Jul 4, 2017

Belajar tentang Pendidikan Guru di Tahun 1950-an dari Ibu Mertua

Lebaran ini, saya dan suami pulang ke kampung halaman suami di Biaro, Sumatera Barat untuk mengunjungi ibu mertua yang sudah 80-an tahun. 

Ibu mertua dulu bekerja sebagai guru. Penasaran ingin tahu bagaimana beliau belajar menjadi guru, suatu malam, saya mewawancarainya. Hasil wawancara itu memungkinkan saya belajar sedikit tentang konteks pendidikan guru di tahun 50-an. 

Begini cerita yang saya dapatkan. Pendidikan guru yang ibu mertua saya dapatkan adalah kursus guru bantu. Di zaman itu, di Sumatra  Tengah (sekarang Sumatera Barat, Riau, dan Jambi) kekurangan guru. Di sekolah, satu guru bisa memegang 3 kelas sekaligus. Kekurangan guru juga tampaknya terjadi di daerah lain di Indonesia. Jadi, ada beberapa program yang dijalankan pemerintah (waktu itu di bawah pimpinan Soekarno) yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah guru, diantaranya program-program pendidikan berikut: 
  • Untuk mempersiapkan guru Sekolah Dasar / SD berupa SMP (3 tahun) + Kursus Guru Bantu / KGB (1 tahun)  
  • Untuk mempersiapkan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) berupa SMP (3 tahun) + Kursus Guru Atas / KGA (3 tahun)
Tidak semua orang bisa lolos untuk ikut program-program tersebut. Hanya yang lolos tes seleksi yang bisa mengikuti program pendidikan guru.  Bagi, yang tamat program-program tersebut, langsung diangkat menjadi pegawai negeri (mendapatkan ikatan dinas dari pemerintah).

Di KGB, proses pendidikan fokus pada ilmu kejiwaan anak (mungkin sekarang dikenal dengan psikologi anak) dan metode mengajar.Tidak ada pelajaran khusus tentang konten seperti matematika, bahasa, ilmu pengetahuan alam dan sosial. Asumsinya, siswa KGB sudah punya pemahaman konten yang cukup untuk bisa mengajar SD.

Ibu mertua  tamat KGB pada tahun 1954. Dua bulan setelah tamat KGB, ibu mertua langsung diangkat sebagai pegawai negeri. Beliau mendapatkan Surat Keterangan (SK) Mengajar sebagai Guru SD dan Nomor Induk Pengajar (NIP). 

Tiga tahun pertama, Ibu mertua  ditempatkan di SD Sungai Tanang. Di sana, beliau mengajar siswa kelas 5 dan 6. Tahun 1962 ada pengumuman dari Dinas Pendidikan Provinsi bahwa SD Biaro membutuhkan  guru spesialis SD kelas 1 dan 2. Ibu mertua saya mendaftar dan lolos. 

Di zaman itu, Dinas Pendidikan Provinsi cukup selektif memilih guru kelas 1 dan 2. Di zaman itu, hampir semua siswa kelas 1 tidak punya pengalaman sekolah sebelumnya (misalnya di Taman Kanak-kanak / TK). Sebagian besar siswa kelas 1 baru belajar mengenal huruf, membaca, menulis, dan berhitung. Semua merupakan keterampilan dasar yang dianggap penting dan diperlukan untuk belajar di tingkat pendidikan selanjutnya.

Ada pegawai Dinas Provinsi yang bertugas mengobservasi calon guru kelas 1 dan 2. Bagaimana cara mereka mengajar? Apakah mereka bisa mengajarkan siswa kelas 1 cara memegang pensil dengan benar? Tidak semua guru mau dan punya keterampilan untuk jadi guru kelas 1 dan 2. 

Tahun 1962 ibu mertua  mulai mengajar di SD Biaro. Sejak itu, beliau selalu mengajar kelas 1 atau 2. Tahun 1972 ada aturan bahwa guru SD Biaro haruslah tamatan KGA atau Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Hal tersebut disebabkan  karena SD Biaro dianggap sebagai sekolah teladan. Hal ini menyebabkan Ibu Mertua saya harus pindah ke  SD Pasia. Di sana beliau mengajar selama kurang lebih tiga tahun. Beliau lalu bertugas di SD Balai Gurah sampai tahun 1984. 

Tahun 1984  aturan bahwa guru SD Biaro harus lulusan KGA atau SPG tidak berlaku lagi. Jadi, ibu mertua kembali mengajar di SD Biaro, yang kebetulan terletak di kampung halamannya. Beliau mengajar di sana sampai akhirnya pensiun di tahun 1996.

