impianku jadi nyata
Dan tiada lagi angkara
Yang kan benturkan hati kita

Feb 10, 2012

[REPOSTING] Kenalkah Kau Pippi Si Kaus Kaki Panjang?


Judul Buku : Kenalkah Kau Pippi Si Kaus Kaki Panjang?
Pengarang : Astrid Lindgren
Ilustrasi : Ingrid Nyman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 26 halaman

Ada dua anak bernama Thomas dan Annika. Mereka sangat ingin memiliki teman seumur. Di sebelah pekarangan rumah Thomas dan Annika ada sebuah Pondok bernama Pondok Serbaneka yang kosong. Thomas dan Anikka sangat mengharapkan ada anak seurmur mereka yang tinggal d sana.

Suatu hari, Thomas dan Anikka mengintip keadaan Pondok Serbaneka melalui pagar, mereka melihat ada seoraang anak perempuan yang kuat sekali yang sedang mengangkat kuda.

Ternyata anak perempuan tersebut baru pindah ke Pondok Serbaneka dan dia tinggal di sana sendirian karena dia tidak mempunyai ibu maupun ayah. Nama anak perempuan tersebut adalah Pippi. Ia melihat Thomas dan Annika dan mengajak mereka sarapan di rumahnya. Pippi memasakkan telur dan kue dadar untuk Thomas dan Annika. Saat memasak telur, ternyata telurnya ada yang tumpah ke rambut Pippi. Pippi senang saja karena dia pernah mendengar bahwa telur bagus untuk rambut, jadi dia berpikir bahwa rambutnya akan tumbuh panjang dan indah.

Pippi anak yang sangat mandiri. Dia terbiasa mengerjakan banyak hal sendiri, mulai dari mengepang rambut, memakai baju, makan, mandi, keramas, membersihkan lantai, memotong kayu, membersihkan tungko dan cerobong, walaupun dilakukan ala Pippi. Pippi juga senang mencari harta karun. “Aku ini pencariharta” kata Pippi. Harta bagi Pippi bias bermacam-macam, seperti kaleng, gelondongan benang, dan sebagainya. Semua hartatersebut dapt digunakan untuk bermain-main.

Suatu hari Pippi, Annika, dan Thomas mengunjungi sirkus. Pippi pun ikut beraksi dalam sirkus. Ia ikut berakrobat, mengunggang kuda, dan melawan orang yang kuat. Pippi sangt ingin ikut bersenang- senang.

Suatu hari, rumah Pippi dikunjungi dua perampok jahat. Mereka ingin mencuri barang Pippi. Pippi tidak takut, para perampok dilempar ke atas lemari sampai perampoknya menangis. Pippi menjadi kasihan, sehingga masing-masing perampok diberi 1 keping emas untukmembeli makanan.

Pippi akan berulang tahun. Dia mengundang Thomas dan Annika untuk ke rumahnya. Kuda Pippi juga diajak berpesta. Setelah, makan, Pippi, Thomas, dan Annika bermain permainan `Jangan menyentuh Lantai’. Senang sekali!!

Pippi memiliki banyak mainan. Sebelum pulang Thomas dan Annika pulang, Pippi membagikan beberapa mainannya dengan Thomas dan Annika. Thomas dan Annika pun senang

PEMBAHASAN MENGENAI BUKU

Waktu pertama kalinya mau membacakan cerita di SD Al-Hidayah, aku dan teman-teman bersepakat memilih buku yang gambarnya berwarna- warni agar anak-anak tidak bosan. Setelah tahu tanggapan anak-anak baru akan mulai dengan cerita-cerita lainnya. Akhirnya, dipilihla buku mengenai Pippi ini. Gambarnya banyak dan ceritanya cukup seru.

Waktu kecil saya, sudah sering membaca mengenai Pippi Si Kaus Kaki Panjang, saya pun senang senang saja, akan tetapi setelah saya sudah `sebesar sekarang’ ada kekhawatiran juga, benar ga yah membcakan buku cerita ini untuk anak-anak? Ada ngak yah nilai-nilaiyang disampaikan melalui buku ini? Menurut, kacamata orang dewasa, Pippi melakukan beberapa hal-hal yang tidak biasa, misalnya memasak dengan berantakan hingga ada telur di kepalanya dan Pipi membiarkannya saja, kalau makan Pippi terlentang di atas meja danmenaruh piringnya di kursi, dan masih banyk lagi.

Ibu Thomas dan Annika memang tahu bahwa sikap Pippi agak `luar biasa’ tapi ia tahu bahwa Pippi tidak akan pernah berniat menyakiti Thomas dan Annika sehingga ia membiarkan saja anak anaknya bermain bersama Pippi.

Akhirnya, pada hari-H saya tetap saja membacakan buku ini untuk anak-anak Al-Hidayah. Ternyata saat membacakan buku saya baru menyadari beberapa hal. Pertama saat Pippi mengangkat kuda, saya menemukan bahwa Pippi adalah anak perempuan yang kuat. Wah, ternyata permpuan bisa kuat juga.

Kedua, saya menemukan bahwa Pippi selalu menemukan cara untuk senang. Walaupun ia tidak tinggal bersama orang tuanya ia tetap bisa bahagia. Pippi tidak pernah mengeluh. Apapun ia lakukan dengan senang hati.

Hal lain yang saya temukan adalah bahwa Pippi sangat mandiri. Segala hal ia lakukan sendiri, mulai dari memakai baju, mengepang rambut, mandi, membersihkan lantai, memotong kayu, dan membersihkan cerobong. Pippi juga sangat pemberani misalnya, waktu ada perampok, ia berani melawan perampok (karena memang Pippi kuat) tapi di sisi lain Pippi juga lembut hatinya, sehingga ketika melihat perampok tersebut menangis, ia memberika perampok tersebut untuk makan.

Ada kalimat di dalam buku yang tulisannya “Orang kuat harus baik hati juga”. Pippi juga sangat suka berbagi. Karena mainannya banyak sekali hingga memenuhi laci, ia membagikan beberapa mainannya kepada Thomas dan Annika.

Suatu saat, aku berdiskusi lagi dengan seorang temanku mengenai buku Pippi ini. Ternyata dia menemukan banyak lagi nilai tersirat di dalamnya, Misalnya, tentang Pippi yang mengangkat kuda, ada nilai tersirat yang menyatakan bahwa perempuan tidak harus selalu berada di posisi yang lemah. Pippi bisa masak sendiri, walaupun kalu masak agak berantakan. Namanya juga anak-anak.

Anak- anak tidak harus selalu dituntut untuk sempurna, tapi setidakny diminta untuk (misalnya) mencoba untuk mandiri. Anak-anak tetaplah anak-anak, Kalau pippi makan, dia makan dengan caranya sendiri, Pippi terlentang di atas meja, tetapi piringnya ada di atas kursi.

Kalau menurut orang dewasa, hal ini adalah aneh, akan tetapi kalau dipikir-pikir apa salahnya Yang penting Pippi makan sendiri. Pippi memang melakukan banyak hal dengan cara yang kreatif dan tidak biasa. Kalau mandi, pippi akan mencelupkan seluruh kepalanya ke dalam baskom karena ia suka kalau matanya kena air. Pippi mandi sendiri walaupun ia mandi `ala Pippi’. Ketika membersihkan lantai, Pippi mengikat sikat di kakinya dan menggosok lantai sambil bermain-main. Cara yang kreatif untuk membersihkan lantai bukan?

Ketika Pippi di sirkus, tiba-tiba ia ingin maju ke depan dan ikut beratraksi. Ia bermain akrobat, ikut naik kuda bersama pemain sirkus lainnya. Hal ini memang menciptakan kehebohan, karena pemilik sirkus menjadi marah. Tapi Pippi dengan polosnya berkata, “Kenapa aku tidak boleh ikut bersenang-senang?” balik adegan ini adalah mengajarkan Ternyata nilai lain yang terkandung di anak-anak untuk berani. Jadi keberanian Pippi tidak hanya ditunjukkan dengan keberaniannyq melawan perampok, tapi juga keberaniannya untuk mengemukakan pendapatnya (dan untuk tampil di sirkus).

