Dec 31, 2011

Spatial Reasoning

There is an interesting article "Why Schools Don't Value Spatial Reasoning." Here's an interesting quote :

For students who are not talented with words and numbers but who are talented with mentally rotating figures and shapes in their minds, there is often very little offered to recognize and challenge them in the regular school system.
You can read more in :


GLEE (Kurt/Rachel) - For Good: from Wicked (Video)


I'm limited (just look at me)
I'm limited and just look at you
You can do all i couldn't do, glinda
So now it's up to you (for both of us)
Now it's up to you...

I've heard it said that people come into our lives
For a reason bringing something we must learn
And we are led to those who help us most to grow
If we let them and we help them in return
Well, i don't know if I believe that's true
But I know I'm who I am today because i knew you...

Like a comet pulled from orbit as it passes a sun
Like a stream that meets a boulder halfway through the wood
Who can say if i've been changed for the better?
But because i knew you i have been changed for good

It well may be that we will never meet again
In this lifetime so let me say before we part
So much of me is made of what i learned from you
You'll be with me like a handprint on my heart
And now whatever way our stories end
I know you have re-written mine by being my friend...

Like a ship blown from its mooring by a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird in a distant wood
Who can say if i've been changed for the better?
But because i knew you
Because i knew you
I have been changed for good

And just to clear the air i ask forgiveness
for the things i've done you blame me for

But then, i guess we know there's blame to share
and none of it seems to matter anymore

Like a comet pulled from orbit
as it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
halfway through the wood
Like a ship blown from its mooring
by a wind off the sea
Like a seed dropped by a bird in the wood

Who can say if i've been
changed for the better?
I do believe i have been
changed for the better

And because i knew you...
Because i knew you...
Because i knew you...
I have been changed for good...

[ From: http://www.metrolyrics.com/for-good-lyrics-glee.html ]

Thank you 2011




Best of 2011
Barito Kuala - Boyolali - Talular & Andy Byers - Teaching Student Teachers in a University - Chalenging my self - Learning things I never thought I would learn - Writting in a national (online) newspaper - Being an asistant of great educators - Writing a chapter of a book about best educational practices - Going back to mentari and teaching there (best ever!) -Intervewing an inspiring activist from India - Asia Europe Classroom & Ireland - Kail Workshops - All the ups and downs - Making a important decisions for my life - Being assessed by peer educators - all the emotions (happy, sad, excited, greatful, angry, peaceful) - Mostly everything




Next year's plan :
Starts the day earlier, getting closer to Allah All Mighty, feeling peaceful, more dicipline, productive, and develop myself both intellectually and spiritually.




Dec 26, 2011

Refleksi (Guru) di Penghujung 2011

Dr. Seuss

Saya sedang membaca ulang sebuah artikel berjudul "Putting Understandings Up Front" karya David Perkins dan Tina Blythe (1994). Ada satu kutipan yang menarik dalam tulisan tersebut :

"They [some teachers] do not press the learners to think beyond what they already know."

yang artinya :

"Mereka [beberapa guru] tidak mendorong pembelajar untuk berpikir melebihi apa yang sudah mereka ketahui."

Kutipan ini menggelitik, dan memancing saya untuk berefleksi di akhir tahun. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah sebagai berikut :

Apakah saya telah membantu siswa saya untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya melebihi kemampuan berpikir mereka sebelumya?-Apakah saya telah berhasil memancing siswa saya untuk menemukan ide-ide baru, pemikiran-pemikiran baru, atau setidaknya melihat hal-hal yang selama ini dilihat mereka dengan sudut pandang yang baru?- Apakah saya telah mendorong siswa saya untuk bisa mencapai sesuatu melebihi ekspektasi mereka? Melebihi apa yang pernah mereka bayangkan?

Dec 7, 2011

Mister Seahorse

Seahorse gives birth, Seahorse having babies, giving birth,Sid


Saya berencana menggunakan tema kuda laut untuk pembelajaran besok. Kuda laut betina bertelur di dalam semacam kantung yang ada pada kuda laut jantan. Kuda laut jantan membawa telur-telur tersebut ke mana-mana sampai telur-telur tersebut menetas. Keren!

Dec 5, 2011

Membangun Kebiasaan Membaca

Ketika saya masih SD, guru saya terkadang akan meminta para siswa membaca teks yang ada di buku pelajaran. Teksnya tidak selalu menarik. Metode ini mungkin terlihat kuno tetapi sebanarnya ada baiknya juga. Saat sesorang membacakan kita sebuah teks, baik berupa cerita, atau apapun, kita terpaksa mendengar, dan kadang ikut membaca. Saya percaya bahwa membaca adalah salah satu hal yang paling penting dalam belajar. Guru bisa mengajar dengan metode semenarik apapun tetapi untuk menjadikan pembelajaran lebih kaya lagi, siswa harus banyak membaca.

Di awal semester, saya sudah menyiapkan sejumlah bacaan yang perlu dibaca oleh mahasiswa saya sebelum masuk ke kelas. Kalau mereka masuk kelas diawali dengan kegiatan membaca, diskusi di kelas akan lebih kaya. Terus terang, proses ini tidak selalu berhasil dengan baik. Mahasiswa saya tidak selalu membaca dulu sebelum masuk ke dalam kelas.



Ada beberapa teknik yang saya lakukan untuk 'memaksa' mereka membaca. Saya pernah membagi mahasiswa saya ke dalam beberapa kelompok, masing-masing beranggotakan 4 orang. Masing-masing mahasiswa mendapatkan bacaan yang berbeda. Di kelas, ada diskusi masing-masing mahasiswa harus berbagi ke teman kelompoknya mengenai apa yang mereka baca. Setelah itu mereka harus membuat semacam 'mind map' yang menggambarkan inti dari bacaan mereka ditambah pendapat mereka masing-masing mengenai bacaan tersebut. Mereka juga bisa menambahkan hasil diskusi setelah berbagi mengenai hasil bacaan mereka. Bagi yang tidak membaca langsung terlihat gelagapan. Sehingga lain kali mereka tidak lupa untuk membaca.

Teknik lain yang saya lakukan untuk membuat mahasiswa saya sadar bahwa bacaan yang saya berikan ke mereka menarik. Caranya, saya membacakan bacaan tersebut ke mereka. Saya pernah membacakan Bab 2 dari buku "A Collections of Lesson from Grades 6 Through 8" katya Marilyn Burns dan Cathy Humphreys (1990). Bab tersebut adalah kumpulan narasi mengenai bagaimana seorang guru mengajar materi tertentu. Bab 2 yang saya bacakan merupakan kumpulan dari cerita mengenai perkenalan mengenai aljabar. Di dalamnya ada cerita mengenai 5 pertemuan pertama mengenai aljabar, lengkap dengan dialog antar murid dan guru, catatan siswa, tugas siswa, dan reflective paper yang dibuat siswa. Jumlah halamannya? 17 lembar dan saya butuh 20 menit untuk membaca seluruhnya. Selama saya membaca dengan intonasi yang saya usahakan sehidup mungkin, saya perhatikan tidak ada satupun mahasiswa yang tidak ikut menyimak. Beberapa adegan di dalam bacaan cukup lucu. Saya mendengarkan mereka tertawa. Saat ada bagian yang menarik saya mendengar suara "Ah", "Wah", "Ooh.." dari bibir merea. Proses membacakan bab buku hanya saya lakukan sekali. Selain agar siswa saya bisa belajar berbagai frase dan kosa kata bahasa Inggris untuk mengajar mengenai aljabar, saya juga punya misi istimewa lainnya. Secara halus saya ingin mengatakan, "Lihat nih, bacaan yang saya berikan sesungguhnya menarik. Rugi loh kalau tidak dibaca!"

Saya juga pernah mencoba meminta siswa saling membacakan satu sama lain. Saya membagi siswa ke dalam kelompok. Masing-masing anggota kelompok harus bergantian membaca, dan yang lain harus mendengarkan.

Saya juga berharap mahasiswa saya tidak hanya membaca bahan yang saya berikan. Saat mereka harus membuat esai sebagai bentuk ujian tengah semester, mereka harus menggunakan beberapa referensi. Saat mereka berkonsultasi mengenai draft esai mereka saya tidak segan-segan mengajak mereka ke perpustakaan dan mengajak mereka melihat beberapa referensi yang bisa memperkaya tulisan mereka. Makan waktu memang tapi kenapa tidak kalau membuat mereka membaca?

Saat mereka membuat presentasi saya membuat sebuah lembar refleksi. Di sana mereka harus menuliskan dari mana saja ide mereka datang. Dari internet, hasil diskusi, bacaan, atau apapun.Di akhir presentasi mereka juga harus menceritakan mengenai proses persiapan mereka di depan kelas. Dari situ ketahuan apa yang mereka baca.

Itu hanya beberapa teknik yang saya lakukan. Saya belum tahu berhasil atau tidak. Saya akan terus mencari teknik-teknik lain agar bisa membuat mahasiswa saya terbiasa membaca. Mereka adalah calon guru. Bagi seorang guru, membangun kebiasaan membaca adalah keharusan!

Debat di kelas


(Foto mahasiswa berdiskusi dengan kelompoknya sebelum menjawab pertanyaan kelompok lawan)



Saya merancang agar ada kegiatan adu debat dalam pembelajaran hari ini. Idenya saya dapatkan dari sebuah projek di webquest. Saya melakukan modifikasi berdasarkan pengalaman pribadi mengajar anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah ke universitas. Kasusnya begini :

"[Meskipun bukan sekolah kejuruan, di sekolah ini banyak siswa yang langsung bekerja setelah lulus sekolah. Setelah lulus, mereka bekerja di pabrik, toko, dan lain-lain. Hampir tidak ada yang melanjutkan sekolah ke universitas khususnya belajar sains dan engineering. Mereka merasa trigonometri tidak relevan untuk kehidupan mereka.

[Setelah melakukan survei], school board mengusulkan agar materi mengenai mengenai trigonometri tidak diajarkan dan diganti dengan materi yang lebih relevan dengan dunia kerja seperti tata buku dan sebagainya."
Meskipun terinspirasi dari kondis nyata, kasus di atas hanya imajinasi saya. Di sekolah di Indonesia school board biasanya tidak memiliki kewenangan sejauh itu untuk mengusulkan apa yang perlu diajarkan dan tidak. Tujuan pemberian kasusnya sekadar merancang diskusi.

Kelompok dibagi menjadi dua bagian. Satu yang pro trigonometri dihapuskan dari kurikulum (pihak school board) dan satu lagi yang mau trigonometri dipertahankan di dalam kurikulum. Debat berjalan seru tetapi waktunya terbatas (saya salah perhitungan mengenai waktu). Meskipun begitu saya berharap mahasiswa saya tetap belajar sesuatu dari proses tersebut.

Di akhir kelas sebuah siswa berkata, "Ternyata saat mengajar kita tidak sekadar harus memikirkan mengenai konten pelajaran. Ada banyak faktor yang membuat mengajar menjadi sesuatu yang kompleks. Setelah saya pikir-pikir, oh iya yah, ternyata siswa tidak selalu merasa apa yang kita ajarkan relevan dengan kehidupannya. Ternyata banyak yang harus kita pikirkan saat kita menjadi seorang guru."

Dec 2, 2011

Merasa Bisa


"Miss bagaimana bisa membuat murid tertarik untuk belajar matematika?"
"Nah kalau kamu sendiri dulu tertarik belajar matematika bagaimana?"
"Saya dipaksa ayah saya belajar!"
"Saya juga sih, tapi kenapa kamu bertahan? Ada yang dipaksa jadi malah tidak mau belajar. Kenapa kamu bertahan?"
"Dulu ayah saya memaksa saya belajar matematika setiap hari. Ketika di sekolah, guru matematikanya galak. Tapi dia lihat saya bisa matematika, jadi saya diminta berkeliling mengajari murid-murid yang lain. Ternyata saya bisa dan teman-teman bisa belajar dari saya."
"Artinya apa? Perasaan apa yang membuat kamu bertahan?"
"Ternyata saya bisa!"
"Nah itu! Setidaknya sekali saja, kamu berusaha membuat siswamu merasa bisa!"
:)

Nov 30, 2011

The Giving Tree - Shel Silverstein


Belajar bahasa Inggris bersama ternyata merupakan pintu masuk untuk bisa berbagi dengan guru-guru di sekitar Mentari, komunitas pendidikan non-formal tempat saya mengajar di tahun 2007 - 2008. Guru-guru di sana merasa butuh belajar bahasa Inggris. Sehingga setiap minggu mereka datang dengan senang hati meskipun tidak mendapatkan sertifikat.

Rabu kemarin kami belajar bahasa Inggris dengan menyanyikan lagu Hockey Pockey, lalu mengerjakan beberapa worksheet terkait grammar. Kami juga menggambar seorang yang penting dalam hidup kita (seperti adik, anak, teman, dll), dan meminta masing-masing guru untuk bercerita mengenai gambarnya,. Terakhir, kamibersama-sama mendengarkan rekaman The Giving Tree - Shel Silverstein sambil membaca teks tertulisnya. Kata-kata yang baru yang didapatkan dari teks didiskusikan. Saya akan selalu berusaha menggunakan cerita-cerita untuk belajar. tujuannya untuk menambah kosa kata, membiasakan mereka membaca teks berbahasa Inggris (meskipun dimulai dengan sederhana), dan lainnya. Kebanyakan guru yang hadir adalah guru PAUD, sehingga saya sangat ingin mengenalkan mereka dengan berbagai cerita anak. Siapa tahu ceritanya bisa digunakan di dalam kelas saat mereka mengajar. Selain belajar bahasa Inggris, mereka bisa mendapatkan tambahan bahan untuk mengajar di kelas!

Saat refleksi seorang guru PAUD yang ikut proses belajar berkata, "Seru. Gak menyangka saya bisa memahami bacaan berbahasa Inggris."

Nov 29, 2011

Algebra Team: Overview of Teaching Styles


Setiap guru punya kepribadian yang berbeda dan itu mempengaruhi bagaimana mereka mengajar. Video ini menarik karena menunjukkan dua kelas di mana dua guru merancang pembelajaran bersama, lesson plan-nya sama, tapi bagaimana kelas tersebut berjalan berbeda.

Belajar Bersama Guru Di Mentari



Kebanyakan yang datang adalah guru PAUD. Sekitar 15 orang (lebih). Kegiatannya, belajar bahasa Inggris (belajar memperkenalkan diri, belajar memperkenalkan orang lain, belajar mendeskripsikan gambar, belajar bertanya "have you ever..", belajar menjawab pertanyaan, " Yes I have...; no I haven't", belajar menyusun ulang cerita, dan mendengarkan cerita (story telling).

Sorenya belajar matematika, belajar sedikit membuat pecahan, belajar membuat alat peraga sederhana.

Nov 28, 2011

Tidak Mau Hadiah Buku

Beberapa teman saya yang selalu mengusahakan agar tidak pernah absen datang ke pameran buku. Kalau ada uang, mereka gunakan untuk membeli buku. Kalau tidak, mereka rela menunggu di pameran dari pagi hingga tutup demi mendapatkan buku gratis. Kalau sedang pameran, sering ada doorprize, bincang dengan penulis, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kalau ikut, tak jarang penonton yang beruntung mendapatkan hadiah buku. Teman-teman saya hobi sekali mengejar buku (bahkan majalah) gratis di pameran. Lumayan untuk bahan bacaan.

Dalam sebuah seminar guru yang saya hadiri belakangan ini, ada sesi doorprize. 6 peserta yang beruntung dipangil ke depan. Semuanya guru. Hadiahnya adalah sebuah voucher yang bisa ditukar dengan sejumlah buku. Dari keenam guru yang berdiri di depan, ada tiga orang guru menolak hadiah voucher buku, "Tidak mau ah!" kata seorang guru sambil menggelengkan kepala dan memberi aba-aba tidak dengan tangannya. Yang lain juga sikapnya begitu.

Saya melirik teman yang duduk di sebelah saya, dia guru juga. Sambil melotot saya bertanya, "Serius itu guru menolak dikasih hadiah buku?"

Teman saya seorang guru berkomentar, "Tahu gitu kita saja maju ke depan. Hadiahnya sejumlah buku loh! Bukan hanya satu! "

Teman saya menambahkan, "Ironis yah?"

Saya mengangguk sambil terus terheran-heran. Ternyata ada guru yang menolak diberi hadiah buku!


Nov 19, 2011

ProductiveMuslim Weekly Naseeha - Episode 31: Top 10 Tips from Productiv...




Saya suka sekali http://www.facebook.com/productivemuslim dan selalu menemukan tips menarik di sana. Belum selalu bisa dijalankan tapi benar-benar bermanfaat. Ini salah satu video produksinya.

Nov 16, 2011

Belajar Gratis di Rumah Mentari


Lovely Mentari!

Assessment Non-Ujian (Pilihan Ganda)

Dua hari ini saya sibuk memberikan ujian lisan pada mahasiswa-mahasiswa saya. Kemarin 24 mahasiswa dalam sehari, hari ini 22. Masing-masing saya uji lisan selama 15 menit. dari pagi sampai sore. Lumayan, butuh konsentrasi tinggi.

Saya telah menyiapkan beberapa soal yang menggambarkan kondisi di dalam kelas dan materi tertentu yang harus diajarkan. 5 menit membaca soal, 10 menit melakukan role play. Saya sebenarnya baru pertama kali menyiapkan assessment semacam ini. Kebetulan ada dua kelas lain (diajar oleh dua dosen lain). Bersama dosen lain tersebut, saya membuat rubrik penilaian.

Saya senang karena keterampilan saya dalam merancang assessment bertambah. Di tempat saya mengajar, assessment memang disesuaikan dengan mata kuliahnya. Kalau mata kuliahnya adalah merancang pembelajaran, maka assessment-nya adalah membuat lesson plan. Kalau mata kuliahnya mengenai assessment, salah satu assessment-nya adalah merancang rubrik penilaian.

Seringkali mahasiswa juga diminta membuat reflective paper. Di pelajaran bahasa Indonesia yang pernah saya observasi, diajar oleh Pak Iwan Syahril, mahasiswa diminta membaca Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer). Setelah membaca, mahasiswa diminta untuk untuk menuliskan kesan-kesan terhadap bacaannya di sebuah jurnal. Setiap minggu cukup satu bab. Setelah membaca satu bab, ada kegiatan reading circle di mana mahassiswa secara berkelompok membahas bab tersebut. Ada pembagian peran di masing-masing kelompok. Ada yang bertugas menjadi fasilitator yang bertugas merancang pertanyaan kritis untuk memancing diskusi, ada yang bertugas membahas kaitan antara bab tersebut dengan konteks lain (seperti kondisi terkini), dan ada yang bertugas membahas makna frase-frase dan majas-majas yang ada di dalam bab tersebut. Setelah diskusi, mahasiswa diberi beberapa menit untuk menuliskan kembali apa yang didiskusikan (refleksi terhadap proses diskusi). Sebelum bab selanjutnya, mahasiswa diminta memprediksi bab selanjutnya. Baru kemudian mahasiswa membaca bab selanjutnya, dan prosesnya berulang lagi. Tulisan-tulisan bersifat reflektif ini merupakan salah satu cara meng-assess kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.

Model-model assessment semacam ini memang memerlukan waktu untuk menyiapkannya. Mungkin karena itulah model-model ujian pilihan ganda dianggap paling efektif. Paling hemat waktu!

Nov 4, 2011

RPP Karakter Bangsa dan Kewirausahaan



Saya baru membaca salah satu contoh RPP Karakter Bangsa dan Kewirausahaan. di dalamnya ada Indikator Karakter Bangsa dan Kewirausahaan, juga ada Rubrik Penilaian Karakter Bangsa dan Kewirausahaan. Saya jadi bertanya-tanya? Apa benar perlu seperti itu?

Ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya setelah membaca RPP itu :
1) (Lihat yang diwarnai kuning) Apa memang perlu dituliskan seperti itu?

Kegiatan Awal (10 menit)
· Guru mengecek kehadiran siswa.
· Dengan rasa ingin tahu, siswa berpartisipasi aktif dalam tanya jawab tentang kesulitan materi pada pertemuan sebelumnya.
Kegiatan Inti (40 menit)
· Melalui tanya jawab yang komunikatif dan bersahabat, guru membimbing siswa mendiskusikan cara menanggapi berita. (Eksplorasi)
· Melalui diskusi yang komunikatif, guru dan siswa mendiskusikan pengertian bentuk-bentuk tanggapan terhadap berita atau informasi yang disampaikan (Elaborasi).

