Jul 23, 2011

[Reposting] Dari Guru Untuk Siswa


Dari Guru Untuk Siswa
(Terinspirasi dari Buku Perahu Kertas karya Dewi Lestari )
Oleh Dhitta Puti Sarasvati
Akhir pekan lalu, saya iseng membaca sebuah fiksi karya Dewi Lestari (Dee) berjudul Perahu Kertas. Ada dua tokoh utama dalam cerita. Yang satu bernama Kugy, seorang yang suka menulis cerita anak. Tokoh berikutnya  bernama Keenan, kegemarannya melukis.

Dalam buku tersebut, dikisahkan bahwa sambil kuliah Kugy menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak di sebuah Sekolah Dasar darurat bernama Sekola Alit, yang terletak di Bojong Koneng, Bandung. Di sana Kugy mengajar anak-anak membaca dan menulis di bawah sebuah pohon.
Kegiatan Kugy tampaknya memberikan banyak insipirasi bagi Kugy untuk menulis. Kemampuannya menulis, menjadi sebuah kekuatan dalam mengajar. Setiap kali kemampuan membaca muridnya meningkat, Kugy  menghadiahkan mereka sebuah tulisan. Pengarangnya? Kugy sendiri. 
Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu, setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya diambil dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamen-ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka. ( Perahu Kertas, Dewi Lestari, h. 103)

Seharusnya dalam membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, seorang guru sebaiknya membangkitkan motivasi yang sifatnya internal. Motivasi yang berasal dalam diri siswa, bukan karena hadiah, bukan untuk mendapatkan nilai tinggi, bukan untuk menjadi juara kelas, tetapi karena siswa memiliki kecintaan terhadap belajar, karena siswa merasa belajar adalah suatu kebutuhan, karena belajar, memiliki nilai intrinsiknya sendiri. Hm.. saya jadi ingat obrolan saya dengan seorang guru minggu lalu, saat menceritakan otak yang terus berputar terstimulasi setelah belajar sehingga menyebabkan seseorang sulit tidur.
“Rasanya, ada waktunya otak saya begitu terstimulasi (misalnya sehabis membaca atau berdiskusi), ide-ide berterbangan dikepala saya hingga saya sulit tidur.”“Saya juga begitu,biasanya saya akan langsung tuliskan, baru bisa tidur nyenyak.”“Begitu yah otak kalau terstimulasi karena belajar. Sampai bisa bikin sulit tidur.”
Meskipun tidak sama persis, begitulah kurang lebih inti dari pembicaraan kami. Belajar memang mengasyikan. Belajar dari mana saja, dari pengalaman, pengamatan, buku, apapun. Dan kadang membuat otak kita berputar begitu cepat, sehingga kadang membuat saya tidak bisa tidur. Motivasi sejenis ini, yang seharusnya ditumbuhkan pada siswa.
Meskipun begitu, menurut saya, pendekatan Kugy dalam memotivasi siswanya untuk belajar membaca cukup menarik. Tidak semua orang langsung mempunya motivasi yang sifatnya intrinsik dalam belajar. Kadang-kadang reward sederhana seperti pujian, hadiah, tidak ada salahnya. Kadang-kadang motivasi yang berasal dari luar diri, bisa menjadi langkah awal untuk menanamkan motivasi yang berasal dari dalam diri.
Dalam kisah Perahu Kertas, Kugy, membuatkan cerita-cerita mengenai anak sebagai penghargaan setiap kemampuan bahasa mereka meningkat. Membuatkan cerita untuk masing-masing siswa yang diajarnya tentu memerlukan effort. Hal ini menunjukan bahwa Kugy, sebagai seorang pengajar, memerhatikan siswanya satu per satu dan bersedia menyediakan waktunya untuk memberikan sebuah reward yang sifatnya personal. Kelebihan Kugy, menurut saya, bukanlah karena ia memberikan reward pada murid-muridnyanya, melainkan karena dia memberikan  perhatian  kepada murid-muridnya.
Hm.. saya jadi teringat pada beberapa orang guru yang saya kenal. Guru-guru beneran, bukan fiksi. Ada seorang dosen bahasa yang selalu mengumpulkan brosur-brosur dari tempat-tempat yang dikunjunginya, untuk ditunjukan kepada murid-muridnya sebagai bahan pembelajaran. "Bagaimana sih bahasa yang digunakan dalam brosur tersebut? Apa yang membuatnya menarik?"  adalah hal yang bisa ia tanyakan di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kali ia melihat hal yang menarik dan bisa bersifat edukatif, ia ingat pada muridnya. 
Seorang teman guru yang lain juga selalu mencoba menyempatkan diri untuk mengomentari wall-wall  facebook muridnya (termasuk menegurnya ketika ada muridnya yang menggunakan kata-kata kasar). Hal ini menunjukan bahwa ia peduli dengan murid-muridnya, dan tentu ingin membangun komunikasi dengan murid-muridnya kapan ia bisa. 
Ada juga teman-teman guru yang membuat website untuk memajang karya-karya muridnya. Saya juga ingat, ada seorang teman guru yang mengirimkan karya siswanya ke sebuah milis guru (klubguruindonesia(at)yahoogroups(dot)com; sekarang ikatanguruindonesia(at)yahoogroups(dot)com ), agar teman-teman guru yang lainnya bisa mengomentari karya siswanya. Saya memang menyempatkan diri untuk ikut mengomentari karya muridnya dan kata sang guru, sang murid bangga sekali (mudah-mudahan juga terus termotivasi untuk menulis).
Sebenarnya, saat saya membaca apa yang dilakukan Kugy untuk memotivasi siswa-siswanya, saya paling teringat dengan seorang teman saya yang menempuh sebuah SMU di daerah Bukittinggi. Ia sekarang memilih untuk menjadi penulis dan sangat mencintai dunia baca-tulis. Beginilah yang pernah ia katakana ke saya:
Guru saya tidak menggunakan buku pelajaran. Ia selalu menggunakan semacam buku pelajaran sendiri. Semacam modul. Dan setiap tahun ia membuat modul yang baru. Setiap tahun ia menggunakan nama-murid-murid dalam kelasnya sebagai tokoh tulisan-tulisan yang ada di modul yang ia buat. Misalnya namaku Inal. Nah, pasti ada bagian dalam buku itu yang menggunakan namaku. Semua murid yang lain juga begitu. Pasti ada nama mereka dalam modul yang dibuat oleh guru saya.
Menurut saya, guru tersebut sangat luar biasa. Membuat modul bahasa tentu membutuhkan waktu dan effort yang cukup besar. Apalagi bila ia membuat sebuah modul baru setiap tahunnya. Ia juga selalu menggunakan nama murid-muridnya. Jadi, kalau murid-muridnya membaca modul tersebut, tentu aka nada kegembiraan dalam hati mereka. Guru mereka memperhatikan mereka dan nama mereka ada dalam sebuah buku!
Hm.. mungkin inti dari apa yang dilakukan Kugy dan apa yang dilakukan guru bahasa Indonesia teman saya bukan pada reward tapi lebih pada perhatian yang diberikan seorang guru pada siswanya. Sebuah perhatian istimewa dari guru untuk siswa. Ini tentu langkah-langkah awal yang dijalankan oleh guru-guru ini dalam menanamkan motivasi belajar kepada siswanya. Sebuah semangat yang patut ditiru!

9 Juni 2010

Jul 22, 2011

Label 'Sekolah Inklusi'

An ‘inclusive’ education system can only be created if ordinary schools become more inclusive – in other words, if they become better at educating all children in their communities.

Sebuah sistem pendidikan yang ‘inklusif’ hanya bisa diciptakan apabila sekolah-sekolah umum menjadi lebih inklusif - dengan kaya lain, mereka menjadi lebih baik dalam mendidik semua anak di dalam komunitas mereka.

(UNESCO di dalam Policy Guidelines on Inclusion in Education, 2009)

Saya bukan ahli dalam bidang pendidikan luar biasa, bukan juga dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, dan saya tidak memiliki kualifikasi apapun di bidang pendidikan inkulusi. Tetapi saya tahu bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar menerima siswa yang berkebutuhan khusus seperti anak yang mengalami down syndrome, autis, tuna netra, tuna grahita, dan sebagainya ke dalam sekolah umum. Apalagi tanpa persiapan khusus.

Bukan hanya sekali, saya mendengar mengenai sekolah-sekolah negeri yang berlabel ’sekolah inklusi’ tetapi hanya sekadar menerima siswa yang berkebutuhan khusus, tanpa persiapan. Seperti cerita seorang guru pada saya hari ini. Dia mengajar di sebuah SD Negeri di Jakarta Selatan. Sekolahnya berlabel sekolah inklusi. Artinya, mereka harus menerima siswa-siswi yang memiliki kebutuhan khusus. Sayangnya, di sekolah tersebut tidak ada guru yang bertugas khusus untuk menangani siswa-siswi yang berkebutuhan khusus. Tidak ada psikolog yang berpartner dengan sekolah, sehingga guru-guru bisa berkonsultasi. Satu guru harus memegang 40 siswa sekaligus, termasuk siswa-siswa berkebutuhan khusus. Dan, kebijakan sekolah pun tidak ramah terhadap siswa-siswi yang berkebutuhan khusus. Misalnya seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar karena IQ-nya 60 tetap diwajibkan untuk mengikuti ujian nasional!

*
Seorang teman saya yang berkebangsaan Thailand, pernah bersekolah di sebuah sekolah inklusi. Dia pernah bercerita pada saya, bahwa sekolah-sekolah inklusi di Thailand memang menerima siswa-siswa yang berkebutuhan khusus untuk sekolah di sana. Tetapi, bedanya dengan sekolah di atas adalah bahwa sekolahnya benar-benar dipersiapkan untuk menerima siswa yang berkebutuhan khusus. Masing-masing siswa dibuatkan yang disebut Individual Educational Plan (IEP). Yang berarti kebutuhan siswa dianalisa sedetail mungkin, dan program pembelajarannya pun dedesain sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Di dalam IEP diatur, misalnya, si A akan belajar bersama kalau pelajaran X di kelas ini, tetapi untuk mata pelajaran yang berbeda dia akan memiliki guru khusus. IEP bagi satu anak bisa berbeda dengan anak yang lainnya. Ketika merancang IEP pun banyak pihak yang dilibatkan, dan proses ini dipersiapkan dengan sangat matang, seperti yang bisa dilihat di http://www.rism.ac.th/ris/inner342.php?p=342 . Orang-orang yang terlibat diantaranya siswa, orang tua, guru kelas/wali kelas, kepala sekolah, guru BK, dan psikolog.

“Seorang teman sekelas saya yang berkebutuhan khusus, sampai sekarang masih menjadi semacam asisten untuk membantu siswa-siswa lain yang berkebutuhan khusus yang lebih muda,” ceritanya pada saya.

**

Bagi saya, sekolah inklusi hanyalah salah satu pendidikan dari berbagai bentuk pendidikan yang ada di Indonesia. Seorang yang berkebutuhan khusus tetap berhak mendapatkan pendidikan, dan mungkin sekolah inklusi bisa menjadi pilihan. Yang menjadi kegelisahan saya adalah ketika sekolah-sekolah inklusi ini hanya label.

Seorang murid (privat) saya pernah bercerita bahwa sekolahnya, yan terdapat di daerah Jakarta Timur, adalah sebuah SMUN yang berlabel inklusi. Teman sekelasnya ada yang menderita Autis. Siswa ini dibully oleh teman-temannya. Bukan secara fisik, memang tetapi secara verbal, diejek, ditepuk-tepuki, diteriaki. Anehnya, gurunya juga bertepuk tangan ketika siswa ini sedang di-bully.

Di Bandung pun, seorang teman saya yang tuna netra bersekolah di sebuah sekolah negeri inklusi. Tetapi bagi teman-teman tuna netra, tidak ada peraga khusus. Kalau gurunya menerangkan mengenai grafik x-y misalnya, dia akan menerangkannya seakan-akan semua anak bisa melihat.

Saat hal-hal ini terjadi, sebaiknya kita kembali bertanya, apa tujuan dari sebuah sekolah inklusi? Apakah hanya memasukkan anak-anak berkebutuhan khusus ke dalam kelas normal? Ataukah ada tujuan yang lebih mulia dari itu? Bukankah tujuan sekolah inklusi adalah membantu agar semua anak bisa berkembang potensinya? Tentunya untuk mencapai ini perlu ada kesiapan dari setiap elemen yang ada di sekolah, baik siswa yang lain, guru, maupun kepala sekolah.

Saya setuju bahwa setiap anak di Indonesia, termasuk siswa-siswa yang berkebutuhan khusus berhak mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak lain, tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa kebutuhan mereka, boleh diabaikan. Kalau memang mau mendirikan sekolah inklusi, sebaiknya sekolah tersebut dirancang dengan sebaik-baiknya. Apabila memang ingin mendirikan sekolah yang bertujuan menampung anak berkebutuhan khusus, pertama, sekolah harus paham kebutuhan siswa tersebut apa. Kedua, sekolah tersebut harus siap, baik secara untuk memenuhi kebutuhan siswa tersebut. Tentunya, seperti yang disampaiakan oleh UNESCO, sekolah tersebut harus menjadi lebih baik dalam mendidik semua anak di dalam komunitas mereka.

Jul 18, 2011

A link about Pseudoteaching :
http://teachbrianteach.blogspot.com/2011/03/pseudoteaching-on-guided-inquiry-front.html

Modeling Guided Reading FAQ


Dapat link ini dari Pak Agung Wibowo

Mau berlari?

Keponakan saya, baru naik kelas dua SD. PR-nya adalah menyalin LKS yang sangat membosankan. Bukan hanya menyalin kata-katanya, tetapi juga menyalin gambarnya (yang cukup sulit, bahkan untuk saya sekalipun!). Tentu soal-soalnya harus dikerjakan juga. Sekarang dia sedang belajar mengenai bilangan ratusan.

Ada satu soal yang meminya dia menuliskan bilangan loncat 6 mulai dari 125 sampai 180. Karena saya mengikuti perkembangan belajarnya, saya tahu dia tidak pernah benar-benar belajar mengenai place value. Saya rasa konsep ratusan, puluhan, dan satuan pun belum paham. Kalau saya diminta menuliskan bilangan loncat 6 dari 125 sampai 180 saya cukup menjumlahkan saja

125+6 = 131
131+6 = 137
137+6 = 143
143+6 = 149
149+6 = 155
155+6 = 161
161+6 = 167
167+6 = 173
173+6 = 179

Keponakan saya memilih menggunakan jari-jarinya. 6 jarinya diangkat. Dia membilang dari 125 - 180. Itu pun dia masih kacau, terutama misalnya menyebutkan angka setelah 129, 139, dan seterusnya (terutama setelah satuannya 9). Kenapa harus cepat cepat membilang loncat 6 yah kalau membilang loncat 2 belum tentu lancar? Kenapa harus cepat-cepat membilang loncat kalau pemahaman konseptual akan satuan, puluhan, dan ratusan belum bisa. Kenapa harus diburu-buru sih?


Sesekali saya mengejari keponakan saya dari dasar. Materi saya dapatkan dari http://www.cimt.plymouth.ac.uk Di sana, untuk mengajarkan konsep mengenai bilangan 0 sampai 3 saja saya melakukannya dalam waktu yang cukup lama. Saya menemukan bhwa butuh waktu bagi keponakan saya kadang masih belum paham konsep nol. Sekarang baru masuk ke bilangan sampai 5. Pelan-pelan saja. Ini tambahan baginya dari materi yang didapatkan di sekolah.

Saya jadi ingat obrolan saya dengan seorang guru SMP saat pelatihan, "Mbok yah kita diajarin materi yang sulit, masa harusbelajar aljabar dan geometri lagi. Kita kan sudah mengajar matematika bertahun-tahun. Mbok yah kita dikasih soal-soal olimpiade, biar anak-anak kita bisa maju ke olimpiade. Masa mulai dari dasar."

Guru yang protes ini bahkan tidak tahu bahwa gradien menunjukkan kemiringan. Bagaimana bisa mengerjakan soal-soal olimpiade kalau dasarnya tidak paham?

Saya mengamati, beberapa kal saya menemukan guru-guru yang melewati materi-materi dasar, semacam bilangan dan pengukuran, karena dianggap mudah. Langsung loncat ke materi yang lebih sulit. Padahal biarpun terlihat mudah, konsepnya belum tentu dipahami sepenuhnya oleh siswa.

Saya jadi ingat obrolan saya waktu saya mengunjungi Waldorf School, juga obrolan saya dengan Pak Daoed. Intinya, binatang biasanya membutuhkan waktu yang lebih cepat untuk menjadi dewasa, misalnya belajar berlari, mencari makan, dan sebagainya. Harimau, baru lahir sudah bisa berlari. Manusia berbeda, bahkan untuk berjalan, manusia membutuhkan waktu hingga 9 bulan. Tetapi manusia, bisa terus belajar dan berkembang seumur hidupnya.

Saya tidak mengerti kenapa di sekolah-sekolah kita, kita harus belajar dengan begitu terburu-buru. Mau langsung belajar perkalian padahal penjumlahan belum lancar. Mau langsung belajar penjumlahan ratusan padahan penjumlahan satuan masih bingung, dan banyak lagi. Benar-benar belajar seperti dikejar-kejar. Apakah ini bisa membuat kita lebih jago? Ntahlah..

Where my heart is

I was reading my older posts in http://warnapastel.multiply.com when I was still in Bristol. I realized that I went soo far away study, but actually learnt more about myself and more about my country better than when I was in Indonesia. All those books I read, all those lively disussions in University, was only meaningful when it relates to Indonesia.

Jul 17, 2011

Yang paling berpengaruh?

Saat makan siang, bapak dan adik saya menanyakan saya mengenai siapakah orang yang paling berpengaruh dalam bidang pendidikan saat ini.

Jawaban saya, tergantung, dalam bidang apa. Tampaknya mereka tidak puas, jadi mereka memaksa lagi, "Satu orang saja yang paling berpengaruh! Masa gak ada! Tergantung itu jawaban akademisi! Tergantung!"

Bukannya mau sombong, tetapi saya termasuk orang yang cukup sering bertemu orang-orang yang berpengaruh dalam bidang pendidikan. Pendidik, pengamat pendidikan, aktivis pendidikan, dosen, trainer dan banyak lagi. Luar biasa banyak yang hebat. Tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda-beda. Ada yang paham sekali mengenai kebijakan seperti Darmaningtyas. Dia cukup banyak memengaruhi kebijakan. Ada Pak Satria Dharma, pendiri IGI yang berperan membangun jaringan antar guru, membuka diskusi antar guru setiap harinya. Ada juga orang seperti Romo Baskoro, HAR Tilaar, Pak Daoed Joesoef. Belum lagi trainer-trainer yang turut mencerdaskan puluhan ribu guru setiap bulannya. Ada Bu Yanti dari Kerlip dan Bu Lovely yang senantiasa memerjuangkan hak anak. Ada Romo Baskoro, Pak Bahrudin, Butet Manurung, teman-teman guru dari airmata guru, orang tua murid yang memperjuangkan transparansi anggaran sekolah sampai berani dikecam dan diancam sampai 6 tahun. Siapa yang paling berpengaruh? Saya tidak tahu, yang jelas kalau kamu bertemu dan berbincang-bincang kami saling memengaruhi. Kami cukup sering berkolaborasi. Kami berbagi peran. Kalau paling berperan? Entahlah siapa.

Mendiksusikan ide mengenai kemajuan pendidikan Indonesia. Setiap orang punya perannya masing-masing. Dan itu lebih membanggakan saya daripada membahas 'siapa yang paling'. Anyhow, education is not about competition, it is more about collaboration. It is not about who is the best but it is a about how we can make everyone better.
Ada kesedihan saat saya mendengar kabar duka dari Ibu Pangesti Wiedarti, dosen UNY. Suaminya, Dr. Marjono. Padahal, saya belum pernah bertatap muka dengan keduanya. Saya mengenal Ibu Pangesti mengenai dunia maya. Dari tulisan-tulisannya saya tahu dia adalah orang yang sangat haus dan mencintai ilmu pengetahuan. Setiap kali berkesempatan ke luar negeri misalnya untuk konferensi atau belajar atau apapun, dia akan menyempatkan diri mengambil brosur-brosur dan membawanya pulang untuk dipelajari mahasiswanya. Brosur-brosur itu murah meriah tetapi bisa digunakan untuk pembelajaran bahasa.

Dia juga memberikan tips bagaimana menggunakan peralatan elektronik seperti BB untuk belajar (bukan hanya untuk chatting dan facebookan), misalnya dengan memasukkan jurnal-jurnal ilmiah PDF ke dalamnya sehingga bisa dibaca saat di jalan.

Suatu hari ntah kenapa, saya pernah berbincang-bincang mengenai kesehatan kepada Ibu Pangesti. Ternyata Ibu Pangesti pernah terkena kanker, penyakit yang juga sempat menimpa almarhum ibu dan nenek saya. Dia mengirimkan tulisannya yang pernah dimuat di majalah Cosmopolitan kepada saya yang berisi ceritanya mengenai penyakitnya. Baginya berbagi pengetahuan adalah kewajiban, termasuk melalui media populer semacam Kosmopolitan sekalipun. Ia mengalami kanker saat sedang menyelesaikan thesis (kalau tidak salah S3) di Sidney. Pasti sulit sekali menulis thesis sembari harus terus bolak-balik ke rumah sakit untuk kemoterapi.

Bidang yang diambil Bu Pangesti adalah linguistik. Baginya, penyakitnya adalah berkah. Dia akhirnya menjadi spesialis linguistik dalam bidang kesehatan, khususnya kanker. Ia pun sering memberikan ceramah mengenai penyakit kanker di berbagai tempat di Indonesia.

Saya sama sekali belum pernah mengenal suami dari Ibu Pangesti, hanya mendengar ceritanya sekilas. Tetapi kemarin, ketika saya mendengar kabar dukanya, ada perasaan sedih yang hinggap di dada saya. Bagaimana mungkin saya merasakan kesedihan ditinggal orang yang tidak pernah saya kenal?

Yang jelas, kepergian Dr. Marjono menyentuh hati saya, salah satunya adalah karena dia menyumbangkan jasadnya ke fakultas kedokteran UGM untuk dijadikan sumber pembelajaran bagi mahasiswa-mahasiswa kedokteran di Indonesia. Beritanya bisa dilihat di sini :

Di negara seperti Indonesia, isu-isu seperti ini bisa menjadi kontroversi (tidak memakamkan mayat). Tentu melakukan hal seperti ini memerlukan keberanian dan mungkin itu yang membuat hati saya tersentuh oleh seorang yang bahkan tidak pernah saya kenal secara langsung, Dr. Marjono.

The Rescuers - Someone's waiting for you

Jul 15, 2011

Penjumlahan Bilangan Bulat (Pola)


Banyak guru SD yang saya temui menyanyakan saya bahwa siswa sering kebingungan saat melakukan penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat, apalagi kalau melibatkan bilangan negatif, seperti :
3-4
3- (-4)
3+(-4)
-3 - 4
-3- (-4)

Selain menggunakan garis bilangan saya punya tips lain yakni mengajak siswa melihat pola, misalnya saat sebuah bilangan dijumlahkan dengan sebuah angka. Misalnya, angka tiga dijumlahkan dengan angka yang semakin lama semakin mengecil. Tetapi, perbedaannya tetap, misalnya satu.
Siswa bisa belajar bahwa, semakin lama bilangan yang dihasilkan semakin kecil. Menurut saya, meskipun sederhana, metode ini cukup penting karena mengajak siswa mengamati pola.

PS : Ide ini datang setelah obrolan saya dengan Mbak Danti

Jul 14, 2011

Lari Yulia, Lari!

Lari Yulia, Lari!

Oleh Dhitta Puti Sarasvati

@warnapastel


Siang itu panas, seperti siang-siang lainnya. Itu tak menyurutkan semangat Yulia untuk melewati lapangan bola, rumah tinggi berpagar bunga, kali yang dialiri air yang kecoklatan,tikungan, jalan menanjak yang berliku, mesjid, warung milik Bu Inah, dan taman bermain. Jalan itu selalu dipilihnya setiap pulang sekolah meskipun ada jalan lain, yang lebih ringkas untuk mencapai rumah. Menurut Yulia, perjalanan yang lebih panjang mencapai rumah bisa memungkinkan Yulia untuk bisa berkhayal.


Kalau Yulia sampai rumah terlalu cepat, ia akan langsung diminta untuk mandi, mengerjakan pekerjaan rumah, lalu tidur siang. Padahal banyak yang harus Yulia pikirkan. Sesekali Yulia akan memikirkan lirik-lirik lagu ciptaannya sendiri sambil bernyanyi-nyanyi. Sekelompok anak-anak yang sering berkumpul dekat tikungan akan tertawa-tawa.

“Ada yang bernyani-nyanyi sendiri!” teriak mereka.

Yulia tak pernah peduli. Ia akan terus berjalan. Kadang Yulia juga memikirkan rencana besarnya. Suatu hari ia akan pergi ke Kutub Utara. Ia akan menggunakan mobil khusus yang memiliki penghangat. Kendaraan tersebut kuat, dan mampu menembus es yang dingin. Mobil tersebut memiliki toilet sendiri, dan penampungan air. Yulia yang akan membuat pipa-pipanya. Yulia juga akan menghias mobilnya dengan selimut berwarna-warni. Yulia akan berteman dengan orang-orang dari suku eskimo dan sesekali menengok iglo, rumah tempat mereka tinggal.


Ada banyak hal yang Yulia pikirkan, yang kadang tak dipahami oleh orang dewasa, dan terkadang anak-anak seumurannya. Misalnya, kalau Yulia juga ingin menjadi penemu. Yulia akan membuat obat pel sendiri, sehingga rumah manapun akan terbebas dari kuman. Keren kan?


Lamunan Yulia yang begitu yang begitu kompleks seringkali terhenti setiap kali Yulia melewati warung Bu Inah. Setiap hari Bu Inah selalu membuat es potong yang berwarna-warni. Ia selalu mencampur sirup dengan air, lalu menuangkannya ke dalam cetakan. Tak lupa, Bi Inah akan menaruh sebuah tusuk kayu. Setelahnya, ia akan memasukkan cetakkan ke dalam freezer. Kadang, kalau Yulia sedang beruntung, ia bisa melihat Bu Inah melakukan katifitas tersebut. Saat Bu Inah membuka freezer untuk menaruh cetakan, akan terlihat beberapa es potong lainnya yang sudah jadi. Ada yang berwarna hijau, merah, kuning, dan oranye. Indah sekali, lebih indah dari pelangi! Yulia selalu tergiur melihatnya. Untung, di sekolah Yulia jarang jajan. Uang sakunya seringkali masih tersisa sehingga ia akan menggunakan sebagian uang sakunya untuk membeli es potong yang dibuat Bu Inah. Cukup satu saja untuk memuaskan hatinya.

Sore itu, Yulia memegang es potong berwarna kuning. Rasanya seperti nanas, enak sekali. Sambil berjalan melalui taman Yulia mengulum es potong tersebut. Setiap kali mengulum es potong, Yulia selalu fokus. Tak ada lagi yang terlintas dipikirannya selain kenikmatan yang dirasakannya saat ini, rasa es potong yang menyegarkan.


Yulia menyempatkan untuk menyelesaikan es potongnya yang masih tiga per empatnya. Nikmat sekali. Saat Yulia mau membuang tongkat es potongnya di tong sampah yang biasanya terdapat di sebelah kiri bangku, dia tersadar, tong sampah itu tidak ada. Kemana yah? Apa mungkin diambil oleh remaja-remaja usil yang sering nongkrong di sana. Yulia memang sudah sedikit curiga pada mereka sejak beberapa hari yang lalu. Yulia sempat menemukan mereka sedang mencongkel-congkel pohon di dekat taman. Merusak dan menyebalkan sekali!


Ah ya sudah lah ya! Kali ini Yulia juga akan sedikit melanggar aturan. Dilemparkannya tusuk kayu, sisa dari es potong ke belakang. Tiba-tiba sebuah suara yang menggelegar terdengar, “Guk, guk, guk!”


Tongkat es potong yang dilemparkan ternyata mengenai wajah sebuah anjing dan tampaknya anjing tersebut marah sekali. Tak ada lagi yang bisa Yulia lakukan selain berlari. Untungnya rumah Yulia tak jauh lagi. Ayo Yulia lari!


Di fb-nya Ibu Lisda ada gambar ini. Cukup keren kata-katanya yah, "Millions saw the apple fall, but Newton asked why."

Saya jadi ingat kunjungan saya ke University of Cambridge beberapa waktu yang lalu. Sampai sekarang masih ada loh pohon tempat Newton menemukan inspirasi. Bisa dilihat di sini : http://www.flickr.com/photos/jbaugher/3744149191/

Hehe gak penting yah? Iseng aja..

My brother told me that pythagoras theorem is soo exciting because there are so many ways to prove the theorem. Then, today I found this website through the Science/Math Primary/Secondary Education Group in Linkedin :

It shows 93 different ways of proving Pyythagoras Theorem! Cool yeh

Jul 12, 2011

Satire Sekolah Unggulan

Kelulusan mencapai 100%. Nilai semua siswa di atas-atas rata-rata nasional. Kami berteriak gembira, mengambil spidol lalu mencorat-coret kemeja satu sama lain. Kami senang, tapi belum sepenuhnya bahagia. Apalah artinya kelulusan kami kalau kami tidak bisa masuk universitas-universitas terbaik negeri ini. Nol besar!

Bukannya ingin sombong, tetapi kecerdasan kami memang di atas rata-rata. Sekolah kami konon katanya merupakan sekolah unggulan nasional. Kalau hanya untuk lulus ujian sekolah saja, itu hal kecil! Yang kami inginkan adalah menjadi sarjana-sarjana ekonomi, kedokteran, psikologi, teknik, dan segala jurusan yang keren itu! Tentunya di perguruan tinggi ternama. Orang tua kami rata-rata sarjana. Mereka menekan kami untuk mengikuti bimbingan belajar terbaik, memberi kami les privat, dan sebagainya. Apapun asalkan kami bisa mencapai cita-cita kami.

Ketika tiba waktunya tes memasuki perguruan tinggi. Hati saya dag dig dug. Tegang. Ya sudahlah, dicoba saja. Bismillah.

Sesudah tes ibu saya menanyakan apakah saya bisa mengerjakan tes dengan baik? Saya menangis, rasanya masih kurang sempurna. Saya sangat khawatir tidak akan lolos di universitas impian. Sahabat saya menelepon saya berhari-hari. Ia tidak yakin akan diterima di universitas favoritnya.

Saat pengumuman tiba, saya mendapatkan kabar bahwa saya diterima universitas impian, jurusan teknik. Teman saya masih menangis tersedu-sedu. Meskipun ia diterima masuk fakultas kedokteran, universitasnya bukan nomor satu. Hanya nomor dua. Dan, itu membuatnya sangat-sangat kecewa.

**

Saya menatap wajah murid-murid saya. Meskipun sudah kelas tujuh banyak yang masih belum bisa menjumlahkan setengah ditambah sepertiga. Setelah lulus Madrasa Tsanawiyah mereka berniat untuk mencari kerja, di pabrik, jadi tukang bangunan, menikah, atau kalau bisa menjadi guru mengaji. Tak banyak yang bercita-cita melanjutkan sekolah, apalagi sampai universitas. Sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah, untuk melamar kerja. Tak ada yang khawatir, tidak diterima di perguruan tinggi ternama, bahkan yang memikirkan untuk masuk SMU saja hanya sedikit sekali.

Sepulang sekolah, saya akan menumukan murid-murid saya yang membawa barel-barel minyak tanah untuk dijual. Sebagian mengumpulkan kayu bakar untuk bahan memasak dirumah. Ada juga yang harus menyewakan senter di salah satu gua belanda, daerah wisata tak jauh dari sekolah. Bagi yang perempuan, mereka harus menjaga adik dan keponakannya sembari orang tuanya bekerja.

Tak sedikit pun saya mengalami hal-hal semacam itu. Saya yakin teman-teman saya, sesama mantan SMU yang konon katanya merupakan sekolah unggulan nasioanl, pun tidak. Kami bisa belajar dengan tenang kapanpun kami mau, menyewa guru privat untuk belajar di rumah. Kami bisa berjalan-jalan ke Bali saat libur sekolah, merayakan sweet seventeen, dan membeli buku dan majalah remaja kapan pun kami mau. Kami banyak belajar dan juga bergaul. Masa SMU kami begitu sempurna. Setelah lulus kami pun tetap bisa diterima di perguruan tinggi negeri ternama, sekolah ke luar negeri, atau masuk universitas swasta. 100% siswa SMU saya melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, hampir semua yang terbaik. Kami mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji bagus di perusahaan multinasional dengan begitu mudahnya. Sayangnya, meskipun kami adalah mantan-mantan sekolah yang konon katanya adalah unggulan nasional, kami tidak pernah belajar untuk menyadari bahwa kami adalah 1% dari 220 juta penduduk Indonesia yang begitu beruntung. Toh sekolah bukan untuk mengajarkan mengenai kesadaran bukan?

Jul 10, 2011

quotes





I found this website ( http://rishikajain.com ) with beaurtiful quotes and pictures. Sometimes I like the quotes (minus the pictures) but sometimes I like the pictures (minus the quotes).

Pesta Buku


Sabtu lalu saya dan adik saya memilih menghabiskan waktu ke pesta buku di Istora Senayan. Saya selalu menyukai pesta buku. Bukan hanya karena buku-buku yang berlimpah, tetapi kenangan dengan almarhum ibu saya. Dulu, (alm) ibu saya akan membawa saya dan adik saya ke pesta buku setiap tahunnya. Adik saya sudah bertahun-tahun tidak ke sana dan ternyata dia kesenangan. Dia sibuk membongkar-bongkar buku di salah satu stan yang menjual buku-buku lama. Kami menemukan majalah bobo edisi pertama dan juga majalah hai yang masih berisi pengetahuan (beda banget sama majalah Hai yang sekarang!).