Jul 12, 2018

Kita Harus Mencari Caranya : Lima Strategi untuk Membantu Pendidik untuk Terus Belajar Selama Hidupnya

Oleh Rachael George
Sumber:
http://inservice.ascd.org/we-have-to-find-a-way-five-strategies-to-help-educators-learn-for-life/
(diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati)

Belajar Terus Selama Hidup: Bukan hanya siswa yang perlu belajar terus, pendidik juga. Namun, kapankah terakhir kalinya anda mendengar bahwa pendidik punya begitu banyak waktu? Mungkin, anda akan jarang menemukan pendidik yang memiliki begitu banyak waktu luang. Mari kita akui kenyataan ini, bagi seorang pendidik setiap waktu itu berharga. Setiap hari, kita, pendidik ditempa dengan kesibukan dunia profesional dan pribadi. Jangan salah, kita mencintai apa yang kita kerjakan; hanya saja kita sangat sibuk.

Jadi, bagaimana caranya kita menemukan waktu untuk tumbuh secara profesional dan menjadi pembelajar seumur hidup sementara juga menjadi guru yang keren untuk siswamu?  mari perhatikan strategi-strategi dan pendekatan sederhana di bawah ini yang bisa membantu anda mengembangkan profesi dan belajar secara terintegrasi dengan hidup anda.

Berjejaringlah
Salah satu cara paling sederhana untuk pengembangan profesional adalah dengan berjejaring dengan sesama pendidik! Kalau anda tidak berhubungan dengan sesama pendidik lain di sosial media, ada begitu banyak kesempatan pengembangan diri yang terlewatkan! Informasi, pengetahuan, gagasan, dan dukungan antara pendidik yang dilakukan oleh sesama pendidik di media sosial sungguh merupakan game changer. Ketka saya berpindah dari menjadi kepala sekolah tingkat sekolah menengah ke sekolah dasar, jaringan pertemanan saya di Twitter sungguh membantu. Kalau tidak suka twitter? Cobalah berjejaring dengan pendidik lain di Facebook, Pinterest, Voxer - semua perangkat ini juga digunakan oleh banyak pendidik lainnya.

Baca, baca, baca
Sebagai pendidik, kita selalu menasihati siswa untuk membaca. Kita mencoba mencari buku yang diminati dan terkait dengan kehidupan siswa. Kapankah terakhir kalinya anda membaca buku yang berhubungan dengan profesi Anda? Seringkali, seroang pendidik mengatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk membaca buku, sehingga mereka hanya membaca sepintas blog atau artikel, mendengarkan podcast dalam perjalanan ke dan dari tempat kerja. Ini semua adalah strategi hebat, tapi itu bukan pengganti untuk informasi dan pembelajaran yang disediakan oleh buku. Jika, anda berpikir bahwa anda tidak punya waktu untuk duduk dan membaca seluruh isi buku sekaligus, pecahkan menjadi potingan. Cobalah membaca satu bab setiap Minggu malam sebelum tidur atau beberapa halaman per hari. Masih tidak punya waktu untuk membaca? Pertimbangkan untuk mendengarkan buku audio sebagai pilihan saat anda dalam perjalanan panjang, atau lakukan sambil membersihkan ruangan, atau saat sedang berlari untuk olahraga.  Sebagai pendidik, kita sering terjebak dalam rutinitas. Namun, jangan pernah berhenti belajar.

Berpartisipasilah dalam Komunitas
Sama seperti siswa, kita selalu bisa belajar banyak dari satu sama lain. Jika selama ini anda tidak berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau pengembangan profesi di daerah anda, mulailah mencari satu di mana anda bisa bergabung. Ada juga banyak pilihan untuk berpartisipasi secara daring (online) baik berdasarkan tingkatan kelas, bidang studi, dan mintak. Tidak tertarik pada sosial media ataupun teknologi? Selalu ada pilihan pelatihan atau berjejaring dengan guru di akhir pekan melalui asosiasi-asosiasi lokal. Sebagai contohnya, di tempat saya, ada pertemuan jejaring pendidik matematika tingkat negara bagian untuk membahas mengenai matematika, ada juga pertemuan rutin asosiasi membaca yang menyediakan pengembangan profesional yang terjangkau.

Jadikan belajar menjadi prioritas
Ada  pepatah terkenal yang mengatakan "Apa yang kita perhatikan dengan baik akan berkembang". Pepatah ini tepat khususnya ketika dikaitkan dengan pengembangan profesi dan menjadi pembelajar seumur hidup. Kita harus menjadikan belajar prioritas! Jika, kita tidak belajar untuk mendorong diri sendiri untuk menjadi lebih baik, bagaimana mengaharapkan orang lain, misalnya siswa kita, untuk juga begitu? Sebagai seorang  kepala sekolah, saya bangga karena bisa menjadi pemimpin mengenai pengajaan dan pembelajaran. Saya percaya, bahwa satu-satunya cara saya bisa terus memimpin adalah dengan terus mencari kesempatan untuk berkembang dan belajar. Kita punya tanggung jawab terharap diri kita sendiri, orang yang kita pimpin, dan yang utama terhadap siswa kita untuk menjadi pendidik terbaik yang bisa mereka terima. Pertumbuhan pribadi tidak pernah berakhir. Sama seperti apa yang kita lakukan dengan mendorong siswa-siswa kita untuk menjadi yang terbaik, kita juga harus mendorong diri kita untuk terus berkembang. Hidup adalah proses untuk selalu mengembangkan diri.

Pilih Temanmu secara Bijaksana. 
Ibumu tahu yang terbaik ketika dia memberikan nasihat ini kepada Anda ketika masih remaja, dan masih berlaku sampai anda dewasa. Orang-orang disekitarmu yang anda pilih untuk berhubungan denganmu baik secara profesional maupun pribadi akan berperan penting mengenai cara anda belajar dan berkembang.  Kalau anda mengelilingi diri anda dengan rekan yang membaca dan mendiskusikan buku, berpartisipasi dalam diskusi [pendidikan] di Twitter, mencari kesempatan untuk mengembangkan diri, secara alami anda juga ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, jika teman-temanmu senantiasa membuat alasan untuk "meninggalkan pekerjaan di tempat kerja", anda juga akan cenderung melakukan hal yang sama. Percayalah pada saya, pengaruh rekan dan teman bisa membantu anda menjadi lebih baik atau bahkan menghancurkan anda.

Sebagai pendidik di hari ini, kita harus sadar bahwa kita akan selalu sibuk. Kalau kita mau menjadi yang terbaik di bidang kita, mempengaruhi setiap siswa yang kita ajar, dan jika kita mau belajar, berkembang, dan menjadi lebih baik, kita harus menjadikan belajar sebagai sebuah prioritas yang kita lakukan setiap hari. Sederhananya, kita harus mencari caranya!

***
Rachael George adalah anggita dariASCD Emerging Leaders Class of 2015dan kini adalah kepala sekolah di  Sandy Grade School in the Oregon Trail School District. Sebelumnya adalah kepala sekolah dasar, dan juga pernah menjadi kepala sekolah menegah pertama dengan pridikat “outstanding” dan dua kali sekolahnya memperoleh  “Level 5: Sekolah model ,” yang diakui oleh Departemen Pendidikan Oregon. Spesialisasinya adalah di bidang pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas mengajar, mengajar siswa yang kesulitan belajar (at-risk), dan pengurangakan gap prestasi belajar antar siswa. Terhubunglah dengan George di Twitter @runnin26.

Jul 5, 2018

Program Pendidikan Orang Tua bernama Criança Feliz di Brazil



Criança Feliz,  berarti anak-anak yang bahagia, adalah sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Brazil yang diresmikan pada 5 Oktober 2016. Kebijakan ini disasar pada penduduk yang paling miskin di Brazil. Apa yang dilakukan? Pada dasarnya pemerintah Brazil menyediakan pekerja sosial secara masal yang wajib berkunjung secara rutin ke rumah ibu-ibu hamil dan orang tua yang memiliki anak. Untuk orang tua yang memiliki anak di usia  0 - 3 tahun, kunjungan dilakukan sekali seminggu, sedangkan untuk orang tua yang memiliki anak usia 3 - 6 tahun, kunjungan dilakukan setiap 15 hari sekali. 