2) Di dalam RPP saya melihat ada rubrik penilaian karakter bangsa dan kewirausahaan. Apakah memang relevan membuat rubrik seperti itu? Kenapa karakternya dinilai dalam angka-angka semacam itu? Misalnya untuk aspek komunikatif. Dalam salah satu rubrik, indikator untuk siswa yang komunikatif adalahmenjawab pertanyaan teman dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Bagaimana kalau ada siswa yang mengajukan pernyataan, tetapi tidak ada satu pun temannya yang memahami pernyataan tersebut. Apakah itu bisa disebut komunikatif? Bukannya ada banyak aspek yang bisa menandakan siswa komunikatif ataupun tidak. Apakah indikator tersebut benar-benar bisa digunakan untuk menilai apakah siswa komunikatif atau tidak? Apakah memang harus dinilai secara kuantitatif seperti itu?

3) Di bagian indikator (lihat) gambar di kanan tabel, ada indikator karakter bangsa dan kewirausahaan. Apa memang perlu dituliskan dalam RPP? Apa relevan?

Membimbing mahasiswa membuat critical essay

Mata kuliah yang saya ajarkan, sebenarnya juga diajarkan dosen lain. Bisa dikatakan bahwa kelas kami berjalan paralel. Kebijakan di universitas saya mensyaratkan, untuk kelas paralel seperti ini, assessmentnya perlu dibuat semirip mungkin. Tujuannya, agar beban mahasiswa di masing-masing kelas sama. Jadi, setiap kali merancang assessment saya akan berkonsultasi dengan dosen yang satu lagi. Kalau di kelas saya, saya meng-assess dengan menggunakan presentasi, di kelas lain juga harus begitu. Rubriknya pun harus sama. Rubriknya dibuat bersama-sama dengan dosen satu lagi.

Untuk ujian tengah semester, salah satu mata kuliah yang saya ajar, assessment-nya berupa essay. Topiknya terkait apapun yang telah dibahas selama setengah semester ini, diantaranya mengenai perlu tidaknya guru memiliki kemampuan menjelaskan dan memberi contoh di kelas matematika, bagaimana bahasa mempengaruhi pembelajaran matematika, pentingnya membangun diskurs di dalam kelas, dan apa yang membuat sebuah penjelasan dan contoh (untuk mengajar matematika) menjadi baik.

Hari ini, dua orang mahasiswa mendatangi saya untuk konsultasi mengenai critical essay. Saya memulai dengan menanyakan mereka, di antara semua topik yang telah dibahas apa yang paling menarik? Mahasiswa saya yang satu lulusan SMK, dia mengatakan di SMK banyak bahasa yang sangat spesifik dan digunakan di bidang kejuruan dan juga matematika, misalnya 'produk' dan 'eksekusi'. Dia ingin mengeksplor kesulitan yang akan dihadapi saat siswa belajar matematika dalam bahasa Inggris di SMK. Mahasiswa yang lain mengatakan bahwa saat menjalani school experience (praktek mengajar) yang lalu, gurunya mengatakan bahwa sebaiknya kita menggunakan jembatan keledai untuk belajar matematika agar menyenangkan. Menurutnya, siswanya jadi kebingungan mengaitkan satu konsep satu dan lainnya. Setiap ada perbedaan sedikit mereka jadi bingung, misalnya sin (30+60) dan sin (60+30). Intinya mahasiswa saya meragukan pernyataan tersebut. Intinya siswa-siswa menghafalk, bukan memahami.

"Nah itu sudah dapat topik!" kata saya. Saya lalu mengambil selembar kertas A4 dan meminta mereka membuat paragraf pertama. Langsung tancap! Mereka ternyata keasyikan sampai-sampai paragraf pertamanya sangat panjang.

"Panjang sekali paragraf pertamanya?" tanya saya.

"Iya, keasyikan!" kata seorang mahasiswa saya.

Saya membaca kembali paragraf mereka. Lalu bertanya, "Di paragraf ini, apa inti yang ingin kamu sampaikan?"

"Bagaimana memperkuat argumen untuk pernyataanmu?"

"Data-data apa yang perlu dikumpulkan untuk melengkapi argumenmu?"

Setelah itu bersama-sama kami berdiskusi mengenai rencana kerangka tulisan (seharusnya saya memberi mereka waktu merancang sendiri kerangkanya sebelum didiskusikan). Saya juga merekomendasikan beberapa hal yang perlu mereka perdalam untuk memperkuat essay mereka.

Saya juga bercerita mengenai proses yang saya lakukan saat mau membuat tulisan ilmiah, bagaimana saya mencari bahan, melakukan beainstorming kata kunci, lalu membaca untuk menemukan kata kunci baru yang digunakan untuk membaca lagi sebelum selesai menjadi satu tulisan.

Saya juga bercerita mengenai pentingnya sistematika penulisan, terutama saat tes bahasa Inggris tertulis. Seringkali anak-anak Indonesia berpikir tulisannya harus canggih, penuh dengan istilah-istilah 'keren' padahal sistematika berpikir lebih utama. Sederhana! Di paragraf utama ada pernyataan, lalu ada argumen pendukung 1, argumen pendukung 2, dan argumen pendukung 3. Setelah itu masing-masing argumen pendukung diperkuat lagi dalam sebuah paragraf (dilengkapi lebih banyak data pendukung), lalu terakhir kesimpulan. Dengan begitu, biasanya nilai untuk menulis (misalnya di tes TOEFL yang ada menulisnya akan tinggi).

Saya menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk berdiskusi. Seru juga ternyata membimbing mahasiswa membuat essay. Lumayanlah, pengalaman pertama!

Nov 1, 2011

Email untuk Kakak Mentari (Telah diedit)

Arpillera Puti (Tentang dua sekolah) -- Yang di kiri ceritanya itu Maman loh!

Arpillera Anisah


Dear kakak-kakak Mentari,

Tadi saya mampir ke mentari sebentar. Mau ketemu Bu Dewi. Alasan lain saya ke mentari adalah karena saya ingin mengajak Anisah untuk mengikuti workshop Apriella yang diselenggarakan oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL).

Apillera itu seni bercerita menggunakan kain perca. Dulu seni ini digunakan untuk pergerakan di Chile.

Saat Anisah tiba di Mentari, saya melihatnya semakin bersinar. Tambah cantik. Ternyata dia sedang mengandung 4 bulan. Wow 5 bulan lagi kita kakak-kakak sudah jadi kakek dan nenek! (Atau om dan tante biar terlihat lebih muda? Hehehe).

Kita lalu naik angkot ke Galeri Padi, diseberangnya Borma Dago. Di jalan Anisah bercerita tentang les jahitnya. Kelasnya ada tiga. Dasar, Terampil, Mahir. Anisah sekarang ada di kelas Terampil.

"Senang lesnya, setidaknya gak diam di rumah," katanya.

Saat tiba di tempat workshop sudah ada sekitar 40 peserta baik ibu-ibu, anak-anak, maupun bapak-bapak. Pertama, kita diajak melihat karya Arpillera yang sudah jadi dan meresapi perasaan yang kita rasakan saat melihat karya tersebut.

Saat memperkenalkan diri, kita harus menyebutkan nama dan menunjukkan Arpillera yang paling cocok di hati kita dan menceritakan perasaan yang timbul saat meihatnya. Anisah ternyata gak malu-malu memperkenalkan diri. "Saya Anisah, saya suka yang gambar ikan. Bagus, karena terdiri dari ikan-ikan yang berbeda tapi bersatu!"

Kurang lebih begitu kata Anisah. Aku kagum juga mendengar filosofinya.

Setelah itu, langsung praktek deh! Ternyata Anisah senang sekali berkarya. Gak salah deh ngajakin Anisah. Walau awalnya sempat bingung, lama-lama dia asyik bekerja, "Asyik yah kalau ngajak anak-anak mentari buat begini," katanya.

Waktu workshop hanya dua jam. Banyak karya yang belum selesai. Masih berjarum pentul, belum dijahit. Biar saja, semuanya disusun rapi berjejer. Kami melakukan evaluasi mengenai kesulitan kami saat membuatnya.

Fasilitator yang bernama Hunk, yang datang jauh-jauh dari Bogor memberi tips teknis mengenai bagaimana proses menjahit Apriella bisa menjadi lebih mudah. Kita juga menyepakati jadwal pertemuan berikutnya. Jahitan harus diselesaikan sebagai PR di rumah. Tanggal 27 kita akan berkumpul kembali, menceritakan karya, nonton film tentang sejarah Apriella dan membuat karya Apriella kedua.

"Ibu ikut lagi kan?" tanya Anisah, "Anisah senang (belajar) beginian"

"Iya," kataku,"Nanti kita bareng-bareng yah!"

Oct 27, 2011

Les Privat Unik

Salah seorang ibu menghubungi saya untuk memberikan anaknnya les privat. Agak berbeda dengan les privat lainnya, yang dia inginkan saya tidak memberikan anaknya les privat mengenai pelajaran, tetapi mengenai cara belajar, "Beberapa kali saja cukup," katanya. Lalu ditambahkanlah, "Sampai dia bisa belajar sendiri!"

Ibunya meminta saya mengajarkan anaknya mengenai tips-tips mencatat, membuat ringkasan, membuat mind map, dan lain-lain. Kalau mencari bahan di google, mengemukakan pendapat, dan lain-lain, sebenarnya anaknya sudah cukup jago. Yang belum ada katanya, ketekunan untuk membaca dan mencatat. Menurut sang ibu, "Di SMP kedua keterampilan tersebut perlu sekali agar lebih mudah belajarnya."

Dari mana datangnya ide pembelajaran?

Saya sering mendapatkan email ataupun message di fb dari guru-guru untuk dibantu dicarikan model-model pembelajaran yang menarik. Kadang-kadang saya membantu mencarikan bahan (yang seringkali masih dalam bahasa Inggris, sehingga tidak selalu mudah dipahami guru). Kadang saya juga memberikan tips-tips mengenai caranya saya mencari bahan. Ini yang ingin saya bagikan di sini.

Saat saya mau mengajar suatu materi, misalnya, mengenai 'energi'. Yang akan saya lakukan adalah membaca ulang mengenai 'energi'. Saya sering menggunakan perolongan Mbah Google untuk melakukan ini. Biasanya tools yang saya gunakan adalah 'google scholar', 'google books' atau kadang google saja.

