May 31, 2009

Kontroversi

Saya salut pada semua teman-teman yang terlibat film cin(T)a, karena berani mengangkat sebuah isu yang kontroversial.

Menurut Samaria, itulah beruntungnya percaya pada yang Maha Kuasa. "There is nothing to loose." Kalau memang jalan terbaik, ya segalanya akan dimudahkan, kalau bukan, ya ya sudah artinya it is not meant to be.

Menonton film cin(T)a saya merasa menjadi lebih kuat dan lebih berani. Selama ini tak banyak yang tahu bahwa sejak tahun 2007 saya diliputi kegelisahan akut karena selama 2007-2008 saya mengadvokasi korban UN. Dan saya melihat ketidakadilan yang begitu sulit saya ungkapkan terkadang. Bahkan ketika bercerita dengan sahabat-sahabat terdekat saya hanya bisa menangis, sehingga kadang mereka tak tahu cerita selengkapnya. Yang tahu bagaimana perasaan saya terutama hanya Mbak Anug, dan Angga yang benar-benar ikut proses advokasi bersama saya. Dan juga Pak Dan, teman konsultasi saya sepanjang tahun. Kami marah, nangis begantian, dengan perasaan tercabik-cabik.

Saya tahu, bahwa saya harus menuliskan apa yang saya lalui. Pengalaman tahun 2007-2008 adalah pengalaman yang sangat unik, dan tidak semua orang merasakannya. Saya juga tahu bahwa pengalaman itu bisa membantu menyuarakan perasaan dan pemikiran banyak orang yang mungkin tak punya kekuatan untuk bersuara. Tapi jujur, kadang saya diliputi rasa takut. Saya takut karena tahu apa yang saya tuliskan sangat kontroversial. Proses melawan ketakutan ini berlangsung cukup lama, saya sempat curhat dengan Mbak Arleen, seorang penulis buku anak, yang menyemangati saya untuk tetap menulis. Dia katakan pada saya, kalau kamu sampai segelisah ini, artinya hal (tulisan) ini memang penting untukmu.

Tadinya bahkan sampai beberapa bulan lalu saya belum berani untuk mengunkapkan pada orang banyak bahwa saya akan menulis buku ini. Saya hanya bercerita pada orang-orang terdekat. Perlahan-lahan saya mengumpulkan kebranian untuk menulis, untuk pasrah, untuk berani untuk menhasilkan sebuah karya, meskipun karya tersebut mungkin akan penuh kontroversi. Doakan saya yah! :)

cin(T)a

Saya baru menonton premiere cin(T)a di London. Film ini masih belum diputar di Indonesia, karena masih dalam proses sensorship, maklum isunya cukup sensitif, tentang hubungan beda agama, ras, suku, dan juga kelas.

Kamis malam saya tiba di London, teman saya tempat saya biasa menebeng sedang di luar kota sehingga saya memutuskan untuk menginap di wisma merdeka, tempat menginapnya guru rajut saya, sekaligus penghuni DU65 tempat saya biasa nebeng dulu selama di Bandung, Mbak Danti. Saya sampai London jam 11 malam, belum booking tempat di wisma, saya berharap-harap saya diizinkan masuk.

Ya nomor 44! Ini rumahnya, saya ketuk-ketuk dan saya kaget. Pintu dibukakan oleh wajah yang saya kenal melalui trailer film cin(T)a, sang pemeran utama Sunny Soon. "Mau mencari siapa ya?" katanya dengan suara halus. "Ingin menanyakan ada tempat untuk menginap tidak malam ini di sini." Jawab saya. Untuk pengelola wisma, berbaik hati mengizinkan saya tinggal di sana, asal penghuni yang lainnya tidak keberatan, untungnya penghuni wisma adalah teman-teman saya sendiri, Mbak Danti, Atun, dan seorang teman main saya waktu saya masih kecil, Tantri. Yipiee.. Hehehe.

Well, anyhow, saat saya sampai saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Atun, untuk menanyakan Sali, dalam film ini berperan sebagai apa. Saya ingat, Sali sempat mengemail saya untuk menanyakan kenalan yang bersedia menyeponsorinya untuk datang. Saya menyarankan Sali untuk menghubungi IA-ITB yang menurut Mbak Danti, tidak berhasil. Wah sayang sekali. Atun berkata Sali adalah script writer bersama dengan Samaria (yang saya kenal kemudian karena kami juga sekamar di wisma merdeka). Dan jujur perasaan saya bangga sekali. Sali, bagi saya ada perempuan yang sangat istimewa. Dia dulu teman saya selama di komunitas Taboo. Kami sama-sama mengajar anak-anak Taboo. Dia juga merupakan teman perjalanan saya sewaktu mengunjungi Pak Bahruddin, di 'SMP Alternatif Qaryah Thayibbah', Salatiga. Kami menghabiskan 3 hari berpuasa di sana sambil mengagumi kompor Pak Bahruddin yang terbuat dari Biogas. Di Salatiga saat itu Sali pun tak berhenti bekerja, sampai malam ia tetap mengetik script untuk sebuah stasiun TV swasta. Saya ingat Sali meminta saya mendengarkan kumpulan lagu favoritnya di mp-3 nya, segala jenis musik ada dari instrumental, keras, pop, dan sebagainya. "Banyak orang heran dengan selera musikku, kok kayaknya jenis musik satu ngak nyambung dengan yang lainnya, padahal antar satu musik dengan musik lainnya ada benang merahnya." Saya juga teringat ketika Sali membahas tentang hukum makan kodok dalam Islam, ia mencari tahu hadisnya dari berbagai sumber. Ia membaca banyak sumber, lalu menyimpulkan apa yang dianggapnya paling benar.

Selama nonton film cin(T)a saya tidak bisa berhenti untuk tidak mengenang Sali. Saya sangat menyuka hubungan antara Cina dan Anisa di film itu, saya menyukai bagaimana mereka tersenyum satu sama lain, perasaan yang naik dan turun, perbedaan karakter antara Cina dan Anisa. Manis sekali, bagi saya. Dan saya tidak bisa berhenti untuk mengingat Sali. Sali adalah perempuan yang sangat unik, dan cinta antara Cina dan Anisa pun sangat unik, bukan yang beromantis candle light dinner,kirim-kirim bunga, tapi lebih pada rasa, dan juga pikiran. Lalu ada naik dan turun, emosi yang tertahan, dan terlepaskan. Mencoba berkompromi baik pada pasangan maupun kondisi, walau tak selalu mudah. Manis sekali. dan saya tidak bisa berhenti bertanya, apa Sali juga pernah merasakan hal yang sama, sehingga ia bisa menggambarkan cinta yang sebegitu manisnya?

