Aug 20, 2011

Teachers Talk

Our teachers come to class,
And they talk and they talk,
Til their faces are like peaches,
We don’t;
We just sit like cornstalks.
(Cazden, 1976, p. 74)

http://ptgmedia.pearsoncmg.com/images/9780205627585/downloads/Echevarria_math_Ch1_TheAcademicLanguageofMathematics.pdf

Aug 16, 2011

Perbincangan Mengenai Hubungan Sastra dan Seni dalam Pembelajaran Matematika dan Sains

Perbincangan Mengenai Hubungan Sastra dan Seni dalam Pembelajaran Matematika dan Sains
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Semalam saya membantu sahabat saya googling mengenai short courseuntuk guru di luar negeri. Sebenarnya saya tidak tahu banyak. tetapi saya membantu memberi kata kunci saja.

Entah bagaimana ceritanya, saya akhirnya bercerita mengenai perbincangan saya dengan Pak Iwan Syahril , dosen Sampoerna School of Education (SSE), hampir setahun yang lalu. Pak Iwan bercerita bahwa di Columbia University, New York, ada course yang menghubungkan antara sastra, sains, dan matematika. Termasuk bagaimana karya sastra bisa membuat anak tertarik belajar sains dan matematika.

“Course yang menarik!” kata sahabat saya sambil meneruskan kegiatan ber-googling short course.

Sahabat saya yang sedang googling kebetulan adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta. Sebelum tahun ajaran baru yang lalu, dia yang bertugas memilih buku-buku resources baru untuk ditaruh di perpustakaan sekolah. Dia menunjukkan kepada saya beberapa buku cerita (terjemahan) dengan ilustrasi bergambar karya penulis Korea Selatan. Salah satunya adalah mengenai bajak laut yang terdampar di sebuah pulau. Mereka harus berbagi untuk bertahan hidup. Meskipun buku dikemas dalam bentuk sastra anak, saat membacanya anak bisa belajar mengenai pecahan. Ada buku yang lain yang serupa, yang isinya adalah mengenai place value.

“Kualitas buku ini bagus sekali, sayang harganya cukup mahal,” kata sahabat saya, “Jadi tidak bisa diakses semua orang. Memang buku semacam ini masih terbatas di Indonesia.”

Salah satu hal yang juga masih kurang di Indonesia adalah tersedianya buku-buku teachers guide. Bukan buku pelajaran tetapi lebih ke buku panduan untuk guru. Saya hampir selalu membaca resource semacam teachers guideyang berbahasa Inggris. Kadang saya dapatkan saat mengunjungi perpustakaan SSE. Jarang sekali saya menemukan buku panduan untuk guru yang menggunakan bahasa Indonesia.

Suatu hari, saat saya sedang mengunjungi perpustakaan SSE bersama Ibu Nina Feyruzi, saya terpana pada sebuah buku panduan untuk guru di bidang matematika berukuran kira-kira 60 × 40 cm, dengan tebal sekitar 4 cm. Bukunya lengkap sekali dan berwarna-warni. Isinya berbagai contoh kegiatan untuk segala jenis materi matematika. Mulai dari pengukuran, desimal, persentase, pecahan, bentuk, penjumlahan, perkalian, dan lain-lain. Ada begitu banyak contoh kegiatan yang bisa dilakukan, termasuk contoh lesson plan. Yang menarik, di setiap bab, misalnya bab mengenai penjumlahan atau bab mengenai pengukuran, ada review mengenai satu karya sastra yang bisa mendukung pembelajaran. Yang saya ingat, saat belajar mengenai bentuk dan ruang, ditampilkanlah karya sastra mengenai bangsa mesir dan piramida. Buku karya Laura Inggalls Wilder juga merupakan karya sastra yang direkomendasikan untuk belajar matematika (sayangnya saya lupa dari sisi mananya).

Yang jelas, di beberapa belahan dunia lainnya, pembelajaran matematika tidak pernah lupa dikaitkan dengan bidang lain, termasuk sastra (dan juga seni). Selain itu, sastra dianggap sebuah hal yang sangat penting dalam pendidikan. Saat saya blogwalking di berbagai website guru mancanegara, saya sering menemukan mereka meminta siswa-siswa mereka mempresentasikan pemahaman mereka dalam berbagai karya seperti puisi, role play, drama, komik, dan sebagainya.

Saat saya mengujungi Sekolah Waldorf (Rudolf Steiner), sastra digunakan untuk membuat anak merasa tersentuh hatinya dengan apa yang ingin dipelajari. Misalnya, sebelum anak belajar mengenai apel (dalam pelajaran sains), mereka akan mendengarkan dongeng mengenai apel, membuat puisi mengenai apel, dan menggambar apel. Kegiatan-kegiatan dilakukan sampai anak-anak merasa memiliki ketertarikan dengan apel. Baru mereka akan melakukan percobaan-percobaan sains terkait apel.

Kami, saya dan sahabat saya, akhirnya melanjutkan perbincangan mengenai bagaimana karya sastra dan seni memperkaya imajinasi. Menganaktirikan sastra dan seni pada pembelajaran yang ada di sekolah sangat merugikan perkembangan siswa.

Sahabat saya berkata, “Di sini, sastra dan seni sering dianggap tidak penting. Saya punya teman, jurusan sains. Saat studi di luar negeri untuk kuliah S3 dan harus membuat disertasi, idenya mandeg terus. Mungkin karena orangnya sangat logis, tetapi tidak terbiasa berimajinasi. Akhirnya, dosen pembimbingnya berkata, ‘Kamu tidak bisa begini terus. Sementara disertasinya dihentikan dulu. Silakan baca karya-karya sastra terlebih dahulu!’”

Sahabat saya pun bercerita, setelah membaca berbagai karya sastra, temannya lebih mudah menuliskan disertasinya.

Sastra dan seni memang memperkaya jiwa dan membantu manusi untuk hidup lebih manusiawi. Tidak bisa dipungkiri bahwa sastra dan seni memang melembutkan jiwa. Dan yang perlu mempelajarinya bukan hanya yang belajar di jurusan seni tetapi juga yang mendalami bidang sains dan matematika.

Setiap bidang pasti terkait dengan bidang yang lain. Suatu peradaban berkembang saat segala aspek kehidupan manusia berkembang. Termasuk dengan adanya perkembangan di berbagai bidang, seperti sains, sastra, seni, matematika, dan berbagai iImu humaniora lainnya. Sudah saatnya Indonesia mulai memikirkan mengenai bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk mengembangkan peradaban umat manusia, khususnya bangsa Indonesia. Kalau ada sekolah yang menganaktirikan bidang-bidang tertentu seperti seni dan sastra, rasanya sudah waktunya untuk dihentikan.

Di dunia pendidikan kita juga harus mulai memikirkan untuk memperkaya siswa dari berbagai aspek. Ada berbagai kisah di mana di sekolah anak-anak yang mengambil jurusan IPA hanya difokuskan untuk belajar menghitung dan IPA saja. Seperti menggunakan kacamata kuda. Padahal untuk menjadi ilmuwan yang kreatif dan inovatif, siswa juga harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang kaya di berbagai bidang. Seorang ilmuwan juga seorang manusia, dan karyanya pun seharusnya bisa berperan untuk kemanusiaan. Bagaimana caranya menjadikan seorang ilmuwan juga lebih peka terhadap kemanusiaan? Pembelajaran seni dan sastra salah satu kuncinya. Seorang ilmuwan sekaliber Einstein pun, terkenal karena sangat humanis. Ia merupakan pemain biola yang handal. Seumur hidupnya yang ia pelajari bukan hanya fisika dan matematika saja, tetapi juga musik, seni, filsafat, dan sastra.


Beberapa negara lain sudah mulai memikirkan bagaimana mengolaborasikan seni dan sastra dengan bidang seperti matematika dan sains di dunia pendidikan mereka. Bagaimana dengan dunia pendidikan di Indonesia?