Selain mencari bahan-bahan dasar mengenai materi yang akan saya ajarkan. Saya juga suka mencari lesson plan terkait materi tersebut. Kata kuncinya misalnya :
"lesson plan"+energy

Saya suka membandingkan sebanyak mungkin lesson plan yang ada. Kadang ada yang langsung 'klik'. Bisa deh dipakai untuk pembelajaran.

Saya paling senang kalau bisa menyiapkan bahan
Kadang saya menyiapkan bahan bahan baik berupa presentasi, modul, worksheet, dan lesson plan dengan guru lain. Kalau sendiri kadang idenya mentok itu-itu saja. Kalau berdiskusi dengan setidaknya satu orang guru lain, langsung deh idenya cepat berkembang. Kadang sih memang harus menyiapkan sendiri, tapi saya sungguh lebih senang kalau ada teman diskusi.

Beberapa sekolah saya tahu memang mewajibkan gurunya untuk menyiapkan semua bahan untuk mengajar secara bersama-sama. Bagi guru-guru yang tergabung dalam sekolah semacam ini, beruntung sekali! :)

Setelah itu tinggal bekerja deh!

Ide-ide pembelajaran juga bisa datang di luar proses yang saya ceritakan di atas. Kadang saat menonton film, membaca buku, setelah ikut pelatihan, dengan memerhatikan guru lain mengajar, dan lain-lain.

Itu sedikit cerita saya. Teman-teman yang lain pasti punya tips lain mengenai bagaimana menyiapkan pembelajaran di kelas. Share yah!

The answer comes after

Steve Jobs says "You've got to have faith in something.

I think that is totally true. Many times in my life, I feel lost. I mean like really lost. There were times when All I wanted to do was run away (literally).

And for me the "why's" are always important. My philosophy is that every step that I take in my life must have a reason. I always wanted to live a purposefully life. Which means, I don't want to do something that is not meaningful.

However, sometimes you really don't know the why's. Sometimes you"ll be lucky, you know the answers straight away. Other times you'll find the answers. Not now but after a certain amount of time. And to have faith it means being patient. Understanding that the why's can not always be answered immediately. Meanings don't always come in a sudden. Sometimes the answer comes after.

Oct 23, 2011

Guru Pemberani

Dalam penulisan naratif deskriptif, 3 hari ini, saya bertemu dengan Ibu Retno Listiyarti dari Federasi Sarikat Guru Indonesia (FSGI). Ibu yang satu ini sangat istimewa. Dia adalah salah satu guru yang paling berani yang pernah saya temui.

Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama saya dengan dia. Beberapa bulan yang lalu, ada seorang guru yang meminta bantuan saya, karena kepala yayasan sekolahnya suka melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak di sekolahnya. Seorang teman saya, menyarankan saya dan guru tersebut untuk berkenalan dengan Ibu Retno.

Ibu Retno membimbing guru tersebut untuk melakukan advokasi terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kepala yayasan tersebut. Sekarang guru tersebut ikut mengadvokasi anak-anak lain yang merupakan korban kekerasan.

Sulit bagi saya untuk menyatakan betapa istimewanya Bu Retno. Yang jelas dia adalah orang yang sangat berani melawan ketidakadilan. Saya belum pernah bertemu guru seberani dia.

"Seorang guru tugasnya adalah mendidik. Yang dimaksud dengan mendidik adalah mempertajam pikiran dan memperhalus hati. Kita bisa saja mengajar di sekolah yang bagus, tetapi kita juga harus memikirkan kondisi guru-guru di sekolah lain. Termasuk semua kebijakan yang tidak adil harus kita lawan! Untuk melawannya kita juga perlu melakukan kajian ilmiah agar argumentasinya kuat."

Walau baru bertemu dengan Bu Retno dua kali, saya belajar sedikit mengenai cara-cara menghadapi ketidakadilan, juga strategi-strategi ketika kita diintimidasi. Tapi terus terang, saya belum sekuat Bu Retno dalam menghadapi berbagai tekanan. Kapan yah saya seberani dia?

"Banyak guru yang kreatif dan inovatif," katanya, "Tapi diam ketika teman-teman guru yang lain diperlakukan dengan tidak adil. Cari aman saja!"

Saya terdiam. Ibu Retno benar. Bahkan saya sendiri tidak selalu sanggup melawan ketidakadilan yang dilakukan orang lain terhadap saya dan teman-teman saya? Diskusi dengannya membuat saya jadi bertanya-tanya apakah istilah 'saya berjuang dengan cara saya sendiri' adalah kata lain dari 'mencari aman dan tidak berani mengambil resiko'? Saya tidak tahu. Yang jelas saya benar-benar mau berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Tapi bagaimana caranya? Saya masih mencari.

Oct 18, 2011

Selalu ada Mainan Baru

Selalu ada Mainan Baru
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
@warnapastel

Di stasiun kereta. Seorang kakak dan seorang adik bermain di dalam kardus. Tampaknya mereka bermain peran. Si kakak suka sekali mengatur

"Kamu harus begini! Kamu harus begitu," katanya pada sang adik dengan melapisi tubuhnya dengan kain selempangan yang biasa digunakan untuk menggendong bayi. Tak lama kemudian sang kakak matanya bersinar-sinar.

Dia melompat keluar kardus, lalu diambilnya sebuah batu. Batu
dilemparkannya ke depan.

"Kejar!" Teriaknya pada sang adik. Mereka berdua berlari mengejar batu. Setiap kali ditangkap, dilempar lagi, dikejar lagi sampai bosan.

Tapi sang kakak selalu cemerlang. Kini waktunya untuk bermain
jual-jualan. Ibu mereka sendiri sedang sibuk menjual tahu di belakangnya. Sang kakak memilih berjualan es teh manis. Dengan
khayalannya, plastik-plastik yang dia temukan di sepanjang stasiun kereta disulapnya menjadi es teh manis. Adiknya menjadi pembeli.

"Harganya lima ribu. Mana uangnya?," tanyanya.

Adiknya bingung saja.

"Nih, pakai ini saja," kata sang kakak sambil mengambil segenggam tutup botol plastik.

Memang sedikit sok mengatur dia!

"Bayarnya pakai ini!"kata sang kakak sambil memberikan beberapa tutup botol pada adiknya.

"Mana uangnya?" tanyanya lagi sambil mengambil beberapa tutup botol dari adiknya.

Sebuah plastik dan satu tutup botol diberikan lagi pada adiknya sambil berkata, "Ini es tehnya dan ini kembaliannya!"

Seorang pengunjung membuang es teh benaran. Esnya masih dalam plastik yang terikat. Ada lubang kecil di ujungnya. Ada tetes the yang menetas perlahan keluar dari lubang tersebut. Sebenarnya isinya plastiknya masih lumayan penuh, mungkin dibuang sang pengujung karena rasanya terlalu manis.

Sang kakak, dengan mata awas memandang es tersebut. Diambilnya plastik berisi es the tersebut. Ditekannya. Air the di dalamnya muncrat jauh. Ditekannya sekali lagi agar airnya muncrat lebih jauh lagi! Dia tertawa lepas. Adiknya ikut-ikutan tertawa.

Sang ibu yang tadinya sibuk melayani pembeli, sedang sedikit santai. Dilihatlah putrinya bermain dengan sisa es!

"Jangan main es! Taruh itu," teriaknya tanpa alasan yang pasti.

Sang kakak menurut saja pada ibu tersayangnya. Dia tenang saja seakan-akan berkata, "Akan selalu ada mainan baru, Lihat saja nanti!"
Selalu ada Mainan Baru
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
@warnapastel

Di stasiun kereta. Seorang kakak dan seorang adik bermain di dalam kardus. Tampaknya mereka bermain peran. Si kakak suka sekali mengatur

"Kamu harus begini! Kamu harus begitu," katanya pada sang adik dengan melapisi tubuhnya dengan kain selempangan yang biasa digunakan untuk menggendong bayi. Tak lama kemudian sang kakak matanya bersinar-sinar.

Dia melompat keluar kardus, lalu diambilnya sebuah batu. Batu
dilemparkannya ke depan.

"Kejar!" Teriaknya pada sang adik. Mereka berdua berlari mengejar batu. Setiap kali ditangkap, dilempar lagi, dikejar lagi sampai bosan.

Tapi sang kakak selalu cemerlang. Kini waktunya untuk bermain
jual-jualan. Ibu mereka sendiri sedang sibuk menjual tahu di belakangnya. Sang kakak memilih berjualan es teh manis. Dengan
khayalannya, plastik-plastik yang dia temukan di sepanjang stasiun kereta disulapnya menjadi es teh manis. Adiknya menjadi pembeli.

"Harganya lima ribu. Mana uangnya?," tanyanya.

Adiknya bingung saja.

"Nih, pakai ini saja," kata sang kakak sambil mengambil segenggam tutup botol plastik.

Memang sedikit sok mengatur dia!

"Bayarnya pakai ini!"kata sang kakak sambil memberikan beberapa tutup botol pada adiknya.

"Mana uangnya?" tanyanya lagi sambil mengambil beberapa tutup botol dari adiknya.

Sebuah plastik dan satu tutup botol diberikan lagi pada adiknya sambil berkata, "Ini es tehnya dan ini kembaliannya!"

Seorang pengunjung membuang es teh benaran. Esnya masih dalam plastik yang terikat. Ada lubang kecil di ujungnya. Ada tetes the yang menetas perlahan keluar dari lubang tersebut. Sebenarnya isinya plastiknya masih lumayan penuh, mungkin dibuang sang pengujung karena rasanya terlalu manis.

Sang kakak, dengan mata awas memandang es tersebut. Diambilnya plastik berisi es the tersebut. Ditekannya. Air the di dalamnya muncrat jauh. Ditekannya sekali lagi agar airnya muncrat lebih jauh lagi! Dia tertawa lepas. Adiknya ikut-ikutan tertawa.

Sang ibu yang tadinya sibuk melayani pembeli, sedang sedikit santai. Dilihatlah putrinya bermain dengan sisa es!

"Jangan main es! Taruh itu," teriaknya tanpa alasan yang pasti.

Sang kakak menurut saja pada ibu tersayangnya. Dia tenang saja seakan-akan berkata, "Akan selalu ada mainan baru, Lihat saja nanti!"

Oct 10, 2011

Kembali ke Kampus

Kembali ke kampus untuk mengajar ternyata sangat menyenangkan. Selain alasan bisa terus update secara akademik, karena harus menyiapkan materi pembelajaran, membuat penelitian, menmbaca, dll, ada alasan lain yang juga tak kalah seru.

Saat saya sedang menyiapkan rencana pembelajaran saya pulang sedikit lebih sore di atas magriblah. Sayup-sayup saya mendengar mahasiswa-mahasiswa saya berlatih paduan suara. Cantik dan menyenangkan.

Belum lagi ketika mahasiswa saya menyiapkan kegiatan fund raising dengan memutar beberapa film pendidikan di ruang kelas. Biayanya Rp. 5000,- (sudah termasuk diskusi). Di sela-sela waktu mengajar bisa deh nonton film berkualitas (tentang guru berkebutan khusus). Film itu sebenarnya mampu membuat air mata saya berlinang-linang, tapi gengsi dong!

Tadi saya diajak mahasiswa saya melihat beberqapa mahasiswi saya sedang berlatih sebuah tari Sunda untuk sebuah kejuaraan. Mereka ingin melihat latihan mereka secara keseluruhan. "Ada yang bawa kamera tidak?" tanya mereka.

Kebetulan saya sedang membawa kamera jadi saya menawarkan diri merekam tarian mereka. Saat mereka melihat ulang tarian mereka, mereka tertawa-tawa sambil mengoreksi diri sendiri dan kelompok tarinya, "Tadi bagian ini tangannya kurang tinggi."

"Itu gak bersamaan geraknya!"

Sambil merekam saya mengamati kompleksnya gerak tangan, bahu, dan pinggul yang mereka tarikan. Saya sendiri belum pernah belajar tari Sunda, dan ingin ikut belajar! Kebahagiaan menyusup di dalam hati saya. Suasana di kampus baik kehiduoan belajar, berkesenian, berkarya, berdiskusi, dan dialog sehari-hari mahasiswa ternyata membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan menjadi seorang pengajar (semoga sudah bisa disebut pendidik) ternyata tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas.

Kembali ke Kampus

Kembali ke kampus untuk mengajar ternyata sangat menyenangkan. Selain alasan bisa terus update secara akademik, karena harus menyiapkan materi pembelajaran, membuat penelitian, menmbaca, dll, ada alasan lain yang juga tak kalah seru.

Saat saya sedang menyiapkan rencana pembelajaran saya pulang sedikit lebih sore di atas magriblah. Sayup-sayup saya mendengar mahasiswa-mahasiswa saya berlatih paduan suara. Cantik dan menyenangkan.

Belum lagi ketika mahasiswa saya menyiapkan kegiatan fund raising dengan memutar beberapa film pendidikan di ruang kelas. Biayanya Rp. 5000,- (sudah termasuk diskusi). Di sela-sela waktu mengajar bisa deh nonton film berkualitas (tentang guru berkebutan khusus). Film itu sebenarnya mampu membuat air mata saya berlinang-linang, tapi gengsi dong!

Tadi saya diajak mahasiswa saya melihat beberqapa mahasiswi saya sedang berlatih sebuah tari Sunda untuk sebuah kejuaraan. Mereka ingin melihat latihan mereka secara keseluruhan. "Ada yang bawa kamera tidak?" tanya mereka.

Kebetulan saya sedang membawa kamera jadi saya menawarkan diri merekam tarian mereka. Saat mereka melihat ulang tarian mereka, mereka tertawa-tawa sambil mengoreksi diri sendiri dan kelompok tarinya, "Tadi bagian ini tangannya kurang tinggi."

"Itu gak bersamaan geraknya!"

Sambil merekam saya mengamati kompleksnya gerak tangan, bahu, dan pinggul yang mereka tarikan. Saya sendiri belum pernah belajar tari Sunda, dan ingin ikut belajar! Kebahagiaan menyusup di dalam hati saya. Suasana di kampus baik kehiduoan belajar, berkesenian, berkarya, berdiskusi, dan dialog sehari-hari mahasiswa ternyata membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan menjadi seorang pengajar (semoga sudah bisa disebut pendidik) ternyata tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas.

Sep 23, 2011

Pengetahuan Tidak Dikonstruksi dalam Isolasi

Seminggu ini, saya mulai mengajar kelas kembali. Saya mengajar 4 kelas masing - masing sekitar 20-an mahasiswa. Bahagia sekali rasanya kembali berada di depan kelas secara berkala. Apalagi sekarang, alhamdulillah saya sudah lebih banyak belajar ilmu-ilmu kependidikan (dibandingkan ketika saya pertama kali mengajar).

Ilmu-ilmu itu merupakan bekal yang tak terhingga nilainya dan bisa diterapkan untuk mengajar di depan kelas. Tentunya meningkatnya keterampilan saya tidak lepas dari pengaruh begitu banyak orang yang saya temui dalam hidup saya.

Salah satunya Pak Agung Wibowo mengajarkan saya tips dan trik membuat power point yang efektif, mengajarkan saya mengenai bagaimana caranya menurunkan tujuan pembelajaran, dan juga mengkritik presentasi saya. Ada juga Ibu Nina Soeparno, rekan saya yang luar biasa untuk merancang modul-modul pembelajaran. I love brain storming with her. Ada juga Ibu Itje. Chodoidjah. Mengamati Ibu yang satu ini dalam melakukan training mengajarkan saya mengenai pentingnya, senyum, semangat, ketegasan, dan juga mengenai bagaimana caranya membuat pembelajaran yang dinamis. Ada Pak Ahmad Sururi yang mengkritik saya karena saya suka terburu-buru menjawab pertanyaan peserta didik. Ada juga Pak Iwan Pranoto. Saya sungguh belajar banyak darinya, khususnya mengenai cara berkomunikasi dan juga tentang matematika. Juga ada teman-teman diskusi saya kak Donna, Fandra, Mbak Danti, Kandi dan teman-teman Kalyanamandira. Tak kalah penting Pak Satria dan Pak Nanang yang selalu membimbing saya, Pak Bagiono yang pertama kali mengajarkan saya tips untuk mengajar bahasa, Bu Aulia yang mengajarkan saya mengenai KTSP, Pak Lody F Paat dan definisinya mengenai sekolah yang berkualitas, Pak Daoed J dan filosofinya mengenai pengetahuan, Bu Ratih Gandasetiawan yang mengajarkan saya mengenai otak dan perkembangan anak, dan banyak lagi. Tak kalah penting adalah sahabat-sahabat saya khususnya teman-teman di Mentari, Arfah, Imoth, Rakhmi, Anug, Angga, Ijal (They have always touched my heart). Dan juga Lely, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu-satu.

Yang jelas melalui proses ini, saya belajar bahwa kesuksesan kita dalam belajar dipengaruhi oleh orang-orang disekitar kita (tentunya ditambah dengan akses kita ke informasi).

Saya beruntung, karena saya punya kesempatan untuk belajar dari para ahli di bidangnya. Saya juga punya sahabat-sahabat suportif dan luar biasa. Semuanya berperan besar dalam mengkonstruksi pengetahuan saya. Pengetahuan tidak bisa dikonstruksi dalam isolasi. Dan saya belajar bahwa interaksi adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pembelajaran. Semua pengetahuan saya merupakan hasil dialog, observasi, dan bekerja dengan orang-orang yang saya temui di atas. It's a blessing to meet them. Soo much!

PS : Mengajar sepertinya membuat saya menjadi lebih perasa dan mudah tersentuh. Hehehe

Sep 7, 2011

One of the best pleasure

These days was relearning about 'learning'. I read about situated cognition and all these tough journals including a bit about philosophy. I learned about discourses in learning, which I find very difficult to understand. It gave me a headache!

But thanks I've got many people I can share with. I have people to ask when I'm confused. Having someone to discuss things and share while learning (something new) is absolutely powerful. It is a blessing. It is true that learning never happens in a vacuum. Sometimes you struggle to understand things on your own. Sometimes it takes time to come up with a new idea. You absorb all these information and 'tada' you don't know what to do with it. Suddenly, you talk to people, maybe with one or two people, and then just in a moment you become more brilliant than ever.

Learning from my experience, I think one of my vision when working with teachers is to create a safe learning environment for teachers filled with people who value learning. I want teachers to be part of a learning community. I think that would be very empowering.

Sep 6, 2011

Teacher Student Relationship

I hope they can learn a lot from me, from their peers, and also from themselves
But most of all, I hope that I can learn a lot from them

Amy Chua/Tiger Mom, "Didn't Expect this Level of Intensity!" 1/26/2011


I find Amy Chua's Book very interesting and reflective. I'll soon write my review about it.

Sep 5, 2011

Belajar untuk Mengajar

If you can't explain it imply, than you don't understand it well enough.
Kalau kamu tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana, berarti kamu tidak cukup memahaminya.
(Albert Einstein)

Saya berpendapat bahwa tugas guru bukan hanya menjelaskan suatu materi. Salah satu tugas guru yang lain adalah mengajak siswa menjelaskan dan mengungkapkan pemikiran mereka sendiri. Salah satu cara untuk memancing siswa melakukan hal ini adalah dengan teknik bertanya. Guru-guru yang saya kagumi semuanya memiliki skil bertanya yang baik. Saya sendiri masih sedang belajar untuk menguasai keterampilan bertanya. Dengan bertanya, berarti guru tidak harus selalu menjadi sumber informasi di kelas. Tetapi dia pertanyaannya mampu memancing siswa untuk berpikir dan mencari tahu.

Meskipun guru tidak perlu selalu menjadi sumber informasi, hal ini tidak bearti bahwa guru tidak perlu belajar dan belajar kembali. Kalaupun kita menjadi guru fisika misalnya, dan kita sudah mengajar mengenai 'tekanan' bertahun-tahun. Itu bukan berarti saat kita mau mengajar kita tidak perlu belajar lagi mengenai 'tekanan'. Saya selalu menyempatkan belajar kembali mengenai materi yang akan saya ajarkan, meskipun hal tersebut sudah pernah saya pelajari sebelumnya dan ternyata saya selalu menemukan hal baru. Kadang, pemahaman baru, metode baru, ataupun ide-ide baru terkait materi yang akan saya ajarkan. Rasanya merupakan sebuah prinsip dasar bahwa guru harus belajar dan belajar kembali mengenai apapun yang akan diajarkannya. Seperti kata Einstein, so they understand it well enough. Tujuannya tentu bukan hanya agar bisa menjelaskan dengan baik, tapi juga untuk menunjukkan pada siswa, bahwa kita sebagai guru juga merupakan pembelajar. Semangat belajar ini toh yang mau kita tularkan pada siswa-siswa kita?

