Oct 27, 2011

Les Privat Unik

Salah seorang ibu menghubungi saya untuk memberikan anaknnya les privat. Agak berbeda dengan les privat lainnya, yang dia inginkan saya tidak memberikan anaknya les privat mengenai pelajaran, tetapi mengenai cara belajar, "Beberapa kali saja cukup," katanya. Lalu ditambahkanlah, "Sampai dia bisa belajar sendiri!"

Ibunya meminta saya mengajarkan anaknya mengenai tips-tips mencatat, membuat ringkasan, membuat mind map, dan lain-lain. Kalau mencari bahan di google, mengemukakan pendapat, dan lain-lain, sebenarnya anaknya sudah cukup jago. Yang belum ada katanya, ketekunan untuk membaca dan mencatat. Menurut sang ibu, "Di SMP kedua keterampilan tersebut perlu sekali agar lebih mudah belajarnya."

Dari mana datangnya ide pembelajaran?

Saya sering mendapatkan email ataupun message di fb dari guru-guru untuk dibantu dicarikan model-model pembelajaran yang menarik. Kadang-kadang saya membantu mencarikan bahan (yang seringkali masih dalam bahasa Inggris, sehingga tidak selalu mudah dipahami guru). Kadang saya juga memberikan tips-tips mengenai caranya saya mencari bahan. Ini yang ingin saya bagikan di sini.

Saat saya mau mengajar suatu materi, misalnya, mengenai 'energi'. Yang akan saya lakukan adalah membaca ulang mengenai 'energi'. Saya sering menggunakan perolongan Mbah Google untuk melakukan ini. Biasanya tools yang saya gunakan adalah 'google scholar', 'google books' atau kadang google saja.

Selain mencari bahan-bahan dasar mengenai materi yang akan saya ajarkan. Saya juga suka mencari lesson plan terkait materi tersebut. Kata kuncinya misalnya :
"lesson plan"+energy

Saya suka membandingkan sebanyak mungkin lesson plan yang ada. Kadang ada yang langsung 'klik'. Bisa deh dipakai untuk pembelajaran.

Saya paling senang kalau bisa menyiapkan bahan
Kadang saya menyiapkan bahan bahan baik berupa presentasi, modul, worksheet, dan lesson plan dengan guru lain. Kalau sendiri kadang idenya mentok itu-itu saja. Kalau berdiskusi dengan setidaknya satu orang guru lain, langsung deh idenya cepat berkembang. Kadang sih memang harus menyiapkan sendiri, tapi saya sungguh lebih senang kalau ada teman diskusi.

Beberapa sekolah saya tahu memang mewajibkan gurunya untuk menyiapkan semua bahan untuk mengajar secara bersama-sama. Bagi guru-guru yang tergabung dalam sekolah semacam ini, beruntung sekali! :)

Setelah itu tinggal bekerja deh!

Ide-ide pembelajaran juga bisa datang di luar proses yang saya ceritakan di atas. Kadang saat menonton film, membaca buku, setelah ikut pelatihan, dengan memerhatikan guru lain mengajar, dan lain-lain.

Itu sedikit cerita saya. Teman-teman yang lain pasti punya tips lain mengenai bagaimana menyiapkan pembelajaran di kelas. Share yah!

The answer comes after

Steve Jobs says "You've got to have faith in something.

I think that is totally true. Many times in my life, I feel lost. I mean like really lost. There were times when All I wanted to do was run away (literally).

And for me the "why's" are always important. My philosophy is that every step that I take in my life must have a reason. I always wanted to live a purposefully life. Which means, I don't want to do something that is not meaningful.

However, sometimes you really don't know the why's. Sometimes you"ll be lucky, you know the answers straight away. Other times you'll find the answers. Not now but after a certain amount of time. And to have faith it means being patient. Understanding that the why's can not always be answered immediately. Meanings don't always come in a sudden. Sometimes the answer comes after.

Oct 23, 2011

Guru Pemberani

Dalam penulisan naratif deskriptif, 3 hari ini, saya bertemu dengan Ibu Retno Listiyarti dari Federasi Sarikat Guru Indonesia (FSGI). Ibu yang satu ini sangat istimewa. Dia adalah salah satu guru yang paling berani yang pernah saya temui.

Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama saya dengan dia. Beberapa bulan yang lalu, ada seorang guru yang meminta bantuan saya, karena kepala yayasan sekolahnya suka melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak di sekolahnya. Seorang teman saya, menyarankan saya dan guru tersebut untuk berkenalan dengan Ibu Retno.

Ibu Retno membimbing guru tersebut untuk melakukan advokasi terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kepala yayasan tersebut. Sekarang guru tersebut ikut mengadvokasi anak-anak lain yang merupakan korban kekerasan.

Sulit bagi saya untuk menyatakan betapa istimewanya Bu Retno. Yang jelas dia adalah orang yang sangat berani melawan ketidakadilan. Saya belum pernah bertemu guru seberani dia.

"Seorang guru tugasnya adalah mendidik. Yang dimaksud dengan mendidik adalah mempertajam pikiran dan memperhalus hati. Kita bisa saja mengajar di sekolah yang bagus, tetapi kita juga harus memikirkan kondisi guru-guru di sekolah lain. Termasuk semua kebijakan yang tidak adil harus kita lawan! Untuk melawannya kita juga perlu melakukan kajian ilmiah agar argumentasinya kuat."

Walau baru bertemu dengan Bu Retno dua kali, saya belajar sedikit mengenai cara-cara menghadapi ketidakadilan, juga strategi-strategi ketika kita diintimidasi. Tapi terus terang, saya belum sekuat Bu Retno dalam menghadapi berbagai tekanan. Kapan yah saya seberani dia?

"Banyak guru yang kreatif dan inovatif," katanya, "Tapi diam ketika teman-teman guru yang lain diperlakukan dengan tidak adil. Cari aman saja!"

Saya terdiam. Ibu Retno benar. Bahkan saya sendiri tidak selalu sanggup melawan ketidakadilan yang dilakukan orang lain terhadap saya dan teman-teman saya? Diskusi dengannya membuat saya jadi bertanya-tanya apakah istilah 'saya berjuang dengan cara saya sendiri' adalah kata lain dari 'mencari aman dan tidak berani mengambil resiko'? Saya tidak tahu. Yang jelas saya benar-benar mau berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Tapi bagaimana caranya? Saya masih mencari.

Oct 18, 2011

Selalu ada Mainan Baru

Selalu ada Mainan Baru
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
@warnapastel

Di stasiun kereta. Seorang kakak dan seorang adik bermain di dalam kardus. Tampaknya mereka bermain peran. Si kakak suka sekali mengatur

"Kamu harus begini! Kamu harus begitu," katanya pada sang adik dengan melapisi tubuhnya dengan kain selempangan yang biasa digunakan untuk menggendong bayi. Tak lama kemudian sang kakak matanya bersinar-sinar.

Dia melompat keluar kardus, lalu diambilnya sebuah batu. Batu
dilemparkannya ke depan.

"Kejar!" Teriaknya pada sang adik. Mereka berdua berlari mengejar batu. Setiap kali ditangkap, dilempar lagi, dikejar lagi sampai bosan.

Tapi sang kakak selalu cemerlang. Kini waktunya untuk bermain
jual-jualan. Ibu mereka sendiri sedang sibuk menjual tahu di belakangnya. Sang kakak memilih berjualan es teh manis. Dengan
khayalannya, plastik-plastik yang dia temukan di sepanjang stasiun kereta disulapnya menjadi es teh manis. Adiknya menjadi pembeli.

"Harganya lima ribu. Mana uangnya?," tanyanya.

Adiknya bingung saja.

"Nih, pakai ini saja," kata sang kakak sambil mengambil segenggam tutup botol plastik.

Memang sedikit sok mengatur dia!

"Bayarnya pakai ini!"kata sang kakak sambil memberikan beberapa tutup botol pada adiknya.

"Mana uangnya?" tanyanya lagi sambil mengambil beberapa tutup botol dari adiknya.

Sebuah plastik dan satu tutup botol diberikan lagi pada adiknya sambil berkata, "Ini es tehnya dan ini kembaliannya!"

Seorang pengunjung membuang es teh benaran. Esnya masih dalam plastik yang terikat. Ada lubang kecil di ujungnya. Ada tetes the yang menetas perlahan keluar dari lubang tersebut. Sebenarnya isinya plastiknya masih lumayan penuh, mungkin dibuang sang pengujung karena rasanya terlalu manis.

Sang kakak, dengan mata awas memandang es tersebut. Diambilnya plastik berisi es the tersebut. Ditekannya. Air the di dalamnya muncrat jauh. Ditekannya sekali lagi agar airnya muncrat lebih jauh lagi! Dia tertawa lepas. Adiknya ikut-ikutan tertawa.

Sang ibu yang tadinya sibuk melayani pembeli, sedang sedikit santai. Dilihatlah putrinya bermain dengan sisa es!

"Jangan main es! Taruh itu," teriaknya tanpa alasan yang pasti.

Sang kakak menurut saja pada ibu tersayangnya. Dia tenang saja seakan-akan berkata, "Akan selalu ada mainan baru, Lihat saja nanti!"
Selalu ada Mainan Baru
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
@warnapastel

Di stasiun kereta. Seorang kakak dan seorang adik bermain di dalam kardus. Tampaknya mereka bermain peran. Si kakak suka sekali mengatur

"Kamu harus begini! Kamu harus begitu," katanya pada sang adik dengan melapisi tubuhnya dengan kain selempangan yang biasa digunakan untuk menggendong bayi. Tak lama kemudian sang kakak matanya bersinar-sinar.

Dia melompat keluar kardus, lalu diambilnya sebuah batu. Batu
dilemparkannya ke depan.

"Kejar!" Teriaknya pada sang adik. Mereka berdua berlari mengejar batu. Setiap kali ditangkap, dilempar lagi, dikejar lagi sampai bosan.

Tapi sang kakak selalu cemerlang. Kini waktunya untuk bermain
jual-jualan. Ibu mereka sendiri sedang sibuk menjual tahu di belakangnya. Sang kakak memilih berjualan es teh manis. Dengan
khayalannya, plastik-plastik yang dia temukan di sepanjang stasiun kereta disulapnya menjadi es teh manis. Adiknya menjadi pembeli.

"Harganya lima ribu. Mana uangnya?," tanyanya.

Adiknya bingung saja.

"Nih, pakai ini saja," kata sang kakak sambil mengambil segenggam tutup botol plastik.

Memang sedikit sok mengatur dia!

"Bayarnya pakai ini!"kata sang kakak sambil memberikan beberapa tutup botol pada adiknya.

"Mana uangnya?" tanyanya lagi sambil mengambil beberapa tutup botol dari adiknya.

Sebuah plastik dan satu tutup botol diberikan lagi pada adiknya sambil berkata, "Ini es tehnya dan ini kembaliannya!"

Seorang pengunjung membuang es teh benaran. Esnya masih dalam plastik yang terikat. Ada lubang kecil di ujungnya. Ada tetes the yang menetas perlahan keluar dari lubang tersebut. Sebenarnya isinya plastiknya masih lumayan penuh, mungkin dibuang sang pengujung karena rasanya terlalu manis.

Sang kakak, dengan mata awas memandang es tersebut. Diambilnya plastik berisi es the tersebut. Ditekannya. Air the di dalamnya muncrat jauh. Ditekannya sekali lagi agar airnya muncrat lebih jauh lagi! Dia tertawa lepas. Adiknya ikut-ikutan tertawa.

Sang ibu yang tadinya sibuk melayani pembeli, sedang sedikit santai. Dilihatlah putrinya bermain dengan sisa es!

"Jangan main es! Taruh itu," teriaknya tanpa alasan yang pasti.

Sang kakak menurut saja pada ibu tersayangnya. Dia tenang saja seakan-akan berkata, "Akan selalu ada mainan baru, Lihat saja nanti!"

