Dec 31, 2015

The Future of Education: Journal Reflection 1 (Part 1)

Based on your experience as a learner, what do you think you will be able to get out of this course? 

Since a few years ago, I started having a very ambitious dream. I wanted to write a blue print about the future of Indonesia's education.

Then, one day, coincidentally, I was watching a TEDx London talk by Ken Spours.  He mentioned that to revolutionize the education in England  "we should start by trying to agree about our value". In his talk he mentioned three main values. First, that everybody counts, everybody can be educated, everybody is educable, and  everybody can both think and do. Second, that we must consider the law of care, which meant that the ones   who need the most must get the most.Third, he argued that we should move from the word "versus" toward the word "and". For example, the term "subject versus real life experiences" and "knowledge versus skills" should rather be "subject and real life experiences" and  "knowledge and skills".

Although Ken Spours was talking about the education in England, I could relate with his speech, especially about the three values mentioned above. I think those values can also apply in the context of Indonesia.

So, I searched more about Ken Spours on the internet.Then, I found a document which was edited by Ken Spours and Neal Lawson. The name of the document is "Education for The Good Society: The Values and Principles of A New Comprehensive Vision." After reading that document, I remembered my dream of creating the blue print.

A friend of mine, named Ibu Weilin Han also wanted to develop a blue print about the future of Indonesia's Education. So, we decided to arrange meetings with a few educators to talk about our dreams about Indonesia's education. We had a few meetings and discussed a lot of things, one of was "what do we want the purpose of education (in Indonesia) to be like?" Then, we started re-reading the about the Indonesian constitution, old documents about Indonesian education, about the vision of Indonesia's founding fathers. We hoped that by trying to understand the past we could make more sense of the present and also help in designing the future.

After a few meetings, I realized that developing a blue print is not easy at all. To develop a blue print,
we need to learn a lot of things, talk to more people, and also reflect deeply on what we really want the future of education to be like. The blue print is not finished yet and we might need quite a lot of time before we finish developing the blue print.

I was interested in this course because I thought that this course might help me me reflect on what I want the future of education to be like, including in the Indonesian context. Hopefully, it will help me in developing the blue print that might be finished one day later.


And what ideas do you already have about the future of education?

(I'll answer this in my next post)

Oh, Saya Cari Gara-gara!

Sumber : http://www.vasanthk.com/wp-content/uploads/2015/03/Promise-Quote.jpg

Beberapa bulan yang lalu, saya cari gara-gara.  Begini ceritanya. Sudah sejak tahun 2007, teman-teman dan saya mendirikan Sekolah Rumah Mentari (sebuah komunitas belajar). Di sana kami banyak berkegiatan bersama anak-anak di Kampung Sekepicung, kadang juga bersama pemuda, ibu-ibu, maupun bapak-bapak yang ada di Kampung tersebut. Kegiatannya bervariasi dari kegiatan belajar bersama (matematika, bahasa Inggris, memasak), jalan-jalan, bermain drama, berkebun, dan banyak lagi. Namun, saya merasa ada yang kurang. Saya ingin berjejaring dengan guru-guruyang mengajar di sekolah-sekolah di sekitar Sekolah Rumah Mentari. Siapa tahu ada kesempatan untuk berinteraksi dan bekerja sama. 

Jadi, saya mulai dengan mengunjungi salah satu sekolah, sebuah SD,  yang letaknya tak jauh dari Kampung Sekepicung. Bu Dewi (teman yang rumahnya kami pakai untuk kegiatan Sekolah Rumah Mentari) menemani saya untuk mengunjungi salah satu sekolah yang letaknya di atas bukit. Saya datang ke sana untuk berkenalan dengan guru-gurunya.

Sesampai di SD tersebut, saya disapa oleh beberapa anak yang sedang belajar di lapangan.
"Kak Puti!" kata mereka sambil melambaikan tangan. 

Memang ada beberapa anak-anak yang suka belajar di Sekolah Rumah Mentari yang juga bersekolah di SD tersebut. 

Bu Dewi mengenalkan saya dengan guru-guru di sekolah tersebut. Saya diajak untuk masuk ke ruang guru yang ukurannya sekitar 6 x 6 meter persegi. SD tersebut memiliki 10 orang guru. Namun, saat itu saya ngobrol dengan  5 guru saja.. Semuanta perempuan. Yang lain sedang mengajar atau sedang tidak di lokasi. 

Kami ngobrol tentang kegiatan pengembangan profesi. Di sana memang belum ada kegiatan pengembangan profesi yang sifatnya rutin, baik mingguan, atau bulanan. Dua orang guru mengatakan bahwa mereka sempat Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diselenggarakan pemerintah. 

Saya pun bertanya, "Kalau ada kegiatan pengembangan profesi, kira-kira ibu-ibu mau belajar mengenai apa?"
Ada guru yang menyampaikan bahwa beliau ingin belajar caranya mengajarkan anak agar cepat membaca, ada yang mengatakan bahwa  beliau ingin belajar caranya mengajarkan anak agar bisa menghafalkan surat (Al'Quran) dengan cepat. 

Awalnya, mungkin secara tidak sengaja, saya sempat sedikit judgmental. Kenapa ingin belajar caranya mengajarkan A, B, dan C secara lebih cepat? Membaca lebih cepat, menghafalkan lebih cepat. Tujuannya untuk apa? Tapi saya mencoba untuk tidak terlalu cepat menilai. Sebenarnya, guru-guru tersebut sangat bersemangat. Mereka ingin belajar.Tentu saja itu harus diapresiasi.  

Saya pun mengatakan, bahwa saya tidak keberatan untuk sesekali main ke sekolah untuk menemani mereka belajar. Modelnya santai saja. Modelnya dengan ngobrol   saja, misalnya tentang pembelajaran. Masalahnya, saya tidak selalu ada di Bandung (sehari-hari saya bekerja di Jakarta). Jadi, saya harus menunggu sampai memang punya jadwal yang pas untuk ke sana. Mereka punya menyambut dengan baik, sambil menyampaikan bahwa sebaiknya sesi-sesi tersebut diadakan sepulang sekolah, sekitar pk 13.00 sampai pukul 16.00. Tujuannya, agar mereka punya waktu untuk pulang ke rumah dan memasak untuk keluarga (sebagian guru adalah perempuan). 

Sepulang dari SD tersebut saya mengutuk-ngutuk diri saya sendiri, "Halah! Cari gara-gara! Sekarang saya berutang janji pada guru-guru tersebut. Bisakah saya memenuhi janji tersebut?". Saya belum sempat ke sekolah itu lagi, dan ternyata guru-guru tersebut sering menitipkan pesan pada Bu Dewi agar saya segera mampir ke sekolah. Sampai sekarang saya dag dig dug serrr.. kalau mengingat janji saya pada guru-guru di sekolah tersebut. Saya harus segera mengatur waktu untuk mampir ke sana.

Saya sempat menceritakan hal ini pada Mbak Ifa Misbach, seorang psikolog yang juga dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Rumah Mbak Ifa tak jauh dari sekolah tersebut. Yang lebih menarik, Mbak Ifa sering membiarkan mobilnya menjadi tumpangan anak-anak SD yang bersekkolah di sekolah tersebut.  Betapa leganya, ketika beliau mengatakan mau membantu saya untuk 'main' ke sekolah tersebut. Ibunya Mbak Ifa, yang juga senang mengajar pun bersemangat untuk berkegiatan di SD tersebut. Kami akan segera mengatur waktu agar bisa mampir ke sekolah tersebut dan belajar bersama di sana. Doakan usaha kami lancar yah!  :) 

Dec 29, 2015

Refleksi tentang Empat Pilar Pendidikan (Learning to Know, Learning to Do, Learning to Live Together, Learning to Be)

Sumber : http://weknowyourdreams.com/ 




Saya sudah sering mendengar mengenai empat pillar pendidikan yang dikemukakan oleh Dellors, et.al, (1996) dalam naskah Learning: The Treasure Within. Menurut beliau, ada empat tujuan pendidikan yakni :

  1. Learning to know (belajar untuk tahu)
  2. Learning to do (belajar untuk bisa melakukan)
  3. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
  4. Learning to be (belajar untuk menjadi)
Namun, ketika saya mendengarkan salah satu kuliah online "What future for education"  via Coursera.org, saya merasa menemukan sebuah pemaknaan baru, khususnya ketika saya merefleksikan tujuan-tujuan tersebut dengan praktek pendidikan yang terjadi di sekolah. Pada kenyataannya, ada beberapa (banyak?) sekolah yang hanya fokus pada satu atau dua tujuan di atas. Bagaimana pihak sekolah memahami tujuan pendidikan akan berimplikasi pada bagaimana mereka menjalankan proses belajar-mengajar di sekolah.

Si beberapa sekolah, tujuan pendidikan hanya sampai pada learning to know. Bagi sekolah seperti ini, yang penting siswa 'belajar untuk tahu' sebanyak-banyaknya. Untuk itu, siswa perlu memiliki ingatan yang kuat. Mereka perlu tahu banyak fakta, mulai dari tanggal-tanggal bersejarah, berbagai rumus matematika maupun fisika, sampai menghafalkan berbagai jenis enzim yang ada dalam tubuh manusia. Yang jadi pertanyaan berikutnya, siswa perlu tau hal-hal tersebut untuk apa? Ada sekolah yang menganggap siswa perlu tahu berbagai hal tersebut karena itulah yang akan diujiankan di akhir masa sekolah (saat ujian nasional). Kalau tidak dipelajari, siswa akan kesulitan dalam mengerjakan ujian nasional. Sebagai konsekuensi dari 'tujuan pendidikan' yang sempit ini, sekolah fokus pada persiapan ujian nasional dengan meminta siswa menghafalkan isi buku teks ataupun berlatih soal ujian (kalau bisa sampai hafal).

Di sisi lain, ada sekolah yang memang ingin menumbuhkan rasa 'cinta terhadap pengetahuan'. Meskipun sekolah sama-sama punya tujuan agar siswa belajar 'untuk tahu', siswa diajak belajar 'untuk tahu' dengan cara yang lebih bermakna. Misalnya, saat belajar tentang langit, siswa bukan hanya akan diajak membaca buku teks mengenai langit, siswa diajak membaca berbagai buku yang berhubungan dengan langit. Tidak selesai sampai di sana, siswa diajak untuk belajar dari seorang ahli (misalnya dengan seorang astronom) sehingga mereka bisa belajar mengenai fakta-fakta langit dari ahlinya. Siswa juga akan diajak mengamati langit, melakukan observasi mengenai langit, dan mencatat (baik dalam bentuk tertulis maupun gambar) hal-hal penting terkait langit.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengetahui banyak hal, namun kita perlu selalu bertanya, siswa perlu tahu tapi untuk apa? Lagipula, tujuan pendidikan  bukan hanya untuk belajar 'untuk tahu', tapi masih ada tujuan-tujuan lainnya.

