Nov 22, 2012

Wawancara dengan Kak Asep (Rumah Pelangi)

Kak Asep, apa bisa ceritakan sedikit tentang diri Kak Asep?
Nama saya Asep Suhendar, lahir di Bandung tanggal 22 Juni 1993. Saya lahir dari keluarga yang sederhana. Pekerjaan ayah, kuli bangunan dan (almarhum) ibu pedagang kue-kue kering.

Saya bungsu dari 3 bersaudara. Alhamdulillah, saya anak yang beruntung. Kakak-kakak saya pendidikan hanya sampai SD. Saya berkesempatan belajar hingga lulus SMK jurusan elektro dan sekarang sedang berusaha untuk kuliah.

Sekarang saya sudah berpisah dengan orang tua. Ketika SD kelas 6 ibu saya meninggal dunia. Sebelumnya keluarga saya bahagia dan tentram tapi semenjak ibu saya meninggal, kehidupan keluarga mulai berubah.

Kelas 3 SMP saya mulai tinggal dengan paman saya. Semenjak itu saya berusaha mandiri. Paman saya berjualan batagor. Saya ikut membantunya berjualan batagor . Dari berjualan batagor saya bisa membiayai hidup saya sampai SMK dan Insya Allah untuk kuliah nanti juga.

Setelah lulus SMK saya berencana melanjutkan ke kuliah. Saya mendapatkan kesempatan mengikuti jalur undangan tapi tidak lolos seleksi. Saya mencoba mengikuti SMPTN belum lolos juga. Lalu saya mau ikut jalur ujian tertulis tetapi ketika itu orang tua membutuhkan uang, sehingga uang pendaftaran saya berikan kepada orang tua. Jadi tertunda. Waktu itu juga ikut ujian STAN. Tahap pertama lolos, tahap kedua tidak lolos.

Saya awalnya sedih sekali karena beberapa kali gagal masuk ke perguruan tinggi. Untuk membangkitkan semangat saya, seorang teman memberikan saya buku motivasi karya Dudi Fachrudin berjudul “10 Pesan Tersembunyi dan 1 Wasiat Rahasia”.

Setelah membaca bukunya saya termotivasi untuk hidup lebih bersemangat. Di dalam bukunya banyak pesan bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Setelah membaca buku itu saya iseng-iseng membaca riwayat penulisnya. Ternyata dia masih orang Bandung dan ada nomor teleponnya. Saya menghubunginya dan dia mengajak saya bergabung di sebuah grup di facebook.

Di grup itu kak Dudi mengajak untuk ketemuan di Rumah Mentari. Saya sangat ingin bertemu dan ngobrol dengan Kak Dudi. Saya mencari Rumah Mentari, awalnya sempat nyasar sampai ke Dago Golf bawah. Saya nyasar sampai 1 jam lebih tapi akhirnya ketemu tukang ojek yang akhirnya mengantarkan sampai ke mentari.

Tadinya, saya kira Mentari adalah sekadar tempat nongkrongnya Kak Dudi. Ternyata Mentari ada kegiatan belajar bersama anak-anak. Bu Dewi, pengurus mentari, yang rumahnya dijadikan tempat kegiatannya mentari langsung meminta tolong saya untuk mengajar.

“Sambil kenalan langsung ngajar saja,” kata Bu Dewi.

Itu pertama kalinya saya mengajar. Saya tidak pernah membayangkan lulusan SMK langsung mengajar.  Ternyata menyenangkan. Anak-anak responnya positif, langsung akrab dan dekat, bahkan sampai meminta nomor telepon.

Waktu itu, pengetahuan saya masih sedikit, yah  mengajar saja. Mengajar membuat saya merasa harus belajar lagi. Mengajar anak-anak memotivasi saya untuk terus belajar.  Dari situ saya jadi suka dunia anak. Sebelumnya saya main dengan remaja seumuran saya. Saya merasa dibutuhkan oleh anak-anak. Waktu SMP saya tidak terlalu dekat dengan anak-anak. Kalau anak-anak rewel saya suka kesal. Tapi sejak saya datang ke mentari, berbeda sekali rasanya.

Minggu depannya saya datang lagi. Saya jadi sering mengajar.  Ada teman bilang , “Ngapain jauh-jauh dari Bale Endah ke Dago untuk jadi sukarelawan tapi tidak digaji?”

Yah, saya ingin jadi orang yang lebih berguna. Karena panggilan hati. Ikhlas.

Saya bertanya-tanya kok bisa sih saya dekat dengan anak Mentari,  tapi tidak dengan anak-anak di rumah sendiri?  

Jadi, akhirnya saya mengajak anak-anak di sekitar rumah saya untuk bermain. Cuma 10 anak. Saya mulai dari yang dekat-dekat saja dulu. Tetangga dan saudara dulu. Kebetulan waktu itu sedang liburan sekolah selama dua minggu. Jadi, hampir setiap hari kita bisa bermain bersama.

Selain bermain kadang mereka saya ajak belajar. Kadang belajar matematika atau bahasa Inggris. Mereka suka dengan cara saya mengajar. Kadang belajar mengenal lingkungan dengan berjalan-jalan ke sekitar. Itu setiap jam 12 sampai jam 2 siang.  Jam 2 saya berjualan batagor  lagi.

 Lama kelamaan saya terpikir untuk membuat semacam rumah belajar, mirip dengan di Mentari. Tentu saja saya tidak bisa sendiri, jadi saya mengajak teman SMK saya bernama Rendi untuk membantu saya. Dia juga gagal masuk perguruan tinggi. Rendi suka komputer dan pandai bergaul. Dia juga mulai mencoba mengajar dan akhirnya dia juga jadi suka dengan dunia anak dan dunia belajar-mengajar.

Di tahun 2012 saya memberanikan diri untuk membuat rumah belajar. Materi seadanya dan keuangan seadanya. Sebagian uang hasil penjualan batagor saya gunakan untuk membeli beberapa buku untuk dibaca-baca. Saya membeli buku dari tukang loak. Ternyata bukunya bagus-bagus, ada banyak buku cerita anak. Lumayan banyak dapat bukunya sampai dua kardus aqua. Rendi juga membantu mencarikan buku sumbangan dari teman-temannya. Dia membantu menyebarkan sms ke teman-temannya untuk meminta sumbangan buku.

Tadinya saya mau menamakan rumah belajarnya “Rumah Mentari 2” tapi Kak Angga, salah seorang relawan mentari mengatakan lebih baik memberi nama yang berbeda.

Ketika mengajar anak-anak saya mengajak mereka berdiskusi untuk memberikan nama untuk rumah belajar. Anak-anak mengusulkan namanya rumah hujan. Saya kurang sreg karena hujan seperti menangis. Maunya sesuatu yang lebih ceria. Saya bilang saya kan mengajar anak-anak yang karakternya berbeda dan berwarna-warni. Ada anak yang menyeletuk, “Seperti pelangi dong kak!”

Akhirnya nama rumah belajarnya “Rumah Pelangi”

Apa tujuan Kak Asep mengajar anak-anak?

Saya ingin mengembangkan potensi anak. Sayangnya kebanyakan orangtua menganggap yang cerdas hanya yang nilai akademiknya tinggi. Kan bukan hanya itu. Ada banyak kecerdasan anak yang potensinya bisa digali.

Biasanya saya suka mengobservasi anak-anak dulu. Misalnya saya memperhatikan ada anak yang nilai akademiknya kurang tapi sukanya menggambar. Dia berbakat seni. Saya mencoba mendorongnya untuk mengembangkan bakatnya.

Bagaimana mengajar mengubah kehidupanmu?
Mengajar membuat saya harus terus belajar. Saya banyak membaca, bersosialisasi dengan berbagai komunitas, saya banyak belajar dari pergaulan. Setiap belajar hal baru saya coba modifikasi dan terapkan ke anak-anak.

Misalnya, waktu itu saya ikut acara temu bincang edukasi. Ada guru yang bercerita tentang kegiatan mendaur ulang. Saya menerapkannya di rumah pelangi. Anak-anak diajak berjalan-jalan mengumpulkan sampah, dan memisahkan sampah organik dan anorganik. Walaupun sederhana, saya coba terapkan.

Mengajar juga membuat saya belajar untuk lebih sabar, lebih tulus, dan bisa lebih memahami anak-anak. Saya juga lebih sadar bahwa ilmu saya masih setetes. Saya harus lebih banyak lagi belajar agar bisa lebih banyak berbagi.

Apa tantangan yang  Kak Asep hadapi dalam proses ini?

Tantangan dari diri saya sendiri adalah bagaimana caranya mengatasi berbagai masalah yang timbul. Misalnya cara menghadapi anak-anak, orang tua, dan juga sesama relawan. Misalnya, ada teman relawan yang memberikan contoh yang kurang baik ke anak-anak. Saya mencoba menegurnya. Saya juga harus menghadapi orang tua. Orang tua di kampung saya kebanyakan mengharapkan anak-anak datang ke Rumah Pelangi agar anak-anaknya memperoleh nilai akademik yang tinggi.  Ada yang nilai matematikanya di sekolah turun. Orang tuanya protes padahal aspek lainnya berkembang misalnya bakat seninya, kemampuan bersosialisasinya, dan lain-lain.  Bagaimana caranya mengajak orang tua agar paham bahwa belajar tidak melulu mengenai nilai yang diperoleh di sekolah saja? Itu tantangannya. Bagaimana sih cara mengatasi masalah, misalnya cara menghadapi anak-anak. Saya harus banyak bertanya ke yang lain.

21 November 2012, Rumah Mentari

Nov 19, 2012

Cerita Bertemu Penulis 'Sang guru & Secangkir Kopi'

Saya tidak pernah menyangka akhirnya akan bertemu dengan Andi Achdian, penulis 'Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia.'  Buku tersebut adalah salah satu buku favorit saya. Ternyata saya berkesempatan untuk bertemu penulisnya.

Awal ceritanya, saya berjalan-jalan ke Jakarta Book Fair di Senayan. Di salah satu stand saya menemukan sebuah buku kecil berwarna merah bata yang menarik perhatian saya. Ya, judulnya "Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia."

Buku apapun yang ada unsur kata "guru" biasanya menarik perhatian saya. Jadi, saya pun memilih untuk membeli buku tersebut. Memang, saya tidak salah pilih. Lembar demi lembar bukunya saya baca, sulit untuk berhenti! Saya benar-benar jatuh hati pada buku tersebut.

Dengan berapi-api saya ceritakan mengenai buku tersebut kepada seorang sahabat saya," Buku tersebut ditulis dengan sangat mengalir, indah, tapi saya belajar banyak tentang sejarah, tentang Onghokham, dan juga   mengenai hubungan guru-murid antara Onghokham dan Andi Achdian. Enak banget dibacanya, tapi setelah membacanya juga saya merasa tambah 'kaya'. Saya banyak belajar hal baru."

Menurut sahabat saya, kalau kita merasa terinspirasi oleh sebuah buku, tidak ada salahnya memberikan apresiasi kepada penulisnya. "Saya punya alamat facebook Andi Achdian. Coba saja kontak dan katakan terima kasih untuk tulisannya. Ada baiknya kita memberikan apresiasi kepada penulis yang bukunya kita nikmati."

Akhirnya, itupun saya lakukan. Saya meng-add  Mas Andi Achdian sebagai teman di facebook lalu menuliskan sebuah pesan yang menyatakan bahwa saya sangat menyukai bukunya. Andi Achdian pun membalas dengan mengucapkan terima kasih.

Tak lama kemudian Mas Andi  men-tag facebook saya dengan sebuah tulisan yang dibuat oleh Elisabet Tata, judulnya 'Klub Membaca Sejarah'. Menurut saya tulisan tersebut menarik. Selain itu saya punya cita-cita mendirikan klub baca sejenis. Inginnya  Ikatan Guru Indonesia (IGI) bisa memiliki sebuah klub baca di mana guru-guru berkumpul, membahas buku, sambil rariungan, minum teh hangat sambil makan gorengan. Kegiatannya bersahaja, murah meriah, tetapi sekaligus memperluas wawasan. Karena itu, saya merasa perlu memforward tulisan tersebut ke mailing-list dan facebook group IGI. Saya pun meminta izin  Mas Andi . Semenjak itu Mas Andi mulai mencari tahu mengenai IGI. Tak lama kemudian Mas Andi mengontak saya. Dia menanyakan apakah saya terlibat di dalam IGI. Dia juga  ingin berbincang-bincang tentang pendidikan dan guru. Kami pun berjanji untuk bertemu.

"Kok bisa dapat buku  Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia?" tanyanya

"Sebenarnya buku itu hanya 500 exemplar."

Dalam hati saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan bukunya. Saya ceritakan bahwa saya menemukan buku tersebut di pameran buku dan tertarik membelinya karena ada kata 'guru'. Sebenarnya saya mau memesan beberapa buku lagi kepadanya. Beberapa teman-teman yang saya ceritakan tentang buku tersebut sangat tertarik untuk membacanya. Sayangnya Mas Andi tidak membawa bukunya.

"Saya tidak bawa bukunya karena sebenarnya cetakannya sudah habis.  Mau direvisi, " kata Mas Andi

"Ketika saya membaca buku tersebut saya ingat buku Tuesday With Morrie karya Mitch Albom tapi buku Sang Guru dan Secangkir Kopi  jauh lebih menarik," kata saya.

Membaca buku Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia saya bukan hanya belajar mengenai sejarah, serta sosok Onghokham. Yang paling menarik bagi saya adalah saya belajar mengenai relasi antara seorang guru dengan muridnya, yakni antara Onghokham dam Andi Achdian.

Meskipun sama-sama berasal dari jurusan sejarah di Universitas Indonesia, Andi Achdian tidak pernah diajar langsung oleh Onghokham di dalam kelas. Mereka pernah bertemu dalam semacam seminar, dan ternyata mereka bertetangga.  Sejak menyadari bahwa mereka bertetangga, Andi sering bertemu dengan Onghokham untuk saling berdiskusi dan belajar bersama. Meskipun mereka seringkali punya pandangan yang berbeda, Andi mengaku pengalaman belajar bersama Onghokham adalah salah satu pembelajaran terbaik yang pernah ia alami, dan tidak akan pernah terulang lagi.

"Saya suka bagaimana Onghokham meminta Mas Andi memilih buku dari perpustakaannya. Kemudian Mas Andi diminta menaruh buku tersebut di sebelah tempat tidurnya," kata saya, "Itu salah satu cara Onghokham menunjukkan ketertarikannya pada minat 'muridnya'. Bagi saya, seorang guru itu manis sekali. Guru harus belajar apa yang menjadi ketertarikan siswanya."

Entah apa yang ada di kepala Mas Andi saat itu. Mungkin dia tidak pernah membayankan bahwa seorang membaca bukunya dari perspektif yang saya ambil, dari sudut pandang seorang guru. Hal yang paling menarik dari buku tersebut adalah bagaimana dua orang (guru dan murid) saling belajar satu sama lain melalui proses dialog dan interaksi. Benar-benar hubungan guru dan murid yang bikin iri.

Saya dan Andi Achidan membahas banyak hal lain. Tentang pelajaran sejarah di sekolah, buku teks dan LKS IPS yang rendah kualitasnya, tentang pentingnya membangun minat baca guru, dan banyak hal lagi. Mas Andi sebenarnya sangat ingin membantu guru-guru dalam memperbaiki pembelajaran sejarah di sekolah, termasuk dengan menulis buku-buku sejarah yang kiranya menarik untuk dibaca oleh siswa.

Belakangan ini Andi Achdian mengontak saya lagi. Buku "Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia" mau diterbitkan lagi dan saya diminta untuk membantunya menyelenggarakan bedah buku tersebut bersama guru-guru. Saya langsung bersemangat. Saya merasa teman-teman guru harus membaca 'Sang Guru dan Secangkir Kopi : Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia' . Jadi, tentu saja saya sangat bersedia membantunya!

Nov 11, 2012

You and me against the world - Mocca




baby, hold my hand
count to ten
break the chain
i’m gonna take you inside my space
baby, don’t be afraid
maybe it’s our fate
just wait and see
i’m going to shout about it

it is you and me against the world
don’t waste our time for tomorrow
with you by my side
i can do anything
you and me against the world
goodbye to all of our sorrow
so let’s just put them aside
put all the worries behind us

Sep 22, 2012

Cerita Akhir Semester (1) : Menjadi Lebih Baik

Satu semester telah berakhir. Bisa dikatakan semua mahasiswa saya telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di kelas menulis (bahasa Inggris), semua siswa saya membuat portfolio berupa kumpulan tulisan mereka. Mahasiswa saya adalah calon-calon guru matematika, sehingga tugas menulis mereka  terkait dengan Matematika dan mengajar. Setiap minggu, setidaknya mereka harus membuat satu karya, mulai dari menuliskan sejarah diri mereka belajar matematika, menuliskan ulang dengan bahasa sendiri sebuah film berjudul "Zero & One" yang saya ambil di youtube, membuat refleksi dari pengalaman mereka melakukan school experience  selama dua minggu di sekolah, menuliskan tentang 5 siswa yang mereka amati selama mengajar, sampai membuat semacam newsletter sekolah. Setidaknya ada 12 karya mereka sepanjang semester. Setiap minggu satu tulisan.

Sebelumnya, saya sudah menyiapkan contoh tulisan-tulisan (yang menurut saya) bagus yang harus mereka baca sebelum menulis. Salah satu tulisan menarik yan disediakan diambil dari kumpulan tulisan guru yang dikumpulkan oleh Erin Gruwell, dalam buku "Teaching Hope : Stories from The Freedom Writer Teachers and Erin Gruwell".  Kenapa saya melakukan itu? Seringkali mahasiswa saya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki "ide" untuk menulis. Dengan cara tersebut saya ingin menunjukkan  bahwa kalau kita memulai aktifitas menulis dengan membaca terlebih dahulu, kita tidak akan kekurangan ide menulis.  Selain itu, dengan membiasakan membaca, kosa kata kita akan bertambah. Pilihan kalimat yang kita gunakan dalam menulis pun akan lebih kaya.  Di akhir semester beberapa mahasiswa saya mengatakan, "Saya tidak menyangka bisa menulis dalam bahasa Inggris sebanyak itu! Dulu saya takut, sekarang saya lebih terbiasa!" 

Mahasiswa-mahasiswa saya telah banyak berkembang. Yang tadinya malas menulis, lama-lama menyukai menulis. Yang tadinya takut bahkan untuk berbicara dalam bahasa Inggris, menuliskan sebuah refleksi panjang mengenai pengalamannya mengajar siswa berkebutuhan khusus dalam bahasa Inggris. Bukan hanya itu, dengan beraninya dia membacakannya di depan kelas. Struktur tulisan, pilihan kata dan kalimat yan dibuat mahasiswa-mahasiswa senantiasa lebih baik dari waktu ke waktu. Berapapun nilai yang mereka dapat di akhir semester tidak menjadi penting. Yang pasti mereka berkembang menjadi lebih baik.

Di kalangan guru sering terjadi perdebatan mengenai perlunya memberikan reward (penghargaan) kepada siswa. Tujuannya untuk memotivasi siswa. Di akhir semester lalu saya belajar bahwa mahasiswa saya bahagia karena tahu mereka (ternyata) bisa berkarya melebihi apa yang mereka bayangkan. Ternyata  penghargaan paling berharga yang bisa seorang pendidik berikan kepada siswanya adalah membuat mereka merasa bahwa mereka bisa mengalami kemajuan dalam belajar. Bahwa mereka hari ini, telah tumbuh menjadi manusia yang lebih kaya pengalaman dan pengetahuan, dibandingkan satu semester sebelumnya. Bahwa mereka bisa berubah menjadi lebih baik. Dalam hal apapun, termasuk dalam hidup. 

Sep 11, 2012

Guru dan Demonstrasi



Di Chicago (10/09/2012) sedang ada boikot guru besar-besaran. Ribuan guru bergabung dalam demonstrasi ini. 


Saat guru melakukan boikot/berdemonstrasi, biasanya selalu ada pihak-pihak yang tidak setuju. Boikot/demonstrasi guru dianggap merugikan siswa karena proses pembelajaran menjadi terhenti. Saya termasuk pihak yang tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan ini. Banyak kebijakan-kebijakan  lain yang sebenarnya sangat merugikan siswa. Kebijakan-kebijakan ini diterapkan setiap hari sangat merugikan siswa. Kebijakan semacam ini perlu dilawan, salah satu caranya adalah dengan melakukan boikot/demonstrasi.  


Tentu saja alasan guru melakukan boikot/demonstrasi harus masuk akal. Apa yang dituntut oleh guru memang harus mendukung proses pendidikan. Bagi seorang guru, yang paling penting adalah proses pembelajaran terjadi dengan baik. Selain itu kepentingan siswa untuk memperoleh pendidikan berkualitas harus diutamakan lebih dari kepentingan apapun. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Amisha Patel, direktur Grassroots Collaborative, salah seorang yang ikut dalam Demonstrasi di Chicago.


“I’m talking about the disruption of ... not having libraries in their sch
ools.…When Chicago Public Schools (CPS) closes their schools instead of investing in the schools, that’s what’s disruptive to students. And when CPS forces students in classrooms with 35 or 40 other children, that’s what’s long-term disruptive for our children.”
 
Saya berbicara tentang keusakan dari... tidak adanya perpustakaan di sekolah... Ketika  Chicago Public Schools (CPS) memilih untuk menutup sekolah-sekolah publik dan bukannya melakukan invesrigasi mengenai kenapa sekolah tersebut bermasalah. Ketika  CPS memaksakan 35 atau 40 siswa di dalam satu kelas, itu yang menyebabkan kerusakan jangka panjang bagi anak-anak kita. 
 Guru-guru di Chicago, didukung oleh orang tua menuntut beberapa hal yang dianggap esensial untuk keberlangsungan pendidikan yang berkualitas bagi siswa diantaranya  bisa dilihat dari hasil wawancara di acara 'Democracy Now' :


We're striking for a lot of reasons. If you just see what's in the mainstream media all they talk about is that teachers want more money. But that's really far from the truth. We're fighting for reasonable class sizes, we're fighting for wrap around services for our students. I teach in a school with a thousand students, we don't even have one social worker in that building for most of those kids. So we're fighting for the education our students deserve in Chicago. We're fighting aginst reforms that we see from the classroom level are not going to work. (Phil Cantor, Guru North Grand High School)
Kami melakukan  boikot karena berbagai alasan. Kalau anda melihat media mainstream, mereka sibuk membicarakan bahwa guru ingin memperoleh lebih banyak uang. Sebenarnya itu jauh dari kenyataan. Kita berjuang untuk ukuran kelas yang memadai, kita memperjuangkan pelayanan untuk siswa. Saya mengajar di sebuah sekolah dengan ribuan siswa dan di sana kita bahkan tidak punya satu orang pekerja sosial pun untuk [mendukung wellbeing] siswa. Jadi kita memperhuangkan pendidikan yang layak untuk siswa kita di Chicago. Kita melawan reformasi yang kalau diterapkan di kelas, tidak akan berjalan.  (Phil Cantor, Guru North Grand High School)
 Kejadian di Chicago mengingatkan saya akan obrolan saya dengan beberapa orang guru. Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan guru yang menganggap seorang guru tidak patut berdemonstrasi ataupun melakukan boikot. Kalaupun guru mau menyampaikan aspirasi, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara lain misalnya menulis ke media. Meskipun saya setuju bahwa ada banyak cara untuk menyampaikan aspirasi, salah satunya adalah dengan menulis, saya juga paham bahwa cara seperti itu tidak selalu cukup. Seringkali para pembuat kebijakan tidak mau mendengar. Berbagai cara lain harus dilakukan agar suara guru bisa terdengar. Dalam beberapa kasus tertentu melakukan boikot atau demonstrasi adalah cara yang perlu ditempuh. Meskipun begitu, menurut saya ketika guru memilih untuk melakukan boikot/demonstrasi sebaiknya guru benar-benar memahami isu yang disuarakan, bukan sekadar ikut-ikutan. Seorang guru yang ikut boikot di Chicago, misalnya menuliskan alasannya di blog. Ketika guru sudah bisa melakukan ini artinya dia punya sebuah alasan kuat, setidaknya bagi dirinya sendiri mengenai mengapa dia ikut melakukan boikot/demonstrasi. 

Diane Ravitch, Reasearch Professor Bidang Pendidikan dari New York University menanggapi aksi boikot yang dilakukan guru-guru di Chicago. Dia percaya bahwa dalam konteks di sana, boikot perlu dilakukan. Dalam blognya dia menulis :


I’m hoping that something good comes of the strike – not just for teachers and kids but in our national conversation about education (or lack thereof). We need people, lots of them, to start talking about, voting for, and demanding that, as a nation, we commit ourselves (in word and deed) to a system of free, just, and forward minded public education – not testing, privatization schemes, or crazy accountability schemes that take the focus off of what really matters. We need real education – context specific, developmentally appropriate, child focused, forward thinking teaching and learning in every corner of this country that is full of professional educators, rich curriculum, and even richer experiences, community engagement, and family participation. If anyone thinks this strike is just another union “ploy” for higher pay or less “working time” they are sorely mistaken. And while workers should be entitled to protect their rights, the CPS strike is about the heart and soul of public schooling, the deprofessionalization of teachers, and the ways that the education “crisis” nation wide has been co-opted as a means of pushing privatization as the be-all-and-end-all solution to the “achievement gap”. Schools are not businesses, children are not widgets, and teachers are not robots or machines. Let’s start there. (Diane Ravitch) 
 Saya berharap bahwa boikot ini membawa kebaikan - bukan hanya untuk guru atau siswa tetapi membuka dialog nasional mengenai pendidikan (yang sangat kurang). Kita butuh banyak sekali orang untuk mulai membicarakan, memilih, dan menuntut bahwa, kita berkomitment (baik dalam kata-kata maupun perbuatan) untuk mendukung sistem yang adil dan pendidikan publik yang visioner dan terjadi pembelajaran di setiap sudut negara ini dengan dukungan pendidik yang profesional, kurikulum yang kaya, termasuk juga pengalaman yang kaya, keterlibatan komunitas, dan keluarga dalam pendidikan. Kalau ada yang mengira boikot ini hanya tuntutan organisasi guru untuk bayaran yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih pendek, hal tersebut salah besar. Meskipun pekerja perlu didukung haknya, boikot CPS adalah tentang inti dan jiwa dari sekolah publik, [penentangan terhadap] deprofesionalisasi guru, dan bagaimana krisis pendidikan terjadi secara nasional, dimanfaatkan untuk kepentingan privatisasi seakan-akan itu bisa menyelesaikan masalah kesenjangan pencapaian (achievement gap). Sekolah bukanlah bisnis, anak-anak bukanlah semacam gadget,  dan guru bukanlah robot atau mesin. (Diane Ravitch)

Dalam banyak hal, saya sependapat dengan pandangan Diane Ravitch di atas. Saya percaya bahwa dalam konteks tertentu aksi seperti boikot atau demonstrasi penting untuk memperjuangkan hal-hal yang esensial dalam pendidikan, setidaknya memancing semakin banyak orang untuk membicarakan dan mendorong perbaikan pendidikan. Tidak ada salahnya guru melakukan boikot/demonstrasi khususnya kalau aksi tersebut didasari oleh rasa cinta seorang guru terhadap pendidikan, pembelajaran, dan siswanya.  

Sep 4, 2012

[Klub Baca IGI ] Membaca Belajar Heran di Negeri Jiran (1) : Cerita tentang Sebuah Perjalanan Menjadi Dosen di UTM



[Klub Baca IGI ] Membaca Belajar Heran di Negeri Jiran (1) : Cerita tentang Sebuah Perjalanan  Menjadi Dosen di UTM
Oleh : Dhitta Puti Sarasvati

Saya mengenal Pak Bambang Sumintono ketika dia sudah menjadi dosen di Universitas Teknologi Malaysia (UTM).  Kami satu mailing-list (milist)  Center for Betterment of Education (CFBE). Tulisannya banyak beredar di milist tersebut. Sesekali saya membaca di blog-nya http://deceng2.wordpress.com .   Tidak semua tulisan Pak Bambang pernah saya baca. Hanya sebagian saja. Ternyata tulisan-tulisannya di blog sudah sangat banyak dan ini kemudian diterbitkan dalam buku “Belajar Heran dari Negeri Jiran” terbitan Metagraf, 2012.

Sebelum saya membaca buku karya Pak Bambang saya punya asumsi sendiri tentang Pak Bambang. Pak Bambang adalah dosen UTM yang pintar, sudah S3, mantan direktur program-nya Klub Guru Indonesia (KGI – sebelum menjadi IGI), peneliti mengenai RSBI, bahasa Inggrisnya bagus, dan aktif menulis di beberbagai jurnal ilmiah. Pokoknya, kerenlah!  Yang jelas, saya mengenal Pak Bambang di posisinya yang sudah sebagai dosen di UTM. Saya tidak tahu bahwa perjalanannya untuk sampai ke posisinya sekarang cukup panjang dan berliku.

Membaca buku “Belajar Heran di Negeri Jiran” saya belajar lebih banyak mengenai proses yang dilaluinya sampai menjadi Pak Bambang yang saya kenal hari ini.

***
Pak Bambang dulu adalah seorang guru kimia SMA di Kabupaten Lombok Timur. Sebelumnya Pak Bambang tidak pernah membayangkan bisa melanjutkan S2 ke perguruan tinggi di luar negeri.  Pak Bambang merupakan lulusan D3 kependidikan kimia dari IPB. Menurutnya, prestasi selama kuliah D3 dulu alakadarnya. Padahal untuk bisa memperoleh beasiswa, harus lulus S1 dengan prestasi yang baik.  

Perjuangan pun di mulai. Pak Bambang mengambil kuliah S1 di Universitas Terbuka (UT) di UPBJJ Mataram. Agar mudah mendapatkan beasiswa, Pak Bambang selalu berusaha memperoleh nilai A. Kalau mendapatkan nilai di bawah A, Pak Bambang tidak segan-segan untuk mengulang lagi. Kuliah di UT diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun.

Kemampuan bahasa Inggris pun ditingkatkan. Cara yang dipilih Pak Bambang  cukup unik dan hanya bisa dilakukan dengan ketekunan. Setiap hari Pak Bambang melakukan penerjemahan secara manual, kata per kata dari teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia secara rutin. Di samping itu Pak Bambang juga banyak membaca.  Meskipun tidak mengikuti kursus bahasa Inggris, cara ini cukup ampuh. Setidaknya nilai TOEFL yang diperoleh Pak Bambang cukup tinggi dan bisa digunakan untuk masuk Universitas Adelaide, Australia.  

Sekembalinya dari Australia, Pak Bambang kembali mengajar di SMU tempat dia bekerja sebelumnya. Pak Bambang pun kemudian mendapatkan kesempatan untuk seleksi S3 di New Zealand tetapi ternyata baik kepala sekolah maupun kepala dinas pendidikan tidak memberikan izin. Menurut mereka izin tidak diberikan karena itu merupakan keputusan sekretaris daerah. Pak Bambang sudah pernah memperoleh izin studi ke luar negeri jadi dia tidak memperoleh izin lagi untuk seleksi beasiswa. Alasan tersebut tidak masuk akal padahal beasiswa yang Pak Bambang dapatkan tidak dibiayai negara.

Seorang teman menyarankan Pak Bambang untuk meminta izin atasan kepala dinas, yakni bupati. Selama dua hari Pak Bambang  mendatangi rumah-rumah bupati (rumahnya lebih dari satu). Kesempatan bertemu bupati pun datang. Singkat cerita, izin untuk mengikuti seleksi S3 pun didapatkan.

Setelah lulus S3 di New Zealand, Pak Bambang berniat melamar menjadi dosen. Dia mencoba melamar di berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia tetapi belum mendapat kepastian. Salah seorang petugas administrasi di sebuah PT swasta malah pernah mengatakan, “Kami mencari lulusan S3 dalam negeri.” 

Salah seorang teman Pak Bambang menawarkan Pak Bambang untuk melamar di PT di Malaysia. Pak Bambang mengirimkan email ke beberapa universitas di Malaysia dan ditanggapi dengan cepat. Tiga universitas di Malaysia meminta Pak Bambang  melengkapi administrasi untuk menjadi dosen. Pak Bambang  akhirnya memilih untuk mengajar di UTM.

Membaca perjalanan Pak Bambang dari menjadi guru Kimia SMU sampai menjadi dosen di UTM membantu saya memahami banyak hal. Bukan hanya tentang ketekunan Pak Bambang dalam belajar, saya juga banyak belajar tentang tips-tips untuk bisa melanjutkan studi, serta bagaimana menjalankan studi. Melalui narasi yang ringan,  saya belajar banyak tentang konteks pendidikan Indonesia, termasuk mengenai ribetnya birokrasi yang ada. Masih banyak hal menarik lainnya yang saya peroleh dari buku “Beljar Heran di Negeri Jiran”. Tunggu tulisan saya selanjutnya yah

Sep 3, 2012

Lili Vs Lala (Oppie Andaresta)


Lili Vs Lala (Oppie Andaresta)
Lili habiskan waktu setiap hari
Untuk membentuk tubuhnya
Lala habiskan waktu yang dia punya
Untuk memperkaya jiwanya
Lili sibuk permak wajah sana sini
Menganggap diri seperti barbie
Lala sibuk mengolah kegelisahannya
Bersyukur dengan yang dia punya
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii
Lili pantang untuk menginjak tanah
Jadi hitam kotor dan berkeringat
Lala terbang bebas kemana dia suka
Berteman dengan dunia
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii
Lili letih karena selalu jaga wibawa
Terperangkap kredibilitasnya
Lala membuka luas-luas hatinya
Menyapa semua manusia
Lili jadi gamang dan tak terkendali
Sibuk hati tak tahu yang dicari
Lala selalu wajar dan jadi membumi
Temukan rumah jiwanya
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii

Gratitude

Dulu, beberapa orang seringkali mengatakan kepada saya bahwa di dunia kerja orang sering sikut-sikutan, saling menjatuhkan, dan sebagainya. Mungkin saya beruntung, tapi kondisi seperti itu jarang sekali saya temui. Pernah sih perlu beririsan dengan orang-orang yang sibuk mementingkan kepentingan pribadi dan suka menjatuhkan orang lain.  Tapi hanya sesekali.

Sesungguhnya justru saya lebih banyak bekerja dengan orang yang bekerja dengan sepenuh hati untuk orang banyak. Saya banyak bekerja dengan para pendidik, juga beberapa aktivis sosial. Di lingkungan saya, orang sibuk membicarakan bagaimana caranya mendukung satu sama lain, bagaimana bisa berbagi, bagaimana bisa menyuport satu sama lain. Semuanya memperkaya batin.

Salah satu kenikmatan bekerja di lingkungan pendidik (bukan hanya guru), adalah untuk bahwa bagi seorang pendidik, being true to yourself is very important. Bagi seorang pendidik yang penting bukanlah label tapi apa yang benar-benar esensial. Saat kita menjadi pendidik kita tidak bisa menjadi orang lain, we have to truly be ourselves. Saya senang, saya bisa bekerja di lingkungan yang tidak sibuk dengan kepalsuan, di lingkungan di mana saya sepenuhnya bisa menjadi diri saya sendiri, tidak menjadi orang lain. Dan yang lebih menyenangkan lingkungan saya menghargai hal tersebut. So I think I have to be very grateful. Thank you! 

Sep 2, 2012

Bertemu Sensei Okihara

Rabu lalu, 29 Agustus 2012, saya dan Mbak Danti mendapatkan kesempatan untuk bertemu seorang guru, peneliti, profesor, pelatih guru, dari Jepang. Namanya Sensei Katsuaki Okihara dari Kyoto Notre Dame University.

"Basically, I'm an education person. I quite of do everything", kata Sensei Okihara. Sensei Okihara mengajar sejak tahun 1981. Banyak sekali yang sudah pernah (dan masih dikerjakannya). Setelah menyelesaikan trainingnya di bidang English Language Teaching, dia  mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Jepang. Dia pernah mengajar  siswa berbagai usia. Dia juga pernah menjadi penasihat Kementerian Pendidikan Jepang, khususnya mengenai kebijakan pendidikan bahasa Inggris di Jepang. Kini dia masih mengajar (kalau tidak salah di sekolah menengah atas), perguruan tinggi, dan juga menjadi pelatih guru. Selain itu Sensei Okihara terus meneliti.

"Guru juga harus meneliti," katanya, "Itu salah satu kewajiban guru di Jepang. Sebenarnya  dengan melakukan penelitian ini, saya tidak akan mengalami peningkatan dalam karir (tidak akan naik pangkat). Saya sudah profesor. Tingkat karir saya sudah paling tinggi di bidang saya. Tapi saya meneliti untuk mengusir kebosanan. Cara mengusir kebosanan adalah dengan terus belajar hal baru. If we don't learn we die. That's life!" katanya

Sensei Okihara datang ke Indonesia karena ingin meneliti mengenai pendidikan bilingual di Indonesia, khususnya mengenai Content and Language Integrated Learning (CLIL). CLIL adalah pembelajaran bahasa Inggris melalui pelajaran sains dan matematika. "Awalnya CLIL dibuat karena seringkali pembelajaran bahasa Inggris hanya satu jam atau dua jam dalam seminggu. Jadi salah satu cara untuk saran untuk meningkatkan exposure siswa terhadap bahasa Inggris adalah dengan mengajar bidang lain dalam bahasa Inggris misalnya matematika dan sains. Saya tertarik mengetahui bagaimana pengaruh CLIL terhadap identitas nasional (national identity), khususnya di negara-negara Asia. Malaysia, misalnya sudah mulai meninggalkannya."

Sensei Okihara menambahkan, "Sebagai seorang guru bahasa Inggris saya selalu mempertanyakan kembali, apakah yang saya ajarkan memang penting? What is the role of teaching English in non- English speaking countries? Melalui penelitian saya senantiasa berusaha mencari kembali jawaban."

Saya kemudian berbincang-bincang dengan dia mengenai banyak hal. Saya katakan bahwa pada dasarnya saya lebih senang apabila pembelajaran sains dan matematika di sekolah (khususnya di sekolah negeri) menggunakan bahasa Indonesia. Saya bercerita mengenai tren sekolah bilingual di Indonesia, mengenai bagaimana Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) berkembang dengan sangat cepat meski tanpa persiapan yang matang, termasuk  mengenai perjuangan teman-teman di Mahkamah Konstitusi.

"Saya pernah mengajar privat siswa SMP yang berasal dari SD yang sangat bagus. Ketika dia masuk SMP, masuk ke sekolah RSBI. Setiap hari dia sibuk menghafal definisi-definisi sains dan matematika dalam bahasa Inggris. Misalnya, 'accute angle artinya sudut lancip' tanpa benar-benar belajar matematikanya.  Bahkan saat pelajaran sains dia sibuk menghafal 'capilarity is the up and down of water in an object' padahal definisi kapilaritas bukan seperti itu. Bahkan yang mengagetkan adalah guru di sekolah menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan materi-materi berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Padahal kualitas terjemahan Google Translate biasanya secara konteks tidak selalu tepat. Akibatnya, pembelajaran bahasa Inggris juga tidak dapat, begitu juga dengan sains dan matematikanya. Apalagi ketika gurunya tidak memiliki kompetensi untuk mengajar dalam bahasa Inggris?"

"Kompetensi terhadap konten atau kompetensi untuk mengajarkan bidang tersebut dalam bahasa Inggris?" tanya Sensei Okihara.

Saya mengatakan bisa keduanya. Ada yang memang pemahamanan kontennya lemah,  ada yang baik tetapi kesulitan ketika harus mengajarnya dalam bahasa Inggris, ada juga yang lemah di konten maupun bahasa Inggrisnya. "Di Jepang sendiri trennya bagaimana?" tanya saya pada Sensei Okihara.

Menurut Sensei Okihara di sekolah publik Jepang pengajaran matematika dan sains masih dalam bahasa Jepang. Memang ada sekolah tertentu yang orang tuanya merasa perlu menyekolahkan anaknya di sekolah bilingual karena menganggap bahasa Inggris memang lebih modern. Tetapi di sisi lain timbul masalah mengenai identitas kebangsaan.

Saya katakan pada Sensei Okihara bahwa saya baru membaca ulang mengenai founding fathers Indonesia, Bung Karno, di buku Angle of Vision (Andi Achdian, 2012). Para founding fathers fasih berbicara bahasa Indonesia (juga bahasa daerah), bahasa Inggris, Belanda, dan mungkin juga bahasa Prancis. Namun, ketika mereka menggunakan bahasa asing, mereka hanya menggunakannya sebagai alat komunikasi,  membantu belajar (membaca buku), tanpa merasa inferior atau minder sebagai bangsa Indonesia. Mereka punya percaya diri yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Permasalahannya adalah ketika penggunaan bahasa asing ini diawali dari rasa minder bahwa kita tidak lebih baik dari bangsa lain. Untuk kondisi saat ini, kita tentunya perlu bertanya kembali, apakah motif pengajaran sains dan matematika di sekolah dalam bahasa Inggris?

Sekitar dua jam telah berlalu dan kami pun harus menutup pembicaraan. "I'm glad that we share a lot of thing in common, including our concerns about education in general and English Language teaching. It gave me a lot of insights," kata Sensei Okihara sambil menyalami saya dengan erat.

"I'm planing to come back to Indonesia next year and hope that we can meet again."

Saya sendiri pamit pulang. Senang rasanya memiliki kesempatan bertukar pikiran dengan  pendidik yang berasal dari budaya yang berbeda. As I always believed in, learning happens through interaction. 

Aug 26, 2012

What Is Education? (Part 1)

The process of understanding ourselves and the world around us
The process of realizing that there is more than what we can see with our eyes
The process of learning to explore the diversity of human beings
The process of trying respect others, respecting who they are and what they believe in
The process of living in harmony with nature, realizing that greed must be ended

Aug 23, 2012

Garbage Warrior [Full Length Documentary]



From watching this movie, I learned a lot about how people have to strugle whenever they want to make a change. First, they have ideas. Some of it works, some of it does not. When it does not, others start questioning. They doubt the idea. They asked the 'people' to go back to 'how it used to be' by following the old rules. The people keep on inovating. What's os wrong of experimenting new ideas to make a better world. Then they start to use forces. Then, people feel lost, frustated. Is there any hope? Keep on thinking, until the right time comes. You try your ideas again. It works. Then you start to have hope again.

Libur Mengajar

Apa rasanya tidak mengajar sebulan? Sepi. Saya sedang libur semester. Baru akan masuk lagi tengah September. Pekerjaan sebenarnya lumayan banyak dan menumpuk tapi saya tidak sedang mengajar. Tidak mengajar apapun. Tidak mengajar di mentari (lagi libur), tidak mengajar privat (sudah tidak lagi), dan tidak mengajar di kelas (libur juga). Rasanya sepi banget. Seperti separuh energiku ketarik. Hilang. Benar-benar kangen berbagi ilmu & bertemu murid, siswa, mahasiswa, anak-anak, rekan belajar, apapun dipanggilnya. Sebenarnya sih, semenjak ada teknologi, saya tetap bisa berkomunikasi dengan murid saya, menyebarkan gagasan, dan berbagi ilmu. Tapi rasanya berbeda. Saya juga ingin bertatap muka.

Saat Idul Fitri, saya sempat ikut adik ipar saya ke rumah seorang guru besar UI, rumah dosennya. Haro itu ada kegiatan open house. "Setiap tahun kita pasti ke sini," katanya. Di rumah guru besarnya tersedia berbagai makanan yang ditata dengan sederhana. Ada banyak sekali mahasiswanya datang, semua dariberbagai angkatan. Sambil makan, ada yang ngobrol santai, ada juga yang  sambil konsultasi tugas. Tidak lupa foto-foto. Yang jelas semuanya akrab, bahagia. Berada di sana langsung membuat saya kangen murid-murid saya.

"Sebenarnya guru besar saya itu tegas banget," kata adik ipar saya, "Tapi di sisi lain dia juga perhatian banget. Ada mahasiswa yang pernah hilang, hampir tidak mau kuliah lagi, dia meminta semua mahasiswa yang lain untuk mencarinya. Dia juga sangat berdedikasi. "

"Keren," kata saya.

Aug 21, 2012

Your Love My Love

Salah satu kebahagiaan terbesar saya ketika saya mengajar adalah melihat hubungan persahabatan & kebersamaan antara murid-murid saya. Menurut saya, persahabatan yang berdasarkan rasa saling menyayangi & ketulusan adalah salah satu modal terbesar dalam hidup. Because we can never be successful if we are alone. We need support from many people around us

Saya selalu percaya bahwa kesuksesan bukanlah kerja seorang individu saja. Memang sih untuk bisa sukses kita butuh kerja keras, usaha. Ini memang harus dilakukan sendiri. But that is not enough. Our individual success happens because of the collective work of people who care about us. People who pray for us, who give us advice, who cheer us up when we are down, who pray for us, and love us!

Ada sesuatu yang besar yang terjadi dalam hidup saya beberapa hari ini. Sebuah sukses sederhana. Tentu saja saya ingin segera menyampaikan kabar tersebut ke orang-orang yang saya sayangi, sahabat saya, salah satunya  Mbak Anug yang sekarang sedang menetap di New Zealand (Oh I miss her so much). Saya memilih untuk menulis pesan melalui message facebook. Balasannya membuat saya terharu, "Baru juga diodoain kemaren dah terkabul."

Wah senangnya sahabat saya yang satu itu mendoakan (tanpa diminta), meskipun dia ada di negeri di seberang benua.  Mbak Anug, hanya salah satu orang yang sangat berperan dalam kesuksesan saya ini. Tapi bukan hanya Mbak Anug, ada begitu banyak orang, termasuk di antaranya kedua adik saya (dan adik ipar saya), Emak, Lely, Clefy, Ria, Imoth, Ijal, Arfah, Tante Tila, Om Yoyok, Bu Dewi, Bu Nina, Adenita dan masih banyak lagi yang mungkin tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Yang jelas saya bahagia. Bukan hanya karena sebagian yang saya inginkan tercapai tetapi lebih karena saya tahu saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa menyayangi saya. It's a blessing. 

Untuk murid-murid saya, setelah mereka lulus sekolah, saya tidak hanya berharap mereka memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Tetapi juga kebijaksanaan yang didapatkan dari interaksi antar manusia yang tulus &penuh kasih sayang.

Lagu Nana Mouskouri yang satu ini tampaknya cocok menggambarkan pandangan saya tentang itu. Bagi saya pribadi lagu ini bukan hanya mengenai kasih sayang antara sepasang kekasih tetapi lebih pada kasih sayang secara umum. Meskipun banyak hal berat terjadi, dengan adanya kasih sayang antara sesama manusia sulit rasanya untuk menyerah. 


"Nation fights with nation

Everyday somewhere

But through every situation

We will not dispair

For we know that our salvation

Is the gift we share
Your love, my love"


Aug 19, 2012

Say : "Whatever you hide what is in your hearts or reveal it, Allah knows it all. He knows what is in the heavens, and what is on earth. And Allah has powers over all things" 
(Ali-Imron : 29)

Buterflies in my tummy
It was such an exhausting day
But Alhamdulillah for this holly month

My father said yes
And  I hope the rest will be fine
- BismillahiRrahmanirRahiim -





Aug 15, 2012


The Chaotic Uji Kompetensi Guru : Measuring Teachers Competence?
By : Dhitta Puti Sarasvati
While teachers should actually be  evaluated more holistically, either by self-assessment, students’ feedback, and/or observations by peers, head teachers,  and supervisors, teachers in Indonesia are evaluated by a multiple-choice test, called Uji Kompetensi Guru (UKG).
UKG is a test to evaluate teachers’ cognitive pedagogical and professional competence. The test is an online test, where teachers must answer multiple choice questions that are assumed to assess their knowledge on the content they are teaching and also on pedagogy.
The UKG was held on the 30th – 31st  July 2012. Before the UKG was held, teachers were panicking. A lot of teachers had never used the internet before. How were they supposed to take the test? They had no idea. Additionally, they had to memorize various facts related to content they are teaching and pedagogy. This is done by rote learning, not by using higher order thinking skills like analyzing, comparing, synthesising, or creating.
Books for practicing for the UKG questions are sold in bookstores.  Although the quality of the book is questionable, teachers were still eager to purchase it. What kind of questions are in the book? Here  is an example of a question in the pedagogy section:  
“What is Indonesia’s long term development plan for 2005 – 2009 based on the ‘Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera’ document” (Susilo Bambang Yudhoyono and M. Jusuf Kalla, 2004). 

What does this question has to do with pedagogy? Questions like “What do you think should be considered before designing a lesson? Please write down your argument!” is better to assess teacher’s pedagogical knowledge.
Teachers study hard to prepare for the test without questioning its relevance for teaching. On their Facebook statuses, teachers retype the materials that they are learning. For example, a status on a teacher’s Facebook wall was a question that is predicted to come up on the test. The question was: “Students in elementary school are usually like to be in groups. This shows a characteristic of child development as related to: (a) intellect (b) emotions (c) social aptitude (d) moral aptitude.”  Can a question like this assess teachers' ability in grouping students? What is it really assessing?
Picture 1 Buku Pintar Uji Kompetensi Guru : A book for preparing for the UKG

According to Reolf & Sanders (2007), pedagogic competence is the ability to create a psychologically-safe learning environment for students, contributing to their wellbeing. Although it’s questionable if UKG can really measure teachers’ competence in pedagogy, many teachers still faithfully join the test. It is true a few teachers boycotted the test (Kompas.Com, 31/07/2012), but more chose to take it, and believed it useful for them in improving their capacity as teachers. Around 1,020,000 teachers from all over Indonesia joined the test.
On the day of the test? It was a mess. The test was supposed to start at 7.00 AM. The fact was, they could not even log in to the server. To fill time, many teachers, especially the members of Ikatan Guru Indonesia’s (IGI) Facebook group page were busy updating their Facebook status. From their mobile phones, they accessed Facebook and became busy reporting the situation of UKG in their area. Many reports came in such as “the server is down”, “I’ve waited for so long and still can not login”, “teachers at my place decided to go home”, etc. About every two seconds there are new statuses  on IGI’s Facebook page. Reports came from various areas from Pekan Baru, Indramayu, Bekasi, Bogor, Situbondo, Garut, and other places (http://www.facebook.com/groups/igipusat/, 30/07/2012). All said that they could not take the test because of technical problems.
In some areas, like in Pinrang and Manokowari, UKG was canceled (Kompas.Com, 31/07/2012). In other areas, like in Jember, UKG was still held but four and a half hours late. The test started at at 11.30 am (when it supposed to start at 7.00) . It is incredible how patient the teachers were.
Problems also occured on the second day of the test. In a school in West Lombok, the electricity went down eight minutes before the test ended (Kompas.Com, 31/07/2012).
Besides technical problems like the internet connection, the quality of the UKG questions were low. According to teachers who took the tests, the questions in the UKG had plenty of errors.  Many questions did not have answers. For example, a question about mathematics was:
“Bu Emi bought three types of cakes, each of them weighed 3/5 kg. 4/9 kg was given to Eri. How much  cake  was left  and brought home? (a) Mei 45 (b) Des 45 (c) 21/45 (d) Nop 45.”
The UKG was total chaos. This is not surprising, as Permendikbud No. 57 Tahun 2012, Decree of the Minister for Education and Culture, the legal document which was the basis for holding the UKG, just came out on 26 July 2012, only four days before the UKG was held.
It can be clearly seen that the UKG was not well designed. Despite all the proof that the UKG was held, by the government, with lack of preparation, Prof. Dr. Ir Muhammad Nuh, Indonesia’s Minister of Education, did not admit that the problem happened because of this. In fact, his words were, “This did not happen because we were in a rush or because of lack of preparation.”  Furthermore, he blamed the ICT operator. He said, “The ICT operator failed to install and set up the program, although we have trained them.”  What a crazy excuse! 

Aug 14, 2012

[HD] A Little Fall of Rain - Les Miserables 25th Anniversary



MARIUS
Good God, what are you doing?
'Ponine, have you no fear?
Have you seen my beloved?
Why have you come back here?

EPONINE
Took the letter like you said
I met her father at the door
He said he would give it
I don't think I can stand anymore

MARIUS
Eponine, what's wrong?
There's something wet upon your hair
Eponine, you're hurt
You need some help
Oh, God, it's everywhere!

EPONINE
Don't you fret, M'sieur Marius
I don't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt me now
You're here, that's all I need to know
And you will keep me safe
And you will keep me close
And rain will make the flowers grow.

MARIUS
But you will live, 'Ponine - dear God above,
If I could heal your wounds with words of love.

EPONINE
Just hold me now, and let it be.
Shelter me, comfort me

MARIUS
You would live a hundred years
If I could show you how
I won't desert you now...

EPONINE
The rain can't hurt me now
This rain will wash away what's past
And you will keep me safe
And you will keep me close
I'll sleep in your embrace at last.

The rain that brings you here
Is Heaven-blessed!
The skies begin to clear
And I'm at rest
A breath away from where you are
I've come home from so far
So don't you fret, M'sieur Marius

I don't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt me now

That's all I need to know
And you will keep me safe
And you will keep me close

MARIUS
Hush-a-bye, dear Eponine,
You won't feel any pain
A little fall of rain
Can hardly hurt you now
I'm here

I will stay with you
Till you are sleeping

EPONINE 
And rain...

MARIUS 
And rain... 

EPONINE
Will make the flowers...

MARIUS 
Will make the flowers... grow... 


Aug 12, 2012

Cerita di Kuala Kapuas

Sekarang saya sedang berada di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Saya berada di sini karena ikut membantu Ibu Aulia Wijiasih menyelenggarakan suatu pelatihan guru mengenai KTSP & ESD. Saya juga bersama dengan Kak Dona, kakak kelas saya dulu yang sekarang menjadi pelatih & peneliti di CREDO. Sama seperti saya, dia ikut menjadi semacam 'asisten' dari Ibu Aulia.

Pesawat saya dari Jakarta terbang menuju Palangkaraya. Di perjalanan Kak Dona banyak mengajarkan saya mengenai ciri-ciri lahan bukaan, "Nah kalau lahan bukaan pohonnya lebih bervariasi dan biasanya banyak lumut, benalu, di pohonnya karena dulu lembab," katanya.

Kami naik mobil menuju  Kuala Kapuas. Di perjalanan kami melewati banyak lahan gambut. Saya, anak kota yang norak, senang sekali melihat lahan gambut.

"Kalau kita masuk ke dalam isinya air yah?" tanya saya seperti anak yang kegirangan. "Coba saja masuk!" kata Bu Aulia bercanda. Kak Dona bercerita bahwa gambut menyimpan air, kalau kehilangan lahan gambut kita akan kehilangan sumber air.

Perjalanan ke Kuala Kapuas sekitar 3 jam. Kami langsung menuju penginapan di Kota Air. Saya kegirangan lagi, penginapan kami terdapat persis di sebelah sungai Kapuas. Saya sendiri punya keterikatan sendiri terhadap sungai. Ketika saya kecil, almarhum ibu saya setiap hari membawa saya ke pinggir sungai untuk berjalan-jalan. Jadi, menginap di pinggir sungai memberikan saya kebahagiaan sendiri karenaa mengingatkan saya akan masa kecil saya.

Foto : Trimadona B. Wiratrisna


Ternyata di depan penginapan ada semacam spanduk bertuliskan "START". Bu Aulia bertanya pada seorang bapak-bapak di pinggir jalan, "Mau ada apa di sini?"

Ternyata, dalam rangka merayakan bulan suci ramadhan, setelah shalat tarawih diadakan semacam parade. Karena parade di mulai setelah pukul 9 malam. Karena masih jam 7 malam, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan malam terlebih dahulu.

Di pinggir sungai terdapat banyak warung tempat makan. Kami memilih untuk memakan sate ayam dan soto banjar. Sate ayamnya berbeda dengan sate ayam di jakarta. Bagian luarnya kemerahan, karena diberi bumbu tertentu. Kami juga memesan teh. Tehnya ada rasa vanilanya. Tampaknya tehnya diberi perasa vanila.

Setelah makan malam, kami melakukan briefing untuk persiapan pelatihan. Tepat setelah selesai melakukan briefing, parade dimulai. Saya, Kak Dona, dan Bu Aulia berlarian keluar. Kami melihat  berbagai mobil-mobilan dan gerobak yang dihias dengan berbagai cara. Ada yang dihias dengan lampu berwarna-warni, ada yang dibentuk menyerupai mesjid, ada yang dibentuk menyerupai pesawat terbang. Gerobak-gerobak tersebut dibuat oleh  perwakilan remaja mesjid dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah. Sambil mendorong gerobak tersebut dan membawa obor, mereka berjalan keliling kota, mempertunjukkan kreasi mereka sambil berteriak "Sahur, sahur!" atau ada juga yang melantunkan ayat Al-Quran.

Saya ikut merasa bersemangat. Suasana jalan ramai. Masyarakat berdiri di pinggir jalan menonton parade. Senangnya bisa ikut melihat kegiatan tersebut di mana 'hiburan sederhana' tersebut bukan hanya miliki segelintir orang saja tetapi bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Saat pelatihan saya bertemu dengan para guru. Saya belajar bahwa penduduk di Kuala Kapuas beragam etnis dan agama. Ada yang merupakan orang Dayak, Bugis, Jawa, Bali dan Batak. Agamanya juga beragam dari Hindu Kaharingan, Hindu, Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Mereka hidup berdampingan. Meskipun sedang bulan Ramadhan, selama pelatihan tetap disediakan makan siang karena ada banyak juga peserta yang tidak berpuasa. Peserta yang tidak berpuasa makan sedangkan yang lain menjalankan ibadah shalat.

Setelah pelatihan, kami kembali ke penginapan. Kami duduk di teras yang menghadap sungai sambil minum teh. Di Kuala Kapuas buka puasa biasanya sekitar pukul setengah enam sore. Sambil minum teh dan makan kue (sisa pelatihan), kami melihat kapal-kapal lewat. "Itu kapal dagang, " kata Pak Yudi, supir yang mengantar kami ke mana-mana termasuk dari Palangkaraya ke Kuala Kapuas.

"Biasanya di sebelah sana, mereka dihambat oleh perompak. Ada juga kapal yang lebih besar mereka membawa lemari, meja, dan lain-lain. Biasanya kapal itu jalan, dihambat, jalan, dihambat lagi. Kapalnya lama sampai karena banyak berhentinya. "

Saya juga sempat berjalan-jalan menggunakan becak berkeliling kota. Malam itu saya dan Bu Aulia memutuskan untuk melakukan shalat terawih di mesjid. Kalau mengunjungi suatu daerah baru, saya ingin merasakan shalat di mesjid lokalnya dan merasakan suasananya. Bu Aulia mengajak saya untuk naik becak karena takut kami terlambat. Ternyata shalat terawih belum mulai. Karena itu kami memutuskan untuk berkeliling kota dengan becak. Kami melewati sebuah pasar yang menurut tukang becak, belum lama ini sempat terbakar. Pasarnya bersih. Di sana ada orang yang berjualan pakaian, makanan berupa kue kering, buah-buahan, dan berbagai hal lainnya. Ada juga tukang jahit, tukang pangkas rambut, dan sebagainya.  Setelah berkeliling kami menuju mesjid lagi. Shalat terawih akan segera dimulai.

Kuala Kapuas merupakan salah satu daerah yang berkesan di hati saya. Kotanya kecil, bersih, di pinggir sungai, serta menambah pengalaman saya dalam mengenal keragaman masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari saya bisa kembali ke sini lagi.

Aug 4, 2012