Dari hasil wawancara dengan ibu mertua saya, saya lebih paham tentang rumitnya konteks pendidikan Indonesia. Setelah kemerdekaan di tahun 1945, jumlah guru sangat sedikit sedangkan kebutuhan akan guru sangat tinggi. Kalau sekarang, idealnya guru diharapkan lulus dari S1 di bidang pendidikan guru. Di zaman itu, hal-hal semacam itu merupakan kemewahan luar biasa. Tidak realistis untuk mengharapkan semua guru lulus S1. Maka, dibuatlah program-program semacam KGB dan KGA untuk memenuhi kebutuhan guru. Namun, menariknya bahwa di zaman itu pemerintah sudah punya bayangan bahwa tidak semua orang bisa menjadi calon guru. Selain harus punya pemahaman konten mengajar yang memadai, seorang juga harus belajar mengenai cara mengajar (metode mengajar, psikologi anak, dan sebagainya). Hal inilah yang diajarkan di KGB dan KGA. 

 Setelah mewawancarai ibu mertua saya, saya ingin lebih banyak belajar tentang sejarah pendidikan dan pendidikan guru di Indonesia. Bukan untuk jadi ahli sejarah pendidikan Indonesia tetapi sekadar untuk bisa membantu saya memahami konteks pendidikan Indonesia kini. Saya percaya, bahwa apa yang terjadi hari ini dipengaruhi oleh banyak hal yang terjadi di masa lalu. 

Jun 16, 2017

"Ngabuburit sambil Ngobrolin Pendidikan" (1): Sekilas tentang Kegiatan dan Fasilitator


Ramadan tahun ini ada tiga kegiatan "Ngabuburit sambil Ngobrolin Pendidikan" di Studio Kopi Sang Akar. Semuanya diselenggarakan setiap Selasa, mulai 17.00 WIB - selesai.  Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerja sama Jaringan Pendidikan Alternatif dan Studio Kopi Sang Akar.

Sebenarnya desain awal kegiatan ini, diskusi akan difasilitatori oleh anak-anak muda. Peserta diskusi antara 10 - 20 orang dan didominasi oleh anak muda sehingga suara mereka terdengar. Benar sih, ketiga fasilitator ini adalah anak muda. Seusia mahasiswa. Yang jelas, semua di bawah 30 tahun. Namun, peserta diskusi beragam. Ada yang muda dan yang "tidak bisa dikategorikan muda lagi". Yang terakhir ini juga tak bisa direm untuk tidak berbicara. Jadi, praktik memang tak berjalan sesuai desain awal. Setidaknya diskusi berlangsung santai tapi seru. Semua peserta duduk  lesehan melingkar. Fasilitator memancing obrolan. Misalnya, memberikan sedikit cerita ataupun memberikan gambaran tentang kerangka obrolan dan kata-kata kunci.  Jika ada yang mau sumbang pemikiran, boleh sumbang pemikiran. Saat magrib, peserta buka bersama. Takjil berupa kolang-kaling dan singkong goreng khas Studio Kopi Sang Akar. Setelah salat magrib, peserta melanjutkan diskusi sampai sekitar 19.00. Kadang dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol informal. 

Fasilitator ngabuburit pertama adalah Khairun Nisa, biasa dipanggil Nisa. Saat ini, Nisa menjadi Pelaksana Harian Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar. Dulu, Nisa juga dididik di Sanggar Anak Akar, sebuah tempat pendidikan alternatif yang berdiri sejak 1988. Di sana Nisa merasa bahagia karena merasa diberi ruang untuk berekspresi dan bisa belajar secara merdeka. Pengalaman itulah yang menginspirasi dia untuk terus berbagi dengan anak-anak di sekitar. Itu dilakukan Nisa sejak usia 14 tahun. Nisa mengumpulkan anak-anak dari lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dan mengajak mereka berdialog tentang apa yang mereka sukai. Anak-anak ternyata suka bermain dan membuat kerajinan tangan. Dibantu oleh seorang teman, Nisa pun mulai secara rutin mengajak anak-anak tersebut bermain dan berkarya. Kini, selain menjadi Pelaksana Harian Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar, Nisa berkuliah di jurusan Sosiologi, Universitas Nasional. Menurut cerita Pakde Susilo Adinugroho, salah satu "dedengkot" sanggar, Nisa memilih kuliah di jurusan Sosiologi agar bisa mengkaji Sanggar Anak Akar dari sudut pandang sosiologi. Nisa menjadi fasilitator untuk ngobrol-ngobrol tentang "Peran Anak Muda dalam Pendidikan" yang telah diselenggarakan pada Selasa, 6 Juni 2017. 

Fasilitator kedua adalah seseorang yang cukup lama saya kenal karena dulu sama-sama sempat aktif di Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP). Namanya Gea Citta, biasa dipanggil Gea. Saat ini Gea sedang menyelesaikan studi di Fakultas Filsafat, Universitas Indonesia (UI). Ia sedang menyelesaikan skripsi tentang Epistemologi. Beberapa tahun yang lalu, Gea sempat banyak menulis tentang pendidikan, di antaranya dimuat di Jurnal Perempuan, Jakarta Post, Tempo, dan sebagainya . Gea juga aktif mengajar di Rumah Pintar (Rumpin), sebuah sekolah informal untuk anak-anak di Desa Cibitung, Kabupaten Bogor. Gea memfasilitasi ngobrol-ngobrol tentang "Diskriminasi Di Dunia Pendidikan"  yang telah diselenggarakan pada Selasa, 13 Juni 2017. 

