Nov 29, 2013

Mempelajari Bagaimana Siswa Kelas 5 BIS Belajar Inquiry dengan Mempelajari Rumah Mentari

Kemarin saya mampir ke Bandung International School (BIS). Ceritanya,  siswa-siswa kelas 5 BIS sempat belajar mengenai Rumah Mentari, sebuah Rumah Belajar di mana saya merupakan salah seorang pendirinya. Hasil pemahaman anak-anak mengenai Rumah Mentari ditampilkan dalam bentuk poster. Poster ini dibuat berkelompok oleh siswa-siswa kelas 5 BIS. Kegiatan tersebut adalah bagian dari pelajaran Information Literacy (IL).  Kegiatan ini merupakan bagian untuk mengajarkan anak-anak mengenai proses inquiry, bagian dari pembelajaran mereka menganai Information Literacy (IL). Di BIS, siswa-siswanya memang wajib belajar IL. Yang mengajar IL adalah pustakawan BIS, yang bernama Mbak Any. 

Saya datang ke BIS untuk melihat karya-karya siswa kelas 5 tersebut. Saat saya datang, siswa kelas 5 sedang mengadakan ekskursi ke tempat lain, sehingga saya tidak bisa bertemu dengan para siswa. Namun, saya tetap bisa melihat-lihat poster tersebut.Mbak Any menemani saya melihat semua karya siswa yang mereka buat mengenai Rumah Mentari. Sebelum lanjut tentang kegiatan belajar siswa kelas 5 BIS mengenai Rumah Mentari, saya akan ceritakan sedikit mengenai Mbak Any.

Saya mengenal Mbak Any sejak lama. Mungkin sekitar 2006. Mbak Any jugaberperan dalam perpustakan di Rumah Mentari pada tahun 2007. Dia mengenalkan pengurus Rumah Mentari pada beberapa orang yang turut menyumbangkan buku dan lemari. Mbak juga membantu mengajari beberapa anak Rumah Mentari cara menyusun buku, melakukan labelling, serta mencatat alur keluar masuk buku. Itu sudah lebih dari 6 tahun yang lalu. 

Mbak Any mengajarkan anak-anak Mentari mengenai cara mengurus perpustakan (2007)

Belakangan saya kembali berjumpa dengannya. Beberapa bulan yang lalu dia teringat akan Rumah Mentari dan menyempatkan mampir. Semenjak itu Mbak Any kembali aktif berkegiatan di Rumah Mentari. Mengajari anak-anak cara merapikan dan menyusun buku, membacakan cerita untuk anak-anak di hari Minggu, atau sekadar membantu mencarikan tempat sampah yang bisa digunakan di Rumah Mentari. Sekalian membantu Rumah Mentari, Mbak Any juga berniat untuk mengajak siswa-siswanya belajar mengenai Rumah Mentari. Selain itu siswanya juga akan belajar caranya memilah informasi, mengolah data, dan sebagainya. Untuk itu, Mbak Any harus menyiapkan proses scaffolding untuk siswa kelas 5. Scaffolding adalah cara-cara untuk membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman sebelumnya. Biasanya dilakukan dengan menyiapkan pertanyaan, menyiapkan tahapan-tahapan pembelajaran. Apa saja yang bisa dipersiapkan sehingga membantu siswa untuk punya pemahaman baru tentang Rumah Mentari, juga mencari dan mengolah informasi? Mbak Any harus menyiapkan tahapan-tahapan tersebut

Sebelumnya Mbak Any telah mewawancarai Bu Dewi, saya, dan Hipna. Bu Dewi dan saya adalah dua diantara pendiri Rumah Mentari yang lain. Pendiri yang lain adalah Pak Lala, Anug, Angga, Arfah, dan Ima. Sedangkan Hipna, yang juga diwawancarai, adalah siswa Rumah Mentari yang pertama kali dan terus berkegiatan di Rumah Mentari sampai sekarang. Hipna belajar di Mentari ketika sekitar 15 tahun. Sekarang, Hipna  menjadi koki di Wisma Joglo. Di waktu senggang dia juga ikut menajar anak-anak Mentari yang lebih muda. Belum lama ini dia mengajar anak-anak Mentari membuat gado-gado. 

Pada suatu malam, saya, Bu Dewi, dan Mbak Any pergi ke Wisma Joglo untuk bertemu Hipna yang sedang bekerja. Di sanalah wawancara dilakukan.  Dibantu oleh anaknya, Mbak Any mewawancarai kami bertiga lalu dijadikan video pendek yang ditonton di kelas.  Siswa-siswa kelas 5 BIS menonton video tersebut.

Di kelas anak-anak diminta berdiskusi mengenai video tersebut. Apa yang bisa ditangkap dari video tersebut? Apa yang bisa dipelajari? Dan seterusnya.

Mereka lalu diminta untuk mencari lebih banyak data tentang Rumah Mentari. Karena itulah selama beberapa waktu, saya sempat mendapatkan email-email dari siswa kelas 5, berupa pertanyaan tentang Rumah Mentari ataupun mengenai para pendiri Rumah Mentari.  Data apapun yang terkumpul, foto, video, jawaban-jawaban dari email dikumpulkan lalu mereka merangkumnya dalam sebuah poster. 

Setelah itu, mereka mengundang beberapa kakak-kakak Rumah Mentari dan mempresentasikan poster mereka. Hipna juga datang. Saat itu saya tidak bisa datang jadi hanya dapat kiriman foto dan cerita dari kakak-kakak Mentari yang lain. Untuk mengganti ketidakhadiran saya waktu itu maka kemarin saya datang ke BIS. 
Kakak Mentari berkunjung ke BIS untuk mendengarkan presentasi siswa kelas 5 BIS
Kegiatan Presentasi Poster

Ternyata bukan hanya membuat poster, siswa-siswa sempat membahas isu mengenai ketidakadilan. Termasuk bahwa tidak setiap anak memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Belajar mengenai Rumah Mentari adalah salah satu cara mereka belajar tentang ketidakadilan. Di awal pendiriannya dulu, Rumah Mentari memang sempat menangani anak-anak yang putus sekolah dan hamper menganggur. Banyaknya anak yang putus sekolah, atau tidak memperoleh pendidikan adalah salah satu bentuk dari ketidakadilan yang dialami anak-anak. Mungkin ini alasannya Mbak Any memilih Rumah Mentari sebagai salah satu jalan untuk memperkenalkan kepada anak-anak mengenai ketidakadilan.

Setelah berdiskusi mengenai ketidakadilan siswa-siswa kelas 5 BIS diminta membuat semacam patung. Saya lupa bahannya dari apa, mungkin tanah liat. Mereka kemudian diminta membuat tulisan beberapa kalimat saja untuk menggambarkan patung tersebut merepresentasikan apa. Saya ikut melihat-lihat beberapa patung. "Belum semua anak bisa melakukan analisis secara mendalam (mengenai isu ketidakadilan), tapi ya gak papa. Namanya juga anak-anak. Ini kan bagian dari proses," kata Mbak Any padaku saat saya sedang melihat patung karya siswa serta membaca keterangannya. Mungkin dia ingin mengingatkan saya bahwa karya siswa tak selalu harus sempurna layaknya seorang ahli. Mereka masih dalam proses belajar. 


Salah satu patung karya Siswa kelas 5 BIS


Tak lupa siswa-siswa kelas 5 BIS membuat refleksi terhadap proses pembelajaran. Apa yang mereka pelajari? Bagaimana perasaan mereka saat belajar? Setiap anak menuliskan beberapa kalimat refleksi di atas sebuah karton kuning.

Refleksi Siswa kelas 5 BIS terhadap proses pembelajaran mengenai Rumah Mentari

Mbak Any  kemudian mengajak saya mengambil beberapa poster untuk ditempel di Rumah Mentari. Setelahnya kami bersama-sama menuju Rumah Mentari untuk menaruh poster sekaligus makan. Hipna menyiapkan beberapa masakan berupa jengkol, ikan mas (yang baru diambil dari kolam ikan), daun genjer, daun katuk, daun singkong, dan daun papaya (semuanya dari kebun), tempe goreng serta sambal. Di perjalanan kami membicarakan banyak hal termasuk mendiskusikan bagaimana dulu saya dan Mbak Any akhirnya bertemu. Kapan kami bertemu dan di mana? Kami berdua punya versi yang berbeda-beda mengenai pertemuan awal kami. Berlanjut….

Nov 25, 2013

Refleksi Setelah Menonton Film "Sokola Rimba": Mengingat Pertentangan Batin Para Pendidik


Menonton film Sokola Rimba, mengingatkan saya pada  pengalaman pertama  ketika membaca buku Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba karya Butet Manurung (waktu baru diterbitkan oleh Insist Press).

Yang paling saya ingat dari buku itu, bukan kegiatan-kegiatan Butet mengajar di Rimba, tapi malah pertentangan-pertentangan batin yang dihadapi Butet ketika harus menghadapi berbagai pilihan-pilihan yang kompleks.

Awalnya Butet mengajar anak-anak Rimba karena bekerja pada sebuah LSM Lingkungan. Meskipun LSM itu menghanarkan Butet untuk mengenal anak-anak Rimba, ternyata ada perbedaan visi antara Butet dengan LSM tersebut.

Butet ingin mengajar anak-anak Rimba sampai ke bagian hilir. LSM tersebut hanya menginginkan Butet mengajar sampai daerah hulu. Butet ingin anak-anak Rimba bisa belajar baca tulis agar mereka tidak mudah diperalat oleh orang luar (yang menganggap diri lebih modern). Pendidikan yang dijalankan di hulu selama ini masih belum cukup untuk melindungi orang Rimba dari berbagai tantangan yang mereka hadapi. Si sisi lain, LSM tempat Butet bekerja merasa pendidikan yang selama ini sudah berjalan sudah cukup baik. Apa masalahnya? Butet gelisah karena  melihat apa yang dihadapi oleh orang Rimba. Hutan tempat mereka biasa mencari penghidupan dijadikan Taman Hutan Nasional sehingga tak boleh lagi digunakan oleh Orang Rimba untuk berburu dan berladang. Namun, perusahaan boleh masuk, merusak hutan dan mengubahnya menjadi perkebunan sawit. LSM tempatnya bekerja, meskipun tahu fakta yang terjadi, menutup mata terhadap persoalan-persoalan tersebut.

Intinya, ada perbedaan visi antara LSM tempat Butet bekerja dan visi pribadinya agar "pengetahuan menjadi senjata" bagi orang-orang Rimba. Butet, memilih untuk keluar. Meskipun tak digambarkan secara jelas dalam film Sokola Rimba garapan Mira Lesmana dan Riri Reza, dalam bukunya, digambarkan bahwa Butet mengalami kegalauan akut selama beberapa waktu. Dia lantang luntung tidak tahu mau apa, merasa sendiri, dan sangat jatuh.

Meski akhirnya, Butet dan teman-temannya bisa kembali ke Rimba dan mendirikan Rumah Sokola, ada masanya ketika dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi konflik batin tidak pernah mudah.

Dalam berbagai bentuk lain, pertentangan batin semacam itu rasanya sering saya dengar di kalangan pendidik, khususnya guru di sekolah formal. Inginnya pendidikan berpihak pada anak, tapi kondisi memaksa pendidikan yang lebih berpihak pada kepentingan yayasan atau nama baik sekolah. Maunya proporsi penilaian siswa sebagian besar  didasarkan pada berbagai tugas harian dan karya, tapi sistem memaksa proporsi penilaian terbesar didasarkan pada nilai Ulangan Umum Bersama ataupun Ujian Nasional (UN). Maunya tidak sibuk dengan urusan birokrasi tapi fokus pada kegiatan pembelajaran, faktanya tugas birokrasi tak ada habis-habisnya.  Ini bukan hanya terjadi di satu dua sekolah tapi justru terjadi secara masal di berbagai sekolah.

Kalau menurut film (maupun buku) Sokola Rimba, Butet memilih untuk keluar dari LSM tempatnya bekerja, lantang luntung sementara, lalu membuat suatu gerakan baru bersama-sama teman-temannya bernama Ruma Sakola. Dalam konteks pertentangan batin guru, apa yang bisa dilakukan? Keluar dari sistem yang ada dan membuat sistem baru? Memilih tetap di dalam sistem tapi memanfaatkan kelemahan sistem yang ada? Melakukan perlawanan? Atau diam saja? Ntahlah!

---
PS : Selamat hari guru untuk semua teman-teman guru! Semoga kita semua bisa menentukan pilihan yang paling bijak dalam menghadapi berbagai pertentangan batin ketika berhadapan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini!

Nov 19, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 3) : Sharing di KNGB tentang "Ketika Guru Mengaku Tak Lebih Tahu"



Tulisan ini adalah lanjutan dari posting "Perjalanan ke Surabaya yang Menakjubkan (Bagian 2) : Sharing di KNGB tentang "Setiap Siswa Punya Cerita"

Saya melanjutkan presentasi saya di KNGB 2013 dengan menceritakan sebuah pengalaman menarik ketika saya menjadi asisten trainer-nya Ibu Aulia Wijiasih untuk pelatihan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kuala Kapuas, bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kalimantan Tengah.

Salah satu sesi, kami membahas tentang berbagai kegiatan ekonomi yang ada di dalam hutan. Peserta diminta membuat daftar berbagai kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang terjadi di dalam hutan. Salah satu kelompok mendiskusikan tentang produksi kapal. Kurang lebih begini diskusinya (saya agak lupa detilnya).

 "Kapal dibuat di dalam hutan," kata seorang peserta, "Jadi salah satu kegiatan produksi yang terjadi di dalam hutan adalah pembuatan kapal."

Saya ikut mendengarkan diskusi tersebut lalu mencoba menanggapi, "Oh yah? Kapal dibuat di hutan? Kok bisa."

"Ya memang iya," kata seorang peserta,"Kapal yang dari kayu."

"Oh, bukankah kayunya diambil lalu dijadikan kapal di kota?" tanya saya.

"Bukan lah! Kayu diambil dari dalam hutan, lalu dijadikan kapal. Setelah jadi, kapal langsung dialirkan melalui sungai. Jadi lebih mudah distribusinya," kata peserta.

Karena saya berasal dari kota dan hanya bersentuhan dengan hutan ketika sedang berlibur (itupun jarang-jarang) pengetahuan saya tentang hutan memang lebih terbatas dibandingkan beberapa peserta yang memang tinggal tak jauh dari hutan, atau kenal orang-orang yang bekerja di hutan. Saya mengakui hal ini kepada peserta dan berkata, "Wah menarik yah! Saya baru tahu kalau kapal dibuat di hutan. Saya pikir kayunya dibawa ke luar dan baru dibuat di luar hutan kapalnya."

Peserta tampak berbinar-binar ketika tahu bahwa saya, yang saat itu menajdi fasilitator, tak lebih tahu daripada mereka. Ternyata bukan hanya itu, ada juga perasaan bangga karena mereka punya pengetahuan yang tidak diketahui oleh saya, selaku fasilitator. Saat mereka harus mempresentasikan hasil diskusi mereka kepada peserta yang lain, seseorang berkata, "Kalau di Kalimantan, salah satu kegiatan produksi yang dilakukan di dalam hutan adalah membuat kapal. Ternyata, Mbak Puti belum pernah dengar kalau kapal dibuat di hutan. Tapi memang begitu. Kapal dibuat di hutan lalu setelah jadi, kapalnya didistribusikan melalui sungai."

Saya ingat, ada rasa bangga ketika mengatakan, "Ternyata Mbak Puti belum pernah dengar..."

Kadang siswa, di sekolah juga, punya banyak pengetahuan-pengetahuan yang berharga tapi karena lingkungan sekitar, juga guru, tak menganggapnya berharga, mereka juga ikut-ikut merasa bahwa pengetahuan mereka tidak berharga.

Ada cerita lain, yakni ketika saya mengajar sekelompok ibu-ibu mengenai energi. Ketimbang mulai dari teori-teori tentang energi, dari mana asalnya, sistem konversi energi, dan sebagainya. Saya mengajak mereka mendiskusika berbagai cara mereka menghemat energi. Bukannya teori tidak boleh disampaikan, tapi dengan mengajak mereka berdiskusi dari hal-hal yang dekat dengan mereka, mereka bisa lebih berelasi terhadap topik yang dibahas. Setelah itu pembahasan boleh mulai menjadi lebih mendalam. Mereka bisa diajak mengenal asal-usul energi yangada di rumah mereka dan seterusnya. Setelah ibu-ibu berbagi tentang cara mereka menghemat energi saya berkata,"Wah ibu banyak tahu tentang cara-cara menghemat energi. Beberapa contoh yang ibu sebutkan, sebenarnya juga ada di buku-buku. Anak sekolah saja belum tentu tahu."

Seorang ibu menatap saya dengan mata berbinar-binar, "Oh ya?"

Ibu tersebut belum lulus SMP. Saya bisa melihat matanya yang senang karena ternyata apa yang diketahuinya dianggap berharga.

Walaupun idealnya hubungan siswa dan guru seharusnya demokratis, kenyataannya tidak selalu begitu. Seringkali siswa merasa posisinya tak setara dengan guru. Guru lebih tahu, guru lebih paham. Seringkali juga, guru berada dalam posisi lebih dibandingkan siswa, lebih tahu, lebih punya kuasa. Meskipun begitu, sesungguhnya tak ada salahnya guru mau berendah hati. Ada banyak hal yang mungkin lebih diketahui oleh siswa sehingga tak ada salahnya guru mengakui bahwa dia tidak tahu. Apakah di dalam kelas ada waktu bagi guru untuk mengeksplorasi apa yang siswa ketahui. Lalu, melalui diskusi, apa yang siswa ketahui bisa dihubungkan dengan apa yang siswa lain ketahui, juga apa yang guru ketahui sehingga bersama-sama, semua belajar membentuk pengetahuan yang baru sama sekali. Pengetahuan yang hanya terbentuk ketika dialog terjadi. Antara siswa dan siswa, guru dan siswa, juga antara siswa dan guru. Dialog seperti ini hanya bisa terjadi ketika guru mau mengakui bahwa kadang-kadang, atau bahkan sering, dia tidak selalu menjadi yang paling 'tahu'.

Saya menutup cerita ini dengan sebuah pernyataan. Beginilah pernyataanya :

"Siswa tak selalu menyadari bahwa pengetahuan mereka penting, tugas pendidiklah untuk membuat mereka sadar bahwa apa yang mereka ketahui berharga. Melalui dialog, pengetahuan mereka akan berkembang sehingga memiliki nilai tambah, serta menjadi sesuatu yang lebih bermakna"

Nov 16, 2013

Ketika Bapak Memilih untuk Tidak Marah

Kayaknya kedua orang tua saya jantungan sekali saat saya dan adik saya (yang  usianya hanya satu tahun lebih muda dari saya) menginjak SMP dan SMA. Kami berdua, sekolahnya gak ada yang benar. Ketika SMP, nilai rapor kami dipenuhi angka-angka berwarna merah, jumlahnya bisa 4 sampai 5 angka merah. Nilainya 5 atau 4. Di rapor! Kalau sampai caturwulan  (waktu itu belum sistem semester) terakhir, nilai kami masih begitu, dipastikan kami harus tinggal kelas. Saya termasuk yang beruntung. Caturwulan terakhir, merah saya tinggal dua. Hal ini berarti saya bisa naik kelas, tapi tidak begitu dengan adik saya.

Saya lupa berapa nilai-nilai adik saya, yang jelas sesampai di rumah saya temukan adik saya yang waktu itu kelas 1 SMP menangis tersedu-sedu di kamarnya. Dia tidak naik kelas.

Bapak saya, sebenarnya galak juga. Kalau kami tidak bisa matematika misalnya, bukannya dibimbing, kami malah akan dimarahi. Bapak saya termasuk orang yang menganggap matematika adalah pelajaran paling penting sedunia.

Setelah saya dan adik saya kini dewasa, bapak saya sempat bercerita tentang kasus tersebut. Kasus saat adik saya tidak naik kelas. "Dulu bapak mau marah. Kamu sih tidak belajar!" katanya,"Tapi mamamu menahan-nahan bapak supaya tidak marah. Salah satu teman dekat bapak, justru meminta bapak untuk berbicara baik-baik dengan adikmu. Jadi begitulah, bapak ajak adikmu berjalan-jalan sambil memberi nasihat. Orang yang sukses itu justru bukan orang yang tidak pernah gagal tapi orang yang setelah gagal bisa bangkit lagi."

Adik saya meneruskan hidupnya dengan baik. Dia jago sekali matematika. Di kemudian hari nilai matematikanya hampir selalu 10 meskipun pelajaran lain seperti ekonomi bisa 4. Ketika S1 sempat mendapatkan tawaran beasiswa di luar negeri. Dia juga lulus kuliah paling cepat diantara teman-teman seangkatannya (katanya tidak suka sekolah, jadi ngapai kuliah lama-lama?).

Karena pengalaman-pengalamannya yang tidak menyenangkan di sekolah dia juga sempat suka sekali membaca-baca buku bertema unschooling dan deschooling. Pokoknya anti sekolah deh! Sekarang kebenciannya terhadap sekolah sudah berkurang. Dia akhirnya sempat melanjutkan S2 di bidang enterpreneurship.

Ketertarikannya untuk belajar tidak pernah berkurang, semangat hidupnya juga. Dia selalu ingin belajar hal baru, melihat hal baru, mencoba hal baru. Ntah apa yang terjadi kalau dulu bapak saya malah memarahinya habis-habisan ketika tidak naik kelas. Mungkin akan lain ceritanya. Saya bersyukur sekali, setidaknya kedua orang tua saya, adik saya kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Berbuat salah tidaklah apa-apa asalkan kami mau bangkit dan belajar menjadi lebih baik lagi.

Nov 11, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 2) : Sharing di KNGB tentang "Setiap Siswa Punya Cerita"


Setelah memperkenalkan diri dan berbagi visi pribadi tentang pendidikan, saya melanjutkan presentasi dengan memperlihatkan sebuah gambar di bawah ini :

karya dua siswa kejar paket B tentang hidup mereka
Penelitian Dhitta Puti Sarasvati (2008)

Tahun 2008, saya melakukan penelitian di sebuah program Kejar Paket B (setingkat SMP) di Bogor. Siswanya sudah dewasa, biasanya sudah bekerja. Saat itu saya meminta masing-masing siswa menceritakan kisah hidup mereka sampai akhirnya mereka berakhir di program kejar Paket B. Kenapa mereka memilih untuk 'sekolah lagi'? Bagaimana kisah hidup mereka? Bagaimanakah proses pendidikan yang mereka dapatkan ketika masih muda?

Kedua gambar di atas adalah gambar dari dua orang siswa yang saya wawancarai. Gambar tersebut merepresentasikan kisah hidup mereka sampai mereka akhirnya bersekolah di program kejar paket B. 

Gambar di kiri adalah gambar seorang bapak yang bekerja sebagai tukang ojek. Dulu dia memang sempat bersekolah, SD dan SMP. Tepat sebelum keluar SMP dia putus sekolah. Alasannya? Dia terlalu sering membolos. Tak jauh dari rumahnya ada tempat di mana orang-orang sering melakukan kegiatan terjun payung. Dia senang sekali melihat orang melakukan terjun payung dan rela bolos sekolah untuk menonton kegiatan tersebut tapi itu menyebabkannya putus sekolah.

Setelah putus sekolah dia bekerja serabutan termasuk jadi tukang bangunan. Dia punya abang yang bekerja di gedong,tempat orang yang memiliki rumah bagus. Abangnya kemudian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain. Dia diminta menggantikan abangnya bekerja di gedong. Gedong tersebut berada di Jakarta. 

Dan di sanalah dia memulai hidup baru. Bekerja membersihkan rumah, mencuci mobil, dan sebagainya. Bos, pemilik gedong  punya seorang anak. Bapak ini kemudian diminta menemani anak tersebut ke mana-mana. Semacam body guard. Dia menemani anak tersebut makan, berpergian, dan ke mana-mana. Karena sering berpergian dia mulai hafal jalan-jalan di Jakarta. Dia juga sempat les menyetir meskipun tidak selesai. 

Tahun 1998, muncul krisis moneter. Bos-nya yang tadinya mempunyai uang banyak mulai mengalami kebangkrutan. Akibatnya dia tidak bisa bekerja di gedong tersebut lagi. Bos-nya sempat mau membantunya mencari pekerjaan, tapi karena dia bahkan tidak memiliki ijazah SMP, dia sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Dia pun menyesali 'kebandelannya' selama SMP.  

Meskipun begitu, dia tetap memperoleh pekerjaan. Jadi semacam 'kuli' di Tanjung Priok. Uang yang dia kumpulkan ia gunakan untuk menyicil motor. Dan dia pun kembali ke kampungnya di Bogor. Di sana dia mulai mengojek sekaligus membuka pangkalan ojek. "Modal saya untuk membuka pangkalan ojek hanya keberanian. Saya cari tongkrongan dan menawarkan jasa ojek," begitu katanya. Dia ingin sekolah lagi agar bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. 

Mungkin bapak tersebut memang sempat putus sekolah. Tapi pengalaman hidupnya, meskipun berat, sangat kaya. Dia terus belajar dengan menekuni pekerjaannya. Misalnya, dia belajar mengenal jalan-jalan di Jakarta. Dia juga mempunyai jiwa enterpreneurship dibuktikan dengan keberhasilannya membuka pangkalan ojek.

Di sebelah kanan ada gambar siswa yang lain. Dia adalah perempuan, guru di TPA. Sebenarnya dia sudah lulus SMU tapi suatu insipden menyebabkan ijazahnya robek-robek. Dia tidak punya ijazah lagi dan rela ikut kejar paket B untuk memperoleh ijazah kembali. Lagipula dia senang belajar lagi, Gakpapa belajarnya ngulang. Karena dia tinggal dekat sebuah kampus, dia sering membaca pamlet-pamflet dan segala poster yang ada di sekitar kampus. Kalau ada acara kampus seperti pertunjukan musik, diskusi buku, dia akan menyelip dan ikut. Dengan bangga dia menceritakan bahwa dia pernah mendapatkan buku gratis waktu mengikuti salah satu bedah buku di kampus. Dia juga sempat menjadi pembantu rumah tangga. Salah satu tanggung jawabnya adalah menemani anak dari majikannya untuk les piano. Sesekali dia meminta anak tersebut untuk mengajarinya bermain piano. Dia memilih ikut kejar paket B untuk belajar lagi. Dia ingin lebih pintar dari putrinya. "Jadi kalau putri saya bertanya, saya bisa menjawab," begitu katanya. 