[KLIPING] Lincoln’s Letter to his Son’s Teacher

http://www.youtube.com/watch?v=z-yuQKi-bdo&feature=player_embedded


Lincoln’s Letter to his Son’s Teacher


He will have to learn, I know,
that all men are not just,
all men are not true.
But teach him also that
for every scoundrel there is a hero;
that for every selfish Politician,
there is a dedicated leader…
Teach him for every enemy there is a friend,

Steer him away from envy,
if you can,
teach him the secret of
quiet laughter.

Let him learn early that
the bullies are the easiest to lick…
Teach him, if you can,
the wonder of books…
But also give him quiet time
to ponder the eternal mystery of birds in the sky,
bees in the sun,
and the flowers on a green hillside.

In the school teach him
it is far honourable to fail
than to cheat…
Teach him to have faith
in his own ideas,
even if everyone tells him
they are wrong…
Teach him to be gentle
with gentle people,
and tough with the tough.

Try to give my son
the strength not to follow the crowd
when everyone is getting on the band wagon…
Teach him to listen to all men…
but teach him also to filter
all he hears on a screen of truth,
and take only the good
that comes through.

Teach him if you can,
how to laugh when he is sad…
Teach him there is no shame in tears,
Teach him to scoff at cynics
and to beware of too much sweetness…
Teach him to sell his brawn
and brain to the highest bidders
but never to put a price-tag
on his heart and soul.

Teach him to close his ears
to a howling mob
and to stand and fight
if he thinks he’s right.
Treat him gently,
but do not cuddle him,
because only the test
of fire makes fine steel.

Let him have the courage
to be impatient…
let him have the patience to be brave.
Teach him always
to have sublime faith in himself,
because then he will have
sublime faith in mankind.

This is a big order,
but see what you can do…
He is such a fine little fellow,
my son!

~ Abraham Lincoln

Aug 20, 2011

Teachers Talk

Our teachers come to class,
And they talk and they talk,
Til their faces are like peaches,
We don’t;
We just sit like cornstalks.
(Cazden, 1976, p. 74)

http://ptgmedia.pearsoncmg.com/images/9780205627585/downloads/Echevarria_math_Ch1_TheAcademicLanguageofMathematics.pdf

Aug 16, 2011

Perbincangan Mengenai Hubungan Sastra dan Seni dalam Pembelajaran Matematika dan Sains

Perbincangan Mengenai Hubungan Sastra dan Seni dalam Pembelajaran Matematika dan Sains
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Semalam saya membantu sahabat saya googling mengenai short courseuntuk guru di luar negeri. Sebenarnya saya tidak tahu banyak. tetapi saya membantu memberi kata kunci saja.

Entah bagaimana ceritanya, saya akhirnya bercerita mengenai perbincangan saya dengan Pak Iwan Syahril , dosen Sampoerna School of Education (SSE), hampir setahun yang lalu. Pak Iwan bercerita bahwa di Columbia University, New York, ada course yang menghubungkan antara sastra, sains, dan matematika. Termasuk bagaimana karya sastra bisa membuat anak tertarik belajar sains dan matematika.

“Course yang menarik!” kata sahabat saya sambil meneruskan kegiatan ber-googling short course.

Sahabat saya yang sedang googling kebetulan adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta. Sebelum tahun ajaran baru yang lalu, dia yang bertugas memilih buku-buku resources baru untuk ditaruh di perpustakaan sekolah. Dia menunjukkan kepada saya beberapa buku cerita (terjemahan) dengan ilustrasi bergambar karya penulis Korea Selatan. Salah satunya adalah mengenai bajak laut yang terdampar di sebuah pulau. Mereka harus berbagi untuk bertahan hidup. Meskipun buku dikemas dalam bentuk sastra anak, saat membacanya anak bisa belajar mengenai pecahan. Ada buku yang lain yang serupa, yang isinya adalah mengenai place value.

“Kualitas buku ini bagus sekali, sayang harganya cukup mahal,” kata sahabat saya, “Jadi tidak bisa diakses semua orang. Memang buku semacam ini masih terbatas di Indonesia.”

Salah satu hal yang juga masih kurang di Indonesia adalah tersedianya buku-buku teachers guide. Bukan buku pelajaran tetapi lebih ke buku panduan untuk guru. Saya hampir selalu membaca resource semacam teachers guideyang berbahasa Inggris. Kadang saya dapatkan saat mengunjungi perpustakaan SSE. Jarang sekali saya menemukan buku panduan untuk guru yang menggunakan bahasa Indonesia.

Suatu hari, saat saya sedang mengunjungi perpustakaan SSE bersama Ibu Nina Feyruzi, saya terpana pada sebuah buku panduan untuk guru di bidang matematika berukuran kira-kira 60 × 40 cm, dengan tebal sekitar 4 cm. Bukunya lengkap sekali dan berwarna-warni. Isinya berbagai contoh kegiatan untuk segala jenis materi matematika. Mulai dari pengukuran, desimal, persentase, pecahan, bentuk, penjumlahan, perkalian, dan lain-lain. Ada begitu banyak contoh kegiatan yang bisa dilakukan, termasuk contoh lesson plan. Yang menarik, di setiap bab, misalnya bab mengenai penjumlahan atau bab mengenai pengukuran, ada review mengenai satu karya sastra yang bisa mendukung pembelajaran. Yang saya ingat, saat belajar mengenai bentuk dan ruang, ditampilkanlah karya sastra mengenai bangsa mesir dan piramida. Buku karya Laura Inggalls Wilder juga merupakan karya sastra yang direkomendasikan untuk belajar matematika (sayangnya saya lupa dari sisi mananya).

Yang jelas, di beberapa belahan dunia lainnya, pembelajaran matematika tidak pernah lupa dikaitkan dengan bidang lain, termasuk sastra (dan juga seni). Selain itu, sastra dianggap sebuah hal yang sangat penting dalam pendidikan. Saat saya blogwalking di berbagai website guru mancanegara, saya sering menemukan mereka meminta siswa-siswa mereka mempresentasikan pemahaman mereka dalam berbagai karya seperti puisi, role play, drama, komik, dan sebagainya.

Saat saya mengujungi Sekolah Waldorf (Rudolf Steiner), sastra digunakan untuk membuat anak merasa tersentuh hatinya dengan apa yang ingin dipelajari. Misalnya, sebelum anak belajar mengenai apel (dalam pelajaran sains), mereka akan mendengarkan dongeng mengenai apel, membuat puisi mengenai apel, dan menggambar apel. Kegiatan-kegiatan dilakukan sampai anak-anak merasa memiliki ketertarikan dengan apel. Baru mereka akan melakukan percobaan-percobaan sains terkait apel.

Kami, saya dan sahabat saya, akhirnya melanjutkan perbincangan mengenai bagaimana karya sastra dan seni memperkaya imajinasi. Menganaktirikan sastra dan seni pada pembelajaran yang ada di sekolah sangat merugikan perkembangan siswa.

Sahabat saya berkata, “Di sini, sastra dan seni sering dianggap tidak penting. Saya punya teman, jurusan sains. Saat studi di luar negeri untuk kuliah S3 dan harus membuat disertasi, idenya mandeg terus. Mungkin karena orangnya sangat logis, tetapi tidak terbiasa berimajinasi. Akhirnya, dosen pembimbingnya berkata, ‘Kamu tidak bisa begini terus. Sementara disertasinya dihentikan dulu. Silakan baca karya-karya sastra terlebih dahulu!’”

Sahabat saya pun bercerita, setelah membaca berbagai karya sastra, temannya lebih mudah menuliskan disertasinya.

Sastra dan seni memang memperkaya jiwa dan membantu manusi untuk hidup lebih manusiawi. Tidak bisa dipungkiri bahwa sastra dan seni memang melembutkan jiwa. Dan yang perlu mempelajarinya bukan hanya yang belajar di jurusan seni tetapi juga yang mendalami bidang sains dan matematika.

Setiap bidang pasti terkait dengan bidang yang lain. Suatu peradaban berkembang saat segala aspek kehidupan manusia berkembang. Termasuk dengan adanya perkembangan di berbagai bidang, seperti sains, sastra, seni, matematika, dan berbagai iImu humaniora lainnya. Sudah saatnya Indonesia mulai memikirkan mengenai bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk mengembangkan peradaban umat manusia, khususnya bangsa Indonesia. Kalau ada sekolah yang menganaktirikan bidang-bidang tertentu seperti seni dan sastra, rasanya sudah waktunya untuk dihentikan.

Di dunia pendidikan kita juga harus mulai memikirkan untuk memperkaya siswa dari berbagai aspek. Ada berbagai kisah di mana di sekolah anak-anak yang mengambil jurusan IPA hanya difokuskan untuk belajar menghitung dan IPA saja. Seperti menggunakan kacamata kuda. Padahal untuk menjadi ilmuwan yang kreatif dan inovatif, siswa juga harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang kaya di berbagai bidang. Seorang ilmuwan juga seorang manusia, dan karyanya pun seharusnya bisa berperan untuk kemanusiaan. Bagaimana caranya menjadikan seorang ilmuwan juga lebih peka terhadap kemanusiaan? Pembelajaran seni dan sastra salah satu kuncinya. Seorang ilmuwan sekaliber Einstein pun, terkenal karena sangat humanis. Ia merupakan pemain biola yang handal. Seumur hidupnya yang ia pelajari bukan hanya fisika dan matematika saja, tetapi juga musik, seni, filsafat, dan sastra.


Beberapa negara lain sudah mulai memikirkan bagaimana mengolaborasikan seni dan sastra dengan bidang seperti matematika dan sains di dunia pendidikan mereka. Bagaimana dengan dunia pendidikan di Indonesia?

Aug 13, 2011

Bergerak di dunia pendidikan di Indonesia mengajak saya bertemu begitu banyak orang. Saya juga jadi mengikuti begitu banyak forum.

