Feb 28, 2011

Kisah Sabtu Pagi

Aku senang lihat wajahnya

Jarang kulihat matanya berbinar-binar seperti di pagi itu


Hidupnya penuh dan kaya

Tapi cinta mendalamnpada sang tanah

Membuatnya banyak terluka


Dia tidak optimis

Bukan! Bukan karena tak mau!

Tapi karena gerah


Perjalanan ini mendaki, gelap, dingin, keras, dan sepi

Bukan gentar! Tidak sama sekali!

Tapi perjalanan ini sepi

Padahal ini perjalanan istimewa, yang tak bisa dilakukan sendiri


Di Sabtu pagi itu

Matanya berbinar

Harapannya besar

Ternyata mereka ada

Jiwa-jiwa muda yang bergelora


Dia terkesan padamu, saya tahu!


Feb 24, 2011

Definisi Kapilaritas yang Aneh Membawa Kami Menjelajahi Pengetahuan di Dunia Maya

Capillary action, or capillarity, is the ability of liquid to flow against gravity where liquid spontaneously rises in a narrow space such as a thin tube, or in porous materials such as paper or in some non-porous materials such as liquified carbon fibre. This effect can cause liquids to flow against the force of gravity or the magnetic field induction. It occurs because of inter-molecular attractive forces between the liquid and solid surrounding surfaces; If the diameter of the tube is sufficiently small, then the combination of surface tension (which is caused by cohesion within the liquid) and forces of adhesion between the liquid and container act to lift the liquid.[1]
(http://en.wikipedia.org/wiki/Capillary_action)

Saya mau pingsan. Saat saya melihat catatan murid [privat] saya. Begini isinya :

Capillarity is the phenomenon of up and down the liquid in the object”

Halah, definisi apa ini? Bandingkan dengan definisi capilarity yang saya temukan di Wikipedia. Padahal Wikipedia, konon katanya tidak selalu akurat. Tapi setidaknya definisi kapilaritasnya lebih jelas daripada definisi yang saya baca.

Murid saya yang satu ini sebenarnya sangat cerdas. Tetapi pembelajaran di sekolahnya yang menggunakan bahasa Inggris membuatnya kesulitan. Bukan sembarangan bahasa Inggris, tetapi bahasa Inggris asal comot. Saya pusing sendiri. Buku sekolahnya pun sama kacaunya.

Saya tanyakan saja padanya tahu kapilaritas tidak? Saya memintanya membayangkan sebuah ember berisi kain pel. Kain pel yang kering sebagian diceluplan ke dalam ember, sebagian lagi dibiarkan kering. Kira-kira apa yang akan terjadi kemudian? Bagaimana dengan sisi luar kain pel? Tentu saja basah.

“Kok bisa basah yah Bu?” tanyanya. Saya meminta dia memerhatikan kaus yang sedang dipakainya. Bahwa diantara benang-benang di dalam kausnya ada celah-celah sempit yang memungkinkan terjadinya kapilaritas. Hal ini kemudian saya kaitkan dengan kohesi dan adhesi. Saya memintanya memerhatikan gelas berisi sirup yang ada di atas meja. Lalu saya memintanya membayangkan kalau gelas tersebut dibalik. Akan ada sisa air syrup yang menempel. Kalau raksa tidak begitu. “Gelasnya akan kering.”

Murid saya ternyata belum pernah melihat raksa. Atau mungkin pernah saat melihat termometer, tetapi belum pernah benar-benar memerhatikan. Wajahnya terbengong-bengong waktu saya cerita mengenai raksa.

“Warnanya seperti apa? Bentuknya seperti apa?” tanyanya.

Akhirnya saya tanyakan saja, “Ada internet tidak?”

Rasanya akan lebih baik belajar dari internet daripada berpedoman pada buku teks dan buku catatan yang kacau balau. Untungnya ada.

Saya mengajaknya googling untuk mencari materi-materi yang ingin dipelajarinya.

