Aug 15, 2020

Menumbuhkan Jiwa Keguruan: Berat tapi Indah

Dua tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2018 Pak Bagiono mengajak saya mengisi sebuah lokakarya di SMKN 11 Jakarta. Lokasi sekolah tersebut, tidak jauh dari glodok. Zaman dulunya, SMK tersebut merupakan SMEA. Saat itu, ada tiga jurusan di sekolah tersebut:  Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan.

"Apa tujuan lokakarya tersebut?" tanya saya pada Pak Bagiono saat masih diskusi untuk persiapan. Pak Bagiono menjelaskan bahwa harapannya peserta bisa menyadari hakikat mereka sebagai guru. Waduh, tujuan yang sangat berat. Bikin "sakit perut". 

Saya sangat hormat kepada Pak Bagiono. Beliau merupakan salah satu pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI). Saat saya baru pulang dari UK dari studi S2, Pak Bagiono menawari saya untuk mengajar di sebuah Akademi Farmasi di daerah Fatmawati sebagai dosen bahasa Inggris. Hanya  6 bulan tapi saya sangat bersyukur diberikan kesempatan tersebut. Pak Bagiono juga  mengenalkan saya pada Pak Daoed Joesoef,  untuk belajar banyak hal mengenai pendidikan. Beberapa kali saya diberikan nasihat dan masukan berharga dari  Pak Bagiono.

Kalau bukan Pak Bagiono yang meminta, saya tidak akan berani  membawa lokakarya dengan tujuan seberat itu. Saya ragu, dan sempat menyampaikan keraguan saya pada Pak Bagiono. Pak Bagiono pun menyemangati saya. Dia mengatakan, dia percaya pada saya. Menumbuhkan jiwa keguruan butuh waktu. Tidak akan bisa instan. Lokakarya tersebut hanya sebentar, tentu tidak akan langsung berdampak. Tapi, setidaknya merupakan langkah untuk mulai menumbuhkan rasa keguruan itu. 

Saya segera mengajak seorang teman untuk mendampingi saya menjadi fasilitator di kegiatan itu. Namanya Pak Dasrizal. Guru matematika yang  muda, bersemangat, dan juga punya jiwa seni yang tinggi. Hobinya, selain mengajar adalah menyanyi khususnya dalam pentas musikal. Setahun setelah lokakarya tersebut, Pak Dasrizal bersama beberapa musisi Indonesia lainnya untuk pentas di Broadway, New York ( Kompas Cetak, 13 Maret 2019).


Lokakarya yang digagas oleh Pak Bagiono ini tujuannya bukan hal-hal yang sifatnya teknis, misalnya metode mengajar, atau teknik mengajar tapi sesuatu yang menyangkut rasa. Rasa bangga menjadi guru. Rasa ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri agar bisa juga memberikan yang terbaik kepada siswa. Itu rasa yang sangat indah. Rasa ini tidak akan bisa ditumbuhkan dengan pelatihan yang sifatnya teknis belaka. Peserta harus bisa merasakan sesuatu yang indah. Saat itu saya yakin, Pak Dasrizal bisa menciptakan suasana yang indah, yang akan menyentuh hati para peserta.

Pak Dasrizal dan saya bertemu untuk merancang lokakarya bersama. Ada tiga tujuan yang ingin kami capai (atau setidaknya menuju ke arah sana). Peserta diharapkan: 

  • Merefleksikan kembali alasan menjadi guru dan mengapa bertahan menjadi guru.
  • Mengembangkan ketertarikan untuk mengembangkan diri menjadi guru yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Memiliki gagasan dan membuat rencana kerja (action plan)  untuk pengembangan diri.
Setelah kegiatan ice breaking, peserta diajak menonton vido Mrs. Chong, tentang seorang guru yang berhasil menyentuh hati siswanya. Kami mendiskusikan videonya


Pak Dasrizal kemudian membaca sebuah tulisan yang ditulisnya sendiri. Refleksi Pak Dasrizal kenapa dia menjadi guru dan bertahan menjadi guru. Setelahnya peserta diajak menuliskan refleksinya sendiri, termasuk diminta menuliskan salah satu pengalaman yang paling berkesan saat mereka menjadi guru. Beberapa guru membacakan tulisannya. 

Beberapa guru mengatakan mereka tidak sengaja menjadi guru. Ada yang mengatakan menjadi guru karena harapan orang tua. Namun, tampaknya itu baru pertama kalinya mereka merefleksikan kenapa mereka masih bertahan menjadi guru. Ada peserta yang mengakui hal tersebut dan baru menyadari bahwa memang ada hal yang menyenangkan ketika menjadi guru, khususnya ketika melihat siswa berhasil dalam kehidupannya.


Berdasarkan masukan dari Pak Bagiono, kami membagikan sebuah artikel kepada peserta untuk dibaca dan didiskusikan. Judulnya Guru Idola karya L. Wilardjo (Kompas, 17 Juli 2018). Artikel tersebut menggambarkan kisah beberapa guru yang diidolakan siswanya. Siswa-siswa di dalam artikel tersebut selalu merupakan siswa yang menjadi jauh lebih hebat daripada gurunya. Wolfgang Pauli misalnya, terinspirasi dari dosenya Prof. Arnold Sommerfeld (yang mengembangkan Teori Atom Hidrogen-nya Niels Bohr). Pauli berkembang jauh melampaui gurunya dan menjadi peraih Nobel Fisika. Fisikawan terkenal, Richard Feynman merasa gurunya adalah Paul Dirac. Padahal Feynman tidak mengambil kelas yang diampu oleh Dirac. Feynman hanya membaca karya Dirac. Feynman melampaui Dirac, bukan hanya karena memperoleh nobel karena elektronika kuantum. Namun juga dikenal sebagai pengajar fisika yang sangat baik.Feynman terkenal sebagai "The Great Explainer" karena bisa membahasakan konsep-konsep Fisika yang rumit menjadi lebih sederhana. Kisah lain diambil dari pewayangan. Palgundi ingin sekali berguru pada Durna. Namun, tidak bisa karena Durna sudah punya murid kesayangan, Arjuna. Saking ingin belajar dari Durna, Durna membuat patung Palgundi untuk latihan memanah. Bagi Durna, guru idolanya tetap Palgundi dan pada akhirnya kemampuan memanah Palgundi pun melampaui Arjuna. Ketiga siswa mengidolakan seorang guru yang menjadikan mereka (para siswa) lebih hebat dari gurunya. 

Setelahnya, kami mengajak peserta mendiskusikan diskurs "guru yang baik" seperti yang telah dirumuskan oleh Alex Moore (2004) yakni 1) the charismatic subject, 2) the competent craft person

Setelahnya Dasrizal dan saya berbagi pengalaman tentang cara kami mengembangkan diri baik secara personal maupun profesional. Selain pengembangan diri yang sifatnya formal seperti mengikuti pelatihan, dsb, juga ada pengembangan diri yang lebih cair. Bisa sesederhana mem-follow guru yang inspiratif di sosial media,  atau menjadi konsumen yang berkesadaran (memilih konten yang berkualitas untuk dibaca, misalnya saat sedang browsing di internet). Pak Dasrizal juga bercerita pengalamannya mengembangkan diri di bidang kepenulisan dan seni. Meskipun Pak Dasrizal merupakan guru matematika, Pak Dasrizal mengembangkan diri dalam berbagai bidang lainnya. Itu membantunya menjadi manusia yang lebih baik. Kata Pak Dasrizal:
"Menjadi seorang guru yang utuh. Tidak hanya fokus pada pekerjaan, tapi kita jadi memiliki banyak cerita yang bisa dibagikan kepada siswa.  Kadang-kadang siswa tidak selalu terinspirasi pelajaran yang kita berikan, tetapi dari cerita-cerita yang kita bawa dari apa yang kita lakukan di luar sana.”

Setelahnya, teman-teman guru diminta merefleksikan apa yang masih kurang dan sudah baik terkait aspek personal maupun profesional mereka. Lalu mereka diajak membuat action plan sederhana dengan menuliskan ide tentang cara mereka ingin mengembangkan diri. Ada yang ingin lebih melatih kesabaran agar tidak gampang marah, ada yang ingin lebih rajin membaca, dan sebagainya. 


Setelahnya, Pak Bagiono sharing pengalamannya sebagai pendidik di SMK, termasuk kisah mengenai beberapa siswa SMK yang berhasil. Tampaknya Pak Bagiono ingin mengingatkan teman-teman guru SMK agar jangan minder, misalnya karena tidak mengajar di SMA. Mengajar di SMK pun mengajar manusia yang punya potensi untuk berkembang. 

Tak salah mengajak Pak Dasrizal untuk berpartner bareng saya di hari itu. Pak Dasrizal menutup lokakarya dengan menyanyikan lagu Indonesia Jiwaku, lagu yang sangat indah karya Guru Soekarno Putra. Awalnya beberapa peserta berteriak, "Afgan!" karena menganggap suara Dasrizal tak kalah indah dengan Afgan, lama kelamaan suasana menjadi lebih hening. Di akhir lagu, peserta bertepuk tanga. Beberapa peserta saya lihat meneteskan air mata. Pak Bagiono juga.  Tampaknya sedikitnya, kegiatan yang hanya berlangsung setengah hari itu sedikit menyentuh hati teman-teman guru. 


Keterangan: Ini merupakan lanjutan dari tulisan "Cerita Persiapan Lokakarya untuk Guru di SMKN 11" (lihat: http://mahkotalima.blogspot.com/2018/08/cerita-persiapan-lokakarya-untuk-guru.html ) 



Gernas Tastaka (2): Cerita tentang Langkah Pertama

Ketika awal Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) terbentuk, para pendiri belum tahu persis bentuknya. Kami sudah tahu bahwa kami mau memberikan akses kepada anak-anak Indonesia untuk bisa belajar matematika yang menumbuhkan nalar mereka. 

Pertemuan pertama dilakukan di UI dihadiri oleh Pak Ahmad Rizali, Woro Retno Kris Sejati, Pak Agung Wibowo, dua mahasiswa UI, dan saya. 

Setelah beberapa pertemuan untuk membahas bentuk Gernas Tastaka kami memilih fokus di SD dulu. Juga, mulai dari melakukan gerakan dengan menyelenggarakan kegiatan untuk guru dulu. Kenapa? Kebetulan diantara pendiri-pendiri Gernas Tastaka memang ada beberapa yang bergerak sebagai guru serta memang hobi berbagi dengan guru. Kenapa SD? Karena di tingkat itulah salah satu fondasi terkait matematika biasanya mulai dibangun (sebenarnya di usia sebelum SD juga, tapi kami memang belum mau fokus ke sana). Saat launching pada 10 November 2020 sudah muncul ide membuat Training of Trainers (ToT) untuk guru SD meskipun gagasan lengkapnya masih samar-samar.

ToT dan bukan pelatihan biasa. Kenapa? Kalau membuat pelatihan saja, artinya peserta pelatihan akan menerapkan apa yang dipelajari di kelas. Itu bagus, tapi kami inginnya yang mengikuti kegiatan kami, selain menerpkan apa yang dipelajari di kelas, bisa berbagi tentang apa yang dipelajari ke guru lain. Caranya, boleh bikin ToT lagi, pelatihan, atau mengembangkan konten, atau berbagi dengan cara lain. 

Awalnya ToT kami terdiri dari 6 pertemuan masing-masing 6 jam (luring). Bahannya kami adopsi dari berbagai bacaan terkait pendidikan matematika. Kami tidak menciptakan metode baru. Kami tidak membuat konsep baru. Kami hanya meramu kembali apa yang memang menjadi pengetahuan-pengetahuan dasar terkait pendidikan matematika serta menyebarluaskan gagasannya. Kami tahu, sebenarnya ada begitu banyak ilmu terkait pendidikan matematika yang perlu dipelajari guru SD dan guru matematika manapun. Tidak mungkin. Mau bikin kegiatan untuk menyebarkan semua detilnya? Gak mungkin lah yah. Pasti akan membutuhkan waktu yang lama sekali. Artinya kami pilih beberapa saja, yang esensial sebagai pancingan bagi teman-teman guru untuk belajar lagi. Dalam Gernas Tastaka segala media komunikasi kami menjadi penting mulai dari Group FB, Instagram, dan WA Group yang terdiri dari peserta-peserta kegiatan Gernas Tastaka. Di situlah proses belajar melalui dialog dan kegiatan sharing terus dilakukan. Di sana jugalah tempat munculnya ide-ide baru. ToT menjadi semacam "tempat perkenalan dan memulai persahabatan", proses komunikasi berikutnya lah yang membuat hubungan persahabatan untuk saling belajar tersebut semakin erat. 




Ketika ToT pertama kali kami diujicobakan di MIN 13 Jakarta Timur, kami tidak menyangka bahwa sambutannya hangat sekali. 30 orang guru dari sekolah tersebut mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya secara penuh. Saat penutupan ToT ke-6 pada 9 Februari 2019, seorang peserta mengatakan, yang mengaku belajar matematika sejak SD tahun 1969 mengatakan, "Selama belajar selama ini, kami seperti anak-anak. Kalau berhasil, girangnya kayak apaan. Lompat-lompat. Bukan berarti kami songong, bukan berarti kami tidak sopan. Tapi karena senangnya mendapatkan ilmu yang selama ini kami rindukan". Kami menutup ujicoba ToT tersebut kami menonton bersama (Hidden Figures) sambil makan-makan dengan makanan yang dibawa oleh peserta secara botram. Itu langkah pertama kami, yang kemudian menumbuhkan percaya diri kami untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Kalau kata Lao Tzu, "The journey of a thousand miles begins with one step"  yang artinya perjalanan 1000 mil dimulai dengan langkah pertama. Itu yang kami rasakan ketika pertama kali mau mencoba membuat gerakan melalui Gernas Tastaka.

Jun 7, 2020

Dialog Mbak Bonita, Anyi, dan Mas Ibut tenta g "Peduli Musik Anak"


Senang banget hari ini bisa mendengarkan dialognya @singingbonita, Karina Adistiana, dan Mas Ibut soal "Peduli Musik Anak". Bagus banget (ada rekamannya di IG Mbak @singingbonita , silakan dilihat yah ).

Anyi dan Mas Ibut adalah sepasang suami istri yang mencoba melakukan proses pendidikan melalui media musik anak.

Mereka berkeliling ke berbagai daerah Indonesia untuk mengajak anak, remaja, guru, orang tua membuat musik anak sebagai sarana pendidikan. Pendidikan untuk siapa? Anak, remaja, guru, maupun orang tua.

Salah satu kisah mereka terjadi di Maluku. Di sana, mereka mengajak para remaja ngobrolin makna perdamaian. Maluku sendiri pernah menjadi daerah konflik, maka penting untuk mendengarkan suara anak maupun remaja dan di sana. Bagi mereka, perdamaian itu seperti apa?

Hasil dialognya dibuatkan lagu. Tadi Anyi dan Mas Ibut menyanyikan lagu yang dibuat remaja-remaja tersebut. Mbak Bonita menangis mendengarnya. Saya juga.

Anyi juga sempat bercerita tentang fenomena di beberapa TK yang dikunjunginya. Ketika anak pentas, gurunya berdiri saja di bawah panggung mengamati. Kenapa tidak berdendang dan menari?

Maka dibuatlah lagu untuk mendidik orang dewasa untuk ikut berdendang dan menari bersama anak.

Ketika membuat musik untuk pendidikan bencana, Anyi dan Mas Ibut belajar dulu tentang kearifan lokal dan jenis musik yang pas untuk daerah terkait. Tujuannya agar lagunya lebih mengena.

"Musik merupakan bahasa yang universal, dan sudah powerful dari sananya. Kita tinggal memikirkan bagaimana liriknya bisa diadakan media untuk belajar," kata Anyi.

Mas Ibut juga sempat bercerita, "ada masanya guru-guru suka ngumpul dan membuat musik anak bersama. Kini, kita tergantung pada industri. Mendengarkan musik anak yang telah disediakan oleh industri."

Ada keinginan dari Peduli Musik Anak untuk kembali mengingat budaya-budaya itu. Musik diciptakan bersama-sama secara komunal  dengan komunitas untuk kepentingan komunitas.

"Apa yang kita lakukan sebenarnya, gagasannya kami pelajari dari Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar juga sangat mementingkan musik dalam proses pendidikannya termasuk menggunakan musik-musik dolanan," kata Anyi dan Mas Ibut (lupa persisnya kata-kata).

Diskusi sore ini diselingi beberapa lagu anak yang dihasilkan "Peduli Musik Anak". Dalam hati saya berjanji sebisa saya akan mendukung gerakan ini. Bikin posting ini merupakan salah satu caranya.

Jul 22, 2019

Peran Guru di Hari Pertama Sekolah

Sumber Gambar: https://www.iphotographycourse.com/blog/photographing-books/ 

Di sebagian besar sekolah di Indonesia, tahun ajaran baru 2019-2020 diawali pada Senin, 15 Juli 2019. Berbagai media massa menggambarkan situasi hari pertama sekolah di berbagai sekolah di Indonesia. Salahnya tentangtradisi merebut bangku sekolah. Sebuah video berita di Kompas berjudul "Demi Prestasi Anak, Bangku Diperebutkan" menggambarkan bagaimana kursi diperebutkan di tiga sekolah yang berbeda. Suasana hari pertama sekolah seperti itu sungguh menegangkan. 


Hari pertama sekolah memang penting. Kesan yang didapatkan siswa pada hari pertama sekolah bisa mempengaruhi pandangan mereka tentang sekolah di hari-hari selanjutnya. Saling berebut bangku, bukanlah cara yang baik untuk memulai hari pertama sekolah.  

Hal yang terjadi di hari sekolah  bisa mempengaruhi minat belajar siswa selama semester-semester ke depan. Apa yang dilakukan sekolah dan guru di kelas akan menjadi “kesan pertama” siswa tentang bagaimana lingkungan di mana ia akan belajar. Kesan baik yang diterima siswa akan menjadi modal minat dan motivasi bagi siswa dalam mengikuti proses belajar. 

Sayangnya, hal ini tak banyak disadari oleh sekolah. Sekolah pada umumnya menyambut dengan seremonial yang seringkali tak berkesan bagi siswa. Begitu pun dengan guru. Tak semua guru menyadari betapa pentingnya kesan pertama ini. Terhadap hal ini, Ronald L. Partin memberikan saran yang sangat baik bagaimana seharusnya menyambut tamunya. Ada tiga saran yang dikemukakan.  

Untuk menghantar siswa dihari pertama, guru kelas memiliki peranan penting. Ronald L. Partin (2009),  mengajukan tiga hal penting yang perlu dilakukan guru di hari pertama siswa: 1) mengenal siswa, 2) menyampaikan harapan dan membuat kesepakatan kelas, 3) membangun suasana nyaman dan siswa bersemangat mengikuti proses belajar di sekolah. 

Mengenal Siswa 
Sebelum hari pertama dimulai, guru perlu melakukan persiapan. Guru bisa mempelajari nama-nama siswa yang akan ada di kelasnya ataupun membaca dokumen-dokumen yang memberikan informasi mengenai latar belakang siswa.  Di hari pertama sekolah, guru bisa menunggu kedatangan siswa di depan kelas sambal tersenyum ramah. “Siapa namamu? Salam kenal, saya Ibu Dian yang akan jadi wali kelasmu sepanjang tahun ini,” merupakan hal yang bisa dikatakan guru sambal mengarahkan siswa untuk duduk di mejanya masing-masing.
Permainan  juga merupakan hal yang bisa dilakukan agar siswa merasa aman serta bisa belajar mengenal satu sama lain. Guru bisa mengajak siswa untuk berdiri melingkar dan semua bergantian mengenalkan diri sambal menyebutkan hal yang paling disuakai. 

Harapan dan Kesepakatan Bersama
Setiap guru pasti memiliki harapan mengenai suasana kelasnya sepanjang tahun ajaran ke depan. Harapan tersebut misalnya, bahwa setiap siswa akan saling menghargai satu sama lain, setiap anggota kelas akan menjaga satu sama lain selayaknya keluarga, dan semua akan saling mendukung untuk belajar Bersama. Harapan-harapan ini perlu disampaikan kepada siswa di hari pertama. 

Selain itu, guru bisa mengajak siswa membuat kesepakatan bersama. Bagaimana proses belajar seharusnya berlangsung? Bagaimana cara berkomunikasi satu sama lain? Apa yang perlu dilakukan ketika ada yang berbicara di depan kelas? Apa konsekuensinya ketika ada yang menganggu teman-teman yang sedang belajar? Siswa bisa diajak terlibat mendiskusikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Menyampaikan harapan serta membuat kesepakatan bersama merupakan langkah awal untuk mengajak siswa merasa bahwa kelas baru mereka juga merupakan bagian dari tanggung jawab mereka. Tentu sepanjang semester pasti akan ada siswa-siswa yang mungkin secara sengaja maupun tidak melanggar kesepakatan. Namun, setidaknya sejak awal, siswa sudah diajak membayangkan suasana kelas yang diharapkan, kelas yang membuat semua siswa nyaman dan aman untuk belajar bersama.

Membangun Suasana Yang Memungkinkan Siswa Merasa Semangat Belajar
Ada beberapa cara untuk membuat siswa merasa bersemangat belajar semenjak hari pertama sekolah. Misalnya, di hari pertama sekolah siswa bisa diajak bersama-sama membuat pajangan kelas. Guru juga bisa mengajak siswa bermain bersama, khususnya yang memungkinkan siswa mengenal satu sama lain. Kegiatan belajar di hari pertama tidak perlu langsung berat-berat, yang penting siswa merasa aman dan nyaman. Guru juga bisa menceritakan berbagai hal menarik yang akan dilakukan sepanjang sepanjang semester.  Apakah siswa akan diajak belajar di luar kelas? Apakah siswa akan membuat karya-karya seni bersama? Apakah siswa akan belajar membaca dan menulis dengan cara yang istimewa? Guru perlu punya bayangan mengenai apa yang akan dilakukan bersama dengan siswa sepanjang semester dan yang tak kalah penting adalah juga bersemangat melaksanakannya. 

Apakah anda bisa membayangkan suasana hari pertama sekolah semacam itu? Juah lebih menyenangkan daripada kalau siswa datang pagi-pagi merebut bangku sekolah kan? 


Jul 9, 2019

Belajar Tentang Keliling Bangun Datar Memecahkan Masalah


Ibu Maya mengajar kelas 3 SD. Di kelasnya ada 30 orang siswa. Kali ini, Ibu Maya ingin mengajar mengenai keliling bangun datar. Berdasarkan kurikulum, kompetensi dasar yang perlu dicapai siswa ada dua, yakni :
  • menjelaskan dan menentukan keliling bangun dasar
  • menyajikan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling bangun datar 

Beginilah proses belajar di kelas Ibu Maya:

Ibu Maya mengajak siswa-siswanya untuk duduk berkeliling. “Ibu punya sebuah cerita,” katanya. 
“Ceritanya, di suatu Minggu, ibu berjalan-jalan ke sebuah taman. Tamannya tidak terlalu besar sih tapi banyak tanamannya, jadi tetap menyenangkan ke sana. Nah di sekeliling taman tersebut ada jalan setapak. Ukurannya seperti gambar ini,” kata Ibu Maya sambil mengangkat sebuah kertas besar yang telah digambari.





“Nah, Ibu berjalan dari sebelah sini,” kata Ibu Maya menunjuk pojok kiri bawah dari taman lalu menggeser tangannya ke kanan, ke atas, ke kiri, ke bawah, “lalu berjalan mengikuti setapak sampai ibu kembali ke tempat semula.” 
“Adakah yang tahu, waktu itu ibu berjalan sejauh berapa meter?” tanya Ibu Maya.

Jojo yang paling pandai menghitung menjawab,” tujuh puluh.” 
Euis yang mengangguk seakan-akan setuju dengan jawaban Jojo. Ibu Maya pun bertanya, “Kenapa Euis mengangguk-angguk? Apakah Euis setuju dengan jawaban Jojo?” 
Euis tersenyum sambil mengangguk lagi. Ibu Maya pun meminta Euis menjelaskan kenapa Euis setuju dengan jawaban Jojo.

“Ibu tadi jalannya 20 m lalu 15 m lalu20 m lalu 15 m. Itu semua 70 m. Sudah Euis hitung,” kata Euis sambil menunjukkan coret-coretannya.

“Iya, benar. Ibu berjalan 20 m + 15 m + 20 m + 15 m sehingga ibu berjalan sejauh 70 m,” lalu ditambahkannya, “Ibu berkeliling taman. Yang disebut keliling bangun datar itu mirip seperti itu. Keliling itu semacam jalan yang mengelilingi bangun datar.” 
“Apakah ada yang masih ingat caranya menggunakan penggaris untuk mengukur panjang?” tanya Ibu Maya.

Adrian mengangkat tangannya lalu menjelaskan, “Kita tempel penggaris di garisnya. Terus lihat di bagian satunya lagi, panjangnya berapa.” 
“Sudah hampir benar” Ibu Maya. Ibu Maya menggambar garis di papan tulis lalu menggunakan sebuah penggaris besar. Di ujung kiri (garis) ini, tertulis 10 cm di ujung kanan tertulis 60 cm. Berapa panjang garis ini?” 
Sebagian siswa menjawab 60 cm, sebagian lagi diam. Jojo mengerutkan keningnya lalu berceloteh, “ Seharusnya di kiri mulainya dari nol”. 
Ibu Maya pun menggunakan kesempatan itu untuk menerangkan kembali caranya menggunakan penggaris. Sebenarnya siswa-siswa sudah pernah mempelajarinya sebelumnya tapi tampaknya beberapa siswa lupa. Setelahnya, Ibu Maya meminta para siswa berkelompok berlima-lima. Masing-masing kelompok diminta mengeluarkan penggaris.

Ibu Maya membagikan masing-masing kelompok dua kertas lipat yang ukurannya sama. Yang satu berwarna kuning dan yang satu biru, “Sekarang coba diskusikan caranya mengukur keliling kertas lipat yang kuning ini. Gunakan penggarismu.” 
Suasana kelas menjadi agak riuh. Ibu Maya berkeliling ke masing-masing kelompok untuk mendengarkan ide siswa. Ibu Maya pun mempersilakan siswa mengukur keliling kertas lipat kuning mereka.”
Masing-masing kertas lipat yang diberikan oleh Ibu Maya berbentuk persegi yang ukurannya 20 cm x 20 cm. Siswa-siswa tidak tampak kesulitan menghitung kelilingnya. Siswa sudah bisa mengukur sisi persegi dan karena sisinya ada 4 maka kelilingnya adalah 80 cm. Siswa diminta menggambarkan caranya mereka menyelesaikan masalah di sebuah kertas besar.

Setelah selesai, Ibu Maya memberikan instruksi baru Sambil mencontohkan, Ibu Maya berkata, “Ambil kertas lipat biru. Lipat kertas ini menjadi dua sehingga terbentuk dua persegi panjang seperti ini. Nah lipat saja kertasnya ke belakang, seperti ini sehingga terbentuk sebuah persegi panjang baru (lihat gambar)”


Masing-masing kelompok diminta untuk mengangkat persegi panjangnya ke udara. Ibu Maya memperhatikan persegi panjang setiap kelompok dan setelah memastikan bahwa semuanya benar, diajukannya pertanyaan, “Kira-kira bagaimana caranya mengukur keliling persegi panjang ini tanpa menggunakan penggaris lagi?”

Secara berkelompok, para siswa diminta mendiskusikan solusi mereka. Mereka pun diminta menuliskan jawaban mereka di sebuah kertas besar. Ibu Maya berkeliling dan memilih dua kelompok untuk mempresentasikan jawaban mereka. Siswa bukan hanya harus menjelaskan jawaban mereka tapi bagaimana mereka sampai pada kesimpulan mereka. Setelahnya, Ibu Maya membagikan sebuah lembar kerja yang dibuatnya sendiri (lihat gambar).


Siswa diminta mendiskusikan caranya mencari solusi terhadap lembar kerja tersebut. Di akhir kelas Ibu Maya meminta setiap siswa menuliskan definisi keliling bangun datar dengan bahasa mereka sendiri-sendiri. Ibu Maya membacakan beberapa jawaban siswa sambil meminta siswa lain menanggapinya. Tak terasa kelas telah berakhir. Ibu Maya merasa senang karena semua siswa terlibat aktif di dalam kelasnya. 

Di beberapa sekolah lainnya, siswa mempelajari konsep keliling bangun datar dengan cara berbeda. Guru memberitahu siswa rumus beberapa bangun datar, misalnya Keliling persegi = 4 x sisi atau Keliling persegi panjang = 2 x (panjang + lebar). Setelahnya siswa diminta mengerjakan latihan soal seperti di bawah ini:
Ibu Maya menggunakan cara yang berbeda. Ibu Maya mencoba merancang kegiatan yang memungkinkan siswanya belajar mengenai konsep bangun datar menggunakan pemecahan masalah. Memang Ibu Maya tidak langsung menerangkan rumus keliling kepada siswanya. Di pertemuan berikutnya, Ibu Maya memang merencanakan membuat kegiatan di mana siswanya bisa menemukan rumus keliling beberapa bangun datar serta berlatih menggunakannya dalam berbagai konteks lainnya. Bagi Ibu Maya, yang penting ketika belajar matematika siswa-siswanya merasa tertantang untuk berpikir. Karena itulah, dalam hampir setiap kelasnya, Ibu Maya berusaha agar ada kegiatan di mana siswa harus memecahkan masalah.

Masalah berbeda dengan latihan. Masalah adalah suatu situasi yang perlu diselesaikan, tapi solusinya tidak langsung terpikirkan. Pemecahan masalah adalah proses untuk menyelesaikan masalah tersebut (Bennet, et.al, 2012, h.31). Masalah matematika adalah masalah yang perlu dipecahkan menggunakan keterampilan berpikir matematis (Burns, 2007, h.17). Masalah matematika bisa berupa masalah yang berhubungan dengan konteks kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks matematika sendiri. Yang pasti, sebuah masalah matematika bukanlah sesuatu yang langsung bisa diselesaikan, namun butuh proses berpikir. Ketika memecahkan masalah, siswa perlu menggunakan pengetahuan-pengetahuan mereka sebelumnya dan melalui proses pemecahan masalah matematika mereka akan meningkatkan pemahaman matematis mereka (NCTM, 2000, h. 52).

Tentu saja apa yang menjadi masalah bagi seorang siswa bisa jadi bukan masalah bagi siswa lainnya (Burns, 2007, p.12). Guru berperan sebagai semacam kurator yang berperan memilih masalah bisa meningkatkan keterampilan berpikir matematis siswa.

Masalah matematika berbeda dengan latihan. Latihan biasanya bersifat prosedural dan tidak memerlukan banyak proses berpikir untuk menyelesaikannya. Contoh latihan untuk topik keliling bangun datar, misalnya:



Di dalam latihan di atas, siswa hanya perlu menggunakan rumus untuk mencari keliling persegi panjang. Hanya saja, ukurannya berbeda-beda. Latihan memang bisa membantu siswa meningkatkan keterampilannya dalam menghitung ataupun menghadapi soal-soal ujian. Namun, tidak cukup untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan berpikir matematisnya.

Ada sebuah buku klasik mengenai pemecahan masalah berjudul “How to Solve It: A New Aspects of Mathematical Method”. Buku ini dituliskan oleh George Polya, seorang matematikawan dari Budapest yang pernah mengajar di ETH Zurich dan Universitas Stanford. Salah satu kutipan dalam bukunya menggambarkan betapa pentingnya pemecahan masalah dalam belajar matematika. Katanya:

“Merupakan sebuah temuan besar ketika kita bisa memecahkan sebuah masalah besar. Namun, sebenarnya ada unsur penemuan ketika kita menyelesaikan masalah apapun. Masalah anda mungkin terlihat sederhana; tapi masalah itu bisa memancing rasa ingin tahu anda, dan ketika anda menyelesaikannya sendiri, anda akan merasakan ketegangan serta kegembiraan selayaknya menemukan penemuan baru. Pengalaman memecahkan masalah menumbuhkan kenikmatan berpikir dan meninggalkan kesan yang mendalam serta membantu membentuk karakter seseorang. 
Seorang guru matematika punya kesempatan yang sangat baik. Kalau dia mengisi sebagian besar waktu di kelasnya untuk meminta siswanya berlatih mengerjakan soal-soal operasi yang berulang-ulang, dia mematikan ketertarikan siswanya, menghambat perkembangan intelektualnya, dan pada dasarnya sedang menyia-nyiakan kesempatannya. Namun, kalau seorang guru menantang rasa ingin tahu siswanya dengan memberikan mereka masalah-masalah yang sesuai dengan pengetahuan siswanya, membantu siswanya menyelesaikan masalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang proses berpikir siswa, saat itulah guru memberikan kesempatan siswanya untuk belajar berpikir secara mandiri" (Polya, 1945, h.v). 

Jul 7, 2019

Standar Konten dan Standar Proses (NCTM, 2000)


“Apa saja yang dipelajari ketika belajar matematika (di sekolah)?” tanya seorang fasilitator pada suatu pelatihan guru.


Seorang menjawab, “Menghitung.”

“Belajar tentang bilangan dan bentuk-bentuk,” kata seorang guru yang lain.

“Belajar aljabar, kalkulus, dan sebagainya.”


Ketika mendengar kata ‘matematika’, beberapa guru tampaknya langsung ingat pada topik-topik matematika seperti bilangan dan geometri. Yang kadang terlupa adalah bahwa matematika juga sangat terkait dengan proses berpikir tertentu. Seseorang yang belajar matematika pada dasarnya juga belajar bernalar, memecahkan masalah, melakukan pemodelan, dan lain-lain.



Di dalam buku Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000), standar mengenai pengajaran matematika di sekolah dibagi menjadi dua: (1) standar konten dan (2) standar proses.

Standar konten menggambarkan konten-konten yang perlu diajarkan kepada siswa dari TK sampai SMA, yakni: bilangan dan operasinya, aljabar, geometri, pengukuran, analisis data dan probabilitas. Tabel di bawah ini menggambarkan rincian mengenai bagaimana konten-konten tersebut perlu diajarkan di sekolah.





Selain standar konten, NCTM (2000) juga merumuskan standar proses, yakni proses yang perlu ada ketika mempelajari konten matematika apapun. Ada lima standar proses yang dirumuskan, yakni: pemecahan masalah (problem solving), pembuktian dan penalaran matematis (reasoning and proof), komunikasi gagasan matematis (communication), koneksi (connection), dan representasi (representation). Tabel di bawah ini menggambarkan rincian mengenai bagaimana standar proses tersebut perlu diajarkan di sekolah.





Standar konten dan standar proses yang dikembangkan NCTM (2000) dapat menjadi acuan untuk merancang kurikulum, maupun kegiatan belajar matematika di kelas.

Mengenal Enam Prinsip-prinsip Dasar Pengajaran Matematika di Sekolah NCTM (2000)

National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) adalah sebuah organisasi profesi guru matematika (di Amerika Serikat dan Kanada) yang didirikan pada tahun 1920. Dalam konteks Indonesia NCTM bisa diumpamakan semacam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika, isinya sekumpulan pendidik matematika yang bekerja sama untuk mengembangkan kualitas pendidikan matematika di sekolah-sekolah.


Dalam perjalanannya, NCTM mulai mengembangkan beberapa standar terkait pendidikan matematika, diantaranya terkait kurikulum (Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics, 1989), pendidik matematika (Professional Standards for Teaching Mathematics, 1991) dan asesmen ( Assessment Standards for School Mathematics, 1995).




Tahun 2000, NCTM mengembangkan Principles and Standards for School Mathematics yang dituangkan dalam sebuah dokumen yang tebalnya sekitar 400 halaman. Dokumen tersebut memuat enam prinsip-prinsip dasar pengajaran matematika di sekolah (six principles for school mathematics), dan standar pengajaran matematika (standards for school mathematics) yang terdiri dari standar konten (content standard) dan standar proses (process standard).


Enam prinsip-prinsip dasar pengajaran matematika di sekolah, yakni:

  1. Kesetaraan (Equity) : ada pandangan bahwa hanya siswa-siswa tertentu yang bisa belajar matematika dengan baik. Prinsip kesetaraan di sini justru menganggap setiap siswa, bisa berhasil dalam belajar matematika apabila mereka didukung dengan program pendidikan matematika yang berkualitas, sumber belajar yang memadai, dan guru yang kompeten.
  2. Kurikulum: kurikulum bukan sekadar kumpulan kegiatan. Di tingkat pendidikan apapun, kurikulum matematika harus bersifat koheren. Artinya, kurikulum didasarkan pada gagasan-gagasan yang penting dan memungkinkan siswa melihat bagaimana gagasan yang satu terhubung dengan gagasan yang lain sehingga memungkinkan pengetahuan dan keterampilan siswa terus meningkat. Kurikulum pun harus berfokus pada hal-hal yang sifatnya esensial, yakni yang mendorong siswa untuk berpikir matematis, bernalar, serta membantu siswa membangun argumentasi yang bersifat deduktif. 
  3. Pengajaran: Untuk bisa menjalankan pengajaran secara efektif, guru perlu punya pemahaman matematika yang mendalam tentang matematika, pengetahuan mengenai cara siswa belajar serta terampil dalam memilih pendekatan belajar dan asesmen sesuai dengan kebutuhan siswa.
  4. Belajar: Siswa perlu belajar matematika yang memungkinkan mereka membangun pemahaman, bukan sekadar mengingat fakta dan prosedur tanpa tahu maknanya. Siswa juga perlu diajak untuk terlibat aktif membangun pemahaman mereka sendiri dengan didasarkan pada pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya. Ketika siswa terbiasa belajar matematika dengan mendalam, siswa bisa menemukan kenikmatan ketika harus menghadapi masalah-masalah matematika yang sulit sekalipun. 
  5. Asesmen: Asesmen bukan hanya menilai hasil akhir siswa, namun perlu menjadi proses yang terintegrasi di dalam proses belajar-mengajar. Asesmen yang digunakan perlu merefleksikan hal-hal yang dianggap penting dalam matematika, misalnya melalui asesmen siswa bisa dibiasakan untuk menjelaskan argumentasi mereka mengenai mengapa mereka menganggap suatu gagasan matematis benar ataupun salah, siswa juga biasa diajak untuk bisa menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri dengan bantuan rubrik. Informasi yang diperoleh dari asesmen haruslah bisa membantu guru maupun siswa untuk bisa meningkatkan kualitas belajar-mengajar. 
  6. Teknologi: teknologi, baik berupa kalkulator, komputer, dan sebagainya bisa digunakan untuk membantu siswa memperdalam pemahaman mereka mengenai matematika, termasuk membantu siswa mengembangkan kemampuan abstraksi mereka. . teknologi merupakan hal yang esensial dalam belajar dan mengajar matematika. Teknologi bisa membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai matematika serta mempengaruhi proses belajar siswa. Ketika siswa menggunakan teknologi di kelas matematika, guru tetap berperan penting untuk memfasilitasi siswa berpikir, misalnya dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, mengajak siswa mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru, dan sebagainya.