Oct 23, 2016

Tentang "Koran Anak Merdeka"

Ketika saya SD, bapak saya membawa pulang sebuah koran. Namanya, "Koran Anak Merdeka". Isinya tulisan dan gambar anak-anak tentang kehidupan mereka.

Sebelumnya, saya sudah pernah mengirim tulisan ke rubrik  "Imajinasiku" di majalah Bobo dan dimuat. Namun, karena bapak mengenalkan sebuah media yang baru, maka saya jadi punya 'mainan baru'. Saya mulai menulis untuk "Koran Anak Merdeka". Tulisan apapun yang saya kirim ke sana pasti dimuat. 

Cukup lama saya tidak mengingat tentang Koran Anak Merdeka sampai akhirnya saya mengobrol dengan Om Yayak Yatmaka, seorang pelukis dari Yogyakarta.

Saya bertemu Om Yayak kembali setelah usia saya telah lewat 30 tahun.  Kami bertemu di sebuah toko buku di Bandung. 

Karena Om Yayak tahu saya bergerak di bidang pendidikan, beliau mengajak saya mengobrol tentang pendidikan. Salah satu topik obrolan kami yakni tentang pendidikan Anak Merdeka. 

Salah satu prinsip pendidikan Anak Merdeka adalah bahwa anak harus punya kesempatan untuk mengekspresikan pemikirannya.

Di kepala saya seakan-akan ada lampu yang menyala. Saya tiba-tiba teringat pada sebuah memori yang telah lama terlupa. Tentang "Koran Anak Merdeka."

 Saya baru ngeh, Om Yayak ternyata salah satu penggagasnya. 

"Ya ampun, ternyata Koran Anak Merdeka itu kerjaan Om Yayak yah? Dulu saya suka nulis ke sana dan pasti dimuat."

Om Yayak tertawa terbahak-bahak, "Kan jadi bangga," tambahnya.

Salah tujuan koran itu untuk membuat anak merasa  bangga. Tulisan apapun yang masuk ke redaksi "Koran Anak Merdeka" akan dimuat.

Siapa yang tidak bangga tulisannya dimuat di koran? Karena bangga, anak diharapkan akan terus berkarya.

Semua tulisan di "Koran Anak Merdeka" tidak diedit sama sekali. Font tulisannya pun sama persis dengan tulisan tangan anak yang nenulisnya. Kalau ditulisan aslinya ada coretan, dimuatnya pun dengan coretan. Kebanyakan anak yang menulis di koran tersebut berkisah tentang kesehariannya. 

Melalui "Koran Anak Merdeka", pertama kalinya saya belajar secara lebih mendalam tentang kehidupan anak yang berbeda konteksnya dari kehidupan saya. 

Di Koran Anak Merdeka sering ada tulisan anak yang bercerita tentang pengalamannya kabur dari rumah dan hidup di jalan. Saya membaca tulisan-tulisan tentang pengalaman anak mengamen, naik kereta murah keluar kita tanpa pengawasan orang tua. 

"Saya baru sadar, kayaknya dulu tulisan saya di koran itu yang gayanya paling 'borjuis' dari semua tulisan yan ada di sana," kata saya pada Om Yayak. 

Seperti biasa, Om Yayak tertawa terkekeh-kekeh saja.

Sep 15, 2016

Ketika Siswa Memperoleh Sebuah Nilai 'Nol' di Rapor, Apa Kemungkinan Penyebabnya?


Sumber : http://quotesgram.com/quotes-on-assessment-for-learning/

Ceritanya ada seorang siswa. Ketika menerima rapor, alangkah kagetnya siswa ini. Salah satu nilai di rapornya nol. Benar-benar nol! Siswa memang pernah tidak masuk apda pelajaran tersebut, tapi hanya beberapa kali. Tidak sampai sepanjang semester. Itu pun karena sang siswa sakit (dibuktikan dengan surat dokter). Kira-kira apa yang menyebabkan siswa memperoleh nilai 'nol' tersebut?


Setiap semester, ada berbagai tujuan pembelajaran yang diharapkan bisa dicapai oleh siswa. Tujuan pembelajaran ini, biasanya diturunkan dari tujuan pendidikan menurut UNESCO, tujuan pendidikan nasional, sampai akhirnya diturunkan dari Kompetensi Dasar (KD) yang ada di dalam kurikulum nasional.

Ketika merancang kegiatan belajar-mengajar, guru perlu memikirkan bagaimana tujuan-tujuan tersebut bisa dicapai dan bagaimana cara mengukurnya.Kumpulan hasil pengukuran ketercapaian berbagai tujuan-tujuan pendidikan ini biasanya dikuantifikasi dan dijadikan dasar untuk penilaian dalam rapor. 

Menurut pendapat saya, ketika siswa memperoleh nilai nol dalam rapor, ada dua kemungkinan. Pertama, siswa tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sepanjang semester. Atau kedua, model asesmen yang dipilih kurang tepat karena tidak bisa menggambarkan ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang sebenarnya telah dicapai  oleh siswa. 

Siswa tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sepanjang semester?

Ini tidak semua, tetapi contoh beberapa kompetensi dasar (KD) yang diharapkan bisa dicapai oleh siswa SMP kelas VII pada pelajaran matematika, berdasarkan kurikulum 2013:
  • Mendeskripsikan lokasi benda dalam koordinat Kartesius
  • Menaksir dan menghitung luas permukaan bangun datar yang tidak beraturan dengan menerapkan prinsip-prinsip geometri
  • Memahami konsep transformasi (dilatasi, translasi, pencerminan, rotasi) menggunakan objek-objek geometri
Sebagai informasi, terkait aspek kognitif, ada 20 KD yang perlu dicapai oleh siswa SMP kelas VII di mata pelajaran matematika (untuk detilnya silakan lihat sendiri dokumen kurikulumnya, tidak saya sebutkan semua karena akan terlalu panjang).

Model asesmen yang dirancang oleh guru bisa digunakan untuk mengambil penilaian yang kemudian dijadikan dasar untuk menentukan nilai rapor. Jadi, nilai rapor seharusnya adalah representasi dari ketercapaian tujuan pembelajaran siswa dalam mata pelajaran tertentu di semester tersebut.

Untuk KD "Mendeskripsikan lokasi benda dalam koordinat Kartesius", misalnya guru bisa melakukan asesmen dengan berbagai cara. Memberikan ulangan harian berupa soal pilihan ganda atau esai, misalnya, adalah satu cara tapi itu bukan satu-satunya cara untuk menilai kompetensi dasar siswa tersebut. Ada berbagai cara lain, misalnya dengan memberikan siswa tugas, memberikan ujian lisan, dan sebagainya. 

Bahkan kalau mau, guru bisa membuat asesmen yang terintegrasi dengan kegiatan belajar - mengajar. Misalnya dengan membuat game yang secara tidak langsung membuat siswa harus 'mendeskripsikan  lokasi benda dalam koordinat kartesius'. 

Kalau siswa sudah menunjukkan ketercapaian terhadap tujuan pembelajaran, seharusnya siswa memperoleh nilai yang bukan 0.

Seperti yang saya sebutkan, selama kelas VII pelajaran matematika, 20 KD yang perlu dicapai siswa (dari aspek kognitif saja). Biasanya guru menurunkannya KD ini menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih detil.  Tidak mungkin siswa tidak mencapai satu pun tujuan pembelajaran yang telah ditentukan kecuali jika selama di kelas tidak terjadi proses pembelajaran sama sekali. 

Artinya, siswa tidak mungkin memperoleh nilai 0 di rapor kecuali bila siswa tidak masuk sama sekali. Pasti ada setidaknya beberapa tujuan pembelajaran yang bisa dicapai siswa.  Selama siswa menunjukkan ketercapaian terhadap sebagian saja tujuan pembelajaran yang ada di semester tersebut, maka nilai siswa pasti lebih besar daripada 0. 


Model asesmen yang dipilih kurang tepat karena tidak bisa menggambarkan ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang sebenarnya bisa ditunjukkan oleh siswa?
Hal ini mungkin saja terjadi. Saat guru merancang asesmen, tentu saja ada saat-saat di mana asesmen yang dirancang tidak tepat. Misalnya, guru memberikan asesmen selalu berupa tes tertulis, nilai siswa di semua tes tertulis kurang baik. Namun, saat siswa diminta menyelesaikan masalah yang terkait dengan topik, siswa bisa menjelaskan dengan lancar. Artinya, model asesmen yang dipilih belum tepat. Guru sebenarnya bisa memilih model asesmen lain yang memungkinkan siswa menunjukkan kebisaannya.

Itulah kenapa sekolah perlu memfasilitasi guru untuk berdialog bersama untuk mengevaluasi model-model asesmen yang digunakan di sekolah. Apakah asesmen yang digunakan sudah tepat? Adakah cara yang lebih baik untuk melakukan asesmen? Sekolah, bersama dengan guru lalu bisa  mendiskusikan usulan perbaikan untuk semseter selanjutnya. Di semester berikutnya, model asesmen yang digunakan di sekolah tersebut bisa lebih tepat dan beragam sehingga bisa mengukur ketercapaian pembelajaran berbagai jenis siswa. 

Bagaimana kalau sudah terlanjur menggunakan model asesmen yang tidak tepat untuk menilai siswa.Hasilnya siswa mendapat nilai nol di rapor, padahal sebenarnya ada tujuan pembelajaran yang telah dicapai siswa? Kalau kesalahannya ada pada model asesmennya, siswa berhak  untuk diberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa siswa tersebut bisa mencapai beberapa tujuan pembelajaran yang ada di semester tersebut, misalnya dengan mengajak siswa melakukan asesmen ulang. Kalau memang terbukti bahwa siswa bisa mencapai beberapa tujuan pembelajaran yang menjadi target, maka tidak ada salahnya nilai siswa direvisi. Kenapa tidak?

Aug 7, 2016

Pak Daoed Joesoef di Mata Saya




Pak Daoed Joesoef di Mata Saya
Oleh: Dhitta Puti Sarasvati
Senin, 8 Agustus 2016, Pak Daoed Joesoed berulang tahun yang ke-90. Meskipun usianya tak lagi muda, beliau masih aktif menulis berbagai artikel, makalah, buku, dan mengerjakan berbagai kerja intelektual lainnya. 

Beliau pernah bercerita pada saya, bahwa setiap hari beliau punya waktu-waktu tertentu yang tidak bisa diganggu gugat, kecuali kalau benar-benar penting. Waktu tersebut adalah waktu untuk membaca dan menulis. Hal ini beliau lakukan setiap hari. Sungguh, saya ingin memiliki kedisiplinan seperti itu.

Terkait salah satu buku Pak Daoed Joesoef, saya punya cerita. Seorang murid saya yang sempat bercerita bahwa orang tuanya tidak berpendidikan tinggi. Namun, di mata saya murid saya itu sangat cerdas, pemikirannya sistematis, dan karakternya baik. Saya ceritakan padanya mengenai buku Emak, salah satu karya Pak Daoed Joesoef yang paling saya suka. Di sana Pak Daoed Joesoef bercerita tentang Emaknya yang buta huruf tetapi berhasil mendidiknya menjadi orang yang berpikiran sistematis, suka belajar, sehingga akhirnya mengantarnya menjadi orang Indonesia pertama memperoleh gelar Doktor dari Universitas Sorbonne, Paris. 

Jadi, saya rekomendasikan buku Emak pada murid saya. Katanya, dia sangat suka bukunya. Bukunya membuatnya mengingat orang tuanya. 

Terkait beasiswa dari Sorbonne, Pak Daoed pernah menceritakan pada saya bahwa badan pemberi beasiswa sebenarnya berasal sebuah yayasan di Amerika Serikat. Tadinya, yayasan tersebut tidak mau memberikan beasiswa paka Pak Daoed. Bukan karena beliau tidak qualified, melainkan karena yayasan tersebut hanya memberikan beasiswa pada orang yang mau studi ke Amerika Serikat saja.

Pak Daoed tidak terima dengan hal tersebut. Beliau mengatakan, kurang lebih begini, "Saya butuh uang anda, bukan butuh anda menentukan ke mana saya harus sekolah (arah hidup saya)."

Beliau pun keluar ruangan dengan menendang pintu. Akhirnya, pihak yayasan malah terkesan dengan beliau, dan akhirnya menyekolahkannya di Sorbonne. Dari cerita tersebut, dapat kita lihat karakter Pak Daoed Joesoef yang tahu persis apa maunya. Beliau tidak mudah disetir, bahkan oleh pihak pemberi funding sekalipun. 

Yang membuat saya kagum lagi, ketika beliau sedang studi di Paris, beliau tidak hanya meneliti untuk kepentingan doktornya saja. Beliau juga menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk mengumpulkan bahan untuk membuat konsep (mungkin semaca blueprint) tentang strategi keamanan dan pertahanan bangsa, ekonomi, dan tentang arah pendidikan Indonesia. Yang terakhir inilah yang mungkin membuatnya sempat diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Beliau sering mengingatkan saya bahwa saya (dan anak muda lainnya) harus mulai memikirkan blue print pendidikan Indonesia.  Pesan beliau ini terngiang-ngiang di kepala saya sampai sekarang. 

Banyak orang mengira Pak Doed Joesoef kurang 'agamis'. Mungkin karena beliau pernah menyarankan pengurangan jam mata pelajaran agama di sekolah, dan banyak alasan lainnya. Namun, sebenarnya beliau justru berharap selain belajar di sekolah, justru anak-anak bisa belajar agama di rumah ibadatnya masing-masing. Misalnya, sewaktu muda, beliau belajar agama di Surau. Sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar.

Beliau sendiri pernah bercerita, Emaknya pernah berpesan untuk mendoakan orang yang sudah tiada. Oleh karena itu, pernah ada cerita, ketika beliau berkunjung ke suatu kota, beliau mampir ke sebuah kuburan suatu tokoh. Di sana beliau membaca surat Yasin. Orang-orang kaget karena tak menyangka beliau bisa mengaji. Akhirnya, beliau diundang ke sebuah sekolah Islam untuk memberikan sebuah ceramah. 

Di rumahnya pun ada sebuah lukisan. Beliau yang membuatnya sendiri. Kalau dilihat sekilas, lukisannya seperti gambar pantai saja. Namun kalau diperhatikan dari dekat, lukisannya merupakan kaligrafi dari tulisan kata 'Allah' yang ditulis dengan huruf Arab.

Banyak orang menuduh Pak Daoed tidaklah Islami. Namun, di mata saya beliau sangat menghayati nilai-nilai keislaman, meskipun mungkin tidak ditunjukkan terang-terangan. Wallahu A'lam

Beliau memang kontroversial, misalnya terkait kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membuat beberapa aktivis tahun 70-an kesal padanya.

Terlepas dari itu, sebenarnya begitu banyak hal penting yang dikerjakan oleh Pak Daoed Joesoef. Selain menulis berbagai karya, beliaulah yang pertama kali mencetuskan pameran buku di Indonesia, beliaulah yang berjuang di UNESCO untuk ikut merestorasi Candi Borobudur, beliau ikut mendirikan beberapa Fakultas yang ada di Universitas di Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia luar biasa besarnya, hal ini ditunjukkan dengan karya-karyanya. Sampai sekarang, kalau saya menceritakan masalah yang ada di Indonesia, matanya menampakkan kesedihan, atau rasa kesal.

Selamat ulang tahun ke-90 Pak Daoed Joesoef. Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk punya kesempatan mengenal Bapak.

Menonton "Lewat Djam Malam"


Semalam, saya nonton "Lewat Djam Malam" di Kineforum. Film idi ditulis oleh Asrul Sani dan disutradarai oleh Usmar Ismail pada tahun 1954. Tahun 2011-2012, film ini direstorasi kembali.

Meskipun filmnya hitam-putih, film ini indah banget Cuplikannya bisa di lihat di sini : https://www.youtube.com/watch?v=xbol0aGnfJE .

Film ini menceritakan tentang Iskandar, mantan tentara, yang galau ketika harus kembali ke masyarakat setelah masa revolusi usai. Beliau senantiasa bertanya-tanya, "benarkah apa yang ia lakukan selama revolusi?"

"Apakah orang-orang yang dia bunuh, karena disangka mata-mata Belanda benarlah orang-orang yang bersalah?"

Dalam kepalanya, selalu terngiang-ngiang, teriakan seorang ibu. Ibu tersebut rakyat biasa, membawa anak-anak. Dia membunuhnya, atas perintah atasannya, Gunawan. Gunawanlah yang memerintahkannya untuk membunuh mereka. Setelah revolusi, Gunawan hidup tenang, punya perusahaan, dan hidup dari rampasan harta yang didapatkan dari keluarga-keluarga yang dibunuh bawahannya selama masa revolusi. Iskandar sendiri, selalu diliputi rasa bersalah. Sulit rasanya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi terkini. Saat revolusi dia berjuang dengan hati, tapi justru kini dia ragu. Apakah benar yang dia perjuangkan selama ini?

Saat menonton "Lewat Djam Malam", saya merasakan sensasi membaca sastra-sastra klasik dunia. Gagasan utama ceritanya sederhana, tentang konflik batin mantan tentara. Namun, cerita dikemas sedemikian rupa sehingga enak ditonton. Dialognya tidak cengeng. Saat menontonnya, kita bisa merasa terharu, miris, sedih, sekaligus tertawa.

Rasanya saya ingin mengajak teman-teman guru menonton film ini. Saya bisa membayangkan, film semacam ini sangat bisa untuk diputarkan di dalam kelas (mungkin setingkat SMA, atau kuliah), didiskusikan dan direfleksikan kaitannya dengan masa kini.

Meskipun film "Lewat Djam Malam" hitam putih, filmnya cantik sekali. Ternyata, tak lama setelah kemerdekaan, pembuat film Indonesia bisa menghasilkan karya yang sangat berkualitas. Film ini contohnya. Saya membayangkan film ini, bisa diterima, bukan hanya di Indonesia tapi juga di belahan lain di dunia.

Selama bulan Agustus 2016, film ini masih akan diputar di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Biaya menontonnya Rp 20.000,- saja. Bagi yang mau menonton, silakan lihat jadwalnya di link berikut http://kineforum.org/web/





Jul 25, 2016

Menonton Kompilasi Film "Kembang 6 Rupa"



"Kembang 6 Rupa" adalah film kolaborasi dokumenter yang mengajak 6 pembuat film untuk berkolaborasi dengan 6 remaja perempuan di 6 komunitas mengenai isu yang dianggap penting dan genting oleh remaja-remaja di lingkungan masing-masing. Kembang 6 Rupa bercerita tentang tantangan-tantangan yang dihadapi anak-anak perempuan di masa transisi, merekam tentang hak dan kewajiban baru yang menunggu mereka di depan mata.(http://www.kampunghalaman.org/berita?id=939
Semalam, saya pergi ke Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk menonton kompilasi film "Kembang 6 Rupa". Film tersebut diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman, yakni sebuah yayasan yang bertujuan untuk 'memfasilitasi remaja dan anak muda berusia 13-25, dengan keterampilan, kreativitas dan penguasaan media (video,musik,teks,foto) untuk memunculkan suara dansikap tentang isu-isu yang mereka dan komunitasnya anggap penting' (http://www.kampunghalaman.org/about).
"Kembang 6 Rupa" terdiri dari 6 film dokumenter pendek. Masing-masing film settingannya adalah di daerah-daerah yang berbeda di Indonesia (Sleman, Kuningan, Wamena, Sumedang, Indramayu, Sumbawa). Semuanya mengenai tokoh perempuan remaja (usia 15 - 17 tahun) yang sedang bergelut dengan isu yang berbeda-beda.  
Sebenarnya isu-isu yang diangkat dalam film "Kembang 6 Rupa" bukan isu-isu yang baru buat saya. "Kembang 6 Rupa" mengangkat isu seputar pendidikan, kemiskinan, perbedaan, dan keadilan. Namun, menonton kompilasi film "Kembang 6 Rupa" mampu membuat saya pulang saya merasa merinding. "Film ini begitu powerful," pikir saya. Dengan media film, saya diajak untuk lebih menghayati isu-isu tersebut dan diajak untuk mendengarkan suara anak-anak muda (perempuan) yang memang, secara langsung, bergelut dengan isu tersebut.
Film pertama settingnya adalah Sleman, judulnya "Bangun Pemudi! Pemuda Sudah" (Sutradara : Michael A.C. Winanditya). Film ini berkisah tentang tokoh remaja perempuan bernama Nala (17 tahun) yang aktif dalam kegiatan Karang Taruna. Remaja-remaja perempuan, kadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang karena dianggap kurang berani mengungkapkan suara. Kenyataannya? Tidak selalu begitu. 
Film kedua settingnya adalah Wamena. Judul filmnya adalah "Agnes, Pewaris Budaya Dunia?" (Sutradara: Arief Hartawan). Film ini berkisah tentang Agnes (17 tahun), remaja perempuan dari Papua yang putus sekolah karena hamil. Agnes masih ingin melanjutkan sekolah. Kini, sambil mengurus anak, beliau merajut noken, 'tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu' (Kompas Cetak, 7 Agustus 2014). Hasil dari penjualan noken, salah satunya adalah untuk menebus ijazah SMP yang belum diambil karena beliau masih berhutang 'uang pembangunan sekolah', sebesar 1 juta rupiah. 
Film ketiga berjudul "Karatagan Ciremai" (Sutradara: Ady Mulyana). Fim ini mengenai Anih (15 tahun), remaja perempuan dari Kuningan. Anihmenganut agama Sunda Wiwitan. Agama Sunda Wiwitan  tidak masuk ke dalam 6 agama resmi yang diakui di Indonesia (Hindu, Budha, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Kong Hu Cu) meskipun agama ini sudah ada jauh sebelum agama-agama tersebut masuk ke Indonesia.
Di antara keenam film, ini salah satu film yang paling saya suka. Di dalam film ada adegan di mana guru di sekolah Anih menanyakan kenapa Anih tidak berkerudung. Anih mengatakan bahwa beliau non Islam. Temannya, yang keturunan Batak juga ditanyakan hal yang sama. Gurunya pun lanjut bertanya mengenai agama Anih dan temannya. Temannya menjawab bahwa agamanya adalah Kristen. Anih menjawab bahwa agamanya adalah Sunda Wiwitan. Reaksi gurunya adalah sebagai berikut, "Kalau Kristen, saya bisa memahami, tapi kalau Sunda Wiwitan saya kurang paham, kayaknya itu bertentangan dengan ajaran agama." Bagi Anih, pernyataan gurunya menyakitkan hati. Tentu, tidak enak rasanya  ketika apa yang kita percaya dianggap rendah oleh orang lain. 
Film keempat berjudul "Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak)" (Sutradara: Dwi Sujanti Nugraheni). Ini juga film yang sangat saya sukai. Film ini berkisah mengenai seorang anak SMA bernama Pipit yang dianggap 'kurang baik' oleh guru-gurunya, karena cara berpakaiannya dan gayanya (sering bercelana pendek dan serig terlihat nongkrong di pinggir jalan). Gurunya menganggap Pipit tidak memiliki masa depan. Padahal Pipit pada dasarnya adalah anak yang baik. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Pipit selalu membantu ibunya membersihkan rumah. Pulang sekolah istirahat sebentar, lalu bekerja di  tempat penggalian semen untuk membantu keluarga. 
Di sekolah, Pipit masuk 10 besar dan juga berprestasi di bidang olahraga (sering menang pertandingan olah raga). Cita-citanya menjadi guru olah raga atau guru matematika. Sayangnya, pihak sekolah tidak melihat potensi ini. Pipit dianggap biasa saja. Labelnya sebagai anak yang tidak berprilaku sepantasnya membuatnya dipandang sebelah mata, bahkan oleh gurunya sendiri. 
Film kelima berjudul "Miang Meng Jakarta (Aku Ingin Ke Jakarta)" (Sutradara: Opan Rinaldi). Film ini berkisah tentang Ika, remaja perempuan 16 tahun dari Indramayu. Orang tua Ika bercerai. Selain itu, Ika putus sekolah karena keputusannya sendiri. Dia tidak mau sekolah karena sering diejek oleh teman-temannya. Film ini berkisah tentang keinginannya untuk bekerja di Jakarta. 
Film keenam berjudul "Haruskah ke Negeri Lain?",  (Sutradara Anton Susil). Film ini berkisah tentang Maesarah (17 tahun) yang berasal dari Sumbawa. Cita-citanya adalah bekerja ke Malaysia, mengumpulkan uang dan kemudian bisa melanjutkan kuliah kembali.
Menonton Kembang 6 Rupa mengizinkan saya untuk bisa mengenal lebih jauh mengenai negeri saya sendiri, Indonesia. Saya bisa mengenal kehidupan orang lain, khususnya remaja, yang berasal dari daerah-daerah yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya bisa melihat kompleksitas hidup mereka, sekaligus merenungi kembali kompleksitas pendidikan yang ada di Indonesia (karena sesuai minat saya). Kembang 6 Rupa mengingatkan saya untuk lebih banyak mendengar suara anak-anak muda. Memahami dunia dari kaca mata mereka, bukan hanya melihat dunia dari sudut pandang saya saja. 
Meskipun teknik pembuatan kompilasi film "Kembang 6 Rupa" tidak terlalu wah, tapi sungguh kompilasi film ini sungguh mendidik. Saya berharap lebih banyak guru bisa menontonnya dan berefleksi darinya. 

Jul 19, 2016

(Sempat) Malu


Source: http://studiodiy.com/2015/12/08/diy-emoji-gift-wrap/?crlt.pid=camp.dqP9kEFfOxaU
Pada suatu kesempatan saya duduk sebangku dengan dua orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Kami sama-sama menunggu sesuatu. Daripada bosan diam-diaman, akhirnya, kami saling berkenalan. Di sebelah saya duduk seorang perempuan yang masih terlihat imut-imut. Ternyata dia adalah seorang siswa kelas XI SMA. Dari hasil obrolan kami, saya mengetahui bahwa dia bercita-cita bisa melanjutkan studi di bidang Bioteknologi. Di sebelah perempuan tersebut ada seorang laki-laki. Dia adalah seorang fresh graduate Teknik Sipil dari sebuah Universitas swasta di Bandung. Beliau bercerita bahwa beliau ingin melanjutkan studi di Belanda, fokus di bidang yang sama. Mereka sempat menanyakan apa kesibukan saya. Kata laki-laki fresh graduate, "Apakah masih mahasiswa atau sudah bekerja?"

Dengan bangganya saya menyatakan bahwa saya mengajar calon guru di perguruan tinggi.. Perempuan yang masih SMA bertanya pada saya, "Enak gak sih mengajar begitu?".

Saya pun menjawab bahwa saya sangat suka mengajar. Yang paling menyenangkan adalah ketika melihat mahasiswa saya lulus, lalu memilih menjadi guru (atau berkiprah di bidang pendidikan) dan ternyata mereka mencintai profesi mereka. Bahagia sekali rasanya ketika tahu mereka menjadi guru yang passionate. Itu kebahagiaan yang tidak terbayar dengan apapun juga.

Tak jauh dari kami ada tiga orang ibu-ibu yang juga sedang mengobrol. Saat itu saya sudah tidak sedang mengobrol dengan dua orang yang duduk di sebelah saya. Saat itulah, saya mendengar tiga orang ibu-ibu itu mengobrolkan mengenai guru di sekolah anak mereka masing-masing. Mungkinkah mereka tadi tak sengaja ikut mendengar obrolan kami bertiga yang juga membahas menggunakan istilah 'guru' dan terpancing mengobrolkan topik terkait?  Atau mereka memang tiba-tiba ingin mengobrolkan mengenai guru di sekolah anak mereka masing-masing? 

Yang jelas, saat mereka mengobrol,  merasa malu. Suara mereka cukup keras sehingga saya bisa mendengarkan obrolan mereka dengan jelas. Saya menutup wajah saya dan pura-pura tertidur karena malu. 

Salah seorang ibu menceritakan mengenai kegiatan 'menabung' di kelas anaknya. Di sekolah anaknya, siswa disarankan untuk menabung dan uang tabungannya dikumpulkan ke wali kelas. Saat terima rapor, seharusnya siswa bisa meminta hasil tabungannya selama satu semester. Namun, ketika sang ibu meminta uang tabungan anaknya, guru tersebut mengatakan bahwa uangnya tidak ada dan akan diberikan dua bulan kemudian. Kemungkinan besarnya uangnya terpakai. Dalam hati saya berharap bahwa ada alasan yang kuat mengapa uang tersebut terpakai. 

Cerita berikutnya lain lagi. Ibu yang lain bercerita bahwa guru di sekolah anaknya meminta orang tua siswa membelikannya  telepon genggam. "HP saya yang ini sudah rusak nih," katanya begitu. 

Ibu yang satu lagi, yang sedang ikut mengobrol,  hanya mengomentari, "Parah yah?"

Kisah-kisah seperti di atas bukan hal yang baru pertama kali saya dengar. Di beberapa sekolah memang ada kebiasaan (yang ntah tumbuh dari mana) orang tua memberikah hadiah pada guru, khususnya saat penerimaan rapor. Isu mengenai pemberian hadiah pada guru ini, sebenarnya masih menjadi perdebatan. Apakah boleh atau tidak? Ada yang menganggap boleh, asalkan memang bukan bermaksud untuk 'menyogok', misalnya untuk menaikkan nilai, dan tidak mahal. Di sisi lain, ada sekolah yang menolak pemberian hadiah pada guru. Menolak sama sekali. Namun, di beberapa sekolah, kondisinya memang parah, ada sekolah di mana orang tua berlomba memberikan hadiah semahal-mahalnya pada guru, seperti telepon genggam, emas, dan sebagainya (saya pernah mendapatkan curhatan langsung dari orang tua mengenai hal ini yang merasa minder karena orang tua lain memberikan hadiah yang mahal, sedangkan beliau tidak). Yang lebih parah lagi, adalah ketika guru mengharapkan diberikan hadiah. Seperti contoh yang disampaikan ibu di atas.

Saat masuk kerja saya menceritakan kejadian tersebut pada teman-teman kantor saya, bahwa saya malu sekali saat mendengar obrolan ketiga ibu tersebut. Teman saya mengatakan bahwa saya seharusnya tidak malu. Tidak semua guru seperti itu. Teman saya yang satu lagi mencoba memahami, "Malu sebagai teman seprofesi (baca: sama-sama pendidik), yah?"

Setelah saya pikir-pikir di satu sisi memang saya merasa malu dengan obrolan ketiga ibu tersebut. Malu bahwa ada teman seprofesi melakukan tindakan yang tidak sepantasnya begitu. Di sisi lain, saya tahu ada begitu banyak guru yang tidak seperti itu. 

Seorang guru yang saya kenal, misalnya, ketika beliau tahu ada siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, beliau bahkan rela rumahnya ditempati oleh siswa dan ikut membiayai makan siswa tersebut. Ada juga, guru yang saya tahu pernah membantu membayarkan uang sekolah siswanya, karena siswanya tidak mampu membayar uang sekolah. Banyak juga guru yang tidak peduli dengan hadiah yang diberikan oleh siswa. Yang lebih penting adalah siswanya tumbuh menjadi orang yang lebih baik, baik dalam hal prestasi maupun sikap. Sudah banyak sekali guru yang saya kenal yang seperti ini. 

Tentu saja, saya percaya bahwa praktek-praktek yang kurang baik di beberapa sekolah, seperti korupsi, meminta hadiah dari orang tua siswa, atau menerima hadiah yang terlalu mahal dari siswa perlu diberantas. Tapi di sisi lain, saya juga yakin, bahwa guru-guru lain, yang rela berkorban dan mendidik siswa-siswanya yang begitu bervariasi juga patut diapresiasi.

Jul 15, 2016

Bukan Guru Sekolah, Tapi Engkau Tetap Guruku

Beberapa hari yang lalu, seorang teman, Mimit namanya, mengirimkan saya pesan. Katanya, Bang Adrian sakit gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit. Saat mendengar kabarnya, saya tidak langsung menanggapi karena masih sibuk dengan berbagai urusan Idul Fitri.
Ternyata, tadi (atau kemarin yah?), saya mendengar kabar bahwa beliau meninggal dunia. Rasanya seperti tak percaya. Tapi benar, beliau telah berpulang.
Bagi yang belum tahu, Bang Adrian adalah guru saya di Bimbingan Tes Alumni (BTA) 70. Beliau juga merupakan pembina salah satu ekskul yang saya ikuti, yakni Seksi Karya Ilmiah Remaja (SKIR).
Saya tidak pernah menyangka saya akan merasa sangat kehilangan sosok beliau. Beliau bukan guru sekolah. Beliau adalah guru sebuah bimbingan tes.
Bimbingan Tes adalah sebuah lembaga yang senantiasa dikritisi oleh berbagai praktisi dan pengamat pendidikan baik karena sifatnya yang komersial maupun karena orientasinya sekadar mempersiapkan siswa untuk tes. Meskipun saya adalah alumni bimbingan tes, saya pernah (dan mungkin masih) mengkritisi berbagai praktik bimbingan tes.
Terlepas dari kritik saya terhadap bimbingan tes, Bang Adrian, guru sebuah bimbingan tes, tetaplah guru saya. Beliau bukan guru favorit saya. Saya menganggapnya guru yang enak mengajarnya tapi bukan favorit. Biasa saja.
Namun, ketika mendengar kepergian beliau saya sadar bagaimanapun beliau turut membentuk saya yang sekarang ini. Ada momen-momen di mana dia mempengaruhi pemikiran saya, sikap saya, dan juga kecintaan saya terhadap ilmu. Dia adalah guru saya dan saya hormat padanya.
Salah satu hal yang terlintas di pikiran saya adalah obrolan terakhir saya dengannya. Kami bertemu di acara Ikatan Alumni ITB bidang pendidikan. Saat itu, ada pertemuan alumni-alumni ITB yang bergerak di bidang pendidikan, baik sebagai tenaga pendidik, pembuat software pendidikan, pemilik lembaga pendidikan, dan sebagainya. Bang Adrian hadir di sana. Dia bercerita mengenai pengalamannya memfasilitasi peningkatan kapasitas guru di beberapa tempat di Indonesia (kerja sama dengan Bang Lendo, salah satu pendiri Sekolah Alam dan School of Universe). Saya tidak ingat persis, tapi beliau menyatakan keinginannya untuk bisa berbagi dengan lebih banyak guru di Indonesia. Itu obrolan terakhir saya dengannya.
Saya juga teringat bahwa Bang Adrian pernah mengajari saya banyak hal. Beliau yang pertama kali membuat saya bisa bernalar mengenai nilai sinus, cosinus, dan tangent dari sudut-sudut istimewa (30 derajat, 60 derajat, 45 derajat), dengan mengajak saya melakukan pembuktian matematis. Saya baru ngeh bahwa nilai-nilai tersebut tidak perlu dihafalkan. Beliau juga membantu saya memahami beberapa konsep matematika dasar yang sebelumnya tidak saya pahami.
Jadi, salah satu program BTA yang saya ikuti adalah kegiatan review semua materi matematika SMA. Bang Adrianlah yang mengajar.
Di kegiatan tersebut semua pelajaran matematika SMA kelas 1,2, dan 3 dibahas ulang selama kurang dari satu tahun. Tujuannya, untuk memperkuat dasar matematika dan membenahi berbagai kesalahan pahamann mengenai konsep-konsep matematika. Sebagai contoh, seringkali, siswa mengira bila x dikuadrat sama dengan 25 maka nilai x sama dengan 5 (itu saja). Padahal sebenarnya selain, x juga bisa - 5. Itu salah satu salah kaprah yang sering terjadi.
Bang Adrianlah yang mengajak saya belajar kembali konsep-konsep matematika sehingga salah-salah kaprah yang selama ini saya milik bisa dikurangi.
Selain, mengajarkan saya mengenai konten matematika , Bang Adrian juga mengajari saya beberapa pelajaran penting yang sangat bermanfaat bagi hidup saya. Beliau senantiasa mendorong siswa-siswanya untuk belajar kelompok. Menurutnya, belajar sendiri, apalagi kalau kita tidak mengerti, kadang bikin frustasi. Dengan belajar kelompok, kita punya teman diskusi, bisa berbagi, dan bisa sama-sama saling memotivasi. Beliaulah yang secara eksplisit menekankan pentingnya belajar dengan cara bekerja sama dan berkolaborasi.
Ketika mau tes masuk perguruan tinggi , Bang Adrian juga memberikan pesan untuk bersantai - santai sehari sebelum ujian. Katanya, toh kita sudah berbulan-bulan belajar.
Dulu, saya tidak ngeh maksud dari pesan Bang Adrian. Namun, waktu saya mengikuti kuliah online di Coursera berjudul "Learning How To Learn", di situ dikatakan bahwa untuk belajar secara maksimal, otak kita perlu bekerja dengan dua cara utama, yakni focused mode dan diffused mode.
Focused mode berarti ada saatnya di mana otak kita harus fokus bekerja keras belajar hal-hal baru, memikirkan masalah. Pokoknya fokus memikirkan satu hal atau topik baru. Setelahnya, kita perlu mengajak otak kita berpikir dengan diffused mode. Yakni, kondisi di mana otak kita lebih merasa rileks. Hal ini bisa dilakukan dengan berolahraga raga setelah belajar, atau melakukan hal lain yang membuat pikiran kita lebih santai. Biasanya saat diffused mode otak kita menjadi lebih kreatif. Kreativitas sangat penting dalam menyelesaikan masalah.
Bang Adrian tampaknya, secara sadar maupun tidak, memahami konsep ini. Merasa rileks, tidak berarti tidak belajar. Yang penting, kita terbiasa menjadikan kegiatan belajar sebagai bagian dari keseharian.
Selamat jalan Bang Adrian, selamat jalan guruku. Semoga Allah menerima segala amal ibadahmu. Engkau bukan guru sekolah tapi engkau tetaplah guruku.
Minggu, 10 Juli 2016

May 16, 2016

WikiEdu Indonesia akan Launching!


Sabtu ini, saya bersama sejumlah teman-teman akan launching sebuah portal online baru. Namanya WikiEdu Indonesia. Sampai saat ini, sudah nyaris 100 orang mendaftar untuk mengikuti launching WikiEdu Indonesia. Perasaan saya? Degdegan juga. Rasanya tidak percaya bahwa kami akan segera launching.  Fiuh...

WikiEdu Indonesia adalah sebuah portal media informasi online mengenai istilah-istilah pendidikan dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dimengeti. Siapa yang mengisi portal tersebut? Yah keroyokan, layaknya sebuah Wiki. Diisi bersama untuk bersama. (FB Group-nya : https://www.facebook.com/WikiEdu-Indonesia-221715288218893/?pnref=story )

Bagaimana sih munculnya gagasan WikiEdu Indonesia. Saya kasih tahu yah. Idenya datang dari seorang Ibu-ibu. Sebut saja namanya Ibu Provokator. Si Ibu Provokator tiba mengirimkan WA pada sejumlah pegiat pendidikan mengenai idenya membuat sebuah Wiki.  Siapa tahu ada yang mau bantu mewjudkannya. 

Saya pikir ide Si Ibu Provokator itu cukup bagus. Jadi saya mau mendukungnya. Beberapa teman-teman pegiat pendidikan yang lain pun mau mendukungnya juga. 

Mungkin kelihatannya gagasannya sederhana. Tapi, untuk konteks Indonesia, Wiki bisa jadi sangat berguna. Beberapa kali, saya terlibat dalam pembahasan undang-undang dan peraturan mengenai pendidikan (termasuk naskah akademiknya), dan seringkali ada berbagai istilah spesifik terkait pendidikan yang ada di dalam naskah-naskah tersebut. Tidak jarang,  penjelasan yang ada sulit untuk dipahami (dan tidak selalu tepat).Bahkan bisa saja ada dua (atau lebih) istilah yang sama di peraturan yang berbeda tapi arti istlah tersebut bisa sangat berbeda. Nahlo?

Di dalam dunia pendidikan ada banyak istilah spesifik, seperti RPP, SKL, assessment for learning, integrated learning, SK, KD, remedial dan banyak istilah lain. Bagi pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, pemerhati pendidikan, penulis berita pendidikan, memahmi istilah-istilah tersebut  penting. Lah, pekerjaannya memang terkait dengan istilah-istilah tersebut.

Sayangnya referensi mengenai berbagai istilah pendidikan tersebut, yang berbahasa Indonesia seringkali terbatas dan tidak selalu mudah diakses.  Jadi, alangkah menyenangkannya kalau ada sebuah portal online yang berisi berbagai istilah pendidikan tersebut, disertai penjelasan yang sederhana dan contoh. 

Tentu saja, si ibu provokator tersebut tidak punya waktu untuk menuliskan sendiri konten dari portal tersebut. Jadi, beliau mengusulkan sebuah konsep wiki. Menulis kontennya ramai-ramai. Jadi lebih sederhana kan? 

Oke.. oke awalnya kelihatannya gagasan ini sangat sederhana untuk diwujudkan. Kenyataannya? Ternyata mewujudkan gagasan ini jauh lebih kompleks daripada yang disangka sebelumnya. Siapa yang mau meluangkan waktu untuk membuat website-nya? Siapa yang mau memulai untuk menuliskan konten-nya? Siapa yang mau mengajak banyak orang lain untuk mengisi kontennya?Editing-nya bagaimana? Bagaimana caranya memastikan kualitas kontentetap baik? Ternyata membuat wiki adalah urusan yang lebih serius dari yang kami sangka sebelumnya.

Untungnya bantuan datang. Beberapa guru muda yang bersemangat bercerita bahwa mereka  'gatel' pengin ngapain gitu. Mereka mau mengisi waktu luang mereka untuk berpartisipasidi bidang pendidikan. Saya pun ikut-ikutan jadi provokator. Saya tanyakan pada mereka "Ikut bikin semacam wiki mau ngak?" 

Dan, mereka mau loh! Mudah-mudahan mereka tidak menyesal yah saya cemplungkan begitu. Hehehe..

Jadi, saya perkenalkan mereka dengan Ibu Provokator. Guru-guru muda tersebut bersedia membantu mengisi beberapa konten awal. Setidaknya agar sebelum launching, wiki-nya sudah ada isinya. Tak perlu banyak, tapi setidakya 'ada'.

Pertemuan dengan Ibu provokator terjadi di Jakarta Convention Center (JCC). Di sebuah kafe di sana, kami brainstorming sebanyak-banyaknya mengenai berbagai istiliah pendidikan yang sering digunakan. Saya lupa jumlahnya, tapi istilah yang terkumpul ada 100 lebih. 

Kemudian kami membagi-bagi tugas untuk mempelajari arti istilah tersebut dan menuliskannya. Selama beberapa bulan kami sering bertemu di akhir pekan untuk sama-sama belajar mengenai berbagai istilah yang ingin dimasukkan ke dalam wiki. Kadang kami bekerja di perpustakaan, kadang di kafe, dan pernah juga kami sama-sama dikarantina selama 2 hari untuk mengisi konten wiki.

Ternyata tidak mudah teman-teman! Kadang sehari, kami hanya berhasil menyelesaikan satu halaman (itu juga sudah bagus). Kadang untuk mempelajari satu istilah kami baca lebih dari satu buku. Semakin banyak baca, kadang tidak membuat kami lebih mudah menuliskan makna istilah tersebut. Kadang malah lebih sulit. Tapi seiiring dengan waktu, konten websitenya bertambah. Lumayanlah!

Oh iya,waktu itu, kami belum punya website. Jadi kami memanfaatkan google drive untuk menuliskan berbagai konten-konten tersebut. Tapi begitulah, kadang ketika sedang bekerja, google drive-nya nge-hang.

Untungnya ada seorang  anak muda lain, yang bersedia untuk menjadi relawan untuk membuat website-nya . Dia membuatka kami sebuah wiki yang bisa langsung kami gunakan. Mengisi konten di sana jauh lebih mudah daripada menggunakan google drive. Setelah beberapa konten terisi, kami pun rapat lagi dengan ibu provokator. Beliau telah mengajak lebih banyak orang untuk terlibat. Kami pun punya tim baru. 

 Ada yang membuat logonya, ada yang membuat publikasinya, ada yang bagian promo di media sosial seperti di group FB-nya, ada yang membantu merapikan sistematika bekerja kami, dan banyak lagi. Semuanya relawan.

Kami pun rapat lagi. Dari hasil rapat, kami memutuskan untuk menetapkan tanggal launching. Tanggal 21 Mei 2016. Kata ibu provokator dengan adanya tanggal tersebut, kita mau tidak mau akan berusaha membuat portalnya 'jadi'.

Tanggal launching semakin dekat. Saya sempat mengira bahwa tanggal launching akan diundur. Rasanya masih banyak yang perlu dikerjakan.

Tapi ternyata tidak saudara-saudara! Kami tetap akan launching pada 21 Mei 2016. Sampai saat ini ada nyaris 100 orang yang telah mendaftar untuk mengikuti kegiatan launching. Tanggalnya sudah semakin dekat. Well, it's actually happening. We are making a wiki! 

Saya masih meraba-raba bagaimana masa depan wiki ini.Ternyata proses membuat wiki ini cukup panjang dan rumit.Setelah launcing pasti akan ada lebih banyak lagi yang harus dikerjakan. Mudah-mudahan akan banyak yang membantu membuat visi kami jadi kenyataan.  Membuat sebuah portal online berisi istilah-istilah pendidikan, yang mudah-mudahan akan  berguna bagi teman-teman pendidik, pembuat kebijakan pendidikan, teman-teman media, dan siapapun yang membutuhkan. Doakan kami yah!

May 11, 2016

Pesan di Akhir Semester


Tadi siang, saya menutup kelas Calculus for Business & Social Sciences untuk semester ini dengan beberapa pesan. Salah satunya, konten yang dipelajari semester ini bisa saja diaplikasikan di kemudian hari namun bisa juga tidak. Selalu begitu bukan? Apa yang kita pelajari tidak selalu ada aplikasi praktisnya?

Saya juga mengapresiasi usaha mahasiswa untuk belajar semester ini. Mereka telah belajar banyak hal baru, bahkan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Itu salah satu hal penting. Mereka punya kapasitas untuk belajar. 

Belajar matematika, seperti halnya belajar hal-hal lain, bisa meyadarkan kita bahwa selalu ada kemungkinan kita bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah kita duga. Saya mencontohkan orang yang pernah ikut paduan suara. Ia akan menyadari meskipun suaranya tidak bagus-bagus amat awalnya, namun dengan terus latihan, suaranya akan lebih bulat. Orang yang belajar berolahraga, misalnya, tadinya tidak lentur atau tidak bisa melakukan gerakan-gerakan tertentu, tapi dengan banyak berlatih akhirnya bisa juga melakukan gerakan yang tidak pernah ia duga akan bisa.

Saya juga meminta maaf kepada mahasiswa apabila saya memiliki beberapa kekurangan dalam mengajar. Mungkin ada juga dia antara mereka yang menyadari bahwa saya memang tidak banyak 'mengajar'. Masing-masing kelas berlangsung selama 1,5 jam (2 pertemuan per minggu). Biasanya, saya mengajar tidak lebih dari 15 menit. Sisa waktunya, saya gunakan untuk mengajak mahasiswa bekerja kelompok untuk menyelesaikan berbagai masalah matematika. Biasanya untuk masingg-masing topik, saya sudah siapkan lembar kerja berisi sejumlah masalah matematika dari yang mudah sampai sulit. 

Hal tersebut saya lakukan karena saya percaya bahwa untuk belajar matematika (dan hal lainnya), seringkali kita harus melakukan kesalahan. Ketika mereka berlatih ada lebih banyak peluang mereka melakukan kesalahan. Setelahnya, mereka bisa berdiskusi (baik dengan saya dan teman) dan kemudian belajar dari kesalahan tersebut. Itu jauh lebih baik daripada saya mengerjakan soal di depan kelas, memberitahukan solusi, mahasiswa bisa mengangguk-angguk seakan mengerti, tapi mereka belum tentu mengerti sepenuhnya. 

Saya ceritakan sedikit mengenai istilah illusion of competence. Artinya kurang lebih adalah merasa paham suatu konsep tapi ketika dihadapkan dengan masalah yang terkait konsep tersebut malah bingung. Ketika seorang mengalami illusion of competence, sebenarnya dia belum benar-benar memahami konsep terkait. Semua orang yang belajar matematika pasti pernah mengalami illusion of competence. Itu wajar. Berlatih menyelesaikan berbagai masalah matematika membantu mengatasi illusion of competence di bidang matematika. 

Saat refleksi, seorang mahasiswa mengatakan bahwa dia belajar untuk sabar pada mata kuliah ini. Ketika menemukan masalah, sabar untuk mengutak-atik masalahnya sampai menemukan solusinya. Saya katakan, itu adalah pelajaran baik yang bisa diaplikasikan di berbagai bidang lain. Sikap persisten. Tidak menyerah ketika menghadapi masalah. Itu salah satu pelajaran Tidak menyerah ketika menghadapi masalah. Itu salah satu pelajaran penting lain yang dipelajari semester ini. 

Pada akhir semester ini, saya tidak berharap mahasiswa saya mengerti 100% dari apa yang mereka pelajari. Kalaupun ada, itu bonus. Saya lebih berharap melalui mata kuliah ini mereka bisa membangun rasa percaya diri (terutama kapasitas diri dalam belajar), mempelajari beberapa sikap penting yang bisa diaplikasikan di dalam bidang lain. Misalnya, ya persistensi itu.

Apr 1, 2016

(Menonton) We Bought Zoo

Beberapa minggu lalu, saya menonton film ini. Judulnya "We Bought Zoo". Tentang seorang bapak (diperankan oleh Matt Damon), yang sedih karena istrinya meninggal.
Ketika sedang mencari rumah baru, untuk memulai kehidupan baru, beliau jatuh hati pada sebuah rumah yang ternyata ada di zona kebun binatang. Kebun binatang itu terlantar karena kekurangan funding. Beliau akhirnya membeli kebun binatang tersebut, meskipun tidak punya pengalaman apapun tentang mengurus kebun binatang. Film ini mengkisahkan berbagai konflik batin yang dialami oleh bapak, keluarganya, dan pekerja kebun binatang (salah satunya diperankan oleh Scarlett Johanson) khususnya setelah si bapak membeli kebun binatang tersebut.
Saat menonton film ini, yang terpikir, wah pasti mahal sekali yah untuk membeli (dan mengurus kebun binatang).Orang kebanyakan tidak mampu (secara finansial) dan mau melakukan itu.
Namun, secara kesuluruhan saya menganggap filmnya manis dan layak ditonton.
Oh iya, kisah film ini diadaptasi dari buku yang diambil dari kisah nyata tentang Dartmoor Zoological Park di Devon, UK.
Ini trailernya..

Feb 26, 2016

Belajar dari Rekan Sejawat, Belajar dari (Mantan) Mahasiswa


Mengajar di Fakultas Pendidikan, berarti mengajar calon-calon guru. Ketika mereka, sebagian besar dari mahasiswa saya bekerja sebagai guru.  Kampus tempat saya mengajar baru meluluskan tiga angkatan. Maklum, memang kampus baru. Dan, hampir semua bergelut di bidang pendidikan, entah sebagai pengajar di kelas, fasilitator di lembaga pelatihan, staf di perguruan tingggi, pelatih di industri dan banyak lagi. Setiap kali saya bertemu mereka, saya luar biasa kagum. Apalagi, ketika saya melihat mereka tumbuh menjadi pendidik yang bukan hanya terampil, tetapi juga berdedikasi. Di bawah ini adalah kisah mengenai apa yang saya pelajari dari (mantan) mahasiswa saya, khususnya setelah mereka menjadi rekan sejawat, sesama 'guru'.

Belajar dari Memaksimalkan Aplikasi Desmos dari (mantan) Mahasiswa
Dulu, ketika di kampus, mahasiswa saya belajar memanfaatkan Geogebra untuk mengajar Geometri. Namun, sekarang kalau saa mengajar topik-topik matematika yang berhubungan dengan Geometri, saya lebih senang menggunakan Desmos Graphing Calculator, karena menurut saya jauh lebih mudah digunakan.

Saya pernah menceritakan ini kepada seorang (mantan) mahasiswa saya yang sudah menjadi guru SMP, Beliau menceritakan kepada saya bahwa dia juga menggunakan aplikasi yang sama untuk mengajar. Caranya, beliau meminta siswanya untuk membuat berbagai gambar dengan menggunakan berbagai fungsi matematika. Dia menunjukkan pada saya, contoh gambar yang dia buat. Sebuah kemeja yang dibuat kumpulan dari fungsi-fungsi linear. Lalu, dia menceritakan bahwa muridnya sudah ada yang bisa membuat gambar monas dan berbagai gambar lainnya. Dia mengajari saya cara-cara menggunakan aplikasi tersebut secara jauh lebih kreatif. Beliau menjadi tutor saya. Mengajari saya dengan begitu sabarnya. 

Belajar dari Muridnya Murid

29 Agustus 2015 yang lalu, saya menjadi peserta Seminar "Design for Change" di Kemendikbud. Pembicara utamanya ada Kiran Sir Bethi dari India. Acaranya waktu itu bagus sekali. Kiran, merupakan pembicara yang sungguh menginspirasi. Namun, ada kejadian yang sungguh membuat saya terharu. Di bagian akhir seminar, ada dua orang siswa SD kelas 1 yang mempresentasikan mengenai proyek yang mereka kerjakan di sekolah. 

Guru mereka mangajak mereka mencari masalah yang mereka rasakan di sekolah. Dua anak tersebut bercerita bahwa ketika mereka berkeliling sekolah mereka melihat bahwa ada keran yang bocor, dan air kadang digunakan secara boros. Mereka lalu mendiskusikan mengenai hal itu bersama teman-teman sekelasnyaGuru mereka kemudian memfasilitasi mereka untuk belajar lebih banyak tentang air, salah satunya adalah dengan mengajak mereka menonton dan mendiskusikan film terkait air.Setelahnya, mereka berencana untuk menjadi "Pahlawan Air" yang mengkampanyekan mengenai penghematan air di sekolah. Bertama teman sekelas, mereka lalu membuat poster-poster mengenai cara menghemat air. Karena mereka masih kelas 1 SD dan masih belajar menulis, posternya lebih didominasi oleh gambar yang berupa petunjuk cara menghemat air.Kemudian, mereka bercerita mengenai 'gerakan' ini kepada adik-adik kelasnya yang masih di TK. Di seminar  "Design for Change" mereka mempresentasikan apa yang mereka kerjakan di depan lebih dari 500 orang guru.

Ketika, saya keluar ruangan saya bertemu dengan seorang (mantan) mahasiswa saya, kini telah jadi guru.  "Sekarang mengajar TK yah?" tanya saya sok yakin. Ternyata, beliau bercerita bahwa sekarang beliau mengajar di SD. Dia sedang mengantar siswanya yang ikut kegiatan ini. Ternyata, siswanya adalah dua orang siswa SD yang presentasi tadi.

Tujuan Seminar Design for Change sebenarnya adalah untuk membuka mata pendidik, bahwa sesekali kita harus seperti gambar di bawah ini :

Gambar Mahatma Gandi dituntun oleh seorang anak
Gambar tersebut adalah gambar salah satu pemimpin dunia, Mahatma Gandhi, yang membiarkan jalannya dituntun oleh seorang anak kecil. Sebagai pendidik, kita tidak selalu lebih tahu dari anak-anak. Kita tidak selalu lebih baik dari anak-anak. Dan kalau kita memberikan mereka kesempatan, mendengarkan suara mereka sebenarnya mereka bisa menuntun kita menuju jalan yang lebih baik. 

Kegiatan Seminar Design for Change waktu itu, bukan hanya memungkinkan saya belajar dari 'murid' saya, tapi juga dari 'muridnya', yang presentasinya berhasil melelehkan hati saya. Pengalaman yang luar biasa, bukan?


Feb 3, 2016

"Guiding Questions untuk Filosofi Mengajar (Pribadi)

Kemarin saya bercerita bahwa saya mau mulai belajar membuat "digital teaching portfolio". Saya sudah mulai menyiapkan blog untuk itu (http://mahkotalimateachingportfolio.blogspot.co.id/) tapi belum banyak diisi. Salah satu sub bagian dalam "digital teaching portfolio" yang mau saya buat adalah mengenai "filosofi mengajar pribadi" atau dikenal dengan "(personal) teaching philosophy". Ketika mau menulis mengenai "filosofi mengajar pribadi" saya bingung, mulainya dari mana. Jadi saya coba googing mengenai pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjadi panduan (guiding questions) ketika menuliskan filosofi mengajar pribadi. Guiding questions tersebut saya dapatkan dari website ini :
http://www.facultyfocus.com/…/six-questions-will-bring-tea…/ 

Siapa tahu ada yang mau belajar juga. :) 

Feb 2, 2016

Ingin mulai belajar bikin portfolio (lagi)

Di kongres IGI yang lalu, saya sempat ngobrol dengan seorang teman mengenai portofolio guru. Menurut saya, membuat portofolio sebenarnya bisa jadi cara bagus untuk pengembangan profesi guru. Tentu saja portofolionya bukan hanya portofolio asal-asalan yang berisi kumpulan sertifikat seminar ini seminar itu. Tujuan membuat portfolio juga tidak harus sekadar untuk kebutuhan sertifikasi (seperti tren yang terjadi beberapa tahun yang lalu) Sebenarnya 5 tahun yang lalu saya pernah membuat portofolio. Kebetulan saya mengikuti workshop yang memang mensyaratkan kami, para peserta, untuk membuat portofolio. Setelah workshop, saya mulai mendokumentasikan lesson plan, foto kegiatan, hasil refleksi atas pembelajaran, hasil (observasi) dan masukan dari rekan sejawat dan atasan, contoh rubrik penilaian dan jawaban siswa.Semuanya dikumpulkan dalam satu file holder (yang sayangnya sudah hilang). Tapi, waktu itu saya membuat portfolio karena keharusan, bukan kesadaran sendiri. Setelah itu, belum saya pernah membuat portofolio lagi. Belakangan ini sempat kepikiran untuk mulai membuat portofolio lagi, tapi modelnya digital portofolio. Biar sedikit lebih disiplin mendokumentasikan contoh pembelajaran dan kegiatan dan mungkin kelak bisa dibagikan ke teman-teman pendidik yang lain. Belum mulai sih, baru mau belajar cara-caranya. Saya baru baca artikel di bawah ini: 
http://www.edutopia.org/blog/digital-teaching-portfolio-edwige-simon  

dan melihat contoh digital portfolio ini :

https://wilgon2004.wordpress.com/ .
Btw, kalau ada yang punya pengalaman membuat digital portfolio, mohon bagi tips-tipsnya yah! Saya mau belajar. Belajar bareng yuk! :)

The Future of Education : Journal Reflection 2 During your own education, how has your "intelligence" been assessed?

When I was little, both of my parents believed that I was smart and intelligent. Although I am a Muslim, my (second) middle name is “Sarasvati” which is the Hindu Goddess of knowledge and arts. My father gave me that name, hoping that I would grow up into an intelligent person who loves learning. Both of my parents read books to me everyday. At the age of three I was already able to read. I was known as a child who was extremely active. I never stopped moving or talking or doing something. I was also a curious child and loved to pose questions to the people around me. I guess, when I was little, adults considered me as an intelligent little girl.
However, things changed when I was in school. In school, I never felt intelligent. During my school days, students were ranked based on their performance in class. In my elementary school there were about 40 students in a class. Students that was the highest performer will be ranked the 1st. Then, there is students that ranked the 2nd, the 3rd, and so on (until the last). Students who are ranked the top three are usually considered the very intelligent. Students who are ranked in the top 10 are intelligent. Most of the others are average. And students who rank the last 10 are not quite intelligent.
In Indonesia (where I live) there is a term called “nilai merah”. Nilai is score and merah is red. So, nilai merah means red score. A student gets a red score if her scores in the report card are 5 (or below) out of 10. In elementary school I never got a red score. But I never ranked the top 10 or the top 5. However, at the time, I did not really think much about my academic performance. There were other more interesting things to think about. Playing was one of them.
I continued my schooling to a private lower secondary school. Since the first few weeks at that school, I was bullied by some class mates. I will not tell the details here. But I remember that at that time I rarely felt happy. I cried almost every day. School felt like hell. It really did. However, I kept my experience to myself. I never told my story of being bullied to anyone. My teachers and my parents knew nothing about me being bullied.
I did not know if my experience of being bullied affected my performance at school or not. I guess it did. How can you concentrate on studying if what you feel is always sorrow? I also never remembered myself studying that much. My scores were always below average. I performed very badly at school.
My teachers gave me a lot of quizzes. I remember taking quizzes almost every day. I also had a lot of homework. Quarterly, I had to take ulangan harian bersama (UHB). UHB is an examination that was designed by a group of teachers from the same district. Students from different schools (in the same district) take the same examination at the same time. All the UHB questions are multiple choices. Besides that, I had to take the school quarterly final examination which was an examination designed by a group of teachers from the same foundation. (My school was run by a private foundation. There were some other private schools which were run by the same foundation). The examination from the foundation consist multiple choice questions and essays. At the end of each quarter, the scores from the quizzes, the homework, the UHB, and the school quarterly final examination became the basis of the scores written in the report card. The report card was written quarterly.
I remember that in my first year of secondary school (year 7), my scores in my first report card were very low. I don’t remember how many subjects I took, but I remembered that I got 5 red scores, each for different subjects. For my second report card, I got 4 red scores. For my third report card, I got 2 red scores. Lucky me, I did not have to join the retention program. At that time the policy was that if a student got 3 red scores (or more) in the report card at the end of the third quarter, then they must repeat year 7. I made it until year 8 and year 9. I did not get as many red scores as before, but my rank was always the lowest 10.
At the end of year 9, I had to take the national examination. I wanted to continue my studies to a public upper secondary school. The national examination scores will determine whether I can or cannot continue into the public school. In Indonesia, especially during my school days, public higher secondary schools are selective schools. Those public schools only admitted the cream of the cream. The ones admitted to those schools were only they, who had the highest national examination scores in town. I was accepted to a public school.
However, my performance in the school was always below average. During my upper secondary school years, I was always ranked as the lowest 10 in my class. However, I was able to continue my studies to an top tier University in my country. In university I failed a lot of classes and had to repeat many classes to be able to graduate. I graduated anyway and continued my Masters in one of the Red Brick Universities in UK. Now, I work as an educator in University and is planning to continue my studies again.
During your own education, how has your "intelligence" been assessed?
My schooling experience reflects how “intelligence” has been assessed during my own education.
My intelligence was assessed in many ways. First,  through (a lot of) testing. The tests that were given to students over and over again gave the message that only those, who passed the tests with high scores are the most intelligent. Secondly, through the type of school I went into.  The highly selective schooling system gave the message that only students are accepted in the (prestigious) top tier schools or University are intelligent.
How has this affected the educational opportunities you have been given?
My (academic) performance in school were always low. But, I always went too schools which enables me to develop into a better learner. My schools never lacked teachers. Many of the teachers I had were passionate and caring. I also had access to information because both of my parents loved reading and provided me with a lot of books. They also always encourage me to gain various experiences by taking after school classes, joining internships, participating in social activities and organizations. I failed a lot in school but I had the opportunity to keep on learning. A lot of people do not have this opportunity.
Many people do not get the privilege I have. Many people,  go to school that lacks the number of teachers. Some schools only have one teacher to teach students from year 1 until 6 (in elementary school). Some schools have enough teachers but sometimes they are not qualified to teach (lack basic skills needed for teaching). Additionally, they also lack the access to good quality information.
It did not matter where the students went to school and what educational opportunities they have gotten, they still have to take the national examination at the end of year 6, the end of year 9, and the end of year 12. The results of the national examination will determine which schools they will be admitted to. Without performing well in the national examination, they can not continue to a school with better teachers and better facilities. They must accept to be admitted into another low performing school or university (if they ever continue at all).
School performances showed by tests scores do not really reflect someone’s intelligence. Students low performance in school might happen because many reasons, including social-economic factors, psychological factors, and much more. Being labelled as a low performer does not mean that a student is not intelligent. What they need is a safe environment that supports learning, and an education that are meaningful for them.  
There are also cases of people who do not go to school. These unschooled people might be very intelligent as well. For example, an unschooled farmer might know very well how to cultivate a land. They are knowledgeable about farming. They might also be very skillful in solving various problems faced when dealing with crops and farming. They also face a lot of challenges in life which  other people did not have to face. To face those challenges they need a certain way of  thinking. If they are given the opportunity to gain meaningful education (that may also happen outside of school), they might be able to develop their knowledge and skills beyond our imagination.
What judgments have people made about you that have been affected by an assessment of your "intelligence"?
Some people say that I am intelligent because I was graduated from as top tier university. Some people say I am a not very intelligent because my school/university transcripts show that I did not perform well in school/university. Some people  do not really care whether I am intelligent or not.
Personally, I do not know if I am intelligent or not. However, I love learning and I know that I will never stop learning.   
Do you consider yourself to be a "learner"? why?
Yes, I am. I failed a lot in  school, but I am very passionate about learning, especially about education. I have chosen to become an educator. And being an educator means dedicating your life to become a life long learner. I love learning through different things, from reading various books, magazines, articles, and much more. I also love to educate myself by participating in workshops, seminars, and trying online courses (like coursera). I also love meeting different people, having conversations with them, working with them and learning from them. I always value new experiences and do not mind having an adventure by doing things I have never done before. I love thinking about the world around me, reflecting on experience, and figure out new things to learn. Am I a learner? I sure am!