Oct 29, 2013

Perjalanan ke Surabaya yang Menakjubkan (Bagian 1) : Sharing Visi Pribadi tentang Pendidikan di KNGB 2013

23 - 24 Oktober   2013 yang lalu, saya memperoleh kesempatan untuk pergi ke Jawa Timur, tepatnya ke Surabaya. Saya diminta panitia Konferensi Nasional Guru Blogger 2013 (KNGB 2013) menjadi pemateri di konferensi tersebut. Materi yang perlu saya bawakan bertema "Pengajaran yang Menghargai Semua".

Beuh! Buat saya membawakan materi tersebut, cukup membebani. Bicara tentang "Menghargai Semua", saya bertanya-tanya apakah saya  memang sudah menghargai orang lain, termasuk siswa/siswi saya? Rasanya belum. Kadang saya terlambat memberikan umpan balik terhadap tugas siswa-siswi saya, kadang saya sok tahu, seakan-akan paling pintar. Itu berarti saya masih perlu banyak belajar untuk menghargai orang lain. Dalam hati saya berpikir, "Siapa saya, sok-sok berbicara tentang Pengajaran atau lebih tepatnya pendidikan yang menghargai semua?"

Ya sudah lah yah! The show must go on. Saya tetap saja harus presentasi. Tapi bagaimana cara yang elegan untuk melakukannya? Malas rasanya untuk menceramahi peserta KNGB 2013 yang notabene merupakan guru. Sebagian  sudah lebih berpengalaman mengajar daripada saya. Siapa saya untuk mengajarkan guru tentang, "Menghargai harus begini begitu"?

Jadi apa yang bisa saya lakukan? Saya memilih untuk bercerita dan berbagi refleksi pribadi saya. Saya mengajar dari 2002 sampai sekarang.Selama itu pula saya bergelut di bidang pendidikan dengan berbagai cara lain, berorganisasi, meneliti, membaca, dan berinteraksi dengan berbagai siswa dan guru. Apa hal yang saya pelajari selama proses tersebut? 

Rabu, 23 November 2013 saya tiba di Surabaya sekitar pk 8.00 WIB. Seseorang dari Universitas Airlangga (Unair) menjemput saya dengan mobil. Acara KNGB memang dilaksanakan di Unair. "Ada seseorang lagi yang akan ikut dengan mobil ini," kata yang menjemput. Ternyata yang ditunggu bernama Nia Kurnianingtyas, dari Indonesia Mengajar (IM). Dia adalah Sustainability Managernya IM. Dia bercerita bahwa dia ikut merancang berbagai pelatihan untuk pengajar muda. Di KNGB 2013, dia akan sharing mengenai proses persiapan guru IM. Menurutnya salah satu hal yang penting dalam proses persiapan Pengajar Muda adalah membiasakan mereka untuk berefleksi. Dengan kebiasaan berefleksi mereka lebih mudah untuk menghadapi tantangan-tantangan yang mereka temui di lapangan. 

Karena baru turun dari pesawat terbang, saya masih menggunakan kaos meskipun juga mengenakan blazzer. Saya sudah mempersiapkan kemeja batik untuk digunakan saat presentasi. Karena saya menjadi pembicara di sesi terakhir, sekitar pk 17.00, saya masih memiliki banyak waktu untuk berganti pakaian. 

Akhirnya, tiba waktunya presentasi. Pertama, saya mengenalkan diri. Nama saya Dhitta Puti Sarasvati dan saya merupakan pengurus pusat Ikatan Guru Indonesia. Saya mengajar sejak 2002 dan kini mengajar di Sampoerna School of Education (SSE), dan sesekali saya mengajar di Sekolah Rumah Mentari. 