“Ibu, cari mengenai raksa yuk! Memang seperti apa bentuknya?”

Akhirnya kami pun berkelana mencari tahu mengenai raksa. Apa adanya memang, tanpa material aslinya. Murid saya terkagum-kagum melihat butiran raksa yang bulat. “Perhatikan deh bedanya butiran raksa dan butiran air!” sahutku. Saya juga menyelipkan cerita bahwa beberapa perempuan Jepan zaman dulu menggunakan raksa karena percaya raksa akan membuat muka mereka cantik. Tapi ternyata raksa sangat beracun.

Saya juga bercerita bahwa di zaman dahulu, menambal gigi juga menggunakan raksa, tapi kini sudah tidak diizinkan lagi karena berbahaya. “Tambalan saya dulu juga ada yang menggunakan raksa,” kata saya. Kami mengintip gambar gigi yang menggunakan raksa sebagai tambalannya.

“Ada juga daerah di Indonesia yang tercemar air raksa akibat proses pertambangan,” cerita saya.

Kami juga menonton sebuah kartun yang memodelkan mengenai benda padat (solid), benda cair (liquid), dan gas (http://www.youtube.com/watch?v=UnBoQe2rsgo) . Kami menemukan berbagai simulasi dan bacaan yang menjelaskan sifat-sifat partikel ketiga zat tersebut. Murid saya bahkan matanya berbinar-binar menyaksikan satu simulasi sederhana mengenai bagaimana partikel air berubah sifat ketika dipanaskan. Benar-benar simulasi yang sederhana, ada es (suhunya saat itu -30 derajat celcius), lalu ada tombol yang tinggal di klik, yang konon akan membuat temperatur air semakin tinggi. Seketika, sifat partikelnya berubah.
Kami bukan hanya belajar dari satu model. Kami juga memainkan beberapa game mengenai sifat-sifat material di website ini http://www.bbc.co.uk/schools/ks2bitesize/science/materials/.

Kami juga menemukan video-video orang-orang yang melakukan berbagai percobaan, ada mengenai tegangan permukaan air, ada yang mengenai kapilaritas, dan lain sebagainya. Sampai tak terasa sudah waktunya saya untuk pulang.

Sebetulnya materi ujian besok tidak banyak dan semua sudah tercakup dalam pembelajaran hari ini. Malah kami belajar lebih banyak, beberapa hal mungkin tidak akan keluar dalam ujian. Tidak apa-apalah toh? Dalam hati saya berharap bahwa bukan hanya materi-materi yang kami pelajari dari internet yang menempel di kepalanya hari ini. Saya lebih berharap di kemudian hari dia mempunya rasa ingin tahu untuk mencari tahu. Lebih banyak dan lebih banyak lagi. Lewat internet boleh, lewat pengamatan boleh, lewat eksperimen boleh, lewat mana saja boleh. Tidak terbatas pada buku teks bilingualnya dan catatan yang ajaib istilah-istilahnya itu . Ups!

Feb 22, 2011

Jurnal pribadi : Ibu bahagia menjadi guru?

Hari itu saya lagi sedikit bersedih. Murid [privat] saya, yang masih kelas 7, sang adik, baru bertengkar dengan sepupunya. Pertengkaran terjadi persis sesaat sebelum saya akan mengajarnya. Saat itu saya baru saja usai mengajar kakaknya yang duduk di kelas 10. Baru mau mengajarnya.

Karena habis bertengkar, jangan ditanya mengenai suasana hatinya! Moody abies!. Tak berhasil membujuknya untuk mulai belajar. Saya menyempatkan mendengarkan curahan hatinya. Tidak langsung belajar.

"Kamu marah kenapa?" tanya saya.

Dia menjawab, tetapi tidak langsung menjawab pertanyaan saya, "Tadi aku minta ibu membelikan beberapa hal -- ini dan itu. Sudah dibelikan banyak hal aku masih belum puas. Minta dibelikan lagi. Akhirnya gak dikasih."