Adegan terakhir, mengenai sang perempuan yang memilih untuk menikah dengan jodohnya (dijodohkan ibunya), digambarkan dengan mandi kembang (adat Jawa) lalu ada tanda tanya (Amin?) bagi saya juga istimewa. Saya tidak bisa untuk tidak ingat bahwa Sali, meskipun dia perempuan yang sangat modern (menurut saya), merupakan perempuan Jawa. Kenyataannya ada orang-orang yang memilih untuk dijodohkan (atau hal-hal yang dalam budaya barat terlihat aneh, istilahnya kok yah manut aja?), mungkin dipengaruhi budaya. Memang ada budaya-budaya yang tidak selalu menganggap individu merupakan hal yang paling istimewa. Pengabdian pada orang tua, misalnya merupakan hal yang dianggap suci, atau menuruti apa yang diyakini (tidak kawin beda agama), karena benar-benar yakin, sehingga rela mengorbankan cinta pun hal yang wajar juga, meskipun ada yang sebaliknya. Saya sendiri misalnya, meskipun seorang yang bisa dikatakan dididik dalam keluarga yang cukup modern, tetap percaya bahwa restu orang tua adalah hal yang sangat penting dalam melangkah ke langkah selanjutnya (misalnya menikah). Dan itu menariknya film ini. Film ini tidak menyatakan mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Toh ada beberapa potongan hasil wawancara yang menggambarkan orang-orang yang memilih beda agama (meski dalam film ini tokoh utama tidak melakukannya). Dan saya memang paling menyukai model-model film semacam ini. Sebuah film yang hanya bercerita tanpa mendoktrinasi apa yang benar dan apa yang salah. Hanya cerita tentang kegelisahan, apa yang dilihat, apa yang dipikirkan, dan apa yang dirasa. Saya ingat saat diskusi, Samaria, script writter satu lagi bercerita, bahwa adegan ketika Anisa (muslim) merasa sedih ditahun 2000, saat mendengar gereja-gereja di bom, didasarkan pada apa yang di rasakan Sali. Sali, seorang muslim, tapi ia memiliki keluarga yang berbeda agama. Ketika kejadian gereja dibom saat natal. Sali merasa berat sekali, karena jadi cangung kan berhubungan dengan keluarga yang berbeda agama? Ia merasa ia berada di komunitas yang ikut membom orang-orang di gereja. Saat ada umat muslim yang melakukan terorisme, umat-umat muslim lain turut terkena dampaknya, dicap buruk, dicap jahat, padahal banyak juga muslim yang tidak seperti itu, yang bisa hidup damai dengan umat manusia lainnya. (ah tuh kan saya ingat Sali lagi!)

Saya sangat suka film-film yang bukan untuk menjustifikasi benar salah. Apa yang benar atau salah penonton yang menentukan, setelah refleksi. Penonton yang harus dewasa dalam mengambil sikap saat menonton film-film semacam ini. I just love it! Menonton film ini mengingatkan saya pada beberapa film yakni The Class/Entre Les Murs (setting Prancis), Persepolis(setting Iran), dan sebuah film Jepang yang judulnya nobody knows. Kekuatan film-film ini adalah bahwa film-film ini apa adanya, endingnya mungkin tak seindah film-film hollywood, alurnya tidak heroik, hanya cerita, deskripsi secara visual, yang memungkinkan penonton untuk berefleksi terhadap fenomena di sekitarnya, mengingat-ingat, bagian-bagian dalam hidup penonton yang berhubungan dengan film, tertawa atas kegetiran emosi yang dirasa. Film yang membiarkan penonton untuk subjektif dalam menilai apa yang dianggapnya benar atau salah. The ending is not the point, but what we feel during the film is what matters the most. I just love it!

May 28, 2009

Sharing film tentang bullying

Sheito Shokun (bisa dilihat di: http://www.mysoju.com/seito-shokun/) merupakan sebuah drama Jepang mengenai bullying. Walau film ini merupakan sebuah drama, what can be called as 'not so real', sebenarnya banyak hal dalam film ini yang merupakan isu-isu yang penting dalam pendidikan.

Film ini awalnya sangat buram, menggambarkan siswa-siswa yang tidak percaya pada guru. Warna film ini begitu gelap, bercerita tentang remaja-remaja yang marah, kejam, dingin, dan juga nakal.

Naoko, seorang guru lulusan universitas kependidikan, baru pertama kali mengajar di sana. Yang menarik adalah bagaimana Naoko dengan penuh kesadaran begitu mencintai profesi keguruan. Ia dianggap berasal dari sebuah universitas yang biasa saja saat ingin mendaftar. Saat ditawari untuk mengikuti kuliah lagi 'demi memungkinkan kenaikan pangkat' (bukan untuk belajar loh), agar kelak ia bisa jadi pejabat di sebuah kementrian pendidikan ia mengatakan, "Saya mau menjadi guru dan memang tidak berharap untuk naik pangkat (di kementrian pendidikan). Ia memang ingin menjadi guru."

Anak-anak dalam cerita ini melakukan bullying, kekerasan, dan begitu banyak hal lainnya. Tapi saat seorang siswa melakukan kekerasan, ia biasanya pernah mengalami kekerasan sebelumnya, atau mungkin ia marah akan hal-hal lain. Ternyata anak-anak yang begitu marah ini pernah dikecewakan sebelumnya oleh orang dewasa, guru mereka sendiri. Saat kelas mereka pergi bertamasya, sang guru pernah meninggalkan mereka sendiri di tengah hutan, dan mengambil makanan dan minuman mereka. Murid-murid tersebut kelaparan selama 2 hari. Sayangnya waktu, mereka menceritakan pengalaman mereka kepada orang tua dan guru mereka, anak-anak ini tidak didengarkan. Yang lebih dipercaya adalah cerita 'versi sang guru', bahwa anak-anak tersebut 'tidak mendengarkan perintah guru' sehingga mereka tersesat. Bagi pihak sekolah yang penting adalah 'image sekolah tidak rusak'. Apa jadinya saat ada berita bahwa sekolah memiliki guru yang tidak bertangung jawab dan membiarkan murid-murid mereka mati kelaparan dan kedinginan di tengah hutan? Belum lagi guru (yang tidak bertangung jawab) ini ternyata adalah putra menteri pendidikan, sehingga image menjadi hal yang jauh lebih penting lagi.

Siswa-siswa begitu kecewa pada orang yang mereka percaya, mereka jujur tapi tidak ada yang percaya. Terutama orang dewasa. Ah bagaimana mereka bisa percaya pada orang dewasa? Kemarahan mereka yang tak didengar mengakibatkan mereka mulai melakukan kekerasan.

Naoko, sang guru yang cantik, mencoba mengenal murid-muridnya. Walau murid-muridnya penuh kemarahan, ia mencoba mendekati murid-muridnya secara personal, mengenali masalah-masalah mereka satu persatu.

Saya sangat suka bagian saat sang guru membela seorang anak yang hampir dikeluarkan dari sekolah. Anak tersebut disarankan untuk sekolah di "free school" yang peraturannya tidak seketat di sekolah formal.

Sang guru mengerti bahwa model pendidikan apapun sah-sah saja, "saya tidak masalah dengan konsep free school, tapi dalam konteks ini saya ingin tetap mempertahankan sang murid di sekolah ini."

Yang Naoko tidak setuju, bukan konsep "free school-nya". Free school hanya sebuah bentuk lain pendidikan, dan boleh-boleh saja. Yang sang guru tidak suka adalah "sifat lipstik" pihak sekolah, bahwa pihak sekolah ingin berpura-pura memindahkan sang murid ke free school tersebut dengan alasan itu adalah jalan terbaik, padahal alasan sebenarnya adalah pihak sekolah ingin menjaga image sekolah yang hampir rusak karena anak tersebut begitu sering bolos (dan hampir diungkap media). "Kepura-puraan dalam pendidikan" adalah salah satu isu yang diangkat dalam film ini yang menurut saya sangat penting, mengingatkan saya akan begitu banyak hal yang sifatnya 'pura-pura'' di sistem pendidikan Indonesia sendiri (ah saya tidak akan membahas detailnya kali ini, cuma kalau ada yang mau berkomentar silakan).

Kembali ke film Shito Shokun, salah satu hal yang menarik dalam film ini adalah bahwa film ini menggambarkan bahwa yang merasa paling tersakiti paling akan menyakiti orang lain. Sang pemimpin kelompok bullying di sekolah ini adalah seorang perempuan. Diantara semua teman-temannya ia yang paling penuh kemarahan. Bahkan ketika semua teman-temannya sudah mulai 'memilih untu tridak melakukan kekerasan lagi', termasuk mengerjai sang guru, perempuan ini masih penuh kemarahan dengan orang dewasa. Ternyata, sang perempuan ini sejak lama sudah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia juga memiliki keluarga yang tidak bahagia. Ibunya terkena penyakit, sehingga tidak ingat bahwa sang perempuan ini merupakan anaknya. Tantenya yang membiayai pendidikan si perempuan dan biaya berobat ibu si perempuan, memiliki seorang anak laki-laki yang lebih tua usianya, sepupu sang perempuan. Ternyata sepupu ini melakukan kekerasan seksual pada perempuan ini. Perempuan ini tak punya tempat mengadu, tidak bisa kabur, dan iya begitu marah.

Naoko, tak menyerah, bahkan dengan muridnya yang tersulit sekalipun. Setelah mengenal murid perempuannya ini, ia berusaha agar murid perempuan ini terselamatkan. Ia berusaha berbicara dengan tante sang murid, dan bahkan sempat 'menampar sang tante' saat ia begitu marah, karena tante ini tidak mau membela sang perempuan (yang menjadi korban kekerasan). Naoko, rela menangung resiko dari perbuatannya. Ia diberhentikan sebagai guru. Yang menarik adalah saat dia berkata pada murid-muridnya, bahwa dia dikeluarkan memang karena kesalahannya sendiri. Ia melakukan kekerasan (menampar), dan bagaimanapun kekerasan adalah hal yang salah.

Film ini menarik, karena mengangkat isu-isu mengenai pentingnya 'berorientasi pada nilai' seperti kejujuran, rasa saling percaya, keadilan, persahabatan, bertangung jawab atas perbuatan yang dipilih (berani mengambil resiko). Film ini juga penting untuk para pengajar untuk belajar bahwa setiap hal pasti disebabkan oleh hal lain. Kalau ada murid kita yang nakal, kenali dulu latar belakangnya, mungkin ada alasan dibalik kenakalannya. Kalau ada murid kita yang melakukan kekerasan, cari tahu dulu dari mana asal usulnya. Walaupun film ini film drama, film ini pantas ditonton oleh siapa saja, terutama oleh para guru, praktisi, dan pengamat dalam pendidikan. Selamat menikmati!

May 27, 2009

Kangen

Saya masih ingin menjadi seorang guru
Ya, saya ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya
Mungkin saya memang rehat beberapa tahun ini
Mencoba hal-hal lain selain mengajar

Tapi saya ingin kembali menjadi guru
Saya ingin mengajar, bukan dengan kurikulum internasional
Saya ingin mengajar dengan kurikulum nasional
Itu cita-cita saya
dan masih menjadi cita-cita saya
Mengajar sebaik-baiknya dengan kurikulum nasional

May 23, 2009

PD VI

Seperti biasa..
Heboh..
Detail kehidupan yang begitu mencengangkan

Hidupmu kaya kawan
Seperti dirimu yang begitu unik
Dan aku menyayangimu

Sadarkah kita, betapa banyak keanehan yang kita lalui?
Hal-hal yang mengerikan lalu diakhiri dengan tawa?

Malan-malam yang membuat hati jantungan
Lalu kita tertawa lagi

Selamat melangkah
Dengan berani
Dan bahagia

May 15, 2009

Suka ekstrak ini :)

Di dalam hidup, ada tahap-tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan. Seorang anak belajar untuk tengkurap, duduk, merangkak, dan baru kemudian berjalan dan berlari. Setiap tahap penting dan setiap tahap membutuhkan waktu. Tidak ada tahap yang bisa diloncati.

Hal ini penting dalam setiap aspek kehidupan, di setiap area perkembangan baik ketika belajar bermain piano, berkomunikasi secara efektif, ataupun bekerja dengan associate (perusahaan?). Ini penting bagi individu, pasangan, keluarga, maupun organisasi.

Kita tahu dan bisa menerima fakta mengenai teori mendasar ini di bidang yang besifat fisik, tapi untuk mengertinya dalam area emosi, hubungan antar manusia, dan bahkan pembentukan karakter pribadi, tampak tak biasa, dan lebih sulit. Dan bahkan, saat kita mengerti, untuk menerimanya dan hidup dengannya dalam harmoni lebih tampak tak biasa lagi dan jauh lebih sulit. Akibatnya, kadang kita mencari jalan pintas, berharap bisa meloncati beberapa tahap-tahap penting untuk menghemat waktu dan usaha dan tetap mendapatkan jasil yang diinginkan.

Tapi apa yang terjadi saat kita mencari jalan pintas dari tahap natural dalam pertumbuhan dan perkembangan? Bila kamu hanya pemain tenis yang biasa-biasa saja dan mencoba (berpura-pura) bermain tenis di tingkat yang lebih tinggi untuk terkesan lebih baik, apa hasilnya? Apakah positive thinking saja cukup untuk membuatmu menjadi pemain tenis profesional?

Apa yang terjadi saat kamu meyakinkan teman-temanmu bahwa kamu bisa bermain sebaagai pemain piano di sebuah konser padahal kemampuanmu sebenarnya masih seorang pemain piano pemula?

Sudah jelas. Tentu, sangat tidak mungkin untuk diabaikan (pentingnya berproses). Itu bertentangan dengan hukum alam, dan mencari jalan-jalan pintas hanya berakibat pada kekeceaan dan rasa frustasi.

dalam skala 1 sampai 10, jika saya dalam tingkal dua di bidang apapun, dan mau maju ke tingkat lima, saya harus mengambil langkah pertama ke level tiga.

"Sebuah perjalanan 1000 mile dimulai dengan satu langkah pertama."


(Stephen R. Covey)

May 14, 2009

Perempuan

Jumlah perempuan di dunia ini banyaaak sekali. Dan saya yakin, setiap perempuan punya definisi tersendiri mengenai apa yang disebut 'perempuan'. Walaupun mungkin diantara sekian banyak definisi akan ada kemiripan satu sama lain, pasti juga banyak definisi yang mungkin berbeda atau malah bertentangan satu sama lain. Saya jadi ingat, dulu saya tinggal di sebuah kosan yang isinya hampir semua perempuan. Setidaknya selalu ada 20 penghuni perempuan di kosan itu. Memang hanya 20, tapi dari situ saja sudah bisa terlihat bahwa setiap perempuan unik, dan masing-masing punya definisi tersendiri tentang perempuan. Salah satu teman kos saya, suka mencak-mencak ke saya, bahwa saya kurang cewek banget. Sering malas pakai lotion, ngomong suka ceplas-ceplos, gak ada manis-manisnya. Seroang teman kos saya yang lain, bagi dia juga kurang cewek (bukan ngak cewek loh), mungkin karena gayanya suka judes dan dandanannya mungkin terlihat feminim. Bagi saya, teman saya yang terlihat judes ini, malah yang paling perempuan di antara semua teman kos saya. Bahkan lebih terasa keperempuanannya dibandingkan teman saya yang berpendapat 180 derajat dengan saya. Saya memperhatikan buku-buka bacaan teman saya yang dianggap kurang cewe ini, kebanyakan berhubungan dengan rasa (benar-benar bikin geleng-geleng kalau melihat koleksi bukunya). Bagi saya, koleksi bukunya ini menggambarkan keperempuannya. Ia punya sisi lembut dalam hatinya. Meskipun kalau ngomong langsung dengan teman saya ini, orang-orang cenderung menganggapnya judes, saya tahu perasaanya yang sangat halus, meskipun tidak selalu diungkapkan. Saya tak bermaksud mengatakan definsi saya tentang perempuan lebih baik dari teman kos saya (yang suka mencak-mencak karena saya malas pakai lotion), tapi saya ingin menunjukkan bahwa, bahkan diantara sesama perempuan, definisi ini bisa bertentangan. Tapi kami sama-sama tetap merasa sebagai perempuan.
:)

Di lingkungan yang lain, saya malah hidup dengan sekian banyak laki-laki. Di jurusan saya dulu, teknik mesin. Bayangkan diantara 120 laki-laki, ada 5 orang perempuan. Orang mungkin banyak yang menilai kami ber-lima ini tomboy, dan gak cewek banget. Gaya macho kayak jagoan. Eits.. Tapi sebagai seorang perempuan yang hidup di antara sekian banyak laki-laki, meskipun dengan gaya yang kadang plentang-plenteng, saya sama sekali tidak merasa 'bukan perempuan'. Saya malah merasa sangat perempuan. Saat perempuan menjadi seorang minoritas, kita malah bisa sangat merasakan apa itu menjadi perempuan.

Dan toh, teman-teman pun merasa ngobrol dengan kami para cewe ini tetap berbeda bila ngobrol dengan teman-temannya yang sesama laki-laki. Kami berlima semuanya pernah menjadi tumpahan curhat begitu banyak laki-laki. Curhatan yang mungkin tidak dapat mereka ungkapkan ke teman-teman laki-laki yang lain. Saya ingat seroang teman gelisah karena di sms seorang perempuan. Ia sama sekali tak tahu apa maksud sms perempuan tersebut (maklum bahsa perempuan dan laki-laki tak selalu sama), otomatis ia menanyakannya pada saya, "Ini cewe sebenernya mau bilang apa?" Teman saya tentu menganggap saya perempuan, karena itulah ia meminta pendapat saya, mengenai 'bahasa perempuan' (meskipun bahasa perempuan juga bisa berbeda satu sama lain).

Sebagai 5 diantara 120, orang luar seringkali memandang kami cewe-cewe mesin yang selalu tangguh, kuat, dan tidak perlu pertolongan laki-laki. Justru, bagi kami yang merasakan sendiri menjadi cew mesin, merasa bahwa perempuan-perempuan biologi yang mayoritas jumlah perempuannya lebih banyak jauh lebih tangguh dan macho daripada kami. Kalau mereka naik gunung, mereka ngangkat tas sendiri, buka jalur sendiri. Cewe-cewe mesin juga sih (ngeles) , tapi kalau capai dikit, sudah ada yang bersedia mengangkatkan tas untuk kami (meskipun kalau sekarang dipikir-pikir kasihan juga sih). Cewe-cewe biologi kalau pulang malam sendiri, tak jarang harus pulang sendirian ditengah kegelapan, atau setidaknya reramean bareng teman-teman cewek yang lain. Cewe-cewe mesin selalu dapat bisa tebengan hingga rumah, kalau kami mau. Bahkan tak selalu di malam hari, kadang malah di siang hari. Siapapun bisa kena paksa untuk mengantarkan kami sampai ke rumah, baik kakak kelas, teman seangkatan maupun adik kelas (deuh manjanya dulu maaf yah teman-teman gak bermaksud menyengsarakan). Bagi saya, gaya yang macho, hidup di dunia laki-laki, ketangguhan (ataupun kemanjaan), belum tentu bisa mendefinisikan keperempuanan. Seorang perempuan tetap menjadi perempuan terlepas dia manja, tangguh, hidup di dunia yang kebanyakan perempuan maupun laki-laki, memakai rok bunga-bunga cantik, ataupun jaket yang gagah.

Saya jadi ingat seorang sahabat saya, seorang cewe mesin juga. Soal perbengkelan, set dah jago bener deh. Waktu training menjadi tunner mobil di suatu bengkel, rasa-rasanya teman saya ini lebih jago daripada teman-teman cowo saya yang lain. Hobi naik gunung, bikin robot. Kalau naik motor sama teman saya yang satu ini wes.. rasanya gagah bener, ngebut men! Lebih ngeri dari naik motor sama siapapun termasuk cowo. Tentu, dengan ciri-ciri tersebut, banyak yang akan menilainya sebagai tomboy. Karena saya mengenal sahabat saya ini lebih dekat, saya malah menilai sebaliknya. Dia perempuan banget. Tomboy itu cuma diluarnya. Waktu kuliah dulu, yang ngajak ke salon atau perawatan duluan kadang-kadang dia. belum lagi kalau curhat.. Yah ampun cewe banget (walau sulit diungkapkan, saya punya definisi tersendiri tentang curhatan yang cewe banget beda deh kalau cowo yang curhat), kadang-kadang centil juga (dalam arti yang baik loh centilnya). Perasaannya pun lembut dan sangat sensitif. Meskipun kalau galak yah galak aja. Sampai sekarang, diapun masih bekerja di lingkungan yang berisi sebagian besar laki-laki, di perminyakan, tapi sebagai field engineer (deu.. I am actually still quite curious to know what is it like to be a female field engineer, kayaknya keren gethu meski gak mau juga seumur hidup jadi field engineer). Teman saya ini sampai sekarang masih bekerja belepotan dengan oli. Jauh dari steriotipe perempuan? Mungkin, tapi saya dengar dari rekan kerjanya, fansnya banyaak sekali. Wahaha saya gak heran. Saya selalu menganggapnya cantik dari luar maupun dalam. Tanpa harus menjadi seperti orang lain, tanpa harus menjadi seperti perempuan yang didefinisikan orang lain (sesuai steriotipe perempuan pada umumnya), ia tetap punya magnet yang bisa memikat lawan jenisnya. Ia tetap seroang perempuan. Waktu aku terakhir ketemu dengannya saat kumpul angkatan setahun yang lalu, saya pun merasa teman saya ini is damn fabulous, teman-teman seangkatan laki-laki saya juga merasakan hal yang sama. Malah ada yang ngaku nyesel gak pdkt dari dulu. Wahahaha.

Bila saya harus mendefinisikan apa yang saya maksudkan sebagai perempuan saya mungkin sulit mendefinisikannya secara gamblang, tapi saya akan ingat kejadian-kejadian di mana saya merasa seorang perempuan itu perempuan banget, contohnya sahabat saya, yang juga seorang field engineer (tapi di perusahaan batu bara), bagi saya dia perempuan banget juga. Sahabat saya ini meskipun berani berekspedisi di tengah lapangan antah berantah, pergi sendirian dari satu pulau ke pulau lain, perempuan sekali, karena perasaannya halus sekali. Saya ingat ia menangis waktu ada konflik antar dua golongan di kampus karena hal yang sepele, saya ingat ia menangis ketika mendengar mengenai anak perempuan tuna netra yang diperkosa, saya lihat ia menangis saat melihat ketidakadilan anak-anak di penjara (saat itu ia sujud setelah shalat lama sekali), ia lembut sekali berbicara dengan anak-anak (bahkan sabar terhadap anak kecil, aku kalau anak terlalu kecil juga kadang gak sabar) dan mampu membuat anak-anak yang menangis tertawa dengan ketulusan hatinya, saya lihat ia dengan santai mengendong anak-anak berbaju lusuh dengan kulit hitam-hitam dengan penuh kasih sayang. Bagi saya seorang perempuan, bukan ditentukan dari apakah dia doyan shopping atau ngak, pakai rok atau ngak, ngomongnya halus apa ngak, multi-tasking apa ngak (I found out that I am not multi-tasking tapi aku tetep perempuan kan?), bisa baca peta apa ngak (kayak di buku 'woman can't read maps', who said so? Itu gak ada hubungannya dengan gender, tapi kemampuan visual dan matematik, ya gak sih?). Bagi saya seroang perempuan bukan dilihat dari penampilan luarnya, tapi apa yang ada di dalam hatinya. Kelembutan dan kasih sayang yang berasal dari dalam. Itu definisi perempuan bagi saya loh, kalau definisimu apa?

May 11, 2009

kompleks

Set dah, kompleks banget sistem pendidikan di Indonesia sejak dulu kala.