Sep 28, 2010

[KLIPING] What Teachers Make

The dinner guests were sitting around the table discussing life. One man, a CEO, decided to explain the problem with education. He argued, "What's a kid going to learn from someone who decided his best option in life was to become a teacher?"

To stress his point he said to another guest; "You're a teacher, Bonnie. Be honest. What do you make?"

Bonnie, who had a reputation for honesty and frankness replied, "You want to know what I make? (She paused for a second, then began...)

"Well, I make kids work harder than they ever thought they could.

I make a C+ feel like the Congressional Medal of Honor winner.

I make kids sit through 40 minutes of class time when their parents can't make them sit for 5 without an I Pod, Game Cube or movie rental.

You want to know what I make? (She paused again and looked at each and every person at the table)

I make kids wonder.

I make them question.

I make them apologize and mean it.

I make them have respect and take responsibility for their actions.

I teach them how to write and then I make them write. Keyboarding isn't everything.

I make them read, read, read.

I make them show all their work in math. They use their God given brain, not the man-made calculator.

I make my students from other countries learn everything they need to know about English while preserving their unique cultural identity.

I make my classroom a place where all my students feel safe.

Finally, I make them understand that if they use the gifts they were given, work hard, and follow their hearts, they can succeed in life.

( Bonnie paused one last time and then continued.)

Then, when people try to judge me by what I make, with me knowing money isn't everything, I can hold my head up high and pay no attention because they are ignorant. You want to know what I make?

I MAKE A DIFFERENCE.

What do you make Mr. CEO?

His jaw dropped; he went silent.

Source: the Internet via milis SD Islam

Sep 23, 2010

Guru Versus Kepala Sekolah

Seorang teman saya tadinya merupakan seorang guru Biologi di sebuah SMP di daerah Jakarta. Ia menceritakan beberapa metode yang dia gunakan untuk mengajar Biologi kepada saya. Beberapa metodenya sangat menarik. Misalnya, ia menempelkan berbagai jenis gambar makanan di sekeliling kelasnya mulai dari ketoprak, nasi goreng, dan sebagainya. Ia memberikan masing-masing siswanya pensil warna yang berbeda-beda. Lalu secara serentak ia meminta siswanya untuk menuliskan kandungan-kandungan gizi yang ada pada makanan tersebut, misalnya mie mengandung karbohidrat dan sebagainya. Untuk melakukan assessment ia tinggal melihat warna pensil yang digunakan untuk menulis. Ia telah mencatat siapa-siapa saja yang menulis dengan pensil apa.

Untuk menguji apakah siswanya paham mengenai fotosintesis, ia meminta siswanya untuk menerangkan proses fotosintesis melalui gambar dan mempresentasikannya. Ada berbagai jenis gambar. Selain itu ia banyak menggunakan games untuk mengajar.

Sayangnya, kepala sekolahnya tidak mengerti niat baiknya. Menurut kepala sekolahnya. Siswa-siswinya sudah SMP dan tidak perlu belajar menggunakan gambar-gambar yang menarik. “Kalau mau menggunakan metode seperti itu, mengajar TK saja lah!”

Menurut saya, justru karena siswa-siswi tersebut sudah SMP, saat mereka belajar mereka harus memiliki pemahaman akan konsep (sains) dan mampu menerangkannya kembali dengan berbagai cara, termasuk dengan membuat alat peraga sederhana ataupun gambar.

Hal-hal seperti ini bukan hal yang aneh di Indonesia. Kisah seperti di atas bukan kisah pertama yang saya dengar. Saya ingat beberapa tahun yang lalu seorang guru di Garut sempat dipenjara karena beradu pendapat dengan kepala sekolahnya. Guru ini mengubah-ubah tempat duduk di kelas para siswa sehingga membentuk lingkaran agar diskusi lebih hidup dan suasana lebih ramai. Sang kepala sekolah tidak suka. Ntah bagaimana, kasus sesederhana itu bisa sampai ke tangan polisi. Tidak semua kepala sekolah mengerti bahwa suasana kelas yang ramai karena diskusi justru menunjukkan bahwa pembelajaran sedang berlangsung.

Tampaknya untuk menghasilkan suasana belajar yang memadai, bukan hanya diperlukan guru yang berkualitas tetapi kepala sekolah yang mengerti apa yang dimaksud dengan ‘belajar’, tentunya belajar dalam arti sesungguhnya.

MODUL 1.1 – BESARAN DAN SATUAN (1)- PENGENALAN BESARAN DAN SATUAN - FISIKA KELAS 7

MODUL 1.1 – BESARAN DAN SATUAN (1)- PENGENALAN BESARAN DAN SATUAN - FISIKA KELAS 7

Santi membeli satu botol air mineral di warung. Volumenya 1 liter.

Dari kalimat di atas, ada istilah volume. Dalam fisika, volume termasuk salah satu contoh dari besaran. 1 menunjukkan nilai volume air tersebut. Sedangkan satuan air dalam kalimat di atas dinyatakan dalam nilai.

Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, memiliki nilai yang biasa dinyatakan dengan angka, serta memiliki satuan.

Pengukuran merupakan salah satu ilmu paling mendasar dalam ilmu pengetahuan alam. Ada berbagai jenis alat ukur termasuk yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kita memasak di dapur, kadang kita memerlukan gelas ukur untuk menakar volume air, minyak ataupun terigu.

Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mengenal berbagai jenis besaran, beserta satuan dan alat ukurnya.

Mari kita baca kisah di bawah ini, dan lihat apakah kamu bisa mengidentifikasi besaran-besaran yang ada di dalam kisah di bawah ini. Ada besaran apa saja? Beraa nilainya? Apa satuannya? Dan apa alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran tersebut?

ANISAH TERKENA DEMAM
Anisah terbangun dengan tubuh mengigil. Memang di luar sedang hujan. Kalau hujan, memang udara sering terasa dingin. Meskipun begitu, Anisah merasa bahwa tubuhnya mengigil bukan hanya karena cuaca sedang hujan tetapi karena ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasa mual. Ia menyentuh kepalanya. Panas.

“Ibu, kayaknya tubuh Anisah panas deh,” katanya pada ibu. Ibu pun menyentuh kepala dan leher Anisah. Benar, panas.

“Coba kita ukur temperatur tubuhmu dengan termometer,” kata ibu sambil meletakkan sebuah termometer di ketiak Anisah.

“Ini lihat, temperatur tubuhmu mencapai 39° C,” kata ibu terlihat sedikit khawatir
“Coba minum air putih yan banyak. Biasanya meminum air putih yang banyak bisa membantu menurunkan temperatur tubuh,” kata ibu sambil meletakkan 1 liter air di meja sebelah tempat tidur Anisah Sudah 3 jam berlalu. Suhu tubuh Anisah masih panas, akhirnya ibu menyimpulkan bahwa sebaiknya mereka pergi ke dokter.

“Dokter Dinda membuka praktek sekitar 36 kilometer dari sini ayo. Ibu akan mengantarmu ke sana,” kata ibu.

Anisah dan ibu masuk ke dalam mobil. Ibu yang menyetir. Tetapi, ternyata jalanan cukup padat. Ibu mengintip speedometer. Kecepatan mobil hanya berkisar antara 20 sampai 30 km/jam. Ternyata dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke tempat praktek dokter Dinda. Sampai di sana, seorang perawat menyapa Anisah, “Sebelum menemui dokter Dinda, mari kita ukur massa dan tinggi badanmu.”

Anisah menaiki timbangan. Massa tubunya 45 kg dan tinggi tubuhnya 110 cm. Wah ia sudah bertambah tinggi.

“Anisah, silakan masuk,” sang perawat mempersilakan Anisah masuk ke ruang praktek Dokter Dinda. Dokter Dinda melakukan pemeriksaan dengan seksama dan mengajukan beberapa pertanyaan. Menurut dokter, Anisah mengalami infeksi saluran pencernaan. Ia menuliskan resep. Ada dua jenis obat. Yang satu berupa kapsul yang harus diminum 3 kali dalam sehari dan yang satunya lagi berupa obat cair. Anisah harus meminumnya 2 kali sehari dengan takaran 5 ml sekali minum.

“Mudah-mudahan lekas sembuh yah,” kata dokter saat Anisah dan Ibu pamit untuk pulang.


Dari cerita di atas, besaran apa saja yang kamu temui? Apa satuannya? Adakah alat ukurnya? Kalaupun ada apakah alat ukurnya?

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mengisi tabel berikut :
BESARAN NILAI SATUAN ALAT UKUR
Temperatur 39 °C Termometer

Sep 15, 2010

Apakah Pembelajaran IPS di Sekolah Dimulai Dari Hal-hal yang dekat dengan Kehidupan Siswa?

Apakah Pembelajaran IPS di Sekolah Dimulai Dari Hal-hal yang dekat dengan Kehidupan Siswa?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/15/apakah-pembelajaran-ips-di-sekolah-dimulai-dari-hal-hal-yang-dekat-dengan-kehidupan-siswa/

Lebaran ini, om saya berkunjung ke rumah. Ia bercerita bahwa ia kini aktif di di Komite Sekolah putrinya. “Rajin sekali,” kataku.

“Mau bagaimana lagi,” katanya, “Bulliying di sekolah tersebut sangat parah. Yah saya pikir para orang tua harus ikut berperang mengurangi itu.”

Saya merupakan alumni sekolah tersebut dan saya tahu betapa parahnya kasus bullying dan tawuran di sana. Sebagai seorang murid, saat itu, saya tidak tahu bahwa kasus-kasus tersebut sangat parah baru setelah saya lulus dan terutama mempelajari dunia pendidikan saya menyadari bahwa apa yang terjadi di sekolah saya dulu bukanlah hal yang wajar.

Saat saya baru masuk SMU, seorang kakak kelas saya meninggal karena tertusuk saat ada tawuran. Kakak kelas saya merupakan siswa baik-baik. Saat ada tawuran, ia terjebak di dalamnya karena tidak tahu harus bertindak apa, sedangkan siswa-siswa yang ‘bandelnya’ sudah lebih sigap dan cekatan dalam menghadapi tawuran. Ia menjadi korban. Ibunya datang ke sekolah untuk menasihati para siswa agar tidak terpancing amarah atas kematian putranya terutama dalam bentuk serangan ke sekolah lain karena tidak akan memperbaiki suasana.
Saya juga sudah biasa melihat darah menetes keluar dari kepala karena teman saya terkena lemparan baru. Bukan hal baru. Wajar saja.

Obrolan saya dengan om saya sampai pada pembahasan pendidikan IPS di sekolah. Saya sendiri dulu paling malas belajar IPS. Saya hampir tidak pernah belajar Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan bahkan PPKN dengan baik. Saya termasuk anak yang terkena doktrinasi bahwa segala yang sifatnya ke-IPA-an atau ke-Matematika-an lebih baik. Tentu saja, seiiring dengan waktu, dan berkat pembelajaran mengenai ilmu pendidikan saya belajar bahwa asumsi ini salah. Matematika dan IPA bukanlah segalanya. Ilmu-ilmu sosial, seni dan humaniora justru salah satu aspek penting dalam pendidikan apalagi kalau kita mengaitkan ilmu-ilmu sosial tersebut dengan fenomena di sekitar kita.

Saya jadi teringat kunjungan saya ke WaldorfSchool. Seperti halnya, Piaget dan Montesori, Steiner, pendiri Waldorf School percaya bahwa anak memiliki tahapan-tahapan perkembangan tertentu. Anak-anak remaja misalnya, dipercaya berada dalam fase-fase yang cukup ”rebelious” tetapi keinginan untuk “rebel” tidak selalu dapat tersalurkan dengan baik. “Saat anak-anak remaja, itulah saat yang tepat untuk mempelajari revolusi-revolusi di seluruh dunia, ” kata seorang guru di Waldorf School pada saya.

Pelajaran IPS seharusnya bisa menjadi pelajaran yang bagus untuk berefleksi mengenai apa yang terjadi di sekitar. Bagi seorang siswa, ada banyak fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya, termasuk diantaranya peristiwa seperti bullying dan tawuran. Bagaimana caranya agar pelajaran IPS yang ada di sekolah mampu dihubungkan dengan berbagai peristiwa ini? Bagaimana siswa bisa diajak untuk kritis melihat fenomena-fenomena ini ? Bagaimana caranya agar pelajaran-pelajaran IPS bisa membuat siswa mampu berefleksi terhadap apa yang terjadi disekitarnya sehingga akhirnya mampu memilih sikap terbaik yang perlu diambilnya? Adakah yang salah dengan pendidikan IPS di Indonesia ? Kenapa fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, jarang sekali dijadikan bahasan dalam pelajara-pelajaran IPS dimana bisa ada diskusi-diskusi yang hidup di dalam kelas? Kenapa teori-teori yang dipelajari dalam berbagai pelajar IPS tidak dikaitkan langsung dengan fenomena yang dekat dengan siswa sehingga akhirnya mampu menyentuh hati siswa? Apakah hal-hal seperti bullying, tawuran, dan sebagainya terkait dengan pembelajaran IPS yang sangat formalistis yang terjadi di sekolah?

