Salah satu tayangan televisi yang saya nikmati adalah Swara Indonesia. Acara ini berupa sebuah talkshow yang dibawakan oleh Irma Hutabarat  ( @Swara_Irma) di TVRI setiap Rabu pk 20.00 WIB. Kenapa saya senang acara ini? Karena menurut saya acara ini sangat menambah wawasan. Biasanya selalu ada dua tamu yang diundang untuk menjadi narasumber di acara ini. Tamu tersebut biasanya memiliki profesi yang sama, misalnya sama-sama merupakan fotografer, sama-sama merupakan penyanyi jazz, sama-sama merupakan wartawan, sama-sama merupakan arkeolog, dan sebagainya. 

Untuk memulai pembicaraan, biasanya Irma Hutabarat yang selalu mengenakan kebaya dan kain tradisional (batik, songket, dll) yang cantik akan menawarkan narasumber untuk mengunyah sirih bersama-sama gambir, kapur sirih, dan buah pinang. Seperti yang dikutip dalam website  http://www.komnasperempuan.or.id/2009/12/berbagi-sirih-pinang-untuk-bicara-kebenaran/ :
"Dalam tradisi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, berbagi sirih pinang berarti membuka diri untuk membangun keakraban. Sirih pinang juga menandakan rasa saling percaya dan seringkali merupakan awal dari sebuah hubungan panjang. Ketika terjadi perselisihan, berbagi sirih pinang adalah pertanda keinginan yang ikhlas dari para pihak untuk merajut kembali jalinan kekerabatan yang sempat terganggu." 
Memang saat Irma dan narasumber mengunyah sirih bersama kedua narasumber suasana menjadi lebih akrab dan mereka mulai ngobrol. Biasanya sambil menawarkan sirih, Irma akan memulai pembicaraan dengan bertanya, "Sudah pernah mengunyah sirih sebelumnya?" 

Masing-masing narasumber akan menjelaskan pengalamannya dalam mengunyah sirih. "Saya pernah mengunyah sirih saat mengunjungi daerah ini.... Waktu itu saya diminta makan.... Biasanya penduduk di sana..."

Obrolan pun dimulai. Santai tapi berbobot. Setelah mengunyah sirih Irma akan bertanya mengenai sejarah kenapa masing-masing memilih profesi mereka, siapa yang turut mendukung mereka sehingga mereka bisa berakhir di profesi tersebut, dan berbagai sejarah pribadi lainnya. Kemudian ketiga orang, yakni Irma, dan kedua narasumber akan ngobrol mengenai profesi yang sedang menjadi topik hari itu. Ngobrolnya santai seakan-akan sedang ngobrol di teras rumah di suatu sore.  Tapi karena narasumber yang diundang biasanya adalah orang-orang yang mencintai profesinya mereka akan bercerita dengan sepenuh hati. They are people who love there jobs! Kalau tamunya fotografer, mereka akan ngobrol mengenai fotografi, pengalaman masing-masing saat menjadi fotografer, sampai filosofi seorang fotografer. Begitu juga kalau tamu menekuni bidang lain seperti menyanyi jazz, menjadi wartawan, pembuat film, arkeolog, dan sebagainya. Saya belajar bahwa saat seseorang menekuni bidang apapun, dia akan menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak melulu diperoleh melalui menonton atau membaca buku-buku mengenai motivasi, tetapi juga melalui menekuni suatu bidang tertentu. 

Dalam satu acara talkshow yang mengundang Bertha dan Syahrani (dua penyanyi jazz perempuan Indonesia), ini adalah beberapa catatan saya terhadap hasil obrolan mereka yang menunjukkan bahwa mereka menemukan semacam kebijaksanaan setelah menekuni profesi mereka. 
"Pekerjaan saya bermain. Musik itu bermain. (Bertha)"Kita nih main (musik), yang nonton satu atau banyak (orang), mainnya sama, harus sepenuh hati."