Fasilitator ketiga bernama Galuh Bagaspati. Ia memilih untuk memberhentikan diri sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi dan memilih untuk mendidik dirinya sendiri. Saya belum terlalu tahu banyak tentang Galuh meskipun sudah dua kali bertemu di kegiatan ngabuburit. Dia selalu datang dan tampak serius memperhatikan alur diskusi. Saya belum bisa bercerita banyak tentangnya. Namun yang pasti, Galuh akan menjadi fasilitator pada Selasa depan, 20 Juni 2017. Setelah itu, mungkin saya bisa lebih mengenal dan berbagi cerita tentang dia dan kegiatan ngabuburit pekan depan. 

May 2, 2017

Membaca "Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan"


"Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan" karya Dra. Irna H. N. Soewito (Balai Pustaka, 1991) menggambarkan kehidupan Soewardi Soeryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) sebelum dan setelah diasingkan di Belanda.

Buku tersebut memungkinkan saya mengenal sisi Ki Hadjar Dewantara yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya baru tahu bahwa Ki Hadjar Dewantara pernah bekerja sebagai ahli kimia, lalu pernah belajar menjadi apoteker dan bekerja di Apotek Rathkamp, Yogyakarta. Namun, selama di apotek, Ki Hadjar terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menulis untuk surat kabar De Express. Beliau juga pernah salah meramu obat, sehingga akhirnya dipecat. Setelahnya, Ki Hadjar Dewantara memutuskan untuk fokus menulis di surat kabar, hal yang membuatnya diasingkan ke Belanda.

Tahun  1913, pemerintah Belanda merayakan kemerdekaan yang ke-100 (dari jajahan Prancis). Belanda sendiri masih menjajah Hindia Belanda (kini Indonesia). Penduduk Hindia Belanda dipungut biaya (secara paksa) sebagai pemasukan bagi Belanda untuk merayakan kemerdekaannya. Ki Hadjar Dewantara sempat melihat sendiri praktik pungutan tersebut dan memilih untuk melawannya dengan pena. Dia menulis brosur  yang diterbitkan oleh  Comite Boemi Poetra berjudul "Als ik eens Nederlander was" yang berarti "Andaikata Aku Seorang Belanda". Tulisan itu membuat Ki Hadjar ditangkap dan dipenjarakan pada 30 Juli 1913 karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat.

18 Agustus 1913, pengadilan Bandung memutuskan bahwa Ki Hadjar Dewantara harus diasingkan ke Pulau Bangka. Tjipto,  penanggung jawab brosur Comite Boemi Poetra, harus diasingkan ke Banda. Doewes Dekker - yang juga memprotes perayaan kemerdekaan Belanda mendapatkan keputusan serupa, dia harus diasingkan ke Timor.

Seandainya Ki Hadjar mau diasingkan ke Pulau Bangka, dia bisa memperoleh tunjangan biaya hidup dari pemerintah Belanda. Namun, Ki Hadjar Dewantara untuk memilih diasingkan ke negeri Belanda. Hal tersebut diperbolehkan tetapi Ki Hadjar tidak akan memperoleh biaya hidup dari pemerintah Belanda. Tjipto dan Doewes Dekker pun memilih diasingkan ke Belanda.

Di Belanda, Ki Hadjar Dewantar hidup sederhana dengan istrinya, Soetartinah. Mereka memperoleh sokongan dana dari Indische Partij berupa dana Tot De Onafhankelijkheid (TADO) yang berarti "sampai merdeka". TADO merupakan bantuan dan untuk 'pemberontak' yakni mereka yang berani melawan pemerintah kolonial. Gondowinoto, kerabat Ki Hadjar Dewantara yang sedang studi di Belanda, sering memberikan bantuan beras, pakaian, dan peralatan rumah tangga.

Untuk mendapatkan tambahan uang, Ki Hadjar mulai menulis di surat kabar kembali. Soetartinah mencari pekerjaan  sebagai guru Frobel School (Taman Kanak-kanak) di Weimaar, Den Haag.

Selain menulis, Ki Hadjar Dewantara juga aktif mengikuti diskusi yang sering diadakan Dowes Dekker di Paleis voor Volksvlijt (sebuah gedung di Amsterdam yang menjadi ruang publik) setiap malam. Di sana, Tjipto, Doewes Dekker, dan Ki Hadjar sering memberikan ceramah di depan ratusan untuk menjelaskan kondisi riil di Hindia Belanda.

Ki Hadjar Dewantara merasa bahwa banyak orang Belanda yang tidak paham mengenai kondisi di Hindia Belanda. Berita yang disiarkan pemerintah kolonial tidak selalu sesuai kenyataan. Atas bantuan Algemeen Nederlands Verbond (Perkumpulan Umum di negeri Belanda), Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) dan Oost en West, Ki Hadjar Dewantara rajin berkeliling ke daerah-daerah untuk memutarkan film dan berceramah mengenai Hindia Belanda.

Untuk menggambarkan keadaan masyarakat Hindia Belanda yang sesungguhnya, Ki Hadjar Dewantara juga  mendirikan sebuah kantor berita,  Indonesisch Pers Bureau.   Ki Hadjar menulis beragam isu baik tentang kebudayaan, kemanusiaan, pertanian, peternakan, dan sebagainya.

Adanya Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) merupakan wadah Ki Hadjar Dewantara untuk berinteraksi dengan mahasiswa Hindia Belanda yang sedang studi di Belanda. Ketika Idul Fitri, mahasiswa berkumpul di rumah Ki Hadjar Dewantara untuk makan nasi tumpeng yang dibuat oleh Soetartinah.

Dengan beberapa mahasiswa   Indische Vereeniging yang sama-sama memiliki minat yang menyukai kesenian Jawa, Ki hadjar juga berlatih gamelan dan menari. Mereka pernah mengadakan malam kesenian untuk mengumpulkan dana untuk korban banjir di tanah air.

 Indische Vereeniging juga memberikan Ki Hadjar Dewantara tanggung jawab untuk menjadi ketua redaksi majalah Hindia Putera yang berbahasa Belanda yang isinya sebagian besar tentang perkembangan masyarakat di Hindia.

Selama di pengasingan  Ki Hadjar juga mengikuti pelajaran di Lager Onderwij (Sekolah Guru) sampai akhirnya beliau memperoleh Akte van bekwaamheid als Onderwijzer (Ijazah Kepandaian Mengajar). Studinya memperkenalkannya kepada pemikiran-pemikitan mengenai pendidikan yang memerdekakan (yang menginspirasinya diantaranya Maria Montessori dan Rabindrath Tagore).

Ada pengalaman pribadi yang sangat membekas di hati Ki Hadjar Dewantara, seperti yang dikutip ini:
Pemikiran tentang berhamba kepada anak, tercetus dari suatu penyesalan yang pernah dirasakannya sendiri ketika Soewardi sedang menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Tangis Asti [anak pertamanya yang berkebutuhan khusus] yang tiada henti-hentinya, dirasakan sebagai suatu hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak itu ke luar, kemudian tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik hempasan pintu rumah… Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan kekalutan pikirannya. Ia lari secepat ia dapat. Dibukanya pintu pemisah dan… Asti sudah nampak biru, menggigil kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil memeluk anak yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu, maka terucaplah kata kasih sepenuh hati: "Kowe bakale dak mulya' ake selawase" (Selamanya Engkau akan aku muliakan). Tuhan mendengar kata umat-Nya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Asti tidak pernah dapat mengurus dirinya hingga sekarang. (Soewito, 1991, h.103)

Pengalamannya, yang pernah mengabaikan anaknya, dan disesalinya, membuatnya sadar bahwa pendidikan harus berfokus pada anak. Ki Hadjar berpandangan bahwa anak harus dibiarkan tumbuh menurut kodratnya. Orang dewasa (orang tua dan guru) bertanggung jawab untuk menjadi among (mengasuh), membiarkan anak 'mencari jalan sendiri', tanpa menunggu perintah. Menurutnya, sistem pendidikan di Hindia Belanda yang masih menggunakan paksaan, dan hukuman harus diganti dengan sistem among.

Membaca "Soewardi Soeryaningrat di Pengasingan" membantu saya memahami beberapa keping-keping kehidupan Ki Hadjar Dewantara. Saya belajar bahwa Ki Hadjar Dewantara merupakan pejuang yang sangat tangguh. Berbagai cara ditempuhnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mulai dari menulis, berorganisasi, berkesenian, dan yang paling utama, dengan menggunakan kesempatan belajar di Belanda untuk sungguh-sungguh memikirkan secara serius pendidikan Indonesia, tentu akhirnya dipraktikkan ketika kembali belajar ke tanah air. :)

Apr 8, 2017

Pengalaman Mengikuti Google Educator Examination

Saya beruntung dipertemukan dengan Pak Steven Sutantro. Beberapa tahun yang lalu, kami memang pernah berkenalan melalui forum pendidikan online (saya lupa apa). Kami juga pernah bertemu di temu darat IDCourserian (komunitas orang Indonesia yang mengambil kuliah online di Coursera.org).

Setahun terakhir, Pak Steven ternyata bekerja di sekolah Sampoerna Academy. Sekolah ini berada di bawah yayasan yang sama dengan kampus tempat saya bekerja, Sampoerna University.

Pak Steven adalah seorang google educator trainer. Kebetulan, saya punya kesempatan untuk mengikuti rangkaian training Google Educator yang diselenggarakan oleh kampus. Pak Steven menjadi fasilitator training ini. Sebenarnya rangkaian training itu adalah sebuah study group untuk persiapan mengikuti ujian Google Certified Educators.

Setiap Selasa, sejak 14 Februari 2017 sampai 14 Maret 2017, kami para dosen dan beberapa asisten dosen (mahasiswa) belajar mengenai cara belajar, mengajar, dan me-manage kelas atau sekolah menggunakan tools seperti gmail, google drive, google docs, google slides, google sheets, google forms, google drawings, google calendar, google site, dan google classroom.

Setiap sesi selalu seru. Saya ingat Pak Steven pernah mengajak kami peserta untuk berkolaborasi membuat presentasi menggunakan google slides tentang makanan favorit. Waktu membuat presentasinya sekitar 15 menit. Satu peserta, satu slide. Dalam waktu sekejap, ada sebuah presentasi bersama tentang berbagai jenis makanan, lengkap dengan gambarnya, tempat mendapatkannya, bahkan videonya. Lebih dari 10 jenis variasi. Itu bisa dijadikan bahan diskusi di kelas. Peserta juga belajar berkolaborasi sekaligus mengasah keterampilan komunikasi.

Tentu itu hanya contoh kegiatan. Peserta yang ikut pelatihan bisa menggunakan gagasan dasar itu untuk kegiatan lain di dalam kelas.

Ada berbagai kegiatan belajar seru lainnya. Namun, terus terang tidak semua tugas selalu kami kerjakan. Apalagi yang sifatnya PR. Misalnya, Pak Steven pernah meminta kami merapikan google site kami masing-masing, membaca review bahan, dan sebagainya. Seringkali PR ini tidak dikerjakan karena alasan 'sibuk'.

Tidak semua peserta memilih untuk mengambil ujian google pada April ini. Ada yang mau mengambilnya nanti, setelah benar-benar siap. Saya memilih untuk coba-coba saja ikut ujuan. Gagal pun tidak apa-apa. Kebetulan kampus membiayai untuk ikut ujian (10 USD/orang).

Belakangan saya baru ngeh bahwa semua bahan review dan latihan bisa dibaca dan dikerjakan menggunakan telepon genggam. Akhirnya, ketika saya sedang menunggu atau berada di perjalanan, misalnya di kereta, saya belajar untuk persiapan ujian. Lumayan banget!
Kemarin, Jumat, 7 April 2017 saya ikut ujian untuk menjadi Google Certified Educator Level 1. Yang diuji adalah pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan berbagai perangkat google untuk belajar mengajar dan tentang digital citizenship. Selain itu keterampilan menggunakan berbagai perangkat tersebut untuk membuat presentasi, lesson plan, mengolah data (feedback atau nilai siswa), menuliskan hasil penelitian, dan sebagainya.

Saya tadinya tidak terlalu percaya diri. Ada juga rasa takut tidak lulus. Tapi hajar saja deh! Eh dan ternyata eh ternyata, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah.
Memang tidak semua peserta lulus, tapi yang menarik, ujian ini dirancang sedemikian rupa sehingga setelah ujian pun kita pasti punya keterampilan baru. Ujian boleh  membuka google (meskipun waktunya terbatas). Jadi, desain ujian ini kayak 'open book' begitu. Setelah ujian saya belajar begitu banyak tips dan trik menggunakan teknologi untuk belajar, mengajar, dan manajemen. Jadi, ujian ini selain untuk menguji hasil belajar (assessment of learning), juga merupakan alat untuk belajar (assessment for learning and assessment as learning). Seru deh!

Oct 23, 2016

Tentang "Koran Anak Merdeka"

Ketika saya SD, bapak saya membawa pulang sebuah koran. Namanya, "Koran Anak Merdeka". Isinya tulisan dan gambar anak-anak tentang kehidupan mereka.

Sebelumnya, saya sudah pernah mengirim tulisan ke rubrik  "Imajinasiku" di majalah Bobo dan dimuat. Namun, karena bapak mengenalkan sebuah media yang baru, maka saya jadi punya 'mainan baru'. Saya mulai menulis untuk "Koran Anak Merdeka". Tulisan apapun yang saya kirim ke sana pasti dimuat. 

Cukup lama saya tidak mengingat tentang Koran Anak Merdeka sampai akhirnya saya mengobrol dengan Om Yayak Yatmaka, seorang pelukis dari Yogyakarta.

Saya bertemu Om Yayak kembali setelah usia saya telah lewat 30 tahun.  Kami bertemu di sebuah toko buku di Bandung. 

Karena Om Yayak tahu saya bergerak di bidang pendidikan, beliau mengajak saya mengobrol tentang pendidikan. Salah satu topik obrolan kami yakni tentang pendidikan Anak Merdeka. 

Salah satu prinsip pendidikan Anak Merdeka adalah bahwa anak harus punya kesempatan untuk mengekspresikan pemikirannya.

Di kepala saya seakan-akan ada lampu yang menyala. Saya tiba-tiba teringat pada sebuah memori yang telah lama terlupa. Tentang "Koran Anak Merdeka."

 Saya baru ngeh, Om Yayak ternyata salah satu penggagasnya. 

"Ya ampun, ternyata Koran Anak Merdeka itu kerjaan Om Yayak yah? Dulu saya suka nulis ke sana dan pasti dimuat."

Om Yayak tertawa terbahak-bahak, "Kan jadi bangga," tambahnya.

Salah tujuan koran itu untuk membuat anak merasa  bangga. Tulisan apapun yang masuk ke redaksi "Koran Anak Merdeka" akan dimuat.

Siapa yang tidak bangga tulisannya dimuat di koran? Karena bangga, anak diharapkan akan terus berkarya.

Semua tulisan di "Koran Anak Merdeka" tidak diedit sama sekali. Font tulisannya pun sama persis dengan tulisan tangan anak yang nenulisnya. Kalau ditulisan aslinya ada coretan, dimuatnya pun dengan coretan. Kebanyakan anak yang menulis di koran tersebut berkisah tentang kesehariannya. 

Melalui "Koran Anak Merdeka", pertama kalinya saya belajar secara lebih mendalam tentang kehidupan anak yang berbeda konteksnya dari kehidupan saya. 

Di Koran Anak Merdeka sering ada tulisan anak yang bercerita tentang pengalamannya kabur dari rumah dan hidup di jalan. Saya membaca tulisan-tulisan tentang pengalaman anak mengamen, naik kereta murah keluar kita tanpa pengawasan orang tua. 

"Saya baru sadar, kayaknya dulu tulisan saya di koran itu yang gayanya paling 'borjuis' dari semua tulisan yan ada di sana," kata saya pada Om Yayak. 

Seperti biasa, Om Yayak tertawa terkekeh-kekeh saja.

Sep 15, 2016

Ketika Siswa Memperoleh Sebuah Nilai 'Nol' di Rapor, Apa Kemungkinan Penyebabnya?


Sumber : http://quotesgram.com/quotes-on-assessment-for-learning/

Ceritanya ada seorang siswa. Ketika menerima rapor, alangkah kagetnya siswa ini. Salah satu nilai di rapornya nol. Benar-benar nol! Siswa memang pernah tidak masuk apda pelajaran tersebut, tapi hanya beberapa kali. Tidak sampai sepanjang semester. Itu pun karena sang siswa sakit (dibuktikan dengan surat dokter). Kira-kira apa yang menyebabkan siswa memperoleh nilai 'nol' tersebut?


Setiap semester, ada berbagai tujuan pembelajaran yang diharapkan bisa dicapai oleh siswa. Tujuan pembelajaran ini, biasanya diturunkan dari tujuan pendidikan menurut UNESCO, tujuan pendidikan nasional, sampai akhirnya diturunkan dari Kompetensi Dasar (KD) yang ada di dalam kurikulum nasional.

Ketika merancang kegiatan belajar-mengajar, guru perlu memikirkan bagaimana tujuan-tujuan tersebut bisa dicapai dan bagaimana cara mengukurnya.Kumpulan hasil pengukuran ketercapaian berbagai tujuan-tujuan pendidikan ini biasanya dikuantifikasi dan dijadikan dasar untuk penilaian dalam rapor. 

Menurut pendapat saya, ketika siswa memperoleh nilai nol dalam rapor, ada dua kemungkinan. Pertama, siswa tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sepanjang semester. Atau kedua, model asesmen yang dipilih kurang tepat karena tidak bisa menggambarkan ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang sebenarnya telah dicapai  oleh siswa. 

Siswa tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sepanjang semester?

Ini tidak semua, tetapi contoh beberapa kompetensi dasar (KD) yang diharapkan bisa dicapai oleh siswa SMP kelas VII pada pelajaran matematika, berdasarkan kurikulum 2013:
  • Mendeskripsikan lokasi benda dalam koordinat Kartesius
  • Menaksir dan menghitung luas permukaan bangun datar yang tidak beraturan dengan menerapkan prinsip-prinsip geometri
  • Memahami konsep transformasi (dilatasi, translasi, pencerminan, rotasi) menggunakan objek-objek geometri
Sebagai informasi, terkait aspek kognitif, ada 20 KD yang perlu dicapai oleh siswa SMP kelas VII di mata pelajaran matematika (untuk detilnya silakan lihat sendiri dokumen kurikulumnya, tidak saya sebutkan semua karena akan terlalu panjang).

Model asesmen yang dirancang oleh guru bisa digunakan untuk mengambil penilaian yang kemudian dijadikan dasar untuk menentukan nilai rapor. Jadi, nilai rapor seharusnya adalah representasi dari ketercapaian tujuan pembelajaran siswa dalam mata pelajaran tertentu di semester tersebut.

Untuk KD "Mendeskripsikan lokasi benda dalam koordinat Kartesius", misalnya guru bisa melakukan asesmen dengan berbagai cara. Memberikan ulangan harian berupa soal pilihan ganda atau esai, misalnya, adalah satu cara tapi itu bukan satu-satunya cara untuk menilai kompetensi dasar siswa tersebut. Ada berbagai cara lain, misalnya dengan memberikan siswa tugas, memberikan ujian lisan, dan sebagainya. 

Bahkan kalau mau, guru bisa membuat asesmen yang terintegrasi dengan kegiatan belajar - mengajar. Misalnya dengan membuat game yang secara tidak langsung membuat siswa harus 'mendeskripsikan  lokasi benda dalam koordinat kartesius'. 

Kalau siswa sudah menunjukkan ketercapaian terhadap tujuan pembelajaran, seharusnya siswa memperoleh nilai yang bukan 0.

Seperti yang saya sebutkan, selama kelas VII pelajaran matematika, 20 KD yang perlu dicapai siswa (dari aspek kognitif saja). Biasanya guru menurunkannya KD ini menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih detil.  Tidak mungkin siswa tidak mencapai satu pun tujuan pembelajaran yang telah ditentukan kecuali jika selama di kelas tidak terjadi proses pembelajaran sama sekali. 

Artinya, siswa tidak mungkin memperoleh nilai 0 di rapor kecuali bila siswa tidak masuk sama sekali. Pasti ada setidaknya beberapa tujuan pembelajaran yang bisa dicapai siswa.  Selama siswa menunjukkan ketercapaian terhadap sebagian saja tujuan pembelajaran yang ada di semester tersebut, maka nilai siswa pasti lebih besar daripada 0. 


Model asesmen yang dipilih kurang tepat karena tidak bisa menggambarkan ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang sebenarnya bisa ditunjukkan oleh siswa?
Hal ini mungkin saja terjadi. Saat guru merancang asesmen, tentu saja ada saat-saat di mana asesmen yang dirancang tidak tepat. Misalnya, guru memberikan asesmen selalu berupa tes tertulis, nilai siswa di semua tes tertulis kurang baik. Namun, saat siswa diminta menyelesaikan masalah yang terkait dengan topik, siswa bisa menjelaskan dengan lancar. Artinya, model asesmen yang dipilih belum tepat. Guru sebenarnya bisa memilih model asesmen lain yang memungkinkan siswa menunjukkan kebisaannya.

Itulah kenapa sekolah perlu memfasilitasi guru untuk berdialog bersama untuk mengevaluasi model-model asesmen yang digunakan di sekolah. Apakah asesmen yang digunakan sudah tepat? Adakah cara yang lebih baik untuk melakukan asesmen? Sekolah, bersama dengan guru lalu bisa  mendiskusikan usulan perbaikan untuk semseter selanjutnya. Di semester berikutnya, model asesmen yang digunakan di sekolah tersebut bisa lebih tepat dan beragam sehingga bisa mengukur ketercapaian pembelajaran berbagai jenis siswa. 

Bagaimana kalau sudah terlanjur menggunakan model asesmen yang tidak tepat untuk menilai siswa.Hasilnya siswa mendapat nilai nol di rapor, padahal sebenarnya ada tujuan pembelajaran yang telah dicapai siswa? Kalau kesalahannya ada pada model asesmennya, siswa berhak  untuk diberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa siswa tersebut bisa mencapai beberapa tujuan pembelajaran yang ada di semester tersebut, misalnya dengan mengajak siswa melakukan asesmen ulang. Kalau memang terbukti bahwa siswa bisa mencapai beberapa tujuan pembelajaran yang menjadi target, maka tidak ada salahnya nilai siswa direvisi. Kenapa tidak?

Aug 7, 2016

Pak Daoed Joesoef di Mata Saya




Pak Daoed Joesoef di Mata Saya
Oleh: Dhitta Puti Sarasvati
Senin, 8 Agustus 2016, Pak Daoed Joesoed berulang tahun yang ke-90. Meskipun usianya tak lagi muda, beliau masih aktif menulis berbagai artikel, makalah, buku, dan mengerjakan berbagai kerja intelektual lainnya. 

Beliau pernah bercerita pada saya, bahwa setiap hari beliau punya waktu-waktu tertentu yang tidak bisa diganggu gugat, kecuali kalau benar-benar penting. Waktu tersebut adalah waktu untuk membaca dan menulis. Hal ini beliau lakukan setiap hari. Sungguh, saya ingin memiliki kedisiplinan seperti itu.

Terkait salah satu buku Pak Daoed Joesoef, saya punya cerita. Seorang murid saya yang sempat bercerita bahwa orang tuanya tidak berpendidikan tinggi. Namun, di mata saya murid saya itu sangat cerdas, pemikirannya sistematis, dan karakternya baik. Saya ceritakan padanya mengenai buku Emak, salah satu karya Pak Daoed Joesoef yang paling saya suka. Di sana Pak Daoed Joesoef bercerita tentang Emaknya yang buta huruf tetapi berhasil mendidiknya menjadi orang yang berpikiran sistematis, suka belajar, sehingga akhirnya mengantarnya menjadi orang Indonesia pertama memperoleh gelar Doktor dari Universitas Sorbonne, Paris. 

Jadi, saya rekomendasikan buku Emak pada murid saya. Katanya, dia sangat suka bukunya. Bukunya membuatnya mengingat orang tuanya. 

Terkait beasiswa dari Sorbonne, Pak Daoed pernah menceritakan pada saya bahwa badan pemberi beasiswa sebenarnya berasal sebuah yayasan di Amerika Serikat. Tadinya, yayasan tersebut tidak mau memberikan beasiswa paka Pak Daoed. Bukan karena beliau tidak qualified, melainkan karena yayasan tersebut hanya memberikan beasiswa pada orang yang mau studi ke Amerika Serikat saja.

Pak Daoed tidak terima dengan hal tersebut. Beliau mengatakan, kurang lebih begini, "Saya butuh uang anda, bukan butuh anda menentukan ke mana saya harus sekolah (arah hidup saya)."

Beliau pun keluar ruangan dengan menendang pintu. Akhirnya, pihak yayasan malah terkesan dengan beliau, dan akhirnya menyekolahkannya di Sorbonne. Dari cerita tersebut, dapat kita lihat karakter Pak Daoed Joesoef yang tahu persis apa maunya. Beliau tidak mudah disetir, bahkan oleh pihak pemberi funding sekalipun. 

Yang membuat saya kagum lagi, ketika beliau sedang studi di Paris, beliau tidak hanya meneliti untuk kepentingan doktornya saja. Beliau juga menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk mengumpulkan bahan untuk membuat konsep (mungkin semaca blueprint) tentang strategi keamanan dan pertahanan bangsa, ekonomi, dan tentang arah pendidikan Indonesia. Yang terakhir inilah yang mungkin membuatnya sempat diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Beliau sering mengingatkan saya bahwa saya (dan anak muda lainnya) harus mulai memikirkan blue print pendidikan Indonesia.  Pesan beliau ini terngiang-ngiang di kepala saya sampai sekarang. 

Banyak orang mengira Pak Doed Joesoef kurang 'agamis'. Mungkin karena beliau pernah menyarankan pengurangan jam mata pelajaran agama di sekolah, dan banyak alasan lainnya. Namun, sebenarnya beliau justru berharap selain belajar di sekolah, justru anak-anak bisa belajar agama di rumah ibadatnya masing-masing. Misalnya, sewaktu muda, beliau belajar agama di Surau. Sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar.

Beliau sendiri pernah bercerita, Emaknya pernah berpesan untuk mendoakan orang yang sudah tiada. Oleh karena itu, pernah ada cerita, ketika beliau berkunjung ke suatu kota, beliau mampir ke sebuah kuburan suatu tokoh. Di sana beliau membaca surat Yasin. Orang-orang kaget karena tak menyangka beliau bisa mengaji. Akhirnya, beliau diundang ke sebuah sekolah Islam untuk memberikan sebuah ceramah. 

Di rumahnya pun ada sebuah lukisan. Beliau yang membuatnya sendiri. Kalau dilihat sekilas, lukisannya seperti gambar pantai saja. Namun kalau diperhatikan dari dekat, lukisannya merupakan kaligrafi dari tulisan kata 'Allah' yang ditulis dengan huruf Arab.

Banyak orang menuduh Pak Daoed tidaklah Islami. Namun, di mata saya beliau sangat menghayati nilai-nilai keislaman, meskipun mungkin tidak ditunjukkan terang-terangan. Wallahu A'lam

Beliau memang kontroversial, misalnya terkait kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membuat beberapa aktivis tahun 70-an kesal padanya.

Terlepas dari itu, sebenarnya begitu banyak hal penting yang dikerjakan oleh Pak Daoed Joesoef. Selain menulis berbagai karya, beliaulah yang pertama kali mencetuskan pameran buku di Indonesia, beliaulah yang berjuang di UNESCO untuk ikut merestorasi Candi Borobudur, beliau ikut mendirikan beberapa Fakultas yang ada di Universitas di Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia luar biasa besarnya, hal ini ditunjukkan dengan karya-karyanya. Sampai sekarang, kalau saya menceritakan masalah yang ada di Indonesia, matanya menampakkan kesedihan, atau rasa kesal.

Selamat ulang tahun ke-90 Pak Daoed Joesoef. Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk punya kesempatan mengenal Bapak.