Monday, December 21, 2009
Review Film: Not One Less


Bagi saya, film "Not One Less" adalah sebuah film yang cantik. Filmnya mengenai seorang guru pengganti di sebuah daerah rural di Cina. Ini bukan film tak mengambbarkan heroisme yang berlebihan dan ideal (seperti beberapa film-film holywood yang pernah saya tonton, tetapi lebih bersifat realistik, mengenai kondisi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Yang tentunya mengingatkan saya akan kondisi di Indonesia.



Sinopsis


Guru yang asli di sekolah ini bernama Pak Guru Gao. Satu sekolah hanya ada satu guru. Hmm.. mengingatkan saya atas beberapa kondisi sekolah di tanah air.

Karena ada keperluan yang sangat mendesak, ibu dari Pak Guru Gao sedang sekarat. Tak ada pilihan lain ia harus meninggalkan sekolah selama 21 hari untuk mengurusi ibunya.

Mayor dari desa tersebut (mungkin semacam kepala desa) telah mencarikan seorang guru pengganti dari desa sebelah. Namanya Ibu Guru Wei Minzhi.

Ibu Guru Wei Minzhi bukanlah seorang guru profesional. Jangankan menjadi guru profesional, lulus SMU pun belum usianya, masih 13 tahun. Tapi Mayor desa mengatakan telah mencari guru pengganti kemana-mana dan tak ada yang mau mengajar di daerah terpencil. Ibu guru wei Minzhi satu-satunya pilihan yang ada.

"Cuma untuk satu bulan," kata sang mayor pada Pak Guru Gao.
Pak Guru Gao khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menanyakan Ibu Guru Wei mengenai kemampuan yang ia miliki.

"Saya bisa menyanyi," katanya walau ia hanya bisa menyanyikan satu lagu.
"Kamu tidak bisa mengajarkan satu lagu secara terus menerus selama 1 bulan," kata Pak Guru Gao.
"Apa lagi yang kamu bisa?" tanya Pak Guru Gao lagi.
Bu Guru Wei Minzhi terdiam. Bingung.
"Apa kamu bisa mencatat."

Bu Guru Wei pun mengangguk. Ia bisa mencatat. Maka Pak Guru Gao memberinya sebuah buku. Ia meminta Bu Guru Wei mencatat satu lembar dari buku tersebut ke papan tulis setiap harinya. Ia juga menerangkan cara kerja sekolah tersebut, kapan murid-murid harus pulang, apabila cuaca buruk, para siswa harus dipulangkan karena air sungai bisa meluap, dan sebagainya. Pak Guru Gao juga mengatakan bahwa saat mencatat, Ibu Guru wei harus menggunakan tulisan yang tidak terlalu kecil agar siswa bisa membaca tetapi tidak terlalu besar agar tidak boros (kapurnya).

"Satu hari maksimal satu kapur," kata Pak Guru Gao. Pak Guru Gao dan Bu Guru Wei pun menghitung jumlah kapur hingga jumlahnya tepat 21 biji.

Ternyata Mayor Desa telah menjanjikan agar Bu Guru Wei digaji sebesar 50 Yuan. Mayor berkata untuk meminta uang tersebut pada Pak Guru Gao.

"Selesaikan dulu tugasmu, baru kamu akan dibayar. Ada 28 murid di sini. Saat saya kembali saya mau tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Mayor Desa," kata Pak Guru Gao.

"Apabila Mayor desa tak membayarmu, saya akan membayarmu dengan 60 Yuan," tambah Pak Guru Gao.

Usia Ibu Guru Gao masih sangat muda, tidak beda jauh dengan murid-muridnya, ia tak memiliki pengalaman mengajar, pengetahuannya masih terbatas, belum lagi murid-muridnya ada yang bandel, tidak mau mendengarkan. Yang bisa ia lakukan hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Pak Guru Gao. Ia mencatat satu lembar dari buku yang diberikan Pak Guru gao ke papan tulis, meminta muridnya mencatat, meskipun murid-murid kesulitan saat mencatat ataupun ribut tak banyak yang bisa ia lakukan.

Ibu Guru Gao pun menunggu di depan pintu kelas, memastikan tidak ada muridnya yang pergi. Saat ia menunggu seorang murid perempuan mendatanginya sambil protes karena ia sedang mencatat tapi ada temannya yang ribut dan menganggunya sehingga ia tidak bisa mencatat.

"Ibu kan seorang guru, jadi lakukan sesuatu."
Ibu Guru Gao tidak tahu harus melakukan apa. Ia pun cukup keras kepala dengan mengatakan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Sampai akhirnya terdengar suara "gedubrak" dari dalam kelas.

Ibu Guru Wei menemukan sebuah meja jatuh di lantai kelas. Kotak kapur pun terjatuh di lantai.

"Siapa yang menjatuhkan meja?" tanyanya. Seorang anak menceritakan apa yang terjadi sambil menunjuk temannya yang menjatuhkan meja. yang menjatuhkan meja pun tak mau disalahkan ia mengatakan bahwa temannya mengejarnya dan menendang kakinya sehingga insiden itu terjadi.


Ibu Guru Wei meminta anak yang menjatuhkan meja untuk mengambil kapur. Anak tersebut tidak mau menuruti perintahnya. Ibu Guru wei mencoba memaksa anak tersebut memngambil kapur yang jatuh tapi yang terjadi malah kapur-kapur terinjak. Seroang murid perempuan berteriak memohon agar kapur-kapur tersebut tidak diinjak.

Itu insiden pertama, masih ada insiden-insiden lainnya. Di hari lain, saat Ibu Guru Wei sedang mengajarkan sebuah lagu (yang tampaknya ia karang sendiri) ke murid-muridnya di halaman sekolah, Mayor Desa dan beberapa orang lainnya datang untuk meminta seorang murid, yang katanya memiliki kemampuan berlari dengan sangat cepat, meminta murid ini untuk berlari dan kembali lagi. Mayor Desa ingin menunjukan bahwa murid ini sangat berbakat sehingga bisa disekolahkan ke sebuah sekolah atlet tingkat nasional.

Murid ini memang larinya cepat, "Besok saya akan bicara dengan orang tua murid ini. Saya akan menjemputnya untuk mengirimkannya ke sekolah atlet.

Ibu Guru Wei bersikeras bahwa muridnya tidak boleh dibawa kemana-mana. Keesokannya ia menyembunyikan murid (yang jago berlari ini) di suatu tempat. Terlepas dari apa yang Mayor Desa katakan, misalnya bahwa keputusan ini pasti disetuji oleh Pak Guru Gao, ini adalah kesempatan bagus, Ibu Guru wei tetap tak mau mengatakan dimana ia menyembunyikan muridnya.

Tak mampu meminta Ibu Guru wei menunjukkan dimana muridnya berada, ia merayu seorang murd lainnya dengan sedikit iming-iming uang untuk menunjukan di mana murid pelari tersebut berada.

Murid pelari tersebut ditemukan. Dan ia pun dibawa dengan sebuah kendaraan menuju kota lain. Ibu Guru Wei mengejarnya, sampai ia tak sanggup mengejar lagi.

Sekembalinya di kelas, suasananya ribut seperti biasa. Dua orang murid, seorang perempuan da seorang laki-laki sedang beradu mulut. Murid yang laki-laki telah mengambil diary murid yang perempuan. Ia pun membacanya di depan kelas. Bagian ini menurut saya merupakan bagian yang paling menyentuh. Begini isi diarynya:

Saya merasa sangat sedih, Dua hari yang lalu, Zhang Huike membuat masalah di kelas dan menjatuhkan sebuah meja. Kapur pun berjatuhan. Ibu Guru Wei meminta Zhang untuk mengambil kapur-kapur yang berjatuhan. Tapi ia tidak mau sampai kapur-kapur tersebut terinjak.

Ibu Guru Wei tidak menghargai kapur seperti halnya Pak Guru Gao. Pak Guru Gao selalu mengatakan bahwa sekolah kita tak punya uang sehingga kita tidak bisa membeli terlalu banyak kapur. Aku adalah ketua kelas. Saya tahu Pak Guru Gao tak akan membuang-buang kapur, bahkan kapur yang paling kecil.

Saya mengingat, suatu hari saya membuat sebuah potongan kapur yang sangat kecil ke pojok kelas. Pak Guru Gao melihatnya dan mengambilnya. Ia menggenggamnya diantara kedua jarinya dan menggunakannya untuk menulis satu karakter [Cina, semacam kata] lagi.

Kemarin, satu kotak kapur telah berubah menjadi sebuah kotak serpihan kapur berwarna hitam. Kalau Pak Guru Gao tahu ia pasti akan menjadi sangat sedih.


Insiden yang paling heboh yang terjadi adalah saat ada satu orang lagi muridnya, Zhang Huike yang menghilang. Berbeda dengan murid sebelumnya yang pergi karena akan disekolahkan di sebuah sekolah atlet tingkat nasional, Zhang Huike pergi untuk mencari kerja di kota. Ayahnya telah meninggal, ibunya terjerat hutang. Ia pergi ke kota.

Ibu Guru Wei mendatangi rumah Zhang Huike untuk meminta alamat temat Zhang akan tinggal di kota. Ia telah berniat mencari muridnya yang hilang. Ia tak punya uang untuk ke kota. Ia Mayor Desa mengantarnya ke kota tetapi ia tidak mau. Ia sibuk, begitu katanya.

"Berapa tiket bus untuk ke kota?" tanya Ibu Guru Wei ke seisi kelas.
"Satu Yuan," kata muridnya dengan polos. Satu Yuan untuk anak-anak (mirip kalau anak sekolah harus bayar angkot di Indonesia, harganya lebih murah).
Seorang murid mengatakan harganya 3 Yuan.
"Oke kalau begitu kita butuh uang sebesar 12 Yuan agar saya bisa ke kota untuk menjembut Zhang Huike," Ibu Guru wei pun berpikir, "Eh salah deng. Saya butuh 3 Yuan untuk pergi ke kota dan 3 Yuan untuk kembali, dan 3 Yuan untuk Zhang saat kembali ke sini"

Ia menanyakan apakah murid-muridnya ada yang memiliki uang untuk membantunya mencari Zhang. Ada beberapa uang yang terkumpul tapi tetap tidak cukup.

Seorang muridnya mengusulkan agar mereka bekerja memindahkan bata di sebuah pabrik. Bayarannya 1,5 cent untuk satu bata.