Begitu banyak pertanyaan yang timbul di kepala saya. Saya belum bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, apalagi saya memang bukan guru IPS. Meskipun begitu saya teringat bahwa pelajaran IPS yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia sifatnya sangat formalistik, setidaknya yang saya pelajari di sekolah dulu. Saya tidak bisa merelasikan apa yang saya pelajari di pelajaran IPS dengan apa yang terjadi di sekitar saya, di masyarakat.
Saya jadi teringat sebuah yang diambil dari sebuah cerpen karya Jhumpa Lahiri berjudul When Mr. Pirzada Came To Dine. Di dalam cerita tersebut ada cuplikan mengenai seorang siswi bernama Lilia yang sedang belajar di Amerika Serikat. Lilia ini merupakan imigran dari India. Di dalam cerita tersebut digambarkan bahwa ia bisa dikatakan cukup ‘buta’ dengan apa yang terjadi di negara asalnya padahal saat itu India dan Bangladesh baru saja berpisah. Ayahnya sampai bertanya pada Lilia, “Apa yang kamu pelajari di sekolah? Apa yang kamu pelajari tentang dunia?” Lengkapnya cuplikan dalam tulisan tersebut sebagai berikut :

My father rapped his knuckles on top of my head. “You are aware of the current situation Aware of East Pakistan’s fight for soveignty”

I noded, unaware of the situation.

We returned to the kitchen, where my mother was draining a pot of boiled rice into colander. My father opened up the can on the counter and eyed me sharply over the frames of his glasses as he ate some more cashews . “What exactly do you study at school? Do you study history? Geography?”

“Lilia has plenty to learn at school,” my mother said. “We live here now, she was born here.” She seemed genuinely proud of the fact, as if it were reflection of my character. In her estimation, I knew, I was assured a safe life, an easy life, a fine education, every opportunity. I would never have to eat rationed food, or obey curfews, or watch riots from my roof-top, or hide neighbours in water tanks to prevent them from being shot, as she and my father had. “Imagine having hto place her in a decent school. Imagine her having to rad during power failures by the light of kerosene laos. Imagine the pressures, the tutors, the constant exams.” She ran her hand through her hair, bobbed to a suitable length for her part-time job as a bank teller. “How can you possibly expect her to know about Partition Put those nuts away.”

“But what does she learn about the world?” My father rattled the cashew can in his hand. “What is she learning?”

We learned amerian history, of course, and American geography. That year, and every year, it seemed, we began by studying the Revolutionary War. We were taken in school buses on field trips to visit Plymouth Rock, and to walk the Freedom Trail,and to climb to the top of the Bunker Hill Monument. We made dioramas out of coloured construction paper depiciting George washington crossing the choppy waters of the Delaware Rive, and we made pupets of King George wearing white tights and a black bow in his hair. During tests we were given blank maps of thirteen colonies, and asked to fill in names, dates capitals. I could do it with my eyes closed. (Lahiri, 2000, h.26-27)


Lilia buta terhadap fenomena sosial negara tempat kelahiran kedua orang tuanya. Tetapi ia merupakan seorang imigran yang sedang belajar di negara lain. Pelajaran IPS yang ia pelajari di sekolahnya seakan-akan tidak terkait dengan apa yang dialami di negaranya. Ia tidak tahu tentang pemisahan India dan Bangladesh. Ia tahu sedikit sekali tentang negaranya, tentang masyarakatnya, tentang lingkungannya, dan juga kehidupan sosialnya. Pembicaraan di atas, membuatnya ingin tahu lebih banyak mengenai negara asalnya. Saat ia mendapatkan tugas untuk mencari bahan-bahan di perpustakaan untuk memenuhi tugas sejarahnya ia mulai membuka buku tentang India. Sayangnya sang guru, tidak peka terhadap rasa ingin tahunya. Tugasnya tidak menyangkut pembelajaran mengenai India. “Tidak ada gunanya kamu membuka buku tersebut sekarag,” kata gurunya. Gurunya tidak tahu, bahwa rasa ingin tahunya terjadi karena apa yang ingin dipelajarinya kini sangat dekat di hati Lilia. Hal tersebut dibambarkan oleh Lahiri sebagai berikut :

No one at school talked about the war followed so faithfully in my living room. We continued to study the American Revoltion, and learned about injustices of taxation witout representation, and memorized passages from the Declaration of Independence. During recesss the boys would devide into groups, chasing each other wildly around the swings and seesaws, Redcoats against the colonies. In the classroom our teacher, Mrs. Kenyon, pointed frequently to a map that emerged like a movie screen from the top of the chalkboard, charting the route of the Mayflower, showing us the location of the Liberty Bell. Each week two members of the class gave a report on a particullar aspect of the Revolution, and so one day I was sent to the school library with my friend Dora to learn about the surrender at Yorktown. Mrs. Kenyon handed us a slip of paper with the names of three books to look up in the card catalogue. We found them right away, and sat down at a low round table to read and take notes. But I could not concentrate. I returned to the blond-wood shelves, to a section I had noticed labeled “Asia.” I saw books about China, India, Indonesia, Korea. Eventually I found a book titled Pakistan: A Land and Its People. I sat on a footstool and opened the book. The laminated jacket crackled in my grip. I began turning the pages, filled with photos of rivers and rice fields and men in military uniforms. There was a chapter about dacca, and I began to read about its rainfall, and its jute production. I was studying a population chart when Dora appeared in the aisle.

“What are you doing back here? Mrs. Kenyon’s in the library. She came to check upon us.”

I slamed the book shut, too loudly. Mrs. Kenyon emerged, the aroma of her parfume filling up the tiny aisle, and lifted the book by the tip of its spine as if it were a hair clinging to my sweater. She glanced at the cover, then at me.

“Is this book a part of your report, Lilia?”

“No, Mrs. Kenyon.”

“Then I see no reason to consult it,” she said, replacing it in the slim gap on the shelf. “Do you”

(Lahiri, 2000, h.32-33)


Narasi di atas menyentuh hati saya. Ntah apa rasanya bila saya menjadi Lilia. Sesuatu sedang terjadi di negaranya. Perang saudara katanya. Setiap malam keluarganya dan seorang tamu, Bengali selalu membahasnya. Tapi apa yang dipelajari di sekolahnya jauh sekali dari ketertarikannya. Salah satu teori pembelajaran yang sangat berpengaruh pada saya hingga saat ini adalah bahwa hal terpenting adalah memulai pembelajaran dengan hal-hal yang dekat di hati siswa. Ini akan menanamkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan belajar. Saat siswa sudah mulai mencintai belajar, ia dengan mudahnya akan belajar apapun. Ia akan menjadi pembelajar sejati. Apakah pembelajaran IPS di Indonesia sudah dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan siswa? Mari kita bahas bersama-sama.

Sumber: Lahiri, Jhumpa. (2000) When Mr. Pirzada Came To Dine, in Interpreter of Maladies.London : Flaminggo

Sep 14, 2010

Guru Bukan Robot

Guru Bukan Robot

Oleh Dhitta Puti Sarasvati


… Education inevitably creates friction regarding aims, priorities and control. We should not deplore this, but rather welcome this debate, because it confirms that some educators are thinking about their roles, not simply doing what they are told (Jeffs 2001 in Linda and Wolf (Eds.), p.36)

Saat saya sedang membaca kalimat di atas, saya langsung teringat obrolan saya dengan beberapa guru sekolah negeri. Saat itu sedang ada acara mengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kementerian Pendidikan mengenai apakah RSBI telah dikomersialisasikan. Saat itu saya sudah mendengar bahwa banyak sekolah RSBI memungut biaya hingga puluhan juta rupiah. Sekolah-sekolah ini merupakan sekolah negeri. Tadinya saya sempat hampir menyalahkan pihak sekolah karena melakukan pungutan-pungutan semacam ini tetapi ketika saya mendengar curahan hati seorang kepala sekolah bahwa ia mendapat paksaan dari pusat untuk memenuhi beberapa persyaratan agar sekolahnya dapat menjadi RSBI (termasuk memperbaiki berbagai fasilitas dan sebagainya). Sekolah tersebut ditunjuk langsung oleh pusat dan syaratnya ditentukan oleh pusat. Meskipun pemerintah telah memberikan berbagai bantuan dana, ternyata untuk memenuhi semua syarat yang ditentukan oleg pemerintah biaya yang diperlukan masih sangat besar dan sekolahpun kebingungan dari mana harus mencari dana, “terpaksa kami memungut bayaran dari siswa,” katanya pada saya.

“Kami ditunjuk oleh pemerintah dan diminta segera memenuhi syarat,” tambahnya pada saya menggambarkan bagaimana kebijakan pemerintah, seperti sebelumnya selalu bersifat top-down tanpa adanya proses assessment mengenai kebutuhan dan kapasitas sekolah.

Saya pernah menjadi seorang guru di sebuah madrasah dan mengerti sekali dilemma yang dihadapi seorang guru. Seringkali guru harus berbenturan dengan berbagai kepentingan termasuk diantaranya kepentingan penguasa, kepentingan pasar kerja, dan berbagai kepentingan lainnya yang tidak selalu sejalan dengan berbagai filosofi pendidikan. Banyak diantara kita yang tidak setuju pada Ujian Nasional (UN) karena kita memaknai proses belajar lebih luas daripada sekedar untuk mengikuti sebuah ujian.

Saya misalnya, lebih berpegang pada prinsip assessment for learning. Apapun bentuk sebuah assessment termasuk diantaranya ujian harus digunakan untuk merancang program pembelajaran yang terbaik untuk siswa di kemudian hari. Binet misalnya, saat pertama merancang test IQ , ia memang menilai kemampuan siswa tetapi hal ini digunakan agar siswa-siswa yang memiliki IQ di bawah rata-rata bisa memperoleh pendidikan yang lebih khusus, sehingga kebutuhan mereka terpenuhi. Ujian Nasional tidak digunakan untuk tujuan ini (merancang program terbaik untuk siswa). Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan assessment yang saya percaya. Sebagai seorang pendidik, terutama di sekolah formal, mau tidak mau saya harus berhadapan dengan berbagai keputusan yang dbuat oleh pemerintah yang menyangkut kinerja saya. Meskipun begitu, saya percaya bahwa saya memiliki hal untuk merefleksikan kembali berbagai kebijakan yang menyangkut dunia pendidikan, pendidik, dan siswa. Meskipun saya harus mengajarkan siswa saya menghadapi berbagai realita yang ada dalam dunia pendidikan, saya merasa saya perlu menggunakan akal pikiran saya untuk menganalisa dan mengkritisi berbagai situasi dan kebijakan pendidikan yang dibebankan kepada saya, setidaknya melalui tulisan dan juga diskusi.


Meskipun untuk menjadi seorang pendidik [professional] diperlukan berbagai penguasaan ilmu pengetahuan (teruutama bidang studi yang diajarkan) serta berbagai keterampilan lainnya seperti kemampuan menggunakan teknologi (termasuk di antaranya ICT), kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan numeracy dan literacy, tetapi itu saja tidak cukup.

Bagi saya salah satu keterampilan yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah kemampuan untuk berpikir kritis dan mempertanyakan berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita, mulai dari fenomena yang paling sederhana yang terjadi di sekitar kita, misalnya di lingkungan kelas atau sekolah hingga isu-isu yang lebih besar termasuk berbagai isu nasional dan internasional, tentu termasuk diantaranya mengenai berbagai kebijakan pemerintah mengenai pendidikan. Hal tersebut berhubungan langsung dengan pendidik dan siswa. Kepedulian terhadap berbagai isu mengenai kebijakan pendidikan menunjuka bahwa kita, para pendidik sangat peduli terhadap apa yang akan dihadapi oleh siswa. Apa efeknya sebuah kebijakan terhadap proses pembelajaran di sekolah Bagaimana sikap kita seharusnya? Seorang pendidik yang baik pasti akan khawatir apabila suatu kebijakan hanya dijalankan untuk kepentingan penguasa ataupun bisnis. Bagi seorang pendidik yang paling utama adalah kepentingan siswa.

Menurut saya, seorang pendidik, harus mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis dan kemampuan untuk bertanya, mencari, berefleksi, terus bertanya, dan berpikir. Seorang pendidik mungkin saja harus terlimitasi oleh berbagai kebijakan dan aturan yang mengekangnya, tetapi seorang pendidik tidak boleh terkekang pemikirannya. Ia harus bebas dalam menggunakan pemikirannya yang bisa dituangkan melalui tulisan, diskusi, dan tentunya lebih baik lagi diaplikasikan. Seroang pendidik harus menggunakan segenap pemikiran dan hati saya untuk memaknai segala yang terjadi disekitar. Kemampuan untuk menggunakan pemikiran saya untuk mencari makna merupakan salah satu roh yang paling utama bagi seorang pendidik, tentunya ditambah rasa cinta terhadap ilmu, profesi, maupun siswa-siswinya.

Sumber:

1) Jeffs, Tony. First lessons : historival perspectives on informal education in Richardson, Linda Deer and Mary Wolfe. (2001). Principles and Practices of Informal Education: Learning Through Life, Routledge, Oxon : 2001

2) IQ Tests : Where Does It Come From, http://iq-test.learninginfo.org/iq01.htm

Sep 13, 2010

di atas mobil yang berlalu lalang

Sebuah sms masuk, "ngemol yuk!" Saya sedang berjalan-jalan dengan keponakan saya yang cantik menemani ibunya mencari pakaian anak2x.. Sore itu tak banyak acara tentu saya iyakan. Saya merindukan mereka dan sedang pundung karena acara kumpul2x di bulan Ramadhan batal berulang kali.. Setiap tahun memang begitu. Ribut mengurusi acara bertemu karena maunya semua datang tapi tak pernah bisa. Kali ini hanya kami berempat, saya Indri, Dana dan Iqbal.

Saya akan selalu ingat Ramadhan terindah saya bersama mereka. Rasanya kami saat itu ber-15 mungkin lebih. Kami baru memulai kehidupan baru setelah 3 tahun yang selalu bersama lalu dipisahkan oleh berbagai kota. Kami duduk dalam sebuah lingkaran. Setelah makan dan shalat magrib kami duduk dan bercerita tentang perkembangan kami masing-masing, hal-hal baru yang kami temui, dan doa serta harapan kami. Kami bergantian bercerita mengikuti urutan dalam lingkaran. Rasanya 4 jam lebih habis untuk berganti cerita dan doa. Bagi saya malam itu seperti merasakan Lailatul Qadar ntah betul atau tidak yang jelas saya pulang dalam keadaan paling damai. Malam yang sangat indah. Senang memiliki teman2x yang menemani dalam masa2x menuju kedewasaan.

Malam itu rasanya tak bisa ditolak. 2 tahun terpisah adalah waktu yang lama untuk tak bertatap muka. Kami bicara tentang kejadian2x yang terlewat, masa-masa yang kelam yang berhasil dilalui, rasa percaya, kesempatan, dan bagaimana bisa berbahagia dalam sederhana. Kami berbicara tentang bagaimana waktu bisa menjadi pendidik terbaik dan proses dan penerimaan dan proses dan menentukan pilihan. 4 jam kemarin rasanya berlalu begitu saja. Tapi cukup untukku setidaknya sat ini.

Sep 11, 2010

Perempuan

Mengapa kau menatapku sambil menangis?
Mengapa matamu memancarkan luka?

Kau ingat dia, katamu
Yang mampu menyelami isi hatimu

Sep 9, 2010

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?

Restorative practices dalam lingkungan persekolahan: Pernahkah anda menggunakannya?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

“Plak,” suara keras berbunyi. Saya menoleh. Teman saya, seorang siswi sedang menampar seorang siswa. Saat itu sedang sore. Masih ada beberapa siswa-siswi masih ber-ekskul ria dan saya sedang berdiri memandangi kegiatan-kegiatan yang masih berlangsung di sekolah. Saya selalu mencintai suasana sore hari di sekolah saya.
Ternyata tak lama kemudian, ntah bagaimana kejadiannya saya sudah berada di sebuah ruang besar bersama teman-teman seangkatan saya. Saya mulai paham apa yang terjadi. Telah terjadi sebuah kekerasan seksual di sekolah kami. Seorang siswa laki-laki ntah bagaimana masuk ke kamar mandi putri dan merekam teman saya dengan sebuah kamera. Hasilnya ditunjukkan ke beberapa siswa-siswa laki-laki lain. Bagi mereka saat itu mungkin lucu, tidak bagi kami siswi. Di sebuah ruang besar, mungkin ada lebih dari 50-an siswa-siswi berkumpul. Kami saling mengungkapkan pendapat. Menyatakan bahwa kami tidak hormat pada sikap yang dilakukan oleh siswa laki-laki. Siswa laki-laki si sekolah saya cukup terkenal dengan kekompakannya. Tetapi dalam hal ini, kekompakannya bukanlah hal yang positif. Menyebarkan suatu rekaman yang mempermalukan teman sendiri ke sesame siswa laki-laki. Kami berdialog. Siapapun yang berada dalam forum itu saling mengungkapkan pendapatnya. Kami mendengarkan bagaimana sebuah proses yang cukup menyakitkan ini bisa terjadi. Kenapa bisa terjadi? Bagaimana sikap kami terhadap kejadian tersebut. Apa yang kamu setujui dan tidak. Bagi yang merasa bersalah, pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Kami pun membahas bagaimana kami bisa memperbaiki sikap dan hubungan antar kami semua.


Ntah kenapa saat saya mempelajari mengenai restorative practice sebagai sebuah praktek yang bisa digunakan di sekolah saya mengingat kejadian tersebut. Menurut mark Le Messurier, restorative practice didefinisikan seperti berikut :

Restorative practice is a contructivist learning-based process that distinguishes between managing behavior and managing relationships. Based on the principles of restorative justice, restorative practices assume that the best way to deal with a problem is to teach individuals how to discuss, listen, share, and exchange ideas about it.(Messurier, 2010, h.32)
Spirit yang bersifat restoratif dijelaskan sebagai berikut :
The restorative spirit rejects poor behavior, but endavours to understand it, repair the problem and find agreement on what needs to happen to make things better. The needs of those who have been harmed are central in these decisions. Those who caused harm are enabled to make amends and find a way to continue their positive engagement in school life (Moxon et al. 2006 dikutip dalam Messurier, 2010, h.32)


Sedangkan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah restorative practice dijelaskan sebagai berikut :

The restorative message to those who have behaved inappropriately is ‘You’re okay, but that behavior isn’t’. This is a world apart from the traditional disciplinary message ‘You’ve acted badly, so now you will be treated like a bad person’. Mistakes ad wrongdoings are seen through the lens of how they affect others, and consequences always focus o what needs to happen to mend the harm caused. Those who have caused a problem are encouraged to show care and take responsibility. The group (including the teacher) also commits to reaccepting the wrongdoer once they have acted to right their wrongs. (Messurier, 2010, h.32)


Ada beberapa cara dalam melakukan restorative practice diantaranya disebutkan dalam website http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm, yakni :

1. Restorative enquiry, the starting point for all restorative processes involving active non-judgmental; listening. The process can be used with one person to help them reflect on a situation and find ways for forward for themselves. It also useful before and during face-to-face meetings.

2. Restorative discussion in a challenging situation, often between a more and less powerful person. Skills include expressing and listening for feelings and needs, and understanding why each has acted the way they have.

3. Mediation - useful when both X and Y belive the other person is the cause of the problem. The mediator remains impartial, and helps both sides to consider the problem as a shared one that needs a joint solution. Can be offered by trained students, who act as peer mediators

4. Victim/Wrongdoer mediation - useful when someone acknowledges they have caused harm* to another person and both sides agree to see how the matter can be put right, with the help of an impartial mediator

5. Using Circles, for team building and problem solving, enables a group to get to know each other and develop mutual respect, trust and concern

6. Restorative conference, involving those who have acknowledged causing harm meeting with those they have harmed, seeking to understand each other's perspective and coming to a mutal agreement which will repair the harm as much as possible. Often all sides bring supporters, who have usually been affected, and have something to say from a personal perspective.

7. Family Group Conference - useful when a plan is needed to provide support to a young person, or their family in making changes. Family Group Conferences are converted in neutral venues by independent co-coordinators. The meeting involves three stages. It starts with professionals sharing information with family members and providing consultancy on options for future help. Then the family members have private time on their own to discuss and deliberate, and come up with a plan for a way forward to help the child's situation. At the end of the meeting key professionals return with the coordinator to hear and record the family plan and make arrangements for monitoring and review. This process can be preceded by a restorative element where appropriate.


Menurut saya proses yang terjadi ketika saya sekolah dulu disebut restorative conference. Teman saya yang menjadi korban dari prilaku teman yang lain saling bertemu, ditambah dengan teman-teman lainnya dan saling mendiskusikan pendapat mengenai kejadian yang terjadi.

Proses restorative practice seingat saya diterapkan oleh AS. Neil dalam sekolahnya yang disebut Summerhill School. Siswa-siswinya dibiasakan untuk mendiskusikan masalah dan membahas apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Para guru yang menggunakan metode ini biasanya percaya bahwa apapun yang terjadi di sekolah menggambarkan kualitas hubungan antar manusia di sekolah tersebut… Mereka akan selalu bertanya apakah sikap saya dalam menegakkan disiplin mensupport adanya relasi antar anggota komunitas sekolah ataukan menghancurkan hubungan tersebut (Messurier, 2010, h.32). Apakah teman-teman guru pernah menggunakan restorative practice misalnya dalam menyelesaikan konflik? Kalau pernah, share yah pengalamannya.. Saya ingin belajar.

Sumber :
1) Messurier, Mark Le. (2010). Teaching Tough Kids : Simle and proven strategies for student success. Ocon : Routledge
2)http://www.transformingconflict.org/Restorative_Approaches_and_Practices.htm

** Bagi yang merasa merupakan tokoh dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Saya hanya menggunakannya sebagai contoh untuk memahami apa yang dimaksud dengan restorative practice. Salam damai.

Sep 6, 2010

Jawab

Dia menjawabku dalam detik-detik kepasrahan
Saat tak ada yang jelas
Dan dunia seakan runtuh
Hingga tenang datang

Dia menjawab dalam usaha yang masih belum utuh
tapi penuh tanya
di waktu paling tepat bagi diri

Dalam degup jantung yang terus berkibar
Berharap penuh dia menjawab takut yang telah membatu
Menjadi damai

Berbagai bahasan mengenai pendidikan karakter: mencari akar kebingungan

Sudah hampir dua bulan saya berkutat dengan pembelajaran mengenai diskusi karakter. Awalnya karena saya diminta mengkritisi kebijakan pendidikan untuk tahun 2011 yang menyatakan salah satu program terbaru pemerintah adalah mengenai pendidikan karakter.

Terus terang, meskipun saya mengerti bahwa yang membedakan pendidikan (education) dengan pengajaran (training) adalah bahwa dalam pendidikan ada yang disebut penanaman value, tetapi sungguh pendidikan karakter yang diusung oleh pemerintah membuat saya bingung. Bagi saya pibadi, meaningless. Kenapa? Saya belum bisa menjawab.

Saya tidak menampik pentingnya pendidikan karakter, tapi masih ada yang belum sreg dalam hati saya mengenai pendidikan karakter yang diusung pemerintah. Sampai sekarang saya mesih belum bisa mendefinisikan dengan jelas kebingungan saya. Saya terus mencari. Saya bolak-balik berdiskusi dengan para guru, praktisi, pengamat, teman-teman aktivis pendidikan dan lain-lain. Tulisan saya dibawah tidak bertujuan untuk menarik kesimpulan hanya merangkum berbagai pendapat yang saya dengar mengenai pendidikan karakter. Saya masih mencoba mengurai benang kusut dalam pikiran saya.

Beberapa hal yang menarik yang saya temui dalam dua bulan terakhir ini, pertama adalah tulisan Doni Koesoema(Kompas, 19 Juli 2010, h 7)* yang menuliskan bahwa pendidikan karakter baginya bagiakan kucing hitam. Saya memaknai bahwa pendidikan karakter bagai kucing hitam itu berarti pendidikan karakter, meskipun secara normatif merupakan hal yang baik, sebenarnya konsepnya masih belum jelas (vague).

Kedua, adalah bahasan saya dengan teman saya yang berlatar belakang antropologi. Menurutnya, di level pemerintah, program besar pemerintah seharusnya bukan membicarakan mengenai pendidikan karakter tetapi mengenai berbagai program seperipemetaan kualitas pendidikan, program peningkatan kualitas guru, dan sebagainya.

Saya katakan padanya,
"Tidak bisa, bagi seorang guru, pendidikan karakter itu merupakan hal yang sangat esensial dalam proses pendidikan itu sendiri. Kalau pemerintah mencanangkan program semacam pendidikan karakter, tentu saja guru senang. Ini isu yang menyenangkan untuk guru"

Teman saya lalu menjawab, "Kalau isu-isu semacam pendidikan karakter didiskusikan oleh guru (secara kultural), bukan karena isu ini dibuat oleh pemerintah, saya akan senang sekali. Tetapi isu ini seakan-akan menutupi berbagai PR besar lainnya yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah. Pemerintah belum mampu melakukan pemetaan pendidikan, saat mereka mencanangkan pendidikan karakter, itu menjadi suatu program yang aman, seakan-akan mereka sudah mengerjakan sebuah proyek besar tapi PR sesungguhnya belum diselesaikan."


* Doni Koesoema menuliskan 2 buku mengenai pendidikan karakter diantaranya "Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter" yang menurut saya sangat inspiratif dan juga buku "Pendidikan Karakter"

Saya lalu berdiskusi dengan seorang praktisi pendidikan yang biasa menghadapi anak-anak yang terlibat proses kriminal. Bahasan menarik bersamanya adalah bahwa dalam dokumen pemerintah (mengenai pedoman pelaksanaan pendidikan karakter yang dibuat oleh Puskur) tidak ada hal baru. Misalnya melatih kedisiplinan dengan upacara. Bukankah bahkan di zaman orde baru sudah begitu?

Kami pun berdebat mengenai pentingnya pendidikan karakter. Saya mengatakan bahwa dari sudut pandang guru, pasti perlu. Apalagi dengan kondisi sekarang bahwa ada berbagai masalah misalnya obat-obatan terlarang, seks bebas, dan berbagai isu-isu moral lainnya. Justru perlu pendidikan karakter.

Menurutnya, permasalahannya belum tentu di sekolah atau kurikulum.

Dia lalu bertanya :
"Apakah di sekolah (secara umum) guru mengajarkan untuk melakukan berbagai hal tersebut, kekerasan, seks bebas, obat-obatan terlarang?"
Saya katakan, meskipun ada, secara umum tidak.
Katanya lagi,
"Ngak diajarkan kok, tapi masih terjadi. Artinya, kesalahannya bukan terjadi di sekolah tetapi di masyarakat. Pemerintah tidak mampu menyelesaikan berbagai kerusakan yang terjadi di masyarakat, lalu ia membebankannya pada sekolah. Hal ini mirip dengan apa yang dilakukan pemerintah DKI saat menghadapi kemacetan. Jakarta macet, sebenarnya sumber masalahnya bukan siswa, tetapi siswa sekolahnya dimajukan hingga lebih pagi. Tetapi permasalahannya tidak selesai. Kenapa siswa yang diberi kebijakan? Karena menurut teori kekuasaan, mereka yang tidak akan protes."

Kami juga berbicang-bincang bahwa salah satu permasalahan mengenai pendidikan karakter yang dirancang pemerintah adalah bahwa di sana siswa-siswa diharapkan belajar dari berbagai nilai yang dihasilkan oleh masyarakatnya. Sudut pandang ini sudah kuno menurut beberapa pemikir pendidikan, karena yang seharusnya diharapkan adalah bahwa siswa-siswi mampu mengkritisi nilai-nilai yang ada dimasyarakatnya.

Saya membahas ini dengan dua orang teman saya yang berbeda. Yang satu aktivis pendidikan yang satu anak hukum, dan hasilnya adalah bahwa justru dalam kondisi masyarakat yang sangat kacau balau sekolah memerlukan yang disebut pendidikan karakter. Karena sekolah seharusnya merupakan pusat-pusat pembudayaan.
Benar menurut saya, kalau seorang guru yang baik, pasti berpikirnya begitu, tapi terus terang saja kepala saya masih pusing. Masih ada yang mengganjal di hati saya.

Belum lama ini saya mengunjungi sebuah sekolah yang cukup menarik. Guru-gurunya sangat tulus. Sekolah ini menekankan bahwa pendidikan yang baik adalah menghasilkan manusia yang berkarakter. Nanti saya akan ceritakan lebih lanjut. Sekolah ini mnarik sekali dan sangat teratur. Siswa-sisw di sini kala makan tidak menyisakan nasi satu pun, kerja sama terbangun dengan baik, dan dalam setiap pelajaran setiap value dibahas, sehingga ada kesimpulan-kesimpulan mengenai berbagai value secara ekplisit.

Entah kenapa, meskipun sangat menarik, saya masih kurang sreg. Saya pikir apa saya yang aneh atau bagaimana. Pertama, saya tidak tahu apakah sebuah value misalnya mengenai kedamaian, keadilan, kebaikan, dan semuanya harus terungkapkan secara eksplisit (di sini siswa yang mengungkapkan sendiri dan guru hanya menjadi fasilitator)? Saya sendiri dibesarkan dengan mempelajari berbagai nilai secara implisit. Ibu saya hampir tidak pernah menasihati saya apapun secara langsung, hanya memberikan contoh.

Saya dibacakan dongeng setiap hari oleh kedua orang tua saya. Dongeng tersebut tidak eksplisit, seperti :
"Ani adalah anak yang jujur dan rajin menabung , si ini suka berbohong dan akibatnya bla.. bla.. (linear).

Buku-buku yang saya baca sata kecil nilainya hampir selalu sangat implisti, halus tidak terlihat, tapi saya percaya masuk ke alam bawah sadar saya hingga kini. Saat saya besar dan membacanya kembali, baru saya bisa memaknai nilai-nilai yang terkandung dibelakangnya. Terus terang saya kebingungan sendiri.

Saya pun membahas ini dengan teman-teman saya. Yang satu guru di sekolah formal dan satu lagi adalah praktisi di pendidikan non formal. Dari pembahasan kami adalah, kami tidak menyetujui bahwa sekoalh dibuat sesteril mungkin. Seorang teman yang merupakan seorang calon guru di suatu daerah mengatakan, "di keluarga saya saya diajarkan bahwa kita boleh salah. Tidak harus selalu benar." Sekolah-sekolah yang steril adalah sekolah-sekolah yang cenderung berusaha membuat siswa selalu benar. Dan bagi saya menakutkan.

Sepulang dari sekolah tersebut, saya membahas kunjungan tersebut dengan seorang guru lainnya yang menyekolahkan anaknya di sekolah alam. Saya pernah mengunjungi sekolah alam dan melihat bahwa di sana anak-anak berlari kian kemari masuk ke dalam lumpur, berloncat-loncatan. Katanya, " kalau dibandingkan sekolah tadi, sekolah alam tampak seperti 'kebun binatang' karena bebas sekali, meskipun begitu, itu bentuk pendidikan karakter juga meskipun berbeda."

Saya setuju, saya ingat bahwa berbagai model pendidikan memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Saya tidak percaya pada satu cara untuk melakukan pendidikan karakter. Saya ingat cerita-cerita Astrid Lindgren, pengarang favorit saya. Di buku itu ia mengajarkan anak-anak mengenai kebebasan, anak-anak yang bisa dibilang bandel seperti Emil, suatu hari bisa menjadi waikota. Kebebasannya untuk berkespresi membantu membentuk karakternya.

Saya juga teringat pada INS Kayu Tanam dan Kayu Siswa yang memiliki ciri khas pendidikan yang berbeda karena berada di konteks yang berbeda. Interpretasi saya Moehammad Syafei, pendiri INS Kayu Tanam merupakan seorang yang sangat teratur dan terstruktur sehingga itu pun tercermin dalam bentuk pendidikannya. Sedangkan AS Neil misalnya dengan Summer Hill Schoolnya bukan, dan baginya ada nilai yang lebih penting daripada menjadi teratur, misalnya siswa boleh melakukan apapun asalkan bersedia bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Dengan praktisi pendidikan non formal, ia sempat menyeletuk, bagus sih menanamkan berbagai nilai-nilai yang baik ke dalam anak. Tetapi ada kalanya nilai-nilai itu harus ditantang. Perlu ada mis-learning. Oke ini nilai-nilai yang saya pegang, tetapi kondisi seperti ini. Apa benar? Proses ragu dan kemudian mencari itu diperlukan.

Ntah apa yang saya cari. Mudah-mudahan dalam merangkum berbagai pembicaraan saya dan teman-teman menyangkut pendidikan karakter saya bisa menemukan titik 'aha'. Kenapa pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah membuat saya bingung dan resah? Saya masih belum tahu jawabannya..

dunia

Dunia yang satu adalah langkah-langkah
ditemani musik klasik, jazz, ataupun hip hop
Tak sempurna tapi obat jiwa
Rutinitas yang dinanti-nanti
Dan persiapan menjelang akhir tahun
Meski rindu, masih bisa ditahan
Karena dimana ada nada mengalun, akupun tak tahan untuk diam
Masih bebas aku bergerak dalam spontan

Dunia yang kedua
Adalah kelompok
bernyanyi
bersiap untuk
panggung-pangung sederhana
sulit dan duka akan selalu terlupa
Saat pita-pita suara bergetar bersama-sama
Meski rindu, masih bisa ditahan
Karena di mana ada kesempatan
Masih bisa aku bernada dalam spontan

Dunia ketiga adalah inspirasi
Rutinitas yang memaksa untuk meningkatkan kapasitas diri
Hati yang harus dijaga
Dan pikrian yang harus selalu diolah
Dan jiwa yang harus selalu diperkaya
Dunia ketiga adalah panggilan terdalam
Dengan rindu yang tak bisa ditahan-tahan
Tanpanya kata-kata menjadi kering
Hari-hari tampak kehilangan makna
Pangilan diri
Hari ini

pav65

Masuk ke sana
Hanya ingin bersantai
Bernyanyi diiringi petikan gitar
Atau denting-denting piano
Tertawa
Dan tidur semalam
Suntuk
Meski terkadang malah terbangun hingga langit jingga

Masuk ke sana
Kata-kata bisa mengalir menjadi apa saja
Dari madu yang manis berubah menjadi susu bergizi
lalu berubah menjadi teh yang menyenangkan
atau air putih yang menghilangkan racun-racun pikiran

Masuk ke sana kami boleh bernyanyi
Atau beradu argumentasi
Atau saling menimpali
Disisipi cekakak cekikik

Di sana menyenangkan
selalu menyenangkan
dari dulu
Hingga sekarang

Sep 3, 2010

My Favorite Place

"Put aku kaget baca tulisan-tulisanmu. Sejak kapan mikirin kebijakan? Aku pikir kamu lebih tertarik di membangun budaya [belajar]."

Saya tertawa..
Rasanya baru kemarin saya selalu di tempat itu setiap Selasa sore
Anak-anak bimbingan saya akan mencari saya hampir setiap hari
Memeluk kaki saya sambil berteriak merayu saya untuk menemani mereka bermain.

Saat saya shalat terawih di masjid tak jauh dari sana
Anak-anak saya biasanya sangat berisik dan akan berteriak, "Kak Puti"
Rasanya ramadhan selalu istimewa dengan senyum mereka.

Haha pertanyaannya mengingatkan saya akan keajaiban waktu

"Di sana, saat S2, pemikiran kamu diaduk-aduk yah sehingga akhirnya memutuskan untuk turut memikirkan kebijakan? Sejak kapan kamu tertarik?"

Saya tertawa..
"Bukan," kataku.

Saat saya sekolah lagi, saya memang punya waktu banyak untuk berefleksi. Tapi apa yang saya pilih sekarang merupakan hasil dari proses panjang perjalanan hidup saya.

Belakangan ini saya membaca sesuatu mengenai 'pivotal point' atau titik balik dalam hidup seseorang di mana itu akan menentukan arah hidup seseorang selanjutnya dan merupakan proses penting dalam karakter seseorang. Dan pivotal point itu tidak terjadi saat saya belajar di negeri seberang, melainkan terjadi di sini. Di Indonesia, sebelum saya memutuskan untuk berjelajah.

Saya tertawa.. Saya ceritakan kenapa saya terpaksa belajar mengenai kebijakan. Mengalirlah kisah lama yang tak terucap. Pena yang hampi dihempaskan karena kehilangan motivasi. Tapi bertemu teman lama yang pernah bergerak bersama sungguh memberikan suntikan semangat, membangkitkan memori, bukan hanya akan hal-hal menyenangkan, tetapi juga hak-hal pahit yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah diri. Pahit tapi berharga. Sangat berharga.

Saya katakan meskipun begitu saya katakan saya tetap sama. Paham mengenai kebijakan hanya alat bantu. Bagi saya, membangun budaya tetap merupakan prioritas saya.

Kami bercerita. Begitu banyak kisah yang ada saat terpisahkan oleh jarak 2 tahun.
Thanks..

This is such an energizing city. Love it!

Hadiah

http://alissawahid.wordpress.com/2010/04/18/undangan/

--------
Undangan
(terilhami oleh pemimpi Gunung Oriah tetua kaum Amerika Asli, Mei 1994)

Aku tak tertarik apa mata pencaharianmu

Aku ingin tahu
apa yang kaudambakan
dan apakah kau berani memimpikan
bertemu dengan pujaan hatimu……

Aku tak tertarik berapa usiamu

Aku ingin tahu
apakah kau mau mengambil resiko terlihat bodoh
demi cinta, demi cita-cita, demi petualangan hidup sepenuhnya

Aku tak tertarik planet apa yang menempati bulanmu

Aku ingin tahu
apakah kau telah menyentuh pusat dukamu sendiri,
apakah kau telah dibukakan oleh pengkhianatan hidup
atau telah layu dan tertutup karena takut disakiti lagi !

Aku ingin tahu
apakah kau bisa duduk bersama rasa sakit;
sakitku, atau sakitmu,
tanpa mencoba menyembunyikannya,
atau memudarkannya atau memperbaikinya..

Aku ingin tahu
apakah kau bisa berada bersama sukacita;
sukaku, atau sukamu …
apakah kau bisa menari dengan alam liar
dan membiarkan keriangan mengisimu hingga ujung jemari kaki dan tanganmu,
tanpa mengingatkan kita untuk berhati-hati,
bersikap realistis, atau mengingat keterbatasan manusia….

Aku tak tertarik apakah cerita yang kaukisahkan itu benar

Aku ingin tahu
apakah kau bisa mengecewakan orang lain
agar jujur pada dirimu,
apakah kau dapat menanggung tuduhan pengkhianatan
dan tidak mengkhianati jiwamu sendiri..

Aku ingin tahu
apakah kau bisa setia
dan karenanya dapat dipercaya.

Aku ingin tahu
apakah kau dapat melihat keindahan
meskipun tidak setiap hari itu elok,
dan apakah kau dapat menyumberkan hidupmu
dari kehadiran Tuhan.

Aku ingin tahu
apakah kau bisa hidup dengan kegagalan;
gagalmu atau gagalku,
dan tetap berdiri pada sisi danau
dan berteriak pada bulan keperakan, “YA!”

Aku tak tertarik pada tempat tinggalmu
atau seberapa banyak uang yang kaumiliki

Aku ingin tahu
apakah kau bisa bangkit setelah semalam
berduka dan merana, lelah, babak belur
dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak2…

Aku tidak tertarik siapa dirimu,
atau apa atau dengan siapa kau belajar

Aku ingin tahu
apa yang menjagamu dari dalam, saat segala hal berjatuhan..

Aku ingin tahu
apakah kau bisa sendirian bersama dirimu,
dan apakah kau benar2 menyukai temanmu di saat-saat hampa…..

(tulisan ini saya dapatkan dari seorang teman di Facebook, dia pun kehilangan sumber aslinya)