Sep 9, 2010

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

“Plak,” suara keras berbunyi. Saya menoleh. Teman saya, seorang siswi sedang menampar seorang siswa. Saat itu sedang sore. Masih ada beberapa siswa-siswi masih ber-ekskul ria dan saya sedang berdiri memandangi kegiatan-kegiatan yang masih berlangsung di sekolah. Saya selalu mencintai suasana sore hari di sekolah saya.
Ternyata tak lama kemudian, ntah bagaimana kejadiannya saya sudah berada di sebuah ruang besar bersama teman-teman seangkatan saya. Saya mulai paham apa yang terjadi. Telah terjadi sebuah kekerasan seksual di sekolah kami. Seorang siswa laki-laki ntah bagaimana masuk ke kamar mandi putri dan merekam teman saya dengan sebuah kamera. Hasilnya ditunjukkan ke beberapa siswa-siswa laki-laki lain. Bagi mereka saat itu mungkin lucu, tidak bagi kami siswi. Di sebuah ruang besar, mungkin ada lebih dari 50-an siswa-siswi berkumpul. Kami saling mengungkapkan pendapat. Menyatakan bahwa kami tidak hormat pada sikap yang dilakukan oleh siswa laki-laki. Siswa laki-laki si sekolah saya cukup terkenal dengan kekompakannya. Tetapi dalam hal ini, kekompakannya bukanlah hal yang positif. Menyebarkan suatu rekaman yang mempermalukan teman sendiri ke sesame siswa laki-laki. Kami berdialog. Siapapun yang berada dalam forum itu saling mengungkapkan pendapatnya. Kami mendengarkan bagaimana sebuah proses yang cukup menyakitkan ini bisa terjadi. Kenapa bisa terjadi? Bagaimana sikap kami terhadap kejadian tersebut. Apa yang kamu setujui dan tidak. Bagi yang merasa bersalah, pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Kami pun membahas bagaimana kami bisa memperbaiki sikap dan hubungan antar kami semua.


Ntah kenapa saat saya mempelajari mengenai restorative practice sebagai sebuah praktek yang bisa digunakan di sekolah saya mengingat kejadian tersebut. Menurut mark Le Messurier, restorative practice didefinisikan seperti berikut :

Restorative practice is a contructivist learning-based process that distinguishes between managing behavior and managing relationships. Based on the principles of restorative justice, restorative practices assume that the best way to deal with a problem is to teach individuals how to discuss, listen, share, and exchange ideas about it.(Messurier, 2010, h.32)
Spirit yang bersifat restoratif dijelaskan sebagai berikut :
The restorative spirit rejects poor behavior, but endavours to understand it, repair the problem and find agreement on what needs to happen to make things better. The needs of those who have been harmed are central in these decisions. Those who caused harm are enabled to make amends and find a way to continue their positive engagement in school life (Moxon et al. 2006 dikutip dalam Messurier, 2010, h.32)


Sedangkan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah restorative practice dijelaskan sebagai berikut :

The restorative message to those who have behaved inappropriately is ‘You’re okay, but that behavior isn’t’. This is a world apart from the traditional disciplinary message ‘You’ve acted badly, so now you will be treated like a bad person’. Mistakes ad wrongdoings are seen through the lens of how they affect others, and consequences always focus o what needs to happen to mend the harm caused. Those who have caused a problem are encouraged to show care and take responsibility. The group (including the teacher) also commits to reaccepting the wrongdoer once they have acted to right their wrongs. (Messurier, 2010, h.32)


Ada beberapa cara dalam melakukan restorative practice diantaranya disebutkan dalam website http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm, yakni :

1. Restorative enquiry, the starting point for all restorative processes involving active non-judgmental; listening. The process can be used with one person to help them reflect on a situation and find ways for forward for themselves. It also useful before and during face-to-face meetings.

2. Restorative discussion in a challenging situation, often between a more and less powerful person. Skills include expressing and listening for feelings and needs, and understanding why each has acted the way they have.

3. Mediation - useful when both X and Y belive the other person is the cause of the problem. The mediator remains impartial, and helps both sides to consider the problem as a shared one that needs a joint solution. Can be offered by trained students, who act as peer mediators

4. Victim/Wrongdoer mediation - useful when someone acknowledges they have caused harm* to another person and both sides agree to see how the matter can be put right, with the help of an impartial mediator

5. Using Circles, for team building and problem solving, enables a group to get to know each other and develop mutual respect, trust and concern

6. Restorative conference, involving those who have acknowledged causing harm meeting with those they have harmed, seeking to understand each other's perspective and coming to a mutal agreement which will repair the harm as much as possible. Often all sides bring supporters, who have usually been affected, and have something to say from a personal perspective.

7. Family Group Conference - useful when a plan is needed to provide support to a young person, or their family in making changes. Family Group Conferences are converted in neutral venues by independent co-coordinators. The meeting involves three stages. It starts with professionals sharing information with family members and providing consultancy on options for future help. Then the family members have private time on their own to discuss and deliberate, and come up with a plan for a way forward to help the child's situation. At the end of the meeting key professionals return with the coordinator to hear and record the family plan and make arrangements for monitoring and review. This process can be preceded by a restorative element where appropriate.


Menurut saya proses yang terjadi ketika saya sekolah dulu disebut restorative conference. Teman saya yang menjadi korban dari prilaku teman yang lain saling bertemu, ditambah dengan teman-teman lainnya dan saling mendiskusikan pendapat mengenai kejadian yang terjadi.

Proses restorative practice seingat saya diterapkan oleh AS. Neil dalam sekolahnya yang disebut Summerhill School. Siswa-siswinya dibiasakan untuk mendiskusikan masalah dan membahas apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Para guru yang menggunakan metode ini biasanya percaya bahwa apapun yang terjadi di sekolah menggambarkan kualitas hubungan antar manusia di sekolah tersebut… Mereka akan selalu bertanya apakah sikap saya dalam menegakkan disiplin mensupport adanya relasi antar anggota komunitas sekolah ataukan menghancurkan hubungan tersebut (Messurier, 2010, h.32). Apakah teman-teman guru pernah menggunakan restorative practice misalnya dalam menyelesaikan konflik? Kalau pernah, share yah pengalamannya.. Saya ingin belajar.

Sumber :
1) Messurier, Mark Le. (2010). Teaching Tough Kids : Simle and proven strategies for student success. Ocon : Routledge
2)http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm

** Bagi yang merasa merupakan tokoh dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Saya hanya menggunakannya sebagai contoh untuk memahami apa yang dimaksud dengan restorative practice. Salam damai.

No comments: