Jul 30, 2013

Buku Fiksi Tidak Penting?


Sebuah sekolah mempraktekkan kegiatan silent reading, di mana siswa diberi waktu untuk membaca selama 15 menit setiap hari. Kegiatan tersebut diliput koran. Kepada wartawan, dengan bangga pihak sekolah mengatakan bahwa setiap hari siswa diminta membaca buku pelajaran, bukan buku lainnya. Di tempat lainnya, seorang anak lagi senang-senangnya membaca Harry Potter. Walaupun tebal, tapi seru. Buku tersebut lahap dibahasnya. Orang tuanya tidak suka anaknya membaca Harry Potter. Ceritanya mengenai sihir dan tidak ada kaitannya sama pelajaran. Dia lebih senang anaknya membaca buku pengetahuan, non-fiksi. “Giliran baca Harry Potter tidak berhenti-berhenti, tapi pas baca buku pelajaran malas-malasan,” kata orang tua tersebut menyindir  anaknya. 

Ilustrasi di atas, bukanlah kisah nyata tapi terinspirasi dari fenomena-fenomena yang ada di sekitar. Beberapa kali saya temui orang tua (dan guru) yang lebih bangga ketika anak/siswanya membaca buku pelajaran ketimbang buku cerita. Lebih bangga ketika mereka membaca buku non-fiksi ketimbang fiksi. Padahal, membaca fiksi juga bisa memperluas wawasan, sangat penting dalam mengembangkan imajinasi, serta bisa memperhalus perasaan.

Saya jadi ingat, cerita dari Ibu Karlina Supeli, astronom perempuan pertama di Indonesia, kini dosen filsafat di STF Driyakara. Sekitar setahun lalu dia memberikan ceramah mengenai pendidikan sains di Kongres Guru Nasional yang diselenggarakan oleh ProVisi Education. Dalam ceramahnya dia berbicara mengenai pentingnya imajinasi dalam pelajaran sains. Menurutnya imajinasi sangat penting, khususnya bagi seorang ilmuwan.

Katanya, “Rumah memang dibangun dari tumpukkan batu, tapi tumpukan batu bata saja bukanlah rumah. Sains juga begitu, sains dibangun oleh fakta. Tapi fakta semata-mata tidak cukup untuk menjadi sains. Seorang ilmuwan bisa saja punya data, tetapi dibutuhkan teori untuk menjelaskan data-data tersebut. Untuk mengembangkan teori inilah diperlukan imajinasi.”

Karena merupakan pencerita yang ulung, Ibu Karlina paham bagaimana memikat hati para pendengarnya, sekitar 1000  guru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dia bercerita mengenai pentingnya peranan guru dalam menumbuhkan imajinasi anak.  Dia pun memaparkan  pengalaman pribadinya, bagaimana seorang guru matematikanya berperan dalam membantunya mengembangkan imajinasinya.

Ketika pelajaran matematika, biasanya Karlina (kecil) lebih dahulu selesai dalam mengerjakan tugas. Teman-temannya belum selesai, dia sudah. Namanya juga anak-anak, mulailah Karlina kecil menjadi bosan. Dia akan mencolek-colek teman di sebelahnya, mengajak ngobrol. Guru matematikanya memperhatikan tingkah laku Karlina kecil. Guru mana yang senang ada siswanya menganggu siswa lain yang sedang belajar? Guru matematika tersebut memanggil Karlina dan menyuruhnya ke perpustakaan. “Pilihlah beberapa buku, dan bawalah ke kelas untuk dibaca sambil menunggu teman-teman yang lain,” kata gurunya berharap Karlina tidak menganggu teman-temannya lagi, “bukunya juga bukan sembarang buku tapi buku sastra.”

Teknik gurunya berhasil. Setiap pelajaran Matematika Karlina jadi asyik sendiri. Dia bukan hanya belajar matematika tapi juga sastra. Itulah awal mula kecintaan terhadap sastra.  "Saya tidak tahu kenapa guru matematika saya dulu menyuruh saya membaca sastra, tapi saya sekarang bisa merasakan manfaatnya."

Bagi Ibu Karlina, kecintaannya pada matematika dan ilmu pengetahuan alam  sangat berkaitan dengan kecintaannya kepada sastra. Sastra membantunya mengasah kemampuan berimajinasi, mempertajam intuisi, serta banyak mengajarinya mencintai keindahan. Baginya sains juga begitu juga perlu ketiga unsur itu. Imajinasi, intuisi, dan kecintaan akan keindahan.

Bukan hanya individu-individu seperti Ibu Karlina yang menganggap buku fiksi penting. Ada banyak negara, khususnya negara-negara yang pendidikannya maju, yang menganggap bahwa anak-anak perlu didorong untuk membaca fiksi, bukan hanya buku non-fiksi. Mereka paham bahwa buku-buku fiksi sangat penting dalam membangun peradaban. Biasanya di sekolah ada beberapa bacaan-bacaan wajib (fiksi) yang harus dibaca oleh siswa. Selain dibaca, biasanya anak harus membuat laporan mengenai bukunya. Di kelas pun guru tidak lepas tangan. Ada kalanya bacaan tersebut dibahas di dalam diskusi di kelas.

Seorang teman saya yang dulu bersekolah di Singapura bercerita bahwa buku wajib di sekolahnya diantaranya adalah Buku Harry Potter (yang pertama) dan buku The Hobbit (Tolkien). “Karena kedua buku tersebut sangat seru, semua teman-teman sekelas saya keranjingan membaca serial lanjutannya. Yang wajib hanya buku pertamanya, tapi mereka membaca Harry Potter nomor 2, 3, dan seterusnya dan seluruh serial Lord of The Rings dengan senang hati. Padahal tidak diminta oleh guru.”

Kenapa sekolah tersebut memilihkan buku yang di Indonesia, mungkin digolongkan agak “nge-pop” dan kalau di Indonesia dianggap “menganggu pelajaran”? Mungkin karena guru tersebut tahu, siswa akan tertarik membacanya. Yang penting siswa merasakan nikmatnya membaca. Kalaupun gurunya nanti memilih bacaan lain, siswa sudah tahu bahwa gurunya akan memilihkan bacaan yang seru dan berbobot. Mereka akan tetap membaca dengan bersemangat. Kalau buku-buku fiksi bisa menanamkan kecintaan anak pada bacaan, menumbuhkan imajinasi, memperluas wawasan, membantu anak belajar mencintai keindahan, mempertajam intuisi, memperhalus perasaan, kenapa kita harus membatasi mereka untuk hanya membaca buku pelajaran (atau buku pengetahuan) saja?

Jul 28, 2013

ADA APA DI RUMAH MENTARI? - Kelas Bahasa Inggris 1, Minggu 28 Juli 2013

Hari ini kegiatan belajar Bahasa Inggris di Rumah Mentari sederhana saja.

Anak-anak membaca sebuah artikel mengenai atlet sprinter yang bernama Bolt yang berasal dari Jamaika. Artikel ini dari majalah Readers Digest Asia, dengan sedikit modifikasi. Berikut artikelnya:




BOLT! Fastest Man Ever?
It just took 9.69 seconds for Usain Bolt to become one of the most famous men on the planet. The Jamaican Sprinter seized Gold in the 100 m at the 2008 Beijing Olympics, destroying the world record and leaving the rivals to fight for second. A year later, he beat his own 100 m record – in 9.58 seconds. Usain
Bolt was born on August 21, 1986, in Trelawny, Jamaica – an area known for its sugar plantation. He grew up with his father Wellesley, his mum Jennifer, his half-sister Christine and half-brother Sadiki.
When he was in High School, his physical education teaching Dwight Barnett noticed that he can run very quickly. At 12, Bolt ran 52 seconds flat for the 400, on a grass track. Dwight Barnett urged Bolt to become a sprinter. At 15 he became the youngest ever male world junior championship, running 200 m at 20.61 seconds.
Although he was a champion, he actually hated training. As a result, I a combination of injuries and ill-discipline led to failure at the 2004 Athens Olympics. Disillusioned, he knew things had to change.
He turned to Glen Mills, a Jamaican coach, and told him he wanted to be the best. With Glen Mills as his coach, Bolt started training harder and kept himself out of nightclubs. All the work paid out in Beijing.
Now, Bolt lives with his best friend Sadiki in Kingston, Jamaica. He enjoys socializing and relaxing with his friends. He loves music, friends, chicken, and his family.
*Adopted from “Bolt!” by Alison Kervin in Readers Digest Asia August 2013 p. 92 - 96.

Secara bergantian anak-anak membaca kalimat-kalimat dalam artikel tersebut. Kami pun membahas arti dari kalimat-kalimat tersebut. Apa saja kosa kata baru yang ditemui setelah membaca artikel ini. Kata anak-anak, kosa kata baru yang mereka temui di antaranya :

seize = meraih 
destroy = menghancurkan = memecahkan
beat = mengalahkan
half-sister = kakak/adik tiri (perempuan)
half-brother = kakak/adik tiri (laki-laki)
 although = walaupun
ill-discipline = tidak disiplin
disillusioned = merasa kecewa
paid out = terbayar
coach = pelatih

Setelah membaca artikel tersebut, anak-anak diminta membayangkan seakan-akan mereka bertemu dengan Bolt. Mereka belum tahu Bolt itu siapa, tapi mereka mau memulai perbincangan dengannya, kira-kira bagaimana dialognya? Apa yang akan mereka tanyakan pertama kali? Data-data di dalam artikel bisa digunakan untuk dipakai dalam dialog. Anak-anak berdiskusi bersama-sama kadang saya bantu, dengan memberi beberapa petunjuk. Ini dialog yang dihasilkan:


Me   : Hi! What’s your name?
Bolt : I’m Bolt. Usain Bolt.
Me  : Where do you come from?
Bolt : I’m from Jamaica.
Me  : Wow! That is far from here.  What are you doing here in Indonesia? 
Bolt : I’m having a holiday.
Me : I hope you enjoy your stay here. So, you were born in Jamaica?
Bolt : Yes, I was born there, in 1986.
Me  : Oh, so you are now 27 years old! Me too! What do you do?
Bolt : I’m an athlete.  I’m a sprinter.
Me  : Wow! That’s cool! You are the first sprinter I have ever known.
Bolt : How about you? What do you do? 
Me  : I work in a cafĂ©, near here. Anyway, I am curious, how did you end up becoming a sprinter?
Bolt : That's a long story. One of my high school teacher, my physical education teacher, Dwight Barnett, realized that I run very quickly. He helped me joined the national championships in sprinting. I won and became a professional athlete since then.
Me : What an interesting story! As an athlete, you must have been training a lot!
Bolt : Yes. Now I train every day. However, at first I didn’t like training at all. After I lost in the Athens Olympics 2004, I realized that training is very important. Now, my coach, Glen Mills makes sure that I train every day. I’m glad to have him as my coach.
Me : Well, nice to meet you! Good luck with your future!
Bolt : You too!

Setelah itu, anak-anak diminta untuk mempelajari dialog. Mereka akan maju ke depan dengan mempraktikkan dialog tersebut. Ada yang pura-pura menjadi Bolt dan ada yang mengajak berkenalan. Dialog juga boleh dimodifikasi sehingga bisa menjadi dialog baru. Ini foto-foto kegiatan di mentari.


Anak-anak praktek berdialog. Ada yang pura-pura menjadi Bolt, ada yang mengajak berkenalan. 


Setelah ini, diharapkan anak-anak punya bayangan bahwa ketika berkenalan dengan seseorang, kita tidak harus melulu bertanya "What's your name?","How old are you?", "Where do you live?". Ketika mencoba mengenalkan diri kita juga bisa bercerita lebih daripada sekadar mengatakan, "My name is...", "I come from...""I live at...", "I am.... years old".  Ada banyak cara untuk berkenalan dengan seseorang. Bahkan menambahkan sedikit cerita sebagai "bumbu-bumbu" percakapan tidak ada salahnya.

Semua anak maju dengan percaya diri. Kadang mereka lupa beberapa kosa kata, tapi tidak apa-apa.

"Bagaimana perasaan kalian setelah mengikuti kelas ini?" tanya saya.
"Saya lebih percaya diri sepertinya. Kalau lebih sering berlatih seperti ini, mudah-mudahan nanti akan lebih lancar bahasa Inggrisnya," kata seorang anak.
"Yang lain bagaimana?"
"Senang belajar kosa kata baru?"
"Lebih berani bicara."
"Saya juga!"
"Senang saja."
"Oke, kalau begitu! I hope you enjoyed the lesson. See you next week!"

Kelas pun berakhir. Sampai bertemu di kelas Bahasa Inggris Rumah Mentari berikutnya!

Jul 25, 2013

Sekolah Montessori : Lebih Dari Sekadar Metode Belajar yang Menarik


Kalau mendengar kata “Montessori”, kita mungkin akan teringat akan Sekolah Montessori. Di Jakarta ada beberapa Sekolah Montessori, biasanya tergolong cukup mahal. Selain fasilitas belajar yang memadai, metode Montessori memang terkenal cukup unik. Berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya.

Di Sekolah Montessori, sebuah kelas terdiri dari siswa yang usianya berbeda (mixed-aged classroom). Kelas Montessori dibagi menjadi kelas untuk siswa usia 3–6 tahun, 6–9 tahun, dan 9–12 tahun (rentang usia siswa dalam sebuah kelas masing-masing 3 tahun). Tujuannya adalah agar siswa merasakan menjadi yang paling muda, ditengah, dan yang paling tua. Dengan begitu, setiap siswa memiliki pengalaman belajar bersama anak yang berbeda umur. Siswa yang tua ikut bertanggung jawab membimbing anak-anak yang lebih muda. Yang muda ikut belajar dari siswa yang lebih tua. Semua siswa akan punya pengalaman merasa pernah dipimpin dan juga merasa memimpin.

Di kelas Montessori, 80 % kegiatannya adalah belajar secara mandiri. Guru tidak mengajar di depan kelas seperti kelas lainnya. Biasanya di Sekolah Montessori, kelas terdiri dari meja-meja. Siswa duduk di meja-meja tersebut belajar sesuatu tapi setiap meja (atau bahkan setiap siswa) bisa mempunya kegiatan yang berbeda-beda. Di satu meja seorang anak sedang menyusun jigsaw, tapi di meja lain mungkin ada anak yang belajar membaca
(mirip seperti cerita Toto Chan : Gadis Cilik di Pinggir Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi). Guru berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, membimbing anak bila diperlukan. Meskipun ada sejumlah kegiatan belajar yang perlu dipelajari anak dalam sehari (misalnya membaca, berhitung, dan sebagainya),  anak pun bisa memilih mau belajar apa terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan satu kegiatan, anak bisa beralih mengerjakan kegiatan yang lain. Mau mengintip kelas Montessori? Bisa dilihat di sini :
http://www.youtube.com/watch?v=S0HlI7dmOzU

Montessori memungkinkan setiap anak belajar secara mandiri karena biasanya Sekolah Montessori dilengkapi dengan berbagai alat bantu belajar (manipulatives) yang dirancang secara saksama sehingga memungkinkan anak belajar secara mandiri melalui berbagai kegiatan hands-on. Berbagai jigsaw, balok, dan alat bantu belajar lainnya disediakan bagi siswa.

Sebagai seorang pengajar matematika, saya sering merasa alat bantu belajar Montessori keren-keren karena memungkinkan anak belajar berbagai konsep matematika secara mandiri.  Kadang saya terinspirasi untuk mengadopsi beberapa alat bantu belajar yang digunakan di Sekolah Montessori dan membuat alat bantu belajar sendiri.

Metode dan berbagai alat bantu belajar Montessori memang menarik. Namun, bagi saya yang paling menarik adalah kisah dibalik berdirinya Sekolah Montessori. Siapakah Maria Montessori? Apa yang membuatnya menemukan metode Montessori? Sekolah seperti apa yang dia dirikan? Untuk siapa sekolah tersebut didirikan?

Siapakah Maria Montessori?
Maria Montessori (1870 -1952) adalah seorang perempuan yang memiliki berbagai minat. Meskipun tidak disetujui ayahnya, pada usia 13 dia masuk sekolah kejuruan untuk belajar teknik. Setelah belajar teknik selama 7 tahun, minatnya mulai berubah. Montessori mulai tertarik pada ilmu kedokteran dan memilih untuk belajar psikiatri di University of Rome. Dia lulus dan menjadi perempuan pertama di Italia yang lulus dari sekolah kedokteran.

Pekerjaan pertama Montessori adalah mengurus anak-anak di sebuah rumah sakit jiwa (mental asylum). Di sana dia bertanggung jawab untuk mengurus kesehatan anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental. Dia mengukur berat dan tinggi badan anak-anak tersebut dan memastikan bahwa mereka tercukupi kebutuhan gizinya.

Suatu siang, Montessori memperhatikan bahwa anak-anak sedang memainkan roti, yang seharusnya menjadi santapan makan siang. Mereka memainkan roti dengan menggulung-gulungnya (seperti anak memainkan lilin mainan/play dough). Muncullah gagasan, apabila anak-anak memiliki sesuatu untuk dimainkan (dimanipulasi) maka mereka bisa mengembangkan keterampilan (berpikirnya).

Dia pun mulai mengembangkan berbagai alat bantu belajar yang memungkinkan anak belajar secara mandiri. Sampai sekarang alat bantu belajar yang dikembangkan Montessori masih sering digunakan di berbagai sekolah (meskipun ada yang dimodifikasi). Pengalamannya belajar teknik memudahkannya dalam mendesain dan membuat berbagai alat bantu belajar. Montessori mengujicobakan alat-alat bantu belajar yang dibuatkan kepada anak-anak di rumah sakit jiwa tersebut. Ternyata anak-anak mengalami perkembangan dalam belajar.

Iseng-iseng Montessori mengikutsertakan beberapa anak-anak tersebut dalam ujian negara. Ternyata kemampuan anak-anak tersebut tak berbeda jauh, atau bahkan di atas anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus. “Kalau metode tersebut berhasil untuk anak-anak berkebutuhan khusus, bagaimana kalau diterapkan untuk anak-anak lain?” pikir Montessori. 
Montessori pun mulai memikirkan untuk mendirikan sekolah umum, sehingga metode Montessori bisa dirasakan oleh anak-anak lainnya.

Sekolah Montessori pertama di La Casa De Bambini, Roma,  Italia
Pada awal abad  ke-20, La Casa De Bambini adalah salah satu daerah paling miskin dan kumuh di Roma, Italia. Dalam sebuah pidato di Roma (1942), Montessori  menggambarkan daerah tersebut sebagai daerah yang diabaikan. Ribuan orang yang tidak memiliki rumah tinggal di antara reruntuhan tembok yang ada di daerah sana. Orang-orang tersebut adalah para pengemis, dan juga para pelaku kriminal seperti perampok dan pembunuh. Suasana di sana tidak aman sehingga banyak orang yang takut mendekati daerah tersebut. Daerah tersebut dijuluki sebagai the shame of Italy (daerah Italia yang memalukan).

Di daerah yang terabaikan tersebut, pada 6 Januari 1907, Maria Montessori mendirikan Sekolah Montessori yang pertama.  Montessori percaya bahwa anak-anak di sekolah tersebut akan menjadi masa depan umat manusia.

Perkembangan Sekolah Montessori di Italia dan di Dunia
Pada mulanya pendirian Sekolah Montessori didukung oleh Benito Mussolini, pemimpin di Italia pada saat itu. Benito Mussolini ikut mempromosikan Sekolah Montessori, sehingga tahun 1924 ada banyak Sekolah Montesori di berbagai daerah di Italia. Juni 1926, Mussolini menyumbang 10.000 lira dari kantongnya sendiri untuk mendukung Komunitas Montessori di Italia. Montessori juga diberikan kebebasan untuk merancang dan membimbing program pelatihan guru di Milan. Selama 6 bulan guru-guru dilatih secara intensif untuk belajar mengenai metode Montessori.  

Montessori mulai berkeliling dunia untuk memberikan beberapa kuliah, sehingga metodenya mulai dikenal luas. Tahun 1915 misalnya, Montessori diundang oleh Alexander Graham Bell, Thomas Edison untuk memberikan kuliah di Carnegie Hall.

Antara tahun 1920-1930 Montessori banyak melakukan tur untuk menyebarkan pandangannya. Meskipun metode Montessori mulai dikenal di berbagai negara khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, di negara asalnya–Italia, metode Montessori mulai ditolak.

Mussolini mulai menyadari bahwa filosofi yang dipegang oleh Montessori bertentangan dengan pandangannya. Montessori percaya bahwa anak-anak harus belajar menjadi warga dunia. Anak-anak juga perlu diajak untu belajar berpikir bebas, menjadi mandiri, menjadi kreatif, hidup dalam harmoni, sekaligus mencintai kedamaian.

Mussolini sebaliknya, dia hanya ingin anak-anak Italia belajar mengenai Italia, dan bukan mengenai dunia. Tahun 1929 pemerintah Italia mulai melarang pendirian sekolah-sekolah Montesori mulai dilarang oleh pemerintah Italia. Tahun 1934, semua sekolah Montessori ditutup paksa oleh Mussolini.

Tahun 1936, Montessori pun meninggalkan Italia dan menetap di Belanda. Di Belanda, beberapa metode Montessori diadopsi dan diintegrasikan di sistem sekolah publik. Di negara-negara lain, Sekolah-sekolah Montessori mulai berkembang, termasuk di Indonesia.

Disebabkan metode belajarnya yang memikat, beberapa orang tua yang mampu rela untuk membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Montessori. Tapi Sekolah Montessori sebenarnya bukan sekadar mengenai metode belajar yang menarik. Di balik pendirian sekolah Montessori ada sejarah yang panjang. Sekolah tersebut awalnya berkembang karena perhatian Montessori pada semua anak-anak, khususnya mereka yang terbelakang secara mental dan juga kekurangan secara materi. Sekolah tersebut juga didasari oleh cita-cita Montessori mendidik anak-anak menjadi warga dunia. Pemimpin-pemimpin yang juga menciptakan perdamaian bagi seluruh umat manusia.  

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Sumber :
4.       Film “Montessori Method” dari Techers.tv (UK)

Jul 12, 2013

Glee - You Have More Friends Than You Know



Senang sekali ketika tahu murid-murid saya bisa merasakan indahnya persahabatan. Persahabatan adalah salah satu anugrah terbesar dalam hidup saya, menjadikan saya kuat, membuat saya berkembang menjadi manusia lebih baik lagi. So, I am very happy when I see my students experience the beauty of friendship. :)

Jul 5, 2013

Membaca "Menyusuri Lorong-lorong Dunia : Kumpulan Catatan Perjalanan" karya Sigit Susanto



Sigit Susanto, penulis buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia : Kumpulan Catatan Perjalanan" dulu adalah seorang tour guide di Bali. Pekerjaannya mempertemukannya dengan seorang perempuan keturunan Swiss, yang kini menjadi istrinya. Setelah menikah mereka bersepakat untuk tinggal di Swiss dan kemudian kembali ke Indonesia di usia tua. Sang istri sempat bertanya kepada Sigit, "Kalau nanti kembali ke Indonesia apa mau membawa uang yang banyak atau pengalaman (cerita) yang banyak?"

Sigit lebih memilih membawa pengalaman yang banyak. Salah satu cara untuk memperoleh pengalaman yang banyak adalah melalui kegiatan traveling. Selama tinggal di Eropa, uang yang dikumpulkan oleh Sigit dan istrinya dari bekerja digunakan untuk berpergian ke berbagai negara. Kisah-kisah perjalanannya dituliskan dalam buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia : Kumpulan Catatan Perjalanan" jilid 1, 2, dan 3. Semuanya terbitan Insist Press.

Saya membaca buku pertama ketika masih kuliah. Bukunya kini masih dipinjam teman dan belum kembali. Tapi saya masih ingat beberapa bagian dari buku tersebut yang membuat saya terkesan. Diantaranya kisah mengenai toko buku Shakespeare & Co. di Paris. Toko buku tersebut awalnya dibuka oleh Sylvia Beach tahun 1919 dan menjadi tempat berkumpulnya penulis diantaranya Ernest Hemingway dan James Joyce. Toko buku tersebut kemudian tutup tahun 1940 karena perang dunia. Tahun 1951, George Whitman membuka kembali toko buku tersebut sebagai tribute untuk toko buku yang dibuka oleh Sylvia Beach.  Konsep toko buku tersebut dibuat nyaman dan serasa sebagai "rumah" serta boleh menjadi tempat menginap bagi pelancong yang membutuhkan. Yang menginap biasanya punya tugas menjaga toko dan membaca buku. Sampai kini, beberapa pencinta buku punya impian untuk tinggal di toko buku legendaris tersebut. Saya ingat, dalam buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia" jilid pertama, diceritakan mengenai tulisan yang ditempel di toko buku tersebut yang intinya kita harus ramah termasuk kepada orang yang tak dikenal. Tulisannya :
 "Be Not Inhospitable to Strangers Lest They Be Angels in Disguise".



Sigit memang punya  kegemaran terhadap buku dan sastra sehingga dia memang suka berkunjung ke tempat-tempat yang berkaitan dengan buku.  Di bukunya yang pertama dia menceritakan kunjungannya ke makam  penulis Kafka di Praha. Dia juga mengunjungi  perpustakaan tempat Karl Marx biasa berkarya di London. Sedangkan di buku jilid kedua dia menceritakan kunjungannya ke bekas rumah sastrawan James Joyce di Irlandia.

Buku jilid ketiga agak berbeda. Saya merasa ada banyak bagian yang menceritakan  persinggungan Sigit dengan orang Indonesia di manca negara. Di Bab berjudul "Surat dari Yordania" dia menceritakan tentang seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di sana. Di Yordania, jarang ada perempuan yang bekerja di warung, restoran, dan sebagainya. BMI yang kebanyakan perempuan kebanyakan bekerja di sektor domestik, sehingga tidak akan terlihat di ruang publik.  Seorang pelayan toko laki-laki yang ditemui Sigit, menyatakan kenal seorang dari Indonesia.  Sigit menitipkan sebuah surat untuk orang Indonesia tersebut, sebuah surat perkenalan. Di dalamnya sigit menuliskan beberapa pertanyaan seperti "apakah betah di sana?", "kangen rumah atau tidak?", dan sebagainya. Dari suratnya saya merasa bahwa Sigit punya empati dengan para pekerja dari Indonesia. Mereka jauh dari keluarga, hidupnya terbatas di rumah majikannya, dan mungkin punya masalah tapi tidak ada tempat mengadu.

Saya tersentuh dengan kebaikan Sigit. Surat sederhana tersebut sangat berarti bagi BMI tersebut. Dia membalas suratnya. "Terima kasih suratnya. Kamu baik," begitu salah satu potongan suratnya. Dia juga mengatakan bahwa keadaannya baik tapi dia juga sangat kangen Indonesia. TKI tersebut memberikan sesesuatu titipan kepada Sigit untuk dikirimkan ke keluarganya di Indonesia. Mungkin dia tidak punya waktu (atau uang) untuk mengirimkan titipan tersebut sendiri.

Buku Sigit berbobot karena dia tidak tanggung-tanggung dalam melakukan riset dan mengumpulkan data untuk memperkaya tulisannya.  Di Hongkong, Sigit mewawancarai 32 Buruh Migran Indonesia (BMI) dan juga beberapa majikannya yang dituangkannya dalam Bab "Mengintip BMI di Hongkong".

Di buku yang ketiga ada satu bagian yang membuat hati saya miris, yakni bab berjudul "Orang-orang Kontainer". Sebuah review di Suara Merdeka berjudul "Cerita Nasi Pecel Ditutupi Rok hingga Orang Kontainer" juga bercerita mengenai bab tersebut :

... 34 buruh asal Mojekerto Jawa Timur, hidup selama 6 bulan (Agustus 2008 - Januari 2009) di dalam "rumah" kontainer di kota St. Gallen Switzerland. "Sangat mengharukan pertemuan saya dengan mereka.  Bagaimana tidak, di tengah musim bersuhu 3 derajat celcius mereka tidak dibekali dengan jaket dan sepatu boot. Keluar pun hanya memakai sandal jepit. Kemudian bersama kawan kami kumpulkan pakaian layak pakai untuk mereka. 
Saya tidak bisa membayangkan menghadapi udara dingin Eropa dengan tinggal di kontainer tanpa penghangat ruangan, tanpa pakaian hangat, atau sepatu boot untuk berpergian. Saya juga tidak pernah tahu bahwa ada orang Indonesia yang hidup seperti itu di Eropa, khususnya di negara seperti Swiss, tak terlalu jauh dari kantor PBB di Geneva. Buruh tersebut dibayar sangat murah (dengan standar gaji Indonesia) sehingga mereka sangat kaget mendengar standar gaji buruh di Swiss yang sangat tinggi. Selama di Swiss mereka tidak punya uang untuk berjalan-jalan dan berinteraksi dengan penduduk di sana (kecuali mereka memilih berjalan kaki berjam-jam dengan sendal jepit) apalagi untuk membeli oleh-oleh (seperti gantungan kunci) untuk keluarga. Buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia : Kumpulan Catatan Perjalanan" banyak membuka mata saya. Selain belajar mengenai tempat-tempat menarik untuk di kunjungi di berbagai negara, saya juga belajar bahwa orang Indonesia tersebar di berbagai penjuru dunia. Meskipun begitu, realitas yang mereka hadapi berbeda-beda.