Dec 26, 2013

Pendidikan Seni di Kuba : Pendidikan Seni untuk Semua

Anita tinggal di Jakarta. Dia suka menari. Untuk menyalurkan hobinya dia mengikuti sanggar tari dan berlatih dua kali seminggu. Biaya yang harus dikeluarkannya untuk mengikuti sanggar adalah Rp 250.000,- per bulan. Harga tersebut tidak terlalu mahal dibandingkan tempat-tempat kurusus menari lainnya. Dengan harga tersebut dia sudah bisa berlatih dibimbing oleh seorang guru professional.

Kini sudah 9 tahun Anita berlatih menari. Anita tahu bahwa dia bukanlah penari yang paling jago. Teman-temannya yang lain lebih lentur juga lebih lincah dalam menari. Terkadang Anita pun lupa gerakan dari tariannya. Pasti dia tidak akan jadi penari professional. Meskipun begitu, dia akan terus menari. Kalau bisa seumur hidupnya. Dengan begitu dia bisa terus menjaga kebugaran sekaligus bersenang-senang. Yang paling penting, dengan menari Anita merasa lebih hidup. Emosinya tersalurkan, ada tempat baginya untuk melepas pikiran dan berkonsentrasi pada alunan musik dan gerakan tubuh. Dengan menari, hatinya ikut menari, begitu pula hidupnya. Sayangnya tidak semua orang punya kesempatan seperti Anita. Mampu belajar seni sekadar untuk bersuka cita.


Tidak semua orang akan berprofesi sebagai seniman. Tapi seni punya peranan yang sangat penting bagi manusia, termasuk bagi orang-orang yang tidak bekerja di bidang seni. Pernah mendengar musik yang lirik atau melodinya menyentuh hati? Pasti pernah kan? Ada juga musik yang membuat kita sedih, bahagia, bahkan bersemangat. Selain musik, bentuk seni yang lain seperti lukisan, tarian, teater dan sebagainya bisa mempengaruhi emosi kita. Dengan bersentuhan dengan seni, kita bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Itu menggambarkan bahwa seni begitu penting bagi kehidupan manusia.


Bagaimana memperkenalkan seni kepada orang banyak? Salah satunya adalah melalui pendidikan seni. Pendidikan seni memang tidak harus selalu ditujukan untuk mempersiapkan seseorang menjadi seniman atau pekerja seni. Justru, pendidikan seni harus bisa dinikmati oleh orang banyak. Pendidikan seni tidak boleh mahal agar semuanya bisa ikut belajar. Tujuannya adalah menjadikan manusia lebih manusiawi melalui perantara seni.


La Colmenita (Teater Anak-anak Kuba) adalah sebuah lembaga pendidikan seni di Kuba. Didirikan pada tahun 1976 oleh Carlos Alberto Cremata. Awalnya, La Colmenita hanyalah komunitas kecil di Havana. Di sanalah anak-anak maupun orang dewasa berkumpul dan berlatih teater. Proses latihan biasanya pada sore hari, sepulang anak-anak sekolah. Pada perkembangannya La Colmenita kemudian dikhususkan untuk anak-anak usia 6 sampai 16 tahun. Kini sejumlah 22 cabang La Colmenita tersebar di berbagai daerah lainnya di Kuba. Di sana anak-anak belajar teater, bernyanyi, menari, termasuk belajar mempersiapkan pertunjukan seni.


La Colmenita tidak bertujuan mempersiapkan anak-anak menjadi pemain teater professional. Tempat itu merupakan tempat anak-anak bisa belajar bekerja sama, merasakan kehangatan, serta mengembangkan kreativitas. Menurut Carlos, “Anak-anak tidak mau menjadi pemain teater, mereka ingin bermain peran.” Melalui kegiatan bermain peran, maupun tari dan musik, anak-anak bisa mengembangkan kreativitas sehingga potensi mereka bisa berkembang. Mereka akan jadi manusia yang lebih baik, sebagai individu maupun kelompok (Stories by Deisy Francis Mexidor dalam http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_63919.shtml).


Di Indonesia, tidak semua anak bisa belajar seni dari seorang guru seni profesional. Jumlah guru seni profesional sangat terbatas. Akibatnya hanya anak-anak tertentu yang bisa mengakses mereka, mungkin karena mereka besar di lingkungan seniman, atau mereka punya uang yang memadai untuk membayar guru seni.

Di Kuba, guru seni dipersiapkan dengan sangat serius. Ada sekolah khusus untuk calon guru seni di masing-masing provinsi. Siswa-siswa berusia 14 tahun masuk ke sekolah ini untuk belajar menjadi calon guru seni. Tahun 60-an, Fidel Castro, pemimpin Cuba saat itu memang pernah mengumpulkan seniman untuk mendorong terpromosikannya seni musik, seni tari, dan seni visual sehingga bisa dijangkau oleh anak-anak di daerah terpencil sekaligus. Salah satunya adalah melalui pendidikan seni di sekolah. Hal ini dilakukan karena seni dipercaya bisa mendorong terjadinya perubahan sosial.


Di sekolah calon guru seni, para siswa belajar seni tradisional maupun modern. Dengan mempelajari seni-seni tradisional, calon guru bisa belajar mengenai akar budaya mereka. Calon guru tari, misalnyaakan belajar tari tradisional Kuba baik yang dipengaruhi oleh budaya Afrika maupun Spanyol. Mereka akan belajar tari-tarian yang ditarikan oleh buruh-buruh tani sehingga secara tidak langsung, mereka belajar tentang budaya buruh tani di masa lalu. Di sisi lain, mereka juga belajar tari-tarian modern seperti balet. Tujuannya untuk melatih kelenturan, kekuatan tubuh, juga estetika. Begitu juga calon guru musik, teater, ataupun seni visual. Semuanya belajar seni tradisional dan modern. Lulusan sekolah calon guru seni ini diahrapkan bisa mengajar di sekolah manapun di Kuba, termasuk di daerah-daerah terpencil. Dengan begitu, semua orang bisa belajar seni. Tidak ada sekolah yang kekurangan guru seni.

Di Kuba pendidikan seni juga dilakukan melalui perantara media masa. Ada program televisi khusus yang memungkinkan anak-anak maupun guru agar bisa meningkatkan kemampuan seni mereka. Sebagai contoh ada program televisi yang dipersiapkan secara khusus untuk mengenalkan anak-anak maupun guru terhadap lagu-lagu baru yang bisa dinyanyikan bersama-sama, termasuk di dalam kelas. Ada juga program di mana anak-anak dan guru bisa bersama-sama melihat bagaimana seni visual dibuat. Acara tersebut diikuti dengan petunjuk sehingga anak-anak bisa mempraktekkan ilmu baru yang mereka pelajari. Program televisi ini diputarkan secara serentak di berbagai sekolah-sekolah di Kuba. Dengan begitu, semua orang bisa memperkaya pemahaman mereka terhadap seni denganlebih murah. Bagi masyarakat Kuba, seni bukan milik para elit saja tapi merupakan bagian dari seluruh kehidupan masyarakat Kuba.

Sumber:
http://www.cubaabsolutely.com/Culture/article_theatre_II.php?id=Cuba's-Exemplary-Arts-for-Social-Change-Programs-II
http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_63919.shtml
http://www.lacolmenitacuba.com/
Teachers.tv (UK) – Performing Arts: How Do They Do it In Cuba

Keterangan : 
Versi pendek dari tulisan ini dimuat di Pro-Aktif Online . Bisa di lihat disini

http://proaktif-online.blogspot.com/2013/12/jalan-jalan-pendidikan-seni-di-kuba.html?m=1

Sebuah Kenangan Bersama (Almarhum) Mama : Mau Belajar Apa Liburan Ini?

Bagi kedua orang tuaku, termasuk bapak dan (almarhum) mamaku, pendidikan adalah nomor satu. Pendidikan di sini bukan hanya pendidikan formal yang terjadi di sekolah. Namun juga berbagai pendidikan lainnya termasuk pendidikan non-formal maupun informal yang diperoleh dengan berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. 

Terkait pendidikan non-formal, masa liburan dianggap oleh mamaku sebagai kesempatan yang baik untuk mendidik anak-anaknya. Setiap liburan sekolah akan tiba, mama akan bertanya, “Apa hal baru yang mau kamu pelajari liburan ini?”

Mamaku benar-benar menganggap pertanyaan ini serius. Jawabannya harus dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Intinya setelah berlibur, mamaku berharap kami anak-anaknya punya keterampilan atau pengetahuan baru. Kami, anak-anaknya bebas memberikan masukan terkait apa yang ingin kami pelajari. Misalnya saya pernah mengusulkan untuk belajar bahasa baru, belajar menyetir, belajar musik, atau menjelajahi tempat baru, dan sebagainya. Kalau mampu, kedua orang tua akan mendukung kami sebisanya. 

Kadang mama saya yang memberikan usulan. Mama pernah mengusulkan adik perempuan saya untuk belajar memainkan angklung. Di waktu lain mamaku pernah mengajak saya dan kedua adik mengunjungi keluarga di ujung Jawa Timur. Tak jauh dari sana ada sebuah pantai yang sangat sepi. Kami di ajak ke sana saat tengah malam. Kami tidak boleh bersuara. Ternyata pantai tersebut merupakan tempat puluhan mungkin ratusan penyu bertelur. Mama mengajak kami mengamati penyu yang bertelur tapi kami tak boleh mengeluarkan banyak suara agar penyu-nya tidak stress saat melahirkan. Di waktu lain mama mengajak kami berkeliling sebuah kota. Karena mama adalah arsitek, dia sangat tertarik pada berbagai bangunan. Jadi sambil berkeliling, dia menceritakan berbagai sejarah bangunan, cirinya, dan kaitannya dengan budaya setempat.  Kegiatan selama liburan tidak harus selalu harus di luar kota, kadang kegiatannya bisa lebih sederhana.  

 Suatu hari temannya mama (anggap saja namanya Tante Ira)  merancang sebuah kegiatan liburan yang sederhana. Mamaku mengusulkan agar saya dan adik laki-laki saya ikut. Saat itu saya kelas 4 SD dan adik saya kelas 3 SD.  Jadi, selama liburan Tante Ira mengumpulkan beberapa anak untuk belajar di rumahnya.  Kegiatannya sederhana. Ada kegiatan belajar memasak bersama. Saya ingat belajar membuat es buah. Lalu ada kegiatan membuat berbagai kerajinan tangan. Tante Ira telah menyediakan sejumlah kertas berwarna-warni, manik-manik lem, dan gunting. Kami diajak berkarya menggunakan bahan-bahan yang ada. Sesederhana itu! Tapi tetap saja menyenangkan. Kami bisa bertemu anak-anak seumur sekaligus bermain-main (tak sengaja kami belajar berbagai keterampilan baru).

Di waktu yang lain, mama pernah mengusulkan saya untuk magang di sebuah kantor. Saat itu saya sudah SMA. Kebetulan ada teman mama yang bekerja di sebuah NGO. Saya diajak magang di sana. Kerja saya di sana adalah memfotokopi berbagai dokumen, merapikan berbagai file, menyortir kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Sebenarnya saya di sana bukan sebagai asisten, tapi sebagai pesuruh. Kalau sedang tidak ada kerjaan saya bengong. Saat itu saya merasa sangat bosan, tapi itu membuat saya bertanya-tanya mengenai pekerjaan apa yang ingin saya kerjakan di masa depan.  Apa mau kerja kantoran seperti itu atau tidak? Saat itu keputusannya adalah saya tidak mau kerja kantoran. Pekerjaan saya sekarang memang mengajar dan saya memang tidak harus duduk di depan meja kantor dari pagi sampai sore setiap hari. 

Adik saya yang laki-laki punya pengalaman yang berbeda. Mama bekerja di bidang konstruksi. Bukan hanya merancang berbagai bangunan tapi juga  membeli bahan bangunan dan memastukan bahannya sampai lokasi proyek. Adik saya diminta membantunya. Saat itu adik saya sudah bisa menyetir.  Jadi tugasnya adalah menyetir pick-up untuk mengantar berbagai bahan bangunan ke berbagai lokasi proyek.  Adik saya belajar jadi supir pick-up! Sampai sekarang pengalaman tersebut masih berkesan untuknya sampai-sampai dia punya cita-cita bahwa suatu hari dia mau punya mobil pick-up yang bisa dipakai untuk berbagai usaha.

Kalau adik saya yang perempuan pernah diminta oleh mama untuk menghabiskan liburannya di Bali. Waktu itu adik perempuan saya sudah beranjak remaja. Tentu saja berlibur ke Bali akan sangat menyenangkan. Remaja mana yang tidak semangat diajak berlibur ke Bali? Dia sudah menyiapkan berbagai pakaian untuk pergi ke pantai, berjalan-jalan, dan sebagainya. Dalam bayangannya mungkin "party time!". Saatnya bersenang-senang. Sampai di sana ternyata adik saya dititipkan di rumah seorang pemilik toko perhiasan. Selama di Bali, adik saya harus menjaga dan mengurus berbagai keperluan toko. Selain menjaga toko, setiap hari adik saya harus belajar menari di Pura. Dia belajar bersama anak-anak yang masih sangat kecil, sekitar 4 sampai 6 tahun. Padahal, saat itu adik saya sudah belasan tahun (lupa persisnya).”Meski kecil-kecil mereka narinya jago-jago. Aku malah pegel-pegel. Gak biasa nari kayak mereka,” cerita adik saya suatu hari merefleksikan pengalamannya.

Bagi mama saya pendidikan adalah tentang memperkaya pengalaman. Jadi, liburan adalah saatnya memperkaya pengalaman. Pengalaman itu boleh pengalaman apa saja, bukan hanya pengalaman berjalan-jalan tapi juga termasuk pengalaman belajar hal baru dan bekerja. Saya rasa itu yang membuat saya dan kedua adik saya selalu terbiasa untuk mencari kesibukan bahkan kalau libur. Kami akan selalu bertanya apa lagi nih yang bisa dipelajari? Kami pun belajar meskipun itu hal sesederhana mencoba resep baru, belajar menjahit atau merajut, membaca buku baru, atau mencari pengalaman kerja (magang).

Mama saya memang dulu hanya mulai dari pertanyaan yang sederhana, “Apa hal baru yang mau kamu pelajari liburan ini?” Namun, ternyata itu bukan hanya membuat saya dan adik saya belajar memperkaya pengalaman dan jiwa tapi juga membuat kami selalu penasaran. Kami selalu ingin belajar hal baru, meskipun itu sesederhana mencoba resep baru, mencoba olah raga yang belum pernah kami coba sebelumnya, atau melihat hal-hal di sekitar kita dengan cara yang baru dan berbeda. 

Dec 18, 2013

Belajar dari Beberapa 'Display' Karya Siswa BIS

Belum lama ini saya bercerita tentang kunjungan saya ke Bandung International School (BIS). Tulisannya bisa dilihat di sini http://www.mahkotalima.blogspot.com/2013/11/mempelajari-bagaimana-siswa-kelas-5-bis.html . Saya ingin bercerita lebih banyak tentang kunjungan saya tersebut.

Jadi, saya punya hobi kalau berkunjung ke suatu sekolah, saya sangat suka melihat-lihat display sekolah tersebut. Banyak yang bisa dipelajari dengan melihat berbagai karya yang ditempel di dinding sekolah. Saya bisa membayangkan hal-hal yang dikerjakan siswa selama di sekolah dan terinspirasi oleh berbagai kreativitas anak. Saya ingat kunjungan saya ke sekolah Sururon beberapa tahun yang lalu, yang dikelola oleh Sarikat Patani Pasundan. Letaknya di Garut. Meskipun saat itu sekolahnya masih sederhana. Tidak ada kursi, anak-anak belajar lesehat tapi saya ingat berbagai karya siswa ditempel di sekeliling dinding kelas. Karyanya sangat bervariasi. Di lain sisi, ada juga sekolah-sekolah yang pernah saya kunjungi, yang lebih mewah tapi karya siswa hampir seragam baik warna maupun jenis karyanya. Display yang berbeda punya cerita yang berbeda di belakangnya. Cerita tersebut terkait dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah. 

Selama di BIS, itu juga yang saya lakukan. Saya berkeliling melihat karya-karya siswa yang ditempel di dinding, dipajang di perpustkaan,juga di kelas. Tidak lama-lama sih, hanya sekitar satu jam. Tapi dengan begitu saya tetap bisa belajar banyak. 

Mbak Any, pustakawan BIS menemani saya berkeliling dan memberikan beberapa penjelasan. Berikut beberapa karya siswa yang saya lihat di BIS. Saya akan menceritakan beberapa, tapi agak acak yah

Belajar Membuat Pertanyaan (Kelas 2)

Di bawah adalah display yang menunjukkan bahwa anak belajar membuat pertanyaan. Sepertinya guru ikut membantu membuat display ini. Anak-anak (kalau tidak salah kelas dua) berdiskusi di kelas dan mengajukan pertanyaan. Kalau dilihat-lihat pertanyaannya mengenai perubahan iklim. Satu anak mengajukan satu, dua, atau tiga pertanyaan. Ada wajah mereka, nama mereka, lalu ada semacam balon (seperti orang bercakap-cakap di dalam komik) berisi pertanyaan-pertanyaan mereka.
Contoh pertanyaannya diantaranya :
- Why are some houses made out of grass and others bricks?
Kenapa beberapa rumah terbuat dari rumput (jerami) dan lainnya dari bata?
- Are there many people who live in the dessert?
Apakah ada banyak orang yang tinggal di gurun?
- Are there houses in the desert?
Apakah ada rumah di gurun?
- Why do deserts not get rain?
Kenapa di gurun tidak ada hujan?
- Is there any endangered animals in the desert?
Apa ada banyak binatang langka di hutan?
- Is there any grass or tree in the dessert?
Apakah ada rumput atau pohon di gurun?
- Why is it hot in Libya?
Kenala di Libia panas?
- Why is there ice in the world?
Kenapa ada es di dunia?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tapi saya bayangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tak selalu mudah untuk dijawab. Untuk menjawab satu pertanyaan saja, anak-anak (dan guru bisa bereksplorasi mengenai berbagai hal). Misalnya pertanyaan "Kenapa beberapa rumah terbuat dari rumput (jerami) dan lainnya dari bata?" memungkinkan anak belajar tentang berbagai budaya yang berbeda, belajar mengenai bahan (dan kemampuannya menyerap panas), belajar mengenai bahan-bahan bangunan yang berkelanjutan, dan banyak hal lain. Tentu dengan begini, guru tidak bisa terpaku pada buku teks tapi mau bersama-sama dengan siswa mencari tahu jawabannya dari berbagai sumber (termasuk mungkin merancang percobaan sendiri).

 Mengekspresikan diri melalui karya seni (Kelas 8)
 Di bawah adalah gambar karya seni rupa siswa kelas 8. Saya tidak tahu metode membuat karya seninya, tapi yang jelas karya seni tersebut merupakan bentuk ekspresi siswa kelas 8 mengenai pengalamn-pengalaman mereka. Mereka diminta membuat karya mengenai pengalaman mereka yang paling pahit  ataupun pengalaman mereka yang paling menyenangkan. Senang melihat anak-anak belajar mengekspresikan diri mereka dengan seni, meskipun pengalaman paling pahit, misalnya seperti pengalaman orang tua bercerai. Dengan melihat berbagai karya siswa mengenai pengalaman mereka dalam hidup, kita jadi belajar bahwa setiap orang pasti punya pengalaman pahit dan juga yang menyenangkan. Saya jadi ingat bahwa tidak semua orang terbiasa  mengekspresikan diri secara terbuka baik tentang pengalaman pahit maupun menyenangkan. Dengan melihat karya-karya tersebut kita bisa belajar lebih banyak mengenai apa rasanya menjadi manusia. 


Menentukan karakter, setting, dan plot dari suatu cerita (Kelas 1)
Sepertinya ini dibuat oleh siswa kelas 1 SD. Sederhana banget tapi saya suka! Jadi ada selembar kertas panjang. Dan ada 3 bagian, masing-masing ditutupi kertas bergambar. Bisa dibuka seperti halnya kita membuka lembar halaman buku. Tampaknya anak-anak belajar membuat cerita. Di bagian depan mereka harus menggambarkan karakter, setting, dan plot dari cerita, sedangkan dibaliknya mereka harus menuliskan karakter, setting, dan plot dalam bentuk kalimat. Namanya masih kelas 1 SD, yah kalimatnya masih pendek-pendek dan masih ada salah eja. Meskipun begitu saya suka sekali melihat display ini. Dengan cara ini anak-anak belajar berimajinasi tapi sekaligus belajar caranya cerita secara sistematis.


Belajar memahami bacaan (Kelas 1)
Ini karya yang dibuat siswa kelas satu. Di bagian luar perpustakaan, ada satu bagian yang ditempeli semacam amplop-amplop. Judulnya "Fairy Tale Bags" yang artinya kantong dongeng, Kita bisa membuka amplop tersebut dan di dalamnya ada kertas A4 yang dibagi empat. Di dalamnya, siswa harus menggambar apa yang mereka tangkap dari cerita dongeng yang mereka baca, dan di bagian bawahnya mereka harus menuliskan bagian pembuka tulisan, bagian tengah, dan bagian penutup. Dengan cara yang sangat sederhana tapi menyenangkan, siswa belajar bahwa cerita harus terdiri dari bagian pembuka, tengah, dan penutup. Siswa juga belajar menceritakan kembali apa yang mereka baca. Ini berarti mereka bukan hanya belajar membaca tapi juga memaknai bacaan. 


Belajar mengenai identitas diri (SD kelas besar)
Gambar di bawah dibuat oleh siswa SD kelas besar (lupa kelas berapa, antara kelas 4 - 6). Isinya adalah buku mengenai identitas mereka. Pertama, mereka diminta mencari gambar yang menggambarkan identitas mereka. Misalnya, ada yang orang Cina dan dia menaruh gambar makanan Cina, gambar terkait tahun baru Cina. Dia juga adalah orang beragama Kristen, jadi dia menaruh gambar pohon natal yang menggambarkan hari besar agama Kristen, dan sebagainya. Dia juga merupakan seorang siswa sehingga dia menaruh gambar kelasnya. Gambar-gambar ini ditaruh di bagian depan buku yang mereka buat, jadi semacam bagian sampulnya. Lalu, di bagian dalamnya mereka menuliskan makna dari gambar-gambar tersebut mengenai mereka. Dengan cara ini, anak-anak belajar memahami diri mereka sendiri. Setiap orang menggambarkan diri mereka dengan identitas yang berbeda-beda. Di sisi lain, melalui karya teman-temannya mereka juga belajar mengenai identitas teman-temannya. Secara tidak langsung mereka belajar mengenai budaya lain, agama lain, dan berbagai sisi kehidupan orang lain.


Demikianlah beberapa display yang saya lihat selama di BIS. Sebenarnya ada lebih banyak display lainnya tapi belum bisa saya tuliskan sekarang. Nanti panjang sekali tuliannya. Btw, mudah-mudahan lain kali sempat menuliskannya. Mudah-mudahan sharing sederhana saya tentang display ini bermanfaat yah!

Dec 11, 2013

Pernah Memberi Siswa Label Tertentu? Belum Tentu Tepat Loh!

Belum lama ini, dunia pendidikan sempat dibuat heboh karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhammad Nuh sempat membuat pernyataan berikut :
"...siswa yang naik kelas tanpa remidi, dia sebut sebagai siswa KW (kualitas) 1. "Sedangkan yang lulus remidi itu KW 2 dan seterusnya."
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=204969

Istilah KW 1 dan KW 2 adalah label yang biasa digunakan oleh pedagang dalam menjajakan berbagai produk manufaktur.

Kenapa Pak Nuh bisa menganalogikan siswa (manusia-manusia unik yang sedang dalam proses pertumbuhan menjadi manusia yang lebih baik) dengan berbagai istilah industri?

Tapi kemudian, terlepas dari 'label ala industri' yang digunakan Pak Nuh untuk menggolongkan siswa, saya jadi berefleksi bahwa kadang guru, termasuk saya sering melabeli siswa dengan berbagai 'label' yang tidak tepat.

Kadang kita melabeli siswa sebagai pemalas, tidak aktif, pemalu, pendiam, kurang cerdas. Padahal, belum tentu siswa-siswa kita seperti itu. Bisa jadi label kita tidak tepat karena kita memang belum mengenal siswa kita lebih jauh.

Kalau tadi yang saya contohkan adalah label yang terkesan 'negatif', pelabelan yang positif pun kadang tidak selalu tepat. Seseorang pernah melabeli saya sebagai seorang humanis padahal saya tidak pernah merasa mendeklarasikan diri saya sebagai seorang humanis. Suatu hari, saya melakukan kesalahan. Dan tiba-tiba orang yang pernah melabeli saya sebagai seorang humanis balik bertanya, "Saya pikir kamu seorang humanis. Kenapa kamu seperti itu? Humanis tidak berbuat seperti itu."

Ketika kita melabeli seseorang dengan label yang positif sekalipun, label itu juga belum tentu tepat. Kita selalu berharap mereka bertindak sesuai label yang kita berikan. Kalau ada siswa kita yang kita beri label rajin misalnya, ketika mereka sedang malas, kita kecewa.

Padahal, siswa kita adalah manusia dan manusia adalah manusia. Mereka bukan hanya unik, tapi juga memiliki berbagai prilaku yang bisa berubah dari waktu ke waktu, tergantung ada situasi dan konteks yang mereka hadapi. Label yang kita berikan tidak menggambarkan seseorang seutuhnya.

Tapi melepaskan diri dari memeri orang lain label, apa bisa? Rasanya sulit sekali. Ada-ada saja berbagai hal yang membuat kita melakukan penilaian pada orang lain dan akhirnya baik secara sadar maupun tidak kita memberi mereka label-label tertentu. Kebiasaan ini terbawa sampai di kelas. Kitapun terkadang (atau sering) mulai melabeli siswa kita, meskipun hanya berdasarkan ada penilaian-penilaian sesaat.

Idealnya sih menerima siswa apa adanya, tanpa pelabelan apapun. Namun, kalaupun kita mau melabeli siswa, setidaknya kita perlu sangat berhati-hati. Yang pasti, kita perlu berhati-hati agar tidak menyakiti hati mereka. Yang juga tak kalah penting, kita juga perlu terbuka, bahwa label yang kita berikan bisa jadi tidak tepat, atau bahkan salah sama sekali. Reminder nih untuk diri sendiri nih!

Btw, ada bacaan menarik tentang memberi siswa 'label'. Judulnya "Labeling and Disadvantages of Labeling". Mau membacaya? Di sini yah -->
http://www.education.com/

Dec 3, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 4) : Sharing tentang Barefoot College

Tulisan ini merupakan lanjutan dari posting "Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 3): Sharing di KNGB tentang Ketika Guru Mengaku Tidak Lebih Tahu".

Di KNGB 2013 saya memutuskan untuk berbagi juga mengenai Barefoot College, sebuah lembaga pendidikan di Rajastan, India. Karena tema yang saya sampaikan adalah mengenai 'Pendidikan Yang Menghargai Semua' maka ada beberapa prinsip dasar yang perlu disadari, diantaranya adalah bahwa guru harus percaya bahwa bila ada kesempatan, siswa bisa belajar apapun bila mereka mau. Selain itu, guru juga perlu percaya bahwa setiap siswa punya potensi, apapun latar belakang mereka. Tampaknya kedua prinsip ini dimiliki oleh orang-orang yang ada di Barefoot College.

Di Barefoot College, para siswa yang awalnya buta huruf diberikan kepercayaan yang besar untuk belajar berbagai hal, termasuk yang selama ini hanya dipelajari oleh kelompok elit (mereka yang belajar di sekolah ataupun perguruan tinggi).

Menurut saya, konsep pendidikan di Barefoot College cukup ekstrim. Di sana, seorang Master atau PhD belum tentu dianggap lebih baik daripada penduduk desa yang buta huruf. Orang-orang yang dianggap penting di Barefoot College adalah orang-orang yang punya keterampilan apapun tapi yang penting bersedia melayani sesama masyarakat. Keterampilan yang dimaksud bukan hanya keterampilan ala kelompok 'sekolahan' saja, tapi juga termasuk keterampilan yang dimiliki oleh para petani, para ibu, para pekerja, dan siapapun yang bekerja dengan tangannya. Prinsipnya, tidak ada gunanya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang tinggi kalau tidak digunakan untuk melayani sesama masyarakat.

Yang mengajar di Barefoot College bukanlah lulusan fakultas keguruan dari universitas melainkan para penganggur yang punya kemampuan dasar dalam baca tulis. Mereka bisa saja merupakan  lulusan SD ataupun orang-orang yang pernah belajar membaca di tempat lain. Yang penting,  mereka memang termotivasi untuk berbagi, apapun pengetahuan dan keterampilan yang sudah mereka punyai. Dengan begitu, mereka bisa mengajari orang lain untuk membaca.

Ada hal yang lebih ekstrem di Barefoot College. Kalau lulusan SD bisa mengajari orang lain membaca, mungkin itu masih bisa dipahami dengan mudah. Yang lebih ajaib lagi, di sana ibu-ibu yang buta huruf diajari untuk menambal gigi. Tentu,  praktek semacam ini pasti akan ditentang oleh para lulusan kedokteran gigi dari Universitas. Selama ini pengetahuan menambal gigi memang hanya dimiliki oleh para dokter gigi. Jarang sekali ada yang menganggap bahwa seseorang yang buta huruf bisa belajar caranya menambal gigi. Tapi bila jumlah tenaga kesehatan di daerah tersebut memang sedikit, mengajari ibu-ibu yang memang mau belajar untu menambal gigi bisa jadi pilihan solusi. Tentu ada pelatihannya. Di Barefoot College, asalkan ada yang mau belajar dan bersedia menggunakan keterampilannya untuk melayani sesama, mereka bisa belajar caranya menambal gigi.

Ibu-ibu yang buta huruf di Barefoot College menambal gigi seseorang
Sumber: http://rippleeffectimages.photoshelter.com/image/I0000TjcUdVwTjyQ


Hadirnya Barefoot College sebenarnya juga bisa dimaknai sebagai sebuah kritik terhadap sistem persekolahan yang ada. Apakah yang dipelajari di sekolah maupun universitas memang selalu bermanfaat untuk sama? Apakah lulusan sekolah dan universitas memang menggunakan ilmunya untuk membangun kehidupan yang lebih baik? Apakah yang didapat dari sekoalah atau universitas? Apakah ilmu yang bermanfaat serta keingintahuan yang tinggi untuk terus belajar? Atau sekadar kesombongan sebagai 'sekelompok elit' yang merasa lebih baik daripada mereka yang tidak sekolah?

Bunker Roy, pendiri Barefoot College, saat berbicara di TED berkata :
"I went to a very elitist, snobbish, expensive education in India and that almost destroyed me. I  was all set to be a diplomat, doctor, teacher... The whole world was laid out for me. Nothing could get wrong. "

yang artinya :
"Saya berasal dari sebuah lembaga pendidikan di India yang sangat elit, congkak, dan mahal dan itu hampir merusak saya. Saya telah dipersiapkan untuk menjadi diplomat, dokter, guru, semua.... Seluruh dunia terbentang untukku."

Pendidikan yang elitis kadang bisa merusak. Apalagi kalau lulusannya merasa paling hebat dan tidak mau belajar dari orang lain. Termasuk ketika mereka menganggap pendidikan orang lain lebih rendah. Padahal, bisa saja ada banyak hal yang belum mereka pahami. Paling berbahaya adalah ketika mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.

Seorang ahli pertanian lulusan perguruan tinggi tidak selamanya lebih tahu daripada petani. Petani pun mungkin tahu banyak hal yang mungkin belum dituliskan di buku-buku atau belum dijadikan hasil penelitian. Seorang dokter mungkin tahu banyak tentang berbagai teori dan ilmu kesehatan terbaru, tapi seorang dukun anak mungkin juga punya berbagai pengalaman dan pengetahuan khusus tentang caranya membantu melahirkan anak. Kalau diberi kesempatan, dukun beranak mungkin saja bisa belajar dari dokter, misalnya mengenai berbagai ilmu kesehatan yang paling mutakhir. Namun, apakah dokter tidak mungkin belajar dari dukun beranak? Petani bisa saja belajar berbagai hal baru dari ahli pertanian, misalnya mengenai penelitian-penelitian terbaru. Namung, apakah ahli pertanian tidak bisa belajar hak-hal baru dari petani? Bisa saja kan? Asalkan mereka mau belajar mendengarkan orang lain, termasuk dari mereka yang bukan lulusan sekolahan maupun universitas.

Menurut Bunker Roy, penduduk desa termasuk yang buta huruf seringkali  punya beberapa keterampilan dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi. Pada saat Gedung Barefoot College didirikan, Bunker Roy sempat meminta saran kepada seorang ahli kehutanan mengenai apa yang bisa ditanam di sekitar sana. Ahli kehutanan tersebut melihat tanah yang kering dan berkata bahwa tidak ada tanaman yang cocok untuk di sana. Namun ketika dia meminta saran kepada seorang penduduk di sana, penduduk tersebut memberikan berbagai saran tanaman yang mungkin ditanam dan memang berhasil. Yang satu banyak belajar mengenai tanam-tanaman dari berbagai buku, sedangkan yang satu belajar dari pengalaman. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi apakah mereka mau saling belajar?

Tidak selamanya lulusan 'sekolahan' termasuk 'sekolah elit' lebih baik daripada yang tidak. Salah satu pesan Bunker Roy adalah bahwa "Kita harus mendengarkan orang-orang yang memang berada di lapangan."

Yang dimaksud oleh Bunker Roy dengan mereka yang berada di lapangan adalah mereka yang bekerja dengan tangannya. Kalau diberi kesempatan, seringkali mereka punya berbagai solusi untuk berbagai masalah yang ada. Solusi ini mungkin tak sama dengan solusi yang ditawarkan oleh para lulusan universitas. Solusi tersebut bisa tepat, bisa juga tidak. Tapi bukankah solusi para lulusan universitas juga begitu? Bisa tepat bisa tidak. Terkait orang-orang yang tidak 'sekolahan', yang paling penting apakah ada yang (setidaknya) mau mendengarkan mereka?

Oh iya, sebenarnya, di tahun 2012 saya sudah pernah menulis mengenai Barefoot College, silakan dilihat di sini yah -->   Barefoot College : Guru adalah Murid dan Murid adalah Guru

Nov 29, 2013

Mempelajari Bagaimana Siswa Kelas 5 BIS Belajar Inquiry dengan Mempelajari Rumah Mentari

Kemarin saya mampir ke Bandung International School (BIS). Ceritanya,  siswa-siswa kelas 5 BIS sempat belajar mengenai Rumah Mentari, sebuah Rumah Belajar di mana saya merupakan salah seorang pendirinya. Hasil pemahaman anak-anak mengenai Rumah Mentari ditampilkan dalam bentuk poster. Poster ini dibuat berkelompok oleh siswa-siswa kelas 5 BIS. Kegiatan tersebut adalah bagian dari pelajaran Information Literacy (IL).  Kegiatan ini merupakan bagian untuk mengajarkan anak-anak mengenai proses inquiry, bagian dari pembelajaran mereka menganai Information Literacy (IL). Di BIS, siswa-siswanya memang wajib belajar IL. Yang mengajar IL adalah pustakawan BIS, yang bernama Mbak Any. 

Saya datang ke BIS untuk melihat karya-karya siswa kelas 5 tersebut. Saat saya datang, siswa kelas 5 sedang mengadakan ekskursi ke tempat lain, sehingga saya tidak bisa bertemu dengan para siswa. Namun, saya tetap bisa melihat-lihat poster tersebut.Mbak Any menemani saya melihat semua karya siswa yang mereka buat mengenai Rumah Mentari. Sebelum lanjut tentang kegiatan belajar siswa kelas 5 BIS mengenai Rumah Mentari, saya akan ceritakan sedikit mengenai Mbak Any.

Saya mengenal Mbak Any sejak lama. Mungkin sekitar 2006. Mbak Any jugaberperan dalam perpustakan di Rumah Mentari pada tahun 2007. Dia mengenalkan pengurus Rumah Mentari pada beberapa orang yang turut menyumbangkan buku dan lemari. Mbak juga membantu mengajari beberapa anak Rumah Mentari cara menyusun buku, melakukan labelling, serta mencatat alur keluar masuk buku. Itu sudah lebih dari 6 tahun yang lalu. 

Mbak Any mengajarkan anak-anak Mentari mengenai cara mengurus perpustakan (2007)

Belakangan saya kembali berjumpa dengannya. Beberapa bulan yang lalu dia teringat akan Rumah Mentari dan menyempatkan mampir. Semenjak itu Mbak Any kembali aktif berkegiatan di Rumah Mentari. Mengajari anak-anak cara merapikan dan menyusun buku, membacakan cerita untuk anak-anak di hari Minggu, atau sekadar membantu mencarikan tempat sampah yang bisa digunakan di Rumah Mentari. Sekalian membantu Rumah Mentari, Mbak Any juga berniat untuk mengajak siswa-siswanya belajar mengenai Rumah Mentari. Selain itu siswanya juga akan belajar caranya memilah informasi, mengolah data, dan sebagainya. Untuk itu, Mbak Any harus menyiapkan proses scaffolding untuk siswa kelas 5. Scaffolding adalah cara-cara untuk membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman sebelumnya. Biasanya dilakukan dengan menyiapkan pertanyaan, menyiapkan tahapan-tahapan pembelajaran. Apa saja yang bisa dipersiapkan sehingga membantu siswa untuk punya pemahaman baru tentang Rumah Mentari, juga mencari dan mengolah informasi? Mbak Any harus menyiapkan tahapan-tahapan tersebut

Sebelumnya Mbak Any telah mewawancarai Bu Dewi, saya, dan Hipna. Bu Dewi dan saya adalah dua diantara pendiri Rumah Mentari yang lain. Pendiri yang lain adalah Pak Lala, Anug, Angga, Arfah, dan Ima. Sedangkan Hipna, yang juga diwawancarai, adalah siswa Rumah Mentari yang pertama kali dan terus berkegiatan di Rumah Mentari sampai sekarang. Hipna belajar di Mentari ketika sekitar 15 tahun. Sekarang, Hipna  menjadi koki di Wisma Joglo. Di waktu senggang dia juga ikut menajar anak-anak Mentari yang lebih muda. Belum lama ini dia mengajar anak-anak Mentari membuat gado-gado. 

Pada suatu malam, saya, Bu Dewi, dan Mbak Any pergi ke Wisma Joglo untuk bertemu Hipna yang sedang bekerja. Di sanalah wawancara dilakukan.  Dibantu oleh anaknya, Mbak Any mewawancarai kami bertiga lalu dijadikan video pendek yang ditonton di kelas.  Siswa-siswa kelas 5 BIS menonton video tersebut.

Di kelas anak-anak diminta berdiskusi mengenai video tersebut. Apa yang bisa ditangkap dari video tersebut? Apa yang bisa dipelajari? Dan seterusnya.

Mereka lalu diminta untuk mencari lebih banyak data tentang Rumah Mentari. Karena itulah selama beberapa waktu, saya sempat mendapatkan email-email dari siswa kelas 5, berupa pertanyaan tentang Rumah Mentari ataupun mengenai para pendiri Rumah Mentari.  Data apapun yang terkumpul, foto, video, jawaban-jawaban dari email dikumpulkan lalu mereka merangkumnya dalam sebuah poster. 

Setelah itu, mereka mengundang beberapa kakak-kakak Rumah Mentari dan mempresentasikan poster mereka. Hipna juga datang. Saat itu saya tidak bisa datang jadi hanya dapat kiriman foto dan cerita dari kakak-kakak Mentari yang lain. Untuk mengganti ketidakhadiran saya waktu itu maka kemarin saya datang ke BIS. 
Kakak Mentari berkunjung ke BIS untuk mendengarkan presentasi siswa kelas 5 BIS
Kegiatan Presentasi Poster

Ternyata bukan hanya membuat poster, siswa-siswa sempat membahas isu mengenai ketidakadilan. Termasuk bahwa tidak setiap anak memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Belajar mengenai Rumah Mentari adalah salah satu cara mereka belajar tentang ketidakadilan. Di awal pendiriannya dulu, Rumah Mentari memang sempat menangani anak-anak yang putus sekolah dan hamper menganggur. Banyaknya anak yang putus sekolah, atau tidak memperoleh pendidikan adalah salah satu bentuk dari ketidakadilan yang dialami anak-anak. Mungkin ini alasannya Mbak Any memilih Rumah Mentari sebagai salah satu jalan untuk memperkenalkan kepada anak-anak mengenai ketidakadilan.

Setelah berdiskusi mengenai ketidakadilan siswa-siswa kelas 5 BIS diminta membuat semacam patung. Saya lupa bahannya dari apa, mungkin tanah liat. Mereka kemudian diminta membuat tulisan beberapa kalimat saja untuk menggambarkan patung tersebut merepresentasikan apa. Saya ikut melihat-lihat beberapa patung. "Belum semua anak bisa melakukan analisis secara mendalam (mengenai isu ketidakadilan), tapi ya gak papa. Namanya juga anak-anak. Ini kan bagian dari proses," kata Mbak Any padaku saat saya sedang melihat patung karya siswa serta membaca keterangannya. Mungkin dia ingin mengingatkan saya bahwa karya siswa tak selalu harus sempurna layaknya seorang ahli. Mereka masih dalam proses belajar. 


Salah satu patung karya Siswa kelas 5 BIS


Tak lupa siswa-siswa kelas 5 BIS membuat refleksi terhadap proses pembelajaran. Apa yang mereka pelajari? Bagaimana perasaan mereka saat belajar? Setiap anak menuliskan beberapa kalimat refleksi di atas sebuah karton kuning.

Refleksi Siswa kelas 5 BIS terhadap proses pembelajaran mengenai Rumah Mentari

Mbak Any  kemudian mengajak saya mengambil beberapa poster untuk ditempel di Rumah Mentari. Setelahnya kami bersama-sama menuju Rumah Mentari untuk menaruh poster sekaligus makan. Hipna menyiapkan beberapa masakan berupa jengkol, ikan mas (yang baru diambil dari kolam ikan), daun genjer, daun katuk, daun singkong, dan daun papaya (semuanya dari kebun), tempe goreng serta sambal. Di perjalanan kami membicarakan banyak hal termasuk mendiskusikan bagaimana dulu saya dan Mbak Any akhirnya bertemu. Kapan kami bertemu dan di mana? Kami berdua punya versi yang berbeda-beda mengenai pertemuan awal kami. Berlanjut….

Nov 25, 2013

Refleksi Setelah Menonton Film "Sokola Rimba": Mengingat Pertentangan Batin Para Pendidik


Menonton film Sokola Rimba, mengingatkan saya pada  pengalaman pertama  ketika membaca buku Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba karya Butet Manurung (waktu baru diterbitkan oleh Insist Press).

Yang paling saya ingat dari buku itu, bukan kegiatan-kegiatan Butet mengajar di Rimba, tapi malah pertentangan-pertentangan batin yang dihadapi Butet ketika harus menghadapi berbagai pilihan-pilihan yang kompleks.

Awalnya Butet mengajar anak-anak Rimba karena bekerja pada sebuah LSM Lingkungan. Meskipun LSM itu menghanarkan Butet untuk mengenal anak-anak Rimba, ternyata ada perbedaan visi antara Butet dengan LSM tersebut.

Butet ingin mengajar anak-anak Rimba sampai ke bagian hilir. LSM tersebut hanya menginginkan Butet mengajar sampai daerah hulu. Butet ingin anak-anak Rimba bisa belajar baca tulis agar mereka tidak mudah diperalat oleh orang luar (yang menganggap diri lebih modern). Pendidikan yang dijalankan di hulu selama ini masih belum cukup untuk melindungi orang Rimba dari berbagai tantangan yang mereka hadapi. Si sisi lain, LSM tempat Butet bekerja merasa pendidikan yang selama ini sudah berjalan sudah cukup baik. Apa masalahnya? Butet gelisah karena  melihat apa yang dihadapi oleh orang Rimba. Hutan tempat mereka biasa mencari penghidupan dijadikan Taman Hutan Nasional sehingga tak boleh lagi digunakan oleh Orang Rimba untuk berburu dan berladang. Namun, perusahaan boleh masuk, merusak hutan dan mengubahnya menjadi perkebunan sawit. LSM tempatnya bekerja, meskipun tahu fakta yang terjadi, menutup mata terhadap persoalan-persoalan tersebut.

Intinya, ada perbedaan visi antara LSM tempat Butet bekerja dan visi pribadinya agar "pengetahuan menjadi senjata" bagi orang-orang Rimba. Butet, memilih untuk keluar. Meskipun tak digambarkan secara jelas dalam film Sokola Rimba garapan Mira Lesmana dan Riri Reza, dalam bukunya, digambarkan bahwa Butet mengalami kegalauan akut selama beberapa waktu. Dia lantang luntung tidak tahu mau apa, merasa sendiri, dan sangat jatuh.

Meski akhirnya, Butet dan teman-temannya bisa kembali ke Rimba dan mendirikan Rumah Sokola, ada masanya ketika dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi konflik batin tidak pernah mudah.

Dalam berbagai bentuk lain, pertentangan batin semacam itu rasanya sering saya dengar di kalangan pendidik, khususnya guru di sekolah formal. Inginnya pendidikan berpihak pada anak, tapi kondisi memaksa pendidikan yang lebih berpihak pada kepentingan yayasan atau nama baik sekolah. Maunya proporsi penilaian siswa sebagian besar  didasarkan pada berbagai tugas harian dan karya, tapi sistem memaksa proporsi penilaian terbesar didasarkan pada nilai Ulangan Umum Bersama ataupun Ujian Nasional (UN). Maunya tidak sibuk dengan urusan birokrasi tapi fokus pada kegiatan pembelajaran, faktanya tugas birokrasi tak ada habis-habisnya.  Ini bukan hanya terjadi di satu dua sekolah tapi justru terjadi secara masal di berbagai sekolah.

Kalau menurut film (maupun buku) Sokola Rimba, Butet memilih untuk keluar dari LSM tempatnya bekerja, lantang luntung sementara, lalu membuat suatu gerakan baru bersama-sama teman-temannya bernama Ruma Sakola. Dalam konteks pertentangan batin guru, apa yang bisa dilakukan? Keluar dari sistem yang ada dan membuat sistem baru? Memilih tetap di dalam sistem tapi memanfaatkan kelemahan sistem yang ada? Melakukan perlawanan? Atau diam saja? Ntahlah!

---
PS : Selamat hari guru untuk semua teman-teman guru! Semoga kita semua bisa menentukan pilihan yang paling bijak dalam menghadapi berbagai pertentangan batin ketika berhadapan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini!

Nov 19, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 3) : Sharing di KNGB tentang "Ketika Guru Mengaku Tak Lebih Tahu"



Tulisan ini adalah lanjutan dari posting "Perjalanan ke Surabaya yang Menakjubkan (Bagian 2) : Sharing di KNGB tentang "Setiap Siswa Punya Cerita"

Saya melanjutkan presentasi saya di KNGB 2013 dengan menceritakan sebuah pengalaman menarik ketika saya menjadi asisten trainer-nya Ibu Aulia Wijiasih untuk pelatihan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kuala Kapuas, bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kalimantan Tengah.

Salah satu sesi, kami membahas tentang berbagai kegiatan ekonomi yang ada di dalam hutan. Peserta diminta membuat daftar berbagai kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang terjadi di dalam hutan. Salah satu kelompok mendiskusikan tentang produksi kapal. Kurang lebih begini diskusinya (saya agak lupa detilnya).

 "Kapal dibuat di dalam hutan," kata seorang peserta, "Jadi salah satu kegiatan produksi yang terjadi di dalam hutan adalah pembuatan kapal."

Saya ikut mendengarkan diskusi tersebut lalu mencoba menanggapi, "Oh yah? Kapal dibuat di hutan? Kok bisa."

"Ya memang iya," kata seorang peserta,"Kapal yang dari kayu."

"Oh, bukankah kayunya diambil lalu dijadikan kapal di kota?" tanya saya.

"Bukan lah! Kayu diambil dari dalam hutan, lalu dijadikan kapal. Setelah jadi, kapal langsung dialirkan melalui sungai. Jadi lebih mudah distribusinya," kata peserta.

Karena saya berasal dari kota dan hanya bersentuhan dengan hutan ketika sedang berlibur (itupun jarang-jarang) pengetahuan saya tentang hutan memang lebih terbatas dibandingkan beberapa peserta yang memang tinggal tak jauh dari hutan, atau kenal orang-orang yang bekerja di hutan. Saya mengakui hal ini kepada peserta dan berkata, "Wah menarik yah! Saya baru tahu kalau kapal dibuat di hutan. Saya pikir kayunya dibawa ke luar dan baru dibuat di luar hutan kapalnya."

Peserta tampak berbinar-binar ketika tahu bahwa saya, yang saat itu menajdi fasilitator, tak lebih tahu daripada mereka. Ternyata bukan hanya itu, ada juga perasaan bangga karena mereka punya pengetahuan yang tidak diketahui oleh saya, selaku fasilitator. Saat mereka harus mempresentasikan hasil diskusi mereka kepada peserta yang lain, seseorang berkata, "Kalau di Kalimantan, salah satu kegiatan produksi yang dilakukan di dalam hutan adalah membuat kapal. Ternyata, Mbak Puti belum pernah dengar kalau kapal dibuat di hutan. Tapi memang begitu. Kapal dibuat di hutan lalu setelah jadi, kapalnya didistribusikan melalui sungai."

Saya ingat, ada rasa bangga ketika mengatakan, "Ternyata Mbak Puti belum pernah dengar..."

Kadang siswa, di sekolah juga, punya banyak pengetahuan-pengetahuan yang berharga tapi karena lingkungan sekitar, juga guru, tak menganggapnya berharga, mereka juga ikut-ikut merasa bahwa pengetahuan mereka tidak berharga.

Ada cerita lain, yakni ketika saya mengajar sekelompok ibu-ibu mengenai energi. Ketimbang mulai dari teori-teori tentang energi, dari mana asalnya, sistem konversi energi, dan sebagainya. Saya mengajak mereka mendiskusika berbagai cara mereka menghemat energi. Bukannya teori tidak boleh disampaikan, tapi dengan mengajak mereka berdiskusi dari hal-hal yang dekat dengan mereka, mereka bisa lebih berelasi terhadap topik yang dibahas. Setelah itu pembahasan boleh mulai menjadi lebih mendalam. Mereka bisa diajak mengenal asal-usul energi yangada di rumah mereka dan seterusnya. Setelah ibu-ibu berbagi tentang cara mereka menghemat energi saya berkata,"Wah ibu banyak tahu tentang cara-cara menghemat energi. Beberapa contoh yang ibu sebutkan, sebenarnya juga ada di buku-buku. Anak sekolah saja belum tentu tahu."

Seorang ibu menatap saya dengan mata berbinar-binar, "Oh ya?"

Ibu tersebut belum lulus SMP. Saya bisa melihat matanya yang senang karena ternyata apa yang diketahuinya dianggap berharga.

Walaupun idealnya hubungan siswa dan guru seharusnya demokratis, kenyataannya tidak selalu begitu. Seringkali siswa merasa posisinya tak setara dengan guru. Guru lebih tahu, guru lebih paham. Seringkali juga, guru berada dalam posisi lebih dibandingkan siswa, lebih tahu, lebih punya kuasa. Meskipun begitu, sesungguhnya tak ada salahnya guru mau berendah hati. Ada banyak hal yang mungkin lebih diketahui oleh siswa sehingga tak ada salahnya guru mengakui bahwa dia tidak tahu. Apakah di dalam kelas ada waktu bagi guru untuk mengeksplorasi apa yang siswa ketahui. Lalu, melalui diskusi, apa yang siswa ketahui bisa dihubungkan dengan apa yang siswa lain ketahui, juga apa yang guru ketahui sehingga bersama-sama, semua belajar membentuk pengetahuan yang baru sama sekali. Pengetahuan yang hanya terbentuk ketika dialog terjadi. Antara siswa dan siswa, guru dan siswa, juga antara siswa dan guru. Dialog seperti ini hanya bisa terjadi ketika guru mau mengakui bahwa kadang-kadang, atau bahkan sering, dia tidak selalu menjadi yang paling 'tahu'.

Saya menutup cerita ini dengan sebuah pernyataan. Beginilah pernyataanya :

"Siswa tak selalu menyadari bahwa pengetahuan mereka penting, tugas pendidiklah untuk membuat mereka sadar bahwa apa yang mereka ketahui berharga. Melalui dialog, pengetahuan mereka akan berkembang sehingga memiliki nilai tambah, serta menjadi sesuatu yang lebih bermakna"

Nov 16, 2013

Ketika Bapak Memilih untuk Tidak Marah

Kayaknya kedua orang tua saya jantungan sekali saat saya dan adik saya (yang  usianya hanya satu tahun lebih muda dari saya) menginjak SMP dan SMA. Kami berdua, sekolahnya gak ada yang benar. Ketika SMP, nilai rapor kami dipenuhi angka-angka berwarna merah, jumlahnya bisa 4 sampai 5 angka merah. Nilainya 5 atau 4. Di rapor! Kalau sampai caturwulan  (waktu itu belum sistem semester) terakhir, nilai kami masih begitu, dipastikan kami harus tinggal kelas. Saya termasuk yang beruntung. Caturwulan terakhir, merah saya tinggal dua. Hal ini berarti saya bisa naik kelas, tapi tidak begitu dengan adik saya.

Saya lupa berapa nilai-nilai adik saya, yang jelas sesampai di rumah saya temukan adik saya yang waktu itu kelas 1 SMP menangis tersedu-sedu di kamarnya. Dia tidak naik kelas.

Bapak saya, sebenarnya galak juga. Kalau kami tidak bisa matematika misalnya, bukannya dibimbing, kami malah akan dimarahi. Bapak saya termasuk orang yang menganggap matematika adalah pelajaran paling penting sedunia.

Setelah saya dan adik saya kini dewasa, bapak saya sempat bercerita tentang kasus tersebut. Kasus saat adik saya tidak naik kelas. "Dulu bapak mau marah. Kamu sih tidak belajar!" katanya,"Tapi mamamu menahan-nahan bapak supaya tidak marah. Salah satu teman dekat bapak, justru meminta bapak untuk berbicara baik-baik dengan adikmu. Jadi begitulah, bapak ajak adikmu berjalan-jalan sambil memberi nasihat. Orang yang sukses itu justru bukan orang yang tidak pernah gagal tapi orang yang setelah gagal bisa bangkit lagi."

Adik saya meneruskan hidupnya dengan baik. Dia jago sekali matematika. Di kemudian hari nilai matematikanya hampir selalu 10 meskipun pelajaran lain seperti ekonomi bisa 4. Ketika S1 sempat mendapatkan tawaran beasiswa di luar negeri. Dia juga lulus kuliah paling cepat diantara teman-teman seangkatannya (katanya tidak suka sekolah, jadi ngapai kuliah lama-lama?).

Karena pengalaman-pengalamannya yang tidak menyenangkan di sekolah dia juga sempat suka sekali membaca-baca buku bertema unschooling dan deschooling. Pokoknya anti sekolah deh! Sekarang kebenciannya terhadap sekolah sudah berkurang. Dia akhirnya sempat melanjutkan S2 di bidang enterpreneurship.

Ketertarikannya untuk belajar tidak pernah berkurang, semangat hidupnya juga. Dia selalu ingin belajar hal baru, melihat hal baru, mencoba hal baru. Ntah apa yang terjadi kalau dulu bapak saya malah memarahinya habis-habisan ketika tidak naik kelas. Mungkin akan lain ceritanya. Saya bersyukur sekali, setidaknya kedua orang tua saya, adik saya kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Berbuat salah tidaklah apa-apa asalkan kami mau bangkit dan belajar menjadi lebih baik lagi.

Nov 11, 2013

Perjalanan Ke Surabaya Yang Menakjubkan (Bagian 2) : Sharing di KNGB tentang "Setiap Siswa Punya Cerita"


Setelah memperkenalkan diri dan berbagi visi pribadi tentang pendidikan, saya melanjutkan presentasi dengan memperlihatkan sebuah gambar di bawah ini :

karya dua siswa kejar paket B tentang hidup mereka
Penelitian Dhitta Puti Sarasvati (2008)

Tahun 2008, saya melakukan penelitian di sebuah program Kejar Paket B (setingkat SMP) di Bogor. Siswanya sudah dewasa, biasanya sudah bekerja. Saat itu saya meminta masing-masing siswa menceritakan kisah hidup mereka sampai akhirnya mereka berakhir di program kejar Paket B. Kenapa mereka memilih untuk 'sekolah lagi'? Bagaimana kisah hidup mereka? Bagaimanakah proses pendidikan yang mereka dapatkan ketika masih muda?

Kedua gambar di atas adalah gambar dari dua orang siswa yang saya wawancarai. Gambar tersebut merepresentasikan kisah hidup mereka sampai mereka akhirnya bersekolah di program kejar paket B. 

Gambar di kiri adalah gambar seorang bapak yang bekerja sebagai tukang ojek. Dulu dia memang sempat bersekolah, SD dan SMP. Tepat sebelum keluar SMP dia putus sekolah. Alasannya? Dia terlalu sering membolos. Tak jauh dari rumahnya ada tempat di mana orang-orang sering melakukan kegiatan terjun payung. Dia senang sekali melihat orang melakukan terjun payung dan rela bolos sekolah untuk menonton kegiatan tersebut tapi itu menyebabkannya putus sekolah.

Setelah putus sekolah dia bekerja serabutan termasuk jadi tukang bangunan. Dia punya abang yang bekerja di gedong,tempat orang yang memiliki rumah bagus. Abangnya kemudian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain. Dia diminta menggantikan abangnya bekerja di gedong. Gedong tersebut berada di Jakarta. 

Dan di sanalah dia memulai hidup baru. Bekerja membersihkan rumah, mencuci mobil, dan sebagainya. Bos, pemilik gedong  punya seorang anak. Bapak ini kemudian diminta menemani anak tersebut ke mana-mana. Semacam body guard. Dia menemani anak tersebut makan, berpergian, dan ke mana-mana. Karena sering berpergian dia mulai hafal jalan-jalan di Jakarta. Dia juga sempat les menyetir meskipun tidak selesai. 

Tahun 1998, muncul krisis moneter. Bos-nya yang tadinya mempunyai uang banyak mulai mengalami kebangkrutan. Akibatnya dia tidak bisa bekerja di gedong tersebut lagi. Bos-nya sempat mau membantunya mencari pekerjaan, tapi karena dia bahkan tidak memiliki ijazah SMP, dia sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Dia pun menyesali 'kebandelannya' selama SMP.  

Meskipun begitu, dia tetap memperoleh pekerjaan. Jadi semacam 'kuli' di Tanjung Priok. Uang yang dia kumpulkan ia gunakan untuk menyicil motor. Dan dia pun kembali ke kampungnya di Bogor. Di sana dia mulai mengojek sekaligus membuka pangkalan ojek. "Modal saya untuk membuka pangkalan ojek hanya keberanian. Saya cari tongkrongan dan menawarkan jasa ojek," begitu katanya. Dia ingin sekolah lagi agar bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. 

Mungkin bapak tersebut memang sempat putus sekolah. Tapi pengalaman hidupnya, meskipun berat, sangat kaya. Dia terus belajar dengan menekuni pekerjaannya. Misalnya, dia belajar mengenal jalan-jalan di Jakarta. Dia juga mempunyai jiwa enterpreneurship dibuktikan dengan keberhasilannya membuka pangkalan ojek.

Di sebelah kanan ada gambar siswa yang lain. Dia adalah perempuan, guru di TPA. Sebenarnya dia sudah lulus SMU tapi suatu insipden menyebabkan ijazahnya robek-robek. Dia tidak punya ijazah lagi dan rela ikut kejar paket B untuk memperoleh ijazah kembali. Lagipula dia senang belajar lagi, Gakpapa belajarnya ngulang. Karena dia tinggal dekat sebuah kampus, dia sering membaca pamlet-pamflet dan segala poster yang ada di sekitar kampus. Kalau ada acara kampus seperti pertunjukan musik, diskusi buku, dia akan menyelip dan ikut. Dengan bangga dia menceritakan bahwa dia pernah mendapatkan buku gratis waktu mengikuti salah satu bedah buku di kampus. Dia juga sempat menjadi pembantu rumah tangga. Salah satu tanggung jawabnya adalah menemani anak dari majikannya untuk les piano. Sesekali dia meminta anak tersebut untuk mengajarinya bermain piano. Dia memilih ikut kejar paket B untuk belajar lagi. Dia ingin lebih pintar dari putrinya. "Jadi kalau putri saya bertanya, saya bisa menjawab," begitu katanya. 

Ibu tersebut memperlihatkan bahwa dia suka sekali belajar. Dia belajar dengan membaca berbagai pamflet dan poster yang ada di kampus, mendatangi berbagai kegiatan-kegiatan kampus, meskipun bukan mahasiswa. Dia juga belajar cara bermain musik, dan ingin terus belajar.

Dari kedua cerita di atas, saya belajar bahwa meskipun tidak lulus SMP atau tidak punya ijazah sekolah, bukan berarti siswa tidak belajar. Setiap orang belajar dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang dengan bekerja, ada yang dengan mengamati sekitarnya, bergaul, dan sebagainya. Pengalaman hidup juga lingkungan seseorang, sebenarnya memungkinkan mereka belajar begitu banyak hal, meskipun tidak mereka sadari. Kadang-kadang pengalaman siswa bisa lebih kaya dari guru, pengetahuan mereka dalam beberapa hal juga bisa lebih banyak. Guru tidak selalu menjadi yang paling tahu. Apakah sebagai guru kita menghargai cara belajar siswa kita? Apakah kita menghargai pengalaman siswa kita? Apakah kita merasa bahwa pengetahuan siswa kita cukup berharga? Setiap siswa punya cerita. Cerita siswa sangat berharga. Apakah kita, sebagai pendidik, mau mendengarnya?

Berlanjut....

Nov 4, 2013

Ceritaku tentang tidur

Salah satu website saya adalah www.productivemuslims.com . Pernah kan saya bercerita tentang website ini? Atau belum? Lupa. Hehehe...

Di dalam website tersebut ada berbagai tips bermanfaat agar kita bisa lebih produktif. Selain dengan melalui manajemen waktu yang baik, juga dengan mendekatkan diri pada Allah SWT. Di dalamnya juga ada berbagai tips, menjaga kesehatan, makan, membuat jadwal, tentang berbagi waktu dengan keluarga, dan sebagainya. Bagus-bagus sekali deh! 

Ada satu artikel yang membuat saya sangat tertarik yaitu mengenai tidur. Buat saya tidur adalah hal yang sangat penting. Dengan tidur yang cukup, biasanya kita bisa cenderung lebih produktif. Tapi bisa juga sih kita tidur lama tapi tidak berkualitas. Misalnya kalau kita mimpi buruk atau mimpi dikejar-kejar sesuatu. Kalau baangun tidur, rasanya pasti lelah sekali.

Dulu guru mengaji saya mengajari saya membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas sebelum tidur, juga berdoa, berzikir, dan membaca Laillahaillalah sampai tertidur. Biasanya kalau sulit tidur, itu yang saya lakukan dan selalu berhasil.

Setelah membaca artikel ini --> http://productivemuslim.com/productivemuslim-sleep-routine/ saya jadi tahu bahwa ada dua surat lagi yang disarankan untuk dibaca sebelum tidur, yaitu Al-Mulk dan As-Sajadah. Dua surat ini terdiri dari masing-masing 30 ayat. Agak panjang memang dan kendalanya  saya juga belum hafal suratnya. Tapi ada satu hal yang bisa saya lakukan sehingga saya bisa setidaknya mendengar surat-surat ini sebelum tidur. Salah satu caranya adalah dengan menunduh  kedua surat ini dari youtube :


Kita bisa mendengarkan orang (lain) yang membacakan surat tersebut (siapa tahu lama-kelamaan jadi hafal). Bukan hanya itu kita bisa juga melihat terjemahannya. Saya biasanya menggunakan terjemahan berbahasa Inggris. Jadi sambil mendengarkan, kita bisa mencoba memaknai maknanya. 

Kalau punya telepon genggam yang agak canggih, yang bisa digunakan untuk melihat video (seperti Blackberry atau i-Phone),kita bisa memasang videonya di sana. Jadi, kita tidak perlu membuka-buka komputer untuk memutar videonya. Pengalaman saya mendengarkan kedua surat sebelum tidur cukup ampuh. Saya menjadi lebih tenang dan biasanya tidur lebih nyenyak. Mau mencoba?

Oct 29, 2013

Perjalanan ke Surabaya yang Menakjubkan (Bagian 1) : Sharing Visi Pribadi tentang Pendidikan di KNGB 2013

23 - 24 Oktober   2013 yang lalu, saya memperoleh kesempatan untuk pergi ke Jawa Timur, tepatnya ke Surabaya. Saya diminta panitia Konferensi Nasional Guru Blogger 2013 (KNGB 2013) menjadi pemateri di konferensi tersebut. Materi yang perlu saya bawakan bertema "Pengajaran yang Menghargai Semua".

Beuh! Buat saya membawakan materi tersebut, cukup membebani. Bicara tentang "Menghargai Semua", saya bertanya-tanya apakah saya  memang sudah menghargai orang lain, termasuk siswa/siswi saya? Rasanya belum. Kadang saya terlambat memberikan umpan balik terhadap tugas siswa-siswi saya, kadang saya sok tahu, seakan-akan paling pintar. Itu berarti saya masih perlu banyak belajar untuk menghargai orang lain. Dalam hati saya berpikir, "Siapa saya, sok-sok berbicara tentang Pengajaran atau lebih tepatnya pendidikan yang menghargai semua?"

Ya sudah lah yah! The show must go on. Saya tetap saja harus presentasi. Tapi bagaimana cara yang elegan untuk melakukannya? Malas rasanya untuk menceramahi peserta KNGB 2013 yang notabene merupakan guru. Sebagian  sudah lebih berpengalaman mengajar daripada saya. Siapa saya untuk mengajarkan guru tentang, "Menghargai harus begini begitu"?

Jadi apa yang bisa saya lakukan? Saya memilih untuk bercerita dan berbagi refleksi pribadi saya. Saya mengajar dari 2002 sampai sekarang.Selama itu pula saya bergelut di bidang pendidikan dengan berbagai cara lain, berorganisasi, meneliti, membaca, dan berinteraksi dengan berbagai siswa dan guru. Apa hal yang saya pelajari selama proses tersebut? 

Rabu, 23 November 2013 saya tiba di Surabaya sekitar pk 8.00 WIB. Seseorang dari Universitas Airlangga (Unair) menjemput saya dengan mobil. Acara KNGB memang dilaksanakan di Unair. "Ada seseorang lagi yang akan ikut dengan mobil ini," kata yang menjemput. Ternyata yang ditunggu bernama Nia Kurnianingtyas, dari Indonesia Mengajar (IM). Dia adalah Sustainability Managernya IM. Dia bercerita bahwa dia ikut merancang berbagai pelatihan untuk pengajar muda. Di KNGB 2013, dia akan sharing mengenai proses persiapan guru IM. Menurutnya salah satu hal yang penting dalam proses persiapan Pengajar Muda adalah membiasakan mereka untuk berefleksi. Dengan kebiasaan berefleksi mereka lebih mudah untuk menghadapi tantangan-tantangan yang mereka temui di lapangan. 

Karena baru turun dari pesawat terbang, saya masih menggunakan kaos meskipun juga mengenakan blazzer. Saya sudah mempersiapkan kemeja batik untuk digunakan saat presentasi. Karena saya menjadi pembicara di sesi terakhir, sekitar pk 17.00, saya masih memiliki banyak waktu untuk berganti pakaian. 

Akhirnya, tiba waktunya presentasi. Pertama, saya mengenalkan diri. Nama saya Dhitta Puti Sarasvati dan saya merupakan pengurus pusat Ikatan Guru Indonesia. Saya mengajar sejak 2002 dan kini mengajar di Sampoerna School of Education (SSE), dan sesekali saya mengajar di Sekolah Rumah Mentari. 

Itu perkenalan versi 'formal' tapi saya melanjutkan dengan perkenalan yang lebih mendalam. Saya menampilkan gambar di bawah ini: 
Visi tentang Pendidikan (dibuat oleh: Kandi Sekarwulan, Arya Jodipati, & Dhitta Puti Sarasvati)


Gambar tersebut saya buat bersama dua orang lagi. Keduanya sahabat saya dan merupakan pendidik dengan caranya masing-masing. Nama mereka Kandi Sekarwulan (biasa dipanggil Kandi), dan Arya Jodipati (biasa dipanggil Jodi). 

Kandi adalah pendiri Komunitas Sahabat Kota (KSK). KSK adalah sebuah bentuk pendidikan informal untuk anak-anak. Berdasarkan website resminya KSK, disebutkan bahwa :

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka.
Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda
Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure ClubALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.
Kandi sendiri punya pengalaman merancang berbagai kegiatan untuk menjadikan kota sebagai tempat pembelajaran. Ketertarikannya adalah mengenai pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang dia tuangkan melalui berbagai program di KSK misalnya dengan mengajak anak membuat peta hijau.  Untuk informasi lanjut tentang KSK silakan lihat web-nya di http://kisahsahabatkota.wordpress.com yah!Seru-seru loh kegiatannya. :)

Jodi adalah teman saya di Komunitas Bandung Bercerita. Sekitar tahun 2007, bersama beberapa teman-teman yang lain kami bersama-sama merintis  komunitas tersebut. Kegiatannya,  membacakan cerita kepada anak di sebuah Madrasah Ibtidayah seminggu sekali, kadang di sekolah lain juga. Kemudian kami membuat berbagai kegiatan terkait cerita.  Jodi latar belakangnya adalah seni. Jadi, dia banyak merancang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan seni. Misalnya mengajak anak-anak membuat topeng dari karton, mengajak mereka membuat serangga-seranggaan dari sendok bekas, membuat cerita pop up dari kertas, dan sebagainya. 

Salah satu kegiatan Komunitas Bandung Bercerita: Bercerita lalu membuat topeng-topengan.


Kini komunitas tersebut sedang tidak aktif tapi Jodi masih banyak melakukan pendidikan dengan cara lain. Dia ikut membantu kegiatan-kegiatan KSK sambil membuka usaha percetakan.

Kami bertiga sempat ikut pelatihan System Thinking yang dibuat oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Salah satu proses yang harus kami lalui di pelatihan tersebut adalah menggambarkan visi kami tentang pendidikan. Gambar di atas itu deh hasilnya. Mohon maaf kalau gambarnya kurang jelas, dulu hanya dipotret seadanya, pakai HP. Kami mulai dari visi, baru mulai membahas langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencapai visi tersebut denggan menggambarkan causal loop-diagram (CLD). Tapi saya tidak akan membahas mengenai itu. Saya akan lebih banyak menggambarkan makna dari gambar tersebut.

Di dalam gambar tersebut ada anak yang sedang memanjat pohon, beberapa anak lagi mengelilingi pohon, dan ada juga yang melihat dari jarak agak jauh. Semuanya sedang mengamat alam dan belajar dari alam. Kami ingin agar pendidikan memberikan kesempatan bagi anak-anak, maupun orang dewasa untuk belajar dari alam. 

Di gambar ada gambar seorang anak dengan orang dewasa di sampingnya. Kami ingin agar dalam proses pendidikan ada sharing  antar generasi. Yang lebih muda belajar dari yang lebih tua dan sebaliknya. 

Di kanan atas, ada gambar anak yang sedang belajar merajut tapi rajutannya gagal sehingga dia menangis. Di sebelahnya ada teman-teman yang mencoba menghibur dan menyemangatinya untuk bangkit kembali sehingga akhirnya iya terus belajar. Ini menggambarkan  bahwa proses belajar tidak selalu mudah. Kadang kita mungkin gagak, kadang ada tantangan, kadang ada kesulitan. Tapi yang penting ada sistem support berupa orang-orang disekeliling kita yang terus mendorong kita untuk pantang menyerah, sehingga kita kembali bersemangat untuk belajar kembali. 

Di kanan bawah ada gambar rumah yang energinya berasal dari solar cell. Rumah tersebut juga dihiasi berbagai tanaman yang hijau. Rumah tersebut dibangun bersama-sama. Hal ini menggambarkan bahwa kami ingin pendidikan membantu manusia untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat untuk sesama manusia juga alam. Apa gunanya pendidikan kalau tidak membuat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya menjadi lebih baik?

Gambar kiri atas, maaf saya lupa tapi kalau tidak salah itu menggambarkan bahwa pendidikan terjadi melalui proses interaksi antar manusia.

Yang saya angkat di dalam KNGN 2013 secara lebih mendalam adalah gambar yang di tengah. Di sana ada gambar sekelompok orang yang membentuk lingkaran. Warna rambut mereka berbeda-beda. Ada yang tua, ada yang muda, ada yang pakai jilbab, tapi juga ada anak punk. Kami ingin proses pendidikan bisa terjadi melalui interaksi antara orang yang berbeda-beda, berasal dari budaya yang berbeda, agama yang berbeda, latar belakan sosial dan budaya berbeda tapi semuanya bisa berkontribusi dalam pembelajaran. Semua berbagi satu sama lain.  Semuanya belajar dari satu sama lain. Semua menghargai satu sama lain. 

Gambar ini saya angkat untuk menggambarkan proses pendidikan yang menurut saya menghargai satu sama lain. Proses pendidikan di mana kita semua percaya bahwa siapapun bisa berperan dalam melakukan pendidikan. Dalam konteks persekolahan, pendidikan tidak hanya diberikan oleh guru kepada siswa, tetapi siswa sendiri berkontribusi besar dalam proses pendidikan. Bukan hanya 'siswa belajar dari guru' tapi juga 'siswa belajar dari siswa', dan yang tak kalah penting 'guru belajar dari siswa'. 

PS : Tulisan ini bersambung



Oct 4, 2013

Perjumpaan Kembali dengan Sensei Okihara, Perkenalan Baru dengan Sensei Keiko

Mungkin masih ada yang ingat cerita pertemuan saya dengan Sensei Okhara yang saya tuliskan di sini. Sensei Okihara adalah temannya Ibu itje Chodidjah, teman saya yang juga aktif bergerak di bidang pendidikan. Mereka bertemu dalam sebuah konferensi dan kemudian terus berhubungan untuk saling bertukar pikiran mengenai pendidikan.

Tahun lalu Ibu Itje, meminta saya untuk berkenalan dengan Sensei Okihara yang saat itu sedang berkunjung ke Indonesia untuk melakukan penelitian mengenai Content and Language Integrated Learning (CLIL). Tahun ini Sensei Okihara berkunjung lagi ke Indonesia, tepatnya pada Selasa, 17 September 2013 yang lalu. Ini kunjungannya yang kedua ke Indonesia. Beberapa agendanya, diantaranya adalah sit-in di kelas saya, ngobrol dengan beberapa rekan dosen  di Sampoerna School of Education (SSE), mengunjungi Bandung dengan kereta untuk melihat SD Semi Palar dan Museum Konferensi Asia-Afrika. Selain itu, juga mengunjungi Universitas Atma Jaya untuk bertemu beberapa dosen bahasa Inggris di sana. 

Kali ini Sensei Okihara membawa seorang guru lagi, namanya adalah Sensi Keiko yang juga adalah istrinya sendiri. Dua-duanya ikut duduk mengamati saya mengajar di dalam kelas.  Sensei Keiko juga guru bahasa Inggris tetapi dia mengajar bahasa Inggris dalam kegiatan di luar sekolah, mungkin semacam ekskul. Tapi caranya mengajar bahasa Inggris sangat unik, yakni melalui kegiatan memasak. Seminggu sekali dia mengajar memasak untuk anak-anak tapi instruksinya dilakukan dalam bahasa Inggris. Jadi sambil memasak berbagai jenis makanan, anak-anak juga belajar berbahasa Inggris. 

Pada dasarnya Sensei Keiko memang sangat tertarik pada makanan. Saya sempat kedua Sensei makan di sebuah restoran Padang yang ada di sebelah kampus. Seperti biasa, banyak sekali piring ditata di atas meja. Isinya daging, ikan, sayur, telur, dan banyak lagi. Warnanya macam-macam, merah, coklat, kuning, dan lainnya. Tergantung bumbunya. 

Saya jelaskan bahwa kita bisa memilih mana yang mau kita makan. Tidak harus dimakan semua. Banyaknya piring berisi makanan, sebenarnya semacam  strategi marketing. Membuat kita ingin mencoba semua.

Sensei Keiko mencicipi beberapa makanan dengan khidmat. “I really love food & cooking,” katanya. “What is this?” tanyanya sambil menunjuk ikan tongkol. Setelah saya menjelaskan bahw namanya tongkol dia mencicipinya.

Sensei Keiko makan nasi, gulai ayam, tongkol sayur nangka, dan sayur singkong. Dia juga mencicipi rendang, dan satu gelas puding. Sambil makan dia menceritakan lagi tentang kelas masaknya, “Basically, I teach the children how to cook Western food. But sometimes their parents do not know how to cook Japanese food. So, sometimes I also teach the children to cook Japanese food and at home, they teach their mothers how to cook.”
Setelah makan kami keluar restoran lalu melihat sebuah mobil bak sedang parkir. Mobil bak tersebut penuh sengan sayur singkong. Sensei Keiko tampak kegirang melihat sayur singkong sebanyak itu, “It’s still very fresh. Was that what we ate? We actually have that in Japan too.” Sensei Okihara dan Sensei Keiko sama-sama menyebutkan nama sayur singkong dalam bahasa Jepang tapi saya sudah lupa istilahmya.

Setelah makan, pertemuan kami berlangsung tak begitu lama. Sensei Okihara, Sensei Keiko, dan saya menuju ruang dosen untuk berbincang-bincang soal beberapa hal diantaranya mengenai pengajaran bahasa Inggris, mengenai tantangan untuk menjadikan siswa lebih aktif untuk berpartisipasi di dalam kelas, dan beberapa hal lain termasuk tentang isu pendidikan di Jepang yang sedang memikirkan untuk mengajarkan bahasa Inggris melalui mata pelajaran lain. 

“But in this case, we are not in a hurry. We are still studying its’ effect on teaching by looking at how other countries do it. How it is in other countries. Is it effective or not? Actually I am really glad that we are taking this issue slowly. I think in some context it works, like when it is applied in one or two schools but when you take it to a greater level, for example the national level, than it will be a very different issue,” katanya menjelaskan bahwa pemerintahnya tidak terburu-buru menerapkan kebijakan baru sebelum melakukan studi dengan lebih seksama. Sensei Okihara juga menjelaskan bahwa dia senang bahwa perubahan kebijakan pendidikan tersebut tidak dilakukan dengan buru-buru karena belum tentu efeknya baik. Apa yang sukses di beberapa sekolah belum tentu sukses bila dilaksanakan secara masif di level nasional.

Setelah diskusi saya mengantarkan Sensei Okihara dan Sensei Keiko ke luar kampus. Tapi belum sampai gerbang Sensei Okihara mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja berjalan ke gerbang sendiri dan meminta saya kembali ke dalam. Saya memang sudah mengatakan bahwa saya ada janji untuk bimbingan skripsi dengan beberapa mahasiswa. Sensei Okihara tak ingin saya terlambat. Terima kasih untuk kunjungannya Sensei Okihara & Sensei Keiko. Sampai berjumpa di kesempatan lainnya! 

Sep 19, 2013

Ada Apa Di Rumah Mentari? Kelas Bahasa Inggris 4, Rabu 18 September 2013

Shel Silverstein adalah salah satu penulis sastra anak yang menghasilkan karya-karya yang begitu indah, tak hanya cocok dibaca oleh anak-anak tapi juga oleh orang dewasa. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul "The Giving Tree". Rabu, 18 September 2013, anak-anak mentari belajar bahasa Inggris dengan membaca dan membahas karya tersebut.

Sebelum mulai membaca, seperti biasa ada pemanasan. Ada beberapa gambar yang saya ambil dari video "The Giving Tree" yang saya temukan di http://www.youtube.com/watch?v=fbLaX20hNw8 . Ada seseorang yang iseng membacakan buku The Giving Tree sekaligus membuatkan animasinya. Video ini juga yang akan saya gunakan dalam belajar. 

Nah, saya mengambil potongan beberapa gambar dari animasi tersebut dan meminta anak-anak untuk mencocokkan gambar itu dengan kalimat-kalimat yang saya sediakan. Kalimat itu diambil dari cerita "The Giving Tree". Beginilah gambar dan kalimatnya :

Ternyata tidak semua gambarnya jelas.Apalagi saat saya print gambarnya, warnanya hitam putih." Saya menceritakan apa yang terjadi di dalam gambar tersebut dalam bahasa Indonesia lalu anak-anak mencocokkan dengan kalimat berbahasa Inggrisnya.

"Gambar yang kiri atas itu ada anak memakai mahkota dengan dedaunan."
"Sebelahnya adalah gambar anak yang bergelantungan di dahannya."
" Sebelahnya lagi, si anak sedang memanjat pohon."
" Di kiri bawah adalah gambar anak membawa apel. Jadi yang bulat-bulat itu apel"
" Itu ada gambar anak yang sedang membawa ranting pohon."
"Terakhir, adalah gambar pohon yang sudah ditebang."


Begitu kata saya. Anak-anak menebak artinya, disesuaikan dengan kalimat yang ada.Kami pun membahasnya bersama. Ada kata-kata yang baru. Diantaranya :

Stump artinya pohon yang sudah tidak seperti pohon lagi karena hampir semua bagian lainnya sudah ditebang. Semacam pohon tua.
Crown  berarti mahkota seperti mahkota yang biasa digunakan raja-raja atau ratu.
Branch  berarti ranting/dahan.
Gather artinya mengumpulkan. Maknanya sedikit berbeda dengan collect. Gather biasanya khusus digunakan untuk mengumpulkan sesuatu yang berserakan seperti daun yang berserakan. Collect itu mengumpulkan tapi lebih umum, misalnya digunakan dalam kalimat "I collect stamps" yang artinya saya mengumpulkan perango, padahal perangkonya belum tentu berserakan.
Swing  artinya berayun.
Hide-and-go-seek berarti petak umpat. Hide  artinya mengumpat, go artinya pergi dan seek artinya mencari/cari. 



Kami lalu berganti-gantian membaca buku the giving tree. Begin ceritanya :


The Giving Tree
By Shel Silverstein
http://allpoetry.com/poem/8538991-The_Giving_Tree-by-Shel_Silverstein

Once there was a tree and she loved a little boy.
And everyday the boy would come and he would gather her leaves
and make them into crowns and play king of the forest.
He would climb up her trunk and swing from her branches and eat apples.
And they would play hide-and-go-seek.
And when he was tired, he would sleep in her shade.
And the boy loved the tree very much.
And the tree was happy.

But time went by and the boy grew older.
And the tree was often alone.
Then, one day the boy came to the tree and the tree said, "Come, Boy, come and climb up my trunk and swing from my branches and eat apples and play in my shade and be happy."
"I am too big to climb and play" said the boy.
"I want to buy things and have fun. I want some money?"
"I'm sorry," said the tree, "but I have no money. I have only leaves and apples. Take my apples, Boy, and sell them in the city. Then you will have money and you will be happy."
And so the boy climbed up the tree and gathered her apples and carried them away.
And the tree was happy.
But the boy stayed away for a long time and the tree was sad.

And then one day the boy came back and the tree shook with joy and she said, "Come, Boy, climb up my trunk and swing from my branches and be happy."
"I am too busy to climb trees," said the boy.
"I want a house to keep me warm," he said.
"I want a wife and I want children, and so I need a house. Can you give me a house ?"
"I have no house," said the tree.
"The forest is my house, but you may cut off my branches and build a house. Then you will be happy."
And so the boy cut off her branches and carried them away to build his house.
And the tree was happy.
But the boy stayed away for a long time.
And when he came back, the tree was so happy that she could hardly speak.
"Come, Boy," she whispered, "come and play."
"I am too old and sad to play," said the boy.
"I want a boat that will take me far away from here. Can you give me a boat?"
"Cut down my trunk and make a boat," said the tree.
"Then you can sail away and be happy."

And so the boy cut down her trunk and made a boat and sailed away.
And the tree was happy
... but not really.


And after a long time the boy came back again.
"I am sorry, Boy," said the tree," but I have nothing left to give you - My apples are gone."
"My teeth are too weak for apples," said the boy.
"My branches are gone," said the tree, "You cannot swing on them - "
"I am too old to swing on branches," said the boy.
"My trunk is gone”, said the tree ,"You cannot climb - "
"I am too tired to climb" said the boy.
"I am sorry," sighed the tree.
"I wish that I could give you something but I have nothing left.
I am just an old stump. I am sorry...."
"I don't need very much now," said the boy.
"Just a quiet place to sit and rest. I am very tired."

"Well," said the tree, straightening herself up as much as she could, "Well, an old stump is good for sitting and resting
Come, Boy, sit down. Sit down and rest."
And the boy did.
And the tree was happy.

Kami lalu membahas beberapa kosa kata lainnya. Misalnya perbedaan trunk dan branches. Saya menggambarkan pohon di papan tulis dan memberi label pada gambar. Di bagian batang saya tuliskan trunk dan di bagian ranting saya tuliskan branch. Kata-kata lain yang kami bahas diantaranya :

Shade berarti bayangan.
Time went bye  artinya waktu pun berlalu.
Often  berarti seringkali.
Stayed away  berartti tidak balik.
Shook artinya menggeleng dan joy artinya bahagia.
She could hardly speak  artinya sampai sulit berbicara, biasanya karena perasaan yang meluap-luap entah bahagia, sedih, marah, atau sebagainya.
Sail away  artinya berlayar menjauh.
Weak  artinya lemah.
Tired  artinya lelah. 
I have nothing left  artinya tidak ada lagi yang tersisa.
Straightening berasal dari kata straight  yang artinya lurus. Straightening artinye meluruskan, seperti meluruskan badan. Saya pun mencontohkan cara saya meluruskan badan dengan duduk tegap. "Seperti ini," kata saya.
Setelah membbaca bergiliran dan membahas artinya. Saya membacakan cerita itu kembali. Tentunya dengan berbagai intonasi agar ceritanya lebih mudah dihayati.

"Ternyata setelah dibahas artinya serasa lebih enak ketika membacanya. Lumayan paham," kata anak-anak.

Setelah itu saya memutarkan video "The Giving Tree" yang ini :


Seperti biasa saya menggunakan laptop saja, dan kedelapan anak yang ikut belajar mengelilingi laptop berusaha menonton video. Suaranya pun tidak terlalu jelas. Tapi setidaknya mereka bisa lebih memahami cerita dengan melihat animasi.

Setelahnya kami membahas cerita tersebut. "How do you feel after reading the story and watching the video?"
"I feel sad," kata Vinda.
"Saya merasa tersentuh," kata Icha.
"Oh you feel touched," kata saya. "Tersentuh bahasa Inggrisnya touched. Bisa juga moved."
"Sad," kata Mira.
"I feel inspired," kata Agus, "Jadi teringat ibu saya. "
"So, the story reminds you of your mother," kata saya.
"I feel sad and touched," kata Irham.
"I feel sad, touched, and kagum," kata Asep.
"So you feel sad, touched, and impressed," tambah saya.
"I feel sad and surprised with the story. Kaget kok anaknya egois begitu?" kata Rijal.
"So you feel that the boy was selfish," kata saya.
"I feel proud with the tree," kata Rika, "Because she gives everything to the boy. I want to be like the tree. Pengen seperti itu, rela berkorban untuk orang lain"

Saya telah menyediakan sebuah tabel. Ada tiga kolom. Di baris pertama ada tulisan di masing-masing kolom, Kolom pertama "Name", kedua "How do you feel after reading the story?", dan yang ketiga, "What do you think the story is about? What is the meaning of the story?"

Anak-anak diminta mengisi kolom-kolom di bawahnya. Di kolom pertama menuliskan nama teman-teman mereka yang ikut belajar. Kolom kedua menuliskan perasaan teman-teman mereka terhadap cerita, dan kolom ketiga berisi pendapat teman mereka dan mereka sendiri mengenai arti cerita tersebut.

Diskusi pun berlangsung. Saya menanyakan pendapat mereka tentang cerita tersebut, Apa kira-kira arti cerita tersebut? Tidak semua anak menjawab, tapi yang seru ternyata jawaban anak-anak bervariasi.

Agus mengatakan ceritanya tentang hubungan ibu dan anak. Ketika anak membutuhkan sesuatu artinya dia selalu balik ke ibunya untuk meminta bantuan.

Saya pun menuliskan pendapat Agus dalam bahasa Inggris. Anak-anak menuliskannya kembali dalam tabel.
"The story is about the relationship of a mother and her children/child. When a child needs something, usually s/he goes back to her/his mother to ask for help.
Saya pun meminta anak-anak membaca kalimat bahasa Inggris tersebut.

Asep mengatakan cerita ini  tentang kasih sayang ibu yang tidak bersyarat.
Saya bantu menerjemahkan, "The story is about a mother's unconditional love."

Rijal punya pendapat yang berbeda.Menurutnya kisah tadi lebih berhubungan dengan alam. Cerita ini adalah tentangorang-orang yang egois dan rakus karena terus menerus 'meminta' dari alam tanpa 'memberi'. Mereka merusak alam tanpa peduli apa yang akan terjadi.

Saya pun menuliskan bahasa Inggrisnya, "It is about human beings who are selfish and greedy. They ruin nature without giving back to the nature. They do not care about the future. About what would happen in the future."

Rika merasa cerita tersebut adalah tentang orang-orang yang rela berkorban. Bukan hanya ibu yang rela berkorban tapi bisa juga guru atau siapapun yang bersedia berkorban untuk orang lain. Ada orang-orang yang memang lebih memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri.

Saya pun menulis, "It is about people who gives to others, who care about others even more than care about theirselves."

Saya sebenarnya punya pendapat lain. Tapi pendapat itu saya simpan sampai akhir diskusi. Tujuannya adalah agar anak-anak lebih merasa bebas mengeluarkan pendapatnya tanpa dipengaruhi pendapat saya. Menurut saya cerita itu menggambarkan bahwa kadang kita merasa lebih bahagia kalau punya semakin banyak (barang). Awalnya anak yang tumbuh dewasa tersebut minta apel untuk dijual agar bisa bersenang-senang. Ternyata dia belum bahagia, kembali lagi meminta ranting dan dahan untuk dijadikan rumah. Setelah itu ternyata masih belum bahagia lagi. Dia kembali, menebang batang pohon untuk membuat kapal untuk pergi berlayar jauh. Ketika kembali lagi ke pohon tersebut, anak tersebut telah tumbuh menjadi lebih tua. Dia tidak butuh apapun lagi selain sebuah tempat untuk duduk dan beristirahat. Dia duduk di old stump,potngan pohon tua tersebut Orang menyayanginya dan sesungguhnya disayangiya.

Vinda pun menambahkan, "Kebahagiaan itu sederhana ketika kita bersama orang-orang yang kita sayangi."

Saya pun menulis di papan tulis, "The story is about happiness. People sometimes think that 'to be happy' means 'you need more things'. However, happiness is actually when you are with the people you love. Happiness is simple."

Saya begitu senang dengan diskusi yang terjadi. Masing-masing anak, termasuk saya sendiri punya pendapat yang berbeda saat memaknai cerita. Membacanya saja, kita sudah bisa memetik pelajaran, tetapi saat mendiskusikannya pelajaran yang bisa kita petik lebih banyak Kita jadi lebih    kaya. Menggunakan karya sastra saat belajar bahasa, tidak hanya memperkaya anak dari sisi bahasa tapi juga memperkaya jiwa mereka. Itu bisa dilihat refleksi tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukan di akhir kelas. Hasil refleksi anak-anak diantaranya :

"Saya bukan hanya belajar bahasa Inggris tapi juga belajar tentang kebijaksanaan yang bisa diambil dari cerita ini."
"Saya merasa senang, setelah membahas arti kata dalam cerita, saat membaca cerita kembali saya jadi lebih paham, apalagi dikasih lihat filmnya. Saya jadi lebih paham  ceritanya."
"Saya senang dengan ceritanya, ceritanya bagus. Kita bisa belajar tentang kehidupan dari ceritanya."