Yang bekerja di dunia pendidikan, atau tepatnya bergerak di dunia pendidikan, ada bermacam-macam orang. Ideologinya sama? Belum tentu. Tetapi buat saya ideologi jadi nomor dua. Selama orangnya betul-betul peduli, apalagi konsisten, dan bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, apapun ideologinya saya tetap angkat topi, hormat. Tujuannya sama-sama baik, tetapi cara yang ditempuh berbeda.

Yang tidak saya sukai adalah orang-orang yang mengatasnamakan pendidikan tetapi sebenarnya lebih mengutamakan untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, tentu saja yang melakukan korupsi di bidang pendidikan, atau misalnya bekerja di BNSP, menentukan nasib orang banyak tapi bekerjanya asal-asalan. Saya pernah bertemu orang yang mengurus UN. Profesor sih, tetapi tidak paham sama sekali mengenai assessment, membaca mengenai assessment pun tidak! Atau ada yang menjadi kepala penelitian di suatu lembaga yang cukup berpengaruh di Indonesia. Dia sendiri belum pernah melakukan penelitian satu kali pun, apalagi di bidang pendidikan! Jadinya, kalau berbicara di publik, asal saja datanya. Menyesatkan! Atau mengatasnamakan dunia pendidikan padahal yang dilakukan hanya berjualan. Mutu produknya? Jangan ditanya, tetapi cara-cara menjualnya tidak baik. Monopoli, menipu konsumen, dan juga dengan pemaksaan! Ugh.. Ini membuat saya ngamuk.

Well, cukuplah marah-marahnya. Yang jelas minggu ini saya cukup senang. Minggu ini saya menghadiri sebuah forum. Forum ini rutin, biasa dihadir berbagai orang, mulai dari yang bekerja di grassroot, seperti sanggar anak akar, organisasi guru (yang berbeda-beda), dosen di jurusan keguruan, sampai orang-orang yang bekerja di CSR Pendidikan. Saat saya hadir perasaan saya ringan sekali. Saya tahu orang-orang yang hadir di forum menggunakan topi yang berbeda-beda, bekerja dengan cara yang berbeda-beda, tapi saya tahu bahwa orang-orang ini benar-benar peduli. Sebagian besar pesertanya sudah saya kenal semenjak beberapa tahun yang lalu dan saya tahu bahwa orang-orang yang hadir di sana adalah orang-orang yang konsisten dan di lingkarannya masing-masing berusaha memengaruhi orang lain untuk bersama-sama memikirkan bagaimana caranya memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Aug 2, 2011

Pembelajaran Kontekstual di SMK

Sekitar dua minggu lalu, saya didatangi oleh seorang kepala sekolah dan guru SMK. Mereka ingin berkonsultasi mengeni Contextual Teaching and Learning (CTL). Menurutnya sang kepala sekolah ada tuntutan di sekolah untuk menggunakan CTL. Ia ingin tahu apa perbedaannya dengan pembelajaran tematik. Kebetulan di sekolahnya, sekarang menggunakan sistem factory teaching.Maksudnya para siswanya diharapkan mampu menghasilkan sebuah produk yang kemudian dijual (misalnya). Buat saya, itu berarti sekolah itu pada dasarnya sudah mengembangkan CTL.

Bagi saya, CTL (atau saya lebih menyukai menggunakan istilah pembelajaran yang kontekstual) adalah sebuah paradigma pendidikan. Selama kita memahami tujuan pembelajaran, bisa mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, maka kita sudah menerapkan pembelajaran yang kontekstual.

Dalam pembelajaran yang kontekstual, sang pembelajar harus paham mengenai tujuan pembelajaran. Kalau belajar mengenai matematika dan sibuk menghafal rumus tanpa tahu tujuan maupun keterkaitannya dengan hal lain, maka pembelajaran menjadi meaningless (tidak bermakna). Ini berarti pembelajaran belum bersifat kontekstual.
Pembelajaran yang kontekstual juga berarti kita bisa menghubungkan apa yang kita pelajari dengan hal-hal lainnya, termasuk dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, Ibu Meli Sari, dosen di UNJ pernah merancang pembelajaran aljabar yang dimulai dengan persoalan memilih di antara dua taksi (yang diketahui harga awal dan harga per jam-nya). Siswa bisa menyelesaikan persoalan tersebut tanpa menggunakan aljabar (formal) terlebih dulu. Setelah itu, baru siswa diperkenalkan pada aljabar yang formal. Ini adalah salah satu contoh pembelajaran yang kontekstual. Siswa diajak menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dipelajari di sekolah, bisa membantu siswa dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ini.

Guru SMK yang datang berkonsultasi ke saya bahwa saat dia mengajar TIK, dia menghubungkannya dengan dunia kerja. Kebetulan sebelum menjadi guru, dia pernah bekerja di sebuah kantor. Pengalamannya dibawa saat dia masuk ke dalam kelas. Jadi pembelajaran komputer bukan hanya menggunakan Excel tanpa makna. Meskipun sebelumnya tidak tahu istilah CTL sebenarnya sang guru sebenarnya sudah menerapkan pembelajaran yang kontekstual.

Pembelajaran yang kontekstual juga berarti bahwa siswa diajak belajar dalam berbagai konteks yang berbeda. Selain belajar di sekolah, siswa juga diajak belajar di dunia kerja (contohnya melalui kegiatan magang), masyarakat (misalnya dengan diajak terjun ke masyarakat), dan sebagainya. SMK biasanya mewajibkan siswanya untuk magang di industri. Pada dasarnya, SMK-SMK sudah menerapkan salah satu contoh pembelajaran yang kontekstual.

Pembelajaran yang kontekstual juga berarti bahwa penilaian dilakukan bukan hanya melalui ujian tetapi juga adanya authentic assessment. Ketika saya kuliah dulu, ada beberap tugas di mana saya diminta mendesain sebuah alat misalnya alat olah raga, alat memasak, dan sebagainya. Saya juga pernah diminta untuk menganalisis mesin penukar panas di industri. Otomatis saya harus melakukan pengukuran, memiliki kemampuan menganalisis, dan memiliki pemahaman konsep yang baik. Dosen-dosen saya kemudian menilai saya dari karya saya. Di SMK praktik semacam ini juga sering diterapkan. Kalau sudah, ini berarti bahwa pembelajaran yang kontekstual memang sudah diterapkan di SMK. Tanpa mengetahui istilah CTL pun, pembelajaran-pembelajaran di SMK memang (seharusnya) sudah bersifat kontekstual.

Aug 1, 2011

Learning Block

Mulai hari ini saya harus banyak membuka-buka buku mengenai komunikasi, bahasa, dan juga matematika. Semester ini saya akan mulai mengajar di sebuah universitas keguruan. Mata kuliahnya terkait komunikasi yakni khususnya 'komunikasi di dalam kelas matematika'. Hal ini termasuk teknik menjelaskan, questioning, diskusi, dan sebagainya.

Saya benar-benar tidak tahu kenapa saya dipilih untuk menjadi dosen terkait komunikasi. Saya merasa tidak mempunyai pengetahuan maupun kemampuan khususnya mengenai ilmu komunikasi. Dalam prakteknya pun kemampuan komunikasi saya masih pas-pasan. Masih jauh dari istilah 'ahli'. Terus terang saya masih bertanya-tanya apakah saya bisa belajar dan mengajarkan mengenai komunikasi. How can I teach about communiation? How?

Masih ada learning block di kepala saya. Saya sama sekali tidak ada bayangan bagaimana saya akan menjalankan kuliah saya. Well, sementara saya jalani saja. Sementara saya masih punya waktu untuk belajar sebelum kuliah dimulai. Doakan saya yah!

Jul 23, 2011

[Reposting] Dari Guru Untuk Siswa


Dari Guru Untuk Siswa
(Terinspirasi dari Buku Perahu Kertas karya Dewi Lestari )
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
Akhir pekan lalu, saya iseng membaca sebuah fiksi karya Dewi Lestari (Dee) berjudul Perahu Kertas. Ada dua tokoh utama dalam cerita. Yang satu bernama Kugy, seorang yang suka menulis cerita anak. Tokoh berikutnya  bernama Keenan, kegemarannya melukis.

Dalam buku tersebut, dikisahkan bahwa sambil kuliah Kugy menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak di sebuah Sekolah Dasar darurat bernama Sekola Alit, yang terletak di Bojong Koneng, Bandung. Di sana Kugy mengajar anak-anak membaca dan menulis di bawah sebuah pohon.
Kegiatan Kugy tampaknya memberikan banyak insipirasi bagi Kugy untuk menulis. Kemampuannya menulis, menjadi sebuah kekuatan dalam mengajar. Setiap kali kemampuan membaca muridnya meningkat, Kugy  menghadiahkan mereka sebuah tulisan. Pengarangnya? Kugy sendiri. 
Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu, setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya diambil dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamen-ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka. ( Perahu Kertas, Dewi Lestari, h. 103)

Seharusnya dalam membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, seorang guru sebaiknya membangkitkan motivasi yang sifatnya internal. Motivasi yang berasal dalam diri siswa, bukan karena hadiah, bukan untuk mendapatkan nilai tinggi, bukan untuk menjadi juara kelas, tetapi karena siswa memiliki kecintaan terhadap belajar, karena siswa merasa belajar adalah suatu kebutuhan, karena belajar, memiliki nilai intrinsiknya sendiri. Hm.. saya jadi ingat obrolan saya dengan seorang guru minggu lalu, saat menceritakan otak yang terus berputar terstimulasi setelah belajar sehingga menyebabkan seseorang sulit tidur.
“Rasanya, ada waktunya otak saya begitu terstimulasi (misalnya sehabis membaca atau berdiskusi), ide-ide berterbangan dikepala saya hingga saya sulit tidur.”“Saya juga begitu,biasanya saya akan langsung tuliskan, baru bisa tidur nyenyak.”“Begitu yah otak kalau terstimulasi karena belajar. Sampai bisa bikin sulit tidur.”
Meskipun tidak sama persis, begitulah kurang lebih inti dari pembicaraan kami. Belajar memang mengasyikan. Belajar dari mana saja, dari pengalaman, pengamatan, buku, apapun. Dan kadang membuat otak kita berputar begitu cepat, sehingga kadang membuat saya tidak bisa tidur. Motivasi sejenis ini, yang seharusnya ditumbuhkan pada siswa.
Meskipun begitu, menurut saya, pendekatan Kugy dalam memotivasi siswanya untuk belajar membaca cukup menarik. Tidak semua orang langsung mempunya motivasi yang sifatnya intrinsik dalam belajar. Kadang-kadang reward sederhana seperti pujian, hadiah, tidak ada salahnya. Kadang-kadang motivasi yang berasal dari luar diri, bisa menjadi langkah awal untuk menanamkan motivasi yang berasal dari dalam diri.
Dalam kisah Perahu Kertas, Kugy, membuatkan cerita-cerita mengenai anak sebagai penghargaan setiap kemampuan bahasa mereka meningkat. Membuatkan cerita untuk masing-masing siswa yang diajarnya tentu memerlukan effort. Hal ini menunjukan bahwa Kugy, sebagai seorang pengajar, memerhatikan siswanya satu per satu dan bersedia menyediakan waktunya untuk memberikan sebuah reward yang sifatnya personal. Kelebihan Kugy, menurut saya, bukanlah karena ia memberikan reward pada murid-muridnyanya, melainkan karena dia memberikan  perhatian  kepada murid-muridnya.
Hm.. saya jadi teringat pada beberapa orang guru yang saya kenal. Guru-guru beneran, bukan fiksi. Ada seorang dosen bahasa yang selalu mengumpulkan brosur-brosur dari tempat-tempat yang dikunjunginya, untuk ditunjukan kepada murid-muridnya sebagai bahan pembelajaran. "Bagaimana sih bahasa yang digunakan dalam brosur tersebut? Apa yang membuatnya menarik?"  adalah hal yang bisa ia tanyakan di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kali ia melihat hal yang menarik dan bisa bersifat edukatif, ia ingat pada muridnya. 
Seorang teman guru yang lain juga selalu mencoba menyempatkan diri untuk mengomentari wall-wall  facebook muridnya (termasuk menegurnya ketika ada muridnya yang menggunakan kata-kata kasar). Hal ini menunjukan bahwa ia peduli dengan murid-muridnya, dan tentu ingin membangun komunikasi dengan murid-muridnya kapan ia bisa. 
Ada juga teman-teman guru yang membuat website untuk memajang karya-karya muridnya. Saya juga ingat, ada seorang teman guru yang mengirimkan karya siswanya ke sebuah milis guru (klubguruindonesia(at)yahoogroups(dot)com; sekarang ikatanguruindonesia(at)yahoogroups(dot)com ), agar teman-teman guru yang lainnya bisa mengomentari karya siswanya. Saya memang menyempatkan diri untuk ikut mengomentari karya muridnya dan kata sang guru, sang murid bangga sekali (mudah-mudahan juga terus termotivasi untuk menulis).
Sebenarnya, saat saya membaca apa yang dilakukan Kugy untuk memotivasi siswa-siswanya, saya paling teringat dengan seorang teman saya yang menempuh sebuah SMU di daerah Bukittinggi. Ia sekarang memilih untuk menjadi penulis dan sangat mencintai dunia baca-tulis. Beginilah yang pernah ia katakana ke saya:
Guru saya tidak menggunakan buku pelajaran. Ia selalu menggunakan semacam buku pelajaran sendiri. Semacam modul. Dan setiap tahun ia membuat modul yang baru. Setiap tahun ia menggunakan nama-murid-murid dalam kelasnya sebagai tokoh tulisan-tulisan yang ada di modul yang ia buat. Misalnya namaku Inal. Nah, pasti ada bagian dalam buku itu yang menggunakan namaku. Semua murid yang lain juga begitu. Pasti ada nama mereka dalam modul yang dibuat oleh guru saya.
Menurut saya, guru tersebut sangat luar biasa. Membuat modul bahasa tentu membutuhkan waktu dan effort yang cukup besar. Apalagi bila ia membuat sebuah modul baru setiap tahunnya. Ia juga selalu menggunakan nama murid-muridnya. Jadi, kalau murid-muridnya membaca modul tersebut, tentu aka nada kegembiraan dalam hati mereka. Guru mereka memperhatikan mereka dan nama mereka ada dalam sebuah buku!
Hm.. mungkin inti dari apa yang dilakukan Kugy dan apa yang dilakukan guru bahasa Indonesia teman saya bukan pada reward tapi lebih pada perhatian yang diberikan seorang guru pada siswanya. Sebuah perhatian istimewa dari guru untuk siswa. Ini tentu langkah-langkah awal yang dijalankan oleh guru-guru ini dalam menanamkan motivasi belajar kepada siswanya. Sebuah semangat yang patut ditiru!

9 Juni 2010

Jul 22, 2011

Label 'Sekolah Inklusi'

An ‘inclusive’ education system can only be created if ordinary schools become more inclusive – in other words, if they become better at educating all children in their communities.

Sebuah sistem pendidikan yang ‘inklusif’ hanya bisa diciptakan apabila sekolah-sekolah umum menjadi lebih inklusif - dengan kaya lain, mereka menjadi lebih baik dalam mendidik semua anak di dalam komunitas mereka.

(UNESCO di dalam Policy Guidelines on Inclusion in Education, 2009)

Saya bukan ahli dalam bidang pendidikan luar biasa, bukan juga dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, dan saya tidak memiliki kualifikasi apapun di bidang pendidikan inkulusi. Tetapi saya tahu bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar menerima siswa yang berkebutuhan khusus seperti anak yang mengalami down syndrome, autis, tuna netra, tuna grahita, dan sebagainya ke dalam sekolah umum. Apalagi tanpa persiapan khusus.

Bukan hanya sekali, saya mendengar mengenai sekolah-sekolah negeri yang berlabel ’sekolah inklusi’ tetapi hanya sekadar menerima siswa yang berkebutuhan khusus, tanpa persiapan. Seperti cerita seorang guru pada saya hari ini. Dia mengajar di sebuah SD Negeri di Jakarta Selatan. Sekolahnya berlabel sekolah inklusi. Artinya, mereka harus menerima siswa-siswi yang memiliki kebutuhan khusus. Sayangnya, di sekolah tersebut tidak ada guru yang bertugas khusus untuk menangani siswa-siswi yang berkebutuhan khusus. Tidak ada psikolog yang berpartner dengan sekolah, sehingga guru-guru bisa berkonsultasi. Satu guru harus memegang 40 siswa sekaligus, termasuk siswa-siswa berkebutuhan khusus. Dan, kebijakan sekolah pun tidak ramah terhadap siswa-siswi yang berkebutuhan khusus. Misalnya seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar karena IQ-nya 60 tetap diwajibkan untuk mengikuti ujian nasional!

*
Seorang teman saya yang berkebangsaan Thailand, pernah bersekolah di sebuah sekolah inklusi. Dia pernah bercerita pada saya, bahwa sekolah-sekolah inklusi di Thailand memang menerima siswa-siswa yang berkebutuhan khusus untuk sekolah di sana. Tetapi, bedanya dengan sekolah di atas adalah bahwa sekolahnya benar-benar dipersiapkan untuk menerima siswa yang berkebutuhan khusus. Masing-masing siswa dibuatkan yang disebut Individual Educational Plan (IEP). Yang berarti kebutuhan siswa dianalisa sedetail mungkin, dan program pembelajarannya pun dedesain sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Di dalam IEP diatur, misalnya, si A akan belajar bersama kalau pelajaran X di kelas ini, tetapi untuk mata pelajaran yang berbeda dia akan memiliki guru khusus. IEP bagi satu anak bisa berbeda dengan anak yang lainnya. Ketika merancang IEP pun banyak pihak yang dilibatkan, dan proses ini dipersiapkan dengan sangat matang, seperti yang bisa dilihat di http://www.rism.ac.th/ris/inner342.php?p=342 . Orang-orang yang terlibat diantaranya siswa, orang tua, guru kelas/wali kelas, kepala sekolah, guru BK, dan psikolog.

“Seorang teman sekelas saya yang berkebutuhan khusus, sampai sekarang masih menjadi semacam asisten untuk membantu siswa-siswa lain yang berkebutuhan khusus yang lebih muda,” ceritanya pada saya.

**

Bagi saya, sekolah inklusi hanyalah salah satu pendidikan dari berbagai bentuk pendidikan yang ada di Indonesia. Seorang yang berkebutuhan khusus tetap berhak mendapatkan pendidikan, dan mungkin sekolah inklusi bisa menjadi pilihan. Yang menjadi kegelisahan saya adalah ketika sekolah-sekolah inklusi ini hanya label.

Seorang murid (privat) saya pernah bercerita bahwa sekolahnya, yan terdapat di daerah Jakarta Timur, adalah sebuah SMUN yang berlabel inklusi. Teman sekelasnya ada yang menderita Autis. Siswa ini dibully oleh teman-temannya. Bukan secara fisik, memang tetapi secara verbal, diejek, ditepuk-tepuki, diteriaki. Anehnya, gurunya juga bertepuk tangan ketika siswa ini sedang di-bully.

Di Bandung pun, seorang teman saya yang tuna netra bersekolah di sebuah sekolah negeri inklusi. Tetapi bagi teman-teman tuna netra, tidak ada peraga khusus. Kalau gurunya menerangkan mengenai grafik x-y misalnya, dia akan menerangkannya seakan-akan semua anak bisa melihat.

Saat hal-hal ini terjadi, sebaiknya kita kembali bertanya, apa tujuan dari sebuah sekolah inklusi? Apakah hanya memasukkan anak-anak berkebutuhan khusus ke dalam kelas normal? Ataukah ada tujuan yang lebih mulia dari itu? Bukankah tujuan sekolah inklusi adalah membantu agar semua anak bisa berkembang potensinya? Tentunya untuk mencapai ini perlu ada kesiapan dari setiap elemen yang ada di sekolah, baik siswa yang lain, guru, maupun kepala sekolah.

Saya setuju bahwa setiap anak di Indonesia, termasuk siswa-siswa yang berkebutuhan khusus berhak mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak lain, tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa kebutuhan mereka, boleh diabaikan. Kalau memang mau mendirikan sekolah inklusi, sebaiknya sekolah tersebut dirancang dengan sebaik-baiknya. Apabila memang ingin mendirikan sekolah yang bertujuan menampung anak berkebutuhan khusus, pertama, sekolah harus paham kebutuhan siswa tersebut apa. Kedua, sekolah tersebut harus siap, baik secara untuk memenuhi kebutuhan siswa tersebut. Tentunya, seperti yang disampaiakan oleh UNESCO, sekolah tersebut harus menjadi lebih baik dalam mendidik semua anak di dalam komunitas mereka.