Nov 29, 2010

Dialogue in The Classroom

Saya sangat ingin murid-murid saya bisa aktif di dalam kelas. Awalnya saya pernah mencoba memberikan artikel untuk dibahas. Belum berhasil.

Melemparkan topik diskusi dan meminta siswa mengungkapkan 'I agree
that...
', dan 'I disagree that...'. Masih gagal.

Akhirnya saya mendapatkan tips dari Pak Bagiono, seorang guru senior sekaligus pembina saya di Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Kata Pak Bagiono, "Saya bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman, awalnya dengan enghafalkan sekitar 10 kalimat percakapan. Nanti kata-katanya tinggal diganti sedikit saja."

Pak Bagiono mengusulkan saya mencari contoh dialog yang sederhana dan kemudian dialog tersebut dibaca bersama-sama di dalam kelas. Siswa diminta menghafal dialognya, lalu maju.

Metode tersebut saya modifikasi, setelah membaca dialog bersama-sama, saya ajak murid saya membuat dialog baru, mereka saya pasangkan berdua-dua dan masing-masing pasangan harus membuat dialog sendiri, dan boleh dimodifikasi. Setelah itu, saya memberikan mereka waktu sekitar 10 menit untuk mempelajari dialog mereka kemudian mereka harus
maju ke depan, tanpa catatan.

Thankfully, it works! Mereka asik merancang dialog secara bebas, tetapi mereka juga memiliki struktur yang bisa menjadi pegangan
(contoh dialog). Saya memerhatikan kelas. Beberapa siswa terlihat banyak maunya, hehe kreatif maksudnya. Maunya dialognya begini dan begitu. "Ceritanya begini aja, eh egini juga," terdengar suara yang cukup heboh dalam kelas.

Beberapa siswa tampak lebih spontan dan tidak ingin terlalu kaku, dibawa santai. Dan ketika mereka maju, dialognya bervariasi. Mereka cukup berani. Dan lumyanlah!
Hello the next innovation! I'm coming!

ICT dan Pendidikan

Tentu saja saya tak menafikkan pentingnya teknologi tetapi beberapa
gerakan pendidikan yang seakan-akan mendewakan ICT membuat saya
khawatir.

Tentu saja saya ingin guru bisa melek komputer, internet, dan
teknologi. Saya pun senang bisa berkomunikasi dengan guru-guru di
seluruh Indonesia setiap harinya baik via chatting, facebook, mailing
list, bloging maupun citizen journalism. Tentunya ini karena adanya
teknologi. Saya juga paling senang mendownload berbagai teacher
resources, baik berupa lesson plan, teaching tips, video pembelajaran,
dan sebagainya.

Tetapi saya mulai khawatir ketika sebuah seminar yang saya datangi,
mc-nya bilang begini, "sekarang dengan adanya software pembelajaran
ini, ibu bapak guru tidak perlu berbicara panjang lebar, semuanya ada
di dalam tinggal menggunakan software ini."

Saya pernah melihat presentasi mengenai melakukan percobaan untuk
mengukur frekuensi dan periode sebuah bandul. Untuk melakukan ini
digunakan sebuah software. Bandulnya? Virtual.

Memang tidak semua hal bisa diuji cobakan dengan mudah. Saat kita
membahas hal-hal yang terlalu besar seperti planet atau terlalu kecil
seperti atom atau DNA yah memang tidak ada salahnya menggunakan
model-model, termasuk dengan komputer. Tetapi rasanya, tidak semua hal
dalam pembelajaran harus menggunakan komputer. Termasuk percobaan
mengenai bandul ini.

Percobaan mengenai bandul yang bergetar sangat sederhana dan bisa
dilakukan tanpa menggunakan bandul palsu (di komputer). Bayangkan ada
sebuah bandul virtual yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu kita
diminta menghitung berapa banyak getarannya, berapa waktu yang
diperlukan untuk melakukan getaran tersebut. Ini bandul virtual loh.

Ini percobaan yang sangat mudah. Ambil saja tali. Bebannya bisa
menggunakan berbagai beban. Bahkan mungkin kita bisa membandingkan
mengubah berbagai variabel untuk melihat apa efeknya akan sama atau
berbeda? Bandul bisa dibuat dari berbagai bahan yang berbeda?
Panjangnya bisa diubah-ubah. Bahkan kita bisa mencari tahu apakah
bentuk bebannya berpengaruh terhadap gerak bandul? Ajak siswa untuk
merancang percobaan sebanyak-banyaknya. Bahan-bahan untuk melakukan
percobaan ini bisa ditemukan dengan mudahnya. Kenapa harus menggunakan
komputer?

Beberapa hari yang lalu saya juga sempat melihat bagaimana seorang
pejabat pendidikan melakukan presentasi. Ia mempresentasikan dua video
pembelajaran di kelas. Kelas pertama, katanya, membosankan karena guru
sibuk menulis di papan tulis dan siswanya diajak mencatat.

Video kedua adalah video dimana seorang guru menggunakan ICT. Kata
pejabat tersebut guru tersebut mengajarkan mengenai lingkaran
menggunakan komputer dan LCD. Saya melihat videonya. Bagi saya tidak
ada bedanya dengan kelas yang dicap 'konvensional' bedanya papan
tulisnya digantikan dengan gambar dari komputer yang lebih berwarna.
Siswa hanya duduk menghadap depan.

Kata pejabat tersebut kelas tersebut menarik, karena guru kemudian
menggunakan muka siswa-siswinya untuk menggambarkan titik-titik pada
lingkaran. Saat itu sedang pelajaran matematika dengan materi
lingkaran. Itu membuat para siswa tertawa, kemudian, katanya, tanpa
menunjukkan adegan dalam video, ada diskusi.

Sorenya saya mendengarkan presentasi seorang peneliti matematika
mengenai pembelajaran matematika yang menyenangkan. Bagi saya,
meskipun tanpa ICT kelas ini lebih hidup. Saat itu siswa-siswa sedang
melakukan berbagai pengukuran untuk belajar statistik. Alatnya adalah
botol, air, kertas pleno, spidol, dan bahkan papan tulis. Ada diskusi
kelompok, ada trial dan eror untuk menemukan suatu konsep. Ada
diskusi, ada tanya jawab. Ada menuliskan hasil pengamatan, ada
kegiatan mempresentasikan hasil pengamatan dan penghitungan dengan
berbagai cara. Semuanya dilakukan dengan alat-alat yang sederhana.
Tanpa ICT.

Saya sendiri penggemar ICT, tapi tentunya dalam pembelajaran, kita
harus menggunakan alat apapun, termasuk ICT secara bijak. ICT bukanlah
dewa. Ada saatnya ia relevan digunakan dan ada saatnya tidak.
Bagaimana menggunakannya? Nah ini bahasan lain. Kapan-kapan saya akan
menuliskan mengenai dua cara menggunakan ICT untuk belajar sains.

Nov 28, 2010

Kartu idul fitri dan ibu

(Almarhum) ibu saya selalu menyimpan semua karya anak-anaknya, tak terkecuali gambar yang hanya berupa corat-coret yang kubuat ketika usiaku masih sangat muda. Di rumah, ada file yang berisi karya saya lengkap semenjak usia saya 1 tahun hingga saya sekitar SMP.

Setiap tahun, gambar saya dan adik saya (yang hanya beda 1 tahun dari saya) akan dipilih untuk ditempelkan di sebuah kertas. Di sisa kertas, ibuku akan menulis, "Selamat Idul Fitri, dan nama seluruh keluargaku). Kertas tersebut akan difotokopi, dan dikirimkan sebagai kartu idul fitri kepada semua keluarga dan teman-teman yang tinggal berjauhan.

Pada tahun 80-an keluarga saya pernah ditolong oleh seseorang. Ibuku tak lupa mengirimkan 'kartu lebaran khas' tersebut ke orang tersebut, tentunya sebagai sarana menjalin silaturahmi dengannya.

Sore ini, di meja saya temukan fotokopi kartu idul fitri tersebut lengkap dengan fotokopi amplop, tempat kartu tersebut dimasukkan sebelum dikirimkan.
Ada gambar saya dan tanda tangan saya dengan huruf yang terbalik-terbalik. Nama saya yang seharusnya ditulis 'Dhitta' saya tuliskan sebagai 'Dtta' dengan satu huruf t yang terbalik. Adik saya menggambar orang yang sedang tengkurap sambil menyentuhkan kakinya di kepalanya, lucu sekali. Nama adik saya Dipo, tetapi di sana tertulis 'Dido'. Huruf p menjadi huruf d.

Dibelakangnya ada surat. Orang tersebut selalu menyimpan kartu idul fitri kiriman ibu saya (itu adalah fotokopi kartu idul fitri pertama yang dikirimkan ibu saya).

"Apa kabarnya anak-anak sekarang?
Pasti sudah besar," tulisnya.

Kata bapak saya, usia orang tersebut sudah 80 tahun. -a telah menyimpan kartu tersebut selama lebih 20 tahun. Sejak tahun 80-an ia belum pernah bertemu kembali dengan keluarga kami. Belum lama ini ia berkesempatan bertemu dengan bapak saya. Ia langsung mengingat kartu yang dikirimkan oleh ibu saya tersebut. Karenanyalah ia mengirimkan surat tersebut. Saya menatap fotokopi kartu lebaran tersebut sambil berulang-ulang membaca suratnya. Terkesima.

Nov 24, 2010

Menggunakan igoogle

Belum lama ini, dua orang teman saya menyeletuk, "Puti nih kok selalu nemu sih berita pendidikan [yang gak umum maksudnya]. Dapat dari mana sih?"

Heheh saya senyum-senyum sendiri. Kesannya sih saya rajin men-searching berita. Padahal sih, enggak sama sekali. Sebenarnya, sayadibantu oleh sebuah mesin. Yang mencari berita adalah teknologi. Saya hanya menikmati hasilnya. Tetapi saya memang cukup cepat mengupdate berita pendidikan dari berbagai media online. Karena itulah dalam sehari saya bisa memposting sekitar 5 - 10 berita pendidikan ke mailing list yang berkaitan dengan pendidikan. Bagaimana caranya?

Itu berawal dari ketika saya pertama menggunakan feature igoogle yang bisa dibuka di website http://www.google.co.id/ig

Dengan menggunakan feature igoogle saya bisa membuat semacam homepage sendiri. Sekali buka site tersebut saya bisa memampang email (google), chatting, facebook, sekalian. Bukan hanya itu saya bisa menambah feature lain sesuka hati saya. Di sebelah kanan atas ada tuliskan tambahkan feature.

Di sana saya menambahkan feature google reader, google news, time, bahkan konverter (untuk mengkonversi satuan).

Dengan google reader, saya dapat mendaftarkan blog teman-teman saya, sehingga saat saya membuka igoogle secara automatis, akan ada tampilan semua blog teman saya yang paling baru ter-update. Sedangkan untuk berita pendidikan yang terbaru, saya menggunakan feature google news.

Di sebelah kanan atas bagian google news. ada lambang (+). Saya bisa menambahkan kata kunci apapun yang saya suka, misalnya 'kurikulum pendidikan', 'kurikulum tingkat satuan pendidikan', 'pendidikan indonesia', 'peningkatan kualitas guru', dan sebagainya. Dan aha, secara otomatis, setiap hari saya bisa langsung ter-update dengan berita-berita yang berkaitan dengan kata-kata kunci yang saya masukkan.

Memang hanya sati feature sederhana, tetapi semoga tips yang saya bagikan ada manfaatnya. :)

Nov 22, 2010

To Sir With Love (Lyric)

Those schoolgirl days, of telling tales and biting nails are gone,
But in my mind,
I know they will still live on and on,
But how do you thank someone, who has taken you from crayons to perfume?
It isn't easy, but I'll try,

If you wanted the sky I would write across the sky in letters,
That would soar a thousand feet high,
To Sir, with Love

The time has come,
For closing books and long last looks must end,
And as I leave,
I know that I am leaving my best friend,
A friend who taught me right from wrong,
And weak from strong,
That's a lot to learn,
What, what can I give you in return?

If you wanted the moon I would try to make a start,
But I, would rather you let me give my heart,
To Sir, with Love

Kisah Mengenai Buku Non-Mainstream

Belum lama ini saya bertemu seseorang yang sempat bekerja di konsulat Jepang. Dia bercerita mengenai pekerjaannya saat itu. Dia diminta untuk berkeliling pasar-pasar di Jawa untuk membeli buku-buku non stream yang dijual di pasar. Buku-buku murah meriah dari yang berharga Rp500,- sampai Rp.5000,-. Buku-buku ini diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan tidak dijual di toko-toko buku pada umumnya. Membelinya memang harus ke pasar.

Pekerjaannya adalah naik turun dari bus, keluar masuk pasar, mendatangi pasar loak dan pasar malam dan memborong semua buku-buku ini. Setelah itu, ia akan mendatangi penulis buku (dan penerbit buku) dan mewawancara mereka satu-satu (semacam penelitian).

