May 30, 2013

Menghadapi Cermin Sosial

Saya belajar istilah “cermin sosial” sekitar 6 tahun yang lalu, di workshop “Visi Misi Pribadi” yang diselenggarakan oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Saya mendefinisikan cermin sosial sebagai harapan-harapan orang lain terhadap kita yang kadang (atau seringkali) tidak selalu sesuai dengan nilai yang kita pegang, termasuk mengenai pekerjaan kita, gaya hidup kita, pakaian kita, apa yang kita makan dan sebagainya. Nilai di sini berarti hal-hal yang kita pegang untuk menjalani kehidupan dan sifatnya mendasar. Ketika kita melihat cermin, kita melihat refleksi diri kita.  Ketika kita melihat cermin sosial, kita melihat refleksi diri kita yang dipengaruhi oleh pandangan orang lain terhadap kita, meskipun itu belum tentu menggambarkan diri kita yang sesungguhnya.

Tidak semua nilai yang ada di masyarakan sesuai dengan nilai yang kita pegang. Dalam buku South of The Border , West of The Sun ada cerita mengenai seseorang bernama Hajime yang diajak oleh ayah iparnya untuk berbisnis bersama,  membangun perumahan mewah di sebuah lahan di Tokyo. “Daerah tersebut akan terlihat lebih cantik, lebih indah,” kata sang ayah ipar mencoba meyakinkan Hajime untuk berbisnis. “Bisnis ini legal, tidak melanggar hukum,” tambahnya. Meskipun legal secara hukum, Hajime merasa gelisah  dengan ide tersebut. Hajime berkata pada ayah iparnya :
“…Tokyo is already chocked with cars. Any more skyscrapers and the roads will turn into one huge car park. And how’s the water supply going to be maintained if there’s a dry spell? In the summer, when people all have their air conditioners on, they won’t be able to keep up with the demand for electricity. The power plants are run by fuel from the Middle East, right?  What happens if there’s another oil crisis? Then what?” (Haruki Murakami, South of The Border West of The Sun, p.113)

Sebagai seorang pengusaha, ayah iparnya merasa  yang penting bisnisnya berjalan. Pembangunan perumahan akan menjadikan Tokyo kota yang terlihat lebih indah dan modern. Urusan kelangkaan air, kelangkaan minyak adalah urusan pemerintah. Mereka yang akan mencari solusinya. Bisnis tersebut tidak melanggar hukum. Namun bagi Hajime, pembangunan perumahan tersebut hanya kesia-siaan dan tidak akan memberikan nilai tambah kepada kota Tokyo. Malah akan mengurangi keseimbangan lingkungan. Hajime memiliki nilai yang berbeda dengan nilai ayah iparnya.

Setiap orang memang memiliki nilai yang berbeda dalam hidup. Apa yang dianggap penting oleh kita, belum tentu dianggap penting oleh orang lain dan sebaliknya. Hal tersebut wajar. Latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan konteks sosial setiap orang berbeda-beda dan nilai yang dipegang seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Cermin sosial terjadi ketika orang lain memiliki harapan, baik diungkapkan secara langsung, maupun tercermin dalam perbuatan, agar nilai yang kita pilih menjadi sama dengan nilai mereka. Kita juga, mungkin secara tidak sadar menjadi cermin sosial bagi orang lain.

Contoh cermin sosial adalah ketika seseorang memilih menjadi freelancer karena ingin mengatur waktunya sendiri untuk berkarya. Hal tersebut berarti ia memang memilih untuk tidak bekerja tetap.  Itu nilai yang dia pegang, tapi orang lain belum tentu memahaminya. Ketika seorang bertanya, “Kamu tidak daftar jadi PNS saja?” menunjukkan bahwa dia tidak sepaham dengan nilai yang dipegang sang freelancer dan berharap bahwa dia memiliki nilai bahwa “bekerja tetap adalah pilihan yang lebih baik”. Padahal apa yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain.  

Seorang teman memilih untuk meng-homeschooling-kan. Hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran akan setiap konsekuensinya.  Ternyata, anaknya lambat dalam belajar membaca. Dia lalu ditegur oleh seseorang, “Makanya, sebaiknya anaknya sekolah saja!” Orang yang menegur merasa lebih baik anak tersebut disekolahkan di sekolah formal. Padahal apa salahnya lambat dalam belajar membaca? Kalau diberikan treatment yang tepat bisa saja anak jadi lebih lancar membaca dan malah bisa mencintai membaca. Treatment itu bisa saja diberikan di sekolah maupun di rumah.

Apa pilihannya saat kita menghadapi cermin sosial? Pilihan pertama adalah berkompromi sepenuhnya. Hal ini biasanya terjadi kalau cermin sosial itu datang dari orang yang sangat dekat dengan kita, seperti keluarga atau sahabat. Istilah lainnya adalah ngalah aja dulu sebagai bentuk kasih sayang atau penghormatan terhadap orang lain. Ngalah di sini artinya mencoba mengabaikan nilai yang kita yakni, demi menyenangkan orang lain. Mengabaikan nilai yang kita pegang mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bisa sangat menyiksa. 

Film Mulan, yang diangkat sebuah cerita tradisional Cina yang diadopsi dan dimodifikasi oleh Disney, pernah menggambarkan hal ini. Sebagai perempuan, Mulan diharapkan bertingkah laku seperti perempuan yang digambarkan oleh masyarakatnya yakni dandan yang cantik, menunggu pasangan hidup, dan bersikap lemah lembut. Mulan mencoba berkompromi tapi memang tidak mudah melakukan sesuatu yang “bukan diri kita”, yang tidak kita yakini. Mulan yang gelisah, menyanyi di pinggir sebuah danau. Liriknya begini : 
“Look at me, you may think you see who I really am, but you never know me. Every day it is as if I play a part. Now I see, if I wear a mask I could fool the world but I cannot fool my heart.” 
Lirik lagu tersebut menggambarkan bahwa kita bisa membohongi dunia tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Mulan merasa sangat tersiksa karena sebetulnya dia ingin ikut berjuang di medan perang (saat itu sedang dalam situasi perang melawan Dinasti Han).

Pilihan kedua adalah berkompromi sedikit. Saya banyak menemukan mahasiswa yang berada di posisi ini. Misalnya, mereka memilih jurusan yang tidak sesuai minat mereka. Misalnya seorang menyukai seni tetapi lingkungan sekitarnya tidak menganggap seni sebagai hal yang penting atau bermasa depan. Akhirnya mahasiswa tetap mengambil jurusan lain, sekadar untuk berkompromi terhadap cermin sosial yang ada, tapi belajar seni di luar waktu kuliah. Akhirnya mahasiswa tersebut memang bekerja di bidang seni. Kadang berkompromi ada gunanya yakni untuk lebih mengenali diri sendiri. Kadang kita menjalankan sesuatu yang tidak kita yakini. Kita pikir kita tidak akan kenapa-kenapa tapi ternyata kita gelisah. Dengan merasa gelisah, sesungguhnya kita pada tahap mengenal diri sendiri. Kita jadi tahu apa nilai-nilai yang memang kita anggap penting. Tiba-tiba kita sadar, "Bukan hidup seperti ini yang ingin saya jalani. Bukan nilai-nilai ini yang sesungguhnya saya pegang."

