Jun 27, 2013

Pendidik dan Perubahan Zaman

Belakangan ini baru berbincang-bincang dengan seorang dosen yang mengajar komunikasi. Dia mengatakan bahwa dia menggunakan komputer untuk keperluan mengetik, membuat presentasi, dan mendengarkan lagu di youtube. Dia tidak banyak menggunakan media sosial seperti twitter dan lainnya.  Meskipun saya bukan ahli komunikasi, menurut saya ada banyak pola komunikasi baru yang berkembang. Setelah merebaknya media sosial teori komunikasi yang lama mungkin telah diperbaharui oleh berbagai teori komunikasi yang baru. Zaman berubah, dan ilmu juga senantiasa berkembang. Seorang pendidik perlu menyadari ini, setidaknya untuk menjadi motivasi untuk terus belajar.

Perbincangan saya dengan dosen tersebut mengingatkan saya dengan perjumpaan dengan seorang guru, sekitar setahun yang lalu. Di sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI), saya bertemu dengan seorang guru perempuan. Usianya mungkin lebih dari 50 tahun. Rambutnya telah memutih. Matanya sedikit sayu. Dia mengatakan pada saya bahwa dia sudah tidak aktif mengajar. Kini sulit baginya untuk mencari pekerjaan.

“Ibu mengajar apa?” tanya saya.

Ibu tersebut berkata bahwa keahliannya adalah mengajar stenografi. Stenografi adalah cara menulis ringkas dan cepat, biasanya dipakai untuk menyalin pembicaraan (www.wikipedia.org). Dulu siswa-siswa SMK jurusan sekretaris mempelajarinya. Juga para jurnalis. Sekarang mereka sudah tidak mempelajarinya lagi.  Kini tampaknya peran stenografi digantikan oleh alat perekam suara, video, ataupun kemampuan mengetik cepat. Jadi, mungkin pengguna stenografi tidak sebanyak dulu.

“Apakah ibu bisa menggunakan komputer?” tanya saya, ingin tahu.

Ibu tersebut mengatakan bahwa dia tidak bisa menggunakan komputer. Mengetik pun tidak bisa. Keahliannya adalah stenografi.

“Kalau ada lowongan untuk mengajar stenografi mohon kabari saya yah!” katanya berharap. 


Saya tidak meragukan kapabilitas kedua pendidik di atas. Mereka adalah ahli di bidangnya masing-masing. Semangat belajar mereka pun masih tinggi. Dosen komunikasi tersebut sempat meminta saya menuliskan beberapa alamat website yang bisa dijadikan referensi untuk belajar sedangkan guru steografi tersebut masih bersemangat mengikuti berbagai pelatihan guru. Namun, zaman berubah begitu cepat.  Apa yang mereka pelajari selama bertahun-tahun dan membuat mereka “sukses” di masa lalu ternyata tidak lagi dihargai sebagaimana dulu.  

Perjumpaan saya dengan kedua pendidik tersebut meninggalkan banyak pertanyaan di benak saya. Bagaimana kalau ilmu yang dulu kita pelajari kini tidak bermanfaat lagi? Bagaimana kalau pekerjaan yang dulu kita anggap penting kini sudah mulai menghilang? Apakah ilmu-ilmu yang kita anggap penting memang akan sama pentingnya di masa yang akan datang? Apakah yang siswa kita pelajari di sekolah memang benar-benar akan mereka perlukan? Zaman memang berubah, jadi bagaimana para pendidik harus menghadapinya?

Jun 11, 2013

Tips Menulis di Media Cetak dari Doni Koesoema



Hari ini saya senang karena bertemu salah satu penulis favorit di bidang pendidikan. Namanya Pak Doni Kusuma. Pak Doni sering menulis di media cetak diantaranya "Eklektisme Kurikulum 2013"  dan "Panik Sertifikasi" , "Berpusat pada Pembelajar", dan "Bercermin dari Keterbelakangan Kita". Dia juga menulis beberapa buku bertema mengenai Pendidikan Karakter. Yang paling saya sukai adalah "Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger" karena menurut saya tulisannya membantu saya berefleksi. Salah satu hal yang saya ingat dari buku tersebut adalah bahwa setiap hal terkait satu sama lain. Saat melihat sebuah isu, selain membahas isu dari tataran mikro-nya kita juga harus berusaha memahami big picture-nya.

Jadi, saya bertemu dengan Pak Doni karena kami  sama-sama menghadiri sebuah forum diskusi pendidikan yang diselenggarakan oleh Media Indonesia.  Saya menyapanya dan ternyata dia mengenali saya.

"Saya suka baca tulisan-tulisan Mbak Puti," katanya sebelum melangkah keluar pintu ruangan. Tentu saja itu membuat saya serasa melayang. Siapa yang tidak senang tulisannya dibaca oleh salah penulis favorit-nya? Kami pun berpisah

Namun, tak lama kemudian kami bertemu lagi.  Pak Nanang, Bu Itje, Pak Hotben dan saya sedang berkumpul di dekat eskalator untuk membahas rapat IGI berikutnya.  Kami melihat Pak Doni yang hendak turun dari eskalator. Pak Nanang menegur Pak Doni dan akhirnya kami ngobrol lagi. Kali ini lebih panjang.

Dia mengusulkan agar saya (dan yang lainnya) mencoba menulis di media cetak. Dia memberikan beberapa tips untuk menulis di media cetak.

"Ada beberapa trik agar tulisan dimuat di media cetak," katanya.

