Dec 29, 2009

Kisahku Bersama Lagu "Negeri di Awan"

Tulisan Bu Nina tentang 3 Cinta di "Sang Pemimpi" mengingatkan saya akan lagu 'Bisa Lebih Bahagia' oleh Nugie

Liriknya begini :
Kita mungkin bisa lebih bahagia,
Bila yang dirasa hanya cinta
Kita mungkin bisa lebih bahagia,
Bila di dunia beda tak nyata

Hidup di setiap hati tampak murni,
Tanpa benci

Mungkinkah dalam sehari,
Dunia mau bersaksi
Bahwa cinta kan membawa damai
Sehingga semesta raya
Lantang membuka suara
Hiduplah manusia dalam cinta cinta

Semoga guru-guru Indonesia bisa menjadi guru yang dipenuhi cinta.

Ngobrol-ngobrol tentang lagu, salah satu kenangan saya sewaktu saya masih SMU adalah belajar bahasa Indonesia menggunakan lagu. Guru bahasa Indonesia saya, Bu Lis, selalu menyiapkan pelajaran dengan sangat baik. Ia menyulap surat pembaca, artikel opini, dan iklan di koran menjadi media pembelajaran di kelas. Tapi salah satu kelas yang paling berkesan bagi saya adalah sewaktu ia mengajarkan mengenai "majas". Saya selama ini tidak mengetahui apa guna majas. Saya tahu ada majas hiperbola, majas, ironi, dan banyak majas-majas lainnya, akan tetapi saya tidak pernah tahu apa manfaatnya.

Untuk mengenalkan manfaat 'majas' yang Bu Lis lakukan adalah memutarkan lagu "Negeri di Awan" yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara

Ia meminta kami mendengarkan lagu tersebut sambil memperhatikan liriknya, kemudian kami membahas makna dibalik lagu tersebut. Kami diminta mencatat majas-majas yang kami temukan yang kemudian mencoba mengenali ada majas apa saja dalam lirik tersebut. Sejak hari itu, lagu "Negeri di Awan" menjadi salah satu lagu favorit saya.

Oh iya, ini liriknya:
Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
dimana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo
Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

Saya ingat bahwa Bu Lis mengatakan, "Majas akan membuat suatu tulisan (termasuk lirik) menjadi lebih indah"

Menurut Bu Lis, meski tak menggunakan langsung kata "ibu", lagu "Negeri di Awan" berkisah tentang seorang ibu. Majas-majas digunakan untuk menggambarkan mengenai ibu, membuat lagu ini indah sekali. Kami diminta untuk membahas bagian-bagian mana yang menggambarkan bahwa lagu ini merupakan sebuah lagu tentang ibu.

Setelah membahas lagu tersebut, kami diminta untuk menuliskan sebuah tulisan tentang "ibu" dengan menggunakan majas-majas yang telah kami pelajari. Tulisan-tulisan terbaik pun dibacakan di depan kelas.

Itu salah satu pelajaran yang paling berkesan sewaktu saya SMU. Terima kasih Bu Lis. :)

Dec 23, 2009

[Reposting dari fb] Obrolan di Akhir Pekan

Seminggu yang lalu, saya mengunjungi semacam sebuah bazar, tapi di sana banyak stand organisasi2x macam-macam. Kebanyakan organisasi lingkungan. Tapi saya lama terhenti di sebuah stan. Yakni stan Amnesty International (

Well, saya lama berhenti di stan itu bukan karena saya tertarik bergabung. Tapi gara2x sebuah obrolan dengan penjaga stan. Gara2x obrolan itu saya lama berbincang-bincang dengan penjaga stan.

Seperti biasa, penjaga stan menyapa saya,"Hi"
"Hi" sapaku sambil tersenyum
"Have you ever heard about the amnesty?" tanyanya, mencoba membuatku tertarik.

"Yes, I know JK Rowlings have worked there before."
"JK Rowlings, the one who wrote Harry Potter," kataku sambil mengingat-ingat bener gak yah. Hehe
"Realy? I didn't know that. I knew she funded the Amnesty a lot, but I never know she worked here"
"Yes, working in the amnesty was one of the things that inspired her to write Harry Potter. Some of her stories are about what she learnt from the amnesty. About people vanishing and much more. I read it from her speech in Harvard University
Graduation Day."
"Wow, I think I shall read Harry Potter once again" kata penjaga stan.Kami pun mulai berbicang2x tentang banyak hal termasuk kasus-kasus yang ditangani di organisasi itu. Saya bahakan ditawari untuk bekerja di sana. Haha.. Nanti dhe.. liat-liat.
Akhirnya saya pun berpamitan,"Nice to meet you." Penjaga stan itu tersenyum sambil melambai.
Hehe begitu ceritaku, btw ini tulisan di mana saya mengetahui bahwa JK Rowlings sempat bekerja di Amnesty dan tulisan2xnya dalam Harry Potter terinspirasi apa yang ia pelajari di Amnesty.

The Fringe Benefits of Failure, and the Importance of Imagination

June 5, 2008
J.K. Rowling, author of the best-selling Harry Potter book series, delivers her Commencement Address, “The Fringe Benefits of Failure, and the Importance of Imagination,” at the Annual Meeting of the Harvard Alumni Association.

Text as prepared follows.
Copyright of JK Rowling, June 2008

President Faust, members of the Harvard Corporation and the Board of Overseers, members of the faculty, proud parents, and, above all, graduates.

The first thing I would like to say is ‘thank you.’ Not only has Harvard given me an extraordinary honour, but the weeks of fear and nausea I’ve experienced at the thought of giving this commencement address have made me lose weight. A win-win situation! Now all I have to do is take deep breaths, squint at the red banners and fool myself into believing I am at the world’s best-educated Harry Potter convention.

Delivering a commencement address is a great responsibility; or so I thought until I cast my mind back to my own graduation. The commencement speaker that day was the distinguished British philosopher Baroness Mary Warnock. Reflecting on her speech has helped me enormously in writing this one, because it turns out that I can’t remember a single word she said. This liberating discovery enables me to proceed without any fear that I might inadvertently influence you to abandon promising careers in business, law or politics for the giddy delights of becoming a gay wizard.

You see? If all you remember in years to come is the ‘gay wizard’ joke, I’ve still come out ahead of Baroness Mary Warnock. Achievable goals: the first step towards personal improvement.

Actually, I have wracked my mind and heart for what I ought to say to you today. I have asked myself what I wish I had known at my own graduation, and what important lessons I have learned in the 21 years that has expired between that day and this.

I have come up with two answers. On this wonderful day when we are gathered together to celebrate your academic success, I have decided to talk to you about the benefits of failure. And as you stand on the threshold of what is sometimes called ‘real life’, I want to extol the crucial importance of imagination.

These might seem quixotic or paradoxical choices, but please bear with me.

Looking back at the 21-year-old that I was at graduation, is a slightly uncomfortable experience for the 42-year-old that she has become. Half my lifetime ago, I was striking an uneasy balance between the ambition I had for myself, and what those closest to me expected of me.

I was convinced that the only thing I wanted to do, ever, was to write novels. However, my parents, both of whom came from impoverished backgrounds and neither of whom had been to college, took the view that my overactive imagination was an amusing personal quirk that could never pay a mortgage, or secure a pension.

They had hoped that I would take a vocational degree; I wanted to study English Literature. A compromise was reached that in retrospect satisfied nobody, and I went up to study Modern Languages. Hardly had my parents’ car rounded the corner at the end of the road than I ditched German and scuttled off down the Classics corridor.

I cannot remember telling my parents that I was studying Classics; they might well have found out for the first time on graduation day. Of all subjects on this planet, I think they would have been hard put to name one less useful than Greek mythology when it came to securing the keys to an executive bathroom.

I would like to make it clear, in parenthesis, that I do not blame my parents for their point of view. There is an expiry date on blaming your parents for steering you in the wrong direction; the moment you are old enough to take the wheel, responsibility lies with you. What is more, I cannot criticise my parents for hoping that I would never experience poverty. They had been poor themselves, and I have since been poor, and I quite agree with them that it is not an ennobling experience. Poverty entails fear, and stress, and sometimes depression; it means a thousand petty humiliations and hardships. Climbing out of poverty by your own efforts, that is indeed something on which to pride yourself, but poverty itself is romanticised only by fools.

What I feared most for myself at your age was not poverty, but failure.

At your age, in spite of a distinct lack of motivation at university, where I had spent far too long in the coffee bar writing stories, and far too little time at lectures, I had a knack for passing examinations, and that, for years, had been the measure of success in my life and that of my peers.

I am not dull enough to suppose that because you are young, gifted and well-educated, you have never known hardship or heartbreak. Talent and intelligence never yet inoculated anyone against the caprice of the Fates, and I do not for a moment suppose that everyone here has enjoyed an existence of unruffled privilege and contentment.

However, the fact that you are graduating from Harvard suggests that you are not very well-acquainted with failure. You might be driven by a fear of failure quite as much as a desire for success. Indeed, your conception of failure might not be too far from the average person’s idea of success, so high have you already flown academically.

Ultimately, we all have to decide for ourselves what constitutes failure, but the world is quite eager to give you a set of criteria if you let it. So I think it fair to say that by any conventional measure, a mere seven years after my graduation day, I had failed on an epic scale. An exceptionally short-lived marriage had imploded, and I was jobless, a lone parent, and as poor as it is possible to be in modern Britain, without being homeless. The fears my parents had had for me, and that I had had for myself, had both come to pass, and by every usual standard, I was the biggest failure I knew.

Now, I am not going to stand here and tell you that failure is fun. That period of my life was a dark one, and I had no idea that there was going to be what the press has since represented as a kind of fairy tale resolution. I had no idea how far the tunnel extended, and for a long time, any light at the end of it was a hope rather than a reality.

So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was, and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeeded at anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena I believed I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had already been realised, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.

You might never fail on the scale I did, but some failure in life is inevitable. It is impossible to live without failing at something, unless you live so cautiously that you might as well not have lived at all – in which case, you fail by default.

Failure gave me an inner security that I had never attained by passing examinations. Failure taught me things about myself that I could have learned no other way. I discovered that I had a strong will, and more discipline than I had suspected; I also found out that I had friends whose value was truly above rubies.

The knowledge that you have emerged wiser and stronger from setbacks means that you are, ever after, secure in your ability to survive. You will never truly know yourself, or the strength of your relationships, until both have been tested by adversity. Such knowledge is a true gift, for all that it is painfully won, and it has been worth more to me than any qualification I ever earned.

Given a time machine or a Time Turner, I would tell my 21-year-old self that personal happiness lies in knowing that life is not a check-list of acquisition or achievement. Your qualifications, your CV, are not your life, though you will meet many people of my age and older who confuse the two. Life is difficult, and complicated, and beyond anyone’s total control, and the humility to know that will enable you to survive its vicissitudes.

You might think that I chose my second theme, the importance of imagination, because of the part it played in rebuilding my life, but that is not wholly so. Though I will defend the value of bedtime stories to my last gasp, I have learned to value imagination in a much broader sense. Imagination is not only the uniquely human capacity to envision that which is not, and therefore the fount of all invention and innovation. In its arguably most transformative and revelatory capacity, it is the power that enables us to empathise with humans whose experiences we have never shared.

One of the greatest formative experiences of my life preceded Harry Potter, though it informed much of what I subsequently wrote in those books.This revelation came in the form of one of my earliest day jobs. Though I was sloping off to write stories during my lunch hours, I paid the rent in my early 20s by working in the research department at Amnesty International’s headquarters in London.

There in my little office I read hastily scribbled letters smuggled out of totalitarian regimes by men and women who were risking imprisonment to inform the outside world of what was happening to them. I saw photographs of those who had disappeared without trace, sent to Amnesty by their desperate families and friends. I read the testimony of torture victims and saw pictures of their injuries. I opened handwritten, eye-witness accounts of summary trials and executions, of kidnappings and rapes.

Many of my co-workers were ex-political prisoners, people who had been displaced from their homes, or fled into exile, because they had the temerity to think independently of their government. Visitors to our office included those who had come to give information, or to try and find out what had happened to those they had been forced to leave behind.

I shall never forget the African torture victim, a young man no older than I was at the time, who had become mentally ill after all he had endured in his homeland. He trembled uncontrollably as he spoke into a video camera about the brutality inflicted upon him. He was a foot taller than I was, and seemed as fragile as a child. I was given the job of escorting him to the Underground Station afterwards, and this man whose life had been shattered by cruelty took my hand with exquisite courtesy, and wished me future happiness.

And as long as I live I shall remember walking along an empty corridor and suddenly hearing, from behind a closed door, a scream of pain and horror such as I have never heard since. The door opened, and the researcher poked out her head and told me to run and make a hot drink for the young man sitting with her. She had just given him the news that in retaliation for his own outspokenness against his country’s regime, his mother had been seized and executed.

Every day of my working week in my early 20s I was reminded how incredibly fortunate I was, to live in a country with a democratically elected government, where legal representation and a public trial were the rights of everyone.

Every day, I saw more evidence about the evils humankind will inflict on their fellow humans, to gain or maintain power. I began to have nightmares, literal nightmares, about some of the things I saw, heard and read.

And yet I also learned more about human goodness at Amnesty International than I had ever known before.

Amnesty mobilises thousands of people who have never been tortured or imprisoned for their beliefs to act on behalf of those who have. The power of human empathy, leading to collective action, saves lives, and frees prisoners. Ordinary people, whose personal well-being and security are assured, join together in huge numbers to save people they do not know, and will never meet. My small participation in that process was one of the most humbling and inspiring experiences of my life.

Unlike any other creature on this planet, humans can learn and understand, without having experienced. They can think themselves into other people’s minds, imagine themselves into other people’s places.

Of course, this is a power, like my brand of fictional magic, that is morally neutral. One might use such an ability to manipulate, or control, just as much as to understand or sympathise.

And many prefer not to exercise their imaginations at all. They choose to remain comfortably within the bounds of their own experience, never troubling to wonder how it would feel to have been born other than they are. They can refuse to hear screams or to peer inside cages; they can close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally; they can refuse to know.

I might be tempted to envy people who can live that way, except that I do not think they have any fewer nightmares than I do. Choosing to live in narrow spaces can lead to a form of mental agoraphobia, and that brings its own terrors. I think the wilfully unimaginative see more monsters. They are often more afraid.

What is more, those who choose not to empathise may enable real monsters. For without ever committing an act of outright evil ourselves, we collude with it, through our own apathy.

One of the many things I learned at the end of that Classics corridor down which I ventured at the age of 18, in search of something I could not then define, was this, written by the Greek author Plutarch: What we achieve inwardly will change outer reality.

That is an astonishing statement and yet proven a thousand times every day of our lives. It expresses, in part, our inescapable connection with the outside world, the fact that we touch other people’s lives simply by existing.

But how much more are you, Harvard graduates of 2008, likely to touch other people’s lives? Your intelligence, your capacity for hard work, the education you have earned and received, give you unique status, and unique responsibilities. Even your nationality sets you apart. The great majority of you belong to the world’s only remaining superpower. The way you vote, the way you live, the way you protest, the pressure you bring to bear on your government, has an impact way beyond your borders. That is your privilege, and your burden.

If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful, but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence, but thousands and millions of people whose reality you have helped transform for the better. We do not need magic to change the world, we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.

I am nearly finished. I have one last hope for you, which is something that I already had at 21. The friends with whom I sat on graduation day have been my friends for life. They are my children’s godparents, the people to whom I’ve been able to turn in times of trouble, friends who have been kind enough not to sue me when I’ve used their names for Death Eaters. At our graduation we were bound by enormous affection, by our shared experience of a time that could never come again, and, of course, by the knowledge that we held certain photographic evidence that would be exceptionally valuable if any of us ran for Prime Minister.

So today, I can wish you nothing better than similar friendships. And tomorrow, I hope that even if you remember not a single word of mine, you remember those of Seneca, another of those old Romans I met when I fled down the Classics corridor, in retreat from career ladders, in search of ancient wisdom:
As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters.
I wish you all very good lives.
Thank you very much.

Dec 21, 2009

Review Film: Not One Less

Bagi saya, film "Not One Less" adalah sebuah film yang cantik. Filmnya mengenai seorang guru pengganti di sebuah daerah rural di Cina. Ini bukan film tak mengambbarkan heroisme yang berlebihan dan ideal (seperti beberapa film-film holywood yang pernah saya tonton, tetapi lebih bersifat realistik, mengenai kondisi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Yang tentunya mengingatkan saya akan kondisi di Indonesia.


Guru yang asli di sekolah ini bernama Pak Guru Gao. Satu sekolah hanya ada satu guru. Hmm.. mengingatkan saya atas beberapa kondisi sekolah di tanah air.

Karena ada keperluan yang sangat mendesak, ibu dari Pak Guru Gao sedang sekarat. Tak ada pilihan lain ia harus meninggalkan sekolah selama 21 hari untuk mengurusi ibunya.

Mayor dari desa tersebut (mungkin semacam kepala desa) telah mencarikan seorang guru pengganti dari desa sebelah. Namanya Ibu Guru Wei Minzhi.

Ibu Guru Wei Minzhi bukanlah seorang guru profesional. Jangankan menjadi guru profesional, lulus SMU pun belum usianya, masih 13 tahun. Tapi Mayor desa mengatakan telah mencari guru pengganti kemana-mana dan tak ada yang mau mengajar di daerah terpencil. Ibu guru wei Minzhi satu-satunya pilihan yang ada.

"Cuma untuk satu bulan," kata sang mayor pada Pak Guru Gao.
Pak Guru Gao khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menanyakan Ibu Guru Wei mengenai kemampuan yang ia miliki.

"Saya bisa menyanyi," katanya walau ia hanya bisa menyanyikan satu lagu.
"Kamu tidak bisa mengajarkan satu lagu secara terus menerus selama 1 bulan," kata Pak Guru Gao.
"Apa lagi yang kamu bisa?" tanya Pak Guru Gao lagi.
Bu Guru Wei Minzhi terdiam. Bingung.
"Apa kamu bisa mencatat."

Bu Guru Wei pun mengangguk. Ia bisa mencatat. Maka Pak Guru Gao memberinya sebuah buku. Ia meminta Bu Guru Wei mencatat satu lembar dari buku tersebut ke papan tulis setiap harinya. Ia juga menerangkan cara kerja sekolah tersebut, kapan murid-murid harus pulang, apabila cuaca buruk, para siswa harus dipulangkan karena air sungai bisa meluap, dan sebagainya. Pak Guru Gao juga mengatakan bahwa saat mencatat, Ibu Guru wei harus menggunakan tulisan yang tidak terlalu kecil agar siswa bisa membaca tetapi tidak terlalu besar agar tidak boros (kapurnya).

"Satu hari maksimal satu kapur," kata Pak Guru Gao. Pak Guru Gao dan Bu Guru Wei pun menghitung jumlah kapur hingga jumlahnya tepat 21 biji.

Ternyata Mayor Desa telah menjanjikan agar Bu Guru Wei digaji sebesar 50 Yuan. Mayor berkata untuk meminta uang tersebut pada Pak Guru Gao.

"Selesaikan dulu tugasmu, baru kamu akan dibayar. Ada 28 murid di sini. Saat saya kembali saya mau tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Mayor Desa," kata Pak Guru Gao.

"Apabila Mayor desa tak membayarmu, saya akan membayarmu dengan 60 Yuan," tambah Pak Guru Gao.

Usia Ibu Guru Gao masih sangat muda, tidak beda jauh dengan murid-muridnya, ia tak memiliki pengalaman mengajar, pengetahuannya masih terbatas, belum lagi murid-muridnya ada yang bandel, tidak mau mendengarkan. Yang bisa ia lakukan hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Pak Guru Gao. Ia mencatat satu lembar dari buku yang diberikan Pak Guru gao ke papan tulis, meminta muridnya mencatat, meskipun murid-murid kesulitan saat mencatat ataupun ribut tak banyak yang bisa ia lakukan.

Ibu Guru Gao pun menunggu di depan pintu kelas, memastikan tidak ada muridnya yang pergi. Saat ia menunggu seorang murid perempuan mendatanginya sambil protes karena ia sedang mencatat tapi ada temannya yang ribut dan menganggunya sehingga ia tidak bisa mencatat.