Ibu Guru Wei pun meminta muridnya berapa uang yang mungkin terkumpul bila mereka bisa memindahkan sebjumlah bata.

1 buah bata menghasilkan 1,5 cent
10 buah bata menghasilkan 15 cent
100 buah bata menghasilkan 150 cent
1000 buah bata menghasilkan 1500 cent
1500 cent sama dengan 15 yuan
.


"15 Yuan cukup untuk ke kota," kata Ibu Guru Wei, "Ayo kita mulai ke pabrik"

Para murid pun senang sekali harus keluar kelas. Bersama-sama mereka memindahkan bata-bata yang ada di pabrik (meski tanpa izin kepala pabrik). Mereka berhasil memindahkan 1500 bata (bukan 1000 seperti yang telah direncanakan)

Kepala pabrik pun marah-marah. Karena beberapa bata dipindahkan secara acak-acakan. ia mengatakan bahwa sebenarnya memindahkan 1000 bata hanya bisa menghasilkan 40 cent, bukan 15 Yuan seperti perhitungan mereka. Hanya saja, setelah mendengarkan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk menolong seorang murid yang hilang. Ia memberikan mereka 15 Yuan.

Anak-anak kehausan, dan mereka ingin minum. Ibu Guru Wei mengatakan karena mereka butuh 9 Yuan untuk pergi ke kota dan uang yang mereka miliki adalah 15 Yuan, sehingga mereka bisa menggunakan 6 Yuan sisanya untuk membeli minuman bersoda. Anak-anak pun pergi ke sebuah warung. Mereka sangat ingin mencicipi sebuah minuma bersoda karena mereka tidak pernah meminumnya dan tidak tahu apa rasanya. Satu kaleng soda berharga 3 Yuan. Ibu guru Wei membeli 2 kaleng soda. Para murid bergantian menyicipi sedikit minuman. Tidak ada yang rakus. Semuanya berbagi, mengharukan sekali. Bahkan mereka memikirkan, "Sisakan sedikit untuk Ibu Guru Wei," kata seorang murid.

Ibu Guru Wei bersama murid-murid pergi ke stasiun bus untuk memesan tiket. Ternyata harga tiket lebih mahal dari 3 Yuan.

Saat kembali ke kelas, Ibu Guru Wei mencoba memecahkan masalah ini dengan murid-muridnya. Ia menghitung berapa uang lagi yang harus dikumpulkan, berapa jumlah batu bata yang harus dipindahkan untuk mengumpulkan uang tersebut, hingga berapa waktu yang mereka butuhkan untuk memindahkan bata (dengan asumsi kemarin waktu mereka memindahkan 1500 bata mereka mereka membutuhkan waktu 2 jam).

Ibu Guru Wei bersama murid-muridnya mencoba memecahkan masalah ini bersama-sama. Semua serius memikirkan solusi untuk setiap perhitungan. Suasana kelas tidak kacau seperti saat ia pertama mengajar. Saya sangat menyukai adegan ini. Adegan ini menunjukkan bahwa saat sesorang (atau sekelompok orang) dihadapi pada sebuah masalah, proses belajar terjadi dengan sendirinya. Adegan ini juga menunjukkan bahwa saat murid memiliki suatu tujuan (kali ini tujuannya adalah untuk memungkinkan Bu Guru Wei pergi ke kota), mereka akan termotivasi untuk belajar tanpa diminta. Tanpa suatu tujuan, belajar akan bersifat meaningless (tidak berarti) daripada meaningful (berarti)

Perhitungan menunjukkan bahwa terlalu banya waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bata untuk menghasilkan uang yang mencukupi untuk pergi ke kota. Murid-murid mengusulkan untuk menyelundupkan Ibu Guru Wei ke dalam bus tanpa harus membayar. Usaha ini tak berlangsung dengan sukses, tapi akhirnya Bu Guru Wei berhasil menumpang sebuah kendaraan secara cuma-cuma.

Selanjutnya adalah perjalanan Ibu Guru Wei mencari muridnya yang hilang. Bagian ini silakan ditintin sendiri untuk melihat hasil akhirnya. Film ini ditutupi dengan sebuah adegan yang cantik. Detailnya.. Hmm lihat sendiri, yang pastinya berhubungan dengan kapur. (Jangan lupa ditonton filmnya).
---

Ada beberapa kesan yang film "Not One Less" ini tinggalkan pada saya. Saya senang melihat para murid dan guru berani mengungkapkan pendapatnya. Saya senang sekali melihat adegan saat murid-murid mencoba menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Seorang murid akan maju ke depan melakukan perhitungan. Saat murid yang maju melakukan kesalahan, misalnya salah eja atau salah perhitungan, temannya akan menunjukan kesalahan apa yang telah dibuat dengan cara yang baik, sehingga tak menyinggung perasaan. Adegan ini mengingatkan saya pada teorinya Vygotski bahwa interaksi sosial merupakan salah satu hal yang paling penting dalam perkembangan kognisi.

Film ini juga mengingatkan saya pada kondisi-kondisi yang tidak ideal di beberapa daerah tertentu, bukan hanya di Cina tetapi juga di Indonesia. Mungkin tak banyak muncul di media, tapi tampaknya masih banyak kondisi-kondisi sejenis ini yang ada di Indonesia. Satu guru mengajar di satu sekolah, kurangnya guru di daerah-daerah terpencil. BAnyak guru terbaik hanya berada di kota-kota atau pulau-pulau tertentu. Kondisi 'tidak ideal' ini mengakibatkan siapa saja dapat berubah menjadi guru, tak terkecuali orang-orang yang masih belum berpengalaman dah bahkan mungkin hanya lulus SD. Metode pun seadanya.