Menurutnya kita harus mengenal karakter media cetak, tempat kita akan mengirimkan tulisan. Tiap media cetak punya "ciri khas" sendiri yang tidak dipunyai oleh media cetak lain.

"Dulu saya berkali-kali menulis ke sebuah media cetak. Ditolak terus. Saya coba pelajari, apa yang salah. Saya pelajari gaya penulisan orang-orang yang dimuat di media tersebut."

"Kalau tulisan kita ditolak, biasa itu. Waktu saya menulis untuk koran itu bertahun-tahun tulisan saya ditolak."

Dia menceritakan bahwa seorang mahasiswa mengirimkan tulisannya ke sebuah koran sampai 80 karya dan dimuat hanya satu kali. Pertama mungkin tulisannya kurang aktual atau kurang berisi. Diperbaiki lagi, ternyata tidak koheren, antar paragraf tidak nyambung atau subjek dan predikatnya tidak jelas. Sudah diperbaiki, masih ada kekurangan lagi, misalnya tidak ada kesimpulan (paragraf penutup). Tapi coba aja terus. Lama-lama kita lebih mahir dan bisa mulai paham trik-nya.

"Kalau ada isu aktual memang kita harus cepat-cepat menuliskannya. Hari ini isunya, malamnya kita harus langsung menuliskannya, tentu saja ini butuh perbendaharaan wawasan dan data yang cukup," katanya.

Saat dia mengatakan hal tersebut saya melihat Pak Nanang yang berdiri di sebelah saya. Matanya melotot sambil berkata, "Nah!"

Sepertinya Pak Nanang ingin mengatakan, "Nah! Itu tips penting yang perlu diingat!"

Saya teringat, saya tidak selalu tekun dalam menyimpan data. Kalau saya lebih rapi dan tekun dalam menyimpan data, mungkin itu akan memudahkan saya untuk menulis di media cetak. Setidaknya saya tahu harus mencari bahan dari mana.

Pak Doni juga mengingatkan bahwa tentu saja kita akan bersaing dengan penulis lainnya, yang mungkin dianggap lebih kapabel untuk membahas isu yang aktual tersebut.

"Tapi kita bisa juga dalam format semacam feature", katanya memberi tips, "Aktual tapi diambil dari sudut pandang yang bisa bertahan lebih lama, jadi walaupun isunya sudah lewat, tapi tulisannya tidak menjadi basi."

Pak Doni kemudian menjanjikan saya bahwa dia bersedia melakukan proof reading  untuk tulisan-tulisan saya. Dia bersedia memberikan masukan agar tulisan saya bisa diperbaiki. Tentu saja saya bersedia. Yang penting nulis dulu deh! Bismillah. :)

Jun 8, 2013

Menonton Konser "Romantika Revolusi" John Tobing


Semalam (Jumat,7 Juni 2013) saya menonton konser John Tobing yang bertema "Romantika Revolusi". Konser tersebut diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Sebelum mendengarkan lagu-lagu kaya John, seorang musisi muda, bernama Fajar Merah menampilkan 4 buah lagu. 2 lagu diciptakannya sendiri, dan 2 lagu lainnya diciptakan dari puisi ayahnya, Widji Thukul.

John sendiri membawakan 9 buah lagu, yakni : (1) Do'a, (2) Hey, (3) Jaga Saudara, (4) Fajar Merah Milikmu, (5) Marsinah, (6) Musim Senja, (7) Api Kesaksian, (8) Istirahat, dan (9) Darah Juang.

Lagu terakhir, konon katanya adalah salah satu lagu John Tobing yang paling terkenal karena biasa dibawakan saat berbagai aksi demonstrasi. Namun, lagu-lagu yang dibawakan oleh John Tobing selama
konser hampir seluruhnya menyentuh hati saya. Yang paling mengharukan bagi saya adalah lagu  "Fajar Merah Esok Milikmu". Lagu itu dipersembahkan untuk tiga orang anak para aktivis, anak dari teman-teman John Tobing yang dilahirkan pada waktu yang berdekatan tentunya dalam kondisi yang tidak mudah.

Bagi saya lagu ini menggambarkan sesuatu yang universal, kasih sayang orang tua pada anaknya. Seorang aktivis, biasanya hidupnya tidak selalu dalam keadaan aman.  When you fight for justice, it means you risk your life and also your family's life. Selalu saja ada ancaman, misalnya dari penguasa yang merasa terancam oleh kegiatan aktvisme tersebut. Kadang orang tua bahkan harus menghilang, diculik, atau didekap dalam penjara. Namun, sebagai orang tua pasti dia ingin anaknya bisa tetap beristirahat dengan nyaman dan tidak pernah kekurangan kasih sayang.


FAJAR MERAH ESOK MILIKMU

Anakku sayang dengar lagu ayahmu ini
Berhentilah engkau menangis
Fajar merah esok milikmu

Dekaplah dada ibumu yang slalu menyayangimu
Tidurlah dalam pelukannya karna malam telah tiba

Berjuta rintangan jangan ganggu mimpimu
biar jiwaku menjagamu
Kami berjalan, kami bergerak siapkan barisan rakyat

Di bawah teriknya matahari
Di tengah dinginnya malam
Kami kan tetap terus berjuang
Demi esok yang adil

Berita mengenai konser, sekaligus peluncuran album "Romantika Revolusi" karya John Tobing dapat dilihat di http://www.berdikarionline.com/suluh/20130608/john-tobing-luncurkan-album-romantika-revolusi.html