Oct 12, 2008

Pendidikan Seni

Iseng-iseng membuka kembali posting http://pendidikan-alternatif.blogspot.com/search?updated-max=2008-09-19T15%3A00%3A00%2B07%3A00&max-results=1 yang dibuat oleh seorang teman dipendidikan alternatif.

Jadi pengen ngomongin betapa pentingnya pendidikan seni di sini. Saya dulu pernah mendampingi seorang anak yang bandelnya ampuun dhe... Kalau ngamuk bisa ngelempar gunting. Kalau marah ngedorong temennya. Kalau iseng nyemplungin diri ke got (sampai hitam semua). Weleh..weleh.. Tapi anak ini cerdas luar biasa.

Untungnya anak ini terakses dengan komunitas Taboo. Sama saya, dia saya dampingi belajar matematika, tetapi dengan Om Rahmat Jabaril, anak ini didampingi untuk belajar seni dan teater. Dan yang dua terakhir ini yang paling penting dalam pembentukan karakternya. Dia jadi bisa mengeluarkan emosinya melalui seni. Gambar-gambarnya diwarnai dengan berani dan kereng (mentereng). Dia pun bangga sekali bisa bermain teater . Bandel? Masih lah yah.. Tapi emosinya lebih terkontrol. Konsentrasinya pun bertambah (karena di teater iya dilatih harus berkonsentrasi). Dan kreativitasnya pun tak tertkungkung. Apa persis karena pendidikan seni yang dia dapatkan? Mungkin iya mungkin tidak. Saya pribadi, percaya bahwa jawabannya 'iya'.

Oct 6, 2008

Kenapa saya suka sekali mengoreksi buku teks?

Pendidikan tentunya menyangkut banyak aspek. menurur saya pendidikan bisa berlangsung di 3 tempat utama.
- Di sekolah (yang biasa di kenal dengan pendidikan formal)
- Di rumah
- Dan di lingkungan (masyarakat)

Semuanya ini menurut saya saling mendukung. Sekolah tentunya memiliki keterbatasan. tidak semua anak beruntung bisa masuk ke sekolah yang bagus kualitasnya. Di rumah pun begitu. Banyak anak-anak yang tak punya keluarga, atau tidak punya keluarga ideal. Sama halnya dengan lingkungan.

Oleh karena sebab itu, segala kegiatan yang mendukung proses belajar di sekolah, rumah, maupun lingkungan bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan menurut saya, tidak ada salahnya meningkatkan kualitas ketiganya sesuai dengan kemampuan kita dan kecocokan kita masing-masing.

Kebetulan saya memang cukup tertarik dengan pendidikan formal. Saya memang lama terlibat dengan pendidikan melalui mengajar Fisika, Matematika dan terkadang Bahasa Inggris, dan saya juga punya akses terhadap beberapa buku teks yang digunakan oleh anak-anak yang saya bimbing, saya pikir tak ada salahnya mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya.

Ketika belajar seorang anak bisa belajar:
- Dari gurunya secara langsung
- Dari buku yang dibacanya
- Dan lain-lain

Beruntunglah anak-anak yang punya akses ke "sumber informasi" selain buku teks sekolah karena mereka bisa membandingkan apa yang dipelajari di sekolah dengan informasi lain yang mereka dapatkan. Banyak anak tidak mendapatkan kemewahan ini.

Sehingga menurut saya, yang paling mendasar harus dikerjakan (alias urgent) dalam peningkatan pendidikan formal di Indonesia adalah peningkatan kualitas guru dan juga peningkatak kualitas buku teks (yang tentunya harus dapat dijangkau oleh siswa-siswi di seluruh Indonesia secara mudah).

Kalau punya guru yang bagus, tentu pembelajaran apapun akan menjadi lebih mudah. Buku teks jelek gak masalah.

Tapi harus diakui di banyak sekolah di Indonesia, guru memiliki keterbatasan. Terutama di SD-SD negeri di mana satu guru mengajar seluruh pelajaran. Terkadang dasar yang ia miliki tidak kuat dalam satu bidang tapi dia harus mengajar semua mata pelajaran. Saya sendiri akan kebingungan kalau harus mengajar pelajaran semacam sejarah atau membaca. Puyenklah daku. Hehehehe. Saya pernah menemui guru kelas 5 yang kebingungan dengan konsep volume dalam matematika sehingga ia mengajarkan hal yang salah ke murid-muridnya. Guru memang manusia dan punya keterbatasan.

Makannya buku teks sebenarnya bisa menjadi alat untuk melengkapi kekurangan tersebut. Sewaktu saya bekerja di Kumon, saya senang mengamati modul-modulnya yang memungkinkan self-study. Sehingga sang asisten hanya perlu membimbing sedikit anak-anaknya.

Ada beberapa kemungkinan :
- Guru bagus, buku teks bagus --> Oke banget nih
- Guru bagus, buku teks ngawur --> Masih gak papa
- Guru kurang bagus, buku teks bagus --> Sebenernya kurang oke tapi lumayanlah
- Guru kurang bagus, buku teks ngawur --> Ciloko alias celakalah..

Tentu saja kita gak menginginkan anak-anak hanya berhubungan dengan buku teks tanpa berhubungan dengan gurunya. Pada dasarnya proses pembelajaran paling penting memang hubungan dengan murid dan guru sebagai manusia. Buku teks hanyalah alat untuk memudahkan proses pembelajaran. Bagaimanapun juga memperhatikan buku teks, mengkoreksinya, untuk dijadikan evaluasi ulang untuk peningkatan kualitasnya tentu bisa memberikan pengaruh positif. Mudah-mudahan. :)

BSE (Buku Sekolah Elektronik)1

Ini saya yang ngawur atau apa yah? November seharusnya bukan ditulis Nopember kan?

Saya baru mendownload BSE (Matematik) untuk siswa SD kelas 1. Di halaman 55, ada pembahasan mengenai bulan (dan angkanya)

Seperti ini:
1 Januari
2 Pebruari --> Harusnya Februari kan?
3 Maret
4 April
5 Mei
6 Juni
7 Juli
8 Agustus
9 September
10 Oktober
11 Nopember --> Harusnya November kan?
12 Desember

Saya tahu dalam beberapa bahasa F bisa berubah menjadi P dan P bisa berubah menjadi F, tetapi bukankah dalam buku pelajaran sekolah yang disebarluaskan ke seluruh Indonesia seharusnya menggunakan bahasa yang baku?

Sangat sederhana memang. Masalahnya saat hal sepertti ini diajarkan pada anak SD kelas 1 yang masih belajar sesuatu yang sangat mendasar (dan dia percaya), kesalahan berulang ketika dia nanti di kelas yang lebih tinggi.