Dec 16, 2014

Belajar tentang Pandangan Feynman Mengenai Mengajar

Richard Feynman, peraih nobel Fisika tahun 1965 bukan hanya terkenal sebagai seorang ilmuwan tetapi juga sebagai seorang pendidik dan komunikator yang handal. Feynman sering menggunakan analogi-analogi cerdas untuk membantu siswanya mempelajari gagasan-gagasan kompleks. Kalau mau lihat salah satu kuliah Feynman, bisa lihat di bawah ini :

Karena kefasihannya dalam menjelaskan berbagai gagasan kompleks dengan bahasa yang lebih sederhana, Feynman juga dijuluki sebagai “The Great Explainer”. Saking menariknya kuliah-kuliah yang diberikannya, pada tahun 1963, California Institute of Technology, tempat beliau pernah mengajar, menerbitkan buku “The Feynman Lectures on Physics” . Buku tersebut merupakan kumpulan catatan mengenai apa yang beliau katakan saat memberikan kuliah, semacam notulen yang telah diedit sehingga lebih mudah dibaca. Meskipun kini Feynman sudah tiada, masih banyak sekali orang yang membaca catatan kuliah ini sebagai bahan belajar. Seorang teman saya yang sempat menjadi mahasiswa di Fisika UI menceritakan bahwa zaman dia kuliah dulu ada yang menjual buku tersebut dilengkapi dengan video-video kuliah Feynman. Dia senang sekali belajar darinya.

Dalam salah satu mata kuliah yang saya ajar, saya meminta mahasiswa saya membaca pendahuluan dari buku tersebut. Feynman sendiri yang menulis pendahuluannya. Tujuannya bukan untuk mempelajari Fisika, tetapi untuk melihat pandangan-pandangan Feynman tentang mengajar. Dari hasil diskusi mengenai tulisan tersebut didapatkan beberapa hal.  Pertama, bahwa Feynman mengajar di kelas besar. 180 siswa mengikuti kelasnya dua kali seminggu. Siswa-siswanya adalah lulusan SMA (mahasiswa) dan berasal dari berbagai jurusan.

Selain kelas yang diajarnya, ada semacam kelas pengayaan. Kelas dipecah menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari 15 – 20 anggota. Kelompok tersebut dibimbing oleh asisten. Dengan kelas yang begitu besar, Feynman memilih menggunakan cara ‘ceramah’. Menurutnya cara tersebut bukan cara yang paling efektif untuk mengajar. Katanya :
“The best teaching can be done only when their is a direct individual relationship between a student and a good teacher – a situation in which the student discuss ideas, think about the things, and talk about the things. It’s impossible to learn much by simply sitting in a lecture, or even by doing problems assigned.”
Meskipun kondisinya tidak ideal, Feynman punya harapan bahwa kelasnya tetap bisa memberikan nilai tambah. Katanya :
“Perhaps my lectures can make some contributions. Perhaps in some small place where there are individual teachers and students, they might get some inspiration or some ideas from the lectures. Perhaps they will have fun thinking them through – or going on to develop some of their ideas further.”
Feynman juga menceritakan kesulitannya mengajar siswa yang begitu bervariasi di dalam kelasnya. Ada siswa yang kemampuan sainsnya sangat baik. Mereka sangat tertarik mengikuti kelas. Baginya merupakan sebuah tantangan agar mereka tetap tertarik mengikuti kelas dan tidak bosan karena apa yang dibicarakan mungkin pernah mereka pelajari sebelumnya (di SMA). Siswa-siswa semacam ini butuh sesuatu yang menantang. Mereka harus merasa bahwa kuliah ini ‘tidak terlalu mudah’. Kadang beliau menjelaskan mengenai hal-hal yang ‘belum dibuktikan’ , kadang beliau memunculkan istilah-istilah baru yang tidak dibahas dengan detil namun akan dipelajari di kelas-kelas selanjutnya. Tujuannya? Sekadar untuk membuat siswa tetap penasaran.

Tantangan Feynman yang lain adalah mengajar siswa yang harus ‘berjuang lebih’ untuk memahami kuliahnya. tidak mengharapkan bahwa siswa-siswa ini memahami semua yang beliau ajarkan, yang penting mereka paham gagasan-gagasan besar yang lebih esensial. Katanya :
“I want to be at least a central core or backbone of material he couldn’t get. Even if he didn’t understand everything in a lecture, I hoped he wouldn’t get nervous. I didn’t expect him to understand everything, but only the central and most direct feature.”
Feynman punya kepedulian terhadap siswa-siswa yang lebih ‘butuh waktu dan usaha lebih’ untuk memahami apa yang dia ajarkan. Memang,  beberapa siswa yang bisa memahami hampir semua yang beliau ajarkan tapi ada juga siswa yang benar-benar kesulitan Katanya mengenai hal ini : 
“I didn’t want to leave any student completely behind.”

Yang paling menarik adalah bahwa Feynman selalu reflektif terhadap praktek mengajarnya. Beliau mengatakan bahwa meskipun mengajarkan mata kuliah yang sama, setiap tahun dia selalu memikirkan apa yang kurang dan apa yang perlu diperbaiki. Dia tidak pernah mau mengajar dengan cara yang sama setiap tahunnya. Meskipun materi yang dia bawakan sama, dia akan mencari cara untuk mengajar dengan cara yang berbeda. 

PS : Buku "The Feynman Lectures in Physics" bisa dibaca online di : http://www.feynmanlectures.caltech.edu/ 

Sep 24, 2014

Refleksi setelah merenungi kasus 4 x6



Belakangan, Indonesia dihebohkan oleh perdebatan ‘4 x 6’ apakah itu berarti  4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 atau 6 + 6 + 6 + 6. Kasus tersebut membuat saya belajar dan kembali memikirkan beberapa hal. Apa yang saya pelajari? 

1.  Pertanyaan “4 x 6  berarti  4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 atau 6 + 6 + 6 + 6?" bukanlah pertanyaan matematis tapi merupakan pertanyaan linguistik (lihat: http://mathforum.org/library/drmath/view/61066.html ).
 
4 x 6 hanya bisa didefinisikan sebagai 6 + 6 + 6 + 6, tidak bisa dibuktikan secara matematis. Menggunakan penjelasan obat diminum tiga kali sehari = 3 x 1 atau misalnya, atau menyatakan bahwa  y + y + y = 3y tidak dituliskan sebagai y3 sehingga  4 +  4 + 4 + 4 + 4 + 4 tidak boleh dituliskan sebagai 4 x 6 bukanlah pembuktian matematis.  

 Kenapa tidak bisa dibuktikan secara matematis? Karena 4 x 6 didefinisikan sebagai 6 + 6 + 6 + 6 hanyalah sebuah konvensi, tapi bukanlah sebuah fakta matematis.

Sebuah konvensi matematis bisa berupa fakta matematis, namun fakta matematis tidak selalu merupakan konvensi matematis.

Fakta matematis, biasanya bisa dibuktikan secara matematis. Misalnya -1 x -1 = 1 bisa dibuktikan secara matematis (lihat : http://mathforum.org/dr.math/faq/faq.negxneg.html ) tapi  4 x 6 hanya bisa didefinisikan sebagai 6 + 6 + 6 + 6,  tidak bisa dibuktikan secara matematis. 

Hal ini bukan berarti bahwa konvensi matematis tidak penting. Konvensi matematis tetap berguna untuk memudahkan komunikasi. Dalam beberapa konteks, ketiadaan konvensi matematis bisa membingungkan saat dua orang atau lebih ingin mengkomunikasikan matematika, misalnya dalam konteks 2 x 6 -3.

Mana yang harus dikerjakan dulu? Berdasarkan konvensi matematis yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah perkalian yakni 2 x 6 baru kemudian dikurangi 3. Dalam konteks ini, konvensi sangat penting untuk mengurangi kebingungan karena bila urutan perhitungan dilakukan dengan berbeda, hasilnya juga berbeda. Mana yang dikerjakan terlebih dahulu menjadi esensial.

Namun, kita tidak bisa membuat pembuktian matematis mengenai mengapa 2 x 6 harus dikerjakan terlebih dahulu.
Dalam konteks perkalian, konvensi saat 4 x 6 berarti  6 + 6 + 6 + 6 bisa bersifat esensial, saat digunakan untuk mendefinisikan 4 groups of 6, namun di sisi lain bisa tidak esensial dalam konteks yang lain.

Memang, secara matematis, apakah 4 x 6 hanya bisa didefinisikan sebagai 6 + 6 + 6 + 6 tidak bisa didefinisikan sebagai benar atau salah secara matematis. Namun, kalau dilihat dari konteks bahasa, ada kemungkinan bahwa 4 x 6 lebih tepat didefinisikan sebagai 6 + 6 + 6 + 6

Dalam hal ini, saya bukan ahli bahasa. Dalam konteks bahasa Indonesia, saya tidak tahu apakah
Apakah 4 x 6 dibaca “4 dikali 6”, “4-nya dikali 6”, “4 dikali 6-nya”.


Apakah benar pernah ada kesepakatan dalam hal ini? Saya hanya tahu dalam kebanyakan buku matematika Indonesia 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6 . Apakah pernah disepakati secara resmi? Saya belum tahu.

2. Pernyataan “Matematika adalah ilmu pasti” masih bisa diperdebatkan
Apakah matematika merupakan ilmu pasti (exact science)? Dulu saya mengira begitu. Sekarang? Saya ragu. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan “ilmu pasti” itu. Apakah yang dimaksud dengan “ilmu pasti”?

"This is a hard question to answer because there are many views on what mathematics is and whether it is a science at all, let alone an exact one. And, of course, there is a question of what constitutes an exact science. To compound it all, not only it is possible to question the meaning of the word "is", but it is also a fact that the word "is" has many meanings."

Read (1943) dalam tulisannya misalnya menggunakan definisi ilmu pasti yang terdapat dalam kamus Oxford sebagai berikut:
“Exact sciences are those which admit of absolute precision, especially the mathematical sciences.”

Namun kalau matematika merupakan ilmu pasti, pertanyaan berikutnya apanya yang pasti?  Tapi kadang terminologi yang digunakan di matematika tidak selalu pasti. Salah satu contoh yang diungkapkan Read:
"In the field of statistics if a city of 100,000 increases its population 10% each year many books speak of a constant rate of change. In the sense of calculus this is definitely not a constant rate of change. A better term would be constant ratio of change."

Bagi Read, matematika adalah ilmu pasti tapi terminologi yang digunakan tidak selalu pasti. Katanya:
Yes, mathematics is an exact science, but mathematicians use inexact terminology

Di sisi lain, ada juga yang tidak setuju bahwa matematika adalah ilmu pasti. Sudjiwo Tedjo yang juga sempat belajar  matematika di tingkat perguruan tinggi saat berbicara mengenai “Math: Finding Harmony in Chaos” pada kegiatan TEDx Bandung (lihat: http://www.youtube.com/watch?v=Y6FDTbfkHjs) mengatakan:

“matematika selalu dikesankan [sebagai] ilmu kepastian. Itu bulshit, itu orang yang gak ngerti. Aku malu kalau ada temanku, teman dekatkku, ngomong kayak gitu. Matematika itu ketidakpastian tapi tentang kesepakatan.  1 + 1 = 2, siapa bilang pasti? Itu kalau bicara dalam konsep persepuluhan tapi dalam konteks bilangan biner 1 + 1 tidak sama dengan dua.”

Sudjiwo Tedjo mengungkapkan bahwa matematika, yang penting adalah kesepakatan (seperti yang sempat dibahas di  bagian sebelumnya). Kesepakatan ini memang tergantung konteks, semesta apa yang sedang kita bicarakan?

Saya sendiri tidak bisa memastikan apakah matematika adalah ilmu pasti atau bukan. Yang saya tahu, banyak hal yang selama ini dianggap benar di matematika ternyata dalam perkembangannya bisa dibuktikan salah. Jadi, yang dianggap benar, tidak pasti benar.  Misalnya pernah ada masa di mana dianggap tidak ada akar dari bilangan negatif  seperti -4 , namun kemudian muncullah gagasan mengenai bilangan imajiner, di mana -1 = i. Matematika sangat memungkinkan kita untuk mempertanyakan berbagai hal, termasuk hal-hal yang sebelumnya dianggap benar. Yang jadi penting adalah penalarannya. Seorang teman saya, bernama Hokky Situngkir meneliti mengenai Borobudur. Dalam sebuah berita yang membahas penelitiannya ( lihat: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/214498-peneliti--borobudur-adopsi-konsep-fraktal ) :
Secara konvensional kita mengenal konsep dimensi, yang merupakan 'bilangan bulat'. Dimensi 1 direpresentasikan dengan garis, dimensi 2 dengan bidang, dimensi 3 dengan ruang, dimensi 4 dengan ruang dan waktu, dan seterusnya. 

Namun menurut Hokky, Borobudur merupakan bentuk yang dimensinya diantara 2 dan 3. Apakah boleh berpikir begitu? Di matematika boleh saja, tidak ada larangan. Setuju atau tidak mengenai gagasan itu, itu persoalan lain. Bagi yang setuju maupun tidak, silakan berargumentasi! Matematika justru menjadi menarik karena banyak hal masih bisa diperdebatkan.

Jadi yang mana yang benar? Matematika adalah ilmu pasti atau bukan? Sampai detik ini saya belum tahu apa jawaban pastinya.

3. Ada jenis pertanyaan tertutup (close-ended question) dan ada pertanyaan terbuka (open-ended question). Dalam pelajaran apapun, termasuk matematika, kedua jenis pertanyaan itu perlu diperkenalkan kepada siswa.

Dalam konteks sekolah, siswa kita seringkali dihadapkan pada berbagai pertanyaan tertutup, di mana hanya ada satu jawaban benar, biasanya ini ditemui dalam soal-soal pilihan ganda.
Mengajukan pertanyaan tertutup, tidak selalu salah. Tergantung tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Namun, siswa juga perlu diperkenalkan terhadap pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka memungkinkan siswa menjelaskan penalaran mereka.

Pertanyaan :
 4 x 6 = ...

Bisa saja dianggap sebagai pertanyaan terbuka, di mana di ruas sebelah kanan, jawaban apa saja boleh diberikan asalkan nilainya sama besarnya dengan ruas yang ada di sebelah kiri.

Jadi, saya bisa saja menjawab
4 x 6 = 2 x 2 x 6
atau
4 x6 = 2^3 x 3
atau
4 x 6 = (1+3) x (2x3)

Tidak ada yang salah dengan jawaban-jawaban tersebut. Jawaban yang beragam ini justru bisa dijadikan sebuah diskusi di dalam kelas, di mana siswa bisa diajak mengkonfirmasikan kenapa mereka memilih jawaban yang mereka pilih. Apa alasannya?

Pertanyaan terbuka biasanya memancing lebih banyak dialog di dalam kelas. Biasanya pertanyaan terbuka mengharuskan siswa untuk menjelaskan penalarannya. Di website http://rothinks.wordpress.com/2011/03/17/opening-up-the-questions-in-the-math-classroom/ada sebuah contoh menarik di mana sebuah pertanyaan tertutup bisa diolah kembali menjadi pertanyaan terbuka yang bisa menantang siswa untuk berpikir sekaligus mengkomunikasikan gagasan matematika mereka.
Kurang lebih, hal-hal di atas yang jadi pemikiran saya karena tergelitik kasus 4 x6. Semoga bermanfaat!

Sumber:
4.       Cecil B. Read, Is Mathematics an Exact Science?, National Mathematics Magazine, Vol. 17, No. 4 (Jan., 1943), pp. 174-176 diunggah dari http://www.jstor.org/stable/pdfplus/3028342.pdf?acceptTC=true&jpdConfirm=true

Aug 14, 2014

Membaca "The Present Takers", Sebuah Novel Tentang Bullying


Saya menemukan buku "The Present Takers" karya Aidan Chambers di lemari buku adik saya. Tampaknya adik saya, yang kelahiran 1992, membaca buku tersebut saat dia remaja. Buku ini memang buku untuk remaja (atau malah pra-remaja). Sepertinya buku ini memang cocok dibaca oleh siswa usia 10 - 15 tahunan.

Tentu, saya bukan remaja lagi, tapi saya penasaran membaca bukunya. Kenapa? Karena di bagian belakang buku ada keterangan bahwa ini bercerita tentang seorang anak yang mengalami bullying. Bullying adalah salah satu bentuk kekerasan di mana seorang anak menggunakan kekuasaannya untuk menekan anak yang lain baik secara verbal maupuk fisik. Bullying belakangan sering terjadi di beberapa sekolah, termasuk sekolah di Indonesia. Sebagai orang yang bergelut di dunia pendidikan, saya ingin tahu bagaiamana buku ini mengangkat cerita mengenai bullying. Mungkin ada yang bisa dipelajari.

Cerita Tentang Lucy yang Di-Bully dan Guru yang Tidak Curiga

Tokoh utama dalam buku ini bernama Lucy, seorang anak yang mulai ABG, alias menginjak remaja.. Lucy sendiri berasal dari keluarga yang cenderung berada. Bapaknya adalah manajer sebuah toko. Hubungan kedua orang tuanya pun sangat harmonis. Dia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Di sekolah, dia tidak pernah punya masalah yang terlalu berarti, baik secara akademis, hubungan dengan teman-temannya, maupun hubungan dengan gurunya. Namun, kondisinya yang 'baik-baik saja' tersebut berubah ketika Lucy akhirnya mulai di-bully oleh teman sekelasnya sendiri.

Hari itu Lucy berulang tahun yang kesebelas. Pagi-pagi sekali Melanie, Vicky, dan Sally-Ann telah menunggui Lucy di depan gerbang sekolah untuk menyambut Lucy. Mereka ingin memalak Lucy tapi dengan embel-embel kejutan ulang tahun. Ibu Harris, guru kelas mereka tidak curiga. "Hari ini Lucy ulang tahun, Bu," kata Melanie pada gurunya.

"Kami punya kejutan untuknya," kata Sally-Ann menambahkan untuk menjelaskan kenapa mereka menunggu di depan gerbang sekolah.

"Baik sekali kalian," kata Ibu Harris yang menganggap mereka teman-teman yang baik karena ingin memberikan kejutan ulang tahun yang menyenangkan pada Lucy. Dengan tenangnya Ibu melangkah masuk kelas.

Bullying Terjadi!
Saat Lucy tiba di gerbang sekolah, Melanie dan kedua temannya  merebut tas Lucy untuk melihat apa isinya. Setelahnya mereka memalak Lucy, "Besok bawakan kami hadiah! Awas kalau tidak!"

Yang tahu tentang rencana Melanie dan kawan-kawan bernama. Angus Burns. Angus sempat menguping Melanie dan kawan-kawan ketika mereka berencana membuat 'kejutan' untuk Lucy.  Namun, Angus kurang beruntung. Dia tidak melihat secara langsung prilaku Melanie dan kawan-kawan kepada Lucy. Saat Lucy sedang di-bully, dia sedang bertugas mengurus hewan peliharaan kelas, memberi makan hamster.

Angus telah lama mengamati prilaku Melanie dan kawan-kawan. Bukan hanya Lucy yang pernah di-bully oleh mereka. Ada anak-anak lain, diantaranya Clare yang juga pernah diperlakukan serupa. Sayangnya, Clare tidak melawan. Kali ini, Angus mau mengajak Lucy untuk melawan. Agar kelak, Melanie dan teman-temannya tidak melakukan hal yang sama pada anak yang lainnya.

Yang Di-Bully Memilih Diam
"Mereka (Melanie, dkk) tidak mengerjai kamu kan?" tanya Angus pada Lucy.
"Gak mau membahas itu," kata Lucy.
"Kalau mereka melakukan sesuatu padamu, sebaiknya kamu bercerita pada Ibu Harris," Tambah Angus.

Lucy memilih untuk diam. Dia takut untuk mengadu pada orang dewasa. Mungkin keadaannya akan tambah parah.

Terlambat Sekolah karena Takut Di-Bully
Keesokannya Lucy tidak membawakan Melanie dan kawan-kawannya hadiah. Namun, dia juga takut Melanie akan melakukan sesuatu yang tidak disenanginya. Lucy memilih untuk masuk terlambat ke dalam kelas. Kalau bel berbunyi, Melanie dan kawan-kawan pasti harus masuk kelas.Mereka tidak akan menunguinya di depan gerbang. Itu akan membuatnya aman. Tidak apalah ditegur oleh ibu guru. Itu lebih baik daripada menghadapi Melanie dan kawan-kawannya.

Yang melihat Kegiatan Bullying Memilih Diam
Lucy biasanya diantar ayahnya ke sekolah. Artinya, dia tidak bisa selalu  berkelit untuk 'menerlambatkan diri'.  Melanie dan kawan-kawan telah menungu di gerbang sekolah seperti biasa. Setelah ayahnya sudah menjauh dari gerbang, mereka mengajak Lucy 'bermain'. Bel masuk sekolah belum berbunyi. Mereka mengikat tangan Lucy dengan tali,  menarik Lucy ke tengah lapangan, mengolok-olok Lucy, dan membiarkan anak-anak lainnya melihat Lucy dipermalukan.

Yang melihat kejadian itu, banyak juga yang tidak senang. Mereka menganggap perlakuan Melanie pada Lucy jahat, tapi mereka tidak melawan. Mereka juga memilih diam.

Guru piket hari itu bernama Pak Jenkins. Dia melihat keramaian di lapangan dan datang ke sana. "Ada apa ini?" tanyanya.

"Ini lagi main-main, Pak. Pura-puranya pertunjukkan," kata seorang anak mengelabui Pak Jenkins. Anak-anak yang lain pun tidak ikut bersuara.

"Oke. Yang penting saat bel berbunyi nanti, langsung masuk kelas yah!" Pak Jenkins memperingatkan, tak lagi curiga.

Ketika Semua Diam yang Mem-Bully  Makin Menjadi
Melanie tidak mendapatkan hadiah dari Lucy tapi dia tahu ayahnya Melanie punya toko. Suatu hari, sepulang sekolah Melanie memaksa Lucy menemaninya  ke toko tersebut. Lucy tidak mau sebenarnya, tapi Melanie memaksa.

Ternyata, Melanie ingin mencuri beberapa barang tapi akhirnya ketahuan oleh salah seorang penjaga toko. Mereka, akhirnya memang tidak mengambil barang apapun. Sudah terlanjut ketahuan duluan. Tentu saja, akhirnya ayah Lucy tahu juga.

Orang Tua Lucy Terlambat Tahu Anaknya Di-Bully
Sebenarnya baik ayah maupun ibunya Lucy, sadar bahwa Lucy banyak berubah. Wajahnya murung, dia tidak bersemangat sekolah, dan Lucy lebih banyak diam. Tapi tidak ada yang tahu apa yang benar-benar terjadi apda Lucy. Mereka mengira bahwa anaknya hanya sedang 'labil' karena beranjak remaja.

Namun, nasi telah menjadi bubur. Lucy terlibat pencurian (meskipun hanya di toko ayahnya sendiri) atas dorongan Melanie. Barulah Lucy dan kedua orang tuanya mengobrol dengan serius mengenai apa yang sesungguhnya terjadi.  Angus juga terlibat. Dia ikut memberitahu orang tua Lucy mengenai apa yang terjadi.

Ibunya Lucy merasa sangat terpukul. Dia merasa telah menjadi orang tua yang cukup baik dan terbuka ada anaknya. Tapi kenapa anaknya tidak mau menceritakan kejadian bullying ini padanya? Dia tidak terima seseorang membuat anaknya menderita dan membuat anaknya menjadi pencuri. Dia mengatakan ingin melabrak orang tua Melanie.

"Ini pasti salah orang tuanya," kata Ibunya Lucy, "Mereka harus tahu apa yang dilakukan anaknya."

Lucy tidak ingin ibunya menemui orang tua Melanie. Nanti Melanie akan memperlakukannya lebih buruk daripada sebelumnya. Tapi ibunya terlalu kesal dan memilih mengabaikan ketakutan Lucy.

Ketika Masalah Anak-anak Diselesaikan Orang Tua
Karena kesal, Ibunya Lucy memilih berbicara pada Ibunya Melanie di rumahnya.

"Permisi, saya mau tanya apakah anda khawatir tentang Melanie," kata Ibunya Lucy.
Wajah Ibunya Melanie memerah, "Kenapa saya harus khawatir?"
"Jadi, Melanie tidak terlibat masalah apapun akhir-akhir ini?"
"Masalah? Masalah apa?" tanya Ibunya Melanie.
"Di sekolah ada bullying, putri saya, Lusy menjadi salah satu korbannya," kata Ibunya Lucy, "Begitu juga dengan beberapa anak lainnya. Anda pernah dengar tentang hal ini?"
"Belum tampaknya," kata Ibunya Melanie, "Kalau Melanie di-bully  pasti dia akan cerita pada saya."
Ibunya Lusy melanjutkan, "Maaf, tapi sebenarnya Melanielah yang melakukan kegiatan bullying."
"Hati-hati yah kalau berbicara!" kata Ibunya Melanie dengan marah.

Ibunya Lucy mencoba menerangkan apa saja yang dilakukan oleh Melanie terhadap putrinya tapi itu membuat Ibunya Melanie semakin murka.

"Yang anda bicarakan itu sampah!" kata Ibunya Melanie.
"Anda mengira saya berbohong?" bela Ibunya Lucy.
"Oh, jadi anda mengira putri saya yang berbohong?" Ibunya Melanie bertanya balik.
"Yah...," kata Ibunya Lucy
"Anda datang ke sini dan menjelek-jelekkan putri saya. Berani-beraninya! Urus saja anakmu sendiri sebelum mengajarkan cara orang lain mengurus anaknya. Dasar Hipokrit!Keluar dari rumah saya," usir Ibunya Melanie.

Berbicara pada Ibunya Melanie ternyata tidak menyelesaikan masalah. Hari itu ibunya Lucy belajar sesuatu. Terkadang anak harus belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak harus belajar bertindak untuk membela dirinya sendiri. Ketika orang tua yang memilih menyelesaikan masalah anaknya, belum tentu masalah itu akan selesai.

Berempati Dengan yang Mem-Bully tapi Bukan Membenarkan Bullying
Di rumah ibunya Lucy menemui Lucy untuk meminta maaf bahwa rencana 'menyelesaikan masalah' tidak berjalan dengan mulus.

Lucy  berkata pada ibunya, "Saya tidak mengerti kenapa orang-orang bisa begitu jahat. Melanie jahat."
"Mungkin kamu hanya melihat Melanie di sisi terburuknya," kata Ibunya Lucy.
"Kenapa Ibu membela orang lain, bukan aku?"
"Oh ya?" kata Ibunya Lucy ,"Tadi saya bilang  mungkin. Mungkin saja mereka (yang jahat) tidak bermaksud untuk begitu. Mungkin mereka tidak bisa menahan diri. Mungkin mereka pun mengalami sesuatu yang berat."
"Saya tidak percaya seseorang selamanya jahat terus," kata ayahnya.
"Melanie juga tidak selalu jahat?" tanya Lucy.
"Melanie juga. Mungkin sulit kita percaya itu tapi dia tidak selalu jahat," kata ayah," Tapi itu bukan berarti saya membenarkan apa yang Melanie lakukan padamu. Itu tetap salah."
"Lalu apa yang sedang ayah dan ibu coba sampaikan?
"Mencoba menjelaskan. Mencoba memahami semua ini," kata ayah.
"Mungkin dia mendapatkan perlakuan serupa dari orang lain," kata ayah.

Lucy dan kedua orang tuanya mencoba membahas bagaimana anak yang mem-bully  mungkin diperlakukan tidak baik oleh orang lain, misalnya oleh orang tuanya [ keterangan: dalam konteks lain bisa saja orang lain]. Lucy agak sulit memahami ini. Orang tuanya memperlakukan Lucy dengan sangat baik. Tapi melalui dialog itu, Lucy diajak orang tuanya untuk melihat sudut pandang yang lain.

Melawan dengan Tulisan
Clare adalah salah satu anak yang pernah di-bully  oleh Melanie. Dia tidak mengadu pada guru karena takut akan membuat masalah menjadi lebih besar. Lucy juga memilih begitu. Tapi akhir tahun ajaran Ibu Harris memberikan tugas yang menarik. Sebuah proyek yang harus dikerjakan oleh siswa sekelas. Semua siswa diminta mengirimkan tulisan mengenai pengalaman mereka selama setahun, hasilnya akan dipajang di mading. Apa hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dirasakan di sekolah? Mereka bisa menuliskannya dalam bentuk cerita, puisi, lelucon, atau apapun.

Clare, Angus, dan Lucy membahas rencana mereka untuk menyumbang tulisan tentang bullying. Sebaiknya tersirat agar tidak terang-terangan mengacu pada Melany. Beginilah puisi yang ditulis oleh Clare :

Berkali-kali aku datang ke sekolah
Menanti hari baru.Tapi di sana,
Di gerbang sekolah, seorang bully menunggu
Bersama dua orang temannya
Tidak ada yang bisa kabur darinya,
Saya tahu dengan pasti. Lalu,
Keinginan, seperti embun, segera menghilang
Dihilangkan oleh ketakutan, ketika
Dibalik siklus ini,
Ada perintah-perintah yang menentukan nasibkmu
"Sampai ketemu besok dengan hadiah-hadiah untuk kami.
Hadiahnya harus baru, kalau tidak awas!
Kami akan melakukan sesuatu yang buruk,
hati-hati kami akan mencakarmu!"
Ketika tulisan ini dipajang di mading, Melanie tahu, puisi ini tentang dirinya. Dia marah dan merobek sebagian mading.Apa yang terjadi setelahnya? Tidak tahu karena cerita berakhir di sini.

Refleksi Setelah Membaca "The Present Takers"
Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan bukunya. Rasanya ceritanya sedikit seperti sinetron. Tetapi, ada banyak isu yang diangkat dalam buku ini. Seperti yang telah dijelaskan di atas, buku ini mengangkat isu mengenai perasaan yang dirasakan oleh anak yang di-bully, termasuk ketakutannya, pilihannya untuk diam dan tidak melawan. Buku ini juga mengangkat isu mengenai guru-guru yang kurang peka terhadap peristiwa bullying. Selain guru, buku ini juga menggambarkan bagaimana kadang orang tua pun tidak peka terhadap peristiwa bullying yang terjadi.  Sebenarnya buku ini mengajak anak-anak untuk melawan bullying, juga untuk melawan ketakutan terhadap pembully. Pembully adalah manusia biasa. Kalau melawan tidak bisa dengan terang-terangan, mengadu ke guru, ada cara-cara lain yang bisa digunakan untuk melawan, misalnya melalui tulisan.

Meskipun saya tidak suka bukunya, tetapi dari kacamata seorang guru saya melihat bahwa buku semacam ini bisa dipakai di dalam kelas. Kita bisa membahas banyak hal dari buku ini. Guru, tentu saja harus menyiapkan pertanyaan untuk memancing diskusi di kelas, misalnya:

  • Kenapa Clare dan Lucy memilih untuk diam? Apa yang akan terjadi kalau mereka mengadu kepada guru? 
  • Apakah pilihan Clare dan Lucy untuk menuliskan tentang bullying  di madng tepat? Apakah ada cara lain untuk melawan bullying  yang dilakukan oleh Melanie dan kawan-kawannya?
  • Apakah anak sekolah (usia sekitar 11 tahun) bisa berprilaku seperti Melanie? Apakah prilaku semacam itu benar-benar ada dalam kehidupan kita? Kenapa bisa begitu?
Ada begitu banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk membahas buku ini. Bullying  sendiri harus diakui memang terjadi di beberapa (atau bahan banyak) sekolah di Indonesia. Guru kadang kesulitan untuk membahasnya, entah canggung karena topiknya sensitif, atau bingung mulai dari mana. Media-media berupa bacaan seperti ini, atau film tentang bullying, misalnya bisa jadi salah satu alat yang digunakan untuk memulai diskusi tentang bullying. Akhirnya, mungkin bisa sampai membahas isu bullying  yang terjadi di sekolah sendiri. Apakah akan berakhir dengan penyelesaian masalah bullying  di sekolah? Saya tidak berani menjamin demikian, tapi setidaknya dialog terjadi. Itu saja sudah suatu kemajuan bukan?

Aug 2, 2014

Pelajaran (IPA) di Sekolah dan Fenomena Sekitar yang Semakin Rumit

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-HMZpikgm62M/UM3XudRTDlI/AAAAAAAALhY/0mnM2Y9CQhE/s1600/rantai-makanan1.gif

“Ini foto orang yang meninggal karena meminum air yang terkena limbah raksa,” kata Om saya saat saya kunjungi untuk silaturahmi Lebaran. Beliau menunjukkan sebuah foto anak laki-laki yang tinggal di daerah Lebak.

“Waktu dia umur 3  tahun dia minum dari botol yang di dalamnya ada air yang sudah tercemar raksa. Udah terlanjur minum, ibunya telat lihat, yah sudah terkena efek seperti minamata di Jepang. Setelah itu dia kejang-kejang, lumpuh. Dan akhirnya malam takbiran lalu meninggal di usia 20 tahun. Saya dan anak saya menengok orangtuanya.”

Om saya, mengeluarkan laptopnya dan memperlihatkan sebuah video tentang bagaimana limbah dari sebuah perusahaan dibuang di daerah sana. Katanya, “Lihat ini! Ini sawahnya, ini pipa-pipa tempat mengalirkan limbah ke sawah. Ini mesinnya.”

Om, tante, suami, dan saya mulai membahas betapa berbahayanya limbah tersebut. Kalau ada satu atau dua korban saja, itu pun tidak boleh ditolerir. Nyawa manusia, meski satu orang saja,  tetap berharga. Tapi yang lebih mengerikan adalah kalau sumber air minum mulai tercemar dan diminum oleh banyak warga.

Om saya melanjutkan, “Itu memang sudah terjadi. Bukan hanya masuk ke sumber air yang jadi minum. Saat dibuang ke sawah, padi bisa menyerap limbah-limbah tersebut, berasnya dimakan akhirnya terakumulasi dalam tubuh manusia. Masalahnya limbah yang dibuang bukan hanya raksa, tapi juga arsenik, sodium sianida, dan sebagainya."

Namanya guru, saya langsung ingat pelajaran-pelajaran di sekolah. Kata saya, “ Dan di banyak sekolah, saat bahas ekosistem, kita sibuk membahas rantai makanan yang sama dari tahun ke tahun.  Elang makan ular, ular makan  tikus, tikus makan padi. Atau ular makan tikus, tikus makan padi. Padahal apa yang terjadi di sekitar kita jauh lebih kompleks daripada itu.”

Om saya kemudian menceritakan di Lebak juga, di salah satu kecamatannya, 422 warga dipatok ular dalam waktu 6 bulan. (Di lain kesempatan, beliau juga menunjukkan saya salah satu foto orang yang kakinya dililit ular). Penyebabnya adalah bahwa biasanya ular yang ada di sekitar sana memakan kodok dan kadal. Racun yang dibuang ke sawah ikut membunuh kodok dan kadal. Selain itu, di daerah tersebut juga terjadi pembongkaran tutupan tanah, sehingga binatang-binatang yang menjadi santapan ular tergangu reproduksinya. Mereka kesulitan bertelur. Akibatnya, ular mulai masuk ke rumah warga, maksudnya mencari sejenis kadal, yakni cicak untuk dimakan, tapi yang dipatok akhirnya malah manusia. “Jadi sekarang, dalam rantai makanan di sana, manusia itu persis di bawah ular.”


