Aug 7, 2016

Pak Daoed Joesoef di Mata Saya




Pak Daoed Joesoef di Mata Saya
Oleh: Dhitta Puti Sarasvati
Senin, 8 Agustus 2016, Pak Daoed Joesoed berulang tahun yang ke-90. Meskipun usianya tak lagi muda, beliau masih aktif menulis berbagai artikel, makalah, buku, dan mengerjakan berbagai kerja intelektual lainnya. 

Beliau pernah bercerita pada saya, bahwa setiap hari beliau punya waktu-waktu tertentu yang tidak bisa diganggu gugat, kecuali kalau benar-benar penting. Waktu tersebut adalah waktu untuk membaca dan menulis. Hal ini beliau lakukan setiap hari. Sungguh, saya ingin memiliki kedisiplinan seperti itu.

Terkait salah satu buku Pak Daoed Joesoef, saya punya cerita. Seorang murid saya yang sempat bercerita bahwa orang tuanya tidak berpendidikan tinggi. Namun, di mata saya murid saya itu sangat cerdas, pemikirannya sistematis, dan karakternya baik. Saya ceritakan padanya mengenai buku Emak, salah satu karya Pak Daoed Joesoef yang paling saya suka. Di sana Pak Daoed Joesoef bercerita tentang Emaknya yang buta huruf tetapi berhasil mendidiknya menjadi orang yang berpikiran sistematis, suka belajar, sehingga akhirnya mengantarnya menjadi orang Indonesia pertama memperoleh gelar Doktor dari Universitas Sorbonne, Paris. 

Jadi, saya rekomendasikan buku Emak pada murid saya. Katanya, dia sangat suka bukunya. Bukunya membuatnya mengingat orang tuanya. 

Terkait beasiswa dari Sorbonne, Pak Daoed pernah menceritakan pada saya bahwa badan pemberi beasiswa sebenarnya berasal sebuah yayasan di Amerika Serikat. Tadinya, yayasan tersebut tidak mau memberikan beasiswa paka Pak Daoed. Bukan karena beliau tidak qualified, melainkan karena yayasan tersebut hanya memberikan beasiswa pada orang yang mau studi ke Amerika Serikat saja.

Pak Daoed tidak terima dengan hal tersebut. Beliau mengatakan, kurang lebih begini, "Saya butuh uang anda, bukan butuh anda menentukan ke mana saya harus sekolah (arah hidup saya)."

Beliau pun keluar ruangan dengan menendang pintu. Akhirnya, pihak yayasan malah terkesan dengan beliau, dan akhirnya menyekolahkannya di Sorbonne. Dari cerita tersebut, dapat kita lihat karakter Pak Daoed Joesoef yang tahu persis apa maunya. Beliau tidak mudah disetir, bahkan oleh pihak pemberi funding sekalipun. 

Yang membuat saya kagum lagi, ketika beliau sedang studi di Paris, beliau tidak hanya meneliti untuk kepentingan doktornya saja. Beliau juga menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk mengumpulkan bahan untuk membuat konsep (mungkin semaca blueprint) tentang strategi keamanan dan pertahanan bangsa, ekonomi, dan tentang arah pendidikan Indonesia. Yang terakhir inilah yang mungkin membuatnya sempat diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Beliau sering mengingatkan saya bahwa saya (dan anak muda lainnya) harus mulai memikirkan blue print pendidikan Indonesia.  Pesan beliau ini terngiang-ngiang di kepala saya sampai sekarang. 

Banyak orang mengira Pak Doed Joesoef kurang 'agamis'. Mungkin karena beliau pernah menyarankan pengurangan jam mata pelajaran agama di sekolah, dan banyak alasan lainnya. Namun, sebenarnya beliau justru berharap selain belajar di sekolah, justru anak-anak bisa belajar agama di rumah ibadatnya masing-masing. Misalnya, sewaktu muda, beliau belajar agama di Surau. Sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar.

Beliau sendiri pernah bercerita, Emaknya pernah berpesan untuk mendoakan orang yang sudah tiada. Oleh karena itu, pernah ada cerita, ketika beliau berkunjung ke suatu kota, beliau mampir ke sebuah kuburan suatu tokoh. Di sana beliau membaca surat Yasin. Orang-orang kaget karena tak menyangka beliau bisa mengaji. Akhirnya, beliau diundang ke sebuah sekolah Islam untuk memberikan sebuah ceramah. 