"Ibu kan seorang guru, jadi lakukan sesuatu."
Ibu Guru Gao tidak tahu harus melakukan apa. Ia pun cukup keras kepala dengan mengatakan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Sampai akhirnya terdengar suara "gedubrak" dari dalam kelas.

Ibu Guru Wei menemukan sebuah meja jatuh di lantai kelas. Kotak kapur pun terjatuh di lantai.

"Siapa yang menjatuhkan meja?" tanyanya. Seorang anak menceritakan apa yang terjadi sambil menunjuk temannya yang menjatuhkan meja. yang menjatuhkan meja pun tak mau disalahkan ia mengatakan bahwa temannya mengejarnya dan menendang kakinya sehingga insiden itu terjadi.

Ibu Guru Wei meminta anak yang menjatuhkan meja untuk mengambil kapur. Anak tersebut tidak mau menuruti perintahnya. Ibu Guru wei mencoba memaksa anak tersebut memngambil kapur yang jatuh tapi yang terjadi malah kapur-kapur terinjak. Seroang murid perempuan berteriak memohon agar kapur-kapur tersebut tidak diinjak.

Itu insiden pertama, masih ada insiden-insiden lainnya. Di hari lain, saat Ibu Guru Wei sedang mengajarkan sebuah lagu (yang tampaknya ia karang sendiri) ke murid-muridnya di halaman sekolah, Mayor Desa dan beberapa orang lainnya datang untuk meminta seorang murid, yang katanya memiliki kemampuan berlari dengan sangat cepat, meminta murid ini untuk berlari dan kembali lagi. Mayor Desa ingin menunjukan bahwa murid ini sangat berbakat sehingga bisa disekolahkan ke sebuah sekolah atlet tingkat nasional.

Murid ini memang larinya cepat, "Besok saya akan bicara dengan orang tua murid ini. Saya akan menjemputnya untuk mengirimkannya ke sekolah atlet.

Ibu Guru Wei bersikeras bahwa muridnya tidak boleh dibawa kemana-mana. Keesokannya ia menyembunyikan murid (yang jago berlari ini) di suatu tempat. Terlepas dari apa yang Mayor Desa katakan, misalnya bahwa keputusan ini pasti disetuji oleh Pak Guru Gao, ini adalah kesempatan bagus, Ibu Guru wei tetap tak mau mengatakan dimana ia menyembunyikan muridnya.

Tak mampu meminta Ibu Guru wei menunjukkan dimana muridnya berada, ia merayu seorang murd lainnya dengan sedikit iming-iming uang untuk menunjukan di mana murid pelari tersebut berada.

Murid pelari tersebut ditemukan. Dan ia pun dibawa dengan sebuah kendaraan menuju kota lain. Ibu Guru Wei mengejarnya, sampai ia tak sanggup mengejar lagi.

Sekembalinya di kelas, suasananya ribut seperti biasa. Dua orang murid, seorang perempuan da seorang laki-laki sedang beradu mulut. Murid yang laki-laki telah mengambil diary murid yang perempuan. Ia pun membacanya di depan kelas. Bagian ini menurut saya merupakan bagian yang paling menyentuh. Begini isi diarynya:

Saya merasa sangat sedih, Dua hari yang lalu, Zhang Huike membuat masalah di kelas dan menjatuhkan sebuah meja. Kapur pun berjatuhan. Ibu Guru Wei meminta Zhang untuk mengambil kapur-kapur yang berjatuhan. Tapi ia tidak mau sampai kapur-kapur tersebut terinjak.

Ibu Guru Wei tidak menghargai kapur seperti halnya Pak Guru Gao. Pak Guru Gao selalu mengatakan bahwa sekolah kita tak punya uang sehingga kita tidak bisa membeli terlalu banyak kapur. Aku adalah ketua kelas. Saya tahu Pak Guru Gao tak akan membuang-buang kapur, bahkan kapur yang paling kecil.

Saya mengingat, suatu hari saya membuat sebuah potongan kapur yang sangat kecil ke pojok kelas. Pak Guru Gao melihatnya dan mengambilnya. Ia menggenggamnya diantara kedua jarinya dan menggunakannya untuk menulis satu karakter [Cina, semacam kata] lagi.

Kemarin, satu kotak kapur telah berubah menjadi sebuah kotak serpihan kapur berwarna hitam. Kalau Pak Guru Gao tahu ia pasti akan menjadi sangat sedih.

Insiden yang paling heboh yang terjadi adalah saat ada satu orang lagi muridnya, Zhang Huike yang menghilang. Berbeda dengan murid sebelumnya yang pergi karena akan disekolahkan di sebuah sekolah atlet tingkat nasional, Zhang Huike pergi untuk mencari kerja di kota. Ayahnya telah meninggal, ibunya terjerat hutang. Ia pergi ke kota.

Ibu Guru Wei mendatangi rumah Zhang Huike untuk meminta alamat temat Zhang akan tinggal di kota. Ia telah berniat mencari muridnya yang hilang. Ia tak punya uang untuk ke kota. Ia Mayor Desa mengantarnya ke kota tetapi ia tidak mau. Ia sibuk, begitu katanya.