Mendengar ceritanya saya merinding. Ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi berasal dari tindakan manusia dan akhirnya juga kembali merugikan manusia. Yang terganggu juga makhluk-makhluk hidup lamanya dan di dalam satu ekosistem, semuanya terhubung satu sama lain. Tapi yang bikin saya merinding lagi adalah saya tidak yakin bahwa pelajaran-pelajaran di kebanyakan sekolah, termasuk melalui pelajaran IPA, mempersiapkan lulusannya untuk menghadapi dunia dengan permasalahannya yang semakin kompleks ini. Apakah lulusan-lulusan sekolah kita, mampu memaknai berbagai fenomena di sekitarnya berbekal ilmu yang didapatkan di sekolah? Apakah mereka bisa memahami ide-ide besar yang penting, misalnya bukan sekadar menghafal bahwa “elang memakan ular, ular memakan tikus dan tikus memakan padi”, tetapi juga bahwa ketika ekosistem terganggu, makhluk hidup juga terganggu, dan akhirnya bisa berefek langsung pada kita manusia, dan makhluk hidup di sekitar kita? 

Jul 19, 2014

Pengalaman Panjang Belajar kembali (Re-Learning) tentang hak Asasi Manusia

Beberapa waktu yang lalu, Mas Andi Achdian (sejarawan)sempat menceritakan bahwa dia dan beberapa sejarawan yang lain sedang membantu Mbak Suciwati Munir untuk mendirikan Omah Munir di Malang. Tempat itu akan sekaligus dijadikan museum Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga bisa digunakan untuk mengenalkan HAM kepada masyarakat, termasuk juga kepada anak-anak.

Mas Andi mengajak saya berdialog untuk membahas rencananya tersebut. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh Mas Andi adalah mengenai bagaimana mengajarkan HAM kepada anak-anak? Saat membahas HAM, kadang ada beberapa cerita mengerikan, misalnya terkait penculikan, pembunuhan dan sebagainya. Misalnya, kisah  Munir sendiri pun mengerikan. Dia diracun ketika menaiki pesawat Garuda Indonesia.

Pertanyaan, Mas Andi tersebut merupakan langkah awal saya mulai belajar kembali (re-learning) mengenai HAM.

Ketika sedang mengunjungi, SD Kembang, Jakarta saya sempat mengajukan ulang pertanyaan Mas Andi terkait mengajarkan HAM kepada anak-anak kepada Ibu Lestia, kepala sekolah SD Kembang. Bu Lestia menceritakan bahwa di sekolahnya anak-anak diperkenalkan mengenai isu-isu HAM dimulai dengan hal yang dekat dengan anak-anak. Misalnya mengenai pekerja anak. Jadi bukan dari isu-isu yang terlalu jauh dengan anak. Ide tersebut merupakan ide yang bagus, saya selalu percaya bahwa proses ketika mengajak siswa mempelajari sesuatu, we should start where the students are, kita harus mulai dari mana siswa berada.

Lalu, saya sempat diajak untuk ikut rapat bersama beberapa sejarawan yang sedang mendesain Omah Munir. Itu pertama kalinya saya melihat sejarawan bekerja, membahas bagaimana caranya mengumpulkan data dan menampilkan data untuk museum. Saya lupa ada berapa orang sejarawan di sana, yang jelas usia sejarawan-sejarawan tersebut bervariasi. Itu merupakan rapat lintas generasi. Dalam pertemuan tersebut saya juga mengajak Mbak Danti, guru Semi Palar yang kebetulan sedang ke Jakarta. Mbak Danti dan saya diminta untuk memberikan masukan terkait child's corner yang rencananya akan ada di Omah Munir.

Mas Andi juga sempat mengirimkan saya sebuah video animasi yang dibuat oleh Omah Munir mengenai Hak Asasi Manusia. Videonya tidak sampai 4 menit dan merupakan bahan yang bagus untuk belajar. Video tersebut dapat dilihat di sini:



Dari sana saya belajar mengenali kembali beberapa HAM. Pembelajaran pun berlanjut. Sekitar sebulan lalu, saya bertemu dengan Mas Andi dan Pak Sopyan Maolana Kosasih (guru PKn di sebuah SMP di Bogor).
Kami berdialog tentang pendidikan HAM. 

Nah, ternyata ada hal yang baru dan mendasar terkait HAM, yang tidak saya pahami sebelumnya. Saat berdialog dengan Mas Andi dan Pak Sopyan saya baru tahu perbedaan antara tindak kriminal dan pelanggaran HAM.

Jadi misalnya seseorang dibunuh, itu belum tentu pelanggaran HAM. Itu bisa jadi tindak kriminal biasa. Pembunuhan dikatakan sebagai pelanggaran HAM ketika pembunuhan tersebut dibiarkan oleh negara atau dilakukan secara sistematis oleh institusi negara.

Salah satu contoh pelanggaran HAM misalnya ketika ada kebijakan/regulasi resmi dari pemerintah untuk melarang siswa-siswa yang bertato untuk sekolah. Kalau ada regulasi baik dari dinas pendidikan kabupaten/kota, provinsi, maupun Kemendikbud yang melarang siswa bertato maka itu merupakan pelanggaran HAM.  Pendidikan adalah salah satu HAM, sehingga siapapun umat manusia, harus boleh memperoleh pendidikan, termasuk mereka yang bertato.

Pak Sopyan juga sempat menceritakan tujuannya mengajarkan HAM di sekolah. Selain mengajarkan siswanya untuk mengenali hak-haknya dan hak orang lain, ada tujuan yang lain lagi. Siswanya diajarkan mengenai HAM agar mereka tahu bagaimana harus bertindak ketika HAM mereka atau HAM orang lain dilanggar. Apa saja yang harus diperbuat? Lembaga apa saja yang harus didatangi? Bagaimana caranya memperjuangkan HAM?

Di awal bulan Ramadhan, Mas Andi, juga sempat mengundang saya untuk menghadiri kegiatan "Ramadhan & Human Rights Lecture Melawan Lupa". Di kegiatan tersebut saya belajar banyak tentang HAM. Dalam kegiatan tersebut saya membeli sebuah Novel Grafis mengenai Munir. Dari sana saya belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan Munir. Bukunya tampilannya sederhana dan mudah dibaca. Rasanya cocok dibaca oleh siswa-siswa SMA.
Novel Grafis "Munir"
Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/Brm2JFyCcAAxKm4.jpg:large

Dalam kegiatan  "Ramadhan & Human Rights Lecture Melawan Lupa" ada beberapa kegiatan. Ada penampilan dari Glenn Fredly, juga dari Fajar Merah (putra dari Wiji  Thukul), dan pembacaan puisi oleh Fitri (putri dari Wiji Thukul), juga oleh  Difa (putri dari Munir). Penampilan Fajar, Fitri, mauun Difa membuat hati saya bergetar. Mereka kehilangan orang tua karena orang tua mereka diperlakukan secara tidak adil tapi entah bagaimana saya merasa bahwa mereka memperjuangkan nilai-nilai keadilan yang ditanamkan oleh orang tua mereka. Orang tua mereka hilang, tapi semangat perjuangannya tidak.

Selain itu juga ada ceramah yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama dan juga oleh Karlina Supeli.  Yang menarik adalah ketika Karlina Supeli mengingatkan bahwa tepat seminggu sebelum acara  dilaksanakan,  teman-teman pejuang HAM sudah melakukan Aksi Kamisan selama 357 kali. Sudah tahun ke-8, mereka berdiri dengan baju hitam dan payung hitam di depan Semanggi untuk menuntut keadilan bagi korban-korban yang hilang. Lama sekali yah perjuangan mereka? Meskipun begitu, sampai sekarang mereka belum memperoleh kepastian hukum mengenai kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Karlina Supeli pun membacakan sebagian dari surat yang ditulis oleh para perjuang aksi Kamisan.

Menutur Karlina, tujuan kenapa pejuang HAM terus memperjuangkan keadilan bukan sekadar untuk menghukum orang yang melanggar HAM, tapi agar kita, sebagai bangsa Indonesia bisa belajar dari sejarah. Apa yang menyebabkan pelanggaran HAM? Institusi apa yang terlibat? Bagaimana pelanggaran itu terjadi? Tanpa mengetahui hal-hal tersebut, akan sulit bagi kita untuk menghilangkan aksi pelanggaran HAM. Agar kejadian yang sama tidak terulang, kita perlu belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Terkait penyelesaian hukum masalah HAM di Indonesia, beliau mengatakan, "Tujuan hukum itu melampaui hukum itu sendiri".  Ketika hukum ditegakkan, kita bisa belajar bagaimana, kapan, dan kenapa hak asasi manusia tersebut dikhianati.

Itu adalah sekilas cerita saya belajar kembali mengenai HAM. Perjalanan belajar itu masih akan terus berlanjut. Semoga!

Ketika Dikontak oleh Dosen Pembimbing

Kemarin, tiba-tiba di message Linkedin saya, ada sebuah pesan. Ternyata yang mengontak saya adalah Laurinda Brown,dosen pembimbing saya ketika saya melanjutkan sekolah di University of Bristol. Dia menanyakan kabar saya. Saya sampai malu, karena saya dikontak oleh dosen saya dulu bukannya saya, siswanya yang mengontaknya terlebih dahulu. Katanya dia tersentuh membaca cerita saya. Saya kurang tahu cerita mana yang dimaksud tapi mungkin maksudnya adalah cerita yang saya tulis untuk University of Bristol Graduate School of Education Centenary Stories

Ceritanya, kampus saya dulu, tepatnya University of Bristol Graduate School of Education-nya berulangtahun yang ke-100. Salah satu programnya adalah meminta alumni-alumninya yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk menulis. Tentang apa? Tentang pengalaman belajarnya di Bristol, tentang orang yang berjasa selama kita belajar di sana (saya menuliskan bahwa salah satu orang yang berjasa bagi saya adalah Laudrinda Brown), tentang pencapaian yang telah dicapai, dan tentang bagaimana pengalaman belajar di sana mempengaruhi pencapaian-pencapaian tersebut.  Tulisan saya untuk program ini bisa dibaca di sini :

http://100stories.edn.bris.ac.uk/education/centenary/stories/story/seeing-my-students-develop-t/10/

Jul 14, 2014

[TERJEMAHAN] Apa yang dikatakan 4 orang guru kepada Obama saat makan siang

* diterjemahkan dari “What 4 teachers told Obama over lunch”  oleh Valerie Strauss,

10 Juli 2014

http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2014/07/10/what-4-teachers-told-obama-over-lunch/?tid=pm_local_pop

  

Diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati (setelah membaca posting tulisan ini di wall Pak Lody F. Paat)



President Obama makan siang bersama Sekretaris Penddikan Arne Duncan dan empat orang guru untuk berbincang-bincang tentang pendidikan, proses mengajar, dan reformasi sekolah. Yang dikatakan oleh guru-guru kepada Obama akan dijelaskan dalam posting berkut yang ditulis oleh Justin Minkel, Guru Terbaik Arkansas tahun 2007, komite dari the National Network of State Teachers of the Year (Jaringan Guru Terbaik Tahunan Negara Bagian), dan anggota dari Center for Teaching Quality’s Collaboratory.

Dia menulis dua blog, Teaching for Triumph dan Career Teacher. Silakan ikuti dia di Twitter:  @JustinMinkel
 ---
Oleh: Justin Minkel

President Obama biasanya dideskripsikan sebagai pembicara yang ulung. Minggu ini saya belajar bahwa dia adalah pendengar yang ulung juga.

Meja di West Wing telah disiapkan untuk enam orang: Bapak presiden,  Sekretaris Pendidikan Arne Duncan, dan empat orang guru. Pembicaraan yang berlangsung selama 1 jam tersebut serius tapi santai. Keempat orang guru yang diundang telah mengajar di sekolah yang sangat miskin selama lebih dari satu dekade, dan Bapak Presiden menanyakan kepada kami beberapa pertanyaan yang ada dalam pikirannya karena mengharapkan jawaban dari kami.

Presiden ingin tahu: Kenapa kami bertahan di sekolah-sekolah tempat kami mengajar? Apa yang bisa dilakukannya bersama dengan sekretaris pendidikan untuk mendukung guru di sekolah-sekolah yang paling membutuhkan dukungan? Kebijakan apa yang bisa memastikan bahwa siswa yang paling membutuhkan guru yang berkualitas, bisa dapat kesempatan belajar dari mereka.

Ini yang kami katakana kepadanya:


1. Tidak ada yang salah dengan anak-anak
Saya bertanya pada Dwight Davis, guru kelas lima keturunan Afrika-Amerika yang dibesarkan di Washington, D.C., mengapa dia bertahan mengajar. Dia tidak berkata, “Demi anak-anak dan keluarga anak-anak”.

Kami bercerita mengenai siswa-siswa kami kepada presiden. Saya menceritakan mengenai Cesar, siswa kelas dua yang memenangkan 10 USD dalam sebuah juara menulis.  Ketika saya tanyakan kepadana, uang kemenangannya mau digunakan untuk apa, dia berkata, “ Saya akan memberikan ini pada ibuku untuk membantunya membeli makanan untuk keluarga kami.”

Kepada presiden, saya ceritakan tentang Melissa, siswa kelas dua yang menjadi satu-satunya orang literate (bisa memaknai bacaan) di keluarganya berkat kegiatan home library project dan  support yang cukup banyak dari sekolah. Ketika kami sedang membaca bersama suatu hari, Melissa mengatakan padaku, “Sekarang ketika ibuku dan adik perempuanku dan saya sedang menonton televisi mereka berkata ‘Melissa, tolong matikan televisinya dan bacakan sesuatu untuk kami’ jadi saya membaca untuk mereka”

Siswa seperti Melissa dan Cesar, yang masuk ke dalam kelas dengan tantangan yang lebih besar daripada siswa-siswa yang lebih berada, bukanlah halangan bagi guru yang terampil untuk mengajar di sekolah-sekolah miskin. Mereka justru menjadi motivasi.

2. “Tanggung jawab dan kesenangan bisa berjalan beriringan.”
Program The No Child Left Behind masih berefek buruk pada sistem pendidikan di setiap tingkat. Kreativitas, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk bereksplorasi telah dihilangkan dari pengalaman siswa di sekolah, khususnya di sekolah yang siswanya kondisinya sulit, sekadar demi habis-habisan meningkatkan nilai tes.

Dibandingkan menjadi tempat belajar sastra, tempat melakukan percobaan-percobaan sains, melakukan tantangan mendesain sesuatu, siswa di sekolah justru menerima kurikulum yang kaku, buku-buku persiapan ujian, dan lembar-lembar kerja (latihan soal).  Kekakuan tersebut meghasilkan pekerjaan yang membosankan dan tak bermakna.

Guru-guru yang saya kenal sebenarnya sangat ingin bekerja keras demi siswa-siswa seperti Cesar dan Melissa. Tapi mereka tidak tertarik untuk bekerja di kelas-kelas yang steril, minim karya sastra dan seni, kelas yang minim proses membangun kemampuan berpikir kritis demi men-drill  siswa mengenai mana diantara satu diantara empat bola yang harus dipilih (red: soal latihan mengenai peluang di matematika). Rendahnya kualitas soal ujian, sebenarnya tidak penting mana bola yang dipilih. Testing yang sangat rendah kualitas desainnya tidak akan memberikan para siswa wawasan yang lebih luas, keterampilan untuk sukses di perguruan tinggi dan bekerja, ataupun memberikan mereka kesempatan untuk hidup secara bermakna.

Seorang penulis bernama Philip Pullman berkata “Tanggung jawab dan kesenangan bisa berjalan beriringan – dan kalau kita mau guru-guru yang terampil untuk mengajar di sekolah-sekolah yang sangat miskin – kita harus kembali menciptakan mereka kesenangan itu (red: menciptakan kesenangan untuk belajar secara bermakna, tidak semata-mata demi ujian yang rendah kualitasnya)

3. Ini bukan tentang guru yang baik ataupun guru yang buruk. Ini tentang pengajaran yang baik dan pengajaran yang buruk.
Guru-guru di sekolah saya kini jauh lebih baik daripada ketika kami masih mengajar 5 tahun yang lalu. Alasannya sederhana: Kami bekerja dengan prinsip-prinsip dasar kami untuk mendesain budaya kolaborasi, inovasi, dan  membiasakan peer observation (observasi teman sejawat), waktu yang kita miliki bersama di sekolah selalu diisi dengan  pengembangan profesional .

Kamu tidak akan pernah mendengar seorang guru mengatakan pada siswanya, “ Dia adalah pembelajar yang buruk – kita butuh mengeluarkannya (dari sekolah).” Tapi, biasanya itu yang biasanya jadi solusi ketika para reformers  dari luar sekolah lakukan ketika menghadapi “guru yang buruk”.

Ada sebagian  guru yang tidak bisa atau tidak akan menjadi lebih baik – tapi mereka adalah sebagian kecil dari guru-guru yang ada. Kalau kita memberikan kegiatan mentoring, waktu untuk melakukan kolaborasi, dan pengembangan profesi yang terkait dengan profesi mereka, kebanyakan guru akan meningkat kapasitasnya. Kebanyakan orang ingin menjadi lebih baik dalam apa yang mereka kerjakan. Biasanya itu benar khususnya bagi orang-orang yang memilih berprofesi untuk bekerja bersama anak-anak.

Saya bukanlah guru yang baik ketika saya mulai mengajar, dan kini pun saya belum menjadi guru yang saya idamkan 5 tahun mendatang.  Saya telah menjadi lebih baik dari sebelumnya,  sama seperti halnya orang lain – baik para dokter, pilot, bahkan presiden – semuanya makin lama makin baik dalam profesinya: melalui kegiatan refleksi, kolaborasi, dan mentoring.

Iya, benar bahwa kita ingin merekruit guru-guru baru yang bisa berjalan masuk kelas dengan potensi kegigihan yang tinggi, kecerdasan, dan cinta kasih. Tapi kita tidak perlu menukar semua guru yang buruk dan biasa-biasa saja dengan guru tang lebih baik, sama seperti halnya kita tidak perlu menukar siswa-siswa kita yang ‘perlu berjuang’ dengan siswa-siswa yang lebih cerdas. Yang perlu kita lakukan adalah membangun sistem untuk mendukung setiap guru sehingga mereka mau bekerja keras untuk beralih dari biasa-biasa saja menjadi lebih kompeten, dari yang kompeten menjadi lebih sempurna, dan bahkan melebih itu.

4. Kalau kita mau siswa kita untuk bisa berinovasi, berkolaborasi, menyelesaikan masalah-masalah riil di dunia, kita perlu memberikan guru kesempatan untuk melakukan hal yang sama
Sistem yang kita ciptakan untuk guru memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kelas yang kita desain untuk siswa. Guru telah lama dipandang sebagai seorang konsumen dari kebijakan-kebijakan, program pembembangan  profesional, kurikulum, riset, padahal kita seharusnya menjadi rekan yang sama-sama menciptakan itu semua.

Kondisi kerja yang paling diimpikan oleh guru-guru Generasi X dan Y justru terkait dengan hal-hal yang tidak langsung terlihat seperti otonomi untuk mengambil keputusan sendiri, waktu untuk melakukan kolaborasi, dan kesempatan untuk melakukan inovasi.

Kurikukum yang kaku, persiapan-persiapan ujian, dan micro-management  adalah lebalikan dari budaya sekolah yang ingin dibanguntersebut, dan mereka punya pengaruh yang ironis terhadap baik terhadap recruitmen guru baru dan mempertahankan guru-guru yang lama.

Berita yang memberikan harapan baik adalah bahwa kita bisa menciptakan kondisi-kondisi yang sempurna di sekolah-sekolah miskin. Kondisi tersebut benar-benar ada di mana saya mengajar: Sekolah Dasar Jones, sebuah sekolah dengan 99% siswa miskin dan turnover guru 0%.

Setiap tahun kami menerima siswa-siswa yang masuk dalam keadaan marah, tidak punya rasa hormat, dan malu terhadap kesulitan mereka dalam belajar. Siswa-siswa yang sama ini menjadi akademisi yang perhatian, penuh kasih sayang begitu mereka menerima apa yang benar-benar mereka butuhkan, rasa percaya pada guru-guru mereka.

Tidak ada yang salah dengan siswa-siswa ini. Ada begitu banyak yang salah dengan sistem – tapi tidak ada yang sebenarnya tidak bisa diubah. Inovasi seorang guru di dalam kelas tidak akan bisa mengobati semua penyakit yang ada di dalam sistem. Tapi bagaimanapun, itu adalah cara yang sangat baik untuk mulai. Hal terakhir yang disampaikan oleh presiden kepada kami adalah, “Kaliam semua membuatku merasa ada harapan.” Presiden Obama, anda juga membuat kami merasa ada harapan juga.