Oct 29, 2018

Agen Schooling di Antara Pegiat-pegiat Pendidikan Alternatif.

Foto bersama teman-teman pegiat dan anak-anak dari berbagai komunitas pendidikan alternatif ketika Pertemuan Nasional 2 Pendidikan Alternatif di Dusun Genting, Semarang (28 Oktober 2018)
Sejak tahun 2002-an, saya sudah banyak berteman dengan teman-teman yang bergiat di pendidikan alternatif. Waktu masih mahasiswa, saya ikut berkunjung ke Qaryah Thayibah, Salatiga. Saya menginap di sana selama beberapa malam, mempelajari bagaimana anak-anak Qaryah Thayibah belajar. Beberapa waktu berikutnya saya diajak Kang Rahmat Jabaril (pendiri Komunitas Taboo, Bandung) untuk jadi co-fasilitator lokakarya pembuatan peta wilayah, di Sekolah Sururon, Garut (binaan teman-teman Sarikat Petani Pasundan). Selama masih berkuliah di Bandung, saya cukup sering ketemu dan sesekali berkegiatan bersama teman-teman Kalyanamandira (yang mengurus anak-anak di Rumah Tahanan di Jalan Jakarta, Bandung).  Kini pun saya masih sering ketemuan dengan teman-teman pegiat pendidikan lainnya seperti dari Sanggar Anak Akar, Erudio School of Art (yang menggunakan pendekatan democratic school),  dan lainya. Teman-teman ini, biasanya mengajar di komunitas-komunitas pendidikan non-formal, biasanya bentuknya bukan sekolah. 


Meskipun begitu, pendidikan alternatif tidak selalu berbentuk komunitas pendidikan non-formal. Ada juga lembaga pendidikan alternatif yang berbentuk sekolah, seperti kata Jery Mintz di bawah ini:

... pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu; sekolah publik pilihan (public choice); sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk); sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent dan pendidikan di rumah (home-based schooling).

Sekolah-sekolah yang menjalankan praktik pendidikan alternatif, biasanya filosofi dan praktik sekolahnya berbeda (jauh) dengan teman-teman di sekolah mainstream. Kalau di sekolah pada umumnya (di Indonesia), siswa dan guru harus pakai seragam, di sekolah yang menerapkan pendidikan alternatif tidak. Kalau biasanya daftar mata pelajaran ditentukan oleh pihak sekolah (sesuai aturan dari Dinas Pendidikan), di sekolah yang menerapkan pendidikan alternatif memungkinkan jadwal pelajaran merupakan hasil kesepakatan bersama, bahkan bisa ditentukan oleh siswa. 

Saya sendiri sebenarnya lebih fokus pada 'sekolah' pada umumnya (mainstream). Saya memilih untuk bergerak di dunia persekolahan, salah satunya melalui pendidikan guru. Kenapa memilih bergerak di dunia persekolahan? Jumlah sekolah (pendidikan formal) di Indonesia itu banyak sekali. Otomatis jumlah guru dan siswanya juga banyak. Seandainya saja, kualitas pendidikan di sekolah bisa membaik, sistemnya bisa lebih memerdekakan anak, maka efeknya akan besar.

Karena fokus pada sekolah, saya sering dibercandain oleh teman-teman pegiat pendidikan alternatif sebagai 'agen schooling'. Terkadang mereka juga menyampaikan berbagai kritik tentang sistem persekolahan, misalnya bahwa sekolah seringkali mematikan kreativitas anak dan membuat anak takut menjadi dirinya sendiri.  Saya biasanya membenarkan beberapa kritik mereka sambil senyum dan  berkata, "Nah karena itulah sekolah perlu direformasi (atau revolusi?) dan saya mau berperan di sana".

Saya jadi ingat kata-kata Pakde Susilo Adinugroho (pendiri Sanggar Anak Akar). Katanya: 
“Pendidikan Alternatif, apapun bentuknya baik formal maupun tidak, pada dasarnya adalah pendidikan yang menghamba pada anak, bukan pada administrasi. Penyelenggara pendidikan alternatif senantiasa punya kerelaan untuk belajar pada anak.”

Bukankah lembaga-lembaga pendidikan yang mungkin bukan lembaga pendidikan alternatif tetap bisa belajar pada filosofi 'menghamba pada anak, bukan pada administras' tersebut? Sulit? Tentu. Lebih mengarah ke sana? Menurut saya masih sangat bisa. Mulainya tentu dengan hal-hal sederhana, misalnya membiasakan adanya budaya yang lebih demokratis di kelas dengan membiasakan dialog yang setara. Guru, misalnya tidak perlu marah apabila siswa memiliki pendapat atau pandangan yang berbeda. Perkataan-perkataan semacam, "Kamu (siswa) harus menurut karena saya (guru) berkata seperti itu)," mulai perlu dikurangi. Hal semacam itu bisa diganti dengan dialog dari hati ke hati.  Bayangkan betapa indahnya kalau itu terjadi?

Sep 21, 2018

"Pesan dari Buritan" dan Sebuah Refleksi tentang Pendidikan Keindonesiaan di Sekolah.

"Pesan Dari Buritan" adalah sebuah dokumenter pendek yang dibuat oleh sekelompok anak muda  anggota Tim Ekspedisi Maritim Timur Nusantara. Mereka melakukan ekspedisi untuk mempelajari jalur pelayaran pelaut-pelaut Buton. Saya menonton film tersebut pada Kamis, 20 September 2018 malam di Studio Kopi Sang Akar, Jakarta.


Film "Pesan dari Buritan" pendek. Tidak sampai setengah jam. Gambar-gambar yang ada dalam film sangat cantik. Sekilas digambarkan 16 pulau (dari berbagai pulau lainnya) yang biasa dilalui oleh pelaut-pelaut Buton.  Mereka biasa berlayar menggunakan kapal-kapal yang ukurannya tidak terlalu besar, ada motor kecil, dan  layar yang membantu menangkap dan mengarahkan angin sehingga mempermudah para pelaut mencapai tujuan.

Setelah menonton, kesan saya, "Wah ternyata filmnya pendek". Secara visual filmnya sangat indah. Namun,  setelah nonton pun pengetahuan saya tentang masyarakat Buton belum banyak bertambah. Untungnya setelah menonton film, ada kegiatan diskusi. Beberapa anggota tim ekspedisi yang ikut membuat film diajak berbicara. Menurut mereka, apa yang mereka buat ini merupakan dokumentasi dari 16 pulau yang ada di Indonesia. Sedangkan ada sekitar 17 ribu pulau di Indonesia. Melalui film ini, mereka ingin mengajak lebih banyak orang untuk mulai belajar mengenai pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Selama diskusi, ada hal lain yang menarik hati saya. Di layar ada tampilan slide show berisi foto dan berbagai narasi pendek. Secara pribadi, saya merasa slide show tersebut jauh lebih menarik daripada film yang saya tonton.  "Apa sih yang ditampilkan itu?" tanya saya pada Mas Tomy Widianto Taslim, pengajar kelas film di Studio Kopi Sang Akar yang saya asumsikan tahu apa yang ada slide show. Ternyata slide show yang mereka tampilkan berasal dari tiga buah buku yang juga dihasilkan dari ekspedisi ini.

Buku-buku tersebut berjudul Pesan dari Buritan, Menatap Halaman Timur, dan Hore. Diantara buku itu, ada yang berupa buku foto (dilengkapi narasi) hasil temuan mengenai jalur pelayaran pelaut Buton. Ada buku yang berupa catatan perjalanan mengenai apa yang terjadi selama 1 bulan pelayaran. Ada juga buku yang menggambarkan  pikiran-pikiran 'liar' yang muncul selama perjalanan.

Saya belum membaca bukunya tapi dari cuplikannya saja sudah merasa sangat tertarik.  Harga satu paket berisi tiga buku tersebut memang cukup mahal (sekitar satu setengah juta rupiah) tapi juga bisa dibeli eceran). Harga segitu mahal bisa saya maklumi. Setahu saya, memang biaya cetak untuk buku foto (berwarna) memang mahal.  Kalau ada yang tertarik membeli buknya, bisa menghubungi @guearigalery di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Setelah 'diskusi formal' berakhir. Saya duduk bersama  beberapa teman sambil makan ubi rebus dan meminum kopi. Ada, Anyi, Mas Ibut, Pak Jimmy Paat, seorang tim ekspedisi (lupa namanya). Diskusi pun berlanjut secara informal.

"Harusnya ada kasuami nih," kata Anyi. Kasuami adalah makanan khas Buton, "Waktu itu aku beli Kasuami di Pulau Seram. Yang jual memang pelaut-pelaut Buton."

Menurut Anyi, Kasuami rasanya enak dan meskipun kecil, sangat mengenyangkan. Kasuami  membantu pelaut-pelaut Buton bertahan dari rasa lapar, meskipun harus berlayar dalam waktu yang cukup lama.

Selama diskusi saya juga belajar bahwa pelaut-pelaut Buton sebih suka berlayar dalam kelompok kecil atau bahkan sendiri. Kapal yang digunakan tidak besar. Sambil berlayar mereka sekaligus berdagang. Jalur pelayarannya bisa sampai Singapura. Mereka punya peran Kapalnya seringkali menjadi semacam warung sembako di laut. Sambil berlayar dari satu pulau ke pulau lain mereka berjualan berbagai hal, kopi, makanan, dan kadang baju bekas.

Saat diskusi secara 'formal', Pak Jimmy sempat mengatakan bahwa apa yang dihasilkan baik film maupun buku foto oleh Tim Ekspedisi ini sangat baik dan bisa digunakan di sekolah-sekolah. Saya mengatakan bahwa saya pun kepikiran hal yang serupa. Saya jadi teringat pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) selama saya sekolah. Seringkali pelajaran-pelajaran yang seharusnya membantu saya mengenal Indonesia, justru terasa sangat kering. Siswa diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan 'hafalan' seperti tari piring berasal dari... Baju adat ini dan itu berasal dari... Rumah adat ini dan itu berasal dari...

Fakta-fakta tersebut, menjadi kering. Tidak ada rasa istimewa yang tumbuh saat mempelajari fakta-fakta tersebut. Bagi saya film "Pesan dari Buritan"  terlalu singkat dan belum memberikan saya gambaran utuh mengenai masyarakat Buton. Namun, harus diakui, setelah menontonnya saya menjadi tertarik untuk mempelajari mengenai masyarakat Buton lebih lanjut. Saya bisa merasakan keindahan alam dan masyarakat Buton saat menonton film tersebut. Di film ada adegan di mana  pelaut berbicara dengan logat tertentu. Dia bercerita mengenai perbedaan kapal layar dan kapal motor.  Meskipun tidak secara langsung, saya merasa senang bisa mendengar sedikit pandangan para pelaut tentang kehidupannya.

Setelah menonton pun saya merasa masih sangat minim pengetahuannya tentang masyarakat Buton. Namun,  saya tahu kalaupun di kemudian hari saya secara tidak sengaja saya menemukan buku, artikel, foto, ataupun informasi mengenai masyarakat Buton saya akan sangat tertarik mempelajarinya.

Proses menonton dan mendiskusikan film "Pesan dari Buritan" membuat saya merefleksikan bagaimana seharusnya pendidikan mengenai keindonesiaan diajarkan pada siswa. Pertama siswa perlu diajak untuk merasakan keindahan Indonesia (alamnya, budayanya, orang-orangnya, dan lain-lain). Keindahan ini bisa dirasakan secara langsung maupun dengan bantuan berbagai media seperti film, foto, bacaan, dan lain-lain. Setelahnya, siswa bisa diajak membuat berbagai pertanyaan terkait hal-hal lain yang ingin mereka ketahui tentang Indonesia. Selanjutnya, guru bisa memfasilitasi siswa mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang telah mereka tanyakan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa bertemu atau berkomunikasi dengan orang yang bisa memberikan informasi tambahan, mengajak siswa melakukan riset, membaca, dan banyak hal lainnya. Alangkah menyenangkannya kalau hal semacam ini bisa terjadi.

Sep 13, 2018

Membaca "Tempat Terbaik di Dunia"



Roanne Van Voorst adalah seorang antropolog berkebangsaan Belanda  yang karena ketertarikannya tentang 'banjir' memilih menetap selama setahun di sebuah kampung kumuh (yang kemudian akan disebut daerah Bantaran Kali) di Jakarta untuk penelitiannya.  Buku "Tempat Terbaik Dunia", terbitan Penerbit Marjin Kiri,  adalah buku yang menggambarkan pengalamannya ketika  melakukan penelitian. Kata Roanne di bagian prolog:

"Sebagai seorang peneliti, saya ingin tahu bagaimana rasanya tinggal di hunian yang setiap tahunnya beberapa kali dilanda banjir. Masih sedikit pengetahuan yang tersedia soal ini. Penelitian terbaru mengenai banjir lebih banyak mengarah ke aspek  biologi dan teknik pengeloaan banjir: ketinggian curah hujan yang jatih d suatu wilayah per tahun, misalnya, atau masalah tersumbatnya pintu air da cara untuk menyalurkan air. Semua itu sangat menarik dan penting, tentunya. Hanya saja, dalam berbagai penelitian tersebut saya tidak menemukan cerita dari para korban banjir. Saya ingin tahu apa yang orang lakukan saat mereka tahu bahwa mereka bakal kebanjiran. Cara-cara apa yang mereka tahu untuk melindungi harta benda dan keluarga mereka, mengajari anak-anak mereka berenang? Bisakah mereka sendiri berenang? Apakah mereka pernah sekali merasa aman dan nyaman tinggal di daerah rawan banjir atau mereka selalu hidup dalam ketidakpastian dan kecemasan?"

Buku Roanne sebenarnya mengingatkan saya akan pengalaman live in di daerah kumuh di Jakarta (binaan Urbaan Poor Consortium) yang saya lakukan selama beberapa hari pada tahun 2008. Meskipun tinggal di daerah yang dalam berbagai hal serupa, pemahaman yang diperoleh Roanne jauh lebih kaya. Bukan hanya karena Roanne tinggal di daerah kumuh Jakarta lebih lama, namun juga karena Roanne ke sana sebagai penelti, yang artinya, Roanne tahu apa yang mau dicari (meskipun akhirnya menemukan banyak hal lainnya), melakukan observasi dan wawancara secara mendalam (in-depth), membuat catatan lapangan yang detil setiap harinya, dan juga dilengkapi pemahaman akan teori sosial yang akan mendukung pemahamannya mengenai masyarakat yang akan ditelitinya.

Jawaban-jawaban yang mendetil tentang pertanyaan penelitian Roanne pastinya tertulis di laporan penelitiannya sedangkan buku "Tempat Terbaik di Dunia" menggambarkan beragam hal lain yang dipelajari Roanne di Jakarta. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Roanne ingin mencari lokasi penelitian. Awalnya  Roanne mencari lokasi melalui jalur formal, dia mewawancarai puluhan pembuat kebijakan, namun setiap kali menceritakan rencana penelitiannya, tanggapannya selalu sama, "tidak bisa itu", "terlalu berbahaya". Menurut mereka seorang bule seperti Roanne akan dianggap orang kaya, yang bisa dirampok, diganggu, dan sebagainya. Roanne malah ditawari untuk tinggal di apartemen mewah yang 'bebas banjir'. Lokasi penelitian, akhirnya Roanne temukan setelah menaiki bus kota yang penuh sesak. Roanne bertemu dengan seorang pengamen, sebut saja namanya Tikus yang mengajak Roanne ke tempat terbaik di dunia, daerah Bantaran Kali. Tikuslah yang memperkenalkan Roanne ke kepala kampung.

Kata Tikus, "Bapak kepala kampung, dia datang ke Jakarta untuk kerja di sini. Dia ngak bisa nyanyi atau bermain gitar tapi lancar berbahasa Indonesia. Dia menawarkan diri untuk mengajari bahasa inggris buatku dan anak lainnya di Bantaran Kali. Sebagai imbalannya, dia ingin tinggal di sini. Pasti ngak susah, soalnya dia suka makanan Indonesia. Bahkan.... dia suka pedas". Dan Roanne pun mulai dianggap seperti keluarga.

Ada berbagai hal menarik dari buku yang ditulis Roanne ini, misalnya bagaimana orang-orang yang memiliki portofon, jadi punya status sosial yang lebih tinggi. Dengan portofon, mereka bisa berkomunikasi secara langsung dengan penjaga pintu air sehingga memperoleh informasi paling up-to-date mengenai banjir. Namun memiliki portofon, bukanlah tanpa resiko, mereka harus stand-by mendengarkan portofon terus menerus padahal bisa jadi mereka memiliki pekerjaan lain, sehingga kesibukannya dengan portofon bisa membuat mereka dipecat.

Selama tinggal di Bantaran Kali, Roanne tidak hanya mengalami masa-masa banjir tapi juga ikut menyaksikan kebakaran kampung. Saat kebakaran, Roanne belajar bahwa satu rumah sempit sekalipun, tidak selalu berisi satu keluarga saja, tapi bisa lebih, sampai 10 orang lebih misalnya.  Mengamati bagaimana "bank" buatan masyarakat bekerja, melihat bagaimana warga membuat gym sederhana dengan apa yang ada di sekitarnya misalnya dengan kaleng bekas yang diisi semen dan berbagai peralatan lainnya. Di buku ini juga digambarkan bagaimana banyak warga kampung takut terhadap rumah sakit dan lebih percaya berbagai pengobatan alternatif. Ketakutan ini ternyata diantaranya disebabkan oleh trauma yang mereka alami ketika diperlakukan tidak baik di rumah sakit. Melalui buku Roanne, kita bisa belajar bahwa warga yang tinggal di kampung kumuh Jakarta sama seperti manusia lainnya. Ada yang malas ada juga yang rajin. Ada yang sangat perhitungan soal uang, ada juga yang boros. Ada yang semaunya sendiri tapi ada juga yang senantiasa mempertimbangkan orang lain. Steriotipe yang sering dibuat tentang warga yang hidup di kampung kumuh sebagai orang yang malas dan seenaknya sendiri tidaklah selalu benar.


Sep 4, 2018

Sekilas mengenai Rencana Kegiatan di Mata Kuliah "Mathematics Curriculum & Assessment"

"Mathematics Curriculum & Assessment" adalah salah satu mata kuliah yang saya ampu semester ini. Pesertanya adalah mahasiswa (calon guru) tingkat tiga. Di hari pertama, kegiatannya sederhana. Saya menjelaskan tujuan mata kuliah, rencana pembelajaran sepanjang semester, bentuk assessment yang akan digunakan, bacaan yang perlu dibaca. Untuk mata kuliah ini calon-calon guru di kelas saya akan melakukan beberapa hal. Saya akan ceritakan sebagian di sini.

Dua pertemuan pertama mahasiswa akan mendiskusikan apa itu assessment, prinsip-prinsip dasarnya, dan tujuan-tujuan assessment di dalam kelas. Di pertemuan ketiga, mereka akan membuat esai mengenai apa itu assessment dan kenapa assessment penting. Untuk bisa menulis esai yang baik, mereka perlu banyak membaca teori terkait sekaligus merefleksikan bagaimana teori-teori tersebut akan berguna ketika mereka menjadi seorang guru.

Saya juga akan mengajak calon guru membaca tentang Alternate Strategies for Assessing Students Progress yang ditulis oleh Brahier (2013, h.297 - 312)  yang ada di dalam buku "Teaching Secondary and Middle School Mathematics" bab "The Role of Assessment". Bacaan tersebut menjadi 'pintu masuk' untuk mempelajari  beberapa alat asesment, mulai dari test, protfolio, jurnal, pertanyaan terbuka (open-ended question), rubrik,  projek individu maupun kelompok, observasi, checklists, wawancara, dan self-assessment. 
Salah satu buku referensi untuk Mata Kuliah "Mathematics Curriculum & Assessment"


Setelah bab tersebut, masing-masing calon guru harus mendalami  satu jenis assessment  yang bisa digunakan di kelas matematika, misalnya tentang portfolio. Pendalaman ini bisa dilakukan studi melalui internet, ,melakukan pengumpulkan data tentang praktik di kelas dari guru, dan sebagainya. Hasil penemuan ini akan dipresentasikan di depan kelas, sehingga bisa menjadi sumber belajar bagi teman-teman sekelasnya.

Untuk ujian tengah semester, calon guru akan merancang dua assessment yang berbeda tetapi untuk tujuan pembelajaran (learning outcomes) yang sama. Melalui kegiatan ini, calon guru bisa belajar bahwa satu tujuan pembelajaran bisa di-assess dengan cara yang berbeda-beda, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Mereka juga mengembangkan keterampilan untuk 'mengambil keputusan' mengenai model assessment yang mereka anggap paling sesuai untuk tujuan ataupun konteks tertentu.

Ketika mengembangkan alat assessment, calon guru boleh menggunakan teknologi. Saya telah menunjukkan mereka artikel yang ditulis oleh Vikki Davis (2011) berjudul "Fantasic, Fast Formative Assessment Tools" yang menjelaskan mengenai berbagai aplikasi yang bisa digunakan untuk asesment. Saya juga telah mengingatkan calon guru bahwa salah satu tujuan mata kuliah ini bukan hanya agar 'lulus' tetapi juga untuk mempersiapkan mereka menjadi guru yang baik dan kreatif di kemudian hari. Artinya ketika merancang assessment untuj ujian tengah semester, sebaiknya dilakukan sebagus yang mereka bisa. Setelah membuat desain awal, mereka boleh bertanya pada pihak yang dianggap lebih ahli (guru atau ahli bidang terkait), boleh mencari umpan balik dari siswa. Saya tidak mewajibkan mereka untuk melakukan hal tersebut tapi kalau menurut mereka itu akan bermanfaat, silakan dilakukan. Setelah mereka selesai mengembangkan alat assessment mereka harus mempresentasikannya di depan dosen dan teman-temannya. Mereka harus menjelaskan kenapa mereka memilih assessment tersebut, bagaimana proses perancangannya, keputusan-keputusan apa saja yang harus diambil ketika melakukan perancangan assessment dan apa yang mereka 'dapatkan' setelah menjalani proses tersebut.

Setelah tengah semester, saya akan mengajak mahasiswa belajar mengenai kurikulum. Pembahasan mengenai kurikulum ini memang tidak akan terlalu dalam, yang penting mereka tahu prinsip-prinsip dasarnya, bisa menggunakan curriculum materials, dan bisa melakukan perbandingan sederhana mengenai beberapa kurikulum yang berbeda.

Saya akan mengundang dosen tamu untuk mengadakan lokakarya mengenai Understanding By Design (UBD). Setelahnya calon guru akan merancang  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan prinsip ini.

Calon guru juga akan diberikan sebuah 'kasus' di mana mereka harus merancang rangkaian kegiatan pembelajaran untuk tujuan tertentu. Mereka akan mencoba 'menyelesaikan' kasus ini.

Selain itu, calon guru juga akan berlatih untuk memilih dan  menggunakan berbagai material kurikulum yang ada. Salah satu peran guru adalah membantu 'mengkurasi' materi yang kiranya akan mendukung siswa untuk belajar. Seringkali, sekolah, penerbit, atau bahkan pemerintah memberikan guru setumpuk standar,  materi, dan bahan pendukung kurikulum lainnya yang 'katanya' perlu diajarkan di dalam kelas. Guru yang profesional tidak akan menerima bahan-bahan tersebut mentah-mentah. Mereka akan selalu mempertanyakan relevansi bahan-bahan tersebut.  Apakah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai? Apakah bisa digunakan untuk membuat siswa antusias dalam belajar? Apakah bahan tersebut cukup baik untuk mengajak siswa bernalar dan berpikir kritis?


Ada begitu banyak keputusan yang harus diambil guru terkait penggunaan curriculum materials. Di kelas saya, saya ingin mengajak calon guru untuk mulai mengembangkan keterampilan untuk mengambil keputusan-keputusan ini.

Calon guru juga akan mempelajari secara  beberapa kurikulum matematika. Mereka akan melakukan inquiry dengan mempelajari (setidaknya) dua kurikulum yang berbeda.  Fakta dan analisis yang mereka peroleh mengenai kedua kurikulum ini akan mereka tuliskan dalam sebuah laporan. Itulah yang akan menjadi ujian akhir mereka.

Itulah sekilas mengenai rencana Rencana Kegiatan di Mata Kuliah "Mathematics Curriculum & Assessment". Setelah lulus dari mata kuliah ini, saya tidak berharap calon guru harus menjadi ahli dalam assessment maupun kurikulum. Saya lebih berharap bahwa apa yang dipelajari akan jadi bekal ketika calon-calon guru ini harus mengambil 'keputusan' terkait assessment ataupun kurikulum yang akan mereka terapkan di kelas ataupun sekolah ketika mereka mengajar di kemudian hari.



Aug 2, 2018

Cerita Persiapan Lokakarya untuk Guru di SMKN 11

Saya masih berada di Biaro, menjenguk Ibu Mertua saat libur lebaran ketika saya memperoleh telepon dari Pak Bagiono. Pak Bagiono, adalah salah satu orang yang sangat saya hormati.  Dulu sempat jadi pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI), Atase Pendidikan Kebudayaan Indonesia di Prancis, dan termasuk salah satu orang yang ikut mengembangkan banyak Sekolah Menengah Kejuran (SMK) di Indonesia. Waktu saya baru ke Indonesia setelah studi S2, Pak Bagionolah yang menawarkan saya untuk mengajar bahasa Inggris di sebuah Akademi Farmasi di daerah Fatmawati. Meski suka mengajar dan bisa berbahasa Inggris, saya tidak tahu caranya mengajar bahasa Inggris, apalagi untuk calon apoteker. Saat itu saya lebih nyaman mengajar Fisika atau Matematika.  Pak Bagiono memberikan saya tips-tips untuk mengajak mahasiswa mengenal kalimat-kalimat yang umum digunakan dalam berkomunikasi (secara lisan) dan melakukan banyak dialog di dalam kelas. Saya pun menjalankan tipsnya, dan lumayan  berhasil. Di usianya yang 80-an tahun ini, Pak Bagiono masih produktif. Beliau masih aktif membimbing beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk bisa lebih maju, dan bahkan sedang kuliah lagi di Universitas Sahid.

Ditelepon Pak Bagiono di masa-masa libur Lebaran, saya jadi malu. Seharusnya saya yang menelepon untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir Batin duluan. Ternyata, selain mengucapkan Selamat Idul Fitri, Pak Bagiono punya hal lain yang perlu dibicarakan. Beliau mau mengajak saya mengisi lokakarya di SMKN 11, Jakarta. Katanya untuk menyemangati guru-guru yang ada di sana. Sayangnya tanggal lokakarya bertabrakan dengan jadwal lain, yakni ketika saya ada kegiatan di kampus tempat saya mengajar. Untungnya, beberapa hari kemudian saya memperoleh kabar bahwa tanggal lokakarya diundur,  yakni diadakan pada Jumat, 20 Juli 2018. Hari itu saya memperoleh izin cuti dari atasan. Cuti tersebut bisa saya gunakan untuk memberikan lokakarya di SMKN 11. Yey!


Persiapan Lokakarya Tahap Pertama
Persiapan Lokakarya di SMKN 11 bersama Pak Bagiono, Pak Karyana, dan Pak Ridho

Tanggal 4 Juli 2018, Pak Bagiono mengajak saya bertemu untuk membahas rencana lokakarya. Kami bertemu di FX Sudirman di salah satu tempat makan yang ada di sana. Saat saya datang, Pak Bagiono sedang duduk di meja bersama dua orang lain, yang tidak saya kenal.  Yang satu bernama Pak Ridho, Wakil Kepala SMKN 11T dan satu lagi Pak Karyana.

"Lupa yah? Dulu kita pernah ngobrol waktu Mbak Puti masih ngajar di Akademi Farmasi." kata Pak Karyana pada saya.  Saya mencoba mengingat-ingat lagi pengalaman tahun 2011 dan akhirnya saya mulai ingat bahwa Pak Karyana juga sempat jadi pengajar di sana. Pak Karyana ternyata merupakan salah satu orang yang ikut memberikan masukan kepada pemerintah mengenai revitalisasi SMK dan juga bersama dengan Pak Bagiono, ikut mengembangkan kurikulum simulasi digital untuk SMK (lihat http://bse.annibuku.com/buku/1574/simulasi-digital) .

Selama pertemuan Pak Ridho menceritakan mengenai sekolahnya. SMKN 11 dulu adalah SMEA. Sekolahnya terletak di belakang Glodok. Kebanyakan siswa-siswinya berasal dari kalangan menengah kebawah. Namun, sebagai SMK negeri, siswa-siswi yang masuk biasanya prestasinya cukup baik (karena adanya sistem seleksi). Setelah lulus siswa-siswinya bekerja atau ada juga beberapa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ada tiga jurusan di sana, Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan.

Tantangan yang dihadapi sekolah sekarang adalah zaman yang berubah dengan begitu cepat. Sebagai contoh, dulu lulusan administrasi perkantoran diantaranya kemudian bekerja sebagai sekretaris. Dulu, mereka harus dibekali dengan keterampilan mengetik cepat, menata meja, dan sebagainya. Kini, banyak siswa yang sudah terampil mengetik. Pelajaran mengetik tidak diperlukan lagi. Namun seorang sekretaris juga harus cekatan, punya kemampuan analisa yang baik, misalnya karena harus merangkum hasil rapat, bisa menggunakan teknologi dengan baik, dan sebagainya. Begitu juga dengan jurusan penjualan. Kini siswa-siswa yang mengambil jurusan penjualan harus mengerti perkembangan media dan teknologi dan pengaruhnya pada manusia. Kini, ada banyak usaha penjualan yang dilakukan secara daring. Teknik dan komunikasi 'menjual' pun berbeda dengan zaman dahulu. Jurusan akutansi pun menarik. Dulu siswa-siswa yang prestasinya lebih tinggi, seringkali memilih jurusan ini. Kini dengan adanya digitalisasi, beberapa pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh lulusan SMK Akutansi kini dilakukan oleh 'teknologi'. Mereka pun  akan kalah saing dengan lulusan D3 atau S1 Akutansi. Akhirnya, beberapa siswa lulusan jurusan Akutansi SMK ini bekerja di belakang kasir. Apa yang dipelajari di sekolah jadi kurang relevan. Dengan tantangan yang begitu besar, teman-teman guru di SMK perlu mempersiapkan siswa-siswanya dengan keterampilan yang diperlukan oleh zaman ini dan masa depan misalnya mempersiapkan siswa dengan wawasan yang luas, keterampilan berpikir, etos kerja yang baik, serta karakter yang baik.

Dengan lugas, saya sempat bertanya pada Pak Bagiono, "Jadi, apa tujuan lokakarya ini?"

Pak Bagiono pun menjawab, "Mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru."

Mendengarnya saya langsung sakit perut. Berat sekali tujuannya, entah akan bisa tercapai atau tidak. Buat saya lebih mudah mengadakan lokakarya mengenai teknik mengajar misalnya topik tertentu dalam pelajaran matematika, ataupun cara merancang pembelajaran. Kali ini lokaryanya bertujuan untuk memotivasi guru untuk menyadari perannya sebagai guru. Lokakrya akan berlangsung dari pk 7.00 - 11.30. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu sependek itu? Tentu saja, Pak Bagiono juga mengingatkan bahwa lokarya ini hanya akan jadi acara 'icip-icip'. Perubahan paradigma, apalagi sikap tentu perlu waktu. Pak Ridho juga menyampaikan bahwa beliau berencana mengadakan  kegiatan-kegiatan lanjut yang bisa mendukung teman-teman guru untuk terus berkembang.

Saya sampaikan bahwa saya masih belum kepikiran mengenai apa yang perlu dilakukan saat lokakarya. Tapi saya akan memikirkannya. Saya juga berencana mengajak seorang lagi untuk menjadi fasilitator, yakni mahasiswa saya yang telah menjadi guru. Sudah satu satu orang dipikiran saya. Namanya, Dasrizal.

Setelah diskusi, saya pun pulang, masih dengan perut yang seperti terkocok-kocok. Karena sering, saya biasanya percaya diri sekali untuk mengisi berbagai lokarya atau seminar. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Pak Satria Dharma dan Pak Ahmad Rizali (Nanang) yang dulu suka memaksa saya 'terjun ke lapangan'. Namun, kali ini saya sungguh deg-degan. Bagaimana caranya menyiapkan lokakarya untuk mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru?

Berlanjut...

Jul 31, 2018

Refleksi Menjadi Relawan di "Sanggar Belajar Sejahtera"

Sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya memilih untuk bergabung dengan Sangar Belajar Sejahtera sebagai  relawan pengajar matematika. Siswa-siswa Sanggar adalah anak-anak SD yang tinggal di daerah PertanianUtara, Klender.

Saya memilih berkegiatan di Sanggar Belajar Sejahtera karena kegiatannya malam hari (dan di hari kerja). Saya bekerja dari pagi sampai sore, dan Sabtu-Minggu suka banyak acara, baik acara keluarga maupun kegiatan lainnya. Satu-satunya pilihan untuk berkegiatan adalah di malam hari.


Saya ingat, kira-kirasetahun lalu, calon relawan-relawan baru (termasuk saya) yang mendaftar melalui website Indorelawan diundang ke sebuah pos RW   untuk di-briefing oleh kakak relawan yang sudah lebih lama berkegiatan. Calon relawan baru dijelaskan  tentang sejarah Sanggar dan juga kegiatan di sanggar. Calon relawan pun disuguhi lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak dari Sanggar. Saya lupa berapa calon relawan yang ada di kegiatan briefieng tersebut. Kalau tidak salah, lebih dari sepulug orang. Namun, seperti halnya kegiatan-kegiatan kerelawanan lainnya, yang akhirnya jadi 'relawan jangka panjang' hanya sebagian. Saya bisa memaklumi hal ini. Bukan hal yang mudah untuk berkomitmen menjalankan kegiatan kerelawanan. Semester lalu, misalnya, saya pun sedang banyak 'ini-itu', sehingga tidak selalu bisa mengajar di sanggar secara rutin.

Semester ini, saya mencoba untuk lebih konsisten datang mengajar di Sanggar Belajar Sejahtera. Semester lalu saya banyak mengajar siswa kelas 4, 5, 6. Namun, tampaknya semester ini akan lebih banyak mengajar siswa kelas 1, 2, dan 3 karena jadwal kelasnya lebih sesuai dengan jadwal saya semester ini .

Belajar Melalui Kegiatan Kerelawanan
Salah satu kegiatan belajar bersama di Sanggar Belajar Sejahtera

Kegiatan sehari-hari saya adalah mengajar di Perguruan Tinggi, yakni mengajar calon guru di Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Meskipun sudah mengajar selama 16 tahun baik di sekolah, tempat kursus, dan perguruan tinggi, namun mengajar di  sanggar Belajar Sejahtera (ataupun lembaga pendidikan non-formal lainnya) tetap memperkaya pengalaman. Sebagai contoh, dengan mengajar matematika di sana, saya jadi tahu topik-topik matematika yang dianggap menantang oleh siswa SD di sana. Misalnya, saya menemukan bahwa beberapa siswa kelas 3 SD  yang kesulitan menentukan apakah "96 lebih besar atau lebih kecil dari 106" atau ada siswa yang menganggap 215 adalah "dua ratus satu lima" dan bukan "dua ratus lima belas". Ada banyak kasus lainnya, dan tentu 'kesulitan' ini adalah hal yang sangat wajar. Tidak ada pembelajar yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam belajar.

Cerita tentang kasus-kasus ini sering saya bawa ke dalam kelas untuk dibahas oleh calon-calon guru matematika. Calon guru diajak menentukan kenapa kasus tersebut bisa terjadi (dihubungkan dengan teori-teori pembelajaran), diajak mempelajari refereknsi yang terkait dengan bagaimana kasus-kasus tersebut bisa diatasi (atau dihadapi), atau bagaimana cara guru lain menghadapi kasus serupa, dan diajak mengembangkan gagasan mengenai bagaimana mereka bisa menghadapi kasus-kasus tersebut ketika mereka benar-benar berada di dalam kelas suatu hari kelak.

Hal menarik lain yang saya pelajari adalah mengenai bagaimana kegiatan organisasi di 'Sanggar Belajar Sejahtera' dijalankan. Saya belajar bahwa di sanggar ini, ada tim relawan yang selalu menyiapkan lembar kerja yang bisa digunakan oleh siswa saat belajar. Lembar kerja ini memang dibuat dengan sederhana. Beberapa soal matematika dituliskan diatas kertas lalu kertas ini difotokopi sejumlah siswa yang ada di kelas (kadang lebih). Persiapan ini memungkinkan kegiatan belajar mengajar di sanggar terjadi secara lebih efektif. Saya menemukan, siswa-siswa kadang malah tertantang untuk mengerjakan lebih banyak soal matematika, "Saya mau mengerjakan sampai lima [lembar kerja]," ungkap seorang siswa di sanggar pada suatu Senin malam. Siswa tersebut merasa bangga kalau berhasil menyelesaikan berbagai tantagan yang ada di lembar kerja. Ketika siswa 'merasa punya potensi untuk bisa' tentu dia akan lebih bersemangat lagi untuk belajar di kemudian hari.

Tidak disadari, lebih dari setahun telah berlalu setelah perkenalan saya dengan Sanggar Belajar Sejahtera. Terima kasih kepada Sanggar Belajar Sejahtera, teman-teman relawan, dan Indorelawan untuk kesempatan belajar berharga ini.

Jul 12, 2018

Kita Harus Mencari Caranya : Lima Strategi untuk Membantu Pendidik untuk Terus Belajar Selama Hidupnya

Oleh Rachael George
Sumber:
http://inservice.ascd.org/we-have-to-find-a-way-five-strategies-to-help-educators-learn-for-life/
(diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati)

Belajar Terus Selama Hidup: Bukan hanya siswa yang perlu belajar terus, pendidik juga. Namun, kapankah terakhir kalinya anda mendengar bahwa pendidik punya begitu banyak waktu? Mungkin, anda akan jarang menemukan pendidik yang memiliki begitu banyak waktu luang. Mari kita akui kenyataan ini, bagi seorang pendidik setiap waktu itu berharga. Setiap hari, kita, pendidik ditempa dengan kesibukan dunia profesional dan pribadi. Jangan salah, kita mencintai apa yang kita kerjakan; hanya saja kita sangat sibuk.

Jadi, bagaimana caranya kita menemukan waktu untuk tumbuh secara profesional dan menjadi pembelajar seumur hidup sementara juga menjadi guru yang keren untuk siswamu?  mari perhatikan strategi-strategi dan pendekatan sederhana di bawah ini yang bisa membantu anda mengembangkan profesi dan belajar secara terintegrasi dengan hidup anda.

Berjejaringlah
Salah satu cara paling sederhana untuk pengembangan profesional adalah dengan berjejaring dengan sesama pendidik! Kalau anda tidak berhubungan dengan sesama pendidik lain di sosial media, ada begitu banyak kesempatan pengembangan diri yang terlewatkan! Informasi, pengetahuan, gagasan, dan dukungan antara pendidik yang dilakukan oleh sesama pendidik di media sosial sungguh merupakan game changer. Ketka saya berpindah dari menjadi kepala sekolah tingkat sekolah menengah ke sekolah dasar, jaringan pertemanan saya di Twitter sungguh membantu. Kalau tidak suka twitter? Cobalah berjejaring dengan pendidik lain di Facebook, Pinterest, Voxer - semua perangkat ini juga digunakan oleh banyak pendidik lainnya.

Baca, baca, baca
Sebagai pendidik, kita selalu menasihati siswa untuk membaca. Kita mencoba mencari buku yang diminati dan terkait dengan kehidupan siswa. Kapankah terakhir kalinya anda membaca buku yang berhubungan dengan profesi Anda? Seringkali, seroang pendidik mengatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk membaca buku, sehingga mereka hanya membaca sepintas blog atau artikel, mendengarkan podcast dalam perjalanan ke dan dari tempat kerja. Ini semua adalah strategi hebat, tapi itu bukan pengganti untuk informasi dan pembelajaran yang disediakan oleh buku. Jika, anda berpikir bahwa anda tidak punya waktu untuk duduk dan membaca seluruh isi buku sekaligus, pecahkan menjadi potingan. Cobalah membaca satu bab setiap Minggu malam sebelum tidur atau beberapa halaman per hari. Masih tidak punya waktu untuk membaca? Pertimbangkan untuk mendengarkan buku audio sebagai pilihan saat anda dalam perjalanan panjang, atau lakukan sambil membersihkan ruangan, atau saat sedang berlari untuk olahraga.  Sebagai pendidik, kita sering terjebak dalam rutinitas. Namun, jangan pernah berhenti belajar.

Berpartisipasilah dalam Komunitas
Sama seperti siswa, kita selalu bisa belajar banyak dari satu sama lain. Jika selama ini anda tidak berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau pengembangan profesi di daerah anda, mulailah mencari satu di mana anda bisa bergabung. Ada juga banyak pilihan untuk berpartisipasi secara daring (online) baik berdasarkan tingkatan kelas, bidang studi, dan mintak. Tidak tertarik pada sosial media ataupun teknologi? Selalu ada pilihan pelatihan atau berjejaring dengan guru di akhir pekan melalui asosiasi-asosiasi lokal. Sebagai contohnya, di tempat saya, ada pertemuan jejaring pendidik matematika tingkat negara bagian untuk membahas mengenai matematika, ada juga pertemuan rutin asosiasi membaca yang menyediakan pengembangan profesional yang terjangkau.

Jadikan belajar menjadi prioritas
Ada  pepatah terkenal yang mengatakan "Apa yang kita perhatikan dengan baik akan berkembang". Pepatah ini tepat khususnya ketika dikaitkan dengan pengembangan profesi dan menjadi pembelajar seumur hidup. Kita harus menjadikan belajar prioritas! Jika, kita tidak belajar untuk mendorong diri sendiri untuk menjadi lebih baik, bagaimana mengaharapkan orang lain, misalnya siswa kita, untuk juga begitu? Sebagai seorang  kepala sekolah, saya bangga karena bisa menjadi pemimpin mengenai pengajaan dan pembelajaran. Saya percaya, bahwa satu-satunya cara saya bisa terus memimpin adalah dengan terus mencari kesempatan untuk berkembang dan belajar. Kita punya tanggung jawab terharap diri kita sendiri, orang yang kita pimpin, dan yang utama terhadap siswa kita untuk menjadi pendidik terbaik yang bisa mereka terima. Pertumbuhan pribadi tidak pernah berakhir. Sama seperti apa yang kita lakukan dengan mendorong siswa-siswa kita untuk menjadi yang terbaik, kita juga harus mendorong diri kita untuk terus berkembang. Hidup adalah proses untuk selalu mengembangkan diri.

Pilih Temanmu secara Bijaksana. 
Ibumu tahu yang terbaik ketika dia memberikan nasihat ini kepada Anda ketika masih remaja, dan masih berlaku sampai anda dewasa. Orang-orang disekitarmu yang anda pilih untuk berhubungan denganmu baik secara profesional maupun pribadi akan berperan penting mengenai cara anda belajar dan berkembang.  Kalau anda mengelilingi diri anda dengan rekan yang membaca dan mendiskusikan buku, berpartisipasi dalam diskusi [pendidikan] di Twitter, mencari kesempatan untuk mengembangkan diri, secara alami anda juga ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, jika teman-temanmu senantiasa membuat alasan untuk "meninggalkan pekerjaan di tempat kerja", anda juga akan cenderung melakukan hal yang sama. Percayalah pada saya, pengaruh rekan dan teman bisa membantu anda menjadi lebih baik atau bahkan menghancurkan anda.

Sebagai pendidik di hari ini, kita harus sadar bahwa kita akan selalu sibuk. Kalau kita mau menjadi yang terbaik di bidang kita, mempengaruhi setiap siswa yang kita ajar, dan jika kita mau belajar, berkembang, dan menjadi lebih baik, kita harus menjadikan belajar sebagai sebuah prioritas yang kita lakukan setiap hari. Sederhananya, kita harus mencari caranya!

***
Rachael George adalah anggita dariASCD Emerging Leaders Class of 2015dan kini adalah kepala sekolah di  Sandy Grade School in the Oregon Trail School District. Sebelumnya adalah kepala sekolah dasar, dan juga pernah menjadi kepala sekolah menegah pertama dengan pridikat “outstanding” dan dua kali sekolahnya memperoleh  “Level 5: Sekolah model ,” yang diakui oleh Departemen Pendidikan Oregon. Spesialisasinya adalah di bidang pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas mengajar, mengajar siswa yang kesulitan belajar (at-risk), dan pengurangakan gap prestasi belajar antar siswa. Terhubunglah dengan George di Twitter @runnin26.