Di sirkus juga ada adegan di mana Pippi melawan orang terkuat di dunia. Aku ingat ketika anak anak yang kudongengkan bilang,”Wah Pippinya smack down.” Setelah dipikir-pikir buka nilai “smack-down” yang ingin disampaikan, tetapi yang lebih ditekankan adalah keinginan Pippi untuk mencoba menghadapi tantangan. Walaupun, katanya, orang (di sirkus) yang sedang tampil adalah orang terkuat di dunia, Pippi tetap ingin mencoba untuk membuktikan bahwa ia bisa menghadapi orang tersebut. Potongan adegan ini.

….. Pemimpin sirkus berjanji, orang yang bisa menjatuhkan Adolfsan perkasa akan diberi hadiah. “Aku bisa,” kata Pippi kepada Thomas dan Annika.

“Tidak mungkin,” tukas Annika. “Dia kan orang paling kuat di dunia.”
“Dan aku anak paling kuat di dunia,” Pippi berkata.

Nilai lain yang ditemukan dalam buku Pippi ini, diantaranya, adalah bahawa Pippi bisa bermain dengan apapun yang ada di sekitarnya (bukan membeli sesuatu yang baru). Misalnya Pippi bisa menggunakan kaleng bekas untuk menjadi topi, Pippi pun bisaberpetualang dengan permainan yang dibuat sendiri yakni permainan `Jangan Menyentuh Lantai’. Pippi berlompatan ke atas meja, kursi, karpet, apapun asalkan tidak menyentuh lantai. Permainan yang idenya sederhana tapi tetap menyenangkan.

How do you learn to roller skate? Certainly not just by reading instructions and watching otthers, although these may help. Most certainlly, you learn by skating. And if you are a good learner, by thoughtful skating, you pay attention to what you are doing, capitalize on your strengths and work on your weakness.

(Perkins, David ; Blythe, Tina .(1994). Putting Understanding Up Front in Educational Leadership; Feb 1994; 51:5 ; page 4 - 7

Feb 6, 2012

Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui

Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui

Oleh Dhitta Puti Sarasvati

6 Februari 2012

Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung. Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan penelitian.

“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan sampah ini digunakan untuk membayar SPP)”

“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun yah? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut. Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana. Saya merekomendasikan Kak Puti!” kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet, bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di puti[at]igi[dot]or[dot]id ya!).

Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan senang hati menerima tawaran saya.

“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,” sambut Bu Yunyun dengan mata berbinar-binar.

Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Santa Maria Marsudirini, Jogjakarta . Setelah lulus, dia mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU. Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi, mereka mengajar di sore hari.

Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak untuk mengikuti ‘workshop’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan guru PAUD dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta workshop) meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.

Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di Urban Poor Consorsium (UPC) mengajak saya untuk live in, menginap di rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi guru PAUD di sekitar sana.

Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua dan mengajak anak-anak menggambarnya.

Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk), anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana. Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.

Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar, dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri, mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.

Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor. Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain, bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang, bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain. Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi. Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.

Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?

Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi, tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa, apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini. Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1, pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka. Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih sangat terbatas. Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.

Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak, belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class” mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya. Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20 orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-sms saya, “Maaf yah, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.” Guru-guru di sana tidak mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.

Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu, ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).

“Mencatat apa Bu?” tanya saya penasaran.

“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.”

Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.

Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.

“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,” kata seorang guru kepada saya.

Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.

“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru TK). Untuk apa sih ada PAUD? Kan sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar dengan lebih baik?”

“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, yah putus sekolah. Mereka memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun, yang wajib belajar, mereka putus sekolah. ”

“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau hanya untuk bermain-main – mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah. Berkebun saja!”

Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran mainstream.

Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah toh anak-anak sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut? Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.

Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini, punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.”

Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan workshop untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan workshop hanya untuk guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan (setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan sendiri saja.”

Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut. Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang teman-teman!