Oct 10, 2011

Kembali ke Kampus

Kembali ke kampus untuk mengajar ternyata sangat menyenangkan. Selain alasan bisa terus update secara akademik, karena harus menyiapkan materi pembelajaran, membuat penelitian, menmbaca, dll, ada alasan lain yang juga tak kalah seru.

Saat saya sedang menyiapkan rencana pembelajaran saya pulang sedikit lebih sore di atas magriblah. Sayup-sayup saya mendengar mahasiswa-mahasiswa saya berlatih paduan suara. Cantik dan menyenangkan.

Belum lagi ketika mahasiswa saya menyiapkan kegiatan fund raising dengan memutar beberapa film pendidikan di ruang kelas. Biayanya Rp. 5000,- (sudah termasuk diskusi). Di sela-sela waktu mengajar bisa deh nonton film berkualitas (tentang guru berkebutan khusus). Film itu sebenarnya mampu membuat air mata saya berlinang-linang, tapi gengsi dong!

Tadi saya diajak mahasiswa saya melihat beberqapa mahasiswi saya sedang berlatih sebuah tari Sunda untuk sebuah kejuaraan. Mereka ingin melihat latihan mereka secara keseluruhan. "Ada yang bawa kamera tidak?" tanya mereka.

Kebetulan saya sedang membawa kamera jadi saya menawarkan diri merekam tarian mereka. Saat mereka melihat ulang tarian mereka, mereka tertawa-tawa sambil mengoreksi diri sendiri dan kelompok tarinya, "Tadi bagian ini tangannya kurang tinggi."

"Itu gak bersamaan geraknya!"

Sambil merekam saya mengamati kompleksnya gerak tangan, bahu, dan pinggul yang mereka tarikan. Saya sendiri belum pernah belajar tari Sunda, dan ingin ikut belajar! Kebahagiaan menyusup di dalam hati saya. Suasana di kampus baik kehiduoan belajar, berkesenian, berkarya, berdiskusi, dan dialog sehari-hari mahasiswa ternyata membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan menjadi seorang pengajar (semoga sudah bisa disebut pendidik) ternyata tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas.

Kembali ke Kampus

Kembali ke kampus untuk mengajar ternyata sangat menyenangkan. Selain alasan bisa terus update secara akademik, karena harus menyiapkan materi pembelajaran, membuat penelitian, menmbaca, dll, ada alasan lain yang juga tak kalah seru.

Saat saya sedang menyiapkan rencana pembelajaran saya pulang sedikit lebih sore di atas magriblah. Sayup-sayup saya mendengar mahasiswa-mahasiswa saya berlatih paduan suara. Cantik dan menyenangkan.

Belum lagi ketika mahasiswa saya menyiapkan kegiatan fund raising dengan memutar beberapa film pendidikan di ruang kelas. Biayanya Rp. 5000,- (sudah termasuk diskusi). Di sela-sela waktu mengajar bisa deh nonton film berkualitas (tentang guru berkebutan khusus). Film itu sebenarnya mampu membuat air mata saya berlinang-linang, tapi gengsi dong!

Tadi saya diajak mahasiswa saya melihat beberqapa mahasiswi saya sedang berlatih sebuah tari Sunda untuk sebuah kejuaraan. Mereka ingin melihat latihan mereka secara keseluruhan. "Ada yang bawa kamera tidak?" tanya mereka.

Kebetulan saya sedang membawa kamera jadi saya menawarkan diri merekam tarian mereka. Saat mereka melihat ulang tarian mereka, mereka tertawa-tawa sambil mengoreksi diri sendiri dan kelompok tarinya, "Tadi bagian ini tangannya kurang tinggi."

"Itu gak bersamaan geraknya!"

Sambil merekam saya mengamati kompleksnya gerak tangan, bahu, dan pinggul yang mereka tarikan. Saya sendiri belum pernah belajar tari Sunda, dan ingin ikut belajar! Kebahagiaan menyusup di dalam hati saya. Suasana di kampus baik kehiduoan belajar, berkesenian, berkarya, berdiskusi, dan dialog sehari-hari mahasiswa ternyata membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan menjadi seorang pengajar (semoga sudah bisa disebut pendidik) ternyata tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas.