Dec 23, 2010

[KLIPING] Membaca Buku Bagus

Membaca Buku Bagus

Pelajaran Membaca Buku Bagus diadakan setiap hari Sabtu. Pada pelajaran ini guru membacakan sebuah buku untuk anak. Cara membacakan harus dibuat menarik, seperti mendongeng, bukan dengan intonasi yang datar. Ketika pelajaran ini baru dimulai di SDKE MAngunan, Butet Kartaradjasa, salah seorang sahabat Romo Mangun membantu melatih guru untuk membacakan buku bagus. TAk jarang Romo Mangun dan Butet membacakan sendiri buku bagus untuk anak-anak. Cara ini lebih efektif karena anak lebih udah untuk memperhatikan isi buku yang bisa mempertajam kemampuan anak. Diharapkan dari Membaca Buku BAgus ini anak dapat:
a. Memperluas cakrawala padangnya;
b. BErani merantau, fisik maupun kejiwaan;
c. Dinamis, kaya akal, mencari jalan-jala alternatif kehidupan;
d. Bermental arif, penuh pehitungan;
e. Bermain dan takwa dalam segala cobaan.

Mata pelajaran Membaca Buku Bagus bersama dengan Kotak Pertanyaan dimaksudkan untuk memenuhi lima harapan tersebut. Dalam sistem pembelajaran terpadu, pembacaan buku bagus juga harus dikaitkan dengan mata pelajaran lain. Misalnya, dalam kesempatan tertentu bisa dimanfaatkan untuk penyempurnaan pemakaian bahasa Indonesia pada anak. Bila kebetulan dijumpai istilah fisika dan biologi dalam buku yang dibacakan, guru juga harus bisa memberi keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut.

Materi buku yang dipilih hanya bisa memenuhi lima persyaratan di atas, biasanya buku-buku tentang penemu besar, orang-orang yang tidak mudah menyerah pada nasib. Romo Manugun menyarankan guru untuk tidak memilih buku tentang pahlawan perang, kecuali bila buku tentang pahlawan tersebut berisi tentang budaya dan lebih menonjolkan sisi kemanusiaan. MArco Polo, Captain Cook, Columbus, Magelhaen, Nightingale, Kartini, Walanda Maramis, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Sutan Sjahrir, Romo van Lith, SJ, merupakan sebagian dari nama-nama tokoh yang menjadi pilihan guru dalam Membaca Buku Bagus. Cerita yang mengharukan, jenaka, menggembirakan juga menjadi pilihan untuk dibacakan. Romo MAngun menyarankan agar guru tidak membacakan komik untuk anak.

Anak-anak diperkenalkan pada dunia yang lebih luas daripada dunai lokal kehidupan mereka sehari-hari. Cakrawala hati anak harus dibuat seluas mungkin, menjelajahi bumi, lepas bebas dari segala yang mengurung anak. Semangat eksplorasi dan kreativitas dapat dibangun melalui pelajaran Membaca Buku Bagus dan Kotak Pertanyaan setiap Sabtu.

Guru juga diharuskan untuk mempersiapkan diri sebelum membacakan buku untuk anak. Pengucapan nama dan kata bahasa asing harus benar. Guru harus menanyakan pengucapan yang benar pada orang yang lebih tahu. Pengucapan kata juga harus jelas dengan itonasi yang menarik, bisa mengekspresikan kalimat yang dibaca. Guru juga harus bisa menjelaskan arti kata sulit yang tidak dimengerti aak.

Reaksi spontan anak-anak memang diharapkan. Mereka boleh berkomentar, bersorak, dan tertawa tetapi tidak mengacaukan perhatian teman lainnya. Guru tetap harus mengatur suasana kelas tetap tertib. Suasana gaduh adalah hal yang wajar saat Membaca Buku Bagus karena saat itu interaksi antara guru dan anak-anak sungguh-sungguh terjai. Guru pun bisa memberi komentar untuk menghidupkan suasana. Komentar guru dan anak melalui dialog juga bisa memperkaya pemahaman anak tentang istilah-istilah yang dipakai dan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita yang dibacakan. Membaca Buku Bagus juga merupakan cara untuk mendampingi anak untuk memahami budi pekerti, moral, dan iman.