"Berapa tiket bus untuk ke kota?" tanya Ibu Guru Wei ke seisi kelas.
"Satu Yuan," kata muridnya dengan polos. Satu Yuan untuk anak-anak (mirip kalau anak sekolah harus bayar angkot di Indonesia, harganya lebih murah).
Seorang murid mengatakan harganya 3 Yuan.
"Oke kalau begitu kita butuh uang sebesar 12 Yuan agar saya bisa ke kota untuk menjembut Zhang Huike," Ibu Guru wei pun berpikir, "Eh salah deng. Saya butuh 3 Yuan untuk pergi ke kota dan 3 Yuan untuk kembali, dan 3 Yuan untuk Zhang saat kembali ke sini"

Ia menanyakan apakah murid-muridnya ada yang memiliki uang untuk membantunya mencari Zhang. Ada beberapa uang yang terkumpul tapi tetap tidak cukup.

Seorang muridnya mengusulkan agar mereka bekerja memindahkan bata di sebuah pabrik. Bayarannya 1,5 cent untuk satu bata.

Ibu Guru Wei pun meminta muridnya berapa uang yang mungkin terkumpul bila mereka bisa memindahkan sebjumlah bata.

1 buah bata menghasilkan 1,5 cent
10 buah bata menghasilkan 15 cent
100 buah bata menghasilkan 150 cent
1000 buah bata menghasilkan 1500 cent
1500 cent sama dengan 15 yuan

"15 Yuan cukup untuk ke kota," kata Ibu Guru Wei, "Ayo kita mulai ke pabrik"

Para murid pun senang sekali harus keluar kelas. Bersama-sama mereka memindahkan bata-bata yang ada di pabrik (meski tanpa izin kepala pabrik). Mereka berhasil memindahkan 1500 bata (bukan 1000 seperti yang telah direncanakan)

Kepala pabrik pun marah-marah. Karena beberapa bata dipindahkan secara acak-acakan. ia mengatakan bahwa sebenarnya memindahkan 1000 bata hanya bisa menghasilkan 40 cent, bukan 15 Yuan seperti perhitungan mereka. Hanya saja, setelah mendengarkan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk menolong seorang murid yang hilang. Ia memberikan mereka 15 Yuan.

Anak-anak kehausan, dan mereka ingin minum. Ibu Guru Wei mengatakan karena mereka butuh 9 Yuan untuk pergi ke kota dan uang yang mereka miliki adalah 15 Yuan, sehingga mereka bisa menggunakan 6 Yuan sisanya untuk membeli minuman bersoda. Anak-anak pun pergi ke sebuah warung. Mereka sangat ingin mencicipi sebuah minuma bersoda karena mereka tidak pernah meminumnya dan tidak tahu apa rasanya. Satu kaleng soda berharga 3 Yuan. Ibu guru Wei membeli 2 kaleng soda. Para murid bergantian menyicipi sedikit minuman. Tidak ada yang rakus. Semuanya berbagi, mengharukan sekali. Bahkan mereka memikirkan, "Sisakan sedikit untuk Ibu Guru Wei," kata seorang murid.

Ibu Guru Wei bersama murid-murid pergi ke stasiun bus untuk memesan tiket. Ternyata harga tiket lebih mahal dari 3 Yuan.

Saat kembali ke kelas, Ibu Guru Wei mencoba memecahkan masalah ini dengan murid-muridnya. Ia menghitung berapa uang lagi yang harus dikumpulkan, berapa jumlah batu bata yang harus dipindahkan untuk mengumpulkan uang tersebut, hingga berapa waktu yang mereka butuhkan untuk memindahkan bata (dengan asumsi kemarin waktu mereka memindahkan 1500 bata mereka mereka membutuhkan waktu 2 jam).

Ibu Guru Wei bersama murid-muridnya mencoba memecahkan masalah ini bersama-sama. Semua serius memikirkan solusi untuk setiap perhitungan. Suasana kelas tidak kacau seperti saat ia pertama mengajar. Saya sangat menyukai adegan ini. Adegan ini menunjukkan bahwa saat sesorang (atau sekelompok orang) dihadapi pada sebuah masalah, proses belajar terjadi dengan sendirinya. Adegan ini juga menunjukkan bahwa saat murid memiliki suatu tujuan (kali ini tujuannya adalah untuk memungkinkan Bu Guru Wei pergi ke kota), mereka akan termotivasi untuk belajar tanpa diminta. Tanpa suatu tujuan, belajar akan bersifat meaningless (tidak berarti) daripada meaningful (berarti)

Perhitungan menunjukkan bahwa terlalu banya waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bata untuk menghasilkan uang yang mencukupi untuk pergi ke kota. Murid-murid mengusulkan untuk menyelundupkan Ibu Guru Wei ke dalam bus tanpa harus membayar. Usaha ini tak berlangsung dengan sukses, tapi akhirnya Bu Guru Wei berhasil menumpang sebuah kendaraan secara cuma-cuma.

Selanjutnya adalah perjalanan Ibu Guru Wei mencari muridnya yang hilang. Bagian ini silakan ditintin sendiri untuk melihat hasil akhirnya. Film ini ditutupi dengan sebuah adegan yang cantik. Detailnya.. Hmm lihat sendiri, yang pastinya berhubungan dengan kapur. (Jangan lupa ditonton filmnya).

Ada beberapa kesan yang film "Not One Less" ini tinggalkan pada saya. Saya senang melihat para murid dan guru berani mengungkapkan pendapatnya. Saya senang sekali melihat adegan saat murid-murid mencoba menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Seorang murid akan maju ke depan melakukan perhitungan. Saat murid yang maju melakukan kesalahan, misalnya salah eja atau salah perhitungan, temannya akan menunjukan kesalahan apa yang telah dibuat dengan cara yang baik, sehingga tak menyinggung perasaan. Adegan ini mengingatkan saya pada teorinya Vygotski bahwa interaksi sosial merupakan salah satu hal yang paling penting dalam perkembangan kognisi.

Film ini juga mengingatkan saya pada kondisi-kondisi yang tidak ideal di beberapa daerah tertentu, bukan hanya di Cina tetapi juga di Indonesia. Mungkin tak banyak muncul di media, tapi tampaknya masih banyak kondisi-kondisi sejenis ini yang ada di Indonesia. Satu guru mengajar di satu sekolah, kurangnya guru di daerah-daerah terpencil. BAnyak guru terbaik hanya berada di kota-kota atau pulau-pulau tertentu. Kondisi 'tidak ideal' ini mengakibatkan siapa saja dapat berubah menjadi guru, tak terkecuali orang-orang yang masih belum berpengalaman dah bahkan mungkin hanya lulus SD. Metode pun seadanya.

Tentu perlu diingat bahwa saya tidak bisa meng-underestimate guru-guru lulusan SD. Di Bogor, saya pernah bertemu guru-guru yang hanya lulus SD tapi metode yang mereka gunakan lebih canggih daripada guru yang sudah berkuliah di sekolah keguruan. Mereka tetap guru yang potensial, apalagi apabila diberi kesempatan untuk berkembang.

Film ini pun membuktikan bahwa seiring dengan proses yang ia hadapi dalam menjalani hari-harinya sebagai guru, Ibu Guru Wei pun mampu berproses menjadi guru yang lebih baik, dicintai, dan mampu menginspirasi murid-muridnya. Tanpa ia sengaja, ia menemukan metode belajar mengajar yang menarik (problem solving). Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang paling berkesan bagi saya adalah tulisan di diary seorang murid yang sedih karena ada kapur yang terbuang. Adegan ini mengingatkan saya bahwa seorang guru bisa meninggalkan kesan yang mendalam bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dengan mencotohkan bahwa kapur yang sekecil apapun tetap bernilai. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Guru Gao, satu serpihan kapur pun bisa digunakan untuk menuliskan satu karakter cina, sangat berharga untuk membantu proses belajar. Pak Guru Gao dengan sikapnya telah mencotohkan sendiri sifat menghargai, bersyukur, dan bersikap sederhana.

Film yang cantik ini sangat cocok ditonton oleh semua teman-teman guru dan praktisi pendidikan. Banyak yang bisa dipelajari dari film ini. Kalau sudah menonton. Jangan lupa tuliskan pendapatnya yah..

Oh ya film ini dapat ditonton di sini:

part 1:
part 2:
part 3:
part 4:
part 5:
part 6:
part 7:
part 8:
part 9:
part 10:
part 11:
part 12:

Sumber gambar :

Dec 7, 2009

Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

ENTAH tulisan ini mau digolongkan jenis tulisan apa, saya tidak peduli. Saya juga tidak ambil pusing kalau karena tulisan ini saya dan kawan-kawan dicap merengek-rengek, manja atau apa pun. Yang saya mau dengan tulisan ini hanyalah agar “yang empunya kuasa” di pusat kekuasaan, mau membuka mata dan hati untuk peduli pada kondisi real yang kami alami di pelosok Indonesia ini.

Saya adalah seorang guru pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD, NTT).

Cita-cita untuk menjadi guru yang kemudian menjadi kenyataan tampaknya sudah merupakan “warisan” dari ayah saya Aloysius Bulu Malo (alm) yang sampai akhir hayatnya tetap mencintai profesinya sebagai guru.

Tidak hanya itu, almarhum berhasil “menjerumuskan” kami enam orang anaknya untuk menjadi guru. Dengan demikian, yakinlah, profesi guru telah menjadi panggilan kami.

Jadi jelaslah, bahwa kepedulian yang saya maksud di atas bukanlah rengekan agar saya dan teman-teman guru dimanjakan dengan berbagai fasilitas atau gaji yang berlipat-lipat sehingga kami pun bisa patantang patenteng dengan aneka barang mewah.

Atau bukan agar kami bisa jalan-jalan alias pelesir ke kota-kota besar untuk mencari hiburan seperti yang kerap kali dipertontonkan oleh para wakil rakyat.

Tidak! Bukan itu!

Saya ingin kita realistis dengan situasi bangsa ini yang masih merayap-merangkak, dalam hal ini di bidang pendidikan. Bahwa ada daerah atau sekolah tertentu yang sudah mengalami kemajuan luar biasa dalam pendidikan, tak bisa disangkal. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih sangat banyak daerah atau sekolah yang situasinya sangat memprihatinkan dalam berbagai segi.

Tahun lalu saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMK di Kecamatan Kodi, SBD, NTT.