Tentu perlu diingat bahwa saya tidak bisa meng-underestimate guru-guru lulusan SD. Di Bogor, saya pernah bertemu guru-guru yang hanya lulus SD tapi metode yang mereka gunakan lebih canggih daripada guru yang sudah berkuliah di sekolah keguruan. Mereka tetap guru yang potensial, apalagi apabila diberi kesempatan untuk berkembang.

Film ini pun membuktikan bahwa seiring dengan proses yang ia hadapi dalam menjalani hari-harinya sebagai guru, Ibu Guru Wei pun mampu berproses menjadi guru yang lebih baik, dicintai, dan mampu menginspirasi murid-muridnya. Tanpa ia sengaja, ia menemukan metode belajar mengajar yang menarik (problem solving). Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang paling berkesan bagi saya adalah tulisan di diary seorang murid yang sedih karena ada kapur yang terbuang. Adegan ini mengingatkan saya bahwa seorang guru bisa meninggalkan kesan yang mendalam bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dengan mencotohkan bahwa kapur yang sekecil apapun tetap bernilai. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Guru Gao, satu serpihan kapur pun bisa digunakan untuk menuliskan satu karakter cina, sangat berharga untuk membantu proses belajar. Pak Guru Gao dengan sikapnya telah mencotohkan sendiri sifat menghargai, bersyukur, dan bersikap sederhana.


Film yang cantik ini sangat cocok ditonton oleh semua teman-teman guru dan praktisi pendidikan. Banyak yang bisa dipelajari dari film ini. Kalau sudah menonton. Jangan lupa tuliskan pendapatnya yah..

Oh ya film ini dapat ditonton di sini:

part 1: http://www.youtube.com/watch?v=PqYi7TNM2qA&feature=related
part 2: http://www.youtube.com/watch?v=OvMeP5S12bE&feature=related
part 3:http://www.youtube.com/watch?v=2I7KUvQgLBM&feature=related
part 4:http://www.youtube.com/watch?v=r7hef_VDyao&feature=related
part 5:http://www.youtube.com/watch?v=NZz38zK2YOc&feature=related
part 6:http://www.youtube.com/watch?v=nC-4Jbo61VY&feature=related
part 7:http://www.youtube.com/watch?v=iLEE6wWdhLQ&feature=related
part 8:http://www.youtube.com/watch?v=oZ6iPjMyy6o&feature=related
part 9:http://www.youtube.com/watch?v=AF_ghdWyMRk&feature=related
part 10:http://www.youtube.com/watch?v=msLSSl6vEt4&feature=related
part 11:http://www.youtube.com/watch?v=7VBA8FwpsNw&feature=related
part 12: http://www.youtube.com/watch?v=SuymM5X9l8k&feature=related

Sumber gambar : http://www.moviecritic.com.au/not-one-less-film-movie-review/

Labels: ,

 
wrote bymahkotalima at 4:48 AM | Permalink | 0 comments
Monday, December 07, 2009
Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !
Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

ENTAH tulisan ini mau digolongkan jenis tulisan apa, saya tidak peduli. Saya juga tidak ambil pusing kalau karena tulisan ini saya dan kawan-kawan dicap merengek-rengek, manja atau apa pun. Yang saya mau dengan tulisan ini hanyalah agar “yang empunya kuasa” di pusat kekuasaan, mau membuka mata dan hati untuk peduli pada kondisi real yang kami alami di pelosok Indonesia ini.

Saya adalah seorang guru pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD, NTT).

Cita-cita untuk menjadi guru yang kemudian menjadi kenyataan tampaknya sudah merupakan “warisan” dari ayah saya Aloysius Bulu Malo (alm) yang sampai akhir hayatnya tetap mencintai profesinya sebagai guru.

Tidak hanya itu, almarhum berhasil “menjerumuskan” kami enam orang anaknya untuk menjadi guru. Dengan demikian, yakinlah, profesi guru telah menjadi panggilan kami.

Jadi jelaslah, bahwa kepedulian yang saya maksud di atas bukanlah rengekan agar saya dan teman-teman guru dimanjakan dengan berbagai fasilitas atau gaji yang berlipat-lipat sehingga kami pun bisa patantang patenteng dengan aneka barang mewah.

Atau bukan agar kami bisa jalan-jalan alias pelesir ke kota-kota besar untuk mencari hiburan seperti yang kerap kali dipertontonkan oleh para wakil rakyat.

Tidak! Bukan itu!

Saya ingin kita realistis dengan situasi bangsa ini yang masih merayap-merangkak, dalam hal ini di bidang pendidikan. Bahwa ada daerah atau sekolah tertentu yang sudah mengalami kemajuan luar biasa dalam pendidikan, tak bisa disangkal. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih sangat banyak daerah atau sekolah yang situasinya sangat memprihatinkan dalam berbagai segi.

Tahun lalu saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMK di Kecamatan Kodi, SBD, NTT.

Semoga saya saja yang apes! Saya kebagian mengajar murid-murid yang pengetahuan Bahasa Inggrisnya sangat menyedihkan. Jangankan berbicara soal tenses atau grammar meski yang paling sederhana. Kemampuan mereka dalam menguasai bilangan 1 sampai 20 atau huruf A sampai T saja sangat menyedihkan.

Saya lalu merasa berada di persimpangan: mau ikut kurikulum atau ikut anak. Ikut tuntutan kurikulum berarti menutup mata dengan kondisi anak. Ikut kondisi anak, berarti menelantarkan kurikulum. Contoh ini baru menyangkut Bahasa Inggris. Nasib yang sama dialami oleh para guru mata pelajaran lain.

Guru Masak di Bawah Pohon

Karena sekolah ini baru dua tahun berdiri, para guru di sini masih tergolong muda atau fresh graduate. Mereka adalah sarjana dari beberapa universitas baik di Jawa maupun dari universitas di NTT sendiri. Semangat guru-guru muda ini masih besar dan bahkan menggebu-gebu.

Karena itu, meskipun sangat tidak kondusif, saya dan teman-teman menuruti anjuran Kepala Sekolah agar kami tinggal di kompleks sekolah. Sang kepala sekolah khawatir, jika kami ngelaju dari rumah masing-masing, akan banyak tugas yang terganggu sebab kami menempuh jarak yang cukup jauh.

Tentu saja, pemenuhan terhadap ajakan Kepala Sekolah bukan tanpa risiko. Jangan membayangkan kami tidur nyaman di atas spring bed. Jangan juga pikir kami akan menyediakan atau mengolah makanan dengan peralatan dapur modern berikut air kran yang bisa mengalir setiap saat. Percaya atau tidak, kami sangat jauh dari itu semua.

Mungkin para pejabat di Jakarta tidak percaya bahwa kami para guru harus tidur di ruang kelas beralaskan kursi atau bangku siswa. Mungkin, sulit juga dipercaya bahwa karena tidak ada dapur, kami harus masak dengan kayu bakar di bawah pohon.

Beberapa kali terjadi, saat priuk nasi sedang duduk santai di atas batu tungku dan baru mendidih, tiba-tiba hujan. Kami harus buru-buru mengangkat priuk untuk dilarikan ke teras sekolah padahal nasi dalam priuk belum matang. Sambil menahan perut lapar, kami hanya bisa mengurut dada sebab beras pasti gagal menjadi nasi.

Saya khususnya, memang terbiasa hidup dengan fasilitas yang terbatas. Tapi keadaan tersebut sangat “extraordinary”. Kami hidup tanpa listrik, air jauh, dan kerap kali sangat terganggu oleh pencuri.

Yang paling banyak berpesta dengan keprihatinan kami adalah nyamuk. Dan siapa pun tahu, Sumba adalah sarang nyaman bagi nyamuk malaria. Hampir pasti, setiap hari ada orang yang meninggal akibat sakit malaria.

Nah, bagaimana mau mengharapkan hasil Ujian Nasioanl (UN) yang kompetitif dari situasi ini? Kami bukan tidak mau berjuang. Bahwa bersedia tidur di sini dan hidup “terlantar”, ini sudah perjuangan meski belum seberapa. Namun perjuangan yang belum seberapa ini sudah cukup memberi gambaran bahwa kondisi real kami sama sekali tidak bisa disamakan dengan kondisi real yang ada di tempat lain, Jakarta misalnya.

Penentuan standar kelulusan yang sama secara nasional berikut soal atau bobot soal yang sama untuk semua siswa dan sekolah dalam kondisi apa pun di seluruh Indonesia, merupakan bentuk konkret paling jelas dari penyamarataan secara membabibuta. Belum lagi soal pembebasan sekolah dari hak menentukan kelulusan. Di mata saya, penyamarataan ini jelas merupakan sebuah penghinaan di satu sisi dan penyiksaan di sisi lain.

Ya, penghinaan bagi siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di Jakarta karena kemampuan atau kecerdasan mereka disamakan dengan siswa di pelosok. Lalu menjadi siksaan tak berperikemanusiaan bagi siswa di pelosok-pelosok karena mereka dipaksa memiliki kemampuan yang sama dengan teman-teman mereka yang beruntung di Jakarta.

Jadi, dari hati yang paling dalam, mohon kiranya para pengambil keputusan sekali-sekali turun langsung melihat sendiri kondisi yang ada. Saya khawatir, prinsip menunggu laporan masih sangat menguasai para pejabat di bidang ini. Akibatnya, keputusan diambil berdasarkan laporan yang tidak akurat.

Kalau sudah melihat sendiri dari dekat, pasti merasakan denyut yang ada. Dari sini akan muncul keputusan yang lebih bijak.

Kalau pun nanti UN tetap diberlakukan, ia bukan penentu kelulusan. UN bisa dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana kemajuan yang terjadi pada sebuah daerah. Dari situ dilakukan perbaikan yang sifatnya kontekstual.

Leonardus Dapa Loka

Penulis adalah seorang guru di Sumba Barat Daya, NTT, alumni Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa, Yogyakarta

Sumber: Milis KGI
 
wrote bymahkotalima at 11:58 PM | Permalink | 0 comments
Sunday, November 22, 2009
Bertemu Tibetian Monks


Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan pusat Bristol. Menurut teman saya ada beberapa Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestry yang sedang membuat lukisan dengan pasir. Saya sangat tertarik ingin mengetahui teknik pembuatan lukisannya. Pasir berwarna diletakkan ke dalam sebuah corong logam lalu di samping corong ada bagian bergerigi. Bagian ini digesek-gesekan dengan sebuah alat, sehingga pasir keluar secara perlahan. Wow mengerjakan lukisan tersebut benar-benar membutuhkan kesabaran.

Para Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestery ini juga berjualan berbagai barang seperti gelang, kartu pos, hiasan dinding, karena mereka sedang mengumpulkan dana untuk pembebasan Panchen Lama yang bernama Gedhun Choekyi Niyam, salah satu tahanan politik paling muda di dunia.

Saat saya sedang melihat-lihat barabf-barang yang dijual oleh para monks, saya terpana pada sebuah hiasan dinding berwarna jingga. Tulisannya begini:

THE PARADOX OF OUR AGE

We have bigger houses but smaller families;
more convinience, but less time;
we have more degrees, but less sense;
more knowledge, but less judgement'
more experts, but more problems;
more medicines, but less healthiness;
We've been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet the new neighbour.
We built more computers to hold more
information to produce more copies than ever, but have less communication;
We have become long on quantity,
but short on quality.
These are times of fast foods
but slow digestion;
Tall man but short character;
Steep profits but shallow relationships;
It's a time when there is much in the window, but nothing in the room

... His Holiness the 14th Dalai Lama


Entah kenapa kata-kata ini begitu mengena bagi saya, mungkin juga koreksi terhadap diri sendiri. Saya meminta izin kepada sang biksu yang menjaga barang-barang dagangan untuk memotrer tulisan ini lalu mengobrol sedikit tentang Pancen Lama yang sedang dipenjara. Akhirnya saya berjalan pulang.
 
wrote bymahkotalima at 9:31 PM | Permalink | 3 comments
Saturday, November 14, 2009
Guru-guru yang istimewa: Mereka yang memiliki kekuatan dari dalam
Seorang rekan guru, yang juga seorang trainer baru kembali dari sebuah daerah yang pernah (atau masih?) mengalami konflik di Indonesia. Di sana ia meminta para guru-guru menceritakan pengalaman pertama mereka mengajar. Dan ini adalah salah satu kisah mengenai seorang guru yang punya kisah luar biasa. (Saya akan gunakan nama samaran untuk menggantikan nama aslinya)

Tiba giliran seorang ibu guru bernama Ibu ABC. Beliau ternyata telah mengajar lebih dari 25 tahun! Wah, hebaaattt...Ibu ABC bercerita bahwa ketika beliau mulai mengajar adalah di suatu desa (saya lupa namanya) yang menjadi awal peperangan Pihak X dengan Pihak Y. Beliau bercerita, ketika itu baik X maupun pasukan Y tidak pandang bulu. Mereka menyerang, masuk ke sekolah2 ketika anak2 sedang belajar, bahkan ada yang menghadapi ujian seperti sekolah ABC saat itu. Dengan berapi-api Ibu ABC menceritakan bagaimana ia melawan X yang masuk dengan paksa dan berusaha menyelamatkan anak2 dengan membawa mereka keluar dari sekolah mengungsi ke gunung-gunung. Dengan berani, Ibu ABC membawa murid2nya pergi dengan "labi-labi" semacam angkutan umum, seperti angkot di daerah Bogor. Menurut ABC, labi2 ketika itu penuh dengan orang bersenjata.

Satu hal yang saya salut dari Ibu ABC adalah, kebesaran jiwanya yang berusaha menyelamatkan murid2nya dengan berani. Sewaktu saya menanyakan kepada beliau bagaimana perasaan beliau ketika itu, beliau menjawab seperti ini, "Entah mengapa, tidak ada rasa segan, takut, atau ciut hati ketika saya menghadapi orang2 bersenjata itu yang masuk ke kelas saya. Yang ada di kepala saya adalah bagaimana saya harus menyelamatkan murid2 dari orang2 kejam yang tak kenal welas asih. Mereka menyiksa salah satu guru kami di depan anak2 karena guru kami itu dicurigai sebagai orang dari pihak Y. Satu hal yang ada di kepala saya, anak2 harus pergi dari situ. Saat itu tidak ada rasa takut sedikit pun. Namun, satu minggu setelah kami pergi mengungsi, saya menjadi trauma akan peristiwa itu..."


Rekan saya begitu kagum dengan cerita yang disampaikan Ibu ABC, begitu pula saya. Tapi kisah di atas mengingatkan saya atas sesuatu yang telah begitu lama saya percaya.

Saya selama ini sangat percaya bahwa kita tidak bisa mengajarkan orang lain mengenai sesuatu yang "bukan diri kita". Maksudnya, saya selama ini percaya bahwa hanya guru yang berani yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai keberanian. Hanya guru yang berjiwa besar yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai berjiwa besar, Hanya guru yang sederhana yang bisa mengajarkan murid-muridnya tentang kesederhanaan. Hanya guru-guru yang pantang menyerah yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai kegigihan. Hanya guru yang berkarakterlah yang bisa mendidik murid-murid menjadi berkarakter.

Seorang sahabat saya sempat curhat, "Saya ingin agar murid-murid saya bisa hidup sederhana, bisa menabung, tidak boros, tapi kemarin seorang muridku memergokiku sedang makan di sebuah restoran fast food padahal saya mengajarinya membawa bekal ke sekolah. Saya malu sekali."

Sahabat saya kini sedang berusaha sekali agar ia bisa menjadi pribadi yang ia impikan, pribadi yang sederhana dan tidak boros. Ia berkata padaku bahwa ia tidak ingin mengajarkan sesuatu yang ia sediri tidak lakukan. "Ngak ngaruh kalau ngak. Ngak kena soul-nya," begitu katanya.

Dua orang sahabat saya yang lainnya memiliki ibu seorang guru. Tapi, guru di zaman dulu. Meski sekarang masih banyak guru yang penghidupannya di bawah layak, kini sudah ada beberapa guru yang memiliki penghasilan yang cukup besar, sehingga mereka tidak perlu bekerja lagi untuk menghidupi keluarga. Mereka bisa fokus di pengembangan diri, membaca, meningkatkan pengetahuan dan banyak lagi.

Kedua orang sahabatku yang ini memiliki kisah yang cukup mirip. Ibu mereka, selain harus mengajar menjadi guru, juga harus mengerjakan pekerjaan lainnya seperti berladang, sehingga bisa menghidupi keluarga.

"Ibuku sekarang jadi kepala sekolah, dan sekolah tempat ibuku mengajar sekarang mendapatkan dana yang cukup untuk gaji guru, dan juga mendapatkan dana BOS. Ibuku menggunakan dana tersebut untuk membeli buku, dan langanan koran di sekolah. Katanya memang harus dari dulu begitu, gaji guru harus mencukupi sehingga bisa untuk pengembangan diri. Dulu ibuku mana sempat. Harus kerja selain mengajar. Juga memasak dan mengurus keluarga."

Sahabatku yang lain, memiliki ibu yang setiap hari setelah pulang mengajar harus bekerja di sawah dan juga mengurus keluarga. Beras didapatkan dari pekerjaannya bertani, sehingga ia memiliki cukup uang untuk membiayai kelima putra-putrinya sekolah hingga tinggi. Ibunya juga berpendapat sama, bahwa memang sehrausnya guru memiliki penghasilan yang memadai agar memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri.

Saya sungguh setuju, bahwa guru memang harus diperhatikan kesejahteraannya. Tetapi berdasarkan cerita kedua sahabat saya, saya tahu bahwa ibu mereka masing-masing merupakan guru yang luar biasa. Mereka memiliki kualitas yang mungkin tidak (atau belum) saya atau guru-guru muda lainnya miliki. Mereka bertahun-tahun berjuang menghadapi hidup dengan kerja keras. Tanpa perlu bicara, mereka bisa mengajarkan muird-muridnya mengenai kerja keras. Mereka bertahun-tahun hidup dengan kondisi ekonomi yang sulit, harus hidup sederhana tapi tidak pernah menyerah. Tanpa kata mereka pasti bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya mengenai bertahan dalam kondisi sulit, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah. Semuanya karena kerja keras, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah merupakan bagian menyeluruh dari kepribadian mereka. Kepribadian guru-guru yang istimewa.
 
wrote bymahkotalima at 5:38 AM | Permalink | 0 comments
Friday, November 13, 2009
Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana
It was Miss Emily herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a large calender with photos of the county. She had quite a collection of these picture calenders, and we got through most of the counties this way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields; if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now, after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the first time I ever heard of Derbyshire.


(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan saya menemukan potongan di atas. Potongan di atas menggambarkan bagaimana seorang guru, dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru saya (tepatnya dosen saya), sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB. Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di kantornya. Permisi Pak. Ia membalas, " halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya. Bentuknya seberti silinder yang memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab, "Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor. Aliran panas lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajari saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan saya dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti teman-teman saya. Tetapi perbincangan di hari itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya, sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya kesan yang Pak Halim tinggalkan pada saya hari itu. Suatu hari di laboratorium surya.
 
wrote bymahkotalima at 2:02 AM | Permalink | 2 comments
Friday, September 18, 2009
Pertama kali
Petama kali merasa
Perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya

Tanpa ambisi
Tenang, tenang sekali

Bismillah
 
wrote bymahkotalima at 8:46 PM | Permalink | 1 comments
Wednesday, August 12, 2009
sharing tulisan yang berkesan
Saya hari ini membaca buku yang bagus sekali (menurut saya), judulnya Voices in a Seashell: Education Culture and Identity

Ada satu potongan yang sangat berkesan di hati saya, menyangkut pentingnya identitas kultural yang mengingatkan saya akan salah satu falsafah pendidikan di INS Kayu Tanam, Sumatra Barat : Jadilah engkau jadi engkau. Sekolah mengasah kecerdasan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain. (http://iti-ins.com/moduls.php?op=sis_article&category_id=255&article_id=96))

Saya ingin berbagi potongan tulisan yang berkesan bagi saya. Tulisan ini dibuat oleh Sir Geffrey A. Henry, Perdana Menteri Cook Island. Semoga bermanfaat. :)
---

Education is in fact, just one component of the culture of the community. That education should be "for culture" is like saying a fish's tail is "for the fish", the horse's hoof is for the horse. Surely each serves a purpose.

.... I assure you that we are not suggesting that our schools abandon western education in favor of returning it to ancient ways. What we seek, istead is balance. Let me explain why. Culture is identity and identity is pride. When I was sent away to New Zealand for schooling I found myself an alien in a foreign land. I was strange to some of my school mates and can remember being called a "heathen" and a "canibal" and, for a time treated less than equal.

Some Cook Islands students, in the same circumstances, became despondent, failed and returned home. I knew who I was. I admired my parents, remembered my grandparents and knew with pride of the greatness of my ancestors. They all gave me the courage to stay. I did, and today when I travel and meet leaders elsewhere or when they come here, it is always on an even basis. Even the barest smattering of my own culture has endowed me with stregths that I needed then, that I still need.

Even so I feel culturally deprived. Because I was away in western schools, I missed crucial years with my father who was a man steeped in traditional values. He raised sixteen children and all of them survived because he knew what to plant and when to plant, when to fish and where to fish. He timed his activitied with the phases of the moon and made judgements on wind and tide. He never purchased fertilisers but used local rubbish and nartural materials for organic farming of a kind that is just being discovered by developed countries. It didn't seem so important to me when i was a twelve-years-old lad but now I yearn for the traditional knowledge that he could have passed on and feel poverty-stricken without.

I yearn for it and so do others. Since we are aware of our loss, we owe it to our children to gain what we did not. I do not mean that we should cling to the glories of the past. No. Every generation, every nation, must look for new glories. But what is the best way to achieve tese? The answer, learned in the University of Life, is in balance. Thus, I do not propose that we should return to our cultural past to stay there, but to learn and to discover ourselves in order that we may better meet the challenges of today and tomorrow.

Sedikit pembahasan saya setelah membaca potongan ini:

Bagi saya potongan ini indah sekali. Konsep balance atau kesetimbangan merupakan salah satu konsep favorit saya, baik saat belajar fisika, maupun dalam setiap aspek kehidupan. Tak bisa dipungkiri, banyak sekali ilmu-ilmu sekolahan, termasuk yang saya pelajari yang berasal dari barat. Saya pun tidak anti dengan hal ini. Ilmu bisa dipelajari dari mana saja. Tapi saya sangat menggelisahkan (semoga tidak sampai kejadian yah), anak-anak yang mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri, budaya Indonesia. Geffry, sang penulis, dalam konteksnya di Cook Island menyatakan ketika ia belajar ilmu-ilmu barat di New Zealand, ia sebenarnya kehilangan salah satu kesempatan belajar yang cangat berharga. Ilmu dari ayahnya, tentang bertanam, mencari ikan, membuat pupuk sendiri, menentukan waktu bertanam (dan mencari ikan) dari fase bulan, dan pengambilan keputusan berdasarkan tinggi rendahnya ombak. Geffry menyadari betapa bernilainya pengetahuan yang dimiliki ayahnya, pengetahuan lokal. Bahkan ia menyebutkan mengenai pembuatan pupuk organik, dari sampah, yang sudah dilakukan oleh orang-orang di Cook Island selama bertahun-tahun baru muali dikembangkan oleh negara maju. Saya pun, mungkin termasuk salah satu orang yang tidak sempat belajar mengenai kekayaan berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia. Tapi saya menaruh penghargaan yang sangat tinggi terhadap pengetahuan-pengetahuan ini. Setiap kali ada kesempatan, dengan senang hati saya akan belajar. Geffry juga menekankan bahwa ia tidak anti terhadap ilmu-ilmu dari luar, hanya saja, ketika balance ini tidak ada (tentu saja kini kita banyak didominasi oleh budaya-budaya di luar kita) kita akan kehilangan akar, kehilangan sesuatu yang sangat penting, kita akan asing terhadap budaya sendiri.

Hal lain yang yang ditekankan Geffry dalam tulisan ini adalah mengenai pentingnya mengenal diri sendiri. Ini mirip dengan sebuah quote dalam film Persepolis (2007), yang sangat berkesan bagi saya "Never forget who you are and where you're from". Sewaktu Geffry belajar ke Zealand dan banyak yang mengejeknya. Di zaman ia sekolah (mungkin sampai sekarang), orang-orang yang berbeda seringkali didiskriminasi dan diperlakukan secara tidak adil. Hanya saja, karena Geffry sangat bangga dengan asal usulnya, dengan orang tuanya, kakeknya, neneknya, dan luluhurnya di Cook Island celaan tidak menjadi masalah. Ia mengenali keunggulan budayanya. Saat orang lain mengatakan hal buruk tentang asal-usulnya, ia lebih tahu mengenai budayanya sendiri lebih dari siapapun sehingga tak ada yang bisa mengoyahkannya untuk jatuh. Ia bertahan untuk belajar dalam tekanan karena ia mengenai siapa dirinya. Poin-poin mengenai balance, kearifan lokal, termasuk di dalamnya pengetahuan lokal, dan pentingnya mengenal diri sendiri, sungguh membuat tulisan ini istimewa bagi saya. Bagaimana dengan anda?

Sumber: Voices in a Seashell: Education Culture and Identity
Ed. Bob Teasdale and Jennie Teasdale, UNESCO, 1992
 
wrote bymahkotalima at 10:36 PM | Permalink | 0 comments