Di beberapa sekolah yang lain sudah muncul kesadaran bahwa siswa juga harus memilki berbagai keterampilan. Jenis-jenis keterampilan ini bervariasi. Misalnya, Ada keterampilan-keterampilan yang perlu dikembangkan untuk memasuki dunia kerja tertentu. Untuk ini, beberapa sekolah (seperti sekolah kejuruan) membuka kesempatan bagi siswanya untuk praktek seperti dengan magang di industri atau perusahaan.

Selain itu, ada juga keterampilan-keterampilan lain yang perlu dikembangkan. Misalnya, siswa yang lulus SMA diharapkan memiliki keterampilan untuk berpikir secara sistematis, punya keterampilan memecahkan masalah, punya keterampilan  dalam membaca dan menulis yang cukup fasih.  Namun, kalau kita terampil dalam mengerjakan berbagai hal tapi selalu bermasalah ketika berhubungan dengan orang lain lalu apa gunanya? Manusia adalah makhluk sosial yang juga harus belajar caranya hidup bersama dengan orang lain. Itulah sebabnya salah satu tujuan pendidikan yang lain adalah untuk belajar hidup bersama (dengan orang lain).

Sekolah memang merupakan tempat di mana siswa bisa belajar hidup bersama dengan orang lain. Bagaimana tidak? Setiap hari siswa harus belajar bersama-sama dengan teman-teman sebayanya dan juga berinteraksi bersama guru-gurunya. Namun, sebenarnya di sekolah, siswa belajar hidup bersama dengan siapa? Apakah siswa diberikan kesempatan untuk belajar hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda dari yang biasa mereka temui?  Apakah sekolah memfasilitasi siswa untuk belajar  berinteraksi (secara sejajar) dengan orang dari agama yang berbeda, suku yang berbeda, latar belakang ekonomi yang berbeda, atau yang memiliki pandangan-pandangan hidup yang berbeda dari mereka?

Beberapa sekolah memang memahami tujuan pendidikan adalah untuk belajar untuk hidup bersama (termasuk dengan orang yang berbeda pandangan dengan mereka). . Sekolah-sekolah ini tidak ingin menjadi 'sekolah elit'. Siswa dari berbagai golongan, latar belakang, suku, dan agama bisa berbaur untuk belajar satu sama lain. Selain itu, aekolah semacam ini membuka ruang bagi siswa untuk berinteraksi dengan masyarakat. Caranya bisa bervariasi, misalnya dengan membiasakan siswa untuk ikut berkontribusi pada masyarakat dan belajar dari masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, mengundang berbagai kelompok masyarakat untuk ikut berbagi ke sekolah, atau merancang program khusus yang memungkinkan siswa belajar di lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka. Ketika sekolah meyakini bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah belajar untuk hidup bersama, secara tidak langsung sekolah juga menyiapkan siswa untuk bisa belajar menjadi

Learning to be
 atau belajar menjadi berarti belajar menjadi manusia yang terus menerus berusaha menjadi lebih bermartabat, lebih kritis, lebih toleran, dan terus menjadi lebih baik lagi dalam berbagai aspek. Bagaimana caranya kita belajar menjadi manusia yang terus menerus berusaha menjadi lebih baik? Selain perlu mengalami berbagai pengalaman yang bermakna, kita juga perlu kemampuan untuk berefleksi. Sekolah yang sadar pentingnya tujuan pendidikan untuk 'belajar menjadi' akan menjadikan refleksi bagian dari keseharian sekolah. Di sisi lain, sekolah yang tidak menyadari hal ini akan terus menyibukkan  siswa dengan berbagai hal meskipun hal-hal tersebut belum tentu bermakna siswa.

Perlu diingat ketika tujuan pendidikan adalah agar manusia 'belajar untuk menjadi', bukan berarti bahwa siswa sudah harus sangat bermartabat, sudah harus kritis, dan sudah harus toleran. Bisa jadi siswa baru satu langkah kecil untuk menjadi lebih bermartabat, kritis, ataupun toleran. Bisa jadi mereka akan melakukan banyak kesalahan, mengalami berbagai konflik, ataupun kebingungan. Hal tersebut tidak apa-apa. Sekolah yang menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah 'belajar untuk menjadi' akan menghargai pentingnya berproses, termasuk membuat kesalahan. Semua pengalaman termasuk pengalaman pahit ataupun pengalaman berbuat salah, apabila direfleksikan, bisa menjadi pengalaman berharga.


Itulah refleksi saya mengenai keempat tujuan pendidikan bagaimana implikasinya terhadap praktek pendidikan di sekolah. Bagaimana dengan sekolah anda? Tujuan pendidikan manakah yang lebih dominan? Apa implikasinya bagi praktek pendidikan di sekolah? Maukah anda berbagi cerita?

Oct 6, 2015

Kurikulum Terlalu Berat? Kurikulum Manakah yang Dimaksud?




Beberapa kali saya mendengar ada yang berkata, "Kurikulum (sekarang terlalu) berat." 

Pernyataan-pernyataan seperti ini biasanya saya dengar dari orang tua yang merasa materi yang dipelajari oleh anaknya di sekolah terlalu berat, jauh lebih berat daripada apa yang dipelajarinya semasa muda, dulu. 

Saya sendiri juga beberapa kali menemukan bahwa siswa mempelajari materi yang terlalu berat di sekolah. Misalnya, saya pernah bertemu siswa SD yang diminta oleh gurunya untuk menghafalkan berbagai nama enzim-enzim yang ada dalam tubuh manusia. Halah! Saya juga tidak hafal. Kalau saya jadi siswa SD-nya tentu saya akan menganggap materi tersebut terlalu berat.

Meskipun begitu, saya tidak akan langsung mengatakan bahwa "kurikulum terlalu berat". Kenapa? Karena kurikulum ada berbagai jenisnya. Saat mengatakan "kurikulum terlalu berat", kurikulum manakah yang dimaksud?

Kurikulum memang ada berbagai jenisnya, berdasarkan http://www.sagepub.com/sites/default/files/upm-binaries/44334_1.pdf beberapa jenis kurikulum yakni:

  • Recomended Curriculum (Kurikulum yang Direkomendasikan), adalah kurikulum yang dibuat dan direkomendasikan oleh sekelompok ahli. Biasanya rekomendasi ini bersifat umum, bisa berupa rekomendasi kebijakan, sejumlah tujuan yang sebaiknya dicapai dalam pembelajaran, ataupun rekomendasi lain mengenai konten dan urutan materi dalam bidang tertentu. Sebagai contoh, ada sekelompok ahli matematika yang tergabung dalam National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) dan mereka membuat berbagai panduan dan standar terkait pembelajaran matematika yang bisa digunakan oleh sekolah untuk merancang pembelajaran matematika.  Sekelompok guru sains juga bergabung dalam National Science Teachers Association (NSTA) dan membuat rekomendas-rekomendasi serupa. 
  • Written Curriculum (Kurikulum Tertulis), adalah kurikulum yang memang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan dari suatu sistem pendidikan tertentu bisa tercapai. Jadi, kurikulum tertulis ini memang dirancang untuk sistem pendidikan tertentu. Biasanya kurikulum tertulis ini lebih komprehensif daripada recomended curriculum,  di dalamnya tertulis argumentasi mengenai mengapa kurikulum tersebut penting, tujuan-tujuan umum yang mau dicapai oleh kurikulum tersebut, tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih spesifik yang ingin dicapai, model-model pembelajaran, dan pendekatan yang perlu digunakan. Sebagai contoh, di Indonesia ada dokumen-dokumen kurikulum yang biasanya dirancang oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), misalnya dokumen mengenai  Kurikulum 2006 atau dokumen mengenai kurikulum 2013. Di dalam dokumen tersebut, kita bisa membaca mengenai tujuan pendidikan nasional, pendekatan dan model pembelajaran yang bisa digunakan, dan standar-standar minimal yang perlu dicapai siswa di berbagai tingkat sekolah. Dokumen-dokumen tersebut memang dirancang untuk sistem pendidikan di Indonesia sehingga bisa dijadikan panduan bagi sekolah-sekolah di Indonesia untuk menjalankan proses pembelajaran di institusi mereka masing-masing. Kurikulum tertulis juga bisa dirancang oleh sekolah dan hasilnya berupa dokumen kurikulum yang berlaku di sistem sekolah tersebut. 
  • Supported Curriculum (Kurikulum Pendukung), adalah berbagai bahan yang dirancang untuk mendukung kurikulum tertulis, misalnya berupa buku teks, video, software, dan berbagai bahan. Orang yang merancang kurikulum pendukung seperti buku teks biasanya mengacu pada kurikulum tertulis. Lalu mereka menerjemahkan kurikulum tertulis menjadi bahan-bahan yang lebih detil yang bisa digunakan oleh  guru maupun siswa di sekolah. 
  • Taught Curriculum (Kurikulum yang Diajarkan), adalah kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada siswa. Apa yang guru ajarkan kepada siswa. Apa yang diajarkan ini bisa berbeda dengan kurikulum tertulis dan tentu saja tergantung pada interpretasi guru terhadap kurikulum tertulis tersebut. 
  • Tested curriculum (Kurikulum yang Diujikan), adalah apa yang diujikan kepada siswa, baik dalam ujian sekolah, ujian nasional, dan berbagai tes terstandar lainnya.
  • Learned Curriculum (Kurikulum yang Dipelajari), adalah apa yang sesungguhnya dipelajari dan ditangkap siswa selama masa belajarnya di institusi pendidikan tertentu.
Berbagai jenis kurikulum dalam konteks Indonesia
Di Indonesia sendiri ada kurikulum yang dirancang dan dikeluarkan oleh Puskurbuk. Puskurbuk memang merupakan lembaga resmi negara yang berfungsi untuk mengembangkan (dokumen) kurikulum, dalam hal ini biasanya berupa kurikulum tertulis dan berbagai kurikulum pendukung. Salah satu contoh dokumen yang dikeluarkan oleh Puskurbuk diantaranya dokumen kurikulum 2006 dan 2013 (yang sekarang sedang direvisi). Biasanya di dalam dokumen tersebut ada tujuan (satuan pendidikan), struktur kurikulum, dan berbagai standar minimal yang sebaiknya dicapai siswa di masing-masing tingkat pendidikan.  Contoh dokumen ini, dokumen Kurikulum 2013 yang bisa diakses di sini .

Biasanya dokumen-dokumen ini digunakan oleh penerbit buku,  pengembang software, pengembang alat peraga pembelajaran untuk membuat buku teks, software, ataupun berbagai bahan lainnya yang bisa digunakn oleh sekolah. Ini yang disebut supported curriculum. Tentu saja dalam membuat berbagai bahan ini, terjadi proses interpretasi. Artinya, apa yang ada di kurikulum tertulis (yang dirancang oleh puskurbuk) bisa saja berbeda dengan apa yang ada di dalam buku teks ataupun supported curriculum lainnya.

Sekolah boleh menggunakan buku teks yang dikembangkan oleh penerbit untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Memang di beberapa sekolah, guru sepenuhnya menggunakan buku teks untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.Sebenarnya buku teks yang baik memang bisa membantu guru dalam menerjemahkan kurikulum tertulis yang dikembangkan oleh Puskurbuk, tapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber belajar. Apabila sekolah sepenuhnya menggunakan buku teks sebagai bahan kegiatan belajar mengajar (tanpa menggunakan sumber-sumber lainnya), bisa dikatakan bahwa sekolah menggunakan 'kurikulum buku teks'.

Idealnya, sekolahlah yang mengembangkan kurikulum sendiri.  Sebenarnya Indonesia memang menggunakan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),  yang artinya sekolah boleh dan bahkan seharusnya mengembangkan kurikulumnya sendiri. Kurikulum tertulis yang dibuat oleh Puskurbuk hanya jadi panduan untuk merancang kurikulum sekolah. Sekolah memang harus menginterpretasi kurikulum tertulis yang dikembangkan oleh Puskurbuk dan menyesuaikannya dengan  visi, misi,  kebutuhan dan konteks sekolah. Buku teks bisa jadi referensi tetapi bukan satu-satunya sumber belajar. 

Di kelas, kurikulum yang diajarkan oleh guru kepada siswa disebut taught curriculum. Di Indonesia sendiri, apa yang guru ajarkan ke siswa bisa mengacu pada buku teks (kurikulum buku teks), bisa mengacu pada kurikulum tertulis yang dikembangkan puskurbuk (lalu ditafsirkan dan dikembangkan oleh guru), bisa juga mengacu pada kurikulum sekolah (lalu ditafsirkan dan dikembangkan oleh guru),  merupakan hasil kreasi dari guru sendiri, atau bahkan bisa mengacu pada ujian nasional di mana siswa terus menerus diajak untuk drilling soal  (saya menyebutnya kurikulum ujian nasional).


Jadi, ada banyak jenis kurikulum. Saat ada yang mengatakan "kurikulum (sekarang) terlalu berat, kurikulum manakah yang dimaksud?

Sep 8, 2015

Workshop Penilaian dan Pembelajaran Autentik (Bagian 1)

Beberapa bulan yang lalu, saya menjadi peserta Workshop "Penilaian dan Pembelajaran Autentik" yang diselenggarakan di Sekolah Madania. Kegiatan tersebut diselenggarakan berkat kerja sama Foundation for Excellence in Education (FEE), Alumni Advance Certificate for Teaching and Learning (ACTL), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Jumlah peserta  saat itu ada sekitar 150 orang, sebagian besar merupakan guru. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing  kelompok masuk ke kelas yang berbeda-beda untuk mengikuti workshop yang sama-sama bertema "penilaian dan pembelajaran autentik", namun untuk mata pelajaran yang berbeda-beda.

Sebenarnya awalnya saya mau masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik matematika" tapi kelas tersebut sudah penuh sehingga saya akhirnya masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik IPS dan PKn". Saya tidak menyesal juga karena ternyata sesinya juga sangat menarik.

Di dalam kelas, telah tersedia beberapa meja. Peserta workshop bisa memilih mau duduk di mana, tapi setiap meja maksimal terdiri dari 3 orang. Di meja tempat saya dudul ada dua orang guru. Belakangan, saya belajar bahwa nama mereka Ibu Gaby dan Ibu Yuyun.

Fasilitator pun membuka sesi workshop. Nama fasilitator di kelas saya adalah Ibu Oscarina Dewi Kusuma. Beliau adalah kepala sekolah Sekolah Global Jaya.

Beliau meminta peserta berkenalan dengan teman semejanya. Kami perlu menanyakan nama teman semeja dan 3 hal yang menggambarkan diri mereka. Dari kegiatan tersebut saya belajar bahwa Ibu Gaby adalah guru IPS kelas 4 -5. Ibu Gaby suka pedas, suka anak-anak dan humoris. Ibu Yuyun adalah guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ibu Yuyun suka musik dan menyanyi, ceria, dan suka tersenyum.

Setelahnya, fasilitator meminta masing-masing peserta untuk membagi kertas menjadi tiga bagian (seperti huruf "Y").  Di kertas tersebut, peserta diminta menuliskan pengalaman selama masih menjadi siswa mengenai apa yang diingat ketika mendengar kata "penilaian". Kami diminta menuliskan bagaimana 'kelihatannya', bagaimana 'rasanya', dan bagaimana 'kedengarannya' (lihat gambar di bawah).


Kami diminta berbagi mengenai apa yang kami tuliskan. Setiap peserta punya pengalaman yang berbeda-beda menyangkut penilaian. Banyak yang mengingat bahwa penilaian biasanya terkait ulangan atau ujian. Ada yang merasa penilaian menakutkan dan menegangkan, ada yang merasa biasa saja. Ada yang pernah memiliki pengalaman menyontek saat penilaian ada yang tidak. Dan banyak pengalaman lainnya.

Di bagian depan kelas, fasilitator telah menyiapkan tabel Know, Want to Know, Learned (KWL)

Beliau juga telah menyediakan post-it  di masing-masing meja. Peserta diminta menuliskan apa yang sudah kami ketahui mengenai penilaian autentik di post-it. Setelahnya, kami diminta menempelkan post-it tersebut di bagian "Know" pada tabel KWL. Kami pun berdiskusi mengenai apa yang telah kami ketahui mengenai penilaian autentuk, Beberapa peserta belum pernah mendengar mengenai penilaian autentik sebelumnya. Beberapa mengatakan bahwa penilaian autentik tidak harus berupa tes, tetapi bisa berupa portfolio, karya, dan sebagainya. Saya sendiri mengatakan bahwa penilaian autentik harus bisa mengukur 'tujuan pembelajaran' yang memang ingin dicapai.

Fasilitator menjelaskan bahwa tabel KWL sangat membantu untuk mengetahui apa yang siswa ketahui tentang sebuah topik, apa yang siswa ingin ketahui mengenai topik tersebut. Setelah pembelajaran, siswa mengisi bagian "learned" sehingga kita bisa mengetahui apa yang telah siswa pelajari di akhir pembelajaran.

Bersambung...


Aug 20, 2015

Ini ada potongan tulisan dari bukunya Alex Bellos (2010) yang berjudul
"Here's looking at Euclid: A surprising Excursion through Astonishing World of Math". Kutipannya tentang bagaimana seekor chimpanzee belajar 'matematika' (lihat video di bawah ini)


Cerita ini, membuat saya berefleksi tentang pendidikan. Apakah pendidikan yang kita berikan kepada siswa-siswa kita memang benar-benar pendidikan yang memungkinkan siswa berpikir secara lebih dalam atau 'pendidikan' (atau mungkin lebih bisa disebut pengajaran) yang tidak beda jauh dengan 'pendidikan' yang diberikan pada Ai (chimpanzee yang ada di tulisan di bawah ini). Seperti yang tertulis di dalam tulisan di bawah ini "Even though Ai had learned to manipulate numbers perfectly well, she lacked human depth of understanding."
Semoga pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak (didik) kita tidak seperti itu yah, membuat siswa kita 'lacked human depth of understanding'.
---
"The lesson of Clever Hans was that when teaching animals to count, supreme care must be taken to eliminate involuntary human prompting. For the math education of Ai, a chimpanzee brought to Japan from West Africa in the late 1970s, the chances of human cues were eliminated because she learned using a touch-screen computer.

Ai is now 31 and lives at the Primate Research Institute in Inuyama, a small tourist town in central Japan. Her forehead is high and balding, the hair on her chin is white and she has the dark sunken eyes of ape middle age. She is known there as a “student,” never a “research subject.” Every day Ai attends classes where she is given tasks. She turns up at 9 A.M. on the dot after spending the night outdoors with a group of other chimps on a giant tree-like construction of wood, metal and rope. On the day I saw her, she sat with her head close to a computer, tapping sequences of digits on the screen when they appeared. When she completed a task correctly an 8-millimeter cube of apple whizzed down a tube to her right. Ai caught it in her hand and scoffed it instantly. Her mindless gaze, the nonchalant tapping of a flashing, beeping computer and the mundanity of continual reward reminded me of an old lady doing the slots.

When Ai was a child she became a great ape in both senses of the word by becoming the first nonhuman to count with Arabic numerals. (These are the symbols 1, 2, 3, and so on that are used in almost all countries, except, ironically, in parts of the Arab world.) In order for her to do this satisfactorily, Tetsuro Matsuzawa, director of the Primate Research Institute, needed to teach her the two elements that comprise human understanding of number: quantity and order.

Numbers express an amount, and they also express a position. These two concepts are linked but different. For example, when I refer to “five carrots” I mean that the quantity of carrots in the group is five. Mathematicians call this aspect of number “cardinality.” On the other hand, when I count from 1 to 20 I am using the convenient feature that numbers can be ordered in succession. I am not referring to twenty objects, I am simply reciting a sequence. Mathematicians call this aspect of number “ordinality.” At school we are taught notions of cardinality and ordinality together and we slip effortlessly between them. To chimpanzees, however, the interconnection is not obvious at all.

Matsuzawa first taught Ai that one red pencil refers to the symbol 1 and two red pencils to 2. After 1 and 2, Ai learned 3 and then all the other digits up to 9. When shown, say, the number 5 she could tap a square with five objects, and when shown a square with 5 objects she could tap the digit 5. Her education was reward-driven: whenever she got a computer task correct, a tube by the computer dispensed a piece of food.

Once Ai had mastered the cardinality of the digits from 1 to 9, Matsuzawa introduced tasks to teach her how they were ordered. His tests flashed digits up on the screen and Ai had to tap them in ascending order. If the screen showed 4 and 2, she had to touch 2 and then 4 to win her cube of apple. She grasped this pretty quickly. Ai’s competence in both the cardinality and the ordinality tasks meant that Matsuzawa could reasonably say his student had learned to count. The achievement made her a national hero in Japan and a global icon for her species.

Matsuzawa then introduced to Ai the concept of zero. She picked up the cardinality of the symbol 0 easily. Whenever a square appeared on the screen with nothing in it she would tap the digit. Then Matsuzawa wanted to see if she was able to infer an understanding of the ordinality of zero. Ai was shown a random sequence of screens with two digits, just as when she was learning the ordinality of 1 to 9, although now sometimes one of the digits was a 0. Where did she think zero’s place was in the ordering of numbers?In the first session Ai placed 0 between 6 and 7. In subsequent sessions her positioning of 0 went under 6, then under 5, then under 4 and after a few hundred trials, 0 was down to around 1. She remained confused, however, about whether 0 was more or less than 1. Even though Ai had learned to manipulate numbers perfectly well, she lacked human depth of understanding.

A habit she did learn, however, was showmanship. She is now a total pro, tending to perform better at her computer tasks in front of visitors, especially camera crews."

Jul 27, 2015

Menulis Tentang Bullying dan Menulis untuk Terapi

Sekelompok teman-teman saya sedang membuat kajian komprehensif mengenai bullying di sekolah. Mulai dari teori-teori mengenai bullying, studi komparasi mengenai bullying di negara-negara lain, studi tentang korban-korban yang pernah dibully, studi tentang orang-orang tua yang anaknya di-bully, studi tentang best practices dalam menghadapi bullying, dan sebagainya. Pokoknya lengkap deh dari teori, bukti riil di lapangan, sampai ke solusi. Konteksnya khusus. Konteks di Indonesia.

Salah satu seorang teman yang terlibat di dalam penyusunan buku ini waktu itu meminta saya mencarikan beberapa korban bully yang bersedia berbagi ceritanya untuk studi ini. Saya mengatakan bahwa saya juga merupakan korban bullying.

"Kalau begitu, kamu ikut cerita saja. Ceritakan bagaimana kamu bertahan, dan sekarang kamu sudah jadi pendidik jadi bagaimana kamu memandang itu," katanya pada saya.

Saya tidak pernah menceritakan dengan detil mengenai pengalaman saya kepada siapapun. Tapi saya menyanggupi. Saya merasa cerita saya akan jadi bagian penting dari perubahan wajah pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Saya sadar, bahwa kekerasan, termasuk  bullying di institusi pendidikan harus berhenti secepatnya. Hal tersebut yang membuat saya mau berpartisipasi dalam kajian ini.

Saya lalu menelepon salah satu penanggung jawab kajian ini. Menceritakan bagaimana saya bersedia kasus saya dijadikan bahan studi mengenai bullying  ini. Saya bersedia diwawancara, tapi saya ingin suasanya nyaman karena tidak mudah untuk menceritakan kejadian tersebut. Penanggung jawab kajian ini, seorang psikolog, mengatakan bahwa beliau memahami bahwa pasti berat untuk menceritakan kisah bullying tersebut dan meminta saya untuk menuliskannya saja. Dengan begitu, saya punya ruang lebih untuk berekspresi. Nama saya akan dilindungi, sehingg tidak akan ada yang tahu siapa menulis apa.

Saya akhirnya menulis. Sedetil-detilnya sehingga tulisan saya bisa digunakan dengan lebih mudah oleh peneliti. Saya ceritakan setiap pengalaman yang saya ingat termasuk bagaimana akhirnya, saya bisa menghadapi pengalaman menyakitkan tersebut. Tidak terasa, saat menuliskan mengenai momen ketika saya di-bully saya menangis. Kejadian itu sudah sekitar 20 tahun yang lalu dan saya masih merasa sakit!

Namun, saat menulis, lama-lama saya merasa sangat tenang. Ada yang bilang menulis bisa jadi terapi. Di artikel Writing as Therapy oleh Adrian Furnham (2013) di website   https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201308/writing-therapy, dikatakan bahwa ::
"Kegiatan [menulis untuk terapi] bisa membutuhkan introspeksi serius: sebuah upaya untuk memahami masa lalu. Untuk menyelidiki berbagai sudut pandang daripada mencoba menyalahkan orang lain [atas kejiadian menyakitkan tersebut]."
Di situ juga dituliskan bahwa :

"menulis untuk terapi itu lebih daripada sekadar menulis dengan kalimat-kalimat indah. Itu tentang memilih pengalaman, kejadian, dan orang, yang berpengaruh terhadapp hidup seseorang. Melihat sebab dan akibat, memahami proses psikologis sehingga memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri.  [Menulis untuk terapi] membuat hal-hal yang tidak erlihat menjadi jelas: pola bisa ditemukan dan jawaban terhadap [pertanyaan yang menimbulkan rasa sakit] menjadi jelas."

Ketika menuliskan pengalaman di-bully  saya bebaskan diri saya untuk menulis sejujur-jujurnya (kalau saya tidak jujur, kasihan penelitinya). Ternyata, saya menulis berlembar-lembar halaman. Tulisan saya yang tadinya hanya saya tujukan untuk menjadi bahan kajian sebuah penelitian ternyata juga bermanfaat bagi diri saya sendiri. Saya merasa sangat tenang, saya bisa memahami masa lalu saya dengan lebih jelas, dan semuanya jadi terasa masuk akal. Menulis memang powerful, bukan hanya untuk berbagi pikiran tetapi juga untuk memahami pikiran dan perasaan diri sendiri, baik di masa lampau maupun masa kini.

PS: Kalau ada yang mau ikut berbagi tulisan mengenai pengalamannya di-bully untuk keperluan kajian ini, silakan kontak saya melalui puti[at]igi[dot]or[dot]id . Saya akan membantu  menghubungkan anda dengan peneliti.

Jul 13, 2015

PPDB di Kota Bandung dan Pendidikan Komprehensif untuk Semua


Rabu (08/07/2015) puluhan orang tua mendatangi Balai Kota Bandung (Kompas.Com, 08/07/2015). Orang tua-orang tua ini merasa sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ngaco. Tahun ini, PPDB Kota Bandung memang agak berbeda dari sebelumnya. Kalau biasanya PPDB untuk masuk sekolah negeri (khususnya di tingkat SMP dan SMA) biasanya lebih ditentukan oleh prestasi akademis siswa. Kali ini, justru siswa (miskin) yang tinggal di sekitar lokasi sekolah lebih diutamakan untuk masuk sekolah negeri. Siswa ini bisa masuk ke sekolah negeri tanpa mempertimbangkan prestasi akademik mereka. Apabila program ini dijalankan dengan baik, lebih dari 20% siswa miskin bisa masuk ke sekolah negeri terlepas dari apapun perstasi akademik mereka.

Beberapa orang tua merasa bahwa sistem ini tidak adil. Mereka merasa bahwa anaknya “pintar” tapi justru tidak diterima di sekolah negeri. Menurut mereka tak ada salahnya menerima siswa miskin di sekolah negeri, tapi yang harus diutamakan adalah siswa miskin yang berprestasi. Yang lebih membuat  para orang tua ini lebih marah adalah karena ternyata beberapa orang tua dari keluarga mampu membuat Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM) palsu sehingga anaknya bisa diterima di sekolah negeri melelui jalur non-akademis. Akibatnya, beberapa orang tua berdemonstrasi dengan membawa berbagai spanduk, diantaranya bertuliskan “Sekolah Negeri Bandung Penuh Siswa Bodoh dan Orang Tua Tidak Jujur. Nasib Siswa Pintar Tersisih oleh Siswa Bodoh”.  

Filosofi Sekolah Negeri
Sekolah negeri adalah sekolah yang dibiayai oleh negara untuk mendidik seluruh warga negara Indonesia. Dengan kata lain, sekolah negeri dibiayai oleh pajak semua warga negara. Sebagai konsekuensinya, siapapun, asalkan merupakan warga negara Indonesia (atau tinggal di Indonesia) berhak memasuki sekolah negeri, bahkan semestinya secara gratis (tidak boleh ada pungutan apapun).
Pendirian sekolah-sekolah negeri seharusnya menjadi upaya untuk memenuhi hak pendidikan setiap warga negara, tidak peduli apapun latar belakang sosial-ekonominya. Sekolah negeri seharusnya menjadi tempat warga negara dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial, dan kemampuan akademis berkumpul dan berbaur untuk belajar bersama dan belajar dari satu sama lain.  Di sekolah negerilah, siswa bisa belajar berbaur dengan orang-orang dari agama yang berbeda, dari latar belakang etnis yang berbeda sebagai upaya untuk menjadi orang Indonesia yang menghayati Bhineka Tunggal Ika. Maka, sekolah negeri tak boleh lagi merupakan sekolah selektif. Siapapun, asal merupakan warga negara Indonesia, harus bisa terakses dengan sekolah negeri.  

Program Wajib Belajar dan Sekolah Negeri Yang Komprehensif
Biasanya, ketika sebuah negara menerapkan program Wajib Belajar (Compulsory Education), maka negara tersebut harus menyediakan layanan pendidikan yang gratis dan terjangkau, khususnya di tingkat pendidikan di mana sistem wajib belajar diterapkan. Biasanya, mereka melakukannya dengan menyediakan sekolah negeri yang komprehensif dan gratis. Sekolah komprehensif adalah sekolah yang tidak menyeleksi siswa berdasarkan kemampuan akademisnya. Biasanya yang lebih jadi pertimbangan adalah kedekatan rumah siswa terhadap sekolah. Tentu, untuk bisa menyediakan sekolah negeri komperhensif maka jumlah sekolah negeri harus memadai jumlahnya. Sekolah komprehensif didasari oleh paradigma bahwa setiap anak pada dasarnya bisa dididik (educable) menjadi lebih baik apabila mereka memang terakses pada pendidikan yang berkualitas. Selain itu, pendidikan komprehensif didasari pada pandangan bahwa pendidikan merupakan hak asasi setiap manusia, bukan hanya hak mereka yang sudah “pintar” saja.    

Indonesia memang unik, meskipun sudah menerapkan wajib belajar 9 tahun sejak tahun 1994, namun sekolah-sekolah negerinya belum beralih menjadi sekolah komprehensif. Banyak sekali sekolah negeri termasuk di tingkat SMP (yang termasuk dalam program wajib belajar) yang merupakan sekolah selektif, yang hanya menerima siswa yang punya prestasi akademis yang baik. Hal ini menunjukkan adanya paradigma bahwa yang berhak sekolah di sekolah negeri hanya siswa-siswa yang dianggap sudah pintar. Padahal, siswa-siswa yang belum menunjukkan prestasi pun punya hak untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, jika siswa yang belum berprestasi memang diberikan akses untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, mereka punya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri menjadi lebih baik. Siswa yang belum berprestasi bukanlah siswa bodoh. Mereka bisa menjadi cerdas apabila diberi kesempatan untuk merasakan pendidikan berkualitas. Apakah hak tersebut memang kita berikan?

PPDB Kota Bandung dan Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan
PPDB Kota Bandung kali ini memang belum sempurna. Penggunaan SKTM sebagai syarat mendaftar sekolah negeri, yang diniatkan untuk memenuhi hak atas pendidikan warga yang paling membutuhkan, justru menjadi kontroversi. Penggunaan SKTM untuk PPDB mungkin kurang tepat. Sebagian orang tua yang mampu secara ekonomi memalsukan SKTM  agar diterima di sekolah negeri. Di sisi lain, beberapa siswa miskin merasa malu karena harus menunjukkan kemiskinannya melalui SKTM agar bisa diterima di sekolah negeri. Perlu dipikirkan caranya agar pemenuhan hak akan pendidikan semua warga, khususnya yang paling membutuhkan, bisa dilakukan secara lebih adil dan manusiawi. 

Namun, sebenarnya dalam hal ini pemerintah kota Bandung sedang bergerak ke arah yang benar. PPDB Bandung merupakan upaya untuk  berusaha bertransformasi agar sekolah negeri di kota Bandung tidak hanya bisa diakses oleh siswa yang nilai akademisnya tinggi, namun justru menjadi sekolah komprehensif, yang bisa diakses oleh semua warga negara. Usaha agar Bandung mengarah pada penyediaan sekolah komprehensif sebagai bentuk pemenuhan hak warga akan pendidikan perlu didukung dan diapresiasi. Bahkan, suatu hari nanti, seluruh Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama. Indonesia perlu menjadi negara yang mampu menyediakan sekolah komprehensif (dan berkualitas) bagi seluruh warga negaranya.

Tentu agar Indonesia bisa mengarah ke pemenuhan sekolah komprehensif untuk semua warganya, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Pertama, jumlah sekolah (negeri) yang gratis dan berkualitas perlu diperbanyak. Hal ini bukanlah hal yang mudah, apalagi apabila ada keterbatasan dana untuk melakukan ini. Apa yang dilakukan oleh (Gubernur) Ali Sadikin di Jakarta pada tahun 60-an dan 70-an mungkin bisa diadopsi (meskipun mungkin masih perlu dimodifikasi), yakni dengan bekerja sama dengan pihak swasta yang memiliki tanah atau bangunan kosong untuk menyediakan sekolah negeri. Dengan cara ini, "pada tahun 1967 - 1969, Pak Ali Sadikin pun membangun banyak 124 SD Negeri baru, 13 Sekolah Lanjutan baru. Tahun 1969 - 1974 dia membangun 230 SD baru dan 95 Sekolah Lanjutan baru. Pada tahun 1974 - 1976, dia membangun 52 SD baru dan 180 sekolah lanjutan baru” (Sadikin, 1997).

Itu baru dalam hal jumlah. Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah merupakan hal yang jauh lebih kompleks lagi. Sekolah berkualitas bukanlah sekolah yang hanya memilih siswa-siswa yang telah menunjukkan prestasi akademis. Namun, sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang mampu memberikan kesempatan bagi semua siswa untuk berkembang baik kemampuan akademisnya, maupun karakternya. Perlu ada upaya serius, sehingga semua pihak baik sekolah, masyarakat, dan media bisa bekerja sama untuk bersama-sama menjadikan sekolah menjadi lembaga pendidikan yang lebih berkualitas.


Kedua, perlu dilakukan upaya untuk membangun kesadaran semua stakeholder di bidang pendidikan bahwa pendidikan adalah hak semua warga negara. Pendidikan yang komprehensif hanya bisa dijalankan ketika semua pihak menyadari  hal ini. Semua pihak harus mulai disadarkan untuk memperjuangkan lebih dari sekadar hak pendidikan anaknya sendiri -- atau bagi pendidik lebih daripada sekedar hak pendidikan siswa-siswanya sendiri. Pada akhirnya, semua akan mulai memperjuangkan hak pendidikan semua warga negara Indonesia dengan memastikan adanya pendidikan komprehensif untuk semua.

Jul 11, 2015

Wajib Belajar 12 Tahun, Hak Akan Pendidikan, dan Sekolah Komprehensif


 Semenjak tahun 1994, Indonesia menerapkan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun. Namun, akan terjadi perubahan dalam waktu dekat. ‘Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai rintisan Wajib Belajar atau Wajar 12 tahun pada 2016’ (ANTARA News, 23/06/2015)[1]. Wajar adalah ‘program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah’ (Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2008). 

Ketika Pemerintah Indonesia berani menyelenggarakan Wajar, maka pemerintah harus berkomitmen untuk menyediakan layanan pendidikan yang memadai sehingga memungkinkan semua warga negara bisa mengakses pendidikan yang disyaratkan dalam program Wajar. Sebagai contoh, apabila pemerintah menerapkan Wajar 9 tahun yang mewajibkan siswa mengikuti pendidikan dari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP maka pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan khususnya pendidikan setingkat SD sampai SMP. Layanan pendidikan ini harus bisa diakses secara mudah oleh setiap warga negara, khususnya di usia belajar tersebut. Sebagai konsekuensinya, apabila pemerintah jadi mencanangkan Wajar 12 tahun, tentu saja pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA bagi setiap warga negara.

Namun, menyelenggarakan pendidikan saja tidak cukup. Pemerintah juga harus menjamin, bahwa gap kualitas antar layanan pendidikan harus sekecil mungkin. Apabila gap kualitas antara layanan pendidikan terlalu besar, sebenarnya program Wajar tidak terlalu bermakna. Yang terjadi, sebagian warga negara memperoleh pendidikan yang berkualitas, yakni pendidikan yang menantang mereka untuk berpikir, berkarya, berkolaborasi dan menyiapkan mereka untuk masa depan yang cerah. Di sisi lain, warga negara lain memperoleh pendidikan seadanya saja atau bahkan bisa jadi tidak berkualitas sama sekali. Pendidikan yang bisa jadi tidak relevan sama sekali untuk masa depan mereka. Menerapkan Wajar berarti memastikan  bahwa semua warga negara bisa punya kesempatan yang  sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Wajib Belajar dan Compulsory Education
Compulsory’  berarti ‘wajib’ dan ‘education’ berarti ‘pendidikan’. Jadi Compulsory Education  berarti Pendidikan yang Wajib. Program Wajib Belajar sebenarnya mirip atau bahkan seharusnya tidak jauh berbeda dengan Program Compulsory Education. Baik Program Compulsory Education maupun Program Wajib Belajar sama-sama mewajibkan warga negara untuk mengikuti pendidikan tertentu dan negara wajib menyediakan layanan pendidikan tersebut.

Setiap negara punya kebijakan-kebijakan yang berbeda terkait program Compulsory Education­-nyaSingapura, misalnya, mewajibkan warga negara Singapura (atau warga negara asing yang menetap di Singapura) yang berusia 6 tahun untuk mulai mengikuti pendidikan setingkat SD (The CompulsoryEducation Act Chapter 51, 2000). Di Swedia berbeda lagi, compulsory education  dibagi menjadi tiga bagian  l√•gstadiet (kelas 1–3), mellanstadiet (kelas 4–6) dan then h√∂gstadiet (kelas 7–9). [2].
  
Namun, semua negara yang menerapkan Program Compulsory Education biasanya berkomitmen untuk menyediakan layanan pendidikan yang gratis (atau setidaknya terjangkau) bagi warga negaranya, khususnya untuk tingkat pendidikan yang masuk dalam Program Compulsory Education.

Penerapan program semacam Compulsory Education didasari pada suatu paradigma tertentu. Yakni, bahwa pendidikan merupakan hak setiap manusia. Menurut UNICEF/UNESCO (2007)[3] Setiap manusia memiliki (1) Hak untuk mengakses pendidikan. Hal ini berarti bahwa harus dipastikan bahwa layanan pendidikan harus tersedia dan terakses bagi siapapun. Selain itu, perlu dipastikan adanya kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan (equality of opportunity); (2) Hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Hal ini berarti bahwa setiap manusia berhak berada di dalam lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, ramah (anak), dan sehat ; (3) Hak untuk dihargai di lingkungan pendidikan. Hal ini berarti bahwa khususnya di lingkungan pendidikan, setiap manusia berhak dihargai hak-haknya termasuk identitasnya (agamanya, sukunya, dan latar belakangnya).  

Wajib Belajar dan Peralihan dari Sekolah Selektif ke Sekolah Komprehensif
Paradigma bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia memberikan konsekuensi terhadap penerapan Wajib Belajar. Layanan pendidikan yang disediakan negara untuk pelaksanaan program Wajar (biasanya berupa sekolah negeri) tidak boleh lagi bersifat selektif. Sekolah selektif harus beralih menjadi sekolah komprehensif.

Sekolah selektif adalah sekolah yang menyeleksi siswa berdasarkan tingkat kemampuan akademik mereka. Untuk kasus Indonesia, contoh-contoh sekolah selektif adalah sekolah yang menyeleksi siswa berdasarkan nilai ujian nasional, atau tes masuk. Hanya siswa yang kemampuan akademiknya terbilang tinggi yang punya kesempatan lebih besar untuk bersekolah di sekolah-sekolah tersebut. Di sisi lain sekolah komprwhensif adalah sekolah-sekolah yang tidak menyeleksi siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. Setiap warga negara punya kesempatan yang sama untuk memasuki sekolah-sekolah komprehensif. Sekolah komprehensif didasarkan pada paradigma bahwa pendidikan adalah hak.

Biasanya, ketika sebuah negara menerapkan Program Compulsory Education maka pemerintah menyediakan layanan pendidikan untuk memastikan program tersebut berjalan. Sekolah negeri (publik)  biasanya adalah sekolah komprehensif, bukan sekolah selektif. 

Sebagai contoh Skotlandia mulai beralih pada Compulsory Education pada tahun 1960-an dan 1970-an. Sejak itu, model persekolahan yang sifatnya selektif diganti menjadi sekolah komprehensif (tidak lagi selektif) Tahun 1981, Skotlandia baru secara resmi menetapkan hukum terkait Compulsory Education dalam bentuk undang-undang (1981 Education (Scotland) Act). Setahun kemudian (tahun 1982), 95% siswa di Skotlandia mengikuti pendidikan komprehensif (Willms, 1997)[4].

Di Indonesia, hal tersebut tidak terjadi. Setelah penerapan Wajib Belajar 9 tahun secara resmi oleh pemerintah Indonesia di tahun 1994, bahkan sampai sekarang, masih bisa ditemukan SMP negeri yang sifatnya selektif. Siswa-siswa yang kemampuannya akademiknya kurang, tidak bisa terakses dengan sekolah-sekolah tersebut. Padahal, salah satu tujuan didirikan sekolah negeri seharusnya adalah untuk menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi mereka yang kemampuan akademisnya kurang. Ketika mendapatkan layanan pendidikan yang memadai,  siswa yang kemampuan akademisnya kurang pun bisa berkembang menjadi lebih baik.

Wajar 12 Tahun atau 9 Tahun?
Sebenarnya tidak masalah apakah Indonesia  menerapkan  Wajar 12 tahun ataupun 9 tahun. Yang lebih penting adalah bahwa program Wajar tersebut diterapkan dengan sungguh-sungguh. Pertama, layanan pendidikan untuk menjalankan program tersebut harus tersedia dan terakses oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali. Kedua, kualitas layanan pendidikan harus baik, khususnya di mana diterapakan Wajar. Kualitas pendidikan yang baik berarti memungkinkan peserta didik bisa berkembang baik secara intelektual maupun spiritual. Ketiga, penerapan Wajar harus diikuti dengan perubahan paradigma bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Berkomitmen menjalankan wajar berarti berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap warga negara apapun latar belakang sosial-ekonomi, agama, maupun kemampuan akademisnya dapat terakses pendidikan berkualitas. Sekolah negeri, yang merupakan ‘agen-agen penerapan program Wajar’ harus mulai beralih menjadi sekolah komprehensif. Sekolah negeri setingkat SMP (Wajar 9 tahun), atau sekolah negeri setingkat SMA (Wajar 12 tahun)  tidak boleh menolak siswa karena latar belakang sosial-ekonominya (termasuk tidak mampu membayar uang sekolah), agamanya, maupun kemampuan akademisnya. Apakah pemerintah siap untuk melaksanakan ini?
.

Sumber: 

[1] (Ghofar, M). Kemendikbud: Wajib Belajar 12 Tahun dimulai 2016. ANTARANEWS (26/06/2015)
http://www.antaranews.com/berita/503076/kemendikbud-wajib-belajar-12-tahun-dimulai-2016

[2] Education in Sweden https://sweden.se/society/education-in-sweden/ 

[3] UNICEF/UNESCO (2007). A Human-Rights Based Approach to Education. http://www.unicef.org/publications/files/A_Human_Rights_Based_Approach_to_Education_for_All.pdf

[4] Willms, J. D. (1997). Parental choice and education policy. Edinburgh: Centre for Educational Sociology, University of Edinburgh. http://www.ces.ed.ac.uk/PDF%20Files/Brief012.pdf

May 19, 2015

Ngobrol (Lagi) dengan Kang Dan Satriana

Sudah lama saya tidak ketemu dengan Kang Dan Satriana. Dua minggu lalu saya sempat menghubungi beliau, "Kang bakal ada orang di Kalyanamandira gak hari Minggu? Saya mau main ke sana".


Kalyanamandira adalah salah satu komunitas tempat Kang Dan berkegiatan. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang komunitas ini, silakan lihat --> https://kalyanamandira.wordpress.com/  Lokasinya di Buah Batu, Bandung. Waktu mahasiswa dan bahkan sampai sekarang, saya sesekali mampir ke sana untuk ngobrol dengan teman-teman Kalyanamandira. 

Akhir pekan kemarin, saat saya ke Bandung. Saya pun menghubungi Kang Dan lagi. Kang Dan mengatakan bahwa beliau habis bersepeda di daerah Dago dan mengajak ketemuan di suatu kedai kopi di Jalan Hasanudin. Akhirnya, bisa juga bertemu dengan Kang Dan. Mbak Danti, yang rumahnya saya tumpangi selama di Bandung pun ikut serta. Jadilah, kami ngobrol bertiga.

Rasanya senang sekali bertemu dengan teman lama seperti Kang Dan. Saya mengenal Kang Dan sejak 2003. Waktu itu sahabat saya Lely Fitriani dan saya merupkan tutor matematika di sebuah Komunitas Pendidikan Alternatif bernama Komunitas Taboo (dikelola oleh Kang Rahmat Jabaril).

Suatu malam, saat kegiatan belajar matematika di Komunitas Taboo,  Kang Dan beserta  teman-teman Kalyanamandira datang  berkunjung ke Komunitas Taboo. Ceritanya mau studi banding, melihat apa kegiatan kami. Kami pun (Lely & saya) mengadakan kunjungan balasan ke Kalyanamandira. Mereka mengajak kami mengamati kegiatan belajar mengajar  bagi anak-anak yang  ada di Rumah Tahanan di Jalan Jakarta. Pernah juga kami diajak mengunjungi kegiatan belajar-mengajar yang mereka selenggarakan di sebuah daerah di pinggir rel kereta api (saya lupa nama daerhanya). Sejak itulah saya mulai menjalin persahabatan dengan teman-teman Kalyanamandiri.

Tahun 2007, Mts. tempat saya mengajar sebagai guru honorer bubar. Saat itu tersisa 11 orang siswa. 10 orang siswa kelas 9 dan 1 orang siswa kelas 8. Dari 10 orang siswa, hanya 2 yang lulus UN dan 8 tidak (cerita lengkapnya silakan lihat http://bit.ly/1EYHnOP yang juga dimuat di Buku Hitam UN). Waktu itu, siswa-siswa saya hampir saja putus sekolah. Teman-teman Kalyanamandira, khususnya Kang Dan  membantu kami, para guru, untuk mengurus proses advokasi agar siswa-siswa saya bisa mengikuti kejar paket B dan kemudian bisa melanjutkan sekolah baik ke SMA ataupun SMK.

Namanya ketemu teman lama, rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Kata-kata mengalir begitu saja dari mulut saya. Saya ceritakan tentang apa yang terjadi setelah 2007. Sekolah tempat saya mengajar tersebut bubar, lalu bersama beberapa guru  kami mendirikan Rumah Mentari. 

Rumah Mentari adalah lembaga pendidikan non-formal di Kampung Sekepicung, Bandung. Sebagian besar kegiatan Rumah Mentari diselenggarakan di di rumah Pak Lala dan Bu Dewi. Mereka dulu merupakan guru di sekolah yang saya ceritakan di atas. Dengan sukarela mereka menyediakan rumahnya untuk jadi tempat berkegiatan. Awalnya, rumah mentari adalah "sekolah darurat" bagi anak-anak yang belum selesai terurus di sekolah, tempat kami mengajar. Selain ke 8-siswa yang saat itu belum lulus UN, kami juga mengurus 6 orang siswa yang terlanjur mendaftar ke sekolah (yang akhirnya bubar tersebut).

Ada banyak hal yang terjadi setelah 2007. Beberapa siswa kami yang dulu seusia SMP telah tumbuh dewasa. Beberapa berhasil menyelesaikan sekolah setingkat SMK dan beberapa tidak. Beberapa sudah bekerja dan menikah, bahkan memiliki anak. Ada juga yang kembali ke Rumah Mentari untuk mengajar anak-anak yang lebih kecil di hari Minggu.  Pokoknya banyak hal yang terjadi.

Dulu hanya ada 6 anak yang belajar di Rumah Mentari, kini ada lebih dari 100 anak yang ikut belajar di sana. Kegiatannya pun mulai lebih bervariasi. Selain program untuk anak, ada juga kegiatan untuk remaja, pemuda, dan ibu-ibu, bahkan guru PAUD atau TK. Setiap hari Minggu setidaknya ada belasan (dan kadang sampai seratus) anak datang ke rumah mentari untuk belajar bersama beberapa kakak relawan, baik belajar matematika, membaca, menggambar, menyanyi, bermain drama, memasak, dan sebagainya. Yang mengajar, beberapa adalah anak-anak didik yang dulu belajar di mentari pada tahun 2007 tapi ada juga relawan yang merupakan mahasiswa. 

Di hari Sabtu, saya bergantian dengan kakak-kakak yang lain mengajar remaja (SMP dan SMA) belajar bahasa Inggris. Meski hanya 6 - 8 orang yang rutin belajar, mereka sangat rajin. Kata saya pada Kang Dan, "Saya sekarang jarang memegang kelas anak-anak, lebih banyak mengurus remaja. remaja-remaja inilah yang sekarang mengajar anak-anak yang lebih kecil."

Saya juga menceritakan hal-hal kecil yang menyenangkan lainnya, "Pernah suatu waktu saya mengajarkan sebuah lagu pada anak-anak remaja yang belajar bahasa Inggri. Di hari tersebut ada seorang guru PAUD yang sedang berkunjung. Guru tersebut tidak ikut belajar secara langsung di dalam kelas, tapi ikut mencatat lirik lagu. Katanya dia mau menggunakan lagu tersebut di dalam kelas."

Kini, beberapa pemuda di Kampung Sekepicung yang bergabung dalam komunitas Paser (lihat : http://berbagiceritaceritaseru.blogspot.com/2015/04/kerjabakti-menanam-pisang-di-balik-cafe.html ) sempat membuat kolam ikan untuk mengembang biakkan ikan dan menanam pisang. Beberapa pemuda yang tadinya menganggur, kini bergantian bekerja sama mengurus kolam ikan. Mereka juga sedang mengembangkan koperasi (meskipun masih dalam proses pengembangan). 

Meskipun, ada banyak hal yang menyenangkan terjadi di Rumah Mentari dan Kampung Sekepicung, sebenarnya ada juga banyak masalah. Kampung tersebut terletak persis di belakang lapangan Golf Dago. Letaknya tidak jauh dari kota. Paling butuh 15 menit untuk jalan kaki ke terminal dago. Kampung tersebut dikelilingi berbagai kafe dan hotel.Kebanyakan yang bekerja di kafe dan hotel di sekitar adalah pendatang, meskipun ada juga warga yang bekerja di sana. Pengangguran masih banyak, dan kalaupun mereka mau bekerja, mereka disyaratkan harus mengantongi ijazah yang setara dengan SMA, misalnya melalui kejar paket C . 

Sebagai akhirnya, beberapa warga datang ke rumah Mentari meminta dicarikan cara untuk mengikuti kejar paket C. Karena punya pengalaman mengurus kejar paket dan ternyata kami diminta membayar (misalnya untuk kejar paket B sebesar Rp 250.000,- per siswa), maka salah satu pengurus rumah mentari berinisiatif mengdaftarkan kejar paket melalui institusi di kabupaten Bandung. Dulu kami mengurus kejar paket di kotamadya. Ternyata sama saja, tetap saja ada pungutannya. Lebih mahal lagi.

Kang Dan tertawa-tawa melihat ekspresi saya saat saya mengatakan, "Lebih mahal lagi!"

Selain itu, ada berbagai isu lain, misalnya pernah kami temui, di sebuah sekolah dasar di daerah sana, setengah kelas dari siswa kelas 3 SD masih kesulitan membaca. Seorang relawan, yang juga merupakan psikolog sempat melakukan penelitian di sana dan juga membuat semacam pelatihan sehingga guru-gurunya punya kesadaran bahwa beberapa siswanya punya learning difficulties (atau kadang disebut learning disabilities) dan perlu treatment khusus.

Selain isu pendidikan dan pengangguran, juga ada isu kesehatan. Meskipun di sekitar ada a puskesmas dan bidan, tetap saja bila ada warga yang butuh melahirkan (misalnya, secara caesar), atau mengalami kecelakaan, kadang masyarakan kesulitan mengakses layanan kesehatan. Kadang birokrasi yang harus diurus begitu panjang, padahal masyarakat butuh pelayanan kesehatan segera (tidak bisa menunggu proses birokrasi yang panjang). Juga, pernah ada masa di mana angka kematian bayi (yang baru lahir) cukup tinggi. Hal ini membuat saya  sangat berharap ada warga sana yang melanjutkan studi di bidang kesehatan dan suatu hari kembali lagi ke kampung sehingga setidaknya ada yang bisa mendampingi warga di bidang kesehatan. Selain itu, masalah pendidikan, pengangguran, kesehatan, juga ada masalah akses terhadap air. Beberapa sumber mata air yang tadinya bisa diakses warga, kini tidak bisa lagi karena tanah yang ada mata airnya sudah dibeli oleh pihak tertentu. 

Begitu banyak yang terjadi di sana, sampai-sampai Pak Lala dan Bu Dewi sangat terbiasa rumahnya diketuk di tengah malam, misalnya untuk mengurus warga yang melahirkan, kecelakaan, dan lain-lain. Pokoknya, tidak habis-habis.  Kondisi yang kompleks seperti ini, membuat saya selalu bertanya-tanya, "Untuk apa ada sekolah? Pendidikan semacam apa yang bisa lebih bermakna buat masyarakat dalam konteks semacam ini?"

Saya ceritakan pada Kang Dan bahwa saya dibantu oleh beberapa teman-teman di Rumah Mentari sedang menuliskan sejarah rumah mentari. Apa yang kami kerjakan selama hampir 8 tahun ada yang berhasil ada yang tidak. Menuliskan apa yang terjadi selama 8 tahun ini, kami rasakan penting, Meskipun hanya sebuah kasus, setidaknya tulisan tersebut  bisa menjadi bahan refleksi untuk memahami kondisi pendidikan di Indonesia. Seperti biasanya, Kang Dan selalu suportif. Katanya, "Tulis saja! Mumpung emosinya lagi meluap-luap!"

Kami pun mengobrol tentang banyak hal lain. Kang Dan menceritakan tentang aktivitasnya kini. Beliau sekarang merupakan Ketua Komisi Informasi Jawa Barat. Hal yang diperjuangkan Kang Dan diantaranya mengenai transparansi informasi publik, partisipasi publik dalam pendidikan, dan perbaikan pelayanan publik, khsususnya di bidang pendidikan. Beliau juga ikut mengawasi Penerimaan Siswa Baru di sekolah, dan juga ikut mengusulkan bagaimana standar pelayanan minimum pendidikan, khususnya di Jawa Barat bisa diperbaiki. 

"The devils are in the details," kata Kang Dan. Maksudnya, banyak orang mau membicarakan tentang gagasan-gagasan besar, tapi tidak mau mengurus detil yang memungkinkan terwujudnya gagasan-gagasan tersebut.

Kami lalu mengobrolkan tentang berbagai komunitas-komunitas pendidikan di Jakarta dan Bandung dan tentang pentingnya berjejaring dengan berbagai pihak yang juga bergerak di bidang pendidikan. Kami sepakat bukan waktunya lagi bekerja sendiri-sendiri, aktif dengan komunitasnya sendiri. Kita harus mulai bisa berjejaring dengan siapapun yang punya concern  di bidang pendidikan, meskipun dalam beberapa hal kita bisa punya pemikiran yang berbeda.  Meskipun berbeda pemikiran (atau bahkan ideologi), tetap saja mungkin ada hal-hal yang bisa dikerjakan bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Mbak Danti juga turut andil membuat diskusi semakin seru. Mbak Danti sedang bersemangat  karena beliau baru saja selesai mengajak siswa-siswinya (SMP) backpacking ke Jawa tengah untuk melakukan riset tentang akulturasi budaya, khsusnya di pulau Jawa. Hasil akhirnya berupa buku berisi catatan perjalanan dan juga  hasil riset siswa tentang akulturasi budaya di pulau Jawa. Kini, bukunya sedang dalam proses editing  (dan akan dicetak). Mbak Danti menceritakan prosesnya pada kami.

Itu membuat kami membahas tentang program-program semacam live in yang sering diterapkan di beberapa sekolah. Program live in pada dasarnya bagus karena bertujuan menempatkan siswa dalam konteks yang berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Namun, alangkah baiknya apabila sebelum melakukan live in, siswa dibekali dengan berbagai keterampilan sehingga proses live in bisa menjadi lebih bermakna, Sebagai contoh, sebuah sekolah bertahun-tahun mempraktekkan live in di mana siswa tinggal di rumah orang yang berbeda latar belakang (sosial ataupun agama). Namun, kadang pengalaman ini bisa lewat begitu saja hanya jadi seperti acara liburan saja. Siswa misalnya, bisa tinggal di rumah orang lain tetap asyik dengan gadget-nya. Yang punya rumah, bisa saja segan menegur dan sampai pulang siswa tidak sadar bahwa sikapnya tidak semestinya. Akibatnya, program live in jadi seperti liburan saja.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum masuk ke lingkungan baru?  Bagaimana melakukan observasi? Bagaimana caranya bersikap reflektif? Siswa perlu diajak memikirkan hal-hal terseut sehingga ketika live in, program tersebut bisa lebih bermakna.

Sekitar 3 jam lamanya kami mengobrol. Banyak sekali yang kami bicarakan. Selain hal-hal di atas, kami juga banyak bercanda dan tertawa-tawa. Rasanya senang sekali bertemu kembali dengan kawan lama. Terima kasih yah Pak Dan dan Mbak Dan untuk pertemuannya yang menyenangkan! Kapan-kapan, kita mesti ngobrol lagi!

May 18, 2015

Refleksi tentang Pendidikan Sebagai Hak

Setiap Senin pagi, tukang koran akan mengantarkan koran Media Indonesia ke depan pintu tempat tinggalku. Setiap Senin, di Media Indonesia ada satu halaman penuh yang berisi opini tentang Pendidikan. Pagi ini,  ketika saya membuka koran Media Indonesia, saya menemukan berita ini :


Berita lengkapnya bisa dibaca di --> http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/11494/Ujian-SD-Syarat-Masuk-SMP/2015/05/18

Berita ini menyiratkan bahwa ujian nasional (atau ujian sejenisnya) tetap penting meskipun bukan sebagai penentu kelulusan. Kalau hasil ujian SD seorang siswa baik, maka mereka berhak masuk ke sekolah-sekolah tertentu. Pilihan mereka dalam memilih jenis pendidikan lebih luas daripada siswa yang nilai ujian sekolahnya rendah. Kalau hasil ujian SD seorang siswa kurang baik, maka mereka hanya punya pilihan sedikit dalam menentukan ke mana mereka mau melanjutkan pendidikan. Apabila pelaku pendidikan mempercayai sistem yang semacam ini, artinya mereka belum memandang bahwa pendidikan (yang berkualitas) adalah hak setiap anak, baik yang nilai ujiannya rendah maupun tinggi.

Saya jadi teringat sebuah puisi yang saya temukan di dokumen "A Human Rights-Based Approach to Education" yang diterbitkan oleh UNICEF/UNESCO (2007). Begini puisinya  :

My right to learn By Robert Prouty

I do not have to earn The right to learn. It’s mine. And if because Of faulty laws And errors of design, And far too many places where Still far too many people do not care – If because of all these things, and more, For me, the classroom door, With someone who can teach, Is still beyond my reach, Still out of sight, Those wrongs do not remove my right. So here I am. I too Am one of you And by God’s grace, And yours, I’ll fi nd my place. We haven’t met. You do not know me yet And so You don’t yet know That there is much that I can give you in return. The future is my name And all I claim Is this: my right to learn.


Puisi tersebut intinya menggambarkan bahwa pendidikan adalah hak. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Setiap anak berhak memilih bentuk pendidikan apa yang terbaik baginya. Sayangnya, kebijakan-kebijakan pendidikan yang ada di negeri ini, misalnya adanya sistem seleksi untuk masuk sekolah negeri. Sekolah negeri pada dasarnya seharusnya didirikan untuk setiap warga negara. Siapapun warga negara Indonesia seharusnya boleh bersekolah di sekolah-sekolah negeri tanpa mengikuti sistem seleksi. Sekolah negeri seharusnya merupakan tempat di mana siswa dari berbagai latar belakang, ekonomi, sosial, dan kemampuan akademik bersama-sama belajar, bukan hanya belajar matematika, bahasa, dan IPA, tapi juga belajar bersosialisasi dengan berbagai orang, berinteraksi dalam keragaman. Tampaknya kesadaran semacam ini masih kurang. Beberapa kebijakan-kebijakan pendidikan tampaknya belum didasari pentingnya hak pendidikan bagi semua warga negara. Sayangnya!

Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari, Proses Belajar di Hari Sabtu, 16 Mei 2015


Hari itu, Sabtu 16 Mei 2015 klub bahasa Inggris belajar bahasa Inggris menggunakan kisah "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Kenapa buku tersebut yang dipilih? Tidak ada alasan khusus selain bahwa buku tersebut tersedia di perpustakaan Rumah Mentari. Hanya  memanfaatkan apa yang sudah ada. Buku tersebut sebenarnya buku anak-anak yang tipis. Kosa katanya sederhana, dan tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi.



Sebenarnya, anak-anak klub bahasa Inggris Rumah Mentari, yang sekarang lebih banyak siswa SMP dan SMA sudah pernah membahas bacaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Buku terakhir yang kita bahas bersama adalah The Little Prince karya Antoine de-Saint Exupery. Kak Arfah (yang kini baru saja pindah ke Balikpapan) yang mengenalkan buku tersebut pada anak-anak klub Bahasa Inggris Rumah Mentari. Kak Arfah biasanya memfotokopi bab buku tersebut (versi bahasa Inggris) untuk dibagikan ke anak-anak yang ikut klub bahasa Inggris rumah Mentari lalu semua akan membahas cerita tersebut bersama. Sambil membahas buku, sambil belajar bahasa Inggirs. Buku Little Prince sudah dibahas sampai bab empat dan masih akan dilanjutkan pembahasannya, mungkin minggu depan atau dua minggu lagi. Memang beberapa minggu terakhir, kami belum membahas Buku The Little Prince lagi. Belakangan beberapa anak yang mengikuti Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari sempat sibuk dengan persiapan Ujian Nasional (UN), jadi untuk persiapan ujian, kami sempat membahas beberapa soal UN bahasa Inggris selama 2 pertemuan.


Minggu lalu, Mbak Anug yang mengajar bahasa Inggris. Anak-anak tidak membahas soal UN lagi, tapi Mbak Anug lebih banyak mengajak anak-anak berlatih ngobrol dalam bahasa Inggris. Dari cerita anak-anak, Mbak Anug mengajak anak-anak berdiskusi mengenai alasan mereka belajar bahasa Inggris. Ternyata alasannya beragam (Nanti detilnya biar Mbak Anug yang cerita yah..)

Minggu ini, saya belum sempat menyiapkan kopian bab 5 buku Little Prince, jadi saya memilih menggunakan buku yang ada saja. "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear" merupakan buku yang tipis, tapi tetap saja memungkinkan anak-anak untuk belajar beberapa kosa kata dan kalimat baru. Lagipula, tak ada salahnya menyelingin bacaan The Little Prince dengan bacaan lain.

Anyway, kelas dibuka dengan mengajak anak-anak me-recall apa yang dilakukan minggu sebelumnya. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, anak-anak bercerita bahwa Mbak Anug mengajak mereka mengobrol dalam bahasa Inggris tentang mengapa mereka ingin belajar bahasa Inggris. Lalu, saya menunjukkan halaman depan buku "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear".

"Today, we are going to learn English from this book. We are going use this book to learn English. Is it okay?"


Semua setuju. Saya memulai kelas dengan menuliskan kosa-kosa kata baru yang akan dipelajari di papan tulis. Di sebelah kiri adalah kosa kata berbahasa Inggris dan di sebelah kanan adalah artinya dalam bahasa Indonesia (tapi urutannya diacak).

Anak-anak sudah sering melaksanakan kegiatan mencocokkan seperti ini, jadi mereka sudah tahu aturan mainnya. Satu orang anak akan maju ke depan mencocokkan satu kosa kata dengan pasangannya (artinya dalam bahasa Indonesia), lalu dia akan memilih seorang teman untuk maju dan mencocokkan kata lain dengan pasangannya. Begitu saja terus sampai semua kata sudah ditemukan pasangannya. Biasanya, selama proses ini anak-anak menebak arti kata dan kadang berdiskusi dengan teman di sebelahnya.

Kosa kata (dan frase) yang saya tuliskan diantaranya adalah :
Ripe
Pick
Haven't you heard about...?
Smell
Sniff
No matter
Hidden
Guarding
Disguise
Quick
Save



Beberapa kosa kata tampaknya memang baru bagi anak-anak, diantaranya Ripe, Sniff, No matter, dan Disguise. Mereka tampak kesulitan menemukan pasangan dari kata-kata tersebut.

Kami sempat membahas mengenai arti kata "ripe". "Ripe" artinya matang, tapi kata tersebut biasanya digunakan untuk buah yang matang, misalnya matang di pohon. Sedangkan kalau makanan yang dimasak, kita cenderung menggunakan istilah "cooked". Misalnya, untuk ikan yang sudah matang karena dimasak maka kita akan menggunakan istilah "cooked fish". Namun, dalam konteks yang lain lagi, misalnya untuk daging steak yang dimasak sampai matang, maka kita akan menggunakan istilah "the steak is well done". Kalau steak-nya setengah matang, maka kita akan menggunakan istilah, "the steak is half done".

Kami juga membahas arti kata "Sniff" yang artinya  "mengendus". Sebenarnya artinya mirip dengan "smell" yang artinya "mencium (bau)", tetapi "sniff", lebih seperti ketika binatang seperti anjing mencium (bau) sesuatu. Saya mencontohkan bagaimana anjing mencum bau dengan ekspresi muka saya, tentu dengan sedikit monyong-monyong dan mengkerutkan hidung.

Saya lalu mengambil kursi dan duduk. Anak-anak duduk di atas karpet, dalam bentuk setengah lingkaran. Saya berkata, "I am going to read you this book. Please, listen."

Saya pun membuka halaman pertama dan bertanya, "Can everybody see this?"

Saya ingin memastikan bahwa semua bisa melihat halaman buku dengan jelas. Semua mengiyakan.

"What is this," tanya saya menunjuk gambar tikus.

"It is a mouse," kata anak-anak.
Saya melanjutkan, "What is the mouse bringing?"

"Tangga," salah satu anak menyeletuk dengan bahasa Indonesia.

"Tangga bahasa Inggrisnya apa?"

Semua terdiam. Saya lalu menggambar dua buah tangga. Yang pertama tangga yang seperti tangga yang ada di gedung-gedung, dan yang kedua adalah tangga yang seperti huruf banyak huruf H yang bertumpuk-tumpuk, mirip seperti tangga yang di bawa oleh tikus.



"Ini semua sama-sama tangga," kata saya, "We call this one stairs, while we call that one a ladder".
Saya menjelaskan bahwa stairs dan ladder sama-sama berarti tangga, tapi "stairs" dan "ladder" adalah model tangga yang berbeda.

Saya pun membacakan halaman pertama, "Hello Little Mouse! What are you doing?"

Kami lalu membahas arti kalimat-kalimat tersebut. Lalu saya bertanya, "What do you think the mouse is doing?"

"Tikusnya mau mengambil sesuatu," kata seorang anak dalam bahasa Indonesia.

"Oh, the mouse wants to take something,"
kata saya, "What?"

"Something tall," kata seorang anak.

"Let's see," kata saya sambil membuka halaman berikut.

Proses tersebut berlangsung terus sampai buku selesai. Saya membaca, kami membahas artinya, lalu saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk memancing anak-anak berpikir. Sederhana sekali caranya, tidak neko-neko.

Setelahnya saya mengatakan, "I am going to write the sentences from this book on the white board. Below wach sentence, please write down the meaning in bahasa Indonesia."
Saya pun menuliskan setiap kalimat (ataupun frase) dalam buku di papan tulis. Saya menyisakan sekitar satu spasi untuk tempat anak-anak menuliskan terjemahan dari kalimat tersebut. Secara bergantian anak-anak maju dan menuliskan arti masing-masing kalimat. Seperti biasa, saya meminta satu orang anak untuk maju secara sukarela terlebih dahulu. Dia boleh memilih kalimat mana yang mau diterjemahkan terlebih dahulu. Setelahnya, dia memberikan spidol wite board kepada temannya. Temannya harus menerjemahkan kalimat yang lain. Begitu terus sampai semua kalimat telah diterjemahkan.


Agar anak-anak bisa berlatih pronunciation, saya juga meminta mereka membaca kalimat-kalimat berbahasa Inggris tersebut. Anak-anak sempat mengatakan "bear" seperti mengatakan "Bird". Saya mencontohkan bagaimana seharusnya mengucapkan kata "bear". Saya juga mencontohkan bagaimana mengucapkan "bird" dan "beard".

"Kedengarannya mirip," kata saya, "Tapi artinya berbeda. 'Bear' berarti beruang, 'bird' berarti burung, dan 'beard' berarti berewok."

Saya meminta anak-anak berlatih mengucapkan kata "bear", "bird", dan "beard".

Sebelum kelas berakhir, saya meminta semua anak mengucapkan kosa kata yang menurut mereka baru dan meminta mereka mengatakan bagian kelas mana yang dianggap menarik.

Ada anak yang mengatakan baru mendengar istilah "non matter". Saya pun menanyakan, "Do you know 'Boyzone'?"

Semua menggeleng. Saya langsung berasa tua hehe lalu berkata, "So 'Boyzone' is a name of a boy band. I used to hear Boyzone when I was young. One of Boyzone's song is called, 'No matter what'".
Saya pun mencontohkan menyanyikan potongan lagu tersebut,
"No matter what they tell us..No matter what they do.."

Saya pun menjelaskan bahwa arti lagu tersebut adalah
"Tak peduli (masalah) apapun yang mereka katakan..
Tak peduli (masalah) apapun yang mereka lakukan.."

Saya juga mencontohkan penggunaan lain dari istilah "no matter" misalnya, "no matter how bad people treat you, you must still be kind", yang artinya "tidak peduli bertapa buruk orang memperlakukanmu, kamu harus tetap baik ".

Anak yang lain mengatakan baru tahu istilah "ladder" dan "stairs". Yang lain mengatakan, baru tahu artinya "disguise". Yang lain baru tahu arti "hidden". Ada yang mengatakan kosa kata yang baru adalah "ripe".

Setiap anak, menyukai aktivitas yang berbeda-beda. Kebanyakan menyukai kegiatan mencocokkan kata dengan artinya. Ada juga yang menyukai bagian menerjemahkan kalimat dalam buku. Ada juga yang menyukai ketika dibacakan cerita.

Kelas dimulai pukul lima sore dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kelas pun diakhiri.