Apr 30, 2011

Rencana

Gapai langit
Dengan kaki yang menyentuh bumi
Terbang melanglang
Untuk
Kata mereka

Untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk ini
Membenamkan lagi diri pada buku
Lalu pencaharian dan pencaharian lagi
Lalu tiba saatnya berbakti
Dengan lebih 'cerdas' lagi

Apr 27, 2011

When you meet good people

The world may not be as beautiful as in a fairy tale.
However, there are still good people around.
Just look around and see
There is no reason to loose faith
There is no reason to loose hope

The world might be filled with sorrow
But can't you see the laughter too?
Sincere smiles, kindness and fight for the truth?

Just start your journey
And the universe will work with you

Apr 26, 2011

:(

Thanks God. I love my job!

However, working with teachers on a day to day basis is not always easy. I get to know what are happening in classrooms, I hear stories of every day teaching, and the reality in Indonesian schools.

However, the reality is not always fiiled with happy stories. Like today, a teacher called to ask help because the headmaster likes sexually abbuses the girl students, verbaly and phisicaly. He likes to ask girl students to touch places that shoudn't be touched. Finally, a students gets pregnant and was unable to join the final examination because of labour. The teacher wants to go to the police but she is so scared that she would get fired. At the moment she just needs someone to talk too.

Apr 21, 2011

Rumus Cepat yang Membuat Gemas

Ada kalanya saya tidak sabar dalam mengajar. Menghadapi anak-anak SMP yang misalnya masih bingung menghitung 1/2 dibagi dua, bagiku masih wajar. Kasus sejenis sering sekali saya temui. Bahkan saat saya mentraining beberapa guru SD, ada juga yang tidak mengerti beberapa konsep dasar matematika seperti perbanding (rasio), tidak tahu bahwa volume suatu benda, selain dengan rumus bisa diketahui dengan cara lain (misalnya mencemplungkan benda ke dalam sebua wadah berisi cairan), dan bahkan terpana melihat bahwa 1/2 memang kalau digambar sama dengan 2/4 dan akan sama dengan 3/6, dan seterusnya.

Menghadapi pembelajar yang belum mengerti suatu konsep, tentu sang pengajar harus sabar. Saya selalu berusaha agar senantiasa sabar dalam hal ini. Meskipun begitu, tidak selalu berhasil, tampaknya saya harus belajar lagi. ;) Ada hal yanhg selalu membuat saya gemas, atau sedikit tidak sabar, yakni ketika si pembelajar terlampau sering meminta rumus cepat.

Seorang murid privat saya tidak punya masalah saat melakukan kalkulasi. Dengan mudahnya dia melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tetapi menurut saya, dia sering sekali minta diberitahu rumus cepat dan kadang asal memasukkan angka ke rumus saja

Misalnya, ketika ada pola seperti ini :

oo

ooo
ooo

oooo
oooo
oooo

ooooo
ooooo
ooooo
ooooo

Saay ditanyakan berapakah besar suku ke-20

Murid saya tiba-tiba langsunng menggunakan rumus deret artitmatika untuk menghitungnya :

Un = a + (n-1)b
Un = suku ke-n
a = suku pertama
n = jumlah suku
b = selisih antar suku

Murid saya langsung menghitung b sebagau U2 - U1 tanpa melihat pola sama sekali.

Padahal pola di atas bukan deret aritmatika.
Polanya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 4, 4 x 5, dan seterusnya.

Ini berarti untuk menghitung suku ke- 20 cukup melakukan 20 x 21.

Setiap menghadapi soal matematika, murid saya sering bertanya, "Ada rumus cepatnya"?

"Masa gak ada rumus cepatnya? Kata guru di sekolah ada."

Saya terbengong-bengong dibuatnya karena jadinya saya yang sering diajari rumus cepat oleh murid saya. Maklum saya memang tidak membiasakan diri menggunakan rumus cepat.

Seringkali saya mengatakan, "Saya tidak akan memberikanmu rumus cepat, kalau kamu menemukan sendiri rumusnya, itu soal lain."

Saking terbiasanya memasukkan angka ke dalam rumus, bahkan ketika dihadapkan pada soal 1/2 bagi dua, tiba-tiba murid saya bilang, "Saya lupa rumusnya." 1/2 : 2 itu 1/2 x 1/2 atau 1/2 x 2/1".

Saya mengambil sebuah kertas, saya melipatnya menjadi dua. Nah, "Masing masing ini nilainya berapa?" Tanya saya sambil menunjukkan lipatan kertas yang nilainya 1/2. "Kalau saya bagi dua lagi, berapa nilainya?"

"Oh 1/4," kata murid saya, "artinya 1/2 : 2 =1/2 x 1/2"

Murid saya yang satu ini seringkali melakukan kesalahan karena memasukkan angka ke dalam sebuah rumus tanpa mengetahui asal usulnya dari mana. Padahal kapasitas otaknya sebenarnya cukup baik, kalau diajak berdialog atau tanya jawab secara lisan, logikanya berjalan dengan baik. Tetapi melihatnya membiasakan diri dengan rumus cepat benar-benar membuat saya gemas. Sayang sekali, memasukkan angka ke dalam rumus-rumus atau formula tanpa tahu sebabnya. That's not mathematics at all. Ada sedikit rasa sedih di hati saya. Mungkin memang ada yang perlu dibenahi dari pendidikan kita, termasuk dalam pelajaran matematika.

Apr 1, 2011

Berawal dari Gen Si Kaki Ayam

Sepaket komik "Gen Si Kaki Ayam" sebanyak 20 seri saya dapatkan di pameran buku di Bandung dengan harga diskon besar-besaran saat itu (saya lupa detailnya). Ceritanya ternyata seru mengenai kondisi Jepang setelah terkena bom Hiroshima. Cukup miris membacanya. Intinya karena perang dunia, rakyat Jepang menderita. Di dalam buku Gen Si Kaki Ayam ada pesan bahwa pemimpin (saat itu) sibuk memikirkan perang padahal perang hanya akan membawa sengsara bagi rakyat jelata.

Setelah membaca buku tersebut, saya membawa satu set buku tersebut pada murid-murid saya di Sekolah Rumah Mentari, sebuah sekolah non-formal (saat itu untuk persiapan ujian paket B) di daerah Cirapuhan, Bandung.

Buku tersebut dibaca bergantian oleh murid-murid saya hingga lecek dan beberapa hilang lembarannya tak karuan (lem bukunya memang mudah copot). Seorang murid saya saat itu mengaku tidak terbiasa membaca buku (bahkan buku komik) dan terkesan sekali dengan buku tersebut. Suatu hari dia pernah berkata, "Gara-gara membaca buku Gen Si Kaki Ayam aku jadi suka baca. Ada buku lagi gak Kak?" tanyanya pada saya.

Kejadian tersebut sudah sekitar 3,5 tahun yang lalu. Murid saya tersebut kini sudah tumbuh lebih besar dan dewasadan hampir menyelesaikan sekolahnya di SMK Pariwisata bidang tata boga. Saat saya bertemu dengannya lagi dia mengatakan sudah membaca buku-buku lainnya, mulai dari Laskar Pelangi, Panggil Aku Kartini Saja, dan sedang menyelesaikan Tetralogo Pramudya Ananta Toer yang memang tersedia di perpustakaan Sekolah Rumah Mentari.

"Benarkah?" pikir saya. Ada bahagia terselip karena kemampuan membacanya sudah berkembang.

Dalam hati saya berharap bahwa kebiasaannya membaca akan diteruskannya hingga seumur hidupnya, memperkaya jiwaya, memperkaya pikirannya.