Jul 25, 2016

Menonton Kompilasi Film "Kembang 6 Rupa"



"Kembang 6 Rupa" adalah film kolaborasi dokumenter yang mengajak 6 pembuat film untuk berkolaborasi dengan 6 remaja perempuan di 6 komunitas mengenai isu yang dianggap penting dan genting oleh remaja-remaja di lingkungan masing-masing. Kembang 6 Rupa bercerita tentang tantangan-tantangan yang dihadapi anak-anak perempuan di masa transisi, merekam tentang hak dan kewajiban baru yang menunggu mereka di depan mata.(http://www.kampunghalaman.org/berita?id=939
Semalam, saya pergi ke Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk menonton kompilasi film "Kembang 6 Rupa". Film tersebut diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman, yakni sebuah yayasan yang bertujuan untuk 'memfasilitasi remaja dan anak muda berusia 13-25, dengan keterampilan, kreativitas dan penguasaan media (video,musik,teks,foto) untuk memunculkan suara dansikap tentang isu-isu yang mereka dan komunitasnya anggap penting' (http://www.kampunghalaman.org/about).
"Kembang 6 Rupa" terdiri dari 6 film dokumenter pendek. Masing-masing film settingannya adalah di daerah-daerah yang berbeda di Indonesia (Sleman, Kuningan, Wamena, Sumedang, Indramayu, Sumbawa). Semuanya mengenai tokoh perempuan remaja (usia 15 - 17 tahun) yang sedang bergelut dengan isu yang berbeda-beda.  
Sebenarnya isu-isu yang diangkat dalam film "Kembang 6 Rupa" bukan isu-isu yang baru buat saya. "Kembang 6 Rupa" mengangkat isu seputar pendidikan, kemiskinan, perbedaan, dan keadilan. Namun, menonton kompilasi film "Kembang 6 Rupa" mampu membuat saya pulang saya merasa merinding. "Film ini begitu powerful," pikir saya. Dengan media film, saya diajak untuk lebih menghayati isu-isu tersebut dan diajak untuk mendengarkan suara anak-anak muda (perempuan) yang memang, secara langsung, bergelut dengan isu tersebut.
Film pertama settingnya adalah Sleman, judulnya "Bangun Pemudi! Pemuda Sudah" (Sutradara : Michael A.C. Winanditya). Film ini berkisah tentang tokoh remaja perempuan bernama Nala (17 tahun) yang aktif dalam kegiatan Karang Taruna. Remaja-remaja perempuan, kadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang karena dianggap kurang berani mengungkapkan suara. Kenyataannya? Tidak selalu begitu. 
Film kedua settingnya adalah Wamena. Judul filmnya adalah "Agnes, Pewaris Budaya Dunia?" (Sutradara: Arief Hartawan). Film ini berkisah tentang Agnes (17 tahun), remaja perempuan dari Papua yang putus sekolah karena hamil. Agnes masih ingin melanjutkan sekolah. Kini, sambil mengurus anak, beliau merajut noken, 'tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu' (Kompas Cetak, 7 Agustus 2014). Hasil dari penjualan noken, salah satunya adalah untuk menebus ijazah SMP yang belum diambil karena beliau masih berhutang 'uang pembangunan sekolah', sebesar 1 juta rupiah. 
Film ketiga berjudul "Karatagan Ciremai" (Sutradara: Ady Mulyana). Fim ini mengenai Anih (15 tahun), remaja perempuan dari Kuningan. Anihmenganut agama Sunda Wiwitan. Agama Sunda Wiwitan  tidak masuk ke dalam 6 agama resmi yang diakui di Indonesia (Hindu, Budha, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Kong Hu Cu) meskipun agama ini sudah ada jauh sebelum agama-agama tersebut masuk ke Indonesia.
Di antara keenam film, ini salah satu film yang paling saya suka. Di dalam film ada adegan di mana guru di sekolah Anih menanyakan kenapa Anih tidak berkerudung. Anih mengatakan bahwa beliau non Islam. Temannya, yang keturunan Batak juga ditanyakan hal yang sama. Gurunya pun lanjut bertanya mengenai agama Anih dan temannya. Temannya menjawab bahwa agamanya adalah Kristen. Anih menjawab bahwa agamanya adalah Sunda Wiwitan. Reaksi gurunya adalah sebagai berikut, "Kalau Kristen, saya bisa memahami, tapi kalau Sunda Wiwitan saya kurang paham, kayaknya itu bertentangan dengan ajaran agama." Bagi Anih, pernyataan gurunya menyakitkan hati. Tentu, tidak enak rasanya  ketika apa yang kita percaya dianggap rendah oleh orang lain. 
Film keempat berjudul "Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak)" (Sutradara: Dwi Sujanti Nugraheni). Ini juga film yang sangat saya sukai. Film ini berkisah mengenai seorang anak SMA bernama Pipit yang dianggap 'kurang baik' oleh guru-gurunya, karena cara berpakaiannya dan gayanya (sering bercelana pendek dan serig terlihat nongkrong di pinggir jalan). Gurunya menganggap Pipit tidak memiliki masa depan. Padahal Pipit pada dasarnya adalah anak yang baik. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Pipit selalu membantu ibunya membersihkan rumah. Pulang sekolah istirahat sebentar, lalu bekerja di  tempat penggalian semen untuk membantu keluarga. 
Di sekolah, Pipit masuk 10 besar dan juga berprestasi di bidang olahraga (sering menang pertandingan olah raga). Cita-citanya menjadi guru olah raga atau guru matematika. Sayangnya, pihak sekolah tidak melihat potensi ini. Pipit dianggap biasa saja. Labelnya sebagai anak yang tidak berprilaku sepantasnya membuatnya dipandang sebelah mata, bahkan oleh gurunya sendiri. 
Film kelima berjudul "Miang Meng Jakarta (Aku Ingin Ke Jakarta)" (Sutradara: Opan Rinaldi). Film ini berkisah tentang Ika, remaja perempuan 16 tahun dari Indramayu. Orang tua Ika bercerai. Selain itu, Ika putus sekolah karena keputusannya sendiri. Dia tidak mau sekolah karena sering diejek oleh teman-temannya. Film ini berkisah tentang keinginannya untuk bekerja di Jakarta. 
Film keenam berjudul "Haruskah ke Negeri Lain?",  (Sutradara Anton Susil). Film ini berkisah tentang Maesarah (17 tahun) yang berasal dari Sumbawa. Cita-citanya adalah bekerja ke Malaysia, mengumpulkan uang dan kemudian bisa melanjutkan kuliah kembali.
Menonton Kembang 6 Rupa mengizinkan saya untuk bisa mengenal lebih jauh mengenai negeri saya sendiri, Indonesia. Saya bisa mengenal kehidupan orang lain, khususnya remaja, yang berasal dari daerah-daerah yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya bisa melihat kompleksitas hidup mereka, sekaligus merenungi kembali kompleksitas pendidikan yang ada di Indonesia (karena sesuai minat saya). Kembang 6 Rupa mengingatkan saya untuk lebih banyak mendengar suara anak-anak muda. Memahami dunia dari kaca mata mereka, bukan hanya melihat dunia dari sudut pandang saya saja. 
Meskipun teknik pembuatan kompilasi film "Kembang 6 Rupa" tidak terlalu wah, tapi sungguh kompilasi film ini sungguh mendidik. Saya berharap lebih banyak guru bisa menontonnya dan berefleksi darinya. 

Jul 19, 2016

(Sempat) Malu


Source: http://studiodiy.com/2015/12/08/diy-emoji-gift-wrap/?crlt.pid=camp.dqP9kEFfOxaU
Pada suatu kesempatan saya duduk sebangku dengan dua orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Kami sama-sama menunggu sesuatu. Daripada bosan diam-diaman, akhirnya, kami saling berkenalan. Di sebelah saya duduk seorang perempuan yang masih terlihat imut-imut. Ternyata dia adalah seorang siswa kelas XI SMA. Dari hasil obrolan kami, saya mengetahui bahwa dia bercita-cita bisa melanjutkan studi di bidang Bioteknologi. Di sebelah perempuan tersebut ada seorang laki-laki. Dia adalah seorang fresh graduate Teknik Sipil dari sebuah Universitas swasta di Bandung. Beliau bercerita bahwa beliau ingin melanjutkan studi di Belanda, fokus di bidang yang sama. Mereka sempat menanyakan apa kesibukan saya. Kata laki-laki fresh graduate, "Apakah masih mahasiswa atau sudah bekerja?"

Dengan bangganya saya menyatakan bahwa saya mengajar calon guru di perguruan tinggi.. Perempuan yang masih SMA bertanya pada saya, "Enak gak sih mengajar begitu?".

Saya pun menjawab bahwa saya sangat suka mengajar. Yang paling menyenangkan adalah ketika melihat mahasiswa saya lulus, lalu memilih menjadi guru (atau berkiprah di bidang pendidikan) dan ternyata mereka mencintai profesi mereka. Bahagia sekali rasanya ketika tahu mereka menjadi guru yang passionate. Itu kebahagiaan yang tidak terbayar dengan apapun juga.

Tak jauh dari kami ada tiga orang ibu-ibu yang juga sedang mengobrol. Saat itu saya sudah tidak sedang mengobrol dengan dua orang yang duduk di sebelah saya. Saat itulah, saya mendengar tiga orang ibu-ibu itu mengobrolkan mengenai guru di sekolah anak mereka masing-masing. Mungkinkah mereka tadi tak sengaja ikut mendengar obrolan kami bertiga yang juga membahas menggunakan istilah 'guru' dan terpancing mengobrolkan topik terkait?  Atau mereka memang tiba-tiba ingin mengobrolkan mengenai guru di sekolah anak mereka masing-masing? 

Yang jelas, saat mereka mengobrol,  merasa malu. Suara mereka cukup keras sehingga saya bisa mendengarkan obrolan mereka dengan jelas. Saya menutup wajah saya dan pura-pura tertidur karena malu. 

Salah seorang ibu menceritakan mengenai kegiatan 'menabung' di kelas anaknya. Di sekolah anaknya, siswa disarankan untuk menabung dan uang tabungannya dikumpulkan ke wali kelas. Saat terima rapor, seharusnya siswa bisa meminta hasil tabungannya selama satu semester. Namun, ketika sang ibu meminta uang tabungan anaknya, guru tersebut mengatakan bahwa uangnya tidak ada dan akan diberikan dua bulan kemudian. Kemungkinan besarnya uangnya terpakai. Dalam hati saya berharap bahwa ada alasan yang kuat mengapa uang tersebut terpakai. 

Cerita berikutnya lain lagi. Ibu yang lain bercerita bahwa guru di sekolah anaknya meminta orang tua siswa membelikannya  telepon genggam. "HP saya yang ini sudah rusak nih," katanya begitu. 

Ibu yang satu lagi, yang sedang ikut mengobrol,  hanya mengomentari, "Parah yah?"

Kisah-kisah seperti di atas bukan hal yang baru pertama kali saya dengar. Di beberapa sekolah memang ada kebiasaan (yang ntah tumbuh dari mana) orang tua memberikah hadiah pada guru, khususnya saat penerimaan rapor. Isu mengenai pemberian hadiah pada guru ini, sebenarnya masih menjadi perdebatan. Apakah boleh atau tidak? Ada yang menganggap boleh, asalkan memang bukan bermaksud untuk 'menyogok', misalnya untuk menaikkan nilai, dan tidak mahal. Di sisi lain, ada sekolah yang menolak pemberian hadiah pada guru. Menolak sama sekali. Namun, di beberapa sekolah, kondisinya memang parah, ada sekolah di mana orang tua berlomba memberikan hadiah semahal-mahalnya pada guru, seperti telepon genggam, emas, dan sebagainya (saya pernah mendapatkan curhatan langsung dari orang tua mengenai hal ini yang merasa minder karena orang tua lain memberikan hadiah yang mahal, sedangkan beliau tidak). Yang lebih parah lagi, adalah ketika guru mengharapkan diberikan hadiah. Seperti contoh yang disampaikan ibu di atas.

