Nov 22, 2009

Bertemu Tibetian Monks



Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan pusat Bristol. Menurut teman saya ada beberapa Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestry yang sedang membuat lukisan dengan pasir. Saya sangat tertarik ingin mengetahui teknik pembuatan lukisannya. Pasir berwarna diletakkan ke dalam sebuah corong logam lalu di samping corong ada bagian bergerigi. Bagian ini digesek-gesekan dengan sebuah alat, sehingga pasir keluar secara perlahan. Wow mengerjakan lukisan tersebut benar-benar membutuhkan kesabaran.

Para Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestery ini juga berjualan berbagai barang seperti gelang, kartu pos, hiasan dinding, karena mereka sedang mengumpulkan dana untuk pembebasan Panchen Lama yang bernama Gedhun Choekyi Niyam, salah satu tahanan politik paling muda di dunia.

Saat saya sedang melihat-lihat barabf-barang yang dijual oleh para monks, saya terpana pada sebuah hiasan dinding berwarna jingga. Tulisannya begini:

THE PARADOX OF OUR AGE

We have bigger houses but smaller families;
more convinience, but less time;
we have more degrees, but less sense;
more knowledge, but less judgement'
more experts, but more problems;
more medicines, but less healthiness;
We've been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet the new neighbour.
We built more computers to hold more
information to produce more copies than ever, but have less communication;
We have become long on quantity,
but short on quality.
These are times of fast foods
but slow digestion;
Tall man but short character;
Steep profits but shallow relationships;
It's a time when there is much in the window, but nothing in the room

... His Holiness the 14th Dalai Lama


Entah kenapa kata-kata ini begitu mengena bagi saya, mungkin juga koreksi terhadap diri sendiri. Saya meminta izin kepada sang biksu yang menjaga barang-barang dagangan untuk memotrer tulisan ini lalu mengobrol sedikit tentang Pancen Lama yang sedang dipenjara. Akhirnya saya berjalan pulang.

Nov 14, 2009

Guru-guru yang istimewa: Mereka yang memiliki kekuatan dari dalam

Seorang rekan guru, yang juga seorang trainer baru kembali dari sebuah daerah yang pernah (atau masih?) mengalami konflik di Indonesia. Di sana ia meminta para guru-guru menceritakan pengalaman pertama mereka mengajar. Dan ini adalah salah satu kisah mengenai seorang guru yang punya kisah luar biasa. (Saya akan gunakan nama samaran untuk menggantikan nama aslinya)

Tiba giliran seorang ibu guru bernama Ibu ABC. Beliau ternyata telah mengajar lebih dari 25 tahun! Wah, hebaaattt...Ibu ABC bercerita bahwa ketika beliau mulai mengajar adalah di suatu desa (saya lupa namanya) yang menjadi awal peperangan Pihak X dengan Pihak Y. Beliau bercerita, ketika itu baik X maupun pasukan Y tidak pandang bulu. Mereka menyerang, masuk ke sekolah2 ketika anak2 sedang belajar, bahkan ada yang menghadapi ujian seperti sekolah ABC saat itu. Dengan berapi-api Ibu ABC menceritakan bagaimana ia melawan X yang masuk dengan paksa dan berusaha menyelamatkan anak2 dengan membawa mereka keluar dari sekolah mengungsi ke gunung-gunung. Dengan berani, Ibu ABC membawa murid2nya pergi dengan "labi-labi" semacam angkutan umum, seperti angkot di daerah Bogor. Menurut ABC, labi2 ketika itu penuh dengan orang bersenjata.

Satu hal yang saya salut dari Ibu ABC adalah, kebesaran jiwanya yang berusaha menyelamatkan murid2nya dengan berani. Sewaktu saya menanyakan kepada beliau bagaimana perasaan beliau ketika itu, beliau menjawab seperti ini, "Entah mengapa, tidak ada rasa segan, takut, atau ciut hati ketika saya menghadapi orang2 bersenjata itu yang masuk ke kelas saya. Yang ada di kepala saya adalah bagaimana saya harus menyelamatkan murid2 dari orang2 kejam yang tak kenal welas asih. Mereka menyiksa salah satu guru kami di depan anak2 karena guru kami itu dicurigai sebagai orang dari pihak Y. Satu hal yang ada di kepala saya, anak2 harus pergi dari situ. Saat itu tidak ada rasa takut sedikit pun. Namun, satu minggu setelah kami pergi mengungsi, saya menjadi trauma akan peristiwa itu..."


Rekan saya begitu kagum dengan cerita yang disampaikan Ibu ABC, begitu pula saya. Tapi kisah di atas mengingatkan saya atas sesuatu yang telah begitu lama saya percaya.

Saya selama ini sangat percaya bahwa kita tidak bisa mengajarkan orang lain mengenai sesuatu yang "bukan diri kita". Maksudnya, saya selama ini percaya bahwa hanya guru yang berani yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai keberanian. Hanya guru yang berjiwa besar yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai berjiwa besar, Hanya guru yang sederhana yang bisa mengajarkan murid-muridnya tentang kesederhanaan. Hanya guru-guru yang pantang menyerah yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai kegigihan. Hanya guru yang berkarakterlah yang bisa mendidik murid-murid menjadi berkarakter.

Seorang sahabat saya sempat curhat, "Saya ingin agar murid-murid saya bisa hidup sederhana, bisa menabung, tidak boros, tapi kemarin seorang muridku memergokiku sedang makan di sebuah restoran fast food padahal saya mengajarinya membawa bekal ke sekolah. Saya malu sekali."

Sahabat saya kini sedang berusaha sekali agar ia bisa menjadi pribadi yang ia impikan, pribadi yang sederhana dan tidak boros. Ia berkata padaku bahwa ia tidak ingin mengajarkan sesuatu yang ia sediri tidak lakukan. "Ngak ngaruh kalau ngak. Ngak kena soul-nya," begitu katanya.

Dua orang sahabat saya yang lainnya memiliki ibu seorang guru. Tapi, guru di zaman dulu. Meski sekarang masih banyak guru yang penghidupannya di bawah layak, kini sudah ada beberapa guru yang memiliki penghasilan yang cukup besar, sehingga mereka tidak perlu bekerja lagi untuk menghidupi keluarga. Mereka bisa fokus di pengembangan diri, membaca, meningkatkan pengetahuan dan banyak lagi.

Kedua orang sahabatku yang ini memiliki kisah yang cukup mirip. Ibu mereka, selain harus mengajar menjadi guru, juga harus mengerjakan pekerjaan lainnya seperti berladang, sehingga bisa menghidupi keluarga.

"Ibuku sekarang jadi kepala sekolah, dan sekolah tempat ibuku mengajar sekarang mendapatkan dana yang cukup untuk gaji guru, dan juga mendapatkan dana BOS. Ibuku menggunakan dana tersebut untuk membeli buku, dan langanan koran di sekolah. Katanya memang harus dari dulu begitu, gaji guru harus mencukupi sehingga bisa untuk pengembangan diri. Dulu ibuku mana sempat. Harus kerja selain mengajar. Juga memasak dan mengurus keluarga."

Sahabatku yang lain, memiliki ibu yang setiap hari setelah pulang mengajar harus bekerja di sawah dan juga mengurus keluarga. Beras didapatkan dari pekerjaannya bertani, sehingga ia memiliki cukup uang untuk membiayai kelima putra-putrinya sekolah hingga tinggi. Ibunya juga berpendapat sama, bahwa memang sehrausnya guru memiliki penghasilan yang memadai agar memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri.

Saya sungguh setuju, bahwa guru memang harus diperhatikan kesejahteraannya. Tetapi berdasarkan cerita kedua sahabat saya, saya tahu bahwa ibu mereka masing-masing merupakan guru yang luar biasa. Mereka memiliki kualitas yang mungkin tidak (atau belum) saya atau guru-guru muda lainnya miliki. Mereka bertahun-tahun berjuang menghadapi hidup dengan kerja keras. Tanpa perlu bicara, mereka bisa mengajarkan muird-muridnya mengenai kerja keras. Mereka bertahun-tahun hidup dengan kondisi ekonomi yang sulit, harus hidup sederhana tapi tidak pernah menyerah. Tanpa kata mereka pasti bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya mengenai bertahan dalam kondisi sulit, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah. Semuanya karena kerja keras, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah merupakan bagian menyeluruh dari kepribadian mereka. Kepribadian guru-guru yang istimewa.

Nov 13, 2009

Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana

It was Miss Emily herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a large calender with photos of the county. She had quite a collection of these picture calenders, and we got through most of the counties this way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields; if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now, after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the first time I ever heard of Derbyshire.


(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan saya menemukan potongan di atas. Potongan di atas menggambarkan bagaimana seorang guru, dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru saya (tepatnya dosen saya), sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB. Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di kantornya. Permisi Pak. Ia membalas, " halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya. Bentuknya seberti silinder yang memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab, "Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor. Aliran panas lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajari saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan saya dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti teman-teman saya. Tetapi perbincangan di hari itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya, sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya kesan yang Pak Halim tinggalkan pada saya hari itu. Suatu hari di laboratorium surya.