Saya mendengarkan. Tidak mengomentari.

"Saya bilang sama ibu, ibu lebih sayang kakak daripada aku. Eh, aku malah dimarahin kakak. Kata kakak, kemauan saya lebih banyak dituruti oleh ibu. Kalau aku minta baso, dan kakak minta siomay, misalnya, pasti ibu akan buatkan baso dulu."

*

Hari itu memang lagi masa UTS. Ketika saya tiba di rumah kedua muridku yang kakak beradik itu, saya memang mengajar sang kakak dulu. Saya mengajar sang kakak di ruang duduk yang terletak di lantai dua. Sang adik sedang menonton televisi di lantai satu. Tak lama kemudian, sang adik menaiki tangga dan memasuki kamar. Tidak sampai 1 menit, ia keluar kamar dan turun lagi. Aku mendengarnya berkata pada ibunya, "PR-nya kelewat sulit."

"Nanti bisa tanya ibu Puti," kata ibunya.
"Tapi Bu Puti lagi mengajar kakak!" jawabnya.

Tak lama kemudian, pertengkaran itu terjadi. Bukan antara sang adik dengan sang kakak, tetapi antara sang adik dengan sepupunya.

Sepupunya sedang bermain-main.Suaranya nyaring, "Aku mau belajar tahu! Jangan berisik! Jangan sampai aku marah," kata sang adik.

**

Ketika saya menemui sang adik untuk mengajaknya belajar. Suasana hatinya benar-benar sedang kacau balau.

"Sudah tidak mau belajar lagi!" katanya. Artinya, sebelumnya dia punya niat untuk belajar, tapi kini perasaan itu sudah hilang. Saya tidak mau memaksanya. Saya sempatkan waktu untuk mendengarkan curahan hatinya. Dia bosan sekolah. Sekolah menyebabkan saya begini. Ia menggambar wajah yang sedang murung.

"Memangnya ada masalah di sekolah?"
"Ngak sih, cuma pelajarannya saja semakin sulit."
"Kalau teman-teman bagaimana."
"Baik-baik saja."
"Kalau gurunya?"
"Ada yang genit."
"Hah! Maksudnya?" tanya saya. Dalam hati saya berharap gurunya tidak melakukan pelecehan seksual.

Dia menceritakan bahwa gurunya, seorang laki-laki, meminta nomor telepon temannya. Katanya untuk memberitahu kalau ada apa-apa, misalnya saat dia tidak bisa masuk sekolah. Ternyata sorenya, dia meng-sms, "Halo cantik, sudah makan belum?

"Sama saya juga begitu. Dia waktu itu meng-add aku di facebook. Waktu online, dia mengajak saya chatting. 'Halo cantik, lagi apa?' Langsung saya tutup chatting-nya"

Menurut saya, sikap tersebut tidak pantas dilakukan seorang guru. Bagi saya, bukan demikian tata komunikasi antara guru laki-laki dengan murid perempuan. Atau mungkin saya salah? Apaa memang tutur bahasanya begitu dan tidak ada maksud merayu? Entahlah, tapi saya setuju, bukan bahasa demikan yang seharusnya digunakan guru tersebut untuk berkomunikasi dengan murid-muridnya.

Murid saya lalu bertanya, "Ibu Puti, memangnya gak sayang yah, sudah susah-susah belajar dari TK, SD, SMP, SMU, dan juga kuliah. Belajar fisika eh cuma jadi guru?"

Saya menjawab seadanya, "Tidak. Pendidikan itu bidang yang multi-disiplin. Artinya, seorang guru yang baik, seharusnya punya ilmu-ilmu yang kaya dan mendalam." Ntah kenapa, saat itu saya sedikit kagok menjawabnya. Padahal pertanyaan itu bukan pertama kalinya saya dengar. Murid-murid saya, terutama yang dari keluarga terpelajar, orang tuanya lulusan universitas, sering menanyakan hal serupa pada saya.

Murid saya yang lain pernah kata, "Bu Puti aneh deh, kayak Bu Rakhmi [teman saya]. Sama-sama lulusan ITB tapi malah jadi guru."

Tak lama kemudian dia cerita bahwa kakak laki-lakinya bertunangan dengan seorang guru.

"Masak calon istri kamu jadi guru!" kata sang ayah memarahi calon pengantin baru di depan murid saya. Akhirnya, sang calon istri diminta pindah ke perusahaan ayahnya, bekerja di bidang manajemen.

Murid saya yang lain lagi juga menanyakan hal yang sama. Saat itu saya berhasil menerangkan dengan baik, bahwa belajar ilmu sebanyak-banyaknya itu penting, terutama untuk guru. "Justru guru harus pintar! Belajar yang banyak," kata saya. Tentu maksud saya bukan hanya belajar secara akademis tetapi juga kemampuan berkomunikasi dan juga belajar memperkaya jiwa.

Memang di Indonesia, orang pintar biasanya diharapkan menjadi dokter, engineer, mungkin masuk jurusan akutansi. Padahal justru profesi-profesi lain termasuk guru, petani, nelayan, dan sebagainya butuh orang-orang yang pintar. Saat itu saya ceritakan sahabat saya yang lebih gila. Cita-citanya mengabdi pada bidang pertanian. Dia berkuliah di S1 ITB. Selepas itu mengolah pertanian organik sambil terus belajar managemen bioteknologi (S2). Belakangan ini dia mendapatkan beasiswa S3 antropologi pertanian. Tapi sampai detik ini cita-citanya menjadi petani tidak pernah luntur,

"Justru petani harus pintar," katanya. Perkataan tersebut selalu terngiang-ngiang di kepala saya.

Tentu saja, petani-petani kita banyak yang pintar. Saya ingat dengan pertemuan saya dengan petani-petani di Jawa Tengah beberapa tahubn lalu. Saat itu ada pertemuan antar petani. Saya ikut dan merasakan diskusinya benar-benar hidup dan kaya. Mereka berpikiran maju, mengembangkan kompor yang ramah lingkungan untuk mengolah hasil pertanian, mampu menciptakan berbagai produk pertanian dengan kemasan menarik meskipun belum pengalaman mendistribusikannya di pasar. Mereka cerdas sekali meskipun beberapa hanya lulusan SD. Tetapi bayangan bahwa seseorang berkuliah setinggi-tingginya untuk menjadi petani, sungguh hal yang aneh di Indonesia. Di negara lain, tidak selalu begitu. Di Thailand misalnya, banyak petani yang kuliah di universitas, melakukan riset, lalu kembali menjadi petani. Bukan mencari pekerjaan lain. Mereka berkuliah untuk kembali menjadi petani. Petan yang lebih berilmu tentunya. Bukan hal aneh.

***

"Ibu bahagia yah? Guru kan gak sejahtera," tanyanya sambil menatap saya.

Karena tidak siap menjawab. Saya hanya berkata, "Iya, saya bahagia. Banyak pengalaman yang saya peroleh."

"Tapi muka ibu memelas begitu. Kayak gak bahagia."

"Saya memang lagi sedih. Bukan karena jadi guru, tetapi karena kamu gak mau belajar," kata saya, "Saya kan bersemangat sekali mau mengajar dan jadi sedih karena gak berhasil mengajak kamu belajar."

Murid saya tertawa. Kata-kata saya ternyata berhasil membuatnya bersemangat lagi. Kami mulai belajar, membahas gerak lurus berubah beraturan.Wah lega, akhirnya dia bersemangat juga. :)

Feb 8, 2011

Mesin Penenun Hujan

Karena dengerin Kandi nyanyi, jadi ngefans deh sama lagu ini.

Mesin Penenun Hujan

mesin penenun hujan
Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu

Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita