Mar 28, 2009

Permainan buat guru ekonomi

Seorang rekan di klub guru, sempat menanyakan bagaimana caranya mengajarkan ekonomi/akutansi kepada siswa SMU secara menarik. Beberapa jawaban dari teman-teman pun bermunculan. Ada yang mengulkan agar diadakan market day, ada yang mengusulkan agar siswa diajak melihat suatu proses ekonomi.

Tadinya saya tidak ingin ikut berkomentar, karena latar belakang saya bukan ekonomi, pengetahuan ekonomi saya minim dan saya juga tidak pernah mengajar ekonomi. Akan tetapi, sebagai seorang yang bernah berkuliah di bidang yang berhubungan dengan industri, terutama di bidang produksi, saya perlu mempunyai sedikitnya sekilas pengetahuan mengenai ekonomi. Selama saya kuliah saya diwajibkan untuk mengikuti mata kuliah manajemen, dan ada pilihan untuk mengikuti mata kuliah ekonomi teknik.

Mengingat pengalaman-pengalaman saya semasa kuliah, saya mengingat suatu kegiatan yang sebenarnya berhubungan dengan pembelajaran ekonomi. Waktu itu saya mengikuti kegiatan HMM Development Program, semacam program kepemimpinan untuk mahasiswa jurusan saya. Rekan-rekan dari dunia industri diundang untuk melatih kami semua. Di sana ada satu permainan yang berhubungan dengan ekonomi. Mungkin bisa diadopsi oleh teman-teman guru untuk diterapkan sesekali di dalam kelas. Permainan ini merupakan simulasi kegiatan di industri dalam skala kecil.

Uraiannya seperti di bawah ini:

Syarat:
1. peserta harus cukup banyak untuk membuat beberapa kelompok
Satu kelompok terdiri dari minimal 6 orang (idealnya sih sekitar 12 orang)
2. Untuk satu kelompok perlu disediakan setidaknya 4 meja.
3. Masing-masing kelompok perlu memiliki satu kotak lego (atau bisa dimodifikasi dengan hal lain seperti balok)

Permainan:

1. Setiap meja diletakan berjauhan satu sama lain, tapi masih dalam wilayah kelompok
2. Setiap kelompok memiliki orang yang berperan sebagai:
- Bagian produksi
- Konsumen
- Penyedia bahan baku
- Distribusi 1 (dari Produsen ke konsumen), distribusi 2 (dari konsumen ke
penyedia bahan baku, dan distribusi 3 (dari penyedia bahan baku ke produsen)
3. Instruktur memerintahkan peserta untuk membuat suatu model tertentu (misalnya susunan lego dalam model dan warna tertentu). Dibawah ini contoh susunan lego yang diinginkan (ceritanya barang yang sesuai permintaan pasar). Instruktor menyatakan target jumlah barang yang diproduksi. Misalnya dalam waktu 1/2 jam tersebut sudah harus ada 80 barang.



4. Bagian produksi diberi waktu tertentu untuk memproduksi sebanyak-banyaknya susunan lego tersebut

5. setelah barang jadi, distributor 1 mengantarkan susunan legi pada konsumen
6. Konsumen (dalam permainana memiliki peran)untuk menghitung jumlah susunan lego yang ia miliki. Setelah menghitung konsumen menyerahkan susunan lego ke distributor 2
7. Distributor 2 menghantarkan susunan lego ke penyedia bahan baku.
8. Penyedia bahan baku menguraikan susunan lego tadi menjadi sejumlah lego-lego yang berdiri sendiri

9. Distributor 3 menghantarkan lego-lego tersebut pada bagian produksi.

Secara kasar, prosesnya dapat digambarkan sebagai gambar di bawah ini:


10. Setelah waktu habis, masing-masing kelompok diminta untuk mengumumkan berapa jumlah produksi yang mereka buat dalam waktu tersebut? Apakah sesuai dengan target? 11. Peserta diberi tahu bahwa mereka akan diberi kesempatan kedua kalinya untuk meningkat kan produksi.
12. Peserta diminta mendiskusikan selama waktu tertentu (misalnya 5 menit) apa yang kira-kira dilakukan agar produksi bisa meningkat. Yang mungkin keluar dari hasil diskusi:
- meja didekatkan satu sama lain
- jumlah di bagian tertentu harus ditingkatkan, misalnya orang yang bekerja di bagian produksi harus di tambah. Bagian konsumsi mungkin dikurangi.
- Bila meja sudah didekatkan distributor cuma perlu satu orang, sehingga yang lainnya bisa bekerja di bagian lain
- dsb.

13. Setelah itu, permainan diulang lagi dalam waktu tertentu, dalam kurun waktu yang sama.
14. Setelah waktu habis peserta ditanya jumlah produksi yang dihasilkan dalam waktu setengah jam tersebut. Apa ada peningkatan? Atau malah menurun?
15. Proses di atas bisa diulang sekali lagi
16. Setelah permainan usai, apa yang terjadi selama proses di-share dan diskusikan, kemudian direfleksikan dengan hubungan permainan tadi dengan teori yang ada (misalnya teori ekonomi), misalnya produksi bisa ditingkatkan bila distribusinya lebih mudah dan sebagainya.

Begitulah permainan yang pernah saya mainkan dulu. Sudah lama sekali, jadi detailnya mungkin ada yang salah. Ini hanya salah satu model permainan yang bisa dilakukan di dalam kelas. Tentu saja, model ini tidak lepas dari kekurangan. Jadi siapa tahu ada yang bisa memodifikasinya emnjadi model yang leboh baik. Ada yang mau mencoba?

Sebuah renungan

Salah seorang teman saya pernah bertanya, "kok loe masih mau sih berteman sama dia?"

Itu ucapan teman saya saat saya menceritakan pertengkaran saya yang kesekian kalinya dengan seorang sahabat (sekaligus teman berantem saat itu) yang tak habis-habisnya. Teman saya, kata orang kebanyakan memang aneh, agak keras kepala, mellow berlebihan (kadang-kadang), suka sadis (kayak meninggalkan saya di tengah jalan), dan lain-lain.

Saya juga punya teman baik yang sangat suka membual ke siapa saja. Bualannya ini mungkin menyebabkannya menjadi publik enemy. Saya santai-santai saja berteman dengannya. Toh kita bisa memperbincangkan apapun.

Kedua cerita di atas adalah kejadian beberapa tahun yang lalu. Banyak orang mengira saya 'terlalu baik' karena kadang mau berteman dengan orang-orang yang mungkin oleh orang lain di cap 'tidak baik' entah sombong, suka membual, ajaib, dan sebagainya.

Salam bersahabat, saya memang tak ingin banyak menilai. Saya ingin bersahabat itu saja. Mereka mungkin 'tidak selalu baik'. Itu betul, namanya juga manusia. Akan tetapi sebagai manusia, merekapun bisa berproses. Proses ini bisa dihiasi berbagai rasa, mungkin ada konfilk-konflik yang menghadang di tengah jalan.

Saya percaya pentingnya membiarkan manusia berproses. Terbukti, sahabat saya yang dulu begitu suka ribut dengan saya akhirnya terus berhubungan baik dengan saya hingga kini. Kini kami mengontak sesekali dan dia sering berkata bahwa tiba-tiba dia mengingat saya. Sebelum saya berpisah (karena sahabat saya itu dulu mau berangkat ke luar negeri), sahabat saya mengirimkan sebuah kartu yang begitu manis yang menyatakan bahwa saya memperlakukannya dengan sangat baik dan dia menyayangi saya.


Belum lama ini saya sempat menuliskan salah satu sejarah diri saya sendiri. Dari sana, saya bisa menelusuri bagaimana dalam bersahabat, saya cenderung tidak mau nenilai. Ternyata saya percaya bahawa setiap orang akan berproses menjadi lebih baik, apabila ia dipercaya, didukung, disayangi, dan sebagainya.

Dalam kehidupan saya, saya pernah menjadi korban bullying. Bullying yang cukup parah dan cukup membuat saya trauma seumur hidup. Detailnya tidak akan saya ceritakan di sini.

Dua hari ini tak sengaja saya melihat peristiwa bullying di dua sekolah yang berbeda. Mungkin ini yang mengingatkan saya untuk kembali menuliskan mengenai masa lalu saya.

Sebagai korban bullying, percaya diri saya sangat jatuh. Sangat sangat jatuh, terlebih lagi karena saya tak punya teman cerita sehingga segala luka yang pernah saya alami saya simpan sendiri.

Saya dulu tidak cantik, tidak pintar, tidak menarik, dan aneh. Saya ingin diterima. Hanya orang-orang tertentu yang mau berteman dengan saya (jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan saya sangat menghormati mereka hingga sekarang).

Anehnya, ketika saya lepas dari lingkungan dimana saya mendapatkan perlakuan bullying tersebut, saya tiba-tiba menjadi sama buruknya dengan yang melakukan proses bullying kepada saya. Saya ingin mendongkrak segala percaya diri saya yang hilang tersebut. Saya menjadi sombong, sok cantik, sok keren, sok tahu, dan segala sok-sokan lainnya. Saya pun pilih-pilih teman. Saya ingin diakui. Tak heran, saat itu tak banyak yang menyukai saya. Seorang teman terang-terangan menyebutkan betapa sok-nya saya dan menyebalkannya saya. Dengan terus terang dan nada yang cukup marah ia ungkapkan perasaannya pada saya. Walaupun kata-katanya seperti tamparan, bukan itulah yang membuat saya berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Berada di lingkungan yang baru saya mulai memiliki teman-teman yang tumbuh menjadi sahabat. Sahabat-sahabat ini begitu baik pada saya. Saya yang sebelumnya selalu dihina dengan cacian yang tak semestinya, disakiti dalam arti fisik, dan diperlakukan tidak baik bisa diterima apa adanya. Diterima apa adanya merupakan salah satu penghargaan yang paling besar yang saya terima seumur hidup saya. Persahabatan dan kasih sayang yang tulus dari sahabat-sahabat saya yang selalu mendukung dan mendampingi saya hingga kini menjadi salah satu kekuatan yang paling besar dalam hidup saya. Saya belajar mencintai diri saya sendiri. Saya belajar menyayangi diri saya sendiri. Bukan hanya itu, percaya diri saya tumbuh, potensi saya berkembang, saya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Ketulusan, kasih sayang, dan kepercayaan sahabat-sahabat saya, menjadikan saya manusia yang semakin utuh sebagai manusia. Saya menjadi manusia yang seperti adanya hari ini bukan berdasarkan suatu yang tiba-tiba. Saya berproses dan sahabat-sahabat saya selalu ada di samping saya dalam menempuh proses ini.

Sejarah saya sendiri menjadi hal yang penting dalam perjalanan karir saya sebagai pengajar. Selama menjadi pengajar, saya kebanyakan menghadapi praremaja. Kelas 5-6 dan SMP. Dari sekian murid-murid saya, masing-masing memiliki cerita yang berbeda-beda. Ada yang bandel, malas, suka membangkang, atau bahkan melakukan hal-hal yang tak semestinya.

Oprah Winfrey, pernah mengatakan bahwa orang yang suka (dengan sengaja) menyakiti orang lain sebenarnya diri sendirinya tersakiti.

Dengan kata lain, suatu tingkah laku manusia yang 'tidak semestinya', pasti di dasari oleh suatu alasan tertentu. Mungkin percaya diri yang kurang, masalah keluarga, cinta, lingkungan, ataupun ribuan alasan yang mungkin tak bisa kita lihat dengan mata kita. KIta hanya bisa melihat saart kita mau membuka diri untuk mengenal mereka lebih dekat.

Meski kini seorang mungkin terlihat 'tidak baik' menurut norma umum, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidup mereka. Kita juga tidak akan tahu apapun yang terjadi padanya di masa depan. Pengetahuan itu hanya milik Allah yang Maha Kuasa. Hari ini, yang bisa kita lakukan hanyalah memberikan dukungan, kepercayaan, dan kasih sayang yang setulus-tulusnya. Saya percaya dengan kekuatan ini. Kekuatan besar yang tidak bisa diterangkan dengan logika tapi berasal dari dalam hati. Kekuatan ini hanya ada saat hati kita bisa tulus, setulusnya. Saya tidak mengatakan hal ini mudah, tentu saja tidak! Walaupun tidak mudah, tapi setidaknya layak dicoba! Iya kan?

:)

Mar 23, 2009

Model Pendidikan Bukan Hanya Sekolah

Jujur..
Saya pribadi memang tertarik pada dunia 'persekolahan'.
Saya selalu bercita-cita ingin menjadi guru di suatu sekolah, yang alahamdulillah sempat terwujud. Tapi jauh dilubuk hati saya, saya percaya bahwa model pendidikan bukan hanya sekolah. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa ada komunitas-komunitas pendidikan alternatif, kegiatan home schooling, dan banyak lagi. Dalam tiap budaya, pasti ada 'ide yang dianggap paling dominan'. Untuk zaman sekarang mungkin 'ide paling dominan' adalah sekolah. Ini sebuah hirarki yang dibentuk entah oleh budaya ataupun penguasa. Bagi saya, tak ada yang lebih baik. Model pendidikan yang paling baik, semuanya tergantung situasi (sosial, ekonomi, dll), kondisi, dan juga kecocokan masing-masing individu.

Sebenarnya lama saya membayangkan salah satu model pendidikan yang 'kayaknya asik.' Model ini terinspirasi dari film-film kungfu. Walau saya bukan penonton setia film kungfu. Tapi saya sangat menyukai ide murid mencari guru yang sering ada dalam film kungfu. Kalau ada seorang yang sangat ingin belajar kungfu, ia akan mendatangi yang 'dianggap ahli' dalam kungfu. (Para penggemar kungfu, silakan koreksi saya apabila saya salah!)

Berguru didasarkan akan keinginan pribadi, kebutuhan pribadi, kesadaran pribadi. Sebelum berguru, sang individu harus sudah bisa menentukan tujuannya. Dari sana ia bisa menentukan apa yang perlu ia pelajari terlebih dahulu. Kemudian ia akan mencari sang guru. Mencari sang guru, baru satu langkah awal. Siapa tahu sang murid kelak bisa belajar lebih banyak dari yang diperkirakan, atau mungkin melebihi sang guru. Bagi saya 'model pendidikan ala kungfu' ini sangat keren dan mungkin bisa diterapkan untuk bidang-bidang lain (selain kungfu).

Model pendidikan kedua yang bagi saya 'keren', adalah adanya suatu 'ruang publik'. Ruang publik tempat masyarakat bisa bertemu, mendapatkan akses informasi, berinteraksi, bertukar informasi dan ide. Bukankah Indonesia dulu sudah memiliki ruang-ruang publik seperti ini? Warung kopi, rumah ibadah, balai desa, apa lagi yah?

Inspirasi mengenai ruang publik bagi saya juga datang dari konsep-konsep 'ruang publik' yang saya temui di Bandung dulu berupa toko buku komunitas seperti Tobucil, yang mengadakan berbagai kegiatan setiap harinya, di sana ada klub rajut, klub nulis, klub baca, klub baca anak, klub musik. Saya teringat, Wabule (Warung Buku Lesehan) sebuah toko buku komunitas yang kini sudah tidak ada. Dulu di sana setiap harinya selalu ada diskusi santai tentang berbagai hal. Segala jenis orang dari berbagai usia berkumpul di sana dan membicarakan berbagai hal. Mungkin terlihat santai. Tapi di sanalah saya dahulu berhasil mengenal begitu banyak orang, menjalin relasi, dan juga belajar berbagai hal. Berdasarkan pengalaman saya, tersedianya ruang publik (ditambah akses informasi berupa buku, media, internet), sungguh merupakan suatu 'model pendidikan' yang tak kalah baiknya dibandingkan model-model pendidikan yang lain. Menurut saya membuka suatu ruang publik (gratis) yang dilengkapi akses informasi, ntah berupa taman bacaan, tempat nongkrong dan diskusi, dan ruang publik lainnya yang ramah (mampu membuat orang merasa nyaman untuk datang tanpa melihat status ekonomi atau sosial) artinya memberikan suatu pendidikan bagi masyarakat.

Saya selalu menganggap bahwa suatu model, suatu sistem, komunitas atau apapun yang dibuat oleh manusia. Baik sekolah, sistem home schooling, komunitas pendidikan alternatif, 'model pendidikan ala kungfu', atau 'model pendidikan dengan adanya ruang terbuka' semuanya merupakan buatan manusia. Manusia punya keterbatasan, dan model-model ini tak akan pernah sempurna. Walaupun begitu, bila 'satu model pendidikan' cukup terbuka untuk bisa belajar dari 'satu model pendidikan yang lainnya' dan sebaliknya maka semua akan saling melengkapi. Semua akan saling mengisi.