Saat masuk kerja saya menceritakan kejadian tersebut pada teman-teman kantor saya, bahwa saya malu sekali saat mendengar obrolan ketiga ibu tersebut. Teman saya mengatakan bahwa saya seharusnya tidak malu. Tidak semua guru seperti itu. Teman saya yang satu lagi mencoba memahami, "Malu sebagai teman seprofesi (baca: sama-sama pendidik), yah?"

Setelah saya pikir-pikir di satu sisi memang saya merasa malu dengan obrolan ketiga ibu tersebut. Malu bahwa ada teman seprofesi melakukan tindakan yang tidak sepantasnya begitu. Di sisi lain, saya tahu ada begitu banyak guru yang tidak seperti itu. 

Seorang guru yang saya kenal, misalnya, ketika beliau tahu ada siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, beliau bahkan rela rumahnya ditempati oleh siswa dan ikut membiayai makan siswa tersebut. Ada juga, guru yang saya tahu pernah membantu membayarkan uang sekolah siswanya, karena siswanya tidak mampu membayar uang sekolah. Banyak juga guru yang tidak peduli dengan hadiah yang diberikan oleh siswa. Yang lebih penting adalah siswanya tumbuh menjadi orang yang lebih baik, baik dalam hal prestasi maupun sikap. Sudah banyak sekali guru yang saya kenal yang seperti ini. 

Tentu saja, saya percaya bahwa praktek-praktek yang kurang baik di beberapa sekolah, seperti korupsi, meminta hadiah dari orang tua siswa, atau menerima hadiah yang terlalu mahal dari siswa perlu diberantas. Tapi di sisi lain, saya juga yakin, bahwa guru-guru lain, yang rela berkorban dan mendidik siswa-siswanya yang begitu bervariasi juga patut diapresiasi.