Fungsi Membaca Buku Bagus menurut guru-guru Mangunan adalah untuk melancarkan membaca, memahami isinya, nilai-nilai yang bisa ditiru, dan menambah pengetahuan. Buku yang akan dibacakan biasanya dipilih oleh guru, tetapi kadang dipilih oleh murid. "Di kelas VI, kalau anak yang memilih bukunya, maka anaklah yang baca; kalau guru yang memilih, maka gruu yang baca," kata Bu ninik. Sementara Pak We mengatakan bahwa di kelas V yang dibacakan tidak hanya buku atau cerita tentang pengetahuan saja, tetapi juga membaca cerpen yang berisi nilai-nilai hidup. Penekanan cara membaca buku bagus terletak pada intonasi agar anak memperhatika bacaan. Di kelas V buku dibaca oleh anak-anak secara bergantian. "Rinda ketika membacakan cerita, misalnya, intonasinya sangat hidup sehingga teman-teman lain ikut memerhatikan."

Ketersediaan buku yang bisa dibaca anak kelas I di Mangunan sangat minim. "Biasanya anak lebih suka melihat gambarnya; mereka tertarik kalau ada gambar baru," kata Bu Peni. Anak kelas I lebih tertarik pada gambar karena mereka masih sulit membaca. "Kelas tinggi pun juga tertarik dengan gambar yang ada pada buku," kata Pak We. Guru berpendapat bahwa anak-anak sekarang lebih suka membaca komik, meskipun di perpustakaan keliling ada buku yang bukan komik. "Mereka kebanyakan lebih tertarik membaca dan meminjam komik dari perpustakaan keliling," kata Bu Ninik. "Untuk kelas I dan II komik sangat membantu kelancaran membaca anak, misalnya komik Doraemon. Bila anak sudah membaca biasanya akan suka membaca," kata Bu Siwi.

Masing-masing kelas di Mangunan mempunyai perpustakaan. Buku-buku di perpustakaan kelas diperoleh dari donatur, ada juga yang dibeli oleh guru. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan kelas II boleh dibawa pulang oleh anak-anak. Anak kelas II diperbolehkan meminjam buku pada jam sekolah dan membaca di tempat favoritnya. Mereka membaca dengan keras, seakan ingin menunjukkan kemampuannya kepada teman-teman lainnya. "Kalau sudah membaca sendiri seperti itu, kelas menjadi ramai," kata Bu Siwi.

Sumber:
Pradipto, Y. Dedy. "Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional: Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar". Penerbit Kanisius,
Yogyakarta: 2007

Dec 8, 2010

Dana BOS dan Kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional

Hari ini saya diwawancara di KBR68H mewakili Ikatan Guru Indonesia (IGI) terkait dana BOS. Selain saya, juga hadir orang tua siswa dari sebuah SD 12 Rawamangun dan seseorang dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Rasanya, sedikit dag dig dug. Isu mengenai BOS sebenarnya tidak terlalu saya dalami, tetapi saya cukup sering mendengar keluhan-keluhan terkat dana BOS dari teman-teman guru. Saya jadi semacam media penghantar. Saya menyampaikan kembali apa cerita-cerita mengenai masalah BOS yang dialami oleh teman-teman guru mupun kepala sekolah di lapangan. Saya mengutip pernyataan teman-teman di milis termasuk pernyataan yang disampaikan oleh seorang guru pagi ini :


Sebetulnya pengalaman kami ketika diperiksa BPK bukanlah merupakan penyimpangan tetapi karena di peetunjuk penggunaan dana BOS tersebut tidak sangat rinci, dan sekolah menerjemahkannya berbeda-beda tergantung kebutuhan sekolah. Ketika diperiksa BPK atau auditor lainnya timbul temuan karena mereka memeriksa sesuai dengan apa yang di petunjuk. Sebagai contoh salah satu penggunaan dana BOS untuk kegiatan kesiswaan adalah "Ekstra kurikuler". Dikegiatan tersebut tentu ada pelatih atau pembina, ketika kita keluarkan transport atau honor pelatih maka auditor akan mengatakan pembayaran honor pelatih atau pembina tersebut tidak menyentuh siswa langsung. Dan jadilah temuan....