Menurutnya, ternyata di pasar, yang dijual bukan hanya barang tetapi juga pengetahuan. Ada berbagai jenis buku, mulai dari buku-buku mengenai agama, buku-buku humor, dan beberapa buku lainnya. Beberapa buku malah cukup berat sebenarnya. Ia menemukan karya-karya sastra Rusia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia ataupun karya-karya Al Ghazali lengkap. Perbedaannya adalah bahwa karya-karya ini dipecah menjadi buku-buku yang tipis (dijual per bagian). Mungkin tujuannya adalah untuk menghemat biaya produksi dan menarik minat pembeli.

Menurut orang tersebut, ia belajar bahwa penerbit-penerbit non-mainstream ini punya peran yang cukup besar dalam mencerdaskan masyarakat.

Untuk apakah konsulat Jepang membiayai prorgram memborong buku non-mainstream ini? Ternyata ada satu seksi di sebuah perpustakaan di sebuah kota di Jepang yang dibuat khusus untuk buku-buku non-mainstream di Indonesia. Konsulat Jepang tersebut percaya bahwa mendokumentasikan buku-buku non-mainstream tersebut pasti ada manfaatnya. Suatu saat nanti, pasti ada yang membutuhkan.

Sweet Wedding

I went to my friend's wedding today. She is a classroom teacher. She also coaches a vocal group in a high school. Her students sang to her in her wedding. I think that is so sweet. They had these sparkle in their eyes when they sang. I could feel that they dedicated the song to my friend, as their teacher. I felt I wanted to burst in tears feeling touched.

Nov 18, 2010

Mengajar bahasa Inggris

Hari ini pertemuan ke-4 saya mengajar bahasa Inggris di sebuah akademi Farmasi. Saya mengajar mahasiswa tingkat 2. Tujuannya adalah agar mahasiswa-mahasiswa ini dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan memiliki vocabulary yang memadai menyangkut bidangnya (terkait kesehatan, obat-obatan, bagian tubuh, dan sebagainya).

Terus terang, mengajar bahasa Inggris cukup menantang bagi saya. Hal ini disebabkan karena saya sudah bilingual sejak usia yang sangat muda. Saya tidak pernah merasa belajar bahasa dari nol. (Kecuali sedikit bahasa Sunda secara informal). Saya tidak tahu rasanya belajar berbahasa dari dasar? Sejak saya kecil saya sudah terbiasa berbicara dengan kedua bahasa (Indonesia dan Inggris) sekaligus.

Saya merasa memiliki kemampuan untuk mengajar fisika atau matematika bukan hanya karena saya memang memelajari kedua bidang tersebut dengan serius, tetapi karena saya juga masih ingat kesulitan-kesulitan saya saat belajar kedua bidang ini. Saya juga bisa membayangkan, apa yang membuat saya lebih mudah memahami kedua bidang tersebut. Saya bisa membayangkan sistematika, 'ini lebih mudah', 'ini lebih sulit', dan tahapan-tahapan yang diperlukan untuk bisa memahami kedua bidang tersebut. Saya memang memelajari kedua bidang ini secara sistematis. Itu membuat saya merasa lebih bisa mengajar kedua bidang itu.

Untuk bahasa, tampaknya saya tidak memperoleh pengalaman yang sama. Baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Sementara saya masih mencari cara terbaik untuk mengajar bahasa Inggris. Mudah-mudahan saya menemukan pola yang paling pas.

Nov 6, 2010

Unaceptable? Who? You?

Ouch it hurts.
She is bold but kind hearted and sincere.
She might be bold and outspoken.
But why? Tell me why can't you accept a sincere loving heart?

Ouch it hurts
For you to use her name
In respect, as you say

For whom?
For you?
Is it really for her?

Don't you understand
She is someone who understands us dearly
Who loves us for who we are
We might not be Javanese like her
But she never asks us to be like here, either
Not a single bit

She never forces her will
Even the one she believes most true
Why do you?
In her name?
Why do you?

Stop this game of lipstick imaging
There are places where politics should not be played
Not here.. Especially not here you know?

Stop this silly game of yours
I am sick of it
So sick of it I feel anxious

Just stop it!
Your act is totally not acceptable
Not hers
Not them
Unaceptable it is