Apa yang dilakukan oleh para pekerja sosial ini? Pekerja sosial ini mengajarkan dan memberikan contoh mengenai cara bermain dan berbicara dengan anak-anak. Tentu, saja semua pekerja sosial ini telah dibekali dengan berbagai pelatihan. Juga tersedia modul yang digunakan sebagai panduan untuk melakukan pendidikan untuk orang tua ini. Pekerja-pekerja sosial ini juga dibekali dengan kemampuan untuk membuat mainan sendiri, misalnya mainan untuk melatih sensomotorik anak yang dibuat dari botol bekas, mainan untuk belajar warna dari karton bekas, dan sebagainya. Mainan-mainan ini dibawakan ke rumah-rumah yang dikunjunginya. Orang tua diajarkan cara memainkannya bersama anak. Para pekerja sosial juga bertanggung jawab untuk mengajarkan orang tua cara bertanya, memuji perkembangan anak, melakukan kontak mata dengan anak, dan caranya memberikan perhatian emosional kepada anak. 

Kunjungan-kunjungan rutin ini juga memungkinkan terbangunnya hubungan yang manusiawi antara pekerja sosial dan orang tua anak. Dalam konteks-konteks tertentu, orang tua anak punya masalah-masalah yang sulit dipecahkannya sendiri. Sebagai contoh, ada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tidak punya akses untuk mencari terapis. Pekerja sosial akan membantu mencarikan akses ke terapis sehingga bisa membantu anak-anak dan orang tua yang membutuhkan.

Kini Criança Feliz telah mengapai 300,000 keluarga. Targetnya, pada 2020, program ini berhasil menyentuh 4 juta ibu hamil dan anak-anak.

Membaca artikel dan menonton video mengenai Criança Feliz di sini ( https://qz.com/1298387/brazils-wildly-ambitious-incredibly-precarious-program-to-visit-every-poor-mother-and-change-their-childrens-destiny/?utm_source=qzfb ) mengingatkan saya pada seorang teman bernama Ibu Melly Kiong. Ibu Melly Kiong adalah seorang yang setiap hari berusaha mendekatkan diri pada sebanyak mungkin orang tua.  Ibu Melly Kiong selalu mengajak orang tua untuk belajar dan belajar lagi menjadi orang tua yang lebih baik. Mungkin suatu hari gerakan Ibu Melly Kiong akan berpengaruh lebih luas dan bahkan bisa menjadi kebijakan nasional, semasal program Criança Feliz. Siapa tahu. :)

Jul 2, 2018

Menonton "Cita-citaku Setinggi Tanah"


Cita-citaku setinggi tanah ( trailer: https://www.youtube.com/watch?v=EZ3-XpOGFb0 ) sebenarnya adalah film tahun 2012. Namun, saya baru kesampaian menontonnya kemarin. Kemarin, film tersebut diputar di Kinosaurus, Jakarta. Film ini mengenai seorang anak bernama Agus yang berusaha keras mewujudkan cita-citanya.

Guru sekolahnya Agus memberikan sebuah tugas yang harus dikumpulkan di akhir semester. Tugasnya adalah menulis karangan tentang cita-cita. Cita-cita Agus tidak muluk-muluk seperti ingin jadi dokter, pilot, artis. Cita-citanya adalah makan nasi Padang. Konon ibunya, dikenal di desanya karena pintar memasak tahu bacem, jadi setiap hari Agus makan tahu bacem. Sekali-kali ia ingin merasakan rasanya makan di restoran Padang.

Selagi teman-temannya menuliskan mengenai cita-citanya dengan lancar. Agus butuh lebih banyak waktu. Iya ingin mewujudkan cita-citanya makan nasi padang, dan cita-cita ini tampaknya bisa terwujud sebelum batas akhir tugas dikumpulkan. Untuk bisa makan nasi padang, Agus menabung, bekerja untuk memperoleh uang tambahan dan melakukan berbagai hal lainnya, kadang seolah-olah sedang berulah. Film ini manis, karena menggambarkan proses Agus meraih cita-cita. Meskipun kelihatannya hanya cita-cita sederhana, setinggi tanah, perjuangannya juga tidak mudah. Setidaknya, di usia muda, Agus pernah mencoba mencapai cita-cita. Setelah cita-cita sederhananya ini tercapai, Agus punya cita-cita lainnya dan karena punya pengalaman mewujudkan cita-cita, Agus jadi lebih yakin akan bisa mewujudkannya juga.

Jun 29, 2018

Membaca "Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Pratek Sosial"


"Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Praktek Sosial" adalah sebuah buku yang dituliskan oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Kedua penulis tampaknya pernah melakukan penelitian terkait literasi, namun pada kelompok yang berbeda-beda. Kesamaannya, kedua kelompok merupakan kelompok yang seringkali dilabeli sebagai "kelompok marjinal". Ibu Pratiwi meneliti tentang praktek literasi di kelompok Buruh Migran Indonesia (BMI) sedangkan Ibu Sofie meneliti mengenai praktek literasi di kelompok anak jalanan. Perpaduan hasl refleksi dari kedua penelitian tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku ini. Di bagian akhir juga ada tulisan reflektif yang mempertanyakan "Ke Mana Arah Gerakan Literasi Kita."

Hal pertama yang membuat saya terpikat dengan buku ini adalah ketika membaca pengalaman literasi Ibu Sofie berikut ini:
"Saya selalu mengira bahwa saya literat. Saya tumbuh dengan aksara. Ibu saya adalah guru bahasa Inggris di sebuah SMA di Surabaya, suka membacakan buku-buku dongeng berbahasa Inggris dengan ilustrasi yang memikat sehingga kata-kata asing yang tidak saya mengerti itu menari-nari dengan indahnya membentuk cerita hidup di benak saya Saya mencintai aksara sehingga saya menuliskannya di tembok rumah eyang saya. Tembok itu merekan perubahan huruf b, k, f, l dari bentuk yang tidak beraturan menjadi suku kata, lalu huruf, lalu kalimat, lalu bait-bait puisi. (h. 24- 25)
Di sana tergambar mengenai pengalaman Bu Sofie "merasa literat". Namun, ketika berkuliah di Amerika Serikat untuk mengambil program doktoral, perasaan "bahwa saya literat" sama sekali berubah. Katanya:
"Kepindahan saya ke Amerika Serikat memaksa saya untuk menggunakan bahasa Inggris - yang sebelum itu saya pikir saya kuasai dengan baik - yang tidak seketika memampukan saya berkomunikasi dan 'berfungsi' sebagau warga negara yang berbudaya. Berinteraksi dengan penutur asli, saya merasa aksen saya aneh, pilihan kata saya tidak tepat, dan struktur kalimat saya terlalu kaku. Saya kesulitan membedakan beberapa frase sederhana seperti 'fill in' atau 'fil out', 'used to' atau 'get used to', 'latter' atau 'later'.  Saya khawatir disalahpahami, saya merasa tidak cakap berkomunikasi. Saya merasa tidak literat. (h. 26)
Selama berkuliah, Bu Sofie beberapa kali  satu-satunya mahasiswa asing di kelas. Pengalamannya menjadi minoitas ini membuatnya tertarik untuk meneliti mengenai praktek-praktek literasi di kelompok marjinal. Pilihannya berakhir untuk meneliti praktek literasi di kelompok anak jalananan. Profesornya mendukungnya dan senantiasa membantu Ibu Sofie untuk 'fokus mengembangkan analisis yang kritis dan reflektf terhadap bacaan dan mengungkapkannya dengan tulisan dan suara yang mewakili subjektifitasnya.

Tulisan Ibu Pratiwi di buku ini juga sangat menarik, yakni tentang praktek-praktek literasi yang dijalankan oleh BMI di Hongkong. Di buku itu diceritakan bahwa ada seorang BMI bernama Rie Rie yang membuat blog "Babu Ngeblog" (lihat : http://babungeblog.blogspot.com/ ). Rie Rie menulis dalam bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Tulisan-tulisannya dibuat untuk mendobrak stereotipe yang buruk tentang BMI yang sering dianggap bodoh. Tulisan-tulisan Ibu Pratiwi menggambarkan bagaimana para BMI membentuk 'identitas baru' dengan kegiatan membaca dan menulis

Buku ini membuat saya belajar mengenai bagaimana banyak BMI menghabiskan akhir pekannya di Victoria Park, membaca buku di 'perpustakaan koper' atau menggunakan fasilitas komputer gratis di Hongkong Central Library. Ada juga cerita tentang sebuah dokumenter yang dibuat oleh BMI bernama Ani. Judulnya "Hongkong Helper Ngampus (HHN)". Film ini sempat masuk sebagai finalis Eagle Award Metro TV 2007. Mendapatkan penghargaan adalah satu hal, namun memberikan makna untuk sesama dalah hal lain. Di kemudian hari film HHN digunakan untuk mendidik BMI-BMI lain bahwa BMI bukan sosok yang tidak berdaya. Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) mengajak Ani untuk membantu pembekalan calon BMI sebelum berangkat bekerja. Filmnya menjadi media pembelajarannya.

Hal yang membuat saya paling tertohok ketika membaca buku ini adalah ketika menyadari bahwa pembelajaran literasi di sektor non-formal seperti yang dialami oleh BMI di Hongkong atau anak jalanan yang diteliti oleh Ibu Sofie justru tidak dialami oleh banyak siswa di Indonesia. BMI Hongkong yang diteliti oleh Ibu Pratiwi misalnya, terbiasa membaca banyak karya sastra dan biasa mengkritik tulisan satu sama lain. Praktek literasi digunakan untuk memaknai pengalaman hidup mereka dan menjadikan hidup mereka lebih bermakna.

PAUD Bestari (lembaga penelitian non-formal) adalah tempat anak-anak jalanan, yang diteliti Ibu Sofie, belajar. Bu Sri adalah nama seorang pendidik di sana. Beliau sadar bahwa anak-anak jalanan ini hidup dikepung informasi, bahkan kadang tidak sesuai untuk anak-anak. Katanya:
"Di rumah anak-anak menonton sinetron tayangan gosip, cerita hantu, berita kriminal, dan tayangan lainnya yang biasa ditonton orang tua mereka." (h.187)
Meskipun apa yang ditonton oleh anak-anak 'tidak ideal', Ibu Sri menggunakan apa yang telah 'dekat' dengan anak-anak untuk memulai pembelajaran literasi.
"Ketika anak-anak menyanyikan lagu 'Susis (Suami Takut Istri)' yang bukan lagu anak-anak, Bu Sri tertawa mendengarkan mereka menyanyikan lagu itu, lalu mengajak mereka menyanyikan lagu lain yang liriknya lebih sesuai dengan mereka."
Membaca "Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktek Sosial" menekankan bagaimana kelompok-kelompok marjinal melakukan praktek literasi dengan mengeksplorasi teks kultural di sekitarya  untuk memaknai identitas dan hidup mereka. Apakah proses 'memaknai' ini juga terjadi di sekolah-sekolah? Semoga.


Mar 24, 2018

Sarasvati, Nama yang Bapak Berikan dan Kisah di Belakangnya

Nama saya Dhitta Puti Sarasvati. Ketika mendengar nama belakang saya, beberapa orang bertanya-tanya, apakah saya berasal dari Bali? Bagi sebagian orang Bali, khususnya yang beragama Hindu, Sarasvati dipercaya Dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Bapak selalu mengatakan, dengan menamakan “Sarasvati”, diharapkan saya tumbuh menjadi seseorang yang cinta ilmu pengetahuan. Ketika saya memilih jalan hidup menjadi pendidik, bukan profesi lain, Bapak sering bercanda, “Ini pasti gara-gara dulu Bapak kasih nama Sarasvati.” Bagaimana Bapak bisa memiliki ide untuk memberikan saya nama Sarasvati? Ini ada ceritanya. Setelah Bapak mengambil studi strata 2 (S2) di bidang Ekonomi di Boston University, Bapak mendapatkan tawaran untuk melanjutkan S3 (dengan beasiswa) di tempat yang sama. Meskipun tawaran itu sangat menarik, Bapak menolak tawaran tersebut dan memilih kembali ke Indonesia. Kepada saya, Bapak pernah berkata, “Ekonomi tidak bisa dipahami hanya dengan mempelajari teori dan pintar di sekolah saja. Saat itu Bapak belum begitu mengerti ekonomi Indonesia. Kalau Bapak langsung lanjut S3, Bapak akan pintar sekolahan saja. Bapak putuskan untuk mempelajari ekonomi melalui pengalaman riil dengan menjadi peneliti terlebih dulu selama dua sampai tiga tahun. Setelahnya, baru melanjutkan studi lagi. Nanti akan kembali lagi.” Sekembali ke Indonesia, Bapak menikah dengan almarhumah Ibu, yang sedang menyelesaikan tugas akhir di Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama kemudian, saya pun mulai tumbuh di perut Ibu. Saat itulah, tahun 1982, Bapak mulai bekerja sebagai Senior Researcher CPIS, Tim Harvard, yang merupakan lembaga riset dan penasihat Departemen Keuangan Republik Indonesia. Salah satu tugasnya adalah melakukan reformasi Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Desa. Waktu itu ada 3.600 BRI Unit Desa yang sebelumnya memberikan Kredit Bimas untuk petani. Karena manfaatnya dianggap telah selesai, Kredit Bimas kemudian dihapuskan. Pemerintah pun berencana untuk menutup 3.600 BRI Unit Desa ini. Bersama tim CPIS Harvard, Bapak menyarankan kepada pemerintah agar BRI Unit Desa tidak ditutup tetapi direformasi. Bapak menjadi koordinator lapangan untuk membenahi 36 BRI Unit Desa di seluruh Indonesia. Beberapa tahun kemudian, reformasi Unit Desa BRI ini (Program Kupedes dan Simpedes) menjadi salah satu program bank pedesaan paling baik di seluruh dunia. Pada kemudian hari untuk mendukung program ini, Tim Harvard mempekerjakan Stanley Ann Dunham, seorang Antropolog, untuk menjadi penasihat sosiologi pedesaan. Antropolog ini merupakan ibu dari Presiden Obama. Proyek ini merupakan salah satu alasan mengapa Obama sempat tinggal dan bersekolah di Indonesia. Beberapa hal dikerjakan untuk memperbaiki BRI Unit Desa. Antara lain dengan membenahi sistem akunting sehingga Unit Desa menjadi unit yang mandiri dan simpanan pedesaan, serta memperbaiki sistem pinjam-meminjam sehingga bukan berdasarkan pada jaminan semata. Namun, lebih berdasarkan sejarah pinjaman (credit history). Misalnya, seseorang diberikan pinjaman Rp500.000. Apabila si peminjam itu mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu, di kemudian hari dia berhak memperoleh pinjaman yang lebih besar. Orang lain, yang mungkin punya jaminan yang lebih besar (misalnya, punya tanah dan sebagainya), tetapi tidak punya sejarah mengembalikan pinjaman dengan baik, akan kesulitan memperoleh pinjaman lagi. Sistem pinjaman ini merupakan bentuk dukungan kepada petani untuk mengembangkan usahanya. Inilah cikal-bakal micro-credit. Seorang profesor dari Bangladesh, Prof. Mohammad Yunus, sempat datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem BRI Unit Desa. Dia mengaplikasikan sistem BRI Unit Desa dengan membuat hal yang serupa di Bangladesh, untuk nasabah yang jauh lebih miskin, bahkan tidak memiliki tanah. Di Bangladesh, sistem ini berkembang dan dinamakan Grameen Bank. Muhammad Yunus yang begitu konsisten mengembangkan Grameen Bank, akhirnya memperoleh Hadiah Nobel karena upayanya ini. Bali adalah salah satu daerah yang Bapak datangi langsung ketika membenahi BRI Unit Desa waktu itu. Di Bali, Bapak makin tertarik dengan konsep dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan, Sarasvati. Begitulah, nama itulah yang Bapak berikan ketika saya lahir ke dunia.

Dec 14, 2017

[REFLEKSI] Rencana Mengubah Cara Memberikan Umpan Balik


Sebagai seorang pengajar, saya telah banyak melakukan perubahan. Ketika pertama kali mengajar, di tahun 2002, saya banyak mengandalkan papan tulis dan kapur (iya, waktu itu masih menggunakan kapur).

Saya meringkas materi pelajaran, mencatatnya di papan tulis, dan siswa-siswa saya (yang waktu itu seusia SMP) mencatat. Saya banyak bicara, berceramah tentang apa yang sudah ditulis di buku. Mungkin, meniru beberapa pengajar yang pernah saya lihat sewaktu masih bersekolah.

Kini, cara mengajar saya sudah berubah. Ceramah, hampir tidak pernah saya lakukan lagi. Saya lebih banyak mengajar dengan mengajukan pertanyaan dan mengajak (maha)siswa mengerjakan berbagai aktivitas yang membuat mereka harus berpikir baik sendiri, berpasangan, ataupun dalam kelompok.

Namun, belakangan saya baru menyadari bahwa dalam memberikan umpan balik kepada (maha)siswa, saya masih sangat payah. Belum banyak perubahan dari pertama kali mengajar (yang sudah lebih dari 15 tahun yang lalu).

Ketika memberikan umpan balik, khususnya secara tertulis, kadang saya terlalu bias. Kadang lebih banyak menuliskan kekurangan (maha)siswa daripada kelebihannya.

Ketika hasil assessment (maha)siswa kurang memuaskan,  saya menulis umpan balik dengan nafsu  yang menggebu-gebu. Tinta merah menjadi teman saya dalam mencoret-coret pekerjaan (maha)siswa. Kadang tulisannya gede-gede saking nafsunya. Mungkin, ketika membacanya, (maha)siswa malah akan merasa jatuh dan bukan bersemangat untuk memperbaiki diri. Tentu bukan itu yang saya inginkan.

Saya pun iseng-iseng membaca beberapa artikel tentang memberikan umpan balik kepada (maha)siswa. Ada dua saran yang ingin saya coba di kemudian hari, yakni:

  1. Saya akan mencoba menuliskan umpan balik dengan dua jenis tinta, seperti biru dan hijau. Tinta biru,  untuk umpan balik yang sifatnya  positif, misalnya megomentari apa yang sudah baik dari hasil pekerjaan (maha)siswa. Tinta hijau digunakan untuk umpan balik yang sifatnya mengkritik. Menulis dengan dua tinta, memungkinkan saya  melihat (dengan mudah) bagaimana saya menuliskan umpan balik. Apakah lebih banyak mengomentari kelebihan atau kekurangan hasil kerja (maha)siswa? Kalau terlalu banyak tinta hijau misalnya, saya perlu memperbaiki cara saya menulis umpan balik. Gagasan ini saya dapatkan dari artikel 9 Ways to Give More Effective (Writing) Feedback). Tampak sederhana dan bisa dicoba. Yang jelas, saya akan berusaha menghindari menulis umpan balik dengan tinta merah. Tampaknya tinta merah membuat saya terlalu menggebu-gebu ketika menuliskan umpan balik. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya ingin menuliskan umpan balik dengan perasaan lebih tenang. 
  2. Terkait dengan rencana di atas, saya  juga mau lebih baik hati ketika memberikan umpan balik. I want to be more constructive, kind, and specific seperti saran yang ada di artikel Timely Feedback: Now or Never. Di artikel tersebut, guru diingatkan mengenai rasanya dievaluasi atasan (atau mungkin pengawas) dengan terus menerus dikritik mengenai kekurangannya. Tentu tidak enak, bukan? Itulah mengapa lebih baik mulai dengan menyampaikan apa yang sudah baik, dan kemudian menyampaikan mengenai apa yang perlu diperbaiki. Umpan balik juga harus spesifik, sehingga (maha)siswa tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. 
Saya tidak akan muluk-muluk. Sementara saya akan mencoba dua hal di atas. Itu saja dulu.  Semoga dua langkah kecil ini bisa membawa saya melangkah lebih jauh dalam meningkatkan kualitas saya dalam memberikan umpan balik kepada (maha)siswa. 

Nov 22, 2017

Guru Super, Excellent, dan Good menurut Johnson



Pak Budi Poniam, rekan saya di kampus memperkenalkan saya pada buku "Teaching Outside the Box: How to Grab Your Students By Their Brains" karya Louanne Johnson (2015). Saya baru selesai membaca bab kedua, berjudul "Are you Teaching Material?".

Di bab tersebut guru dikategorikan menjadi tiga, yakni "super", "excellent", dan "good".  Sebenarnya ada kategori lain, yaitu "mediocre"  dan "terrible teachers". Mediocre teachers tampaknya menggambarkan guru yang biasa-biasa saja. Di sekolah, mengajar seadanya (persiapannya sangat minim) lalu pulang. Sedangkan terible teachers tampaknya mengacu pada guru yang mengajar dengan sangat buruk, misalnya, yang tidak peduli dengan siswa sama sekali.

Kedua kategori terakhir tidak dibahas di dalam buku ini dengan alasan bahwa guru yang mediocre dan terrible tidak bisa ditolerir. Kata Johnson:
"Teachers come in three basic flavors - super, excellent, and good. (Of course, there are the mediocre teachers and, sadly, terrible teachers. But teaching poorly is not acceptable or excusable, so such practices are not included in this discussion)." ( Johnson, h. 7)
Saya akan mencoba mengelaborasi apa yang dimaksud dengan super, excellent, dan good teachers.

Super Teachers
Super teachers adalah orang yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk mendidik dan mengajar. Setiap waktu di dalam hidupnya didedikasikan untuk profesinya. Tidak semua guru bisa menjadi super teachersHanya mereka yang punya energi (fisik, emosi, dan mental) yang tinggi yang bisa melakukan sangat ini.

Mereka bukan hanya tepat waktu, tapi senantiasa datang lebih awal dan pulang lebih sore. Kegiatan belajar mengajar dirancang sesempurna mungkin. Setiap waktu kosong digunakan untuk belajar hal baru (yang bisa digunakan untuk kepentingan mendididik). Mereka membimbing berbagai kegiatan  kesiswaan, memberikan pelajaran tambahan, bahkan ketika harus mengorbankan waktu pribadi. Ketika harus mengorbankan kepentingan pribadi, mereka pun melakukannya dengan senang hati.

Tidak semua guru memiliki energi seperti ini. Juga, tidak semua guru memiliki sistem pendukung (keluarga, lingkungan sekitar) yang memungkinkannya fokus 100% pada kegiatan mendidik. Saya terbayang, bahwa seorang supper teacher  hidupnya berfokus pada sekolah dan kegiatan mendidik. Nyaris 100%. Tentu saja, saya salut pada guru semacam ini, namun juga bisa memahami bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi guru semacam ini.

Excellent Teachers
Excellent Teachers  adalah guru yang mencintai pekerjaan mereka. Kegiatan mendidik tetap jadi prioritas yang cukup utama. Mereka menghabiskan waktu yang cukup untuk merancang kegiatan  belajar-mengajar yang menarik. Ketika memberikan assessment kepada siswa, mereka benar-benar memperhatikan progres siswa. Sesekali mereka berkorban, misalnya untuk mendampingi siswa untuk kegiatan ekskursi. Apabila diperlukan, mereka akan menyediakan waktu untuk berdialog dengan siswa-siswa yang membutuhkan. Namun, guru yang seperti ini, tidak akan terlalu ngoyo, apabila memang ada keperluan pribadi yang perlu didahulukan.

Good Teachers
Good teachers adalah guru yang akan memenuhi  tangung jawabnya dengan baik. Mereka tetap merancang kegiatan dengan baik, memenuhi tanggung jawabnya ketika mengajar, memastikan bahwa siswa berprores dalam belajar, dan mendampingi siswa sesuai tanggung jawabnya. Namun, mereka punya batasan yang sangat jelas antara kehidupan profesional dan personal. Setelah jam sekolah usai, mereka akan sibuk dengan hobi mereka, keluarga dan teman-teman mereka, mungkin sedikit lupa dengan apa yang terjadi di sekolah.

Menurut Johnson, kita bisa memilih menjadi guru yang super, excellent, atau good. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Pilihan ini sangat tergantung dari kekuatan personal, relasi dengan orang yang disayangi, target profesional, dan prioritas pribadi. Menurut Johnson:
"Sometimes teacher confess that they feel a bit guilty for not having the energy to be a super teacher. I tell them - and I am absolutely sincere - that there is no shame in being an everyday good teacher. Not everybody can be a rock star and needs to be..... I may be biased, but I believe that an everyday good teacher is still a hero."  (Johnson, h. 14)

Tentu saja, pengkategorian guru menurut Johnson tidak saklek  dan kita sendiri bisa membuat kategori lainnya apabila diperlukan. Namun, dengan membaca kategori guru di atas, kita bisa berefleksi untuk melihat kita ada di posisi yang mana dan ingin berada di posisi mana. Baik dengan menjadi guru yang super, excellent , ataupun good   kita tetap bisa berkontribusi untuk pendidikan dan lingkungan.  Asalkan bukan guru yang mediocre atau terible kali yah.. :)