Saya juga menyampaikan, ada dua masalah terkait penyelewengan dana dBOS di berbagai sekolah. Ada penyelewengan yang memang disebabkan karena 'niat buruk' dan ada juga yang disebabkan karena 'ketidaktahuan'. Ini adalah dua masalah yang berbeda dan harus diselesaikan dengan cara yang berbeda pula.

Saya juga menceritakan pengalaman sebuah teman kepala sekolah di Bandung. Dana BOS yang diterimanya melalui rekening sekolah memang sudah disunat, tetapi oleh atasannya (siapakah atasannya?) ia diminta membuat laporan sesuai dengan dana asli yang diberikan oleh pemerintah. Kalau ada kasus seperti ini harus melapor kemana?

Menurut pihak kementerian pendidikan nasional, ada 14 item yang bisa digunakan melalui dana BOS. Meskipun begitu, ia kurang menjelaskan dengan pasti ke-14 item tersebut. Ia mengatakan bahwa banyak guru tidak bisa membedakan biaya operasional dan biaya investasi, sayangnya ia tidak menjelaskan apa perbedaannya.

Katanya, "Kalau untuk pelajaran musik, di sekolah ada sebuah gitar, dan yang rusak adalah gitarnya, maka dan BOS sebaiknya digunakan untuk apa? Membeli gitar baru atau senarnya? Seharusnya senarnya. Banyak orang yang mengartikan penggunaan dana BOS untuk membeli gitar baru, tetapi seharusnya misalnya digunakan untuk membayar pelatihnya."

Loh.. saya jadi bingung.

Yang juga membuat saya bingung adalah saat kami membahas mengenai intimidasi yang diterima oleh orang tua murid saat melaporkan penyalahgunaan dan BOS. Kami membahas? Kemanakah orang tua murid atau masyarakat harus mengadu bila ada masalah?

Menurutnya, kementerian pendidikan tidak punya kuasa utuk mengontrol penggunaan dana BOS. Karena kewenangannya ada di pemerintah daerah. Kalau mau protes mengenai penyalahgunaan dana BOS, sebaiknya ke kepala sekolah saja. Atau langsung ke Bupati. Kewenangannya ada di daerah. Bagaimana dana BOS digunakan, katanya sangat tergantung pada pribadi Kepala Dinas dan Bupati yang bersangkutan.

Fenomena ini oleh teman saya disebut sebagai "memberikan uang jajan". Terserah uang jajannya digunakan untuk apa. Tidak ada petunjuk yang jelas. Apa memang benar begitu kondisinya?

Ada satu hal yang menjadi pertanyaan saya. Seringkali saya mendengar argumentasi dari pemerintah bahwa semenjak otonomi daerah, kementrian pendidikan di level pusat tidak punya kewenangan untuk mengatur apa yang terjadi di daerah. Alasan yang sama juga terjadi saat ada pembahasan mengeneai masalah RSBI di berbagai daerah. Apakah memang kementerian pendidikan tidak punya kewenangan apapun untuk mengontrol masalah yang ada di level daerah? Apa peran pemerintah dalam melakukan kontrol terhadap berbagai kebijakan? Benar-benar tidak ada? Atau ada? Apa ini sepenuhnya kesalahan sistem? Atau ini memang kelemahannya sistem otonomi daerah? Atau memang tidak ada political wiil ?Saya tidak tahu jawabannya. Bagaimana menurut anda?

Dec 4, 2010

What's next?

Selama lebih dari 3 tahun saya sangat fokus menekuni satu isu. Saya sangat disiplin membaca berbagai referensi mengenai isu itu. Setidaknya dalam 1 hari saya berusaha membaca seputar topik itu. Saya memiliki buku khusus, isinya semua catatan akan isu tersebut baik dari buku, jurnal, media massa, dan sebagainya. Di dalamnya saya juga menyisakan satu bagian khusus untuk refleksi terkait isu. Saya sangat fokus sampai akhirnya saya berhasil merangkai semua pemikiran saya dengan kata-kata. Baik yang tersebar ntah di mana di tulisan-tulisan saya di internet maupun yang terdokumentasi dengan baik di dalam sebuah paper.

Sekarang, saya rasanya harus kembali menemukan isu-isu yang mau saya pelajari dengan serius. Saya harus mulai tekun seperti sebelumnya, membaca sebanyak-banyaknya mengenai isu tersebut tanpa lupa memperluas wawasan di bidang-bidang lain. But what's next? What is the next issue I will be so passionate about? Still searching.

Dec 3, 2010

Tosca

Learnt about history
On a trip that felt so cool
Read Rose of Versailles as it was a history book
Learnt that our brothers had the same name

First pajama's party
A bath with mickey
Baked cupcakes

Ring ring
Jin jing
Learned to be lady like
Painted our faces as we were princesses of the world
Thought we were glamorous, oh we always are
Made necklaces out of old newspapers
Painted old shoes as it was the newest trend
Pretended to be like every cool girl we read about or saw in movies

Talk talk talk
Never stop
Discussed books that made our imagination grow wild

Dreamed about going to a place where people drank tea

I grew up
So did you

Different laddies we have been
So different worlds we lived in
Are we strangers or are we not?
Would I know how we would say hello?


The tosca invitation on the table
I missed it!
My childhood friend
My best childhood friend

Benarkah?

"Tampaknya kegiatan itu cukup menyentuh hatinya. Meskipun akhirnya dia kerja di mana"
"Oh ya? Kenapa?"
"Tugas akhirnya adalah merancang sebuag desain ruangan untuk relawan. Saya yakin itu dipengaruhi oleh kegiatan itu."
"Benarkah?" tanyaku dengan hati yang mengharu biru, "Benarkah?"

Tiga Cara Menggunakan ICT dalam Pembelajaran

Dhitta Puti Sarasvati

Ada tiga cara untuk menggunakan ICT di dalam pembelajaran. Pertama, menggunakan ICT sebagai semacam buku, kedua menggunakan ICT sebagai media untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang kita ciptakan, dan ketiga sebagai alat bantu untuk mengolah pengetahuan.

Mungkin banyak diantara kita yang sering terbius oleh kehebatan ICT dalam menyediakan pengetahuan. Saya sendiri, misalnya sangat suka membrowsing internet karena saya bisa menemukan berbagai informasi dengan cepat. Ini yang saya sebut menggunakan ICT sebagai ’semacam buku’. Maksudnya adalah teknologi sebagai sarana yang menyajikan informasi dan kita tinggal menikmatinya. Kita hanya menjadi penyerap informasi yang telah disediakan oleh orang lain. Ini bisa dilakukan baik dengan membaca berbagai hal yang tersebar di internet seperti berita, artikel, dan sebagainya. Selain itu, menonton (misalnya Youtube) termasuk di dalam kategori ini. Memang banyak materi yang sifatnya edukatif yang bersebaran di internet. Tentunya, kita harus punya keterampilan untuk menyaring mana informasi yang berguna dan tidak. Kita juga harus berani mempertanyakan berbagai materi dan informasi yang tersedia di internet. Tentunya tidak semua hal bisa kita telan mentah-mentah.

Cara kedua untuk menggunakan ICT dalam pembelajaran adalah dengan menggunakannya sebagai alat untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang kita buat. ICT digunakan sebagai sarana untuk memaparkan berbagai temuan. Kita yang menyediakan pengetahuan. ICT menjadi sarana bagi kita untuk mengkomunikasikan berbagai pembelajaran tersebut. Ini sering kita lakukan misalnya dengan kegiatan blogging. Seorang teman guru bernama Pak Sopyan Maolana Kosasih, seorang guru PKn, pernah dengan cerdas menggunakan ICT untuk keperluan ini. Ia meminta murid-muridnya menuliskan mengenai globalisasi di note facebook. Kemudian, ia meminta mereka men-tag teman sekelasnya dan saling mengomentari satu sama lain. Bagi saya ini cara yang sangat cerdas dalam menggunakan ICT. Kita menjadi penyedia pengetahuan. ICT hanya menjadi alat untuk mengkomunikasikannya.

Cara ketiga, adalah dengan menggunakan ICT sebagai alat untuk mengolah informasi. Contoh dari kegiatan ini adalah ketika kita mengolah data menggunakan progra excel. Saya sendiri pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan tugas akhir saya di tingkat Srata Sarjana (S-1). Saat itu saya membahas tentang kavitasi. Kavitasi adalah fenomena yang sekilas mirip dengan proses mendidih. Di dalam air akan terlihat banyak gelembung-gelembung, mirip dengan apa yang terjadi saat air mendidih. Tetapi terjadinya kavitasi bukan karena temperatur tinggi, tetapi karena tekanan yang rendah. Artinya, kavitasi bisa terjadi ketika suhu air dingin sekalipun. Hal ini sering terjadi dalam turbin air ataupun baling-baling di kapal dan bisa menyebabkan kerusakan, antara lain karena getaran yang dihasilkan akibat adanya kavitasi.

Saat itu saya merekam proses terjadinya kavitasi pada turbin. Dengan video yang saya hasilkan, saya bisa melihat proses dari sebelum hingga adanya kavitasi pada turbin. Sayangnya saat itu saya tidak mengubah video ke bentukslow motion, padahal di kemudian hari, saya menonton mengenai bagaimana video mengenai sebuah fenomena fisika kemudian diubah ke dalam bentuk slow motion agar fenomena bisa dipelajari dengan lebih mendetail. Sebagai contoh video slow motion yang pernah saya lihat adalah jatuhnya tetes air ke dalam air. Ternyata tetes air jatuh lalu terpental ke atas lagi, jatuh lagi, dan berulang, tetapi dengan ketinggian yang semakin pendek. Para ilmuwan menggunakan teknologi untuk mempermudah mereka dalam melakukan pengamatan, misalnya karena di dunia nyata benda bergerak terlalu cepat. Teknologi bisa digunakan sebagai alat untuk membantu melihat fenomeda dengan lebih mendetail. Darimana pengetahuan di dapat? Tentunya masih dari lingkungan sekitar dan ICT hanya menjadi alat bantu.

Tentu, kita boleh memilih cara apa yang ingin kita pilih dalam menggunakan ICT sebagai sumber pembelajaran. ICT boleh digunakan selayaknya sebuah buku penyedia informasi, sebagai alat komunikasi, dan sebagai alat untuk mengolah data, atau kita bisa memadukan antara ketiganya. Meskipun begitu, kita sebagai manusia harus menjadi pengolah pengetahuan yang paling utama. Informasi yang mudahnya bisa kita dapat dengan ICT tetap perlu kita kritisi, renungkan, pikirkan, dan olah hingga menjadi pegetahuan baru. Selain itu, kita juga perlu ingat, bahwa masih ada begitu banyak pengetahuan di sekitar kita, dan bukan hanya di dalam kotak-kotak teknologi (TV, komputer, dan sebagainya). Di sekitar kita masih banyak hal yang bisa kita sentuh, lihat, dengar, rasakan, dan pelajari. ICT hanya menjadi alat untuk membantu kita mempelajarinya. Lingkungan sekitar, tentunya tetap sumber belajar yang paling kaya. Selamat belajar!

Parasit Sosial??????

PENGETAHUAN HIV/AIDS DIINTEGRASIKAN KE SISTEM PEMBELAJARAN
http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/pengetahuan-hivaids-diintegrasikan-ke-sistem-pembelajaran/

Jakarta, 01/12/2010 (Kominfo-Newsroom) Sekolah adalah media palingmudah untuk menyampaikan sosialisasi pengetahuan tentang penyakitHIV/AIDS. Dengan adanya akses ke seluruh jenjang pendidikan, makakesempatan untuk menumbuhkan kesadaran tentang bahaya HIV/AIDSsemakin terbuka.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)Mohammad Nuh, usai membuka peringatan Hari AIDS Sedunia 2010 diKantor Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Rabu(1/12). “Integrasikan pengetahuan tentang HIV/AIDS ke dalam sistempembelajaran. Tidak dalam mata pelajaran tersendiri, tetapidiintegrasikan dalam pelajaran Agama, Sejarah dan Biologi,” jelasMendiknas.

Peringatan kali ini sekaligus meluncurkan buku 100 puisi karyasiswa bertema akses universal dan hak azazi manusia. Mendiknasmenjelaskan pengetahuan tentang HIV/AIDS juga dapat dimasukkan kedalam kegiatan ekstrakurikuler dan melengkapi bahan informasi diperpustakaan sekolah, serta membagikan secara cuma-cuma ke siswa.”HIV/AIDS asal muasalnya disebabkan oleh parasit sosial. Makasolusi yang paling tepat adalah solusi sosial,” katanya.

Solusi sosial dilakukan dengan menempatkan perilaku pada posisiyang benar. Masyarakat perlu dibangkitkan kesadarannya untukberperilaku sosial yang benar. “Insya Allah 70-80 persen urusanHIV/AIDS bisa diselesaikan. Sisanya adalah kontaminasi akibatsecara tidak langsung dari perilaku penyimpangan sosial tadi,”katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI JakartaTaufik Yudi Mulyanto mengatakan peringatan Hari AIDS Sedunia diProvinsi DKI Jakarta dirangkai dengan beberapa kegiatan dengan temaJakarta Stop AIDS. Sebanyak 400 siswa duta stop AIDS bertugasmenyampaikan informasi tentang HIV/AIDS. “Tidak hanya di lingkungansekolah, tetapi juga ke rumah,” katanya.(T.Ad/dry)

Cahaya



Tanpa disadarinya, perempuan di depannya seketika merasa silau. Cahaya matahari memasuki matanya, "Aduh silau," katanya.

Di dalam angkot berwarna hijau dia duduk disebelah seorang perempuan lain yang lebih tua usianya. Mungkin kakaknya, mungkin ibunya.

Dia memegang-megang benda di tangannya. Sebuah CD yang baru dibeli. Sebuah game baru untuk dimainkan di rumah. Dipegang-pegangnya CD tersebut. Gambarnya dibalik, menghadap celana jeans birunya.

"Silau," kata perempuan tersebut sambil menutup matanya.

tersenyum, "Wah CD-nya memantulkan cahaya."

"Mari kita tangkap cahayanya," sahutku.

Kutepukkan tanganku, "Hap," kataku sambil bertepuk tangan, sambil berusaha menangkap cahaya.

"Ketangkap cahayaya!" sahutku seakan-akan cahaya tersebut masuk diantara kedua belah tanganku.

"Jangan, jangan," katanya tidak rela cahayanya ditangkap.

Ia mulai sadar, cahayanya berasal dari CD-nya. Ia memain-mainkan CD-nya sehingga ada cahaya di langit-langit angkot.

"Hap! Ketangkap lagi", sahut saya.

"Jangan,jangan! Jangan tangkap," teriaknya.

Angkot menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi pohon-pohon rindang.

"Mana cahayanya?" matanya bertanya-tanya keheranan.

Wajahnya jadi girang saat ia temukan lagi cahaya dari CD-nya.

Matahari tak lagi dihalangi oleh awan yang rindang. Rasanya, panas, tapi ia kegirangan.

"Tangkap lagi-tangkap lagi," katanya.

"Hap, hap, hap," jawabku sambil berusaha menangkap cahaya di langit-langit angkot.

"Tangkap lagi-tangkap lagi," katanya sampai tiba-tiba perempuan di sebelahnya berkata, "Turun yuk!"