Pilihan ketiga adalah benar-benar menjalani apa yang diyakini terlepas dari apapun cermin sosial yang ada. Beberapa orang yang luar biasa berani memilih jalan hidup seperti ini. Saya jadi teringat menonton film pendek mengenai Umbu Paranggi, ‘gurunya’  Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, Yudhistira Massardi, dan banyak penulis lainnya. Teman saya yang ikut menonton berkata, “Gila yah! Umbu saking percayanya pada puisi sampai berani hidup sendiri, sangat sederhana hanya untuk berpuisi!” Dalam tulisan Putu Fajar Arcana yang berjudul “Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata”, dituliskan


“Sejak bermukin di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia “mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang didiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak  sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.”
(Kompas, 18 November 2012)

Mungkin tidak banyak orang yang bisa seperti Umbu Paranggi. Menjalani apa yang diyakini meskipun dianggap aneh oleh orang lain. Menghadapi cermin sosial bukanlah sesuatu yang mudah. Apakah kita cukup berani untuk  “tidak dipahami”? Apakah kita cukup berani untuk berkata “Ini adalah hidup saya dan beginilah cara saya ingin hidup!”? 

May 20, 2013

Kenapa Saya Suka "Swara Indonesia"

Salah satu tayangan televisi yang saya nikmati adalah Swara Indonesia. Acara ini berupa sebuah talkshow yang dibawakan oleh Irma Hutabarat  ( @Swara_Irma) di TVRI setiap Jumat pk 20.00 WIB. Kenapa saya senang acara ini? Karena menurut saya acara ini sangat menambah wawasan. Biasanya selalu ada dua tamu yang diundang untuk menjadi narasumber di acara ini. Tamu tersebut biasanya memiliki profesi yang sama, misalnya sama-sama merupakan fotografer, sama-sama merupakan penyanyi jazz, sama-sama merupakan wartawan, sama-sama merupakan arkeolog, dan sebagainya. 

Untuk memulai pembicaraan, biasanya Irma Hutabarat yang selalu mengenakan kebaya dan kain tradisional (batik, songket, dll) yang cantik akan menawarkan narasumber untuk mengunyah sirih bersama-sama gambir, kapur sirih, dan buah pinang. Seperti yang dikutip dalam website  http://www.komnasperempuan.or.id/2009/12/berbagi-sirih-pinang-untuk-bicara-kebenaran/ :
"Dalam tradisi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, berbagi sirih pinang berarti membuka diri untuk membangun keakraban. Sirih pinang juga menandakan rasa saling percaya dan seringkali merupakan awal dari sebuah hubungan panjang. Ketika terjadi perselisihan, berbagi sirih pinang adalah pertanda keinginan yang ikhlas dari para pihak untuk merajut kembali jalinan kekerabatan yang sempat terganggu." 
Memang saat Irma dan narasumber mengunyah sirih bersama kedua narasumber suasana menjadi lebih akrab dan mereka mulai ngobrol. Biasanya sambil menawarkan sirih, Irma akan memulai pembicaraan dengan bertanya, "Sudah pernah mengunyah sirih sebelumnya?" 

Masing-masing narasumber akan menjelaskan pengalamannya dalam mengunyah sirih. "Saya pernah mengunyah sirih saat mengunjungi daerah ini.... Waktu itu saya diminta makan.... Biasanya penduduk di sana..."

Obrolan pun dimulai. Santai tapi berbobot. Setelah mengunyah sirih Irma akan bertanya mengenai sejarah kenapa masing-masing memilih profesi mereka, siapa yang turut mendukung mereka sehingga mereka bisa berakhir di profesi tersebut, dan berbagai sejarah pribadi lainnya. Kemudian ketiga orang, yakni Irma, dan kedua narasumber akan ngobrol mengenai profesi yang sedang menjadi topik hari itu. Ngobrolnya santai seakan-akan sedang ngobrol di teras rumah di suatu sore.  Tapi karena narasumber yang diundang biasanya adalah orang-orang yang mencintai profesinya mereka akan bercerita dengan sepenuh hati. They are people who love there jobs! Kalau tamunya fotografer, mereka akan ngobrol mengenai fotografi, pengalaman masing-masing saat menjadi fotografer, sampai filosofi seorang fotografer. Begitu juga kalau tamu menekuni bidang lain seperti menyanyi jazz, menjadi wartawan, pembuat film, arkeolog, dan sebagainya. Saya belajar bahwa saat seseorang menekuni bidang apapun, dia akan menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak melulu diperoleh melalui menonton atau membaca buku-buku mengenai motivasi, tetapi juga melalui menekuni suatu bidang tertentu. 

Dalam satu acara talkshow yang mengundang Bertha dan Syahrani (dua penyanyi jazz perempuan Indonesia), ini adalah beberapa catatan saya terhadap hasil obrolan mereka yang menunjukkan bahwa mereka menemukan semacam kebijaksanaan setelah menekuni profesi mereka. 
"Pekerjaan saya bermain. Musik itu bermain. (Bertha)"Kita nih main (musik), yang nonton satu atau banyak (orang), mainnya sama, harus sepenuh hati."

Waktu ada dua orang konservator yang diundang di acara Swara Irma, seorang narasumber mengatakan :
"Konservator itu harus jatuh cinta, bekerjanya perlu pakai hati, bukan sekadar pekerja."
Selain belajar kebijaksanaan dari orang-orang yang menekuni profesinya, dengan menonton Swara Indonesia saya juga belajar mengenai profesi lain. Walaupun saya memiliki profesi yang berbeda dengan narasumber, memperluas wawasan dengan belajar dari profesi orang lain tidak ada salahnya. Misalnya setelah menonton Swara Irma yang temanya adalah konservator, orang yang pekerjaannya adalah merawat (diantaranya benda-benda bersejarah), saya jadi respek sekali dengan mereka. Di Indonesia ada banyak sekali benda-benda bersejarah yang umurnya sudah tua, diantaranya adalah kain tertua abad ke-17 koleksi Gusti Mangkunegara.Ternyata merawat masing-masing benda, baik kain, patung, lukisan, benda-benda dari perak masing-masing butuh bahan-bahan khusus, dan keterampilan tingkat tinggi. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Tanpa para konservator kita tidak akan bisa menikmati benda-benda tersebut di museum dan sebagainya.

Kita juga bisa belajar bahwa pekerjaan ada bermacam-macam. Banyak orang yang mungkin tidak menyadari luasnya pilihan profesi yang bisa ditekuni. Kalau tidak menonton Swara Indonesia mungkin saya tidak akan sadar bahwa ada orang yang bekerja sebagai konservator. Saya juga belum pernah bertemu seorang yang pernah berkata, "Cita-cita saya jadi konservator!".

Saya sungguh menikmati acara Swara Indonesia. Seperti ngobrol santai tapi memperkaya wawasan sekaligus menyentuh hati.

May 17, 2013

Meninjau Pengelompokan Siswa Berdasarkan Kemampuan Akademik

Ada berbagai cara pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik. Dalam sebuah artikel berjudul “Ready, Set(?), Go!“ dijelaskan mengenai 4 jenis pengelompokan tersebut, yakni dengan streaming, setting, banding, dan mixed-ability.

Streaming adalah ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya dan siswa berada pada kelompok yang sama untuk hampir semua mata pelajaran. Hal ini, misalnya dengan apa yang terjadi di sekolah unggulan, atau pun di kelas unggulan. Siswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik, biasanya dilihat dari nilainya dikelompokkan ke dalam satu sekolah atau kelas khusus.  

Setting  adalah ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya untuk pelajaran-pelajaran tertentu. Misalnya siswa A kemampuan matematikanya tinggi namun kemampuan bahasa Inggrisnya rendah. Kalau kelas 1 adalah kelas untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi di pelajaran tertentu, sedangkan kelas 2, 3, dan seterusnya lebih rendah. Dengan sistem setting, siswa A akan masuk kelas 1 untuk pelajaran matematika dan (misalnya) kelas 3 untuk pelajaran bahasa Inggris.

Banding adalah ketika siswa dalam suatu kelas kemampuan akademiknya beragam. Namun, pada pelajaran tertentu, siswa di kelas tersebut dikelompokkan menurut kemampuan akademiknya. Biasanya setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda sesuai kemampuan akademiknya.

Mixed ability grouping adalah ketika siswa tidak dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya baik melalui model streaming, setting, maupun banding.

Sebenarnya, masih ada perdebatan mengenai perlu tidaknya siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya. Yang menganggap siswa perlu dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya berpendapat bahwa itu memudahkan guru dalam melakukan pengajaran berdasarkan kebutuhan siswa. Misalnya, saat guru mengajar di kelas yang kemampuan akademik siswanya rendah guru bisa mengulang materi bila diperlukan, sedangkan ketika mengajar siswa dengan kemampuan akademik yang tinggi, guru bisa memberikan materi yang lebih menantang (NEA Resolutions B-16, 1998, 2005).

Yang berpendapat sebaliknya menganggap ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya maka siswa yang memiliki kemampuan akademik yang rendah akan dirugikan karena kualitas pengajaran di kelas tersebut biasanya lebih rendah. (NEA Resolutions B-16, 1998, 2005). Siswa-siswa yang ada di kelompok yang kemampuan akademiknya rendah juga seringkali merasa seperti “buangan” sehingga motivasi belajarnya bisa turun. Selain itu, juga tidak terjadi interaksi antara siswa dengan beragam kemampuan akademik, padahal seharusnya siswa, apapun kemampuan akademiknya, bisa belajar satu sama lain.

Di Indonesia, tampaknya perdebatan mengenai perlu tidaknya siswa dikelompokkan mengenai kemampuan akademiknya masih jarang dilakukan. Pengelompokan pun kebanyakan dilakukan dengan model streaming, bukan setting atau banding, apalagi mixed ability grouping. Kebanyakan sekolah, khususnya sekolah-sekolah negeri menggunakan sistem seleksi untuk menentukan siswa mana yang bisa masuk ke dalam sekolah tersebut. Hal ini dilakukan ketika siswa SD akan masuk ke SMP, maupun ketika siswa SMP akan masuk ke SMA. Siswa-siswa yang kemampuan akademiknya tinggi, biasanya dilihat dari nilainya di jenjang pendidikan sebelumnya, masuk ke sekolah-sekolah berlabel “unggulan”, sedangkan siswa-siswa lainnya masuk ke sekolah lainnya.

Kenapa model pengelompokkan seperti itu yang dipilih dan bukan yang lain? Apakah memang pengelompokkan model tersebut memang baik untuk siswa? Kalau iya, untuk siswa yang mana? Apakah efek model pengelompokan tersebut untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik memiliki keuntungan yang sama dengan siswa yang kemampuan akademiknya kurang?

Sumber :
1.      Ready, Set(?), Go!
2.      Research Spotlight on Academic Ability Grouping http://www.nea.org/tools/16899.htm

May 16, 2013

Pertanyaan-pertanyaan (guru asing) tentang sekolah Indonesia

Belum lama ini saya menemani sejumlah guru dari Filipina saat mereka mengunjungi sebuah sekolah negeri di Indonesia. Meskipun saya sebenarnya juga tamu di sekolah tersebut, saya juga berperan menjadi semacam guide sekaligus penerjemah bila diperlukan. Tidak semua guru (Indonesia) di sekolah tersebut bisa berbahasa Inggris. Jadi,  sekali-kali saya membantu menjadi penerjemah.

Sambil melihat-lihat sekolah, dan proses pembelajaran di berbagai kelas, guru-guru dari Filipina mengajukan beberapa pertanyaan. Maklum, mereka ingin lebih tahu mengenai pendidikan di sekolah tersebut dan sekolah di Indonesia pada umumnya. Pertanyaan-pertanyaan mereka sederhana, tapi mampu membuat saya kembali merenungi sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh guru Filipina adalah, “This is not a public school right?

Guru tersebut tidak yakin bahwa sekolah tersebut adalah sekolah negeri. Memang mereka sebenarnya sudah telah diberitahu bahwa sekolah yang sedang dikunjungi adalah sekolah negeri.  Tapi mereka terheran-heran karena siswa masih harus membayar uang sekolah.

Guru bahasa Inggris di sekolah tersebut menjawab, “Yes, it is.”

 “Really? Then why do students have to pay for fees?” tanya seorang guru Filipina.

Well, we use it to  pay for the teachers,” jawabnya.

But you get paid by the government, right?

Yes, we do only if we are government teachers.  But,  if we are non-government teachers, we get payed by the school, from the students’ fees. There is not enough money to pay for all the teachers fees.

Oh there is not enough fees,” katanya menyimpulkan.

Pertanyaan belum selesai sampai di situ. Seorang guru Filipina menanyakan, “Are teachers in Indonesia payed differently?”

Guru bahasa Inggris menjawab, “Yes, it depends on where you teach. If you are a government teacher, the payment is different than if you are a non-government teacher.

Guru Filipina bercerita,“In the Phillipines, there are levels of teachers. When we are new teachers we get payed quite low, but actually it doesn’t matter if we teach in the city or rural areas, anywhere, we get the same payment. If we increase our skills and go to the next level, we get the same payment for that level.   But, to get there some teachers did fight for our rights. They went to the government to ask for equal payment for all teachers. Somebody has to do that.”

Dalam diskusi lebih lanjut kami menemukan bahwa guru-guru Filipina tersebut agak bingung karena di sebuah sekolah yang sama (sekolah negeri) ada guru yang dibayar oleh pemerintah dan ada yang tidak. Bagi mereka ini agak membingungkan karena kok bisa d sebuah sekolah negeri, gurunya ada yang dibayar oleh pemerintah dan ada yang tidak. Guru dari sekolah (Indonesia) kemudian menerangkan bahwa ada perbedaan antara guru PNS dan non-PNS. Meskipun sama-sama di sekolah negeri, ada guru yang dibayar oleh pemerintah dan tidak. Hal tersebut berbeda dengan di Filipina di mana guru apapun kalau golongannya sama, bayarannya pun sama. Seandainya guru tersebut meningkat kompetensinya, memang gajinya akan bertambah. Namun, memang ada sekelompok guru yang berjuang sehingga gaji guru merata di Filipina. Guru bahasa Inggris mencoba menerangkan kondisi di Indonesia. Bahwa tidak ada uang yang cukup sehingga pemerintah bisa menggaji semua guru. Akhirnya guru-guru Filipina mencoba memahami, “Oh the problem is lack of funds!

Saya lalu menemani guru-guru tersebut mengunjungi ke laboratorium sains. Di pojok laboratorium ada ruang kecil. Di dalam ruang tersebut ada lemari tersebut merupakan tempat karya siswa dipajang. Ada buku berisi daun-daunan yang telah dikeringkan. Di dalamnya ada label yang menggambarkan jenis daun, bentuk tulangnya, dan sebagainya. Ada berbagai karya siswa lainnya.

Dengan bangga guru yang berada di laboratorium tersebut, sepertinya guru IPA,  berkata, “Ini karya siswa-siswa kami!”.

Saya membantu menerjemahkan pernyataan guru tersebut ke dalam bahasa Inggris, “These are the students’ work.”

Guru dari Filipina mengangguk-angguk lalu bertanya, “How often do you change the students display?
“Ibu guru ini bertanya, seberapa seringnya karya siswa yang dipajang di sini diganti,” kata saya kepada guru IPA tersebut.

Dengan polosnya guru IPA tersebut berkata sambil tertawa, “Yah, hampir gak pernah diganti. Paling setahun sekali kalau kenaikan kelas!”

Nahlo! Bingung kan menerjemahkannya? Harus saya akui, saya tidak sepenuhnya jujur saat menerjemahkan jawaban guru IPA tersebut ke dalam bahasa Inggris. Saya tidak mengatakan bahwa karya yang dipajang hanya diganti sekali setahun sekali. Saya hanya mengatakan, “Not very often.

Dengan mata mengerling sambil menyengir guru tersebut berkata, “Oh not very often!

Dari situ saya belajar bahwa kadang kita di Indonesia, senang memamerkan hal yang “terlihat keren”. Tapi sekadar untuk menunjukkan bahwa kita “keren”. Piala berbagai kejuaraan,  beberapa karya siswa kita pajang. Bagus sih, tapi bagi seorang pendidik tidak akan sekadar terkagum-kagum dengan sesuatu yang terlihat “keren”, tapi akan penasaran bagaimana proses untuk menghasilkan “kekerenan” tersebut. Saat tim olahraga sekolah misalnya memperoleh juara satu dalam sebuah lomba. Seorang pendidik akan penasaran bagaimanakah cara pelatih melatih siswa tersebut sehingga punya daya juang dan kedisiplinan. Saat ada karya siswa yang dipajang di dinding sekolah, seorang pendidik akan penasaran seberapa sering siswa diajak membuat karya, bagaimana proses pembelajaran di kelas sehingga siswa bisa menghasilkan karya tersebut, karya lain apa yang dihasilkan siswa, dan apa yang siswa pelajari dari membuat karya tersebut.  Bukan sekadar ada sebuah “karya keren” yang dipajang di dinding sekolah.

Kunjungan berikutnya adalah ke perpustakaan.  Perpustakaan sekolah tersebut cukup luas. Mungkin sekitae 8 m x 15 m. Sekeliling perpustakaan adalah lemari dan ada beberapa lemari lain di tengahnya. Lemarinya pun penuh berisi buku. Sebuah judul buku jumlahnya bisa banyak mungkin sampai 20 buku. Guru Filipina bertanya, “What kind of books are here?”
Saya menjelaskan fakta yang ada, sebagian besar buku di perpustakaan tersebut adalah buku pelajaran (text book). Memang faktanya seperti itu. Meskipun perpustakaan penuh dengan buku, buku selain buku pelajaran baik fiksi maupun non-fiksi hanya sedikit saja. Saya melihat ada satu (atau dua) lemari sekitar 1 m x 2 m yang berisi buku-buku selain buku pelajaran.
Guru dari Filipina mengernyitkan dahi sedikit, lalu bertanya, “Don’t the students have a task like to bring a book and read it every week? I mean like not text book books.” 
Guru-guru dari Filipina bingung karena hampir seluruh perpustakaan berisi buku pelajaran dan hanya sediki buku lainnya baik fiksi maupun non-fiksi. Mereka bertanya apakah siswa di sekolah tersebut tidak ada yang mempunya tugas untuk membaca buku (selain buku pelajaran) setiap minggunya? Seorang guru Filipina menambahkan, “In the Phillipines, students must borrow a book from the library every week, read it and make a report about the book. Every week.”
Filipina, seperti Indonesia, adalah negara yang sama-sama punya ‘cap’ negara berkembang. Tapi di sana siswa wajib membaca sebuah buku setiap minggunya. Bukan buku pelajaran tentunya. Bukankah membiasakan siswa membaca (termasuk buku-buku selian buku pelajaran) memang adalah salah satu cara mendasar untuk membuat siswa menjadi terdidik? Yah memang harus diakui mungkin kesadaran di kalangan pegiat pendidikan belum semuanya sampai sana. Mudah-mudahan akan berubah dalam beberapa waktu ke depan. Saya pun menjawab, “No, in Indonesia most students don’t have to do those tasks yet (reading books every wek), but I hope we are getting there.”