Semoga saya saja yang apes! Saya kebagian mengajar murid-murid yang pengetahuan Bahasa Inggrisnya sangat menyedihkan. Jangankan berbicara soal tenses atau grammar meski yang paling sederhana. Kemampuan mereka dalam menguasai bilangan 1 sampai 20 atau huruf A sampai T saja sangat menyedihkan.

Saya lalu merasa berada di persimpangan: mau ikut kurikulum atau ikut anak. Ikut tuntutan kurikulum berarti menutup mata dengan kondisi anak. Ikut kondisi anak, berarti menelantarkan kurikulum. Contoh ini baru menyangkut Bahasa Inggris. Nasib yang sama dialami oleh para guru mata pelajaran lain.

Guru Masak di Bawah Pohon

Karena sekolah ini baru dua tahun berdiri, para guru di sini masih tergolong muda atau fresh graduate. Mereka adalah sarjana dari beberapa universitas baik di Jawa maupun dari universitas di NTT sendiri. Semangat guru-guru muda ini masih besar dan bahkan menggebu-gebu.

Karena itu, meskipun sangat tidak kondusif, saya dan teman-teman menuruti anjuran Kepala Sekolah agar kami tinggal di kompleks sekolah. Sang kepala sekolah khawatir, jika kami ngelaju dari rumah masing-masing, akan banyak tugas yang terganggu sebab kami menempuh jarak yang cukup jauh.

Tentu saja, pemenuhan terhadap ajakan Kepala Sekolah bukan tanpa risiko. Jangan membayangkan kami tidur nyaman di atas spring bed. Jangan juga pikir kami akan menyediakan atau mengolah makanan dengan peralatan dapur modern berikut air kran yang bisa mengalir setiap saat. Percaya atau tidak, kami sangat jauh dari itu semua.

Mungkin para pejabat di Jakarta tidak percaya bahwa kami para guru harus tidur di ruang kelas beralaskan kursi atau bangku siswa. Mungkin, sulit juga dipercaya bahwa karena tidak ada dapur, kami harus masak dengan kayu bakar di bawah pohon.

Beberapa kali terjadi, saat priuk nasi sedang duduk santai di atas batu tungku dan baru mendidih, tiba-tiba hujan. Kami harus buru-buru mengangkat priuk untuk dilarikan ke teras sekolah padahal nasi dalam priuk belum matang. Sambil menahan perut lapar, kami hanya bisa mengurut dada sebab beras pasti gagal menjadi nasi.

Saya khususnya, memang terbiasa hidup dengan fasilitas yang terbatas. Tapi keadaan tersebut sangat “extraordinary”. Kami hidup tanpa listrik, air jauh, dan kerap kali sangat terganggu oleh pencuri.

Yang paling banyak berpesta dengan keprihatinan kami adalah nyamuk. Dan siapa pun tahu, Sumba adalah sarang nyaman bagi nyamuk malaria. Hampir pasti, setiap hari ada orang yang meninggal akibat sakit malaria.

Nah, bagaimana mau mengharapkan hasil Ujian Nasioanl (UN) yang kompetitif dari situasi ini? Kami bukan tidak mau berjuang. Bahwa bersedia tidur di sini dan hidup “terlantar”, ini sudah perjuangan meski belum seberapa. Namun perjuangan yang belum seberapa ini sudah cukup memberi gambaran bahwa kondisi real kami sama sekali tidak bisa disamakan dengan kondisi real yang ada di tempat lain, Jakarta misalnya.

Penentuan standar kelulusan yang sama secara nasional berikut soal atau bobot soal yang sama untuk semua siswa dan sekolah dalam kondisi apa pun di seluruh Indonesia, merupakan bentuk konkret paling jelas dari penyamarataan secara membabibuta. Belum lagi soal pembebasan sekolah dari hak menentukan kelulusan. Di mata saya, penyamarataan ini jelas merupakan sebuah penghinaan di satu sisi dan penyiksaan di sisi lain.

Ya, penghinaan bagi siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di Jakarta karena kemampuan atau kecerdasan mereka disamakan dengan siswa di pelosok. Lalu menjadi siksaan tak berperikemanusiaan bagi siswa di pelosok-pelosok karena mereka dipaksa memiliki kemampuan yang sama dengan teman-teman mereka yang beruntung di Jakarta.

Jadi, dari hati yang paling dalam, mohon kiranya para pengambil keputusan sekali-sekali turun langsung melihat sendiri kondisi yang ada. Saya khawatir, prinsip menunggu laporan masih sangat menguasai para pejabat di bidang ini. Akibatnya, keputusan diambil berdasarkan laporan yang tidak akurat.

Kalau sudah melihat sendiri dari dekat, pasti merasakan denyut yang ada. Dari sini akan muncul keputusan yang lebih bijak.

Kalau pun nanti UN tetap diberlakukan, ia bukan penentu kelulusan. UN bisa dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana kemajuan yang terjadi pada sebuah daerah. Dari situ dilakukan perbaikan yang sifatnya kontekstual.

Leonardus Dapa Loka

Penulis adalah seorang guru di Sumba Barat Daya, NTT, alumni Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa, Yogyakarta

Sumber: Milis KGI