Aug 13, 2011

Bergerak di dunia pendidikan di Indonesia mengajak saya bertemu begitu banyak orang. Saya juga jadi mengikuti begitu banyak forum.

Yang bekerja di dunia pendidikan, atau tepatnya bergerak di dunia pendidikan, ada bermacam-macam orang. Ideologinya sama? Belum tentu. Tetapi buat saya ideologi jadi nomor dua. Selama orangnya betul-betul peduli, apalagi konsisten, dan bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, apapun ideologinya saya tetap angkat topi, hormat. Tujuannya sama-sama baik, tetapi cara yang ditempuh berbeda.

Yang tidak saya sukai adalah orang-orang yang mengatasnamakan pendidikan tetapi sebenarnya lebih mengutamakan untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, tentu saja yang melakukan korupsi di bidang pendidikan, atau misalnya bekerja di BNSP, menentukan nasib orang banyak tapi bekerjanya asal-asalan. Saya pernah bertemu orang yang mengurus UN. Profesor sih, tetapi tidak paham sama sekali mengenai assessment, membaca mengenai assessment pun tidak! Atau ada yang menjadi kepala penelitian di suatu lembaga yang cukup berpengaruh di Indonesia. Dia sendiri belum pernah melakukan penelitian satu kali pun, apalagi di bidang pendidikan! Jadinya, kalau berbicara di publik, asal saja datanya. Menyesatkan! Atau mengatasnamakan dunia pendidikan padahal yang dilakukan hanya berjualan. Mutu produknya? Jangan ditanya, tetapi cara-cara menjualnya tidak baik. Monopoli, menipu konsumen, dan juga dengan pemaksaan! Ugh.. Ini membuat saya ngamuk.

Well, cukuplah marah-marahnya. Yang jelas minggu ini saya cukup senang. Minggu ini saya menghadiri sebuah forum. Forum ini rutin, biasa dihadir berbagai orang, mulai dari yang bekerja di grassroot, seperti sanggar anak akar, organisasi guru (yang berbeda-beda), dosen di jurusan keguruan, sampai orang-orang yang bekerja di CSR Pendidikan. Saat saya hadir perasaan saya ringan sekali. Saya tahu orang-orang yang hadir di forum menggunakan topi yang berbeda-beda, bekerja dengan cara yang berbeda-beda, tapi saya tahu bahwa orang-orang ini benar-benar peduli. Sebagian besar pesertanya sudah saya kenal semenjak beberapa tahun yang lalu dan saya tahu bahwa orang-orang yang hadir di sana adalah orang-orang yang konsisten dan di lingkarannya masing-masing berusaha memengaruhi orang lain untuk bersama-sama memikirkan bagaimana caranya memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Aug 2, 2011

Pembelajaran Kontekstual di SMK

Sekitar dua minggu lalu, saya didatangi oleh seorang kepala sekolah dan guru SMK. Mereka ingin berkonsultasi mengeni Contextual Teaching and Learning (CTL). Menurutnya sang kepala sekolah ada tuntutan di sekolah untuk menggunakan CTL. Ia ingin tahu apa perbedaannya dengan pembelajaran tematik. Kebetulan di sekolahnya, sekarang menggunakan sistem factory teaching.Maksudnya para siswanya diharapkan mampu menghasilkan sebuah produk yang kemudian dijual (misalnya). Buat saya, itu berarti sekolah itu pada dasarnya sudah mengembangkan CTL.

Bagi saya, CTL (atau saya lebih menyukai menggunakan istilah pembelajaran yang kontekstual) adalah sebuah paradigma pendidikan. Selama kita memahami tujuan pembelajaran, bisa mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, maka kita sudah menerapkan pembelajaran yang kontekstual.

Dalam pembelajaran yang kontekstual, sang pembelajar harus paham mengenai tujuan pembelajaran. Kalau belajar mengenai matematika dan sibuk menghafal rumus tanpa tahu tujuan maupun keterkaitannya dengan hal lain, maka pembelajaran menjadi meaningless (tidak bermakna). Ini berarti pembelajaran belum bersifat kontekstual.
Pembelajaran yang kontekstual juga berarti kita bisa menghubungkan apa yang kita pelajari dengan hal-hal lainnya, termasuk dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, Ibu Meli Sari, dosen di UNJ pernah merancang pembelajaran aljabar yang dimulai dengan persoalan memilih di antara dua taksi (yang diketahui harga awal dan harga per jam-nya). Siswa bisa menyelesaikan persoalan tersebut tanpa menggunakan aljabar (formal) terlebih dulu. Setelah itu, baru siswa diperkenalkan pada aljabar yang formal. Ini adalah salah satu contoh pembelajaran yang kontekstual. Siswa diajak menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dipelajari di sekolah, bisa membantu siswa dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ini.

Guru SMK yang datang berkonsultasi ke saya bahwa saat dia mengajar TIK, dia menghubungkannya dengan dunia kerja. Kebetulan sebelum menjadi guru, dia pernah bekerja di sebuah kantor. Pengalamannya dibawa saat dia masuk ke dalam kelas. Jadi pembelajaran komputer bukan hanya menggunakan Excel tanpa makna. Meskipun sebelumnya tidak tahu istilah CTL sebenarnya sang guru sebenarnya sudah menerapkan pembelajaran yang kontekstual.

Pembelajaran yang kontekstual juga berarti bahwa siswa diajak belajar dalam berbagai konteks yang berbeda. Selain belajar di sekolah, siswa juga diajak belajar di dunia kerja (contohnya melalui kegiatan magang), masyarakat (misalnya dengan diajak terjun ke masyarakat), dan sebagainya. SMK biasanya mewajibkan siswanya untuk magang di industri. Pada dasarnya, SMK-SMK sudah menerapkan salah satu contoh pembelajaran yang kontekstual.

Pembelajaran yang kontekstual juga berarti bahwa penilaian dilakukan bukan hanya melalui ujian tetapi juga adanya authentic assessment. Ketika saya kuliah dulu, ada beberap tugas di mana saya diminta mendesain sebuah alat misalnya alat olah raga, alat memasak, dan sebagainya. Saya juga pernah diminta untuk menganalisis mesin penukar panas di industri. Otomatis saya harus melakukan pengukuran, memiliki kemampuan menganalisis, dan memiliki pemahaman konsep yang baik. Dosen-dosen saya kemudian menilai saya dari karya saya. Di SMK praktik semacam ini juga sering diterapkan. Kalau sudah, ini berarti bahwa pembelajaran yang kontekstual memang sudah diterapkan di SMK. Tanpa mengetahui istilah CTL pun, pembelajaran-pembelajaran di SMK memang (seharusnya) sudah bersifat kontekstual.

Aug 1, 2011

Learning Block

Mulai hari ini saya harus banyak membuka-buka buku mengenai komunikasi, bahasa, dan juga matematika. Semester ini saya akan mulai mengajar di sebuah universitas keguruan. Mata kuliahnya terkait komunikasi yakni khususnya 'komunikasi di dalam kelas matematika'. Hal ini termasuk teknik menjelaskan, questioning, diskusi, dan sebagainya.

Saya benar-benar tidak tahu kenapa saya dipilih untuk menjadi dosen terkait komunikasi. Saya merasa tidak mempunyai pengetahuan maupun kemampuan khususnya mengenai ilmu komunikasi. Dalam prakteknya pun kemampuan komunikasi saya masih pas-pasan. Masih jauh dari istilah 'ahli'. Terus terang saya masih bertanya-tanya apakah saya bisa belajar dan mengajarkan mengenai komunikasi. How can I teach about communiation? How?

Masih ada learning block di kepala saya. Saya sama sekali tidak ada bayangan bagaimana saya akan menjalankan kuliah saya. Well, sementara saya jalani saja. Sementara saya masih punya waktu untuk belajar sebelum kuliah dimulai. Doakan saya yah!