Oct 14, 2010

Buku Teks Bilingual, Pengajaran dalam Bahasa Inggris dan Generasi Tanggung

Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah hampir melamar untuk menjadi penerjemah di suatu penerbitan tetapi karena saat itu saya sedang melakukan suatu penelitian yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan merasa tidak sempat untuk menerjemah, saya tidak jadi mengajukan diri sebagai penerjemah.

Penerjemah yang dibutuhkan adalah seseorang yang bisa menerjemahkan buku-buku teks IPA berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya pikir, kebutuhan untuk menerjemahkan buku-buku teks ini ke dalam bahasa Inggris diperlukan untuk keperluan sekolah-sekolah bilingual (dan RSBI) yang mulai menjamur di Indonesia.

Saya tidak tahu apa menerjemahkan buku-buku teks berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris itu sebenarnya bisa membantu pemahaman siswa dalam belajar. Entahlah.

Saya mempunyai seorang murid privat yang bersekolah di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Dia kini berada di kelas 8. Kemarin malam, saat saya menemaninya belajar fisika, saya membaca-baca buku teks yang digunakannya untuk belajar. Bukunya tertulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. (Setiap paragraf ditulis dalam bahasa Inggris, lalu di bawahnya ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Alangkah kagetnya saat saya sedang membaca sebuah paragraf yang menerangkan mengenai perlambatan. Begini tulisannya:


"Frictional force between air and the body of motorcycle, causes the motion seems the motorcycle retarded."



Tentunya yang ingin disampaikan oleh penulisa adalah bahwa akibat adanya gaya gesek yang terjadi antara sepeda motor dan udara menyebabkan sepeda motor mengalami perlambatan.

Sebentar, sebentar...
Apa saya tidak salah baca? Kata 'perlambatan' diterjemahkan sebagai 'retarded'?


Motorcycle retarded?

Retarded kan artinya terbelakang, tapi biasanya digunakan untuk manusia, bukan sepeda motor. Benar kan?

Ah gemasnya, apakah buku-buku ini benar-benar beredar di masyarakat?

Untungnya, di bagian bawah ada terjemahannya. Murid saya misalnya, lebih memilih membaca paragraf yang bahasa Indonesia. Tapi apa jadinya apabila ia membaca paragraf dalam bahasa Inggris? Bagaimana apabila ada guru yang menggunakan buku ini sebagai acuan tetapi pemahaman bahasa Inggrisnya pun pas-pasan sehingga ia menerima apa yang ada di buku sebagai kebenaran?

Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat beberapa sekolah, secara instan dan dalam waktu singkat, berubah dari sekolah yang mengunakan bahasa Indonesia sebagai penghantar menjadi bahasa Inggris.

Saya jadi ingat kisah di mana guru IPA yang diminta mengajar dalam bahasa Inggris menerjemahkan "gaya" (fisika) menjadi "style", padahal seharusnya adalah "force". Ini kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Bayangkan apa yang dipelajari oleh siswa-siswi kita di sekolah? Apa mencerdaskan? Atau sebaliknya?

Ada beberapa penyebab hal ini bisa terjadi, pertama adalah adanya sekolah-sekolah bilingual "instan". Proses menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah bilingual dilakukan tanpa pemikiran dan persiapan, dan desain yang matang. Sebagai contoh, ada sekolah-sekolah yang tiba-tiba mensyaratkan guru-gurunya mengajar dalam bahasa Inggris. Untuk mempersiapkan guru-gurunya, mereka hanya diikutkan kursus bahasa Inggris selama 3 bulan.

Kedua, kontrol mengenai kualitas buku-buku teks masih kurang memadai. Sehingga masih ada buku teks yang berkualitas rendah. Meskipun BSNP mengaku telah melakukan kontrol terhadap buku-buku teks yang ada, pada kenyataannya banyak buku teks (juga lks) berkualitas rendah yang masih beredar di sekolah-sekolah.

Apabila guru memiliki keterampilan yang baik untuk membuat bahan sendiri, worksheet, dan mampu mengajak siswa belajar melalui berbagai sumber (tidak terpaku pada buku teks), tentunya kualitas buku teks yang buruk tidak akan menjadi masalah. Guru bisa mengkritisinya dan menggunakan sumber-sumber lain sebagai media pembelajaran. Tentunya agar secara umum guru-guru Indonesia bisa menjadi guru yang seperti ini, tentu diperlukan proses dan adanya program-program peningkatan kualitas guru secara berkelanjutan.

Sambil menjalankan beberapa program peningkatan kualitas guru, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah yakni : pertama, melakukan kontrol terhadap buku teks yang beredar di masyarakat dan terutama di sekolah. Pemerinta perlu memastikan agar buku-buku tersebut berkualitas baik. Kedua, menghentikan program-program "bilingual instan", yakni program-program yang bilingual yang tidak dedesain dengan baik, yang melakukan melakukan pengajaran dalam bahasa Inggris tanpa adanya persiapan yang matang, terutama kesiapan guru-gurunya.

Kalau memang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, lebih baik meningkatkan kualitas pelajaran bahasa Inggris, terutama dengan meningkatkan kapasitas guru-guru bahasa Inggris.

Yang utama adalah pemahaman anak akan ilmu pengetahuan. Lebih baik anak belajar menggunakan bahasa ibu, tetapi fokus di pemahaman akan ilmu pengetahuan daripada belajar menggunakan bahasa asing tetapi setengah-setengah (ilmu pengetahuannya tidak didapatkan, kemampuan berbahasanya juga minim). Kita tidak ingin menghasilkan generasi yang tanggung bukan?

No comments: