Jan 21, 2014

Memahami Pembelajaran Terintegrasi (Bagian 2) : Memahami Subject Integration

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan "Memahami Pembelajaran Terintegrasi (Bagian 1) : Definisi & Manfaat Pembelajaran Terintegrasi" yang bisa dilihat di :  http://mahkotalima.blogspot.com/2014/01/memahami-pembelajaran-terintegrasi.html

***
Salah satu pertanyaan yang pernah diajukan guru terkait pembelajaran terintegrasi adalah, "Dalam pembelajaran terintegrasi, apakah perlu ada penggabungan mata pembelajaran?"

Jawaban dari pertanyaan ini bisa iya atau tidak, tergantung kebutuhannya. Pembelajaran terintegrasi sebenarnya jenisnya ada macam-macam, namun semuanya memiliki tujuan yang serupa. Membantu pembelajar untuk melihat sesuatu secara lebih menyeluruh, membantu mereka memahami bahwa satu hal terkait dengan yang lainnya.

Jenis-jenis pembelajaran terintegrasi (Chiarotto, 2011, dalam http://www.naturalcuriosity.ca/pdf/NaturalCuriosityManual.pdf)

Bentuk-bentuk pembelajaran terintegrasi
Berdasarkan Chiarotto (2011) ada berbagai jenis pembelajaran terintegrasi di antaranya :

1. Subject Integration (Integrasi Mata Pelajaran)
2. Skills Integration  (Integrasi Ketrampilan)
3. Prespective Integration
4. Strand Integration
5. Successive Integration

Posting kali ini akan membahas mengenai Subject Integration terlebih dahulu. Untuk bentuk-bentuk lainnya akan dibahas di posting berikutnya. 

Memahami Subject Integration

Di dalam pendekatan ini, dua mata pelajaran atau lebih bisa digabung sehingga siswa bisa melihat keterkaitan antara satu mata pelajaran dan pelajaran lainnya.

Salah satu contoh integrasi mata pelajaran yang pernah saya pelajari adalah pelajaran di mana siswamempelajari perubahan harga sebuah kopi. Misalnya kopi di sebuah kafe harganya Rp 30.000,-. Siswa melakukan proses inquiry untuk mempelajari bagaimana kopi ini diproduksi oleh petani, berapa harga jual kopi dari petani ke tengkulak, harga dari tengkulak ke distributor kopi berikutnya, terus sampai harga yang dijual di kafe. 

Untuk pelajaran matematika siswa bisa diajak untuk membandingkan harga jual kopi dari petani ke tengkulak, harga jual kopi antara tengkulak dan distributor X, harga distribusi antara distributor X ke tempat lainnya, lalu harga jual kopi ke konsumen di kafe. 

Untuk pelajaran matematika siswabisa diajak membuat grafik untuk yang bise merepresentasikan  perbedaan harga jual yang satu dengan yang lainnya. Di sisi lain, siswa juga belajar mengenai ekonomi, dan juga mengenai kewarganegaraan (hak dan kewajiban masing-masing pihak baik petani, distributor, maupun penghasil kopi), dan sebagainya. 

Chiatorro (2011, h. 70) juga memberikan contoh lainnya yang diterapkan oleh seorang guru bernama Carol. Dia mengajak siswa membuat gambar yang merepresntasikan pohon lalu mengajak siswa mengamati pepohonan sekaligus mengumpulkan berbagai jenis daun yang berbeda.

Siswa lalu diajak untuk menyortir, mengklasifikasi dan berdasarkan ukuran bentuk dan warnanya. Siswa diajak menjelaskan pengamatan mereka terhadap berbagai ukuran dan bentuk daun. Dengan begini siswa belajar untuk menjelaskan mengenai ukuran-ukuran maupun bentuk-bentuk yang ada di sekitarnya. Kemampuan untuk menjelaskan berbagai bentuk dan ukuran merupakan cara mengenakan anak mengenai geometri. 

Setelahnya  siswa diminta membuat gambar dan karya dari sejenis lilin untuk merepresentasikan pemahaman mereka mengenai pohon. Di dalam gambar siswa memberikan tulisan-tulisan singkat mengenai pemahaman mereka akan bagian-bagian dari pohon disertai fungsinya. 


Kegiatan di dalam kelas Carol (Chiaritto, 2011), Sumber : http://www.naturalcuriosity.ca/pdf/NaturalCuriosityManual.pdf

Kemudian, guru juga mengajak siswa untuk membandingkan gambar awal mereka mengenai pohon dan gambar mereka setelah mengamati pohon. Dengan begitu, siswa pun bisa melihat sendiri bagaiaman pemahaman mereka mengenai pohon telah berubah. Biasanya setelah proses observasi karya siswa akan lebih kompleks karena pemahaman mereka tentang pohon juga bertambah. 

Secara keseluruhan siswa telah diajak belajar matematika, IPA, dan seni sekaligus. Untuk guru SD yang biasanya adalah guru kelas, jadwal beberapa mata pelajaran bisa digabung sesuai dengan kebutuhan untuk memungkinkan pembelajaran semacam ini terjadi. Untuk guru SMP atau guru SMA, maka guru antara bidang studi perlu berkoordinasi satu sama lain untuk 'janjian' kapan melakukan pembelajaran bersama. Perancangan pembelajaran juga perlu dilakukan bersama sehingga sesama guru bisa saling mendukung agar proses pembelajaran terjadi semaksimal mungkin. 

Sumber :
Chiarotto. (2011). NATURAL CURIOSITY: Building Children's Understanding of The World Through Environmental Inquiry / A Resource for Teachers. Canada : Maracle Press Ltd (diunduh dari :  http://www.naturalcuriosity.ca/pdf/NaturalCuriosityManual.pdf )

Jan 14, 2014

Memahami Pembelajaran Terintegrasi (Bagian 1) : Definisi & Manfaat Pembelajaran Terintegrasi

Sebuah sistem biasanya terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain. Salah satu contoh sistem yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah sistem tubuh manusia. Sistem tersebut terdiri dari berbagai komponen, mulai dari berbagai sel, jaringan, dan organ tubuh. Semuanya terkait satu sama lain. Salah satu komponen dalam tubuh manusia misalnya adalah darah. Dan darah terkait komponen-komponen lainnya. Ketika seseorang kekurangan darah, akan ada bagian tubuh lain yang terkena efeknya. Memahami darah saja tidak cukup untuk memahami sistem secara keseluruhan. Perlu juga pemahaman akan komponen-komponen lain dan bagaimana komponen yang satu terkait satu dengan yang lainnya.

Salah satu contoh sistem adalah sistem tubuh manusia
Sumber : http://www.cea1.com/anatomy-sistems/the-human-body-pictures-anatomy/

Manusia selalu dihadapkan oleh berbagai masalah. Banyak diantara masalah-masalah ini yang sebenarnya merupakan masalah yang sistemik misalnya mengenai pencemaran (termasuk masalah sampah), kemiskinan, dan berbagai masalah lainnya. Masalah-masalah tersebut disebabkan  oleh berbagai hal yang terkait satu sama lain. Di bawah ada sebuah video berjudul "The Story of Stuff" yang menggambarkan bahwa masalah sampah misalnya, juga merupakan masalah yang sistemik di mana masalah tersebut disebabkan oleh berbagai hal yang terkait satu sama lain.



Penyelesaian masalah-masalah tersebut hanya bisa dilakukan ketika kita mempertimbangka berbagai aspek dan sudut pandang serta mempelajari keterkaitan aspek yang satu dengan yang lainnya. Kempuan untuk mempertimbangkan berbagai aspek ini perlu dilatih, salah satu caranya adalah melalui pembelajaran terintegrasi.

Pembelajaran terintegrasi adalah salah satu model pembelajaran bertujuan untuk membiasakan pembelajar untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Atau dengan kata lain, melatih pembelajar untuk berpikir secara lebih sistemik. Menurut Brazee &Capelluti (1993 dalam Brazee  & Capelluti, 1995, p.10 dalam Ciarotto 2011) pembelajaran terintegrasi adalah pendekatan yang bertujuan untuk menjadi pembelajaran lebih menyeluruh dan berdasarkan pada paradigm pembelajaran yang holistik. Pembelajaran terintegrasi melihat pentingnya melihat gambaran yang lebih besar (the big picture) daripada sekadar  mengelompokkan pembelajaran ke bagian-bagian kecil yang terpisah satu sama lain.

Menurut  Chiarotto  (2011), ada berbagai manfaat dari pembelajaran terintegrasi di antaranya :

  • ·      pemahaman yang lebih mendalam tentang tujuan mempelajari bidang tertentu
  • ·     pemahaman mengenai aplikasi dari bidang yang dipelajari dalam berbagai konteks
  • ·       pemahaman yang lebih mendalam mengenai suatu isu/topik dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang
  • ·         membantu pembelajar menghargai bagaimana bidang-bidang studi, ide-ide, dan berbagai perspektif yang berbeda terkoneksi di dunia
  • ·        meningkatkan pemahaman dalam berpikir sistem

Sumber :
Chiarotto, Lorraine .(2011). NATURAL CURIOSITY: Building Children’s Understanding of the World through Environmental Inquiry / A Resource for Teachers. Canada : . Maracle Press Ltd (diuduh dari : http://www.naturalcuriosity.ca/pdf/NaturalCuriosityManual.pdf (14/01/2014)

Kisah tentang Sound Designer dan Refleksi Mengenai Pentingnya Mengajak Siswa Belajar Sesuatu dari Berbagai Sudut Pandang

Gambar diambil dari berbagai sumber diantaranya : http://www3.nhk.or.jp/nhkworld/english/tv/designtalks/archive201305091030.html

Dalam program “DesignTalks“ yang diputar oleh NHK (stasiun TV Jepang) pada Mei 2013 yang lalu, sempat debahas mengenai desain bunyi (sound design). Salah satu bintang tamu yang diundang untuk berbicara dalam acara itu adalah HiroakiIde, seorang sound designer  asal Jepang.

Sound designer  adalah orang yang pekerjaannya adalah merancang bunyi untuk berbagai keperluan tertentu, misalnya untuk soundtrack  dalam film ataupun pertunjukan.  Namun, bunyi-bunyian yang dirancang oleh seorang sound designer  bisa lebih bervariasi. Saat kita masuk ke dalam bioskop, ada bunyi yang menandakan bahwa tamu bioskop bisa segera masuk, ada bunyi yang juga dirancang untuk menandakan bahwa bioskop akan segera mulai. Saat pergi ke stasiun kereta juga ada bunyi-bunyian yang menandakan kereta akan segera berangkat. Selain untuk alasan-alasan praktis, kadang bunyi juga dirancang untuk alasan yang ‘menyenangkan’. Di sebuah stasiun, orang lebih senang naik escalator daripada tangga. Maka dibuatlah tangga yang bisa menghasilkan bunyi-bunyi seperti yang ada di piano. Karena tangga bisa menghasilkan bunyi-bunyian yang menarik, beberapa orang akan mulai lebih memilih menaiki tangga. Bisa dilihat pada video di bawah : 



Bunyi-bunyian  yang selama ini kita dengar, dan anggap merupakan hal yang wajar (taken for granted) sebenarnya dipikirkan dengan sangat seksama oleh sound designer. Kita mungkin tidak sadar, tapi ada banyak hal dalam hidup kita yang sebenarnya dipengaruhi oleh pekerjaan seorang sound designer.

Apa saja pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang sound designer? Tentu saja kepekaan terhadap berbagai bunyi-bunyian, termasuk musik. Seorang sound designer juga harus punya musikalitas yang tinggi. Namun menurut tayangan "Design Talks" mengenai sound designe,  ada banyak pemahaman lainnya yang perlu dimiliki oleh seorang sound designer.  Dia  juga harus punya pemahaman mengenai sejarah, psikologi, matematika, dan sebagainya.  

Seorang sound designer juga harus paham sejarah. Di Jepang misalnya, bunyi-bunyian memiliki sejarah yang panjang. Di zaman dulu orang-orang terbiasa mendengarkan bunyi-bunyian yang ada di alam, suara rintik hujan, suara serangga, suara gesekkan pohon karena tertiup angina, dan sebagainya. Lalu, pada perkembangannya orang mulai membuat berbagai alat musik. Seorang sound designer  harus memiliki pemahaman tentang berbagai alat musik yang pernah ada selama sejarah, dari yang tradisional sampai yang modern, juga mengenai perkembangannya. Dengan begitu dia memiliki referensi yang lebih luas tentang berbagai bunyi dan bagaimana bunyi itu dihasilkan

Psikologi juga merupakan ilmu yang harus dipelajari oleh seorang sound designer. Khususnya mengenai bagaimana bunyi bisa  mempengaruhi prilaku manusia. Ada bunyi-bunyi tertentu yang bisa membuat seseorang rileks da nada bunyi yang bisa membuat seseorang ingin lebih bergegas. Beberapa rumah sakit di Jepang bekerja sama dengan sound designer untuk merancang bunyi-bunyian yang dihasilkan di rumah sakit. Misalnya, di ruang untuk merawat orang-orang punya penyakit kejiwaan, dipasanglah bunyi-bunyian yang bisa membuat seseorang merasa lebih tenang. 

Seorang sound designer  biasanya harus punya kemampuan kerja sama karena terkadang harus bekerja sama dengan orang dari berbagai bidang lain. Dia juga harus memiliki keinginan dan kemampuan untuk belajar hal-hal baru. Ada kisah menarik mengenai kerja sama seorang sound designer  dan sejumlah ilmuwan yang sedang meneliti mengenai molekul yang bergerak. Para ilmuwan meminta tolong sound designer untuk menghasilkan bunyi-bunyi tertentu untuk masing-masing gerakan molekul.  Gerak molekul biasanya sangat cepat sehingga sulit dilihat dengan kasat mata. Ketika gerak molekul dikaitkan dengan bunyi-bunyian tertentu, apa yang biasanya diamati dengan mata (misalnya melihat grafik gerak molekul), bisa dibantu dengan apa yang bisa didengar dengan telinga.  Molekul yang diteliti biasanya bergerak dengan pola tertentu. Bila gerakannya sesuai pola yang umum, akan dihasilkan bunyi yang juga biasa-biasa saja. Tapi kalau ada molekul yang gerakannya menyimpang, maka aka nada bunyi-bunyi yang melengking. Bunyi bisa membantu ilmuwan dalam mengidentifikasi berbagai gerak molekul. Untuk bisa bekerja sama dengan ilmuwan tersebut, sound designer  perlu membuka diri untuk mempelajari sains dan matematika. Sang ilmuwan pun perlu belajar juga mengenai bunyi. Mereka perlu berdiskusi bersama sebelum akhirnya bisa bersama-sama mengerjakan sesuatu yang bermakna. 

Sound designer  memang adalah seorang yang sehari-hari berkutat dengan bunyi. Meskipun begitu, untuk bisa menjadi sound designer yang handal dia juga harus membuka diri untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Satu bidang ilmu pasti terkait dengan bidang lainnya. Bunyi terkait dengan musik, juga dengan sejarah, psikologi, ilmu pengetahuan alam, matematika, dan berbagai ilmu lainnya. 

Sebenarnya bukan hanya sound designer  yang butuh pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Banyak pekerjaan lainnya juga memerlukan pendekatan multi-disiplin. Bahkan seorang guru pun butuh mempelajari berbagai ilmu, bukan hanya ilmu yang diajarnya. Seorang guru IPA mungkin memang spesialisasinya di bidang IPA tapi  dia perlu belajar berbagai bidang lain. Dia harus belajar mengenai psikologi khususnya mengenai perkembangan anak (dan remaja), belajar kemampuan komunikasi (lisan dan tertulis), belajar bahasa (sehingga bisa membaca berbagai referensi), belajar sejarah (termasuk mengenai kisah hidup para peneliti, sejarah pendidikan), dan sebagainya. Dengan mempelajari berbagai hal termasuk yang di luar bidang studinya, seorang bisa mengajar dengan berbagai pendekatan yang lebih kaya. Juga bisa mengajak siswa-siswanya untuk belajar bahwa satu hal pasti terkait dengan hal lainnya. Tidak ada ilmu yang berkembang di dalam vakum. 

Pekerjaan sebagai sound designer  mungkin tak dikenal puluhan tahun yang lalu, namun kini pekerjaan itu termasuk pekerjaan yang ‘bergengsi’. Di masa depan aka nada banyak sekali jenis pekerjaan yang mungkin tidak kita kenal kini. Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak selalu bergantung pada satu bidang ilmu saja tapi juga bisa memerlukan pendekatan multi-disiplin Bagaimanakah perubahan-perubahan semacam  ini mempengaruhi profesi sebagai guru?

Menghadapi perubahan di mana di masa depan akan banyak dibutuhkan kemampuan berpikir secara multi-disiplin, berarti di dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, guru sebaiknya mengajak siswa-siswanya untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Saat kita belajar tentang hutan misalnya, kita bisa mengajak anak belajar dari sudut ilmu pengetahuannya, misalnya dari sudut pandang biologi mengenai keragaman spesies yang ada di hutan, dari sudut pandang fisika, misalnya mengenai kalor jenis tanah, pohon-pohonan, air, dan sebagainya, dari sudut pandang ekonomi, mengenai bagaimana hutan berperan penting dalam kehidupan ekonomi manusia, dari sudut pandang sejarah, misalnya mengenai peran hutan bagi manusia dari waktu ke waktu.


Kemampuan untuk melihat satu hal dari berbagai sisi, sebenarnya tidak hanya penting untuk mencari pekerjaan saja, tapi juga untuk membantu manusia dalam menghadapi berbagai problema kompleks yang dihadapi.  Masalah-masalah seperti banjir, kebakaran hutan, berkurangnya sumberdaya alam, kemisikinan, kriminalitas dan lain sebagainya adalah masalah yang kompleks. Penyelesaiannya tidak bisa diselesaikan oleh misalnya, ilmu lingkungan saja, atau ilmu ekonomi saja. Untuk bisa menyelesaikannya orang dari berbagai bidang ilmu perlu duduk bersama dan mencari solusinya bersama. Tentunya agar bisa bekerja sama dari orang dari berbagai bidang lainnya, seorang harus mau berendah hati bahwa satu jenis ilmu saja belum cukup untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Jan 13, 2014

[KLUB BACA IGI] Membaca "M. K. Gandhi : An Autobiography" (Bagian 2) ~ Pandangan Gandhi Tentang Olahraga dan Pelajaran Olahraga



Ketika sekolah, khususnya ketika SMA, Gandhi sangat membenci pelajaran olahraga. Dia mempunyai pandangan bahwa melatih raga (olahraga) tidak sepenting melatih kemampuan berpikir. Kebenciannya ini ditambah oleh sebuah pengalaman pribadinya dengan gurunya.

Saat Gandhi SMA, ayahnya yang sangat disayanginya sedang sakit parah. Setiap pulang sekolah dia akan segera pulang untuk merawat ayahnya. Pelajaran olahraga dilakukan setiap Sabtu sore. Setiap Sabtu sekolah libur kecuali untuk pelajaran olahraga. Guru Gandhi saat itu bernama Pak Gimi. Kepadanyalah Gandhi meminta izin untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga. Tujuannya agar dia punya lebih banyak waktu untuk merawat ayahnya. Pak Gimi tidak percaya pada alasan yang dikemukakan Gandhi. Gandhi harus tetap ikut pelajaran olahraga.

Setiap Sabtu sore Gandhi tetap berangkat dari rumah ke sekolah untuk mengikuti pelajaran olahraga dan suatu hari dia terlambat sehingga harus absen. Di pertemuan berikutnya, Pak Gimi menanyakan alasan ketidakhadiran Gandhi di pelajaran olahraga. Gandhi menceritakan kejadian apa adanya tapi Pak Gimi menuduhnya berbohong. Ini membuat Gandhi sakit hati. Dia berkata jujur, kenapa dituduh berbohong?

Gandhi memang sempat menyepelekan pentingnya berolahraga serta memiliki pengalaman pahit mengenai pelajaran olahraga. Namun, pada akhirnya sikap Gandhi berubah. Bacaan-bacaannyalah yang mempengaruhinya berubah pandangan.

Ketika membaca sesuatu, seseorang bisa punya pemikiran-pemikiran maupun pandangan-pandangan baru yang tidak dimilikinya sebelumnya. Itulah yang dialami Gandhi setelah membaca  buku-buku mengenai manfaat dari berjalan kaki sambil menghirup udara segar. Ide berjalan kaki sambil menghirup udara segar tampak sebagai ide menarik. Gandhi pun mencobanya. Dia membiasakan diri berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh setiap hari.

Ternyata, kegiatan tersebut membuat tubuh Gandhi menjadi lebih bugar. Gandhi merasakan sendiri efek positif dari berolahraga pada tubuhnya. Selama ini pandangannya bahwa olahraga tidak penting salah. Setelah berjalan-jalan pun pikirannya menjadi lebih segar. Kebiasannya berjalan kaki juga sangat bermanfaat ketika dia memilih untuk hidup lebih sederhana. Membiasakan diri berjalan jauh memungkinkannya menghemat ongkos kendaraan ketika ingin berpergian.

Beberapa tahun kemudian Gandhi bekerja bersama-sama seorang pekerja sosial bernama Gokhale. Gokhale sangat sibuk karena senantiasa mengurus kebutuhan orang banyak sehingga tak pernah punya waktu untuk berolahraga termasuk berjalan-jalan . “Pernahkah kamu lihat aku punya waktu untuk berjalan-jalan?” katanya pada Gandhi. Terkait ini Gandhi berpendapat :

I believed then and I believe even now, that, no matter what amount of work one has, one should always find some time for exercise, just as one does for one's meals. It is my humble opinion that, far from taking away from one's capacity for work, it adds to it. (Gandhi, 1927)
artinya :
Saya percaya dari dulu dan juga tetap percaya sekarang, bahwa, seberapa sibuknya seseorang bekerja, dia harus mencari waktu untuk berolahraga, seperti halnya dia mencari waktu untuk makan. Dalam pandangan saya, olahraga tidaklah mengurangi kapasitas seseorang dalam bekerja, melainkan malah meningkatkannya (Gandhi 1927)

Pandangan Gandhi tentang olahraga memang mengalami perubahan. Pelajaran olahraga yang dulu dianggapnya tak penting kini malah dianggapnya esensial dalam proses pendidikan seseorang. Katanya :

“I then had the false notion that gymnastics had nothing to do with education. Today I know that physical training should have as much place in the curriculum as mental training”. (Gandhi 1927)
artinya :

“Dulu saya punya pandangan yang keliru bahwa gymnastik tidak ada hubungannya dengan pendidikan. Sekarang saya sadar bahwa melatih (kebugaran) tubuh sama pentingnya dengan melatih kemampuan berpikir".

[KLUB BACA IGI] Membaca "M. K. Gandhi : An Autobiography" (Bagian 1) - Belajar tentang M. K. Gandhi dan bukan Mahatma Gandhi


Ketika Pak Yudhistira Massardi berbagi di Workshop Penulisan Kreatif yang diselenggarakan IGI, dia mengatakan bahwa cerita yang menarik biasanya tidak terdiri dari tokoh yang karakternya terus menerus baik atau terus menerus jahat. Namun, justru pada cerita yang menggambarkan bahwa tokoh yang mengalami perubahan karakter, ntah menjadi lebih baik atau buruk tergantung pada proses yang dialaminya.

Pandangan Pak Yudhistira mirip dengan pandangan saya ketika membaca sebuah biografi. Beberapa kali saya membaca biografi yang hanya menggambarkan kehebatan sang tokoh. Bab-babnya berisi judul-judul yang menunjukkan bahwa sang tokoh hebat. Misalnya, Si X yang selalu rajin belajar, Si X yang pantang menyerah dalam kesulitan apapun, dan seterusnya. Buat saya, biografi yang semacam itu sungguh membosankan. Saya ingin berelasi dengan tokoh yang ada di dalam tulisan. Artinya saya ingin membaca mengenai manusia, bukan sekadar tentang malaikat yang selalu suci.

Yang membuat penasaran ketika membaca sebuah biografi justru adalah kisah mengenai bagaimana seseorang berproses. Ketika seseorang memilih sikap X, apa alasan yang mendasarinya? Kejadian apa dalam hidupnya yang membuatnya berpandangan seperti itu?  Apa yang menjadi titik balik dalam hidupnya? Pernahkah dia berubah (pandangan, sikap)? Apakah yang membuatnya berubah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang terjadi di dalam kepala saya ketika membaca sebuah biografi. Saya ingin membaca tentang seseorang yang berproses dalam hidupnya, bukan tentang seseorang yang ujug-ujug sudah hebat.

Mochandas Karamchand Gandhi  (M. K. Gandhi) adalah seorang pemimpin India yang lahir pada 1869. Memang Gandhi tidak pernah menjadi pemimpin formal di India (presiden, misalnya), tapi dia punya kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai visi tertentu. Gandhi  mendedikasikan hiduonya untuk memperjuangkan, khususnya, dua prinsip dasar, Ahimsa  alias tanpa-kekerasan, dan Satya alias kebenaran.

Bagi sebagian  masyarakat India, Gandhi dianggap sebagai orang suci yang sangat dihormati, dan penuh kasih sayang. Karena itulah dia memperoleh gelar Mahatma yang berarti orang suci. Meskipun begitu ketika membaca M. K. Gandhi : An Autobiography, sebuah biografi yang ditulis oleh Gandhi mengenai dirinya sendiri, saya justru merasakan sifat manusiawi Gandhi.  

Di dalam buku ini saya bisa membaca pengalaman Gandhi yang menganggap olahraga tidak penting, pernah menjadi suami yang pencemburu buta (padahal istrinya selalu setia), pernah mencuri, pernah berbohong pada orang tua, pernah tidak paham sejarah bangsanya sendiri, seringkali keras kepala dan pernah melakukan begitu banyak kesalahan lainnya. Tapi saya juga belajar tentang Gandhi yang reflektif, sangat spiritual, keras pada diri sendiri, dan juga pejuang tangguh. Saya juga bisa belajar tentang titik-titik balik dalam hidupnya, kejadian-kejadian penting yang mengubah pandangannya tentang hidup. Buku ini mengenalkan saya pada Gandhi sebagai seseorang manusia biasa dan bukan sebagai seorang orang suci alias Mahatma