Aug 2, 2018

Cerita Persiapan Lokakarya untuk Guru di SMKN 11

Saya masih berada di Biaro, menjenguk Ibu Mertua saat libur lebaran ketika saya memperoleh telepon dari Pak Bagiono. Pak Bagiono, adalah salah satu orang yang sangat saya hormati.  Dulu sempat jadi pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI), Atase Pendidikan Kebudayaan Indonesia di Prancis, dan termasuk salah satu orang yang ikut mengembangkan banyak Sekolah Menengah Kejuran (SMK) di Indonesia. Waktu saya baru ke Indonesia setelah studi S2, Pak Bagionolah yang menawarkan saya untuk mengajar bahasa Inggris di sebuah Akademi Farmasi di daerah Fatmawati. Meski suka mengajar dan bisa berbahasa Inggris, saya tidak tahu caranya mengajar bahasa Inggris, apalagi untuk calon apoteker. Saat itu saya lebih nyaman mengajar Fisika atau Matematika.  Pak Bagiono memberikan saya tips-tips untuk mengajak mahasiswa mengenal kalimat-kalimat yang umum digunakan dalam berkomunikasi (secara lisan) dan melakukan banyak dialog di dalam kelas. Saya pun menjalankan tipsnya, dan lumayan  berhasil. Di usianya yang 80-an tahun ini, Pak Bagiono masih produktif. Beliau masih aktif membimbing beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk bisa lebih maju, dan bahkan sedang kuliah lagi di Universitas Sahid.

Ditelepon Pak Bagiono di masa-masa libur Lebaran, saya jadi malu. Seharusnya saya yang menelepon untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir Batin duluan. Ternyata, selain mengucapkan Selamat Idul Fitri, Pak Bagiono punya hal lain yang perlu dibicarakan. Beliau mau mengajak saya mengisi lokakarya di SMKN 11, Jakarta. Katanya untuk menyemangati guru-guru yang ada di sana. Sayangnya tanggal lokakarya bertabrakan dengan jadwal lain, yakni ketika saya ada kegiatan di kampus tempat saya mengajar. Untungnya, beberapa hari kemudian saya memperoleh kabar bahwa tanggal lokakarya diundur,  yakni diadakan pada Jumat, 20 Juli 2018. Hari itu saya memperoleh izin cuti dari atasan. Cuti tersebut bisa saya gunakan untuk memberikan lokakarya di SMKN 11. Yey!


Persiapan Lokakarya Tahap Pertama
Persiapan Lokakarya di SMKN 11 bersama Pak Bagiono, Pak Karyana, dan Pak Ridho

Tanggal 4 Juli 2018, Pak Bagiono mengajak saya bertemu untuk membahas rencana lokakarya. Kami bertemu di FX Sudirman di salah satu tempat makan yang ada di sana. Saat saya datang, Pak Bagiono sedang duduk di meja bersama dua orang lain, yang tidak saya kenal.  Yang satu bernama Pak Ridho, Wakil Kepala SMKN 11T dan satu lagi Pak Karyana.

"Lupa yah? Dulu kita pernah ngobrol waktu Mbak Puti masih ngajar di Akademi Farmasi." kata Pak Karyana pada saya.  Saya mencoba mengingat-ingat lagi pengalaman tahun 2011 dan akhirnya saya mulai ingat bahwa Pak Karyana juga sempat jadi pengajar di sana. Pak Karyana ternyata merupakan salah satu orang yang ikut memberikan masukan kepada pemerintah mengenai revitalisasi SMK dan juga bersama dengan Pak Bagiono, ikut mengembangkan kurikulum simulasi digital untuk SMK (lihat http://bse.annibuku.com/buku/1574/simulasi-digital) .

Selama pertemuan Pak Ridho menceritakan mengenai sekolahnya. SMKN 11 dulu adalah SMEA. Sekolahnya terletak di belakang Glodok. Kebanyakan siswa-siswinya berasal dari kalangan menengah kebawah. Namun, sebagai SMK negeri, siswa-siswi yang masuk biasanya prestasinya cukup baik (karena adanya sistem seleksi). Setelah lulus siswa-siswinya bekerja atau ada juga beberapa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ada tiga jurusan di sana, Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan.

Tantangan yang dihadapi sekolah sekarang adalah zaman yang berubah dengan begitu cepat. Sebagai contoh, dulu lulusan administrasi perkantoran diantaranya kemudian bekerja sebagai sekretaris. Dulu, mereka harus dibekali dengan keterampilan mengetik cepat, menata meja, dan sebagainya. Kini, banyak siswa yang sudah terampil mengetik. Pelajaran mengetik tidak diperlukan lagi. Namun seorang sekretaris juga harus cekatan, punya kemampuan analisa yang baik, misalnya karena harus merangkum hasil rapat, bisa menggunakan teknologi dengan baik, dan sebagainya. Begitu juga dengan jurusan penjualan. Kini siswa-siswa yang mengambil jurusan penjualan harus mengerti perkembangan media dan teknologi dan pengaruhnya pada manusia. Kini, ada banyak usaha penjualan yang dilakukan secara daring. Teknik dan komunikasi 'menjual' pun berbeda dengan zaman dahulu. Jurusan akutansi pun menarik. Dulu siswa-siswa yang prestasinya lebih tinggi, seringkali memilih jurusan ini. Kini dengan adanya digitalisasi, beberapa pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh lulusan SMK Akutansi kini dilakukan oleh 'teknologi'. Mereka pun  akan kalah saing dengan lulusan D3 atau S1 Akutansi. Akhirnya, beberapa siswa lulusan jurusan Akutansi SMK ini bekerja di belakang kasir. Apa yang dipelajari di sekolah jadi kurang relevan. Dengan tantangan yang begitu besar, teman-teman guru di SMK perlu mempersiapkan siswa-siswanya dengan keterampilan yang diperlukan oleh zaman ini dan masa depan misalnya mempersiapkan siswa dengan wawasan yang luas, keterampilan berpikir, etos kerja yang baik, serta karakter yang baik.

Dengan lugas, saya sempat bertanya pada Pak Bagiono, "Jadi, apa tujuan lokakarya ini?"

Pak Bagiono pun menjawab, "Mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru."

Mendengarnya saya langsung sakit perut. Berat sekali tujuannya, entah akan bisa tercapai atau tidak. Buat saya lebih mudah mengadakan lokakarya mengenai teknik mengajar misalnya topik tertentu dalam pelajaran matematika, ataupun cara merancang pembelajaran. Kali ini lokaryanya bertujuan untuk memotivasi guru untuk menyadari perannya sebagai guru. Lokakrya akan berlangsung dari pk 7.00 - 11.30. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu sependek itu? Tentu saja, Pak Bagiono juga mengingatkan bahwa lokarya ini hanya akan jadi acara 'icip-icip'. Perubahan paradigma, apalagi sikap tentu perlu waktu. Pak Ridho juga menyampaikan bahwa beliau berencana mengadakan  kegiatan-kegiatan lanjut yang bisa mendukung teman-teman guru untuk terus berkembang.

Saya sampaikan bahwa saya masih belum kepikiran mengenai apa yang perlu dilakukan saat lokakarya. Tapi saya akan memikirkannya. Saya juga berencana mengajak seorang lagi untuk menjadi fasilitator, yakni mahasiswa saya yang telah menjadi guru. Sudah satu satu orang dipikiran saya. Namanya, Dasrizal.

Setelah diskusi, saya pun pulang, masih dengan perut yang seperti terkocok-kocok. Karena sering, saya biasanya percaya diri sekali untuk mengisi berbagai lokarya atau seminar. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Pak Satria Dharma dan Pak Ahmad Rizali (Nanang) yang dulu suka memaksa saya 'terjun ke lapangan'. Namun, kali ini saya sungguh deg-degan. Bagaimana caranya menyiapkan lokakarya untuk mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru?

Berlanjut...

Jul 31, 2018

Refleksi Menjadi Relawan di "Sanggar Belajar Sejahtera"

Sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya memilih untuk bergabung dengan Sangar Belajar Sejahtera sebagai  relawan pengajar matematika. Siswa-siswa Sanggar adalah anak-anak SD yang tinggal di daerah PertanianUtara, Klender.

Saya memilih berkegiatan di Sanggar Belajar Sejahtera karena kegiatannya malam hari (dan di hari kerja). Saya bekerja dari pagi sampai sore, dan Sabtu-Minggu suka banyak acara, baik acara keluarga maupun kegiatan lainnya. Satu-satunya pilihan untuk berkegiatan adalah di malam hari.


Saya ingat, kira-kirasetahun lalu, calon relawan-relawan baru (termasuk saya) yang mendaftar melalui website Indorelawan diundang ke sebuah pos RW   untuk di-briefing oleh kakak relawan yang sudah lebih lama berkegiatan. Calon relawan baru dijelaskan  tentang sejarah Sanggar dan juga kegiatan di sanggar. Calon relawan pun disuguhi lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak dari Sanggar. Saya lupa berapa calon relawan yang ada di kegiatan briefieng tersebut. Kalau tidak salah, lebih dari sepulug orang. Namun, seperti halnya kegiatan-kegiatan kerelawanan lainnya, yang akhirnya jadi 'relawan jangka panjang' hanya sebagian. Saya bisa memaklumi hal ini. Bukan hal yang mudah untuk berkomitmen menjalankan kegiatan kerelawanan. Semester lalu, misalnya, saya pun sedang banyak 'ini-itu', sehingga tidak selalu bisa mengajar di sanggar secara rutin.

Semester ini, saya mencoba untuk lebih konsisten datang mengajar di Sanggar Belajar Sejahtera. Semester lalu saya banyak mengajar siswa kelas 4, 5, 6. Namun, tampaknya semester ini akan lebih banyak mengajar siswa kelas 1, 2, dan 3 karena jadwal kelasnya lebih sesuai dengan jadwal saya semester ini .

Belajar Melalui Kegiatan Kerelawanan
Salah satu kegiatan belajar bersama di Sanggar Belajar Sejahtera

Kegiatan sehari-hari saya adalah mengajar di Perguruan Tinggi, yakni mengajar calon guru di Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Meskipun sudah mengajar selama 16 tahun baik di sekolah, tempat kursus, dan perguruan tinggi, namun mengajar di  sanggar Belajar Sejahtera (ataupun lembaga pendidikan non-formal lainnya) tetap memperkaya pengalaman. Sebagai contoh, dengan mengajar matematika di sana, saya jadi tahu topik-topik matematika yang dianggap menantang oleh siswa SD di sana. Misalnya, saya menemukan bahwa beberapa siswa kelas 3 SD  yang kesulitan menentukan apakah "96 lebih besar atau lebih kecil dari 106" atau ada siswa yang menganggap 215 adalah "dua ratus satu lima" dan bukan "dua ratus lima belas". Ada banyak kasus lainnya, dan tentu 'kesulitan' ini adalah hal yang sangat wajar. Tidak ada pembelajar yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam belajar.

Cerita tentang kasus-kasus ini sering saya bawa ke dalam kelas untuk dibahas oleh calon-calon guru matematika. Calon guru diajak menentukan kenapa kasus tersebut bisa terjadi (dihubungkan dengan teori-teori pembelajaran), diajak mempelajari refereknsi yang terkait dengan bagaimana kasus-kasus tersebut bisa diatasi (atau dihadapi), atau bagaimana cara guru lain menghadapi kasus serupa, dan diajak mengembangkan gagasan mengenai bagaimana mereka bisa menghadapi kasus-kasus tersebut ketika mereka benar-benar berada di dalam kelas suatu hari kelak.

Hal menarik lain yang saya pelajari adalah mengenai bagaimana kegiatan organisasi di 'Sanggar Belajar Sejahtera' dijalankan. Saya belajar bahwa di sanggar ini, ada tim relawan yang selalu menyiapkan lembar kerja yang bisa digunakan oleh siswa saat belajar. Lembar kerja ini memang dibuat dengan sederhana. Beberapa soal matematika dituliskan diatas kertas lalu kertas ini difotokopi sejumlah siswa yang ada di kelas (kadang lebih). Persiapan ini memungkinkan kegiatan belajar mengajar di sanggar terjadi secara lebih efektif. Saya menemukan, siswa-siswa kadang malah tertantang untuk mengerjakan lebih banyak soal matematika, "Saya mau mengerjakan sampai lima [lembar kerja]," ungkap seorang siswa di sanggar pada suatu Senin malam. Siswa tersebut merasa bangga kalau berhasil menyelesaikan berbagai tantagan yang ada di lembar kerja. Ketika siswa 'merasa punya potensi untuk bisa' tentu dia akan lebih bersemangat lagi untuk belajar di kemudian hari.

Tidak disadari, lebih dari setahun telah berlalu setelah perkenalan saya dengan Sanggar Belajar Sejahtera. Terima kasih kepada Sanggar Belajar Sejahtera, teman-teman relawan, dan Indorelawan untuk kesempatan belajar berharga ini.

Jul 12, 2018

Kita Harus Mencari Caranya : Lima Strategi untuk Membantu Pendidik untuk Terus Belajar Selama Hidupnya

Oleh Rachael George
Sumber:
http://inservice.ascd.org/we-have-to-find-a-way-five-strategies-to-help-educators-learn-for-life/
(diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati)

Belajar Terus Selama Hidup: Bukan hanya siswa yang perlu belajar terus, pendidik juga. Namun, kapankah terakhir kalinya anda mendengar bahwa pendidik punya begitu banyak waktu? Mungkin, anda akan jarang menemukan pendidik yang memiliki begitu banyak waktu luang. Mari kita akui kenyataan ini, bagi seorang pendidik setiap waktu itu berharga. Setiap hari, kita, pendidik ditempa dengan kesibukan dunia profesional dan pribadi. Jangan salah, kita mencintai apa yang kita kerjakan; hanya saja kita sangat sibuk.

Jadi, bagaimana caranya kita menemukan waktu untuk tumbuh secara profesional dan menjadi pembelajar seumur hidup sementara juga menjadi guru yang keren untuk siswamu?  mari perhatikan strategi-strategi dan pendekatan sederhana di bawah ini yang bisa membantu anda mengembangkan profesi dan belajar secara terintegrasi dengan hidup anda.

Berjejaringlah
Salah satu cara paling sederhana untuk pengembangan profesional adalah dengan berjejaring dengan sesama pendidik! Kalau anda tidak berhubungan dengan sesama pendidik lain di sosial media, ada begitu banyak kesempatan pengembangan diri yang terlewatkan! Informasi, pengetahuan, gagasan, dan dukungan antara pendidik yang dilakukan oleh sesama pendidik di media sosial sungguh merupakan game changer. Ketka saya berpindah dari menjadi kepala sekolah tingkat sekolah menengah ke sekolah dasar, jaringan pertemanan saya di Twitter sungguh membantu. Kalau tidak suka twitter? Cobalah berjejaring dengan pendidik lain di Facebook, Pinterest, Voxer - semua perangkat ini juga digunakan oleh banyak pendidik lainnya.

Baca, baca, baca
Sebagai pendidik, kita selalu menasihati siswa untuk membaca. Kita mencoba mencari buku yang diminati dan terkait dengan kehidupan siswa. Kapankah terakhir kalinya anda membaca buku yang berhubungan dengan profesi Anda? Seringkali, seroang pendidik mengatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk membaca buku, sehingga mereka hanya membaca sepintas blog atau artikel, mendengarkan podcast dalam perjalanan ke dan dari tempat kerja. Ini semua adalah strategi hebat, tapi itu bukan pengganti untuk informasi dan pembelajaran yang disediakan oleh buku. Jika, anda berpikir bahwa anda tidak punya waktu untuk duduk dan membaca seluruh isi buku sekaligus, pecahkan menjadi potingan. Cobalah membaca satu bab setiap Minggu malam sebelum tidur atau beberapa halaman per hari. Masih tidak punya waktu untuk membaca? Pertimbangkan untuk mendengarkan buku audio sebagai pilihan saat anda dalam perjalanan panjang, atau lakukan sambil membersihkan ruangan, atau saat sedang berlari untuk olahraga.  Sebagai pendidik, kita sering terjebak dalam rutinitas. Namun, jangan pernah berhenti belajar.

Berpartisipasilah dalam Komunitas
Sama seperti siswa, kita selalu bisa belajar banyak dari satu sama lain. Jika selama ini anda tidak berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau pengembangan profesi di daerah anda, mulailah mencari satu di mana anda bisa bergabung. Ada juga banyak pilihan untuk berpartisipasi secara daring (online) baik berdasarkan tingkatan kelas, bidang studi, dan mintak. Tidak tertarik pada sosial media ataupun teknologi? Selalu ada pilihan pelatihan atau berjejaring dengan guru di akhir pekan melalui asosiasi-asosiasi lokal. Sebagai contohnya, di tempat saya, ada pertemuan jejaring pendidik matematika tingkat negara bagian untuk membahas mengenai matematika, ada juga pertemuan rutin asosiasi membaca yang menyediakan pengembangan profesional yang terjangkau.

Jadikan belajar menjadi prioritas
Ada  pepatah terkenal yang mengatakan "Apa yang kita perhatikan dengan baik akan berkembang". Pepatah ini tepat khususnya ketika dikaitkan dengan pengembangan profesi dan menjadi pembelajar seumur hidup. Kita harus menjadikan belajar prioritas! Jika, kita tidak belajar untuk mendorong diri sendiri untuk menjadi lebih baik, bagaimana mengaharapkan orang lain, misalnya siswa kita, untuk juga begitu? Sebagai seorang  kepala sekolah, saya bangga karena bisa menjadi pemimpin mengenai pengajaan dan pembelajaran. Saya percaya, bahwa satu-satunya cara saya bisa terus memimpin adalah dengan terus mencari kesempatan untuk berkembang dan belajar. Kita punya tanggung jawab terharap diri kita sendiri, orang yang kita pimpin, dan yang utama terhadap siswa kita untuk menjadi pendidik terbaik yang bisa mereka terima. Pertumbuhan pribadi tidak pernah berakhir. Sama seperti apa yang kita lakukan dengan mendorong siswa-siswa kita untuk menjadi yang terbaik, kita juga harus mendorong diri kita untuk terus berkembang. Hidup adalah proses untuk selalu mengembangkan diri.

Pilih Temanmu secara Bijaksana. 
Ibumu tahu yang terbaik ketika dia memberikan nasihat ini kepada Anda ketika masih remaja, dan masih berlaku sampai anda dewasa. Orang-orang disekitarmu yang anda pilih untuk berhubungan denganmu baik secara profesional maupun pribadi akan berperan penting mengenai cara anda belajar dan berkembang.  Kalau anda mengelilingi diri anda dengan rekan yang membaca dan mendiskusikan buku, berpartisipasi dalam diskusi [pendidikan] di Twitter, mencari kesempatan untuk mengembangkan diri, secara alami anda juga ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, jika teman-temanmu senantiasa membuat alasan untuk "meninggalkan pekerjaan di tempat kerja", anda juga akan cenderung melakukan hal yang sama. Percayalah pada saya, pengaruh rekan dan teman bisa membantu anda menjadi lebih baik atau bahkan menghancurkan anda.

Sebagai pendidik di hari ini, kita harus sadar bahwa kita akan selalu sibuk. Kalau kita mau menjadi yang terbaik di bidang kita, mempengaruhi setiap siswa yang kita ajar, dan jika kita mau belajar, berkembang, dan menjadi lebih baik, kita harus menjadikan belajar sebagai sebuah prioritas yang kita lakukan setiap hari. Sederhananya, kita harus mencari caranya!

***
Rachael George adalah anggita dariASCD Emerging Leaders Class of 2015dan kini adalah kepala sekolah di  Sandy Grade School in the Oregon Trail School District. Sebelumnya adalah kepala sekolah dasar, dan juga pernah menjadi kepala sekolah menegah pertama dengan pridikat “outstanding” dan dua kali sekolahnya memperoleh  “Level 5: Sekolah model ,” yang diakui oleh Departemen Pendidikan Oregon. Spesialisasinya adalah di bidang pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas mengajar, mengajar siswa yang kesulitan belajar (at-risk), dan pengurangakan gap prestasi belajar antar siswa. Terhubunglah dengan George di Twitter @runnin26.

Jul 5, 2018

Program Pendidikan Orang Tua bernama Criança Feliz di Brazil



Criança Feliz,  berarti anak-anak yang bahagia, adalah sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Brazil yang diresmikan pada 5 Oktober 2016. Kebijakan ini disasar pada penduduk yang paling miskin di Brazil. Apa yang dilakukan? Pada dasarnya pemerintah Brazil menyediakan pekerja sosial secara masal yang wajib berkunjung secara rutin ke rumah ibu-ibu hamil dan orang tua yang memiliki anak. Untuk orang tua yang memiliki anak di usia  0 - 3 tahun, kunjungan dilakukan sekali seminggu, sedangkan untuk orang tua yang memiliki anak usia 3 - 6 tahun, kunjungan dilakukan setiap 15 hari sekali. 

Apa yang dilakukan oleh para pekerja sosial ini? Pekerja sosial ini mengajarkan dan memberikan contoh mengenai cara bermain dan berbicara dengan anak-anak. Tentu, saja semua pekerja sosial ini telah dibekali dengan berbagai pelatihan. Juga tersedia modul yang digunakan sebagai panduan untuk melakukan pendidikan untuk orang tua ini. Pekerja-pekerja sosial ini juga dibekali dengan kemampuan untuk membuat mainan sendiri, misalnya mainan untuk melatih sensomotorik anak yang dibuat dari botol bekas, mainan untuk belajar warna dari karton bekas, dan sebagainya. Mainan-mainan ini dibawakan ke rumah-rumah yang dikunjunginya. Orang tua diajarkan cara memainkannya bersama anak. Para pekerja sosial juga bertanggung jawab untuk mengajarkan orang tua cara bertanya, memuji perkembangan anak, melakukan kontak mata dengan anak, dan caranya memberikan perhatian emosional kepada anak. 

Kunjungan-kunjungan rutin ini juga memungkinkan terbangunnya hubungan yang manusiawi antara pekerja sosial dan orang tua anak. Dalam konteks-konteks tertentu, orang tua anak punya masalah-masalah yang sulit dipecahkannya sendiri. Sebagai contoh, ada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tidak punya akses untuk mencari terapis. Pekerja sosial akan membantu mencarikan akses ke terapis sehingga bisa membantu anak-anak dan orang tua yang membutuhkan.

Kini Criança Feliz telah mengapai 300,000 keluarga. Targetnya, pada 2020, program ini berhasil menyentuh 4 juta ibu hamil dan anak-anak.

Membaca artikel dan menonton video mengenai Criança Feliz di sini ( https://qz.com/1298387/brazils-wildly-ambitious-incredibly-precarious-program-to-visit-every-poor-mother-and-change-their-childrens-destiny/?utm_source=qzfb ) mengingatkan saya pada seorang teman bernama Ibu Melly Kiong. Ibu Melly Kiong adalah seorang yang setiap hari berusaha mendekatkan diri pada sebanyak mungkin orang tua.  Ibu Melly Kiong selalu mengajak orang tua untuk belajar dan belajar lagi menjadi orang tua yang lebih baik. Mungkin suatu hari gerakan Ibu Melly Kiong akan berpengaruh lebih luas dan bahkan bisa menjadi kebijakan nasional, semasal program Criança Feliz. Siapa tahu. :)

Jul 2, 2018

Menonton "Cita-citaku Setinggi Tanah"


Cita-citaku setinggi tanah ( trailer: https://www.youtube.com/watch?v=EZ3-XpOGFb0 ) sebenarnya adalah film tahun 2012. Namun, saya baru kesampaian menontonnya kemarin. Kemarin, film tersebut diputar di Kinosaurus, Jakarta. Film ini mengenai seorang anak bernama Agus yang berusaha keras mewujudkan cita-citanya.

Guru sekolahnya Agus memberikan sebuah tugas yang harus dikumpulkan di akhir semester. Tugasnya adalah menulis karangan tentang cita-cita. Cita-cita Agus tidak muluk-muluk seperti ingin jadi dokter, pilot, artis. Cita-citanya adalah makan nasi Padang. Konon ibunya, dikenal di desanya karena pintar memasak tahu bacem, jadi setiap hari Agus makan tahu bacem. Sekali-kali ia ingin merasakan rasanya makan di restoran Padang.

Selagi teman-temannya menuliskan mengenai cita-citanya dengan lancar. Agus butuh lebih banyak waktu. Iya ingin mewujudkan cita-citanya makan nasi padang, dan cita-cita ini tampaknya bisa terwujud sebelum batas akhir tugas dikumpulkan. Untuk bisa makan nasi padang, Agus menabung, bekerja untuk memperoleh uang tambahan dan melakukan berbagai hal lainnya, kadang seolah-olah sedang berulah. Film ini manis, karena menggambarkan proses Agus meraih cita-cita. Meskipun kelihatannya hanya cita-cita sederhana, setinggi tanah, perjuangannya juga tidak mudah. Setidaknya, di usia muda, Agus pernah mencoba mencapai cita-cita. Setelah cita-cita sederhananya ini tercapai, Agus punya cita-cita lainnya dan karena punya pengalaman mewujudkan cita-cita, Agus jadi lebih yakin akan bisa mewujudkannya juga.

Jun 29, 2018

Membaca "Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Pratek Sosial"


"Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Praktek Sosial" adalah sebuah buku yang dituliskan oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Kedua penulis tampaknya pernah melakukan penelitian terkait literasi, namun pada kelompok yang berbeda-beda. Kesamaannya, kedua kelompok merupakan kelompok yang seringkali dilabeli sebagai "kelompok marjinal". Ibu Pratiwi meneliti tentang praktek literasi di kelompok Buruh Migran Indonesia (BMI) sedangkan Ibu Sofie meneliti mengenai praktek literasi di kelompok anak jalanan. Perpaduan hasl refleksi dari kedua penelitian tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku ini. Di bagian akhir juga ada tulisan reflektif yang mempertanyakan "Ke Mana Arah Gerakan Literasi Kita."

Hal pertama yang membuat saya terpikat dengan buku ini adalah ketika membaca pengalaman literasi Ibu Sofie berikut ini:
"Saya selalu mengira bahwa saya literat. Saya tumbuh dengan aksara. Ibu saya adalah guru bahasa Inggris di sebuah SMA di Surabaya, suka membacakan buku-buku dongeng berbahasa Inggris dengan ilustrasi yang memikat sehingga kata-kata asing yang tidak saya mengerti itu menari-nari dengan indahnya membentuk cerita hidup di benak saya Saya mencintai aksara sehingga saya menuliskannya di tembok rumah eyang saya. Tembok itu merekan perubahan huruf b, k, f, l dari bentuk yang tidak beraturan menjadi suku kata, lalu huruf, lalu kalimat, lalu bait-bait puisi. (h. 24- 25)
Di sana tergambar mengenai pengalaman Bu Sofie "merasa literat". Namun, ketika berkuliah di Amerika Serikat untuk mengambil program doktoral, perasaan "bahwa saya literat" sama sekali berubah. Katanya:
"Kepindahan saya ke Amerika Serikat memaksa saya untuk menggunakan bahasa Inggris - yang sebelum itu saya pikir saya kuasai dengan baik - yang tidak seketika memampukan saya berkomunikasi dan 'berfungsi' sebagau warga negara yang berbudaya. Berinteraksi dengan penutur asli, saya merasa aksen saya aneh, pilihan kata saya tidak tepat, dan struktur kalimat saya terlalu kaku. Saya kesulitan membedakan beberapa frase sederhana seperti 'fill in' atau 'fil out', 'used to' atau 'get used to', 'latter' atau 'later'.  Saya khawatir disalahpahami, saya merasa tidak cakap berkomunikasi. Saya merasa tidak literat. (h. 26)
Selama berkuliah, Bu Sofie beberapa kali  satu-satunya mahasiswa asing di kelas. Pengalamannya menjadi minoitas ini membuatnya tertarik untuk meneliti mengenai praktek-praktek literasi di kelompok marjinal. Pilihannya berakhir untuk meneliti praktek literasi di kelompok anak jalananan. Profesornya mendukungnya dan senantiasa membantu Ibu Sofie untuk 'fokus mengembangkan analisis yang kritis dan reflektf terhadap bacaan dan mengungkapkannya dengan tulisan dan suara yang mewakili subjektifitasnya.

Tulisan Ibu Pratiwi di buku ini juga sangat menarik, yakni tentang praktek-praktek literasi yang dijalankan oleh BMI di Hongkong. Di buku itu diceritakan bahwa ada seorang BMI bernama Rie Rie yang membuat blog "Babu Ngeblog" (lihat : http://babungeblog.blogspot.com/ ). Rie Rie menulis dalam bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Tulisan-tulisannya dibuat untuk mendobrak stereotipe yang buruk tentang BMI yang sering dianggap bodoh. Tulisan-tulisan Ibu Pratiwi menggambarkan bagaimana para BMI membentuk 'identitas baru' dengan kegiatan membaca dan menulis

Buku ini membuat saya belajar mengenai bagaimana banyak BMI menghabiskan akhir pekannya di Victoria Park, membaca buku di 'perpustakaan koper' atau menggunakan fasilitas komputer gratis di Hongkong Central Library. Ada juga cerita tentang sebuah dokumenter yang dibuat oleh BMI bernama Ani. Judulnya "Hongkong Helper Ngampus (HHN)". Film ini sempat masuk sebagai finalis Eagle Award Metro TV 2007. Mendapatkan penghargaan adalah satu hal, namun memberikan makna untuk sesama dalah hal lain. Di kemudian hari film HHN digunakan untuk mendidik BMI-BMI lain bahwa BMI bukan sosok yang tidak berdaya. Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) mengajak Ani untuk membantu pembekalan calon BMI sebelum berangkat bekerja. Filmnya menjadi media pembelajarannya.

Hal yang membuat saya paling tertohok ketika membaca buku ini adalah ketika menyadari bahwa pembelajaran literasi di sektor non-formal seperti yang dialami oleh BMI di Hongkong atau anak jalanan yang diteliti oleh Ibu Sofie justru tidak dialami oleh banyak siswa di Indonesia. BMI Hongkong yang diteliti oleh Ibu Pratiwi misalnya, terbiasa membaca banyak karya sastra dan biasa mengkritik tulisan satu sama lain. Praktek literasi digunakan untuk memaknai pengalaman hidup mereka dan menjadikan hidup mereka lebih bermakna.

PAUD Bestari (lembaga penelitian non-formal) adalah tempat anak-anak jalanan, yang diteliti Ibu Sofie, belajar. Bu Sri adalah nama seorang pendidik di sana. Beliau sadar bahwa anak-anak jalanan ini hidup dikepung informasi, bahkan kadang tidak sesuai untuk anak-anak. Katanya:
"Di rumah anak-anak menonton sinetron tayangan gosip, cerita hantu, berita kriminal, dan tayangan lainnya yang biasa ditonton orang tua mereka." (h.187)
Meskipun apa yang ditonton oleh anak-anak 'tidak ideal', Ibu Sri menggunakan apa yang telah 'dekat' dengan anak-anak untuk memulai pembelajaran literasi.
"Ketika anak-anak menyanyikan lagu 'Susis (Suami Takut Istri)' yang bukan lagu anak-anak, Bu Sri tertawa mendengarkan mereka menyanyikan lagu itu, lalu mengajak mereka menyanyikan lagu lain yang liriknya lebih sesuai dengan mereka."
Membaca "Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktek Sosial" menekankan bagaimana kelompok-kelompok marjinal melakukan praktek literasi dengan mengeksplorasi teks kultural di sekitarya  untuk memaknai identitas dan hidup mereka. Apakah proses 'memaknai' ini juga terjadi di sekolah-sekolah? Semoga.


