May 30, 2019

Refleksi Pengalaman (Guru) Belajar Matematika

Sumber Gambar: https://www.wikihow.com/Write-a-Personal-Essay 

Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan kepada guru-guru peserta lokakarya Gernas Tastaka adalah:

“Bagaimana pengalaman bapak / ibu belajar matematika ketika sekolah dulu?”
“Apa pengalaman yang paling tidak menyenangkan yang pernah bapak / ibu alami terkait belajar matematika?”
“Apa pengalaman bapak / ibu yang paling menyenangkan terkait belajar matematika?”
“Dari skala 1 sampai 10, seberapa percaya dirikah bapak / ibu dalam mengajar matematika untuk tingkat SD? “


Di bawah, adalah beberapa contoh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas:

Kasus 1Ketika sekolah dulu, saya sangat membenci matematika. Guru saya dulu galak sekali. Kalau siswa tidak bisa mengerjakan soal matematika, malah dimarahin. Jadinya, semakin takut. Sulit bagi saya untuk mengingat pengalaman yang menyenangkan terkait matematika. Tingkat percaya diri saya untuk mengajar matematika, di level SD, adalah 5 dari skala 10.  

Kasus 2 “Ketika saya di sekolah dasar saya pernah memperoleh guru matematika yang sangat menyenangkan. Ketika mempelajari mengenai pi, kami diminta mencari benda-benda di sekitar yang berbentuk seperti lingkaran. Kami diminta menggunakan tali untuk mengukur kelilingnya. Setelahnya kami diminta mengukur diameternya. Setiap kali kami membagi keliling sebuah lingkaran dengan diameternya bilangannya selalu mendekati 3.14. Kata guru kami itu yang disebut pi, yakni perbandingan antara keliling lingkaran dengan diameternya. Ketika saya masuk SMP, saya yang tadinya sangat menyukai matematika tiba-tiba merasa bosan dengan matematika. Ketika pelajaran aljabar saya diberikan banyak sekali tugas oleh guru dan harus mengulang-ulang hal yang sama. Ketika belajar trigonometri di SMA ada banyak sekali rumus yang harus saya hafalkan. Namun, kalau diminta mengajar matematika, khususnya untuk tingkat SD, saya masih cukup percaya diri. Tingkat percaya diri saya 8 dari skala 10. Kalau mengajar matematika SMP atau SMA, saya tidak percaya diri.”

Kasus 3“Selama saya sekolah saya sangat menyukai matematika. Karena sering berlatih, nilai saya hampir selalu bagus saat pelajaran matematika. Selama sering berlatih soal, saya merasa bisa mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Namun, alangkah kagetnya saya. Ketika mengambil mata kuliah Kalkulus saat kuliah, nilai saya sangat buruk. Selama sekolah, saya selalu diberikan soal-soal pilihan ganda. Saat kuliah, khususnya di pelajaran Kalkulus, dosen hanya memberikan saya 6 soal uraian yang harus saya isi selama 2 jam. Saya tidak terbiasa menuliskan penalaran saya secara tertulis. Saya sudah belajar mengenai limit, differensial, dan integral saat SMA. Saya lulus ujian dengan nilai tinggi tapi ternyata saya tidak mengerti esensi dari topik-topik tersebut. Saya  baru sadar bahwa saya saat itu belum mengerti apa-apa. Baru belakangan saya belajar kembali konsep-konsep dasar matematika dan mulai membiasakan menuliskan penalaran saya terkait masalah-masalah matematika yang saya hadapi. Lama kelamaan saya belajar bahwa konsep-konsep matematika saling terkait satu sama lain. Differensial terkait dengan Limit, Limit terkait dengan Fungsi, dan seterusnya. Saya cukup percaya diri untuk mengajar matematika, khususnya di tingkat SD. Dari skala 1 – 10 tingkat percaya diri saya untuk mengajar matematika adalah 10.”   

Studi   telah menunjukkan bahwa pengalaman guru belajar matematika bisa mempengaruhi cara mereka mengajar (Ball, 1997; Smith 1996, dalam LoPresto & Drake, 2005). Tanpa disadari, guru sering mengulang kembali apa yang dilakukan oleh guru-gurunya di masa dulu.

Perhatikan kembali ketiga kasus di ata. Bayangkan bagaimana masing-masing guru akan mengajar matematika (misalnya di level SD). Apa saja perbedaannya? 

Pada kasus pertama, guru punya pengalaman yang sangat tidak mengenakkan terkait matematika. Kalau ketakutannya ini tidak diatasi, rasa takut ini bisa terus dibawa ke dalam kelas. Ketika mengajar matematika, rasanya tidak percaya diri. Ketika memperoleh soal matematika yang agak sulit, guru pun takut. Akibatnya, ketika mengajar guru ini mungkin tidak akan memberikan siswanya tantangan-tantangan berupa soal pemecahan masalah yang memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya.

Pada kasus kedua, guru pernah mempelajari matematika secara menyenangkan. Kemungkinannya guru tersebut sudah pernah belajar bahwa matematika bukan sekadar menghitung tetapi juga mengenai menemukan pola. Meskipun ketika SMP dan SMA mulai tidak suka matematika, bukan berarti guru takut pada matematika. Apabila punya referensi untuk belajar dasar-dasar matematika kembali, sangat mungkin guru ini akan menemukan kembali kesenangan belajar matematika.  Ya, seperti ketika SD dulu. Ketika harus mengajar matematika, guru ini akan berusaha agar kelasnya semenyengkan kelas matematikan ketika dia belajar saat SD dulu.

Pada kasus ketiga, guru pernah merasakan nilai matematikanya bagus, tapi belakangan sadar bahwa nilai yang bagus tidak mencerminkan pemahamannya terkait matematika. Dia bisa menghitung dan menggunakan rumus-rumus yang dihafalkannya karena sering berlatih. Sayangnya, dia tidak benar-benar memahami kenapa rumus-rumus tersebut bekerja. Selama sekolah, guru tersebut biasa mengerjakan soal-soal pilihan ganda sehingga kaget ketika diminta menuliskan penalarannya. Untungnya guru tersebut punya kesempatan untuk belajar matematika kembali dengan sudut pandang baru. Guru tersebut kini percaya bahwa konsep-konsep matematika saling terhubung satu dengan yang lain. Dia juga belajar bahwa soal pilihan ganda, bukanlah cara terbaik untuk menilai pemahaman siswa serta percaya bahwa ‘tahu rumusnya’ tidak sama dengan mengerti. Ketika mengajar, guru ini mencoba melakukan beberapa perubahan dibandingkan pengalamannya belajar di sekolah. Dia tidak hanya memberikan siswanya soal pilihan ganda tetapi juga sering memberikan siswanya soal uraian. Saat mengerjakan soal, baik di kelas maupun pada saat ujuan, guru akan membiarkan siswanya melihat rumus. Menurutnya itu tidak berarti siswanya mencontek. Baginya yang penting siswa bisa menerapkan apa yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah, dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, memungkinkan guru untuk merefleksikan pengalamannya belajar maupun mengajar matematika? Apakah ada pengalaman di masa lalu yang sangat berpengaruh terhadap caranya mengajar di masa kini? 

Ketika guru punya kesempatan untuk berbagi mengenai pengalaman-pengalaman tersebut dengan guru-guru yang lain, maka semua dapat memperdalam proses refleksi. Apakah pengalaman orang lain sama dengan pengalamanku? Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman-pengalam tersebut?

Salah satu tujuan lokakarya-lokakarya Gernas Tastaka, bukan sakadar untuk mengajarkan guru mengenai beragam metode mengajar matematika. Yang lebih utama adalah mengajak teman-teman guru merefleksikan pengalaman-pengalaman mereka belajar matematika. Kemudian, melihat pengalaman-pengalaman tersebut secara lebih kritis. Apakah yang sudah baik? Apa yang bisa diperbaiki? Apakah pandangan mereka tentang matematika dan belajar matematika selama ini sudah tepat? Adakah cara lain untuk memandang matematika? Adakah cara lain untuk memandang bagaimana matematika seharusnya dipelajari?

May 11, 2019

Mengikuti Pelajaran Matematika atau Belajar Bermatematika?


Saat pelajaran matematika berlangsung, guru meminta siswa menyalin beberapa nomor soal pilihan ganda di buku catatan. Semua soal diambil dari buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Setelahnya, siswa diminta memberi silang pada jawaban yang dianggap benar. 

Waktu di kelas habis untuk menyalin soal. Siswa menjawab soal-soal matematika tanpa perlu berargumen mengapa mereka menganggap jawaban mereka benar. 

“Kenapa jawabannya seperti itu?”, “Bagaimana caranya kamu sampai pada kesimpulan seperti itu?”, “Adakah cara lain untuk menyelesaikan soal ini?”, “Mana cara yang lebih efisien?”,  “Kenapa?”, bukalah pertanyaan-pertanyaan yang biasa didengar siswa di dalam kelas. 


Di kelas yang lain, siswa-siswa kelas satu, yang belum semuanya lancar memegang pensil sedang mengikuti pelajaran mengenai nilai tempat (place value). Guru memberikan siswa soal seperti berikut:
“146 dibaca ……”. 
Siswa diharapkan menuliskan:
“seratus empat puluh enam”. 
Ada sembilan soal lain yang serupa yakni untuk bilangan 245 , 1.456 , 2.987, dan sebagainya. 

Saat mengikuti pelajaran mengenai nilai tempat, siswa lebih banyak belajar menulis dari pada benar-benar membahasa gagasan mengenai nilai tempat. Sebagian besar siswa bisa menjawab bahwa 145 terdiri dari 1 ratusan, 4 puluhan, dan 5 satuan. Namun, kebingungan saat ditanya, “100 terdiri dari berapa puluhan?”

Coba perhatikan video "Beyond Finggers: Place Value and the Numbers 11-19 pada link berikut ini:  https://www.teachingchannel.org/video/kindergarten-counting-cardinality-lesson .

Video itu menggambarkan kegiatan belajar matematika di sebuah Taman Kanak-kanak. Di sana siswa sedang belajar bilangan 11-19. Saat belajar, siswa mereview kembali konsep bilangan pembuat sepuluh. Misalnya, bahwa 10 sama dengan 4 + 6. Untuk melakukan ini, guru menyediakan manipulatif (alat bantu) berupa bulatan-bulatan berwarna biru dan merah dan ten frames yakni kotak-kotak yang terdiri dari dua baris dan lima kolom. Siswa diajak menjelaskan pemikiran mereka serta menjelaskan kenapa mereka yakin bahwa jumlah bulatan yang ada di papan tulis berjumlah 12. Mereka benar-benar belajar nilai tempat, yakni bahwa 1 puluan terdiri dari 10 satuan tanpa harus menulis panjang lebar tanpa mengetahui makna dari apa yang mereka tuliskan. 


Seorang siswa dari kelas lain sedang belajar mengenai pohon faktor. Guru memberikannya latihan untuk membuat berbagai pohon faktor. 

“Kata Ibu guru, kalua ada bilangan, coba bagi bilangan tersebut dengan dua, terus bagi lagi terus. Kalau tidak bisa, dibagi tiga, bagi lagi terus. Nah dua dan tiganya dibulatkan,” si siswa menjelaskan kembali apa yang dikatakan guru.


 Pohon faktor yang dihasilkan siswa tersebut seperti ini: 

Strategi yang sama digunakannya untuk membuat pohon faktor dari bilangan apapun. Siswa bisa membuat pohon faktor dengan menghafal caranya. Namun, siswa tidak diajak mendiskusikan hubungan antara pohon faktor dengan perkalian, bilangan prima, bilangan komposit, dan berbagai konsep-konsep matematika lainnya. Siswa juga tidak pernah diajak mengeksplorasi bahwa sebuah bilangan bisa punya lebih dari satu macam pohon faktor. Pohon faktor dari 24, misalnya, bisa saja berbentuk seperti ini:



Untuk membuat pohon faktor, sebuah bilangan tidak harus selalu dibagi dengan 2 atau 3. Kita bisa membagi bilangan tersebut dengan faktor dari bilangan tersebut (selain satu dan bilangan itu sendiri). Karena:

makafaktor dari 24 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24 .


Untuk membuat pohon faktor, kita boleh saja membagi 24 bilangan lain selain 2 atau 3, misalnya dengan 4, 6, 8, atau 12, asalkan bilangan-bilangan tersebut merupakan faktor dari 24.

Ketika mengerjakan soal-soal matematika, siswa jadi belajar untuk mengatakan bahwa,"Kata gurunya caranya begini." Baginya, cara lain selain apa yang diajarkan gurunya merupakan cara yang salah. Padahal salah satu keindahan matematika adalah mengetahui bahwa ada beragam cara untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika. Dalam belajar matematika, yang lebih penting daripada mengikuti "cara guru" adalah belajar menjelaskan kenapa seseorang menganggap suatu gagasan benar (ataupun salah). 

Kasus-kasus di atas  adalah contoh-contoh di mana siswa mengikuti pelajaran matematika tapi tidak benar-benar belajar bermatematika. Mereka belajar menyelesaikan soal tanpa benar-benar belajar bernalar, mungkin bisa menjawab soal, tapi tidak belajar menjelaskan argumen mereka, dan  mengerjakan sesuatu berulang-ulang tanpa benar-benar bisa memaknai apa yang dikerjakan. 

National Council of Mathematics (NCTM, 2000), sebuah organisasi profesi  guru-guru matematika di Amerika Serikat (semacam Musyawarah Guru Mata Pelajaran/ MGMP) menyatakan bahwa ketika mengajarkan matematika, ada yang disebut standar konten (content standard) dan ada yang disebut standar proses (process standard). Standar konten itu semacam topik-topik matematika yang biasa diajarkan di sekolah, yakni bilangan, pengukuran, geometri, data analisis dan probabilitas. Namun, selain standar konten ada yang tidak kalah penting yakni adanya proses-proses pemecahan masalah (problem solving),   pembuktian dan penalaran matematis (reasoning & proof), komunikasi gagasan matematis (communication), koneksi (connection),  dan representasi (representation).
Apapun topik matematika yang sedang dipelajari oleh siswa di kelas matematika, siswa perlu mengalami proses-proses tersebut. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan beragam masalah matematika, belajar menjelaskan gagasan-gagasan matematis (baik secara lisan maupun  tulisan), belajar membangun argumen untuk meyakinkan orang lain mengenai gagasan mereka, belajar bahwa satu konsep matematika berhubungan dengan berbagai konsep-konsep lainnya, serta belajar merepresentasikan gagasan matematika mereka dengan berbagai cara, dengan bantuan alat, gambar, grafik, tabel, dan model-model lainnya. Ketika  proses-proses semacam itu tidak terjadi di kelas matematika, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa siswa sedang belajar bermatematika? Ataukah mereka hanya sedang mengikuti pelajaran matematika?


x

May 3, 2019

Selamat Hari Pendidikan Sesama Anggota Mailing-list Pendidikan!

Sebelum adanta WhatsApp, Instagram, dan Facebook, cara teman-teman dan saya bertukar gagasan tentang pendidikan adalah melalui mailing-list. Ada tiga mailing-list yang dulu aktif saya ikuti, ketiganya saya ikuti sejak masih mahasiswa. Mailing-list tersebut adalah Center for Betterment of Education (CFBE), sd-islam, dan Klub Guru Indonesia (KGI) yang merupakan cikal bakalnya IGI. Saya juga mengikuti mailing-list sains tapi lebih sebagai anggota pasif. Semual mailing-list tersebut membahas isu-isu pendidikan, meskipun kenyataannya kadang juga membahas berbagai isu lainnya (termasuk politik dan agama).

Cara bekerja mailing-list ada kemiripannya dengan Whats-App Group. Sekali kirim email, langsung bisa dibaca oleh banyak orang. Di mailing-list kami sesama anggota berbagi tulisan, berdebat, dan berbagi bermacam-macam artikel.

Siapa sangka keaktifan menulis di mailing-list memugkinkan saya punya begitu banyak pengalaman. Proses debat yang terus menerus membuat saya belajar untuk mengemukakan pendapat dengan lebih baik. Saya juga belajar bahwa apa yang 'kita maksudkan dalam tulisan' bisa diinterpretasi dengan berbagai cara oleh pembaca yang lain, tidak selalu sejalan dengan pemikiran kita.
Saya juga berkenalan dengan banyak orang, diantaranya dengan Pak Darmaningtyas, Pak Bambang Sumintono, Pak Fasli Jalal, Ibu Mely Kiong, Bu Aulia Wijiasih, Bu Itje Chocidjah, Mas Arkhadi Pustaka, Pak Muzi Marpaung, Pak AgunG Wibowo  dan banyak lagi.

Beberapa jadi teman yang sangat baik dan juga jadi teman bekerja sama. Saya ingat di mailing-list CFBE misalnya, saya banyak membaca tulisan Pak Satria Dharma di mailing-list. Dari tulisan-tulisannya  saya pernah punya cita-cita untuk bekerja sama dengannya. Ternyata di kemudian hari saya bekerja sama dengannya di Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sampai sekarang, saya masih merasa Pak Satria merupakan salah seorang yang sevisi terkait cita-cita untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya melalui guru dan organisasi guru.

Dari mailing-list KGI, saya kenal dengan Ibu Itje Chodidjah. Kami lalu lanjut kenalan lebih lanjut melalui yahoo messenger, chatting. Waktu itu saya masih melanjutkan kuliah di luar Indonesia. Ketika saya balik ke Indonesia pada tahun 2010, orang pertama yang saya temui selain keluarga (dan teman dekat) adalah Ibu Itje. Kami ngobrol panjang lebar di sebuah kafe di daerah Blok M. Ibu Itje membawakan saya beberapa buku teks matematika untuk SD yang pernah beliau edit untuk diberikan kepada saya. Sejak itu, kami jadi teman diskusi, teman menulis bersama, dan teman bekerja yang sangat baik. Orang lain yang saya temui setiba saya di Indonesia adalah Pak Ahmad Rizali (Nanang), Pak Habe, dan seorang mahasiswa hukum UI bernama Galih. Semuanya teman ngobrol di mailing-list KGI yang sudah berganti jadi . Kami bertemu di stasiun gambir untuk membicarakan rencana saya bergabung di IGI. Meskipun sudah tidak di IGI, sampai sekarang saya masih bekerja sama dengan Pak Ahmad Rizali dan Habe untuk bersama-sama membuat gerakan-gerakan lainnya, diantaranya Gernas Tastaka.

Bahkan pekerjaan yang saya lakukan sekarang, menjadi dosen, merupakan akibat hasil diskusi saya dengan Pak Iwan Syahril. Seorang yang saya kenal tulisannya dahulu kala di mailing-list CFBE. Ceritanya, saya diundang oleh Pak Lody Paat, Dosen Pendidikan di UNJ,  untuk datang ke peluncuran buku "Critical Pedagogy" di Sampoerna School of Education (SSE) kini bernama Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Pak Iwan ternyata bekerja di sana. Di kemudian hari saya berjanji bertemu dengannya, diajak sit-in di salah satu kelasnya, dan akhirnya diajak menjadi dosen di institusi tempat Pak Iwan mengajar. Kini saya sudah bekerja di  institusi ini selama 8 tahun dan Pak Iwan menjadi dekan saya! Sungguh kegiatan tulis-menulis, balas membalas pesan di berbagai mailing-list pendidikan telah membawa saya kemana-mana. Ajaib sekali
Btw, tulisan ini saya pesembahkan untuk teman-teman yang tergabung dalam berbagai mailing-list pendidikan baik CFBE, KGI, IGI, sd-islam, sains, dan lain-lain. Selamat hari pendidikan. We had such a long journey together and I am glad to have the jpurney together wth you!

Jan 28, 2019

Gernas Tastaka (1):Cerita Inisiasi Gerakan Nasional Berantas Buta Matematika (Gernas Tastaka)

Sekitar minggu ketiga September 2018, saya dikontak oleh Pak Ahmad Rizali (Pak Nanang). Beliau mengajak untuk bikin gerakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika, baik di sekolah maupun di masyarakat. Gerakan ini berangkat dari kegelisahan Pak Nanang ini dituangkannya dalam tulisan "Indonesia Darurat Matematika" yang dimuat di Kompas.Com pada 24 September 2018. Saya telah mengenal Pak Nanang cukup lama. Pak Nanang merupakan pendiri Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan saya pernah jadi pengurusnya (2009 - 2016). Sebelumnya, saya sudah mengenal Pak Nanang lewat tulisan-tulisannya di mailing-list Center for Betterment of Indonesai (CFBE). Saya tahu, kalau Pak Nanang yang mengajak bikin gerakan, pasti tidak main-main, akan dikerjakan dengan sangat serius. Banyak yang tidak tahu, tapi Pak Nanang merupakan otak di belakang beberapa gerakan pendidikan di Indonesia, diantaranya  Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), pengiriman guru untuk mengajar di perbatasan Indonesia-Malaysia, pendiri IGI, dan banyak lagi.


25 September 2018, malam Pak Nanang mengajak saya dan beberapa orang lain berkumpul di kantor Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) untuk membahas gerakan tentang matematika yang saat itu belum ada namanya.

Untuk rapat tersebut, saya mengajak Woro Retno Kris (Woro), alumni Sampoerna School of Education (SSE) yang kini merupakan guru matematika di sebuah SMP swasta di Jakara. Woro memang sering terlibat di berbagai kegiatan-kegiatan pendidikan, diantaranya menulis artikel-artikel untuk WikiEdu Indonesia, memberikan masukan untuk revisi kurikulum matematika nasional, menyelenggarakan kegiatan Anak Muda Bicara Pendidikan, serta mendesain dan memfasilitasi workshop matematika untuk guru SD,  bekerja sama dengan IGI Jakarta Timur. Melibatkan Woro di gerakan ini memang tepat. Tanpa diminta, Woro langsung mengajak beberapa teman-temannya (Susi Dariah, Devi Heryanti, Hana Sofyana)  untuk membantu gerakan ini. Dari Oktober sampai sekarang,  tim ini berkumpul hampir setiap akhir pekan untuk mendesain rangkaian lokakarya matematika untuk guru SD yang turut menjadi roh gerakan ini.

Di lokasi rapat, telah hadir Pak Setiawan Agung Wibowo (Pak Agung), yang berlatar belakang Sastra Inggris.  Kini Pak Agung merupakan pelatih guru nasional. Di awal karirnya, Pak Agung sempat menjadi guru Sekolah Dasar (SD) di Cita Buana.  Guru SD biasanya harus mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus, termasuk matematika. Agar bisa mengajar matematika dengan baik, Pak Agung  memutuskan untuk belajar matematika secara mandiri dengan membaca. Beberapa orang pernah mengatakan bahwa guru matematika SD seharusnya lulusan matematika karena mengajarkan hal yang sifatnya basic. Dalam hal ini, Pak Agung dan saya tampaknya punya opini lain. Kami sama-sama percaya bahwa  untuk mengajar matematika SD, seseorang tidak harus lulusan jurusan matematika. Namun, semua guru SD harus punya dasar yang cukup baik dalam matematika, seperti halnya semua guru SD harus punya kemampuan literasi yang baik. 

Juga ada   Vyan Tashwirul Afkar, mahasiswa anggota MWA UI dan Ares, mahasiswa Fisika UI. Ares sempat bercerita, waktu masih bersekolah di SMA Thamrin, Jakarta, dia pernah menginisiasi semacam klub belajar matematika di sekolah. Teman-temannya, sesama siswa SMA diajak mengajar anak-anak di sekitar sekolah. Lokasi belajarnya di SMA tersebut. Baik Afkar dan Ares berencana untuk mendorong kampus dan SMA untuk membuat ruang bagi publik untuk menciptakan klub-klub belajar semacam itu.

Di pertemuan tersebut, belum ada kesepakatan tentang nama gerakan. Namun, semuanya sepakat bahwa gerakan yang akan dilakukan akan difokuskan untuk mendorong adanya proses bermatematika di kelas matematika. Selain itu, gerakan ini juga akan mendorong orang tua, masyarakat, dan media untuk terlibat memberikan kesempatan bagi setiap anak Indonesia untuk belajar matematematika secara lebih berkualitas, yakni yang senantiasa mengajak anak mengembangkan kemampuan bernalarnya.

Berbagai hasil studi memang menunjukkan ada masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah. Studi-studi tersebut diantaranya Program for International Student Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS), Indonesian Nasional Assessment Program (INAP) dan studi Research on Improving Systems of Education (RISE). Semuanya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa-siswa Indonesia kesulitan dalam menyelesaikan masalah-masalah matematika yang lebih dari sekadar mengandalkan 'hafalan'. Siswa-siswa Indonesia tergolong kesulitan menyelesaikan masalah-masalah matematika yang bersifat aplikatif dan membutuhkan penalaran.

Meskipun tidak menggambarkan kondisi Indonesia secara keseluruhan, dari hasil diskusi mengenai pengalaman lapangan, ada kasus-kasus di mana siswa belajar matematika dengan sekadar menghafalkan rumus. Siswa tidak diajak mengkomunikasikan penalaran mereka, misalnya mengapa mengaggap suatu gagasan matematis benar dan tidak.  Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah semacam itu, kondisi di mana tidak ada proses bernalar di kelas matematika.

Nama gerakan sempat berganti-ganti mulai dari Gerakan Berantas Buta Matematika Dasar, Gerakan Pemberantasan Buta Berhitung, Gerakan Melek Angka (Gema), Gerakan Melek Bilangan (Gembil). Setelah perdebatan yang terjadi beberapa minggu lamanya, seluruh tim pengagas sepakat pada nama Gerakan Nasional Berantas Buta Matematika (Gernas Tastaka).

Berlanjut...

Keterangan:
Mau terlibat Gernas Tastaka? Silakan follow Halaman Facebook Gernas Tastaka untuk komunikasi dengan tim. Halaman Facebook Gernas Tastaka:   https://www.facebook.com/groups/491153798044594/ .

Oct 29, 2018

Agen Schooling di Antara Pegiat-pegiat Pendidikan Alternatif.

Foto bersama teman-teman pegiat dan anak-anak dari berbagai komunitas pendidikan alternatif ketika Pertemuan Nasional 2 Pendidikan Alternatif di Dusun Genting, Semarang (28 Oktober 2018)
Sejak tahun 2002-an, saya sudah banyak berteman dengan teman-teman yang bergiat di pendidikan alternatif. Waktu masih mahasiswa, saya ikut berkunjung ke Qaryah Thayibah, Salatiga. Saya menginap di sana selama beberapa malam, mempelajari bagaimana anak-anak Qaryah Thayibah belajar. Beberapa waktu berikutnya saya diajak Kang Rahmat Jabaril (pendiri Komunitas Taboo, Bandung) untuk jadi co-fasilitator lokakarya pembuatan peta wilayah, di Sekolah Sururon, Garut (binaan teman-teman Sarikat Petani Pasundan). Selama masih berkuliah di Bandung, saya cukup sering ketemu dan sesekali berkegiatan bersama teman-teman Kalyanamandira (yang mengurus anak-anak di Rumah Tahanan di Jalan Jakarta, Bandung).  Kini pun saya masih sering ketemuan dengan teman-teman pegiat pendidikan lainnya seperti dari Sanggar Anak Akar, Erudio School of Art (yang menggunakan pendekatan democratic school),  dan lainya. Teman-teman ini, biasanya mengajar di komunitas-komunitas pendidikan non-formal, biasanya bentuknya bukan sekolah. 


Meskipun begitu, pendidikan alternatif tidak selalu berbentuk komunitas pendidikan non-formal. Ada juga lembaga pendidikan alternatif yang berbentuk sekolah, seperti kata Jery Mintz di bawah ini:

... pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu; sekolah publik pilihan (public choice); sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk); sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent dan pendidikan di rumah (home-based schooling).

Sekolah-sekolah yang menjalankan praktik pendidikan alternatif, biasanya filosofi dan praktik sekolahnya berbeda (jauh) dengan teman-teman di sekolah mainstream. Kalau di sekolah pada umumnya (di Indonesia), siswa dan guru harus pakai seragam, di sekolah yang menerapkan pendidikan alternatif tidak. Kalau biasanya daftar mata pelajaran ditentukan oleh pihak sekolah (sesuai aturan dari Dinas Pendidikan), di sekolah yang menerapkan pendidikan alternatif memungkinkan jadwal pelajaran merupakan hasil kesepakatan bersama, bahkan bisa ditentukan oleh siswa. 

Saya sendiri sebenarnya lebih fokus pada 'sekolah' pada umumnya (mainstream). Saya memilih untuk bergerak di dunia persekolahan, salah satunya melalui pendidikan guru. Kenapa memilih bergerak di dunia persekolahan? Jumlah sekolah (pendidikan formal) di Indonesia itu banyak sekali. Otomatis jumlah guru dan siswanya juga banyak. Seandainya saja, kualitas pendidikan di sekolah bisa membaik, sistemnya bisa lebih memerdekakan anak, maka efeknya akan besar.

Karena fokus pada sekolah, saya sering dibercandain oleh teman-teman pegiat pendidikan alternatif sebagai 'agen schooling'. Terkadang mereka juga menyampaikan berbagai kritik tentang sistem persekolahan, misalnya bahwa sekolah seringkali mematikan kreativitas anak dan membuat anak takut menjadi dirinya sendiri.  Saya biasanya membenarkan beberapa kritik mereka sambil senyum dan  berkata, "Nah karena itulah sekolah perlu direformasi (atau revolusi?) dan saya mau berperan di sana".

Saya jadi ingat kata-kata Pakde Susilo Adinugroho (pendiri Sanggar Anak Akar). Katanya: 
“Pendidikan Alternatif, apapun bentuknya baik formal maupun tidak, pada dasarnya adalah pendidikan yang menghamba pada anak, bukan pada administrasi. Penyelenggara pendidikan alternatif senantiasa punya kerelaan untuk belajar pada anak.”

Bukankah lembaga-lembaga pendidikan yang mungkin bukan lembaga pendidikan alternatif tetap bisa belajar pada filosofi 'menghamba pada anak, bukan pada administras' tersebut? Sulit? Tentu. Lebih mengarah ke sana? Menurut saya masih sangat bisa. Mulainya tentu dengan hal-hal sederhana, misalnya membiasakan adanya budaya yang lebih demokratis di kelas dengan membiasakan dialog yang setara. Guru, misalnya tidak perlu marah apabila siswa memiliki pendapat atau pandangan yang berbeda. Perkataan-perkataan semacam, "Kamu (siswa) harus menurut karena saya (guru) berkata seperti itu)," mulai perlu dikurangi. Hal semacam itu bisa diganti dengan dialog dari hati ke hati.  Bayangkan betapa indahnya kalau itu terjadi?

Sep 21, 2018

"Pesan dari Buritan" dan Sebuah Refleksi tentang Pendidikan Keindonesiaan di Sekolah.

"Pesan Dari Buritan" adalah sebuah dokumenter pendek yang dibuat oleh sekelompok anak muda  anggota Tim Ekspedisi Maritim Timur Nusantara. Mereka melakukan ekspedisi untuk mempelajari jalur pelayaran pelaut-pelaut Buton. Saya menonton film tersebut pada Kamis, 20 September 2018 malam di Studio Kopi Sang Akar, Jakarta.


Film "Pesan dari Buritan" pendek. Tidak sampai setengah jam. Gambar-gambar yang ada dalam film sangat cantik. Sekilas digambarkan 16 pulau (dari berbagai pulau lainnya) yang biasa dilalui oleh pelaut-pelaut Buton.  Mereka biasa berlayar menggunakan kapal-kapal yang ukurannya tidak terlalu besar, ada motor kecil, dan  layar yang membantu menangkap dan mengarahkan angin sehingga mempermudah para pelaut mencapai tujuan.

Setelah menonton, kesan saya, "Wah ternyata filmnya pendek". Secara visual filmnya sangat indah. Namun,  setelah nonton pun pengetahuan saya tentang masyarakat Buton belum banyak bertambah. Untungnya setelah menonton film, ada kegiatan diskusi. Beberapa anggota tim ekspedisi yang ikut membuat film diajak berbicara. Menurut mereka, apa yang mereka buat ini merupakan dokumentasi dari 16 pulau yang ada di Indonesia. Sedangkan ada sekitar 17 ribu pulau di Indonesia. Melalui film ini, mereka ingin mengajak lebih banyak orang untuk mulai belajar mengenai pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Selama diskusi, ada hal lain yang menarik hati saya. Di layar ada tampilan slide show berisi foto dan berbagai narasi pendek. Secara pribadi, saya merasa slide show tersebut jauh lebih menarik daripada film yang saya tonton.  "Apa sih yang ditampilkan itu?" tanya saya pada Mas Tomy Widianto Taslim, pengajar kelas film di Studio Kopi Sang Akar yang saya asumsikan tahu apa yang ada slide show. Ternyata slide show yang mereka tampilkan berasal dari tiga buah buku yang juga dihasilkan dari ekspedisi ini.

Buku-buku tersebut berjudul Pesan dari Buritan, Menatap Halaman Timur, dan Hore. Diantara buku itu, ada yang berupa buku foto (dilengkapi narasi) hasil temuan mengenai jalur pelayaran pelaut Buton. Ada buku yang berupa catatan perjalanan mengenai apa yang terjadi selama 1 bulan pelayaran. Ada juga buku yang menggambarkan  pikiran-pikiran 'liar' yang muncul selama perjalanan.

Saya belum membaca bukunya tapi dari cuplikannya saja sudah merasa sangat tertarik.  Harga satu paket berisi tiga buku tersebut memang cukup mahal (sekitar satu setengah juta rupiah) tapi juga bisa dibeli eceran). Harga segitu mahal bisa saya maklumi. Setahu saya, memang biaya cetak untuk buku foto (berwarna) memang mahal.  Kalau ada yang tertarik membeli buknya, bisa menghubungi @guearigalery di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Setelah 'diskusi formal' berakhir. Saya duduk bersama  beberapa teman sambil makan ubi rebus dan meminum kopi. Ada, Anyi, Mas Ibut, Pak Jimmy Paat, seorang tim ekspedisi (lupa namanya). Diskusi pun berlanjut secara informal.

"Harusnya ada kasuami nih," kata Anyi. Kasuami adalah makanan khas Buton, "Waktu itu aku beli Kasuami di Pulau Seram. Yang jual memang pelaut-pelaut Buton."

Menurut Anyi, Kasuami rasanya enak dan meskipun kecil, sangat mengenyangkan. Kasuami  membantu pelaut-pelaut Buton bertahan dari rasa lapar, meskipun harus berlayar dalam waktu yang cukup lama.

Selama diskusi saya juga belajar bahwa pelaut-pelaut Buton sebih suka berlayar dalam kelompok kecil atau bahkan sendiri. Kapal yang digunakan tidak besar. Sambil berlayar mereka sekaligus berdagang. Jalur pelayarannya bisa sampai Singapura. Mereka punya peran Kapalnya seringkali menjadi semacam warung sembako di laut. Sambil berlayar dari satu pulau ke pulau lain mereka berjualan berbagai hal, kopi, makanan, dan kadang baju bekas.

Saat diskusi secara 'formal', Pak Jimmy sempat mengatakan bahwa apa yang dihasilkan baik film maupun buku foto oleh Tim Ekspedisi ini sangat baik dan bisa digunakan di sekolah-sekolah. Saya mengatakan bahwa saya pun kepikiran hal yang serupa. Saya jadi teringat pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) selama saya sekolah. Seringkali pelajaran-pelajaran yang seharusnya membantu saya mengenal Indonesia, justru terasa sangat kering. Siswa diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan 'hafalan' seperti tari piring berasal dari... Baju adat ini dan itu berasal dari... Rumah adat ini dan itu berasal dari...

Fakta-fakta tersebut, menjadi kering. Tidak ada rasa istimewa yang tumbuh saat mempelajari fakta-fakta tersebut. Bagi saya film "Pesan dari Buritan"  terlalu singkat dan belum memberikan saya gambaran utuh mengenai masyarakat Buton. Namun, harus diakui, setelah menontonnya saya menjadi tertarik untuk mempelajari mengenai masyarakat Buton lebih lanjut. Saya bisa merasakan keindahan alam dan masyarakat Buton saat menonton film tersebut. Di film ada adegan di mana  pelaut berbicara dengan logat tertentu. Dia bercerita mengenai perbedaan kapal layar dan kapal motor.  Meskipun tidak secara langsung, saya merasa senang bisa mendengar sedikit pandangan para pelaut tentang kehidupannya.

Setelah menonton pun saya merasa masih sangat minim pengetahuannya tentang masyarakat Buton. Namun,  saya tahu kalaupun di kemudian hari saya secara tidak sengaja saya menemukan buku, artikel, foto, ataupun informasi mengenai masyarakat Buton saya akan sangat tertarik mempelajarinya.

Proses menonton dan mendiskusikan film "Pesan dari Buritan" membuat saya merefleksikan bagaimana seharusnya pendidikan mengenai keindonesiaan diajarkan pada siswa. Pertama siswa perlu diajak untuk merasakan keindahan Indonesia (alamnya, budayanya, orang-orangnya, dan lain-lain). Keindahan ini bisa dirasakan secara langsung maupun dengan bantuan berbagai media seperti film, foto, bacaan, dan lain-lain. Setelahnya, siswa bisa diajak membuat berbagai pertanyaan terkait hal-hal lain yang ingin mereka ketahui tentang Indonesia. Selanjutnya, guru bisa memfasilitasi siswa mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang telah mereka tanyakan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa bertemu atau berkomunikasi dengan orang yang bisa memberikan informasi tambahan, mengajak siswa melakukan riset, membaca, dan banyak hal lainnya. Alangkah menyenangkannya kalau hal semacam ini bisa terjadi.

Sep 13, 2018

Membaca "Tempat Terbaik di Dunia"



Roanne Van Voorst adalah seorang antropolog berkebangsaan Belanda  yang karena ketertarikannya tentang 'banjir' memilih menetap selama setahun di sebuah kampung kumuh (yang kemudian akan disebut daerah Bantaran Kali) di Jakarta untuk penelitiannya.  Buku "Tempat Terbaik Dunia", terbitan Penerbit Marjin Kiri,  adalah buku yang menggambarkan pengalamannya ketika  melakukan penelitian. Kata Roanne di bagian prolog:

"Sebagai seorang peneliti, saya ingin tahu bagaimana rasanya tinggal di hunian yang setiap tahunnya beberapa kali dilanda banjir. Masih sedikit pengetahuan yang tersedia soal ini. Penelitian terbaru mengenai banjir lebih banyak mengarah ke aspek  biologi dan teknik pengeloaan banjir: ketinggian curah hujan yang jatih d suatu wilayah per tahun, misalnya, atau masalah tersumbatnya pintu air da cara untuk menyalurkan air. Semua itu sangat menarik dan penting, tentunya. Hanya saja, dalam berbagai penelitian tersebut saya tidak menemukan cerita dari para korban banjir. Saya ingin tahu apa yang orang lakukan saat mereka tahu bahwa mereka bakal kebanjiran. Cara-cara apa yang mereka tahu untuk melindungi harta benda dan keluarga mereka, mengajari anak-anak mereka berenang? Bisakah mereka sendiri berenang? Apakah mereka pernah sekali merasa aman dan nyaman tinggal di daerah rawan banjir atau mereka selalu hidup dalam ketidakpastian dan kecemasan?"

Buku Roanne sebenarnya mengingatkan saya akan pengalaman live in di daerah kumuh di Jakarta (binaan Urbaan Poor Consortium) yang saya lakukan selama beberapa hari pada tahun 2008. Meskipun tinggal di daerah yang dalam berbagai hal serupa, pemahaman yang diperoleh Roanne jauh lebih kaya. Bukan hanya karena Roanne tinggal di daerah kumuh Jakarta lebih lama, namun juga karena Roanne ke sana sebagai penelti, yang artinya, Roanne tahu apa yang mau dicari (meskipun akhirnya menemukan banyak hal lainnya), melakukan observasi dan wawancara secara mendalam (in-depth), membuat catatan lapangan yang detil setiap harinya, dan juga dilengkapi pemahaman akan teori sosial yang akan mendukung pemahamannya mengenai masyarakat yang akan ditelitinya.

Jawaban-jawaban yang mendetil tentang pertanyaan penelitian Roanne pastinya tertulis di laporan penelitiannya sedangkan buku "Tempat Terbaik di Dunia" menggambarkan beragam hal lain yang dipelajari Roanne di Jakarta. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Roanne ingin mencari lokasi penelitian. Awalnya  Roanne mencari lokasi melalui jalur formal, dia mewawancarai puluhan pembuat kebijakan, namun setiap kali menceritakan rencana penelitiannya, tanggapannya selalu sama, "tidak bisa itu", "terlalu berbahaya". Menurut mereka seorang bule seperti Roanne akan dianggap orang kaya, yang bisa dirampok, diganggu, dan sebagainya. Roanne malah ditawari untuk tinggal di apartemen mewah yang 'bebas banjir'. Lokasi penelitian, akhirnya Roanne temukan setelah menaiki bus kota yang penuh sesak. Roanne bertemu dengan seorang pengamen, sebut saja namanya Tikus yang mengajak Roanne ke tempat terbaik di dunia, daerah Bantaran Kali. Tikuslah yang memperkenalkan Roanne ke kepala kampung.

Kata Tikus, "Bapak kepala kampung, dia datang ke Jakarta untuk kerja di sini. Dia ngak bisa nyanyi atau bermain gitar tapi lancar berbahasa Indonesia. Dia menawarkan diri untuk mengajari bahasa inggris buatku dan anak lainnya di Bantaran Kali. Sebagai imbalannya, dia ingin tinggal di sini. Pasti ngak susah, soalnya dia suka makanan Indonesia. Bahkan.... dia suka pedas". Dan Roanne pun mulai dianggap seperti keluarga.

Ada berbagai hal menarik dari buku yang ditulis Roanne ini, misalnya bagaimana orang-orang yang memiliki portofon, jadi punya status sosial yang lebih tinggi. Dengan portofon, mereka bisa berkomunikasi secara langsung dengan penjaga pintu air sehingga memperoleh informasi paling up-to-date mengenai banjir. Namun memiliki portofon, bukanlah tanpa resiko, mereka harus stand-by mendengarkan portofon terus menerus padahal bisa jadi mereka memiliki pekerjaan lain, sehingga kesibukannya dengan portofon bisa membuat mereka dipecat.

Selama tinggal di Bantaran Kali, Roanne tidak hanya mengalami masa-masa banjir tapi juga ikut menyaksikan kebakaran kampung. Saat kebakaran, Roanne belajar bahwa satu rumah sempit sekalipun, tidak selalu berisi satu keluarga saja, tapi bisa lebih, sampai 10 orang lebih misalnya.  Mengamati bagaimana "bank" buatan masyarakat bekerja, melihat bagaimana warga membuat gym sederhana dengan apa yang ada di sekitarnya misalnya dengan kaleng bekas yang diisi semen dan berbagai peralatan lainnya. Di buku ini juga digambarkan bagaimana banyak warga kampung takut terhadap rumah sakit dan lebih percaya berbagai pengobatan alternatif. Ketakutan ini ternyata diantaranya disebabkan oleh trauma yang mereka alami ketika diperlakukan tidak baik di rumah sakit. Melalui buku Roanne, kita bisa belajar bahwa warga yang tinggal di kampung kumuh Jakarta sama seperti manusia lainnya. Ada yang malas ada juga yang rajin. Ada yang sangat perhitungan soal uang, ada juga yang boros. Ada yang semaunya sendiri tapi ada juga yang senantiasa mempertimbangkan orang lain. Steriotipe yang sering dibuat tentang warga yang hidup di kampung kumuh sebagai orang yang malas dan seenaknya sendiri tidaklah selalu benar.