Di rumahnya pun ada sebuah lukisan. Beliau yang membuatnya sendiri. Kalau dilihat sekilas, lukisannya seperti gambar pantai saja. Namun kalau diperhatikan dari dekat, lukisannya merupakan kaligrafi dari tulisan kata 'Allah' yang ditulis dengan huruf Arab.

Banyak orang menuduh Pak Daoed tidaklah Islami. Namun, di mata saya beliau sangat menghayati nilai-nilai keislaman, meskipun mungkin tidak ditunjukkan terang-terangan. Wallahu A'lam

Beliau memang kontroversial, misalnya terkait kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membuat beberapa aktivis tahun 70-an kesal padanya.

Terlepas dari itu, sebenarnya begitu banyak hal penting yang dikerjakan oleh Pak Daoed Joesoef. Selain menulis berbagai karya, beliaulah yang pertama kali mencetuskan pameran buku di Indonesia, beliaulah yang berjuang di UNESCO untuk ikut merestorasi Candi Borobudur, beliau ikut mendirikan beberapa Fakultas yang ada di Universitas di Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia luar biasa besarnya, hal ini ditunjukkan dengan karya-karyanya. Sampai sekarang, kalau saya menceritakan masalah yang ada di Indonesia, matanya menampakkan kesedihan, atau rasa kesal.

Selamat ulang tahun ke-90 Pak Daoed Joesoef. Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk punya kesempatan mengenal Bapak.

Menonton "Lewat Djam Malam"


Semalam, saya nonton "Lewat Djam Malam" di Kineforum. Film idi ditulis oleh Asrul Sani dan disutradarai oleh Usmar Ismail pada tahun 1954. Tahun 2011-2012, film ini direstorasi kembali.

Meskipun filmnya hitam-putih, film ini indah banget Cuplikannya bisa di lihat di sini : https://www.youtube.com/watch?v=xbol0aGnfJE .

Film ini menceritakan tentang Iskandar, mantan tentara, yang galau ketika harus kembali ke masyarakat setelah masa revolusi usai. Beliau senantiasa bertanya-tanya, "benarkah apa yang ia lakukan selama revolusi?"

"Apakah orang-orang yang dia bunuh, karena disangka mata-mata Belanda benarlah orang-orang yang bersalah?"

Dalam kepalanya, selalu terngiang-ngiang, teriakan seorang ibu. Ibu tersebut rakyat biasa, membawa anak-anak. Dia membunuhnya, atas perintah atasannya, Gunawan. Gunawanlah yang memerintahkannya untuk membunuh mereka. Setelah revolusi, Gunawan hidup tenang, punya perusahaan, dan hidup dari rampasan harta yang didapatkan dari keluarga-keluarga yang dibunuh bawahannya selama masa revolusi. Iskandar sendiri, selalu diliputi rasa bersalah. Sulit rasanya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi terkini. Saat revolusi dia berjuang dengan hati, tapi justru kini dia ragu. Apakah benar yang dia perjuangkan selama ini?

Saat menonton "Lewat Djam Malam", saya merasakan sensasi membaca sastra-sastra klasik dunia. Gagasan utama ceritanya sederhana, tentang konflik batin mantan tentara. Namun, cerita dikemas sedemikian rupa sehingga enak ditonton. Dialognya tidak cengeng. Saat menontonnya, kita bisa merasa terharu, miris, sedih, sekaligus tertawa.

Rasanya saya ingin mengajak teman-teman guru menonton film ini. Saya bisa membayangkan, film semacam ini sangat bisa untuk diputarkan di dalam kelas (mungkin setingkat SMA, atau kuliah), didiskusikan dan direfleksikan kaitannya dengan masa kini.

Meskipun film "Lewat Djam Malam" hitam putih, filmnya cantik sekali. Ternyata, tak lama setelah kemerdekaan, pembuat film Indonesia bisa menghasilkan karya yang sangat berkualitas. Film ini contohnya. Saya membayangkan film ini, bisa diterima, bukan hanya di Indonesia tapi juga di belahan lain di dunia.

Selama bulan Agustus 2016, film ini masih akan diputar di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Biaya menontonnya Rp 20.000,- saja. Bagi yang mau menonton, silakan lihat jadwalnya di link berikut http://kineforum.org/web/