Ibu tersebut memperlihatkan bahwa dia suka sekali belajar. Dia belajar dengan membaca berbagai pamflet dan poster yang ada di kampus, mendatangi berbagai kegiatan-kegiatan kampus, meskipun bukan mahasiswa. Dia juga belajar cara bermain musik, dan ingin terus belajar.

Dari kedua cerita di atas, saya belajar bahwa meskipun tidak lulus SMP atau tidak punya ijazah sekolah, bukan berarti siswa tidak belajar. Setiap orang belajar dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang dengan bekerja, ada yang dengan mengamati sekitarnya, bergaul, dan sebagainya. Pengalaman hidup juga lingkungan seseorang, sebenarnya memungkinkan mereka belajar begitu banyak hal, meskipun tidak mereka sadari. Kadang-kadang pengalaman siswa bisa lebih kaya dari guru, pengetahuan mereka dalam beberapa hal juga bisa lebih banyak. Guru tidak selalu menjadi yang paling tahu. Apakah sebagai guru kita menghargai cara belajar siswa kita? Apakah kita menghargai pengalaman siswa kita? Apakah kita merasa bahwa pengetahuan siswa kita cukup berharga? Setiap siswa punya cerita. Cerita siswa sangat berharga. Apakah kita, sebagai pendidik, mau mendengarnya?

Berlanjut....

Nov 4, 2013

Ceritaku tentang tidur

Salah satu website saya adalah www.productivemuslims.com . Pernah kan saya bercerita tentang website ini? Atau belum? Lupa. Hehehe...

Di dalam website tersebut ada berbagai tips bermanfaat agar kita bisa lebih produktif. Selain dengan melalui manajemen waktu yang baik, juga dengan mendekatkan diri pada Allah SWT. Di dalamnya juga ada berbagai tips, menjaga kesehatan, makan, membuat jadwal, tentang berbagi waktu dengan keluarga, dan sebagainya. Bagus-bagus sekali deh! 

Ada satu artikel yang membuat saya sangat tertarik yaitu mengenai tidur. Buat saya tidur adalah hal yang sangat penting. Dengan tidur yang cukup, biasanya kita bisa cenderung lebih produktif. Tapi bisa juga sih kita tidur lama tapi tidak berkualitas. Misalnya kalau kita mimpi buruk atau mimpi dikejar-kejar sesuatu. Kalau baangun tidur, rasanya pasti lelah sekali.

Dulu guru mengaji saya mengajari saya membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas sebelum tidur, juga berdoa, berzikir, dan membaca Laillahaillalah sampai tertidur. Biasanya kalau sulit tidur, itu yang saya lakukan dan selalu berhasil.

Setelah membaca artikel ini --> http://productivemuslim.com/productivemuslim-sleep-routine/ saya jadi tahu bahwa ada dua surat lagi yang disarankan untuk dibaca sebelum tidur, yaitu Al-Mulk dan As-Sajadah. Dua surat ini terdiri dari masing-masing 30 ayat. Agak panjang memang dan kendalanya  saya juga belum hafal suratnya. Tapi ada satu hal yang bisa saya lakukan sehingga saya bisa setidaknya mendengar surat-surat ini sebelum tidur. Salah satu caranya adalah dengan menunduh  kedua surat ini dari youtube :


Kita bisa mendengarkan orang (lain) yang membacakan surat tersebut (siapa tahu lama-kelamaan jadi hafal). Bukan hanya itu kita bisa juga melihat terjemahannya. Saya biasanya menggunakan terjemahan berbahasa Inggris. Jadi sambil mendengarkan, kita bisa mencoba memaknai maknanya. 

Kalau punya telepon genggam yang agak canggih, yang bisa digunakan untuk melihat video (seperti Blackberry atau i-Phone),kita bisa memasang videonya di sana. Jadi, kita tidak perlu membuka-buka komputer untuk memutar videonya. Pengalaman saya mendengarkan kedua surat sebelum tidur cukup ampuh. Saya menjadi lebih tenang dan biasanya tidur lebih nyenyak. Mau mencoba?