Waktu ada dua orang konservator yang diundang di acara Swara Irma, seorang narasumber mengatakan :
"Konservator itu harus jatuh cinta, bekerjanya perlu pakai hati, bukan sekadar pekerja."
Selain belajar kebijaksanaan dari orang-orang yang menekuni profesinya, dengan menonton Swara Indonesia saya juga belajar mengenai profesi lain. Walaupun saya memiliki profesi yang berbeda dengan narasumber, memperluas wawasan dengan belajar dari profesi orang lain tidak ada salahnya. Misalnya setelah menonton Swara Irma yang temanya adalah konservator, orang yang pekerjaannya adalah merawat (diantaranya benda-benda bersejarah), saya jadi respek sekali dengan mereka. Di Indonesia ada banyak sekali benda-benda bersejarah yang umurnya sudah tua, diantaranya adalah kain tertua abad ke-17 koleksi Gusti Mangkunegara.Ternyata merawat masing-masing benda, baik kain, patung, lukisan, benda-benda dari perak masing-masing butuh bahan-bahan khusus, dan keterampilan tingkat tinggi. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Tanpa para konservator kita tidak akan bisa menikmati benda-benda tersebut di museum dan sebagainya.

Kita juga bisa belajar bahwa pekerjaan ada bermacam-macam. Banyak orang yang mungkin tidak menyadari luasnya pilihan profesi yang bisa ditekuni. Kalau tidak menonton Swara Indonesia mungkin saya tidak akan sadar bahwa ada orang yang bekerja sebagai konservator. Saya juga belum pernah bertemu seorang yang pernah berkata, "Cita-cita saya jadi konservator!".

Saya sungguh menikmati acara Swara Indonesia. Seperti ngobrol santai tapi memperkaya wawasan sekaligus menyentuh hati.


Meninjau Pengelompokan Siswa Berdasarkan Kemampuan Akademik
Oleh : Dhitta Puti Sarasvati

Ada berbagai cara pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademik. Dalam sebuah artikel berjudul “Ready, Set(?), Go!“ dijelaskan mengenai 4 jenis pengelompokan tersebut, yakni dengan streaming, setting, banding, dan mixed-ability.

Streaming adalah ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya dan siswa berada pada kelompok yang sama untuk hampir semua mata pelajaran. Hal ini, misalnya dengan apa yang terjadi di sekolah unggulan, atau pun di kelas unggulan. Siswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik, biasanya dilihat dari nilainya dikelompokkan ke dalam satu sekolah atau kelas khusus.  

Setting  adalah ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya untuk pelajaran-pelajaran tertentu. Misalnya siswa A kemampuan matematikanya tinggi namun kemampuan bahasa Inggrisnya rendah. Kalau kelas 1 adalah kelas untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi di pelajaran tertentu, sedangkan kelas 2, 3, dan seterusnya lebih rendah. Dengan sistem setting, siswa A akan masuk kelas 1 untuk pelajaran matematika dan (misalnya) kelas 3 untuk pelajaran bahasa Inggris.

Banding adalah ketika siswa dalam suatu kelas kemampuan akademiknya beragam. Namun, pada pelajaran tertentu, siswa di kelas tersebut dikelompokkan menurut kemampuan akademiknya. Biasanya setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda sesuai kemampuan akademiknya.

Mixed ability grouping adalah ketika siswa tidak dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya baik melalui model streaming, setting, maupun banding.

Sebenarnya, masih ada perdebatan mengenai perlu tidaknya siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya. Yang menganggap siswa perlu dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya berpendapat bahwa itu memudahkan guru dalam melakukan pengajaran berdasarkan kebutuhan siswa. Misalnya, saat guru mengajar di kelas yang kemampuan akademik siswanya rendah guru bisa mengulang materi bila diperlukan, sedangkan ketika mengajar siswa dengan kemampuan akademik yang tinggi, guru bisa memberikan materi yang lebih menantang (NEA Resolutions B-16, 1998, 2005).

Yang berpendapat sebaliknya menganggap ketika siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademiknya maka siswa yang memiliki kemampuan akademik yang rendah akan dirugikan karena kualitas pengajaran di kelas tersebut biasanya lebih rendah. (NEA Resolutions B-16, 1998, 2005). Siswa-siswa yang ada di kelompok yang kemampuan akademiknya rendah juga seringkali merasa seperti “buangan” sehingga motivasi belajarnya bisa turun. Selain itu, juga tidak terjadi interaksi antara siswa dengan beragam kemampuan akademik, padahal seharusnya siswa, apapun kemampuan akademiknya, bisa belajar satu sama lain.

Di Indonesia, tampaknya perdebatan mengenai perlu tidaknya siswa dikelompokkan mengenai kemampuan akademiknya masih jarang dilakukan. Pengelompokan pun kebanyakan dilakukan dengan model streaming, bukan setting atau banding, apalagi mixed ability grouping. Kebanyakan sekolah, khususnya sekolah-sekolah negeri menggunakan sistem seleksi untuk menentukan siswa mana yang bisa masuk ke dalam sekolah tersebut. Hal ini dilakukan ketika siswa SD akan masuk ke SMP, maupun ketika siswa SMP akan masuk ke SMA. Siswa-siswa yang kemampuan akademiknya tinggi, biasanya dilihat dari nilainya di jenjang pendidikan sebelumnya, masuk ke sekolah-sekolah berlabel “unggulan”, sedangkan siswa-siswa lainnya masuk ke sekolah lainnya.

Kenapa model pengelompokkan seperti itu yang dipilih dan bukan yang lain? Apakah memang pengelompokkan model tersebut memang baik untuk siswa? Kalau iya, untuk siswa yang mana? Apakah efek model pengelompokan tersebut untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik memiliki keuntungan yang sama dengan siswa yang kemampuan akademiknya kurang?

Sumber :
1.      Ready, Set(?), Go!
2.      Research Spotlight on Academic Ability Grouping http://www.nea.org/tools/16899.htm

Belum lama ini saya menemani sejumlah guru dari Filipina saat mereka mengunjungi sebuah sekolah negeri di Indonesia. Meskipun saya sebenarnya juga tamu di sekolah tersebut, saya juga berperan menjadi semacam guide sekaligus penerjemah bila diperlukan. Tidak semua guru (Indonesia) di sekolah tersebut bisa berbahasa Inggris. Jadi,  sekali-kali saya membantu menjadi penerjemah.

Sambil melihat-lihat sekolah, dan proses pembelajaran di berbagai kelas, guru-guru dari Filipina mengajukan beberapa pertanyaan. Maklum, mereka ingin lebih tahu mengenai pendidikan di sekolah tersebut dan sekolah di Indonesia pada umumnya. Pertanyaan-pertanyaan mereka sederhana, tapi mampu membuat saya kembali merenungi sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh guru Filipina adalah, “This is not a public school right?

Guru tersebut tidak yakin bahwa sekolah tersebut adalah sekolah negeri. Memang mereka sebenarnya sudah telah diberitahu bahwa sekolah yang sedang dikunjungi adalah sekolah negeri.  Tapi mereka terheran-heran karena siswa masih harus membayar uang sekolah.

Guru bahasa Inggris di sekolah tersebut menjawab, “Yes, it is.”

 “Really? Then why do students have to pay for fees?” tanya seorang guru Filipina.

Well, we use it to  pay for the teachers,” jawabnya.

But you get paid by the government, right?

Yes, we do only if we are government teachers.  But,  if we are non-government teachers, we get payed by the school, from the students’ fees. There is not enough money to pay for all the teachers fees.

Oh there is not enough fees,” katanya menyimpulkan.

Pertanyaan belum selesai sampai di situ. Seorang guru Filipina menanyakan, “Are teachers in Indonesia payed differently?”

Guru bahasa Inggris menjawab, “Yes, it depends on where you teach. If you are a government teacher, the payment is different than if you are a non-government teacher.

Guru Filipina bercerita,“In the Phillipines, there are levels of teachers. When we are new teachers we get payed quite low, but actually it doesn’t matter if we teach in the city or rural areas, anywhere, we get the same payment. If we increase our skills and go to the next level, we get the same payment for that level.   But, to get there some teachers did fight for our rights. They went to the government to ask for equal payment for all teachers. Somebody has to do that.”

Dalam diskusi lebih lanjut kami menemukan bahwa guru-guru Filipina tersebut agak bingung karena di sebuah sekolah yang sama (sekolah negeri) ada guru yang dibayar oleh pemerintah dan ada yang tidak. Bagi mereka ini agak membingungkan karena kok bisa d sebuah sekolah negeri, gurunya ada yang dibayar oleh pemerintah dan ada yang tidak. Guru dari sekolah (Indonesia) kemudian menerangkan bahwa ada perbedaan antara guru PNS dan non-PNS. Meskipun sama-sama di sekolah negeri, ada guru yang dibayar oleh pemerintah dan tidak. Hal tersebut berbeda dengan di Filipina di mana guru apapun kalau golongannya sama, bayarannya pun sama. Seandainya guru tersebut meningkat kompetensinya, memang gajinya akan bertambah. Namun, memang ada sekelompok guru yang berjuang sehingga gaji guru merata di Filipina. Guru bahasa Inggris mencoba menerangkan kondisi di Indonesia. Bahwa tidak ada uang yang cukup sehingga pemerintah bisa menggaji semua guru. Akhirnya guru-guru Filipina mencoba memahami, “Oh the problem is lack of funds!

Saya lalu menemani guru-guru tersebut mengunjungi ke laboratorium sains. Di pojok laboratorium ada ruang kecil. Di dalam ruang tersebut ada lemari tersebut merupakan tempat karya siswa dipajang. Ada buku berisi daun-daunan yang telah dikeringkan. Di dalamnya ada label yang menggambarkan jenis daun, bentuk tulangnya, dan sebagainya. Ada berbagai karya siswa lainnya.

Dengan bangga guru yang berada di laboratorium tersebut, sepertinya guru IPA,  berkata, “Ini karya siswa-siswa kami!”.

Saya membantu menerjemahkan pernyataan guru tersebut ke dalam bahasa Inggris, “These are the students’ work.”

Guru dari Filipina mengangguk-angguk lalu bertanya, “How often do you change the students display?
“Ibu guru ini bertanya, seberapa seringnya karya siswa yang dipajang di sini diganti,” kata saya kepada guru IPA tersebut.

Dengan polosnya guru IPA tersebut berkata sambil tertawa, “Yah, hampir gak pernah diganti. Paling setahun sekali kalau kenaikan kelas!”

Nahlo! Bingung kan menerjemahkannya? Harus saya akui, saya tidak sepenuhnya jujur saat menerjemahkan jawaban guru IPA tersebut ke dalam bahasa Inggris. Saya tidak mengatakan bahwa karya yang dipajang hanya diganti sekali setahun sekali. Saya hanya mengatakan, “Not very often.

Dengan mata mengerling sambil menyengir guru tersebut berkata, “Oh not very often!

Dari situ saya belajar bahwa kadang kita di Indonesia, senang memamerkan hal yang “terlihat keren”. Tapi sekadar untuk menunjukkan bahwa kita “keren”. Piala berbagai kejuaraan,  beberapa karya siswa kita pajang. Bagus sih, tapi bagi seorang pendidik tidak akan sekadar terkagum-kagum dengan sesuatu yang terlihat “keren”, tapi akan penasaran bagaimana proses untuk menghasilkan “kekerenan” tersebut. Saat tim olahraga sekolah misalnya memperoleh juara satu dalam sebuah lomba. Seorang pendidik akan penasaran bagaimanakah cara pelatih melatih siswa tersebut sehingga punya daya juang dan kedisiplinan. Saat ada karya siswa yang dipajang di dinding sekolah, seorang pendidik akan penasaran seberapa sering siswa diajak membuat karya, bagaimana proses pembelajaran di kelas sehingga siswa bisa menghasilkan karya tersebut, karya lain apa yang dihasilkan siswa, dan apa yang siswa pelajari dari membuat karya tersebut.  Bukan sekadar ada sebuah “karya keren” yang dipajang di dinding sekolah.

Kunjungan berikutnya adalah ke perpustakaan.  Perpustakaan sekolah tersebut cukup luas. Mungkin sekitae 8 m x 15 m. Sekeliling perpustakaan adalah lemari dan ada beberapa lemari lain di tengahnya. Lemarinya pun penuh berisi buku. Sebuah judul buku jumlahnya bisa banyak mungkin sampai 20 buku. Guru Filipina bertanya, “What kind of books are here?”
Saya menjelaskan fakta yang ada, sebagian besar buku di perpustakaan tersebut adalah buku pelajaran (text book). Memang faktanya seperti itu. Meskipun perpustakaan penuh dengan buku, buku selain buku pelajaran baik fiksi maupun non-fiksi hanya sedikit saja. Saya melihat ada satu (atau dua) lemari sekitar 1 m x 2 m yang berisi buku-buku selain buku pelajaran.
Guru dari Filipina mengernyitkan dahi sedikit, lalu bertanya, “Don’t the students have a task like to bring a book and read it every week? I mean like not text book books.” 
Guru-guru dari Filipina bingung karena hampir seluruh perpustakaan berisi buku pelajaran dan hanya sediki buku lainnya baik fiksi maupun non-fiksi. Mereka bertanya apakah siswa di sekolah tersebut tidak ada yang mempunya tugas untuk membaca buku (selain buku pelajaran) setiap minggunya? Seorang guru Filipina menambahkan, “In the Phillipines, students must borrow a book from the library every week, read it and make a report about the book. Every week.”
Filipina, seperti Indonesia, adalah negara yang sama-sama punya ‘cap’ negara berkembang. Tapi di sana siswa wajib membaca sebuah buku setiap minggunya. Bukan buku pelajaran tentunya. Bukankah membiasakan siswa membaca (termasuk buku-buku selian buku pelajaran) memang adalah salah satu cara mendasar untuk membuat siswa menjadi terdidik? Yah memang harus diakui mungkin kesadaran di kalangan pegiat pendidikan belum semuanya sampai sana. Mudah-mudahan akan berubah dalam beberapa waktu ke depan. Saya pun menjawab, “No, in Indonesia most students don’t have to do those tasks yet (reading books every wek), but I hope we are getting there.”  
Bagaimana Cara Mengukur Kemampuan Siswa Kalau Tidak Ada Ujian Nasional? 
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Beberapa pihak menuntut Ujian Nasional (UN) untuk dihentikan karena berbagai alasan. UN mendorong guru untuk mengajar sekadar untuk tujuan lulus ujian (teaching to the test). UN juga kurang bisa menggambarkan perkembangan kemampuan siswa selama di sekolah. Yang tidak kalah penting, UN hanya dilakukan dalam beberapa hari tapi sangat menentukan masa depan siswa.
Banyak orang yang tidak bisa membayangkan dunia persekolahan tanpa UN. Padahal, sangat mungkin, bahkan memang seharusnya. Data untuk menentukan kelulusan siswa seharusnya diambil dari serangkaian evaluasi di kelas yang disebut assessmentAssessment harus dilakukan secara berkala, khususnya di dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Assessment adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa. Ulangan harian, pekerjaan rumah (PR), termasuk contoh-contoh assessment. Namun, bentuk-bentuk assessment jauh lebih banyak daripada sekadar ulangan harian ataupun PR. Yang penting, assessment harus memenuhi salah satu prinsip dasar yakni ia harus bisa mengukur apa yang memang ingin diukur (McAlpin, 2002).
Dalam evaluasi proses belajar mengajar, apa yang perlu diukur biasanya tercantum dalam tujuan pembelajaran (learning objectives). Misalnya, siswa kelas 6 SD diharapkan dapat “mendeskripsikan  perkembangan dan pertumbuhan manusia dari bayi sampai lanjut usia” (KTSP, 2006). Untuk bisa melakukan ini, guru perlu membuat kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran di atas. Siswa bisa diminta membawa fotonya dari saat dia masih bayi (beberapa bulan), foto saat dia 1,2, 3, tahun, dan seterusnya sampai seusianya sekarang.  Lalu, siswa diminta menceritakan mengenai apa yang terjadi dengan tubuhnya selama itu dan meminta mereka menebak apa yang akan terjadi saat mereka semakin tua. Kemudian, siswa diminta untuk mencari bacaan terkait perkembangan manusia dan mendiskusikannya di kelas. Saat akhir sesi mengenai topik ini siswa bisa diminta membuat sebuah gambar yang dilengkapi deskripsi tertulis mengenai perkembangan manusia. Ini merupakan salah satu contoh assessment yang bisa menunjukkan apakah siswa sudah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.
Memang, pada dasarnya assessment tidak dapat dipisahkan dengan proses pembelajaran. Sebagai contoh, saat pelajaran IPA siswa belajar dengan membuat percobaan tertentu. Assessment bisa berupa sebuah jurnal yang berisi foto, tabel berisi data yang diperoleh dari percobaan, serta hasil analisa yang bisa ditampilkan dalam bentuk tertulis maupun dilengkapi gambar. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa belajar membaca dan mengungkapkan pendapatnya mengenai buku tersebut. Siswa dapat diminta membaca sebuah buku, lalu mendiskusikan mengenai buku tersebut dengan temannya. Untuk pembelajaran seperti ini assessment berupa tulisan siswa yang menggambarkan pendapatnya mengenai buku tersebut.
Untuk menilai karya siswa, guru bisa dibantu dengan sebuah rubrik. Rubrik adalah sebuah alat penilaian (biasanya berupa tabel) yang secara eksplisit menggambarkan apa yang diharapkan dari sebuah tugas atau karya.
1366537489635856277
Ada cara lain untuk melakukan assessment. Guru bisa membuat cek-list berisi indikator yang menggambarkan target yang harus dicapai masing-masing siswa. Indikator ini, diturunkan dari kompetensi dasar (KD) yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006). Guru menandai indikator yang telah dicapai oleh siswa.


Ada berbagai cara untuk melakukan assessment. Assessment juga bisa dirancang sedemikian rupa agar siswa tertarik mengerjakannya. Assessment memang perlu dilakukan secara berkala. Daripada menggunakan sebuah ujian nasional sebagai penentu kelulusan, siswa bisa diminta memilih karya-karya terbaiknya selama bersekolah dan mengumpulkannya dalam sebuah portfolio.  Bahkan, siswa juga bisa diajarkan untuk membiasakan diri meng-assess dirinya sendiri, misalnya dengan meminta siswa menuliskan perkembangannya dalam belajar sepanjang semester.
Hasil dokumentasi assessment yang menunjukkan perkembangan belajar siswa selama belajar di sekolah menjadi bukti bahwa siswa telah belajar begitu banyak selama di sekolah. Kerja keras siswa terlihat dengan kualitas karya yang dihasilkannya. Assessment secara berkala di dalam kelas berarti kita tetap bisa mengukur kemampuan siswa, dan perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu, bahkan tanpa UN sekalipun. Selama proses pembelajaran di kelas berfokus pada tujuan pembelajaran, bukan sekadar menghabiskan materi dalam buku teks atau driling soal, maka assessment berkala akan jauh menunjukkan kualitas siswa daripada UN!

Tulisan dibalas dengan tulisan, dibalas dengan tulisan lagi, dibalas tulisan lagi. Seru!

2013 ini istimewa bagi saya. Salah satunya adalah karena di bulan Agustus2013Insya Allah mahasiswa-mahasiswa saya (angkatan pertama) akan menyelesaikan kuliahnya. Saya tidak sabar menanti bulan Agustus dan ikut berbahagia karena lulusnya para calon guru yang Insya Allah bisa ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Caelah.

Tentu saja untuk bisa lulus, mahasiswa-mahasiswa saya perlu membuat skripsi. Mulai 2012,  pertama kalinya saya  membimbing mahasiswa untuk mengerjakan skripsi. Ternyata prosesnya seru. Saya 'dipaksa' lagi untuk belajar kembali mengenai metodologi riset,  melakukan analisa, mengajukan pertanyaan kritis, sekaligus belajar lagi berbagai topik terkait pendidikan sesuai dengan penelitian yang dilakukan mahasiswa saya. Kemarin, saya juga baru rapat dengan pembimbing skripsi yang lainnya untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi mahasiswa dalam melakukan penelitian. Saya belajar banyak dari proses diskusi ini karena teman-teman dosen yang lain memberikan berbagai masukan yang mencerahkan mengenai penelitian pendidikan. Teman-teman dosen yang lain berasal dari berbagai latar belakang ada yang ahli di bidang linguistik, psikologi, statistika, dan sebagainya. Asyik sekali bisa belajar bersama dari mereka,

Bekerja di bidang pendidikan memang asyik. Belajar selalu. Dan secara otomatis kita 'dipaksa' untuk meningkatkan kapasitas diri. Kebetulan tahun 2013 ini saya punya target menyelesaikan sebuah proposal penelitian (Insya Allah selesai sebelum Februari ini).

Kegiatan membimbing mahasiswa skripsi itu semacam 'kursus gratis' bagi saya untuk belajar lagi mengenai penelitian dan membantu saya sendiri dalam menyiapkan penelitian. Asyik kan?

Wawancara dengan Kak Asep (Rumah Pelangi)
Oleh : Dhitta Puti Sarasvati
21 November 2012, Rumah Mentari
                                                                 
Kak Asep, apa bisa ceritakan sedikit tentang diri Kak Asep?
Nama saya Asep Suhendar, lahir di Bandung tanggal 22 Juni 1993. Saya lahir dari keluarga yang sederhana. Pekerjaan ayah, kuli bangunan dan (almarhum) ibu pedagang kue-kue kering.

Saya bungsu dari 3 bersaudara. Alhamdulillah, saya anak yang beruntung. Kakak-kakak saya pendidikan hanya sampai SD. Saya berkesempatan belajar hingga lulus SMK jurusan elektro dan sekarang sedang berusaha untuk kuliah.

Sekarang saya sudah berpisah dengan orang tua. Ketika SD kelas 6 ibu saya meninggal dunia. Sebelumnya keluarga saya bahagia dan tentram tapi semenjak ibu saya meninggal, kehidupan keluarga mulai berubah.

Kelas 3 SMP saya mulai tinggal dengan paman saya. Semenjak itu saya berusaha mandiri. Paman saya berjualan batagor. Saya ikut membantunya berjualan batagor . Dari berjualan batagor saya bisa membiayai hidup saya sampai SMK dan Insya Allah untuk kuliah nanti juga.

Setelah lulus SMK saya berencana melanjutkan ke kuliah. Saya mendapatkan kesempatan mengikuti jalur undangan tapi tidak lolos seleksi. Saya mencoba mengikuti SMPTN belum lolos juga. Lalu saya mau ikut jalur ujian tertulis tetapi ketika itu orang tua membutuhkan uang, sehingga uang pendaftaran saya berikan kepada orang tua. Jadi tertunda. Waktu itu juga ikut ujian STAN. Tahap pertama lolos, tahap kedua tidak lolos.

Saya awalnya sedih sekali karena beberapa kali gagal masuk ke perguruan tinggi. Untuk membangkitkan semangat saya, seorang teman memberikan saya buku motivasi karya Dudi Fachrudin berjudul “10 Pesan Tersembunyi dan 1 Wasiat Rahasia”.

Setelah membaca bukunya saya termotivasi untuk hidup lebih bersemangat. Di dalam bukunya banyak pesan bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Setelah membaca buku itu saya iseng-iseng membaca riwayat penulisnya. Ternyata dia masih orang Bandung dan ada nomor teleponnya. Saya menghubunginya dan dia mengajak saya bergabung di sebuah grup di facebook.

Di grup itu kak Dudi mengajak untuk ketemuan di Rumah Mentari. Saya sangat ingin bertemu dan ngobrol dengan Kak Dudi. Saya mencari Rumah Mentari, awalnya sempat nyasar sampai ke Dago Golf bawah. Saya nyasar sampai 1 jam lebih tapi akhirnya ketemu tukang ojek yang akhirnya mengantarkan sampai ke mentari.

Tadinya, saya kira Mentari adalah sekadar tempat nongkrongnya Kak Dudi. Ternyata Mentari ada kegiatan belajar bersama anak-anak. Bu Dewi, pengurus mentari, yang rumahnya dijadikan tempat kegiatannya mentari langsung meminta tolong saya untuk mengajar.

“Sambil kenalan langsung ngajar saja,” kata Bu Dewi.

Itu pertama kalinya saya mengajar. Saya tidak pernah membayangkan lulusan SMK langsung mengajar.  Ternyata menyenangkan. Anak-anak responnya positif, langsung akrab dan dekat, bahkan sampai meminta nomor telepon.

Waktu itu, pengetahuan saya masih sedikit, yah  mengajar saja. Mengajar membuat saya merasa harus belajar lagi. Mengajar anak-anak memotivasi saya untuk terus belajar.  Dari situ saya jadi suka dunia anak. Sebelumnya saya main dengan remaja seumuran saya. Saya merasa dibutuhkan oleh anak-anak. Waktu SMP saya tidak terlalu dekat dengan anak-anak. Kalau anak-anak rewel saya suka kesal. Tapi sejak saya datang ke mentari, berbeda sekali rasanya.

Minggu depannya saya datang lagi. Saya jadi sering mengajar.  Ada teman bilang , “Ngapain jauh-jauh dari Bale Endah ke Dago untuk jadi sukarelawan tapi tidak digaji?”

Yah, saya ingin jadi orang yang lebih berguna. Karena panggilan hati. Ikhlas.

Saya bertanya-tanya kok bisa sih saya dekat dengan anak Mentari,  tapi tidak dengan anak-anak di rumah sendiri?  

Jadi, akhirnya saya mengajak anak-anak di sekitar rumah saya untuk bermain. Cuma 10 anak. Saya mulai dari yang dekat-dekat saja dulu. Tetangga dan saudara dulu. Kebetulan waktu itu sedang liburan sekolah selama dua minggu. Jadi, hampir setiap hari kita bisa bermain bersama.

Selain bermain kadang mereka saya ajak belajar. Kadang belajar matematika atau bahasa Inggris. Mereka suka dengan cara saya mengajar. Kadang belajar mengenal lingkungan dengan berjalan-jalan ke sekitar. Itu setiap jam 12 sampai jam 2 siang.  Jam 2 saya berjualan batagor  lagi.

 Lama kelamaan saya terpikir untuk membuat semacam rumah belajar, mirip dengan di Mentari. Tentu saja saya tidak bisa sendiri, jadi saya mengajak teman SMK saya bernama Rendi untuk membantu saya. Dia juga gagal masuk perguruan tinggi. Rendi suka komputer dan pandai bergaul. Dia juga mulai mencoba mengajar dan akhirnya dia juga jadi suka dengan dunia anak dan dunia belajar-mengajar.

Di tahun 2012 saya memberanikan diri untuk membuat rumah belajar. Materi seadanya dan keuangan seadanya. Sebagian uang hasil penjualan batagor saya gunakan untuk membeli beberapa buku untuk dibaca-baca. Saya membeli buku dari tukang loak. Ternyata bukunya bagus-bagus, ada banyak buku cerita anak. Lumayan banyak dapat bukunya sampai dua kardus aqua. Rendi juga membantu mencarikan buku sumbangan dari teman-temannya. Dia membantu menyebarkan sms ke teman-temannya untuk meminta sumbangan buku.

Tadinya saya mau menamakan rumah belajarnya “Rumah Mentari 2” tapi Kak Angga, salah seorang relawan mentari mengatakan lebih baik memberi nama yang berbeda.

Ketika mengajar anak-anak saya mengajak mereka berdiskusi untuk memberikan nama untuk rumah belajar. Anak-anak mengusulkan namanya rumah hujan. Saya kurang sreg karena hujan seperti menangis. Maunya sesuatu yang lebih ceria. Saya bilang saya kan mengajar anak-anak yang karakternya berbeda dan berwarna-warni. Ada anak yang menyeletuk, “Seperti pelangi dong kak!”

Akhirnya nama rumah belajarnya “Rumah Pelangi”

Apa tujuan Kak Asep mengajar anak-anak?

Saya ingin mengembangkan potensi anak. Sayangnya kebanyakan orangtua menganggap yang cerdas hanya yang nilai akademiknya tinggi. Kan bukan hanya itu. Ada banyak kecerdasan anak yang potensinya bisa digali.

Biasanya saya suka mengobservasi anak-anak dulu. Misalnya saya memperhatikan ada anak yang nilai akademiknya kurang tapi sukanya menggambar. Dia berbakat seni. Saya mencoba mendorongnya untuk mengembangkan bakatnya.

Bagaimana mengajar mengubah kehidupanmu?
Mengajar membuat saya harus terus belajar. Saya banyak membaca, bersosialisasi dengan berbagai komunitas, saya banyak belajar dari pergaulan. Setiap belajar hal baru saya coba modifikasi dan terapkan ke anak-anak.

Misalnya, waktu itu saya ikut acara temu bincang edukasi. Ada guru yang bercerita tentang kegiatan mendaur ulang. Saya menerapkannya di rumah pelangi. Anak-anak diajak berjalan-jalan mengumpulkan sampah, dan memisahkan sampah organik dan anorganik. Walaupun sederhana, saya coba terapkan.

Mengajar juga membuat saya belajar untuk lebih sabar, lebih tulus, dan bisa lebih memahami anak-anak. Saya juga lebih sadar bahwa ilmu saya masih setetes. Saya harus lebih banyak lagi belajar agar bisa lebih banyak berbagi.

Apa tantangan yang  Kak Asep hadapi dalam proses ini?

Tantangan dari diri saya sendiri adalah bagaimana caranya mengatasi berbagai masalah yang timbul. Misalnya cara menghadapi anak-anak, orang tua, dan juga sesama relawan. Misalnya, ada teman relawan yang memberikan contoh yang kurang baik ke anak-anak. Saya mencoba menegurnya. Saya juga harus menghadapi orang tua. Orang tua di kampung saya kebanyakan mengharapkan anak-anak datang ke Rumah Pelangi agar anak-anaknya memperoleh nilai akademik yang tinggi.  Ada yang nilai matematikanya di sekolah turun. Orang tuanya protes padahal aspek lainnya berkembang misalnya bakat seninya, kemampuan bersosialisasinya, dan lain-lain.  Bagaimana caranya mengajak orang tua agar paham bahwa belajar tidak melulu mengenai nilai yang diperoleh di sekolah saja? Itu tantangannya. Bagaimana sih cara mengatasi masalah, misalnya cara menghadapi anak-anak. Saya harus banyak bertanya ke yang lain.