Sep 8, 2015

Workshop Penilaian dan Pembelajaran Autentik (Bagian 1)

Beberapa bulan yang lalu, saya menjadi peserta Workshop "Penilaian dan Pembelajaran Autentik" yang diselenggarakan di Sekolah Madania. Kegiatan tersebut diselenggarakan berkat kerja sama Foundation for Excellence in Education (FEE), Alumni Advance Certificate for Teaching and Learning (ACTL), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Jumlah peserta  saat itu ada sekitar 150 orang, sebagian besar merupakan guru. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing  kelompok masuk ke kelas yang berbeda-beda untuk mengikuti workshop yang sama-sama bertema "penilaian dan pembelajaran autentik", namun untuk mata pelajaran yang berbeda-beda.

Sebenarnya awalnya saya mau masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik matematika" tapi kelas tersebut sudah penuh sehingga saya akhirnya masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik IPS dan PKn". Saya tidak menyesal juga karena ternyata sesinya juga sangat menarik.

Di dalam kelas, telah tersedia beberapa meja. Peserta workshop bisa memilih mau duduk di mana, tapi setiap meja maksimal terdiri dari 3 orang. Di meja tempat saya dudul ada dua orang guru. Belakangan, saya belajar bahwa nama mereka Ibu Gaby dan Ibu Yuyun.

Fasilitator pun membuka sesi workshop. Nama fasilitator di kelas saya adalah Ibu Oscarina Dewi Kusuma. Beliau adalah kepala sekolah Sekolah Global Jaya.

Beliau meminta peserta berkenalan dengan teman semejanya. Kami perlu menanyakan nama teman semeja dan 3 hal yang menggambarkan diri mereka. Dari kegiatan tersebut saya belajar bahwa Ibu Gaby adalah guru IPS kelas 4 -5. Ibu Gaby suka pedas, suka anak-anak dan humoris. Ibu Yuyun adalah guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ibu Yuyun suka musik dan menyanyi, ceria, dan suka tersenyum.

Setelahnya, fasilitator meminta masing-masing peserta untuk membagi kertas menjadi tiga bagian (seperti huruf "Y").  Di kertas tersebut, peserta diminta menuliskan pengalaman selama masih menjadi siswa mengenai apa yang diingat ketika mendengar kata "penilaian". Kami diminta menuliskan bagaimana 'kelihatannya', bagaimana 'rasanya', dan bagaimana 'kedengarannya' (lihat gambar di bawah).


Kami diminta berbagi mengenai apa yang kami tuliskan. Setiap peserta punya pengalaman yang berbeda-beda menyangkut penilaian. Banyak yang mengingat bahwa penilaian biasanya terkait ulangan atau ujian. Ada yang merasa penilaian menakutkan dan menegangkan, ada yang merasa biasa saja. Ada yang pernah memiliki pengalaman menyontek saat penilaian ada yang tidak. Dan banyak pengalaman lainnya.

Di bagian depan kelas, fasilitator telah menyiapkan tabel Know, Want to Know, Learned (KWL)

Beliau juga telah menyediakan post-it  di masing-masing meja. Peserta diminta menuliskan apa yang sudah kami ketahui mengenai penilaian autentik di post-it. Setelahnya, kami diminta menempelkan post-it tersebut di bagian "Know" pada tabel KWL. Kami pun berdiskusi mengenai apa yang telah kami ketahui mengenai penilaian autentuk, Beberapa peserta belum pernah mendengar mengenai penilaian autentik sebelumnya. Beberapa mengatakan bahwa penilaian autentik tidak harus berupa tes, tetapi bisa berupa portfolio, karya, dan sebagainya. Saya sendiri mengatakan bahwa penilaian autentik harus bisa mengukur 'tujuan pembelajaran' yang memang ingin dicapai.

Fasilitator menjelaskan bahwa tabel KWL sangat membantu untuk mengetahui apa yang siswa ketahui tentang sebuah topik, apa yang siswa ingin ketahui mengenai topik tersebut. Setelah pembelajaran, siswa mengisi bagian "learned" sehingga kita bisa mengetahui apa yang telah siswa pelajari di akhir pembelajaran.

Bersambung...