Apr 20, 2009

Review Film: "Ikhsan: I Love You Mama"


Awal film ini bikin frustasi karena film ini diawali sebuah adegan seorang guru membentak seorang anak untuk membaca suatu bagian dari suata buku. Bukan hanya itu. Gurunya pun galak tak kepayang. Saking galaknya yang nonton ikut merasa ngeri. Serem.

Bagaimanapun juga, film "Iksan: Mama I Love You" mengangkat teman yang cukup unik, yakni tentang seorang anak yang dyslexsia.

Ikhsan, seorang murid sekolah dasar dua kali ngak naik kelas. Sayangnya, ia tak mendapatkan support yang memadai. Teman-temannya pun sering mengejeknya, mengecapnya bodoh. Guru-guru di sekolahnya pun melakukan hal yang sama. Berulang kali ia di cap bodoh, sehingga tentu, akhirnya ia sendiri menjadi frustasi. Digangu terus-menerus, pada akhirnya Ikhsan terlibat suatu perkelahian dengan kakak kelasnya. Guru dan kepala sekolahnya makin marah tentunya.

Ikhsan begitu sering mendapat nilai nol. Pihak sekolah lepas tangan. Ikhsan, terpaksa harus dikeluarkan.

Di rumah, Ikhsan selalu dibandingkan dengan kakaknya yang selalu berprestasi.

"Ikhsan anak pungut yah?" tanya Ikhsan pada kakaknya.

Ketika ditanya kenapa Ikhsan merasa begitu, ia katakan bahwa ia begitu berbeda dengan kakaknya.

"Kaka bisa membaca buku-buku untuk oreang dewasa ber pre.. pre... prestasi"

Bapak Ikhsan pun menyalahkan Ikhsan atas semua kegagalan akademiknya. Belum bisa membaca, bodoh, malas, main play stasion terus. Ia pun dipindahkan untuk masuk sekolah asrama. Bapak Ikhsan akhirnya memutuskan agar Ikhsan masuk ke suatu asrama.

"Agar dia belajar mandiri dan tidak menjadi manja", begitulah niatnya.

Ikhsan, telah kehilangan kepercayaan diri. Ia merasa tidak diterima oleh keluarga, dibuang.

Ikhsan bertanya pada teman barunya, yang ia kenal di asrama, "Kenapa kamu dibuang ke sini?"

Ikhsan merasa anak-anak yang disekolahkan di situ merupakan buangan, meskipun kenyataannya tidak begitu.

Di sekolah asrama, Ikhsan semakin hari semakin stress. Semua gurunya mencap ia bodoh. Sebagai penonton, saya merasa bagian ini extrem sekali. Masa sih semua guru mengecap seorang anak bodoh?

Pak Harun, guru kesenian yang baru memperhatikan Ikhsan. Ia mampu melihat bahwa tidak ada kebahagiaan di mata Ikhsan. Saat memeriksa kamar Ikhsan, ia menemukan gambar Ikhsan, sebuah komik, berisi gambar Ikhsan dan keluarga. Awalnya tergambarkan bahwa Ikhsan dekat dengan keluarga lalu perlahan jauh, menjauh, sehingga akhirnya hilang.

Sebagai orang yang pernah mengalami masalah yang sama dan sebagai guru yang juga mengajar di sebuah SLB, Pak Harun mengerti apa yang dialami Ikhsan. Ia melakukan pendekatan yang sangat personal. Mulai dari menceritakan tentang orang-orang hebat, yang tidak lancar membaca, berbicara dengan Ikhsan dari hati ke hati dan juga melakukan pendekaan terhadap orang tua Ikhsan.

Saat mendatangi rumah orang tua Ikhsan, Pak Harun meminta bapaknya Ikhsan membaca sebuah tulisan dengan huruf Korea. Bapak dari Ikhsan tentu tidak mengerti. Lalu Pak Harun berkata, "Coba baca lagi." Saat bapak dari Ikhsan menjawab tidak bisa, Pak Harun berkata "Bapak bodoh, Bapak malas, Bapak tidak mau berusaha."

Hal ini dilakukan untuk menunjukan bagaimana perasaan Ikhsan yang sebenarnya. Ia menunjukan buku catatan Ikhsan dan menunjukan kesalahan-kesalahan yang dibuat Ikhsan. Huruf yang terbalik, salah eja. Ia juga menunjukan bukti kerja keras Ikhsan saat menuliskan sebuah kata berulang kali, bukti ia mau berusaha.

Pak Harun, sepenuh hatinya melakukan pendekatan personal kepada Ihsan. Bukan hanya mengajari Ikhsan mengenai huruf-huruf dengan metode khusus, ia juga mencoba membangkitkan percaya diri Ikhsan.

Selain Pak Harun, semua guru-guru di film ini digambarkan sebagai sosok yang galak, tidak manusiawi, kaku, dan tidak berpikiran terbuka. Bagi saya, image guru-guru yang lain ini terlalu ekstrim, walau sosok-sosok seperti ini, mungkin ada di dunia nyata.

Lepas dari segala kekurangannya, film ini menyodorkan sebuah ide yang menarik, dan memuat pesan yang bagus untuk para pendidik, yakni, untuk tidak langsung menjudge seorang anak sebelum kita mengenal mereka lebih dekat.

--
Untuk menonton film ini bisa melihatnya di :
http://www.youtube.com/watch?v=n1x9jR0ehCM

Sumber Gambar: http://wulanguritno.blog.kapanlagi.com/category/movies/

Apr 4, 2009

Kejadian aneh-aneh

Kemarin waktu saya bekerja, ada dua kejadian. Yang pertama, ada seorang anak yang giginya copot di tengah pelajaran. Hal ini wajar, karena tentu saja anak seumur tersebut sedang masa-masanya ganti gigi susu menjadi gigi dewasa (kelas 5 SD). Selain ada yang giginya copoy, ada satu anak yang mencoret mukanya sendiri dengan spidol. Saat itu saya tidak memperhatikan kenapa dia mencoret mukanya sendiri, karena saya sedang membantu anak lain belajar. Saat kuajak untuk membersihkan mukanya dia ngak mau karena takut malah bakal 'mbleberi mukanya'. Jadi dia pulang dengan muka belepotan spidol. Eh di jalan saya bertemu dengannya, sedang dijemput ibunya. Ibunya marh-marah tampaknya. Anak ini ketawa-tawa aja lagi. Dasar! Hehehe..

Saya jadi ingat kejadian-kejadian di masa lalu. Waktu saya masih bekerja di sebuah tempat kursus di Bandung, ada satu anak yang cerdasnya luar biasa, tapi suka aneh-aneh. Dia tampaknya 'sedikit luar biasa'. Walau anaknya agak sulit berkonsentrasi, kadang kalau dia datang tiba-tiba kadang dia akan menceritakan fakta-fakta sejarah yang entah dia dapat dari mana. Saat itu dia masih kelas 2 (atau 3 SD) kalau tidak salah. Hehe.. Suatu hari aku memergoki dia membuang ingus di dalam bak mandi. Aneh aneh aja. Oh my!

Sebelumnya saya punya murid lain. Anaknya juga cerdas sekali. Tapi pernah melakukan hal yang aneh, tiba-tiba dia nyemplung ke selokan. Waktu itu dia masih 5 (atau 6 tahun). Ketawa-tawa lagi. Aduh!

Oh yah pernah juga ada kejadian ajaib. Saat di tempat kerja saya di Bandung, pernah ada anak yang sempat kejepit pintu. Walau saat itu katanya sudah tidak sakit lagi, ternyata anak ini kalau sudah menangis, ngak bisa berhenti-berhenti. Jadi saat itu dia menangis selama 2 jam penuh. Saat itu bukan saya yang menangani, karena saya sedang memeriksa PR. Saya malah tidak dengar ada yang teriak-teriak , padahal rekan-rekan saya yang lain semua mendengarnya (Saya cenderung tidak multi tasking, sehingga kalau sedang berkonsentrasi kadang tidak mendengarkan apapun juga). Saat sedang pulang bersama atasan saya, atasan saya bercerita, "Haduh.. denger gak tadi. Si A.. nangis teriak-teriak, 2 jam gak berhenti-berhenti setelah kejepit pintu, padahal katanya tangannya sudah ngak sakit lagi. Saya telepon ibunya katanya mamng begitu anaknya. Kalau nangis, lama sekali berhentinya. Yah sudah untung ibunya akhirnya ngejemput."

Haha.. cerita-cerita di atas membuat saya ingin tertawa. Ada-ada saja memang.