Jun 23, 2012

Tulisan Tahun 2008

Ini sebuah tulisan yang saya buat sehkitar tahun 2008. Nemu ketika lagi beres-beres.


Aku ingin...
Setiap anak, hidup di dunia yang memungkinkan mereka memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas. Lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah, mampu memaksimalkan fungsinya sehingga di manapun seorang anak berada, ia bisa belajar untuk mengembangkan bakat-bakatnya dan juga karakternya. Mereka hidup di dunia yang penuh dengan kedamaian, di mana perbedaan menjadi suatu kekuatan  untuk saling bekerja sama dan membangun dunia yang lebih baik.

Aku ingin, anak-anak ini tumbuh menjadi manusia-manusia sederhana yang menggunakan apapun yang dimilikanya baik waktu, harta, maupun pengetahuannya untuk kebaikan dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya. Mereka akan tumbuh menjadi manusia yang peduli dengan sesama dan bersama bergerak untuk mengusahakan perbaikan kesehatam pendidikan, dan kualitas hidup diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

Anak-anak ini akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang percaya dengan kekuatannya tetapi juga bisa menghargai orang lain. Mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang saling mendukung, mengingtkan satu sama lain bahwa setiap orang bisa berperan dalam melakukan kebaikan. 

Wow, saya rasanya sudah lupa pernah menuliskan hal-hal tersebut. Maybe Allah All Mighty is trying to remind me of what I have always longed for. What I really wanted. :) 

Jun 12, 2012

Menyerang Pribadi Saat Berdiskusi


Sore kemarin saya berdiskusi dengan mahasiswa bimbingan saya. Saat berdiskusi mahasiswa saya sempat mengatakan bahwa pendapat saya salah. Dia kemudian menjelaskan alasan mengapa dia menganggap pendapat saya salah. “Maaf yah Bu, bukannya mau melawan,” katanya.

Saya malah tertawa.  “Loh tidak apa-apa kamu melawan saya. Wong kita sedang berbicara di tataran akademik kok! Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Kalau kamu merasa pendapatmu benar, pertahankan asalkan dijelaskan argumentasinya, ” kata saya.

Mahasiswa saya tertawa juga, “Oh malah boleh yah bu?”
“Ya bolehlah!” kata saya, “Kenapa tidak?”

Kalau selama ini didengung-dengungkan mengenai pendidikan karakter, menurut saya dengan mendalami suatu bidang, termasuk melalui dunia akademik, sebenarnya ada karakter yang kita pelajari. Misalnya, kita belajar untuk jujur karena harus menguktip dengan benar. Setiap mengutip tulisan dari tempat lain, kita harus mengungkapkan sumbernya. Kita juga harus jujur terhadap diri kita sendiri. Apakah pendapat kita yang sesungguhnya? Apakah kita mengatakan sesuatu karena saat tu kita yakin pendapat itu benar, ataukah kita sekadar mau menyenagkan hati orang lain?

Di dunia akademik, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Sampai saat ini para matematikawan masih saja berdebat, “Apakah matematika adalah seni?”, “Apakah matematika adalah bahasa”, “Apakah matematika itu.”

Seorang mahasiswa saya meneliti mengenai ‘Learning difficulties’ tetapi dia menemukan bahwa masih ada perdebatan apakah sebaiknya menggunakan kata ‘learning difficulties’ atau ‘learning disabilities’. Masing-masing kata tersebut pun masih diperdebatkan definisinya.

Perdebatan-perdebatan ini adalah hal yang wajar dan sangat kita perlukan untuk mempertajam pikiran. Kita jadi lebih terbiasa menghadapi perbedaan. Kita harus belajar untuk melakukan komunikasi khususnya untuk meyakinkan orang lain mengenai pendapat kita. Masih ada perbedaan pendapat? Baguslah, itu berarti kita punya kesempatan untuk mempelajari kembali pemikiran kita sendiri. Apakah benar? Apakah kita telah menyampaikan pendapat kita dengan jelas? Apa ada sudut pandang lain? Apakah kita mengemukakan data-data yang memadai untuk memperkuat argumentasi kita? Apakah kita berani mengkoreksi pemikiran kita sendiri apabila kita menyadari pemikiran tersebut salah? 

Seorang pemikir pendidikan bernama Paolo Friere yang senantiasa berani mengkritisi pemikirannya sendiri. Pendapatnya ketika muda bisa berubah dengan ketika dia mulai lebih tua karena bertambahnya pengalaman dan juga bacaan. “Buku Pedagogy of Hope”, misalnya merupakan kritik Paolo Friere terhadap pemikirannya sendiri di dalam “Pedagogy of The Oppresed”.

Dengan mendalami suatu bidang tertentu kita belajar menjadi lebih terbuka dan bisa menghargai perbedaan. Kita berlatih untuk mengkritik pemikiran, bukan orangnya.  Di dalam banyak diskusi yang saya ikuti di mailing-list maupun grup facebook, hal ini seringkali dilupakan (mungkin juga oleh saya sendiri). Saat berdiskusi, dan ada yang berbeda pendapat , kadang kita malah menyerang pribadi seseorang, bukan argumennya. Kemarin, saya mengalami hal ini saat berdiskusi di milis FB IGI mengenai RSBI.
Beginilah komentar yang saya dapatkan ketikan menyatakan ketidak setujuan saya terhadap konsep RSBI :
saya jadi pengen ketawa ....
saya sedang berdebat dengan guru apa politikus ....
negara kita itu terpuruk pendidikannya ....
negara kita itu terkenal korupnya ....
itu karena produk pendidikan 25 tahun yang lalu ....
coba support saja rencana pemerintah yang sekarang ....
lalu tunggu 25 tahun kedepan ....
baru komentar ....
tidak semudah membalik telapak tangan ....
apakah ini karena anda masih muda ....
apakah karena anda merasa sudah mencapai tingkat doktoral ....
sehingga pemikiran anda saja yang paling BENAR ....
 “

Saya pun menjawab :
 Kenapa anda menyerang pribadi bukan argumen saya? Saya bukan politikus dan tidak tertarik menjadi politikus. Saya adalah guru dan saya berdiskusi di sini dengan kapasitas saya menjadi guru. Saya tidak menganggap pemikiran saya yang paling benar tetapi kalaupun pemikiran saya salah, silakan tunjukkan di mana salahnya. Justru saya sangat terbuka. Anda belum menunjukkan kepada saya pendapat mana yang menunjukkan kelebihan RSBI dibandingkan SSN.

Penyerangan-penyerangan terhadap pribadi semacam ini seringkali saya temukan dalam banyak diskusi. Menurut saya, sikap semacam ini tidak bijaksana. Ketika kita tidak sependapat dengan argumen seseorang, sebaiknya kita membalasnya dengan argumen lain, bukan dengan menyerang pribadi. Saya pun harus mengingatkan diri saya untuk senantiasa demikian. Semoga saya bisa. J

Jun 6, 2012

Mosquitoes survive raindrop collisions by virtue of their low mass

Renungan Setelah Menatap Langit Lagi


Saya mendapatkan sms dari Pak Wid, salah satu astronom Indonesia yang bekerja di Planetorium Jakarta, bahwa hari itu adalah ulang tahun Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ). Karenanya, saya diundang ke Planetorium Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk ikut merayakannya. Hari itu saya baru selesai  menjadi penyelenggara Kursus Bahasa Inggris untuk guru IGI  di SEAMOLEC, Tangerang. Setelahnya rapat lagi dengan Pak Satria dan Pito sampai jam 9 malam. Meskipun sudah malam, saya memilih meluncur saja ke Planetorium. Sudah lama saya tidak ke sana. Pengen juga bisa berjumpa dengan teman-teman lama.

Saya merupakan anggota (non-aktif) di HAAJ semenjak tahun 1998. Ketika saya pertama bergabung, saya masih SMU. Di sana saya kadang mengikuti kuliah umum tentang astronomi yang diselenggarakan dua minggu sekali. Sampai saat ini, kuliah umum tersebut masih berlangsung (Sabtu -- dua minggu sekali).

Setelah kuliah umum, biasanya ada kegiatan peneropongan. Itu kalau langit tidak mendung. Di sana saya belajar banyak sekali, khususnya mengamati langit. Pertama, saya belajar caranya membaca peta bintang lalu membandingkan apa yang tertera di peta bintang dengan di langit. Saya melakukan peneropongan bintang dan belajar bahwa ternyata bintang tetap terlihat lebih kecil di teropong. Waktu itu saya membayangkan bintang akan terlihat sangat besar dan , ternyata saya salah. Saya jadi belajar bahwa masing-masing teleskop memiliki perbesarannya masing-masing. Tidak semua teleskop perbesarannya seperti Teleskop Hubble.

Meskipun ternyata dengan teropong yang ada saya tidak bisa melihat bintang sejelas yang saya kira, saya tidak kecewa. Suatu hari saat ada star party, pesta di mana kita bermalam di bawah langit sambil mengamati  bintang, saya berkesempatan melihat cincin Saturnus melalui teleskop. Hari itu saya merasa beruntung sekali. Itu pertama kalinya saya melihat Satrurnus dan cincinnya, bukan sekadar lewat buku pelajaran.


Sejak bergabung di HAAJ, yang pasti, saya belajar mengamati langit, entah dengan mata telanjang, binokuler, ataupun dengan teleskop. Teman-teman di sana seringkali menginformasikan setiap terjadi sebuah fenomena alam baik berupa gerhana, transit planet,  meteor shower, dan lain-lain. Beberapa anggota HAAJ yang lebih senior bercerita tentang asyiknya tidur di pinggir pantai, menatap langit saat terjadi meteor shower. Kalau ada meteor shower, semalaman kita bisa melihat begitu banyak "bintang jatuh". Sebenarnya bintang jatuh tersebut adalah meteor yang masuk ke dalam atmosfer bumi dan terbakar.

Saya mulai  memperhatikan apa yang selama ini tidak saya perhatikan, langit. Ketika kita memperhatikan sesuatu dengan lebih seksama kita bisa melihat apa yang selama ini tidak pernah kita lihat. Seorang anggota HAAJ pernah mengatakan bila kita menatap langit semalaman (apalagi kalau langit sedang jernih), kita pasti akan melihat setidaknya satu  "bintang jatuh". Saya mencobanya dan benar! Dalam satu malam saya melihat lebih dari 10 bintang jatuh.

***

Jadi meskipun sudah lelah, malam itu saya ngotot  untuk mampir ke Planetorium. Sesampai di sana, beberapa teman-teman lama sudah pulang tetapi beberapa masih ada. Ada banyak anggota baru, beberapa diantaranya mahasiswa dan siswa SMU. Mereka menginap. Saya pun berkenalan dengan mereka.

"Malam ini ada Leonid Shower," kata seorang teman saya, "Kalau mau bisa ikut menginap melakukan peneropongan."

Keesokannya saya masih ada kegiatan lain, sehingga saya memutuskan untuk tidak menginap tapi saya tetap tinggal di sana sampai lewat tengah malam. Saya berkenalan dengan seorang lulusan Pendidikan Kimia UNJ. Dia kini menjadi guru di sebuah SMK di Jakarta. Saya mengajaknya ke atap planetorium, berbaring menatap langit sambil berbincang-bincang tentang sekolahnya tempat mengajar.

Malam itu sedikit mendung, tetapi saya tetap berbaring menatap malam yang gelap. Setelah beberapa waktu langit menjadi lebih terang tetapi belum banyak bintang yang terlihat. Ah, meskipun di bawah langit Jakarta yang sudah penuh polusi, saya sangat menikmati malam tersebut. Sudah jarang sekali saya berbaring menatap langit seperti itu. Entah berapa lama saya tak melakukan hal seperti itu. Saya tidak ingat kapan saya terakhir  duduk diam dan berbaring menatap alam. Nikmat sekali rasanya.

Saya jadi teringat anak-anak sekolah yang berangkat dari pagi, pulang sekolah, kemudian mungkin les lagi sampai malam, lalu pulang dan tidur. Setiap hari melakukan hal yang sama. Kalaupun belajar sains di sekolah, tidak ada waktu untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai fenomena alam. Saat gerhana matahari misalnya, siswa masih sibuk belajar di kelas. Waktu saya SMU, saat terjadi gerhana matahari, guru mengizinkan kami keluar untuk melihatnya asalkan tidak melihat dengan mata telanjang. Kami harus melihat langit dengan menggunakan setumpuk roll film gelap  untuk mencegah  agar mata tidak menjadi buta. Apakah anak sekarang masih mendapatkan kemewahan seperti itu? Di daerah mungkin iya -- anak-anak masih berkesempatan memperhatikan fenomena alam -- tapi di kota besar seperti Jakarta?

***

Sebelum pulang saya mampir ke perpustakaan HAAJ. Saya sempatkan membaca sebuah buku tentang komet. Di dalamnya ada gambar-gambar sketsa yang dibuat oleh orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu. Jangankan komputer, di zaman tersebut teleskop bahkan belum ditemukan. Saya terkesima melihat catatan-catatan yang dibuat oleh para tetua terdahulu. Tekun sekali mereka melakukan pengamatan dan mencatat apapun yang dilihat. Saya jadi malu. Saya mengaku manusia modern tapi mungkin dalam hal ketekunan melakukan observasi apalagi pencatatan. Apakah saya setekun itu terus mencari ilmu pengetahuan? Bukan hanya menerima jadi apa yang tertulis di buku dan di dunia maya, tapi memanfaatkan seluruh panca indera untuk terus belajar. Apakah saya setekun itu? Entahlah. 



Jun 3, 2012

Membaca Steve Jobs (Bagian 2)


Membaca "Steve Jobs" (Bagian 2)
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Di bulan Januari, setahun yang lalu, saya beruntung bisa belajar banyak tentang menulis dari seorang sastrawan, Pak Yudhistira Massardi. Pak Yudhistira menjadi fasilitator dalam sebuah kegiatan IGI yakni seminar dan rangkaian workshop “Membangun Kemampuan Menulis Guru.”

Ada hal menarik yang saya dapatkan darinya. Dalam salah satu workshop beliau pernah mengatakan  bahwa sebuah cerita menjadi menarik ketika tokohnya mengalami perubahan karakter. Misalnya, yang tadinya sifatnya pemarah, lalu ada kejadian-kejadian yang membuatnya tidak pemarah lagi. Atau, Yang tadinya baik, ternyata bisa berubah sifatnya karena kondisi-kondisi tertentu. Seringkali dalam sinetron-sinetron, di Indonesia, satu orang tokohnya jahat melulu, atau baik melulu. Cerita seperti ini cenderung membosankan.

Saya setuju. Menurut saya, cerita yang tokohnya selalu baik terus atau jahat terus adalah cerita yang membosankan. Apalagi kalau cerita tersebut berkisah tentang manusia. Menurut saya, manusia adalah makhluk yang begitu kompleks. Sikap dan prilaku seorang manusia dipengaruhi oleh konteks di mana dia berada misalnya kondisi di sekitarnya, orang-orang yang disekelilingnya, dan banyak lagi. Seorang penulis bernama Gretchen Rubin, dalam bukunya “The Happiness Project” (2009) pernah berkata “People’s lives are far more complicated than they appear from the outside

Cerita tentang manusia menarik justru bukan hanya menggambarkan hal-hal yang secara eksplisit terlihat dari luar melainkan apa yang terjadi di dalam serta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Buku biografi “Steve Jobs” karya Walter Isaacson menarik karena dia tidak hanya menggambarkan kelebihan Steve Jobs melainkan juga kekurangannya. Kesuksesan dan kegagalannya. Rasa percaya dirinya maupun rasa rendah dirinya.  

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman menurut hal ini. Dan begini katanya, “Buku biografi Steve Jobs menarik, justru bukan karena menonjolkan intelektualitas dan kejeniusan Steve Jobs, tetapi karena menggambarkan Steve Jobs sebagai seorang manusia. Itu salah satu kelebihannya.”

Steve memang mengatakan pada Isaac bahwa dia boleh menulis buku biografinya apa adanya.
“I’ve done a lot of things I’m not proud of, such as getting my girlfriend pregnant when I was twenty-three and the way I handled that,” he [Steve] said. “But I don’t have any skeletons in my closet that can’t be allowed out.” He didn’t seek any control over what I wrote, or even read it in advance. (p. xix)

“Saya melakukan banyak hal yang tidak saya banggakan misalnya membuat pacar saya hamil saat saya berusia 23 tahun dan bagaimana saya menanganinya,” katanya [Steve],  “Tapi tidak ada hal yang ingin saya tutupi.” Dia tidak mengontrol apapun yang saya tulis, bahkan tidak membacanya dulu. (h. xix)

Istri Steve malah mendorong Isaac untuk menulis sejujur-jujurnya mengenai Steve baik kesuksesan maupun kegagalannya.
His wife also did not request any restrictios or control, nor did she ask to see in advance what I would publish. In fact she stronglyy encouraged me to be honest about his failings as well as his strength.(p.xx)

Istrinya juga tidak membatasi ataupun mengontrol bagaimana saya menulis, dia juga tidak menanyakan saya untuk memperlihatkan tulisan apa yang akan saya publikasikan. Justru, dia mendorong saya untuk jujur mengenai kegagalan maupun kekuatannya. (h.xx)

Baguslah Steve maupun istrinya bersikap sangat terbuka mengenai apa yang ditulis oleh Isaac. Isaac dengan gamblang menggambarkan perjalanan hidup Steve. Bukan hanya saat Steve merasa jaya tetapi juga kesedihan Steve yang mendalam, misalnya saat dia merasa dikhianati oleh teman-temannya di Apple. Melalui buku karya Walter Isaacson, saya sebagai pembaca bisa lebih berelasi dengan tokoh Steve Jobs. Bukan sekadar beralasi dengan Steve Jobs sebagai pendiri Apple, melainkan dengan Steve Jobs sebagai seorang manusia. 

Jun 1, 2012

Membaca "Steve Jobs" (Bagian 1)


Membaca "Steve Jobs" (Bagian 1)  
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Saya tidak pernah berencana membaca buku Steve Jobs karya Walter Isaacson. Walaupun saya terpukau pada pidato Steve Jobs di Stanford ( http://news.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html ), saya bukan fans-nya. Biasa saja.  Jadi, buku "Steve Jobs" tidak masuk dalam buku yang akan saya baca, setidaknya dalam waktu dekat. Saya sedang berencana membaca (banyak) buku-buku bertema pendidikan dan juga novel.

Waktu Mas Eko Prasetyo, seorang anggota milis Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengusulkan mengadakan Klub Baca IGI dan mengusulkan membaca Biografi "Steve Jobs" saya terima saja tantangannya. Kenapa tidak? Mungkin awalnya saya tidak berminat, tetapi bisa saja saya tetap mendapatkan sesuatu dari membacanya. Ternyata saya memang mendapatkan sesuatu.

Sebelum menceritakan bagian pertama yang berkesan di hati saya, saya akan menceritakan sesuatu mengenai kegelisahan saya.  
Kegelisahan saya salah satunya dipicu oleh cerita Ibu Nina Feyruzi, salah seorang anggota mailing-list IGI. Ibu Nina pernah menceritakan tentang kunjungan siswa-siswa sekolah San Pablo (Argentina ke Indonesia). Beginilah tulisannya : 

"Siswa San Pablo, sekolah ini merupakan sekolah swasta yang mengkhususkan diri untuk mencetak siswa yang berminat di bidang sejarah dan seni dunia. Walaupun mereka mempelajari matematika, mereka lebih memfokuskan diri pada bidang pelajaran yang lain, seperti sejarah seni, sejarah dunia, drama, literatur, puisi, hingga humanisme dan filsafat. Ketika kedua belas siswa Argentina tersebut presentasi tentang sekolahnya, mereka memberikan contoh berpuisi. Seorang siswa bernama Mateo lalu membacakan puisi tentang alam dalam bahasa Spanyol dan teman2nya mengadakan mini discussion dan menginterpretasikan puisi yang dibuat Mateo. Wooooowwwww....

Saya sendiri terpukau melihat ini. Namun, anehnya, siswa SMA 8 yang terkenal pintar-pintar itu tidak tertarik sedikit pun. Mereka memberikan applaus sih, tapi tidak deep kalau menurut saya. Seorang guru SMA 8 mengatakan, "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" Owh, owh, owh...

Lalu, siswa San Pablo juga melakukan mini drama, satu babak yang diambil dari cuplikan "Hamlet". Dan tentu saja siswa-siswa Indonesia tidak ada yang tahu apa itu Hamlet. Lalu, Willy, siswa lainnya kemudian menjelaskan bagaimana "The Man of Java" - Pithecan Tropus Erectus, manusia purba yang ditemukan tulang belulangnya di Sangiran melakukan perjalannya berpindah-pindah. Dia menggambarkannya dengan peta yang dibuatnya. Wooowwwwww.... Sampai sebegitunya dan tentu saja saya dibuat terbengong-bengong juga. Saya tahu bahwa manusia Homo sapiens hidup berpindah-pindah. Tapi saya tidak tahu kemana mereka pergi dan apakah ada hubungannya dengan penyebaran manusia lainnya di benua lainnya." (Nina Feyruzi, mailing-list IGI, 2012)

Terus terang, cerita Bu Nina membuat saya berpikir cukup lama. Saya heran, seorang guru berkata  "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!"

Kok bisa seorang guru berkata seperti itu? Kalaupun anak-anak tidak tertarik dengan puisi, bukankah tugas guru untuk membuat anak bisa setidaknya mengapresiasi puisi. Bukankah tugas guru untuk membantu siswa memperluas wawasan dan membimbing anak untuk melihat dunia yang lebih luas daripada sebuah ruang kelas?

Bersekolah adalah suatu kesempatan untuk menjadi lebih terpelajar, untuk menjadi lebih terdidik. Bagi saya menjadi terpelajar berarti berani juga belajar hal di luar bidang yang kita geluti. Kalai kita fokus untuk belajar IPA misalnya, kita juga harus belajar menghargai bidang lain baik. Tidak ada salahnya belajar sastra, puisi, dan lain-lain. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya bisa belajar untuk mengapresiasi karya. 

Saya jadi teringat Dosen Kinematika & Dinamika Mesin saya Pak Djoko Soeharto. Dia sering membagikan fotokopian dari buku-buku atau majalah yang menurutnya menarik meskipun itu tidak selalu berhubungan dengan pelajaran yang diajarkannya. Dia membagikan fotokopian dari buku Multiple Intellegence karya Howard Gardner, membagikan artikel tentang perkembangan sekolah-sekolah desain di dunia, dan lain-lain. Dia senantiasa mengingatkan saya dan murid-murid yang lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Belajar apa saja. Dia selalu berpesan kita setidaknya harus  seperti huruf T (kapital). Ada dua garis di huruf T. Yang satu horizontal dan yang satu vertikal. Vertikal berarti kita harus mempunyai ilmu yang dalam dan horizontal berarti kita harus mempunyai wawasan yang luas. Artinya apapun jurusan yang diambil oleh siswa, baik IPA oleh IPS, memang sebaiknya juga belajar  berbagai ilmu lain, meskipun mungkin tidak mendalam.

Pernyataan guru "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" berarti bahwa dia mengasumsikan bahwa siswa yang tertarik pada IPA dan Matematika pasti tidak tertarik pada bidang lain.  Apa benar begitu?   Padahal ada juga anak yang sebenarnya ketertarikannya beririsan dengan bidang lain. Saya jadi ingat bahwa Lewis Carol, salah satu sastrawan terkemuka dunia yang mengarang Alice in Wonderland merupakan seorang matematikawan. Karya-karya Lewis Carol dalam bidang sastra tidak pernah lepas dari bidang matematika. Tan Malaka, salah satu founding fathers di Indonesia juga seorang Matematikawan meskipun dia juga mendalami ilmu politik, sosial , dan seterusnya. Di zaman sekarang, salah satu ilmuwan Indonesia yang saya kagumi, Mas Yanuar Nugroho,  bidangnya juga beririsan antara IPA & IPS. Detailnya bisa dilihat di http://bukik.com/2011/09/11/bukik-bertanya-yanuarnugroho-peneliti-pelangi/ . 

Steve Jobs sendiri tampaknya merupakan salah satu orang yang masuk dalam kategori yang minatnya beririsan antara IPA & IPS. Dalam bagian pendahuluan buku Biografi Steve Jobs tertulis pernyataan Steve :

"I always thought myself as a humanities person as a kid, but I liked electronics," he said. "Than  read something that one of my heroes, Edwin Land Polaroid, said about the importance of people who could stand at the  intersection of humanities and sciences, and I decided that's what I wanted to do." (p. xix)

"Waktu saya kecil, saya selalu mengira  saya seorang yang suka ilmu-ilmu kemanusiaan  , tapi saya menyukai elektronika", kata [Steve Jobs]. "Kemudian saya membaca sesuatu tentang sesuatu yang dikatakan oleh pahlawanku Edwin Land Polaroid, di sana dikatakan pentingnya orang-orang yang bisa berdiri di irisan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu pengetahuan alam."

Steve Jobs ternyata merupakan salah satu orang yang mempunyai minat yang luas. Dia punya ketertarikan pada bidang elektronika, teknologi, tetapi juga pada bidang lain. Di bab satu, juga diceritakan bahwa saat SMU Steve Jobs mulai mendalami elektronika sekaligus juga  banyak mempelajari sastra. 

"I started to listen to music a whole lot, I started to read more outside of just science and technology - Shakespeare, Plato. I loved King Lear." (p.19)
Saya mulai sering mendengarkan musik, saya mulai membaca banyak di luar sains dan teknologi - Shakespear, Plato. Saya jatuh  hati pada King Lear. (p.19)

Bagi saya, dua kutipan di atas mengingatkan saya sebagai guru untuk senantiasa belajar dan menginspirasi siswa-siswa saya untuk belajar. Belajar apa saja, meskipun mungkin itu di luar bidang yang kita geluti sekarang.