Mar 24, 2018

Sarasvati, Nama yang Bapak Berikan dan Kisah di Belakangnya

Nama saya Dhitta Puti Sarasvati. Ketika mendengar nama belakang saya, beberapa orang bertanya-tanya, apakah saya berasal dari Bali? Bagi sebagian orang Bali, khususnya yang beragama Hindu, Sarasvati dipercaya Dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Bapak selalu mengatakan, dengan menamakan “Sarasvati”, diharapkan saya tumbuh menjadi seseorang yang cinta ilmu pengetahuan. Ketika saya memilih jalan hidup menjadi pendidik, bukan profesi lain, Bapak sering bercanda, “Ini pasti gara-gara dulu Bapak kasih nama Sarasvati.” Bagaimana Bapak bisa memiliki ide untuk memberikan saya nama Sarasvati? Ini ada ceritanya. Setelah Bapak mengambil studi strata 2 (S2) di bidang Ekonomi di Boston University, Bapak mendapatkan tawaran untuk melanjutkan S3 (dengan beasiswa) di tempat yang sama. Meskipun tawaran itu sangat menarik, Bapak menolak tawaran tersebut dan memilih kembali ke Indonesia. Kepada saya, Bapak pernah berkata, “Ekonomi tidak bisa dipahami hanya dengan mempelajari teori dan pintar di sekolah saja. Saat itu Bapak belum begitu mengerti ekonomi Indonesia. Kalau Bapak langsung lanjut S3, Bapak akan pintar sekolahan saja. Bapak putuskan untuk mempelajari ekonomi melalui pengalaman riil dengan menjadi peneliti terlebih dulu selama dua sampai tiga tahun. Setelahnya, baru melanjutkan studi lagi. Nanti akan kembali lagi.” Sekembali ke Indonesia, Bapak menikah dengan almarhumah Ibu, yang sedang menyelesaikan tugas akhir di Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama kemudian, saya pun mulai tumbuh di perut Ibu. Saat itulah, tahun 1982, Bapak mulai bekerja sebagai Senior Researcher CPIS, Tim Harvard, yang merupakan lembaga riset dan penasihat Departemen Keuangan Republik Indonesia. Salah satu tugasnya adalah melakukan reformasi Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Desa. Waktu itu ada 3.600 BRI Unit Desa yang sebelumnya memberikan Kredit Bimas untuk petani. Karena manfaatnya dianggap telah selesai, Kredit Bimas kemudian dihapuskan. Pemerintah pun berencana untuk menutup 3.600 BRI Unit Desa ini. Bersama tim CPIS Harvard, Bapak menyarankan kepada pemerintah agar BRI Unit Desa tidak ditutup tetapi direformasi. Bapak menjadi koordinator lapangan untuk membenahi 36 BRI Unit Desa di seluruh Indonesia. Beberapa tahun kemudian, reformasi Unit Desa BRI ini (Program Kupedes dan Simpedes) menjadi salah satu program bank pedesaan paling baik di seluruh dunia. Pada kemudian hari untuk mendukung program ini, Tim Harvard mempekerjakan Stanley Ann Dunham, seorang Antropolog, untuk menjadi penasihat sosiologi pedesaan. Antropolog ini merupakan ibu dari Presiden Obama. Proyek ini merupakan salah satu alasan mengapa Obama sempat tinggal dan bersekolah di Indonesia. Beberapa hal dikerjakan untuk memperbaiki BRI Unit Desa. Antara lain dengan membenahi sistem akunting sehingga Unit Desa menjadi unit yang mandiri dan simpanan pedesaan, serta memperbaiki sistem pinjam-meminjam sehingga bukan berdasarkan pada jaminan semata. Namun, lebih berdasarkan sejarah pinjaman (credit history). Misalnya, seseorang diberikan pinjaman Rp500.000. Apabila si peminjam itu mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu, di kemudian hari dia berhak memperoleh pinjaman yang lebih besar. Orang lain, yang mungkin punya jaminan yang lebih besar (misalnya, punya tanah dan sebagainya), tetapi tidak punya sejarah mengembalikan pinjaman dengan baik, akan kesulitan memperoleh pinjaman lagi. Sistem pinjaman ini merupakan bentuk dukungan kepada petani untuk mengembangkan usahanya. Inilah cikal-bakal micro-credit. Seorang profesor dari Bangladesh, Prof. Mohammad Yunus, sempat datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem BRI Unit Desa. Dia mengaplikasikan sistem BRI Unit Desa dengan membuat hal yang serupa di Bangladesh, untuk nasabah yang jauh lebih miskin, bahkan tidak memiliki tanah. Di Bangladesh, sistem ini berkembang dan dinamakan Grameen Bank. Muhammad Yunus yang begitu konsisten mengembangkan Grameen Bank, akhirnya memperoleh Hadiah Nobel karena upayanya ini. Bali adalah salah satu daerah yang Bapak datangi langsung ketika membenahi BRI Unit Desa waktu itu. Di Bali, Bapak makin tertarik dengan konsep dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan, Sarasvati. Begitulah, nama itulah yang Bapak berikan ketika saya lahir ke dunia.