Jul 15, 2016

Bukan Guru Sekolah, Tapi Engkau Tetap Guruku

Beberapa hari yang lalu, seorang teman, Mimit namanya, mengirimkan saya pesan. Katanya, Bang Adrian sakit gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit. Saat mendengar kabarnya, saya tidak langsung menanggapi karena masih sibuk dengan berbagai urusan Idul Fitri.
Ternyata, tadi (atau kemarin yah?), saya mendengar kabar bahwa beliau meninggal dunia. Rasanya seperti tak percaya. Tapi benar, beliau telah berpulang.
Bagi yang belum tahu, Bang Adrian adalah guru saya di Bimbingan Tes Alumni (BTA) 70. Beliau juga merupakan pembina salah satu ekskul yang saya ikuti, yakni Seksi Karya Ilmiah Remaja (SKIR).
Saya tidak pernah menyangka saya akan merasa sangat kehilangan sosok beliau. Beliau bukan guru sekolah. Beliau adalah guru sebuah bimbingan tes.
Bimbingan Tes adalah sebuah lembaga yang senantiasa dikritisi oleh berbagai praktisi dan pengamat pendidikan baik karena sifatnya yang komersial maupun karena orientasinya sekadar mempersiapkan siswa untuk tes. Meskipun saya adalah alumni bimbingan tes, saya pernah (dan mungkin masih) mengkritisi berbagai praktik bimbingan tes.
Terlepas dari kritik saya terhadap bimbingan tes, Bang Adrian, guru sebuah bimbingan tes, tetaplah guru saya. Beliau bukan guru favorit saya. Saya menganggapnya guru yang enak mengajarnya tapi bukan favorit. Biasa saja.
Namun, ketika mendengar kepergian beliau saya sadar bagaimanapun beliau turut membentuk saya yang sekarang ini. Ada momen-momen di mana dia mempengaruhi pemikiran saya, sikap saya, dan juga kecintaan saya terhadap ilmu. Dia adalah guru saya dan saya hormat padanya.
Salah satu hal yang terlintas di pikiran saya adalah obrolan terakhir saya dengannya. Kami bertemu di acara Ikatan Alumni ITB bidang pendidikan. Saat itu, ada pertemuan alumni-alumni ITB yang bergerak di bidang pendidikan, baik sebagai tenaga pendidik, pembuat software pendidikan, pemilik lembaga pendidikan, dan sebagainya. Bang Adrian hadir di sana. Dia bercerita mengenai pengalamannya memfasilitasi peningkatan kapasitas guru di beberapa tempat di Indonesia (kerja sama dengan Bang Lendo, salah satu pendiri Sekolah Alam dan School of Universe). Saya tidak ingat persis, tapi beliau menyatakan keinginannya untuk bisa berbagi dengan lebih banyak guru di Indonesia. Itu obrolan terakhir saya dengannya.
Saya juga teringat bahwa Bang Adrian pernah mengajari saya banyak hal. Beliau yang pertama kali membuat saya bisa bernalar mengenai nilai sinus, cosinus, dan tangent dari sudut-sudut istimewa (30 derajat, 60 derajat, 45 derajat), dengan mengajak saya melakukan pembuktian matematis. Saya baru ngeh bahwa nilai-nilai tersebut tidak perlu dihafalkan. Beliau juga membantu saya memahami beberapa konsep matematika dasar yang sebelumnya tidak saya pahami.
Jadi, salah satu program BTA yang saya ikuti adalah kegiatan review semua materi matematika SMA. Bang Adrianlah yang mengajar.
Di kegiatan tersebut semua pelajaran matematika SMA kelas 1,2, dan 3 dibahas ulang selama kurang dari satu tahun. Tujuannya, untuk memperkuat dasar matematika dan membenahi berbagai kesalahan pahamann mengenai konsep-konsep matematika. Sebagai contoh, seringkali, siswa mengira bila x dikuadrat sama dengan 25 maka nilai x sama dengan 5 (itu saja). Padahal sebenarnya selain, x juga bisa - 5. Itu salah satu salah kaprah yang sering terjadi.
Bang Adrianlah yang mengajak saya belajar kembali konsep-konsep matematika sehingga salah-salah kaprah yang selama ini saya milik bisa dikurangi.
Selain, mengajarkan saya mengenai konten matematika , Bang Adrian juga mengajari saya beberapa pelajaran penting yang sangat bermanfaat bagi hidup saya. Beliau senantiasa mendorong siswa-siswanya untuk belajar kelompok. Menurutnya, belajar sendiri, apalagi kalau kita tidak mengerti, kadang bikin frustasi. Dengan belajar kelompok, kita punya teman diskusi, bisa berbagi, dan bisa sama-sama saling memotivasi. Beliaulah yang secara eksplisit menekankan pentingnya belajar dengan cara bekerja sama dan berkolaborasi.
Ketika mau tes masuk perguruan tinggi , Bang Adrian juga memberikan pesan untuk bersantai - santai sehari sebelum ujian. Katanya, toh kita sudah berbulan-bulan belajar.
Dulu, saya tidak ngeh maksud dari pesan Bang Adrian. Namun, waktu saya mengikuti kuliah online di Coursera berjudul "Learning How To Learn", di situ dikatakan bahwa untuk belajar secara maksimal, otak kita perlu bekerja dengan dua cara utama, yakni focused mode dan diffused mode.
Focused mode berarti ada saatnya di mana otak kita harus fokus bekerja keras belajar hal-hal baru, memikirkan masalah. Pokoknya fokus memikirkan satu hal atau topik baru. Setelahnya, kita perlu mengajak otak kita berpikir dengan diffused mode. Yakni, kondisi di mana otak kita lebih merasa rileks. Hal ini bisa dilakukan dengan berolahraga raga setelah belajar, atau melakukan hal lain yang membuat pikiran kita lebih santai. Biasanya saat diffused mode otak kita menjadi lebih kreatif. Kreativitas sangat penting dalam menyelesaikan masalah.
Bang Adrian tampaknya, secara sadar maupun tidak, memahami konsep ini. Merasa rileks, tidak berarti tidak belajar. Yang penting, kita terbiasa menjadikan kegiatan belajar sebagai bagian dari keseharian.
Selamat jalan Bang Adrian, selamat jalan guruku. Semoga Allah menerima segala amal ibadahmu. Engkau bukan guru sekolah tapi engkau tetaplah guruku.
Minggu, 10 Juli 2016