Dec 29, 2009

Kisahku Bersama Lagu "Negeri di Awan"

Tulisan Bu Nina tentang 3 Cinta di "Sang Pemimpi" mengingatkan saya akan lagu 'Bisa Lebih Bahagia' oleh Nugie

Liriknya begini :
Kita mungkin bisa lebih bahagia,
Bila yang dirasa hanya cinta
Kita mungkin bisa lebih bahagia,
Bila di dunia beda tak nyata

Hidup di setiap hati tampak murni,
Tanpa benci

Mungkinkah dalam sehari,
Dunia mau bersaksi
Bahwa cinta kan membawa damai
Sehingga semesta raya
Lantang membuka suara
Hiduplah manusia dalam cinta cinta

Semoga guru-guru Indonesia bisa menjadi guru yang dipenuhi cinta.

Ngobrol-ngobrol tentang lagu, salah satu kenangan saya sewaktu saya masih SMU adalah belajar bahasa Indonesia menggunakan lagu. Guru bahasa Indonesia saya, Bu Lis, selalu menyiapkan pelajaran dengan sangat baik. Ia menyulap surat pembaca, artikel opini, dan iklan di koran menjadi media pembelajaran di kelas. Tapi salah satu kelas yang paling berkesan bagi saya adalah sewaktu ia mengajarkan mengenai "majas". Saya selama ini tidak mengetahui apa guna majas. Saya tahu ada majas hiperbola, majas, ironi, dan banyak majas-majas lainnya, akan tetapi saya tidak pernah tahu apa manfaatnya.

Untuk mengenalkan manfaat 'majas' yang Bu Lis lakukan adalah memutarkan lagu "Negeri di Awan" yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara

Ia meminta kami mendengarkan lagu tersebut sambil memperhatikan liriknya, kemudian kami membahas makna dibalik lagu tersebut. Kami diminta mencatat majas-majas yang kami temukan yang kemudian mencoba mengenali ada majas apa saja dalam lirik tersebut. Sejak hari itu, lagu "Negeri di Awan" menjadi salah satu lagu favorit saya.

Oh iya, ini liriknya:
Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
dimana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo
Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

Saya ingat bahwa Bu Lis mengatakan, "Majas akan membuat suatu tulisan (termasuk lirik) menjadi lebih indah"

Menurut Bu Lis, meski tak menggunakan langsung kata "ibu", lagu "Negeri di Awan" berkisah tentang seorang ibu. Majas-majas digunakan untuk menggambarkan mengenai ibu, membuat lagu ini indah sekali. Kami diminta untuk membahas bagian-bagian mana yang menggambarkan bahwa lagu ini merupakan sebuah lagu tentang ibu.

Setelah membahas lagu tersebut, kami diminta untuk menuliskan sebuah tulisan tentang "ibu" dengan menggunakan majas-majas yang telah kami pelajari. Tulisan-tulisan terbaik pun dibacakan di depan kelas.

Itu salah satu pelajaran yang paling berkesan sewaktu saya SMU. Terima kasih Bu Lis. :)

Dec 23, 2009

[Reposting dari fb] Obrolan di Akhir Pekan

Seminggu yang lalu, saya mengunjungi semacam sebuah bazar, tapi di sana banyak stand organisasi2x macam-macam. Kebanyakan organisasi lingkungan. Tapi saya lama terhenti di sebuah stan. Yakni stan Amnesty International (

Well, saya lama berhenti di stan itu bukan karena saya tertarik bergabung. Tapi gara2x sebuah obrolan dengan penjaga stan. Gara2x obrolan itu saya lama berbincang-bincang dengan penjaga stan.

Seperti biasa, penjaga stan menyapa saya,"Hi"
"Hi" sapaku sambil tersenyum
"Have you ever heard about the amnesty?" tanyanya, mencoba membuatku tertarik.

"Yes, I know JK Rowlings have worked there before."
"JK Rowlings, the one who wrote Harry Potter," kataku sambil mengingat-ingat bener gak yah. Hehe
"Realy? I didn't know that. I knew she funded the Amnesty a lot, but I never know she worked here"
"Yes, working in the amnesty was one of the things that inspired her to write Harry Potter. Some of her stories are about what she learnt from the amnesty. About people vanishing and much more. I read it from her speech in Harvard University
Graduation Day."
"Wow, I think I shall read Harry Potter once again" kata penjaga stan.Kami pun mulai berbicang2x tentang banyak hal termasuk kasus-kasus yang ditangani di organisasi itu. Saya bahakan ditawari untuk bekerja di sana. Haha.. Nanti dhe.. liat-liat.
Akhirnya saya pun berpamitan,"Nice to meet you." Penjaga stan itu tersenyum sambil melambai.
Hehe begitu ceritaku, btw ini tulisan di mana saya mengetahui bahwa JK Rowlings sempat bekerja di Amnesty dan tulisan2xnya dalam Harry Potter terinspirasi apa yang ia pelajari di Amnesty.

The Fringe Benefits of Failure, and the Importance of Imagination

June 5, 2008
J.K. Rowling, author of the best-selling Harry Potter book series, delivers her Commencement Address, “The Fringe Benefits of Failure, and the Importance of Imagination,” at the Annual Meeting of the Harvard Alumni Association.

Text as prepared follows.
Copyright of JK Rowling, June 2008

President Faust, members of the Harvard Corporation and the Board of Overseers, members of the faculty, proud parents, and, above all, graduates.

The first thing I would like to say is ‘thank you.’ Not only has Harvard given me an extraordinary honour, but the weeks of fear and nausea I’ve experienced at the thought of giving this commencement address have made me lose weight. A win-win situation! Now all I have to do is take deep breaths, squint at the red banners and fool myself into believing I am at the world’s best-educated Harry Potter convention.

Delivering a commencement address is a great responsibility; or so I thought until I cast my mind back to my own graduation. The commencement speaker that day was the distinguished British philosopher Baroness Mary Warnock. Reflecting on her speech has helped me enormously in writing this one, because it turns out that I can’t remember a single word she said. This liberating discovery enables me to proceed without any fear that I might inadvertently influence you to abandon promising careers in business, law or politics for the giddy delights of becoming a gay wizard.

You see? If all you remember in years to come is the ‘gay wizard’ joke, I’ve still come out ahead of Baroness Mary Warnock. Achievable goals: the first step towards personal improvement.

Actually, I have wracked my mind and heart for what I ought to say to you today. I have asked myself what I wish I had known at my own graduation, and what important lessons I have learned in the 21 years that has expired between that day and this.

I have come up with two answers. On this wonderful day when we are gathered together to celebrate your academic success, I have decided to talk to you about the benefits of failure. And as you stand on the threshold of what is sometimes called ‘real life’, I want to extol the crucial importance of imagination.

These might seem quixotic or paradoxical choices, but please bear with me.

Looking back at the 21-year-old that I was at graduation, is a slightly uncomfortable experience for the 42-year-old that she has become. Half my lifetime ago, I was striking an uneasy balance between the ambition I had for myself, and what those closest to me expected of me.

I was convinced that the only thing I wanted to do, ever, was to write novels. However, my parents, both of whom came from impoverished backgrounds and neither of whom had been to college, took the view that my overactive imagination was an amusing personal quirk that could never pay a mortgage, or secure a pension.

They had hoped that I would take a vocational degree; I wanted to study English Literature. A compromise was reached that in retrospect satisfied nobody, and I went up to study Modern Languages. Hardly had my parents’ car rounded the corner at the end of the road than I ditched German and scuttled off down the Classics corridor.

I cannot remember telling my parents that I was studying Classics; they might well have found out for the first time on graduation day. Of all subjects on this planet, I think they would have been hard put to name one less useful than Greek mythology when it came to securing the keys to an executive bathroom.

I would like to make it clear, in parenthesis, that I do not blame my parents for their point of view. There is an expiry date on blaming your parents for steering you in the wrong direction; the moment you are old enough to take the wheel, responsibility lies with you. What is more, I cannot criticise my parents for hoping that I would never experience poverty. They had been poor themselves, and I have since been poor, and I quite agree with them that it is not an ennobling experience. Poverty entails fear, and stress, and sometimes depression; it means a thousand petty humiliations and hardships. Climbing out of poverty by your own efforts, that is indeed something on which to pride yourself, but poverty itself is romanticised only by fools.

What I feared most for myself at your age was not poverty, but failure.

At your age, in spite of a distinct lack of motivation at university, where I had spent far too long in the coffee bar writing stories, and far too little time at lectures, I had a knack for passing examinations, and that, for years, had been the measure of success in my life and that of my peers.

I am not dull enough to suppose that because you are young, gifted and well-educated, you have never known hardship or heartbreak. Talent and intelligence never yet inoculated anyone against the caprice of the Fates, and I do not for a moment suppose that everyone here has enjoyed an existence of unruffled privilege and contentment.

However, the fact that you are graduating from Harvard suggests that you are not very well-acquainted with failure. You might be driven by a fear of failure quite as much as a desire for success. Indeed, your conception of failure might not be too far from the average person’s idea of success, so high have you already flown academically.

Ultimately, we all have to decide for ourselves what constitutes failure, but the world is quite eager to give you a set of criteria if you let it. So I think it fair to say that by any conventional measure, a mere seven years after my graduation day, I had failed on an epic scale. An exceptionally short-lived marriage had imploded, and I was jobless, a lone parent, and as poor as it is possible to be in modern Britain, without being homeless. The fears my parents had had for me, and that I had had for myself, had both come to pass, and by every usual standard, I was the biggest failure I knew.

Now, I am not going to stand here and tell you that failure is fun. That period of my life was a dark one, and I had no idea that there was going to be what the press has since represented as a kind of fairy tale resolution. I had no idea how far the tunnel extended, and for a long time, any light at the end of it was a hope rather than a reality.

So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was, and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeeded at anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena I believed I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had already been realised, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.

You might never fail on the scale I did, but some failure in life is inevitable. It is impossible to live without failing at something, unless you live so cautiously that you might as well not have lived at all – in which case, you fail by default.

Failure gave me an inner security that I had never attained by passing examinations. Failure taught me things about myself that I could have learned no other way. I discovered that I had a strong will, and more discipline than I had suspected; I also found out that I had friends whose value was truly above rubies.

The knowledge that you have emerged wiser and stronger from setbacks means that you are, ever after, secure in your ability to survive. You will never truly know yourself, or the strength of your relationships, until both have been tested by adversity. Such knowledge is a true gift, for all that it is painfully won, and it has been worth more to me than any qualification I ever earned.

Given a time machine or a Time Turner, I would tell my 21-year-old self that personal happiness lies in knowing that life is not a check-list of acquisition or achievement. Your qualifications, your CV, are not your life, though you will meet many people of my age and older who confuse the two. Life is difficult, and complicated, and beyond anyone’s total control, and the humility to know that will enable you to survive its vicissitudes.

You might think that I chose my second theme, the importance of imagination, because of the part it played in rebuilding my life, but that is not wholly so. Though I will defend the value of bedtime stories to my last gasp, I have learned to value imagination in a much broader sense. Imagination is not only the uniquely human capacity to envision that which is not, and therefore the fount of all invention and innovation. In its arguably most transformative and revelatory capacity, it is the power that enables us to empathise with humans whose experiences we have never shared.

One of the greatest formative experiences of my life preceded Harry Potter, though it informed much of what I subsequently wrote in those books.This revelation came in the form of one of my earliest day jobs. Though I was sloping off to write stories during my lunch hours, I paid the rent in my early 20s by working in the research department at Amnesty International’s headquarters in London.

There in my little office I read hastily scribbled letters smuggled out of totalitarian regimes by men and women who were risking imprisonment to inform the outside world of what was happening to them. I saw photographs of those who had disappeared without trace, sent to Amnesty by their desperate families and friends. I read the testimony of torture victims and saw pictures of their injuries. I opened handwritten, eye-witness accounts of summary trials and executions, of kidnappings and rapes.

Many of my co-workers were ex-political prisoners, people who had been displaced from their homes, or fled into exile, because they had the temerity to think independently of their government. Visitors to our office included those who had come to give information, or to try and find out what had happened to those they had been forced to leave behind.

I shall never forget the African torture victim, a young man no older than I was at the time, who had become mentally ill after all he had endured in his homeland. He trembled uncontrollably as he spoke into a video camera about the brutality inflicted upon him. He was a foot taller than I was, and seemed as fragile as a child. I was given the job of escorting him to the Underground Station afterwards, and this man whose life had been shattered by cruelty took my hand with exquisite courtesy, and wished me future happiness.

And as long as I live I shall remember walking along an empty corridor and suddenly hearing, from behind a closed door, a scream of pain and horror such as I have never heard since. The door opened, and the researcher poked out her head and told me to run and make a hot drink for the young man sitting with her. She had just given him the news that in retaliation for his own outspokenness against his country’s regime, his mother had been seized and executed.

Every day of my working week in my early 20s I was reminded how incredibly fortunate I was, to live in a country with a democratically elected government, where legal representation and a public trial were the rights of everyone.

Every day, I saw more evidence about the evils humankind will inflict on their fellow humans, to gain or maintain power. I began to have nightmares, literal nightmares, about some of the things I saw, heard and read.

And yet I also learned more about human goodness at Amnesty International than I had ever known before.

Amnesty mobilises thousands of people who have never been tortured or imprisoned for their beliefs to act on behalf of those who have. The power of human empathy, leading to collective action, saves lives, and frees prisoners. Ordinary people, whose personal well-being and security are assured, join together in huge numbers to save people they do not know, and will never meet. My small participation in that process was one of the most humbling and inspiring experiences of my life.

Unlike any other creature on this planet, humans can learn and understand, without having experienced. They can think themselves into other people’s minds, imagine themselves into other people’s places.

Of course, this is a power, like my brand of fictional magic, that is morally neutral. One might use such an ability to manipulate, or control, just as much as to understand or sympathise.

And many prefer not to exercise their imaginations at all. They choose to remain comfortably within the bounds of their own experience, never troubling to wonder how it would feel to have been born other than they are. They can refuse to hear screams or to peer inside cages; they can close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally; they can refuse to know.

I might be tempted to envy people who can live that way, except that I do not think they have any fewer nightmares than I do. Choosing to live in narrow spaces can lead to a form of mental agoraphobia, and that brings its own terrors. I think the wilfully unimaginative see more monsters. They are often more afraid.

What is more, those who choose not to empathise may enable real monsters. For without ever committing an act of outright evil ourselves, we collude with it, through our own apathy.

One of the many things I learned at the end of that Classics corridor down which I ventured at the age of 18, in search of something I could not then define, was this, written by the Greek author Plutarch: What we achieve inwardly will change outer reality.

That is an astonishing statement and yet proven a thousand times every day of our lives. It expresses, in part, our inescapable connection with the outside world, the fact that we touch other people’s lives simply by existing.

But how much more are you, Harvard graduates of 2008, likely to touch other people’s lives? Your intelligence, your capacity for hard work, the education you have earned and received, give you unique status, and unique responsibilities. Even your nationality sets you apart. The great majority of you belong to the world’s only remaining superpower. The way you vote, the way you live, the way you protest, the pressure you bring to bear on your government, has an impact way beyond your borders. That is your privilege, and your burden.

If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful, but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence, but thousands and millions of people whose reality you have helped transform for the better. We do not need magic to change the world, we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.

I am nearly finished. I have one last hope for you, which is something that I already had at 21. The friends with whom I sat on graduation day have been my friends for life. They are my children’s godparents, the people to whom I’ve been able to turn in times of trouble, friends who have been kind enough not to sue me when I’ve used their names for Death Eaters. At our graduation we were bound by enormous affection, by our shared experience of a time that could never come again, and, of course, by the knowledge that we held certain photographic evidence that would be exceptionally valuable if any of us ran for Prime Minister.

So today, I can wish you nothing better than similar friendships. And tomorrow, I hope that even if you remember not a single word of mine, you remember those of Seneca, another of those old Romans I met when I fled down the Classics corridor, in retreat from career ladders, in search of ancient wisdom:
As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters.
I wish you all very good lives.
Thank you very much.

Dec 21, 2009

Review Film: Not One Less

Bagi saya, film "Not One Less" adalah sebuah film yang cantik. Filmnya mengenai seorang guru pengganti di sebuah daerah rural di Cina. Ini bukan film tak mengambbarkan heroisme yang berlebihan dan ideal (seperti beberapa film-film holywood yang pernah saya tonton, tetapi lebih bersifat realistik, mengenai kondisi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Yang tentunya mengingatkan saya akan kondisi di Indonesia.


Guru yang asli di sekolah ini bernama Pak Guru Gao. Satu sekolah hanya ada satu guru. Hmm.. mengingatkan saya atas beberapa kondisi sekolah di tanah air.

Karena ada keperluan yang sangat mendesak, ibu dari Pak Guru Gao sedang sekarat. Tak ada pilihan lain ia harus meninggalkan sekolah selama 21 hari untuk mengurusi ibunya.

Mayor dari desa tersebut (mungkin semacam kepala desa) telah mencarikan seorang guru pengganti dari desa sebelah. Namanya Ibu Guru Wei Minzhi.

Ibu Guru Wei Minzhi bukanlah seorang guru profesional. Jangankan menjadi guru profesional, lulus SMU pun belum usianya, masih 13 tahun. Tapi Mayor desa mengatakan telah mencari guru pengganti kemana-mana dan tak ada yang mau mengajar di daerah terpencil. Ibu guru wei Minzhi satu-satunya pilihan yang ada.

"Cuma untuk satu bulan," kata sang mayor pada Pak Guru Gao.
Pak Guru Gao khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menanyakan Ibu Guru Wei mengenai kemampuan yang ia miliki.

"Saya bisa menyanyi," katanya walau ia hanya bisa menyanyikan satu lagu.
"Kamu tidak bisa mengajarkan satu lagu secara terus menerus selama 1 bulan," kata Pak Guru Gao.
"Apa lagi yang kamu bisa?" tanya Pak Guru Gao lagi.
Bu Guru Wei Minzhi terdiam. Bingung.
"Apa kamu bisa mencatat."

Bu Guru Wei pun mengangguk. Ia bisa mencatat. Maka Pak Guru Gao memberinya sebuah buku. Ia meminta Bu Guru Wei mencatat satu lembar dari buku tersebut ke papan tulis setiap harinya. Ia juga menerangkan cara kerja sekolah tersebut, kapan murid-murid harus pulang, apabila cuaca buruk, para siswa harus dipulangkan karena air sungai bisa meluap, dan sebagainya. Pak Guru Gao juga mengatakan bahwa saat mencatat, Ibu Guru wei harus menggunakan tulisan yang tidak terlalu kecil agar siswa bisa membaca tetapi tidak terlalu besar agar tidak boros (kapurnya).

"Satu hari maksimal satu kapur," kata Pak Guru Gao. Pak Guru Gao dan Bu Guru Wei pun menghitung jumlah kapur hingga jumlahnya tepat 21 biji.

Ternyata Mayor Desa telah menjanjikan agar Bu Guru Wei digaji sebesar 50 Yuan. Mayor berkata untuk meminta uang tersebut pada Pak Guru Gao.

"Selesaikan dulu tugasmu, baru kamu akan dibayar. Ada 28 murid di sini. Saat saya kembali saya mau tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Mayor Desa," kata Pak Guru Gao.

"Apabila Mayor desa tak membayarmu, saya akan membayarmu dengan 60 Yuan," tambah Pak Guru Gao.

Usia Ibu Guru Gao masih sangat muda, tidak beda jauh dengan murid-muridnya, ia tak memiliki pengalaman mengajar, pengetahuannya masih terbatas, belum lagi murid-muridnya ada yang bandel, tidak mau mendengarkan. Yang bisa ia lakukan hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Pak Guru Gao. Ia mencatat satu lembar dari buku yang diberikan Pak Guru gao ke papan tulis, meminta muridnya mencatat, meskipun murid-murid kesulitan saat mencatat ataupun ribut tak banyak yang bisa ia lakukan.

Ibu Guru Gao pun menunggu di depan pintu kelas, memastikan tidak ada muridnya yang pergi. Saat ia menunggu seorang murid perempuan mendatanginya sambil protes karena ia sedang mencatat tapi ada temannya yang ribut dan menganggunya sehingga ia tidak bisa mencatat.

"Ibu kan seorang guru, jadi lakukan sesuatu."
Ibu Guru Gao tidak tahu harus melakukan apa. Ia pun cukup keras kepala dengan mengatakan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Sampai akhirnya terdengar suara "gedubrak" dari dalam kelas.

Ibu Guru Wei menemukan sebuah meja jatuh di lantai kelas. Kotak kapur pun terjatuh di lantai.

"Siapa yang menjatuhkan meja?" tanyanya. Seorang anak menceritakan apa yang terjadi sambil menunjuk temannya yang menjatuhkan meja. yang menjatuhkan meja pun tak mau disalahkan ia mengatakan bahwa temannya mengejarnya dan menendang kakinya sehingga insiden itu terjadi.

Ibu Guru Wei meminta anak yang menjatuhkan meja untuk mengambil kapur. Anak tersebut tidak mau menuruti perintahnya. Ibu Guru wei mencoba memaksa anak tersebut memngambil kapur yang jatuh tapi yang terjadi malah kapur-kapur terinjak. Seroang murid perempuan berteriak memohon agar kapur-kapur tersebut tidak diinjak.

Itu insiden pertama, masih ada insiden-insiden lainnya. Di hari lain, saat Ibu Guru Wei sedang mengajarkan sebuah lagu (yang tampaknya ia karang sendiri) ke murid-muridnya di halaman sekolah, Mayor Desa dan beberapa orang lainnya datang untuk meminta seorang murid, yang katanya memiliki kemampuan berlari dengan sangat cepat, meminta murid ini untuk berlari dan kembali lagi. Mayor Desa ingin menunjukan bahwa murid ini sangat berbakat sehingga bisa disekolahkan ke sebuah sekolah atlet tingkat nasional.

Murid ini memang larinya cepat, "Besok saya akan bicara dengan orang tua murid ini. Saya akan menjemputnya untuk mengirimkannya ke sekolah atlet.

Ibu Guru Wei bersikeras bahwa muridnya tidak boleh dibawa kemana-mana. Keesokannya ia menyembunyikan murid (yang jago berlari ini) di suatu tempat. Terlepas dari apa yang Mayor Desa katakan, misalnya bahwa keputusan ini pasti disetuji oleh Pak Guru Gao, ini adalah kesempatan bagus, Ibu Guru wei tetap tak mau mengatakan dimana ia menyembunyikan muridnya.

Tak mampu meminta Ibu Guru wei menunjukkan dimana muridnya berada, ia merayu seorang murd lainnya dengan sedikit iming-iming uang untuk menunjukan di mana murid pelari tersebut berada.

Murid pelari tersebut ditemukan. Dan ia pun dibawa dengan sebuah kendaraan menuju kota lain. Ibu Guru Wei mengejarnya, sampai ia tak sanggup mengejar lagi.

Sekembalinya di kelas, suasananya ribut seperti biasa. Dua orang murid, seorang perempuan da seorang laki-laki sedang beradu mulut. Murid yang laki-laki telah mengambil diary murid yang perempuan. Ia pun membacanya di depan kelas. Bagian ini menurut saya merupakan bagian yang paling menyentuh. Begini isi diarynya:

Saya merasa sangat sedih, Dua hari yang lalu, Zhang Huike membuat masalah di kelas dan menjatuhkan sebuah meja. Kapur pun berjatuhan. Ibu Guru Wei meminta Zhang untuk mengambil kapur-kapur yang berjatuhan. Tapi ia tidak mau sampai kapur-kapur tersebut terinjak.

Ibu Guru Wei tidak menghargai kapur seperti halnya Pak Guru Gao. Pak Guru Gao selalu mengatakan bahwa sekolah kita tak punya uang sehingga kita tidak bisa membeli terlalu banyak kapur. Aku adalah ketua kelas. Saya tahu Pak Guru Gao tak akan membuang-buang kapur, bahkan kapur yang paling kecil.

Saya mengingat, suatu hari saya membuat sebuah potongan kapur yang sangat kecil ke pojok kelas. Pak Guru Gao melihatnya dan mengambilnya. Ia menggenggamnya diantara kedua jarinya dan menggunakannya untuk menulis satu karakter [Cina, semacam kata] lagi.

Kemarin, satu kotak kapur telah berubah menjadi sebuah kotak serpihan kapur berwarna hitam. Kalau Pak Guru Gao tahu ia pasti akan menjadi sangat sedih.

Insiden yang paling heboh yang terjadi adalah saat ada satu orang lagi muridnya, Zhang Huike yang menghilang. Berbeda dengan murid sebelumnya yang pergi karena akan disekolahkan di sebuah sekolah atlet tingkat nasional, Zhang Huike pergi untuk mencari kerja di kota. Ayahnya telah meninggal, ibunya terjerat hutang. Ia pergi ke kota.

Ibu Guru Wei mendatangi rumah Zhang Huike untuk meminta alamat temat Zhang akan tinggal di kota. Ia telah berniat mencari muridnya yang hilang. Ia tak punya uang untuk ke kota. Ia Mayor Desa mengantarnya ke kota tetapi ia tidak mau. Ia sibuk, begitu katanya.

"Berapa tiket bus untuk ke kota?" tanya Ibu Guru Wei ke seisi kelas.
"Satu Yuan," kata muridnya dengan polos. Satu Yuan untuk anak-anak (mirip kalau anak sekolah harus bayar angkot di Indonesia, harganya lebih murah).
Seorang murid mengatakan harganya 3 Yuan.
"Oke kalau begitu kita butuh uang sebesar 12 Yuan agar saya bisa ke kota untuk menjembut Zhang Huike," Ibu Guru wei pun berpikir, "Eh salah deng. Saya butuh 3 Yuan untuk pergi ke kota dan 3 Yuan untuk kembali, dan 3 Yuan untuk Zhang saat kembali ke sini"

Ia menanyakan apakah murid-muridnya ada yang memiliki uang untuk membantunya mencari Zhang. Ada beberapa uang yang terkumpul tapi tetap tidak cukup.

Seorang muridnya mengusulkan agar mereka bekerja memindahkan bata di sebuah pabrik. Bayarannya 1,5 cent untuk satu bata.

Ibu Guru Wei pun meminta muridnya berapa uang yang mungkin terkumpul bila mereka bisa memindahkan sebjumlah bata.

1 buah bata menghasilkan 1,5 cent
10 buah bata menghasilkan 15 cent
100 buah bata menghasilkan 150 cent
1000 buah bata menghasilkan 1500 cent
1500 cent sama dengan 15 yuan

"15 Yuan cukup untuk ke kota," kata Ibu Guru Wei, "Ayo kita mulai ke pabrik"

Para murid pun senang sekali harus keluar kelas. Bersama-sama mereka memindahkan bata-bata yang ada di pabrik (meski tanpa izin kepala pabrik). Mereka berhasil memindahkan 1500 bata (bukan 1000 seperti yang telah direncanakan)

Kepala pabrik pun marah-marah. Karena beberapa bata dipindahkan secara acak-acakan. ia mengatakan bahwa sebenarnya memindahkan 1000 bata hanya bisa menghasilkan 40 cent, bukan 15 Yuan seperti perhitungan mereka. Hanya saja, setelah mendengarkan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk menolong seorang murid yang hilang. Ia memberikan mereka 15 Yuan.

Anak-anak kehausan, dan mereka ingin minum. Ibu Guru Wei mengatakan karena mereka butuh 9 Yuan untuk pergi ke kota dan uang yang mereka miliki adalah 15 Yuan, sehingga mereka bisa menggunakan 6 Yuan sisanya untuk membeli minuman bersoda. Anak-anak pun pergi ke sebuah warung. Mereka sangat ingin mencicipi sebuah minuma bersoda karena mereka tidak pernah meminumnya dan tidak tahu apa rasanya. Satu kaleng soda berharga 3 Yuan. Ibu guru Wei membeli 2 kaleng soda. Para murid bergantian menyicipi sedikit minuman. Tidak ada yang rakus. Semuanya berbagi, mengharukan sekali. Bahkan mereka memikirkan, "Sisakan sedikit untuk Ibu Guru Wei," kata seorang murid.

Ibu Guru Wei bersama murid-murid pergi ke stasiun bus untuk memesan tiket. Ternyata harga tiket lebih mahal dari 3 Yuan.

Saat kembali ke kelas, Ibu Guru Wei mencoba memecahkan masalah ini dengan murid-muridnya. Ia menghitung berapa uang lagi yang harus dikumpulkan, berapa jumlah batu bata yang harus dipindahkan untuk mengumpulkan uang tersebut, hingga berapa waktu yang mereka butuhkan untuk memindahkan bata (dengan asumsi kemarin waktu mereka memindahkan 1500 bata mereka mereka membutuhkan waktu 2 jam).

Ibu Guru Wei bersama murid-muridnya mencoba memecahkan masalah ini bersama-sama. Semua serius memikirkan solusi untuk setiap perhitungan. Suasana kelas tidak kacau seperti saat ia pertama mengajar. Saya sangat menyukai adegan ini. Adegan ini menunjukkan bahwa saat sesorang (atau sekelompok orang) dihadapi pada sebuah masalah, proses belajar terjadi dengan sendirinya. Adegan ini juga menunjukkan bahwa saat murid memiliki suatu tujuan (kali ini tujuannya adalah untuk memungkinkan Bu Guru Wei pergi ke kota), mereka akan termotivasi untuk belajar tanpa diminta. Tanpa suatu tujuan, belajar akan bersifat meaningless (tidak berarti) daripada meaningful (berarti)

Perhitungan menunjukkan bahwa terlalu banya waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bata untuk menghasilkan uang yang mencukupi untuk pergi ke kota. Murid-murid mengusulkan untuk menyelundupkan Ibu Guru Wei ke dalam bus tanpa harus membayar. Usaha ini tak berlangsung dengan sukses, tapi akhirnya Bu Guru Wei berhasil menumpang sebuah kendaraan secara cuma-cuma.

Selanjutnya adalah perjalanan Ibu Guru Wei mencari muridnya yang hilang. Bagian ini silakan ditintin sendiri untuk melihat hasil akhirnya. Film ini ditutupi dengan sebuah adegan yang cantik. Detailnya.. Hmm lihat sendiri, yang pastinya berhubungan dengan kapur. (Jangan lupa ditonton filmnya).

Ada beberapa kesan yang film "Not One Less" ini tinggalkan pada saya. Saya senang melihat para murid dan guru berani mengungkapkan pendapatnya. Saya senang sekali melihat adegan saat murid-murid mencoba menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Seorang murid akan maju ke depan melakukan perhitungan. Saat murid yang maju melakukan kesalahan, misalnya salah eja atau salah perhitungan, temannya akan menunjukan kesalahan apa yang telah dibuat dengan cara yang baik, sehingga tak menyinggung perasaan. Adegan ini mengingatkan saya pada teorinya Vygotski bahwa interaksi sosial merupakan salah satu hal yang paling penting dalam perkembangan kognisi.

Film ini juga mengingatkan saya pada kondisi-kondisi yang tidak ideal di beberapa daerah tertentu, bukan hanya di Cina tetapi juga di Indonesia. Mungkin tak banyak muncul di media, tapi tampaknya masih banyak kondisi-kondisi sejenis ini yang ada di Indonesia. Satu guru mengajar di satu sekolah, kurangnya guru di daerah-daerah terpencil. BAnyak guru terbaik hanya berada di kota-kota atau pulau-pulau tertentu. Kondisi 'tidak ideal' ini mengakibatkan siapa saja dapat berubah menjadi guru, tak terkecuali orang-orang yang masih belum berpengalaman dah bahkan mungkin hanya lulus SD. Metode pun seadanya.

Tentu perlu diingat bahwa saya tidak bisa meng-underestimate guru-guru lulusan SD. Di Bogor, saya pernah bertemu guru-guru yang hanya lulus SD tapi metode yang mereka gunakan lebih canggih daripada guru yang sudah berkuliah di sekolah keguruan. Mereka tetap guru yang potensial, apalagi apabila diberi kesempatan untuk berkembang.

Film ini pun membuktikan bahwa seiring dengan proses yang ia hadapi dalam menjalani hari-harinya sebagai guru, Ibu Guru Wei pun mampu berproses menjadi guru yang lebih baik, dicintai, dan mampu menginspirasi murid-muridnya. Tanpa ia sengaja, ia menemukan metode belajar mengajar yang menarik (problem solving). Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang paling berkesan bagi saya adalah tulisan di diary seorang murid yang sedih karena ada kapur yang terbuang. Adegan ini mengingatkan saya bahwa seorang guru bisa meninggalkan kesan yang mendalam bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dengan mencotohkan bahwa kapur yang sekecil apapun tetap bernilai. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Guru Gao, satu serpihan kapur pun bisa digunakan untuk menuliskan satu karakter cina, sangat berharga untuk membantu proses belajar. Pak Guru Gao dengan sikapnya telah mencotohkan sendiri sifat menghargai, bersyukur, dan bersikap sederhana.

Film yang cantik ini sangat cocok ditonton oleh semua teman-teman guru dan praktisi pendidikan. Banyak yang bisa dipelajari dari film ini. Kalau sudah menonton. Jangan lupa tuliskan pendapatnya yah..

Oh ya film ini dapat ditonton di sini:

part 1:
part 2:
part 3:
part 4:
part 5:
part 6:
part 7:
part 8:
part 9:
part 10:
part 11:
part 12:

Sumber gambar :

Dec 7, 2009

Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

ENTAH tulisan ini mau digolongkan jenis tulisan apa, saya tidak peduli. Saya juga tidak ambil pusing kalau karena tulisan ini saya dan kawan-kawan dicap merengek-rengek, manja atau apa pun. Yang saya mau dengan tulisan ini hanyalah agar “yang empunya kuasa” di pusat kekuasaan, mau membuka mata dan hati untuk peduli pada kondisi real yang kami alami di pelosok Indonesia ini.

Saya adalah seorang guru pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD, NTT).

Cita-cita untuk menjadi guru yang kemudian menjadi kenyataan tampaknya sudah merupakan “warisan” dari ayah saya Aloysius Bulu Malo (alm) yang sampai akhir hayatnya tetap mencintai profesinya sebagai guru.

Tidak hanya itu, almarhum berhasil “menjerumuskan” kami enam orang anaknya untuk menjadi guru. Dengan demikian, yakinlah, profesi guru telah menjadi panggilan kami.

Jadi jelaslah, bahwa kepedulian yang saya maksud di atas bukanlah rengekan agar saya dan teman-teman guru dimanjakan dengan berbagai fasilitas atau gaji yang berlipat-lipat sehingga kami pun bisa patantang patenteng dengan aneka barang mewah.

Atau bukan agar kami bisa jalan-jalan alias pelesir ke kota-kota besar untuk mencari hiburan seperti yang kerap kali dipertontonkan oleh para wakil rakyat.

Tidak! Bukan itu!

Saya ingin kita realistis dengan situasi bangsa ini yang masih merayap-merangkak, dalam hal ini di bidang pendidikan. Bahwa ada daerah atau sekolah tertentu yang sudah mengalami kemajuan luar biasa dalam pendidikan, tak bisa disangkal. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih sangat banyak daerah atau sekolah yang situasinya sangat memprihatinkan dalam berbagai segi.

Tahun lalu saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMK di Kecamatan Kodi, SBD, NTT.

Semoga saya saja yang apes! Saya kebagian mengajar murid-murid yang pengetahuan Bahasa Inggrisnya sangat menyedihkan. Jangankan berbicara soal tenses atau grammar meski yang paling sederhana. Kemampuan mereka dalam menguasai bilangan 1 sampai 20 atau huruf A sampai T saja sangat menyedihkan.

Saya lalu merasa berada di persimpangan: mau ikut kurikulum atau ikut anak. Ikut tuntutan kurikulum berarti menutup mata dengan kondisi anak. Ikut kondisi anak, berarti menelantarkan kurikulum. Contoh ini baru menyangkut Bahasa Inggris. Nasib yang sama dialami oleh para guru mata pelajaran lain.

Guru Masak di Bawah Pohon

Karena sekolah ini baru dua tahun berdiri, para guru di sini masih tergolong muda atau fresh graduate. Mereka adalah sarjana dari beberapa universitas baik di Jawa maupun dari universitas di NTT sendiri. Semangat guru-guru muda ini masih besar dan bahkan menggebu-gebu.

Karena itu, meskipun sangat tidak kondusif, saya dan teman-teman menuruti anjuran Kepala Sekolah agar kami tinggal di kompleks sekolah. Sang kepala sekolah khawatir, jika kami ngelaju dari rumah masing-masing, akan banyak tugas yang terganggu sebab kami menempuh jarak yang cukup jauh.

Tentu saja, pemenuhan terhadap ajakan Kepala Sekolah bukan tanpa risiko. Jangan membayangkan kami tidur nyaman di atas spring bed. Jangan juga pikir kami akan menyediakan atau mengolah makanan dengan peralatan dapur modern berikut air kran yang bisa mengalir setiap saat. Percaya atau tidak, kami sangat jauh dari itu semua.

Mungkin para pejabat di Jakarta tidak percaya bahwa kami para guru harus tidur di ruang kelas beralaskan kursi atau bangku siswa. Mungkin, sulit juga dipercaya bahwa karena tidak ada dapur, kami harus masak dengan kayu bakar di bawah pohon.

Beberapa kali terjadi, saat priuk nasi sedang duduk santai di atas batu tungku dan baru mendidih, tiba-tiba hujan. Kami harus buru-buru mengangkat priuk untuk dilarikan ke teras sekolah padahal nasi dalam priuk belum matang. Sambil menahan perut lapar, kami hanya bisa mengurut dada sebab beras pasti gagal menjadi nasi.

Saya khususnya, memang terbiasa hidup dengan fasilitas yang terbatas. Tapi keadaan tersebut sangat “extraordinary”. Kami hidup tanpa listrik, air jauh, dan kerap kali sangat terganggu oleh pencuri.

Yang paling banyak berpesta dengan keprihatinan kami adalah nyamuk. Dan siapa pun tahu, Sumba adalah sarang nyaman bagi nyamuk malaria. Hampir pasti, setiap hari ada orang yang meninggal akibat sakit malaria.

Nah, bagaimana mau mengharapkan hasil Ujian Nasioanl (UN) yang kompetitif dari situasi ini? Kami bukan tidak mau berjuang. Bahwa bersedia tidur di sini dan hidup “terlantar”, ini sudah perjuangan meski belum seberapa. Namun perjuangan yang belum seberapa ini sudah cukup memberi gambaran bahwa kondisi real kami sama sekali tidak bisa disamakan dengan kondisi real yang ada di tempat lain, Jakarta misalnya.

Penentuan standar kelulusan yang sama secara nasional berikut soal atau bobot soal yang sama untuk semua siswa dan sekolah dalam kondisi apa pun di seluruh Indonesia, merupakan bentuk konkret paling jelas dari penyamarataan secara membabibuta. Belum lagi soal pembebasan sekolah dari hak menentukan kelulusan. Di mata saya, penyamarataan ini jelas merupakan sebuah penghinaan di satu sisi dan penyiksaan di sisi lain.

Ya, penghinaan bagi siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di Jakarta karena kemampuan atau kecerdasan mereka disamakan dengan siswa di pelosok. Lalu menjadi siksaan tak berperikemanusiaan bagi siswa di pelosok-pelosok karena mereka dipaksa memiliki kemampuan yang sama dengan teman-teman mereka yang beruntung di Jakarta.

Jadi, dari hati yang paling dalam, mohon kiranya para pengambil keputusan sekali-sekali turun langsung melihat sendiri kondisi yang ada. Saya khawatir, prinsip menunggu laporan masih sangat menguasai para pejabat di bidang ini. Akibatnya, keputusan diambil berdasarkan laporan yang tidak akurat.

Kalau sudah melihat sendiri dari dekat, pasti merasakan denyut yang ada. Dari sini akan muncul keputusan yang lebih bijak.

Kalau pun nanti UN tetap diberlakukan, ia bukan penentu kelulusan. UN bisa dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana kemajuan yang terjadi pada sebuah daerah. Dari situ dilakukan perbaikan yang sifatnya kontekstual.

Leonardus Dapa Loka

Penulis adalah seorang guru di Sumba Barat Daya, NTT, alumni Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa, Yogyakarta

Sumber: Milis KGI

Nov 22, 2009

Bertemu Tibetian Monks

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan pusat Bristol. Menurut teman saya ada beberapa Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestry yang sedang membuat lukisan dengan pasir. Saya sangat tertarik ingin mengetahui teknik pembuatan lukisannya. Pasir berwarna diletakkan ke dalam sebuah corong logam lalu di samping corong ada bagian bergerigi. Bagian ini digesek-gesekan dengan sebuah alat, sehingga pasir keluar secara perlahan. Wow mengerjakan lukisan tersebut benar-benar membutuhkan kesabaran.

Para Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestery ini juga berjualan berbagai barang seperti gelang, kartu pos, hiasan dinding, karena mereka sedang mengumpulkan dana untuk pembebasan Panchen Lama yang bernama Gedhun Choekyi Niyam, salah satu tahanan politik paling muda di dunia.

Saat saya sedang melihat-lihat barabf-barang yang dijual oleh para monks, saya terpana pada sebuah hiasan dinding berwarna jingga. Tulisannya begini:


We have bigger houses but smaller families;
more convinience, but less time;
we have more degrees, but less sense;
more knowledge, but less judgement'
more experts, but more problems;
more medicines, but less healthiness;
We've been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet the new neighbour.
We built more computers to hold more
information to produce more copies than ever, but have less communication;
We have become long on quantity,
but short on quality.
These are times of fast foods
but slow digestion;
Tall man but short character;
Steep profits but shallow relationships;
It's a time when there is much in the window, but nothing in the room

... His Holiness the 14th Dalai Lama

Entah kenapa kata-kata ini begitu mengena bagi saya, mungkin juga koreksi terhadap diri sendiri. Saya meminta izin kepada sang biksu yang menjaga barang-barang dagangan untuk memotrer tulisan ini lalu mengobrol sedikit tentang Pancen Lama yang sedang dipenjara. Akhirnya saya berjalan pulang.

Nov 14, 2009

Guru-guru yang istimewa: Mereka yang memiliki kekuatan dari dalam

Seorang rekan guru, yang juga seorang trainer baru kembali dari sebuah daerah yang pernah (atau masih?) mengalami konflik di Indonesia. Di sana ia meminta para guru-guru menceritakan pengalaman pertama mereka mengajar. Dan ini adalah salah satu kisah mengenai seorang guru yang punya kisah luar biasa. (Saya akan gunakan nama samaran untuk menggantikan nama aslinya)

Tiba giliran seorang ibu guru bernama Ibu ABC. Beliau ternyata telah mengajar lebih dari 25 tahun! Wah, hebaaattt...Ibu ABC bercerita bahwa ketika beliau mulai mengajar adalah di suatu desa (saya lupa namanya) yang menjadi awal peperangan Pihak X dengan Pihak Y. Beliau bercerita, ketika itu baik X maupun pasukan Y tidak pandang bulu. Mereka menyerang, masuk ke sekolah2 ketika anak2 sedang belajar, bahkan ada yang menghadapi ujian seperti sekolah ABC saat itu. Dengan berapi-api Ibu ABC menceritakan bagaimana ia melawan X yang masuk dengan paksa dan berusaha menyelamatkan anak2 dengan membawa mereka keluar dari sekolah mengungsi ke gunung-gunung. Dengan berani, Ibu ABC membawa murid2nya pergi dengan "labi-labi" semacam angkutan umum, seperti angkot di daerah Bogor. Menurut ABC, labi2 ketika itu penuh dengan orang bersenjata.

Satu hal yang saya salut dari Ibu ABC adalah, kebesaran jiwanya yang berusaha menyelamatkan murid2nya dengan berani. Sewaktu saya menanyakan kepada beliau bagaimana perasaan beliau ketika itu, beliau menjawab seperti ini, "Entah mengapa, tidak ada rasa segan, takut, atau ciut hati ketika saya menghadapi orang2 bersenjata itu yang masuk ke kelas saya. Yang ada di kepala saya adalah bagaimana saya harus menyelamatkan murid2 dari orang2 kejam yang tak kenal welas asih. Mereka menyiksa salah satu guru kami di depan anak2 karena guru kami itu dicurigai sebagai orang dari pihak Y. Satu hal yang ada di kepala saya, anak2 harus pergi dari situ. Saat itu tidak ada rasa takut sedikit pun. Namun, satu minggu setelah kami pergi mengungsi, saya menjadi trauma akan peristiwa itu..."

Rekan saya begitu kagum dengan cerita yang disampaikan Ibu ABC, begitu pula saya. Tapi kisah di atas mengingatkan saya atas sesuatu yang telah begitu lama saya percaya.

Saya selama ini sangat percaya bahwa kita tidak bisa mengajarkan orang lain mengenai sesuatu yang "bukan diri kita". Maksudnya, saya selama ini percaya bahwa hanya guru yang berani yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai keberanian. Hanya guru yang berjiwa besar yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai berjiwa besar, Hanya guru yang sederhana yang bisa mengajarkan murid-muridnya tentang kesederhanaan. Hanya guru-guru yang pantang menyerah yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai kegigihan. Hanya guru yang berkarakterlah yang bisa mendidik murid-murid menjadi berkarakter.

Seorang sahabat saya sempat curhat, "Saya ingin agar murid-murid saya bisa hidup sederhana, bisa menabung, tidak boros, tapi kemarin seorang muridku memergokiku sedang makan di sebuah restoran fast food padahal saya mengajarinya membawa bekal ke sekolah. Saya malu sekali."

Sahabat saya kini sedang berusaha sekali agar ia bisa menjadi pribadi yang ia impikan, pribadi yang sederhana dan tidak boros. Ia berkata padaku bahwa ia tidak ingin mengajarkan sesuatu yang ia sediri tidak lakukan. "Ngak ngaruh kalau ngak. Ngak kena soul-nya," begitu katanya.

Dua orang sahabat saya yang lainnya memiliki ibu seorang guru. Tapi, guru di zaman dulu. Meski sekarang masih banyak guru yang penghidupannya di bawah layak, kini sudah ada beberapa guru yang memiliki penghasilan yang cukup besar, sehingga mereka tidak perlu bekerja lagi untuk menghidupi keluarga. Mereka bisa fokus di pengembangan diri, membaca, meningkatkan pengetahuan dan banyak lagi.

Kedua orang sahabatku yang ini memiliki kisah yang cukup mirip. Ibu mereka, selain harus mengajar menjadi guru, juga harus mengerjakan pekerjaan lainnya seperti berladang, sehingga bisa menghidupi keluarga.

"Ibuku sekarang jadi kepala sekolah, dan sekolah tempat ibuku mengajar sekarang mendapatkan dana yang cukup untuk gaji guru, dan juga mendapatkan dana BOS. Ibuku menggunakan dana tersebut untuk membeli buku, dan langanan koran di sekolah. Katanya memang harus dari dulu begitu, gaji guru harus mencukupi sehingga bisa untuk pengembangan diri. Dulu ibuku mana sempat. Harus kerja selain mengajar. Juga memasak dan mengurus keluarga."

Sahabatku yang lain, memiliki ibu yang setiap hari setelah pulang mengajar harus bekerja di sawah dan juga mengurus keluarga. Beras didapatkan dari pekerjaannya bertani, sehingga ia memiliki cukup uang untuk membiayai kelima putra-putrinya sekolah hingga tinggi. Ibunya juga berpendapat sama, bahwa memang sehrausnya guru memiliki penghasilan yang memadai agar memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri.

Saya sungguh setuju, bahwa guru memang harus diperhatikan kesejahteraannya. Tetapi berdasarkan cerita kedua sahabat saya, saya tahu bahwa ibu mereka masing-masing merupakan guru yang luar biasa. Mereka memiliki kualitas yang mungkin tidak (atau belum) saya atau guru-guru muda lainnya miliki. Mereka bertahun-tahun berjuang menghadapi hidup dengan kerja keras. Tanpa perlu bicara, mereka bisa mengajarkan muird-muridnya mengenai kerja keras. Mereka bertahun-tahun hidup dengan kondisi ekonomi yang sulit, harus hidup sederhana tapi tidak pernah menyerah. Tanpa kata mereka pasti bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya mengenai bertahan dalam kondisi sulit, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah. Semuanya karena kerja keras, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah merupakan bagian menyeluruh dari kepribadian mereka. Kepribadian guru-guru yang istimewa.

Nov 13, 2009

Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana

It was Miss Emily herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a large calender with photos of the county. She had quite a collection of these picture calenders, and we got through most of the counties this way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields; if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now, after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the first time I ever heard of Derbyshire.

(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan saya menemukan potongan di atas. Potongan di atas menggambarkan bagaimana seorang guru, dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru saya (tepatnya dosen saya), sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB. Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di kantornya. Permisi Pak. Ia membalas, " halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya. Bentuknya seberti silinder yang memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab, "Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor. Aliran panas lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajari saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan saya dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti teman-teman saya. Tetapi perbincangan di hari itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya, sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya kesan yang Pak Halim tinggalkan pada saya hari itu. Suatu hari di laboratorium surya.

Sep 18, 2009

Pertama kali

Petama kali merasa
Perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya

Tanpa ambisi
Tenang, tenang sekali


Aug 12, 2009

sharing tulisan yang berkesan

Saya hari ini membaca buku yang bagus sekali (menurut saya), judulnya Voices in a Seashell: Education Culture and Identity

Ada satu potongan yang sangat berkesan di hati saya, menyangkut pentingnya identitas kultural yang mengingatkan saya akan salah satu falsafah pendidikan di INS Kayu Tanam, Sumatra Barat : Jadilah engkau jadi engkau. Sekolah mengasah kecerdasan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain. (

Saya ingin berbagi potongan tulisan yang berkesan bagi saya. Tulisan ini dibuat oleh Sir Geffrey A. Henry, Perdana Menteri Cook Island. Semoga bermanfaat. :)

Education is in fact, just one component of the culture of the community. That education should be "for culture" is like saying a fish's tail is "for the fish", the horse's hoof is for the horse. Surely each serves a purpose.

.... I assure you that we are not suggesting that our schools abandon western education in favor of returning it to ancient ways. What we seek, istead is balance. Let me explain why. Culture is identity and identity is pride. When I was sent away to New Zealand for schooling I found myself an alien in a foreign land. I was strange to some of my school mates and can remember being called a "heathen" and a "canibal" and, for a time treated less than equal.

Some Cook Islands students, in the same circumstances, became despondent, failed and returned home. I knew who I was. I admired my parents, remembered my grandparents and knew with pride of the greatness of my ancestors. They all gave me the courage to stay. I did, and today when I travel and meet leaders elsewhere or when they come here, it is always on an even basis. Even the barest smattering of my own culture has endowed me with stregths that I needed then, that I still need.

Even so I feel culturally deprived. Because I was away in western schools, I missed crucial years with my father who was a man steeped in traditional values. He raised sixteen children and all of them survived because he knew what to plant and when to plant, when to fish and where to fish. He timed his activitied with the phases of the moon and made judgements on wind and tide. He never purchased fertilisers but used local rubbish and nartural materials for organic farming of a kind that is just being discovered by developed countries. It didn't seem so important to me when i was a twelve-years-old lad but now I yearn for the traditional knowledge that he could have passed on and feel poverty-stricken without.

I yearn for it and so do others. Since we are aware of our loss, we owe it to our children to gain what we did not. I do not mean that we should cling to the glories of the past. No. Every generation, every nation, must look for new glories. But what is the best way to achieve tese? The answer, learned in the University of Life, is in balance. Thus, I do not propose that we should return to our cultural past to stay there, but to learn and to discover ourselves in order that we may better meet the challenges of today and tomorrow.

Sedikit pembahasan saya setelah membaca potongan ini:

Bagi saya potongan ini indah sekali. Konsep balance atau kesetimbangan merupakan salah satu konsep favorit saya, baik saat belajar fisika, maupun dalam setiap aspek kehidupan. Tak bisa dipungkiri, banyak sekali ilmu-ilmu sekolahan, termasuk yang saya pelajari yang berasal dari barat. Saya pun tidak anti dengan hal ini. Ilmu bisa dipelajari dari mana saja. Tapi saya sangat menggelisahkan (semoga tidak sampai kejadian yah), anak-anak yang mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri, budaya Indonesia. Geffry, sang penulis, dalam konteksnya di Cook Island menyatakan ketika ia belajar ilmu-ilmu barat di New Zealand, ia sebenarnya kehilangan salah satu kesempatan belajar yang cangat berharga. Ilmu dari ayahnya, tentang bertanam, mencari ikan, membuat pupuk sendiri, menentukan waktu bertanam (dan mencari ikan) dari fase bulan, dan pengambilan keputusan berdasarkan tinggi rendahnya ombak. Geffry menyadari betapa bernilainya pengetahuan yang dimiliki ayahnya, pengetahuan lokal. Bahkan ia menyebutkan mengenai pembuatan pupuk organik, dari sampah, yang sudah dilakukan oleh orang-orang di Cook Island selama bertahun-tahun baru muali dikembangkan oleh negara maju. Saya pun, mungkin termasuk salah satu orang yang tidak sempat belajar mengenai kekayaan berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia. Tapi saya menaruh penghargaan yang sangat tinggi terhadap pengetahuan-pengetahuan ini. Setiap kali ada kesempatan, dengan senang hati saya akan belajar. Geffry juga menekankan bahwa ia tidak anti terhadap ilmu-ilmu dari luar, hanya saja, ketika balance ini tidak ada (tentu saja kini kita banyak didominasi oleh budaya-budaya di luar kita) kita akan kehilangan akar, kehilangan sesuatu yang sangat penting, kita akan asing terhadap budaya sendiri.

Hal lain yang yang ditekankan Geffry dalam tulisan ini adalah mengenai pentingnya mengenal diri sendiri. Ini mirip dengan sebuah quote dalam film Persepolis (2007), yang sangat berkesan bagi saya "Never forget who you are and where you're from". Sewaktu Geffry belajar ke Zealand dan banyak yang mengejeknya. Di zaman ia sekolah (mungkin sampai sekarang), orang-orang yang berbeda seringkali didiskriminasi dan diperlakukan secara tidak adil. Hanya saja, karena Geffry sangat bangga dengan asal usulnya, dengan orang tuanya, kakeknya, neneknya, dan luluhurnya di Cook Island celaan tidak menjadi masalah. Ia mengenali keunggulan budayanya. Saat orang lain mengatakan hal buruk tentang asal-usulnya, ia lebih tahu mengenai budayanya sendiri lebih dari siapapun sehingga tak ada yang bisa mengoyahkannya untuk jatuh. Ia bertahan untuk belajar dalam tekanan karena ia mengenai siapa dirinya. Poin-poin mengenai balance, kearifan lokal, termasuk di dalamnya pengetahuan lokal, dan pentingnya mengenal diri sendiri, sungguh membuat tulisan ini istimewa bagi saya. Bagaimana dengan anda?

Sumber: Voices in a Seashell: Education Culture and Identity
Ed. Bob Teasdale and Jennie Teasdale, UNESCO, 1992

May 31, 2009


Saya salut pada semua teman-teman yang terlibat film cin(T)a, karena berani mengangkat sebuah isu yang kontroversial.

Menurut Samaria, itulah beruntungnya percaya pada yang Maha Kuasa. "There is nothing to loose." Kalau memang jalan terbaik, ya segalanya akan dimudahkan, kalau bukan, ya ya sudah artinya it is not meant to be.

Menonton film cin(T)a saya merasa menjadi lebih kuat dan lebih berani. Selama ini tak banyak yang tahu bahwa sejak tahun 2007 saya diliputi kegelisahan akut karena selama 2007-2008 saya mengadvokasi korban UN. Dan saya melihat ketidakadilan yang begitu sulit saya ungkapkan terkadang. Bahkan ketika bercerita dengan sahabat-sahabat terdekat saya hanya bisa menangis, sehingga kadang mereka tak tahu cerita selengkapnya. Yang tahu bagaimana perasaan saya terutama hanya Mbak Anug, dan Angga yang benar-benar ikut proses advokasi bersama saya. Dan juga Pak Dan, teman konsultasi saya sepanjang tahun. Kami marah, nangis begantian, dengan perasaan tercabik-cabik.

Saya tahu, bahwa saya harus menuliskan apa yang saya lalui. Pengalaman tahun 2007-2008 adalah pengalaman yang sangat unik, dan tidak semua orang merasakannya. Saya juga tahu bahwa pengalaman itu bisa membantu menyuarakan perasaan dan pemikiran banyak orang yang mungkin tak punya kekuatan untuk bersuara. Tapi jujur, kadang saya diliputi rasa takut. Saya takut karena tahu apa yang saya tuliskan sangat kontroversial. Proses melawan ketakutan ini berlangsung cukup lama, saya sempat curhat dengan Mbak Arleen, seorang penulis buku anak, yang menyemangati saya untuk tetap menulis. Dia katakan pada saya, kalau kamu sampai segelisah ini, artinya hal (tulisan) ini memang penting untukmu.

Tadinya bahkan sampai beberapa bulan lalu saya belum berani untuk mengunkapkan pada orang banyak bahwa saya akan menulis buku ini. Saya hanya bercerita pada orang-orang terdekat. Perlahan-lahan saya mengumpulkan kebranian untuk menulis, untuk pasrah, untuk berani untuk menhasilkan sebuah karya, meskipun karya tersebut mungkin akan penuh kontroversi. Doakan saya yah! :)


Saya baru menonton premiere cin(T)a di London. Film ini masih belum diputar di Indonesia, karena masih dalam proses sensorship, maklum isunya cukup sensitif, tentang hubungan beda agama, ras, suku, dan juga kelas.

Kamis malam saya tiba di London, teman saya tempat saya biasa menebeng sedang di luar kota sehingga saya memutuskan untuk menginap di wisma merdeka, tempat menginapnya guru rajut saya, sekaligus penghuni DU65 tempat saya biasa nebeng dulu selama di Bandung, Mbak Danti. Saya sampai London jam 11 malam, belum booking tempat di wisma, saya berharap-harap saya diizinkan masuk.

Ya nomor 44! Ini rumahnya, saya ketuk-ketuk dan saya kaget. Pintu dibukakan oleh wajah yang saya kenal melalui trailer film cin(T)a, sang pemeran utama Sunny Soon. "Mau mencari siapa ya?" katanya dengan suara halus. "Ingin menanyakan ada tempat untuk menginap tidak malam ini di sini." Jawab saya. Untuk pengelola wisma, berbaik hati mengizinkan saya tinggal di sana, asal penghuni yang lainnya tidak keberatan, untungnya penghuni wisma adalah teman-teman saya sendiri, Mbak Danti, Atun, dan seorang teman main saya waktu saya masih kecil, Tantri. Yipiee.. Hehehe.

Well, anyhow, saat saya sampai saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Atun, untuk menanyakan Sali, dalam film ini berperan sebagai apa. Saya ingat, Sali sempat mengemail saya untuk menanyakan kenalan yang bersedia menyeponsorinya untuk datang. Saya menyarankan Sali untuk menghubungi IA-ITB yang menurut Mbak Danti, tidak berhasil. Wah sayang sekali. Atun berkata Sali adalah script writer bersama dengan Samaria (yang saya kenal kemudian karena kami juga sekamar di wisma merdeka). Dan jujur perasaan saya bangga sekali. Sali, bagi saya ada perempuan yang sangat istimewa. Dia dulu teman saya selama di komunitas Taboo. Kami sama-sama mengajar anak-anak Taboo. Dia juga merupakan teman perjalanan saya sewaktu mengunjungi Pak Bahruddin, di 'SMP Alternatif Qaryah Thayibbah', Salatiga. Kami menghabiskan 3 hari berpuasa di sana sambil mengagumi kompor Pak Bahruddin yang terbuat dari Biogas. Di Salatiga saat itu Sali pun tak berhenti bekerja, sampai malam ia tetap mengetik script untuk sebuah stasiun TV swasta. Saya ingat Sali meminta saya mendengarkan kumpulan lagu favoritnya di mp-3 nya, segala jenis musik ada dari instrumental, keras, pop, dan sebagainya. "Banyak orang heran dengan selera musikku, kok kayaknya jenis musik satu ngak nyambung dengan yang lainnya, padahal antar satu musik dengan musik lainnya ada benang merahnya." Saya juga teringat ketika Sali membahas tentang hukum makan kodok dalam Islam, ia mencari tahu hadisnya dari berbagai sumber. Ia membaca banyak sumber, lalu menyimpulkan apa yang dianggapnya paling benar.

Selama nonton film cin(T)a saya tidak bisa berhenti untuk tidak mengenang Sali. Saya sangat menyuka hubungan antara Cina dan Anisa di film itu, saya menyukai bagaimana mereka tersenyum satu sama lain, perasaan yang naik dan turun, perbedaan karakter antara Cina dan Anisa. Manis sekali, bagi saya. Dan saya tidak bisa berhenti untuk mengingat Sali. Sali adalah perempuan yang sangat unik, dan cinta antara Cina dan Anisa pun sangat unik, bukan yang beromantis candle light dinner,kirim-kirim bunga, tapi lebih pada rasa, dan juga pikiran. Lalu ada naik dan turun, emosi yang tertahan, dan terlepaskan. Mencoba berkompromi baik pada pasangan maupun kondisi, walau tak selalu mudah. Manis sekali. dan saya tidak bisa berhenti bertanya, apa Sali juga pernah merasakan hal yang sama, sehingga ia bisa menggambarkan cinta yang sebegitu manisnya?

Adegan terakhir, mengenai sang perempuan yang memilih untuk menikah dengan jodohnya (dijodohkan ibunya), digambarkan dengan mandi kembang (adat Jawa) lalu ada tanda tanya (Amin?) bagi saya juga istimewa. Saya tidak bisa untuk tidak ingat bahwa Sali, meskipun dia perempuan yang sangat modern (menurut saya), merupakan perempuan Jawa. Kenyataannya ada orang-orang yang memilih untuk dijodohkan (atau hal-hal yang dalam budaya barat terlihat aneh, istilahnya kok yah manut aja?), mungkin dipengaruhi budaya. Memang ada budaya-budaya yang tidak selalu menganggap individu merupakan hal yang paling istimewa. Pengabdian pada orang tua, misalnya merupakan hal yang dianggap suci, atau menuruti apa yang diyakini (tidak kawin beda agama), karena benar-benar yakin, sehingga rela mengorbankan cinta pun hal yang wajar juga, meskipun ada yang sebaliknya. Saya sendiri misalnya, meskipun seorang yang bisa dikatakan dididik dalam keluarga yang cukup modern, tetap percaya bahwa restu orang tua adalah hal yang sangat penting dalam melangkah ke langkah selanjutnya (misalnya menikah). Dan itu menariknya film ini. Film ini tidak menyatakan mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Toh ada beberapa potongan hasil wawancara yang menggambarkan orang-orang yang memilih beda agama (meski dalam film ini tokoh utama tidak melakukannya). Dan saya memang paling menyukai model-model film semacam ini. Sebuah film yang hanya bercerita tanpa mendoktrinasi apa yang benar dan apa yang salah. Hanya cerita tentang kegelisahan, apa yang dilihat, apa yang dipikirkan, dan apa yang dirasa. Saya ingat saat diskusi, Samaria, script writter satu lagi bercerita, bahwa adegan ketika Anisa (muslim) merasa sedih ditahun 2000, saat mendengar gereja-gereja di bom, didasarkan pada apa yang di rasakan Sali. Sali, seorang muslim, tapi ia memiliki keluarga yang berbeda agama. Ketika kejadian gereja dibom saat natal. Sali merasa berat sekali, karena jadi cangung kan berhubungan dengan keluarga yang berbeda agama? Ia merasa ia berada di komunitas yang ikut membom orang-orang di gereja. Saat ada umat muslim yang melakukan terorisme, umat-umat muslim lain turut terkena dampaknya, dicap buruk, dicap jahat, padahal banyak juga muslim yang tidak seperti itu, yang bisa hidup damai dengan umat manusia lainnya. (ah tuh kan saya ingat Sali lagi!)

Saya sangat suka film-film yang bukan untuk menjustifikasi benar salah. Apa yang benar atau salah penonton yang menentukan, setelah refleksi. Penonton yang harus dewasa dalam mengambil sikap saat menonton film-film semacam ini. I just love it! Menonton film ini mengingatkan saya pada beberapa film yakni The Class/Entre Les Murs (setting Prancis), Persepolis(setting Iran), dan sebuah film Jepang yang judulnya nobody knows. Kekuatan film-film ini adalah bahwa film-film ini apa adanya, endingnya mungkin tak seindah film-film hollywood, alurnya tidak heroik, hanya cerita, deskripsi secara visual, yang memungkinkan penonton untuk berefleksi terhadap fenomena di sekitarnya, mengingat-ingat, bagian-bagian dalam hidup penonton yang berhubungan dengan film, tertawa atas kegetiran emosi yang dirasa. Film yang membiarkan penonton untuk subjektif dalam menilai apa yang dianggapnya benar atau salah. The ending is not the point, but what we feel during the film is what matters the most. I just love it!

May 28, 2009

Sharing film tentang bullying

Sheito Shokun (bisa dilihat di: merupakan sebuah drama Jepang mengenai bullying. Walau film ini merupakan sebuah drama, what can be called as 'not so real', sebenarnya banyak hal dalam film ini yang merupakan isu-isu yang penting dalam pendidikan.

Film ini awalnya sangat buram, menggambarkan siswa-siswa yang tidak percaya pada guru. Warna film ini begitu gelap, bercerita tentang remaja-remaja yang marah, kejam, dingin, dan juga nakal.

Naoko, seorang guru lulusan universitas kependidikan, baru pertama kali mengajar di sana. Yang menarik adalah bagaimana Naoko dengan penuh kesadaran begitu mencintai profesi keguruan. Ia dianggap berasal dari sebuah universitas yang biasa saja saat ingin mendaftar. Saat ditawari untuk mengikuti kuliah lagi 'demi memungkinkan kenaikan pangkat' (bukan untuk belajar loh), agar kelak ia bisa jadi pejabat di sebuah kementrian pendidikan ia mengatakan, "Saya mau menjadi guru dan memang tidak berharap untuk naik pangkat (di kementrian pendidikan). Ia memang ingin menjadi guru."

Anak-anak dalam cerita ini melakukan bullying, kekerasan, dan begitu banyak hal lainnya. Tapi saat seorang siswa melakukan kekerasan, ia biasanya pernah mengalami kekerasan sebelumnya, atau mungkin ia marah akan hal-hal lain. Ternyata anak-anak yang begitu marah ini pernah dikecewakan sebelumnya oleh orang dewasa, guru mereka sendiri. Saat kelas mereka pergi bertamasya, sang guru pernah meninggalkan mereka sendiri di tengah hutan, dan mengambil makanan dan minuman mereka. Murid-murid tersebut kelaparan selama 2 hari. Sayangnya waktu, mereka menceritakan pengalaman mereka kepada orang tua dan guru mereka, anak-anak ini tidak didengarkan. Yang lebih dipercaya adalah cerita 'versi sang guru', bahwa anak-anak tersebut 'tidak mendengarkan perintah guru' sehingga mereka tersesat. Bagi pihak sekolah yang penting adalah 'image sekolah tidak rusak'. Apa jadinya saat ada berita bahwa sekolah memiliki guru yang tidak bertangung jawab dan membiarkan murid-murid mereka mati kelaparan dan kedinginan di tengah hutan? Belum lagi guru (yang tidak bertangung jawab) ini ternyata adalah putra menteri pendidikan, sehingga image menjadi hal yang jauh lebih penting lagi.

Siswa-siswa begitu kecewa pada orang yang mereka percaya, mereka jujur tapi tidak ada yang percaya. Terutama orang dewasa. Ah bagaimana mereka bisa percaya pada orang dewasa? Kemarahan mereka yang tak didengar mengakibatkan mereka mulai melakukan kekerasan.

Naoko, sang guru yang cantik, mencoba mengenal murid-muridnya. Walau murid-muridnya penuh kemarahan, ia mencoba mendekati murid-muridnya secara personal, mengenali masalah-masalah mereka satu persatu.

Saya sangat suka bagian saat sang guru membela seorang anak yang hampir dikeluarkan dari sekolah. Anak tersebut disarankan untuk sekolah di "free school" yang peraturannya tidak seketat di sekolah formal.

Sang guru mengerti bahwa model pendidikan apapun sah-sah saja, "saya tidak masalah dengan konsep free school, tapi dalam konteks ini saya ingin tetap mempertahankan sang murid di sekolah ini."

Yang Naoko tidak setuju, bukan konsep "free school-nya". Free school hanya sebuah bentuk lain pendidikan, dan boleh-boleh saja. Yang sang guru tidak suka adalah "sifat lipstik" pihak sekolah, bahwa pihak sekolah ingin berpura-pura memindahkan sang murid ke free school tersebut dengan alasan itu adalah jalan terbaik, padahal alasan sebenarnya adalah pihak sekolah ingin menjaga image sekolah yang hampir rusak karena anak tersebut begitu sering bolos (dan hampir diungkap media). "Kepura-puraan dalam pendidikan" adalah salah satu isu yang diangkat dalam film ini yang menurut saya sangat penting, mengingatkan saya akan begitu banyak hal yang sifatnya 'pura-pura'' di sistem pendidikan Indonesia sendiri (ah saya tidak akan membahas detailnya kali ini, cuma kalau ada yang mau berkomentar silakan).

Kembali ke film Shito Shokun, salah satu hal yang menarik dalam film ini adalah bahwa film ini menggambarkan bahwa yang merasa paling tersakiti paling akan menyakiti orang lain. Sang pemimpin kelompok bullying di sekolah ini adalah seorang perempuan. Diantara semua teman-temannya ia yang paling penuh kemarahan. Bahkan ketika semua teman-temannya sudah mulai 'memilih untu tridak melakukan kekerasan lagi', termasuk mengerjai sang guru, perempuan ini masih penuh kemarahan dengan orang dewasa. Ternyata, sang perempuan ini sejak lama sudah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia juga memiliki keluarga yang tidak bahagia. Ibunya terkena penyakit, sehingga tidak ingat bahwa sang perempuan ini merupakan anaknya. Tantenya yang membiayai pendidikan si perempuan dan biaya berobat ibu si perempuan, memiliki seorang anak laki-laki yang lebih tua usianya, sepupu sang perempuan. Ternyata sepupu ini melakukan kekerasan seksual pada perempuan ini. Perempuan ini tak punya tempat mengadu, tidak bisa kabur, dan iya begitu marah.

Naoko, tak menyerah, bahkan dengan muridnya yang tersulit sekalipun. Setelah mengenal murid perempuannya ini, ia berusaha agar murid perempuan ini terselamatkan. Ia berusaha berbicara dengan tante sang murid, dan bahkan sempat 'menampar sang tante' saat ia begitu marah, karena tante ini tidak mau membela sang perempuan (yang menjadi korban kekerasan). Naoko, rela menangung resiko dari perbuatannya. Ia diberhentikan sebagai guru. Yang menarik adalah saat dia berkata pada murid-muridnya, bahwa dia dikeluarkan memang karena kesalahannya sendiri. Ia melakukan kekerasan (menampar), dan bagaimanapun kekerasan adalah hal yang salah.

Film ini menarik, karena mengangkat isu-isu mengenai pentingnya 'berorientasi pada nilai' seperti kejujuran, rasa saling percaya, keadilan, persahabatan, bertangung jawab atas perbuatan yang dipilih (berani mengambil resiko). Film ini juga penting untuk para pengajar untuk belajar bahwa setiap hal pasti disebabkan oleh hal lain. Kalau ada murid kita yang nakal, kenali dulu latar belakangnya, mungkin ada alasan dibalik kenakalannya. Kalau ada murid kita yang melakukan kekerasan, cari tahu dulu dari mana asal usulnya. Walaupun film ini film drama, film ini pantas ditonton oleh siapa saja, terutama oleh para guru, praktisi, dan pengamat dalam pendidikan. Selamat menikmati!

May 27, 2009


Saya masih ingin menjadi seorang guru
Ya, saya ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya
Mungkin saya memang rehat beberapa tahun ini
Mencoba hal-hal lain selain mengajar

Tapi saya ingin kembali menjadi guru
Saya ingin mengajar, bukan dengan kurikulum internasional
Saya ingin mengajar dengan kurikulum nasional
Itu cita-cita saya
dan masih menjadi cita-cita saya
Mengajar sebaik-baiknya dengan kurikulum nasional

May 23, 2009


Seperti biasa..
Detail kehidupan yang begitu mencengangkan

Hidupmu kaya kawan
Seperti dirimu yang begitu unik
Dan aku menyayangimu

Sadarkah kita, betapa banyak keanehan yang kita lalui?
Hal-hal yang mengerikan lalu diakhiri dengan tawa?

Malan-malam yang membuat hati jantungan
Lalu kita tertawa lagi

Selamat melangkah
Dengan berani
Dan bahagia

May 15, 2009

Suka ekstrak ini :)

Di dalam hidup, ada tahap-tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan. Seorang anak belajar untuk tengkurap, duduk, merangkak, dan baru kemudian berjalan dan berlari. Setiap tahap penting dan setiap tahap membutuhkan waktu. Tidak ada tahap yang bisa diloncati.

Hal ini penting dalam setiap aspek kehidupan, di setiap area perkembangan baik ketika belajar bermain piano, berkomunikasi secara efektif, ataupun bekerja dengan associate (perusahaan?). Ini penting bagi individu, pasangan, keluarga, maupun organisasi.

Kita tahu dan bisa menerima fakta mengenai teori mendasar ini di bidang yang besifat fisik, tapi untuk mengertinya dalam area emosi, hubungan antar manusia, dan bahkan pembentukan karakter pribadi, tampak tak biasa, dan lebih sulit. Dan bahkan, saat kita mengerti, untuk menerimanya dan hidup dengannya dalam harmoni lebih tampak tak biasa lagi dan jauh lebih sulit. Akibatnya, kadang kita mencari jalan pintas, berharap bisa meloncati beberapa tahap-tahap penting untuk menghemat waktu dan usaha dan tetap mendapatkan jasil yang diinginkan.

Tapi apa yang terjadi saat kita mencari jalan pintas dari tahap natural dalam pertumbuhan dan perkembangan? Bila kamu hanya pemain tenis yang biasa-biasa saja dan mencoba (berpura-pura) bermain tenis di tingkat yang lebih tinggi untuk terkesan lebih baik, apa hasilnya? Apakah positive thinking saja cukup untuk membuatmu menjadi pemain tenis profesional?

Apa yang terjadi saat kamu meyakinkan teman-temanmu bahwa kamu bisa bermain sebaagai pemain piano di sebuah konser padahal kemampuanmu sebenarnya masih seorang pemain piano pemula?

Sudah jelas. Tentu, sangat tidak mungkin untuk diabaikan (pentingnya berproses). Itu bertentangan dengan hukum alam, dan mencari jalan-jalan pintas hanya berakibat pada kekeceaan dan rasa frustasi.

dalam skala 1 sampai 10, jika saya dalam tingkal dua di bidang apapun, dan mau maju ke tingkat lima, saya harus mengambil langkah pertama ke level tiga.

"Sebuah perjalanan 1000 mile dimulai dengan satu langkah pertama."

(Stephen R. Covey)

May 14, 2009


Jumlah perempuan di dunia ini banyaaak sekali. Dan saya yakin, setiap perempuan punya definisi tersendiri mengenai apa yang disebut 'perempuan'. Walaupun mungkin diantara sekian banyak definisi akan ada kemiripan satu sama lain, pasti juga banyak definisi yang mungkin berbeda atau malah bertentangan satu sama lain. Saya jadi ingat, dulu saya tinggal di sebuah kosan yang isinya hampir semua perempuan. Setidaknya selalu ada 20 penghuni perempuan di kosan itu. Memang hanya 20, tapi dari situ saja sudah bisa terlihat bahwa setiap perempuan unik, dan masing-masing punya definisi tersendiri tentang perempuan. Salah satu teman kos saya, suka mencak-mencak ke saya, bahwa saya kurang cewek banget. Sering malas pakai lotion, ngomong suka ceplas-ceplos, gak ada manis-manisnya. Seroang teman kos saya yang lain, bagi dia juga kurang cewek (bukan ngak cewek loh), mungkin karena gayanya suka judes dan dandanannya mungkin terlihat feminim. Bagi saya, teman saya yang terlihat judes ini, malah yang paling perempuan di antara semua teman kos saya. Bahkan lebih terasa keperempuanannya dibandingkan teman saya yang berpendapat 180 derajat dengan saya. Saya memperhatikan buku-buka bacaan teman saya yang dianggap kurang cewe ini, kebanyakan berhubungan dengan rasa (benar-benar bikin geleng-geleng kalau melihat koleksi bukunya). Bagi saya, koleksi bukunya ini menggambarkan keperempuannya. Ia punya sisi lembut dalam hatinya. Meskipun kalau ngomong langsung dengan teman saya ini, orang-orang cenderung menganggapnya judes, saya tahu perasaanya yang sangat halus, meskipun tidak selalu diungkapkan. Saya tak bermaksud mengatakan definsi saya tentang perempuan lebih baik dari teman kos saya (yang suka mencak-mencak karena saya malas pakai lotion), tapi saya ingin menunjukkan bahwa, bahkan diantara sesama perempuan, definisi ini bisa bertentangan. Tapi kami sama-sama tetap merasa sebagai perempuan.

Di lingkungan yang lain, saya malah hidup dengan sekian banyak laki-laki. Di jurusan saya dulu, teknik mesin. Bayangkan diantara 120 laki-laki, ada 5 orang perempuan. Orang mungkin banyak yang menilai kami ber-lima ini tomboy, dan gak cewek banget. Gaya macho kayak jagoan. Eits.. Tapi sebagai seorang perempuan yang hidup di antara sekian banyak laki-laki, meskipun dengan gaya yang kadang plentang-plenteng, saya sama sekali tidak merasa 'bukan perempuan'. Saya malah merasa sangat perempuan. Saat perempuan menjadi seorang minoritas, kita malah bisa sangat merasakan apa itu menjadi perempuan.

Dan toh, teman-teman pun merasa ngobrol dengan kami para cewe ini tetap berbeda bila ngobrol dengan teman-temannya yang sesama laki-laki. Kami berlima semuanya pernah menjadi tumpahan curhat begitu banyak laki-laki. Curhatan yang mungkin tidak dapat mereka ungkapkan ke teman-teman laki-laki yang lain. Saya ingat seroang teman gelisah karena di sms seorang perempuan. Ia sama sekali tak tahu apa maksud sms perempuan tersebut (maklum bahsa perempuan dan laki-laki tak selalu sama), otomatis ia menanyakannya pada saya, "Ini cewe sebenernya mau bilang apa?" Teman saya tentu menganggap saya perempuan, karena itulah ia meminta pendapat saya, mengenai 'bahasa perempuan' (meskipun bahasa perempuan juga bisa berbeda satu sama lain).

Sebagai 5 diantara 120, orang luar seringkali memandang kami cewe-cewe mesin yang selalu tangguh, kuat, dan tidak perlu pertolongan laki-laki. Justru, bagi kami yang merasakan sendiri menjadi cew mesin, merasa bahwa perempuan-perempuan biologi yang mayoritas jumlah perempuannya lebih banyak jauh lebih tangguh dan macho daripada kami. Kalau mereka naik gunung, mereka ngangkat tas sendiri, buka jalur sendiri. Cewe-cewe mesin juga sih (ngeles) , tapi kalau capai dikit, sudah ada yang bersedia mengangkatkan tas untuk kami (meskipun kalau sekarang dipikir-pikir kasihan juga sih). Cewe-cewe biologi kalau pulang malam sendiri, tak jarang harus pulang sendirian ditengah kegelapan, atau setidaknya reramean bareng teman-teman cewek yang lain. Cewe-cewe mesin selalu dapat bisa tebengan hingga rumah, kalau kami mau. Bahkan tak selalu di malam hari, kadang malah di siang hari. Siapapun bisa kena paksa untuk mengantarkan kami sampai ke rumah, baik kakak kelas, teman seangkatan maupun adik kelas (deuh manjanya dulu maaf yah teman-teman gak bermaksud menyengsarakan). Bagi saya, gaya yang macho, hidup di dunia laki-laki, ketangguhan (ataupun kemanjaan), belum tentu bisa mendefinisikan keperempuanan. Seorang perempuan tetap menjadi perempuan terlepas dia manja, tangguh, hidup di dunia yang kebanyakan perempuan maupun laki-laki, memakai rok bunga-bunga cantik, ataupun jaket yang gagah.

Saya jadi ingat seorang sahabat saya, seorang cewe mesin juga. Soal perbengkelan, set dah jago bener deh. Waktu training menjadi tunner mobil di suatu bengkel, rasa-rasanya teman saya ini lebih jago daripada teman-teman cowo saya yang lain. Hobi naik gunung, bikin robot. Kalau naik motor sama teman saya yang satu ini wes.. rasanya gagah bener, ngebut men! Lebih ngeri dari naik motor sama siapapun termasuk cowo. Tentu, dengan ciri-ciri tersebut, banyak yang akan menilainya sebagai tomboy. Karena saya mengenal sahabat saya ini lebih dekat, saya malah menilai sebaliknya. Dia perempuan banget. Tomboy itu cuma diluarnya. Waktu kuliah dulu, yang ngajak ke salon atau perawatan duluan kadang-kadang dia. belum lagi kalau curhat.. Yah ampun cewe banget (walau sulit diungkapkan, saya punya definisi tersendiri tentang curhatan yang cewe banget beda deh kalau cowo yang curhat), kadang-kadang centil juga (dalam arti yang baik loh centilnya). Perasaannya pun lembut dan sangat sensitif. Meskipun kalau galak yah galak aja. Sampai sekarang, diapun masih bekerja di lingkungan yang berisi sebagian besar laki-laki, di perminyakan, tapi sebagai field engineer (deu.. I am actually still quite curious to know what is it like to be a female field engineer, kayaknya keren gethu meski gak mau juga seumur hidup jadi field engineer). Teman saya ini sampai sekarang masih bekerja belepotan dengan oli. Jauh dari steriotipe perempuan? Mungkin, tapi saya dengar dari rekan kerjanya, fansnya banyaak sekali. Wahaha saya gak heran. Saya selalu menganggapnya cantik dari luar maupun dalam. Tanpa harus menjadi seperti orang lain, tanpa harus menjadi seperti perempuan yang didefinisikan orang lain (sesuai steriotipe perempuan pada umumnya), ia tetap punya magnet yang bisa memikat lawan jenisnya. Ia tetap seroang perempuan. Waktu aku terakhir ketemu dengannya saat kumpul angkatan setahun yang lalu, saya pun merasa teman saya ini is damn fabulous, teman-teman seangkatan laki-laki saya juga merasakan hal yang sama. Malah ada yang ngaku nyesel gak pdkt dari dulu. Wahahaha.

Bila saya harus mendefinisikan apa yang saya maksudkan sebagai perempuan saya mungkin sulit mendefinisikannya secara gamblang, tapi saya akan ingat kejadian-kejadian di mana saya merasa seorang perempuan itu perempuan banget, contohnya sahabat saya, yang juga seorang field engineer (tapi di perusahaan batu bara), bagi saya dia perempuan banget juga. Sahabat saya ini meskipun berani berekspedisi di tengah lapangan antah berantah, pergi sendirian dari satu pulau ke pulau lain, perempuan sekali, karena perasaannya halus sekali. Saya ingat ia menangis waktu ada konflik antar dua golongan di kampus karena hal yang sepele, saya ingat ia menangis ketika mendengar mengenai anak perempuan tuna netra yang diperkosa, saya lihat ia menangis saat melihat ketidakadilan anak-anak di penjara (saat itu ia sujud setelah shalat lama sekali), ia lembut sekali berbicara dengan anak-anak (bahkan sabar terhadap anak kecil, aku kalau anak terlalu kecil juga kadang gak sabar) dan mampu membuat anak-anak yang menangis tertawa dengan ketulusan hatinya, saya lihat ia dengan santai mengendong anak-anak berbaju lusuh dengan kulit hitam-hitam dengan penuh kasih sayang. Bagi saya seorang perempuan, bukan ditentukan dari apakah dia doyan shopping atau ngak, pakai rok atau ngak, ngomongnya halus apa ngak, multi-tasking apa ngak (I found out that I am not multi-tasking tapi aku tetep perempuan kan?), bisa baca peta apa ngak (kayak di buku 'woman can't read maps', who said so? Itu gak ada hubungannya dengan gender, tapi kemampuan visual dan matematik, ya gak sih?). Bagi saya seroang perempuan bukan dilihat dari penampilan luarnya, tapi apa yang ada di dalam hatinya. Kelembutan dan kasih sayang yang berasal dari dalam. Itu definisi perempuan bagi saya loh, kalau definisimu apa?

May 11, 2009


Set dah, kompleks banget sistem pendidikan di Indonesia sejak dulu kala.

Apr 20, 2009

Review Film: "Ikhsan: I Love You Mama"

Awal film ini bikin frustasi karena film ini diawali sebuah adegan seorang guru membentak seorang anak untuk membaca suatu bagian dari suata buku. Bukan hanya itu. Gurunya pun galak tak kepayang. Saking galaknya yang nonton ikut merasa ngeri. Serem.

Bagaimanapun juga, film "Iksan: Mama I Love You" mengangkat teman yang cukup unik, yakni tentang seorang anak yang dyslexsia.

Ikhsan, seorang murid sekolah dasar dua kali ngak naik kelas. Sayangnya, ia tak mendapatkan support yang memadai. Teman-temannya pun sering mengejeknya, mengecapnya bodoh. Guru-guru di sekolahnya pun melakukan hal yang sama. Berulang kali ia di cap bodoh, sehingga tentu, akhirnya ia sendiri menjadi frustasi. Digangu terus-menerus, pada akhirnya Ikhsan terlibat suatu perkelahian dengan kakak kelasnya. Guru dan kepala sekolahnya makin marah tentunya.

Ikhsan begitu sering mendapat nilai nol. Pihak sekolah lepas tangan. Ikhsan, terpaksa harus dikeluarkan.

Di rumah, Ikhsan selalu dibandingkan dengan kakaknya yang selalu berprestasi.

"Ikhsan anak pungut yah?" tanya Ikhsan pada kakaknya.

Ketika ditanya kenapa Ikhsan merasa begitu, ia katakan bahwa ia begitu berbeda dengan kakaknya.

"Kaka bisa membaca buku-buku untuk oreang dewasa ber pre.. pre... prestasi"

Bapak Ikhsan pun menyalahkan Ikhsan atas semua kegagalan akademiknya. Belum bisa membaca, bodoh, malas, main play stasion terus. Ia pun dipindahkan untuk masuk sekolah asrama. Bapak Ikhsan akhirnya memutuskan agar Ikhsan masuk ke suatu asrama.

"Agar dia belajar mandiri dan tidak menjadi manja", begitulah niatnya.

Ikhsan, telah kehilangan kepercayaan diri. Ia merasa tidak diterima oleh keluarga, dibuang.

Ikhsan bertanya pada teman barunya, yang ia kenal di asrama, "Kenapa kamu dibuang ke sini?"

Ikhsan merasa anak-anak yang disekolahkan di situ merupakan buangan, meskipun kenyataannya tidak begitu.

Di sekolah asrama, Ikhsan semakin hari semakin stress. Semua gurunya mencap ia bodoh. Sebagai penonton, saya merasa bagian ini extrem sekali. Masa sih semua guru mengecap seorang anak bodoh?

Pak Harun, guru kesenian yang baru memperhatikan Ikhsan. Ia mampu melihat bahwa tidak ada kebahagiaan di mata Ikhsan. Saat memeriksa kamar Ikhsan, ia menemukan gambar Ikhsan, sebuah komik, berisi gambar Ikhsan dan keluarga. Awalnya tergambarkan bahwa Ikhsan dekat dengan keluarga lalu perlahan jauh, menjauh, sehingga akhirnya hilang.

Sebagai orang yang pernah mengalami masalah yang sama dan sebagai guru yang juga mengajar di sebuah SLB, Pak Harun mengerti apa yang dialami Ikhsan. Ia melakukan pendekatan yang sangat personal. Mulai dari menceritakan tentang orang-orang hebat, yang tidak lancar membaca, berbicara dengan Ikhsan dari hati ke hati dan juga melakukan pendekaan terhadap orang tua Ikhsan.

Saat mendatangi rumah orang tua Ikhsan, Pak Harun meminta bapaknya Ikhsan membaca sebuah tulisan dengan huruf Korea. Bapak dari Ikhsan tentu tidak mengerti. Lalu Pak Harun berkata, "Coba baca lagi." Saat bapak dari Ikhsan menjawab tidak bisa, Pak Harun berkata "Bapak bodoh, Bapak malas, Bapak tidak mau berusaha."

Hal ini dilakukan untuk menunjukan bagaimana perasaan Ikhsan yang sebenarnya. Ia menunjukan buku catatan Ikhsan dan menunjukan kesalahan-kesalahan yang dibuat Ikhsan. Huruf yang terbalik, salah eja. Ia juga menunjukan bukti kerja keras Ikhsan saat menuliskan sebuah kata berulang kali, bukti ia mau berusaha.

Pak Harun, sepenuh hatinya melakukan pendekatan personal kepada Ihsan. Bukan hanya mengajari Ikhsan mengenai huruf-huruf dengan metode khusus, ia juga mencoba membangkitkan percaya diri Ikhsan.

Selain Pak Harun, semua guru-guru di film ini digambarkan sebagai sosok yang galak, tidak manusiawi, kaku, dan tidak berpikiran terbuka. Bagi saya, image guru-guru yang lain ini terlalu ekstrim, walau sosok-sosok seperti ini, mungkin ada di dunia nyata.

Lepas dari segala kekurangannya, film ini menyodorkan sebuah ide yang menarik, dan memuat pesan yang bagus untuk para pendidik, yakni, untuk tidak langsung menjudge seorang anak sebelum kita mengenal mereka lebih dekat.

Untuk menonton film ini bisa melihatnya di :

Sumber Gambar:

Apr 4, 2009

Kejadian aneh-aneh

Kemarin waktu saya bekerja, ada dua kejadian. Yang pertama, ada seorang anak yang giginya copot di tengah pelajaran. Hal ini wajar, karena tentu saja anak seumur tersebut sedang masa-masanya ganti gigi susu menjadi gigi dewasa (kelas 5 SD). Selain ada yang giginya copoy, ada satu anak yang mencoret mukanya sendiri dengan spidol. Saat itu saya tidak memperhatikan kenapa dia mencoret mukanya sendiri, karena saya sedang membantu anak lain belajar. Saat kuajak untuk membersihkan mukanya dia ngak mau karena takut malah bakal 'mbleberi mukanya'. Jadi dia pulang dengan muka belepotan spidol. Eh di jalan saya bertemu dengannya, sedang dijemput ibunya. Ibunya marh-marah tampaknya. Anak ini ketawa-tawa aja lagi. Dasar! Hehehe..

Saya jadi ingat kejadian-kejadian di masa lalu. Waktu saya masih bekerja di sebuah tempat kursus di Bandung, ada satu anak yang cerdasnya luar biasa, tapi suka aneh-aneh. Dia tampaknya 'sedikit luar biasa'. Walau anaknya agak sulit berkonsentrasi, kadang kalau dia datang tiba-tiba kadang dia akan menceritakan fakta-fakta sejarah yang entah dia dapat dari mana. Saat itu dia masih kelas 2 (atau 3 SD) kalau tidak salah. Hehe.. Suatu hari aku memergoki dia membuang ingus di dalam bak mandi. Aneh aneh aja. Oh my!

Sebelumnya saya punya murid lain. Anaknya juga cerdas sekali. Tapi pernah melakukan hal yang aneh, tiba-tiba dia nyemplung ke selokan. Waktu itu dia masih 5 (atau 6 tahun). Ketawa-tawa lagi. Aduh!

Oh yah pernah juga ada kejadian ajaib. Saat di tempat kerja saya di Bandung, pernah ada anak yang sempat kejepit pintu. Walau saat itu katanya sudah tidak sakit lagi, ternyata anak ini kalau sudah menangis, ngak bisa berhenti-berhenti. Jadi saat itu dia menangis selama 2 jam penuh. Saat itu bukan saya yang menangani, karena saya sedang memeriksa PR. Saya malah tidak dengar ada yang teriak-teriak , padahal rekan-rekan saya yang lain semua mendengarnya (Saya cenderung tidak multi tasking, sehingga kalau sedang berkonsentrasi kadang tidak mendengarkan apapun juga). Saat sedang pulang bersama atasan saya, atasan saya bercerita, "Haduh.. denger gak tadi. Si A.. nangis teriak-teriak, 2 jam gak berhenti-berhenti setelah kejepit pintu, padahal katanya tangannya sudah ngak sakit lagi. Saya telepon ibunya katanya mamng begitu anaknya. Kalau nangis, lama sekali berhentinya. Yah sudah untung ibunya akhirnya ngejemput."

Haha.. cerita-cerita di atas membuat saya ingin tertawa. Ada-ada saja memang.