Itu perkenalan versi 'formal' tapi saya melanjutkan dengan perkenalan yang lebih mendalam. Saya menampilkan gambar di bawah ini: 
Visi tentang Pendidikan (dibuat oleh: Kandi Sekarwulan, Arya Jodipati, & Dhitta Puti Sarasvati)


Gambar tersebut saya buat bersama dua orang lagi. Keduanya sahabat saya dan merupakan pendidik dengan caranya masing-masing. Nama mereka Kandi Sekarwulan (biasa dipanggil Kandi), dan Arya Jodipati (biasa dipanggil Jodi). 

Kandi adalah pendiri Komunitas Sahabat Kota (KSK). KSK adalah sebuah bentuk pendidikan informal untuk anak-anak. Berdasarkan website resminya KSK, disebutkan bahwa :

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka.
Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda
Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure ClubALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.
Kandi sendiri punya pengalaman merancang berbagai kegiatan untuk menjadikan kota sebagai tempat pembelajaran. Ketertarikannya adalah mengenai pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang dia tuangkan melalui berbagai program di KSK misalnya dengan mengajak anak membuat peta hijau.  Untuk informasi lanjut tentang KSK silakan lihat web-nya di http://kisahsahabatkota.wordpress.com yah!Seru-seru loh kegiatannya. :)

Jodi adalah teman saya di Komunitas Bandung Bercerita. Sekitar tahun 2007, bersama beberapa teman-teman yang lain kami bersama-sama merintis  komunitas tersebut. Kegiatannya,  membacakan cerita kepada anak di sebuah Madrasah Ibtidayah seminggu sekali, kadang di sekolah lain juga. Kemudian kami membuat berbagai kegiatan terkait cerita.  Jodi latar belakangnya adalah seni. Jadi, dia banyak merancang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan seni. Misalnya mengajak anak-anak membuat topeng dari karton, mengajak mereka membuat serangga-seranggaan dari sendok bekas, membuat cerita pop up dari kertas, dan sebagainya. 

Salah satu kegiatan Komunitas Bandung Bercerita: Bercerita lalu membuat topeng-topengan.


Kini komunitas tersebut sedang tidak aktif tapi Jodi masih banyak melakukan pendidikan dengan cara lain. Dia ikut membantu kegiatan-kegiatan KSK sambil membuka usaha percetakan.

Kami bertiga sempat ikut pelatihan System Thinking yang dibuat oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Salah satu proses yang harus kami lalui di pelatihan tersebut adalah menggambarkan visi kami tentang pendidikan. Gambar di atas itu deh hasilnya. Mohon maaf kalau gambarnya kurang jelas, dulu hanya dipotret seadanya, pakai HP. Kami mulai dari visi, baru mulai membahas langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencapai visi tersebut denggan menggambarkan causal loop-diagram (CLD). Tapi saya tidak akan membahas mengenai itu. Saya akan lebih banyak menggambarkan makna dari gambar tersebut.

Di dalam gambar tersebut ada anak yang sedang memanjat pohon, beberapa anak lagi mengelilingi pohon, dan ada juga yang melihat dari jarak agak jauh. Semuanya sedang mengamat alam dan belajar dari alam. Kami ingin agar pendidikan memberikan kesempatan bagi anak-anak, maupun orang dewasa untuk belajar dari alam. 

Di gambar ada gambar seorang anak dengan orang dewasa di sampingnya. Kami ingin agar dalam proses pendidikan ada sharing  antar generasi. Yang lebih muda belajar dari yang lebih tua dan sebaliknya. 

Di kanan atas, ada gambar anak yang sedang belajar merajut tapi rajutannya gagal sehingga dia menangis. Di sebelahnya ada teman-teman yang mencoba menghibur dan menyemangatinya untuk bangkit kembali sehingga akhirnya iya terus belajar. Ini menggambarkan  bahwa proses belajar tidak selalu mudah. Kadang kita mungkin gagak, kadang ada tantangan, kadang ada kesulitan. Tapi yang penting ada sistem support berupa orang-orang disekeliling kita yang terus mendorong kita untuk pantang menyerah, sehingga kita kembali bersemangat untuk belajar kembali. 

Di kanan bawah ada gambar rumah yang energinya berasal dari solar cell. Rumah tersebut juga dihiasi berbagai tanaman yang hijau. Rumah tersebut dibangun bersama-sama. Hal ini menggambarkan bahwa kami ingin pendidikan membantu manusia untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat untuk sesama manusia juga alam. Apa gunanya pendidikan kalau tidak membuat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya menjadi lebih baik?

Gambar kiri atas, maaf saya lupa tapi kalau tidak salah itu menggambarkan bahwa pendidikan terjadi melalui proses interaksi antar manusia.

Yang saya angkat di dalam KNGN 2013 secara lebih mendalam adalah gambar yang di tengah. Di sana ada gambar sekelompok orang yang membentuk lingkaran. Warna rambut mereka berbeda-beda. Ada yang tua, ada yang muda, ada yang pakai jilbab, tapi juga ada anak punk. Kami ingin proses pendidikan bisa terjadi melalui interaksi antara orang yang berbeda-beda, berasal dari budaya yang berbeda, agama yang berbeda, latar belakan sosial dan budaya berbeda tapi semuanya bisa berkontribusi dalam pembelajaran. Semua berbagi satu sama lain.  Semuanya belajar dari satu sama lain. Semua menghargai satu sama lain. 

Gambar ini saya angkat untuk menggambarkan proses pendidikan yang menurut saya menghargai satu sama lain. Proses pendidikan di mana kita semua percaya bahwa siapapun bisa berperan dalam melakukan pendidikan. Dalam konteks persekolahan, pendidikan tidak hanya diberikan oleh guru kepada siswa, tetapi siswa sendiri berkontribusi besar dalam proses pendidikan. Bukan hanya 'siswa belajar dari guru' tapi juga 'siswa belajar dari siswa', dan yang tak kalah penting 'guru belajar dari siswa'. 

PS : Tulisan ini bersambung



Oct 4, 2013

Perjumpaan Kembali dengan Sensei Okihara, Perkenalan Baru dengan Sensei Keiko

Mungkin masih ada yang ingat cerita pertemuan saya dengan Sensei Okhara yang saya tuliskan di sini. Sensei Okihara adalah temannya Ibu itje Chodidjah, teman saya yang juga aktif bergerak di bidang pendidikan. Mereka bertemu dalam sebuah konferensi dan kemudian terus berhubungan untuk saling bertukar pikiran mengenai pendidikan.

Tahun lalu Ibu Itje, meminta saya untuk berkenalan dengan Sensei Okihara yang saat itu sedang berkunjung ke Indonesia untuk melakukan penelitian mengenai Content and Language Integrated Learning (CLIL). Tahun ini Sensei Okihara berkunjung lagi ke Indonesia, tepatnya pada Selasa, 17 September 2013 yang lalu. Ini kunjungannya yang kedua ke Indonesia. Beberapa agendanya, diantaranya adalah sit-in di kelas saya, ngobrol dengan beberapa rekan dosen  di Sampoerna School of Education (SSE), mengunjungi Bandung dengan kereta untuk melihat SD Semi Palar dan Museum Konferensi Asia-Afrika. Selain itu, juga mengunjungi Universitas Atma Jaya untuk bertemu beberapa dosen bahasa Inggris di sana. 

Kali ini Sensei Okihara membawa seorang guru lagi, namanya adalah Sensi Keiko yang juga adalah istrinya sendiri. Dua-duanya ikut duduk mengamati saya mengajar di dalam kelas.  Sensei Keiko juga guru bahasa Inggris tetapi dia mengajar bahasa Inggris dalam kegiatan di luar sekolah, mungkin semacam ekskul. Tapi caranya mengajar bahasa Inggris sangat unik, yakni melalui kegiatan memasak. Seminggu sekali dia mengajar memasak untuk anak-anak tapi instruksinya dilakukan dalam bahasa Inggris. Jadi sambil memasak berbagai jenis makanan, anak-anak juga belajar berbahasa Inggris. 

Pada dasarnya Sensei Keiko memang sangat tertarik pada makanan. Saya sempat kedua Sensei makan di sebuah restoran Padang yang ada di sebelah kampus. Seperti biasa, banyak sekali piring ditata di atas meja. Isinya daging, ikan, sayur, telur, dan banyak lagi. Warnanya macam-macam, merah, coklat, kuning, dan lainnya. Tergantung bumbunya. 

Saya jelaskan bahwa kita bisa memilih mana yang mau kita makan. Tidak harus dimakan semua. Banyaknya piring berisi makanan, sebenarnya semacam  strategi marketing. Membuat kita ingin mencoba semua.

Sensei Keiko mencicipi beberapa makanan dengan khidmat. “I really love food & cooking,” katanya. “What is this?” tanyanya sambil menunjuk ikan tongkol. Setelah saya menjelaskan bahw namanya tongkol dia mencicipinya.

Sensei Keiko makan nasi, gulai ayam, tongkol sayur nangka, dan sayur singkong. Dia juga mencicipi rendang, dan satu gelas puding. Sambil makan dia menceritakan lagi tentang kelas masaknya, “Basically, I teach the children how to cook Western food. But sometimes their parents do not know how to cook Japanese food. So, sometimes I also teach the children to cook Japanese food and at home, they teach their mothers how to cook.”
Setelah makan kami keluar restoran lalu melihat sebuah mobil bak sedang parkir. Mobil bak tersebut penuh sengan sayur singkong. Sensei Keiko tampak kegirang melihat sayur singkong sebanyak itu, “It’s still very fresh. Was that what we ate? We actually have that in Japan too.” Sensei Okihara dan Sensei Keiko sama-sama menyebutkan nama sayur singkong dalam bahasa Jepang tapi saya sudah lupa istilahmya.

Setelah makan, pertemuan kami berlangsung tak begitu lama. Sensei Okihara, Sensei Keiko, dan saya menuju ruang dosen untuk berbincang-bincang soal beberapa hal diantaranya mengenai pengajaran bahasa Inggris, mengenai tantangan untuk menjadikan siswa lebih aktif untuk berpartisipasi di dalam kelas, dan beberapa hal lain termasuk tentang isu pendidikan di Jepang yang sedang memikirkan untuk mengajarkan bahasa Inggris melalui mata pelajaran lain. 

“But in this case, we are not in a hurry. We are still studying its’ effect on teaching by looking at how other countries do it. How it is in other countries. Is it effective or not? Actually I am really glad that we are taking this issue slowly. I think in some context it works, like when it is applied in one or two schools but when you take it to a greater level, for example the national level, than it will be a very different issue,” katanya menjelaskan bahwa pemerintahnya tidak terburu-buru menerapkan kebijakan baru sebelum melakukan studi dengan lebih seksama. Sensei Okihara juga menjelaskan bahwa dia senang bahwa perubahan kebijakan pendidikan tersebut tidak dilakukan dengan buru-buru karena belum tentu efeknya baik. Apa yang sukses di beberapa sekolah belum tentu sukses bila dilaksanakan secara masif di level nasional.

Setelah diskusi saya mengantarkan Sensei Okihara dan Sensei Keiko ke luar kampus. Tapi belum sampai gerbang Sensei Okihara mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja berjalan ke gerbang sendiri dan meminta saya kembali ke dalam. Saya memang sudah mengatakan bahwa saya ada janji untuk bimbingan skripsi dengan beberapa mahasiswa. Sensei Okihara tak ingin saya terlambat. Terima kasih untuk kunjungannya Sensei Okihara & Sensei Keiko. Sampai berjumpa di kesempatan lainnya!